BAB III METODE PENELITIAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III METODE PENELITIAN"

Transkripsi

1 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian Penelitian ini merupakan Observasional Analitik yaitu mengamati dan menganalisis data yang diolah dan disajikan sesuai dengan tujuan. [29] Metode yang digunakan adalah survey dan wawancara dengan alat bantu kuesioner dan pemeriksaan laboratorium. dengan pendekatan cross sectional, yaitu menganalisis hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat pada waktu yang sama. [21] B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi mempunyai pengertian sebagai keseluruhan dari subyek penelitian. [24] Populasi yang dijadikan sebagai subyek penelitian adalah seluruh anak di Kelurahan Karangroto yang sampai bulan Mei 2010 berusia 1-4 tahun dan dalam kurun waktu 6 bulan terakhir tidak minum obat cacing, responden dalam penelitian ini adalah ibu. Dari 454 anak, yang menurut pengasuh anak yang tidak meminum obat cacing selama 6 bulan terakhir sebanyak 156 anak. Besar sampel pada penelitian ini diperoleh melalui perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: [26] n = Z 2 α/2 *p(1-p) N d 2 (N-1) + Z 2 α/2 *p(1-p) Keterangan : n : Besar Sampel yang diperlukan Z α/2 : Nilai Z pada derajat kepercayaan 1-α /2 (1,96) P : Proporsi hal yang diteliti (0,8) d : Presisi (10% ) N : Jumlah populasi

2 Dari rumus di atas diperoleh jumlah sampel sebagai berikut: n = 1,96 2 x 0,8(1-0,8) 454 0,1 2 (454-1) + 1,96 2 x 0,8 (1-0,8) = 279,05 5,144 = 54 Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Proportional random sampling, yaitu sampel diambil secara random/acak di setiap posyandu. Sampel yang didapat sebagai berikut: Nama Posyandu Tabel 3.1 Jumlah Sampel Posyandu Jumlah Sampel 1. Posyandu Delima/ RW I 49 anak 49 X 54 = Posyandu Mangga/ RW II 87 anak 87 X 54 = Posyandu Belimbing/ RW III 133 anak 133 X 54 = Posyandu Manggis/ RW IV 35 anak 35 X 54 = Posyandu Anggur/ RW V 50 anak 50 X 54 = 6 454

3 6. Posyandu Jambu/ RW VI 20 anak 20 X 54 = Posyandu Duku/ RW VII 9 anak 9 X 54 = Posyandu Semangka/ RW VIII 61 anak 61 X 54 = Posyandu Pisang/ RW IX 10 anak 10 X 54 = Dalam masing-masing Posyandu diambil sampel denga cara: Jumlah balita dimasing-masing posyandu dikalikan populasi anak seluruhnya dikalikan jumlah sampel yang dikehendaki. pemilihan responden dengan cara random agar tiap anak mempunyai peluang yang sama menjadi sampel. C. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan kurang lebih selama 1 minggu untuk pengambilan sampel dan pemeriksaan di Laboratorium. Tempat penelitian akan dilaksanakan di Kelurahan Karangroto Kecamatan Genuk Kota Semarang. D. Variabel dan Devinisi Operasional 1. Variabel Penelitian a. Variabel bebas 1) Kebiasaan ibu dan anak mencuci tangan sebelum makan. 2) Kebiasaan memakai alas kaki 3) Frekuensi memotong kuku 4) Kebiasaan bermain ditanah

4 5) Lantai rumah 6) Ketersediaan air bersih 7) Kebiasaan BAB di jamban b. Variabel Terikat Infestasi cacing gelang, cacing cambuk, dan cacing tambang. 2. Definisi Operasional a. Kebiasaan ibu mencuci tangan Adalah kebiasaan ibu membasuh tangan dengan air dan sabun sebelum menyuapi anak. 1. Biasa 2. Tidak biasa Skala : Nominal b. Kebiasaan anak mencuci tangan. Adalah Kebiasaan membasuh tangan dengan air dan sabun sebelum makan, setelah bermain, setiap jajan disekolah/ dirumah, setelah BAB. 1. Biasa 2. Tidak biasa Skala : Nominal c. Kebiasaan memakai alas kaki adalah kebiasaan anak memakai sandal atau sepatu setiap bermain didalam dan diluar rumah. 1. Pakai alas kaki 2. Tidak pakai alas kaki Skala : Nominal d. Frekuensi memotong kuku ibu Ibu memangkas dan membersihkan kuku minimal 1 minggu sekali dan membersihkan sela-sela kuku setiap mencuci tangan sehingga tidak ada kotoran hitam di sekitar kuku meskipun kuku tersebut pendek. 1. Kuku bersih 2. Kuku kotor Skala : Nominal e. Frekuensi memotong kuku anak Kuku anak dipangkas dan dibersihkan minimal 1 minggu sekali, setiap mencuci tangan sela-sela kuku dibersihkan sehingga tidak ada kotoran hitam di sekitar kuku meskipun kuku tersebut pendek. 1. Kuku bersih 2. Kuku kotor

5 Skala : Nominal f. Kebiasaan bermain ditanah Adalah aktifitas bermain yang mengakibatkan tangan, kuku, kaki dan kulit kontak langsung dengan tanah. 1. Biasa 2. Tidak biasa Skala : Nominal g. Kepemilikkan jamban Adalah ketersediaan tempat untuk BAB bagi keluarga yang merupakan milik keluarga yang memenuhi syarat jamban leher angsa dengan septictank atau cemplung tertutup, serta jamban selalu dibersihkan setiap selesai BAB. 1. Punya 2. Tidak punya Skala : Nominal h. Lantai rumah Adalah jenis bahan yang digunakan sebagai lantai selain dari tanah (keramik, plester). 1. Kedap air 2. Tidak kedap air Skala : Nominal i. Ketersediaan air bersih Adalah kecukupan air yang memenuhi syarat air bersih yaitu tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna untuk kebutuhan hidup sehari-hari. 1. Ada 2. Tidak ada Skala : Nominal j. Infestasi cacing adalah ditemukannya telur cacing gelang, cacing cambuk, dan cacing tambang dalam tinja anak pada pemeriksaan laboratorium secara mikroskopis.. 1. Positif 2. Negatif Skala : Rasio E. Proses Pemeriksaan Tinja 1. Tahap pengumpulan Tinja Tahap pengumpula tinja di lakukan oleh orangtua anak sendiri yang sebelumnya telahdiberi pengarahan tentang cara pengambilan tinja yang benar yang antara lain

6 tinja tidak boleh bercampur dengan air seni (tinja murni), setelah pengarahan masing-masing orangtua anak diberi satu pot plastik untuk tempat tinja saat dirumah. Pot plastik tersebut lengkap ditulis identitas anak yang bersangkutan antara lain nama, alamat. Setelah pembagian pot tempat tinja 2 sampai 3 hari kemudian diharapkan semua responden sudah mengumpulkan pot berisi tinja, untuk diperiksa di laboratorium. 2. Proses pemeriksaan tinja dengan cara flotasi dengan larutan NaCl jenuh (Metoda Willis) a. Bahan yang diperlukan 1) Sepotong bambu/ lidi 2) Larutan garam dapur jenuh (larutan Brine) 3) Gelas beker 30 ml 4) Tabung reaksi ukuran 13x 150 mm 5) Kaca benda 6) Kaca tutup b. Cara kerja 1) Isi tabung reaksi dengan larutan Brine sampai penuh 2) Masukkan tinja sebanyak ± 1 gram kedalam gelas beker 3) Hancurkan tinja dengan bambu pengaduk sambil menambahkan larutan Brine sedikit demi sedikit sehingga homogen, tuangkan seluruh larutan Brine kedalam gelas beker dan campur dengan baik. 4) Tuangkan kembali isi gelas beker kedalam tabung reaksi sampai penuh, bagian-bagian keras yang terapung pada permukaan larutan diangkat dengan lidi. 5) Letakkan kaca tutup diatas tabung sehingga menyentuh permukaan larutan, bila demikian isi larutan harus penuh. 6) Diamkan selama ± 45 menit 7) Setelah itu kaca tutup diambil dan di letakkan diatas kaca benda 8) Periksa dengan mikroskop. [24]

7 F. Metode Pengumpulan Data Cara Pengumpulan Data a. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan memakai alas kaki, frekuensi memotong kuku, kebiasaan bermain ditanah dan ketersediaan air bersih. b. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang lantai rumah dan kepemilikkan jamban. c. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menmgetahui ada tidaknya telur cacing dalam tinja. d. Data Primer Yaitu data yang pengumpulannya diperoleh peneliti secara langsung melalui tahapan: 1) Mengunjungi tempat tinggal ibu balita (sampel penelitian) sesuai dengan kontak waktu yang disepakati. 2) Memberikan penjelasan tentang tujuan penelitian dan sifat keikutsertaan dalam penelitian. 3) Melakukan wawancara langsung dengan responden dengan menggunakan kuesioner penelitian. e. Data Sekunder Yaitu data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, dan Laporan kegiatan Posyandu Kelurahan Karangroto. G. Metode Pengolahan dan Analisa Data 1. Pengolahan Data Data yang telah dikumpulkan kemudian dilakukan pengolahan yang meliputi: a. Editing Pada tahap ini dilakukan proses pengecekkan jumlah kuesioner, kelengkapan data yang diantaranya kelengkapan identitas, lembar kuesioner dan kelengkapan isian kuesioner.

