BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK

dokumen-dokumen yang mirip
TUGAS AKHIR PERENCANAAN SYSTEM HYDROLIK PADA MOVABLE BRIDGE DERMAGA KAPASITAS 100 TON

BAB II LANDASAN TEORI

TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM HIDRAULIK PADA BACKHOE LOADER TYPE 428E

BAB II PRINSIP-PRINSIP DASAR HIDRAULIK

Perencanaan Sistem Hidrolik Pada Backhoe Loader Type 428E BAB II TEORI BACKHOE LOADER DAN HIDRAULIK

BAB IV PERHITUNGAN HIDRAULIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN

PENERAPAN KONSEP FLUIDA PADA MESIN PERKAKAS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN

BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA

Oleh : Endiarto Satriyo Laksono Maryanto Sasmito

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN PROSES PEMBUATAN ALAT PENYANGGA TENGAH OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR YANG MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi Fluida

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISA HIDROLIK SISTEM LIFTER PADA FARM TRACTOR FOTON FT 824

KAJIAN ULANG PERENCANAAN PIPA PESAT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) WONOGIRI

Analisa Pengaruh Variasi Volume Tabung Udara Dan Variasi Beban Katup Limbah Terhadap Performa Pompa Hidram

Mesin Pemeras Minyak Ikan. Kamin Ginting & Eka Nanda Pratama

BAB III CARA KERJA MESIN PERAKIT RADIATOR

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III SET-UP ALAT UJI

BAB II DASAR TEORI QQ =... (2.1) Dimana: VV = kebutuhan air (mm 3 /hari) tt oooo = lama operasi pompa (jam/hari) nn pp = jumlah pompa

KARAKTERISTIK ZAT CAIR Pendahuluan Aliran laminer Bilangan Reynold Aliran Turbulen Hukum Tahanan Gesek Aliran Laminer Dalam Pipa

PERANCANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH DINGIN DARI TANGKI ATAS MENUJU HOTEL PADA THE ARYA DUTA HOTEL MEDAN

Sistem Hidrolik. Trainer Agri Group Tier-2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagai motor penggerak utama Forklift ini digunakan mesin diesel 115

PENGERTIAN HIDROLIKA

BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA

BAB III ANALISA IMPELER POMPA SCALE WELL

BAB 3 POMPA SENTRIFUGAL

BAB II LANDASAN TEORI

MEMBUAT STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PADA UNIT WATER TRUCK

BAB IV PENGUKURAN KEHILANGAN ENERGI AKIBAT BELOKAN DAN KATUP (MINOR LOSSES)

PENGUJIAN PENGARUH VARIASI HEAD SUPPLY DAN PANJANG LANGKAH KATUP LIMBAH TERHADAP UNJUK KERJA POMPA HIDRAM

Panduan Praktikum 2012

Gambar 4.21 Grafik nomor pengujian vs volume penguapan prototipe alternatif rancangan 1

BAB II DASAR TEORI. m (2.1) V. Keterangan : ρ = massa jenis, kg/m 3 m = massa, kg V = volume, m 3

UNIVERSITAS MERCU BUANA

Losses in Bends and Fittings (Kerugian energi pada belokan dan sambungan)

BAB III PERANCANGAN, INSTALASI PERALATAN DAN PENGUJIAN

Masalah aliran fluida dalam PIPA : Sistem Terbuka (Open channel) Sistem Tertutup Sistem Seri Sistem Parlel

BAB IV ANALISA PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN BLOWER

BAB II TEORI DASAR. unloading. Berdasarkan sistem penggeraknya, excavator dibedakan menjadi. efisien dalam operasionalnya.

