Oleh: Dra. Rahayu Ginintasasi, M. Si

dokumen-dokumen yang mirip
PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS. Oleh: Dra. Rahayu Ginintasasi, M. Si

Pedologi. Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD) Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi

Pedologi. Attention-Deficit Hyperactivity Disorder Kesulitan Belajar. Yenny, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas Psikologi. Program Studi Psikologi

II. Deskripsi Kondisi Anak

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

BERBAGAI MACAM KESULITAN BELAJAR YANG DAPAT DIKETAHUI SEJAK AWAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan

Kuliah 3 Adriatik Ivanti, M.Psi, Psi

ADD/ADHD & PEMBELAJARANNYA. Tim Dosen Hidayat dan Musjafak

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada anak-anak, diantaranya adalah ganguan konsentrasi (Attention

1. DEFINISI MURID TUNA CAKAP BELAJAR

BAB I. sosialnya sehingga mereka dapat hidup dalam lingkungan sekitarnya. Melalui

KESULITAN BELAJAR SPESIFIK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan perilaku anak berasal dari banyak pengaruh yang

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan manusia setiap saat akan menerima banyak sekali

LAYANAN PSIKOLOGIS UNTUK SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS. Komarudin Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta

Oleh TIM TERAPIS BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KHUSUS DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH

Memahami dan membantu anak-anak yang mengalami ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

2015 PEMBELAJARAN TARI MELALUI STIMULUS GERAK BURUNG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KINESTETIK PADA ANAK TUNAGRAHITA SEDANG DI SLB YPLAB LEMBANG

PENDIDIKAN KHUSUS LANDASAN YURIDIS

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal,

Bagaimana? Apa? Mengapa?

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tidak semua anak berbakat punya perilaku layaknya anak-anak normal. Ada juga diantara mereka memiliki

BAB III ANALISIS ANAK-ANAK INDIGO

BAB I PENDAHULUAN. yang diharapkan memiliki kecakapan hidup dan mampu mengoptimalkan segenap

PENGERTIAN. Dita Rachmayani., S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id 5/9/2017

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Komunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia sehari-hari, bahkan

PENDIDIKAN SISWA BERKEBUTUAN KHUSUS. Kuliah 1 Adriatik Ivanti, M.Psi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

POLA INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS DI SEKOLAH KHUSUS AUTIS. Skripsi Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan. Mencapai derajat Sarjana S-1

Deteksi Potensi Kesulitan. Yusi Riksa Yustiana PPB FIP UPI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan

BAB I PENDAHULUAN. semangat untuk menjadi lebih baik dari kegiatan belajar tersebut.

ANAK ADHD PERSISTILAHAN DISORDER. DIOTAK KECIL. OTAK KECIL. 1. ADHD= ATTENSION DEFISIT AND HYPERACTIVITY 2. ADD= ATTENSION DEFISIT DISORDER.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

Pengantar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

PENDIDIKAN KHUSUS PUSAT KURIKULUM BALITBANG DIKNAS

MELATIH MOTORIK ANAK DOWN SYNDROME DENGAN METODE PERSIAPAN MENULIS DI TK PERMATA BUNDA SURAKARTA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori atau Konsep 1. Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus Anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa yang berbeda

Pengertian intelegensi bermacam-macam dapat diartikan 1. Kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir

BAB I PENDAHULUAN. salah satu cara untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang atau kelompok

IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN STRATEGI PEMBELAJARANNYA. Oleh Mardhiyah, Siti Dawiyah, dan Jasminto 1

Pedologi. Review Seluruh Materi. Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi.

BAB II LANDASAN TEORI. keadaan yang biasa, mempunyai kelainan dan tidak normal. Pada undang-undang

SEKOLAH UNTUK ANAK AUTISTIK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hasil survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 menyatakan bahwa dari

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan mereka dapat menggenggam dunia. mental. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak serta sama,

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia memiliki tingkat intelektual yang berbeda. Menurut Eddy,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam gangguan perkembangan yang diderita oleh anak-anak antara

BAB 1 PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. lembaga-lembaga kemasyarakatan. Kelompok-kelompok ini biasanya

LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

BAB 1 PENDAHULUAN. (tumbuh dan kembang) terjadi bersama dengan golden age (masa peka).

