ANALISIS FAKTOR-FAKTOR TURNAROUND

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini adalah Pamella Swalayan 1. Jl. Kusumanegara

BAB V PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS DI PT. EWINDO BANDUNG)

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

JURNAL ILMIAH TEKNIK INDUSTRI

BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP)

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENERAPAN AHP (ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS) UNTUK MEMAKSIMALKAN PEMILIHAN VENDOR PELAYANAN TEKNIK DI PT. PLN (PERSERO) AREA BANYUWANGI

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Fasilitas Penempatan Vektor Eigen (yang dinormalkan ) Gaji 0,648 0,571 0,727 0,471 0,604 Jenjang 0,108 0,095 0,061 0,118 0,096

ANALISIS PENENTUAN RATING RISIKO PROYEK PT. XYZ METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROSES (AHP)

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN. 3.1 Penerapan AHP dalam Menentukan Prioritas Pengembangan Obyek Wisata Di Kabupaten Toba Samosir

IV METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperkuat dan mendukung analisis penelitian adalah:

III. METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENILITIAN

ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP

PEMILIHAN SUPPLIER ALUMINIUM OLEH MAIN KONTRAKTOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

Analisa Pemilihan Kualitas Android Jelly Bean Dengan Menggunakan Metode AHP Pendekatan MCDM

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. lokasi penelitian secara sengaja (purposive) yaitu dengan pertimbangan bahwa

Penyebaran Kuisioner

III. METODE PENELITIAN

APLIKASI ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA PEMILIHAN SOFTWARE MANAJEMEN PROYEK

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

METODE PENELITIAN. Kata Kunci analytical hierarchy process, analytic network process, multi criteria decision making, zero one goal programming.

METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN GALANGAN KAPAL UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL TANKER DI PULAU BATAM

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DATA 4.1. PENDAHULUAN

PENGGUNAAN METODE AHP DAN TOPSIS DALAM PENENTUAN PENGAMBILAN SAMPEL UJI PETIK DALAM PELAKSANAAN PEMERIKSAAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI

BAB III METODE PENELITIAN. Obyek pada penelitian ini adalah CV. Bagiyat Mitra Perkasa. Lokasi

BAB IV METODE PENELITIAN. keripik pisang Kondang Jaya binaan koperasi BMT Al-Ikhlaas. yang terletak di

Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Supplier Botol Galon Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)

BAB IV HASIL DAN BAHASAN

Bab II Analytic Hierarchy Process

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

METODE PENELITIAN. San Diego Hills. Visi dan Misi. Identifikasi gambaran umum perusahaan dan pasar sasaran

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Analytic Hierarchy Process

BAB III METODE PENELITIAN

MENENTUKAN PENILAIAN DENGAN METODE ANALITICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK MEMILIH JASA TRANSPORTASI PADA PABRIK GULA ABC

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode Fuzzy AHP. Adapun tahapan penelitian adalah sebagai berikut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

repository.unisba.ac.id DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

Lampiran 1. Data Matrix Input AHP. 1. Kriteria Berdasarkan Fokus Peningkatan Kualitas Proses Layanan Pasang Baru

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMBERIAN BONUS KARYAWAN MENGGUNAKAN METODE AHP SKRIPSI

BAB IV PENGUMPULAN DATA DAN PENGOLAHAN DATA

ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

ANALISA PEMILIHAN ALTERNATIF ALAT PANCANG (STUDI KASUS PROYEK APARTEMEN GUNAWANGSA) I Putu Artama Wiguna, Ir.MT.PhD. Farida Rachmawati, ST.

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

PENGAMBILAN KEPUTUSAN ALTERNATIF ELEMEN FAKTOR TENAGA KERJA GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA DENGAN SWOT DAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS

PRIORITAS PENANGANAN PENINGKATAN JALAN PADA RUAS-RUAS JALAN DI KABUPATEN KAPUAS DENGAN METODE AHP

BAB 2 LANDASAN TEORI

Analisis Hirarki Proses Vendor Pengembang System Informasi. STIE Indonesia

MODEL ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PRIORITAS ALOKASI PRODUK

Kata kunci: AHP, Kriteria, Penanganan, Alternatif Gelagar Balok Tipe T, Pile Slab, Gelagar Girder Baja

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

3 METODOLOGI. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

ANALISIS SISTEM PEMBAYARAN PERKULIAHAN DI UKRIDA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

PENDEKATAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PENENTUAN URUTAN PENGERJAAN PESANAN PELANGGAN (STUDI KASUS: PT TEMBAGA MULIA SEMANAN)