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi fluida

Uji Fungsi Dan Karakterisasi Pompa Roda Gigi

(Indra Wibawa D.S. Teknik Kimia. Universitas Lampung) POMPA

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM

BAB III DESKRIPSI ALAT UJI DAN PROSEDUR PENGUJIAN

PRAKTIKUM DAC HIDROLIK

MODUL PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. PS, dengan putaran mesin 1500 rpm dan putaran dari mesin inilah yang

HUKUM STOKES. sekon (Pa.s). Fluida memiliki sifat-sifat sebagai berikut.

BAB IV PERHITUNGAN INSTALASI POMPA HYDRANT. Massa jenis cairan : 1 kg/liter. Kapasitas : liter/menit = (1250 gpm) Kondisi kerja : Tidak kontinyu

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III RANCANG BANGUNG MBG

PERANCANGAN KOMPRESOR TORAK UNTUK SISTEM PNEUMATIK PADA GUN BURNER

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010

Penggunaan sistem Pneumatik antara lain sebagai berikut :

BAB II LANDASAN TEORI

Analisa Tekanan Air Dengan Methode Pipe Flow Expert Untuk Pipa Berdiameter 1, ¾ dan ½ Di Instalasi Pemipaan Perumahan

BAB V ANALISA DAN PEMECAHAN MASALAH

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

SOAL TRY OUT FISIKA 2

BAB III PERANCANGAN SISTEM DAN ANALISIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODOLOGI PENELITIAN. berdasarkan prosedur yang telah di rencanakan sebelumnya. Dalam pengambilan data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS BAB II

PERANCANGAN HIDRAN DAN GROUNDING TANGKI DI STASIUN PENGUMPUL 3 DISTRIK 2 PT.PERTAMINA EP REGION JAWA FIELD CEPU. Aditya Ayuningtyas

ANALISIS RANCANGAN A. KRITERIA RANCANGAN B. RANCANGAN FUNGSIONAL

PERHITUNGAN HEAD DAN SPESIFIKASI POMPA UNTUK UNIT PRODUKSI JARINGAN AIR BERSIH

BAB III PERANCANGAN, INSTALASI PERALATAN DAN PENGUJIAN

Gambar 3-15 Selang output Gambar 3-16 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk Gambar 3-17 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

BAB III ANALISA ALIRAN TURBULENT TERHADAP ALIRAN FLUIDA CAIR PADA CONTROL VALVE ANSI 150 DAN ANSI. 300 PADA PT.POLICHEM INDONESIA Tbk

SKRIPSI RANCANG BANGUN SISTEM HIDROLIK PADA MESIN PRESS HIDROLIK PUNCH FORCE 100 KN ANIS AGUNG SETIAWAN NIM DOSEN PEMBIMBING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. fluida yang dimaksud berupa cair, gas dan uap. yaitu mesin fluida yang berfungsi mengubah energi fluida (energi potensial

JUDUL TUGAS AKHIR ANALISA KOEFISIEN GESEK PIPA ACRYLIC DIAMETER 0,5 INCHI, 1 INCHI, 1,5 INCHI

FLUIDA. Standar Kompetensi : 8. Menerapkan konsep dan prinsip pada mekanika klasik sistem kontinu (benda tegar dan fluida) dalam penyelesaian masalah.

BAB III PROSES PERANCANGAN, PERAKITAN, PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN POMPA SENTRIFUGAL UNTUK AIR MANCUR

FIsika FLUIDA DINAMIK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

MESIN PRES HIDROLIK UNTUK LIMBAH KERTAS

BAB III PERENCANAAN SISTEM HYDRANT

Transkripsi:

BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK 4.1 Perhitungan Beban Operasi System Gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat movable bridge kapasitas 100 ton yang akan diangkat oleh dua buah silinder hidraulik kanan dan kiri masing-masing 50 ton, dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (2.1) : Diketahui : m = massa (100.000 kg) g = percepatan grafitasi (9,81 m/sec 2 ) F = gaya (N) Maka : F = m. g F = 100.000 kg.9,81 m/sec F = 980.000 N Jadi gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat jembatan F = 980.000 N beban masingmasing silinder hidraulik kanan dan kiri adalah 490.000 N 34

