LABORATORIUM PERLAKUAN MEKANIK

dokumen-dokumen yang mirip
MIXING. I. Tujuan Percobaan Untuk menghomogenkan larutan dengan mengetahui kebutuhan energi pengaduk yang dibutuhkan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dicampur gula merah aren dan santan kelapa. Ketiga bahan baku tersebut. kematangan tertentu. Ketiga komposisi yaitu

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA SOLID-LIQUID MIXING

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Teori

LABORATORIUM PERLAKUAN MEKANIK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tujuan Percobaan 1.2 Latar Belakang

Kata kunci: fluida, impeller, pengadukan, sekat, vorteks.

LAPORAN PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA WAKTU PENCAMPURAN

BAB II MIXING APARATUS

TANGKI BERPENGADUK (TGK)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengadukan dan Pencampuran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I VISKOSITAS CAIRAN BERBAGAI LARUTAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN TUGAS PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I EFFLUX TIME

METODOLOGI PENELITIAN

I. TUJUAN. Menghitung Nilai Power Number Menjelaskan pengaruh viskositas, densitas, dan rate pengadudukan terhadap Power pengsadukana

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

VISKOSITAS DAN TENAGA PENGAKTIFAN ALIRAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK

LAMPIRAN 1 METODOLOGI PENELITIAN

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat dan Bahan yang Digunakan Alat yang Digunakan

Rumus bilangan Reynolds umumnya diberikan sebagai berikut:

Laporan Praktikum Teknik Kimia I Sedimentasi

Masalah aliran fluida dalam PIPA : Sistem Terbuka (Open channel) Sistem Tertutup Sistem Seri Sistem Parlel

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang 1. 2 Tujuan Percobaan

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK KIMIA IV DINAMIKA PROSES PADA SISTEM PENGOSONGAN TANGKI. Disusun Oleh : Zeffa Aprilasani NIM :

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat yang digunakan: Tabel 3. Alat yang digunakan pada penelitian

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia I Efflux Time BAB I PENDAHULUAN

BERAT JENIS ZAT CAIR DAN ZAT PADAT

PENENTUAN VISKOSITAS ZAT CAIR

MODUL 1.04 FILTRASI LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA JURUSAN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA CILEGON BANTEN

PAPER MESIN DAN PERALATAN PENGOLAHAN PANGAN Mesin Pencampuran Bahan Cair-Padat

BAB V METODELOGI. 5.1 Pengujian Kinerja Alat. Produk yang dihasilkan dari alat pres hidrolik, dilakukan analisa kualitas hasil meliputi:

VI. DASAR PERANCANGAN BIOREAKTOR. Kompetensi: Setelah mengikuti kuliah mahasiswa dapat membuat dasar rancangan bioproses skala laboratorium

Proses Pengosongan Mixer Batch Larutan Cat Densitas 1,66; Viskositas 110 Cp; Volume Liter Ke Hopper Pengalengan Selama 20 Menit

BAB II TEORI ALIRAN PANAS 7 BAB II TEORI ALIRAN PANAS. benda. Panas akan mengalir dari benda yang bertemperatur tinggi ke benda yang

BAB V METODOLOGI. Pada tahap ini, dilakukan pengupasan kulit biji dibersihkan, penghancuran biji karet kemudian

METODOLOGI PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian. Alat dan Bahan Penelitian. Prosedur Penelitian

Teori Koagulasi-Flokulasi

MODUL PRAKTIKUM SATUAN OPERASI II

BAB V METODOLOGI. Gambar 6. Pembuatan Minyak wijen

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

PERANCANGAN MIXER MATERI KULIAH KALKULUS TEP FTP UB RYN MATERI KULIAH KALKULUS TEP FTP UB

ALIRAN FLUIDA. Kode Mata Kuliah : Oleh MARYUDI, S.T., M.T., Ph.D Irma Atika Sari, S.T., M.Eng

Blanching. Pembuangan sisa kulit ari

PENGARUH DESAIN IMPELLER, BAFFL ve, DAN KECEPATAN PUTAR PADA PROSES ISOLASI MINYAK KELAPA MURNI DENGAN METODE PENGADUKAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KIMIA FISIK II. VISKOSITAS CAIRAN Selasa, 08 April 2014

BAB 3 RANCANGAN PENELITIAN

MODUL PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA

BAB II LANDASAN TEORI

Penelitian ini akan dilakukan dengan dua tahap, yaitu : Tahap I: Tahap perlakuan awal (pretreatment step)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V METODOLOGI. Dalam pelaksanaan percobaan yang akan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:

VISKOSITAS CAIRAN. Selasa, 13 Mei Raisa Soraya* ( ), Siti Masitoh, M.Ikhwan Fillah. Jurusan Pendidikan Imu Pengetahuan Alam

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Mixing & Agitation in Food Processing (Pencampuran dan Pengadukan dalam Pengolahan Pangan)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I SEDIMENTASI

MODUL PRAKTIKUM LABORATORIUM INSTRUKSIONAL TEKNIK KIMIA FILTRASI (FIL)

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April September 2013 bertempat di

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

VISKOSITAS CAIRAN. Nurul Mu nisah Awaliyah, Putri Dewi M.F, Ipa Ida Rosita. Pendidikan Kimia. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

MODUL II VISKOSITAS. Pada modul ini akan dijelaskan pendahuluan, tinjauan pustaka, metodologi praktikum, dan lembar kerja praktikum.