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. UNESCO pada tahun 2014 mencatat bahwa jumlah anak autis di dunia mencapai

PEMBELAJARAN MENULIS PERMULAAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SDN SEMPU ANDONG BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2012/2013

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

PENDIDIKAN KHUSUS & PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TIME OUT : ALTERNATIF MODIVIKASI PERILAKU DALAM PENANGANAN ANAK ADHD (ATTENTION DEFICIT/HYPERACTIVITY DISORDER)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN TEORI. dialami oleh siswa sebagai peserta didik, untuk menentukan berhasil atau tidaknya

Penyuluhan Perkembangan Anak Usia Dini dan Anak Hyperactive Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan. Chr Argo Widiharto, Suhendri, Venty.

Anak Autistik dan Anak Kesulitan Belajar. Mohamad Sugiarmin Pos Indonesia Bandung, Senin 27 April 2009

BAB 1 PENDAHULUAN. dilahirkan akan tumbuh menjadi anak yang menyenangkan, terampil dan

Perbedaan Pribadi & Kebutuhan Akan Pendidikan Khusus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penjelasan dari individu dengan gejala atau gangguan autisme telah ada

Diagnosis Kesulitan Belajar

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu

LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN. : Stimulasi Brain Gym pada Anak ADHD (Studi Kasus pada Anak ADHD)

BAB I PENDAHULUAN. satu pun dari semua ini ada karena hak manusia memutuskan untuk. kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-nya.

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan dan perkembangan fisik, sosial, psikologis, dan spiritual anak.

BAB I PENDAHULUAN. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain

BAB I PENDAHULUAN. pikiran dan perasaan kepada orang lain. 1. lama semakin jelas hingga ia mampu menirukan bunyi-bunyi bahasa yang

BAB II KAJIAN TEORITIK

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Attention Deficit Hyperactivity Disorder. disebabkan karena cedera otak ringan atau disebut Minimal Brain Damage

Karakteristik Anak Usia Sekolah

Analisis Kemampuan Berkomunikasi Verbal dan Nonverbal pada Anak Penderita Autis (Tinjauan psikolinguistik)

BAB I PENDAHULUAN. (verbal communication) dan komunikasi nonverbal (non verbal communication).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang bisa merangsang motorik halus anak. Kemampuan ibu-ibu dalam

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dan proses-proses sosial di dalam masyarakat (Bungin 2006: 48). Dalam lembaga

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia akan melalui tahap perkembangan dari masa bayi hingga

2015 PENGARUH LATIHAN ANGKLUNG TERHADAP PENGETAHUAN TANGGA NADA DIATONIS ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SPLB-C YPLB CIPAGANTI KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. inklusif menjamin akses dan kualitas. Satu tujuan utama inklusif adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. kompleks pada anak, mulai tampak sebelum usia 3 tahun. Gangguan

Fenomena-fenomena Anak-anak anak tuna grahita merupakan individu yang utuh dan unik yang pada umumnya juga memiliki potensi atau kekuatan dalam mengim

MENGENAL ANAK ASPERGER Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si, psikolog*

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan manusia merupakan perubahan. yang bersifat progresif dan berlangsung secara

Transkripsi:

Oleh: Dra. Rahayu Ginintasasi, M. Si

LATAR BELAKANG 1. Terdapat sekitar 20% lebih anak yang berusia 10-15 tahun di negara-negara Barat mengalami masalah psiko-emosional(henning Rye, 2007) 2. Sindroma down (kebanyakan pada tahap imbecil) 2. Sindroma down (kebanyakan pada tahap imbecil) merupakan kelainan yang paling sering terjadi. Angka kejadian kelainan ini mencapai 1 dalam 1000 kelahiran. Di Indonesia, prevalensinya lebih dari 300 ribu jiwa

PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS 1. Anak berkebutuhan khusus adalah siswa (di bawah 18 tahun) yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan atau memiliki kecerdasan dan bakat istimewa (www.depdiknas.go.id, 2009) 2. Ada siswa dengan layanan pendidikan khusus, yaitu siswa yang ada di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

ANAK-ANAK YANG TERMASUK BERKEBUTUHAN KHUSUS 1. Tuna netra 2. Tuna rungu 3. Tuna wicara 4. Tuna grahita sedang dan ringan 5. Tuna daksa ringan dan sedang 6. Tuna laras, HIV, AIDS, dan narkoba 7. Autisme, syndrom asperger 8. Tuna ganda 9. Kesulitan belajar, lambat belajar (ADHD, disgrafia, dislexia, diskalkulia, dispraxia) 10. Gifted (IQ > 125) dan talented (bakat istimewa) serta indigo

