BAB I PENDAHULUAN. Ernisa Purwandari, 2015

dokumen-dokumen yang mirip
2015 PENGASUHAN YANG DILAKUKAN ORANG TUA YANG MEMILIKI LEBIH DARI SATU ANAK INTELLECTUAL DISABILITY

JASSI_anakku Volume 18 Nomor 1, Juni 2017

MANFAAT GERAK FISIK OLAHRAGA BAGI KEMANDIRIAN INTELEKTUAL DISABILITAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Beban Pengasuhan Orang Tua Kepada Anak Intellectual Disability

2016 RUMUSAN PROGRAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MERAWAT DIRI BAGI ANAK TUNAGRAHITA SEDANG DI SLB X PALEMBANG

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MELALUI METODE KARYAWISATA PADA ANAK TUNAGRAHITA

BAB I PENDAHULUAN. Beragam kebutuhan yang dimiliki anak tunagrahita baik kebutuhan yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Perilaku adaptif diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memikul

THE EFFECT OF BOWLING GAME TOWARD NUMERACY SKILLS FOR INTELLECTUAL DISABILITY STUDENT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Iding Tarsidi, 2013

2016 MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN ANAK TUNAGRAHITA RINGAN MELALUI MEDIA KARTU KATA BERGAMBAR

1. PENDAHULUAN. Gambaran resiliensi dan kemampuan...dian Rahmawati, FPsi UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

THE EFFECT OF EGGSHELL MOSAIC TRAINING TOWARD FINE MOTOR SKILLS OF CHILDREN WITH INTELLECTUAL AND DEVELOPMENTAL DISABILITY (IDD)

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan nasional betujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar

BAB I LATAR BELAKANG. dari anak kebanyakan lainnya. Setiap anak yang lahir di dunia dilengkapi dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mengenai kekerasan seksual pada anak (KSA). Kekerasan seksual yang dialami oleh anakanak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dari tahapan demi tahapan perkembangan yang harus dilalui. Perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. Institusi pendidikan sangat berperan penting bagi proses tumbuh kembang

I. PENDAHULUAN. Anak tunagrahita merupakan bagian dari anak berkebutuhan khusus, anak

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang dasar 1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini, di Indonesia pilihan jalur untuk menempuh pendidikan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Destalya Anggrainy M.P, 2013

BUPATI GARUT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 735 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Ingatan adalah salah satu bagian dalam kognisi. Kata ingatan merupakan

Pendidikan Keluarga (Membantu Kemampuan Relasi Anak-anak) Farida

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dipandang mampu menjadi jembatan menuju kemajuan, dan

APLIKASI UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN ANAK RETARDASI MENTAL BERBASIS WEBSITE

BAB I PENDAHULUAN. taraf kelainannya. American Association On Mental Deliciency (AAMD) dalam

2015 PENGEMBANGAN PROGRAM PUSAT SUMBER (RESOURCE CENTER) SLBN DEPOK DALAM MENDUKUNG IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF DI KOTA DEPOK

IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN BAGI ANAK TUNAGRAHITA KATEGORI RINGAN KELASS II DI SEKOLAH LUAR BIASA RELA BHAKTI I GAMPINGG SKRIPSI

I. PENDAHULUAN. Pesatnya kemajuan tehnologi di bidang industri akan berdampak positif maupun

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. rata-rata dengan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai kodratnya manusia adalah makhluk pribadi dan sosial dengan

2015 STUD I D ESKRIPTIF PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PEND IDIKAN JASMANI D I SLB-A CITEREUP

Implementasi Komunikasi Instruksional Guru dalam Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus di SLB-C1 Dharma Rena Ring Putra I Yogyakarta Oleh :

BAB I PENDAHULAN A. Latar belakang Penelitian Lina Rahmawati,2013

Kompetensi sosial (Social competency) Perkembangan sosial (Social maturity) Kapasitas adaptif (Adaptive capacity)

BAB1 PENDAHULUAN. dalamnya pendidikan Taman Kanak-kanak. Hal ini di maksudkan selain mencerdaskan

BAB I PENDAHULUAN. Orang tua merupakan sosok yang paling terdekat dengan anak. Baik Ibu

BAB I PENDAHULUAN. sosial yang eksis hampir di semua masyarakat. Terdapat berbagai masalah sosial

2015 PEMBELAJARAN TARI MELALUI STIMULUS GERAK BURUNG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KINESTETIK PADA ANAK TUNAGRAHITA SEDANG DI SLB YPLAB LEMBANG