Aliran Turbulen (Turbulent Flow)

BAB II LANDASAN TEORI

LAPORAN TETAP TEKNOLOGI BIOMASSA PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK JELANTAH

LAMPIRAN I DATA PENGAMATAN. 1.1 Data Analisa Rendemen Produk Biodiesel Tabel 14. Data Pengamatan Analisis Rendemen Biodiesel

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

SIMULASI PROSES EVAPORASI BLACK LIQUOR DALAM FALLING FILM EVAPORATOR DENGAN ADANYA ALIRAN UDARA

REYNOLDS NUMBER K E L O M P O K 4

MODUL 1.06 SEDIMENTASI

BAB V EKSTRAKSI CAIR-CAIR

Analisis Aliran Fluida Terhadap Fitting Serta Satuan Panjang Pipa. Nisa Aina Fauziah, Novita Elvianti, dan Verananda Kusuma Ariyanto

PERANCANGAN DAN KONSTRUKSI INSULATION MATERIAL PADA ELEMEN PEMANASMESIN MIXER KAPASITAS 6,9 LITER DAN PUTARAN 280 Rpm

LAMPIRAN II PERHITUNGAN

BAB I PENDAHULUAN I.1.

BAB III METODE PENELITIAN. Proses polimerisasi stirena dilakukan dengan sistem seeding. Bejana

BAB IV ANALISA PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN BLOWER

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2014 hingga Maret 2015.

yang lain.. Kekentalan atau viskositas dapat dibayangkan sebagai peristiwa gesekan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PERANCANGAN DAN SIMULASI MESIN MIXER KAPASITAS 6,9 LITER PUTARAN 280 RPM MENGGUNAKAN ANSYS FLUENT 14.0 DAN PENGUJIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA. Tegangan Permukaan. Disusun oleh: Wawan Gunawan

MAKALAH SEMINAR PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA SEMESTER GASAL TAHUN AKADEMIK 2012/2013 ACARA D-4 HETP. (High Equivalent of Theoritical Plate)

Panas berpindah dari objek yang bersuhu lebih tinggi ke objek lain yang bersuhu lebih rendah Driving force perbedaan suhu Laju perpindahan = Driving

METODE PENELITIAN. Pengolahan Hasil Perkebunan STIPAP Medan. Waktu penelitian dilakukan pada

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 di. Laboratorium Terpadu Universitas Diponegoro, Semarang.

2 a) Viskositas dinamik Viskositas dinamik adalah perbandingan tegangan geser dengan laju perubahannya, besar nilai viskositas dinamik tergantung dari

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK PERCOBAAN H-3 SOL LIOFIL

MODUL KULIAH : MEKANIKA FLUIDA DAN HIROLIKA

I. Pendahuluan. A. Latar Belakang. B. Rumusan Masalah. C. Tujuan

PERTEMUAN VII KINEMATIKA ZAT CAIR

Transkripsi:

LABORATORIUM PERLAKUAN MEKANIK SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2013 / 2014 MODUL PEMBIMBING : Mixing : Ir. Gatot Subiyanto, M.T. Tanggal Praktikum : 03 Juni 2014 Tanggal Pengumupulan : 10 Juni 2014 (Laporan) oleh : Kelompok 8 Sarah Eka Putri D 121424030 Ulfia Tiaravani 121424031 Yuliani Wardani S 121424032 Alfa Tri Annisa 121424033 Kelas 2A-TKPB PROGRAM STUDI D4 TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH JURUSAN TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2014

