JASSI_anakku Volume 18 Nomor 1, Juni 2017
|
|
|
- Doddy Budiono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Implementasi Program Vokasional bagi Anak Tunagrahita Een Ratnengsih Departemen Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia [email protected] Abstrak Tujuan proses pendidikan bagi anak tunagrahita hakikatnyaa mengacu pada tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya melalui wujud memiliki pengetahuan dan keterampilan. Meninjau kondisi tunagrahita dengan berbagai hambatan yang dimiliki maka ditetapkan bahwa persentase capian pembelajaran dalam kurikulum pada jenjang pendidikan menengah dan atas terdiri dari 40% 50% aspek akademik dan 60% - 50% aspek keterampilan vokasional. Oleh karena itu program vokasional menjadi penting dilakukan di sekolah yang memberi layanan pendidikan bagi tunagrahita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) gambaran tentang jenis-jenis keterampilan vokasional yang dilakukan oleh sekolah, 2) dasar pemilihan jenis keterampilan vokasional, 3) hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan program keterampilan vokasional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah SLB C di kota bandung sebayak 23 sekolah. Hasilnya menunjukan bahwa jenis-jenis keterampilan vokasional yang dilakukan oleh sekolah bervariasi, Jumlah keterampilan terbanyak yang dilakukan oleh sekolah adalah keterampilan kriya 49%, tataboga 19%, tatabusana 12%, pertanian 7 %, jasa 5%, oalahraga 1%, komputer 1%, seni 1% dan fotografi 1%.. Dasar pemilihan jenis voakasional adalah (13%) kesepakatan pihak sekolah, (39%) disesuaikan dengan kondisi anak tunagrahita, (26%) menunjang kemandirian anak tunagrahita dan (22%) penyesuian dengan lingkungan kerja atau aktivitas di tempat anak bersekolah. Hambatan yang sering ditemukan dalam pelaksanaan keterampilan vokasional adalah pada aspek pembelajaran (78%), aspek sarana dan prasarana (13%), aspek sumber daya manusia (5%) dan aspek pemasaran hasil produk (4%). Kata Kunci : Program vokasional, Tunagrahita Pendahuluan Tunagrahita bukan merupakan penyakit, tapi tunagrahita merupakan sebuah kondisi yang dialami oleh seorang anak yang memiliki hambatan dalam aspek intelektual, memiliki masalah pada perilaku adaptif dan terjadi pada masa perkembangan. Tiga konsep tersebut melekat pada anak dengan tunagrahita seperti definisi yang dikemukaan oleh American Assosiation of Intellectual Develompental Disability (AAIDD) dalam (Daniel P. Hallahan et. all.,2009: 147) bahwa mental retardation is a disability characterized by significant limitations both in intellectual functioning and in adaptive behavior as expressed in conceptual, sosial and practical adaptive skills. This disability originates before age 18. Kondisi yang terjadai pada anak tunagrahita menyisakan masalah yang cukup banyak, baik pada aspek belajar maupun pada aspek perkembangan. Namun demikian anak tunagrahita merupakan individu yang tetap memiliki hak untuk memperoleh pendidikan. Pedidikan bagi anak tunagrahita seyogyanya mengacu pada tujuan pendididkan secara 87
2 nasional. Menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jika mengacu pada tujuan tersebut dan mengacu pada kondisi tunagrahita maka pendidikan yang tepat bagi mereka pada akhirnya diarahkan bagaimana mereka dapat hidup secara mandiri. Permen No.22 tahun 2006 menyatakan bahwa Proporsi muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMPLB terdiri atas 60% - 70% aspek akademik dan 40% - 30% berisi aspek keterampilan vokasional. Sedangkan muatan isi kurikulum satuan pendidikan jenjang menengh dan atas terdiri atas 40% 50% aspek akademik dan 60% - 50% aspek keterampilan vokasional. Keterangan berikutnya menjelaskan bahwa kurikulum satuan pendidikan untuk tunagrahita dari jenjang SDLB sampai SMALB dirancang sangat sederhana sesuai dengan batas-batas kemampuan peserta didik dan sifatnya lebih individual. Artinya bahwa pada jenjang menengah dan atas anak tunagrahita diberikan porsi keterampilan lebih banyak disesuaikan dengan kondisi anak. Salah satu bentuk pelaksanaan terwujud dalam program vokasional. Penyelenggaraan