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA. Skripsi

PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

2015 PENGAJARAN TOILETTRAINING PADA SISWA TUNAGRAHITA RINGAN DI SPLB-C YPLB CIPAGANTI

: Metode-metode Pembelajaran Bahasa Lisan pada Anak Tunagrahita Ringan di Sekolah Luar Biasa

BAB I PENDAHULUAN. (Activity Daily Living/ADL) (Effendi,2008). tidak lepas dari bimbingan dan perhatian yang diberikan oleh keluarga,

BAB I PENDAHULUAN Desi Nurdianti, 2013

BAB 1 PENDAHULUAN. Pancasila, dan dituntut untuk menjunjung tinggi norma Bhinneka Tuggal Ika,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. besar siswa hanya berdiam diri saja ketika guru meminta komentar mereka mengenai

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Komunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia sehari-hari, bahkan

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah secara umum agar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Budaya belajar merupakan serangkaian kegiatan dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Belajar merupakan tanggung jawab setiap siswa dan kualitas hasil belajar

I. PENDAHULUAN. satu usaha pembangunan watak bangsa. Pendidikan ialah suatu usaha dari setiap diri

2015 PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN BAHASA RESEPTIF DAN BAHASA EKSPRESIF PADA ANAK TUNARUNGU USIA SEKOLAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kepada para orang tua yang telah memasuki jenjang pernikahan. Anak juga

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan kebutuhan mutlak bagi kehidupan manusia sejalan

BAB I PENDAHULUAN. mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah terdekat.

BAB I PENDAHULUAN. mempelajari dan menjalani kehidupan. Era ini memiliki banyak tuntutantuntutan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tahun-tahun pertama kehidupan anak atau yang sering dikenal dengan

BAB I PENDAHULUAN. tercantum dalam pasal 31 UUD 1945 (Amandemen 4) bahwa setiap warga negara

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan sebagai tempat mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

Hayyan Ahmad Ulul Albab

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan jasmani adaptif merupakan luasan dari kata pendidikan jasmani

HAMBATAN INTELEKTUAL (TUNAGRAHITA)

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan jasmani (Penjas) merupakan salah satu mata pelajaran yang harus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berkembang secara normal. Orang tua pun akan merasa senang dan bahagia

BAB II KAJIAN PUSTAKA

MENUJU KEMANDIRIAN ANAK TUNAGRAHITA ( Pengayaan) Oleh: Astati

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masa remaja merupakan peralihan antara masa kanak-kanak menuju

BAB I PENDAHULUAN. Di sekolah siswa mempunyai aktivitas dalam bergaul dengan temantemannya,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I LATAR BELAKANG MASALAH. kerja, mendorong perguruan tinggi untuk membekali lulusannya dengan kemampuan

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Istilah individu berkebutuhan khusus bukan merupakan terjemahan atau kata lain dari individu penyandang cacat tetapi individu berkebutuhan khusus mencakup spectrum yang luas. Alimin (2013, hlm. 24) mendefinisikan individu berkebutuhan khusus sebagai individu yang memerlukan pendidikan yang disesuaikan dengan hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing secara individual. Individu berkebutuhan khusus meliputi individu berkebutuhan khusus temporer dan individu berkebutuhan khusus permanen. Salah satu bagian dari individu berkebutuhan khusus permanen adalah individu dengan gangguan perkembangan kecerdasan dan kognisi atau yang lebih dikenal dengan istilah intellectual disability (selanjutnya ditulis ID) atau di Indonesia lebih popular dengan istilah individu tunagrahita. American Assosiation of Intellectual Develompental Disability (AAIDD, 2013) mendefinisikan, intellectual disability is a disability characterized by significant limitations in both intellectual functioning and in adaptive behavior, which covers many everyday social and practical skills. This disability originates before the age of 18. Berdasarkan definisi yang ditetapkan AAIDD tersebut maka individu dikatakan mengalami ID apabila memenuhi tiga kriteria kelemahan, yakni rendahnya fungsi kecerdasan dan perilaku adaptif, serta terjadi sebelum usia 18 tahun. Keterbatasan intelektual pada individu dengan ID berdampak pada layanan pendidikan yang diberikan, dimana harus ada penyesuian isi kurikulum dengan kebutuhan individu dengan ID. Hal tersebut sesuai tujuan pendidikan bagi individu dengan ID yaitu untuk mengembangkan potensinya secara optimal agar ia dapat mandiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Alimin, 2010, hlm. 53). Bentuk layanan pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut adalah dengan mempertimbangkan hambatan perkembangan perilaku adaptif individu dengan ID.

