KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Jambi Triwulan III - 2008 Kantor Bank Indonesia Jambi
Halaman ini sengaja dikosongkan
K A T A P E N G A N T A R Pertama-tama ijinkanlah kami memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat-nya sehingga Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi Jambi untuk triwulan III tahun 2008 dapat diselesaikan dengan baik. KER merupakan salah satu terbitan periodik sebagai sarana bagi Kantor Bank Indonesia Jambi dalam membangun komunikasi dua arah dalam pertukaran data dan informasi baik dengan stakeholders internal maupun stakeholers eksternal sehingga para pemangku kepentingan seperti pelaku usaha, perbankan dan terutama Pemerintah Daerah Jambi (provinsi dan kabupaten/kota) dapat memperoleh masukan untuk mengambil keputusan dan kebijakan yang sesuai dengan perkembangan yang ada. KER mencakup beberapa aspek seperti perkembangan ekonomi makro regional, perkembangan inflasi daerah, perkembangan perbankan, perkembangan keuangan daerah, perkembangan sistem pembayaran, ketenagakerjaan daerah dan kesejahteraan serta perkiraan ekonomi dan inflasi daerah. Berdasarkan asesmen atas data dan informasi, pada triwulan III tahun 2008 akselerasi pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi masih terus berlanjut. Namun demikian, perkembangan harga-harga secara umum masih berada pada level yang cukup tinggi sebagai dampak lanjutan dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Perkembangan perbankan terutama dari sisi kredit yang diberikan menunjukkan peningkatan disertai dengan membaiknya fungsi intermediasi perbankan yang tercermin dari peningkatan Loan to deposits ratio (LDR) dibandingkan triwulan sebelumnya. Sejalan dengan peningkatan LDR, kualitas kredit yang diberikan membaik yang tercermin dari menurunnya ratio Non-Performing Loan (NPL) gross. Pembenahan sektor riil secara langsung diperlukan sebagai upaya akselerasi penyaluran kredit perbankan. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan yang akan datang sangat tergantung pada peningkatan konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah melalui percepatan realisasi APBD. Di sisi lain, potensi kenaikan harga-harga secara umum perlu mendapatkan perhatian khusus. Dalam penyusunan KER triwulan III tahun 2008, kami banyak memperoleh support dari berbagai pihak seperti dinas-dinas pemerintah daerah, instansi, perbankan, BUMN/BUMD dan pelaku usaha. Oleh karena itu, kami menyampaikan penghargaan dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak. Kami mengharapkan kerjasama yang telah terjalin selama ini dapat ditingkatkan di masa yang akan datang. Seiring dengan keterbatasan yang ada, kami mengharapkan kritik dan saran dalam meningkatkan kualitas KER ini agar dapat memberikan manfaat yang optimal, untuk kemakmuran masyarakat Jambi. Jambi, Oktober 2008
Halaman ini sengaja dikosongkan
DAFTAR ISI Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Grafik... iv Ringkasan Eksekutif... 1 BAB I. Perkembangan Ekonomi Makro Regional... 5 A. Umum... 5 B. PDRB Sisi Produksi... 7 C. PDRB Sisi Pengeluaran... 21 Boks 1: Indek Produksi Provinsi Jambi Tahun 2008 (Suatu Indikator Dini Pertumbuhan Produksi Riil) Boks 2: Investasi Propinsi Jambi dan Krisis Pasar Modal Dunia 2008. BAB II. Perkembangan Harga-Harga... 31 A. Kajian Umum... 31 B. Inflasi Perdagangan Kelompok Barang... 34 BAB III. Perkembangan Perbankan Daerah... 43 A. Perkembangan Kelembagaan... 43 B. Bank Umum... 44 C. Bank Perkreditan Rakyat... 58 BAB IV Keuangan Pemerintah Daerah... 59 A. Umum... 59 B. Realisasi Pendapatan Daerah... 61 C. Realisasi Belanja Daerah... 61 D. Keuangan Pemerintah Pusat di Daerah... 63 E. Keuangan Pemerintah Daerah... 65 BAB V Perkembangan Sistem Pembayaran... 69 A. Perkembangan Alat Pembayaran Tunai... 69 B. Perkembangan Alat Pembayaran Non Tunai... 71 BAB VI Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan... 73 A. Keternagakerjaan Daerah... 73 B. Kesejahteraan... 75 C. Kemiskinan... 78 BAB VII Perkiraan Ekonomi dan Harga Daerah... 83 A. Pertumbuhan Ekonomi... 83 B. Proyeksi Inflasi... 87 Lampiran Daftar Istilah i
DAFTAR TABEL 1.1 Laju Triwulanan (q-t-q) Pertumbuhan Provinsi Jambi Sisi Produksi dan Sisi Penggunaan 6 2.1 Perkembangan Inflasi Kota Jambi 32 2.2 Perkembangan Inflasi Tahunan (y-o-y) serta tahuin kalender (y-t-d) Kota Jambi Berdasarkan Kelompok dan Sub Kelompok Barang dan Jasa 34 3.1 Penghimpunan Dana Bank Umum di Provinsi Jambi 45 3.2 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Golongan Pemilik 46 3.3 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Lokasi Proyek 47 3.4 Perkembangan Kredit Bank Umum Provinsi Jambi 48 3.5 Perkembangan Kredit Lokasi Proyek Provinsi Jambi 50 3.6 Tabel Undisbursed Loan Bank Umum Berdasarkan Jenis Penggunaan dan Berdasarkan Sektor Ekonomi Provinsi Jambi 51 3.7 Tabel Persetujuan Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan di Provinsi Jambi 51 3.8 Perkembangan Non Performing Loan (NPL) Gross Bank Umum Provinsi Jambi 54 4.1 APBD Provinsi Jambi Tahun 2008 60 4.2 Perkembangan Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi 63 4.3 Perkembangan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi 64 4.4 Perkembangan Realisasi Transfer Dana Bagi Hasil (DBH) Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi 66 5.1 Perkembangan Sistem Pembayaran Provinsi Jambi 69 5.2 Perkembangan Transaksi RTGS 72 6.1 Pertambahan Jumlah Pencari Kerja per Jenjang Pendidikan di Provinsi Jambi 74 6.2 Nilai Tukar Petani (NTP) Per Sub sektor (2007 = 100) 77 6.3 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sumatera dan Indonesia 79 ii
6.4 Garis Kemiskinan Provinsi Jambi 79 6.5 Garis Kemiskinan Menurut Komponen 80 6.6 Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan 80 7.1 Saldo Bersih Tertimbang Perkembangan Dunia Usaha 85 iii
DAFTAR GRAFIK 1.1 Perkembangan PDRB Provinsi Jambi (q-t-q) 5 1.2 Perkembangan PDRB Provinsi Jambi dan Nasional (y-o-y) 6 1.3 Kontribusi PDRB Sisi Produksi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jambi (q-t-q) 7 1.4 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Triwulan III Tahun 2008 8 1.5 Luas Tanam Sektor Tabama triwulan II Tahun 2008 9 1.6 Luas Tanam Sektor Tabama Triwulan IIII Tahun 2008 9 1.7 Luas Panen Sektor Tabama Trwulan II Tahun 2008 9 1.8 Luas Panen Sektor Tabama Triwulan III Tahun 2008 9 1.9 Perkembangan harga CPO, Inti dan TBS 10 Tahun di Provinsi Jambi 10 1.10 Indikator Produksi Sub Sektor Tanaman Perkebunan tahun 2008 10 1.11 Indikator Produksi Sub Sektor Hortikultura, Sub Sektor Peternakan dan Sub Sektor Perikanan tahun 2008 10 1.12 Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi 11 1.13 Pertumbuhan Indeks terima dan Indeks Bayar Petani 11 1.14 Distribusi Jenis Pupuk 11 1.15 Jumlah dan Pertumbuhan Realisasi Pupuk 11 1.16 Perkembangan Indikator produksi Bulanan Sektor PHR 12 1.17 Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Bisnis 12 1.18 PDRB Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi serta Lifting Minyak Bumi 14 1.19 Pertumbuhan Lifting Gas Alam 14 1.20 PDRB Industri Pengolahan dan Volume Penjualan Solar 15 1.21 Perkembangan Total Pemakaian Listrik Sektor Industri 15 1.22 Perkembangan Jumlah Pelanggan Listrik Sektor Industri 15 1.23 Indeks Produksi Industri CPO, Karet, Kopra dan Kerajinan Batik 16 1.24 Indeks Produksi Industri Barang dari Kayu, Barang dari Semen, Batu bata, Makanan dan Minuman 16 1.25 Perkembangan Total Pemakaian Listrik 16 1.26 Perkembangan Jumlah Pelanggan Listrik 16 1.27 Perkembangan PDRB Sektor Bangunan dan Konsumsi Semen 17 1.28 Perkembangan Kredit KPR 18 1.29 Perkembangan Kredit Ruko/Rukan 18 1.30 PDRB Sub Sektor Angkutan Udara dan Volume Penjualan Avtur 19 1.31 Perkembangan Keberangkatan dan Kedatangan Penumpang 19 1.32 Perkembangan Keberangkatan dan Kedatangan Pesawat 19 1.33 Perkembangan Total Arus Barang 20 1.34 Perkembangan Kunjungan Kapal 20 1.35 Kontribusi PDRB Sisi Pengeluaran Terhadap Pertumbuhan (q-t-q) 21 iv
1.36 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran Triwulan III tahun 2008 22 1.37 Indeks Kondisi Ekonomi 23 1.38 Konsumsi Listrik Rumah Tangga 23 1.39 Pertumbuhan Pendaftaran Kendaraan Bermotor Baru 24 1.40 Perkembangan Penjualan Premium dan Solar 24 1.41 Perkembangan Penjualan Minyak Tanah 24 1.42 Nominal dan Pertumbuhan Kredit Konsumsi di Provinsi Jambi 24 1.43 Pertumbuhan Pendaftaran Sedan, Jeep, Minibus Baru 24 1.44 Pertumbuhan Pendaftaran Sepeda Motor Baru 24 1.45 Pertumbuhan Pendaftaran Truck/Pick Up Baru 25 1.46 Nominal dan Pertumbuhan Kredit Investasi di Provinsi Jambi 25 1.47 Konsumsi Semen Provinsi Jambi 25 1.48 Perkembangan Ekspor dan Impor Non Migas Provinsi Jambi 27 1.49 Perkembangan Ekspor Provinsi Jambi 27 1.50 Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi 28 2.1 Perkembangan Inflasi Kota Jambi 31 2.2 Perkembangan Inflasi Tahun Kalender Kota Jambi Periode Tahun 2003 s.d 2008 32 2.3 Perkembangan Laju Inflasi Kota Jambi (y-o-y) Kota 33 2.4 Perbandingan Inflasi (y-o-y) Kota Jambi dan Kota Sekitarnya 33 2.5 Perkembangan Harga CPO dan Minyak Goreng 35 2.6 Perkembangan Harga Tepung Terigu 36 2.7 Perkembangan Harga Cabe Merah dan Bawang 37 2.8 Perkembangan Harga Jagung 37 2.9 Perkembangan Harga Daging 37 2.10 Perkembangan Harga Beras 38 2.11 Perkembangan Harga Emas di Pasar Internasional 39 2.12 Perkembangan Harga Minyak di Pasar Internasional 41 3.1 Perkembangan Aset Bank Umum Provinsi Jambi 44 3.2 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum Provinsi Jambi 46 3.3 Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Umum Provinsi Jambi 52 3.4 Loan to Deposit Ratio (LDR) Berdasarkan Lokasi Proyek per kabupaten/kota di Provinsi Jambi 53 3.5 Pangsa Kredit Bank Umum Provinsi Jambi 55 3.6 Perkembangan Kredit UMKM Bank Umum Provinsi Jambi 55 3.7 Perkembangan Suku Bunga Rata-rata Tertimbang Kredit dan Deposito Bank Umum Provinsi Jambi 56 3.8 Perkembangan Laba Rugi Triwulanan 57 4.1 Perkembangan APBD Provinsi Jambi 59 4.2 Perkembangan Pendapatan APBD Provinsi Jambi 61 4.3 Perkembangan Belanja APBD Provinsi Jambi 62 4.4 Pangsa Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi 64 4.5 Pangsa Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri di Provinsi Jambi 64 v
4.6 Pangsa/Share ( Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi) 65 4.7 Perkembangan Deposito dan Giro Pemerintah Daerah Provinsi Jambi 66 5.1 Inflows, Outflows, Netflows dan Perkembangan Netflows di Provinsi Jambi 70 5.2 Perkembangan Nominal 71 5.3 Perkembangan Volume Kliring 71 6.1 Grafik Nilai Saldo Ekspektasi Penganngguran dan Kondisi Pengangguran 74 6.2 Perkembangan Harga Rata-rata Bulanan Beberapa Bahan Kebutuhan Pokok 75 6.3 Penyaluran Raskin di Provinsi Jambi 78 7.1 Perkembangan Ekspektasi Ekonomi, Ekspektasi Pengangguran dan Ekspektasi Penghasilan 84 7.2 Rencana Konsumsi dalam 6-12 Bulan yang akan datang 84 7.3 Saldo Bersih Ekspektasi Harga dalam 6-12 bulan yang akan datang 88 7.4 Perkembangan Inflasi Tahun Kalender (y-t-d) Kota Jambi Periode Tahun 2003 s.d September 2008 88 7.5 Perkembangan Inflasi Tahunan (y-o-y) Kota Jambi Periode Tahun 2003 s.d 2008 89 vi
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH a. Inflasi dan PDRB INDIKATOR TAHUN TAHUN 2007 2008 2006 Tw.I Tw.II Tw.III Tw. IV TRW.I Trw.II Trw.III MAKRO Indeks Harga Konsumen Kota Jambi 153.14 158.00 156.08 160.09 164.5 168.06 112.91 114.9 Laju Inflasi Tahunan (y-o-y) Kota Jambi 10.66 12.62 9.92 10.96 7.42 6.37 13.99 13.68 PDRB - Harga Konstan (Juta Rp) 1) 13,351,743 3,451,827 3,518,664 3,592,202 3,626,815 3,692,923 3,796,013 3,832,500 - Pertanian 4,034,894 1,093,332 1,108,631 1,119,802 1,115,683 1,133,291 1,176,045 1,150,869 - Pertambangan dan Penggalian 1,676,723 429,974 396,510 397,513 390,209 395,477 384,917 385,577 - Industri Pengolahan 1,847,833 478,465 485,228 485,945 498,821 514,125 536,509 552,411 - Listrik, Gas, dan Air Bersih 102,861 25,570 27,379 28,396 28,400 30,089 30,672 31,236 - Bangunan 570,984 148,837 161,618 169,680 174,088 176,847 182,753 185,183 - Perdagangan Hotel dan Restoran 2,326,609 607,670 605,980 621,386 629,576 641,483 665,046 689,747 - Pengangkutan dan Komunikasi 1,082,251 283,267 288,818 292,254 295,141 298,889 304,310 311,188 - Keuangan, Persewaan dan Jasa 511,718 136,382 149,362 154,647 168,880 173,095 181,344 187,655 - Jasa 1,209,748 311,073 318,047 322,579 326,016 329,626 334,418 338,633 Nilai Ekspor Non Migas (USD ribu) 2) 659,744 180,887 203,462 192,696 193,798 241,506 251,334 215,465 Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) 674,284 238,963 207,393 246,509 297,847 311,024 374,057 442,582 Nilai Impor Nonmigas (USD Ribu) 3) 163,942 31,655 55,774 42,298 46,448 34,269 35,842 29,826 Volume Impor Nonmigas (ribu ton) 121,448 49,153 39,278 30,708 32,360 80,358 18,100 27,115 Catatan 1) Angka sementara 2) Pengklasifikasian komoditi menggunakan 21 kelompok barang berdasarkan SITC 2 digit yang berlaku data s.d Bulan Agustus 2008 3) Pengklasifikasian komoditi dalam statistik impor menggunakan SITC 2 digit yang berlaku data s.d Bulan Agustus 2008
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH b. Perbankan INDIKATOR TAHUN TAHUN 2007 TAHUN 2008 2006 Tw.I Tw.II Tw.III Tw. IV Tw.I Tw.II Tw.III PERBANKAN A. Bank Umum : a. Bank Umum Konvensional: Total Aset (Rp Juta) 9,247,916 9,428,956 9,413,252 10,083,592 10,576,180 10,858,876 11,707,242 11,644,073 DPK(Rp Juta) 7,450,844 7,597,139 8,065,441 8,601,267 9,177,789 9,336,038 10,186,986 9,960,462 - Tabungan 2,425,792 2,204,240 2,411,518 3,617,731 4,310,157 4,378,165 4,743,800 4,545,503 - Giro 3,093,842 3,007,589 2,294,901 2,626,409 2,840,627 2,559,966 2,778,635 2,442,357 - Deposito 1,931,210 2,385,310 3,359,022 2,357,127 2,027,005 2,397,907 2,664,551 2,972,602 Kredit (Rp Juta) - berdasarkan lokasi proyek 6,594,408 6,517,633 7,179,554 7,638,734 7,532,294 8,145,685 12,599,263 9,687,354 - Modal Kerja 2,763,936 2,723,266 3,003,634 3,018,863 3,136,745 3,044,217 3,608,379 3,698,754 - Konsumsi 1,968,744 2,024,795 2,259,769 2,582,007 2,343,552 3,111,679 6,776,342 3,637,609 - Investasi 1,861,728 1,769,572 1,916,151 2,037,864 2,051,997 1,989,789 2,214,542 2,350,991 - Dana 7,252,314 7,603,483 8,038,672 8,613,144 9,167,530 9,579,712 10,291,998 10,111,819 - LDR 90.93 85.72 89.31 88.69 82.16 85.03 122.42 95.80 Kredit (Rp Juta) - berdasarkan lokasi kantor cabang 4,241,867 4,374,058 4,733,545 5,099,981 5,485,581 5,849,490 5,974,336 7,157,534 - Modal Kerja 1,895,065 1,949,177 2,079,992 2,111,673 2,253,644 2,276,632 2,832,943 2,862,523 - Konsumsi 1,638,047 1,694,214 1,909,516 2,136,652 2,243,694 2,426,131 1,844,313 2,924,337 - Investasi 708,755 730,667 744,037 851,656 988,243 1,146,727 1,297,080 1,370,674 - LDR (%) 56.93 57.58 58.69 59.29 59.77 62.65 58.65 71.86 Kredit UMKM (Rp Juta) Kredit Mikro (< Rp 50 juta) (Rp Juta) 1,758,015 1,866,908 1,890,283 2,064,789 2,096,674 2,169,860 2,465,015 2,639,239 - Kredit Modal Kerja 299,710 317,099 252,369 275,830 311701 324,480 445,626 489,518 - Kredit Investasi 116,376 143,437 140,517 187,368 201832 213,936 252,883 283,202 - Kredit Konsumsi 1,341,929 1,406,372 1,497,397 1,601,591 1583141 1,631,444 1,766,506 1,866,519 Kredit Kecil (Rp 50 < x Rp500 juta) (Rp Juta) 785,181 789,041 1,040,725 1,191,908 1,352,253 2,169,860 1,749,407 1,975,482 - Kredit Modal Kerja 450,173 454942 575,767 603,578 632,431 324,480 806,683 895,316 - Kredit Investasi 81,462 89566 97,161 111,092 122,314 213,936 101,299 112,761 - Kredit Konsumsi 253,546 244533 367,797 477,238 597,508 1,631,444 841,425 967,405 Kredit Menengah (Rp500 juta < x Rp5 miliar) ((Rp Juta) 756,113 763,359 830,028 952,253 1,038,498 1,147,411 1,259,201 1,344,117 - Kredit Modal Kerja 554,217 545524 594,976 663,514 701,934 692,347 810,725 855,220 - Kredit Investasi 159,324 174526 190,730 230,916 273,519 317,169 363,534 398,484 - Kredit Konsumsi 42,572 43309 44,322 57,823 63,045 137,895 84,942 90,413 Total Kredit MKM (Rp Juta) 3,299,309 3,419,308 3,761,036 4,208,950 4,487,425 5,487,131 5,473,623 5,958,838 NPL MKM gross (%) 3.88 4.13 4.19 3.75 5.75 2.55 2.61 2.41 - NPL MKM Gross Nominal 128,136 141,059 157,702 157,714 258,164 139,918 142,879 143,537 - PPAP 53,648 81,139 82,829 89,512 128,826 69,378 76,912 75,742 NPL MKM net (%) 2.26 1.75 1.99 1.62 2.88 1.29 1.21 1.14 b. Bank Umum Syariah: Total Aset (Rp Juta) 122,589 150,334 164,219 173,390 194,781 230,467 242,624 274,632 DPK(Rp Juta) 83,845 105,603 114,179 125,935 143,501 159,250 174,435 180,147 - Tabungan 15,098 30,304 39,492 55,201 71,552 77,112 90,398 93,415 - Giro 40,327 44,174 25,566 44,884 44,779 52,201 54,130 56,128 - Deposito 28,420 31,125 49,121 25,850 27,170 29,937 29,907 30,604 Kredit (Rp Juta) - berdasarkan lokasi kantor cabang 105,185 107,358 111,250 122,763 144,856 176,132 203,218 229,752 - Modal Kerja 64,304 65,492 67,286 73,387 81793 99624 96,171 107,666 - Konsumsi 31,972 31,441 35,020 40,534 15485 57073 62,999 68,619 - Investasi 8,909 10,425 8,944 8,842 47578 19435 44,048 53,467 - LDR 125.45 101.66 97.43 97.48 100.94 110.60 116.50 127.54 Kredit UMKM (Rp Juta) Kredit Mikro (< Rp 50 juta) (Rp Juta) 12,644 20,148 14,321 16,357 25,141 32,358 34,124 36,569 - Kredit Modal Kerja 1,105 1,265 1,245 1,560 1,715 6,564 2,221 2,728 - Kredit Investasi 54 6,130 564 531 2877 475 6,629 7,120 - Kredit Konsumsi 11,485 12,753 12,512 14,266 20549 25319 25,274 26,721 Kredit Kecil (Rp 50 < x Rp500 juta) (Rp Juta) 44,891 41,731 46,322 56,324 68,359 79,110 95,169 111,194 - Kredit Modal Kerja 24,760 22,789 24,163 29,740 34042 38647 36,438 42,902 - Kredit Investasi 3,613 3,339 3,490 3,922 8698 12898 26,333 31,321 - Kredit Konsumsi 16,518 15,603 18,669 22,662 25619 27565 32,398 36,971 Kredit Menengah (Rp500 juta < x Rp5 miliar) (Rp Juta) 41,641 44,251 45,171 45,021 54,715 55,314 65,037 73,417 - Kredit Modal Kerja 32,430 35,710 36,442 37,026 44908 45063 48,624 53,464 - Kredit Investasi 5,242 5,456 4,890 4,389 6310 6062 11,086 15,026 - Kredit Konsumsi 3,969 3,085 3,839 3,606 3497 4189 5,327 4,927 Total Kredit MKM (Rp Juta) 99,176 106,130 105,814 117,702 148,215 166,782 194,330 221,180 NPL MKM gross (%) 0.97 1.58 0.74 1.36 0.96 1.71 1.35 0.62 - NPL MKM Gross Nominal 964 1,674 787 1,596 1427 2848 2,623 1,368 - PPAP 68 68 5 495 101 532 815 811 NPL MKM nett (%) 0.90 1.51 0.74 0.94 0.89 1.39 0.93 0.25
INDIKATOR TAHUN TAHUN 2007 TAHUN 2008 2006 Tw.I Tw.II Tw.III Tw. IV Tw.I Tw.II Tw.III B. BPR : Total Aset (Rp Juta) 146,670 153,657 179,973 202,352 227,974 221,537 218,789 225,557 DPK (Rp Juta) 101,116 116,328 129,841 147,779 160,831 168,149 56,323 169,135 - Tabungan (Rp Juta) 20,226 23,435 25,054 26,311 29,229 29,638 7,988 30,887 - Deposito (Rp Juta) 80,890 92,893 104,787 121,468 131,602 138,511 48,335 138,248 Kredit (Rp Juta) - berdasarkan lokasi proyek 95,302 111,619 132,330 143,816 144,441 150,637 169,202 160,510 - Modal Kerja 34,906 26,969 33,630 47,359 41,964 43,180 52,990 45,598 - Konsumsi 48,778 71,676 85,436 78,793 83,399 85,787 90,221 91,007 - Investasi 11,618 12,974 13,264 17,664 19,078 21,670 25,991 23,905 Kredit UMKM (Rp Juta) 95,302 111,619 132,330 143,816 144,441 150,637 169,202 160,510 Rasio NPL Gross (%) 1.71 2.00 3.23 7.33 1,710 1,710 5.75 6.00 - NPL Gross (Nominal) 1,628 2,237 5,901 7,277 8,296 10,169 9,727 9,636 - PPAP 1,326 1,589 1,373 1,543 2,666 2,996 3,106 3,085 Rasio NPL Net (%) 0.32 0.58 3.42 3.99 3.90 4.76 3.91 4.08 LDR (%) 94.25 95.95 101.92 97.32 89.81 89.59 300.41 94.90 Catatan : Data s.d Bulan Agustus 2008
Halaman ini sengaja dikosongkan
RINGKASAN EKSEKUTIF PEREKONOMIAN JAMBI I. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Perekonomian Provinsi Jambi triwulan III tahun 2008 ditandai tumbuhnya laju pertumbuhan ekonomi sebesar 2,83% (q-t-q)... Pada triwulan III tahun 2008, Provinsi jambi mengalami inflasi sebesar 13,68% (y-oy)... Perekonomian Provinsi Jambi pada triwulan III tahun 2008 menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,83% (q-t-q), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II tahun 2008 yang mencapai 2,79% (q-t-q). Sejalan dengan hal tersebut, PDRB atas dasar harga konstan secara tahunan (y-o-y) pada triwulan laporan sebesar 8,66% (y-o-y) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,18% (y-o-y). 1 Pada triwulan laporan, pertumbuhan ekonomi secara triwulanan (q-t-q) masih didorong oleh meningkatnya sektor pertanian, sektor industri pengolahan, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Ditinjau dari sisi pengeluaran, peningkatan laju pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh masih tumbuhnya angka pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi. Disamping itu, pengeluaran konsumsi pemerintah, pengeluaran konsumsi swasta nirlaba, serta investasi menunjukkan pertumbuhan yang positif. II. Perkembangan Harga-Harga Pada bulan September tahun 2008, Kota Jambi mengalami inflasi sebesar 13,68% (y-o-y) sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi pada triwulan II- 2008 (bulan Juni) yang sebesar 13,99%(y-o-y). Sementara, inflasi tahun kalender (Januari s.d. September 2008) sebesar 11,78% (y-t-d), jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun kalender bulan September tahun 2007 yang sebesar 4,54% (y-t-d). Sementara, Inflasi tahunan Jambi pada bulan laporan lebih tinggi dibandingkan angka inflasi nasional yang sebesar 12,14% (y-o-y). Inflasi kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi serta kelompok transport dan komunikasi merupakan penyumbang utama pembentukan angka inflasi Kota Jambi s.d. triwulan III tahun 2008. 1 Angka sangat sementara, merupakan angka perhitungan Bank Indonesia Jambi. 1
RINGKASAN EKSEKUTIF III. Perkembangan Perbankan Daerah Kinerja perbankan (bank umum) pada triwulan III tahun 2008 menunjukkan pertumbuhan yang positif dari sisi kredit yang diberikan yang disertai dengan peningkatan fungsi intermediasi perbankan yang tercermin dari membaiknya Loan to deposits ratio (LDR) dibandingkan triwulan sebelumnya. Sejalan dengan peningkatan LDR, kualitas kredit yang diberikan membaik yang tercermin dari menurunnya ratio Non-Performing Loan (NPL) gross menjadi sebesar 2,60%. Namun demikian, profitabilitas perbankan mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Outstanding kredit bank umum tumbuh sebesar 6,73% sehingga menjadi sebesar Rp7,39 triliun. Kinerja penyaluran kredit menunjukkan perbaikan dengan tingkat LDR sebesar 72,85% atau meningkat sebesar 605 bps. Sejalan dengan hal tersebut, peningkatan LDR disertai dengan perbaikan Non Performing Loan (NPL) gross perbankan yang pada triwulan laporan menurun sebesar 25 bps menjadi 2,60%. Sementara itu, aset perbankan pada triwulan laporan sebesar Rp11,92 triliun. IV. Perkembangan Keuangan Daerah Pada semester I-2008, realisasi belanja APBD Provinsi Jambi masih rendah, yaitu sebesar 20,94%. Belanja operasi baru terealisasi sebesar 25,42% sedangkan realisasi biaya modal sebesar 4,70%. Sementara itu, realisasi pendapatan sampai dengan semester I-2008 sudah mencapai 60,19%. Realisasi pendapatan asli daerah sebesar 71,54% sedangkan pendapatan transfer sebesar 53,55%. Masih rendahnya realisasi belanja pemerintah daerah akibat dari terlambatnya pengesahan APBD serta akselerasi pengeluaran belanja yang belum optimal. Akselerasi belanja pemerintah daerah diperkirakan mulai meningkat pesat pada periode triwulan III- 2008 dan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi lebih tinggi lagi. V. Perkembangan Sistem Pembayaran Perkembangan aktivitas pembayaran non-tunai (RTGS) yang melalui Kantor Bank Indonesia Jambi mengalami penurunan dibandingkan Kinerja perbankan masih tumbuh positif,... Perkembangan realisasi belanja daerah masih rendah... 2
Di bidang sistem pembayaran, aktivitas kliring dan aliran uang masuk/inflows mengalami peningkatan... Jumlah pencari kerja di Provinsi Jambi meningkat... Laju pertumbuhan PDRB triwulan IV tahun 2008 diperkirakan berkisar 6,0-7,0% (y-o-y)... RINGKASAN EKSEKUTIF triwulan sebelumnya. Sedangkan jumlah transaksi kliring meningkat sebesar 7,00%. Pada triwulan laporan, pertumbuhan aliran kas keluar bersih (net cash outflow) negatif yang ditandai oleh turunnya aliran kas keluar (cash outflow) sebesar 4,10%. Sedangkan aliran kas masuk (cash inflows) meningkat sebesar 74,99%. VI. Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan Jumlah pencari kerja di Provinsi Jambi (posisi Agustus 2008 dibandingkan bulan Juni 2008) meningkat 34,59%. Sementara, naiknya KHM akan berdampak pada menurunnya rasio Upah Minimum Provinsi (UMP) terhadap KHM pada triwulan laporan. Rasio UMP dibandingkan KHM pada triwulan laporan sebesar 83,33% atau menurun dibandingkan triwulan II-2008 yang sebesar 87,60%. 2 Hal ini mencerminkan bahwa masyarakat yang mendapatkan penghasilan dibawah UMP akan semakin berat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. VII. Perkiraan Ekonomi dan Harga Daerah Laju pertumbuhan PDRB Provinsi Jambi pada triwulan mendatang diperkirakan tumbuh moderat dibandingkan triwulan laporan, berkisar 5,90-6,80% (y-o-y). Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan pengeluaran konsumsi pemerintah diperkirakan masih akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi triwulan mendatang. Dari sisi penawaran, pertumbuhan laju pertumbuhan PDRB Provinsi Jambi pada triwulan mendatang diperkirakan didorong oleh meningkatnya laju pertumbuhan sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan. Perkembangan ekonomi global saat ini diperkirakan turut mempengaruhi perkembangan ekonomi regional Provinsi Jambi. Diperkirakan ekspor Provinsi Jambi (terutama komoditas perkebunan) akan turut terpengaruh dengan melemahnya permintaan komoditas perkebunan serta perkembangan harga internasional komoditas perkebunan yang cenderung menurun beberapa bulan terakhir. 2 Data KHM pada triwulan III-2008 merupakan posisi bulan Agustus 2008. 3
RINGKASAN EKSEKUTIF Perkembangan harga-harga pada triwulan IV tahun 2008 diperkirakan pada kisaran 12,50 15,00 %. Faktor-faktor yang berpotensi akan memberikan tekanan inflasi selama triwulan mendatang antara lain 1) Meningkatnya demand masyarakat terhadap kebutuhan barang dan jasa terutama dalam perayaan hari besar keagamaan, 2) Kondisi infrastruktur (jalan, jembatan) yang masih terkendala akan meningkatkan biaya distribusi barang, 3) Akselerasi belanja pemerintah daerah yang semakin cepat dapat memicu kenaikan harga barang-barang material. 4) Tekanan melemahnya Rupiah dapat mempengaruhi inflasi barang impor. Pada triwulan IV tahun 2008, inflasi Kota Jambi diperkirakan kisaran 12,50-15,00% 4
BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL A. Umum Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan III tahun 2008 yang dicerminkan oleh PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 3 menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,83% (q-t-q), relatif lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II tahun 2008 sebesar 2,79% (q-t-q). Grafik 1.1. Perkembangan PDRB Provinsi Jambi (q-t-q) Rp miliar 4,500 4,000 3,500 Nominal (aksis kiri) Pertumbuhan (aksis kanan) 2.68 2.79 2.83 Persen 3.00 2.50 3,000 1.91 1.90 1.82 2.00 2,500 2,000 1,500 1.45 1.64 1.37 0.96 1.05 1.32 1.79 1.64 0.77 1.43 0.96 1.50 1.00 1,000 500 0.51 0.50 0 Trw II-04 Trw III-04 Trw IV-04 Trw I-05 Trw. II-05 Trw.III-05 Trw.IV-05 Trw.I-06 Trw.II-06 Trw.III-06 Trw.IV-06 Trw.I-07 Trw.II-07 Trw.III-07 Trw.IV-07 Trw.I-08 Trw.II-08 Trw.III-08 - Pada periode triwulan laporan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi sebesar 8,66% (y-o-y), lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 7,18% (y-o-y). Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi juga masih lebih 3 Angka PDRB Provinsi Jambi triwulan III tahun 2008 adalah angka sementara proyeksi Bank Indonesia Jambi. 5
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang pada triwulan III tahun 2008 diperkirakan berkisar 6,3%. 4 Grafik 1.2. Perkembangan PDRB Provinsi Jambi dan Nasional (y-o-y) % 8.00 Indonesia Jambi 7.64 8.66 7.05 7.18 6.00 6.25 5.77 5.73 5.74 5.63 5.63 5.87 6.13 5.90 5.06 5.13 5.65 4.97 4.90 6.08 5.89 6.09 6.41 6.51 6.67 6.25 5.96 6.28 5.07 6.39 6.30^ 4.00 2.00 TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III 2005 2006 2007* 2008** Sumber: BPS (diolah) ^): Perkiraan berdasarkan Laporan Kebijakan Moneter (LKM) triwulan III-2008 oleh Bank Indonesia Secara triwulanan (q-t-q), pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi didukung oleh tumbuhnya 3 (tiga) sektor yang termasuk penyumbang terbesar PDRB Provinsi Jambi, yaitu sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan; Tabel 1.1. Laju Triwulanan (q-t-q) Pertumbuhan Provinsi Jambi Sisi Produksi dan Sisi Penggunaan LAPANGAN USAHA 2007* 2008** I II III IV I II III Pertanian 0.75 1.93 1.61 1.08 1.58 3.77 3.89 Pertambangan dan Penggalian 5.90 (7.78) 0.25 (1.84) 1.35 (2.67) 0.17 Industri Pengolahan 2.51 1.41 0.15 2.65 3.07 4.35 2.96 Listrik, Air dan Gas 0.64 7.07 3.71 0.02 5.95 1.94 1.84 Bangunan (2.22) 8.59 4.99 2.60 1.58 3.34 1.33 Perdagangan, Hotel dan Restoran 2.11 (0.28) 2.54 1.32 1.89 3.67 3.71 Pengangkutan dan Komunikasi 3.03 1.96 1.19 0.99 1.27 1.81 2.26 Keuangan, Persewaan dan Jasa Keuangan 0.13 9.52 3.54 9.20 2.50 4.77 3.48 Jasa-Jasa 0.20 2.24 1.43 1.07 1.11 1.45 1.26 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 1.86 0.77 1.43 0.96 1.82 2.79 2.83 JENIS PENGELUARAN 2007* 2008** I II III IV I II III Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 0.77 0.82 1.42 2.65 1.63 0.58 1.98 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 0.05 9.02 1.96 5.83 1.14 3.46 2.73 Lembaga Swasta Nirlaba 0.45 1.23 0.74 3.29 0.16 2.76 1.03 Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 0.42 0.64 1.48 5.39 0.54 1.42 2.07 Perubahan Stok 0.89 0.85 0.83 8.59 0.78 6.24 2.02 Ekspor 2.77 14.22 9.17 20.01-16.80 14.80 0.68 Impor 0.23 15.09 8.17 22.19-14.64 10.25-0.15 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 1.86 0.77 1.43 0.96 1.82 2.79 2.83 4 Sumber : Laporan Kebijakan Moneter (LKM) triwulan III-2008, BI. Hasil Survei Persepsi Pasar yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada triwulan II-2008, responden memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III-2008 berkisar 6,1%-6,5% (y-o-y). 6