AUTISME Permasalahan yang banyak muncul akhir-akhir ini adalah tentang autisme. Autisme merupakan gangguan perkembangan sel-sel saraf yang tanpa diketahui penyebabnya. James Coplan (2000) menyatakan bahwa autisme muncul tanpa membedakan usia, tingkat kecerdasan, dan status sosial. Autis dipandang sebagai sekumpulan gejala klinis atau sindrom yang dilatarbelakangi oleh berbagi faktor unik dan saling berkaitan satu sama lain. Perbandingan jumlah penyandangautisantarapriadanwanitasekitar4 : 1. Gangguan spektrum autisme meliputi masalah sosial, bahasa, dan fungsi perilaku.

ADHD ADHD : Attention Deficit Hyperactive Disorder. ADHD dapat diterjemahkan dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperak-tivitas. Gejala anak dengan ADHD sekilas mirip dengan anak autisma, tetapi memiliki kemampuan komunikasi dan interaksi sosial yang jauh lebih baik.

Lanjutan ADHD Gejala ADHD menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, terdiri dari tiga gejala, yaitu: 1. Inatensitivitas atau tidak ada perhatian atau tidak menyimak, terdiri dari: a. Gagal menyimak hal yang rinci. b. Kesulitan bertahan pada satu aktivitas. c. Tidak mendengarkan ketika diajak berbicara. d. Sering tidak mengikuti instruksi. e. Kesulitan mengatur jadwal tugas dan kegiatan. f. Sering menghindar dari tugas yang memerlukan perhatian lama. g. Sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk tugas. h. Sering beralih perhatian oleh stimulus dari luar. i. Sering pelupa dalam kegiatan sehari-hari.

Lanjutan ADHD 2. Impulsivitas atau tidak sabaran, terdiri dari: a. Sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai. b. Sering mengalami kesulitan menunggu giliran. c. Sering memotong atau menyela orang lain. d. Semberono, melakukan kegiatan berbahaya tanpa pikir panjang. e. Sering berteriak di kelas. f. Tidak sabaran. g. Usil, suka mengganggu anak lain. h. Permintaannya harus segera dipenuhi. i. Mudah frustrasi dan putus asa.

Lanjutan ADHD 3. Hiperaktivitas atau tidak bisa diam, terdiri dari: a. Sering menggerakkan kaki atau tangan dan sering menggeliat. b. Sering meninggalkan tempat duduk di kelas. c. Sering berlari dan memanjat. d. Mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan dengan tenang. e. Sering bergerak seolah diatur oleh motor penggerak. f. Sering berbicara berlebihan.

Lanjutan ADHD Sekitar 50% dari anak ADHD diikuti gangguan psikiatrik lainnya, seperti gangguan belajar spesifik (disleksia), keterlambatan bicara, matematik yang lemah, gangguan tics(gerakan bagian tubuh berulang-ulang misalnya mata), oppositional disorder (perilaku menolak), dan conduct disorder(perilaku antisosial, agresif).

Anak Gifted Anak gifted adalah anak dengan intelegensi yang super atau genius, namun memiliki gejala-gejala perilaku yang mirip dengan autisma. Anak gifted memiliki intelegensi jauh di atas normal, dan perilaku mereka seringkali terkesan aneh. Biasanya kegeniusan anak gifted hanya pada suatu bidang tertentu, dan tidak pada semua disiplin ilmu atau keterampilan.

Disleksia(Dyslexia) Disleksia dikenal juga sebagai SPLD (Specific Learning Difficulty). Disleksia merupakan suatu kondisi yang terdapat di dalam segala tingkat kemampuan dan menyebabkan kesulitan yang terus-menerus dalam memperoleh kemampuan membaca dan menulis. Masalah yang dihadapi mencakup penyusunan urutan, pengorganisasian ucapan dan tulisan, pengendalian motorik halus, dan kesulitan mengarahkan gerak. Anak disleksia juga mengalami masalah dengan bunyi yang membentuk kata-kata, maupun kesulitan dalam interpretasi kata, persepsi, penyusunan urutan, menulis dan mengeja.