4.2 Skema Sistem Hydraulik a. Penggerak sistem Hydraulik power unit ini menggunakan dua sistem penggerak yaitu elektik motor sebagai penggerak utama dan engine sebagai penggerak saat emergency (mati lampu). Dengan demikian dibutuhkan shuttle valve sebagai valve yang berfungsi membuka dan menutup aliran berdasarkan tekanan yang dialirkan dari penggerak utama atau penggerak emergency dan check valve sebagai pengaman masing-masing pompa agar tidak terjadi tekanan balik. b. Posisi angkat Hydraulik power unit akan memberikan tekanan pada jalur pipa angkat yang dikontrol oleh directional valve 4/2, maka valve akan mengalirkan fluida untuk memberikan pressure untuk mengangkat kontruksi jembatan, aliran fluida diatur oleh flow control untuk membatasi aliran fluida pada silinder hydraulik sisi kanan dan sisi kiri agar posisi naik dan turun bisa bersamaan. c. Posisi Turun Pada posisi normal silinder hydraulik menahan beban kontruksi jembatan sehingga pada posisi normal ini secara terus menerus jembatan akan menarik batang piston untuk pergerakan ke arah turun, dengan demikian dibutuhkan suatu komponen / alat untuk menahan beban yang mampu menahan beban secara terus menerus dan aman ketika terjadi kebocoran pada instalsi atau kejadian yang tidak dinginkan seperti pecah hose atau kebocoran pada jalur instalasi. Dengan demikian dibutuhkan pilot operated check valve untuk menahan fluida agar tidak bisa keluar dari bore silinder bagian batang piston sehingga silinder hydraulik mampu menahan beban yang diterimanya, pilot operated check valve dipasang menyatu pada bodi silinder hydraulik agar ketika terjadi 35

kebocoran pada jalur instalasi pipa tidak berpengaruh pada sistem (dilihat pada gambar 4.1). Untuk menurunkan silinder hydraulik, jalur pilot pada pilot operated check valve diberikan pressure untuk menekan piston sehingga jalur fluida terbuka, karena beban jembatan fluida yang terjebak terdorong piston turun mengalir keluar menuju tangki hydraulik, karena piston bergerak kearah bawah maka ruang diatas piston akan vakum dan akan berubah fungsi seperti pompa menghisap fluida dari tangki untuk memenuhi ruang bore silinder piston. Dari hal tersebut kita bisa menentukan komponen yang dibutuhkan untuk menyusun suatu sistem rangkaian hidraulik yang kita perlukan. Gambar 4.1. Pilot Operated Check Valve (Sumber : Data Pribadi ) 36

Gambar 4.2. Skema Sistem hydraulik 37

Komponen Komponen yang terdapat pada skema sistem hydraulik : 1. Tangki (reservoir) 2. Filler breather 3. Level gauge 4. Ball valve 5. Filter isab (Suction filter) 6. Pompa Vane 1 7. Motor engine diesel 8. Pompa Vane 2 9. Motor listrik 10. Katup searah (check valve) 11. Katup pembagi aliran (Shuttel Valve) 12. Katup pembatas tekanan (relief valve) 13. Ball valve 14. Pembaca tekanan (Pressure Gauge) 15. Katup pengarah arah aliran 16. Katup pengendali aliran (Flow Control Valve) 17. Manifold Blok 18. Katup pengendali aliran (Flow Control Valve) 19. Katup searah (check valve) 20. Ball valve 21. Ball valve 22. Katup pengendali aliran (Flow Control Valve) 23. Filter kembalian (Return filter) 38

