BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah

dokumen-dokumen yang mirip
KERANGKA ACUAN STIMULASI DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK) ANAK

BAB III METODE PENELITIAN

Program Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) 1. Pengertian Program SDIDTK merupakan program pembinaan tumbuh kembang anak

penting dalam menentukan arah serta mutu pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Kemampuan orangtua dalam memenuhi kebutuhan anak akan asuh, asih,

KERANGKA ACUAN KERJA STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG ( SDIDTK)

BAB I PENDAHULUAN. seutuhnya antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak yang

DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG (DDTK)

KP III MODUL A DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK USIA DINI

1. BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN UKDW. perkembangan fase selanjutnya (Dwienda et al, 2014). Peran pengasuhan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. anak menentukan perkembangan anak selanjutnya. Anak usia dini merupakan

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh kembang anak pada usia dini akan berpengaruh secara nyata pada

BAB I PENDAHULUAN. diulang lagi, maka masa balita disebut sebagai masa keemasan (golden period),

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Periode penting dalam masa tumbuh kembang seorang anak adalah masa

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang tepat bagi anak sejak masa usia dini. aspek perkembangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual mengalami

BAB I PENDAHULUAN. gembira dapat memotivasi anak untuk belajar. Lingkungan harus diciptakan

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan perkembangannya (Hariweni, 2003). Anak usia di bawah lima tahun (Balita) merupakan masa terbentuknya

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya pengembangan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial-emosional,

BAB I PENDAHULUAN. termasuk pembangunan dibidang pendidikan. dalam satu program kegiatan belajar dalam rangka kegiatan belajar dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum

BAB I PENDAHULUAN. (Ariwibowo, 2012) atau sekitar 13% dari seluruh penduduk Indonesia yang

BAB I PENDAHULUAN. berkualitas, deteksi, intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang (Depkes

PERBEDAAN KEMATANGAN SOSIAL ANAK DITINJAU DARI KEIKUTSERTAAN PENDIDIKAN PRASEKOLAH (PLAYGROUP)

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

BAB 1 PENDAHULUAN A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dan pertumbuhan anak karena merupakan masa peka dalam kehidupan anak. Masa

BAB I PENDAHULUAN. Usia toddler merupakan usia anak dimana dalam perjalanannya terjadi

BAB I PENDAHULUAN. PAUD diberikan melalui kegiatan bermain seraya belajar. Pada saat bermain

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Neuneu Nur Alam, 2014

BAB I PENDAHULUAN. komponen dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Indonesia telah mencanangkan pendidikan wajib belajar yang semula 6 tahun

BAB I PENDAHULUAN. penting karena Pendidikan Anak Usia Dini merupakan fondasi dasar. Pendidikan Nasional, Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum

I. PENDAHULUAN. mencerdaskan dan meningkatkan taraf hidup suatu bangsa. Bagi bangsa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Istilah kognitif sering kali dikenal dengan istilah intelek. Intelek

BAB I PENDAHULUAN. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia no. 20 tahun 2003 tentang

PELAKSANAAN STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK) ANAK PRASEKOLAH DI TK WILAYAH KERJA PUSKESMAS RANTANG MEDAN TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. berbangsa dan bernegara. Hal ini terdapat dalam Undang-Undang Nomor 20

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan anak usia dini (early childhood education) merupakan suatu

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya anak usia dini memiliki potensi yang dibawa sejak lahir, dan dapat

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak-anak. Upaya

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Oleh karena itu setiap warga Negara harus dan wajib mengikuti

BAB I PENDAHULUAN. kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh. yang mencakup aspek fisik dan nonfisik dengan memberikan rangsangan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah Tunas harapan bangsa. Mereka ibarat bunga yang tengah

BAB I PENDAHULUAN. disebut sebagai masa keemasan karena pada masa itu keadaan fisik maupun segala