Diskalkulia(Dyscalculia) Diskalkulia berhubungan dengan kekurangan di dalam belajar matematika. Masalah yang dihadapi mencakup kesulitan untuk mengerti dan mengingat konsep angka dan hubungan angka, kesulitan dalam belajar dan menerapkan pemahaman masalah kata. Diskalkulia bersifat perkembangan, artinya siswa selalu mengalami kesulitan dalam mata pelajaran tersebut. Dengan kata lain, kemampuan aritmatika siswa sebelumnya berada pada tingkat yang lebih tinggi.

Dispraksia(Dyspraxia) Dispraksia berhubungan dengan kemampuan untuk mengatur gerak. Masalah yang dihadapi mencakup masalah dengan bahasa, baik lisan maupun tertulis. Ciri-ciri dispraksia, yaitu: 1. Kesulitan dengan keterampilan motorik halus dan motorik kasar. 2. Kepekaan untuk menyentuh. 3. Memori jangka pendek yang kurang. 4. Tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana meskipun mereka tahu jawabannya.

Dispraksia Lanjutan 5. Masalah berbicara, lambatnya belajar untuk berbicara atau berbicara yang tidak terpadu. 6. Terlibat dalam perilaku tidak dewasa dan dapat menunjukkan tingkah laku marah-marah. 7. Mencapai prestasi lebih baik atas dasar satu-satu.

Disgrafia(Dysgrafia) Kelainan neurologis, ini menghambat kemampuan menulis yang meliputi hambatan secara fisik, seperti tidak dapat memegang pensil dengan mantap ataupun tulisan tangannya buruk. Anak dengan gangguan disgrafia sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka.

Disgrafia Lanjutan Ciri-ciri disgrafia: a. Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya. b. Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur. c. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional. d. Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pengetahuannya lewat tulisan. e. Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. f. Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis. g. Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional. h. Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.

SindromAsperger Sindrom asperger sering disebut bentuk autisme yang lebih tinggi. Orang-orang yang asperger cenderung memiliki intelegensi ratarata dan sering memiliki keterampilan berkomunikasi yang lebih baik daripada anak-anak autis. Ciri-ciriasperger: a. Berpikir lateral. b. Obsesi dengan topik-topik tertentu yang menyebabkan pengetahuan luar biasa di dalam suatu bidang. c. Ingatan luar biasa. d. Kesulitan dengan interaksi sosial. e. Nada bicara mononton.

LanjutanSindromAsperger g. Koordinasi motorik yang kurang. h.kesulitan untuk mengerti dan mengapresiasi dan perspektif orang lain. i. Kesulitan dalam membaca isyarat-isyarat sosial. j. Sedikit empati untuk orang lain.

INTELIGENSI Perkataan inteligensi berasal dari kata latin intelligere yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan, dan menyatukan satu dengan yang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inteligensi mengandung bermacam-macam kemampuan. Pengertian inteligensi berkembang sesuai dengan penekanan para ahli, seperti Stern (1953) lebih menitikberatkan pada soal penyesuaian diri. Sedangkan Thorndike (Skinner, 1959) lebih menekankan pada respon yang baik dan sesuai terhadap stimulus yang diterimanya.

KlasifikasiIQ (Intelligence Quotient) 130 - ke atas Very superior 120-129 Superior 100-119 Bright normal 90-99 Average 80-89 Dull normal (Slow learner) 70-79 Boderline 50-69 Debil 30-49 Imbecil 0-29 Idiot

ANAK YANG MENDAPAT PELAYANAN KHUSUS 1. Daerah terbelakang/terpencil/pedalaman/pulau terluar/tki 2. Masyarakat etnis minoritas terpencil 3. Pekerja anak/anak PSK/trafficking/lapas anak/anak jalanan/anak pemulung 4. Pengungsi(gempa, konflik) 5. Miskin ekstrim