24. Stop Valve 25. Pilot Check Valve 4.3 Perhitungan Sistem Hydraulik 4.3.1 Perhitungan Dimensi Silinder Hidraulik Perhitungan dimensi silinder hidraulik menyangkut luas silinder (A), diameter dalam silinder (D 1 ) diameter batang piston (d bp ) dan tebal dinding silinder (t d ). Pada gambar 4.1. diperlihatkan dimensi silinder hidraulik, yang menunjukkan luas efektif (A 1 dan A 2 ), diameter dalam silinder (D 1 ), diameter batang piston (d bp ) dan diameter luar (D o ). Gambar 4.3. Dimesi Silinder. Keterangan : A = Luas daerah silinder piston (m 2 ) A = Luas daerah batang piston (m 2 ) D D d L = Diameter dalam silinder (mm) = Diameter luar silinder (mm) = Diameter batang piston (mm) = Panjang langkah kerja (mm) 39

D 1 dan d bp didapatkan perhitungan, kemudian disesuaikan dengan S.1. 7181-1991 (lampiran 2). Luas penampang silinder dicari dengan menggunakan persamaan (2.3): Diketahui : P = tekanan (80.10 5 N/m 2 ) F = gaya luar (490.000 N) A = luas permukaan (m 2 ) P = F A 8. 10 5 N/m 2 = A = 490. 000 N 8. 10 5 N/m 2 A = 0, 06125 m 2 A = 612, 5 cm 2 490. 000 N A Karena beban berada diujung batang piston dan F kearah piston maka A disini disebut A, menurut SI 7181 1991 ( Lampiran 2) A 2 yang sesuai adalah A 2 = 638 cm 2 Dengan ratio (φ) = 1,6 pada lampiran 2 didapat : φ = A 1 A 2 = 1, 6 A 1 = A 2. 1, 6 A 1 = 638 cm 2. 1, 6 A 1 = 1020, 80 cm 2 menurut SI 7181 1991 ( Lampiran 2) A 1 yang sesuai adalah A 1 = 1018 cm 2 40

Berdasarkan lampiran 2, didapat D 1 : A 1 = π 4. (D 1) 2 1018 cm 2 = π 4. (D 1) 2 D 1 = 36, 1 cm = 361 mm Berdasarkan lampiran 2, didapat d bp : A 2 = π 4. (D 1 2 d 2 bp ) 638 cm 2 = π 4. ((36, 1 cm)2 d 2 bp ) 4.3.2 Tebal Dinding Silinder (t d ) d bp = 22 cm = 220 mm Keterangan : t = tebal dinding silinder (mm) C = faktor korosi = 0,5 mm = 0,0005 m t d = PD 1 2t izin + C Material yang digunakan adalah baja khrom Nikel Molibdenum (JIS G 4103 SNCM2) pada lampiran 1, dengan : T tarik = 95 kg/mm 2 = 932 N/mm 2 t tarik = t tarik k = 932 N/mm2 8 = 116,5 N/mm 2 = 116,5. 10 6 N/m 2 Keterangan : k = faktor keamanan = 8, Lampiran (3) t d = 8. 105 N/m 2. 0, 361 m 2. 116, 5. 10 6 N/m 2 + 0, 0005 T d = 0,012 m = 12 mm 41

4.3.3 Diameter Luar Silinder (D o ) Diameter luar silinder (D o ) dapat dihitung dengan persamaan : D o = D 1 + 2.t d D o = 0,361 m + 2. 0,012 m D o = 0,385 m = 385 mm 4.4 Pemeriksaan Tegangan Tarik Batang Piston Silinder Uji tegangan tarik yang terjadi pada piston rod dihitung dengan persamaan 2.12 σ kerja = F A bp = F π. (d 4 bp) 2 Diketahui : d = diameter batang piston rod (220 mm) F = gaya luar (490.000 N) σ = tegangan tarik yang terjadi pada batang piston luas permukaan(n/mm 2 ) σ = tegangan izin bahan (N/mm 2 ) = 116,5 N/mm 2 Sehingga didapat σ kerja = π 4 490. 000 N. (0, 22 m)2 σ kerja = 12,89. 10 6 N/m 2 Dari hasil perhitungan menunjukan bahwa : σ < σ, 12,89. 10 6 N/m 2 < 116,5. 10 6 N/m 2, berarti batang piston rod aman dari tegangan tarik. 42

