Kuliah Ke-9. Marlan Hutahaean

dokumen-dokumen yang mirip
Batasan dan Ruang Lingkup Kebijakan Publik

KEBIJAKAN PUBLIK Kuliah 4

Prakiraan Hasil Kebijakan yang Diharapkan

Perumusan Masalah Dalam Analisis Kebijakan : Lanjutan

Analisis Kebijakan Publik

KEBIJAKAN PUBLIK. Kebijakan Pangan TIP FTP UB

UU ORMAS: DAMPAK DAN PROSPEK AKTUALISASI MASYARAKAT SIPIL

Model-model Kebijakan Publik

BAB I PENDAHULUAN. warga tertentu. Strategi komunikasi politik juga merupakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. rangkaian proses pembuatan dan pelaksanaan suatu kebijakan publik. Para ahli

HUKUM & KEBIJAKAN PUBLIK

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

Kuliah 2 Luas Lingkup dan Perkembangan Studi Implementasi

Pokok-pokok Pikiran RUU Kebudayaan, Negara dan Rakyat 1 [sebuah catatan awam] 2. Oleh Dadang Juliantara

BAB I PENDAHULUAN. jumlah suara yang sebanyak-banyaknya, memikat hati kalangan pemilih maupun

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi dewasa ini, kita dihadapkan pada perubahan arah

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

PENDAHULUAN. Latar Belakang

Keterangan Pers Presiden RI tentang Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi, Jumat, 26 Juni 2009

PEDOMAN BELAJAR ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN SEMESTER II TAHUN 2011

TATAKELOLA KORPORASI MANAJEMEN STRATEGIK KULIAH II TATAKELOLA SECARA UMUM PENGELOLAAN KORPORASI DAN TANGGUNGJAWAB SOSIAL

publik pada sektor beras karena tidak memiliki sumber-sumber kekuatan yang cukup memadai untuk melawan kekuatan oligarki politik lama.

Struktur kelembagaan politik, ekonomi dan sosial suatu masyarakat dapat menciptakan atau melanggengkan demokrasi, tetapi dapat pula mengancam dan mele

Silabus Analisis Kebijakan Kesehatan Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana

TPU/ KOMPETENSI DASAR

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR :16/DPR RI/I/ TENTANG KODE ETIK DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Kuliah 12 EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK

Pentingnya Mempelajari dan Latar Belakang Munculnya Studi Kebijakan Publik

AKTOR, KONTEN, KONTEKS KEBIJAKAN

BAB II LANDASAN TEORI

2 2. Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1607); MEMUTU

TATA KELOLA PEMERINTAHAN, KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK. Hendra Wijayanto

BAB I PENDAHULUAN. banyak masalah sosial diantaranya pengangguran, kriminalitas, dan kekurangan bahan pangan bahkan gizi buruk.

isu kebijakan dan dinamikanya. Kemudian pada bagian kedua kita akan Isu kebijakan publik sangat penting dibahas untuk membedakan istilah

Oleh Dra. Hj. Siti Masrifah, MA (Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa) Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKB 1

II. TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN. Tantangan utama negara-negara di seluruh dunia bukan lagi isu perang dingin. Melainkan

LAPORAN HASIL PELAKSANAAN RESES ANGGOTA FRAKSI PARTAI DEMOKRAT DPRD PROVINSI JAWA TENGAH

akibatnya fenomena seperti ini menjadi hal yang berdampak sistemik. Tawuran pelajar yang

RANCANGAN RENCANA KERJA BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK KOTA MALANG TAHUN ANGGARAN 2017

INDIKATOR KINERJA INDIVIDU

Model Mazmanian dan Sabatier

CATATAN PENUTUP REFLEKSI AKHIR TAHUN PAPUA 2010 : MERETAS JALAN DAMAI PAPUA OLEH: LAKSAMANA MADYA TNI (PURN) FREDDY NUMBERI

Kebijakan Publik & kebijakan Kesehatan. Mata Ajaran Kebijakan Kesehatan PS IKM FKM UI. Drh. Wiku Adisasmito, MSc, PhD Departemen AKK, FKM UI

BAB I PENDAHULUAN. baik. Akibatnya timbul berbagai masalah seperti korupsi, kolusi dan nepotisme

