BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN ANALISA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PEDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pipa merupakan salah satu kebutuhan yang di gunakan untuk

Hasil dan Pembahasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Korosi Baja Karbon dalam Lingkungan Elektrolit Jenuh Udara

BAB I PENDAHULUAN. juga menjadi bisnis yang cukup bersaing dalam perusahaan perbajaan.

Bab II Tinjauan Pustaka

BAB IV PEMBAHASAN. -X52 sedangkan laju -X52. korosi tertinggi dimiliki oleh jaringan pipa 16 OD-Y 5

Bab IV Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan

ANALISA LAJU KOROSI PADA PUMP IMPELLER DI INDUSTRI PERTAMBANGAN BATU BARA

PEMANFAATAN SUPLEMEN VITAMIN C SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA API 5L GRADE B DALAM MEDIA 3.5% NaCl DAN 0.1 M HCl

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kata korosi berasal dari bahasa latin Corrodere yang artinya perusakan

PENGARUH PENGERJAAN DINGIN TERHADAP KETAHANAN KOROSI AISI 1020 HASIL ELEKTROPLATING Zn DI MEDIA NaCl. Oleh : Shinta Risma Ingriany ( )

Sidang TUGAS AKHIR. Dosen Pembimbing : Prof. Dr.Ir.Sulistijono,DEA

STUDI INHIBISI KOROSI BAJA 304 DALAM 2 M HCl DENGAN INHIBITOR CAMPURAN ASAM LEMAK HASIL HIDROLISA MINYAK BIJI KAPUK (Ceiba petandra)

ANALISIS LAJU KOROSI PADUAN ALUMINIUM FERONIKEL PADA ph BASA DENGAN POTENSIOSTAT

ELEKTROKIMIA DAN KOROSI (Continued) Ramadoni Syahputra

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a) b) c) d)

BAB 1 PENDAHULUAN. dibandingkan jenis martensitik, dan feritik, di beberapa lingkungan korosif seperti air

Fe Fe e - (5.1) 2H + + 2e - H 2 (5.2) BAB V PEMBAHASAN

PEMANFAATAN OBAT PARACETAMOL SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA API 5L GRADE B DALAM MEDIA 3.5% NaCl DAN 0.1M HCl

Hasil Penelitian dan Pembahasan

PELAPISAN BAJA DENGAN SILIKA SECARA ELEKTROFORESIS UNTUK MENCEGAH KOROSI

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki lahan tambang yang cukup luas di beberapa wilayahnya.

ANALISIS EFEKTIVITAS HIDRAZIN (N 2 H 4 ) SEBAGAI ALTERNATIF INHIBITOR KOROSI PADA SISTEM PENDINGIN SEKUNDER RSG-GAS

PENGHAMBATAN KOROSI BAJA BETON DALAM LARUTAN GARAM DAN ASAM DENGAN MENGGUNAKAN CAMPURAN SENYAWA BUTILAMINA DAN OKTILAMINA

Perlindungan Lambung Kapal Laut Terhadap Korosi Dengan Sacrificial Anode. Oleh : Fahmi Endariyadi

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2012 sampai Januari 2013 di

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. NaOH dalam metanol dengan waktu refluks 1 jam pada suhu 60 C, diperoleh

ANALISA PENGARUH INHIBITOR EKSTRAK RIMPANG JAHE TERHADAP LAJU KOROSI INTERNAL PIPA BAJA ST-41 PADA AIR TANAH

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya perubahan metalurgi yaitu pada struktur mikro, sehingga. ketahanan terhadap laju korosi dari hasil pengelasan tersebut.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset Kimia, Jurusan Pendidikan

PENGENDALIAN LAJU KOROSI BAJA St-37 DALAM MEDIUM ASAM KLORIDA DAN NATRIUM KLORIDA MENGGUNAKAN INHIBITOR EKSTRAK DAUN TEH (Camelia sinensis)