8 b. Koding Dilakukan dengan cara memberi kode angka pada variabel untuk memudahkan analisa data. 1.Ya 2. Tidak c. Skoring 1. Kebiasaan mencuci tangan a. Biasa bila jawaban benar = 5 b. Tidak biasa bila jawaban benar <5 2. Kebiasaan memakai alas kaki a. Pakai alas kaki, bila jawaban benar =1 b. Tidak pakai alas kaki, bila jawaban < 1 3. Kebersihan Kuku a. Kuku bersih, bila jawaban benar = 5 b. Kuku kotor, bila jawaban benar <5 4. Kebiasaan bermain ditanah a. Biasa, bila jawaban benar = 2 b. Tidak biasa, bila jawaban benar <2 5. Kepemilikan jamban a. Punya, bila jawaban benar =4 b. Tidak Punya, bila jawaban benar <4 6. Jenis lantai rumah a. Kedap air, bila jawaban benar =1 b. Tidak kedap air, bila jawaban benar <1 7. Ketersediaan air bersih a. Ada, bila jawaban benar = 3 b. Tidak ada, bila jawaban benar <3 d. Tabulating Tabulating merupakan tahap ketiga yang dilakukan setelah proses editing dan coding, kegiatan tabulating dalam penelitian meliputi pengelompokan data sesuai dengan tujuan penelitian kemudian dimasukkan ke dalam tabel-

9 tabel yang telah ditentukan berdasarkan kuesioner yang telah ditentukan skornya. e. Entry Data Suatu proses memasukkan data yang telah diperoleh menggunakan fasilitas komputer dengan menggunakan sistem atau program komputer. 2. Analisa Data a. Analisa Univariat Menganalisa Variabel Kebiasaan ibu dan anak mencuci tangan sebelum makan, frekuensi memotong kuku, kebiasaan bermain ditanah, lantai rumah, ketersediaan air bersih dan BAB di jamban. dengan menggunakan tabel frekuensi atau grafik, Diamati dan ditampilkan dalam bentuk prevalensi. b. Analisa Bivariat Untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan terikat dengan skala nominal yaitu hipotesis hubungan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Uji statistik yang digunakan dalam faktor risiko kecacingan disesuaikan dengan jenis skala data variabel bebas dan variabel terikat yakni menggunakan uji Chi square. H. Jadwal Penelitian Berikut ini merupakan jadwal pelaksanaan penelitian: Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Penelitian Kegiatan Waktu Pengajuan tema skripsi Januari 2010 Penyusunan proposal Februari- April 2010 Seminar proposal Mei 2010 Pengambilan data Juni 2010 Penyusunan hasil penelitian Juni 2010 Ujian skripsi Juli 2010

10

11 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Kelurahan Karangroto berada di Wilayah kerja Puskesmas Bangetayu Kecamatan Genuk Kota Semarang. Karangroto merupakan daerah persawahan dengan Luas wilayah 214,656 Ha. Jumlah penduduk di Kelurahan Karangroto sebanyak 8602 jiwa tediri dari laki-laki sebanyak 4,234 jiwa dan perempuan sebanyak 4,368 jiwa. Sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai buruh pabrik di sekitar wilayah Kelurahan Karangroto. Para orangtua bekerja anak di asuh oleh tetangga ataupun kerabat mereka yang sudah tidak mampu lagi untuk bekerja. Higine dan sanitasi lingkungan diwilayah ini sangat kurang baik, ini terlihat dengan masih terbukanya selokan yang berada di depan rumah penduduk yang menyebabkan air selokan meluap apabila hujan turun, terdapat beberapa kandang kambing yang berdempetan dengan rumah penduduk dan anakanak terkontak langsung dengan kotoran hewan tersebut dikarenakan anak-anak terbiasa bermain disekitar rumah. Dari informasi yang diperoleh dari pihak puskesmas masalah kecacingan sudah tidak ada lagi dan tidak termasuk sepuluh besar penyakit, dikarenakan setiap enam bulan sekali anak-anak diberi obat cacing melalui kader-kader posyandu yang berada di masing-masing RW. 2. Analisa Univariat Dalam penelitian ini untuk analisa univariat mencakup umur, jenis kelamin, kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan memakai alas kaki, kebrsihan kuku, kebiasaan bermain ditanah, kepemilikkan jamban, jenis lantai rumah dan ketersediaan air bersih dapat ditunjukkan pada tabel 4.1

12 Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Umur, Jenis Kelamin, Kebiasaan mencuci tangan, Kebiasaan memakai alas kaki, Kebersihan kuku, Kebiasaan bermain ditanah, Kepemilikkan jamban, Lantai rumah, Ketersediaaan air bersih No Variabel F % 1 Umur a. 1 tahun b. 2 tahun c. 3 tahun d. 4 tahun ,4 25, ,7 2 Jenis kelamin a. Laki-laki b. Perempuan 3 Kebiasaan Mencuci Tangan a. Biasa b. Tidak biasa 4 Kebiasaan Memakai Alas Kaki a. Pakai alas kaki b. Tidak pakai alas kaki 5 Kebersihan Kuku a. Kuku bersih b. Kuku kotor ,1 51,9 3,7 96,3 98,1 1,9 11,1 88,9 6 Kebiasaan bermain ditanah a. Biasa b. Tidak biasa 7 Kepemilikkan jamban a. Memiliki b. Tidak memiliki 8 Lantai rumah a. Kedap air b. Tidak kedap air 9 Ketersediaan air bersih a. Ada b. Tidak ada 10 Infestasi cacing a. Positif b. Negatif ,1 1,9 94,4 5, ,8 85,2 a. Umur Umur balita terendah 1 tahun, tertinggi 4 tahun dengan rata-rata 1,52. Frekuensi terbanyak pada umur 3 tahun yaitu senbanyak 50%. b. Jenis Kelamin Distribusi anak menurut jenis kelamin hampir berimbang walaupun lebih banyak anak laki-laki dari pada perempuan. c. Kebiasaan Mencuci Tangan

13 Mencuci tangan adalah aktifitas yang dilakukan sebelum makan, setelah bermain dan setelah BAB. Berdasarkan hasil penelitian dari 54 anak hanya 3,7% yang terbiasa melakukan kebiasaan mencuci tangan. d. Kebiasaan Memakai Alas Kaki Kebiasaaan memakai alas kaki adalah kebiasaan anak memakai sandal atau sepatu setiap bermain didalam dan diluar rumah. Berdasarkan hasil penelitian dari 54 anak hanya 1,9% yang terbiasa memakai alas kaki. e. Kebersihan Kuku Kebersihan kuku adalah aktifitas yang dilakukan dengan memangkas dan memotong kuku satu minggu sekali dan membersihkan sela-sela kuku setiap mencuci tangan. Berdasarkan hasil penelitian dari 54 anak sebanyak 88,9% memiliki kuku kotor. f. Kebiasaan Bermain ditanah Bermain ditanah adalah aktifitas fisik yang mengakibatkan tangan, kuku, kaki dan kulit kontak langsung dengn tanah. Berdasarkan hasil penelitian dari 54 anak sebanyak 98,1% terbiasa bermain ditanah. g. Kepemilikkan Jamban Kepemilikkan jamban adalah tempat untuk BAB bagi keluarga yang merupakan milik keluarga yang memenuhi syarat kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian dari 54 keluarga sebanyak 94,4% memiliki jamban. h. Lantai Rumah Lantai rumah mencakup bahan yang digunakan sebagai lantai rumah yang terbuat dari bahan yang kedap air. Berdasarkan hasil penelitian dari 54 anak sebanyak 87% yang lantai rumahnya kedap air. i. Ketersediaan Air Bersih Mencakup kecukupan air yang memenuhi syarat air bersih yaitu tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian dari 54 anak 100% mempunyai ketersediaan air bersih. j. Infestasi Cacing Terdapat telur cacing dalam tinja anak pada pemeriksaan laboratorium,