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI 3.1 Kerangka Pemikiran

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Definisi Sistem, Keputusan dan Sistem Pendukung Keputusan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI Analytial Hierarchy Process (AHP) Pengertian Analytical Hierarchy Process (AHP)

IDENTIFIKASI DAN ANALISIS RISIKO DALAM MASA PEMELIHARAAN PROYEK PADA PROYEK KONSTRUKSI DI KOTA SURAKARTA

METODA PENELITIAN. Kerangka Pemikiran Konseptual Penelitian. Mulai

STUDI KLASIFIKASI DAN PERINGKAT PENYEBAB- PENYEBAB KETERLAMBATAN WAKTU PELAKSANAAN PROYEK

Seleksi Material Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process Dan Pugh Gabriel Sianturi

BAB IV METODOLOGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

BAB IV. commit to user

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Prioritas Pengembangan Jaringan Jalan Pendukung Kawasan Strategis Di Pulau Sumbawa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pertemuan 5. Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP).

Lampiran 1 - Analytic Hierarchy Process (AHP)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V ANALISA DAN INTERPRETASI

PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHICAL PROCESS (AHP) UNTUK PEMILIHAN DOSEN BERPRESTASI DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

Transkripsi:

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR TURNAROUND TERHADAP PEMBANGUNAN KAPAL BARU DENGAN METODE AHP Studi Kasus pada Turnaround di PT. PAL Indonesia (Persero) Surabaya Hary Moetriono1, Nani Ari Susanti2 1Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustustus 1945 Surabaya email: hary_moetriono@yahoo.com 2Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustustus 1945 Surabaya Abstrak Salah satu kekhasan proyek yang ruang lingkupnya dinamis adalah proyek tersebut dapat berkurang ataupun bertambah, bisa berurutan atau tidak. Sebagai contoh ketika saat pelaksanaan pekerjaan, ternyata unit yang diperiksa masih layak untuk digunakan, maka ditunda dulu pekerjaannya tersebut. Begitu pula bila pada suatu rangkaian unit produksi terdapat perbaikan yang harus didahulukan, walaupun tidak berada pada rangkaian unit yang pertama, maka harus dilakukan perbaikan terlebih dahulu. Tetapi dikarenakan dari pihak perusahaan hanya menyediakan waktu yang sedikit, maka pengelolaan proyek pembangunan kapal yang ruang lingkupnya dinamis tersebut harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Dalam studi kasus ini, penulis menemukan proyek yang mempunyai ruang lingkup dinamis proyek turnaround di sebuah perusahaan galangan kapal. Pada proyek turnaround, kinerja yang paling diutamakan adalah mutu dan safety, baik selama proyek berlangsung, maupun setelah selesai dan digunakan oleh user. Dengan dibantu metode AHP untuk melakukan pembobotan resiko, kemudian melakukan korelasi uji konsistensi, diperoleh 10 (sepuluh) faktor yang mempengaruhi pembangunan kapal baru pada proyek turnaround, yaitu: masih terdapat item-item yang belum masuk schedule dan keterlambatan material yang dibeli dari luar negeri. Adapun respon resiko yang diambil untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan adalah dengan mitigate yaitu melibatkan engineer kontraktor pada tahap detil perencanaan dan perancangan, dan transfer yaitu mengalihkan kerugian atas keterlambatan material kepada pihak asuransi. Kata kunci: turnaround, dinamis, pihak asuransi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan produksi kapal beberapa tahun ini semakin meningkat, terbukti dengan meningkatnya produksi galangan kapal di Indonesia pada tahun 2008 meningkat sebesar 28.33 persen menjadi 7.75 juta gros ton, di banding tahun sebelumnya dan melampaui target Departemen Perindustrian sebesar 6 juta GT (Kemudi, 2009). Selain itu juga banyaknya lalu lintas laut di Indonesia, seperti yang di jelaskan oleh PELINDO (Dermaga 2009). Berdampak positif dalam bidang galangan kapal, di Indonesia khususnya. Kendalanya, banyak pembangunan kapal baru yang mengalami keterlambatan, padahal proyek yang lain telah menunggu untuk dikerjakan. Pendapatan yang diperoleh galangan meningkat karena banyaknya kapal yang dapat diproduksi dan pekerjaan lain seperti reparasi, tetapi dikarenakan perencanaan dan pengontrolan progress yang kurang untuk membangun kapal dengan order yang bertambah dan juga fasilitas dari galangan kapal dengan proyek yang diterima. Harus ada suatu perencanaan dan penjadwalan untuk pembangunan kapal supaya dapat diterima pemilik kapal tepat waktu. Dalam hal ini penulis mencoba untuk ternyata mesin / peralatan yang diperiksa masih layak untuk 1.2 Rumusan Masalah Dengan melihat pada deskripsi masalah dan terkait dengan signifikansi yang mungkin terjadi akibat masalah yang ada, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: Analisis faktor-faktor Turnaround terhadap Pembangunan Kapal Patroli Cepat (Studi Kasus Turnaround di PT PAL Indonesia). Jurnal Teknik Sipil Untag Surabaya 17