4.5 Menentukan Volume dan Laju Aliran Fluida Ruang silinder hydraulik terdiri dari dua ruangan, yaitu ruangan yang memiliki volume silinder penuh (V ) dan ruangan yang memiliki volume silinder penuh dikurangi volume silinder batang piston ( V ), sehingga dalam perhitungan volume silinder digunakan persamaan 2.6 yaitu : volume silinder penuh (V ) V 1 = A 1. S V 1 = 1080. 10 4 m 2. 2,5 m V 1 = 0, 27m 3 volume silinder batang piston (V ) V 2 = A 2. S V 2 = 638. 10 4 m 2. 2,5 m V 2 = 0, 1595 m 3 Diketahui : V = volume silinder (m 3 ) A = luas penampang daerah silinder piston penuh (1080. 10 m ) A = luas penamapang daerah silinder batang piston( 638. 10 m ) S = panjang langkah maksimum (2,5 m) Kapasitas laju aliran fluida pada silinder bagian bore (V ) dan bagian rod (V ) dihitung dengan persamaan 2.5, yaitu : Kapasitas laju aliran fluida pada silinder penuh (Q ) Q 1 = V t 43

Q 1 = 0, 27 m3 300 sec Q 1 = 0, 9. 10 3 m 3 /sec Kapasitas laju aliran fluida pada silinder batang piston (Q ) Q 2 = V t Q 2 = 4.6 Menentukan Fluida Kerja 0, 1595m3 300 sec Q 2 = 0, 53. 10 3 m 3 /sec Fluida kerja yang dipilih adalah Esstic 45 ( Lampiran 3 ) yang memiliki viscositas antara 1,22 0,25 cm 2 /sec pada suhu 20 0 C 50 0 C, Nilai viscositas kinematik (v) yang diambil berdasarkan kondisi suhu rata-rata 50 0 C, v = 25 centitikes = 0,25 cm 2 /sec = 25 mm 2 /sec = 25. 10-6 m 2 /sec yang berarti berdasarkan lampiran 3, kelas SAE (Society of Automotive Engineering) adalah SAE 10W, Nilai rapat Fluida (ρ) = 0,890 kg/dm 3 = 890 kg/m 3 4.7 Menentukan ukuran pipa pada jalur fluida 4.7.1 Jalur pipa Utama Gambar 4.4. Jalur Pipa Utama 44

Jalur pipa utama adalah jalur pipa antara pompa menuju manifold block katup pengarah aliran (directional valve) dan flow control utama. Bilangan Reynold di tentukan Re = 2200, agar aliran tetap laminar maka diameter pipa (d p ) didapatkan dengan persamaan 2.11, yaitu : R e = V. d v (Q/A). d = v Q = ( 1. π. 4 d2 ). d v d p = 4. Q kerja R e. π. v = 4. Q. d π. d 2. v Dimana : V = kecepatan aliran (m/sec) d = diameter dalam pipa (m) v = koefisien kekentalan kinematik (m 2 /sec) R = bilangan Reynolds Untuk mengangkat movable bridge hydraulik silinder bergerak secara serentak pada sisi kanan dan sisi kiri dalam satu periode, maka kapasitas laju aliran fluida pada silinder hydraulik sebelah kiri (Q ) sama dengan kapasitas laju aliran fluida silinder hydraulik sebelah kanan (Q ) sehingga didapat : Total kapasitas laju aliran fluida : Q total = Q kerja = Q 1L + Q 1R Q total = 0, 53. 10 3 m 3 / sec + 0, 53. 10 3 m 3 /sec Q total = 1, 06. 10 3 m 3 /sec 45