14 berdasarkan hasil penelitian dari 54 anak sebanyak 14,8% terinfeksi cacing usus. Tabel 4.2 Hasil Observasi Tentang Higiene Perorangan No Pertanyaan Benar (%) Jawaban Salah (%) A Kebiasaan mencuci tangan 1. Sebelum menyuapi anak ibu mencuci tangan terlebih dahulu pakai sabun. 2. Sebelum makan anak dibiasakan untuk mencuci tangan pakai sabun. 3. Setelah bermain anak langsung mencuci tangan. 4. Sebelum jajan disekolah/ dirumah anak mencuci tangan terlebih dahulu. 5. Setelah BAB anak dibiasakan mencuci tangan pakai sabun. 98, ,8 5,6 31,5 1, ,2 94,4 68,5 B. Kebiasaan memakai alas kaki 1. Setiap keluar dihalaman anak selalu memakai sandal/sepatu. C. Kebersihan Kuku 1. Kuku ibu dipotong dan dibersihkan 1 minggu sekali. 2. Kuku anak dipotong dan dibersihkan 1 minggu sekali. 3. Setiap mencuci tangan sela-sela kuku dibersihkan. 4. Kuku ibu pendek bersih. 5. Kuku anak pendek bersih. D. Kebiasaan bermain ditanah 1. Setiap bermain anak selalu ditanah. 2. Jenis permainan yang digunakan kontak langsung dengan tanah , ,1 98, ,9-50 1,9 1,9 Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan hasil penelitian sebanyak 98,1% ibu terbiasa mencuci tangan sebelum menyuapi anaknya, dan sebanyak 13% anak dibiasakan mencuci tangan dengan memakai sabun. Sedangkan pada kebersihan kuku sebanyak 11,1% anak, biasa mencuci tangan dan membersikan sela-sela kuku saja. Tabel 4.3 Hasil Observasi Tentang Sanitasi Lingkungan No Pertanyaan Benar (%) Jawaban Salah (%)

15 A. Kepemilikkan jamban 1. Keluarga memiliki jamban sendiri 2. Kalau ya, apakah anggota keluarga menggunakan jamban sehat (jamban yang memenuhi syarat kesehatan jamban leher angsa dengan septictank, cemplung tertutup). 3. Anak usia 1-4 tahun BAB dijamban. 4. Apakah jamban selalu dibersihkan 98, ,3 96,3 B. Jenis lantai rumah Jenis lantai rumah kedap air C. Ketersediaan air bersih 1. Anggota keluarga menggunakan/ memanfaatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. 2. Air yang digunakan memenuhi syarat kesehatan (tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna) 3. Sumber air bersih dari PAM ,9-3,7 3,7 Pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa hasil penelitian sebanyak 87% anak mempunyai lantai rumah yang kedap air. 3. Analisa Bivariat a. Hubungan Antara Kebiasaan Mencuci Tangan dengan Infestasi yang Cacing Hasil uji hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan infestasi cacing yang dilakukan dengan menggunakan uji chi-square ditunjukkan pada table 4.4. Tabel 4.4 Hubungan Kebiasaan Mencuci Tangan Anak di Kelurahan Karangroto Kecamatan Genuk Kota Semarang No Kebiasaan Infestasi Cacing Total Mencuci Negatif Positif Tangan N % n % n % 1 Biasa Tidak 45 86,5 7 13, p-value 0,277

16 biasa Total 46 14,8 8 85, Berdasarkan tabel 4.4 dari 2 anak yang biasa mencuci tangan ternyata 1 anak (50%) positif terinfeksi STH, sedangkan pada 52 anak yang tidak biasa mencuci tangan sebelum makan yang positif terinfeksi STH sebanyak 7 anak (13,5%). Dalam hal ini menunjukkan bahwa anak yang biasa mencuci tangan mempunyai kecenderungan infestasi cacingnya lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak biasa mencuci tangan. Hasil uji satistik dengan Chi-square menghasilkan p= 0,277 (>0,05) artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan mencuci tangan dengan infestasi cacing. b. Hubungan Antara Kebiasaan Memakai Alas Kaki dengan Infestasi Cacing Hasil uji hubungan memakai alas kaki dengan infestasi cacing yang dilakukan dengan menggunakan uji chi-square ditunjukkan pada table 4.5. Tabel 4.5 Hubungan Kebiasaan Memakai Alas Kaki Anak di Kelurahan Karangroto Kecamatan Genuk Kota Semarang No Kebiasaan Infestasi Cacing Total Memakai Alas Negatif Positif Kaki N % n % n % 1 Pakai 45 84,9 8 15, Tidak Pakai Total 46 85,2 8 14, p-value 1,000 Berdasarkan tabel 4.5 pada kelompok anak yang memakai alas kaki, terdapat 15,1% positif terinfeksi STH, sedangkan pada kelompok yang tidak memakai alas kaki justru tidak ada yang positif terinfeksi STH. Dalam hal ini menunjukkan bahwa anak yang biasa memakai alas kaki mempunyai kecenderungan infestasi cacingnya lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak biasa memakai alas kaki. Hasil uji satistik dengan Chi-square p=1,000 (>0,05) yang artinya tidak

17 ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan memakai alas kaki dengan infestasi cacing. c. Hubungan antara Kebersihan Kuku dengan Infestasi Cacing Hasil uji hubungan kebersihan kuku dengan infestasi cacing yang dilakukan dengan menggunakan uji chi-square ditunjukkan pada table 4.6 Tabel 4.6 Hubungan Kebersihan Kuku Ibu dan Anak di kelurahan Karangroto Kecamatan Genuk Kota Semarang No Kebersihan Infestasi Cacing Total Kuku Negatif Positif N % n % N % 1 Kuku bersih 4 66,7 2 33, Kuku kotor 42 87,5 6 12, Total 46 85,2 8 14, p- value 0,213 Berdasarkan tabel 4.6 pada kelompok anak yang kebersihan kukunya terjaga, terdapat 33,3% positif terinfeksi STH, sedangkan pada kelompok yang tidak menjaga kebersihan kuku justru hanya 12,5 % yang positif terinfeksi STH. Dalam hal ini menunjukkan bahwa anak yang memiliki kuku bersih mempunyai kecenderungan infestasi cacing nya jauh lebih tinggi. Hasil uji satistik dengan Chi-square p=0,213 (>0,05) yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan memotong kuku dengan infestasi cacing.. d. Hubungan antara Kebiasaan Bermain ditanah dengn Infestasi Cacing Berdasarkan tabel 4.7 pada kelompok anak yang biasa bermain ditanah, terdapat 15,1% positif terinfeksi STH, sedangkan pada kelompok yang tidak biasa bermain ditanah justru tidak ada yang positif terinfeksi STH. Dalam hal ini menunjukkan bahwa anak yang biasa bermain ditanah mempunyai kecenderungan infetasi cacingnya lebih tinggi. Hasil uji satistik dengan Chi-square p=1,000 (>0,05) yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan bermain ditanah dengan infestasi

18 cacing. Hasil uji hubungan kebiasaan bermain ditanah dengan infestasi cacing yang dilakukan dengan menggunakan uji chi-square ditunjukkan pada tabel 4.7. Tabel 4.7 Hubungan Kebiasaan Bermain Anak di kelurahan Karangroto Kecamatan Genuk Kota Semarang No Kebiasaan Infestasi Cacing Total bermain Negatif Positif ditanah N % n % N % 1 Biasa 45 84,9 8 15, Tidak biasa Total 46 85,2 8 14, p-value 1,000 e. Hubungan antara Kepemilikkan Jamban dengan Infestasi Cacing Berdasarkan tabel 4.8 pada kelompok yang memiliki jamban, terdapat 15,7% positif terinfeksi STH, sedangkan pada kelompok yang tidak memiliki jamban justru tidak ada yang positif terinfeksi STH. Dalam hal ini menunjukkan bahwa anak yang mempunyai jamban sendiri mempunyai kecenderungan infestasi cacingnya lebih tinggi. Hasil uji satistik dengan Chi-square p=1,000 (>0,05) yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara kepemilikkan jamban dengan infestasi cacing. Hasil uji hubungan kepemilikkan jamban dengan infestasi cacing yang dilakukan dengan menggunakan uji chi-square ditunjukkan pada table 4.8. Tabel 4.8 Hubungan Kepemilikkan Jamban di Kelurahan Karangroto Kecamatan Genuk Kota Semarang No Kepemilikkan Infestasi Cacing Total Jamban Negatif Positif N % n % n % 1 Punya 43 84,3 8 15, Tidak punya Total 46 85,2 8 14, p- value 1,000

19 f. Hubungan antara Lantai Rumah dengan Infestasi Cacing Hasil uji hubungan lantai rumah dengan infestasi cacing yang dilakukan dengan menggunakan uji chi-square ditunjukkan pada table 4.9. Tabel 4.9 Hubungan Jenis Lantai Rumah di kelurahan Karangroto Kecamatan Genuk Kota Semarang No Jenis Infestasi Cacing Total Lantai Negatif Positif Rumah N % N % n % 1 Kedap air 40 85,1 7 14, Tidak 6 85,7 1 14, Kedap air Total 46 85,2 8 14, p-value 1,000 Berdasarkan tabel 4.9 pada kelompok yang jenis lantai rumahnya kedap air, terdapat 14,9% positif terinfeksi STH, sedangkan pada kelompok yang lantai rumahnya tidak kedap air justru hanya 14,3% yang positif terinfeksi STH. Dalam hal ini menunjukkan bahwa anak yang lantai rumahnya kedap air mempunyai kecenderungan infestasi cacingnya lebih tinggi. Hasil uji satistik dengan Chi-square p=1,000 (>0,05) yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara lantai rumah dengan infestasi cacing. g. Hubungan antara Ketersediaan Air Bersih dengan Infestasi Cacing Hasil uji hubungan ketersediaan air bersih dengan infestasi cacing yang dilakukan dengan menggunakan uji chi-square ditunjukkan pada table 4.9 Tabel 4.10 Hubungan Ketersediaan air bersih di kelurahan Karangroto Kecamatan Genuk Kota Semarang No Ketersediaan Infestasi Cacing Total Air bersih Negatif Positif N % n % n % 1 Ada 46 85,2 8 14, Tidak Ada Total 46 85,2 8 14,