BAB I PENDAHULUAN. oleh mutu pendidikan dari bangsa itu sendiri. Pendidikan yang tinggi akan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan dengan tujuan untuk

BAB I PENDAHULUAN. Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Anak pra sekolah yaitu anak dengan usia 4-6 tahun yang mengalami

BAB I PENDAHULUAN. hendaknya dibangun dengan empat pilar, yaitu learning to know, learning

BAB I PENDAHULUAN. ditangani, dan tidak akan pernah selesai untuk dikerjakan dari waktu ke

BAB I PENDAHULUAN. kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dalam perkembangannya,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Undang-undang pasal 28 ayat 2 bahwa setiap anak berhak atas

BAB I PENDAHULUAN. Anak adalah manusia kecil yang memiliki potensi yang harus. dikembangkan sejak dini agar dapat berkembang secara optimal.

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan lebih lanjut. (Pasal 1 ayat 14 menurut UU No. 20 Tahun 2003)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Volume 4 No. 2, September 2013 ISSN :

BAB I PENDAHULUAN. ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bellanita Maryadi, 2013

BAB I PENDAHULUAN. pilar yaitu, learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live

Jurnal Keperawatan, Volume XI, No. 2, Oktober 2015 ISSN HUBUNGAN PEMBERIAN STIMULASI IBU DENGAN PERKEMBANGAN BALITA DI POSYANDU

BAB I PENDAHULUAN. fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh. anak perlu diberi stimulasi yang optimal melalui pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. kecerdasan anak. Dalam usia 0-5 tahun, anak diajarkan berbagai macam

BAB I PENDAHULUAN. diberikan sejak dini dengan layak. Oleh karena itu, anak memerlukan program

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP & PA) menyebutkan bahwa setiap anak merupakan aset

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan anak usia dini adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan perkembangan pada masa pra sekolah merupakan tahap

BAB I PENDAHULUAN. juga masa awal kanak-kanak yang memiliki berbagai karakter atau ciri-ciri.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

MANAJEMEN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) DI TAMAN KANAK-KANAK ISLAM TERPADU (TKIT) ASSALAM JETIS AMBARAWA TESIS

BAB I PENDAHULUAN. dengan adanya fitrah yang suci. Sebagaimana pendapat Chotib (2000: 9.2) bahwa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berdasarkan Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Anak menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia adalah keturunan kedua.

BAB I PENDAHULUAN. kecerdasan (daya pikir, daya cipta), sosioal-emosional, bahasa dan komunikasi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Usia anak-anak merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, karena

BAB I PENDAHULUAN. memasuki pendidikan lebih lanjut (UU No. 20 Tahun 2003, pasal 1 : 14).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB V ANALISIS DATA. manusia. Melalui pendidikan usia dini dapat dibangun pilar-pilar sumber daya

I. PENDAHULUAN. anak belajar menguasai tingkat yang lebih tinggi dari aspek-aspek gerakan,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi sumber daya yang berkualitas tidak hanya dilihat secara fisik namun

PINTAR BANANA SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI KUALITAS BALITA DI RW 04 DAN RW 05 DESA ROWOSARI KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG

PENGGUNAAN METODE BERCERITA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA LISAN PADA ANAK DIDIK KELOMPOK B DI TK AISYIYAH 1 DIBAL NGEMPLAK BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan. 31 ayat (1) menyebutkan bahwa Setiap warga Negara berhak mendapat

PERBEDAAN TINGKAT PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH YANG SEKOLAH TK DAN ANAK YANG TIDAK SEKOLAH TK DI DESA BANJARSARI KEC. BANTARBOLANG PEMALANG

PENDAHULUAN BAB I. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. perkembangannya anak usia dini merupakan masa-masa keemasan yang harus

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG UPI Kampus Serang Nova Sri Wahyuni, 2016

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak usia dini adalah usia emas dimana anak memiliki karakteristik

BAB I PENDAHULUAN. Anak sebagai individu yang unik memiliki karakteristik yang berbeda beda. Masing