1.3. Tujuan Penelitian Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi proyek pembangunan kapal. Melakukan analisa penyebab atas dampak resiko yang ditimbulkan. Mengambil tindakan yang tepat untuk meminimalkan dampak resiko yang ditimbulkan. 1.4. Batasan Penelitan Dalam penelitian ini, penulis membatasi permasalahan pada: Penelitian hanya dilakukan untuk jenis perawatan besar terjadual (turnaround). Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus agar hasil yang didapatkan lebih spesifik. Obyek penelitian hanya dilakukan ke satu perusahaan saja pada divisi Kapal Perang (Kaprang) sebagai project manager dari sebuah perusahaan galangan kapal milik Negara. Kinerja yang diukur hanya dibatasi oleh kinerja waktu. 1.5. Manfaat Penelitian Hasil dan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi: Dunia akademis khususnya yang menggeluti bidang manajemen proyek dikarenakan proyek turnaround mempunyai kekhasan tersendiri dalam penanganannya. Industri galangan kapal sebagai pertimbangan pada saat perencanaan proyek perawatan besar terjadual (turnaround) terutama bagi perusahaan yang memproduksi kapal-kapal berskala nasional dan internasional. II. LANDASAN TEORI 2.1 Peran Manajemen Resiko Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang ada, penulis mencoba untuk mengambil sebuah pendekatan manajemen resiko agar dapat merespon atas dampak resiko yang ditimbulkan. Adapun contoh penerapan manajemen resiko pada inspection based dapat mengurangi nilai di mana peralatan tidak berproduksi/nilai downtime sebesar 10% dan biaya pelaksanaan perawatan sebesar 15%. Berikut ini adalah proses manajemen resiko berdasarkan PMBOK 2004: 2.2 Perbedaan Proyek EPC dan Turnaround Terdapat perbedaan yang jelas antara Proyek Engineering Procurement and Construction (EPC) dan Pekerjaan Perawatan Besar Terjadual (Turnaround) dari segi metode penjadualan dan penggunaan sumber daya manusia. Dikarenakan scope (lingkup) pekerjaan hanya sebagian yang diketahui saat permulaan pekerjaan, turnaround membutuhkan kontrol yang kuat atas scope management. Perubahan scope secara konstan yang merupakan dasar dari pengukuran dan peningkatan kinerja pada proyek EPC. 2.3 Pekerjaan Perawatan Besar Terjadual Pekerjaan perawatan adalah Kumpulan aktivitas yang dilakukan untuk menjaga keandalan dari suatu instalasi peralatan proses (the sum of activities performed to protect the reliability of the plant) (Lenahan, 2006), sedangkan pekerjaan perawatan besar terjadwal (turnaround) mempunyai definisi Suatu kegiatan tehnik yang terjadi pada saat peralatan industri yang baru akan dipasang, peralatan industri yang sedang beroperasi diperiksa dan diperbaiki, dan peralatan industri yang sudah rusak/tidak berguna dipindahkan (an engineering event during which new plant is installed, existing plant overhauled, and redundant plant removed). Jurnal Teknik Sipil Untag Surabaya 18