20 Uji chi-square hanya dapat dilakukan apabila ada variasi nilai pada variabel yang diteliti, pada variabel ketersediaan air bersih seluruh sampel mempunyai ketersediaaan air bersih sehingga tidak dapat dilakukan pengujian dengan chi-square. B. Pembahasan 1. Hubungan Antara Kebiasaan Mencuci Tangan dengan Infestasi Cacing Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan mencuci tangan dengan infestasi cacing yang diperoleh dari uji statistik Chi- square dengan p= 0,277. Hal ini dapat dilihat bahwa anak yang terbiasa mencuci tangan dan terinfeksi cacing usus sebanyak 1 orang (50%), sedangkan yang tidak biasa mencuci tangan dan terinfeksi cacing usus sebanyak 7 orang (13,5%). Dalam penelitian ini anak yang biasa mencuci tangan lebih banyak terinfeksi cacing usus yakni sebanyak 13,5%. Pada umumnya anak-anak sangat senang bermain ditanah, dan apabila tidak biasa mencuci tangan sebelum makan maka debu-debu yang menempel pada tangan dan apabilaikut tertelan bersama makanan maka anak akan berpeluang terinfeksi cacing usus. Telur cacing gelang keluar bersama tinja pada tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari, telur tersebut tumbuh menjadi infektif. Infeksi cacing gelang terjadi bila telur yang infektif masuk melalui mulut bersama makanan atau minuman dan dapat pula melalui tangan yang kotor. [30] Dalam penelitian ini tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan mencuci tangan dengan infestasi cacing. Hal ini dimungkinkan karena anak yang tidak mencuci tangan masih disuapi oleh ibunya karena anak usia 1-4 tahun masih dalam pengawasan orangtua mereka. Jenis infestasi cacing pada lokasi penelitian sebagian besar adalah Ascariasis, dimana jenis cacing ini ditularkan melalui mulut (oral). [33]

21 Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan anak-anak paling sering terserang penyakit cacingan karena biasanya jari-jari tangan mereka dimasukkan ke dalam mulut, atau makan nasi tanpa cuci tangan. Maka hendaklah anak-anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan agar larva cacing tidak tertelan bersama makanan. Cacing yang paling sering ditemui ialah cacing gelang, cacing tambang, cacing pita, dan cacing kremi. [14] 2. Hubungan Antara Kebiasaan Memakai Alas Kaki dengan Infestasi Cacing Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang terbiasa memakai alas kaki sebanyak 15,1% terinfeksi cacing usus, sedangkan yang tidak terbiasa memakai alas kaki tidak ada yang terinfeksi cacing usus. Artinya persentase kecacingan lebih besar pada anak yang terbiasa memakai alas kaki. Secara statistik belum menunjukkan hubungan yang bermakna antara kebiasaan memakai alas kaki dengan infestasi cacing, Hasil uji chi-square menunjukkan p-value sebesar 1,000 lebih besar dari 0,05 (1,000>0,05), yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan memakai alas kaki dengan infestasi cacing. Dalam penelitian ini tidak ada hubungan antara kebiasaan memakai alas kaki dengan infestasi cacing dimungkinkan karena jenis infestasi cacing pada penelitian ini sebagian besar adalah Ascariasis. Jenis cacing ini ditularkan melalui mulut (oral) bukan menebus kulit melalui kaki sebagaimana cacing tambang dan Strogyloides strecoralis. [33] yang memakai alas kaki tetap terinfeksi cacing usus hal ini terjadi karena bisa saja anak dalam hal kebersihan higiene perorangan dan sanitasi lingkungannya tidak dilakukan dengan baik dan benar. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan himbauan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1990) bahwa anak harus dibiasakan memakai alas/sandal untuk menjaga kesehatannya dan terhindar dari penyakit cacingan. [8] 3. Hubungan antara Kebersihan Kuku dengan Infestasi Cacing Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki kuku bersih sebanyak 33,3% terinfeksi cacing usus sedangakan yang tidak memiliki kuku bersih sebanyak 12,5% terinfeksi cacing usus. Artinya persentase kecacingan justru lebih besar pada anak yang memiliki kuku bersih. Secara

22 statistik belum menunjukkan hubungan yang bermakna antara kebersihan kuku dengan infestasi cacing. Hasil uji chi-square menunjukkan p-value sebesar 0,213 lebih besar dari 0,05 (0,213>0,05), yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara kebersihan kuku dengan infestasi cacing. Meskipun kuku sudah dibersihkan dan dipotong pendek, telur cacing juga dapat menempel pada makanan yang dibawa oleh debu dan apabila ikut tertelan maka anak akan berisiko teinfeksi STH. [3] Dalam penelitian ini tidak ada hubungan antara kebersihan kuku dengan infestasi cacing, dimungkinkan karena anak yang memiliki kuku kotor bisa jadi mempunyai kebiasaan mencuci tangan yang baik, serta kebersihan yang mencakup higiene perorangan dan sanitasi lingkungan dilakukan dengan baik dan anak usia 1-4 tahun pada saat makan masih disuapi oleh ibu atau pengasuhnya. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan pendapat Srisasi gandahusada. Bahwa kebersihan perorangan penting untuk pencegahan penyakit cacingan, kuku sebaiknya selalu dipotong pendek untuk menghindari penularan cacing dari tangan ke mulut. [3] 4. Hubungan antara Kebiasaan Bermain ditanah dengn Infestasi Cacing Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang terbiasa bermain ditanah sebanyak 15,1% terinfeksi cacing usus sedangkan yang tidak biasa bermain ditanah tidak ada yang terinfeksi cacing usus. Artinya persentase kecacingan lebih besar pada anak yang biasa memakai alas kaki. Secara statistik belum menunjukkan hubungan yang bermakna antara Kebiasaan bermain ditanah dengan infestasi cacing. Hasil uji chi-square menunjukkan p-value sebesar 1,000 lebih besar dari 0,05 (1,000>0,05), yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan bermain ditanah dengan infestasi cacing. Anak-anak biasanya paling suka ketika bermain ditanah, rasa keingintahuan mereka membuat mereka lebih aktif ketika bemain di lingkungan sekitar rumah. Kontak fisik langsung dengan tanah dapat memungkinkan anak terinfeksi STH.

23 Dalam penelitian ini tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan bermain ditanah dengan infestasi cacing ini dimungkinkan karena tanah disekitar lingkungan rumah tidak disukai cacing untuk perkembangbiakannya sehingga dalam tanah tersebut tidak terdapat telur cacing. [3] [4] 5. Hubungan antara Kepemilikkan Jamban dengan Infestasi Cacing Persentase kecacingan pada keluarga anak balita yang punya jamban 15,7% dari 51 orang terinfeksi cacing usus, sedangkan yang tidak punya jamban tidak ada yang terinfeksi cacing usus. Artinya persentase kecacingan lebih besar pada keluarga yang mempunyai jamban. Secara statistik belum menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=1,000>0,05). Dari hasil survey dilapangan responden yang tidak mempunyai jamban BAB di jamban milik tetangga dan di jamban milik umum. dalam penelitian ini yang tidak memiliki jamban tidak terinfeksi cacing usus hal ini terjadi karena anak yang tidak memiliki jamban melakukan higiene perorangan dan sanitasi lingkungan dengan baik dan benar. Tinja yang terdapat telur cacing apabila dibuang disembarang tempat akan menyebabkan orang lain terinfeksi STH, karena telur cacing akan diterbangkan oleh angin dan apabila hinggap di makanan dan tertelan oleh orang lain maka orang tersebut telah terinfeksi cacing usus. Jamban adalah bangunan untuk tempat buang air besar dan buang air kecil. Buang air besar dan air kecil harus di dalam jamban, jangan di sungai atau di sembarang tempat karena dapat menimbulkan penyakit. [31] Bertambahnya penduduk yang tidak seimbang dengan area pemukiman timbul masalah yang disebabkan oleh pembuangan kotoran manusia yang meningkat. Dilihat dari kesehatan masyarakat masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah pokok yang harus diatasi karena kotoran manusia (faeces) adalah sumber penyebaran penyakit yang multi kompleks. [31] Dalam pebelitian ini tidak ada hubungan yang bermakana antara kepemilikkan jamban dengan infestai cacing, ini dimungkinkan karena sebagian