BAB V KESIMPULAN, REKOMENDASI DAN SARAN

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN

Oleh : Erick E Abednego 11/315703/EK/18501

POLICY PAPER. : Strategi Pemberantasan Korupsi di Indonesia Inisiator : Pusat Kajian Administrasi Internasional LAN, 2007

ABSTRAK (RINGKASAN PENELITIAN)

Surat Terbuka Untuk Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo dan Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla

H. TOTOK DARYANTO, SE A-489 / FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Bab 1. Pendahuluan. pejalan kaki ini sebenarnya telah diatur pada paasal 131 dan pasal 132 UU

BAB III ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( S A P )

Silabus MATA KULIAH KEBIJAKAN PEMERINTAH Program Studi Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Warmadewa Dosen Pengampu: I Wayan Gede Suacana

BAB I PENDAHULUAN. Sumarto, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2009, hal. 1-2

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

KEWAJIBAN PELAPORAN DANA KAMPANYE PESERTA PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF 2014

Pendekatan Kebijakan Publik

Perumusan Masalah Dalam Analisis Kebijakan

VI. SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan Analisis yang telah peneliti lakukan, maka dapat

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya komunikasi adalah unsur pokok dalam suatu organisasi karena

UTAMI DEWI IAN UNY 2013 Week 1

Peningkatan Keterwakilan Perempuan dalam Politik pada Pemilu Legislatif Nurul Arifin

Pemilu Serentak 2019 dan Penguatan Demokrasi Presidensial di Indonesia. Oleh Syamsuddin Haris

TOPIK LOMBA DEBAT KENEGARAAN SE-JATIM 2016 HIMPUNAN MAHASISWA PRODI ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUKUM UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi persyaratan (Sumarno, 2005:131). pelaksanaan pemilihan kepala daerah ( pilkada ).

KUESIONER PENILAIAN INISIATIF ANTI KORUPSI 2010 DIREKTORAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI 2010

MODUL 11: PRAKTIK TERBAIK UNTUK DESAIN PROYEK. USAID Adapt Asia-Pacific

Komunikasi dan Politik 1 Oleh : Adiyana Slamet, S.Ip., M.Si

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Perencanaan Partisipatif Kelompok 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

ANALISIS FORMULASI DAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERATURAN DAERAH NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG INISIASI MENYUSU DINI DAN ASI EKSKLUSIF KABUPATEN KLATEN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. semua warga menikmati kebebasan untuk berbicara, kebebasan berserikat,

REVITALISASI INSTITUSI PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH

BERSATU MENGATASI KRISIS BANGKIT MEMBANGUN BANGSA

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN. Page 1

RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN)

BAB II DIMENSI KEBIJAKAN

MEWUJUDKAN TATAKELOLA PEMERINTAHAN DESA

LANGKAH-LANGKAH ANTISIPASI PEMANTAPAN STABILITAS KEAMANAN DALAM NEGERI

KONSTITUSI DAN RULE OF LAW

2015, No Kementerian sebagaimana telah tujuh kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2013; 4. Peraturan Kepala Arsip Nasi

Transkripsi:

Kuliah Ke9 Agenda Setting 1

Pendahuluan Agenda setting merupakan daftar permasalahan atau isu yang ditindaklanjuti, a listing of items for action (Jones, 1984) Agenda setting sebagai permasalahan yang mendapat perhatian yang aktif dan serius dari para pengambil kebijakan (Edward dan Sharkansky, 1978). Inti pandangan di atas, agenda setting merupakan tahap apakah masalahmasalah yang diinventarisir dapat diusulkan dan dimasukkan menjadi agendanya pemerintah. Manakala satu masalah telah menjadi agendanya pemerintah, maka peluang untuk dibahas dan diputuskan menjadi satu kebijakan sangat besar. Meskipun misalnya satu masalah dianggap urgen untuk diatasi melalui instrumen kebijakan, tetapi apabila tidak masuk menjadi agendanya pemerintah, tentunya tidak akan menghasilkan satu kebijakan. 2