2.4 Analisa AHP GOA KRITERIA Goa a. Perbandingan Berpasangan (Pairwise Comparison) b. Perhitungan Bobot Elemen ALTERNATIF Gambar 2.2 Hirarki 3 Tingkat Metode AHP Langkah-langkah dasar dalam proses ini dapat dirangkum menjadi suatu tahapan pengerjaan sebagai berikut: 1. Definisikan persoalan dan rinci pemecahan yang diinginkan. 2. Buat struktur hirarki dari sudut pandang manajerial secara menyeluruh 3. Buatlah sebuah matriks banding berpasangan untuk kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap elemen yang setingkat di atasnya berdasarkan judgement pengambil keputusan. 4. Lakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh seluruh pertimbangan (judgement) sebanyak n x (n-1112 buah, dimana n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan. 5. Hitung eigen value dan uji konsistensinya dengan menempatkan bilangan 1 pada diagonal utama, dimana di atas dan bawah diagonal merupakan angka kebalikannya. Jika tidak konsisten, pengambilan data diulangi lagi. 6. Laksanakan langkah 3, 4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki. 7. Hitung eigen vector (bobot dari tiap elemen) dari setiap matriks perbandingan berpasangan, untuk menguji pertimbangan dalam penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai mencapai tujuan. 8. Periksa konsistensi hirarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data pertimbangan harus diulangi. Formula matematis yang dibutuhkan pada proses AHP adalah perbandingan berpasangan (pairwise comparison). Perhitungan bobot elemen, perhitungan konsistensi, uji konsistensi hirarki. dan analisa korelasi peringkat (rank correlation analysis). Wi Wj a ( i, j), i, j 1,2,... n perbandingan bobot elemen Al terhadap A2, yaitu W1/W2 sama dengan a12 sehingga matriks tersebut di atas dapat dinyatakan sebagai berikut (a - ni) W =0 c. Perhitungan Konsistensi Matriks bobot dari hasil perbandingan berpasangan harus mempunyai hubungan kardinal dan ordinal, sebagai berikut: Hubungan kardinal : aij : ajk = aik Hubungan ordinal; A1 > Aj > Ak maka A1 > Ak d. Uji Konsistensi Hirarki Konsistensi hirarki dihitung dengan rumus: dimana: h nij CRH = Wij, Ui, j 1 j 1 j 1 CRH = rasio konsistensi hirarki. CCI = indeks konsistensi hirarki. CRI = indeks konsistensi random hirarki (lihat tabel d). CI 2 = indeks konsistensi matriks banding berpasangan pada hirarki tingkat kedua, berupa vektor kolom. EV 1 = nilai prioritas dari matriks banding berpasangan pada hirarki tingkat pertama, berupa vektor baris. RI 1 = indeks konsistensi random orde matriks banding berpasangan pada hirarki tingkat pertama (j). RI 2 = indeks konsistensi random orde matriks banding berpasangan pada hirarki tingkat kedua (j+1). e. Analisa Korelasi Peringkat (Rank Correlation Analysis) Skala pengukuran yang dipakai dalam penelitian dengan menggunakan metode AHP adalah skala rasio (ratio scale), jadi dalam hal ini apabila 2 elemen yang mempunyai bobot A = 0.6 dan B = 0.4 Jurnal Teknik Sipil Untag Surabaya 19

maka bukan saja a menempati peringkat kesatu dan B kedua, tetapi juga dapat dikatakan bahwa A adalah 1.5 kali lebih penting dibandingkan dengan B dalam pencapaian suatu kriteria atau goal dalam suatu hirarki. III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Flow Chart Penelitian Start Identifikasi Masalah 3.2 Diagram Alir Analisa AHP AHP process Prinsip-prinsip Dasar : 1. Decomposisi 2. Comparatif 3. Syntesis 4. Logycal Consistensi Data Primer : - Dikumpulkan & diolah Peneliti dr responden. - Kuisioner - Wawancara dgn pakar yang berhubungan. Data Sekunder : - Studi pustaka - Literatur - Data yang sudah jadi dari perusahaan yang diteliti. Menentukan Kriteria dan Alternatif Tidak Menyusun Variabel Uji Kuisioner 1. Variabel kategoris dan kontinum : Usia, Pengalaman kerja dan usia 2. Variabel bebas dan terikat : dengan spss 19 Uji Validitas rumus korelasi product moment r hitung 0,5 (spss 19 ) Ya Analisa AHP Uji Reabilitas : Uji Alpha-Cronbach α 0,6 (spss 19) Pembahasan dan Kesimpulan Selesai Tidak I. Perhitungan Faktor Pembobotan Hirarki untuk Semua kriteria : 1. Membuat matrik faktor pembobotan untuk semua kriteria. 2. Membuat matrik faktor pembobotan untuk semua kriteria yang disederhanakan. 3. Membuat matrik faktor pembobotan untuk semua kriteria yang dinormalkan. 4. Menghitung eigen maksimum II. Perhitungan vektor prioritas Hirarki untuk Semua kriteria : Perhitungan Faktor evaluasi untuk masing-masing kriteria : 1. Kriteria A 2. Kriteria B 3. Kriteria C dst 4. Membuat matrik faktor evaluasi untuk semua kriteria. 5. Membuat matrik faktor evaluasi untuk semua kriteria yang disederhanakan. 6. Membuat matrik faktor evaluasi untuk semua kriteria yang dinormalkan. 7. Menghitung eigen maksimum Perhitungan prioritas Global/ Total Rangking : 1. Faktor Evaluasi Total (matriks hub. Kriteria & alternatif) 2. Total Ranking (per kriteria) Gambar 3.1 Flow Chart Penelitian Sumber : Hasil Olahan Total Ranking thd Faktor-faktor TA di Galangan Kapal Sumber : Hasil Olahan Penulis IV. ANALISA DAN PEMBAHASAN Jurnal Teknik Sipil Untag Surabaya 20