EFISIENSI INHIBITOR SENYAWA PURIN TERHADAP LAJU KOROSI BAJA SS 304 DALAM LARUTAN ASAM DENGAN ADANYA ION I -

PEMANFAATAN OBAT SAKIT KEPALA SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA API 5L GRADE B DALAM MEDIA 3,5% NaCl DAN 0,1M HCl

BAB IV HASIL YANG DICAPAI PENELITIAN

Proteksi Katodik dengan Menggunakan Anoda Korban pada Struktur Baja Karbon dalam Larutan Natrium Klorida

Moch. Novian Dermantoro NRP Dosen Pembimbing Ir. Muchtar Karokaro, M.Sc. NIP

BAB III METODELOGI PENELITIAN. korosi pada baja karbon dalam media NaCl jenuh CO 2 dan dalam media NaCl

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II KOROSI dan MICHAELIS MENTEN

I. PENDAHULUAN. elektrokimia (Fontana, 1986). Korosi merupakan masalah besar bagi peralatan

Pengaruh Polutan Terhadap Karakteristik dan Laju Korosi Baja AISI 1045 dan Stainless Steel 304 di Lingkungan Muara Sungai

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

PENGARUH VARIASI ph DAN ASAM ASETAT TERHADAP KARAKTERISTIK KOROSI CO 2 BAJA BS 970

SIDANG TUGAS AKHIR. oleh : Rosalia Ishida NRP Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Sulistijono, DEA Dr. Hosta Ardhyananta, ST, MSc

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI LARUTAN NaCl TERHADAP KETAHANAN KOROSI HASIL ELEKTROPLATING Zn PADA COLDROLLED STEEL AISI 1020

Perhitungan Laju Korosi di dalam Larutan Air Laut dan Air Garam 3% pada Paku dan Besi ASTM A36

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. IV.1 Media uji dan kondisi pertambangan minyak bumi. Media yang digunakan pada pengukuran laju korosi baja karbon dan

STUDI EKONOMIS PENGARUH POST WELD HEAT TREATMENT TERHADAP UMUR PIPA

ANALISA LAJU KOROSI PENGARUH POST WELD HEAT TREATMENT TERHADAP UMUR PIPA PADA PIPA API 5L GRADE B

PENGARUH LAJU KOROSI PELAT BAJA LUNAK PADA LINGKUNGAN AIR LAUT TERHADAP PERUBAHAN BERAT.

DEA JURUSAN TEKNIK MATERIAL DAN METALURGI FTI-ITS

Laporan Tugas Akhir. Saudah Dosen Pembimbing Prof. Dr. Ir. Sulistijono, DEA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Sintesis Cairan Ionik Turunan Imidazolin. Dalam penelitian ini, cairan ionik turunan imidazolin yang digunakan

PENGARUH PENAMBAHAN INHIBITOR EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS TERHADAP PENURUNAN LAJU KOROSI BAJA ST-37

Handout. Bahan Ajar Korosi

BAB I PENDAHULUAN. Korosi merupakan fenomena kimia yang dapat menurunkan kualitas suatu

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

PENGARUH PENGERJAAN DINGIN TERHADAP KETAHANAN KOROSI LAPISAN HASIL HOT DIP GALVANIZING

Elektrokimia. Sel Volta

Pengaruh ph, Kecepatan Putar, dan Asam Asetat terhadap Karakteristik CO 2 Corrosion Baja ASME SA516 Grade 70

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN PELAPIS EPOKSI TERHADAP KETAHANAN KOROSI PIPA BAJA ASTM A53 DIDALAM TANAH SKRIPSI

Gambar 4.1 Penampang luar pipa elbow

BAB II TEORI DASAR. 2.1 Korosi

BAB II LANDASAN TEORI

BAHAN BAKAR KIMIA. Ramadoni Syahputra

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Sel Volta (Bagian I) dan elektroda Cu yang dicelupkan ke dalam larutan CuSO 4

