6. TlNGGl PARAS LAUT

dokumen-dokumen yang mirip
PENDAHULUAN Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN

VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

KARAKTER FISIK OSEANOGRAFI DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN SELATAN JAWA-SUMBAWA DARI DATA SATELIT MULTI SENSOR. Oleh : MUKTI DONO WILOPO C

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

POLA DISTRIBUSI SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN TELUK AMBON DALAM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut dan Salinitas pada Indomix Cruise

ANALISIS KORELASI MULTIVARIABEL ARLINDO DI SELAT MAKASSAR DENGAN ENSO, MONSUN, DAN DIPOLE MODE TESIS

HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Arus Tiap Lapisan Kedalaman di Selat Makassar Fluktuasi Arus dalam Ranah Waktu di Lokasi Mooring Stasiun 1

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Physics Communication

5 HASIL PENELITIAN 5.1 Jumlah Produksi YellowfinTuna

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODOLOGI Waktu dan Lokasi Penelitian. Lokasi pengamatan konsentrasi klorofil-a dan sebaran suhu permukaan

PRISMA FISIKA, Vol. II, No. 1 (2014), Hal ISSN :

Pasang Surut Surabaya Selama Terjadi El-Nino

VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN PULAU BIAWAK DENGAN PENGUKURAN INSITU DAN CITRA AQUA MODIS

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, Halaman Online di :

2. TINJAUAN PUSTAKA. Suhu menyatakan banyaknya bahang (heat) yang terkandung dalam suatu

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENGARUH PERUBAHAN DAN VARIABILITAS IKLIM TERHADAP DINAMIKA FISHING GROUND DI PESISIR SELATAN PULAU JAWA

Tinjauan Pustaka. II.1 Variabilitas ARLINDO di Selat Makassar

Gambar 1. Diagram TS

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KONDISI OSEANOGRAFI DAN LAJU TANGKAP TUNA MATA BESAR (Thunnus obesus) DI SAMUDRA HINDIA BAGIAN TIMUR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Adaptasi Perikanan Tangkap terhadap Perubahan dan Variabilitas Iklim di Wilayah Pesisir Selatan Pulau Jawa Berbasis Kajian Resiko MODUL TRAINING

Sebaran Arus Permukaan Laut Pada Periode Terjadinya Fenomena Penjalaran Gelombang Kelvin Di Perairan Bengkulu

Studi Variabilitas Lapisan Atas Perairan Samudera Hindia Berbasis Model Laut

Variabilitas Suhu dan Salinitas Perairan Selatan Jawa Timur Riska Candra Arisandi a, M. Ishak Jumarang a*, Apriansyah b

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

EVALUASI CUACA BULAN JUNI 2016 DI STASIUN METEOROLOGI PERAK 1 SURABAYA

Pengaruh Sebaran Konsentrasi Klorofil-a Berdasarkan Citra Satelit terhadap Hasil Tangkapan Ikan Tongkol (Euthynnus sp) Di Perairan Selat Bali

2. TINJAUAN PUSTAKA. sebaran dan kelimpahan sumberdaya perikanan di Selat Sunda ( Hendiarti et

Musim Hujan. Musim Kemarau

Prakiraan Musim Kemarau 2018 Zona Musim di NTT KATA PENGANTAR

6 PEMBAHASAN 6.1 Produksi Hasil Tangkapan Yellowfin Tuna

Keberadaan sumber daya ikan sangat tergantung pada faktor-faktor. yang sangat berfluktuasi dari tahun ke tahun. Kemungkinan ini disebabkan karena

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA

BAB I PENDAHULUAN. hortikultura,dan 12,77 juta rumah tangga dalam perkebunan. Indonesia

JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, Halaman Online di :

5 HASIL 5.1 Kandungan Klorofil-a di Perairan Sibolga

ANALISIS PENGARUH MADDEN JULIAN OSCILLATION (MJO) TERHADAP CURAH HUJAN DI KOTA MAKASSAR

5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial

FENOMENA UPWELLING DAN KAITANNYA TERHADAP JUMLAH TANGKAPAN IKAN LAYANG DELES (Decapterus Macrosoma) DI PERAIRAN TRENGGALEK

Prakiraan Musim Hujan 2015/2016 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur

Keywords : Upwelling, Sea Surface Temperature, Chlorophyll-a, WPP RI 573

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013, Halaman Online di :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Secara geografis wilayah Indonesia terletak di daerah tropis yang terbentang