program vokasional bagi anak tunagrahita pada jenjang menengah dan atas mengacu pada Permen No.22 tahun 2006 bahwa penentua Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar diserahkan kepada satuan pendidikan masing-masing. Artinya sekolah diberikan kewenangan yang penuh untuk merancang penyelenggaraan program vokasional pada anak tunagrahita. Kondisi tersebut membuka peluang bahwa penyelenggaraan program vokasional pada setiap sekolah akan menjadi bervariasi, baik dari jenis keterampilan yang diberikan pada anak maupun berbagai hambatan dalam pelaksanaanya. Oleh karena itu penting diketahui gambaran secara umum mengenai implementasi program vokasional di sekolah-sekolah untuk anak tunagrahita. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan persentase jenis keterampilan vokasional yang dilaksanakan di SLB untuk anak tunagrahita, dasar pemilihan jenis keterampilan vokasional dan hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan permasalahan dalam pelaksanaan program vokasional Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purpossive sampling karena peluang dari anggota populasi yang dipilih menjadi sampel adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan peneliti. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 23 (responden). Responden berupa sekolah SLB C yang berada di Kota Bandung. Variabel-variabel yang akan diukur dalam penelitian ini terdiri dari 3 bagian, yaitu : 1. Jenis keterampilan vokasional, 2. Dasar pemilihan jenis keterampilan vokasional, 3. Hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan program vokasional. Analisis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Hasil Penelitian 1. Jenis keterampilan Vokasional Grafik berikut menunjukan jenis keterampilan vokasional yang dilaksanakan oleh SLB C di Kota Bandung. 88
3 Grafik 1 Jenis Keterampilan Vokasional SLB C Kota Bandung Jumlah keterampilan vokasional yang teridentifikasi dilaksanakan sebanyak 78 keterampilan. Grafik 1 menunjukan bahwa persentasi terbesar jenis keterampilan vokasional yang dilaksanakan oleh SLB C di Kota Bandung yaitu keterampilan kriya 49%, tataboga 19%, tatabusana 12%, pertanian 7 %, jasa 5%, oalahraga 1%, komputer 1%, seni 1% dan fotografer 1%. Jika melihat presentasi tersebut menunjukan bahwa keterampilan yang sering dilaksankan berdasarkan urutan terbanyak adalah keterampilan kriya, tataboga dan tatabusana. 2. Dasar pemilihan jenis keterampilan vokasional Grafik berikut menunjukan dasar pemilihan jenis keterampilanvokasional oleh SLB C di Kota Bandung. Grafik 2 Dasar Pemilihan Jenis Keterampilan Vokasional SLB C Kota Bandung 89
4 Grafik 2 menunjukan dasar pemilihan jenis keterampilan vokasional yang dilaksanakan di sekolah adalah 13 % kesepakatan yang diambil oleh pihak sekolah, 39% dasarnya adalah disesuaikan dengan kondisi anak tunagrahita, 26% merupakan keterampilan yang dapat menunjang kemandirian anak tunagrahita dan 22% karena penyesuian dengan lingkungan kerja atau aktivitas di tempat anak bersekolah. Dasar tertinggi atau terkuat pemilihan jenis keterampilan karena didasarkan pada kondisi anak tunagrahita. 3. Hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan program vokasional Grafik berikut menunjukan hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan program vokasional di SLB C di Kota Bandung. Grafik 3 Hambatan Pelaksanaan Keterampilan Vokasional SLB C Kota Bandung Grafik 3 menunjukan hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan program vokasional, 78% hambatan sekolah dalam implementasi berada pada aspek pembelajaran, 13% hambatan pada aspek sarana dan prasarana, 5 % hambatan pada aspek Sumber Daya Manusia dan 4 % hambatan pada aspek hasil pemasaran. Hambatan terbayak yang ditemukan oleh sekolah dalam pelaksanaan program vokasional bagi anak tunagrahita adalah aspek pembelajaran dimana guru mengalami kesulitan mengajarkan keterampilan vokasional karena kondisi anak tunagrahita yang memiliki berbagai hambatan. Pembahasan Berbagai program keterampilan yang telah dilaksanakan pada Sentra PK-PLK diseluruh Indonesia yang dipusatkan pada SLB Negeri Pembinan maupun SLB Negeri di tingkat kabupaten/kota yang meliputi: kriya, melukis, mematung, potong rambut, tataboga, sablon, komputer, internet, tata busana, modeling, pertukangan, akupresure, membuat layang-layang, dan hantaran. Ada juga yang menyelenggarakan kegiatan pelatihan bagi ABK seperti kewirausahaan sederhana, praktik merawat tanaman, dan merangkai bunga, membuat pupuk dari sampah organik, ketrampilan bidang perikanan, ketrampilan bahasa asing, pantomim atau teater, olah vokal dan bermusik (Mudjito, 2011). Banyaknya jenis keterampilan vokasional 90