BAB I PENDAHULUAN. usia kanak-kanak mulai dari 0-6 tahun adalah masa the golden age atau masa usia. sehingga potensi yang dimilikinya semakin terasah.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu lembaga pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan

BAB I PENDAHULUAN. sampai usia pra sekolah. Masa anak usia dini itu dapat disebut sebagai masa peka

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Direktorat PAUD, 2005 dalam Yamin ( 2010: 1), menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang paling mendasar dan menempati kedudukan sebagai golden age dan sangat strategis dalam pengembangan sumber daya manusia. Hal tersebut menegaskan bahwa rentang usia anak usia dini (sejak lahir sampai usia enam tahun) merupakan masa-masa penting untuk menerapkan berbagai stimulus pendidikan. Penerapan stimulus pendidikan ini, bertujuan untuk membantu perkembangan anak secara maksimal, baik perkembangan jasmani maupun rohaninya agar kepekaan dan sensitifitas di rentang usia dini ini lebih tajam dan terarah. Kaitan dengan hal di atas, Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menekankan bahwa PAUD hendaknya memiliki hakekat pendidikan sebagai fasilitator untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Keberadaan PAUD itu sendiri hendaknya mampu menjawab harapan orangtua yang mendambakan memiliki anak dengan tumbuh kembang optimal. Walaupun pada hakekatnya tentu saja tidak semua anak memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, banyak pula di antaranya yang memiliki kelainan, masalah dan penyimpangan tumbuh kembang yang disebabkan oleh berbagai faktor. Bisa saja penyebabnya faktor genetik/bawaan sejak lahir ataupun faktor lingkungan. Oleh karena itu, deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan tidak bisa diabaikan. Orangtua ataupun orang terdekat anak

2 hendaknya senantiasa memperhatikan, mengawasi, dan merawat anak secara seksama, serius dan bersungguh-sungguh (Dewi, TT: V). Masalah ataupun penyimpangan perkembangan anak hendaknya bisa terdeteksi sedini mungkin untuk kemudian bisa diberikan stimulasi ataupun intervensi yang tepat. Hal tersebut dikarenakan masa usia dini adalah masa yang sangat menentukan bagi perkembangan anak selanjutnya karena merupakan masa peka dan masa emas dalam kehidupan anak (Yamin, 2010: 4). Itu berarti semua pihak perlu memahami akan pentingnya masa usia dini bagi pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Masa peka itu sendiri adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar pertama untuk mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, psikomotorik, bahasa, sosio-emosional, dan spiritual (Wahyudin dan Agustin, 2011: 6). Selanjutnya, masa peka dari setiap anak akan berbeda satu sama lain karena hal tersebut sangat dipengaruhi oleh laju pertumbuhan dan perkembangan dari masing-masing anak. Untuk itu, stimulasi yang harus diberikan kepada anakpun harus berbeda sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Pada dasarnya, tiap-tiap tahap perkembangan memiliki potensi gangguan perkembangan berbeda-beda, tergantung pada tugas perkembangan yang diemban pada masing-masing usia. Sedangkan gangguan perkembangan yang banyak muncul pada masa anak usia TK antara lain gangguan bicara, gangguan berbahasa, keterbelakangan mental, autis, lambat belajar, gangguan pemusatan perhatian. Selain itu, pada usia anak TK dimana aktivitas anak semakin tinggi dengan kegiatan bermainnya, maka sangat tinggi pula kemungkinan terjadinya kelelahan atau kecelakaan yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan motorik. Di Indonesia, angka anak dengan penyimpangan perkembangan belum terdata secara akurat dan spesifik. Namun secara umum, asumsi yang dikeluarkan