4.1 Analisis dan Interpretasi Hasil 4.1.1 Perhitungan Sampel Untuk mengetahui beda persepsi pada dua kelompok sampel antara karyawan produksi yang langsung terlibat dikapal dan yang tidak langsung terllibat di kapal. Selisih rerata pada perbedaan persepsi pada dua kelompok tersebut sebesar 5., dengan simpang baku sebesar 10, maka besar sampel masing-masing kelompok adalah : zα = 1,960, s = 10, d = 5 Dari perhitungan diatas, jumlah sampel yang harus ada dari masing-masing kelompok adalah 30 sampel. 4.2 Perhitungan Faktor Pembobotan Hirarki Untuk Semua Kriteria Hasil analisa gabungan dari 30 responden menunjukkan bahwa : Kriteria Pendidikan 6 kali lebih penting dari kriteria Pengalaman, 4 kali lebih penting dari kriteria Usia dan 8 kali lebih penting dibandingkan dengan kriteria Fasilitas Kerja. Sedangkan Kriteria Pengalaman 2 kali lebih penting dibandingkan dengan kriteria Fasilitas tetapi kriteria Usia 3 kali lebih penting dibandingkan dengan kriteria Pengalaman dan 6 kali lebih penting dibandingkan kriteria Fasilitas. Maka matriks. 4.3 Vektor Prioritas Untuk memperoleh vektor prioritas, setiap unsur pada tabel 4.2, disetiap baris dikalikan dan selanjutnya ditarik akar berpangkat n. Hasil dari setiap baris ini kemudian dibagi dengan jumlah dari hasil semua baris. 4.4. Perhitungan Faktor Evaluasi Untuk Kriteria Pendidikan Perbandingan berpasangan untuk kriteria pendidikan pada 7 jenis faktorfaktor turnaround pada galangan kapal terutama untuk pembangunan kapal baru, yaitu perbandingan berpasangan antara A (X1), B (X3), C(X4), D(X6), E(X8), F(X9), G(X11), H(X13), I(X14) dan J(X15) sehingga diperoleh hasil preferensi rata-rata dari 30 responden. 4.5 Perhitungan Total Rangking/ Prioritas Global 4.5.1 Faktor Evaluasi Total Dari seluruh evaluasi yang dilakukan terhadap ke-4 kriteria yakni : Pendidikan, Pengalaman, Usia dan Jenis Kelamin, yang selanjutnya dikalikan dengan vektor prioritas. Dengan Demikian kita peroleh tabel hubungan antara kriteria dengan alternatif. V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan 1. Sesuai dengan Hasil identifikasi maka faktor-faktor turnaround yang mempengaruhi proyek pembangunan kapal di salah satu galangan kapal di Surabaya adalah sesuai Analisa Data dengan proses AHP pada Perangkingan variabel dan pembobotan pengaruh tabel ada 10 faktor utama yang paling penting. Diperoleh dari Hasil Perangkingan Dengan Metode AHP 1. C=X4= Penjadualan turnaround tidak memperhatikan strategi pemasaran. 2. J=X15= Masih terdapat item-item pekerjaan yang belum masuk schedule. 3. H=X13= Semua item-item pekerjaan dianggap sama rata. 4. I=X14= Kesalahan instalasi pada unit yang sama. 5. D=X6= Spesifikasi material tidak standar. 6. A= X1=Tidak ada identifikasi unit. 7. 7E=X8= Kinerja kontraktor tidak terkontrol (waktu) 8. B=X3= Antar fasilitas tidak Jurnal Teknik Sipil Untag Surabaya 21