Didapatkan diameter pipa utama : d pu = 4. Q kerja R e. π. v d p = 4. 1, 06. 10 3 m 3 /sec 2200. 3, 14. 25. 10 6 m 2 /sec d pu = 0, 024 m d pu = 24 mm Berdasarkan lampiran 4, maka diameter dalam standar saluran pipa utama (d ) = 24,4 mm, tebal saluran pipa = 2,8 mm dan diameter luar saluran pipa = 30 mm. 4.7.2 Jalur Pipa Aktuator Pressure Gambar 4.5 Jalur Pipa Akuator Pressure. Jalur pipa aktuator adalah jalur pipa utama menuju aktuator silinder hydraulik kanan dan kiri, karena beban jembatan diangkat silinder hydraulik kanan dan silinder hydraulik kiri maka silinder hydraulik kanan sama dengan silinder hydraulik kiri. Bilangan Reynold ditentukan Re = 2200, agar aliran tetap laminar maka diameter pipa (d pan ) adalah : 46

Kapasitas laju aliran fluida aktuator naik : Q kerja = Q 2L = Q 2R Didapatkan diameter pipa aktuator naik : Q kerja = 0, 53. 10 3 m 3 / d pan = 4. Q kerja R e. π. v d pan = 4. 0, 53. 10 3 m 3 /sec 2200. 3, 14. 25. 10 6 m 2 /sec d pan = 0, 012 m d pan = 12 mm Berdasarkan lampiran 4, maka diameter dalam standar saluran pipa aktuator naik (d ) = 12 mm, tebal saluran pipa = 2 mm dan diameter luar saluran pipa = 16 mm. 4.7.3 Jalur Pipa Aktuator Isab Gambar 4.6 Jalur Pipa Aktuator Isab 47

Kapasitas laju aliran fluida aktuator isab : Q kerja = Q 1L = Q 1R Didapatkan diameter pipa aktuator isab : Q kerja = 0, 9. 10 3 m 3 /sec d pis = 4. Q kerja R e. π. v d pis = 4. 0, 9. 10 3 m 3 /sec 2200. 3, 14. 25. 10 6 m 2 /sec d pis = 0, 020 m d pis = 20 mm Berdasarkan lampiran 4, maka diameter dalam standar saluran pipa aktuator jalur isab silinder (d ) = 19,4 mm, tebal saluran pipa = 2,8 mm dan diameter luar saluran pipa = 25 mm. Kapasitas aliran fluida dalam pipa aktuator (Q ) sama dengan Kapasitas aliran fluida dalam silinder hydraulik (Q ) maka : Q p = Q s V p. A p = V s. A s Didapatkan kecepatan aliran fluida dalam pipa aktuator naik adalah: V pa = A s A p. V s π 2 ) 4 V pa =. (D 1 2 D bp π. D 2. s s 4 pan t s 48

V pa = π 4. (0,36 0, 22)m π. 0,012 m. 4 2, 5 m 300 s V pa = 4, 699 m/s Didapatkan kecepatan aliran fluida dalam pipa isab silinder turun adalah : Diketahui : V pis = A s A p. V s π 4 V pis =. D 1 2 π. D 2. s s 4 pis t s V pis = π. 0, 4 362 m 2 π. 0, 4 0202 m. 2 V pis = 2, 7 m/s 2, 5 m 300 s V = Kecepatan aliran dalam silinder (m/sec) V = Kecepatan aliran dalam pipa (m/sec) V = S t 4.8 Kerugian Tekanan Akibat Gesekan, Sambungan, Katup dan Belokan Penurunan tinggi tekan (head Losses) akibat gesekan pada pipa dapat dihitung dengan diasumsikan panjang pipa lurus (Lp) dari pipa telanjang dapat dicari dengan menggunakan persamaan (2.13) 4.8.1 Kerugian head Akibat Gesekan : h L = 32. L p. v. V d 2. g 49