3 PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations) dengan perkiraan anak yang memiliki kecenderungan menyimpang mencapai paling sedikit 10% dapat menjadi rujukan yang kuat. Apalagi perkiraan tersebut menyatakan bahwa ke- 10% itu dialami oleh anak usia prasekolah dan sekolah. Dengan asumsi tersebut, maka di Indonesia dengan jumlah anak sekolah (5-14 tahun) sebesar 46 juta anak, diperkirakan ada kurang lebih 4,6 juta anak yang mengalami masalah tumbuh kembang ataupun berkebutuhan khusus. Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), diperkirakan ada 351.000 anak berkebutuhan khusus di bawah lima tahun (College of Educators Indonesia). Gangguan kemampuan berbahasa juga menjadi masalah yang banyak dijumpai pada anak usia dini. Padahal Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi dan lingkungan di sekitar anak. Menurut NCHS (dalam Soetjiningsih,1994: 237), berdasarkan atas laporan orangtua (di luar gangguan pendengaran dan celah pada palatum) diperkirakan gangguan bicara dan bahasa pada anak usia TK adalah sekitar 4-5%. Masalah perkembangan anak yang umumnya terlihat adalah anak yang belum bisa berbicara sesuai dengan usianya, anak yang tidak mau lepas dari ibunya, anak pemarah, dan anak yang hanya fokus pada dirinya sendiri. Adapun masalah perkembangan tersebut cenderung sangat terlihat, sehingga anak dengan masalah perkembangan lainnya belum diketahui secara pasti. Jamaris dalam Sujiono (2010:20) menyatakan bahwa gangguan perkembangan yang terjadi pada suatu masa khususnya masa emas, hendaknya segera terdeteksi karena perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif, artinya perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu, apabila terjadi hambatan pada

4 perkembangan terdahulu maka perkembangan selanjutnya cenderung akan mendapat hambatan juga. Selain itu, masa anak juga merupakan dasar pembentukan fisik dan kepribadian pada masa berikutnya. Dengan kata lain, masa anak merupakan masa emas mempersiapkan seorang individu menghadapi tuntutan zaman sesuai potensinya. Jika terjadi gangguan perkembangan, apapun bentuknya, deteksi dini merupakan kunci penting keberhasilan program intervensi yang dilakukan. Semakin dini gangguan perkembangan terdeteksi, semakin tinggi pula kemungkinan tercapainya tujuan intervensi atau koreksi atas gangguan yang terjadi (Ayuningsih, TT:104). Ada beberapa alat yang bisa digunakan dalam melakukan deteksi dini penyimpanganperkembangan anak, diantaranya adalah Kuisioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), Tes Daya Lihat (TDL), dan Tes Daya Dengar (TDD). Untuk melakukan deteksi dini penyimpangan mental emosional digunakan Kuisioner Masalah Mental Emosional (KMME) bagi anak umur 36 bulan sampai 72 bulan, Ceklis autis anak prasekolah (Cheklist for Autism in Toddlers/CHAT) bagi anak umur 18 bulan sampai 36 bulan, dan Formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) menggunakan Abreviated Conner Rating Scale bagi anak umur 36 bulan keatas (Rusmil, 2010: 70). Di kecamatan Cianjang, tidak terdapat data yang spesifik mengenai angka pasti dari anak yang mempunyai masalah perkembangan, namun berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru yang ada di setiap TK yang ada di kecamatan Ciranjang, maka didapat data bahwa terdapat setidaknya 3 orang anak pada setiap TK yang sudah terdeteksi mengalami masalah perkembangan. Dan berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di TK, dan juga berdasarkan wawancara dengan pengajar lain, guru atau pengajar sebenarnya melakukan deteksi terhadap perkembangan anak, hanya saja deteksi yang dilakukan lebih banyak dilakukan melalui observasi tanpa menggunakan alat