Isu, Masalah dan Kebijakan Oleh karena agenda setting sangat terkait dengan isu dan masalah, maka rumusan keduanya juga harus jelas, sehingga kebijakan yang akan dipilih tidak bias. Isu Masalah Kebijakan Orang tidur di jalanan Tunawisma Perumahan lebih banyak Orang tidurdi jalanan Gelandangan Penegakan hukum dan Penertiban Pedagang kaki lima Mengganggu keindahan kota Penertiban dan penggusuran Pedagang kaki lima Kantong penyelamat pengurangan pengangguran Penataan dan perlindungan 3

Policy Identification : Pertanyaan Penting untuk Dijawab 1. Apakah isu ini benarbenar merupakan masalah? 2. Siapakah sasarannya? 3. Apa alasannya atau buktinya? 4. Apakah masalah ini urgen? 5. Apakah akibat negatif jika intervensi tidak segera dilakukan? Jika masalahnya urgen, maka pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab Menjaga agar jangan sampai terjadi solving the wrong problem yang sering juga disebuat sebagai errors of the third type (Dunn, 2004) 1. Apa yang seharusnya menjadi tujuan jangka panjang (goals) dan jangka pendek (objectives)? 2. Apakah sasaran dan tujuan yang akan dicapai dengan masalah sudah logis? 3. Jika, ya bagaimana mengangkat masalah itu menjadi agenda setting? 4

Masalah Kebijakan Masalah Terstruktur (wellstructures) Kriteria Jenis Masalah Masalah Semi Struktur (moderately structure) Aktor yang Terlibat Private vs Public Lokus Procedural vc Substantive Kebaruan Masalah Rutin (lama) vs Kritis (baru) Cara Masalah Diartikulasikan Selected (ditentukan sendiri) vs Pressing (didorong oleh pelaku lain ) Sifat Kebijakan yang Dirumuskan Distributive vs Regulatory Tidak Terstruktur (illstructured) Dunn (2004) Wibawa (1994) No. Elemen Terstruktur Terstruktur Sedang Tidak Terstruktur 1. Jumlah pengambil keputusan Satu/sedikit Satu/sedikit Banyak 2. Alternatif keputusan Terbatas Terbatas Tidak ada batasan 3. Nilai Konsensus Konsensus Konflik 4. Hasil Tertentu/ada risiko Tidak tertentu Tidak diketahui 5. Kemungkinan Terhitung Tidak terhitung Tidak terhitung Abidin (2004) 5

Pembiasan Menuju Agenda Setting Ada 3 kemungkinan terjadinya pembiasan masalah menuju agenda setting : 1. Masalah dan tuntutan pada umumnya tidak dimasukkan dalam pembahasan kebijakan. 2. Masalah yang diajukan menjadi agenda setting itu dibunuh atau dicegat sebelum mencapai arena pembahasan kebijakan. 3. Diubah sedemikian rupa oleh aktoraktor yang terlibat dalam pengagendaan. 6

Sumber/Asal Pengajuan Masalah Eksekutif, Legislatif, Birokrat Lebih mudah menjadi Agendanya Pemerintah Sumber/Asal Pengajuan Masalah Kelompok Kepentinga, Media Massa, intelektual Lebih sulit menjadi Agendanya Pemerintah, kecuali ada tekanantekanan yang dilakukan secara intens Kasus : Tambahan kenaikan tunjangan (untuk dialog dengan konstituen) anggota DPR 20042009 sebesar Rp 10 juta per bulan. Sebenarnya bukan masalah yang urgen, karena take home pay mereka sebelumnya Rp 28.378.000/bln, tetap menjadi agendanya pemerintah yang dibahas pada APBN Perubahan 2005 bulan September 2005 (Kompas, 21 Oktober 2005). Meskipun ada beberapa anggota DPR yang tidak setuju pada Rapat Paripurna DPR 24 Okt. 2005, tetap saja usul ini menjadi satu kebijakan. 7