I. TUJUAN 1. Mengetahui proses mixing dalam tangki berpengaduk 2. Mengetahui kondisi homogen dari nilai densitas dan viskositas sample 3. Mengetahui waktu pencapaian kondisi homogen 4. Mengetahui hubungan kecepatan putar terhadap waktu pencapaian kondisi homogen 5. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pencampuran II. DASAR TEORI Pengadukan adalah operasi yang menciptakan terjadinya gerakan dari bahan yang diaduk seperti molekul- molekul, zat-zat yang bergerak atau komponennya menyebar (terdispersi). Pencampuran adalah operasi yang menyebabkan tersebarnya secara acak suatu bahan ke bahan yang lain dimana bahan-bahan tersebut terpisah dalam dua fasa atau lebih. Pemilihan pengaduk yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam menghasilkan proses dan pencampuran yang efektif. Pengaduk jenis baling-baling (propeller) dengan aliran aksial dan pengaduk jenis turbin dengan aliran radial menjadi pilihan yang lazim dalam pengadukan dan pencampuran. Jenis-jenis Pengaduk Secara umum, terdapat tiga jenis pengaduk yang biasa digunakan secara umum, yaitu pengaduk baling baling, pengaduk turbin, dan pengaduk dayung. Pengaduk jenis baling-baling (propeller) Ada beberapa jenis pengaduk yang biasa digunakan. Salah satunya adalah baling-baling berdaun tiga. Baling-baling ini digunakan pada kecepatan berkisar antara 400 hingga 1750 rpm (revolutions per minute) dan digunakan untuk cairan dengan viskositas rendah. Pengaduk Dayung (Paddle)

Berbagai jenis pengaduk dayung biasanya digunakan pada kesepatan rendah diantaranya 20 hingga 200 rpm. Dayung datar berdaun dua atau empat biasa digunakan dalam sebuah proses pengadukan. Panjang total dari pengadukan dayung biasanya 60-80% dari diameter tangki dan lebar dari daunnya 1/6-1/10 dari panjangnya. Pengaduk dayung menjadi tidak efektif untuk suspensi padatan, karena aliran radial bisa terbentuk namun aliran aksial dan vertikal menjadi kecil. Sebuah dayung jangkar atau pagar, yang terlihat pada gambar biasa digunakan dalam pengadukan. Jenis ini menyapu dan mengeruk dinding tangki dan kadang-kadang bagian bawah tangki. Jenis ini digunakan pada cairan kental dimana endapan pada dinding dapat terbentuk dan juga digunakan untuk meningkatkan transfer panas dari dan ke dinding tangki. Bagaimanapun jenis ini adalah pencampuran yang buruk. Pengaduk dayung sering digunakan untuk proses pembuatan pasn kanji, cat, bahan perekat dan kosmetik. Pengaduk Turbin Pengaduk turbin adalah pengaduk dayung yang memiliki banyak daun pengaduk dan berukuran lebih pendek, digunakan pada kecepatan tinggi untuk cairan dengan rentang kekentalan yang sangat luas. Diameter dari sebuah turbin biasanya antara 30-50% dari diamter tangki. Turbin biasanya memiliki empat atau enam daun pengaduk. Turbin dengan daun yang datar memberikan aliran yang radial. Jenis ini juga berguna untuk dispersi gas yang baik, gas akan dialirkan dari bagian bawah pengadukdan akan menuju ke bagian daun pengaduk lalu tepotong-potong menjadi gelembung gas. Pada turbin dengan daun yang dibuat miring sebesar 45 o, seperti yang terlihat pada gambar 8, beberapa aliran aksial akan terbentuk sehingga sebuah kombinasi dari aliran

aksial dan radial akan terbentuk. Jenis ini berguna dalam suspensi padatan kerena aliran langsung ke bawah dan akan menyapu padatan ke atas. Terkadang sebuah turbin dengan hanya empat daun miring digunakan dalam suspensi padat. Pengaduk dengan aliran aksial menghasilkan pergerakan fluida yang lebih besar dan pencampuran per satuan daya dan sangat berguna dalam suspensi padatan. Kebutuhan Daya Pengaduk Bilangan Reynold Bilangan tak berdimensi yang menyatakan perbandingan antara gaya inersia dan gaya viskos yang terjadi pada fluida. Sistem pengadukan yang terjadi bisa diketahui bilangan Reynold-nya dengan menggunakan persamaan 3. dimana : Re = Bilangan Reynold ρ = dnsitas fluida µ = viskositas fluida Dalam sistem pengadukan terdapat 3 jenis bentuk aliran yaitu laminer, transisi dan turbulen. Bentuk aliran laminer terjadi pada bilangan Reynold hingga 10, sedangkan turbulen terjadi pada bilangan Reynold 10 hingga 10 4 dan transisi berada diantara keduanya. Laju dan Waktu Pencampuran Waktu pencampuran (mixing time) adalah waktu yang dibutuhkan sehingga diperoleh keadaan yang homogen untuk menghasilkan campuran atau produk dengan kualitas yang telah ditentukan. Sedangkan laju pencampuran (rate of mixing) adalah laju dimana proses pencampuran berlangsung hingga mencapai kondisi akhir. Pada operasi pencampuran dalam tangki berpengaduk, waktu pencampuran ini dipengaruhi oleh beberapa hal :