PERMASALAHAN-PERMASALAHAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Proses pengolahan ilmu di otak relatif kurang Yang berinteligensi tinggi akan menghadapi kesulitan dalam pembelajaran normal, suka merasa bosan dan cenderung main-main sendiri Dalam perihal interaksi sosial kurang kontak mata, represif, sulit berinteraksi dengan teman dan guru, tak bisa berempati, memahami maksud orang lain, interaksi, kesulitan menyampaikan keinginan, takut, dan cenderung menghindari orang lain dan sulit memahami isyarat verbal-nonverbal Kerapkali kurang tangkas dan keseimbangan dalam motorik kasar dan halus Kurang terkoordinir dalam melaksanakan salah satu tugas Dalam gerakan sensorik, cenderung hiporeaktif (cuek) dan hiperaktif (enggan belajar), fokus hanya pada detail tertentu/sempit/tak menyeluruh, dan mempunyai perhatian yang obsesif Mempunyai minat terbatas, tak patuh, monoton, tantrum, mengganggu, agresif, impulsif, stimulasi diri, takut-cemas, kerap menangis

PERMASALAHAN (lanjutan) Ketika belajar, kerap melakukan kesalahan sensory memory karena memori mereka hanya pendek sekali jaraknya, mudah lupa, fakta tersimpan, tetapi tidak dalam 1 kerangka konteks yang terjadi Sulit meniru aksi orang lain, namun bisa meniru kata-kata tetapi tidak memahami Mempunyai keterbatasan komunikasi, gangguan bahasa verbal-nonverbal, kesulitan menyampaikan keinginan, dan penggunaan bahasa repetitif (pengulangan) Mengalami kesulitan mengurutkan aktivitas dan kurang kreatif Kesulitan mempertahankan perhatian, mudah buyar, dan kurang kontrol diri.

PENERAPAN PRINSIP BIMBINGAN OLEH GURU TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS 1. Menunjukkan perasaan positif 2. Beradaptasi dengan siswa 3. Berbicaralah dengan siswa 4. Berikan pujian dan penghargaan 5. Bantu siswa memfokuskan perhatiannya 6. Buatlah pengalaman siswa menjadi bermakna 7. Jabarkan dan jelaskan 8. Bantu siswa mencapai disiplin diri

MENERAPKAN PRINSIP BIMBINGAN INTERAKSI UNTUK ANAK USIA SEKOLAH Penelitian komprehensif internasional telah menunjukkan hubungan yang sistematis antara sikap orang tua dan guru di satu pihak, dan pembelajaran serta penyesuaian anak di pihak lain, di mana sikap otoritatif membawa hasil yang positif (Dornbusch et al. 1987, Lamborn et al. 1991; Steinberg et al. 1992; Baumrind & Black, 1967; etc) Sikap otoritatif ditandai dengan orang dewasa berfungsi sebagai contoh baik bagi anak dan secara jelas menunjukkan pemahaman, nilai-nilai, dan kedudukan pribadinya sendiri sebagaimana tercermin dalam aktivitasnya sehari-hari

SIKAP OTORITATIF YANG PENTING 1. Secara jelas mengkomunikasikan persepsi, sikap, dan reaksi 2. Mengungkapkan norma-norma dan nilai-nilai yang jelas yang dianggap adil bagi anak dan dimengerti oleh anak 3. Menunjukkan kasih tapi juga sikap tegas dalam mendidik anak 4. Mendukung dan mengiyakan sikap dan upaya anak yang positif dan menunjukkan reaksi yang jelas dan dapat diprediksi terhadap sikap yang tidak diinginkan 5. Menempatkan tuntutan pada anak sesuai dengan kemampuan dan perkembangan anak 6. Membiarkan anak bertanggung jawab sendiri atas pengalamannya sejauh tingkat perkembangan dan situasinya memungkinkan.

PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN BERBASIS KTSP Pengembangan KTSP mencakup pengembangan program tahunan, program semester, program modul (pokok bahasan), program mingguan dan harian, program pengayaan dan remedial, serta program bimbingan dan konseling. Pelaksanaan pembelajaran yang meliputi pre-test, pembentukan kompetensi, dan post-test Penilaian hasil belajar yang meliputi penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, bencmarking (melalui penilaian secara nasional), penilaian program oleh DepDikNas dan Dinas Pendidikan, serta tindak lanjut.

CONTOH ASPEK PEMBELAJARAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Need Assessment Persepsi Motorik Akademik Bentuk huruf tidak konsisten Huruf b dan d masih tertukar Cara memegang pensil masih belum tepat Latihan membedakan bentuk huruf Latihan memegang pensil dengan benar dan daya tahan menulis Latihan menulis berbagai bentuk huruf

Tindak Lanjut Hasil Penilaian Remedial Pengayaan Siswa asor Siswa kesulitan belajar Siswa unggul