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Klasifikasi Baja [7]

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. penyamakan kulit dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS Mini

Dosen Pembimbing : Sutarsis,ST,M.Sc.Eng. Oleh : Sumantri Nur Rachman

PENGARUH PROSES TEMPERING PADA HASIL PENGELASAN BAJA TERHADAP MECHANICAL PROPPERTIES DAN SIFAT KOROSI

Penghambatan Korosi Baja Beton dalam Larutan Garam dan Asam dengan Menggunakan Campuran Senyawa Butilamina dan Oktilamina

Pengaruh Rasio Luasan Terhadap Perilaku Korosi Galvanic Coupling Baja Stainless Steel 304 & Baja Karbon Rendah AISI 1010

ANALISA PERBANDINGAN LAJU KOROSI MATERIAL STAINLESS STEEL SS 316 DENGAN CARBON STEEL A 516 TERHADAP PENGARUH AMONIAK

BAB IV DATA DAN HASIL PENELITIAN

JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

Skala ph dan Penggunaan Indikator

Bab III Metodologi Penelitian

CARBON STEEL CORROSION IN THE ATMOSPHERE, COOLING WATER SYSTEMS, AND HOT WATER Gatot Subiyanto and Agustinus Ngatin

PENGARUH ph TERHADAP LAJU KOROSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang

Ketahanan Korosi Paduan Amorf Berbasis Zirkonium Zr 69.5 Cu 12 Ni 11 Al 7.5 dalam Lingkungan Nacl

Mengubah energi kimia menjadi energi listrik Mengubah energi listrik menjadi energi kimia Katoda sebagi kutub positif, anoda sebagai kutub negatif

Elektroda Cu (katoda): o 2. o 2

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal. Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1)

PENCEGAHAN KOROSI DENGAN MENGGUNAKAN INHIBITOR NATRIUM SILIKAT(Na 2 SiO 3 ) HASIL SINTESIS DARI LUMPUR LAPINDO PADA BAJA TULANGAN BETON

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6 1

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Laju Korosi Baja Karbon Pengujian analisis dilakukan untuk mengetahui prilaku korosi dan laju korosi baja karbon dalam suatu larutan. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan Software Sotcorr Corrotsion Meansurement, dimana kecepatan membaca titik satu ke titik lainnya (scan rate) diatur sebesar 0,05 mv/detik terhadap potensial korosi (Ecorr). Standard elektrode yang digunakan adalah Standard Calomel Elektrode dan Counter elektrode yang digunakan adalah Carbon Rod. Dari pengujian yang dilakukan akan memperoleh kurva dari setiap sampel uji. Kurva yang didapat akan dianalisis pergeseran kurva, potensial korosi dan laju korosinya dengan menggunakan Software Test Method for Conducting Potentiodynamic Polarization Resistance Measurement. Akan dianalisis potensial korosi, arus korosi, dan laju korosi sehingga dapat dibandingkan sejauh mana pengaruh inhibitor Na 2 CO 3. Dapat memproteksi logam baja St 41. 4.2. Perhitungan Laju Korosi Untuk mengetahui suatu perhitungan yang baik pada laju korosi maka digunakan metode polarisasi resistan atau tahanan polarisasi. Polarisasi resistan adalah ketahanan suatu sampel terhadap oksidasi selama diberi potensial luar dan digunakan untuk menghitung kecepatan korosi. Tetapi sebelum menghitung kecepatan korosi harus ditentukan terlebih 34

dahulu I corr (arus korosi) dari nilai polarisasi yang didapat. rumus dibawah ini menerangkan hubungan antara polarisasi dan I corr. E I = Rp = Dimana: βa βc βa + βc (2,3 i corr ).(4.1) I corr = Arus korosi (ma) 35 Rp βa βc = Tahanan polarisasi atau polarisasi resistan = Konstanta tafel anodik = Konstanta tafel katodik Besaran Rp dihitung secara analitik melalui hubungan antara arus dan tegangan seperti pada Gambar 4.1 Gambar 4.1. Kurva Polarisasi resistan Selanjutnya nilai I corr yang di dapat dimasukan kedalam rumus berikut: laju korosi Corr Rate mpy = 0,13 i corr EW A.D. (4.2)