I. INFORMASI METEOROLOGI

KATA PENGANTAR PANGKALPINANG, APRIL 2016 KEPALA STASIUN METEOROLOGI KLAS I PANGKALPINANG MOHAMMAD NURHUDA, S.T. NIP

I. INFORMASI METEOROLOGI

KERAGAMAN SUHU DAN KECEPATAN ARUS DI SELAT MAKASSAR PERIODE JULI 2005 JUNI 2006 (Mooring INSTANT)

Oleh Tim Agroklimatologi PPKS

PENGARUH SUHU PERMUKAAN LAUT TERHADAP HASIL TAGKAPAN IKAN CAKALANG DI PERAIRAN KOTA BENGKULU

KONDISI OSEANOGRAFIS SELAT MAKASAR By: muhammad yusuf awaluddin

PENGARUH FENOMENA GLOBAL DIPOLE MODE POSITIF DAN EL NINO TERHADAP KEKERINGAN DI PROVINSI BALI

KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI

Gambar C.16 Profil melintang temperatur pada musim peralihan kedua pada tahun normal (September, Oktober, dan November 1996) di 7 O LU

V. PENYUSUNAN MODEL PREDIKSI CURAH HUJAN BERDASARKAN FENOMENA ENSO DAN IOD UNTUK MENENTUKAN RENCANA TANAM

KATA PENGANTAR. merupakan hasil pemutakhiran rata-rata sebelumnya (periode ).

METODE PENELITIAN Bujur Timur ( BT) Gambar 5. Posisi lokasi pengamatan

VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE)

JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman Online di :

I. INFORMASI METEOROLOGI

Kajian Elevasi Muka Air Laut di Perairan Indonesia Pada Kondisi El Nino dan La Nina

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 3, No. 2, Hal , Desember 2011

PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2017 REDAKSI

KATA PENGANTAR. Negara, September 2015 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI NEGARA BALI. NUGA PUTRANTIJO, SP, M.Si. NIP

VARIABILITAS ARUS, SUHU, DAN ANGIN DI PERAIRAN BARAT SUMATERA SERTA INTER-RELASINYA DENGAN INDIAN OCEAN DIPOLE MODE

PRAKIRAAN MUSIM 2017/2018

KATA PENGANTAR. Semarang, 22 maret 2018 KEPALA STASIUN. Ir. TUBAN WIYOSO, MSi NIP STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

I. INFORMASI METEOROLOGI

TINJAUAN PUSTAKA. Keadaan Umum Perairan Pantai Timur Sumatera Utara. Utara terdiri dari 7 Kabupaten/Kota, yaitu : Kabupaten Langkat, Kota Medan,

VARIABILITAS ANGIN DAN PARAS LAUT SERTA INTERAKSINYA D1 PERAIRAN UTARA DAN SELATAN PULAU JAWA EKO PUTRA SAKTI SKRIPSI

5. HASIL PENELITIAN 5.1 Distribusi Spasial dan Temporal Upaya Penangkapan Udang

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN

VARIABILITAS SPASIAL DAN TEMPORAL SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KONSENTRASI KLOROFIL-a MENGGUNAKAN CITRA SATELIT AQUA MODIS DI PERAIRAN SUMATERA BARAT

ANALISIS HUJAN BULAN MEI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI, AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA

PROSPEK KEJADIAN SIKLON TROPIS DI WILAYAH SAMUDERA HINDIA SELATAN INDONESIA PADA MUSIM SIKLON 2016/2017

Laporan Perjalanan Dinas Chief BRKP-DKP Bagus Hendrajana, Chief FIO Mr Jianjun Liu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

2. TINJAUAN PUSTAKA Keadaan Umum Perairan Selat Makassar. Secara geografis Selat Makassar berbatasan dan berhubungan dengan

PENDAHULUAN. Pantai Timur Sumatera Utara merupakan bagian dari Perairan Selat

2. TINJAUAN PUSTAKA. Suhu permukaan laut Indonesia secara umum berkisar antara O C

Rochmady Staf Pengajar STP - Wuna, Raha, ABSTRAK

BAB III METODOLOGI. Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian di Samudera Hindia bagian Timur

Fase Panas El berlangsung antara bulan dengan periode antara 2-7 tahun yang diselingi fase dingin yang disebut dengan La Nina

Pengaruh Dipole Mode dan El Nino Southern Oscillation Terhadap Awal Tanam dan Masa Tanam di Kabupaten Mempawah