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor industri pengolahan. Di sisi pengeluaran, pertumbuhan PDRB Provinsi Jambi pada triwulan laporan didorong oleh masih positifnya laju pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga dan pengeluaran konsumsi pemerintah. B. PDRB Sisi Produksi Perkembangan PDRB Provinsi Jambi menunjukkan bahwa sektor-sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan laporan berasal dari sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor industri pengolahan (lihat grafik 1.3). Kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi sebesar 1,21% (q-t-q) pada periode triwulan laporan, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran (0,65%/q-t-q) serta sektor industri pengolahan (0,42%/q-t-q). Grafik 1.3. Kontribusi PDRB Sisi Produksi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jambi (q-t-q) Jasa-Jasa Keuangan, Persew aan dan Jasa Keuangan Pengangkutan dan Komunikasi 0.11 0.19 0.17 0.13 0.18 0.14 Trw III-08 TW II-08 Perdagangan, Hotel dan Restoran bangunan 0.06 0.16 0.44 0.65 Listrik, Air dan Gas Industri Pengolahan 0.01 0.02 0.42 0.75 Pertambangan (0.29) dan Penggalian Pertanian 0.02 0.62 1.21 (0.80) (0.30) 0.20 0.70 1.20 Dari sisi distribusinya (share), pada periode triwulan laporan menunjukkan bahwa sektor primer menyumbang sebesar 42,91% dari jumlah PDRB Provinsi Jambi, diikuti sektor jasa-jasa (tersier) sebesar 38,04% dan sektor sekunder sebesar 19,05%. Nominal PDRB Provinsi Jambi atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp9,61 triliun yang secara sektoral masih didominasi oleh sektor pertanian sebesar 26,31%, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 16,60%, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 15,54%. Dengan 7
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL demikian, struktur ekonomi regional dalam jangka pendek tidak mengalami perubahan dibandingkan triwulan sebelumnya (Grafik 1.4). Grafik 1.4. Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Triwulan III Tahun 2008 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 4.89% Pengangkutan dan Komunikasi 7.04% Jasa-jasa 10.57% Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 26.31% Perdagangan, Hotel dan restauran 15.54% Bangunan 4.78% Listrik dan Air bersih 0.87% Industri Pengolahan 13.40% Pertambangan dan Penggalian 16.60% 1. Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan Secara triwulanan, sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan tumbuh sebesar 3,89% (q-t-q), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 3,77% (q-t-q). Peningkatan laju pertumbuhan sektor ini didorong oleh pertumbuhan seluruh sub sektor pertanian pada triwulan laporan. Sub sektor tanaman bahan makanan mengalami pertumbuhan sebesar 6,71% (q-t-q) sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mampu mencapai 7,32% (q-t-q). Namun demikian, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa sub sektor tanaman bahan makanan masih memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan sektor pertanian. Walaupun tidak sebesar triwulan sebelumnya, pada triwulan laporan masih berlangsung panen padi serta beberapa komoditas tanaman bahan makanan lainnya di beberapa daerah Provinsi Jambi sehingga memberikan dorongan terhadap pertumbuhan sub sektor tabama. 8
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik 1.5 Luas Tanam Sektor Tabama Triwulan II tahun 2008 Grafik 1.6 Luas Tanam Sektor Tabama Triwulan III tahun 2008 Luas Tanam (dalam Ha) Luas Tanam (dalam Ha) 39522 4749 11399 1414 1065 264 615 2109 4015 5141 287 275 34 195 122 628 Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Grafik 1.5 Grafik 1.6 Grafik 1.7 Luas Panen Sektor Tabama Triwulan II tahun 2008 Grafik 1.8 Luas Panen Sektor Tabama Triwulan III tahun 2008 31663 Luas Panen (dalam Ha) Luas Panen (dalam Ha) 12575 927 708 104 561 444 1606 3525 452 346 88 264 527 1045 2405 Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Padi Sawah Padi Ladang Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Grafik 1.7 Grafik 1.8 Sumber: BPS Provinsi Jambi,2008. Pada triwulan laporan (s.d. bulan Agustus 2008), Nilai Tukar Petani (NTP) mulai mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. 5 NTP Agustus 2008 dibandingkan NTP Juni 2008 menurun sebesar 1,11% menjadi 104,02. Hal ini dikarenakan indeks bayar yang diterima petani tumbuh lebih rendah (1,49%) dibandingkan indeks yang diterima sebesar 2,54% (lihat grafik 1.12 dan 1.13). Sementara itu, sub sektor perkebunan yang mempunyai share sebesar 11,54% dari PDRB mengalami pertumbuhan sebesar 2,27% (q-t-q), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,66% (q-t-q). Masih relatif baiknya pertumbuhan sektor ini antara lain didukung oleh membaiknya produksi kelapa, pinang dan sawit selama periode triwulan laporan. 5 Data NTP s.d. bulan Agustus 2008. NTP adalah angka perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam bentuk persentase. Sehingga NTP merupakan cerminan atau indikator relatif tingkat kesejahteraan petani. 9
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik 1.9. Perkembangan Harga CPO, Inti dan TBS 10 Tahun di Provinsi Jambi Harga (Rp) 10,000.00 9,000.00 8,000.00 7,000.00 CPO INTI TBS 10 thn 8,730.7 6,000.00 5,000.00 4,000.00 3,000.00 2,000.00 5,005.5 1,913.3 5,950.1 3,620.3 1,000.00-1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1,271.3 2006 2007 2008 Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Namun demikian, menurunnya harga CPO di pasar internasional turut memicu turunnya harga tandan buah segar (TBS) sawit Jambi jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Harga rata-rata CPO di Jambi bergerak dari Rp8.730,7/kg menjadi Rp5.950,1/kg. Harga TBS usia 10 tahun juga bergerak dari Rp1.913,3/kg menjadi Rp1.271,3/kg. Semakin rendahnya harga-harga komoditas perkebunan tersebut merupakan ancaman terhadap tumbuhnya PDRB sub sektor perkebunan. Disamping itu, beberap prompt indikator sub sektor perkebunan selama periode triwulan laporan juga masih menunjukkan perkembangan yang membaik. Hal ini terlihat dari indikator produksi untuk kelapa, sawit dan pinang yang menunjukkan tren peningkatan indeks selama triwulan laporan (lihat grafik 1.10) Grafik 1.10 Indikator Produksi Sub Sektor Tanaman Perkebunan tahun 2008 Grafik 1.11 Indikator Produksi Sub Sektor Hortikultura, Sub Sektor Peternakan dan Sub Sektor Perikanan tahun 2008 indeks bulanan 200 180 160 140 120 indeks bulanan 160 140 120 100 100 80 80 60 40 20-1 2 3 4 5 6 7 8 9 60 40 20-1 2 3 4 5 6 7 8 9 Produksi Karet Produksi Kelapa 2008 Produksi Kelapa Sawit Produksi Pinang Produksi Hortikultura Produksi Telur 2008 Produksi Daging Produksi Perikanan Grafik 1.10 Grafik 1.11 10
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL NTP 135 130 125 120 Grafik 1.12 Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi Grafik 1.13 Pertumbuhan Indeks terima dan Indeks Bayar Petani 2005 2006 2007 2008x 2008y Persen (%) 6.0 4.0 2.0 % g.indeks diterima % g.indeks bayar 115 110 105 - (2.0) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 2006 2007 2008 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 sumber: BPS Provinsi Jambi, 2008 keterangan: 2008x adalah NTP menggunakan tahun dasar 1993 2008y adalah NTP menggunakan tahun dasar 2007 Sejak M ei 2008, BP S mulai menggunakan NTP tahun dasar 2007 (4.0) (6.0) Sumber: BPS Provinsi Jambi Mulai Mei 2008 menggunakan NTP tahun dasar 2007 Grafik 1.12 Sumber: BPS Provinsi Jambi,2008. Grafik 1.13 Realisasi penyaluran pupuk dalam menunjang proses produksi sub sektor tanaman bahan makanan dan sub sektor tanaman perkebunan pada triwulan laporan menunjukkan penurunan dibanding triwulan sebelumnya. 6 Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi, penyaluran pupuk bersubsidi sebesar 9.442 ton atau menurun sebesar 35,16% dibandingkan triwulan sebelumnya. Penggunaan pupuk bersubsidi sebagian besar didominasi oleh pupuk Urea (52,88%), diikuti oleh pupuk NPK Phonska (28,73%), ZA (10,32%) dan SP-36 (8,07%). 2006 2007 2008 TW III TW II TW I TW IV TW III TW II TW I TW IV TW III TW II TW I TW IV TW III TW II Grafik 1.14. Distribusi Jenis Pupuk Grafik 1.15. Jumlah dan Pertumbuhan Realisasi Pupuk (Ton) 0 5000 10000 15000 20000 25000 SP-36 ZA NPK PHONSKA Urea Ton 25000 20000 15000 10000 5000 0 TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III 2006 2007 2008 Realisasi Pupuk (Ton) Pertumbuhan Realisasi Pupuk Persen (%) 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 - (10.00) (20.00) (30.00) (40.00) Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi Grafik 1.14 Grafik 1.15 6 Jenis pupuk bersubsidi yang disalurkan terdiri dari SP-36, ZA, NPK Phonska dan Urea. 11
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Sub sektor perikanan tumbuh sebesar 1,73% (q-t-q). Sedangkan sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya juga tumbuh sebesar 2,71% (q-t-q) dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini juga dikonfirmasi dengan tren meningkatnya indikator produksi bulanan sub sektor peternakan (produksi daging serta produksi telur) serta indikator produksi sub sektor perikanan selama periode triwulan laporan (lihat grafik 1.11). Sementara, perkembangan sub sektor kehutanan masih belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Selama 6 (enam) triwulan terakhir sub sektor kehutanan tumbuh dibawah level 1%. Pada triwulan laporan, sub sektor kehutanan hanya tumbuh sebesar 0,54% (q-t-q). 2. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) Sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh sebesar 3,71% (q-t-q); lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 3,67% (q-tq). Meningkatnya angka pertumbuhan tersebut disebabkan oleh naiknya pertumbuhan sub sektor perdagangan besar dan eceran. Sub sektor perdagangan besar dan eceran tumbuh sebesar 3,90% (q-tq) pada triwulan laporan, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 3,69% (q-t-q). Walaupun tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya, sub sektor hotel dan sub sektor restoran masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar 0,12% (q-t-q) dan 1,95% (q-t-q). indeks 150 140 130 120 110 100 Grafik 1.16. Perkembangan Indikator produksi Bulanan Sektor PHR Grafik 1.17. Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Bisnis KWH (dalam Ribuan) 40,000 41.97 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 1.78 5.65 22.41 5.61 4.88 4.43 (10.43) Persen (%) 50.0 (7.36) 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0-10.0 90 5,000 (25.48) -20.0 80 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2008 Harga Perdagangan Besar Harga Perdagangan Barang Konstruksi Tingkat Hunian Hotel - II III IV I II III IV I II III 2007 2008 Bisnis Pertumbuhan Bisnis Sumber: PLN Jambi, 2007 (diolah) -30.0 Grafik 1.16 Grafik 1.17 12
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Pada triwulan laporan, terutama periode bulan Ramadhan 1429 H, aktivitas perekonomian meningkat cukup signifikan. Volume perdagangan sub sektor perdagangan besar dan eceran semakin menggeliat seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan barang-barang dalam menyambut bulan Puasa serta menjelang perayaan Idul Fitri. Dari prompt indicator terlihat juga bahwa indeks harga perdagangan besar serta harga perdagangan barang konstruksi mengalami tren peningkatan selama triwulan laporan (lihat grafik 1.16.). Hal ini menunjukkan aktivitas dunia perdagangan semakin meningkat dalam merespon permintaan masyarakat. Sementara itu, konsumsi listrik sektor bisnis menurun sebesar 7,36% pada triwulan laporan. Sektor perdagangan, hotel dan restoran berdasarkan pangsanya didominasi oleh sub sektor perdagangan besar dan eceran yang mencapai 14,34% terhadap PDRB, diikuti oleh sub sektor restoran dan sub sektor hotel masing-masing sebesar 1,05% dan 0,15%. 3. Sektor Pertambangan dan Penggalian Sektor pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 0,17% (q-t-q) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar minus 2,67% (q-t-q). Peningkatan sektor ini terutama dikontribusi oleh peningkatan sub sektor minyak dan gas bumi serta sub sektor pertambangan tanpa migas yang masing-masing tumbuh 0,08% (q-t-q) serta 1,69% (q-t-q). Sub sektor penggalian pada triwulan laporan juga tumbuh sebesar 0,14% (q-t-q) antara lain terkait dengan kebutuhan proyek infrastruktur yang mulai banyak terlaksana pada triwulan laporan seiring dengan percepatan realisasi dana APBD Provinsi Jambi. Meningkatnya pertumbuhan sub sektor pertambangan tanpa migas (1,69%/q-t-q) antara lain berasal dari masih menggeliatnya aktivitas penambangan batu bara dikarenakan semakin meningkatnya demand terhadap komoditas dimaksud untuk keperluan sumber energi dunia industri. Relatif masih tingginya harga batu bara di pasar internasional menjadi insentif bagi perusahaan 13
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL yang bergerak di bidang penambangan batu bara untuk meningkatkan volume produksinya. Berdasarkan angka perkiraan, lifting minyak bumi diperkirakan menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Begitu juga dengan perkiraan lifting gas alam. Sementara itu, pertumbuhan sub sektor penggalian berasal dari meningkatnya produksi pasir dan bahan galian lainnya sehubungan dengan meningkatnya permintaan komoditas tersebut sebagai bahan baku proyek-proyek perumahan serta ruko/rukan pada triwulan laporan yang meningkat. juta rupiah 390,000 380,000 370,000 Grafik 1.18. PDRB Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi serta Lifting Minyak Bumi Grafik 1.19 Pertumbuhan Lifting Gas Alam ribu barrel 3500 3000 BBTU 14,000 12,000 18.32 24.45 19.88 Lifting Gas Alam (BBTU), aksis kiri Pertumbuhan, aksis kanan 20.52 Persen (%) 30.00 20.00 360,000 350,000 340,000 2500 2000 10,000 8,000 9.10 6.18 5.46 2.40 (0.05) 2.51 10.00 0.80-330,000 320,000 1500 6,000 (3.76) (3.57) (10.00) 310,000 1000 4,000 (20.00) 300,000 290,000 500 2,000 (30.09) (30.00) 280,000 I II III IV I II III IV I II III IV I II* III** 2005 2006 2007 2008 PDRB sub sektor minyak dan gas bumi Lifting Minyak Bumi 0 - II III IV I II III IV I II III IV I II* III** 2005 2006 2007 2008 (40.00) 2 per. Mov. Avg. (Lifting Minyak Bumi) Keterangan: *) angka perkiraan Bank Indonesia Jambi untuk bulan Juni 2008 **) angka perkiraan Bank Indonesia Jambi Sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya M ineral (ESDM ) Provinsi Jambi dan BPS Provinsi Jambi (diolah) Sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jambi. *: Angka proyeksi Bank Indonesia Jambi untuk bulan Juni 2008 **: Angka proyeksi Bank Indonesia Jambi Grafik 1.18 Grafik 1.19 4. Sektor Industri Pengolahan Sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 2,96% (q-t-q); lebih rendah bila dibandingkan angka triwulan sebelumnya 4,35% (q-t-q). Menurunnya pertumbuhan pada sektor ini terutama dikontribusi oleh pertumbuhan sub sektor industri tanpa migas yang tumbuh melambat sebesar 3,01% (q-t-q) jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang mampu mencapai 4,04% (q-t-q). Sementara, sub sektor migas tumbuh sebesar 2,27% (q-t-q), melambat dibandingkan triwulan II tahun 2008 yang tumbuh sebesar 3,08% (q-t-q). Pertumbuhan sub sektor migas terutama masih terkait dengan peningkatan pengilangan minyak bumi yang produknya meliputi LPG. Melambatnya produksi sektor industri pengolahan juga tercermin dari pertumbuhan konsumsi listrik serta pelanggan listrik pada periode triwulan laporan. 14
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik 1.20. PDRB Industri Pengolahan dan Volume Penjualan Solar Grafik 1.21. Perkembangan Total Pemakaian Listrik sektor industri Grafik 1.22. Perkembangan Jumlah Pelanggan Listrik sektor industri 100,000,000 90,000,000 80,000,000 70,000,000 60,000,000 50,000,000 40,000,000 30,000,000 20,000,000 10,000,000 - TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III 2005 2006 2007 2008 600,000 500,000 400,000 300,000 200,000 100,000 - Volume penjualan Solar (Liter), aksis kiri PDRB industri pengolahan (juta Rp), aksis kanan Sumber: Pertamina Wira Penjualan Jambi dan BPS Provinsi Jambi (diolah) Grafik 1.20 KWH (dalam Ribuan) 18,000 Persen (%) 25.0 Pelanggan 180 Persen (%) 6.0 16,000 14,000 16.68 20.0 15.0 175 170 4.0 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 0.11 (14.83) (1.48) 3.86 6.88 (2.21) (10.46) 4.69 (13.99) 10.0 5.0 0.0-5.0-10.0-15.0 165 160 155 150 145 140 (2.25) (1.15) 0.58 (2.31) (1.18) (2.99) (1.30) (4.94) - (0.66) 2.0 0.0-2.0-4.0 - II III IV I II III IV I II III -20.0 135 II III IV I II III IV I II III -6.0 2007 2008 2007 2008 Industri Pertumbuhan Industri Industri Pertumbuhan Pelanggan Industri Sumber: PLN Jambi, 2007 (diolah) Sumber: PLN Jambi, 2007 (diolah) Grafik 1.21 Grafik 1.22 Di sisi lain, Walaupun tumbuh melambat, perkembangan industri tanpa migas (3,01%/q-t-q) pada triwulan laporan mencerminkan bahwa industri tanpa migas mampu memberikan kontribusi yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi Jambi. Dari prompt indikator sub sektor industri tanpa migas, indeks industri karet, kerajinan dari batik, barang dari kayu, barang dari semen, batu bata, makanan dan minuman pada periode triwulan laporan masih menunjukkan perkembangan yang membaik (lihat grafik 1.23 dan 1.24) 15
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik 1.23. Indeks Produksi Industri CPO, Karet, Kopra dan Kerajinan Batik Grafik 1.24 Indeks Produksi Industri Barang dari Kayu, Barang dari Semen, Batu Bata, Makanan dan Minuman indeks bulanan 250 indeks bulanan 250 200 200 150 150 100 100 50 50-1 2 3 4 5 6 7 8 9 2008-1 2 3 4 5 6 7 8 9 2008 Industri CPO Industri Kopra Industri Karet Industri Kerajinan Batik Industri Barang dari Kayu Industri Batu Bata Industri Minuman Industri Barang dari Semen Industri Makanan Grafik 1.23 5. Sektor-sektor Lain Grafik 1.24 Sektor listrik, gas, dan air bersih tumbuh sebesar 1,84% (q-t-q) pada triwulan laporan atau lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 1,94% (q-t-q). Menurunnya pertumbuhan sektor ini akibat turunnya angka pertumbuhan sub sektor listrik dari sebesar 2,00% (q-t-q) menjadi sebesar 1,93% (q-t-q) serta melambatnya angka pertumbuhan sub sektor air bersih dari sebesar 1,62% (q-t-q) menjadi sebesar 1,39% (q-t-q). Masih terjadinya gangguan pasokan listrik untuk interkoneksi Sumatera pada triwulan laporan menyebabkan kapasitas daya listrik di Provinsi Jambi menurun sehingga PLN mengambil kebijakan pemadaman secara bergilir (bagi industri dan rumah tangga) agar defisit daya yang semakin membesar dapat teratasi. Dampak dari hal tersebut tentunya konsumsi listrik berkurang sehingga melambatkan laju pertumbuhan sektor listrik. KWH (dalam Ribuan) 200,000 180,000 160,000 140,000 120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000-8.73 5.43 1.21 Grafik 1.25. Perkembangan Total Pemakaian Listrik Grafik 1.26. Perkembangan Jumlah Pelanggan Listrik (2.25) 4.68 6.77 6.77 (2.64) 7.05 II III IV I II III IV I II III Persen (%) 25.0 (1.80) 20.0 15.0 10.0 5.0 0.0-5.0 Pelanggan 350,000 300,000 250,000 200,000 150,000 100,000 50,000-1.01 0.76 0.37 2.14 0.75 2.93 3.60 3.41 2.82 II III IV I II III IV I II III Persen (%) 6.0 2.32 5.0 4.0 3.0 2.0 1.0 0.0 2007 2008 2007 2008 Total Pemakaian Pertumbuhan Total Total Pelanggan Perumbuhan Pelanggan Sumber: PLN Jambi, 2007 (diolah) Sumber: PLN Jambi, 2007 (diolah) Grafik 1.25 Grafik 1.26 16
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Melambatnya pertumbuhan sektor air bersih dikarenakan volume penjualan air dari PDAM kepada konsumennya akan berkurang karena adanya pemadaman listrik. Akibat dari pemadaman listrik tersebut, beberapa pompa air PDAM juga sering mengalami penurunan voltase sehingga debit produksi air untuk beberapa tandon menurun sehingga supply terhadap ratusan pelanggan terganggu. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada volume penjualan air yang menurun selama periode triwulan laporan. 7 Sektor bangunan menunjukkan pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Sektor bangunan tumbuh sebesar 1,33% (q-t-q) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,34% (q-t-q). Namun demikian, sejalan dengan mulai meningkatnya beberapa proyek infrastruktur pemerintah daerah pada triwulan laporan masih memberikan kontribusi terhadap meningkatnya angka sub sektor bangunan pada triwulan laporan. Grafik 1.27. Perkembangan PDRB Sektor Bangunan dan Konsumsi Semen 200,000 40.00 180,000 160,000 140,000 120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 - TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III 2005 2006 2007 2008 30.00 20.00 10.00 - (10.00) (20.00) (30.00) PDRB sektor Bangunan (juta Rp), aksis kiri Pert. Konsumsi Semen (%), aksis kanan Sumber: Asosiasi Semen Indonesia dan BPS Provinsi Jambi (diolah) Konsumsi Semen (ton), aksis kiri Disamping itu, ditengah naiknya harga barang-barang konstruksi, pembangunan properti residensial (perumahan) oleh developer (perusahaan 7 Pemadaman bergilir yang dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) sangat berpengaruh terhadap pelayanan masyarakat di berbagai instansi termasuk PDAM karena sebagian besar instalasi produksi air PDAM tergantung dari tenaga listrik dari PLN (Sebagian besar energi andalan penggerak generator pompa PDAM adalah tenaga listrik). 17
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL pengembang) dan masyarakat umum maupun properti komersial (ruko, hotel) masih terus berlanjut walaupun mulai melambat. Hal ini dikonfirmasi dengan menurunnya konsumsi semen selama periode triwulan laporan menjadi sebesar 80.148 ton dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 105.091 ton. Permintaan kredit KPR dan kredit Ruko/Rukan 8 juga menunjukkan pelambatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya. Kredit KPR tumbuh sebesar 8,38% (Rp58,26 miliar) sedangkan kredit Ruko/Rukan tumbuh sebesar 8,20% (Rp4,28 miliar). Namun demikian, masih tumbuhnya kredit KPR dan kredit Ruko/Rukan mencerminkan bahwa minat masyarakat terhadap permintaan perumahan dan Ruko/Rukan masih cukup tinggi. juta Rp 800,000 700,000 600,000 500,000 400,000 300,000 200,000 100,000 - Grafik 1.28. Perkembangan Kredit KPR Grafik 1.29. Perkembangan Kredit Ruko/Rukan II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III KPR Pertumbuhan Persen 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 - juta Rp 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 - Ruko/Rukan Pertumbuhan II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III Persen 160.00 140.00 120.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 - (20.00) (40.00) 2004 2005 2006 2007 2008 2004 2005 2006 2007 2008 Grafik 1.28 Grafik 1.29 Sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan sebesar 2,26% (q-t-q) pada triwulan laporan atau lebih tinggi bila dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,81% (q-t-q). Meningkatnya angka pertumbuhan sektor ini berasal dari sub sektor pengangkutan, yaitu angkutan jalan raya, angkutan sungai, danau dan penyeberangan, angkutan udara dan jasa penunjang angkutan. Akselerasi pertumbuhan sektor ini terutama terkait dengan meningkatnya demand masyarakat dalam menggunakan moda transportasi darat dan udara untuk keperluan pulang kampung (mudik) Lebaran ke daerah asal di akhir periode triwulan laporan. 8 Yang dimaksud kredit KPR adalah kredit untuk membeli atau memperbaiki/memugar rumah atau apartemen. Sedangkan kredit Ruko/Rukan adalah kredit yang diberikan dalam rangka pemilikan rumah dan toko (Ruko) atau rumah dan kantor (Rukan) 18
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik 1.30. PDRB Sub Sektor Angkutan Udara dan Volume Penjualan Avtur Grafik 1.31. Perkembangan Keberangkatan dan Kedatangan Penumpang Grafik 1.32. Perkembangan Keberangkatan dan Kedatangan Pesawat 45,000 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 - PDRB sub sektor Angkutan Udara (juta Rp), aksis kiri Konsumsi Avtur (ratusan liter), aksis kiri Pert. Konsumsi Avtur (%), aksis kanan TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III* 2005 2006 2007 2008 Sumber: Pertamina Wira Penjualan Jambi dan BPS Provinsi Jambi (diolah) * Konsumsi avtur triwulan III-2008 perkiraan Bank Indonesia Jambi 70.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 - (10.00) (20.00) (30.00) Grafik 1.30 orang 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 Persen (%) 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 - (5.00) (10.00) (15.00) (20.00) (25.00) II III IV I II III IV I II III IV I II III 2005 2006 2007 2008 Kedatangan Penumpang (aksis kiri) Keberangkatan Penumpang (aksis kiri) Datang (aksis kanan) Berangkat (aksis kanan) Sumber: PT. Angkasa Pura II pesawat Persen (%) 1200 20.00 15.00 1000 10.00 5.00 800-600 (5.00) (10.00) 400 (15.00) (20.00) 200 (25.00) 0 (30.00) II III IV I II III IV I II III IV I II III 2005 2008 2006 2007 Kedatangan Pesawat (aksis kiri) Keberangkatan Pesawat (aksis kiri) Datang (aksis kanan) Berangkat (aksis kanan) Sumber: PT. Angkasa Pura II Grafik 1.31 Grafik 1.32 Sub sektor angkutan jalan raya tumbuh sebesar 2,45% (q-t-q), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 1,46% (q-t-q). Sementara, sub sektor angkutan udara tumbuh sebesar 3,71%(q-t-q) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar minus 2,13%(q-t-q). Meningkatnya demand masyarakat menggunakan jasa angkutan udara dalam menghadapi Lebaran direspon dengan pihak maskapai penerbangan yang menambah jadwal penerbangan dari dan ke Jambi. Di sisi lain, beroperasinya kembali Mandala Air dalam melayani rute Jakarta-Jambi (PP) menyebabkan kapasitas angkut dari sisi armada maupun frekuensi penerbangan meningkat dibandingkan kondisi triwulan-triwulan sebelumnya. 19
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Walaupun lebih rendah dari triwulan sebelumnya, pertumbuhan jasa angkutan laut antara lain disebabkan oleh meningkatnya aktivitas barang di pelabuhan pada triwulan laporan. Tumbuhnya sub sektor jasa angkutan terkait dengan meningkatnya demand masyarakat menggunakan jasa ekspedisi kiriman barang serta agen travel dan pesawat terbang dalam menghadapi Lebaran. unit 1600000 1400000 1200000 1000000 800000 600000 400000 200000 0 Grafik 1.33. Perkembangan Total Arus Barang Grafik 1.34. Perkembangan Kunjungan Kapal II III IV I II III IV I II III Sumber: Pelindo Jambi Jumlah Total Arus Barang 2007 2008 Grafik 1.33 Pertumbuhan persen(%) 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00-10.00-20.00-30.00-40.00 unit 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 II III IV I II III IV I II III Sumber: Pelindo Jambi Unit 2007 2008 Grafik 1.34 Pertumbuhan persen(%) 50.00 Jumlah unit kapal bersandar meningkat sebesar 30,14% yang mencapai 1.589 unit, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1.221 unit. 9 Namun demikian, jumlah arus barang berdasarkan perdagangan di Pelabuhan Tungkal dan Pelabuhan Talang Dukuh mengalami penurunan sebesar 32,63% dibandingkan triwulan sebelumnya. 10 Sub sektor pos dan telekomunikasi serta sub sektor jasa penunjang komunikasi masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar 2,03% (q-t-q) dan 1,01% (q-t-q). Demand masyarakat untuk menggunakan jasa pos dan telekomunikasi dalam menyambut Lebaran relatif baik. Sektor keuangan, persewaan, dan jasa-jasa perusahaan tumbuh sebesar 3,48% (q-t-q) pada triwulan laporan atau menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,77% (q-t-q). Pelambatan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan pertumbuhan sub sektor bank serta sub sektor jasa penunjang keuangan pada triwulan laporan. Sementara, sub sektor lainnya mengalami 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00-10.00-20.00-30.00 9 Kunjungan kapal yang dimaksud adalah pelayaran luar negeri, pelayaran dalam negeri dan pelayaran rakyat. 10 Arus barang berdasarkan perdagangan yaitu impor, ekspor, bongkar dan muat. 20
