BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manusia yang disebabkan oleh cacing Enterobius vermicularis, merupakan infeksi cacing

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TIJAUAN PUSTAKA. A. Infeksi cacing Enterobius vermicularis (Enterobiasis)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Enterobius vermicularis adalah cacing yang dapat masuk kemulut

TINJAUAN PUSTAKA. dan penyakitnya disebut Enterobiasis atau Oxyuriasis. lingkungan yang sesuai.( Sutanto I. dkk, 2008)


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. putih. Yang betina jauh lebih besar dari pada jantan. Ukuran cacing betina sampai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Soil transmitted helminths adalah cacing perut yang siklus hidup dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Kecacingan merupakan penyakit yang disebabkan oleh masuk dan berkembang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. STH adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

GAMBARAN KEBERSIHAN TANGAN DAN KUKU DENGAN INFEKSI ENTEROBIASIS PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI KOTA MEDAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENGANTAR KBM MATA KULIAH BIOMEDIK I. (Bagian Parasitologi) didik.dosen.unimus.ac.id

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penduduk di dunia. Biasanya bersifat symtomatis. Prevalensi terbesar pada daerah

BAB 1 PENDAHULUAN. usus yang masih tinggi angka kejadian infeksinya di masyarakat. Penyakit ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Nematoda adalah spesies yang hidup sebagai parasit pada manusia,

PARASITOLOGI. OLEH: Dra. Nuzulia Irawati, MS


BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Nematoda adalah cacing yang berbentuk panjang, silindris (gilig) tidak

BAB 1 PENDAHULUAN. terjadi dan menyerang semua kelas sosioekonomi (Kim et al., 2013). Hampir 400

2. Strongyloides stercoralis

BAB 2 TI JAUA PUSTAKA

xvii Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PREVALENSI CACING USUS MELALUI PEMERIKSAAN KEROKAN KUKU PADA SISWA SDN PONDOKREJO 4 DUSUN KOMBONGAN KECAMATAN TEMPUREJO KABUPATEN JEMBER SKRIPSI

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Infeksi Trichuris trichiura adalah salah satu penyakit cacingan yang banyak

HUBUNGAN HIGIENE TANGAN DAN KUKU DENGAN KEJADIAN ENTEROBIASIS PADA SISWA SDN KENJERAN NO. 248 KECAMATAN BULAK SURABAYA

Kata kunci : periplaswab, apusan perianal, enterobiasis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kondisi ekonomi menengah kebawah. Skabies disebabkan oleh parasit Sarcoptes

INDIVIDUAL IN CHILDREN AGED 5-18 YEARS IN VILLAGE SUB KARANGASEM

Pada siklus tidak langsung larva rabditiform di tanah berubah menjadi cacing jantan dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Nematoda disebut juga Eelworms (cacing seperti akar berkulit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, karena hanya. Kabupaten Blora sedangkan pemeriksaan laboratorium

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Vektor dalam arti luas adalah pembawa atau pengangkut. Vektor dapat berupa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Soil-transmitted dikenal sebagai infeksi cacing seperti Ascaris

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA PERILAKU KEBIASAAN DENGAN KASUS ENTEROBIASIS PADA SISWA KELAS III SDN CIBOGGO

MAKALAH MASALAH KECACINGAN DAN INTERVENSI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

E. coli memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoit ditandai dengan ciri-ciri morfologi berikut: 1. bentuk ameboid, ukuran μm 2.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) PENYAKIT CACINGAN

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Trichuris trichiura disebut juga cacing cambuk, termasuk golongan nematoda yang

Distribusi Geografik. Etiologi. Cara infeksi

PENGARUH PERILAKU HIDUP SEHAT TERHADAP KEJADIAN ASCARIASIS PADA SISWA SD NEGERI SEPUTIH III KECAMATAN MAYANG KABUPATEN JEMBER

BAB 1 PENDAHULUAN. penyebarannya melalui media tanah masih menjadi masalah di dalam dunia kesehatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tingkat Pengetahuan Guru SD di Jakarta Tahun 2011 Mengenai Enterobiasis Sebelum dan Sesudah Penyuluhan

I. PENDAHULUAN. Kecacingan adalah masalah kesehatan yang masih banyak ditemukan. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), lebih dari 1,5

CONEGARAN TRIHARJO KEC. WATES 20 JANUARI 2011 (HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM DESEMBER

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Infeksi cacing merupakan salah satu penyakit yang paling umum tersebar dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. daerah di Indonesia. Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan di daerah perkebunan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada anggota badan terutama pada tungkai atau tangan. apabila terkena pemaparan larva infektif secara intensif dalam jangka