36 Dimana: I corr = Arus korosi (ma) EW = Berat ekiuvalen (g) A = Luas permukaan sample (Cm 2 ) D = Densitas massa (g/cm 3 ) mpy = Mili-inchi per tahun (mils per year) Teknik resistance digunakan untuk mengamati pola linear kurva polarisasi katoda atau anoda antara 20 mv sampai dengan 20 mv pada daerah Ecorr (pertemuan kurva anodik dan katodik). maka dari penelitian logam baja karbon St 41 dilingkungan air ledeng tanpa dan dengan inhibitor Na 2 CO 3 akan didapatkan hasil data sebagai berikut. Tabel 4.1. Data hasil pengujian dengan metode polarisasi resistan pada sampel baja karbon St 41 Media Inhibitor Inhibitor Inhibitor Air Ledeng Na 2 CO 3 1% Na 2 CO 3 2% Na 2 CO 3 3% Keterangan ph media 7,30 11,80 11,85 12,00 E corr (mv) -700,53-512,39-541,58-532,96 Chatodic Tafel (mv) 18,32 13,74 14,87 26,79 Anodic Tafel (mv) 22,01 23,64 31,17 91,89 I corr (μa/cm 2 ) 2,71 0,31 1,05 1,11 Corr Rate (mpy) 1,2437 0,1427 0,4809 0,5115 Berdasarkan tabel 4.1 hasil pengujian baja karbon St 41 dilingkungan air ledeng tanpa inhibitor dengan teknik polarisasi resistance diperoleh nilai ph 7,30 berarti berada dilingkungan netral. Sedangkan potensial korosi (Ecorr) -700,53 mv, dengan arus korosi

(Icorr) yaitu 2,71 μa/cm 2 dari hasil perhitungan yang menggunakan software 342 Sotcorr Corrosion Meansurement software didapatkan laju korosi sebesar yaitu 1,2437 mpy. 37 Dengan penambahan inhibitor 1% Na 2 CO 3 pada baja karbon St 41 dilingkungan air tanah terjadi perubahan harga ph semula 7.30 menjadi 11,80 hal ini menunjukan terjadi penaikan ph yang cukup besar diikuti dengan terjadinya penurunan harga potensial (Ecorr) - 700,53 mv menjadi -512,39 mv sesuai dengan gambar 4.2 dan 4.3 kemudian terjadi penurunan arus korosi ( Icorr ) yaitu 2,71 μa/cm 2 menjadi 0,31. Laju korosi baja karbon St 41 dilingkungan air tanah laju korosi sebelumnya 1,2437 mpy sedangkan pada penambahan inhibitor Na 2 CO 3, 1% menjadi 0,1427 mpy jelas terlihat adanya penurunan laju korosi. Dari gambar 4.4 terlihat adanya penambahan inhibitor Na 2 CO 3, sebesar 2% pada baja karbon St 41 dilingkungan air ledeng telihat ph terjadi penurunan dari 7,30 menjadi 11,85 sedangkan potensial korosi (Ecorr) -700,53 mv menjadi -541,58 mv hal ini terjadi menunjukkan adanya penurunan potensial kedaerah yang bersifat katodik, sedangkan arus korosi ( Icorr ) semula yaitu 2,71 μa/cm 2 menjadi 1,05 μa/cm 2 artinya arus korosi ( Icorr ) terjadi penurunan. Laju korosi terjadi penurunan 1,2437 mpy menjadi 0,4809 mpy hal ini terjadi menunjukkan adanya penurunan laju korosi. Jika membandingkan gambar 4.2 dan gambar 4.5 dimana harga ph dari 7.30 menjadi 12,00 sedangkan potensial korosi semula (Ecorr) -700,53 mv menjadi -532,96 mv terjadi penurunaan ph, sedangkan arus korosi 2,71 μa/cm 2 menjadi 1,11 μa/cm 2 terjadi penurunan pada arus korosi (Icorr). Laju korosi terjadi penurunan 1,2437 mpy menjadi 0,5115 mpy hal ini terjadi menunjukkan adanya penurunan laju korosi.