Diketahui : h = penurunan head (m) L = panjang pipa utama (10 m) L = panjang pipa Aktuator (71 m) v = koefisien kekentalan kinematik (25. 10-6 m 2 /sec) V = kecepatan aliran pipa (0,093 m/sec ) d = diameter dalam pipa utama (0,024 m) d = diameter dalam pipa aktuator (0,012 m) g = percepatan grafitasi (9,81 m/sec 2 ) Maka Penurunan head pada pipa utama adalah : h L1 = 32. L p. v. V d 2. g h L1 = 32. 10. 25. 10 6 m 2 /sec. 0, 093 m/sec (0, 024 m) 2. 9, 81 m/sec 2 h L1 = 0, 132 m Penurunan head pada pipa aktuator adalah : h L1 = 32. L p. v. V d 2. g h L2 = 32. 71. 25. 10 6 m 2 /sec. 0, 093 m/sec (0, 012 m) 2. 9, 81 m/sec 2 50

h L2 = 3, 75 m 4.8.2 Kerugian head Akibat Sambungan, Katup dan belokan Kerugian akibat katup, belokan dan sambungan dapat dihitung dengan mengetahui jumlah katup, sambungan dan belokan yang ada pada jalur system dan koefisen yang didapat. Penurunan kerja ini dinyatakan dengan rumus : Komponen Nilai factor hambatan Jumlah Check Valve 2 12 Directional valve 3 1 Flow Control Valve 5 3 Belokan 90 0 0,5 34 Sambungan T 1,5 7 K total = (k. n) K total = (2. 12) + (3. 1) + (5. 3) + (0, 5. 34) + (1, 5. 7) K total = 69,5 h L3 = K total. V 2 2g h L3 = 69, 5. (0, 093 m/sec )2 2. 9, 81 m/sec 2 h L3 = 0,030 m 51

4.8.3 Kerugian head Total h L = h L1 + h L2 + h L3 h L = 0, 132 m + 3, 75 m + 0, 030 m h L = 3,919 m 4.8.4 Kerugian tekanan dalam system Kerugian tekanan dalam sistem didapat dengan menggunakan persamaan P = ρ. g. h Diketahui : P = penurunan tekanan dalam sistem (N/m 2 ) ρ = rapat masa fluida (890 kg/m 3 ) h = kerugian tekanan secara keseluruhan (m) Maka : P = ρ. g. h L P = 890 kg/m 3. 9, 81 m/sec 2. 3, 919 m P = 34188, 30 N/m 2 4.9 Tekanan Pembatas Tekanan pembatas dipakai untuk mengamankan komponen yang digunakan pada sistem yaitu dengan membatasi tekanan yang dihasilkan pompa agar tidak melebihi tekanan yang diijinkan pada instalasi dan komponen. Besarnya tekanan pembatas didapat dengan menjumlahkan besar tekanan yang akan dioperasikan ditambah dengan total kerugian tekanan. Karena pada system ini kita 52

mempunyai dua tekanan yaitu tekanan untuk naik dan tekanan untuk turun maka kita ambil tekanan paling besar sebagai tekanan pembatas. Tekanan untuk naik sudah kita tentukan, untuk tekanan turun kita dapatkan berdasarkan fungsi dari pilot operated check valve, diperlihatkan pada gambar : Gambar 4.7 Pilot Operating Check Valve Dimana : P = Tekanan naik ditentukan (80. 10 5 N/m 2 ) P = Tekanan turun (N/m 2 ) P = Tekanan dari dalam silinder hydraulik (80. 10 5 N/m 2 ) d = Diameter piston pilot check valve (0,040 m) d = Diameter jalur menuju silinder hydraulik (0,030 m) Gaya (F ) dari dalam piston check valve yang adalah : P 3 = F 3 A 3 F 3 = 80. 10 5 N m 2. (π 4. (0, 03)2 )m 2 F 3 = 5. 652 N 53