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. cacing. Dimana dapat terjadi infestasi ringan maupun infestasi berat. 16 Infeksi

BAB 1 PENDAHULUAN. lumbricoides dengan prevalensi yang masih tinggi di dunia, dengan rata-rata kejadian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. hubungan antara keberadaan Soil Transmitted Helminths pada tanah halaman. Karangawen, Kabupaten Demak. Sampel diperiksa di

CACING TAMBANG. Editor oleh : Nanda Amalia safitry (G1C015006)

ABSTRAK. Kata Kunci: Cirebon, kecacingan, Pulasaren

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Taenia saginata dan Taenia solium

BAB II HIDUP SEHAT UNTUK MENCEGAH PENYAKIT CACINGAN. merugikan, manusia merupakan hospes (inang) beberapa nematoda

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Ada lebih dari 20 jenis cacing usus yang dapat menginfeksi manusia, namun

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian bersifat analitik karena akan membandingkan jumlah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSATAKA. STH adalah golongan cacing usus (Nematoda Usus) dalam. perkembanganya membutuhkan tanah untuk menjadi bentuk infektif.

Shinta Shabrina; Dewi Mayangsari; Dyah Ayu Wulandari. Prodi DIV Bidan Pendidik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Sapi Bali Sapi bali adalah sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil

BAB 1 PENDAHULUAN. nematoda yang hidup di usus dan ditularkan melalui tanah. Spesies cacing

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit kulit banyak di jumpai di Indonesia, hal ini disebabkan karena

TREMATODA PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMERIKSAAN NEMATODA USUS PADA FAECES ANAK TK (TAMAN KANAK- KANAK) DESA GEDONGAN KECAMATAN BAKI KABUPATEN SUKOHARJO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. personal hygiene. Hygiene berasal dari kata hygea. Hygea dikenal dalam sejarah

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 17. Kandang Pemeliharaan A. atlas

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. dibutuhkan zat gizi yang lebih banyak, sistem imun masih lemah sehingga lebih mudah terkena

BAB III METODE PENELITIAN

KBM 8 : Arthropoda Sebagai Vektor dan Penyebab Penyakit didik.dosen.unimus.ac.id

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Air adalah merupakan bagian yang terbesar dari sel, mencapai lebih kurang

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 2 triliun/tahun. (Anonim. 2014). sebagai berikut : adanya parasite, adanya sumber parasit untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. berupa kecepatan pemusingan berbeda yang diberikan pada sampel dalam. pemeriksaan metode pengendapan dengan sentrifugasi.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Gambar 1. Drosophila melanogaster. Tabel 1. Klasifikasi Drosophila

HASIL DAN PEMBAHASAN Gejala Parasitisasi

PREVALENSI INFEKSI KECACINGAN PADA ANAK BALITA DI PUSKESMAS BLIMBING MALANG. Oleh Ma rufah Prodi Analis Kesehatan-AAKMAL Malang ABSTRAK

JUMLAH tahun tahun tahun

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Infeksi Cacing Kremi Penyakit infeksi cacing kremi atau enterobiasis adalah infeksi usus pada manusia yang disebabkan oleh cacing Enterobius vermicularis, merupakan infeksi cacing yang terbesar dan sangat luas dibandingkan dengan infeksi cacing lainnya.(sudarto,1995) Enterobiasis merupakan penyakit keluarga yang disebabkan oleh mudahnya penularan telur baik melalui pakaian maupun alat rumah tangga lainnya. Anak berumur 5-14 tahun lebih sering mengalami infeksi cacing Enterobius vermicularis dibandingkan dengan orang dewasa yang lebih suka menjaga kebersihan.(depkes RI,2004) Frekuensi enterobiasis di Indonesia tinggi terutama pada anak yang lebih banyak ditemukan pada golongan ekonomi lemah. Kebersihan perorangan penting utuk pencegahan,kuku hedaknya selalu dipotong pendek, tangan di cuci bersih sebelum makan. Anak yang terinfeksi cacing E.vermicularis sebaiknya memakai celana panjang jika hendak tidur supaya alas kasur tidak terkontaminasi dan tangan tidak dapat menggaruk daerah perianal. Makanan hendaknya dihindarkan dari debu dan tangan yang mengandung telur. Pakaian dan alas kasur hendaknya dicuci bersih dan diganti tiap hari.(inge.s,2008) B. Enterobius vermicularis 1. Klasifikasi E. vermicularis