38 Dari analisa pembahasan diatas dapat dilihat bahwa baja karbon St 41 dilingkungan air ledeng akan mengalami laju korosi yang terkecil berada di inhibitor 1% sebesar 0,1427 mpy artinya lebih efektif dapat digunakan untuk memproteksi pipa baja karbon yang menggunakan air ledeng 4.3. Pengaruh Konsentrasi Na 2 CO 3 terhadap Laju korosi Dalam larutan, garam akan terurai menjadi anion dan kation pembentuknya. Ion-ion tersebut akan menjadikan larutan mampu menghantarkan muatan listrik yang mengalir dalam larutan tersebut. Hal ini mengakibatkan nilai konduktifitas dari larutan garam akan sebanding dengan konsentrasi garam terlarut dalam larutan tersebut. Proses korosi merupakan suatu reaksi elektrokimia antara logam sebagai anoda dengan lingkungan yang bertindak sebagai katoda. Akibatnya, kecepatan berlangsungnya reaksi akan sangat ditentukan oleh konduktifitas dari larutan elektrolit yang menghubungkan antara anoda dan katoda. Larutan dengan konduktifitas yang baik akan mengakibatkan reaksi korosi berlangsung dengan cepat sehingga akan meningkatkan laju korosi. Pengaruh konsentrasi Na 2 CO 3 dalam larutan akan sangat berpengaruh terhadap laju korosi baja karbon St 41 dalam larutan tersebut. Pemberian konsentrasi yang tepat pada larutan Na 2 CO 3 akan mengurangi kelarutan produksi ion dalam larutan sehingga akan menurunkan laju korosi baja karbon St 41 dalam larutan tersebut. Oleh karena itu, konsentrasi Na 2 CO 3 dapat meningkatkan dan menurunkan laju korosi baja karbon St 41 dalam larutan tersebut tergantung pada pengaruh dominan yang ditimbulkan oleh konsentrasi Na 2 CO 3 tersebut. Dari Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa laju korosi (Corr Rate) dengan penambahan Inhibitor relatif lebih rendah di bandingkan tanpa penambahan inhibitor. Dari data ini dapat sisimpulkan bahwa inhibitor mempunyai sifat pelapis terhadap korosi..

39 4.2.1. kurva laju korosi Polalirasi Resistance laut dengan larutan NaNo2 Dari proses pengujian korosi menggunakan polarisasi resistance maka diperoleh data berupa kurva tafel yaitu kurva potensial lawan log arus. Kurva tafel untuk sampel baja karbon St 41 dengan media air tanah dan larutan Na 2 CO 3 yaitu 1%, 2%, dan 3% disajikan pada gambar. Gambar 4.2 kurva polarisasi baja karbon St 41 dalam larutan air ledeng tanpa inhibitor

40 Gambar 4.3 kurva polarisasi baja karbon St 41 dalam larutan air ledeng dengan penambahan inhibitor 1% Gambar 4.4 kurva polarisasi baja karbon St 41 dalam larutan air ledeng dengan penambahan inhibitor 2%

41 Gambar 4.5 kurva polarisasi baja karbon St 41 dalam larutan air ledeng dengan penambahan inhibitor 3% 4.4 Pengujian Potensiodinamik 4.4.1 Data Laju Korosi (Corrosion Rate) Pengujian Potensiodinamik dilakukan berdasarkan analisa tafel dan memperlihatkan bahwa spesimen Baja karbon St 41 pada media air tanah dengan variasi kandungan Inhibitor NaNO2 1%, 2%, dan 3% dan konsentrasi yang berbeda sehingga akan mempengaruhi laju korosinya. Pada pengujian digunakan untuk mendapatkan Potensial korosi ( E corr ) yang digunakan adalah -100 mv hingga 600 mv. Pengujian ini menggunakan software 342 Sotcorr Corrosion Meansurement software. Pada pengujian menggunakan metode potensiodinamik akan mendapatkan kurva tafel.