Untuk membuka jalur menuju silinder hydraulik maka gaya pada piston pilot (F ) harus lebih besar dari gaya pada piston check valve (F ) F 2 > F 3 P 2 = F 2 A 2 P 2 = 5. 652 N ( π 4. (0, 04)2 ) m2 P 2 = 45. 10 5 N/m 2 P 2 = 45 bar Jadi tekanan yang dibutuhkan untuk menurunkan jembatan ( P ) harus lebih besar dari 45 bar P 2 > 45 bar Dengan demikian tekanan paling besar adalah tekanan untuk menaikan movable bridge, Sehingga diperoleh : P p = P + P P p = 80. 10 5 N/m 2 + 3, 4188. 10 4 N/m 2 P p = 80, 342. 10 5 N/m 2 P p = 80, 342 bar 4.10 Penentuan Power Supply Pompa ditentukan berdasarkan kapasitas laju aliran fluida dan head yang diperlukan untuk mengalirkan zat cair yang akan dipompa, sehingga didapat data-data teknis sebagai berikut : Umumnya besar tekanan pompa maksimum ditentukan 110% dari tekanan pembatas, sehingga diperoleh : 54

P max = P p x 110 % P max = 80, 342 bar x 110 % P max = 88, 36 bar Kapasitas pompa yang diperlukan untuk sistem hydraulik ini ditentukan dengan menggunakan persamaan : Q Pompa = Q kerja Efisiensi Q Pompa = 0, 53. 10 3 m 3 /sec 0, 9 Q Pompa = 1, 17. 10 3 m 3 /sec Q Pompa = 70, 2 ltr/menit Jadi pompa yang dibutuhkan adalah pompa yang memiliki kapasitas 70 ltr/s Daya Pompa (W ) : W P = P max. Q Pompa η W P = 88, 33. 105 N/m 2. 1, 17. 10 3 m 3 /sec 0, 85 W P = 11130, 74 N m/sec W P = 11130, 74 Watt W P = 11, 130 KW Diambil daya pompa yang diperlukan adalah 11 KW Diketahui : η = Efisiensi Volumetris (0,90) η = Efisiensi Mekanis (0,85) 55

4.11 Tangki Oli Besarnya kapasitas tangki yang dibutuhkan dalam sistem hydraulik adalah 2 3 kali dari kapasitas aliran fluida dalam sistem, karena penggunaan system movable bridge ini tidak terlalu sering dalam satu hari maka ditentukan 2 kali volume fluida dalam sistem, dengan menggunakan persamaan : V = 2 (V + V + V ) Diketahui : V = Volume silinder kanan (0,27m ) V =Volume silinder kiri (0,27m ) V =Volume dalam instalasi pipa (N/m 2 ) Volume pada jalur pipa utama : V pu = A pu. S V pu = ( π 4. (Dpu)2 ). S V pu = ( π 4. (0, 024)2 )m 2. 10 m V pu = 0, 0045m 3 Volume pada jalur pipa actuator naik : V pan = ( π 4. (Dpan)2 )m 2. S m V pan = ( π 4. (0, 012)2 )m 2. 71 m V pan = 0, 0080m 3 56

Maka total volume pada jalur pipa : V p = V pu + V pan V p = 0, 0045m 3 + 0, 0080m 3 V p = 0, 0125m 3 Maka didapatkan volume tanki adalah : V tangki = 2 (0, 1595 m 3 + 0, 1595 m 3 + 0, 0125 m 3 ) V tangki = 0, 663 m 3 V tangki = 663. 000 cm 3 V tangki = 663 liter Kapasitas tangki yang dibutuhkan untuk sistem hydraulik movable bridge ini adalah 663 liter 4.12 Filter Berdasarkan data berarti dibutuhkan filter dengan karakteristik sebagai berikut : Kapasitas aliran fluida bebas Q = 70,2 ltr/menit Tingkat penyaringan = 10 micron (kotoran berukuran lebih dari 10 micron tidak mampu melalui filter ini) sehingga kotoran tertahan oleh filter 57

58