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

6. TlNGGl PARAS LAUT 6.1 Fluktuasi Anomali Tinggi Paras Laut Fluktuasi anomali TPL di masing-masing wilayah disajikan pada Gambar 6.1.I. Pola fluktuasi TPL di wilayah UWI, UW2 dan AS1 berbeda dengan fluktuasi anomali TPL di SECI dan SEC2. Seperti pada awal tahun 1997, anomali TPL di SECI dan SEC2 bernilai negatif, sedangkan di wilayah yang lain bernilai positif. Pada bulan Januari hingga Maret 1997, anomali TPL di wilayah UW1 dan UW2 bernilai positif, lebih tinggi dibandingkan wilayah SECI, SEC2 dan ASI. Namun pada bulan April, anomali TPL di daerah UWI dan UW2 mulai menurun menjadi negatif dan pada bulan Juli hingga Nopember 1997 anomali TPL di daerah upwelling semakin rendah. Pada umumnya di sekitar lintang 14"-16" LS yang merupakan daerah penangkapan ikan Tuna oleh PT. PSB, terjadi anomali negatif TPL yang berarti TPL lebih rendah dari sekitamya (Gambar 6.1.2 dan 6.1.3). Gambar 6.1.1. Fluktuasi rerata mingguan anomali tinggi paras laut di wilayah UW1, UW2, SECI, SEC2 dan AS1 (1 997-1 999).

Fluktuasi anomali TPL di SHBT menyebabkan kondisi oseanografi di SHBT cukup dinamis. Hal ini akan berpengaruh terhadap keberadaan sumberdaya di perairan tersebut. Adanya variasi anomali TPL secara spasial akan mempengaruhi kedalaman lapisan termoklin. Perubahan lspisan termoklin akan menyebabkan perubahan fishing layer TMB (Hanamoto, 1986). 6.2 Anomali TPL Pada Saat Perubahan Musim Analisis spektral menunjukkan adanya variasi musim anomali TPL secara signifikan di seluruh wilayah dengan periode variasi 26 minggu, 52 minggu dan 78 minggu (Gambar 6.2.1). Periode 26 dan 52 minggu merupakan representasi perubahan pola musim yang berhubungan dengan pergerakan sistem angin muson. Disamping pengaruh pergerakan angin, gelombang Rossby juga mempengaruhi anomali TPL di Samudra Hindia (Chambers et a/., 1999). Pada saat musim timur, anomali TPL cenderung lebih rendah (bemilai negatif) khususnya di wilayah UWI dan UW2, sedangkan di wilayah SECl dan SEC2 anomali TPL cenderung lebih tinggi (bemilai positif). Sebaliknya pada musim barat anomali TPL di UW1 dan UW2 bemilai positif dan di SECl dan SEC2 bemilai negatif. Terjadinya perubahan sistem angin muson di Samudra Hindia, juga mempengaruhi pola pergerakan rnassa air di SHBT. Arah dan kecepatan angin yang mantap pada periode musim timur menyebabkan massa air di sekitar pantai Selatan Jawa terdorong menjauhi pantai sehingga terjadi kekosongan massa air. Terjadinya kekosongan ini menyebabkan TPL menjadi lebih rendah. Sebaliknya pada musim barat, terjadi penumpukan massa air di sekitar pantai Selatan Jawa sehingga TPL cenderung lebih tinggi.

(b) Spectral analysis: UW2 58................. 4E5. 3E5. - h.- Perid (minggu) 5E5,,,, (c) Sy3ra; ana?,secl,,,,., 4E5 / E 3E5 d 3 - (c) (d) 2E5. 1E5-5E5 4E5.$ 3E5 B - cn 2E5. 1,. V) 0-0 20 40 60 80 100 120 140 160 10 30 50 70 90 110 130 150. Periode (rninggu) Spectral anat@: SEC2 TI,^ 1E5-1E5. 0 0' 0 20 40 60 80 100 120 140 la 0 20 40 60 80 100 120 140 160 10 M 50 70 90 110 13 150 10 30 50 70 90 110 130 150 Peliode (mhggu) 5E5 (e) Spectral analysis: AS1................ Periode (minggu) 4E5..- b 3E5 n - e 1 2E5 V).. (e) le5. 0 A 0 20 40 60 80 100 120 140 160 10 30 50 70 90 110 130 150 Periode (minggu) Gambar 6.2.1. Analisis spemral anomali tinggi paras laut rerata mingguan di (a) UWI, (b) UW2, (c) SECI, (d) SEC2 dan (e) AS1 tahun 1997-1 999.