5 karene penentuan SK-KD diserahkan kepada unit penyelenggara pendidikan disesuakan dengan kondisi anak dan lingkungan dimana anak tinggal atau bersekolah. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis keterampilan vokasional bagi anak tunagrahita yang paling banyak dilakukan adalah pada keterampilan kriya. Banyak jenis keterampilan yang termasuk dalam kategori kriya. Adapun hasil temuan menunjukan bahwa jenis ketreampilan kriya yang ada meliputi : membuat gelang dari manik-manik, keset, topi kertas, bunga kertas, sandal jepit, menganyam, hiasan bros, mearangkai bunga, merajut, membatik dan lainnya. Adapaun pemilihan jenis keterampilan yang dilaksanakan oleh sekolah seharusnya dikaji secara mendalam dengan mempertimbangkan komponen anak sebagai subjek yang akan diberikan pembelajaran dan lingkungan tempat dimana anak tinggal. Proses pengkajian dapat diawali melalui proses asesmen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90% sekolah menengah khusus telah melakukan asesmen resmi untuk menggali data tentang keterampilan dan minat kerja, konseling karir, kesiapan kerja, dan kebutuhan layanan terkait hal tersebut. (Heffron, 2004). Sehingga diharapkan program vokasional yang dilakukan di sekolah akan fungsional dan bermanfaat setelah anak tunagrahita lulus dari sekolah. Hasil penelitian menunjukan bahwa dasar pemilihan jenis vokasional 39% disesuaikan dengan kondisi anak tunagrahita, 26% merupakan keterampilan yang dapat menunjang kemandirian anak tunagrahita dan 22% karena penyesuian dengan lingkungan kerja atau aktivitas di tempat anak bersekolah. Dasar tertinggi atau terkuat pemilihan jenis keterampilan karena didasarkan pada kondisi anak tunagrahita, artinya hasil analisis asesmen menjadi dasar dalam penentuan jenis keterampilan vokasional yang diberikan pada anak tunagrahita. Pelaksanaan program keterampilan vokasional menunjukan kendala yang paling tertinggi adalah pada aspek pembelajaran (78%). Kesulitan pada aspek pembelajaran ini adalah bagaimana guru ditantang untuk mampu merancang pembelajaran keterampilan yang tepat untuk anak tunagrahita. Proses pembelajaran keterampillan bagi anak tunagrahita langkah yang cukup panjang, karena kondisi anak tunagrahita yang membuatuhakan penerimaan informasi secara berulang, aspek-aspek perkembangan dasar yang terhambat menyebabkan keterampilan dasar dalam melakukan pembelajaraan vokasional memerlukan pendampingan yang penuh dari guru. Beberapa kendalan yang muncul pada aspek pembelajaran diperkuat oleh salahsatu hasil penelitian yang dilakukan terkait implementasi keterampilan vokasional pembuatan telor asin yang memiliki kendala sulitya membimbing anak tunagrahita dalam proses pengondisian (pembelajaran ) keterampilan vokasional membuat telor asin, minimnya peralatan yang tersedia di sekolah, serta mahalnya bahan baku yang digunakan (Riyani dkk, 2016). Hasil peneltian tersebut juga menunjang terhadap hasil penelitian ini bahwa aspek kedua kendala yang dihadapi adalah pada aspek sarana dan prasarana (13%). Olehkarena itu sebagai rekomendasi dari hasil penelitian ini diperlukan sebuah rancangan pembelajaran keterampilan vokasional yang tepat dengan mempertimbangkan kondisi objektif anak tunagrahita, kondisi lingkungan terkait jenis ketrampilan vokasional yang dapat dikembangkan, serta mempertimbangkan aspek sarana dan prasarana yang mudah dan terjangkau. Daftar Pustaka Amin, Moh. (1995). Pendidikan Anak Tunagrahita. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Alimin, Z dan Rochyadi, E (2003). Pengembangan Program Pembelajaran Individual. Anak Tunagrahita. Jakarta : Direktorat Pendidikan Depdiknas (2006). Permendiknas No 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi. Jakarta : Depdiknas 91