2 Pertimbangan tersebut penting dalam melayani individu dengan ID karena apabila tidak, mereka cenderung mengalami banyak kegagalan dan frustasi yang berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian (Alimin, 2010, hlm. 57). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Mortweet et al. 1999, Stancliffe et al. 2002 (Russell et al. 2004, hlm. 383) yang melaporkan bahwa hambatan pada perilaku adaptif dapat menyebabkan kekhawatiran berlebih dari masyarakat akan definisi yang sebenarnya dari individu dengan ID sehingga terjadi keterbatasan dalam pengaturan di pendidikan umum. Oleh karena itu, perlu adanya proses pembelajaran yang mempertimbangkan hambatan belajar, hambatan perkembangan, dan kebutuhan individual dari individu dengan ID. Data untuk merencanakan proses pembelajaran tersebut hanya dapat diperoleh melalui proses asesmen. Salah satu asesmen yang diperlukan untuk mempertimbangkan proses pembelajaran individu dengan ID adalah asesmen perkembangan perilaku adaptif. Alimin (2010, hlm. 62) menjelaskan bahwa: Perilaku adaptif merupakan salah satu aspek dari asesmen horizontal dimana data hasil asesmen inilah yang dijadikan dasar dalam menentukan bahan ajar untuk disesuaikan dengan kebutuhan individu dengan ID. Secara formal, terdapat beberapa instrumen asesmen perilaku adaptif yang telah dikembangkan. Overton (2012, hlm. 344-345) menyebutkan ada empat pedoman asesmen perilaku adaptif formal, yaitu Vineland-II, Vineland Adaptive Behavior-Expanded Form, AAMR-Adaptive Behavior Scale-2, dan Adaptive Behavior Assesment System. Masing-masing asesmen perilaku adaptif tersebut memiliki domain perilaku adaptif yang berbeda, dimana didalamnya terdapat kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hasil penelitian Aricak dan Oakland (2010, hlm. 579) mengenai penggunaan asesmen formal perilaku adaptif tersebut menyatakan bahwa penelitian menggunakan ABAS-II telah memberikan dukungan kuat untuk model satu keterampilan adaptif yang ditetapkan AAIDD tahun 1992 dan memberikan dukungan lemah untuk tiga domain yang telah ditetapkan AAIDD tahun 2002. Kelemahan penggunaan instrumen asesmen formal

3 perilaku adaptif tersebut juga terjadi di Indonesia, khususnya di beberapa sekolah maupun lembaga yang melayani individu ID. Hal ini dapat dilihat dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara. Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan beberapa guru dan pengurus di yayasan yang khusus menangani individu dengan ID menemukan berbagai permasalahan terkait instrumen asesmen perilaku adaptif. Permasalahan tersebut diantaranya, yaitu pertama, baik sekolah maupun yayasan yang menangani individu dengan ID belum menggunakan ataupun memiliki instrumen asesmen perilaku adaptif individu dengan ID. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara yang dilakukan dengan pengasuh asrama yang menyatakan bahwa saat ini pelaksanaan asesmen belum menggunakan instrumen asesmen tertulis. Asesmen dilakukan dengan melihat perilaku anak tanpa ada pedoman tertulis. Sedangkan di sekolah, beberapa guru sudah menggunakan instrumen asesmen tertulis tetapi belum mengetahui jika pencatatan yang dilakukan merupakan bagian dari perilaku adaptif. Kedua, terbatasnya pengetahuan guru tentang perilaku adaptif. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh data bahwa layanan perilaku adaptif anak diartikan sebagai layanan keterampilan menolong diri sehingga fokus pengembangan perilaku adaptif terbatas pada aspek keterampilan menolong diri. Ketiga, instrumen asesmen formal yang ada sangat terbatas dan masih dalam bentuk bahasa Inggris. Hasil wawancara menyebutkan bahwa guru dan pengurus kesulitan dalam menemukan instrumen asesmen formal tersebut. Mereka juga enggan mencari karena instrumen asesmen dalam bentuk bahasa Inggris sehingga mereka merasa kesulitan untuk memahaminya. Selain itu, instrumen asesmen perilaku adaptif yang disusun di luar negeri juga belum tentu adaptif apabila digunakan di Indonesia dengan latar budaya yang jelas berbeda. Adanya permasalahan terkait penggunaan instrumen asesmen perilaku adaptif dalam mengembangkan perilaku adaptif individu dengan ID tersebut berdampak terhadap proses pembelajaran yang diberikan. Hal ini karena salah