139 6.3 Anomali TPL Pada Saat El Niiio dart IODM Adanya variasi anomali TPL yang mempunyai periode 78 minggu, merupakan representasi pengaruh perubahan iklim global seperti El Nifio dan IODM di SHBT. Korelasi antara indeks DM1 dan anomali TPL signifikan di UWI, UW2 dan AS1 serta terlihat kecenderungan bahwa semakin kuat IODM tinggi paras laut semakin rendah (Gambar 6.3.1). Hal ini terjadi sebagai akibat dari anomali positif kecepatan angin yang terjadi di SHBT pada saat terjadinya IODM. Korelasi yang tidak signifikan antara indeks DM dan anomali TPL di SECl dan SEC2 menunjukkan bahwa kejadian IODM tidak secara langsung mempengaruhi anomali TPL di wilayah tersebut. Menurut Saji et al., (1999), fenomena IODM pertama-tama terlihat di UW2 kemudian berkembacg di UW1 dan saat itu TPL di UW1 menjadi lebih rendah sebagai akibat dari proses upwelling yang terjadi. Korelasi silang menunjukkan adanya time lag sekitar 1-3 rnifiggu antara perubahan TPL di UW1 dan UW2 dengan TPL di SECl dan SEC2. Pada periode musim barat tahun El Nifio 1998, anomali TPL cenderung bemilai negatif sedangkan periode musim timur cenderung positif. Korelasi antara indeks SO1 dan anomali TPL menunjukkan semakin kuat El Niiio, TPL semakin rendah dan korelasi signifikan di semua wilayah (p = 0.05). Nilai korelasi tertinggi terjadi di wilayah AS1 dan terendah di SECl (Gambar 6.3.2).

a). UW1 I c). SECl dm i 1 d) SEC2 DM ann t Gambar 6.3.1. Korelasi antara Dipole Mode Index dan anomali TPL di wilayah (a) UWl, (b) UW2, (c) SECI, (d) SEC2 dan (e) ASI.

Sol c). SEC 1 I m. 1 (SECI) r = 0.43-6 + + -200 4 I Sol d). SEC2 I 388, 1 e). AS1 Sol qnn ""I ( I I Sol --- Gambar 6.3.2. Korelasi antara Southem Oscj//atjon Index dan anomali TPL di wilayah (a) UWI, (b) UW2, (c) SECI, (d) SEC2 dan (e) AS!.

6.4 Hubungan antara TPL dan Kedalaman Lapisan Termoklin. Tinggi paras laut di perairan Indonesia berkorelasi secara signifikan dengan kedalaman lapisan termoklin. Pada saat TPL rendah, lapisan termoklin mengalami pendangkalan (Bray et.al, 1996, Susanto et a/., 2001). Demikian juga berdasarkan hasil penelitian (Cipollini et a/., 2000), pengaruh gelombang Rossby yang menyebabkan perubahan tinggi paras laut sebesar 5 cm dalam skala 500 km (1 periode gelombang) dapat mengakibatkan perubahan lapisan termoklin sekitar 50 meter (Gambar 6.4.1) 1 - < Arah propagasi Tinggi paras laut Gambar 6.4.1. Skema perubahan tinggi paras laut dan termoklin akibat gelombang Rossby (Cipollini, et a/., 2000). Hal yang sama juga terlihat di wilayah UWI-SEC1, pada saat terjadi anomali negatif TPL, Gambar 6.4.3). lapisan termoklin mengalami pendangkalan (Gambar 6.4.2 dan Adanya hubungan antara TPL yang diindera dari satelit dengan

perubahan kedalaman lapisan terrnoklin menunjukkan bahwa citra TPL dapat diaplikasikan untuk pengkajian zona potensial TMB. Jika terjadi anomali negatif tinggi paras laut maka fishing layer TMB menjadi lebih dangkal. Pendangkalan termoklin akan menyebabkan mata pancing longline lebih banyak yang dapat mencapai fishing IayerTMB, sehingga peluang TMB tertangkap menjadi lebih besar. September 1997 lrn Oktober 1997 '7 Gambar 6.4.2. Anomali TPL rerata bulanan dan sebaran melintang suhu pada bulan yang sama (September dan Oktober 1997) di UW1-SEC1.

Gambar 6.4.3. Anomali TPL rerata bulanan dan sebaran melintang suhu pada bulan yang sama (Nopember dan Desember) di UWI-SEC1.