24 besar responden mempunyai jamban sendiri untuk BAB dan anak usia 1-4 tahun dibiasakan untuk tidak BAB dilingkungan sekitar rumah, sehingga penyebaran penyakit melalui tinja dapat dicegah. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan teori yang menyatakan bendabenda yang telah terkontaminasi oleh tinja dari seseorang yang sudah menderita suatu penyakit tertentu merupakan penyebab penyakit bagi orang lain. Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan tinja disertai dengan cepatnya pertambahan penduduk, akan mempercepat penyebaran penyakit-penyakit yang ditularkan lewat tinja. Penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain: tipus, disentri, kolera, bermacam-macam cacing (cacing gelang, cacing tambang, cacing pita), schistosomiasis, dan sebagainya. [16] Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Evi Yulianto (2007) pada anak SD Rowosari 01, yang menyatakan ada hubungan yang bermakna antara kepemilikkan jamban dengan infestasi cacing dikarenakan dari 45 siswa didapatkan siswa yang teinfeksi cacing dan tidak memiliki jamban sebanyak 6 anak (40%), sedangkan siswa yang memiliki jamban dan terinfeksi cacing sebanyak 3 anak (10%). 6. Hubungan antara Lantai Rumah dengan Infestasi Cacing Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 54 orang anak didapatkan anak yang lantai rumahanya kedap air dan terinfeksi cacing usus sebanyak 14,9%, sedangakn anak yang lantai rumahnya tidak kedap air dan terinfeksi cacing usus sebanyak 14,3%. Artinya persentase kecacingan lebih besar pada anak yang lantai rumahnya kedap air. Secara statistik tidak hubungan yang bermakna antara lantai rumah dengan infestasi cacing, dari uji Chi-square diperoleh p-value 1,000>0,05. Anak-anak setelah bermain diluar rumah apabila didalam rumah lantainya tidak kedap air maka anak akan semakin berisiko terinfeksi soil transmitted helminth. Syarat-syarat rumah yang sehat jenis lantai yang tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim penghujan. Lantai dapat terbuat dari ubin, semen, kayu dan tanah yang disirami kemudian dipadatkan. [31]

25 Dalam penelitian ini tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis lantai rumah dengan infestasi cacing, ini dimungkinkan karena sebagian besar responden mempunyai lantai rumah yang kedap air. Dalam penelitian ini responden yang mempunyai lantai rumah yang kedap air lebih banyak terinfeksi cacing usus. Ini dapat terjadi karena anak kebersihan higiene perorangan dan sanitasi lingkungannya tidak baik. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan teori yang menyatakan. bahwa syarat-syarat rumah yang sehat dapat mengindarkan dari berbagai penyakit adalah rumah yang memiliki jenis lantai yang tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim penghujan. Lantai rumah dapat terbuat dari ubin atau semen, kayu, dan tanah yang disiram kemudian dipadatkan. [16] 7. Hubungan antara Ketersediaan Air Bersih dengan Infestasi Cacing Dari seluruh responden semua merasa memiliki ketersediaan air bersih, tetapi 14,8% diantaranya positif terinfeksi cacing usus. Variabel ini tidak dapat diuji dengan chi- square, uji chi-square hanya dapat dilakukan apabila ada variasi nilai pada variable tersebut. Ketersediaan air bersih sangat berperan penting dalam penyebaran penyakit, apabila ketersediaan air bersih tercukupi maka masyarakat tidak menggunakan air sungai untuk keperluan sehari-hari, yang mana air sungai telah tercemar dengan berbagai macam limbah manusia. Berdasarkan hasil penelitian, Kelurahan Karangroto termasuk kelurahan yang ketersediaan airnya bersih karena untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti memasak, air untuk minum, mandi dan BAB mudah didapatkan karena banyak masyarakat telah menggunakan air sumur dan air PAM. Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa air sehat adalah air bersih yang dapat digunakan untuk kegiatan manusia dan harus terhindar dari kuman-kuman penyakit dan bebas dari bahan-bahan kimia yang dapat mencemari air bersih tersebut. [18] Mengetahui tanda air bersih secara fisik dapat dibedakan melalui indera manusia antara lain dapat dilihat, dirasa, dicium, dan diraba yaitu air tidak boleh berwarna harus jernih sampai kelihatan dasar tempat air itu, air tidak boleh keruh harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah busa, dan kotoran lainnya. Air

26 tidak boleh berbau harus bebas dari bahan kimia seperti bau busuk, dan bau belerang. Air harus sesuai dengan suhu sekitarnya atau lebih renndah, tidak boleh suhunya lebih tinggi. [18] Dalam penelitian ini tidak ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan air bersih dengan infestasi cacing, ini dimungkinkan karena sebagian besar masyarakat telah memiliki ketersediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan himbauan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1990) yang menyatakan bahwa air sehat adalah air bersih yang dapat digunakan untuk kegiatan manusia dan harus terhindar dari kuman-kuman penyakit dan bebas dari bahan-bahan kimia yang dapat mencemari air bersih tersebut, sehingga orang yang memanfaatkan air bersih tidak menjadi sakit. [18] Akibat air yang tidak sehat dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti: penyakit perut (kolera, diare, disentri, keracunan, dan penyakit perut lainnya), penyakit cacingan (cacing pita, cacing gelang, cacing kremi, demam keong, kaki gajah). [18] BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

27 A. Kesimpulan 1. a. Sebagian besar (96,3%) responden melakukan kebiasaan mencuci tangan dengan kategori biasa. b. Sebagian besar (98,1%) responden memakai alas saat bermain atau keluar rumah. c. Sebagian besar (88,9%) responden mempunyai kuku kotor. d. Sebagian besar (98,1%) responden terbiasa bermain ditanah. 2. Sebagian besar (94,4%) responden memiliki jamban sendiri dan dipergunakan oleh anggota keluarga. 3. Sebagian besar (87%) responden mempunyai lantai rumah kedap air. 4. Sebagian besar (100%) responden memiliki ketersediaan air bersih. 5. Hanya 8 orang (14,8%) anak yang terinfeksi cacing usus. 6. Tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan mencuci tangan dengan infestasi cacing. 7. Tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan memakai alas kaki dengan infestasi cacing. 8. Tidak ada hubungan yang bermakna antara frekuensi memotong kuku dengan infestasi cacing. 9. Tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan bermain ditanah dengan infestasi cacing. 10. Tidak ada hubungan yang bermakna antara kepemilikkan jamban dengan infestasi cacing. 11. Tidak ada hubungan yang bermakna antara lantai rumah dengan infestasi cacing. 12. Tidak ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan air bersih dengan infestasi cacing.

28 B. Saran 1. Instansi pemerintah Adanya peningkatan kerjasama antara Dinas kesehatan dengan Puskesmas untuk memberi bimbingan, pengarahan tentang higiene perorangan dan sanitasi lingkungan kepada warga masyarakat dalam upaya menurunkan prevalensi kecacingan. 2. Masyarakat Diharapkan peran serta orang tua dalam usaha pencegahan dan pengobatan penyakit cacingan. 3. Sekolah Peningkatan kerjasama antara kepala sekolah dan guru untuk memberi bimbingan, pengarahan tentang hygiene perorangan dan sanitasi lingkungan kepada anak dalam upaya menurunkan prevalensi penyakit cacingan.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan Penelitian ini termasuk jenis explanatory research atau penelitian penjelasan. Penelitian ini menguji hipotesis yang menyatakan hubungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang prevalensinya sangat tinggi di Indonesia, terutama cacing usus yang ditularkan melalui tanah atau Soil Transmitted Helminth

Lebih terperinci

MAKALAH MASALAH KECACINGAN DAN INTERVENSI

MAKALAH MASALAH KECACINGAN DAN INTERVENSI MAKALAH MASALAH KECACINGAN DAN INTERVENSI Oleh: Muhammad Fawwaz (101211132016) FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS AIRLANGGA 1 DAFTAR ISI COVER... 1 DAFTAR ISI... 2 BAB I... 3 A. LATAR BELAKANG...