42 Gambar 4.6 kurva potensiodinamik pada media Air ledeng tanpa Inhibitor Gambar 4.6 menunjukkan bahwa material baja karbon St 41, mulai sangat reaktif dengan cara bereaksi terhadap ion-ion pembentuk larutan, melapisi permukaan dengan lapisan-lapisan mineral. Kondisi ini terjadi saat material mengalami korosi pada potensial ( E corr ) dengan rapat arus tertentu ( i corr ). Pada pengujian metode potensiodinamik tanpa inhibitor potensial korosi pada titik sekitar -600 dan arus mulai pasif 10 1 Pada kurva terjadi reaksi oksidasi yang cukup reaktif, ditandai dengan kurva yang landai atau pergeseran arus yang semakin membesar. kurva tafel dari pengujian potensiodinamik dengan penambahan inhibotor terlihat pada gambar 4.7, 4.8, dan 4.9

43 Gambar 4.7 kurva potensiodinamik pada media Air ledeng dengan Inhibitor 1% Gambar 4.8 kurva potensiodinamik pada media Air ledeng dengan Inhibitor 2%

44 Gambar 4.9 kurva potensiodinamik pada media Air ledeng dengan Inhibitor 3% Gambar 4.7, 4.8 dan 4.9 merupakan grafik potensiodinamik pada media air ledeng dengan menggunakan inhibitor. Dari gambar 4.7 terlihat bahwa sempel kurva potensiodinamik dengan media air ledeng dengan penambahan inhibitor 1%, menunjukkan sampel masih berada di daerah aktif sesuai dengan gambar 4.7 dimana potensial sekitar -500 mv terbentuk senyawa oksida baja yang bersifat pasif. Pasivasi adalah pembentukan lapisan film permukaan dari oksida logam hasil oksidasi yang tahan terhadap korosi sehingga dapat mencegah korosi lebih lanjut. Dari gambar 4.8 kurva potensiodinamik dengan media air ledeng dengan penambahan inhibitor 2%, menunjukkan sampel masih bersifat aktif namun pada titik potensial sekitar - 550 mv mengalami pasivasi. Pasivasi adalah pembentukan lapisan film permukaan dari oksida logam hasil oksidasi yang tahan terhadap korosi sehingga dapat mencegah korosi lebih lanjut.

45 Dari gambar 4.9 kurva potensiodinamik dengan media air ledeng dengan penambahan inhibitor 3%, menunjukkan perilaku pasif dan mengalami pasivasi sehingga laju korosinya lebih kecil. Banyaknya lapisan passive akan mudah merusak, hal ini disebabkan banyaknya zat kimia yang berlebih 4.5 Esisiensi Inhibisi korosi Pemberian inhibitor dapat mengurangi laju korosi dan dapat menaikkan nilai inhibisi. Kemampuan untuk mengukur menginhibi diukur dari efisiensinya. Nilai efisiensinya bergantung kepada konsentrasi inhibitor yang digunakan. Semakin besar konsentrasi inhibitor yang digunakan maka akan besar pula efisiensi yang akan didapatkannnya. Adanya inhibitor pada permukaan baja karbon St 41akibat adanya adsorbsi. Adsorbsi timbul dikarenakan adanya gaya adhesi antara inhibitor dengan permukaan Baja karbon St 41. Adsorbsi molekul inhibitor pada permukaan Baja karbon St 41akan menghasilkan semacam lapisan tipis (film) pada Baja karbon St 41 yang dapat menghambat laju korosi. 4.6 Foto Optik Morfologi Permukaan Untuk dapat mengetahui kondisi material setelah pengujian laju korosi maka perlu dilakukan pengujian foto optik. Dari pengujian foto optik akan tampak kerusakan yang terjadi pada sempel uji setelah mengalami pengujian laju korosi. Berikut merupakan hasil pengujian foto Optik pada material baja karbon St 41. Adanya uniform corrosion, yaitu korosi merata yang menyerang permukaan logam, hasil dari korosi jenis ini adalah lubang di permukaan logam.