6 Furqon. (2004). Statistika Terapan untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Hallahan, D.P., Kauffman, J.M. & Pullen, P.C. (2009). Exceptional Learners An Introduction to Special Education.New York: Pearson. Heffron, Tom. (2004). A Wisconsin Postsecondary Guide to Disability Documentation. Journal. The Journal For Vocational Special Needs Education. Volume 27, number 1. Pg Mudjito, (2011). Implementasi Pendidikan Ketrampilan berbasis Kemandirian bagi Anak Berkebutuhan Khusus Jenjang Pendidikan Dasar. Dapat diakses pada Susetyo, Budi (2010). Statistika Untuk Analisis Data Penelitian. Bandung. Refika Aditama Riyani, I, dkk (2016). Keterampilan Vokasional Pembuatan Telor Asin Bagi anak Tunagrahita Ringan SMALB di SLB C YPLB Kota Bandung. Bandung : Jurnal Jassi Anakku. Volume 17 No.1 Juni
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bayu Dwi Sulistiyo, 2014
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia mengalami suatu kemajuan sehingga berpengaruh pula kepada bidang pendidikan. Pendidikan ini diharapkan mampu
BAB I PENDAHULUAN. Ernisa Purwandari, 2015
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Istilah individu berkebutuhan khusus bukan merupakan terjemahan atau kata lain dari individu penyandang cacat tetapi individu berkebutuhan khusus mencakup
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Galih Wiguna, 2014
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan secara terencana, sistematis, dan logis.pendidikan diharapkan dapat membentuk sumber daya manusia yang siap menghadapi kemajuan
BAB I PENDAHULUAN. Kelancaran proses pembangunan Bangsa dan Negara Indonesia kearah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kelancaran proses pembangunan Bangsa dan Negara Indonesia kearah yang lebih maju ditentukan dengan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas, yaitu
PENDIDIKAN VAKASIONAL TEPAT GUNA BAGI ABK H.M.UMAR DJANI MARTASUTA
PENDIDIKAN VAKASIONAL TEPAT GUNA BAGI ABK H.M.UMAR DJANI MARTASUTA Peraturan Pemerintah: 1. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL 2. PP 19 Tahun 2005 3.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan bangsa dan negara Indonesia pada umumnya ditentukan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu manusia yang cerdas, terampil, kreatif, mau
SLB TUNAGRAHITA KOTA CILEGON BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu kunci penting dalam menentukan masa depan suatu bangsa. Pengertian pendidikan sendiri ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
2015 PENGARUH METODE DRILL TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMAKAI SEPATU BERTALI PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS 3 SDLB DI SLB C YPLB MAJALENGKA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga Negara Indonesia dan untuk itu setiap warga Negara termasuk anak berkebutuhan khusus berhak memperoleh pendidikan yang bermutu
BAB I PENDAHULUAN. Perilaku adaptif diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memikul
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perilaku adaptif diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memikul tanggung jawab sosial menurut ukuran perkembangan usia, tempat, waktu, dan norma-norma dimana
E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)
Volume 3 Nomor 3 September 2014 E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu Halaman : 281-290 PROFIL PENYELENGGARAAN KETERAMPILAN KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL)
MANFAAT GERAK FISIK OLAHRAGA BAGI KEMANDIRIAN INTELEKTUAL DISABILITAS
MANFAAT GERAK FISIK OLAHRAGA BAGI KEMANDIRIAN INTELEKTUAL DISABILITAS Mumpuniati PLB-FIP-UNY 1. Menstimulasi peredaran darah 2. Mestimulasi pertumbuhan syaraf 3. Menambah koordinasi gerak yang selanjutnya
METODE SIMULASI PADA PEMBELAJARAN KETERAMPILAN VOKASIONAL OTOMOTIF UNTUK SISWA TUNAGRAHITA