Sumber/Asal Pengajuan Masalah Kasus di atas menunjukkan bahwa usulan dari kelompok yang kuat yang potensial menjadi agendanya pemerintah. Terkait hal ini Jones (1984) menjelaskan melalui konsep active and legitimate group dalam sistem demokrasi. Pengertian aktif berkaitan dengan kerapian organisasi, struktur, leadership, dukungan dan tersedianya sumberdaya. Karenanya, kelompok yang paling mudah melakukan aktifitas adalah kelompok yang memiliki semua sarana itu. Tidak mengherankan apabila isu yang berkaitan dengan kelompok kaya menjadi lebih menonjol daripada isu yang mewakili kelompok miskin. Analoginya : kelompok yang kuat (yang mewakili wewenang, daya tahan, keuangan dan sumberdaya yang baik, tentunya akan selalu terpenuhi keinginannya daripada kelompok yang lemah (Contoh : Kasus Lapindo di Sidoarjo). 8

Cara Agar Masalah Menjadi Agenda Setting Edward dan Sharkansky (1978) mengemukakan 5 cara agar satu masalah atau iu kebijakan menjadi agenda setting Inisiatif dan prosesnya dilakukan oleh para pengambil kebijakan sendiri. Cth : Perpres, Keppres, Inpres, Permen, Kepmen. Desakan pihak lain di luar pemerintah, seperti LSM, Ormas, dan Parpol, atau bahkan lembaga asing. Cth : Resep IMF Lembaga penelitian milik pemerintah melalui temuan ilmiah dan data yang dikumpulkan dari masyarakat. Cth : LIPI Perorangan di luar organisasi pemerintah yang mengangkat isu atau masalah tertentu. Cth : isu percaloan penentuan dana DPPID di Banggar DPR oleh anggota DPR. Media Massa yang mematangkan satu isu, sehingga menjadi perhatian pemerintah. Cth : Isu kekurangan gizi di Papua. 9

Cara Agar Masalah Menjadi Agenda Setting Sebuah insiden Media mengangkat cerita Insiden digambarkan sebagai problem sosial yang lebih besar/luas Muncul stereotipe, distorsi isu. Liputan yang melebihi porsi Kepanikan publik Media dan Kepanikan Publik, Parsons, 2005, 110. Tuntutan agar pembuat kebijakan melakukan sesuatu 10

Sikap Pemerintah terhadap Agenda Setting Sikap pemerintah dalam proses agenda setting merupakan pilihan salah satu atau kombinasi dari 3 sikap berikut : 1. Membiarkan apa yang terjadi. Pemerintah bersikap pasif pada proses yang berlangsung, sambil mempengaruhi dan mengawasi secara tidak langsung. 2. Memfasilitasi masyarakat untuk merumuskan masalah dan menyalurkannya melalui prosedur yang formal. 3. Pemerintah bertindak aktif dalam merumuskan masalah dan memprosesnya dalam agenda kebijakan. Tabel berikut menunjukkan sikap pemerintah dalam Proses Agenda Setting. Alternatif Sikap Kematangan Pemeritah Masyarakat Pentingnya Isu Tersedianya Informasi Pentingnya Penerimaan Penting Tersedia Kurang Penting Tidak Matang Kurang Tidak Membiarkan Memfasilitasi Bertindak Aktif 11

Model Penetapan Agenda (Rogers dan Dearing) Pengalaman personal dan komunikasi antar personal Penjaga gerbang plus media berpengaruh Agenda media Agenda publik Agenda kebijakan Indikator arti penting dari kejadian atau isu agenda di dunia nyata Parsons, 2005: 116. 12

Perluasan dan Kontrol Agenda (Cobb dan Elder (1972 dalam Parsons, 2005: 130) Karakteris tik isu Inisiator Penekan an media massa Perangkat pemicu Perangkat pemicu Perluasan ke publik Pola akses Agenda pengambil an keputusan Pengguna an simbol Agenda Sistematis Semua isu secara umum dianggap oleh anggota komunitas politik pantas mendapat perhatian dari otoritas publik Agenda Institusional Muncul secara eksplisit dan menjadi pertimbangan serius oleh pembuat keputusan. Untuk mendapatkan akses ke agenda sistematis, sebuah Mungkin merupakan item lama yang muncul karena isu harus mendapat perhatian luas dari sebagian besar diulas secara reguler atau menjadi perhatian secara persepsi publik, sehingga isu itu menjadi perhatian periodik, atau mungkin ia merupakan item baru. otoritas publik. 13

Terimakasih 14