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL pertumbuhan yaitu sub sektor lembaga keuangan tanpa bank (1,37%/q-t-q), sub sektor sewa bangunan (1,65%/q-t-q), dan sub sektor jasa perusahaan (1,59%/qt-q). Sektor jasa-jasa pada triwulan laporan mengalami pelambatan pertumbuhan menjadi sebesar 1,26% (q-t-q) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,45% (q-t-q). Walaupun mengalami pelambatan, pertumbuhan sub sektor pemerintahan umum berasal dari realisasi belanja pembangunan proyekproyek pemerintah yang masih tumbuh terbatas. Sedangkan meningkatnya sub sektor swasta berasal dari naiknya jasa sosial kemasyarakatan, hiburan dan rekreasi serta jasa perorangan dan rumah tangga. C. PDRB Sisi Pengeluaran Ditinjau dari sisi pengeluaran, laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan laporan didorong oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga dan pengeluaran konsumsi pemerintah. Berdasarkan kontribusi terhadap pertumbuhan, pengeluaran konsumsi rumah tangga menyumbang sebesar 1,39% terhadap pertumbuhan ekonomi Jambi, diikuti dengan pengeluaran konsumsi pemerintah yang menyumbang sebesar 0,63%. 11 Grafik 1.35. Kontribusi PDRB Sisi Pengeluaran terhadap Pertumbuhan (q-t-q) Net Ekspor/Impor 0.50 0.76 Perubahan Stok Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 0.06 0.19 0.11 0.34 Trw III-08 TW II-08 Lembaga Sw asta Nirlaba 0.01 0.01 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 0.53 0.67 Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 0.42 1.39-0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 11 Yang dimaksud kontribusi net ekspor adalah nilai kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan dikurangkan dengan nilai kontribusi impor terhadap pertumbuhan pada triwulan laporan. Jika bernilai positif disebut net ekspor, sedangkan jika bernilai negatif disebut net impor. 21
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Dari sisi distribusinya (share), konsumsi rumah tangga mempunyai pangsa yang paling besar, yaitu mencapai 63,85% dari PDRB Jambi pada triwulan III tahun 2008 (lihat grafik 1.36). Selain itu, pengeluaran konsumsi pemerintah dan PMTDB juga memiliki pangsa yang relatif besar dengan masing-masing sebesar 16,82% dan 16,52%. Sedangkan share perubahan stok sebesar 2,52% dan lembaga swasta nirlaba sebesar 0,46%. Grafik 1.36. Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran Triwulan III tahun 2008 12 Lembaga Swasta Nirlaba 0.46% Pengeluaran Konsumsi pemerintah 16.82% Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 16.52% Perubahan Stok 2.52% Net Impor 0.17% Pengeluaran konsumsi rumah tangga 63.85% 1. Pengeluaran Konsumsi Pengeluaran konsumsi rumah tangga atas dasar harga konstan selama triwulan laporan tumbuh sebesar 1,98% (q-t-q), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,58% (q-t-q). Konsumsi masyarakat pada periode triwulan laporan meningkat terutama untuk belanja barang-barang dan jasa selama bulan Ramadhan serta menyambut perayaan Idul Fitri 1429H. Sementara, dampak dari penurunan harga-harga komoditas unggulan Jambi (karet dan sawit) mulai berdampak pada daya beli masyarakat yang diindikasikan oleh turunnya konsumsi listrik untuk rumah tangga serta pembelian kendaraan bermotor pada triwulan laporan (grafik 1.38 dan 1.44). Disamping itu, indeks keyakinan konsumen terhadap kondisi perekonomian selama 12 Pangsa (share) net impor sebesar 0,17% merupakan pengurang dari total share PDRB sisi pengeluaran 22
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL periode triwulan laporan juga masih berada pada level pesimis. Namun demikian, pengeluaran konsumsi rumah tangga masih merupakan salah satu kontributor utama pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan laporan. Grafik 1.37. Indeks Kondisi Ekonomi Grafik 1.38. Konsumsi Listrik Rumah Tangga Indeks 120.00 (%) 120.00 KWH (dalam Ribuan) 120,000 Persen (%) 10.0 100.00 80.00 60.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 100,000 80,000 60,000 0.48 6.74 3.13 1.75 7.87 6.51 6.73 0.64 8.0 6.0 4.0 2.0 40.00-40,000 (0.55) 0.0 20.00 0.00 II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III (20.00) (40.00) (60.00) 20,000 - (2.87) II III IV I II III IV I II III -2.0-4.0 2005 2006 2007 2008 Rumah Tangga 2007 2008 Pertumbuhan RT Kondisi ekonomi saat ini dibandingkan 6-12 bln yg lalu Pertumbuhan (%) Sumber: PLN Jambi, 2007 (diolah) Grafik 1.37 Grafik 1.38 Penjualan kendaraan bermotor pada triwulan laporan turun sebesar 1,58%. Penjualan mobil baru (sedan, jeep, minibus) menurun sebesar 3,49% begitu juga dengan penjualan sepeda motor yang turun 1,04%. Hal ini mencerminkan bahwa konsumsi masyarakat terhadap kendaraan mulai melambat. Sejalan dengan hal tersebut, volume penjualan premium, solar dan minyak tanah juga mengalami penurunan pada periode triwulan laporan. Di sisi lain, penyaluran kredit konsumsi tumbuh sebesar 8,60%. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan konsumsi rumah tangga untuk membeli barang tahan lama (durable goods) melalui fasilitas pinjaman yang disediakan oleh bank masih relatif baik. Pada periode triwulan laporan, pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 2,73% (q-t-q), melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 3,46% (q-t-q). Pengeluaran konsumsi pemerintah pada triwulan laporan terkait dengan mulai direalisasikannya belanja modal (infrastruktur) Pemerintah Daerah pada triwulan laporan. Sementara, pengeluaran konsumsi lembaga nir laba juga tumbuh sebesar 1,03% (q-t-q) atau mengalami pelambatan dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,76% (q-t-q). 23
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik 1.39. Pertumbuhan Pendaftaran Kendaraan Bermotor Baru Grafik 1.40. Perkembangan Penjualan Premium dan Solar Grafik 1.41. Perkembangan Penjualan Minyak Tanah Grafik 1.42. Nominal dan Pertumbuhan Kredit Konsumsi di Provinsi Jambi Grafik 1.43. Pertumbuhan Pendaftaran Sedan, Jeep, Minibus Baru Grafik 1.44. Pertumbuhan Pendaftaran Sepeda Motor Baru unit 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 - Persen(%) 50 36.26 40 21.56 23.64 29.89 30 26.81 9.78 20 14.98 11.95 8.79 1.61 10 (14.21) (10) (1.58) - (19.40) (20) (30) (40) (49.37) (50) (60) II III IV I II III IV I II III IV I II III 2005 2006 2007 2008 KENDARAAN BERMOTOR Sumber: Dispenda Provinsi Jambi Pertumbuhan Ribu Liter 90,000 80,000 70,000 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000-1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 2006 2007 2008 Konsumsi Premium (aksis kiri) Premium (aksis kanan) Sumber: Pertamina Wira Penjualan Jambi Konsumsi Solar (aksis kiri) Solar (aksis kanan) Persen (%) 40.00 20.00 - (20.00) (40.00) (60.00) (80.00) Grafik 1.39. Grafik 1.40. Ribu Liter 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 (%) 80.0 60.0 40.0 20.0 - (20.0) (40.0) (60.0) 14 12 10 8 6 4 2 7.03 1.87 3.80 3.60 3.33 12.68 11.96 5.24 8.38 3,500,000 3,000,000 10.98 2,500,000 8.60 2,000,000 1,500,000 1,000,000 500,000 - II III IV I II III IV I II III IV I II III 2006 2007 2008 M.Tanah/Kerosine Pertumbuhan Sumber: Pertamina Wira Penjualan Jambi (80.0) 0 0 TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III 2006 2007 2008 Kredit Konsumsi (juta Rp), aksis kanan Pertumbuhan Kredit Konsumsi (%),aksis kiri Grafik 1.41. Grafik 1.42. unit 1,000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 - Persen(%) 150 126.41 100 31.19 34.25 35.73 50 2.16 8.46 8.94 6.62 3.62 (5.47) (15.88) (9.42) (3.49) - (65.01) (50) (100) II III IV I II III IV I II III IV I II III 2005 2006 2007 2008 unit 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 - Persen(%) 50 40 36.26 21.56 23.64 29.89 30 26.81 14.98 9.78 20 8.79 11.95 1.61 10 (1.58) - (19.40) (14.21) (10) (20) (30) (40) (49.37) (50) (60) II III IV I II III IV I II III IV I II III 2005 2006 2007 2008 Sedan, Jeep, Minibus Pertumbuhan KENDARAAN BERMOTOR Pertumbuhan Sumber: Dispenda Provinsi Jambi Sumber: Dispenda Provinsi Jambi Grafik 1.43. Grafik 1.44. 24
2. Investasi PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Pada triwulan laporan, pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) tumbuh sebesar 2,07% (q-tq) yang mencerminkan bahwa kondisi investasi mulai sedikit membaik dibandingkan triwulan sebelumnya. Grafik 1.45. Pertumbuhan Pendaftaran Truck/Pick Up Baru Grafik 1.46. Nominal dan Pertumbuhan Kredit Investasi di Provinsi Jambi Grafik 1.47. Konsumsi Semen Provinsi Jambi unit 1,400 1,200 1,000 800 600 400 200 - II III IV I II III IV I II III IV I II III 2005 2006 2007 2008 TRUCK/PICK UP Pertumbuhan Persen(%) 80 60 40 20 - (20) (40) 20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 1,600,000 Kredit Investasi (juta Rp), aksis kanan 1,400,000 Pertumbuhan Kredit Investasi (%),aksis kiri 16.65 16.18 1,200,000 14.28 11.78 1,000,000 800,000 9.26 600,000 400,000 4.28 3.26 2.33 2.70 200,000 1.50 1.60 0 TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III Sumber: Dispenda Provinsi Jambi 2006 2007 2008 Grafik 1.45. Grafik 1.46. Ton 45,000 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 - Konsumsi Semen Pertumbuhan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2005 2006 2007 2008 Sumber: Asosiasi Semen Indonesia (ASI), diolah (%) 100.0 80.0 60.0 40.0 20.0 - (20.0) (40.0) (60.0) Grafik 1.47. 25
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Sementara itu, dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) terlihat situasi bisnis masih cukup baik pada triwulan laporan, tercermin dari nilai saldo bersih situasi bisnis dunia usaha sebesar 23,61. Masih membaiknya situasi bisnis dunia usaha juga berdampak pada tumbuhnya kredit investasi sebesar 9,26% atau sebesar Rp120,65 miliar pada triwulan laporan. Namun demikian, konsumsi semen pada triwulan laporan menurun sebesar 23,73% menjadi sebesar 80.148 ton. Perubahan stok pada triwulan III tahun 2008 mengalami pertumbuhan sebesar 2,02% (q-t-q), lebih rendah bila dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 6,24% (q-t-q). Sementara, pangsa stok pada triwulan laporan sebesar 2,52%. 3. Perdagangan Eksternal Jumlah perdagangan eksternal ke luar Provinsi Jambi sebesar 0,68% (q-tq) atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 10,25% (qt-q). Pertumbuhan impor barang baik yang berasal dari luar provinsi maupun luar negeri mengalami pertumbuhan negatif sebesar 0,15% (q-t-q). Berdasarkan dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB), ekspor Provinsi Jambi sebesar USD 215,46 juta sedangkan impor sebesar USD 29,83 juta pada triwulan laporan. 13 Dengan kondisi tersebut, Provinsi Jambi masih mengalami net ekspor sebesar USD 185,64 juta, meningkat sebesar 32,47% dibandingkan posisi yang sama periode triwulan sebelumnya yang mencapai USD 140,14 juta. 14 Ekspor Provinsi Jambi masih didominasi oleh komoditas CPO dan karet. 15 Sementara kelompok peralatan mesin dan transport masih mendominasi nilai impor Provinsi Jambi pada triwulan laporan. 13 Data s.d. bulan Agustus 2008 (Sumber: Direktorat Statistik dan Ekonomi Moneter, Bank Indonesia). 14 Net ekspor yang dimaksud disini adalah net ekspor bulan Juli-Agustus 2008 dibandingkan net ekspor bulan April-Mei 2008. 15 Klasifikasi barang menurut Standard International Trading Classification (SITC). 26
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Grafik 1.48. Perkembangan Ekspor dan Impor Non Migas Provinsi Jambi ribu USD 300,000 250,000 Impor Ekspor Net 200,000 207,237 215,491 150,000 100,000 50,000 34,232 101,075 72,175 73,849 147,469 107,288 135,753 105,291 149,230 145,699 145,898 123,888 185,638 0 TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III* 2005 2006 2007 2008 Keterangan: *) S.d. Agustus 2008 Berdasarkan jenis komoditasnya, nilai ekspor tertinggi (Juli-Agustus 2008) dicapai oleh komoditas karet mentah (crude rubber) sebesar USD 138,12 juta atau 64,10% dari total ekspor non migas, sementara nilai ekspor batubara, kokas dan briket (coal, coke and briquettes) serta lemak nabati dan minyak (fixed, vegetable oil and fats) masing-masing mencapai USD 19,96 juta (9,26% dari total ekspor non migas), dan USD 15,38 juta (7,14% dari total ekspor non migas). Grafik 1.49. Perkembangan Ekspor Provinsi Jambi dalam Ribu USD 120,000 100,000 EKSPOR CRUDE MATERIALS, INEDIBLE ANIMAL & VEGETABLE OILS&FATS 80,000 60,000 40,000 20,000-1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 2007 2008 27
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Ekspor non migas lain yang cukup besar kontribusinya adalah komoditas pulp dan kertas (pulp and waste paper), serta barang-barang kayu dan gabus (wood and cork manufactures) yang masing-masing mencapai USD 16,49 juta (7,66%) serta USD 12,63 juta (5,86%). Berdasarkan struktur ekspor non migas Jambi, terlihat bahwa ekspor produk primer masih mendominasi terutama komoditas karet mentah, batubara serta lemak nabati dan minyak disusul produk hasil industri pengolahan (barang-barang kayu serta kertas dan olahannya). Dari sisi impor (Juli-Agustus 2008), impor non migas meningkat sebesar 25,16% (USD 5,99 juta) sehingga menjadi sebesar USD 29,83 juta jika dibandingkan periode yang sama triwulan sebelumnya (April-Mei 2008). Pada triwulan laporan, impor terbesar terjadi pada sub kelompok mesin pembangkit tenaga (power generating mach.&eqp) sebesar USD 11,33 juta (37,97%), serta sub kelompok mesin industri tertentu/khusus (mach. Special for partic. inds) sebesar USD 3,22 juta (10,80%). Grafik 1.50. Perkembangan Impor Non Migas Provinsi Jambi dalam Ribu USD 35,000 30,000 IMPOR MACHINERY & TRANSPORT EQP CHEMICAL 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 2007 2008 Pangsa impor Provinsi Jambi pada periode triwulan laporan masih didominasi oleh kelompok peralatan mesin dan transport (machinery&transport equipment) yang menguasai 66,14% dari nilai impor. Selain itu, kelompok kimia (chemical) juga memberikan kontribusi impor sebesar 16,51% dari total impor 28
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Provinsi Jambi dengan komoditas utamanya adalah bahan kimia lainnya (chem. Material&product,nes) sebesar USD 1,42 juta. 29
Halaman ini sengaja dikosongkan
Boks 1. INDEKS PRODUKSI PROVINSI JAMBI TAHUN 2008 (suatu indikator dini pertumbuhan produksi riil) 1 Latar Belakang Perubahan paradigma pembangunan manusia mulai terjadi sejak tahun 1990 ketika United Nation Development Program (UNDP) mengadopsi suatu paradigma baru mengenai pembangunan yang disebut dengan pembangunan manusia. Hal ini berbeda dengan paradigma pembangunan sebelumnya yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi yang menempatkan pendapatan (diukur dengan gross national product;gnp atau gross domestic product;gdp) per kapita sebagai ukuran hasil pembangunan. Dalam perspektif pembangunan manusia, pertumbuhan ekonomi bukanlah tujuan akhir. Namun demikian pertumbuhan ekonomi adalah alat untuk mencapai tujuan akhir, yaitu memperluas pilihan-pilihan bagi manusia, dan sebagai prasyarat bagi tercapainya pembangunan manusia. Kegiatan pemantauan indikator produksi beberapa barang/jasa merupakan suatu upaya penerapan fungsi pemantuan hasil pembangunan sebagai suatu rangkaian perencanaan yang sistematis dalam hal penyusunan program pembangunan daerah agar lebih terarah dan berkesinambungan (sustainable) sejalan dengan perubahan paradigma pemerintahan dari pemerintahan yang sentralistik menjadi desentralisasi. Dengan tersedianya data indikator produksi beberapa barang/jasa yang dipantau setiap bulan dapat diidentifikasi tingkat pertumbuhan produksi bulanan (selanjutnya disebut sebagai indeks produksi bulanan). Indeks produksi bulanan dihitung menurut kelompok komoditi ataupun sektoral yang merupakan suatu bagian dari rangkaian kegiatan dalam kajian ekonomi regional. Indeks produksi dapat digunakan sebagai penduga besaran laju pertumbuhan riil pada penghitungan PDRB triwulanan. Analisis runtun waktu yang diterapkan pada data indeks produksi dalam jangka panjang dapat mengindikasikan pola gerak musim pertumbuhan produksi sektor-sektor ekonomi di Propinsi Jambi. Metodologi Indeks Produksi merupakan indeks kuantitas (quantity index) yang pada prinsipnya sama dengan penghitungan indeks harga (price index). Indeks Produksi dihitung dengan melihat perubahan atau membandingkan kuantum produksi (hasil survei) bulan berjalan terhadap kuantum produksi bulan sebelumnya sehingga indeks produksi bulan berjalan menggambarkan perkembangan produksi terhadap bulan sebelumnya. Dalam formulasi penghitungan, harga harus dikonstantir agar 1 Merupakan hasil kerjasama antara BPS Provinsi Jambi dengan Bank Indonesia Jambi,2008.
perubahan kuantitas dapat diukur bebas dari pengaruh perubahan harga. Secara matematis formulasi penghitungannya adalah ; QI m = {(Σq m. w)/(σq (m-1). w)} x 100 dimana ; QI m = Indeks Produksi bulan berjalan = Kuantum Produksi bulan berjalan q m q (m-1) = Kuantum Produksi bulan sebelumnya w = Penimbangan (weighted) Survei yang dilakukan menuntut adanya kerangka sampel (sampling frame) yang mampu memberikan gambaran populasi unit produksi yang akan dipantau demi efektifitas dan efisiensi. Kantong-kantong produksi merupakan wilayah pencacahan (sampling area) yang akan dijadikan cluster penelitian menurut kelompok komoditi terpilih. Responden sebagai unit sampel (sampling unit) secara purpossive dipilih dari kerangka sampel (sampling frame) dengan mempertimbangkan tingkat reliabilitynya sehingga paket sampel cukup representative untuk menjelaskan populasi. Mengingat sifat pemantauan yang runtun (time series) maka pencacahan harus bersifat panel survey, oleh karena itu maka penentuan responden di awal pemantauan menjadi sangat strategis untuk menjaga keberlanjutan (suistanable) dari pelaksanaan survei itu sendiri. Paket sampel cadangan disiapkan untuk mengantisipasi situasi ketidakpastian (uncertainty) dalam berproduksi, sehingga indeks produksi tetap dapat dijaga series-nya setiap bulan. Permintaan akan data yang up to date menuntut fasilitas komunikasi yang memadai sehingga akurasi data dan ketepatan waktu menjadi hal yang wajib terpenuhi. Piranti keras fasilitas komunikasi yang canggih perlu diimbangi dengan kualifikasi yang baik dari sisi komunikator maupun komunikan sehingga komunikasi berjalan efektif. Petugas survei dalam kapasitasnya sebagai interviewer diharapkan mampu menggali berbagai keterangan yang dibutuhkan dengan logika rasional. Sementara petugas survei dalam kapasitasnya sebagai komunikator harus menyampaikan informasi secara berkala dan berkesinambungan. Sampai dengan semester pertama tahun 2008, beberapa indeks produksi yang dihasilkan hampir mencakup keseluruhan sektor yang tercakup dalam penghitungan PDRB Triwulanan. Namun jika dirinci menurut sub sektor atau kelompok komoditi hanya sebagian kecil yang bisa disajikan, hal ini mengingat cakupan survei yang belum bisa menduga secara lebih rinci. Beberapa hal bahkan masih menuntut penyempurnaan metode survei terutama untuk unit-unit kegiatan ekonomi skala besar dan beberapa kasus tingkat produksi yang masih diestimasi pergerakannya melalui data sekunder. Namun demikian tanpa mengecilkan arti dari suatu kegiatan penelitian, indeks produksi bulanan yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai suatu indikator dini besaran pertumbuhan produksi yang tidak lain adalah pertumbuhan ekonomi itu sendiri.
Hasil Pengamatan Indeks produksi yang disusun secara berantai antar periode amatan dengan tujuan perbandingan secara pasangan (binary comparison) memperlihatkan perkembangan tingkat produksi riil masing-masing sektor yang diamati secara runtun dan berkelanjutan (sustainable). Berikut disajikan hasil pengamatan selama kurun waktu Januari sampai dengan September 2008 secara berantai (chain index). Formula indeks berantai sebagaimana dimaksud adalah : CI m = {QI m x CI (m-1) }/100 dimana ; CI m = Indeks Berantai bulan berjalan QI m = Indeks Produksi bulan berjalan = Indeks Berantai bulan sebelumnya CI (m-1) Indeks Produksi Primer (Primary Production Index) Luas tanam dan luas panen beberapa komoditas pertanian tanaman pangan yang dipantau oleh petugas dinas pertanian setiap bulan dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir menghasilkan indeks produksi pada sub sektor tanaman pangan. Indeks produksi berantai dari data Luas panen diilustrasikan oleh gambar berikut; Tabel 1. Indeks Produksi 1 (Luas Panen) 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 2008:04 2008:07 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 KACANG HIJAU (axis kiri) PADI LADANG (axis kanan) PADI SAWAH (axis kiri) UBI JALAR (axis kiri) KEDELAI (axis kanan) Tabel 2. Indeks Produksi 2 (Luas Panen) 220 200 180 160 140 120 100 80 60 2008:04 2008:07 JAGUNG KACANG TANAH UBI KAYU
Produksi hortikultura dipantau dari sentra produksi sayur-mayur dan buahbuahan (Kab. Kerinci dan Kab. Merangin) yang meliputi beberapa komoditas penting produk pertanian hortikultura seperti kubis dan kentang tanpa melihat kemana produk tersebut dipasarkan. Tabel 3. Indeks Produksi 440 400 360 320 280 240 200 160 120 80 2008:01 2008:04 2008:07 170 160 150 140 130 120 110 100 90 80 PRODUKSI HORTIKULTURA (axis kanan) PRODUKSI KARET (axis kiri) PRODUKSI KELAPA (axis kiri) PRODUKSI KELAPA SAWIT (axis kiri) PRODUKSI PINANG (axis kiri) Karet, Kelapa Sawit, Kelapa dan Pinang adalah beberapa komoditi tanaman perkebunan yang dipantau produksinya dari sentra produksi tanaman perkebunan termasuk pemantauan terhadap pusat perdagangan komoditas tersebut (Pasar Lelang Karet, Pabrik CPO, Produsen Kopra dan Pedagang Pengumpul Pinang Belah). Kabupaten Bungo, Tebo, Batang Hari dan Muaro Jambi merupakan daerah pantauan produksi Karet dan Kelapa Sawit, sedangkan untuk komoditas Kelapa dan Pinang dipantau dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur. Tabel 4. Indeks Produksi 240 220 200 180 160 140 120 100 80 2008:01 2008:04 2008:07 PRODUKSI PERIKANAN PRODUKSI DAGING PRODUKSI TELUR PRODUKSI BATUBARA INDUSTRI CPO Produksi daging dan telur adalah dua hal yang diamati pada sub sektor peternakan, meliputi kejadian pemotongan ternak di rumah potong hewan,
produksi ayam pedaging, produksi telur (ayam ras, itik dan puyuh). Sentra produksi daging baik ternak besar/kecil maupun unggas terdapat di Kota Jambi, Kabupaten Batang Hari, Muaro Jambi dan Bungo. Pemantuan juga dilakukan terhadap beberapa pusat perdagangan hewan ternak (Kab. Batang Hari dan Kota Jambi). Tempat Pelelangan Ikan (Kab. Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Muaro Jambi) menjadi pusat pemantuan produksi perikanan tangkap dalam penghitungan indeks produksi perikanan disamping amatan terhadap beberapa responden perikanan tambak. Penggalian Gol.C yang berproduksi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Batanghari yang membelah Kota Jambi, Kab. Muaro Jambi dan Batang Hari merupakan unit pengamatan pada sub sektor penggalian. Penggalian Batubara (Kab. Bungo, Tebo, Sarolangun, Batang Hari) yang masih diproduksi secara konvensional oleh investor lokal juga menjadi objek amatan yang cukup kooperative dan responsif. Indeks Produksi Sekunder (Secondary Production Index) Tingkat produksi di sektor industri pengolahan merupakan hasil pengamatan pada beberapa industri pengolahan yang memberi kontribusi cukup besar pada komponen nilai tambah sektor industri, dengan unit sampel yang terdistribusi proporsional menurut skala usaha. Pantauan pada unit usaha industri yang mengolah hasil pertanian antara lain dilakukan terhadap industri crude palm oil (CPO), industri pengolahan karet remah dan industri kopra. Industri barang dari semen, industri barang dari kayu, industri batubata dan industri kerajinan batik merupakan industri lain yang juga menjadi pantauan, termasuk beberapa industri makanan dan minuman. Tabel 5. Indeks Produksi 160 150 140 130 120 110 100 90 80 2008:04 2008:07 800 700 600 500 400 300 200 100 0 INDUSTRI CPO (axis kiri) INDUSTRI KARET (axis kiri) INDUSTRI KOPRA (axis kanan) INDUSTRI MAKANAN (axis kanan) INDUSTRI MINUMAN (axis kanan) Produksi listrik (PLN) merupakan indikator produksi pada sub sektor listrik sedangkan produksi air minum (PDAM) merupakan indikator yang diamati pada sub
sektor air bersih dan secara intens dapat dipantau dari beberapa unit pembangkit dan atau unit produksi. Tabel 6. Indeks Produksi 170 160 150 140 130 120 110 100 2008:04 2008:07 PRODUKSI AIR BERSIH (axis kiri) PRODUKSI LISTRIK (kiri) PRODUKSI PERUMAHAN RAKYAT (kanan) 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Pemantauan pada sektor konstruksi yang mungkin dilakukan adalah melalui tingkat produksi perumahan melalui survei pada beberapa perusahaan pengembang perumahan dan real estate maupun data sekunder dari berbagai asosiasi pengembang perumahan dan real estate (REI, Apersi, dll) serta beberapa asosiasi konstruksi. Indeks Produksi Tersier (Tertiary Production Index) Beberapa indikator produksi sektor perdagangan, hotel dan restoran yang dipantau masih sebatas pengamatan pada hasil pengolahan data survei lain yang sejenis seperti survei harga perdagangan besar (HPB), survei harga perdagangan barang konstruksi (HPBK) dan survei tingkat hunian hotel berbintang dan non bintang (VHTS) yang rutin dilakukan dengan penambahan jumlah unit sampel. Tabel 7. Indeks Produksi 220 200 180 160 140 120 100 80 2008:01 2008:04 2008:07 360 320 280 240 200 160 120 80 HARGA PERDAG BARANG KONSTRUKSI (a kiri) HARGA PERDAG BESAR (axis kanan) TINGKAT HUNIAN HOTEL (axis kiri) ANGKT LAUT/PENYEBERANGAN (axis kanan) ANGKUTAN UDARA (axis kiri)
Survei terhadap lalu lintas angkutan udara serta lalu lintas angkutan laut, sungai, danau & penyeberangan menjadi pantauan indeks produksi sektor angkutan. Hal ini cukup dimungkinkan karena Bandara Sultan Taha merupakan satu-satunya bandara yang melayani lalu lintas angkutan udara di Provinsi Jambi. Sementara itu pelabuhan yang terpantau berlokasi di Kab.Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Tanjung Jabung Barat. Lembaga keuangan yang biasanya sangat sulit untuk dimintai data perkembangan produk layanan menjadikan pemantauan bulanan menjadi sangat sulit untuk diterapkan di sektor ini. Satu-satunya yang mungkin dilakukan adalah pemantuan produk layanan sub sektor pegadaian meliputi nilai dan jumlah barang jaminan. Hal ini dilakukan di beberapa kantor cabang perum pegadaian di Provinsi Jambi. Beberapa unit usaha jasa titipan/ekspedisi/kargo juga menjadi objek yang diamati tingkat produksinya setiap bulan meliputi perkembangan arus lalu lintas ekspedisi dokumen/barang yang menjadi produk layanannya. Tabel 8. Indeks Produksi 320 280 240 200 160 120 80 40 2008:01 2008:04 2008:07 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 JS PERORANGAN MELAYANI RT (axis kanan) JS TITIPAN EKSPEDISI/KARGO (axis kiri) LAYANAN KESEHATAN (axis kiri) PEGADAIAN (axis kiri) Pantauan indikator produksi di sektor jasa sebagian besar dilakukan di Kota Jambi mengingat tingkat kepadatan populasi sektor jasa yang sangat tinggi dibandingkan dengan daerah lain di Provinsi Jambi. Layanan praktek dokter, klinik bersalin, poliklinik dan klinik pengobatan tradisional merupakan unit yang dipantau untuk mendapatkan indeks produksi layanan kesehatan. Sementara itu indeks produksi jasa perseorangan yang melayani rumah tangga dipantau melalui layanan pangkas rambut, salon, reparasi, bengkel, dll. REKOMENDASI Secara umum indeks kuantitas (quantity index) yang dihasilkan dari pantauan Indeks Produksi Bulanan mampu memberikan sinyal awal pergerakan tingkat produksi beberapa komoditi penting. Hal ini sekaligus memberikan gambaran arah transformasi struktur ekonomi berikut estimasi laju pertumbuhan sektoral secara
lebih cepat. Beberapa saran yang dapat dipertimbangkan dalam perhitungan Indeks Produksi antara lain: 1. Penyempurnaan Perhitungan Indeks Produksi - Perluasan ruang lingkup dan cakupan unit pengamatan menjadi hal yang penting untuk diterapkan pada pemantuan selanjutnya sehingga sinyal perekonomian yang ditangkap akan menjadi semakin jelas terlihat. - Proyeksi laju pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang menjadi mungkin untuk dilakukan dengan lebih baik ketika indeks kuantitas (quantity index) semakin tidak bias (unbiased). Dukungan data sekunder yang lengkap dan mencerminkan sumber pertumbuhan (source of growth) yang reliabel merupakan prasyarat mutlak dalam prakiraan besaran laju pertumbuhan ekonomi dengan indeks harga (price index) sebagai faktor koreksi yang meng-konstantir fluktuasi harga. 2. Penambahan Indeks Produksi Sisi Permintaan (Demand) - Indeks Produksi merupakan pengamatan yang dilakukan dari sisi penyediaan (supply), sementara dari sisi permintaan (demand) juga patut dipantau secara berkala untuk memberikan gambaran struktur pasar yang terjadi dalam perekonomian. - Perlunya survei yang bisa memantau indeks produksi sisi permintaan untuk mengamati hal sebagaimana dimaksud dengan lebih profesional.
