dokumen-dokumen yang mirip
Sekapur Sirih. Purwokerto, Agustus 2010 Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas. Ir. Suherijatno

Boleh dikutip dengan mencantumkan sumbernya

RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL PENDATAAN SUSENAS Jumlah (1) (2) (3) (4) Penduduk yang Mengalami keluhan Sakit. Angka Kesakitan 23,93 21,38 22,67

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR 2014

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT K O T A K U P A N G /

KABUPATEN ACEH UTARA. Katalog BPS : BADAN PUSAT STATISTIK

(Sakernas), Proyeksi Penduduk Indonesia, hasil Sensus Penduduk (SP), Pendataan Potensi Desa/Kelurahan, Survei Industri Mikro dan Kecil serta sumber

BUKU SAKU DATA DAN INDIKATOR SOSIAL SUMATERA SELATAN

KERJASAMA BAPPEDA KABUPATEN SEMARANG BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN SEMARANG

KATALOG DALAM TERBITAN INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT TAHUN 2017

Profile Perempuan Indonesia

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT KABUPATEN PASER TAHUN : Bappeda Kabupaten Paser bekerjasama dengan. Badan Pusat Statistik Kabupaten Paser

ANALISIS KEBUTUHAN RUANG PERMUKIMAN DALAM PEMENUHAN PERUMAHAN UNTUK MASYARAKAT DI KABUPATEN BANYUMAS

Kata pengantar. Tanjungpinang, September 2014 Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BUPATI KABUPATEN BANYUASIN... KATA PENGANTAR BAPPEDA KABUPATEN BANYUASIN... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

PENDAHULUAN Latar Belakang

madiunkota.bps.go.id

KATA PENGANTAR. Salatiga, Oktober Tim Penyusun

SIARAN PERS KPU KABUPATEN BANYUMAS

STATISTIK GENDER 2011

pareparekota.bps.go.id

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan. Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Paser dan

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT KOTA KUPANG 2011

PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BLORA 2015

No. Katalog :

Indikator Kesejahteraan Rakyat Kota Tual

PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI DI INDONESIA 2013

BAB I PENDAHULUAN. berusaha. Seiring dengan meningkatnya pembangunan nasional terutama dalam

Katalog BPS : BADAN PUSAT STATISTIK KOTA MAKASSAR

Indikator Kesejahteraan Rakyat 2014

Katalog BPS :


INDIKATOR KETENAGAKERJAAN

BUPATI BANYUMAS PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR 70 TAHUN 2008 TENTANG

ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN PANGAN KABUPATEN BANYUMAS. Oleh *) Rian Destiningsih

BUPATI BANYUMAS PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR 93 TAHUN 2008 TENTANG

Katalog BPS :


KONDISI KETENAGAKERJAAN SEKADAU TAHUN 2015

Katalog :

INIJIKATDR RAKYAT. ~~QI!i. l~e~ejaht&raan. Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Pekalongan dengan Badan Pusat Statistik Kota Pekalongan

BAB II ASPEK STRATEGIS

Kata pengantar. Tanjungpinang, Oktober 2013 Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau


Sambutan... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii Daftar Tabel.. iv Daftar Gambar.. iv


4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

PEMBAHASAN UMUM DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN WILAYAH DENGAN PENDEKATAN AGROPOLITAN

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT PANDEGLANG

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Analisis kesenjangan pembangunan antara Kabupaten Lampung Barat dan

DEMOGRAFI KOTA TASIKMALAYA

ANALISIS KESEJAHTERAAN RAKYAT KALIMANTAN TENGAH 2013

BERITA RESMI STATISTIK

Data Sosial Ekonomi Kepulauan Riau 2012

Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Kalimantan Tengah Agustus 2017

Publikasi Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Mamuju merupakan publikasi tahunan yang diterbitkan BPS Kabupaten Mamuju. Publikasi ini memuat

BERITA RESMI STATISTIK

Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Jambi Agustus 2017

Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Tengah Agustus 2017

KATA PENGANTAR. iii. Alfatah Sibua, S.Ag, M.Hum. Indikator Sosial Kabupaten Pulau Morotai 2015

BAB IV GAMBARAN UMUM

Katalog BPS :

Statistik Daerah Kabupaten Bintan


BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT


STATISTIK DAERAH. Kecamatan Sukajadi Kota Bandung Tahun 2015 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BANDUNG. Katalog BPS nomor :