4 satu kebutuhan belajar individu dengan ID yang harus mempertimbangkan hambatan perkembangan anak tidak terpenuhi. Oleh karena itu perlu upaya untuk memenuhi prasyarat tersebut, salah satunya dengan melakukan asesmen informal. Soendari & Nani (2011, hlm. 16) menyebutkan bahwa asesmen informal merupakan cara terbaik untuk memperoleh informasi tentang anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini akan mengembangkan instrumen asesmen perilaku adaptif bagi remaja dengan ID. Batasan pada masa perkembangan dalam penyusunan instrumen asesmen ini dilakukan berdasar pada faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam asesmen perilaku adaptif yang diungkapkan Duffy. Menurut Duffy (2007, hlm. 283), terdapat sembilan faktor yang perlu diperhatikan dalam asesmen perilaku adaptif yaitu ketersediaan alat ukur, pertimbangan kontekstual, budaya, lingkungan, usia, keterbatasan fisik, keterampilan yang diperoleh versus keterampilan yang ditunjukkan, sumber informasi, dan metode lain dalam asesmen. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan batasan usia dalam pengembangan instrumen asesmen perilaku adaptif, dalam penelitian ini dibatasi pada usia remaja. Pengembangan instrumen asesmen perilaku adaptif bagi individu dengan ID difokuskan pada perkembangan remaja dengan beberapa pertimbangan, salah satunya tugas perkembangan remaja. Hasil studi pendahulan di lapangan ditemukan permasalahan remaja dengan ID diantaranya yaitu sikap penolakan masyarakat. Hasil ini diperoleh dari wawancara dengan salah satu orangtua remaja dengan ID yang menyatakan bahwa sampai saat ini masyarakat masih melakukan penolakan terhadap kondisi anaknya. Penolakan yang dilakukan berupa sering mengolok-olok dan meniru gaya bicara anaknya yang masih cadal. Selain itu, anak juga tidak dilibatkan dalam kegiatan karang taruna sehingga anak jarang dan bahkan hampir tidak pernah bergabung dalam kegiatan remaja di kampungnya. Kondisi anak yang sudah beranjak remaja dan belum terlibat dalam kegiatan karang taruna bertentangan dengan norma budaya di Yogyakarta, dimana

5 seorang remaja harusnya sudah banyak terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat. Peran serta remaja yang mulai dituntut di masyarakat ini sesuai dengan tugas-tugas remaja yang dikemukakan Monks & Knoers. Menurut Monks & Knoers (2006, hlm. 322) pada periode ini, keadaan fisik dan sekolah sudah tidak merupakan pusat perhatian lagi, sehingga permasalahan pekerjaan dan kehidupan bermasyarakat merupakan tugas-tugas sentral yang mendapat perhatian khusus. Tugas-tugas tersebut hanya dipakai sebagai pemicu agar orangtua dan lingkungan membantu seoptimal mungkin sehingga individu dengan ID dapat melampaui setiap periode perkembangan dengan alami sesuai keterbatasannya, dan mereka dapat hidup layak, bahagia, dapat diterima lingkungan tanpa tekanan, serta dapat mencapai prestasi sesuai potensinya. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Instrumen asesmen perilaku adaptif yang bagaimana yang fungsional bagi remaja dengan ID? C. Pertanyaan Penelitian Terkait dengan rumusan masalah dalam penelitian ini, dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimana upaya yang dilakukan guru untuk mengetahui perilaku adaptif remaja dengan ID di sekolah dan lembaga lain yang melayani individu dengan ID saat ini? 2. Indikator apa saja yang fungsional untuk merumuskan instrumen asesmen perilaku adaptif bagi remaja dengan ID? 3. Apakah instrumen asesmen perilaku adaptif dapat mengungkap perilaku adaptif remaja dengan ID?

6 D. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: Mengembangkan instrumen asesmen perilaku adaptif yang fungsional bagi remaja dengan ID. E. Manfaat Penelitian Manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan memberikan urunan dalam memperkaya khasanah model pengembangan instrumen asesmen perilaku adaptif remaja dengan ID. Manfaat praktis, sekolah yang melayani individu dengan ID dapat mempertimbangkan hasil penelitian ini sebagai media untuk melakukan asesmen perilaku adaptif remaja dengan ID yang belum terasesmen. Hasil penelitian juga dapat dijadikan rujukan bagi guru atau praktisi yang ingin mengembangkan instrumen asesmen perilaku adaptif sesuai kondisi dan kebutuhan di sekolah. Selain itu, hasil asesmen juga dapat dipertimbangkan untuk dijadikan salah satu bagian dari laporan perkembangan siswa.