Boks 2. Investasi Provinsi Jambi Dan Krisis Pasar Modal Dunia 2008 Posisi Jambi cukup strategis ditengah pulau Sumatra dengan luas wilayah 5.4 juta hektar serta berdekatan dengan segitiga SIBAJO (Singapura, Batam dan Johor Malaysia). Posisi ini merupakan potensi yang besar untuk pengembangan Investasi, ditopang oleh pelaksanaan otonomi daerah (UU nomor 22 tahun 1999 dan 25 tahun 2000) yang menuntut masing-masing daerah untuk dapat memanfaatkan segala sumber daya untuk pembangunan daerah. Bagi setiap provinsi khususnya kabupaten dan kota, investasi merupakan salah satu upaya untuk melakukan percepatan pembangunan, dan ini dapat mendorong pesaingan antar daerah untuk meningkatkan daya tarik investasi. Krisis pasar modal yang sekarang ini terjadi, merupakan shok eksternal yang dapat memengaruhi komposisi investasi di setiap daerah termasuk Provinsi Jambi. Paling tidak terdapat 2 dampak yang tersalurkan dan berpotensi dirasakan di perekonomian Jambi sebagaimana provinsi lainnya, pertama adalah meningkatnya harga modal dan kedua meningkatnya tekanan terhadap Rupiah. Krisis pasar global modal ini sendiri dimulai dari kelesuan perekonomian Amerika Serikat (AS) sejak semester kedua tahun 2000 ditandai dengan pertumbuhan negatif PDB AS yang membuat the FED mulai menurunkan suku bunga. Penurunan suku bunga hingga mencapai 1% pada tahun 2003-2004 ini menyebabkan peningkatan tajam permintaan kredit yang banyak digunakan untuk membiayai perumahan yang tampaknya lebih dilandasi oleh euforia dan motif spekulasi. Ini yang merupakan kesalahan. Booming sektor properti ini berakhir ketika the FED harus meningkatkan kembali suku bunga menjadi 5% yang dengan serta merta menempatkan kredit perumahan tersebut dalam resiko default yang tinggi. Gambar 1 Pertumbuhan PDB Amerika Serikat dan Suku Bunga FED 7 6 (%) FED Rate, 2000-2008 (%) 5 4 3 2 1 0 Jan-00 Jul-00 Jan-01 Jul-01 Jan-02 Jul-02 Jan-03 Jul-03 Jan-04 Jul-04 Jan-05 Jul-05 Jan-06 Jul-06 Jan-07 Jul-07 Jan-08 Jul-08 Yang terjadi selanjutnya adalah kejatuhan sektor perumahan yang diantisipasi oleh para pemegang aset perumahan dengan menjual segera aset perumahan yang
mereka miliki. Hal ini mendorong peningkatan penawaran properti yang menekan turun tingkat harga perumahan. Antisipasi yang dilakukan oleh korporasi termasuk agen pemerintah di Amerika Serikat yang secara khusus mengelola mortgage (Freddie Mac, Fannie Mae, dan Ginnie Mae) adalah dengan membiayai kesulitan likuiditas mereka dengan menambah pinjaman. Namun sebagaimana kita tahu, upaya untuk tetap solvent ini sia-sia ketika harga properti tidak juga membaik dan bahkan kejatuhan saham properti di pasar modal telah menyeret pasar modal secara global kedalam kondisi krisis dengan prediksi biaya di bursa saham global yang mencapai 5,2 trilyun dolar AS (Standard and Poor s, 2008). Bagi Indonesia, sejauh ini dampak krisis global ini tidak separah yang dirasakan oleh Singapura untuk kawasan ASEAN sesuai dengan tingkat exposure yang dirasakan negara tersebut. Namun potensi dampak ini tetap ada dan menarik untuk dicermati. Secara khusus box ini menelusuri dampak krisis global yang diantisipasi oleh Bank Indonesia dengan peningkatan BI rate, terhadap perekonomian daerah Provinsi Jambi. Tulisan ini mengaplikasikan model Computable General Equilibrium yakni model Emerald. Model ini merupakan model keseimbangan umum multi region multi sektor (Parewangi. AMA., 2008; Parewangi. AMA dan Pambudi, 2004). Tabel 1 Dampak Krisis Pasar Modal Global terhadap Perubahan Investasi Sektoral menurut Provinsi di Indonesia (%) Investasi Jambi SumUt SumBar Riau SumSel Bengkulu 1 Pertanian -5.4-5.2-5.0-5.2-3.8-5.4 2 Perikanan -1.8-3.2-2.9-1.6-1.8-3.3 3 Minyak dan Gas -16.4-17.1 0.0-16.8-16.8 0.0 4 Pertambangan -16.0-16.7-15.3-16.1-14.9-15.7 5 Makanan dan Minuman -0.8-2.6-2.5 0.1 0.9-2.7 6 TCF -12.7-14.0-14.5 0.0-10.0 0.0 7 Kayu dan Kertas -18.8-16.3-9.5-2.1-14.7-11.7 8 Industri Kimia -15.0-16.7-16.5-27.3-24.6-16.1 9 LNG 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 10 Logam Dasar 0.0-17.4 0.0-17.8-16.3 0.0 11 Mesin -16.9-16.3-16.3 0.0-17.1 0.0 12 Industri Lainnya -8.5-9.5-11.6-8.1-8.0-11.6 13 Listrik, Gas dan Air -0.4-0.4-2.0 10.4 0.9-1.7 14 Konstruksi -14.4-12.1-11.8-13.4-14.4-9.9 15 Perdagangan -7.6-7.7-7.6-3.9-7.4-7.6 16 Hotel dan Restoran 3.0 1.6-3.5 17.1 7.3-0.8 17 Transportasi -7.2-5.7-8.1-1.4-5.9-8.3 18 Jasa Swasta Lainnya -3.9-2.8-5.4 8.4-1.7-5.4 19 Jasa Pemerintahan 0.5 1.3-3.0 12.7 2.5-2.1 Sumber: Hasil simulasi, Parewangi. AMA, 2008.
Krisis pasar modal global diterjemahkan kedalam model dalam bentuk peningkatan harga modal dan tekanan depresiasi Rupiah sebesar 10%. Perlu ditegaskan bahwa dampak ini merupakan simulasi dampak murni dari krisis global tanpa adanya upaya antisipasi atau reaksi kebijakan pemerintah atas krisis tersebut. Formulasi kebijakan antisipasif untuk mengatasi krisis global dan membalik tekanan yang timbul menjadi peluang merupakan isu yang lebih menarik, namun diluar pembahasan dalam boks ini. Secara umum, sektor yang berpotensi mengalami penurunan investasi riil adalah industri Kayu dan Kertas sebesar -18,8% sebagaimana dialami oleh provinsi di Sumatera kecuali untuk Provinsi Riau. Di sektor pertanian, komoditas unggulan seperti kelapa, kelapa sawit, karet yang tersebar di Batanghari, Bungo, Kerinci sampai di Tebo, berpotensi mengalami penurunan investasi riil sebesar -5,4% untuk selang waktu 1-2 tahun kedepan. Kontribusi sektor pertanian, kehutanan, peternakan dan perikanan masih dominan yakni sekitar 26,3% sehingga potensi penurunan investasi dalam sektor ini perlu lebih dicermati oleh pemerintah, terlebih bahwa provinsi Jambi banyak bergantung pada pasokan dari luar provinsi. Tabel 2 Proporsi Penggunaaan Input Primer menurut Sektor di Provinsi Jambi (%) Sektor Tenaga Tanah Kerja Modal Total 1 Pertanian 53.5 26.0 17.4 25.0 2 Perikanan 4.4 2.0 1.4 2.0 3 Minyak dan Gas 41.1 1.5 19.6 15.4 4 Pertambangan 1.0 0.5 0.5 0.5 5 Makanan dan Minuman 0.0 3.2 5.5 4.0 6 TCF 0.0 0.1 0.1 0.1 7 Kayu dan Kertas 0.0 9.4 18.7 13.0 8 Industri Kimia 0.0 0.2 0.3 0.2 9 LNG 0.0 0.0 0.0 0.0 10 Logam Dasar 0.0 0.0 0.0 0.0 11 Mesin 0.0 0.0 0.1 0.0 12 Industri Lainnya 0.0 0.6 0.8 0.6 13 Listrik, Gas dan Air 0.0 0.5 0.7 0.5 14 Konstruksi 0.0 5.3 3.3 3.7 15 Perdagangan 0.0 16.5 12.6 12.6 16 Hotel dan Restoran 0.0 2.3 1.1 1.4 17 Transportasi 0.0 4.8 10.1 6.9 18 Jasa Swasta Lainnya 0.0 6.0 7.1 5.8 19 Jasa Pemerintahan 0.0 21.0 0.8 8.3 Total 100.0 100.0 100.0 100.0 Sumber: Database CGE Emerald, Parewangi AMA dan Pambudi, 2005.
Sesungguhnya perhatian pemerintah untuk megembangkan perekonomian daerah sudah cukup besar. Dalam bidang perkebunan karet sebagai komoditas unggulan telah dilakukan peningkatan luas lahan sebesar 0,84 persen atau menjadi 635,5 ribu Ha pada tahun 2007, hal ini sejalan dengan peningkatan produksi dari 266,3 ribu ton tahun 2006 menjadi 273,5 ribu ton pada tahun 2007 atau naik 2,72 persen. Produksi CPO mengalami peningkatan dari 1,019 ribu ton pada tahun 2006 menjadi 1,035 ribu ton pada tahun 2007 atau naik 1,56 persen. Disini isu yang penting untuk dicermati adalah bahwa ekspor produksi CPO Jambi ini dominan dilakukan melalui Palembang, Riau dan Padang lantaran kapasitas pelabuhan Jambi dan 17 pelabuhan yang tersebar di kabupaten-kabupaten tidak cukup besar meski khusus untuk pelabuhan Jambi dikatakan sebagai pelabuhan dengan dermaga terpanjang yakni 230,5 meter. Di bidang kelautan dan perikanan taget negara ekspor untuk ikan tertentu seperti ikan Patin adalah Amerika dan negara-negara di Eropa. Penurunan likuiditas dan daya beli akibat krisis gobal ini, berpotensi menurunkan investasi di sektor perikanan Jambi sebesar -1,8%. Kecilnya dampak ini relatif lebih disebabkan oleh kecilnya proporsi modal yang digunakan dalam sektor perikanan yakni hanya 1,4%. Selain itu, pangsa pasar domestik untuk komoditas perikanan masih sangat dominan. Kondisi struktur sektor perikanan Jambi ini memungkinkan produksi ikan berpotensi mengalami peningkatan dan hasil simulasi menunjukkan bahwa produksi riil sektor perikanan berpotensi mengalami peningkatan sebesar 1,53% (tabel tidak ditunjukkan). Berdasarkan data aktual, produksi ikan provinsi Jambi meningkat 19,4 persen dari 42,50 ribu ton menjadi 50,75 ribu selang periode 2006 2007 yang lebih banyak diperoleh dari perairan umum, budidaya kolam dan keramba. Upaya pengembangan budidaya ikan patin dengan memanfaatkan potensi lahan perairan Sungai Batanghari dan kolam serta di Kabupaten Batanghari dan Muaro Jambi dengan menggunakan jaring apung, merupakan upaya-upaya yang perlu untuk diteruskan untuk tidak saja memenuhi kebutuhan pasar domestik namun juga potensi pasar ekspor. Meski secara umum semua sektor mengalami penurunan investasi riil, sektor Hotel dan Restoran yang merupakan pendorong peningkatan pertumbuhan Provinsi Jambi dari 5,89 persen pada tahun 2006 menjadi 6,63 persen pada tahun 2007, berpotensi mengalami peningkatan investasi riil sebesar 3,0%. Sektor ini merupakan sektor non-tradable sehingga relatif tidak terpengaruh dengan kondisi global, selain itu sumbangan sektor ini cukup besar dalam struktur PDRB provinsi Jambi (Rp 14,247 trilyun pada tahun 2007), sehingga pertumbuhan sektor ini relatif menjanjikan sebagaimana pertumbuhan yang tercatat pada tahun 2007 sebesar 9,4%. Faktor lain yang memungkinkan pertumbuhan investasi riil sektor Hotel dan Restoran di Provinsi Jambi adalah utilisasi modal yang relatif kecil yakni 1,1% dari total modal yang terpakai. Intensitas penggunaan modal ini tergantung pada 2 hal
yakni skala sektor dan teknologi yang diaplikasikan dalam sektor tersebut. Untuk Provinsi Jambi, penggunaan modal yang besar didominasi oleh 5 sektor yakni Minyak dan Gas (19,6%), Kayu dan Kertas (18,7%), Pertanian (17,4%) dan Perdagangan (12,6%), serta sektor Transportasi (10,1%) sebagaimana ditunjukkan dalam tabel 2, (Parewangi AMA dan Daniel, 2005). Sejauh ini realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) yang menggunakan dana rupiah di Provinsi Jambi mengalami peningkatan dari Rp 1,12 trilyun tahun 2006 menjadi Rp 1,78 trilyun tahun 2007 atau naik sebesar 58,82 persen. Sedangkan investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dalam dollar Amerika Serikat tahun 2007 ini relatif sama dengan tahun 2006 yaitu US $ 18,23 juta. Kesulitan likuiditas yang dialami oleh investor asing mungkin berdampak terhadap realiasi investasi PMA untuk periode 2008-2009 jika pemerintah tidak mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Untuk sementara, provinsi Jambi dapat mengandalkan investasi dalam negeri meski PMDN ini sendiri telah mengalami sedikit penurunan sebesar 5,64 persen dari Rp 9,128 trilyun (tahun 2006) menjadi Rp 8,612 trilyun (tahun 2007). Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi investasi, namun secara umum ketersediaan modal, infrastruktur yang memadai, kepastian hukum dan kondisi keamanan merupakan pra kondisi dari peningkatan investasi suatu daerah. Kualitas sumber daya manusia merupakan variabel yang evolusif sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Dari sisi jumlah tenaga kerja dan ketersediaan sumber daya alam, investasi ini diharapkan dapat meningatkan kapasitas terpakai sehingga kondisi full utilized sebagai salah satu syarat kondisi optimal dapat segera tercapai. Ketika utilisasi sumber daya ini meningkat, maka seiring dengan hal tersebut kondisi efisien sebagai syarat kedua kondisi optimal dapat diupayakan. Tulisan ini setidaknya memberikan gambaran tentang dampak krisis pasar modal global terhadap perekonoman Jambi. Dalam masa mendatang shock serupa sangat mungkin terjadi dan pemerintah provinsi Jambi bersama stakeholders lainnya, harus dapat mengantisipasi potensi buruk datau bahkan membalikkan tekanan tersebut menjadi sebuah peluang. REKOMENDASI Dalam rangka meningkatkan investasi yang masuk ke Provinsi Jambi, beberapa saran yang perlu ditindaklanjuti antara lain: 1. Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu - Diperlukan suatu sistem yang efektif dan efisien dalam rangka menarik minat investor untuk berinvestasi di Jambi. Investasi merupakan solusi yang realitis dan wajib diupayakan serta diperjuangkan oleh seluruh aparatur Pemerintah dan masyarakat secara terpadu dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Oleh karena itu, perlunya dipersiapkan model Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) sebagai suatu sarana entry point investor masuk ke daerah. Hal ini diperlukan agar terjadi kemudahan bagi
investor dalam melakukan proses perizinan di daerah. Tentunya ini juga harus didukung dengan kondisi iklim bisnis yang kondusif sehingga dapat memberikan kepastian bagi investor untuk berinvestasi di Provinsi Jambi. 2. Ketersediaan Infrastruktur dan Tenaga Kerja yang Memadai - Tersedianya infrastruktur (jalan, jembatan, pelabuhan, dll) yang kondusif dari dan ke Jambi serta ketersediaan listrik merupakan prasyarat utama investor melihat potensi dan daya saing suatu daerah. Diperlukan pembangunan infrastruktur yang terencana dan terstruktur dengan baik. - Kesesuaian kompetensi tenaga kerja dengan pasar tenaga kerja. Oleh karena itu dibutuhkan balai latihan kerja (BLK) ataupun sekolah kejuruan yang bisa menghasilkan SDM yang sesuai dengan permintaan pasar tenaga kerja sehingga kebutuhan pasar tenaga kerja dapat dipenuhi dari dalam Provinsi Jambi.
BAB II PERKEMBANGAN HARGA-HARGA A. Kajian Umum Inflasi Kota Jambi pada triwulan III tahun 2008 sebesar 13,68% (y-o-y), relatif menurun dibandingkan triwulan II tahun 2008 yang masih sebesar 13,99% (y-o-y). Dampak dari telah datangnya bulan Ramadhan selama periode bulan September 2008 menyebabkan angka inflasi tahunan Kota Jambi masih relatif tinggi. Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Kota Jambi Persen (%) 25.00 Bulanan (m-t-m) Year on year (y-o-y) Year to date (y-t-d) 20.00 15.00 10.00 5.00 - (5.00) 123456789101112123456789101112123456789101112123456789101112123456789101112123456789 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sementara itu, inflasi tahun kalender triwulan II tahun 2008 yang masih sebesar 9,85% (y-t-d) melonjak sekitar 194 bps menjadi sebesar 11,78% (y-t-d). Memasuki periode triwulan III-2008 inflasi Kota Jambi sudah melampaui 2 (dua) digit. Bahkan, selama periode 5 (lima) tahun terakhir, inflasi tahunan (y-t-d) pada bulan September belum pernah melampaui 5%. Sehingga dalam 5 (lima) tahun terakhir, inflasi kumulatif (year-to-date/y-t-d) Kota Jambi pada bulan September 2008 adalah yang tertinggi (lihat grafik 2.2). Sedangkan pergerakan inflasi 31
INFLASI bulanan yang tercatat di bulan Juli, Agustus dan September 2008 masing-masing sebesar 1,17%(m-t-m), 0,37%(m-t-m) dan 0,22%(m-t-m). y-t-d (%) 20 18 16 Grafik 2.2. Perkembangan Inflasi Tahun Kalender Kota Jambi Periode Tahun 2003 s.d. Juni 2008 2003 2004 2005 2006 2007 2008 14 12 10 8 6 4 2 0-2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Inflasi yang terjadi pada triwulan laporan terutama berasal dari sumbangan angka inflasi dari kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi serta kelompok transportasi (lihat tabel 2.1.). Relatif tingginya angka inflasi terutama masih disebabkan oleh dampak kenaikan harga BBM bersubsidi sehingga berpengaruh terhadap kenaikan biaya input produksi serta biaya distribusi. Apalagi, hampir sebagian besar bahan makanan di Kota Jambi didatangkan dari luar daerah sehingga komponen biaya distribusi cukup besar pengaruhnya. Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Kota Jambi KELOMPOK Triwulan I-2008 Triwulan II-2008 Triwulan III-2008 yoy ytd yoy ytd yoy ytd I Bahan Makanan 11.77 4.06 29.56 16.55 26.07 19.99 II Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 5.59 3.11 13.28 10.66 11.65 11.84 III Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar 4.48 0.28 6.10 4.65 7.99 6.98 IV Sandang 3.99 1.70 8.92 4.08 6.14 4.30 V Kesehatan 0.45 0.24 5.81 6.99 6.33 7.70 VI Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 1.75 0.00 4.53 3.19 4.95 4.52 VII Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan 1.18 0.60 8.72 9.68 11.04 10.57 INFLASI 6.37 2.16 13.99 9.85 13.68 11.78 Sumber : BPS (diolah) 32
INFLASI Dibandingkan dengan inflasi secara nasional, inflasi Kota Jambi secara tahunan (y-o-y) relatif menurun pada triwulan laporan walaupun masih lebih tinggi dibandingkan angka inflasi nasional. Angka inflasi Kota Jambi menurun sebesar 31 bps menjadi sebesar 13,68%(y-o-y) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 13,99% (y-o-y), (lihat grafik 2.3). Laju inflasi tahunan nasional pada triwulan laporan sebesar 12,14% (y-o-y) atau meningkat sebesar 111 bps dibandingkan triwulan sebelumnya. Persen 18.00 16.00 14.00 12.00 10.00 8.00 6.00 4.00 Grafik 2.3. Perkembangan Laju Inflasi Kota Jambi Grafik 2.4. Perbandingan Inflasi (y-o-y) Kota Jambi dan Kota sekitarnya 7.12 6.83 8.43 7.66 Kota Jambi 5.12 5.06 6.20 4.67 5.11 4.49 Nasional 8.46 8.96 7.25 6.83 6.27 6.40 9.65 8.81 17.11 16.50 9.06 7.407. 52 6.67 15.74 16. 10 15.12 15.53 14.55 16.35 10.66 6.6 12.62 6.52 9.92 5.77 6.95 10.96 7.42 6.59 13.99 11.03 8.17 6.37 13.68 12.14 2.00 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Grafik 2.3 Y-O-Y 30 25 20 Bengkulu Jambi Padang Palembang Pekanbaru 15 10 5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2003 2004 2005 2006 2007 2008 catatan: mulai bulan Juni 2008, angka inflasi menggunakan tahun dasar 2007 Grafik 2.4 33
INFLASI Perkembangan secara regional, tingkat inflasi di Jambi relatif moderate dibandingkan daerah sekitarnya. Inflasi di Jambi lebih rendah dibandingkan Bengkulu (14,51%/y-o-y) serta Palembang (14,19%/y-o-y), namun lebih tinggi dibandingkan Padang (13,00%/y-o-y) serta Pekanbaru (11,34%/y-o-y) pada triwulan laporan. 16 B. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang Dilihat per sub kelompok, inflasi tahunan tertinggi pada triwulan laporan adalah sub kelompok kacang-kacangan. Sementara itu, beberapa sub kelompok yang mengalami penurunan harga (deflasi) terbesar adalah sub kelompok komunikasi dan pengiriman. Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Tahunan (y-o-y) serta Tahun Kalender (y-t-d) Kota Jambi Berdasarkan Kelompok dan Sub Kelompok Barang dan Jasa KELOMPOK/SUBKELOMPOK Triwulan I-2008 Triwulan II-2008 Triwulan III-2008 yoy ytd yoy ytd yoy ytd I. BAHAN MAKANAN 11.77 4.06 29.56 16.55 26.07 19.99 a. PADI-PADIAN, UMBI-UMBIAN DAN HASILNYA -11.85-4.47 22.60 10.78 21.05 12.81 b. DAGING-DAN HASIL-HASILNYA 8.76 3.07 36.73 26.29 28.20 30.31 c. IKAN SEGAR 9.38 4.54 20.49 19.92 45.30 38.45 d. IKAN DIAWETKAN 2.89 0.00 18.96 12.99 26.16 26.63 e. TELUR, SUSU DAN HASIL-HASILNYA 15.70 2.33 16.57 7.03 12.68 13.39 f. SAYUR-SAYURAN 51.15-5.55 38.69 1.30 9.01-5.53 g. KACANG-KACANGAN 50.10 40.78 61.94 59.95 60.82 59.92 h. BUAH-BUAHAN 9.22 1.17 15.25 2.37 24.38 12.56 i. BUMBU-BUMBUAN 13.54 17.13 34.74 12.83-1.64-9.72 j. LEMAK DAN MINYAK 48.70 18.14 53.80 36.38 55.42 51.14 k. BAHAN MAKANAN LAINNYA 4.53-1.05 26.85 21.85 19.36 17.77 II. MAKANAN JADI,MINUMAN,ROKOK & TEMBAKAU 5.59 3.11 13.28 10.66 11.65 11.84 a. MAKANAN JADI 8.93 4.57 18.92 14.01 15.90 15.99 b. MINUMAN YANG TIDAK BERALKOHOL -2.69 0.81 2.63 2.87 2.49 2.91 c. TEMBAKAU DAN MINUMAN BERALKOHOL 5.05 1.94 7.85 7.89 7.78 8.02 III. PERUMAHAN, AIR, LISTRIK, GAS & BHN BAKAR 4.48 0.28 6.10 4.65 7.99 6.98 a. BIAYA TEMPAT TINGGAL 8.39 0.25 8.00 5.06 9.90 7.57 b. BAHAN BAKAR, PENERANGAN DAN AIR 0.07 0.06 4.50 4.50 7.33 7.33 c. PERLENGKAPAN RUMAHTANGGA 5.62 0.91 3.25 2.18 2.18 2.18 d. PENYELENGGARAAN RUMAHTANGGA 2.43 1.33 3.81 5.10 5.26 6.99 IV. SANDANG 3.99 1.70 8.92 4.08 6.14 4.30 a. SANDANG LAKI-LAKI 0.61 0.21 3.31 1.38 1.89 1.39 b. SANDANG WANITA 1.97 0.75 1.99 1.54 1.74 1.72 c. SANDANG ANAK-ANAK 0.20 0.00 4.64 2.82-0.67 0.27 d. BARANG PRIBADI DAN SANDANG LAINNYA 20.32 8.32 30.93 11.44 24.52 14.69 V. KESEHATAN 0.45 0.24 5.81 6.99 6.33 7.70 a. JASA KESEHATAN 0.00 0.00 13.19 15.88 13.19 15.88 b. OBAT-OBATAN 1.02 0.24 0.53 0.75 1.88 1.94 c. JASA PERAWATAN JASMANI 2.58 2.58 5.63 5.64 5.63 5.64 d. PERAWATAN JASMANI DAN KOSMETIKA 0.25 0.00 1.02 1.47 1.74 2.77 VI. PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAHRAGA 1.75 0.00 4.53 3.19 4.95 4.52 a. JASA PENDIDIKAN 1.36 0.00 5.83 4.17 6.28 6.00 b. KURSUS-KURSUS / PELATIHAN 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 c. PERLENGKAPAN / PERALATAN PENDIDIKAN 3.01 0.00 2.45 1.45 3.15 3.20 d. REKREASI 3.14 0.00 4.58 3.11 4.83 3.11 e. OLAHRAGA 0.65 0.00-1.92 0.00-1.92 0.00 VII TRANSPOR, KOMUNIKASI & JASA KEUANGAN 1.18 0.60 8.72 9.68 11.04 10.57 a. TRANSPOR 1.39 0.76 18.66 20.38 22.32 21.42 b. KOMUNIKASI DAN PENGIRIMAN 0.13 0.00-13.29-13.33-13.33-13.33 c. SARANA DAN PENUNJANG TRANSPOR 1.03 0.00 0.42 0.00 1.56 2.20 d. JASA KEUANGAN 0.00 0.00 1.76 1.76 3.57 3.57 INFLASI (UMUM) 6.37 2.16 13.99 9.85 13.68 11.78 Sumber : BPS (diolah) 16 34 Sumber: Data BPS Provinsi Jambi (diolah).
INFLASI 1. Kelompok Bahan Makanan Kelompok bahan makanan pada triwulan III tahun 2008 mengalami inflasi sebesar 26,07% (y-o-y). Berdasarkan sub kelompoknya, inflasi tertinggi terjadi pada sub kelompok kacang-kacangan sebesar 60,82% (y-o-y), diikuti oleh sub kelompok lemak dan minyak sebesar 55,42% (y-o-y) dan sub kelompok ikan segar sebesar 45,30% (y-o-y). Tingginya inflasi pada sub kelompok kacang-kacangan sangat dipengaruhi oleh harga kedelai yang merupakan bahan baku beberapa komoditas dalam sub kelompok kacang-kacangan yaitu tempe, tahu dan taucho. Harga rata-rata kedelai impor bergerak stabil pada periode triwulan laporan di level harga 8.000/kg walaupun pada bulan Juli sempat mencapai Rp8.065/kg. Masih tingginya harga kedelai tersebut tentunya berimbas pada harga tempe, tahu mentah dan taucho yang relatif mahal pada periode triwulan laporan. Grafik 2.5. Perkembangan Harga CPO dan Minyak Goreng (Ringgit/Ton) (Rp/Kg) 4500 12500 4000 3500 3000 CPO internasional (aksis kiri) Minyak goreng lokal (aksis kanan) 10833 3540 11500 10500 9500 2500 2000 1500 1000 500 8500 8083 7500 2073 6500 5500 4500 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2006 2007 2008 Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi 3500 Sementara itu, tren penurunan harga crude palm oil (CPO) di pasar internasional diikuti juga oleh harga minyak goreng curah (tanpa merek). Harga CPO internasional yang pada Juni 2008 masih sebesar 3.540 ringgit/ton, pada bulan September 2008 menjadi 2.073 ringgit/ton. Sejalan dengan perkembangan tersebut, harga rata-rata minyak goreng curah (tanpa merek) di Provinsi Jambi terus mengalami penurunan dari Rp10.833 pada bulan Juni 2008 menjadi Rp8.083 pada bulan September 2008. Bahkan, harga rata-rata bulanan minyak 35
INFLASI goreng curah pada September 2008 merupakan yang terendah selama tahun 2008. Grafik 2.6. Perkembangan Harga Tepung Terigu (USD/Bushel) 1200 (Rp/Kg) 8500 1000 800 Wheat/Gandum (aksis kiri) Tepung Terigu lokal (aksis kanan) 7500 843.5 7500 8000 7500 7000 6500 600 680 6000 5500 400 5000 4500 200 4000 3500 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2006 2007 2008 Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi 3000 Perkembangan harga tepung terigu merek Segitiga Biru yang mencapai harga rata-rata tertingginya pada bulan Juni 2008 sebesar Rp7.500/kg terus bergerak stabil s.d. bulan September 2008. Walaupun gandum yang merupakan bahan baku tepung terigu terus mengalami tren penurunan harga di pasar internasional namun belum diikuti dengan turunnya harga tepung terigu lokal. Harga gandum yang pada Juni 2008 masih sebesar USD 843.5/bushel, pada September 2008 turun menjadi USD 680/bushel. 17 Inflasi yang cukup tinggi juga terjadi pada kelompok sayur-sayuran yang antara lain masih merupakan imbas dari kenaikan harga BBM. Sebagaimana diketahui, komoditas cabai rawit, cabai merah, kol, wortel, buncis, kacang panjang dan beberapa komoditas sayuran lainnya didatangkan dari luar daerah/dari luar Kota Jambi (Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Utara) sehingga biaya transportasi merupakan salah satu faktor utama pemicu kenaikan harga. 17 36 Satu bushel setara dengan 27 kg.