Foto Morfologi Permukaan sampel diperoleh dengan menggunakan alat mikroskop optik tipe olympus BX 51,dengan perbesaran 100 kali 46 Gambar4.10 Mikroskop optik 4.6.1 Analisa Foto Optik permukaan pada sampel A. Foto Optik Permukaan dari sempel awal Gambar 4.11 Foto optik permukaan sampel awal. Foto optik permukaan sampel awal dapat dilihat pada gambar, pada gambar terlihat adanya garis-garis halus dan relatif tipis merupakan pengaruh dari pengamplasan permukaan baja karbon St.41. Terlihat juga bahwa permukaan masih rata, bersih, belum

mengalami cacat ( belum terkorosi). Hal ini berarti baja karbon St41 belum menunjukan reaksi korosi karena belum ada pengaruh dari lingkungan air ledeng yang bersifat korosif. 47 B. Foto optik permukaan Baja karbon St 41dilingkungan air ledeng tanpa menggunakan inhibitor. Gambar 4.12 Foto optik permukaan baja karbon St 41 dilingkungan air ledeng tanpa menggunakan inhibitor Gambar 4.11 yang merupakan hasil foto optik permukaan sampel baja karbon St 41 setelah melakukan uji korosi dalam media air ledeng tanpa penambahan inhibitor terlihat bahwa baja karbon St 41 mengalami proses korosi yang sangat cepat yang ditandai lubang-lubang merata pada permukaan sampel akibat reaksi kimia dan diprediksi mengalami uniform corrosion (korosi merata). Terlihat jelas bahwa sampel tersebut telah mengalami korosi dan terjadi kerusakan pada permukaan baja karbon St 41. Permukaan sampel mengalami perubahan struktur dan terbentuk pori dimana logam teroksidasi, dilingkungan yang korosif akan lebih cepat berkorosi.

48 C. Foto optik permukaan Baja karbon St 41 tanpa menggunakan inhibitor Konsentrasi 1% Konsentrasi 2% Konsentrasi 3% Gambar 4.12 Foto optik permukaan baja karbon St 41 menggunakan inhibitor konsentrasi 1%, 2%, 3% Dari Gambar 4.11 terlihat adanya perbedaan yang cukup signifikan yang terjadi pada permukaan baja karbon St 41 akibat reaksi yag terjadi pada media air ledeng. Dengan penambahan inhibitor yang diberikan terlihat penurunan seranganan laju korosi dimana terbukti terlihat hasil foto optik dengan perbesaran 100 kali permukaan logam semakin pasif. Secara teoritis peranan dari inhibitor katodik Na 2 CO 3 terhadap logam baja karbon St 41, dimana inhibitor akan teradsorbi pada permukaan logam sehingga secara reaksi kimia akan terbentuk seyawa komplek yang sangat sulit larut, hal ini yang membuat logam akan terproteksi sehingga logam akan bersifat pasif, akibatnya laju korosi akan semakin menurun, tetapi sifat inhibitor ini konsentrasinya harus tetap. Sesuai hasil penelitian dan analisa yang didapatkan inhibitor yang tepat adalah 1% Na 2 CO, tapi jika berlebih 2% atau 3% maka lapisan pasif akan rusak.