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. variabel pada satu saat tertentu (Sastroasmoro, 2011). Cara pengumpulan

BAB III METODE PENELITIAN. variabel pada satu saat tertentu (Sastroasmoro, 2011). Cara pengumpulan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain penelitian Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional yaitu melakukan observasi atau pengukuran variabel pada satu

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat observasional analitik dengan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat observasional analitik dengan 32 III. METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yaitu observasi atau pengukuran variabel penelitian

Lebih terperinci

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PADA ANAK USIA 1-4 TAHUN

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PADA ANAK USIA 1-4 TAHUN BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PADA ANAK USIA 1-4 TAHUN 1 Endriani, 2 Mifbakhudin, 3 Sayono 1 Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang 2,3

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. hubungan antara keberadaan Soil Transmitted Helminths pada tanah halaman. Karangawen, Kabupaten Demak. Sampel diperiksa di

BAB III METODE PENELITIAN. hubungan antara keberadaan Soil Transmitted Helminths pada tanah halaman. Karangawen, Kabupaten Demak. Sampel diperiksa di BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik, karena menganalisa hubungan antara keberadaan Soil Transmitted Helminths pada tanah halaman rumah dengan kejadian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross 45 BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu desain penelitian dengan pengukuran variabel yang dilakukan satu

Lebih terperinci

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG Volume, Nomor, Tahun 0, Halaman 535-54 Online di http://ejournals.undip.ac.id/index.php/jkm HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 3 Botupingge Kecamatan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 3 Botupingge Kecamatan 35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 3 Botupingge Kecamatan Botupingge pada tanggal 15 Juni-27 Juni 2012 dan pemeriksaan tinja

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN a. Jenis / Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian Explanatory Recearch atau penelitian penjelasan yaitu menjelaskan adanya hubungan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat observasional analitik dengan

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat observasional analitik dengan 37 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yaitu observasi atau pengukuran variable penelitian

Lebih terperinci

Lampiran III : Tabel Frekuensi. Frequency Table. Universitas Sumatera Utara. Infeksi kecacingan STH

Lampiran III : Tabel Frekuensi. Frequency Table. Universitas Sumatera Utara. Infeksi kecacingan STH Lampiran III : Tabel Frekuensi Frequency Table Infeksi Valid Positif Negatif Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent 49 64.5 64.5 64.5 27 35.5 35.5 100.0 76 100.0 100.0 Valid 1 2 Umur Responden

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNA AIR SUMUR DENGAN KELUHAN KESEHATAN DAN PEMERIKSAAN KUALITAS AIR SUMUR PADA PONDOK PESANTREN DI KOTA DUMAI TAHUN

HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNA AIR SUMUR DENGAN KELUHAN KESEHATAN DAN PEMERIKSAAN KUALITAS AIR SUMUR PADA PONDOK PESANTREN DI KOTA DUMAI TAHUN KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNA AIR SUMUR DENGAN KELUHAN KESEHATAN DAN PEMERIKSAAN KUALITAS AIR SUMUR PADA PONDOK PESANTREN DI KOTA DUMAI TAHUN 2011 IDENTITAS RESPONDEN 1. Nomor Responden

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian bersifat analitik karena akan membandingkan jumlah

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian bersifat analitik karena akan membandingkan jumlah BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian bersifat analitik karena akan membandingkan jumlah telur cacing yang ditemukan berdasarkan ukuran tabung apung yang berbeda pada pemeriksaan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. cross sectional (potong lintang), dimana pengukuran variabel hanya dilakukan

BAB III METODE PENELITIAN. cross sectional (potong lintang), dimana pengukuran variabel hanya dilakukan BAB III METODE PENELITIAN 3. 1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan suatu studi analitik observasional dengan pendekatan cross sectional (potong lintang), dimana pengukuran variabel hanya dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing adalah Kelurahan Dembe I, Kecamatan Tilango Kab.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing adalah Kelurahan Dembe I, Kecamatan Tilango Kab. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Geografi Luas Puskesmas Pilolodaa Kecamatan Kota Barat Kota Gorontalo yaitu 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing

Lebih terperinci

1. BAB I PENDAHULUAN

1. BAB I PENDAHULUAN 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kecacingan merupakan penyakit infeksi disebabkan oleh parasit cacing yang dapat membahayakan kesehatan. Penyakit kecacingan yang sering menginfeksi dan memiliki

Lebih terperinci

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2 ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2 Lintang Sekar Langit [email protected] Peminatan Kesehatan Lingkungan,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel 343 KK. Adapun letak geografis Kecamatan Bone sebagai berikut :

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel 343 KK. Adapun letak geografis Kecamatan Bone sebagai berikut : BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Penelitian 1. Gambaran Lokasi penelitian Lokasi penelitian ini di wilayah Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi

Lebih terperinci

HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GIRIWOYO 1 WONOGIRI

HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GIRIWOYO 1 WONOGIRI HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GIRIWOYO 1 WONOGIRI Ani Murtiana 1, Ari Setiyajati 2, Ahmad Syamsul Bahri 3 Latar Belakang : Penyakit diare sampai

Lebih terperinci

HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG.

HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG. JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 922-933 Online di http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jkm HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ascariasis yang disebabkan oleh Ascaris lumbricoides atau cacing gelang merupakan penyakit usus halus yang pada sebagian besar kasus ditandai dengan sedikit gejala

Lebih terperinci

Gambaran Kejadian Kecacingan Dan Higiene Perorangan Pada Anak Jalanan Di Kecamatan Mariso Kota Makassar Tahun 2014

Gambaran Kejadian Kecacingan Dan Higiene Perorangan Pada Anak Jalanan Di Kecamatan Mariso Kota Makassar Tahun 2014 Al-Sihah : Public Health Science Journal 12-18 Gambaran Kejadian Kecacingan Dan Higiene Perorangan Pada Anak Jalanan Di Kecamatan Mariso Kota Makassar Tahun 2014 Azriful 1, Tri Hardiyanti Rahmawan 2 1

Lebih terperinci

SUMMARY PERBEDAAN HIGIENE PERORANGAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT KECACINGAN DI SDN 1 LIBUO DAN SDN 1 MALEO KECAMATAN PAGUAT KABUPATEN POHUWATO

SUMMARY PERBEDAAN HIGIENE PERORANGAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT KECACINGAN DI SDN 1 LIBUO DAN SDN 1 MALEO KECAMATAN PAGUAT KABUPATEN POHUWATO SUMMARY PERBEDAAN HIGIENE PERORANGAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT KECACINGAN DI SDN 1 LIBUO DAN SDN 1 MALEO KECAMATAN PAGUAT KABUPATEN POHUWATO Zainudin Lakodi NIM 811409110 Program study Kesehatan Masyarakat,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 55 BAB III METODE PENELITIAN A. KERANGKA KONSEP Variabel Bebas Variabel Terikat Pengetahuan pelaku industri Sanitasi Hygiene Hasil monitoring keamanan produk industri rumah tangga (PIRT) pada makanan dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Variable bebas

BAB III METODE PENELITIAN. Variable bebas 56 BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Variable bebas Intensitas Pencahayaan Luas Ventilasi JenisLantai Jenis dinding Kepadatan hunian Kelembaban Variabel Terikat Kejadian Kusta Suhu Frekwensi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Soil transmitted helminths adalah cacing perut yang siklus hidup dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Soil transmitted helminths adalah cacing perut yang siklus hidup dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Soil Transmitted Helminths 1. Pengertian Soil transmitted helminths adalah cacing perut yang siklus hidup dan penularannya melalui tanah. Di Indonesia terdapat lima species cacing

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan 98 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Hubungan Kondisi Sanitasi Lingkungan Rumah, Higiene Perorangan dan Karakteristik Orangtua dengan Kejadian

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBUR LUBUK MENGKUANG KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013

HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBUR LUBUK MENGKUANG KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013 HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBUR LUBUK MENGKUANG KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013 Marinawati¹,Marta²* ¹STIKes Prima Prodi Kebidanan ²STIKes

Lebih terperinci

Lampiran I. Oktaviani Ririn Lamara Jurusan Kesehatan Masyarakat ABSTRAK

Lampiran I. Oktaviani Ririn Lamara Jurusan Kesehatan Masyarakat ABSTRAK Lampiran I HUBUNGAN PERSONAL HIGIENE DENGAN KANDUNGAN TELUR CACING PADA KOTORAN KUKU PEKERJA BIOGAS DI DESA TANJUNG HARAPAN KECEMATAN WONOSARI KABUPATEN BOALEMO TAHUN 2013 Oktaviani Ririn Lamara 811 409

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. diarahkan guna tercapainya kesadaran dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap

BAB 1 PENDAHULUAN. diarahkan guna tercapainya kesadaran dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk untuk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS ATAU RANCANGAN PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory research atau penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kejadian kecacingan di Indonesia yang dilaporkan di Kepulauan Seribu ( Agustus 1999 ), jumlah prevalensi total untuk kelompok murid Sekolah Dasar (SD) (95,1 %),

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Berdasarkan jenisnya penelitian ini adalah penelitian

BAB IV METODE PENELITIAN. Berdasarkan jenisnya penelitian ini adalah penelitian 38 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Rancangan Penelitian Berdasarkan jenisnya penelitian ini adalah penelitian observasional, karena di dalam penelitian ini dilakukan observasi berupa pengamatan, wawancara

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN, PERSONAL HYGIENE,

HUBUNGAN PENGETAHUAN, PERSONAL HYGIENE, HUBUNGAN PENGETAHUAN, PERSONAL HYGIENE, DAN SUMBER AIR BERSIH DENGAN GEJALA PENYAKIT KULIT JAMUR DI KELURAHAN RANTAU INDAH WILAYAH KERJA PUSKESMAS DENDANG KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR TAHUN 2013 *V.A

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) dalam Buletin. penyebab utama kematian pada balita adalah diare (post neonatal) 14%,

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) dalam Buletin. penyebab utama kematian pada balita adalah diare (post neonatal) 14%, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan di negara berkembang terutama di Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Penyakit diare bersifat endemis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kebijakan pembangunan kesehatan telah ditetapkan beberapa program dan salah satu program yang mendukung bidang kesehatan ialah program upaya kesehatan masyarakat.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dibutuhkan zat gizi yang lebih banyak, sistem imun masih lemah sehingga lebih mudah terkena

BAB 1 PENDAHULUAN. dibutuhkan zat gizi yang lebih banyak, sistem imun masih lemah sehingga lebih mudah terkena BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Anak pra sekolah merupakan kelompok yang mempunyai resiko besar terkena gizi kurang. Hal ini dikarenakan pada usia tersebut tumbuh kembang anak dalam masa yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. secara adil serta merata (Depkes RI, 2009). Masalah penyehatan lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. secara adil serta merata (Depkes RI, 2009). Masalah penyehatan lingkungan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang. Peningkatan derajat kesehatan dapat terwujud

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN : Tidak Tamat Sekolah.

KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN : Tidak Tamat Sekolah. KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN 2014 Nama : Umur : Tingkat Pendidikan : Tidak Tamat Sekolah Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. penyebarannya melalui media tanah masih menjadi masalah di dalam dunia kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. penyebarannya melalui media tanah masih menjadi masalah di dalam dunia kesehatan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Soil Transmitted Helminth (STH) atau penyakit kecacingan yang penyebarannya melalui media tanah masih menjadi masalah di dalam dunia kesehatan masyarakat khususnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara berkembang kini sedang menghadapi masalah kebersihan dan kesehatan. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan gaya hidup yang tidak

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. rumah responden beralaskan tanah. Hasil wawancara awal, 364

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. rumah responden beralaskan tanah. Hasil wawancara awal, 364 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan hasil observasi lingkungan ditemukan 80% rumah responden beralaskan tanah. Hasil wawancara awal, 364

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Kecacingan Menurut asal katanya helminth berasal dari kata Yunani yang berarti cacing. Cacing merupakan hewan yang terdiri dari banyak sel yang membangun suatu jaringan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERILAKU ANAK SEKOLAH DASAR NO HATOGUAN TERHADAP INFEKSI CACING PERUT DI KECAMATAN PALIPI KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2005

HUBUNGAN PERILAKU ANAK SEKOLAH DASAR NO HATOGUAN TERHADAP INFEKSI CACING PERUT DI KECAMATAN PALIPI KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2005 HUBUNGAN PERILAKU ANAK SEKOLAH DASAR NO.174593 HATOGUAN TERHADAP INFEKSI CACING PERUT DI KECAMATAN PALIPI KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2005 Oleh: Rahmat A. Dachi,S.K.M., M.Kes. PENDAHULUAN Penyakit cacingan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Metode Pendekatan Jenis penelitian ini termasuk penelitian Explanatory research yaitu penjelasan yang dilakukan untuk menggambarkan keadaan yang sebenarnya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan 33 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan penelitian cross-sectional study yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG HYGIENE MAKANAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS JATIBOGOR TAHUN 2013

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG HYGIENE MAKANAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS JATIBOGOR TAHUN 2013 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG HYGIENE MAKANAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS JATIBOGOR TAHUN 2013 Nurjanatun Naimah 1, Istichomah 2, Meyliya Qudriani 3 D III Kebidanan Politeknik

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara 2.1 Helminthiasis Cacing merupakan parasit yang bisa terdapat pada manusia dan hewan yang sifatnya merugikan dimana manusia merupakan hospes dari beberapa Nematoda usus. Sebagian besar daripada Nematoda

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (cacing) ke dalam tubuh manusia. Salah satu penyakit kecacingan yang paling

BAB I PENDAHULUAN. (cacing) ke dalam tubuh manusia. Salah satu penyakit kecacingan yang paling BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai negara berkembang, Indonesia masih menghadapi masalah tingginya prevalensi penyakit infeksi, terutama yang berkaitan dengan kondisi sanitasi lingkungan yang

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. perilaku hidup bersih dan sehat. Pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat

BAB 1 : PENDAHULUAN. perilaku hidup bersih dan sehat. Pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemeliharaan kebersihan diri sangat menentukan status kesehatan, di mana individu secara sadar dan atas inisiatif pribadi menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Sekolah selain

BAB 1 PENDAHULUAN. depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Sekolah selain BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Anak sekolah merupakan aset atau modal utama pembangunan di masa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Sekolah selain berfungsi sebagai

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. Karanganyar terdapat 13 perusahaan tekstil. Salah satu perusahaan di daerah

BAB IV HASIL PENELITIAN. Karanganyar terdapat 13 perusahaan tekstil. Salah satu perusahaan di daerah BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Berdasarkan data dari kelurahan desa Waru, Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar terdapat 13 perusahaan tekstil. Salah satu perusahaan di daerah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Nematoda adalah cacing yang berbentuk panjang, silindris (gilig) tidak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Nematoda adalah cacing yang berbentuk panjang, silindris (gilig) tidak BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Soil Transmitted Helminhs Nematoda adalah cacing yang berbentuk panjang, silindris (gilig) tidak bersegmen dan tubuhnya bilateral simetrik. Panjang cacing ini mulai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango. Wilayah Kerja. Poowo, Poowo Barat, Talango, dan Toto Selatan.

BAB III METODE PENELITIAN. Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango. Wilayah Kerja. Poowo, Poowo Barat, Talango, dan Toto Selatan. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango. Wilayah Kerja Puskesmas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Dan Metode Pendekatan Jenis penelitian ini adalah eksplanatori research adalah menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan melalui

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berkembang dan beriklim tropis, termasuk Indonesia. Hal ini. iklim, suhu, kelembaban dan hal-hal yang berhubungan langsung

BAB 1 PENDAHULUAN. berkembang dan beriklim tropis, termasuk Indonesia. Hal ini. iklim, suhu, kelembaban dan hal-hal yang berhubungan langsung BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit parasit baik yang disebabkan oleh cacing, protozoa, maupun serangga parasitik pada manusia banyak terdapat di negara berkembang dan beriklim tropis,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yaitu: faktor keturunan, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan.

BAB I PENDAHULUAN. yaitu: faktor keturunan, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu: faktor keturunan, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan. Keempat faktor tersebut saling

Lebih terperinci

Eka Muriani Limbanadi*, Joy A.M.Rattu*, Mariska Pitoi *Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi

Eka Muriani Limbanadi*, Joy A.M.Rattu*, Mariska Pitoi *Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi HUBUNGAN ANTARA STATUS EKONOMI, TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PENYAKIT KECACINGAN DENGAN INFESTASI CACING PADA SISWA KELAS IV, V DAN VI DI SD NEGERI 47 KOTA MANADO ABSTRACT Eka Muriani

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun lokasi penelitian ini dilakukan di Badan Lingkungan Hidup Kota

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun lokasi penelitian ini dilakukan di Badan Lingkungan Hidup Kota BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1. Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian ini dilakukan di Badan Lingkungan Hidup Kota Gorontalo. 3.1.2. Waktu Penelitian Waktu penelitian

Lebih terperinci

PREVALENSI NEMATODA USUS GOLONGAN SOIL TRANSMITTED HELMINTHES (STH) PADA PETERNAK DI LINGKUNGAN GATEP KELURAHAN AMPENAN SELATAN

PREVALENSI NEMATODA USUS GOLONGAN SOIL TRANSMITTED HELMINTHES (STH) PADA PETERNAK DI LINGKUNGAN GATEP KELURAHAN AMPENAN SELATAN ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah45 PREVALENSI NEMATODA USUS GOLONGAN SOIL TRANSMITTED HELMINTHES (STH) PADA PETERNAK DI LINGKUNGAN GATEP KELURAHAN AMPENAN SELATAN Oleh : Ersandhi Resnhaleksmana Dosen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada bayi dan balita. United Nations Children's Fund (UNICEF) dan

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada bayi dan balita. United Nations Children's Fund (UNICEF) dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diare hingga menjadi salah satu penyebab timbulnya kesakitan dan kematian yang terjadi hampir di seluruh dunia serta pada semua kelompok usia dapat diserang oleh diare,

Lebih terperinci

LEMBAR KUESIONER UNTUK PENJAMAH MAKANAN LAPAS KELAS IIA BINJAI. Jenis Kelamin : 1.Laki-laki 2. Perempuan

LEMBAR KUESIONER UNTUK PENJAMAH MAKANAN LAPAS KELAS IIA BINJAI. Jenis Kelamin : 1.Laki-laki 2. Perempuan LAMPIRAN 1 LEMBAR KUESIONER UNTUK PENJAMAH MAKANAN LAPAS KELAS IIA BINJAI A. IDENTITAS PEKERJA Nama Alamat Usia :... :... :. Tahun Jenis Kelamin : 1.Laki-laki 2. Perempuan Status Perkawinan : 1.Kawin 2.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Secara administratif Desa Tabumela terletak di wilayah Kecamatan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Secara administratif Desa Tabumela terletak di wilayah Kecamatan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Keadaan Demografis Secara administratif Desa Tabumela terletak di wilayah Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo, dan memiliki

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, karena penelitian ini hanya menggambarkan tentang angka kejadian penyakit diare dan infeksi Entamoeba histolytica