Phylum : Nematoda Class : Cecernentea Subclass : Rhabditia Order : Rhabditida Suborder : Rhabditina Superfamily : Oxyuroidea Family : Oxyuridae Genus : Oxyuris atau Enterobius Spesies : O.vermicularis atau E.vermicularis (Gandahusada et al., 2001) 2. Morfologi telur E. vermicularis Telur E. vermicularis oval, tetapi asimetris (membulat pada satu sisi dan mendatar pada sisi yang lain), dinding telur terdiri atas hialin, tidak berwarna dan transparan, serta rerata panjangnya x diameternya 47,83 x 29,64 mm. Telur cacing ini berukuran 50μm - 60μm x 30μm, berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisinya (asimetris). Telur jarang dikeluarka di usus, sehingga jarang ditemukan di tija. Telur menjadi matang dalam waktu kira-kira 6 jam setelah dikeluarka, pada suhu badan. Telur resisten terhadap desinfektan dan udara dingin. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari. Dinding telur bening dan agak tebal, didalamnya berisi massa bergranula berbentuk oval yang teratur, kecil, atau berisi embrio cacing, suatu larva kecil yang melingkar. (Srisasi., 2004)

Gambar 2.1 Telur cacing E. vermicularis.(purnomo,2003) 3. Morfologi cacing E. vermicularis. Cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,4 mm. Pada ujung anterior ada pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae. Ekornya panjang da runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh dengan telur 11.000 15.000 butir,bermigrasi ke daerah perianal utuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya.(srisasi,2004) Gambar 3.1 Cacing E. vermicularis betina(juni Prianto,2008) Cacing jantan berukuran 2 5 mm,mempunyai sayap dan ekor melingkar sehigga bentuknya seperti tanda Tanya (?),spikulum pada ekor jarang ditemukan.(srisasi,2004)

Gambar 3.2 Cacing E. vermicularis jantan (Juni Prianto,2008) Cacing kremi (E,vermicularis) dewasa berukuran kecil, berwarna putih. Cacing betina jauh lebih besar dari pada jantan. Ukuran cacing betina sampai 13 mm, sedangkan ukuran jantan sampai sepanjang 5 mm. Didaerah anterior sekitar leher,kutikulum cacing melebar.pelebaran yang khas pada cacing ini disebut sayap leher (cervical alae).usofagus cacing ini juga khas bentuknya oleh karena mempunyai bulbus esophagus ganda (double-bulp-oesophagus). Tidak terdapat rongga mulut pada cacing ini, akan tetapi di jumpai adanya tiga buah bibir. Ekor cacing betina lurus dan runcing sedangkan yang jantan mempunyai ekor yang melingkar. Di daerah ujung posterior ini di jumpai karena sesudah mengadakan kopulasi dengan betinanya ia segera mati (Soedarto,1995) 4. Siklus hidup E. vermicularis Manusia terinfeksi cacing ini bila menelan telur cacing ini. Telur yang termakan menetas di duodenum dan larva yang keluar akan bermigrasi ke bagian bawah usus dan menjadi dewasa di situ. Bila cacing dewasa telah dibuahi aka bermigrasi kea us untuk bertelur. Telur yang dihasilkan betina per hari sekitar 11.000 butir, menjadi

infeksius setelah 6 jam. Telur yang infeksius mengandung protein yang mudah megiritasi dan mudah lengket baik pada rambut,kulit atau pakaian. Telur akan tinggal di situ 2 6 minggu dan siap menginfeksi lagi. Siklus dari telur sampai menjadi cacing dewasa yang bertelur membutuhkan waktu minimum 15 hari.(bernardus,2007) Gambar 4.1 Daur hidup Oxyuris vermicularis (cacing kremi) 5. Cara penularan E. vermicularis Penularan dapat dipengaruhi oleh : 1. Penularan dari tangan ke mulut sesudah menggaruk daerah perianal (autoinfeksi) atau tangan dapat menyebarkan telur kepada orang lain maupun kepada diri sendiri karena memegang benda-benda atau pakaian yang terkontaminasi.