213 METODE SIMULASI PADA PEMBELAJARAN KETERAMPILAN VOKASIONAL OTOMOTIF UNTUK SISWA TUNAGRAHITA Bayu D. Sulistiyo 1, Wahid Munawar 2, Sriyono 3 Departemen Pendidikan Teknik Mesin Universitas Pendidikan
BAB I. A. Latar Belakang Masalah
BAB I A. Latar Belakang Masalah Pendidikan harus mendapatkan dukungan untuk menjalankan fungsi penyelenggaraannya bagi masyarakat dengan sebaik-baiknya. Fungsi pendidikan baik bersifat formal maupun non
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, bangsa Indonesia sedang mengerahkan segala daya upaya untuk melakukan pembangunan di segala bidang demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Iding Tarsidi, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang mandiri... (UURI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
2014 IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL PADA KETERAMPILAN MEMBUAT SPAKBOR KAWASAKI KLX 150 MENGGUNAKAN FIBERGLASS DI SMALB-B
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan mempunyai tugas untuk menghasilkan generasi yang baik, manusia manusia yang lebih berbudaya, manusia sebagai individu yang memiliki kepribadian
BAB I PENDAHULUAN. kepribadian atau kedewasaan manusia seutuhnya baik secara mental,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki peran yang besar dalam kemajuan suatu bangsa, hal ini karena pendidikan merupakan pilar penerang persaingan di jaman yang serba modern.
THE EFFECT OF EGGSHELL MOSAIC TRAINING TOWARD FINE MOTOR SKILLS OF CHILDREN WITH INTELLECTUAL AND DEVELOPMENTAL DISABILITY (IDD)
THE EFFECT OF EGGSHELL MOSAIC TRAINING TOWARD FINE MOTOR SKILLS OF CHILDREN WITH INTELLECTUAL AND DEVELOPMENTAL DISABILITY (IDD) (Pengaruh Penggunaan Mozaik Kulit Telur Terhadap Kemampuan Motorik Halus
PENYUSUNAN KTSP. Sosialisasi KTSP 1
PENYUSUNAN KTSP Sosialisasi KTSP 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi
LAPORAN OBSERVASI SLB-A-YKAB SURAKARTA
LAPORAN OBSERVASI SLB-A-YKAB SURAKARTA DISUSUN OLEH : Chrisbi Adi Ibnu Gurinda Didik Eko Saputro Suci Novira Aditiani (K2311013) (K2311018) (K2311074) PENDIDIKAN FISIKA A 2011 FAKULTAS KEGURUAN DAN PENDIDIKAN
PENYUSUNAN PENYUSUN KTSP
PENYUSUNAN KTSP Sosialisasi KTSP 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional a Pendidikan d Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar
BAB 1 PENDAHULUAN. berkembang mempunyai tantangan besar dibidang pembangunan mengingat
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam era industrialisasi, bangsa Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang mempunyai tantangan besar dibidang pembangunan mengingat semakin ketatnya persaingan
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang dan Masalah. 1. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah suatu kebutuhan yang sangat penting bagi manusia.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu kebutuhan yang sangat penting bagi manusia. Pendidikan adalah suatu proses sadar tujuan, artinya bahwa kegiatan
2015 MANFAAT HASIL BELAJAR MENYEDIAKAN LAYANAN ROOM SERVICE PADA KESIAPAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI SMK ICB CINTA WISATA
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan kegiatan yang sangat penting untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara, melalui pendidikan yang baik sebuah Negara dapat berkembang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Warga Negara Republik Indonesia yang memiliki keragaman budaya, perbedaan latar belakang, karakteristik, bakat dan minat, peserta didik memerlukan proses pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Sekolah Luar Biasa PKK Propinsi Lampung sebagai salah satu sekolah centara
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekolah Luar Biasa PKK Propinsi Lampung sebagai salah satu sekolah centara yang telah ditunjuk untuk menyelenggarakan Sekolah Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus
2015 PENGASUHAN YANG DILAKUKAN ORANG TUA YANG MEMILIKI LEBIH DARI SATU ANAK INTELLECTUAL DISABILITY
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Semua orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan, tetapi pada kenyataanya tidak semua anak dilahirkan dalam