INFLASI Grafik 2.7. Perkembangan Harga Cabe Merah dan Bawang (Rp/kg) 25000 20000 15000 10000 5000 0 Cabe Merah Keriting Cabe merah Biasa Bawang Putih Bawang Merah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sumber: Disperindag Provinsi Jambi 2006 2007 2008 Sejalan dengan kenaikan harga sayur-sayuran, harga sub kelompok ikan segar juga mengalami peningkatan. Relatif meningkatnya harga pakan ikan menyebabkan harga ikan segar cenderung meningkat. Disamping itu, permintaan ikan segar selama bulan Ramadhan yang cukup tinggi juga turut mempengaruhi naiknya harga ikan segar. Sub kelompok lain yang juga mengalami inflasi cukup tinggi adalah sub kelompok daging dan hasil-hasilnya. Harga daging menujukkan tren kenaikan harga rata-rata bulanan selama periode triwulan laporan baik daging ayam maupun daging sapi. Sementara, harga beras lokal (IR 64) pergerakan harganya cenderung stabil pada triwulan III tahun 2008 sejalan dengan relatif stabilnya harga beras di tingkat internasional. Grafik 2.8. Perkembangan Harga Jagung Grafik 2.9. Perkembangan Harga Daging (USD/Bushel) 800 700 Jagung internasional (aksis kiri) Jagung pipilan kering (aksis kanan) 600 (Rp/Kg) 5383 5500 724.75 5000 4500 (Rp/Kg) 40000 32000 (Rp/Kg) 70000 65000 500 400 300 200 100 0 487.5 3500 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 4000 3500 3000 2500 2000 1500 24000 16000 8000 0 Ayam Kampung (aksis kiri) Daging Ayam Broiler (aksis kiri) Daging Sapi Murni (aksis kanan) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2006 2007 2008 60000 55000 50000 45000 2006 2007 2008 Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi Sumber: Disperindag Provinsi Jambi Grafik 2.8 Grafik 2.9 37
INFLASI Grafik 2.10. Perkembangan Harga Beras 18 (USD/CWT) 25 20 15 5667 20.21 (Rp/Kg) 6000 5500 5500 18.90 5000 10 4500 5 Beras internasional (aksis kiri) lokal IR 64 (aksis kanan) 4000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2006 2007 2008 Sumber: Bloomberg & Disperindag Prov. Jambi 3500 2. Kelompok Makanan Jadi Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan III tahun 2008 mengalami inflasi sebesar 11,65% (y-o-y) dengan laju inflasi tahun kalender sebesar 11,84% (y-t-d). Berdasarkan sub kelompoknya, urutan inflasi tertinggi tercatat pada sub kelompok makanan jadi sebesar 15,90% (y-o-y), diikuti sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol (7,78%/y-o-y) serta sub kelompok minuman yang tidak beralkohol (2,49%/y-o-y). Naiknya harga bahan makanan pada triwulan laporan tentunya berimbas pada meningkatnya harga makanan jadi seperti nasi rames, ketupat/lontong sayur, gado-gado, sate dan soto. Apalagi, selama bulan Ramadhan konsumsi masyarakat relatif meningkat terhadap produk makanan jadi. 3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada triwulan III tahun 2008 mengalami inflasi sebesar 7,99% (y-o-y) atau dengan laju inflasi tahun kalender mencapai 6,98% (y-t-d). Berdasarkan sub kelompoknya, sub kelompok biaya tempat tinggal mengalami inflasi tertinggi sebesar 9,90%, diikuti dengan sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air (7,33%/y-o-y), sub 18 Cwt maksudnya hundredweight (100 pounds). 1 pounds setara dengan 453,59 gram/0,453 kg. Jadi 100 pounds sekitar 45,3 kg. 38
INFLASI kelompok penyelenggaraan rumah tangga (2,18%/y-o-y) serta sub kelompok perlengkapan rumah tangga (5,26%/y-o-y). Sub kelompok biaya tempat tinggal yang sebagian besar terdiri dari bahan material seperti semen, besi beton, paku, batu, kayu lapis dll mengalami kenaikan harga pada triwulan laporan. Disamping itu, masih meningkatnya demand masyarakat terhadap kebutuhan rumah/tempat tinggal serta mulai terakselerasinya proyek fisik Pemerintah Daerah menyebabkan harga-harga bahan material meningkat. 4. Kelompok Sandang Kelompok sandang pada triwulan III tahun 2008 mengalami inflasi sebesar 6,14% (y-o-y) atau dengan laju inflasi tahun kalender mencapai 4,30% (y-t-d). Berdasarkan sub kelompoknya, urutan inflasi tertinggi adalah sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya sebesar 24,54% (y-o-y), diikuti sub kelompok sandang laki-laki (1,89%/y-o-y), sub kelompok sandang wanita (1,74%/y-o-y) serta sub kelompok sandang anak-anak (minus 0,67%/y-o-y). Grafik 2.11. Perkembangan Harga Emas di Pasar Internasional Harga Emas (USD/Troy Ounce) 1100 1000 925.4 900 870.95 833.92 800 700 600 500 400 300 200 100 0 123456789101112123456789101112123456789101112123456789 2005 2006 2007 2008 Sumber: Bloomberg Komoditas emas perhiasan masih merupakan komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok sandang. Meningkatnya kembali harga emas terkait dengan peningkatan harga internasional yang mulai menunjukkan tren peningkatan harga. Harga emas di pasar internasional yang mampu mencapai 39
INFLASI USD 925,4 per troy ounce pada akhir Juni 2008, mulai menurun di dua bulan awal triwulan III tahun 2008 yaitu 914,07 per troy ounce (Juli 2008) serta 831,15 per troy ounce (Agustus 2008). 19 Namun demikian, pada bulan September 2008 harga emas mulai meningkat kembali menjadi sebesar 870,95 per troy ounce. Hal inilah yang menyebabkan para pedagang emas mulai menyesuaikan harga emas, seiring dengan meningkatnya permintaan emas menjelang Lebaran. Harga emas (logam mulia) di Jambi pada bulan September 2008 sebesar Rp215.807,44/gram untuk emas 22 karat serta sebesar Rp258.495,20/gram untuk 24 karat. 20 5. Kelompok Kesehatan Kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 6,33% (y-o-y) pada triwulan III tahun 2008 atau dengan laju inflasi tahun kalender sebesar 7,70% (yt-d). Berdasarkan sub kelompoknya, urutan inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok jasa kesehatan sebesar 13,19% (y-o-y), diikuti sub kelompok jasa perawatan jasmani (5,63%/y-o-y), sub kelompok obat-obatan (1,88%/y-o-y) serta sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetika (1,74%/y-o-y). 6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada triwulan II tahun 2008 mengalami inflasi sebesar 4,95% (y-o-y). Sub kelompok jasa pendidikan mengalami inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,28% (y-oy) diikuti dengan sub kelompok rekreasi (4,83%/y-o-y). Sementara itu, sub kelompok olahraga mengalami deflasi pada triwulan laporan sebesar minus 1,92% (y-o-y). 7. Kelompok Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan Peningkatan harga yang terjadi pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan di kota Jambi pada triwulan III tahun 2008 sebesar 11,04% (yo-y) dengan laju inflasi tahun kalender sebesar 10,57%(y-t-d). Berdasarkan sub kelompoknya, urutan inflasi tertinggi adalah sub kelompok transportasi sebesar 22,32% (y-o-y), diikuti sub kelompok jasa keuangan (3,57%/y-o-y), dan sub kelompok sarana dan penunjang transportasi (1,56%/y-o-y). Sementara itu, sub 19 Sumber: Bloomberg. Satu troy ounce setara dengan 31,1034768 gram (http://en.wikipedia.org) 20 40 Sumber: BPS Provinsi Jambi.
INFLASI kelompok komunikasi dan pengiriman mengalami deflasi pada triwulan laporan sebesar minus 13,33% (y-o-y). Grafik 2.12. Perkembangan Harga Minyak di Pasar Internasional Harga Minyak (USD/Barrel) 150 140 125 100 75 91.75 100.64 50 25 0 123456789101112123456789101112123456789101112123456789 2005 2006 2007 2008 Sumber: Bloomberg Dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi secara rata-rata sebesar 28,7% pada akhir bulan Mei 2008 masih berdampak pula pada meningkatnya harga jasa angkutan. Angkutan kota naik sebesar 47% untuk umum dan 50% untuk pelajar dan mahasiswa. Sedangkan tarif angkutan kota dalam propinsi (AKDP) naik dengan batasan tarif ambang batas atas sebesar Rp155/orang/km sedangkan tarif ambang bawah Rp 96/orang/km. Hal ini tentunya berdampak pada meningkatnya inflasi tahunan (y-o-y) kelompok transport pada triwulan laporan. Di sisi lain, menyambut Lebaran yang jatuh tanggal 1 Oktober 2008, penyedia jasa penerbangan mulai menaikkan tarifnya. Demand masyarakat terhadap permintaan tiket pesawat untuk merayakan Lebaran keluar Jambi semakin meningkat. Meningkatnya demand tersebut namun tidak disertai jumlah penerbangan yang seimbang (dari dan ke Jambi) berimbas pada naiknya harga tiket pesawat. 41
Halaman ini sengaja dikosongkan
BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Kinerja perbankan pada triwulan III tahun 2008 menunjukkan pertumbuhan yang positif dari sisi kredit yang diberikan yang disertai dengan peningkatan fungsi intermediasi perbankan yang tercermin dari membaiknya Loan to deposits ratio (LDR) dibandingkan triwulan sebelumnya. Sejalan dengan peningkatan LDR, kualitas kredit yang diberikan membaik yang tercermin dari menurunnya ratio Non-Performing Loan (NPL) gross. Namun demikian, profitabilitas perbankan mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. A. Perkembangan Kelembagaan Secara kelembagaan, jumlah bank yang beroperasi di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Jambi sampai dengan Triwulan III tahun 2008 tercatat sebanyak 24 (dua puluh empat) bank umum dan 7 (tujuh) BPR yang terdiri dari 161 kantor bank termasuk BPR dan BRI unit. Pada periode triwulan laporan, terdapat penambahan 1 (satu) jumlah bank baru, 2 (dua) kantor cabang pembantu/kcp serta 2 (dua) BRI unit. Bank baru yang bertambah yaitu Bank Mega Syariah yang mulai beroperasi pada tanggal 7 Agustus 2008 di Kota Jambi. Sedangkan dua KCP yang bertambah yaitu Bank Mega Syariah di Jelutung beroperasi tanggal 5 September 2008) dan KCP Bank NISP di Sipin (beroperasi 12 September). Sementara dua kantor BRI unit yang baru adalah BRI Mandiangin (beroperasi 24 September 2008) serta BRI Rantau Panjang (beroperasi 24 september 2008). Dari 24 (dua puluh empat) bank umum yang beroperasi di wilayah Jambi, terdiri dari 5 (lima) bank pemerintah diantaranya satu unit usaha syariah, 1 (satu) Bank Pembangunan Daerah, dan 18 (delapan belas) bank swasta nasional. Dilihat dari sebarannya, jumlah kantor bank terbesar masih di Kota Jambi sebanyak 61 (enam puluh satu) buah (39,10%), sedangkan untuk kabupaten yang paling 43
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH sedikit kantor banknya adalah Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebanyak 2 (dua) buah (1,28%). B. Bank Umum 21 1. Perkembangan Aset Bank Aset bank umum di Provinsi Jambi pada triwulan laporan menurun sebesar Rp31,16 miliar (0,26%) jika dibandingkan triwulan II tahun 2008, yaitu dari Rp11.949,87 miliar menjadi Rp11.918,70 miliar. Penurunan aset bank umum ini terjadi pada kelompok bank pemerintah yaitu sebesar 2,56% (Rp206,72 miliar). Di sisi lain, aset kelompok bank swasta dan kelompok bank syariah tumbuh masing-masing sebesar 3,94% dan 13,19% pada triwulan laporan. Grafik 3.1 Perkembangan Aset Bank Umum Provinsi Jambi Rp miliar 13,000 12,000 11,000 10,000 9,000 8,000 7,000 6,000 5,000 4,000 3,000 2,000 1,000 - Persen 20.00 Jumlah Aset (aksis kiri) Pertumbuhan (aksis kanan) 16.00 12.00 8.00 4.00 0.00-4.00 Q1-04 Q2-04 Q3-04 Q4-04 Q1-05 Q2-05 Q3-05 Q4-05 Q1-06 Q2-06 Q3-06 Q4-06 Q1-07 Q2-07 Q3-07 Q4-07 Q1-08 Q2-08 Q3-08 Dari total pangsa pasar aset bank umum, aset bank pemerintah merupakan yang terbesar sehingga mencapai 65,93%, diikuti oleh aset bank swasta yang memiliki share sebesar 31,77% dan aset bank syariah yang memiliki share sebesar 2,30% pada triwulan laporan. 2. Perkembangan Dana Masyarakat Pertumbuhan jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun oleh perbankan pada triwulan laporan turun sebesar 5,25%, yaitu dari Rp10.361,42 miliar menjadi Rp10.140,60 miliar pada triwulan laporan. 21 44 Data s.d. bulan Agustus 2008
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Berdasarkan kelompok bank, pertumbuhan DPK tertinggi secara nominal diraih oleh kelompok bank swasta sebesar 3,00% (meningkat Rp99,51 miliar) sehingga menjadi Rp3.417,57 miliar. Secara persentase, pertumbuhan kelompok bank syariah merupakan yang tertinggi mencapai 3,27%. Namun demikian, penurunan DPK kelompok bank pemerintah sebesar 4,75% (turun Rp326,03 miliar) turut mempengaruhi penurunan DPK bank umum secara total jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Tabel 3.1 Penghimpunan Dana Bank Umum di Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) 2007 2008 Pertumbuhan URAIAN Trw IV Trw I Trw II Trw III Nominal Persen Bank Pemerintah 6,178,908 6,315,888 6,868,931 6,542,895 (326,036) (4.75) 1 Giro 2,362,768 1,981,329 2,104,301 1,838,315 (265,986) (12.64) 2 Tabungan 2,936,837 3,021,694 3,293,133 3,093,551 (199,582) (6.06) 3 Simpanan Berjangka 879,303 1,312,865 1,471,497 1,611,029 139,532 9.48 Bank Swasta Nasional 2,998,881 3,122,350 3,318,055 3,417,567 99,512 3.00 1 Giro 477,859 621,135 674,334 604,042 (70,292) (10.42) 2 Tabungan 1,373,320 1,377,744 1,450,667 1,451,952 1,285 0.09 3 Simpanan Berjangka 1,147,702 1,123,471 1,193,054 1,361,573 168,519 14.13 Bank Syariah 143,501 159,250 174,435 180,147 5,712 3.27 1 Giro 44,779 52,201 54,130 56,128 1,998 3.69 2 Tabungan 71,552 77,112 90,398 93,415 3,017 3.34 3 Deposito 27,170 29,937 29,907 30,604 697 2.33 Jumlah 9,321,290 9,597,488 10,361,421 10,140,609 (220,812) (2.13) 1 Giro 2,885,406 2,654,665 2,832,765 2,498,485 (334,280) (11.80) 2 Tabungan 4,381,709 4,476,550 4,834,198 4,638,918 (195,280) (4.04) 3 Simpanan Berjangka 2,054,175 2,466,273 2,694,458 3,003,206 308,748 11.46 Berdasarkan jenis penghimpunan dana, giro menunjukkan penurunan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan tabungan. Secara nominal, giro di bank pemerintah turun sebesar Rp334,28 miliar (turun 11,80%) sedangkan tabungan turun sebesar Rp195,28 miliar (turun 4,04%). Tren peningkatan BI rate yang diikuti oleh pihak perbankan dengan menaikkan suku bunga deposito memberikan dampak pada meningkatnya jumlah deposito pada triwulan laporan. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan deposito bank umum yang cukup signifikan sebesar 11,46% yang disumbangkan oleh peningkatan deposito pada seluruh kelompok bank umum. 45
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Grafik 3.2 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum Provinsi Jambi Rp miliar 6,000 Rp miliar 12,000 5,000 10,000 4,000 8,000 3,000 6,000 2,000 4,000 1,000 2,000 0 Q1-03 Q2-03 Q3-03 Q4-03 Q1-04 Q2-04 Q3-04 Q4-04 Q1-05 Q2-05 Q3-05 Q4-05 Q1-06 Giro (aksis kiri) Simpanan Berjangka (aksis kiri) Tabungan (aksis kiri) DPK (aksis kanan) Q2-06 Q3-06 Q4-06 Q1-07 Q2-07 Q3-07 Q4-07 Q1-08 Q2-08 Q3-08 - Berdasarkan golongan pemilik, secara nominal, penurunan DPK berasal dari turunnya sebagian besar golongan pemilik DPK terutama milik perorangan (turun Rp103,71 miliar), milik perusahaan swasta (turun Rp52,21 miliar) serta milik pemerintah daerah (turun Rp35,55 miliar). Tabel 3.2 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Golongan Pemilik No. Golongan Pemilik (dalam jutaan rupiah) Trw.I-2008 Trw.II-2008 Trw.III-2008 Nominal Share Nominal Share Nominal Share Penduduk/Residents 1 Pemerintah 50,509 0.53 85,107 0.82 53,391 0.53 2 Pemerintah Daerah 1,891,724 19.71 2,087,788 20.15 2,052,238 20.24 3 Badan/lembaga pemerintah 66,334 0.69 82,796 0.80 79,659 0.79 4 Badan Usaha Milik Negara 71,010 0.74 125,759 1.21 108,417 1.07 5 Perusahaan asuransi 34,872 0.36 32,630 0.31 34,429 0.34 6 Perusahaan swasta 527,640 5.50 650,645 6.28 598,434 5.90 7 Yayasan dan Badan Sosial 116,504 1.21 64,525 0.62 74,416 0.73 8 Koperasi 38,442 0.40 40,454 0.39 41,376 0.41 9 Perorangan 6,754,020 70.37 7,139,681 68.91 7,035,969 69.38 10 Lainnya 46,416 0.48 52,036 0.50 62,280 0.61 Jumlah 9,597,471 100 10,361,421 100 10,140,609 100.00 Bukan Penduduk/Non-Residents 17 0 - - - Penduduk dan bukan penduduk 9,597,488 10,361,421 10,140,609 Berdasarkan pangsanya, DPK terbesar adalah golongan pemilik perorangan yang mencapai 69,38%; diikuti oleh milik Pemerintah Daerah sebesar 20,24% dan perusahaan swasta sebesar 5,90%. 46
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Berdasarkan lokasi bank 22, jumlah dana masyarakat di perbankan mengalami penurunan di sebagian besar kabupaten/kota di provinsi Jambi kecuali Kota Jambi dan Kabupaten Muara Jambi. Penurunan DPK tertinggi (secara nominal) terjadi di Kabupaten Bungo sebesar Rp65,78 miliar (11,84%) sehingga menjadi Rp489,79 miliar, diikuti oleh Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebesar Rp60,85 miliar (6,28%) sehingga menjadi Rp907,85 miliar, serta Kabupaten Batanghari sebesar Rp52,98 miliar (12,47%) sehingga menjadi Rp371,81 miliar. Pada triwulan laporan, secara total, DPK berdasarkan lokasi proyek turun sebesar Rp220,81 miliar (2,13%). Tabel 3.3 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Berdasarkan Lokasi Bank (dalam jutaan rupiah) Trw.II-08 Trw.III-08 Pertumbuhan No. Kota/Kabupaten Nominal Share Nominal Share Nominal Persen 1 Kota Jambi 6,191,610 59.76 6,204,295 61.18 12,685 0.20 2 Batanghari 424,781 4.10 371,805 3.67 (52,976) (12.47) 3 Tanjung Jabung Barat 968,698 9.35 907,847 8.95 (60,851) (6.28) 4 Merangin 438,084 4.23 425,005 4.19 (13,079) (2.99) 5 Kerinci 466,777 4.50 440,419 4.34 (26,358) (5.65) 6 Sarolangun 459,151 4.43 452,000 4.46 (7,151) (1.56) 7 Bungo 555,571 5.36 489,787 4.83 (65,784) (11.84) 8 Tebo 129,433 1.25 124,692 1.23 (4,741) (3.66) 9 Muara Jambi 294,022 2.84 307,773 3.04 13,751 4.68 10 Tanjung Jabung Timur 373,702 3.61 359,462 3.54 (14,240) (3.81) 11 Lainnya (Others ) 59,592 0.58 57,524 0.57 (2,068) (3.47) JUMLAH 10,361,421 100.00 10,140,609 100.00 (220,812) (2.13) 3. Perkembangan Kredit/Penyaluran Dana Penyaluran kredit oleh bank umum di Provinsi Jambi tumbuh sebesar 6,73%, yakni dari Rp6.921,21 miliar menjadi Rp7.387,29 miliar pada triwulan III tahun 2008. Akselerasi kredit perbankan pada triwulan laporan masih menunjukkan pertumbuhan positif yang tercermin dari meningkatnya pertumbuhan kredit seluruh kelompok bank umum. Disamping itu, masih ditandai dengan tumbuhnya kredit modal kerja (KMK), kredit investasi dan kredit konsumsi pada triwulan laporan. Pertumbuhan kredit bank umum pada triwulan laporan mencerminkan masih meningkatnya aktivitas usaha debitur yang didukung oleh pertumbuhan 22 Data s.d. bulan Agustus 2008. 47
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH ekonomi daerah yang masih tumbuh positif sehingga berdampak pada pertumbuhan kredit di daerah. Tabel 3.4 Perkembangan Kredit Bank Umum Provinsi Jambi URAIAN (dalam jutaan rupiah) 2008 Pertumbuhan TW I TW II TW III Nominal Persen Kelompok Bank 6,025,622 6,921,211 7,387,286 466,075 6.73 1 Bank Pemerintah 4,087,566 4,648,746 4,950,731 301,985 6.50 2 Bank Swasta 1,761,924 2,069,247 2,206,803 137,556 6.65 3 Bank Syariah 176,132 203,218 229,752 26,534 13.06 Jenis Penggunaan 6,025,622 6,921,211 7,387,286 466,075 6.73 1 Modal Kerja 2,376,256 2,861,846 2,970,189 108,343 3.79 2 Investasi 1,166,162 1,303,493 1,424,141 120,648 9.26 3 Konsumsi 2,483,204 2,755,872 2,992,956 237,084 8.60 Sektor Ekonomi 6,025,622 6,921,211 7,387,286 466,075 6.73 1 Pertanian 717,428 817,879 932,353 114,474 14.00 2 Pertambangan 30,540 25,816 16,221 (9,595) (37.17) 3 Perindustrian 383,849 404,713 406,448 1,735 0.43 4 Listrik, Gas dan Air 33,982 32,963 31,661 (1,302) (3.95) 5 Konstruksi 217,464 298,263 310,119 11,856 3.98 6 Perdagangan, Restoran dan Hotel 1,707,652 2,019,320 2,071,416 52,096 2.58 Pengangkutan, Pergudangan dan 7 Komunikasi 154,559 165,956 165,777 (179) (0.11) 8 Jasa-jasa Dunia Usaha 174,832 252,956 299,342 46,386 18.34 9 Jasa-jasa Sosial Masyarakat 112,306 119,731 130,359 10,628 8.88 10 Lain-lain 2,493,010 2,783,614 3,023,590 239,976 8.62 Berdasarkan Kelompok Bank, pertumbuhan penyaluran kredit tertinggi dicapai oleh bank syariah sebesar 13,06% (Rp26,53 miliar). Kelompok bank swasta tumbuh sebesar 6,65% dan kelompok bank pemerintah tumbuh sebesar 6,50%. Namun demikian, pertumbuhan per kelompok bank umum relatif lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya. Dilihat dari pangsa (share) penyaluran kredit, kelompok bank pemerintah masih mendominasi dengan pangsa sebesar 67,02% dari total penyaluran kredit perbankan, diikuti dengan kelompok bank swasta (29,87%) serta kelompok bank syariah (3,11%). Berdasarkan Jenis Penggunaan, pertumbuhan kredit (secara nominal) pada triwulan laporan terjadi terutama kenaikan outstanding kredit konsumsi sebesar 8,60% (Rp237,08 miliar) sehingga menjadi Rp2.992,96 miliar. Di sisi lain, pertumbuhan kredit modal kerja (KMK) serta kredit investasi masih menunjukkan pertumbuhan positif masing-masing sebesar 3,79% dan 9,26%. Walaupun relatif menurun dibandingkan pertumbuhan (dua) triwulan sebelumnya, pertumbuhan 48
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH positif kredit KMK dan kredit investasi selama 3 (tiga) triwulan terakhir di tahun 2008 menunjukkan pencapaian yang relatif cukup baik. Hal ini juga mencerminkan kepercayaan investor terhadap kondisi perekonomian Provinsi Jambi masih baik. Sejalan dengan mulai membaiknya iklim usaha pada jangka menengah dan jangka panjang khususnya untuk sektor-sektor yang diminati investor seperti sektor perkebunan juga masih berkontribusi terhadap meningkatnya kredit investasi. Begitu juga dengan pertumbuhan kredit modal kerja yang mencerminkan minat masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas kredit jangka pendek (terutama pembiayaan properti dan agrobisnis) masih cukup baik. Sedangkan pertumbuhan kredit konsumsi masih disebabkan oleh meningkatnya kredit mikro dan kecil untuk pembiayaan sektor-sektor informal dan rumah tangga. Berdasarkan pangsanya, kredit konsumsi memiliki pangsa paling besar yaitu sebesar 40,51% dari total kredit pada triwulan laporan, diikuti kredit modal kerja sebesar 40,21% serta kredit investasi sebesar 19,28%. Berdasarkan Sektor Ekonomi, pertumbuhan kredit secara nominal pada triwulan laporan masih disumbangkan oleh sektor tersier. Sumbangan terbesar penyaluran kredit dari sektor lain-lain 23 sebesar Rp239,98 miliar, diikuti dengan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp52,10 miliar, serta sektor jasajasa dunia usaha sebesar Rp46,39 miliar. Pertumbuhan kredit sektor lain-lain terutama didorong oleh pertumbuhan kredit konsumsi untuk kendaraan bermotor, alat-alat rumah tangga serta lainnya yang meningkat cukup signifikan pada triwulan laporan. Sementara itu, meningkatnya kredit pertanian sebesar 14,00% pada triwulan laporan terutama disumbangkan oleh akselerasi kredit tanaman perkebunan. Pangsa penyaluran kredit didominasi oleh kredit sektor lain-lain sebesar 40,93% terhadap outstanding kredit, diikuti sektor perdagangan, restoran dan hotel sebesar 28,04%, serta sektor pertanian sebesar 12,62%. Penyaluran kredit 23 Yang dimaksud sektor lain-lain adalah: 1) Perumahan, yaitu sektor ekonomi dari jenis kredit konsumsi di bidang perumahan dan 2) Lainnya, yaitu sektor ekonomi yang tidak dapat dimasukkan kedalam sektor-sektor ekonomi (ex: kredit konsumsi untuk kendaraan bermotor, alatalat rumah tangga, dan lain-lain). 49
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH ketiga sektor tersebut mendominasi penyaluran kredit yang mencapai 81,59% dari total outstanding kredit. Berdasarkan lokasi Proyek 24, jumlah kredit yang disalurkan oleh perbankan berdasarkan lokasi proyek di Provinsi Jambi meningkat sebesar 4,98%, yaitu dari Rp9.554,81 miliar menjadi Rp10.031,00 miliar. 25 Meningkatnya kredit lokasi proyek pada triwulan laporan terutama disumbangkan oleh tumbuhnya kredit sub sektor lain-lain sebesar Rp293,98 miliar (8,55%) serta kredit sektor jasa-jasa yang tumbuh sebesar Rp78,98 miliar (6,75%). Hal ini juga masih didukung oleh tumbuhnya kredit lokasi proyek sektor pertanian dan sektor perdagangan yang memiliki pangsa kredit cukup besar dengan pertumbuhan masing-masing 3,75% dan 2,88%. Tabel 3.5 Perkembangan Kredit Lokasi Proyek Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) 2007 2008 Sektor Ekonomi I II III IV I II III Pertanian 1,818,407 1,998,586 1,871,828 1,917,934 1,367,665 1,828,219 1,896,761 Pertambangan 197,170 223,574 237,500 276,405 116,753 111,867 68,134 Perindustrian 515,470 550,568 732,566 896,895 887,248 898,945 916,616 Perdagangan 1,275,855 1,392,067 1,563,112 1,663,031 1,807,987 2,108,819 2,169,566 Jasa-jasa 555,003 610,891 694,526 788,990 852,274 1,170,425 1,249,404 - listrik, gas dan air 44,390 43,130 41,814 82,728 86,777 95,242 109,125 - konstruksi 169,522 200,829 240,282 193,339 245,164 395,155 376,580 - pengangkutan 83,656 92,125 105,097 132,967 132,352 131,514 138,226 - jasa dunia usaha 187,827 199,831 224,588 260,437 264,041 422,392 489,060 - jasa sosial masyarakat 69,608 74,976 82,745 119,519 123,940 126,122 136,413 Lain-lain 1,960,419 2,199,649 2,637,307 2,813,917 3,113,757 3,436,538 3,730,520 TOTAL 6,322,324 6,975,335 7,736,839 8,357,173 8,145,685 9,554,812 10,031,001 Sumber: SEKDA Provinsi Jambi 4. Undisbursed Loan dan Persetujuan Kredit Baru Jumlah undisbursed loan (kredit yang belum ditarik) pada triwulan laporan menunjukkan peningkatan sebesar 4,67%. Pada triwulan laporan, total undisbursed loan sebesar Rp562,67 miliar atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai Rp537,54 miliar. Berdasarkan jenis penggunaan, proporsi undisbursed loan terbesar terdapat pada kredit modal kerja, yaitu mencapai 85,98% dari total undisbursed 24 Data s.d. bulan Agustus 2008. Sumber: Statistik Ekonomi Keuangan Daerah (SEKDA) Provinsi Jambi. Data kredit lokasi proyek yang dimaksud masih memasukkan kredit dari BPR serta bank asing dan bank campuran sesuai dengan format SEKDA Provinsi Jambi. 25 Data s.d. Bulan Agustus 2008. Mulai Mei 2007, Data dana/kredit telah menggunakan konsep net, yaitu tidak memasukkan dana/kredit pada pemerintah pusat dan bukan penduduk. Hal ini telah disesuaikan dengan publikasi SEKI (Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia). 50
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH loan. Jika berdasarkan sektor ekonomi, undisbursed loan terbesar adalah sektor perdagangan, restoran dan hotel (61,80%), diikuti oleh sektor pertanian (13,92%), serta sektor konstruksi (8,64%). Tabel 3.6 Tabel Undisbursed Loan Bank Umum Berdasarkan Jenis Penggunaan dan Berdasarkan Sektor Ekonomi Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) 2007 2008 Berdasarkan jenis penggunaan TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III 1 investasi 25,374 11,007 73,341 63,786 79,604 98,903 73,490 2konsumsi 7,933 15,737 4,398 3,330 4,594 6,794 5,411 3 modal kerja 399,257 359,885 390,000 414,961 502,731 431,847 483,772 Total 432,564 386,629 467,739 482,077 586,929 537,544 562,673 2007 2008 Berdasarkan sektor ekonomi TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III 1 Pertanian 49,736 46,907 69,447 72,440 78,361 76,635 78,330 2 Pertambangan 1,015 119 7,230 5,420 2,465 68 210 3 Perindustrian 20,953 20,218 25,961 23,373 24,677 28,764 23,293 4 Listrik, Gas dan Air 85 45 730 41 108 376 225 5 Konstruksi 37,957 25,205 41,302 30,811 38,669 43,796 48,595 6 Perdagangan, Restoran dan Hotel 286,212 235,661 253,504 285,660 354,788 306,068 347,746 Pengangkutan, Pergudangan dan 7 komunikasi 8,367 10,663 11,223 12,024 25,614 21,423 21,314 8 Jasa-jasa Dunia Usaha 17,701 27,863 27,379 29,674 39,140 38,085 31,831 9 Jasa-jasa Sosial Masyarakat 2,605 4,211 26,565 19,304 18,513 15,499 5,718 10 Lain-lain 7,933 15,737 4,398 3,330 4,594 6,830 5,411 Total 432,564 386,629 467,739 482,077 586,929 537,544 562,673 Jumlah persetujuan kredit pada triwulan laporan menunjukkan penurunan jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, persetujuan kredit turun sebesar 14,15%. Turunnya jumlah persetujuan kredit pada periode triwulan laporan antara lain dikarenakan oleh perkembangan kondisi makro ekonomi (terutama inflasi) yang cenderung meningkat apalagi semenjak kenaikan harga BBM serta dampak perekonomian global yang sedang mengalami krisis. Hal ini direspon dengan sikap hati-hati perbankan dalam memberikan kreditnya. Tren meningkatnya suku bunga pinjaman juga berdampak pada sikap masyarakat yang lebih hati-hati dalam mengajukan kreditnya kepada pihak perbankan sehingga turut berpengaruh terhadap jumlah realisasi persetujuan kredit. Pangsa terbesar persetujuan kredit yaitu kredit konsumsi (51,30%), lalu diikuti kredit modal kerja (31,82%), serta kredit investasi (16,88%). Tabel 3.7 Tabel Persetujuan Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan di Provinsi Jambi Jenis Kredit (dalam jutaan rupiah) Tw II 07 Tw III 07 Tw IV 07 Tw I 08 Tw II 08 Tw III 08 Rp. Juta % Rp. Juta % Rp. Juta % Rp. Juta % Rp. Juta % Rp. Juta % 1. Modal Kerja 272,714 33.85 295,232 27.75 313,938 35.19 187,827 43.16 177,914 37.19 130,682 31.82 2. Investasi 128,008 15.89 321,818 30.24 210,946 23.65 108,571 24.95 92,539 19.34 69,304 16.88 3. Konsumsi 405,049 50.27 446,991 42.01 367,171 41.16 138,749 31.89 207,934 43.47 210,702 51.30 Jumlah 805,771 100 1,064,041 100 892,055 100.00 435,147 100.00 478,387 100.00 410,688 100.00 51