STATISTIK PEMUDA BLORA TAHUN 2015

PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR 47 TAHUN 2013 TENTANG PEMETAAN APOTEK DI KABUPATEN BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUMAS,

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. KONDISI UMUM KOTA MAKASSAR. Luas Kota Makassar sekitar 175,77 km 2, terletak di bagian Barat

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

HASIL-HASIL PEMILU PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TAHUN 2014 DI KABUPATEN BANYUMAS

BERITA RESMI STATISTIK


Ketenagakerjaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Sehat berarti kondisi fisik dan mental yang normal tanpa gangguan, baik gangguan dari luar maupun dari dalam tubuh sendiri

Katalog BPS:

Keadaan Ketenagakerjaan Maluku Utara Agustus 2017

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT SUMATERA SELATAN 2009

STATISTIK DAERAH KECAMATAN LEMBEH UTARA

BERITA RESMI STATISTIK

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2

3.1. Kualitas Sumberdaya Manusia


INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT KOTA BONTANG KOTA BONTANG

Transkripsi:

STATISTIK KESEJAHTERAAN RAKYAT KABUPATEN BANYUMAS 2015 No. Publikasi : 33020.1658 Katalog BPS : 4101002.3302 Ukuran Buku : 14,8 cm x 21 cm Jumlah Halaman : xiii + 48 halaman Naskah : BPS Kabupaten Banyumas Tim Penyusun Naskah Penanggung Jawab : Drs. Edy Aprotuwiyono Editor : Septiana Tri Setiowati, SST.,M.Agb Anggota : Dewi Novita Sari, SST.,M.Stat : Fitria Hernawati, SST Penyunting : Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Gambar Kulit : Septiana Tri Setiowati, SST.,M.Agb Penerbit : BPS Kabupaten Banyumas Dilarang mengumumkan, mendistribusikan, mengomunikasikan, dan/atau menggandakan sebagian atau seluruh isi buku ini untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari Badan Pusat Statistik.

KATA PENGANTAR Data dan informasi yang aktual menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan perencanaan pembangunan suatu wilayah. Data merupakan suatu refleksi awal kondisi wilayah merupakan modal penting pembangunan dengan tujuan dan pola yang jelas. Data yang terkait dengan konsumsi penduduk seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan kesempatan kerja diperlukan untuk mengetahui seberapa jauh pencapaian hasilhasil pembangunan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 merupakan hasil pengumpulan data melalui kuesioner Kor Susenas Maret 2015 (Daftar VSEN2015.K) yang dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia. Publikasi ini disajikan dalam bentuk angka persentase dari suatu populasi yang dipilah menurut wilayah perkotaan dan perdesaan sehingga pengguna data dapat mengetahui perbedaan tingkat kesejahteraan antar wilayah tersebut. Dengan terbitnya buku ini, diharapkan kebutuhan data statistik kesejahteraan rakyat sebagian besar sudah dapat dipenuhi. Kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam terbitnya publikasi ini, diucapkan terima kasih Purwokerto, November 2015 Badan Pusat statistik Kabupaten Banyumas Kepala, Edy Aprotuwiyono Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 i

ii Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR ISTILAH TEKNIS... viii BAB I KEPENDUDUKAN 1.1. Keadaan Wilayah... 1 1.2. Keadaan Penduduk... 1 BAB II KESEHATAN 2.1. Derajat Kesehatan Masyarakat... 9 2.2. Pemanfaatan Fasilitas Kesehatan... 12 2.3. Penggunaan Jaminan Kesehatan... 15 2.4. Penolong Proses Kelahiran... 17 BAB III PENDIDIKAN 3.1. Tingkat Pendidikan... 21 3.2. Angka Partisipasi Sekolah (APS)... 23 3.3. Angka Partisipasi Murni (APM)... 25 3.4. Angka Partisipasi Kasar (APK)... 27 BAB IV KETENAGAKERJAAN 4.1. Perkembangan Jumlah Angkatan Kerja... 29 4.2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)... 32 4.3. Lapangan Pekerjaan Utama... 33 BAB V PERUMAHAN 5.1. Kualitas Rumah Tempat Tinggal... 36 5.2. Penguasaan Tempat Tinggal... 39 5.3. Fasilitas Perumahan... 41 5.4. Penguasaan Alat Komunikasi... 43 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 iii