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MELALUI METODE KARYAWISATA PADA ANAK TUNAGRAHITA
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MELALUI METODE KARYAWISATA PADA ANAK TUNAGRAHITA Tawar SLB-C YPAALB Prambanan Klaten [email protected] ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan
BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, politik, budaya, sosial dan pendidikan. Kondisi seperti ini menuntut
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi saat ini menimbulkan kompetensi di berbagai bidang baik ekonomi, politik, budaya, sosial dan pendidikan. Kondisi seperti ini menuntut masyarakat
4. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII 1. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA, Program IPS, Pro-
3. Struktur Kurikulum SMA/MA Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas XII. Struktur kurikulum
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah modal utama bagi suatu bangsa dalam upaya meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah modal utama bagi suatu bangsa dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Sumber daya manusia yang berkualitas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan pondasi kemajuan suatu negara, maju tidaknya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan pondasi kemajuan suatu negara, maju tidaknya suatu negara diukur melalui sistem pendidikannya, pendidikan juga tumpuan harapan bagi peningkatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah salah satu modal seseorang untuk meraih kesuksesan dalam kehidupannya. Pada dasarnya setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan yang layak,
BAB I PENDAHULUAN. belajar kepada siswa melalui proses pembelajaran yang baik.
1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pendidikan merupakan faktor utama dalam pengembangan dan pembangunan bangsa, juga merupakan senjata yang paling ampuh untuk meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan
THE EFFECT OF BOWLING GAME TOWARD NUMERACY SKILLS FOR INTELLECTUAL DISABILITY STUDENT
THE EFFECT OF BOWLING GAME TOWARD NUMERACY SKILLS FOR INTELLECTUAL DISABILITY STUDENT (Pengaruh Penggunaan Permainan Bowling Terhadap Keterampilan Berhitung Siswa Tunagrahita) Putri Dwi Sari A *1 Tomas
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan suatu bangsa karena menjadi modal utama dalam pengembangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan menjadi kebutuhan paling dasar untuk membangun kehidupan suatu bangsa karena menjadi modal utama dalam pengembangan sumber daya manusia. Bangsa Indonesia
Smart, Innovative, Professional
email : [email protected] Smart, Innovative, Professional 8 >> 0 >> 1 >> 2 >> 3 >> 4 >> 7 >> 0 >> 1 >> 2 >> 3 >> 4 >> 6 >> 0 >> 1 >> 2 >> 3 >> 4 >> 5 >> 0 >> 1 >> 2 >> 3 >> 4 >> 4 >> 0 >> 1 >> 2
Kurikulum SD Negeri Lecari TP 2015/ BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Bab 2 pasal 3 UU Sisdiknas berisi pernyataan sebagaimana tercantum
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus
BAB 1 PENDAHULUAN. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum yang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. KTSP sebagai seperangkat rencana dan
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KETERAMPILAN TATA BUSANA PADA ANAK TUNARUNGU KELAS VII SMPLB DI SLB-B PRIMA BHAKTI MULIA KOTA CIMAHI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan secara umum memiliki tujuan untuk membentuk kedewasaan individu dalam berbagai aspek, baik pengetahuannya, sikapnya, maupun keterampilannya. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Evinaria Esahastuti, 2014 Studi Pembelajaran Seni Dihomeschoolingtaman Sekar Bandung
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, baik dalam proses berpikir, bersikap, bertindak maupun berprilaku. Begitu pentingnya pendidikan
BAB 1. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan; meliputi input, proses, output, dan outcome; yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TANGGAL 23 MEI 2006 STANDAR ISI BAB I PENDAHULUAN