terkoordinasi dengan baik. 9. F=X9= Tidak ada pengenalan Hazardous Operation (HazOp) bagi Kontraktor 10. G=X11= Masukan-masukan pekerjaan tidak teridentifikasi 2. Penyebab dari kesepuluh faktor tersebut adalah: 1. X4= Pekerjaan turnaround tidak dilakukan dengan efisien yang disebabkan tidak ada engineer dari pihak kontraktor. 2. X15= Pekerjaan turnaround tidak dilakukan secara prioritas yang disebabkan kontraktor mengutamakan pekerjaan yang mudah dahulu. 3. X13= Pekerjaan turnaround tidak dilakukan secara prioritas yang disebabkan kontraktor mengutamakan pekerjaan yang mudah dahulu. 4. X14= Mis identifikasi instalasi unit oleh pihak kontraktor yang disebabkan laporan inspeksi dan perbaikan terdahulu tidak lengkap didokumentasikan. 5. X6= Terjadi kecelakaan saat pelaksanaan turnaround yang disebabkan oleh kelalaian manusia 6. X1= Kontraktor tidak melakukan pekerjaan instalasi dengan benar yang disebabkan kurang koordinasi antara pihak kontraktor dengan divisi maintenance 7. X8= Rescheduling yang disebabkan daftar pekerjaan belum detil 8. X3= Life time material menjadi lebih pendek yang disebabkan oleh pengurangan dana pembelian material untuk turnaround 9. X9= Lama dalam pengiriman barang yang disebabkan lamanya proses perizinan impor barang di pelabuhan. 10. X11= Waktu pelaksanaan turnaround menjadi terkesan singkat yang disebabkan tidak lengkapnya catatan pekerjaan turnaround yang lalu dan hanya berdasarkan lifetime material saja. 3. Tindakan Resiko yang diambil untuk meminimalkan atas dampak yang ditimbulkan adalah: 1. Mitigate yaitu mengambil tindakan untuk mengurangi peluang terjadinya resiko adalah lebih baik daripada memperbaiki kerusakan setelah resiko terjadi dengan cara mengatur kembali semua masukan kegiatan pada tahapan pengembangan (Oliver,2002) dan bila kontraktor memiliki engineer, mencoba untuk dilibatkan pada dari tahap detil perencanaan dan perancangan. 2. Transfer,yaitu mengalihkan kerugian atas keterlambatan material kepada pihak asuransi. 3. Memungkinkan kontraktor untuk mengajukan tambahan pekerjaan. Hal ini disebabkan tidak dilibatkannya pihak kontraktor dalam perencanaan. 4. Penjadualan ulang pelaksanaan turnaround. 5. Memungkinkan kontraktor untuk mengajukan tambahan pekerjaan. Hal ini disebabkan tidak dilibatkannya pihak kontraktor dalam perencanaan. 6. Pekerjaan turnaround dilakukan secara prioritas 7. karena mengatur alokasi resource untuk menjalankan proses-proses produksi. 5.2 SARAN 1. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi kasus pada satu perusahaan/ galangan kapal saja. Untuk menghasilkan penelitian yang lebih baik diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan mengambil sampel dari beberapa galangan kapal sejenis. Jurnal Teknik Sipil Untag Surabaya 22

2. Diperlukan penelitian lebih lanjut, mengenai seberapa besar manfaat dari manajemen resiko pada proyek turnaround tersebut. 3. Disarankan kepada pembaca untuk menggunakan program Expert Choice agar memperoleh hasil yang lebih cepat dan tepat jika berhubungan dengan AHP. Menilik hasil total rangking diatas, disarankan kepada karyawan bidang produksi agar dapat melihat peluang yang lebih baik jika ingin menunjang kualitas kerja dinamis di Galangan Kapal berarti butuh kejelian untuk dapat mengetahui Faktor-faktor Turnaround di Galangan Kapal tersebut semakin tinggi DAFTAR PUSTAKA PAL, PT., Company Profile of PT Penataran Angkatan Laut (Surabaya: PT PAL, 2004) Edwin A Merrick; C Ron Leonard; Phil Eckhardt; Harry Baughman, Riskbased methods optimize maintenance work scope (Oil & Gas Journal; Aug 2, 1999) Ertl, Bernard, Applying PMBOK to Shutdowns, Turnarounds, and Outages (USA: ATC Professional White Paper, 2002) Jurnal Teknik Sipil Untag Surabaya 23