1. Yang berkaitan dengan alat, seperti : Ada tidaknya baffle atau cruciform vaffle Bentuk atau jenis pengaduk (turbin, propele, padel) Ukuran pengaduk (diameter, tinggi) Laju putaran pengaduk Kedudukan pengaduk pada tangki, seperti : a. Jarak pengaduk terhadap dasar tangki b. Pola pemasangan : - Center, vertikal - Off center, vertical - Miring (inclined) dari atas - Horisontal Jumlah daun pengaduk Jumlah pengaduk yang terpasang pada poros pengaduk 2. Yang berhubungan dengan cairan yang diaduk : Perbandingan kerapatan atau densitas cairan yang diaduk Perbandingan viskositas cairan yang diaduk Jumlah kedua cairan yang diaduk Jenis cairan yang diaduk (miscible, immiscible) Faktor-faktor tersebut dapat dijadikan variabel yang dapat dimanipulasi untuk mengamati pengaruh setiap faktor terhadap karakteristik pengadukan, terutama tehadap waktu pencampuran. Waktu pencampuran secara umum, diberikan oleh Norwood dan Metzner adalah :

Mixing time factor dapat diperkirakan dari gambar grafik dibawah ini : III. PERCOBAAN III.1 Alat dan Bahan Alat Stopwatch Viscometer Piknometer Neraca analitik Gelas kimia 25 ml Gelas ukur Beaker plastik Erlenmeyer Batang pengaduk

Bahan Kapur Air Kran III.2 Prosedur Kerja ukur Buat densitas larutan dengan dengan piknometer massa dan viskositas kapur 500 air gram dan slurry dalam acuan 5 liter (1air / gram dalam Ukur densitas 10 ml Ambil sample dengan piknometer setiap 1 menit dan viskositas tiap selama 10 menit sample Lakukan percobaan tersebut pada nilai rpm berbeda III.3 Data Pengamatan Diameter tangki = 30 cm Massa piknometer kosong = 29,17 gr Massa piknometer + air = 52,19 gr Massa air = 23,02 gr Massa piknometer + slurry = 53,17 gr Massa slurry = 24 gr Acuan Slurry 1 gram dalam 10 ml Masukan larutan umpan dalam tangki mixing Atur pengadukan pada rpm tertentu Acuan Densitas (gr/cm3) Viskositas (cp) Air 0,998 108 Slurry 1,0405 128 RPM Ke-1 Menit ke- Massa pikno + larutan (gr) Massa Larutan (gr) 1 52,74 23,57 2 52,88 23,71 3 52,96 23,79 4 52,99 23,82 Densitas (gr/cm3) 1,02185 1,02792 1,031388 1,032689 Viskositas (cp) 72 80 96 104

5 53,08 23,91 6 53,15 23,98 7 53,24 24,07 8 53,29 24,12 9 53,3 24,13 10 53,3 24,13 1,036591 1,039625 1,043527 1,045695 1,046129 1,046129 112 114 116 116 120 120 RPM Ke-2 Menit ke- Massa pikno + larutan (gr) Massa Larutan (gr) 1 52,94 23,77 2 52,99 23,82 3 53,06 23,89 4 53,13 23,96 5 53,19 24,02 6 53,33 24,16 7 53,42 24,25 8 53,46 24,29 9 53,46 24,29 10 53,46 24,29 Densitas (gr/cm3) 1,030521 1,032689 1,035724 1,038758 1,04136 1,047429 1,051331 1,053065 1,053065 1,053065 Viskositas (cp) 92 112 132 144 156 170 182 182 184 184 IV. PENGOLAHAN DATA RPM 1

RPM 2 V. PEMBAHASAN Oleh Sarah Eka Putri D (121424030) Oleh Ulfia Tiaravani (121424031) Oleh Yuliani Wardani Saputra (121424032) Oleh Alfa Tri Annisa (121424033) VI. KESIMPULAN Larutan kapur mencapai kondisi homogen pada densitas 1,0405 gr/ml dan viskositas 128 cp. Pengadukan pada rpm pertama membutuhkan 9 menit untuk mencapai kondisi homogen, sementara pengadukan pada rpm pertama membutuhkan 8 menit. Pengadukan pada rpm kedua membutuhkan waktu yang lebih singkat, karena semakin cepat pengadukan yang dilakukan, larutan akan semakin cepat mencapai kondisi homogen.

Pengadukan dapat dipengaruhi oleh kecepatan pengadukan, jenis pengaduk, jenis cairan yang diaduk, jumlah cairan yang diaduk, serta perbandingan vikositas cairan yang diaduk. VII. DAFTAR PUSTAKA Jobsheet Praktikum Perlakuan Mekanik Modul Mixing. Politeknik Negeri Bandung.