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH 5. Peran Intermediasi Perbankan dan Kondisi Non Performing Loans (NPL) gross Bank Umum di Provinsi Jambi Loan to Deposits Ratio (LDR) perbankan di Provinsi Jambi mengalami peningkatan signifikan sebesar 605 bps dibandingkan triwulan sebelumnya sehingga menjadi 72,85%. 26 Peningkatan rasio LDR mencerminkan semakin membaiknya fungsi intermediasi perbankan di daerah. Pertumbuhan kredit yang masih tumbuh positif (6,73%) pada triwulan laporan menunjukkan bahwa perbankan memiliki komitmen yang kuat untuk terus berusaha seoptimal mungkin untuk menyalurkan kredit dalam rangka turut serta mendorong pembangunan daerah. Rp juta 12,000,000 Grafik 3.3 Perkembangan Loan To Deposit Ratio (LDR) Bank Umum Provinsi Jambi 98.92% 110% 10,000,000 83.95% 87.15% 86.94% 88.05% 83.26% 87.33% 90% 8,000,000 58.18% 59.23% 59.84% 60.40% 62.78% 66.80% 72.85% 70% 6,000,000 50% 4,000,000 30% 2,000,000 10% - I II III IV I II III* 2007 2008 Kredit Lokasi Proyek (Rp juta) Kredit Perbankan Jambi (Rp juta) DPK Perbankan (Rp juta) -10% LDR Lokasi Proyek (persen) LDR Perbankan Jambi (persen) Sementara itu, tumbuhnya LDR berdasarkan lokasi proyek pada triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya berasal dari meningkatnya penyaluran kredit untuk sektor lain-lain dan sektor jasa-jasa. 27 Secara nominal, penyaluran kredit lokasi proyek sektor lain-lain tumbuh sebesar Rp293,98 miliar, sektor jasajasa (Rp78,98 miliar) serta kredit sektor pertanian (Rp68,54 miliar). Disamping itu, 26 LDR perbankan disini maksudnya rasio antara kredit yang disalurkan oleh bank umum dibandingkan dengan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang dilakukan bank umum pada triwulan laporan. 27 Yang dimaksud LDR berdasarkan lokasi proyek adalah rasio antara kredit yang disalurkan berdasarkan lokasi proyek oleh bank umum dibandingkan dengan penghimpunan DPK bank umum pada triwulan laporan. 52
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH pertumbuhan kredit lokasi proyek berdasarkan sektor ekonomi untuk sebagian besar sektor-sektornya juga masih menunjukkan akselerasi yang cukup baik jika dibandingkan triwulan sebelumnya sehingga secara total kredit lokasi proyek mengalami peningkatan. Grafik 3.4 Loan to deposit Ratio (LDR) Berdasarkan Lokasi Proyek per kabupaten/kota di Provinsi Jambi 1 Tanjung Jabung Timur Kerinci Sarolangun Tanjung Jabung Barat Kota Jambi Muara Jambi Merangin Batanghari Tebo Bungo LDR <100% 0 50 100 150 200 250 300 LDR kredit berdasarkan lokasi proyek secara total per kabupaten/kota di Provinsi Jambi meningkat sebesar 11,58 bps, yaitu dari 87,33% menjadi 98,92%. 28 Pada triwulan laporan, Kabupaten Tebo memiliki LDR tertinggi yaitu 267,44% di antara sepuluh kota/kabupaten di Provinsi Jambi, diikuti oleh Kabupaten Batanghari dan Kabupaten Muara Jambi masing-masing dengan LDR sebesar 230,09% dan 204,93%. Sementara itu, terdapat 4 (empat) kabupaten dengan tingkat LDR kurang dari 100% dengan LDR terendah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat masing-masing sebesar 21,30% dan 63,30%. Sejalan dengan perbaikan rasio LDR bank umum, kualitas penempatan dana perbankan daerah dalam bentuk kredit menunjukkan perbaikan 28 Yang dimaksud LDR berdasarkan lokasi proyek per kabupaten/kota adalah rasio antara kredit lokasi proyek perbankan (bank umum dan BPR) dibandingkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) bank umum. Untuk kredit lokasi proyek per kabupaten/kota belum dipisahkan antara kredit lokasi proyek bank umum dengan BPR. Sumber: Statistik Ekonomi Keuangan Daerah, September 2008. 53
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) gross bank umum yang mengalami penurunan sebesar 24 bps, yaitu dari 2,84% pada triwulan sebelumnya menjadi 2,60% pada triwulan laporan. Penurunan rasio NPL terjadi pada sektor pertanian, sektor perindustrian, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor pengangkutan, sektor jasa-jasa dunia usaha dan sektor lain-lain. Tabel 3.8 Perkembangan Non Performing Loan (NPL) Gross Bank Umum Provinsi Jambi TW II-08 TW III-08 Sektor Ekonomi Kredit Nominal NPL NPL (%) Kredit Nominal NPL NPL (%) 1. Pertanian 817,879 64,891 7.93 932,353 57,476 6.16 2. Pertambangan 25,816 9 0.03 16,221 9 0.06 3. Perindustrian 404,713 13,096 3.24 406,448 13,119 3.23 4. Listrik, Gas dan Air 32,963-31,661 - - 5. Konstruksi 298,263 2,720 0.91 310,119 4,854 1.57 6. Perdagangan, Restoran dan Hotel 2,019,320 64,352 3.19 2,071,416 63,750 3.08 7 Pengangkutan, Pergudangan dan Komunikasi 165,956 521 0.31 165,777 434 0.26 8. Jasa-jasa Dunia Usaha 252,956 4,607 1.82 299,342 4,463 1.49 9. Jasa-jasa Sosial Masyarakat 119,731 519 0.43 130,359 568 0.44 10. Lain-lain 2,783,614 46,160 1.66 3,023,590 47,102 1.56 J U M L A H 6,921,211 196,875 2.84 7,387,286 191,775 2.60 Berdasarkan sektor ekonomi, NPL tertinggi pada sektor pertanian sebesar 6,16%, diikuti sektor industri sebesar 3,23% dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 3,08%. Masih tingginya NPL pada sektor pertanian terutama berasal dari outstanding kredit yang disalurkan melalui penyaluran kredit program terdahulu di beberapa bank pemerintah guna mensukseskan program pembangunan di sektor pertanian yang masih terhambat. Sementara itu, NPL sektor-sektor ekonomi lainnya masih berada dalam kategori baik (dibawah 5%). 6. Perkembangan UMKM Pada triwulan laporan, kredit UMKM bank umum tumbuh 9,03%, menurun jika dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mampu mencapai 15,29% (lihat grafik 3.6). Namun demikian, pangsa kredit UMKM terhadap total kredit bank umum sebesar 83,66%, meningkat jika dibandingkan dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 81,89%. 54
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Grafik 3.5 Pangsa Kredit Bank Umum Provinsi Jambi Non-UMKM 16.34% Mikro 36.22% Menengah 19.19% Kecil 28.25% Pertumbuhan kredit UMKM yang disalurkan turut diimbangi dengan perbaikan kualitas kredit. Hal ini dicerminkan dengan penurunan rasio NPL UMKM pada triwulan laporan sebesar 23 bps sehingga menjadi 2,34%. Dilihat dari distribusinya, kredit UMKM sektor usaha mikro masih memiliki pangsa yang terbesar yaitu 36,22% lalu diikuti sektor usaha kecil sebesar 28,25%, serta sektor usaha menengah sebesar 19,19%. Kredit non-umkm atau kredit yang nominalnya lebih dari Rp5 miliar memiliki pangsa sebesar 19,19% dari total kredit pada triwulan III tahun 2008. Grafik 3.6 Perkembangan Kredit UMKM Bank Umum Provinsi Jambi Miliar Rp 3,000 Persen 20.00 18.60 18.00 2,500 Mikro Kecil Menengah Pertumbuhan UMKM (%) 15.29 16.00 2,000 14.00 1,500 1,000 9.17 6.54 11.02 8.46 5.98 5.75 6.89 7.19 7.49 9.09 6.10 6.23 9.80 9.82 11.89 7.06 6.13 12.00 10.00 9.03 8.00 6.00 500 3.73 3.32 3.86 4.59 4.90 3.60 4.00 1.76 2.00 - TW I- 02 TW II- 02 TW III-02 TW TW I- TW II- IV-02 03 03 TW III-03 TW IV-03 TW I- TW II- 04 04 TW III-04 TW TW I- TW II- IV-04 05 05 TW III-05 TW TW I- TW II- IV-05 06 06 TW III-06 TW IV-06 TW I- TW II- 07 07 TW III-07 TW TW I- TW II- IV-07 08 08 TW III-08 0.00 *) Mulai Triwulan IV tahun 2006 termasuk Bank Syariah Peningkatan laju pertumbuhan kredit UMKM bank umum sebesar 9,03% pada triwulan laporan didorong oleh pertumbuhan positif kredit usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah masing-masing sebesar 7,07%, 13,12% dan 55
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH 7,05%. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit UMKM masih didominasi oleh kredit konsumsi yang pangsanya mencapai 48,43%, diikuti kredit modal kerja sebesar 37,85% serta kredit investasi sebesar 13,72%. 7. Profitabilitas Kondisi profitabilitas perbankan di Provinsi Jambi pada triwulan laporan menunjukkan penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun demikian, jika dibandingkan triwulan III tahun 2007, profitabilitas (net) perbankan menunjukkan peningkatan sebesar Rp19,47 miliar. Persen (%) 20 Grafik 3.7 Perkembangan Suku Bunga Rata-rata Tertimbang Kredit dan Deposito Bank Umum Provinsi Jambi 18 16 Margin SBI Deposito 3 Bulan Kredit 14 12 10 8 6 4 2 7.18 6.83 6.72 5.87 4.64 4.89 3.773.53 3.65 3.8 4.144.48 5.55 6.286.626.796.8 6.917.397.19 7.737.73 7.1 7.076.856.826.927.06 5.97 7.076.736.596.42 5.95 4.19 3.57 3.97 4.57 0 Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus 2005 2006 2007 2008 Dilihat dari spread bunga (grafik 3.7), terlihat bahwa perbankan di Provinsi Jambi masih cukup menikmati margin keuntungan dari bunga yang cukup tinggi. Walaupun margin rata-rata tertimbang antara suku bunga kredit dengan suku bunga deposito 3 (tiga) bulan sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya (6,59%), pada triwulan laporan perbankan masih menikmati spread bunga rata-rata tertimbang sebesar 5,95%. Penurunan laba tersebut antara lain dikarenakan perbankan Jambi masih memberikan imbal jasa (suku bunga deposito 3 bulan) yang lebih tinggi jika dibandingkan triwulan sebelumnya dari sebesar 7,46% menjadi 8,37%. Sehingga, beban bunga yang ditanggung pada triwulan ini relatif lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya. 56
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH Semenjak bulan Juni 2008, perbankan secara bertahap terus menaikkan suku bunga kreditnya dari sebesar 14,05% menjadi 14,32%. Meningkatnya BIrate pada triwulan laporan sebesar 50 bps sehingga menjadi 9,00% 29 yang merupakan kelanjutan kenaikan BI-rate mulai bulan Mei 2008 telah direspon secara berarti oleh pihak perbankan dengan meningkatkan suku bunga kreditnya. Suku bunga kredit cenderung meningkat secara terbatas jika dibandingkan BI rate. Suku bunga kredit (weighted average) meningkat sebesar 27 bps dari sebesar 14,05% pada akhir triwulan II tahun 2008 menjadi sebesar 14,32% pada triwulan laporan. Kenaikan suku bunga kredit tentunya memberikan tekanan pada dunia usaha yang akan berdampak pada kenaikan harga-harga secara umum yang berimbas pada konsumen akhir. Grafik 3.8 Perkembangan Laba Rugi Triwulanan Tw III 08 Tw II 08 Tw I 08 Tw IV 07 Tw III 07 Tw II 07 Tw I 07 Tw IV 06 Tw III 06 Tw II-06-50 100 150 200 Miliar Rp L/R (sblm transfer & pajak) L/R (net) Sementara itu, selama periode triwulan III tahun 2008 perbankan di Provinsi Jambi mencatat laba bersih (net) sebesar Rp109,18 miliar. Laba pada triwulan ini meningkat jika dibandingkan dengan laba pada triwulan III tahun 2007 yang mencapai Rp89,71 miliar. Namun, jika dibandingkan dengan triwulan II tahun 2008, laba pada triwulan laporan menurun sebesar 15,72%. 29 Posisi BI rate s.d. bulan Agustus 2008. 57
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH C. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 30 Jumlah aset seluruh BPR di Provinsi Jambi mencapai Rp225,56 miliar, naik sebesar 3,09% dibanding pada triwulan sebelumnya sebesar Rp218,79 miliar. Sedangkan jumlah penghimpunan dana BPR di Provinsi Jambi sebesar Rp169,13 miliar atau meningkat sebesar 2,09% dibanding triwulan sebelumnya. Peningkatan DPK tersebut berasal dari simpanan tabungan maupun simpanan berjangka. Tabungan naik sebesar 1,45% mencapai Rp441 juta dan simpanan berjangka yang naik sebesar 2,23% mencapai Rp3,01 miliar. Di sisi lain, jumlah kredit yang disalurkan oleh BPR menunjukkan penurunan sebesar 2,17% sehingga menjadi Rp163,03 miliar. Sejalan dengan hal tersebut, fungsi intermediasi BPR di Provinsi Jambi yang dicerminkan dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) menurun sebesar 419 bps dari sebesar 100,58% menjadi sebesar 96,39%. Namun demikian, rasio Non Performing Loans (NPLs) terhadap kredit menunjukkan perbaikan yang ditunjukkan dengan penurunan persentase kredit macet sebesar 34 bps dari 6,25% menjadi sebesar 5,91%. 30 58 Data s.d. Bulan Agustus 2008.
BAB IV KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH A. Umum Terlambatnya proses pengesahan APBD Provinsi Jambi (tidak termasuk anggaran pemerintah kota dan kabupaten) berdampak pada masih rendahnya realisasi belanja sampai dengan semester I tahun 2008. Namun, perkembangan realisasi pendapatan sampai dengan semester I tahun 2008 cukup baik. Dari sisi anggaran pendapatan, jumlah anggaran pendapatan daerah Provinsi Jambi tahun 2008 sebesar Rp1.136,134 miliar atau naik 18,85% dibandingkan anggaran pendapatan tahun sebelumnya sebesar Rp955,96 miliar. Sementara itu, anggaran belanja daerah mencapai Rp1.429,178 miliar meningkat 10,65% dari anggaran belanja tahun sebelumnya sebesar Rp1.291,60 miliar. Grafik 4.1. Perkembangan APBD Provinsi Jambi miliar (Rp) Persen (%) 1400 140 Realisasi Pendapatan (aksis kiri) Realisasi Belanja (aksis kiri) % Realisasi Pendapatan (aksis kanan) % Realisasi Belanja (aksis kanan) 1200 120 1000 100 800 80 600 60 400 40 200 20 0 TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV SMT I SMT II SMT I 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Biro Keuangan (diolah) Mulai tahun 2007, laporan realisasi APBD per-semester 0 59
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH Realisasi penerimaan pajak pusat di wilayah Jambi menurun sebesar 38,21%(Rp289,44 miliar) atau menjadi sebesar Rp468,01 miliar. Sedangkan realisasi belanja pada triwulan laporan sebesar Rp698,00 miliar atau meningkat 20,59%. Dengan kondisi tersebut, selisih antara pendapatan yang diterima dengan kegiatan belanja sebesar minus Rp229,99 miliar. Transfer dana bagi hasil pada triwulan laporan sebesar Rp44,46 miliar, menurun signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai Rp207,77 miliar. Sedangkan perkembangan simpanan pemerintah daerah di bank umum Provinsi Jambi menunjukkan tren yang menurun pada Triwulan III-2008. Tabel 4.1. APBD Provinsi Jambi Tahun 2008 Dalam miliar Rp URAIAN ANGGARAN REALISASI SMT.I-2008 2008 Nominal Persen PENDAPATAN 1,136.13 678.79 59.75 Pendapatan Asli Daerah 406.31 290.67 71.54 Pajak Daerah 351.44 256.55 73.00 Retribusi Daerah 23.58 6.06 25.69 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 2.96 0.15 5.07 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 28.33 27.92 98.54 Pendapatan Transfer 724.83 388.12 53.55 Transfer Pemerintah Pusat - Dana Perimbangan 713.83 388.09 54.37 Dana Bagi Hasil Pajak 125.00 80.92 64.73 Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (SDA) 95.57 26.37 27.59 Dana Alokasi Umum 468.80 273.47 58.33 Dana Alokasi Khusus 24.45 7.37 30.12 Transfer Pemerintah Pusat - Lainnya 11.00 0.03 0.25 Dana Penyesuaian 11.00 0.03 0.25 BELANJA 1,428.87 299.18 20.94 Belanja Operasi 772.01 196.24 25.42 Belanja Pegawai 416.20 158.35 38.05 Belanja Barang 335.38 30.70 9.15 Belanja Subsidi 0.00 0.00 #DIV/0! Belanja Hibah 2.64 2.50 94.63 Belanja Bantuan Sosial 11.29 0.61 5.38 Belanja Bantuan Keuangan 6.50 4.08 62.80 Belanja Modal 509.22 23.96 4.70 Belanja Tanah 2.24 0.09 4.20 Belanja Peralatan dan Mesin 45.64 2.42 5.29 Belanja Bangunan dan Gedung 89.22 5.52 6.18 Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan 356.87 15.93 4.46 Belanja Aset Tetap Lainnya 15.26 0.00 0.00 Belanja Tak Terduga 5.00 0.00 0.00 Belanja Tak Terduga 5.00 0.00 0.00 Transfer 142.65 78.99 55.37 Transfer Bagi Hasil Ke Kab/Kota/Desa 142.65 78.99 55.37 Bagi Hasil Pajak 142.65 78.99 55.37 Surplus/(Defisit) (292.74) 384.60 PEMBIAYAAN Pembiayaan Netto 293.04 60
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH B. REALISASI PENDAPATAN DAERAH Sampai dengan semester I tahun 2008, realisasi pendapatan Provinsi Jambi telah mencapai 59,75% atau setara dengan Rp678,79 miliar. Realisasi pendapatan ini lebih tinggi dibandingkan pencapaian realisasi pendapatan pada semester I tahun 2007 yang mencapai 49,21% dari APBD 2007. Sedangkan realisasi pendapatan asli daerah (PAD) sampai dengan semester I tahun 2008 sebesar Rp290,67 miliar atau telah mencapai 71,54% dari anggaran. Realisasi ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan semester yang sama tahun 2007 yaitu sebesar Rp191,77 miliar (52,54%). Grafik 4.2. Perkembangan Pendapatan APBD Provinsi Jambi miliar (Rp) persen (%) 1400 150 Pendapatan (aksis kiri) Realisasi Pendapatan (aksis kiri) 1200 % Realisasi Pendapatan (aksis kanan) 125 1000 100 800 75 600 400 50 200 25 0 TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV SMT I SMT II SMT I 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Biro Keuangan (diolah) Mulai tahun 2007, laporan realisasi APBD per-semester 0 Dari segi pencapaian realisasi pendapatan, komponen lain-lain pendapatan asli daerah yang sah memiliki realisasi tertinggi yang mencapai 98,54%, diikuti oleh komponen pajak daerah yang mencapai 73,00% serta komponen dana bagi hasil pajak yang sudah mencapai 64,73% pada semester I tahun 2008. C. REALISASI BELANJA DAERAH Belanja pemerintah Provinsi Jambi tahun 2008 secara garis besar terdiri dari belanja operasi, belanja modal, belanja tak terduga serta transfer. Sampai dengan semester I tahun 2008, realisasi belanja baru mencapai 20,94%. 61
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH Walaupun relatif rendah, namun masih lebih baik dibandingkan kondisi yang sama pada periode tahun 2007 yang hanya terealisasi sebesar 8,32%. Rendahnya realisasi belanja ini sebagai akibat terlambatnya pengesahan APBD tahun 2008. Disamping itu, relatif panjangnya proses tender dalam suatu proyek menyebabkan masih rendahnya realisasi belanja modal yang hanya mencapai 4,70% dari anggaran sebesar Rp509,22 miliar. Padahal belanja modal merupakan komponen penting dalam stimulus APBD dalam rangka mendukung perekonomian daerah serta meningkatkan daya saing Provinsi Jambi sebagai tujuan investasi yang menguntungkan. Sejalan dengan hal tersebut, belanja untuk jalan, irigasi dan jaringan baru terealisasi 4,46%. Relatif kecilnya realisasi belanja dimaksud berdampak pada masih belum membaiknya infrastruktur yang tersedia di Provinsi Jambi. Grafik 4.3. Perkembangan Belanja APBD Provinsi Jambi miliar (Rp) persen (%) 1600 150 1400 Belanja (aksis kiri) % Realisasi Belanja (aksis kanan) Realisasi Belanja (aksis kiri) 125 1200 1000 100 800 75 600 50 400 200 25 0 TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV SMT I SMT II SMT I 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber: Biro Keuangan Mulai tahun 2007, laporan realisasi APBD per-semester 0 Dari sisi belanja operasi, belanja pegawai sudah terealisasi sebesar 38,05% atau mencapai Rp158,35 miliar. Belanja barang dan belanja bantuan sosial sampai dengan semester I tahun 2008 baru terealisasi pada level yang cukup rendah, yaitu masing-masing sebesar 9,15% dan 5,38%. Namun demikian, belanja bantuan keuangan telah terealisasi sebesar 62,80% dari anggaran yang 62
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH tersedia sebesar Rp6,50 miliar. Sampai dengan semester I tahun 2008, belanja operasi sudah terealisasi sebesar Rp196,24 miliar atau mencapai 25,42%. Sementara itu, belanja tak terduga sebesar Rp 5,00 miliar masih belum terealisasi. Sedangkan belanja transfer sampai dengan semester I tahun 2008 sudah terealisasi sebesar 55,37% atau mencapai Rp78,99 miliar. Belanja transfer merupakan transfer bagi hasil pajak ke kabupaten/kota/desa di Provinsi Jambi. D. Keuangan Pemerintah Pusat di Daerah Penerimaan pajak pusat di wilayah Jambi pada triwulan III tahun 2008 terealisasi sebesar Rp468,01 miliar, menurun 38,21% dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara nominal, penerimaan pajak tertinggi dicapai oleh jenis pajak pendapatan pertambahan nilai sebesar Rp229,47 miliar, diikuti jenis pajak penghasilan sebesar Rp179,67 miliar, serta jenis pajak bumi dan bangunan sebesar Rp19,79 miliar. Tabel 4.2. Perkembangan Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DI DAERAH REALISASI PENDAPATAN Triwulan I 2008 Triwulan II 2008 Triwulan III 2008 Pertumbuhan Nominal (%) I Pendapatan Pajak Dalam Negeri 420,991,912,554 732,892,164,631 443,162,234,959 (289,729,929,672) (39.53) Pendapatan Pajak Penghasilan 181,019,739,634 148,101,394,575 179,675,007,970 31,573,613,395 21.32 Pendapatan Pajak Pertambahan Nilai 228,522,877,116 207,285,089,312 229,472,629,737 22,187,540,425 10.70 Pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan 1,433,815,920 364,868,670,243 19,798,619,033 (345,070,051,210) (94.57) Pendapatan BPHTB 4,275,948,609 5,733,657,421 7,021,119,074 1,287,461,653 22.45 Pendapatan Cukai 71,815,971 19,975,971 4,539,000 (15,436,971) (77.28) Pendapatan Pajak Lainnya 5,667,715,304 6,883,377,109 7,190,320,145 306,943,036 4.46 II Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional 28,150,920,481 13,828,047,619 9,923,402,032 (3,904,645,587) (28.24) Pendapatan Bea Masuk 3,438,961,521 4,537,763,725 4,483,129,331 (54,634,394) (1.20) Pendapatan Pajak/Pungutan Ekspor 24,711,958,960 9,290,283,894 5,440,272,701 (3,850,011,193) (41.44) III Penerimaan Sumber Daya Alam 885,000 - - - - Pendapatan Pertambangan Umum 885,000 - - - - IV Pendapatan PNPB Lainnya 19,059,940,523 10,727,651,075 14,923,197,494 4,195,546,419 39.11 Total Realisasi Pendapatan 468,203,658,558 757,447,863,325 468,008,834,485 (289,439,028,840) (38.21) Sumber: Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kanwil V Jambi, Laporan Arus Kas SAKUN Wilayah Jambi. Unaudited, diolah Berdasarkan pangsanya, pendapatan pajak dalam negeri memiliki pangsa paling besar yaitu 94,69% dari total penerimaan pajak pada triwulan laporan. Jika dirinci lagi dari pendapatan pajak dalam negeri, maka pendapatan pajak pertambahan nilai memiliki pangsa paling besar (51,78%), diikuti pajak penghasilan (40,54%), serta pajak bumi dan bangunan (4,47%). 63
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH Grafik 4.4. Pangsa Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi Grafik 4.5. Pangsa Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri di Provinsi Jambi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional 2.12% Penerimaan Sumber Daya Alam 0.00% Pendapatan PNPB Lainnya 3.19% Pendapatan BPHTB 1.58% Pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan 4.47% Pendapatan Cukai 0.00% Pendapatan Pajak Lainnya 1.62% Pendapatan Pajak Penghasilan 40.54% Pendapatan Pajak Dalam Negeri 94.69% Pendapatan Pajak Pertambahan Nilai 51.78% Grafik 4.4 Grafik 4.5 Dari sisi belanja pemerintah pusat di daerah, belanja pegawai (secara nominal) masih yang terbesar mencapai Rp253,74 miliar, diikuti dengan belanja modal yang mencapai Rp211,36 miliar. Peningkatan belanja pegawai terutama disumbangkan dari peningkatan belanja gaji dan tunjangan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa dana dari pemerintah pusat sebagian besar masih digunakan pemerintah daerah untuk membiayai kegiatan non-pembangunan. Tabel 4.3. Perkembangan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi REALISASI BELANJA KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DI DAERAH Triwulan I 2008 Triwulan II 2008 Pertumbuhan Nominal (%) I Belanja Pegawai 148,019,262,662 241,373,374,706 253,737,183,561 12,363,808,855 5.12 Belanja Gaji dan Tunjangan 143,909,236,589 223,988,765,160 234,308,418,370 10,319,653,210 4.61 Belanja Honorarium/Lembur/ Vakasi/Tunj Khusus 4,182,051,998 17,517,949,047 19,560,486,788 2,042,537,741 11.66 Belanja Kontribusi Sosial (72,025,925) (133,339,501) (131,721,597) 1,617,904 (1.21) II Belanja Barang 26,679,877,675 74,394,262,300 81,720,438,661 7,326,176,361 9.85 Belanja Barang 16,282,317,788 44,349,334,932 47,090,544,983 2,741,210,051 6.18 Belanja Jasa 2,588,704,495 6,913,803,776 9,206,497,267 2,292,693,491 33.16 Belanja Perjalanan 4,583,260,343 15,952,460,435 16,670,121,243 717,660,808 4.50 Belanja Pemeliharaan 3,225,595,049 7,178,663,157 8,753,275,168 1,574,612,011 21.93 III Belanja Denda dan Subsidi Perusahaan 120,718,775 600,497,972 845,879,062 245,381,090 40.86 Belanja Denda 120,718,775 120,275,472 4,031,562 (116,243,910) (96.65) Belanja Subsidi Perusahaan Negara - 480,222,500 841,847,500 361,625,000 75.30 IV Belanja Bantuan Sosial 36,304,640,073 63,913,243,441 128,138,180,304 64,224,936,863 100.49 Belanja Bantuan Sosial Lembaga Pendidikan dan Peribadatan 34,712,162,000 53,939,839,900 94,170,358,750 40,230,518,850 74.58 Belanja Lembaga Sosial Lainnya 1,592,478,073 9,973,403,541 33,967,821,554 23,994,418,013 240.58 V Belanja Lain-Lain 1,685,518,232 4,190,080,904 22,195,811,769 18,005,730,865 429.72 Belanja Lain-Lain 1,685,518,232 4,190,080,904 22,195,811,769 18,005,730,865 429.72 VI Belanja Modal 119,896,628,693 194,354,146,063 211,363,615,171 17,009,469,108 8.75 Belanja Modal Tanah 27,457,200 1,071,071,001 933,585,282 (137,485,719) (12.84) Belanja Modal Peralatan dan Mesin 2,843,580,450 10,247,255,075 20,507,572,654 10,260,317,579 100.13 Belanja Modal Gedung dan Bangunan 1,437,899,800 8,238,056,490 20,271,211,307 12,033,154,817 146.07 Belanja Modal Jalan, Irigasi, dan Jaringan 111,650,089,243 163,831,609,228 157,228,694,772 (6,602,914,456) (4.03) Belanja Pemeliharaan yang dikapitalisasi 113,645,000 109,080,350 561,459,300 452,378,950 414.72 Belanja Modal Fisik Lainnya 3,823,957,000 10,857,073,919 11,861,091,856 1,004,017,937 9.25 Total Realisasi Belanja 332,706,646,110 578,825,605,386 698,001,108,528 119,175,503,142 20.59 Sumber: Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kanwil V Jambi, Laporan Arus Kas SAKUN Wilayah Jambi. Unaudited, diolah Triwulan III 2008 64
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH Belanja modal yang sampai dengan triwulan III tahun 2008 baru terealisasi Rp525,61 miliar menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah untuk meningkatkan pembangunan di daerah masih bisa dioptimalkan lagi. Dengan kata lain, belanja pemerintah daerah untuk pembangunan seharusnya masih bisa terakselerasi lebih cepat dalam rangka mendorong perekonomian di daerah. Berdasarkan pangsanya, share tertinggi dari realisasi belanja adalah belanja pegawai sebesar 36,53%, diikuti dengan belanja modal yang mencapai 30,28%, serta belanja bantuan sosial yang mencapai 18,36%. Sedangkan belanja denda dan subsidi perusahaan negara memiliki pangsa terkecil yang hanya mencapai 0,12% dari total realisasi belanja. Grafik 4.6. Pangsa (Share) Realisasi Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi belanja lain-lain 3.18% belanja modal 30.28% belanja denda dan subsidi perusahaan negara 0.12% belanja bantuan sosial 18.36% belanja barang 11.71% belanja pegawai 36.35% E. Keuangan Pemerintah Daerah Perkembangan transfer dana bagi hasil (DBH) pada triwulan laporan menunjukkan penurunan sebesar 78,60% dari sebesar Rp207,77 miliar menjadi sebesar Rp44,46 miliar. Penurunan ini terutama disumbangkan oleh realisasi transfer DBH PBB untuk kabupaten/kota yang pada triwulan laporan turun signifikan menjadi sebesar Rp31,22 miliar dibandingkan triwulan sebelumnya Rp213,88 miliar. 65
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH Tabel 4.4. Perkembangan Realisasi Transfer Dana Bagi Hasil (DBH) Pemerintah Pusat di Provinsi Jambi URAIAN Triwulan I-2008 Triwulan II-2008 Triwulan III-2008 Pertumbuhan TRANSFER DANA BAGI HASIL Transfer Dana Bagi Hasil Pajak 72,111,960,017 207,770,068,036 44,459,927,591 (78.60) Transfer Dana Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan 4,008,099,953 268,250,050,842 39,030,191,970 (85.45) 611121 Transfer DBH PBB untuk Propinsi 210,191,865 53,644,672,383 7,806,038,372 (85.45) 611122 Transfer DBH PBB untuk Kabupaten/Kota 697,643,815 214,578,689,613 31,224,153,598 (85.45) 611123 Trnasfer DBH Biaya/Upah Pungut PBB untuk Propinsi 884,841,671 1,672,407 - (100.00) 611124 Trnasfer DBH Biaya/Upah Pungut PBB untuk Kabupaten/Kota 2,215,422,602 25,016,439 - (100.00) Transfer Dana Bagi Hasil Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 3,203,860,064 4,420,017,194 5,429,735,621 22.84 611131 Transfer DBH BPHTB untuk Propinsi 640,772,006 884,003,429 1,085,947,117 22.84 611132 Transfer DBH BPHTB untuk Kabupaten/Kota 2,563,088,058 3,536,013,765 4,343,788,504 22.84 Sumber: Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kanwil V Jambi, Laporan Arus Kas SAKUN Wilayah Jambi. Unaudited, diolah Sementara itu, perkembangan simpanan pemerintah daerah di perbankan Jambi mencapai Rp2,05 triliun pada triwulan laporan, menurun 1,70% dibandingkan triwulan sebelumnya. Berdasarkan pangsanya, simpanan pemerintah daerah di perbankan paling besar dalam bentuk giro (63,28%), diikuti dengan deposito sebesar 36,28%. Grafik 4.7. Perkembangan Deposito dan Giro Pemerintah Daerah Provinsi Jambi (dalam juta Rupiah) 1,600,000 1,400,000 Deposito Giro 1,200,000 1,000,000 800,000 600,000 400,000 200,000 - Jan-08 Feb-08 Mar-08 Apr-08 May-08 Jun-08 Jul-08 Aug-08 Tren simpanan pemerintah daerah (secara total) di perbankan mulai menunjukkan penurunan pada bulan Agustus 2008, walaupun penurunan tersebut masih relatif kecil. Penurunan ini terutama didorong oleh penurunan giro pemerintah, sementara simpanan berjangka (deposito) milik pemerintah daerah di perbankan menunjukkan tren peningkatan sejalan dengan membaiknya suku 66