5 deteksi yang sudah valid. Sehingga, penggunaan alat deteksi seperti yang disebutkan pada latar belakang di atas menjadi suatu hal yang menarik bagi penulis. Kelas A sendiri dipilih untuk menjadi subjek penelitian karena berdasarkan hasil penelitian awal ditemukan bahwa anak-anak kelas A lebih berpotensi memiliki masalah perkembangan, dimana hampir semua anak kelas A berasal dari rumah tangga sehingga masih sedikit anak yang telah mendapatkan stimulasi yang optimal. Hal tersebut berbeda dengan kelas B yang sebagian besar anak-anaknya adalah berasal dari kelas A, sehingga anak sudah banyak yang telah mendapatkan stimulasi dari gurunya. Selanjutnya, KPSP dipilih sebagai alat yang akan digunakan dalam penelitian ini. Alasan dari pemilihan KPSP adalah karena KPSP adalah salah satu alat deteksi dini yang sudah baku yang dikeluarkan oleh Depkes, dimana validasinya sudah teruji, dan KPSP itu sendiri sudah banyak dipergunakan untuk melakukan deteksi dini perkembangan anak di lingkungan kesehatan ataupun kader-kader posyandu. Untuk mengetahui bagaimana penerapan KPSP sebagai alat deteksi dini masalah perkembangan anak di TK, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Deteksi Dini Masalah Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak dengan menggunakan KPSP (Kuisioner Pra Skrining Perkembangan). (Studi deskriptif pada anak-anak TK A di Kec. Ciranjang kabupaten Cianjur). B. Rumusan Masalah Secara umum masalah dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan yaitu: bagaimana penerapan dan hasil dari penggunaan KPSP (Kuisioner Pra Skrining Perkembangan) sebagai alat deteksi dini masalah

6 perkembangan anak Taman Kanak-kanak di kecamatan Ciranjang kabupaten Cianjur?. Secara rinci, rumusan masalah disusun dalam bentuk pertanyaan penelitian, sebagai berikut: 1. Bagaimanakah penerapan KPSP yang digunakan sebagai alat deteksi dini masalah perkembangan anak TK A di kecamatan Ciranjang kabupaten Cianjur? 2. Bagaimanakah hasil dari penerapan KPSP sebagai alat deteksi dini masalah perkembangan anak TK A di kecamatan Ciranjang kabupaten Cianjur? C. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui gambaran penerapan deteksi dini masalah perkembangan anak-anak TK A di kecamatan Ciranjang kabupaten Cianjur dengan menggunakan KPSP. 2. Mengetahui hasil dari penerapan KPSP sebagai alat deteksi dini masalah perkembangan anak TK di kecamatan Ciranjang kabupaten Cianjur. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, peningkatan mutu pendidikan, dan untuk penelitian-penelitian lebih lanjut. Secara spesifik, manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis

7 Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan keilmuan, khususnya mengenai penggunaan KPSP sebagai salah satu alat yang bisa digunakan dalam melakukan deteksi dini masalah perkembangan anak TK. 2. Manfaat Praktis Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para guru, orang tua, dan praktisi pendidikan lainnya dalam bidang PAUD sebagai bahan masukan dalam melakukan deteksi dini masalah perkembangan anak TK, yaitu dengan menggunakan KPSP. E. Struktur Organisasi BAB I.Pendahuluan Bab Pendahuluan berisi latar belakang penelitian, identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat atau signifikansi penelitian BAB II. Kajian Pustaka Bab Kajian pustaka berfungsi sebagai landasan teoretik dalam menyusun pertanyaan penelitian, tujuan serta hipotesis (bagi penelitian yang membutuhkan hipotesis). BAB III. Metode Penelitian Metode penelitian berisi penjabaran yang rinci mengenai metode penelitian, termasuk beberapa komponen di dalamnya. BAB IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab Hasil Penelitian dan Pembahasan terdiri dari dua hal utama, yakni: a. Pengolahan atau analisis data untuk menghasilkan temuan berkaitan dengan masalah penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian. b. Pembahasan atau analisis temuan BAB V. Kesimpulan dan Rekomendasi

8 Bab Kesimpulan dan Rekomendasi menyajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap hasil analisis temuan penelitian.