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep VARIABEL BEBAS Konsumsi Minuman Beralkohol Frekuensi konsumsi minuman beralkohol Banyaknya konsumsi minuman beralkohol VARIABEL TERIKAT Kejadian Obesitas Abdominal

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada waktu dimekarkan Kabupaten Bone Bolango hanya terdiri atas empat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada waktu dimekarkan Kabupaten Bone Bolango hanya terdiri atas empat BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum 4.1.1 Gambaran Lokasi Penelitian Kabupaten Bone Bolango adalah sebuah kabupaten di Provinsi Gorontalo Indonesia, Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran Kabupaten

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Metode Penelitian Pada Data Primer Kegiatan Praktek Kesehatan Masyarakat dengan melakukan penelitian / survei yang berjudul Gambaran Umum Status Gizi dan Kesehatan Baduta,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara yang saat ini masih mengahadapi masalah sanitasi dan perilaku untuk hidup bersih dan sehat. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Diare merupakan penyakit yang sangat umum dijumpai di negara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Diare merupakan penyakit yang sangat umum dijumpai di negara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diare merupakan penyakit yang sangat umum dijumpai di negara berkembang dan dapat menyerang baik anak-anak maupun dewasa. Angka kematian (CFR) saat KLB diare diharapkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Kabupaten Gorontalo pada bulan 30 Mei 13 Juni Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey analitik dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Kabupaten Gorontalo pada bulan 30 Mei 13 Juni Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey analitik dengan 31 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja puskesmas Limboto Barat Barat Kabupaten Gorontalo pada bulan 30 Mei 13 Juni 2012. 3.2 Desain Penelitian

Lebih terperinci

STUDI KANDUNGAN BAKTERI Salmonella sp. PADA MINUMAN SUSU TELUR MADU JAHE (STMJ) DI TAMAN KOTA DAMAY KECAMATAN KOTA SELATAN KOTA GORONTALO TAHUN 2012

STUDI KANDUNGAN BAKTERI Salmonella sp. PADA MINUMAN SUSU TELUR MADU JAHE (STMJ) DI TAMAN KOTA DAMAY KECAMATAN KOTA SELATAN KOTA GORONTALO TAHUN 2012 1 Summary STUDI KANDUNGAN BAKTERI Salmonella sp. PADA MINUMAN SUSU TELUR MADU JAHE (STMJ) DI TAMAN KOTA DAMAY KECAMATAN KOTA SELATAN KOTA GORONTALO TAHUN 2012 TRI ASTUTI NIM 811408115 Program Studi Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kesehatan merupakan sumber kesenangan, kenikmatan dan kebahagiaan,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kesehatan merupakan sumber kesenangan, kenikmatan dan kebahagiaan, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan sumber kesenangan, kenikmatan dan kebahagiaan, menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1992 dalam Bab I Pasal 1 disebutkan

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI. Penelitian ini menggunakan desain studi Cross Sectional yang bertujuan

BAB 4 METODOLOGI. Penelitian ini menggunakan desain studi Cross Sectional yang bertujuan BAB 4 METODOLOGI 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain studi Cross Sectional yang bertujuan untuk melihat suatu gambaran fenomena kesehatan masyarakat pada satu titik point waktu tertentu.

Lebih terperinci

Lampiran 1 KUESIONER. Universitas Sumatera Utara

Lampiran 1 KUESIONER. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 KUESIONER PENGARUH PERILAKU IBU, SANITASI LINGKUNGAN DAN KARAKTERISTIK ANAK TERHADAP KECACINGAN ANAK DI KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2008 Petunjuk Wawancara : 1. Pakailah Bahasa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tanah untuk proses pematangan sehingga terjadi perubahan dari bentuk non-infektif

BAB 1 PENDAHULUAN. tanah untuk proses pematangan sehingga terjadi perubahan dari bentuk non-infektif BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Soil Transmitted Helminths (STH) adalah cacing golongan nematoda usus yang penularannya melalui tanah. Dalam siklus hidupnya, cacing ini membutuhkan tanah untuk proses

Lebih terperinci

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Siti Hajar Binti Shamsudin Tempat / Tanggal Lahir : Selangor, Malaysia / 21 Oktober 1988 Agama Alamat : Islam : Jl. Dr. Mansur, Gang Berkat, No.6, 20132, Medan Riwayat Pendidikan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Konsep Variabel Bebas Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan VariabelTerikat Status Perkawinan Kejadian Malnutrisi Riwayat Penyakit Aktifitas Fisik Perilaku Merokok

Lebih terperinci

B A B III METODE PENELITIAN

B A B III METODE PENELITIAN B A B III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah Explanatory research, yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel-variabel yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Di Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan,

BAB 1 PENDAHULUAN. Di Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Di Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah satu diantaranya adalah penyakit infeksikecacingan yang ditularkan melalui tanah(soil transmitted

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. rancangan penelitian cross sectional yaitu mempelajari hubungan penyakit dan

BAB III METODE PENELITIAN. rancangan penelitian cross sectional yaitu mempelajari hubungan penyakit dan 28 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian bersifat obsevasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional yaitu mempelajari hubungan penyakit dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. mengungkapkan hubungan antar variabel yaitu pemberian MP ASI dengan

BAB III METODE PENELITIAN. mengungkapkan hubungan antar variabel yaitu pemberian MP ASI dengan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan studi analitik yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan antar variabel yaitu pemberian MP ASI dengan frekuensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. juga dipengaruhi oleh tidak bersihnya kantin. Jika kantin tidak bersih, maka

BAB I PENDAHULUAN. juga dipengaruhi oleh tidak bersihnya kantin. Jika kantin tidak bersih, maka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Higiene makanan sangatlah bermanfaat untuk menjaga kesehatan. Makanan merupakan kebutuhan manusia dan semua makhluk hidup untuk dapat melangsungkan hidupnya secara sehat,

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN Lampiran I No Responden : KUESIONER PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN RENDAHNYA KEPEMILIKAN JAMBAN KELUARGA DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI DESA SEI MUSAM KENDIT KECAMATAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Pelayanan Kesehatan Peran PMO : - Pengetahuan - Sikap - Perilaku Kesembuhan Penderita TB Paru Gambar 3.1 Kerangka Konsep B. Hipotesis 1. Terdapat hubungan pengetahuan

Lebih terperinci

BAB III METODA PENELITIAN. A. Jenis/ Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan. wawancara menggunakan kuesioner dengan pendekatan cross sectional.

BAB III METODA PENELITIAN. A. Jenis/ Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan. wawancara menggunakan kuesioner dengan pendekatan cross sectional. BAB III METODA PENELITIAN A. Jenis/ Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan Jenis penelitian eksplanatory research dengan metode observasi dan wawancara menggunakan kuesioner dengan pendekatan cross

Lebih terperinci

Menjadi sehat adalah impian seluruh manusia. Baik

Menjadi sehat adalah impian seluruh manusia. Baik 1 Hidup Sehat untuk Jadi Anak Hebat Menjadi sehat adalah impian seluruh manusia. Baik itu anak-anak maupun orang dewasa. Kesehatan juga merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada makhluknya. Dengan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan suatu studi analitik observasional dengan desain cross sectional (potong lintang). Dalam penelitian ini dilakukan pembandingan kesimpulan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan. hygiene dan status gizi (Notoatmodjo, 2010).

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan. hygiene dan status gizi (Notoatmodjo, 2010). BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional, yaitu dengan cara pengumpulan data sekaligus pada suatu

Lebih terperinci

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN, PERSONAL HIGIENE DENGAN JUMLAH BAKTERI Escherichia coli PADA DAMIU DI KAWASAN UNIVERSITAS DIPONEGOROTEMBALANG

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN, PERSONAL HIGIENE DENGAN JUMLAH BAKTERI Escherichia coli PADA DAMIU DI KAWASAN UNIVERSITAS DIPONEGOROTEMBALANG HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN, PERSONAL HIGIENE DENGAN JUMLAH BAKTERI Escherichia coli PADA DAMIU DI KAWASAN UNIVERSITAS DIPONEGOROTEMBALANG Haryudi Okta Sofiyanto 1), Tri Joko 2), Nur Endah W 2) 1 Mahasiswa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. adalah penelitian yang mengkaji hubungan antara variable dengan

BAB III METODE PENELITIAN. adalah penelitian yang mengkaji hubungan antara variable dengan 28 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi. Peneliti korelasi adalah penelitian yang mengkaji hubungan antara variable dengan melibatkan minimal dua

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional yaitu jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di negara tropis yang sedang berkembang seperti Indonesia, masih banyak penyakit yang masih menjadi permasalahan di dunia kesehatan, salah satunya adalah infeksi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, karena hanya. Kabupaten Blora sedangkan pemeriksaan laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, karena hanya. Kabupaten Blora sedangkan pemeriksaan laboratorium BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, karena hanya melakukan pemeriksaan parasit cacing pada ternak sapi dan melakukan observasi lingkungan kandang

Lebih terperinci