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH bunga deposito. Penurunan giro pemerintah setidaknya dapat mengindikasikan bahwa pemerintah daerah sudah mulai ekspansif dalam membelanjakan anggaran pembangunan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Jambi. 67
Halaman ini sengaja dikosongkan
BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Pada periode triwulan laporan, aliran uang masuk/inflows dan aktivitas kliring mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Namun demikian, aliran uang keluar/outflows dan aktivitas RTGS (Real Time Gross Settlement) mengalami penurunan. Sebagaimana diketahui, perkembangan pembayaran tunai tercermin dari aliran uang masuk/inflows dan uang keluar/outflows dari kas Bank Indonesia yang berasal dari setoran dan pembayaran kepada bank-bank umum. Sementara, perkembangan pembayaran non-tunai dilihat dari aktivitas kliring dan RTGS. Uraian Tabel 5.1 Perkembangan Sistem Pembayaran Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah) 2007 2008 Pertumbuhan (q-t-q) Trw.I Trw.II Trw. III Trw. IV Trw.I Trw.II Trw. III Nominal Persen Nilai Kliring (juta Rp) 1,276,476 1,331,939 1,588,560 1,747,801 1,670,787 1,931,680 2,066,986 135,306 7.00 Volume Kliring (lembar warkat) 59,640 61,382 63,211 59,948 60,526 67,008 68,947 1,939 2.89 Aliran Uang Masuk/Inflows (juta Rp) 363,925 178,978 143,278 344,254 270,141 129,608 226,795 97,187 74.99 Aliran Uang Keluar/Ouflows (juta Rp) 513,429 994,398 751,197 1,511,935 732,444 1,242,066 1,191,144 (50,922) (4.10) Net Inflows/ (Net Outflows) (juta Rp) (149,504) (815,420) (607,919) (1,167,681) (462,303) (1,112,458) (964,349) 148,109 (13.31) Penemuan Uang Palsu - Pecahan Rp100.000,00 - - - - - 1 - (1) (100) - Pecahan Rp50.000,00 - - - - - - - - - - Pecahan Rp20.000,00 - - - - - 1 - (1) (100) - Pecahan Rp10.000,00 - - - - - - - - - Jumlah PTTB (juta Rp) 131,345 141,328 84,082 95,963 79,425 63,853 63,707 (146) (0.23) Perbandingan PTTB thd. Inflows (%) 36.09 78.96 58.68 27.88 29.40 49.27 28.09 Cek dan BG Kosong - Lembar 364 282 308 612 545 557 808 251 45.06 - Nominal (juta Rp) 8,196 8,853 8,442 14,439 13,453 14,724 28,487 13,763 93.47 A. Perkembangan Alat Pembayaran Tunai A.1. Aliran Uang Kartal Melalui Bank Indonesia Jambi Pada triwulan laporan, perkembangan aktivitas penerimaan (inflow) mengalami pertumbuhan sedangkan aktivitas pembayaran (outflow) mengalami penurunan dibandingkan dengan periode triwulan sebelumnya. Namun demikian, jika dilihat pergerakan outflow secara bulanan menunjukkan bahwa di bulan September 2008 outflow mampu mencapai sebesar Rp743,03 miliar atau hampir sebesar 62,38% dari total outflow triwulan laporan. Peningkatan aliran 69
PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN uang keluar (outflow) pada bulan September 2008 antara lain disebabkan oleh kebutuhan masyarakat terhadap alat pembayaran tunai yang mengalami kenaikan sehubungan dengan persiapan masyarakat menyambut Hari Raya Idul Fitri 1429 H. Grafik 5.1 Inflows, Outflows, Netflows dan Perkembangan Netflows di Provinsi Jambi Rp miliar 1,600 Persen 500 1,400 1,200 1,000 800 600 400 200 400 300 200 100 0-100 0 Q1- Q2- Q3- Q4- Q1- Q2- Q3- Q4- Q1- Q2- Q3- Q4- Q1- Q2- Q3- Q4- Q1- Q2- Q3- Q4- Q1- Q2- Q3-03 03 03 03 04 04 04 04 05 05 05 05 06 06 06 06 07 07 07 07 08 08 08 Inflows Outflows Net Outflows Pert. Net Outflows (%) -200 Pada triwulan laporan, aliran kas keluar bersih (net cash outflow) menurun sebesar 13,31% yang ditandai dengan penurunan aliran kas keluar bersih (net cash outflow) sebesar Rp148,11 miliar menjadi Rp964,35 miliar. Penurunan net cash outflow tersebut ditandai oleh menurunnya aliran kas keluar (cash outflow) sebesar 4,10%, yaitu dari Rp1.242,07 miliar menjadi Rp 1.191,14 miliar. A.2. Penyediaan Uang Layak Edar Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) terhadap uang kartal yang tidak layak edar (lusuh/rusak) yang masuk ke Bank Indonesia ditujukan untuk menjaga kelayakan uang yang diedarkan (fit for circulation). Pada triwulan laporan, jumlah ratio PTTB dibandingkan inflows sebesar 28,09% (Rp63,70 miliar). A.3. Perkembangan Jumlah Uang Palsu yang Ditemukan Pada triwulan laporan tidak ditemukan uang palsu pada pecahan berapapun. Untuk menjaga tidak beredarnya uang palsu di Provinsi Jambi, Kantor 70
PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Bank Indonesia Jambi masih terus melakukan kegiatan Sosialisasi Ciri-ciri Keaslian Uang Rupiah kepada masyarakat. B. Perkembangan Alat Pembayaran Non Tunai B.1. Perkembangan Kliring Lokal Lalu lintas pembayaran non tunai melalui kliring lokal pada triwulan laporan sebesar Rp2.066,99 miliar atau meningkat sebesar 7,00% dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar Rp1.931,68 miliar. Perkembangan tersebut diikuti juga dengan peningkatan jumlah warkat kliring sebesar 2,89%, yaitu dari 67.008 lembar menjadi 68.947 lembar. Di sisi lain, jumlah nominal penolakan kliring meningkat signifikan sebesar 93,47%, yaitu dari Rp14,72 miliar menjadi Rp28,49 miliar. Peningkatan jumlah nominal penolakan kliring diikuti juga dengan peningkatan cek dan BG kosong. Pada triwulan laporan, jumlah lembar cek dan BG kosong meningkat sebesar 45,06%, yaitu dari 557 lembar menjadi 808 lembar. Grafik 5.2 dan 5.3 Perkembangan Nominal dan Volume Kliring dalam miliar Rupiah 2,400 Persen 35 lembar warkat 120,000 Persen 15 2,100 1,800 1,500 25 15 100,000 80,000-1,200 5 60,000 900 600 300 (5) (15) 40,000 20,000 (15) - Trw.I Trw.II Trw. III Trw. IV Trw.I Trw.II Trw. III (25) - Trw.I Trw.II Trw. III Trw. IV Trw.I Trw.II Trw. III (30) 2007 2008 2007 2008 Nilai Kliring Pertumbuhan Nilai Kliring Volume Kliring Pertumbuhan Volume Kliring Grafik 5.2 Grafik 5.3 B.2. Transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS) Pada triwulan laporan, transaksi melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI RTGS) di Kantor Bank Indonesia Jambi secara total (keluar dan masuk/dari dan ke) menurun sebesar 30,42% sehingga menjadi sebesar Rp16,16 triliun dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya mencapai Rp23,23 triliun. Transfer keluar dari Provinsi Jambi turun sebesar Rp1,48 triliun (23,31%), dan transfer masuk ke Provinsi Jambi menurun sebesar Rp5,58 triliun (33,09%) pada triwulan III tahun 2008. 71
PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Tabel 5.2 Perkembangan Transaksi RTGS (dalam miliar rupiah) Kumulatif Triwulanan Rata-Rata Harian Pertumbuhan Keterangan Kumulatif triwulanan Rata-rata harian Dari Ke Dari Ke Dari Ke Dari Ke TW IV-06 7,711.43 6,850.96 130.70 116.12 19.46 38.01 27.56 47.37 TW I-07 5,552.37 4,540.66 89.55 73.24 (28.00) (33.72) (31.48) (36.93) TW II-07 5,469.05 11,659.81 88.21 188.06 (1.50) 156.79 (1.50) 156.79 TW III-07 6,683.00 15,264.37 102.82 234.84 22.20 30.91 16.56 24.87 TW IV-07 6,789.21 14,003.22 113.15 233.39 1.59 (8.26) 10.06 (0.62) TW I-08 5,620.00 16,025.00 93.67 267.08 (17.22) 14.44 (17.22) 14.44 TW II-08 6,351.75 16,874.15 100.82 267.84 13.02 5.30 7.64 0.28 TW III-08 4,871.05 11,290.37 77.32 179.21 (23.31) (33.09) (23.31) (33.09) Sumber: www.bi.go.id & KBI Jambi 72
BAB VI KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Pada periode triwulan laporan, jumlah pencari kerja berdasarkan jenjang pendidikan meningkat 34,59% jika dibandingkan dengan triwulan II tahun 2008. Sejalan dengan hal tersebut, hasil survei ekspektasi konsumen (SEK) pada periode triwulan laporan mulai menunjukkan perbaikan nilai saldo kondisi pengangguran serta ekspektasi masyarakat terhadap kondisi pengangguran. 31 Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan laporan (posisi bulan Agustus 2008) mengalami penurunan jika dibandingkan triwulan sebelumnya (posisi Juni 2008). Sementara itu, rasio Upah Minimum Provinsi (UMP) terhadap kebutuhan hidup minimum (KHM)/kebutuhan hidup layak (KHL) pada triwulan III tahun 2008 menurun sebesar 427 bps jika dibandingkan triwulan II tahun 2008. 32 A. Ketenagakerjaan Daerah Berdasarkan data ketenagakerjaan yang dikeluarkan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jambi pada triwulan III tahun 2008 (data sementara, s.d. bulan Agustus 2008), jumlah pencari kerja meningkat 34,59% dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni dari 4.573 orang menjadi 6.155 orang. 33 Secara nominal, jumlah pencari kerja didominasi oleh tingkat pendidikan sekolah menegah atas (SMA) sebesar 2.397 orang, atau meningkat 34,44% dibandingkan triwulan sebelumnya, diikuti dengan jumlah pencari kerja dari sarjana sebanyak 862 orang, atau meningkat 39,71% dibandingkan triwulan sebelumnya. Berdasarkan distribusinya (share), pencari kerja dengan jenjang 31 Nilai saldo pengangguran meningkat artinya masyarakat menilai saat ini jumlah pengangguran mulai turun. 32 Rasio Upah Minimum Provinsi (UMP) terhadap kebutuhan hidup minimum (KHM)/kebutuhan hidup layak (KHL) dinyatakan dalam satuan persen (%). 33 Mulai tahun 2008, jumlah pencari kerja dihitung berdasarkan pertambahannya. 73
KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN pendidikan SMA merupakan bagian terbesar pencari kerja (38,94% dari jumlah pencari kerja) diikuti oleh lulusan sarjana (S1) sebesar 14,00%. Tabel 6.1. Pertambahan Jumlah Pencari Kerja per Jenjang Pendidikan di Provinsi Jambi No. Jenjang Pendidikan Trw.II-08 Trw.III-08 Pertumbuhan Jumlah Share Jumlah Share Jumlah Persen I. 1. Tidak Tamat SD 50 1.09 51 0.83 1 2.00 2. Tamat SD 107 2.34 138 2.24 31 28.97 II. 1. SLTP Umum 224 4.90 281 4.57 57 25.45 2. SLTP Kejuruan 34 0.74 46 0.75 12 35.29 III. 1. SMA 1,783 38.99 2,397 38.94 614 34.44 2. STM 527 11.52 673 10.93 146 27.70 3. SMEA 418 9.14 608 9.88 190 45.45 4. SPG/SGO 67 1.47 67 1.09 - - 5. SKKA 11 0.24 15 0.24 4 36.36 6. SPMA 31 0.68 76 1.23 45 145.16 7. SLTA Lainnya 128 2.80 211 3.43 83 64.84 IV. 1. Diploma / Akta I/II 206 4.50 303 4.92 97 47.09 2. Akademi / Akta III 370 8.09 427 6.94 57 15.41 3. Sarjana (S1) 617 13.49 862 14.00 245 39.71 JUMLAH 4,573 100.00 6,155 100.00 1,582 34.59 Sumber: Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jambi Berdasarkan survei ekspektasi konsumen, jumlah penganguran saat ini dibandingkan 6 s.d 12 bulan yang lalu menunjukkan perbaikan. Kondisi ini tercermin dari meningkatnya nilai saldo kondisi pengangguran dari sebesar 24,67 pada triwulan II tahun 2008 menjadi 66,67 pada triwulan III tahun 2008. Sedangkan nilai saldo ekspektasi konsumen terhadap kondisi pengangguran juga membaik yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai saldo yaitu dari sebesar Grafik 6.1. Grafik Nilai Saldo Ekspektasi Pengangguran dan Kondisi Pengangguran Indeks 120.00 100.00 Ekspektasi pengangguran Kondisi pengangguran 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III 2005 2006 2007 2008 Sumber: Bank Indoneisa (diolah) 74
KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN 34,67 menjadi 70,67. Namun demikian, walaupun menunjukkan perbaikan, nilai saldo kondisi pengangguran serta ekspektasi terhadap pengangguran masih berada pada level pesimis pada triwulan laporan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memandang kondisi ketenagakerjaan masih kurang kondusif. B. Kesejahteraan Masih relatif tingginya inflasi Kota Jambi pada triwulan laporan (13,68%/y-o-y), tentunya merupakan cerminan kenaikan harga barang dan jasa yang cukup tinggi. Meningkatnya harga-harga beberapa kebutuhan pokok pada triwulan laporan pada akhirnya menyebabkan naiknya kebutuhan hidup minimum (KHM)/kebutuhan hidup layak (KHL) per bulan di Provinsi Jambi sebesar 5,13%, yaitu dari Rp846.992,65 menjadi Rp890.437,75. Grafik 6.2. Perkembangan Harga Rata-rata Bulanan Beberapa Bahan Kebutuhan Pokok Rp 140,000 Rp 6,000 Rp 8,000 7,000 120,000 5,500 6,000 5,000 100,000 5,000 4,000 80,000 4,500 3,000 2,000 60,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2007 2008 4,000 1,000-1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2007 2008 Merk Anggur Merk King Merk Belida IR 64 (aksis kanan) IR 42 (aksis kanan) Perkembangan Harga Beras Segi Tiga Biru Merk Lencana Perkembangan Harga Tepung Terigu Rp 16,000 Rp 40,000 Rp 20,000 14,000 32,000 16,000 12,000 10,000 8,000 6,000 24,000 16,000 8,000 12,000 8,000 4,000 4,000 2,000-1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 - - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2007 2008 Ayam Kampung (aksis kiri) Susu Merk Dancow (aksis kiri) 2007 2008 Kacang Kedelai Impor Bawang Merah Bimoli Botol Special Tanpa Merk Perkembangan Harga Minyak Goreng Perkembangan Harga Komoditas lainnya Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, 2008. Beberapa bahan kebutuhan pokok (lihat Grafik 6.2) masih mengalami tren kenaikan harga selama periode triwulan laporan. Harga beras ukuran 20 kg, yaitu Merek Anggur, Merek King dan Merek Belida mengalami kenaikan harga 75
KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN pada kisaran Rp4.000-Rp6.166/20kg selama periode triwulan laporan. 34 Sedangkan harga rata-rata bulanan komoditas beras (IR 42 dan IR 64) relatif stabil harganya. Pada periode triwulan laporan, harga rata-rata bulanan daging ayam dan daging sapi mengalami peningkatan masing-masing sebesar Rp534/kg dan Rp5.667/kg. Pada triwulan laporan, tantangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya semakin berat. Sebagaimana diketahui, Upah Minimum Provinsi (UMP) 35 Provinsi Jambi tahun 2008 yang telah ditetapkan sebesar Rp742.000, atau meningkat sebesar 10,03% dibandingkan tahun 2007. Namun, meningkatnya harga bahan-bahan kebutuhan pokok pasca kenaikan harga BBM serta selama bulan Ramadhan menyebabkan rasio UMP terhadap KHM/KHL mengalami penurunan dari 87,60% pada triwulan II tahun 2008 menjadi 83,33% pada triwulan III tahun 2008. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan UMP dalam menutupi KHM/KHL relatif semakin menurun. Bagi para pekerja yang mendapatkan upah sesuai dengan UMP atau bahkan dibawah UMP tentunya sangat berat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk melihat indikator kesejahteraan petani pada triwulan laporan, antara lain dapat menggunakan Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi pada bulan Agustus 2008. Pada bulan Agustus 2008, NTP sebesar 102,87 atau turun 1,11% dibandingkan bulan Juni (104,02). 36 Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian relatif lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian. Indeks harga yang diterima petani (It) dari 5 sub sektor menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada bulan Agustus 2008, It mengalami kenaikan sebesar 1,49% dibandingkan bulan Juni 34 Sumber: Disperindag Provinsi Jambi, 2008. 35 Biasanya Upah Minimun Provinsi disesuaikan 1 (satu) tahun sekali. 36 NTP adalah angka perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam bentuk persentase. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang atau jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Sehingga, NTP dapat dikatakan sebagai cerminan atau indikator relatif tingkat kesejahteraan petani. 76
KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN 2008. Sementara itu, dari 5 sub sektor NTP, sebanyak 4 sub sektor masih mengalami peningkatan indeks yaitu hortikultura 3,05%), perkebunan rakyat (2,60%), peternakan (1,18%), serta perikanan (0,75%). Tabel 6.2. Nilai Tukar Petani (NTP) Per Sub Sektor (2007=100) BULAN PERSENTASE PERUBAHAN (%) KELOMPOK DAN SUB KELOMPOK APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS (Juni Ke Agustus) 1 Tanaman Padi Palawija a Indeks Diterima Petani 96.88 107.54 110.8 109.19 109.65-1.04 - Padi 92.78 104.31 108.07 104.69 104.69-3.13 - Palawija 112.86 120.13 121.46 126.7 128.95 6.17 b Indeks Dibayar Petani 108.56 110.2 113.23 114.72 115.55 2.05 - Indeks Konsumsi Rumah Tangga 107.48 109.24 112.23 113.96 114.96 2.43 - Indeks BPPBM 113.1 114.23 117.42 117.89 118.02 0.51 Nilai Tukar Petani (NTP-P) 89.23 97.59 97.86 95.18 94.89-3.03 2 Hortikultura a Indeks Diterima Petani 118.35 119.23 121.68 123.77 125.39 3.05 - Sayur-sayuran 126.76 126.42 128.48 132.87 135.34 5.34 - Buah-buahan 108.16 110.52 113.44 112.75 113.35-0.08 b Indeks Dibayar Petani 107.75 109.76 113.06 114.67 115.53 2.18 - Indeks Konsumsi Rumah Tangga 107.13 108.88 111.86 113.6 114.6 2.45 - Indeks BPPBM 110.11 113.1 117.61 118.76 119.1 1.27 Nilai Tukar Petani (NTP-H) 109.83 108.63 107.63 107.93 108.54 0.85 3 Tanaman Perkebunan Rakyat a Indeks Diterima Petani 116.21 119.94 125.59 133.15 128.86 2.60 - Tanaman Perkebunan Rakyat 116.21 119.94 125.59 133.15 128.86 2.60 b Indeks Dibayar Petani 107.11 110.84 114.05 116.74 117.93 3.40 - Indeks Konsumsi Rumah Tangga 108.17 110.68 113.69 116.03 117.21 3.10 - Indeks BPPBM 103.03 111.42 115.44 119.5 120.69 4.55 Nilai Tukar Petani (NTP-Pr) 108.5 108.21 110.12 114.06 109.27-0.77 4 Peternakan a Indeks Diterima Petani 103.27 105.24 105.85 107.1 107.1 1.18 - Ternak Besar 101.69 102.31 102.31 102.31 102.31 0.00 - Ternak Kecil 109.84 109.84 109.84 109.84 109.84 0.00 - Unggas 101.15 108.45 111.28 116.69 116.69 4.86 - Hasil Ternak 118.66 116.8 116.05 116.05 116.05 0.00 b Indeks Dibayar Petani 106.63 108.63 111.39 112.3 112.87 1.33 - Indeks Konsumsi Rumah Tangga 106.06 107.98 110.88 112.37 113.37 2.25 - Indeks BPPBM 107.43 109.52 112.09 112.19 112.19 0.09 Nilai Tukar Petani (NTP-Pt) 96.84 96.88 95.03 95.37 94.88-0.16 5 Perikanan a Indeks Diterima Petani 103.77 103.77 103.77 104.55 104.55 0.75 - Penangkapan 100.52 100.52 100.52 100.52 100.52 0.00 - Budidaya 110.02 110.02 110.02 112.31 122.31 11.17 b Indeks Dibayar Petani 104.99 109.24 112.65 114.35 115.03 2.11 - Indeks Konsumsi Rumah Tangga 106.61 108.1 111.39 112.59 113.57 1.96 - Indeks BPPBM 101.26 111 114.44 117.08 117.08 2.31 Nilai Tukar Petani (NTP-Pi) 98.83 94.99 92.12 91.43 90.89-1.34 PROVINSI JAMBI a INDEKS YANG DITERIMA (It) 109.19 114.17 117.88 120.94 119.64 1.49 b INDEKS YANG DIBAYAR (Ib) 107.53 110.19 113.33 115.27 116.21 2.54 c NILAI TUKAR PETANI (NTPp) 101.54 103.61 104.02 104.92 102.87-1.11 Sumber: BPS Provinsi Jambi (diolah) Indeks harga yang diterima (Ib) mencerminkan fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada bulan Agustus 2008, Ib mengalami kenaikan 2,54% dari sebesar 113,33 menjadi 116,21. Kenaikan ini juga diikuti oleh kenaikan 5 sub sektor lainnya yaitu tanaman pangan, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan serta perikanan masingmasing sebesar 2,05%; 2,18%; 3,40%; 1,33% dan 2,11%. 77
KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN C. Kemiskinan 37 Dalam rangka turut mensukseskan program pemerintah dalam hal penanggulangan kemiskinan, pemerintah Jambi (melalui Bulog Divre Jambi) secara rutin membagikan beras miskin (raskin) kepada masayarakat yang berhak. Pada triwulan laporan, penyaluran raskin sebesar 8.088 ton atau meningkat sebesar 15,50% dibandingkan triwulan sebelumnya. Grafik 6.3. Penyaluran Raskin di Provinsi Jambi 9,000,000 8,000,000 7,000,000 6,000,000 5,000,000 250 200 150 100 4,000,000 3,000,000 2,000,000 1,000,000 - TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III 2006 2007 2008 50 - (50) (100) Penyaluran Raskin (kg), aksis kiri Pertumbuhan Raskin (%), aksis kanan Sumber: Bulog Prov. Jambi Sumber: BPS Provinsi Jambi (diolah) Dalam Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang telah dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan) sebesar 260,3 ribu atau mencapai 9,32% dari total penduduk Provinsi Jambi (lihat tabel 6.5). 38 Angka ini masih dibawah rata-rata penduduk miskin di Indonesia yang mencapai 15,42% (34,96 juta penduduk). Sedangkan dari 10 (sepuluh) provinsi di Sumatera, persentase penduduk miskin di Jambi menempati urutan ke-3 (tiga) paling rendah. Persentase penduduk miskin tertinggi adalah Provinsi Nangroe Aceh 37 Data-data kemiskinan (s.d. bulan Maret 2008) berdasarkan Berita Resmi statistik (BRS) BPS Provinsi Jambi No.35/07/15/Th.II, 1 Juli 2008. 38 Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach), dimana kemiskinan dipandang sebagai ketidakmakmuran dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Kebutuhan dasar makanan setara dengan 2100 kalori per kapita sehari dan kebutuhan dasar bukan makanan, yaitu kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. 78
KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Darusalam (NAD) sebesar 23,53%, diikuti Lampung (20,98%), dan Bengkulu (20,64%). Di sisi lain, berdasarkan jumlah penduduk miskin, Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi yang paling besar jumlah penduduk miskinnya yang mencapai 1,61 juta penduduk, diikuti Lampung (1,59 juta penduduk) dan Sumatera Selatan (1,25 juta penduduk). Tabel 6.3. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sumatera dan Indonesia (Rp/Kapita/Bulan) No Provinsi % Penduduk Miskin Penduduk Miskin (000) 2007 2008 2007 2008 1 NAD 26.65 23.53 1,083.6 959.7 2 Sumatera Utara 13.9 12.55 1,768.4 1,613.8 3 Sumatera Barat 11.9 10.67 529.2 477.2 4 Riau 11.2 10.63 574.5 566.7 5 Jambi 10.27 9.32 281.9 260.3 6 Sumatera Selatan 19.15 17.73 1,330.8 1,249.6 7 Bengkulu 22.13 20.64 370.6 352.0 8 Lampung 22.19 20.98 1,660.7 1,591.6 9 Bangka Belitung 9.54 8.58 95.1 86.7 10 Kepulauan Riau 10.3 9.18 148.4 136.4 INDONESIA 16.58 15.42 37,171.0 34,963.3 Sumber: BPS Provinsi Jambi (diolah) Garis kemiskinan (GK) Provinsi Jambi pada tahun 2008 sebesar Rp182.229 atau mengalami peningkatan dibandingkan GK tahun 2007 yang sebesar Rp172.349 (lihat tabel 6.6). 39 Peningkatan ini terjadi karena dipengaruhi oleh Tabel 6.4. Garis kemiskinan Provinsi Jambi Daerah Garis Kemiskinan Mar-07 Mar-08 Kota 214,769 223,527 Pedesaan 152,019 162,434 Kota + Perdesaan 172,349 182,229 (Rp/Kapita/Bulan) Sumber: BPS Provinsi Jambi (diolah) inflasi dan kenaikan volume pengeluaran. Peranan konsumsi kebutuhan dasar makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan konsumsi kebutuhan dasar bukan makanan. Dari tabel 6.7 terlihat juga bahwa sumbangan garis kemiskinan makanan (GKM) terhadap GK sebesar 73,97% pada Maret 2008. 39 Garis kemiskinan (GK) adalah suatu batasan untuk memilah antara penduduk miskin dan penduduk tidak miskin, berupa rata-rata pengeluaran per kapita per bulan. GK terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan makanan (GKBM). Sumber data untuk mengukur Garis kemiskinan adalah Susenas modul konsumsi Juli 2005 dan panel modul konsumsi Maret 2007. 79
KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Tabel 6.5. Garis kemiskinan Menurut Komponen Wilayah Makanan Maret 2007 Non Makanan Total Garis Kemiskinan % GK Makanan Makanan Non Makanan Maret 2008 (Rp/Kapita/Bulan) Total % GK Makanan Jambi Kota 158,562 56,207 214,769 73.83 165,345 58,182 223,527 73.97 Perdesaan 122,700 29,318 152,018 80.71 129,973 32,462 162,435 80.02 Kota + Desa 134,319 38,030 172,349 77.93 141,434 40,769 182,203 77.62 Indonesia Kota 132,258 55,683 187,941 70.37 143,897 60,999 204,896 70.23 Perdesaan 116,265 30,572 146,837 79.18 127,207 34,624 161,831 78.60 Kota + Desa 123,992 42,704 166,696 74.38 135,270 47,366 182,636 74.07 Sumber: BPS Provinsi Jambi (diolah) Indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2) merupakan salah satu dimensi lain yang perlu diperhatikan dari tingkat kemiskinan. 40 Dari tabel 6.8, terlihat bahwa P1 maupun P2 di daerah perkotaan Provinsi Jambi lebih tinggi dari di pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa kesenjangan pengeluaran penduduk miskin di perkotaan terhadap garis kemiskinannya lebih tinggi daripada di pedesaan dan penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin di perkotaan lebih bervariasi atau heterogen dari Tabel 6.6. Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan Daerah Mar-07 Mar-08 P1 P2 P1 P2 Jambi Kota 3.08 0.98 2.74 0.85 Desa 1.31 0.32 0.99 0.2 Kota+ Desa 1.88 0.54 1.56 0.41 Indonesia Kota 2.15 0.57 2.07 0.56 Desa 3.78 1.09 3.42 0.95 Kota+ Desa 2.99 0.84 2.77 0.76 Ket: P1 = Indeks Kedalaman Kemiskinan P2 = Indeks Keparahan Kemiskinan Sumber: BPS Provinsi Jambi (diolah) (Rp/Kapita/Bulan) pedesaan. Kondisi ini berbeda jika dibandingkan kondisi nasional yang P1 dan P2 nya lebih tinggi di pedesaan. Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di 40 Indeks kedalaman kemiskinan atau poverty gap index (P1) merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Sedangkan indeks keparahan kemiskinan atau distributionally sensitive index (P2) memberikan gambaran penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. 80
KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN Jambi juga masih lebih baik jika dibandingkan dengan indeks nasional yang pada tahun 2007 dan 2008 selalu lebih tinggi dibandingkan Provinsi Jambi. 81
Halaman ini sengaja dikosongkan
BAB VII PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH Laju pertumbuhan PDRB Provinsi Jambi pada triwulan IV tahun 2008 diperkirakan masih tumbuh positif, walupun melambat dibandingkan triwulan III tahun 2008. Pengeluaran konsumsi pemerintah serta pengeluaran konsumsi rumah tangga diperkirakan menjadi kontributor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Jambi pada triwulan mendatang. Dari sisi penawaran, kontribusi pertumbuhan ekonomi Jambi masih disumbangkan oleh sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan. Perkembangan harga-harga pada triwulan mendatang diperkirakan masih terjadi inflasi dengan besaran yang relatif lebih tinggi dibanding triwulan laporan. Meningkatnya demand masyarakat terkait datangnya perayaan hari besar keagamaan (Idul Fitri, Idul Adha dan Natal) serta Tahun Baru 2009 berpotensi memicu angka inflasi Kota Jambi triwulan IV tahun 2008 lebih tinggi dari triwulan laporan. A. Pertumbuhan Ekonomi Laju pertumbuhan PDRB Provinsi Jambi pada triwulan mendatang diperkirakan tumbuh melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan III tahun 2008. Pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Jambi walaupun kontribusinya diperkirakan menurun dibandingkan triwulan III tahun 2008. Hal ini tercermin dengan indeks ekspektasi penghasilan yang meningkat drastis menjadi 112,67 (level optimis) dibandingkan triwulan laporan yang sebesar 60.67 (level pesimis). 83
PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH Indeks Grafik 7.1. Perkembangan Ekspektasi Ekonomi, Ekspektasi Pengangguran dan Ekspektasi Penghasilan 180.00 160.00 140.00 Ekspektasi ekonomi Ekspektasi pengangguran Ekspektasi penghasilan 120.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III 2004 2005 2006 2007 2008 Dari hasil Survei Ekspektasi Konsumen (SEK) pada triwulan laporan, nilai saldo rencana konsumsi dalam 6 s.d 12 bulan yang akan datang berada pada level pesimis kecuali nilai saldo rencana konsumsi barang sandang yang sebesar 162,00. Sedangkan nilai saldo indikator lainnya yaitu: pembelian/perbaikan rumah (42,67), peralatan rumah tangga (42,00), perabotan rumah tangga (36,00), kendaraan bermotor (33,33), serta rekreasi/tamasya (72,6700). Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan belanja konsumen di triwulan III tahun 2008 terutama untuk pemenuhan kebutuhan sandang. Grafik 7.2. Rencana Konsumsi dalam 6-12 bulan yang akan datang Indeks 180.00 160.00 140.00 120.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III 2004 2005 2006 2007 2008 Peralatan rumah tangga Perabotan rumah tangga Kendaraan bermotor Barang sandang Pembelian/perbaikan rumah Rekreasi/tamasya 84
PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH Pengeluaran konsumsi Pemerintah Daerah pada triwulan mendatang diperkirakan mulai terakselerasi lebih cepat sehingga mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi. Pelaksanaan proyek-proyek pemerintah diperkirakan semakin menggeliat pada triwulan mendatang. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya aktivitas perekonomian serta penyerapan tenaga kerja sehingga mampu mendorong perekonomian. Berdasarkan hasil SKDU, tercermin bahwa optimisme responden di sektor banguna, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa semakin membaik. Hal ini terlihat dari perkiraan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk sektor tersebut yang relatif lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (Tabel 7.1). No Tabel 7.1. Saldo Bersih Tertimbang Perkembangan Dunia Usaha Sektor/Subsektor Saldo Bersih Tertimbang Triwulan III-2008 Triwulan IV-2008* 1 Pertanian 3.34 2.00 2 Pertambangan dan Penggalian 1.43 (1.43) 3 Industri Pengolahan 2.06 1.38 4 Listrik dan Air Minum 0.20 (0.20) 5 Bangunan - 1.38 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran - - 7 Pengangkutan dan Komunikasi 0.46 1.83 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 1.42 1.90 9 Jasa-jasa - 3.19 Total Keterangan : *) Angka perkiraan 8.91 10.05 Proyeksi Bank Indonesia Jambi, pertumbuhan ekonomi tahunan (y-o-y) Provinsi Jambi pada triwulan IV tahun 2008 diperkirakan pada kisaran 5,90%- 6,29% (skenario pesimis) atau sebesar 6,30%-6,80% (skenario optimis). Namun demikian, diperlukan langkah nyata dan effort yang lebih besar dari Pemerintah Daerah Jambi dalam rangka memacu pertumbuhan ekonominya. Beberapa prasyarat agar pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi bisa tumbuh lebih baik, antara lain melalui: 85
PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH 1. Percepatan realisasi APBD terutama proyek-proyek fisik yang berorientasi memacu perekonomian. Pembangunan Infrastruktur bidang transportasi (terutama jalan dan jembatan) harus dipercepat dalam rangka meningkatkan pelayanan bagi aktivitas perdagangan serta mengurangi biaya distribusi akibat kurang kondusifnya sarana jalan dan jembatan. Terselenggaranya proyek dimaksud harus mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja lokal sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Jambi yang berdampak pada menurunnya angka pengangguran dan kemiskinan. Serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. 2. Pengendalian Inflasi yang Forward Looking. Selama periode perayaan hari besar keagamaan (Idul Fitri, Idul Adha, Natal) dan tahun baru biasanya demand masyarakat terhadap barang dan jasa meningkat sehingga berdampak pada peningkatan harga komoditas dimaksud di Jambi. Bahkan, kondisi jalur distribusi yang kurang kondusif dapat memicu kenaikan harga lebih tinggi lagi. Naiknya harga bahan makanan akan menggerus pendapatan masyarakat dan pengusaha yang pada akhirnya akan menurunkan daya beli masyarakat. Penurunan daya beli (konsumsi masyarakat) tentunya akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, tersedianya Tim Pemantau Inflasi daerah sangat berguna dalam memberikan rekomendasi yang berguna bagi pengambil kebijakan di daerah dalam rangka mengendalikan angka inflasi daerah. 3. Kebijakan Agrobisnis yang menguntungkan bagi petani dan pengusaha. Menurunnya harga sawit dan karet dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan tingkat pendapatan sebagian besar petani menurun. Hal ini akan berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat sehingga perekonomian menjadi kurang bergairah. Minat petani dalam mengelola komoditas unggulan tersebut juga dikhawatirkan akan menurun yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pembentukan produk domestik regional bruto Provinsi Jambi. Diperlukan kebijakan agrobisnis yang tepat untuk mengatasi dampak dari krisis global tersebut sehingga tingkat pendapatan petani dapat kembali ke level yang optimal. 86
PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH Beberapa hal yang bisa dilaksanakan adalah: - Perlunya pemberian subsidi dalam pemenuhan stok pupuk dan obat anti serangga/hama yang dapat digunakan untuk mendukung proses produksi sehingga petani tetap dapat mempergunakan jumlah pupuk yang seimbang dan sesuai untuk meningkatkan proses produksi. Hal ini perlu dilaksanakan karena harga pupuk cenderung meningkat harganya sehingga memberatkan operasional petani. - Penentuan tingkat harga yang saling menguntungkan antara petani dengan pengusaha sehingga terjadi hubungan bisnis yang kondusif. Oleh karena itu, perusahaan harus menghindari pembelian komoditas tersebut melalui toke. 41 Hal ini dikarenakan toke membeli harga komoditas unggulan Jambi (sawit dan karet) ke petani dibawah harga pasar/harga yang telah ditetapkan sehingga menyengsarakan petani. 4. Pertumbuhan kredit perbankan Mendorong laju pertumbuhan kredit Provinsi Jambi pada triwulan IV tahun 2008 berkisar 20-23% (y-o-y) melalui program-program pendampingan kepada usaha mikro dan kecil. Jika beberapa prasyarat diatas belum terpenuhi dan dampak dari melambatnya perekonomian dunia semakin memburuk di Provinsi Jambi, maka peluang perekonomian Provinsi Jambi dipacu tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan laporan sulit tercapai. B. Proyeksi Inflasi Perkembangan harga-harga pada triwulan IV tahun 2008 diperkirakan akan terjadi inflasi yang masih cukup tinggi. Demand masyarakat terhadap kebutuhan barang dan jasa semakin meningkat terkait datangnya perayaan hari besar keagamaan (Idul Fitri, Idul Adha dan Natal) serta Tahun Baru 2009 sehingga berpotensi memicu angka inflasi Kota Jambi triwulan IV tahun 2008 lebih tinggi dari triwulan laporan. 41 Toke bisa juga diartikan tengkulak atau cukong. 87
PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH Indeks Grafik 7.3. Saldo Bersih Ekspektasi harga dalam 6-12 bulan yang akan datang 100.00 90.00 80.00 Bahan sandang Perumahan & bahan bangunan Transportasi & komunikasi Harga Umum Bahan makanan 70.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III 2004 2005 2006 2007 2008 Laju inflasi tahunan (y-o-y) triwulan IV tahun 2008 diperkirakan masih tinggi namun dengan persentase yang tidak berbeda jauh dibandingkan triwulan laporan. Kondisi ini tercermin dari hasil Survei Ekspektasi Konsumen (SEK) bahwa keyakinan masyarakat terhadap perbaikan harga-harga masih menunjukkan pesimisme. Namun demikian, sebagian besar indikator memiliki nilai yang sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (lihat Grafik 7.3). Sedangkan nilai saldo bersih (SB) untuk indikator kenaikan harga umum sebesar 23,33, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya namun masih pada level pesimis. 42 y-t-d (%) 20 18 16 Grafik 7.4. Perkembangan Inflasi Tahun Kalender (y-t-d) Kota Jambi periode tahun 2003 s.d. September 2008 2003 2004 2005 2006 2007 2008 14 12 10 8 6 4 2 0-2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 42 SB (Saldo Bersih) = (%baik-%buruk)+100%. Nilai dibawah 100% berarti pesimis. Nilai diatas 100% berarti optimis. Saldo Bersih ekspektasi harga merupakan hasil survey dari jawaban pertanyaan ekspektasi terhadap harga barang/jasa pada 6-12 bulan mendatang. 88
PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH Dalam periode 5 tahun terakhir, perkembangan laju inflasi tahun kalender/y-t-d (lihat grafik 7.4) pada bulan September berkisar antara 0,04% (y-td) s.d 4,54% (y-t-d). Namun demikian, pada September 2008 inflasi Kota Jambi sudah mencapai 11,78%(y-t-d), jauh diatas rata-rata 5 tahun sebelumnya. Hal ini merupakan imbas kenaikan harga BBM di bulan Mei 2008 yang memicu naiknya harga barang dan jasa cukup signifikan. Melihat data historis tersebut serta melihat tren kenaikan inflasi yang cukup tajam dimulai pada triwulan IV, 43 maka inflasi Kota Jambi triwulan mendatang diperkirakan masih relatif tinggi. Berdasarkan data-data serta informasi diatas, inflasi Kota Jambi pada September 2008 diperkirakan berkisar 12,50%-13,50% / y-o-y (skenario optimis) atau sebesar 13,51%-15,00% / y-o-y (skenario pesimis). y-o-y (%) 25 20 Grafik 7.5. Perkembangan Inflasi Tahunan (y-o-y) Kota Jambi periode tahun 2003 s.d. 2008 2003 2004 2005 2006 2007 2008 s.d. September 2008 optimis 2008 pesimis 15 10 5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 catatan: inflasi bulan Oktober, November dan Desember 2008 adalah angka perkiraan Beberapa faktor-faktor lain yang masih berpotensi akan memberikan tekanan inflasi selama triwulan mendatang serta berpotensi menyebabkan perkiraan inflasi keluar dari sasaran antara lain 1) Meningkatnya demand 43 Dilihat dari grafik, selama 5 tahun terakhir menunjukkan pergerakan inflasi tahunan mulai meningkat signifikan pada bulan September dan Oktober (Pada tahun 2005 meningkat sangat tinggi karena pemerintah menaikkan harga BBM pada bulan Oktober 2005). Disamping itu, secara siklus musiman menunjukkan bahwa datangnya bulan Ramadhan serta Idul Fitri akan memicu harga-harga naik lebih tinggi. Pada tahun 2008, bulan Ramadhan akan berlangsung sejak awal bulan September sedangkan Idul Fitri berlangsung dari awal Oktober 2008. Hal ini tentunya akan memicu angka inflasi Kota Jambi meningkat signifikan. 89
PERKIRAAN EKONOMI DAN HARGA DAERAH masyarakat terhadap kebutuhan barang dan jasa terutama dalam perayaan hari besar keagamaan (Idul Fitri, Idul Adha, Natal) serta tahun baru 2008 sehingga memberi tekanan pada peningkatan harga-harga bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, cabai merah dll yang masih perlu diwaspadai karena beberapa komoditas tersebut memberikan sumbangan yang cukup signifikan terhadap pembentukan inflasi Provinsi Jambi. 2) Kondisi infrastruktur (jalan, jembatan) yang masih terkendala akan meningkatkan biaya distribusi barang, 3) Akselerasi belanja pemerintah daerah yang semakin cepat dapat memicu kenaikan harga barang-barang material. 4) Tekanan melemahnya Rupiah dapat mempengaruhi inflasi barang impor. Sementara, masih tercukupinya stok beberapa kebutuhan pokok diprakirakan cukup mampu meredam potensi gejolak harga yang terjadi sewaktuwaktu akibat kemungkinan shock di sisi penawaran. Stok beras di Bulog Divre Jambi diprakirakan cukup untuk meredam gejolak harga beras menjelang perayaan hari besar keagamaan. 90
LAMPIRAN KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAMBI
Halaman ini sengaja dikosongkan
Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) LAPANGAN USAHA 2007* 2008** I II III IV I II III (1) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1. PERTANIAN 1,989,061.62 2,071,069.41 2,137,348.25 2,169,378.70 2,240,669.82 2,383,314.85 2,529,862.94 a. Tanaman Bahan Makanan 686,750.42 718,207.04 740,578.68 762,396.93 802,386.23 893,241.14 988,581.43 b. Tanaman Perkebunan 948,476.04 975,220.89 987,681.15 1,013,933.27 1,039,542.57 1,075,831.39 1,108,423.77 c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 103,722.77 109,982.39 120,824.20 126,890.83 130,008.64 138,263.02 144,598.24 d. Kehutanan 169,876.09 176,258.53 184,074.21 196,939.98 199,240.48 204,498.56 214,402.66 e. Perikanan 80,236.31 91,400.55 104,190.01 69,217.69 69,491.91 71,480.74 73,856.84 2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 1,611,696.95 1,448,251.21 1,495,188.34 1,525,057.30 1,594,619.96 1,587,563.64 1,595,017.42 a. Minyak dan Gas Bumi 1,483,794.19 1,297,111.69 1,339,095.82 1,367,460.85 1,430,471.65 1,418,923.09 1,424,460.40 b. Pertambangan tanpa Migas 57,202.28 59,592.70 62,450.15 64,800.54 67,185.45 69,263.67 70,607.58 c. Penggalian 70,700.48 91,546.82 93,642.37 92,795.92 96,962.86 99,376.88 99,949.44 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 871,141.66 925,067.66 965,439.87 1,067,299.53 1,132,582.43 1,231,414.64 1,287,741.77 a. Industri Migas 90,829.43 98,844.49 100,161.18 105,738.90 111,258.70 116,910.81 121,182.12 1. Pengilangan Minyak Bumi 90,829.43 98,844.49 100,161.18 105,738.90 111,258.70 116,910.81 121,182.12 2. Gas Alam Cair - - - - b. Industri Tanpa Migas **) 780,312.23 826,223.17 865,278.70 961,560.64 1,021,323.73 1,114,503.82 1,166,559.65 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 64,544.49 71,147.20 76,235.82 77,915.34 78,841.26 82,199.89 83,844.02 a. Listrik 52,314.03 58,407.33 63,217.72 64,385.90 64,385.90 67,211.17 68,626.25 b. Gas - - - - c. Air Bersih 12,230.47 12,739.87 13,018.10 13,529.44 14,455.35 14,988.72 15,217.77 5. BANGUNAN 315,315.27 354,188.89 393,721.76 409,246.04 423,265.64 443,589.94 459,041.85 6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 1,147,501.02 1,146,148.57 1,203,828.61 1,276,434.19 1,321,226.69 1,405,590.29 1,493,851.68 a. Perdagangan Besar & Eceran 1,049,520.50 1,051,998.09 1,105,075.94 1,172,229.60 1,214,682.18 1,293,205.75 1,377,902.89 b. Hotel 12,332.87 12,567.62 12,821.13 13,521.95 13,759.24 14,511.71 14,621.61 c. Restoran 85,647.65 81,582.86 85,931.54 90,682.63 92,785.28 97,872.82 101,327.18 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 556,578.21 578,021.10 594,893.15 615,801.33 633,805.19 654,555.86 676,336.59 a. Pengangkutan 517,507.98 536,153.27 549,481.97 569,854.48 583,194.31 601,383.45 621,975.34 1. Angkutan Rel - - - 2. Angkutan Jalan Raya 370,046.66 376,569.74 386,247.91 399,995.31 408,401.42 421,950.64 435,238.85 3. Angkutan Laut 55,284.96 58,245.14 60,789.85 63,452.60 63,792.84 66,264.75 67,794.83 4. Angk. Sungai, Danau & Penyebr. 26,590.02 27,733.52 28,120.51 28,643.77 29,227.28 29,951.52 30,164.87 5. Angkutan Udara 38,726.97 46,064.18 45,803.40 48,559.42 51,689.74 52,123.62 56,877.80 6. Jasa Penunjang Angkutan 26,859.38 27,540.68 28,520.31 29,203.38 30,083.03 31,092.93 31,898.98 b. Komunikasi 39,070.23 41,867.83 45,411.17 45,946.85 50,610.88 53,172.41 54,361.25 1. Pos dan Telekomunikasi 38,324.41 41,098.14 44,627.56 45,151.46 49,793.47 52,324.41 53,500.88 2. Jasa Penunjang Komunikasi 745.82 769.69 783.61 795.40 817.41 848.00 860.37 8. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JS. PRSH. 285,129.27 320,416.85 339,145.68 395,913.86 412,219.56 439,803.79 469,427.41 a. Bank 74,269.40 99,092.83 111,977.90 148,121.19 156,561.00 173,391.83 192,829.53 b. Lembaga Keuangan tanpa Bank 25,461.44 27,256.60 28,436.88 29,109.80 29,688.96 30,484.82 31,070.76 c. Jasa Penunjang Keuangan 983.70 1,281.85 1,428.26 1,921.69 1,980.20 2,052.69 2,072.07 d. Sewa Bangunan 178,456.31 186,447.57 190,742.15 210,151.07 217,288.89 226,998.15 236,426.04 e. Jasa Perusahaan 5,958.42 6,338.01 6,560.49 6,610.10 6,700.51 6,876.29 7,029.01 9. JASA-JASA 832,904.52 879,560.22 914,414.10 951,671.14 972,886.31 998,883.35 1,015,598.62 a. Pemerintahan Umum 713,109.70 754,179.46 783,766.07 815,435.35 833,856.20 857,454.42 870,488.36 1. Adm. Pemerintahan & Pertahanan 481,160.60 513,473.07 537,344.52 559,480.43 571,314.96 589,039.57 598,431.03 2. Jasa Pemerintah lainnya 231,949.10 240,706.40 246,421.55 255,954.93 262,541.24 268,414.85 272,057.33 b. Swasta 119,794.82 125,380.76 130,648.03 136,235.79 139,030.11 141,428.93 145,110.26 1. Sosial Kemasyarakatan 80,684.15 84,918.23 88,386.34 93,222.06 95,138.31 96,535.59 98,960.66 2. Hiburan & Rekreasi 6,700.83 6,603.94 6,730.14 6,828.54 7,124.14 7,229.56 7,336.85 3. Perorangan & Rumahtangga 32,409.84 33,858.58 35,531.55 36,185.19 36,767.66 37,663.78 38,812.75 PDRB Migas 7,673,873.03 7,793,871.12 8,120,215.57 8,488,717.43 8,810,116.87 9,226,916.25 9,610,722.29 PDRB Tanpa Migas 6,099,249.40 6,397,914.94 6,680,958.57 7,015,517.69 7,268,386.52 7,691,082.35 8,065,079.76 *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara
Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) LAPANGAN USAHA 2007* 2008** I II III IV I II III (1) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1. PERTANIAN 1,093,332.08 1,108,631.26 1,119,802.25 1,115,682.88 1,133,291.25 1,176,044.84 1,221,779.40 a. Tanaman Bahan Makanan 397,123.94 404,181.30 406,624.28 411,003.15 421,167.90 451,999.93 482,339.30 b. Tanaman Perkebunan 517,014.58 517,964.84 518,359.35 519,033.89 525,366.10 534,113.31 546,252.04 c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 70,629.08 72,922.82 76,704.44 78,932.09 79,866.51 82,193.97 84,419.09 d. Kehutanan 67,586.44 68,622.40 69,132.56 69,489.82 69,781.68 69,863.92 70,241.18 e. Perikanan 40,978.03 44,939.90 48,981.62 37,223.93 37,109.06 37,873.70 38,527.78 2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 429,974.20 396,510.22 397,513.39 390,208.73 395,477.36 384,916.68 385,577.13 a. Minyak dan Gas Bumi 375,713.08 334,175.77 334,320.48 327,114.70 331,487.17 319,514.62 319,770.24 b. Pertambangan tanpa Migas 18,282.23 18,620.05 19,216.40 19,431.47 19,649.40 20,090.03 20,430.27 c. Penggalian 35,978.89 43,714.40 43,976.51 43,662.57 44,340.80 45,312.03 45,376.62 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 478,465.41 485,228.18 485,945.27 498,821.40 514,125.35 536,508.66 552,411.35 a. Industri Migas 30,731.02 32,464.27 32,385.71 33,189.24 33,805.43 34,845.00 35,636.81 1. Pengilangan Minyak Bumi 30,731.02 32,464.27 32,385.71 33,189.24 33,805.43 34,845.00 35,636.81 2. Gas Alam Cair - - - - - - - b. Industri Tanpa Migas **) 447,734.39 452,763.91 453,559.56 465,632.16 480,319.92 501,663.66 516,774.54 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 25,569.59 27,378.62 28,395.62 28,400.02 30,089.12 30,671.56 31,236.32 a. Listrik 21,026.22 22,765.16 23,737.77 23,717.76 25,054.47 25,555.33 26,049.09 b. Gas - - - c. Air Bersih 4,543.37 4,613.47 4,657.84 4,682.26 5,034.65 5,116.23 5,187.23 5. BANGUNAN 148,836.73 161,618.12 169,680.38 174,088.20 176,847.49 182,753.28 185,183.25 6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 607,670.12 605,980.22 621,385.86 629,576.19 641,483.32 665,045.71 689,747.48 a. Perdagangan Besar & Eceran 552,059.59 552,408.40 567,160.46 575,249.67 586,723.92 608,362.21 632,101.78 b. Hotel 7,507.07 7,517.83 7,592.42 7,610.60 7,679.09 7,872.17 7,881.52 c. Restoran 48,103.46 46,054.00 46,632.97 46,715.92 47,080.31 48,811.32 49,764.19 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 283,266.63 288,818.20 292,253.60 295,141.06 298,889.26 304,309.80 311,187.97 a. Pengangkutan 258,644.23 263,621.00 266,166.12 269,213.77 270,756.44 275,696.21 281,997.81 1. Angkutan Rel - - - - - 2. Angkutan Jalan Raya 168,451.00 169,320.87 171,042.84 172,739.34 174,173.07 176,718.31 181,044.19 3. Angkutan Laut 34,866.72 35,718.00 36,733.22 37,338.30 37,404.42 38,232.65 38,776.02 4. Angk. Sungai, Danau & Penyebr. 16,013.26 16,087.32 16,144.59 16,210.45 16,259.87 16,304.56 16,373.93 5. Angkutan Udara 23,486.93 26,277.97 25,787.97 26,425.67 28,084.12 27,484.71 28,504.92 6. Jasa Penunjang Angkutan 15,826.33 16,216.83 16,457.50 16,500.02 16,686.21 16,955.98 17,298.76 b. Komunikasi 24,622.40 25,197.20 26,087.48 25,927.29 28,132.82 28,613.60 29,190.15 1. Pos dan Telekomunikasi 24,341.12 24,913.38 25,803.39 25,643.08 27,842.87 28,316.06 28,889.60 2. Jasa Penunjang Komunikasi 281.28 283.83 284.09 284.21 289.94 297.53 300.55 8. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JS. PRSH. 136,381.74 149,362.49 154,646.57 168,880.38 173,094.64 181,344.10 187,654.53 a. Bank 41,367.48 52,117.42 56,104.48 68,327.30 70,610.44 77,493.63 82,133.53 b. Lembaga Keuangan tanpa Bank 10,405.63 10,763.07 10,913.80 10,999.11 11,125.60 11,275.85 11,429.86 c. Jasa Penunjang Keuangan 684.17 830.95 885.63 1,048.28 1,061.72 1,091.19 1,096.17 d. Sewa Bangunan 80,630.56 82,289.13 83,352.33 85,095.03 86,870.45 88,034.30 89,491.09 e. Jasa Perusahaan 3,293.90 3,361.92 3,390.32 3,410.66 3,426.43 3,449.13 3,503.88 9. JASA-JASA 311,073.42 318,046.70 322,579.49 326,016.09 329,625.68 334,418.32 338,632.80 a. Pemerintahan Umum 256,499.15 262,437.70 266,094.80 269,078.93 272,143.73 276,528.74 279,902.23 1. Adm. Pemerintahan & Pertahanan 163,789.58 167,627.80 170,081.20 172,078.09 173,818.82 177,156.65 179,397.30 2. Jasa Pemerintah lainnya 92,709.57 94,809.90 96,013.60 97,000.84 98,324.92 99,372.09 100,504.93 b. Swasta 54,574.27 55,609.00 56,484.70 56,937.16 57,481.95 57,889.57 58,730.57 1. Sosial Kemasyarakatan 35,062.22 35,741.06 36,175.63 36,428.88 36,735.40 36,934.29 37,460.78 2. Hiburan & Rekreasi 3,315.48 3,304.91 3,309.92 3,312.52 3,381.09 3,390.09 3,405.61 3. Perorangan & Rumahtangga 16,196.57 16,563.03 16,999.15 17,195.75 17,365.46 17,565.20 17,864.18 PDRB Migas 3,514,569.93 3,541,574.02 3,592,202.42 3,626,814.95 3,692,923.47 3,796,012.94 3,903,410.24 PDRB Tanpa Migas 3,108,125.83 3,174,933.98 3,225,496.23 3,266,511.01 3,327,630.87 3,441,653.32 3,548,003.19 *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara
Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Penggunaan (Juta Rupiah) JENIS PENGELUARAN Tahun 2007* Tahun 2008** TRW.I TRW.II Trw III TRW IV TRW.I TRW.II TRW.III 1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 4,866,331.22 5,054,038.84 5,143,526.02 5,362,984.79 5,490,110.21 5,953,403.82 6,136,961.13 2. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 1,178,122.83 1,287,214.26 1,317,634.96 1,401,431.72 1,433,090.35 1,552,700.32 1,616,598.73 3. Lembaga Swasta Nirlaba 34,490.24 34,972.19 35,270.51 36,840.63 37,006.41 43,313.53 43,956.92 4. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 1,333,220.34 1,346,258.56 1,376,069.58 1,458,032.28 1,456,136.49 1,528,691.70 1,587,637.42 5. Perubahan Stok 188,326.68 190,713.77 193,163.69 211,999.97 218,220.36 233,252.11 241,781.13 6. Ekspor 2,743,266.93 3,152,800.55 3,488,996.14 4,309,260.82 3,606,231.38 4,226,233.76 4,277,407.90 7. Impor 2,669,885.22 3,272,127.05 3,434,445.33 4,291,832.77 3,430,678.34 4,310,678.99 4,293,620.94 JUMLAH 7,673,873.03 7,793,871.12 8,120,215.57 8,488,717.43 8,810,116.87 9,226,916.25 9,610,722.29 *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Juta Rupiah) JENIS PENGELUARAN Tahun 2007* Tahun 2008** TRW.I TRW.II Trw III TRW IV TRW.I TRW.II TRW.III 1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 2,486,536.57 2,506,873.23 2,542,451.51 2,609,850.47 2,652,358.72 2,667,745.21 2,720,494.97 2. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 599,040.28 653,044.93 665,847.30 704,685.99 712,712.34 737,390.97 757,531.41 3. Lembaga Swasta Nirlaba 17,351.77 17,564.37 17,694.07 18,277.02 18,305.69 18,810.17 19,003.69 4. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 565,373.86 568,973.82 577,420.72 608,517.48 611,827.09 620,494.64 633,328.77 5. Perubahan Stok 99,935.64 100,782.53 101,616.12 110,345.96 111,211.14 118,153.58 120,540.19 6. Ekspor 1,572,840.26 1,796,464.19 1,961,121.28 2,353,570.11 1,958,062.35 2,247,946.55 2,263,220.83 7. Impor 1,826,508.44 2,102,129.05 2,273,948.58 2,778,432.08 2,371,553.86 2,614,528.18 2,610,709.61 JUMLAH 3,514,569.93 3,541,574.02 3,592,202.42 3,626,814.95 3,692,923.47 3,796,012.94 3,903,410.24 *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara
Halaman ini sengaja dikosongkan
Daftar Istilah Ekspor adalah seluruh barang yang keluar dari suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil. Impor adalah seluruh barang yang masuk suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil. PDRB atas dasar harga pasar adalah penjumlahan nilai tambah bruto (NTB) yang mencakup seluruh komponen faktor pendapatan yaitu gaji, bunga, sewa tanah, keuntungan, penyusutan dan pajak tak langsung dari seluruh sektor perekonomian. PDRB atas dasar harga konstan merupakan perhitungan PDRB yang didasarkan atas produk yang dihasilkan menggunakan harga tahun tertentu sebagai dasar perhitungannya. Bank pemerintah adalah bank-bank yang sebelum program rekapitalisasi merupakan bank milik pemerintah (persero) yaitu terdiri dari Bank Mandiri, BNI, BTN dan BRI. Bank swasta adalah perbankan yang sepenuhnya dimiliki oleh swasta nasional sebelum dilakukannya program rekapitalisasi perbankan. Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah simpanan masyarakat yang ada di perbankan terdiri dari giro, tabungan, dan deposito. Net Interest Margin (NIM) adalah selisih bersih antara biaya bunga operasional dengan pendapatan bunga operasional. Loan to Deposits Ratio (LDR) adalah rasio antara kredit yang diberikan oleh perbankan terhadap jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun. Non Performing Loan (NPL) adalah jumlah kredit yang termasuk dalam kategori kurang lancar, diragukan dan macet sesuai ketentuan Bank Indonesia. Cash inflows adalah jumlah aliran kas yang masuk ke kantor Bank Indonesia yang berasal dari perbankan dalam periode tertentu. Cash outflows adalah jumlah aliran kas keluar dari kantor Bank Indonesia kepada perbankan dalam periode tertentu. Net cashflows adalah selisih bersih antara jumlah cash inflows dan cash outflows pada periode yang sama terdiri dari Netcash Outflows bila terjadi cash outflows lebih tinggi dibandingkan cash inflows, dan Netcash inflows bila terjadi sebaliknya. Administered prices adalah kelompok barang yang pergerakan harganya ditentukan oleh pemerintah baik secara keseluruhan maupun sebagian.
Aktiva Produktif adalah penanaman atau penempatan yang dilakukan oleh bank dengan tujuan menghasilkan penghasilan/pendapatan bagi bank, seperti penyaluran kredit, penempatan pada antar bank, penanaman pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan surat-surat berharga lainnya. Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) adalah pembobotan terhadap aktiva yang dimiliki oleh bank berdasarkan risiko dari masing-masing aktiva. Semakin kecil risiko suatu aktiva, semakin kecil bobot risikonya. Misalnya kredit yang diberikan kepada pemerintah mempunyai bobot yang lebih rendah dibandingkan dengan kredit yang diberikan kepada perorangan. Kualitas Kredit adalah penggolongan kredit berdasarkan prospek usaha, kinerja debitur dan kelancaran pembayaran bunga dan pokok. Kredit digolongkan menjadi 5 kualitas yaitu Lancar, Dalam Perhatian Khusus (DPK), Kurang Lancar, Diragukan dan Macet. Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio antara modal (modal inti dan modal pelengkap) terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah dana yang diterima perbankan dari masyarakat, yang berupa giro, tabungan atau deposito. Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah rasio antara pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah terhadap dana yang diterima. Konsep ini sama dengan konsep LDR pada bank umum konvensional. Inflasi adalah Kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus (persistent). Inflasi Administered Price adalah Inflasi yang terjadi pergerakan harga barangbarang yang termasuk dalam kelompok barang yang harganya diatur oleh pemerintah (misalnya bahan bakar). Inflasi Inti adalah Inflasi yang terjadi karena adanya gap penawaran aggregat and permintaan agregrat dalam perekonomian, serta kenaikan harga barang impor dan ekspektasi masyarakat. Inflasi Volatile Food adalah Inflasi yang terjadi karena pergerakan harga barang-barang yang termasuk dalam kelompok barang yang harganya bergerak sangat volatile (misalnya beras).
Kliring adalah pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu. Kliring Debet adalah kegiatan kliring untuk transfer debet antar bank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debet seperti cek, bilyet giro, nota debet kepada penyelenggaran kliring lokal (unit kerja di Bank Indonesia atau bank yang memperoleh persetujuan Bank Indonesia sebagai penyelenggara kliring lokal) dan hasil perhitungan akhir kliring debet dikirim ke Sistem Sentral Kliring (unit kerja yang menangani SKNBI di KP Bank Indonesia) untuk diperhitungkan secara nasional. Kliring Kredit adalah kegiatan kliring untuk transfer kredit antar bank yang dikirim langsung oleh bank peserta ke Sistem Sentral Kliring di KP Bank Indonesia tanpa menyampaikan fisik warkat (paperless). Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio antara jumlah kredit yang disalurkan terhadap dana yang diterima (giro, tabungan dan deposito). Net Interest Income (NII) adalah antara pendapatan bunga dikurangi dengan beban bunga. Non Core Deposit (NCD) adalah dana masyarakat yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Dalam laporan ini, NCD diasumsikan terdiri dari 30% giro, 30% tabungan dan 10% deposito berjangka waktu 1-3 bulan. Non Performing Loans/Financing (NLPs/Ls) adalah kredit/pembiayaan yang termasuk dalam kualitas Kurang Lancar, Diragukan dan Macet Penyisihan Pengghapusan Aktiva Produktif (PPAP) adalah suatu pencadangan untuk mengantisipasi kerugian yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya kredit yang diberikan oleh bank. Besaran PPAP ditentukan dari kualitas kredit. Semakin buruk kualitas kredit, semakin besar PPAP yang dibentuk. Misalnya, PPAP untuk kredit yang tergolong Kurang Lancar adalah 15% dari jumlah kredit Kurang Lancar (setelah dikurangi agunan), sedangkan untuk kredit Macet, PPAP yang harus dibentuk adalah 100% dari total kredit macet (setelah dikurangi agunan). Rasio Non Performing Loans/Financing (NPLs/Fs) adalah rasio kredit/pembiayaan yang tergolong NPLs/Fs terhadap total
kredit/pembiayaan. Rasio ini juga sering disebut rasio NPLs/Fs gross. Semakin rendah rasio NPLs/Fs, semakin baik kondisi bank ysb. Rasio Non Performing Loans (NPLs) Net adalah rasio kredit yang tergolong NPLs, setelah dikurangi pembentukan Penyisihan Pengghapusan Aktiva Produktif (PPAP), terhadap total kredit Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI RTGS) adalah proses penyelesaian akhir transaksi pembayaran yang dilakukan seketika (real time) dengan mendebet maupun mengkredit rekening peserta pada saat bersamaan sesuai perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran. Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKN-BI) adalah sistem kliring Bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.