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TANGGAL 23 MEI 2006 STANDAR ISI BAB I PENDAHULUAN Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
2015 PENERAPAN PELATIHAN CETAK SABLON DIGITAL DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS SISWA TUNARUNGU KELAS XII SMALBDI SLB BC YATIRA CIMAHI
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Siswa tunarungu jenjang SMALB termasuk dalam masa dimana siswa dituntut untuk siap memasuki dunia kerja, kemasyarakatan serta melanjutkan pendidikan ke jenjang
PROGRAM KEBUTUHAN BINA DIRI BAGI ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DAN SEDANG Oleh: Atang Setiawan
PROGRAM KEBUTUHAN BINA DIRI BAGI ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DAN SEDANG Oleh: Atang Setiawan A. Pendahuluan Kurikulum sebagai bangun dasar dari sebuah proses pendidikan merupakan saripati masyarakat dalam
Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah ii KATA PENGANTAR Dalam rangka mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses pembelajaran yang dilaksanakan secara sadar untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pendidikan menjadi sesuatu hal yang sangat
BAB I PENDAHULUAN. umumnya dan anak pada khususnya. Sebenarnya pendidikan telah dilaksanakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia pada umumnya dan anak pada khususnya. Sebenarnya pendidikan telah dilaksanakan sepanjang sejarah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha manusia (pendidik) dengan penuh tanggung jawab untuk membimbing anak didik menuju kedewasaan secara terencana untuk mewujudkan suasana belajar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang pesat sekarang ini, akan membawa dampak kemajuan dibidang kehidupan baik dalam
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TANGGAL 23 MEI 2006 STANDAR ISI BAB I PENDAHULUAN
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TANGGAL 23 MEI 2006 STANDAR ISI BAB I PENDAHULUAN Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
KOMITMEN KEPALA SEKOLAH DALAM MENYIAPKAN KEMANDIRIAN PESERTA DIDIK ABK. Juang Sunanto Pendidikan Luar Biasa, Universitas Pendidikan Indonesia
KOMITMEN KEPALA SEKOLAH DALAM MENYIAPKAN KEMANDIRIAN PESERTA DIDIK ABK Juang Sunanto Pendidikan Luar Biasa, Universitas Pendidikan Indonesia A. Pendahuluan Sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Sistem
PENYUSU S NA N N KTSP
PENYUSUNAN KTSP 2006 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No. 22/20062006 tentang Standar Isi Permendiknas
BAB I PENDAHULUAN. manusia yang dinamis dan syarat akan perkembangan, oleh karena itu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan dari seni dan budaya manusia yang dinamis dan syarat akan perkembangan, oleh karena itu perubahan atau perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam upaya mewujudkan tujuan nasional.
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka menjadi. pemerintah, masyarakat, maupun keluarga. Namun demikian, pemerintah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kunci utama kemajuan suatu bangsa, yaitu untuk membentuk Sumber Daya Manusia yang berpotensi. Pendidikan diharapkan dapat meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, yang dapat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, yang dapat ditingkatkan melalui bidang pendidikan. Pendidikan berfungsi untuk mewujudkan, mengembangkan
Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah ii KATA PENGANTAR Dalam rangka mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan paradigma masyarakat terhadap pendidikan yang semakin kuat mengarah pada pendidikan sebagai investasi kini telah mengkondisikan semua sektor pendidikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin perkembangan serta kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tita Nurhayati, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada umumnya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan individu secara optimal sehingga dapat hidup mandiri. Pendidikan di Indonesia telah memiliki
DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1
PANDUAN PENYUSUNAN KTSP DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No.
Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah ii KATA PENGANTAR Dalam rangka mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan
BAB II KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM
BAB II KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM A. Kerangka Dasar Kurikulum 1. Kelompok Mata Pelajaran Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan
Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah ii KATA PENGANTAR Dalam rangka mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan
Implementasi Pendidikan Segregasi
Implementasi Pendidikan Segregasi Pelaksanaan layanan pendidikan segregasi atau sekolah luar biasa, pada dasarnya dikembangkan berlandaskan UUSPN no. 2/1989. Bentuk pelaksanaannya diatur melalui pasal-pasal
2015 MANFAAT PEMBELAJARAN PRAKARYA DAN KEWIRAUSAHAAN DALAM PENUMBUHAN SIKAP WIRAUSAHA SISWA SMAN 1 CIMAHI
1 BAB I PENDAHULUAN Bab I pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah mengenai pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dalam penumbuhan sikap wirausaha siswa yang akan diteliti, rumusan masalah,
Prinsip Pengembangan Kurikulum. Aris Fajar Pambudi
Prinsip Pengembangan Aris Fajar Pambudi Prinsip-prinsip Pengembangan Soetopo dan Soemanto (1993: 48-50) pengembangan kurikulum perlu memperhatikan prinsip-prinsip relevansi, efektivitas, efisiensi, kontinuitas,
BAB I PENDAHULUAN. Beragam kebutuhan yang dimiliki anak tunagrahita baik kebutuhan yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Beragam kebutuhan yang dimiliki anak tunagrahita baik kebutuhan yang sifatnya pokok (primer) maupun kebutuhan sekunder dan tertier yang harus dipenuhi. Salah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan yang dilakukan untuk mencapai kualitas Sumber Daya Manusia perlu disiapkan peserta didik yang mau bekerja keras, memiliki kemampuan, keterampilan
Oleh : ARIE KHURNIAWAN NPM SKRIPSI
0 UPAYA MENINGKATKAN KECAKAPAN HIDUP MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK TEKNIK PERMAINAN SIMULASI PADA SISWA SMK NEGERI 1 KLEGO KABUPATREN BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Oleh : ARIE KHURNIAWAN NPM.
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada jenjang pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 29 tahun 1990 bab I pasal 1 ayat 3 tentang pendidikan menengah dimana dijelaskan bahwa Pendidikan menengah
Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah ii KATA PENGANTAR Dalam rangka mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan
BAB I PENDAHULUAN. perubahan budaya kehidupan. Pendidikan yang dapat mendukung pembangunan di masa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan syarat akan perkembangan adalah hal yang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan
BAB I PENDAHULUAN. investasi dalam bidang pendidikan sebagai prioritas utama dan. pendidikan. Untuk mendasarinya, Undang-Undang Dasar 1945 di
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beberapa tahun terakhir ini Pemerintah Indonesia telah menjadikan investasi dalam bidang pendidikan sebagai prioritas utama dan mengalokasikan persentase yang lebih
PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI MATA PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA KELAS XI SMK MUHAMMADIYAH 3 SURAKARTA
PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI MATA PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA KELAS XI SMK MUHAMMADIYAH 3 SURAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Mencapai Derajad S-1 Jurusan Pendidikan
UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DASAR & FUNGSI Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pendidikan Nasional
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang besar dan merupakan salah satu negara berkembang, yang pada saat ini sedang giat melakukan pembangunan
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Suatu proses pendidikan tidak lepas dari Kegiatan Belajar Mengajar
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Suatu proses pendidikan tidak lepas dari Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), baik itu di dalam maupun di luar ruang kelas. Dalam KBM seorang pendidik akan selalu berusaha
DASAR & FUNGSI. PENDIDIKAN NASIONAL BERDASARKAN PANCASILA DAN UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
DASAR & FUNGSI. PENDIDIKAN NASIONAL BERDASARKAN PANCASILA DAN UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DASAR & FUNGSI Pendidikan
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 dikemukakan kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi
BAB I PENDAHULUAN. berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Masalah pendidikan mendapat perhatian yang serius dari pemerintah, berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, diantaranya, pembangunan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Demikan halnya dengan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Nasional Indonesia. Sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang Nomor 20
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus terpenuhi sepanjang hayat untuk memajukan kehidupan manusia itu sendiri. Pendidikan utamanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Krisis multidimensi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah membawa dampak yang luar biasa pada mutu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dan juga pada