2. Debu merupakan sumber infeksi karena mudah diterbangkan oleh angin sehingga telur melalui debu dapat tertelan. 3. Retrofeksi melalui anus : larva dari telur yang menetas di sekitar anus kembali masuk ke usus. ( Inge S,2008) Epidemiologi E. vermicularis 1. Penyebaran cacing kremi lebih luas daripada cacing lain. 2. Penularan dapat terjadi pada keluarga atau kelompok yang hidup dalam satu lingkungan yang sama (asrama,rumah piatu). 3. Di berbagai rumah tangga dengan beberapa anggota keluarga terifeksi E. vermicularis, telur cacing dapat dapat ditemukan 92% di lantai,meja,kursi,toilet sats,bak mandi alas kasur,dan pakaian. 4. Angka prevalensi pada berbagai golonga manusia 3% - 80% dengan kelompok terbayak usia 5-9 tahun.(inge S,2008) 6. Diagnosa Laboratorium Diagnosis di lakukan berdasarkan riwayat pasien dengan gejala klinis positif. Diagnosis pasti dengan di temukannya telur dan cacing dewasa. Selain itu, diagnosa dapat di lakukan dengan pemeriksaan tinja dan anal swab dengan metode Scotch adhesive tape swab. Pada pemeriksaan tinja dapat di temukan adanya cacing dewasa. Cacing jantan dewasa setelah kopulasi mati dan keluar bersama tinja. Sementara dengan metode

Scotch adhesive tape swab, dapat menemukan telur yang di letakkan di daerah perianal (Faust et al., 1999). C. Pemeriksaan Laboratorium Infeksi cacing sering diduga pada anak yang menunjukkan rasa gatal di sekitar anus pada waktu malam hari. Namun tidak di kemungkinkan pada orang dewasa juga di temukan telur cacing. Adapun cara memeriksa adanya E,vermicularis adalah sebagai berikut: a) Cacing dewasa Cacing dewasa di temukan di dalam feses di cuci dalam larutan NaCl agak panas, kemudian di kocok-kocok terus, sehingga lemas. Selanjutnya di periksa dalam keadaan segar atau di matikan dengan larutan fixasi untuk mengawetkan gunakan alcohol 70% agak panas. b) Telur cacing Telur cacing E.vermicularis jarang di temukan dalam feses, hanya 5% yang positif pada orang orang yang menderita infeksi ini( Soedarto,1995) Telur cacing E.vermicularis lebih mudah di temukan dengan teknik pemeriksaan yang khusus,yaitu dengan metode Mengaplikasi Graham Scotch Tape (Ganda husada,2006). Pada metode ini bahan yang di periksa berupa perianal swab oleh karena cacing betina yang banyak mengandung telur pada waktu malam hari melakukan migrasi

kedalam perianal. Sehingga dengan pemeriksaan perianal swab lebih mudah di temukan telur cacing tersebut (Brown,H.W,1983). Dilakukan juga pemeriksaan flotasi pada sampel kuku jari tangan, Dimana prinsip kerja dari flotasi itu sendiri adalah dengan menggunakan NaCl jenuh, yang awalnya perendaman kuku anak-anak dengan NaCl tadi sampai 2/3 tabung kemudian diaduk sampai homogen, tambahkan lagi NaCl jenuh sampai tabung penuh dan tutup dengan deck glass selama 45 menit, angkat obyek glass periksa dibawah mikroskop.(gandasubrata R,2008) D. Perilaku hidup sehat Menurut Hendrik L Blum masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat komplek, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. Demikian pula pemecahan masalah kesehatannya sendiri, tetapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah sehat-sakit atau kesehatan tersebut. Secara garis besar faktorfaktor yang mempengaruhi, baik individu, kelompok, maupun masyarakat, dikelompokkan menjadi empat berdasarkan urutan besarnya atau pengaruh terhadap kesehatan yaitu sebagai berikut: lingkungan yang mencakup lingkungan (fisik, social, budaya, politik, ekonomi, da sebagainya) perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Keempat faktor tersebut di samping berpengaruh langsung kepada kesehatan, juga saling berpengaruh satu sama lainnya. Status kesehatan akan tercapai secara optimal, bila mana keempat faktor tersebut bersama-sama mempunyai kondisi yang optimal pula. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan baik kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat, untuk hal ini Hendrik L Blum menjelaskan secara ringkas sebagai berikut:

1). Lingkungan yaitu karakter fisik alamiah dari lingkungan seperti iklim, keadaan tanah, dan topografi berhubungan langsung dengan kesehatan sebagaimana halnya interaksi ekonomi, budaya, dan kekuatan-kekuatan lain yang mempunyai andil dalam keadaa sehat. 2). Perilaku yaitu perilaku perorangan dan kebiasaan yang mengabaikan higiene perorangan. 3). Keturunan atau factor genetic adalah sifat alami didalam diri seseorang yang dianggap mempunyai pengaruh primer da juga sebagai penyebab penyakit. 4). Pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kesehatan masyarakat dilaksanakan oleh unit pelayanan kesehatan da pembinaan kesehatan lingkungan. Usaha pencegahan penyakit cacingan yaitu sebagai berikut: hati-hati bila makanan mentah atau setengah matang terutama pada tempat-tempat dimana sanitasi masih kurang, masak bahan makanan sampai matang, selalu mencuci tangan setelah dari kamar mandi/wc, selalu mencuci tangan dengan sabun setelah bermain, sebelum memegang makanan.(soekidjo,2007) A. Riwayat timbulnya penyakit Penyakit dapat diklasifikasikan dengan beberapa cara. Masyarakat sering mengklasifikan penyakit berdasar organ atau sistem organ. Metode lain klasifikasi berdasarkan agens penyebabnya, agens penyebab bisa berupa agen biologis,kimia atau agens fisik. Penyakit diklasifikasikan sebagai penyakit akut/kronis atau sebagai penyakit menular(infeksius) atau tidak menular(non infeksius). Infeksius adalah kemampuan agens biologis untuk menetap dan tumbuh didalam penjamu. Patogenitas adalah kemampuan agens penyakit infeksius untuk menimbulkan penyakit. Pejamu

Agens Lingkungan Unsur-unsur penyakit menular sederhana-agens, pejamu, dan lingkugan, ketiga faktor tersebut membentuk persyaratan minimal untuk kejadian dan penyebaran penyakit menular dalam populasi. Agens merupakan unsur yang harus ada agar penyakit dapat terjadi. Pejamu adalah organisme rentan apapun-organisme bersel tunggal,tumbuhan, binatang, atau manusia yang disusupi oleh agens infeksius. Lingkungan mencakup semua faktor lain, fisik, biologis atau sosial yang menghalangi atau memicu penularan penyakit. Penularan penyakit menular terjadi jika seseorag pejamu rentan dan suatu agens patogenik berada di dalam suatu lingkungan yang kondusif untuk penularan penyakit. ( James F,2006) B. Gambaran keterkaitan kuku jari tangan dengan anus Telur-telur bersembunyi dalam lipatan perianal sehingga jarang keluar dan didapatkandalam tinja beberapa jam kemudian telur telah menjadi matang dan infektif, selanjutnya terjadi salah satu hal di bawah ini 1. Autoinfeksi, karena daerah perianal gatal, digaruk, telur menempel pada tangan atau bawah kuku, kemudian telur ini termakan oleh hospes yang sama 2. Gejala klinisyang menonjol disebabkan iritasi disekitar anus, perineum dan vagina oleh cacing betina gravid yang bermigrasi ke daerah anus dan vagina sehingga menyebabkan pruritus lokal. Oleh karena cacing bermigrasi ke daerah anus dan menyebabkan pruritus ani, maka penderita menggaruk daerah sekitar anus sehingga timbul luka garuk di sekitar anus.keadaan ini sering terjadi pada waktu malam hari

hingga penderita terganggu tidurnya dan menjadi lemah serta lebih cengeng atau sensitif. cepat marah, dan gigimenggeretak. Kondisi yang tidak mengenakkan ini membuat nafsu makan anak berkurang. Berat badannya serta merta berkurang.( Inge S,2008 ) C. Kerangka Teori Kebiasaan cuci D. tangan Kebiasaan mengganti alas tidur Kebiasaan potong kuku KejadianInfeksi telur cacing kremi Kebiasaan mandi Kebiasaan mengigit jari kuku Kebiasaan menggaruk anus Kebiasaan membersihkan tangan setelah buang air besar H. Kerangka Konsep Keberadaan telur cacing kremi pada Spesimen apus perianal Perilaku hidup sehat anak Keberadaan telur cacing kremi pada Spesimen jari kuku tangan

I. HIPOTESIS Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Ada hubungan antara perilaku hidup sehat dengan keberadaan telur cacing kremi pada daerah perianal anak. 2. Ada hubungan antara perilaku hidup sehat dengan keberadaan telur cacing kremi pada kuku jari tangan anak. 3. Ada hubungan antara keberadaan telur cacing kremi pada daerah perianal dan kuku jari tangan anak.