BAB VI PENGELUARAN DAN KONSUMSI PENDUDUK 6.1. Pengeluaran Rumah Tangga... 45 6.2. Pola Konsumsi... 47 iv Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1.1. Statistik Kependudukan Kabupaten Banyumas, 2015... 3 1.2. Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Banyumas 2010, 2014, dan 2015... 5 1.3. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Banyumas, 2015... 7 2.1. Persentase Penduduk yang Mengalami Keluhan Kesehatan, Angka Kesakitan dan Rata-rata Lama Sakit menurut Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2014-2015... 10 2.2. Persentase Penduduk yang Mengalami Keluhan Kesehatan menurut Berobat Jalan dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2014-2015... 13 2.3. Persentase Penduduk yang Tidak Berobat Jalan menurut Daerah Tempat Tinggal dan Alasan Tidak Berobat Jalan Kabupaten Banyumas, 2015... 14 2.4. Persentase Penduduk yang Berobat Jalan menurut Tempat/Cara Berobat dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2014-2015... 15 2.5. Persentase Penduduk menurut Jaminan Kesehatan yang Dimiliki dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2015... 16 2.6. Persentase Perempuan Berumur 15-49 Tahun yang Pernah Kawin menurut Penolong Kelahiran Anak Terakhir dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2015... 17 3.1. Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin Kabupaten Banyumas, 2015... 21 3.2. Angka Partisipasi Sekolah menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, Kabupaten Banyumas 2014-2015... 24 3.3. Angka Partisipasi Murni menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin, Kabupaten Banyumas 2014-2015... 26 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 v

3.4. Angka Partisipasi Kasar menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Kabupaten Banyumas, 2014-2015... 27 4.1. Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Kegiatan Seminggu yang Lalu Kabupaten Banyumas, 2015... 30 4.2. Persentase Rata-rata Luas Lantai Kabupaten Banyumas, 2014-2015... 5.1. Persentase Rata-rata Luas Lantai Kab. Banyumas 2014-2015... 36 5.2. Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Perumahan dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2014-2015... 38 5.3. Persentase Rumah Tangga menurut Daerah Tempat Tinggal dan Status Penguasaan Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2014-2015... 40 5.4. Persentase Rumah Tangga menurut Fasilitas Perumahan dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2014-2015... 41 5.5. Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Telepon Rumah dan Komputer menurut Daerah tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2015... 43 6.1. Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan (dalam Rupiah) menurut Jenis Pengeluaran dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2015... 46 6.2. Rata-rata Pengeluaran per Kapita Sebulan (dalam Rupiah) menurut Kelompok Komoditas dan Daerah Tempat Tinggal di Kabupaten Banyumas, 2015... 48 vi Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 4.1. Persentase Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Kegiatan Utama Selama Seminggu yang Lalu Kabupaten Banyumas, 2015... 31 4.2. TPT dan TPAK Kabupaten Banyumas, 2015... 33 4.3. Persentase Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Usaha Utama Selama Seminggu yang Lalu Kabupaten Banyumas, 2015... 34 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 vii

DAFTAR ISTILAH TEKNIS KEPENDUDUKAN 1. Kepadatan Penduduk Rata-rata banyaknya penduduk per kilometer persegi. Jumlah penduduk yang tinggal di suatu wilayah dibagi dengan luas wilayah tersebut. 2. Rasio Jenis Kelamin Perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan dikalikan 100. 3. Rasio Ketergantungan Perbandingan jumlah penduduk usia tidak produktif (0-14 tahun/anak-anak dan 65 tahun ke atas/lansia) dengan penduduk usia produktif (15-64 tahun) dikalikan 100. 4. Rata-rata Umur Perkawinan Pertama Rata-rata umur seorang wanita pada saat melaksanakan perkawinan yang pertama kali. 5. Partisipasi Keluarga Berencana Proporsi peserta Keluarga Berencana (KB) aktif terhadap jumlah Pasangan Usia Subur (PUS). 6. Kontrasepsi Tetap (Kontap) Alat/cara KB yang bersifat permanen/tetap, meliputi: MOW, MOP, AKDR/IUD dan Susuk/Implant. viii Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

KESEHATAN 1. Angka Kesakitan/Morbiditas Persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan hingga terganggu aktifitasnya. Keluhan kesehatan adalah gangguan terhadap kondisi fisik maupun jiwa, termasuk karena kecelakaan, atau hal lain yang menyebabkan terganggunya kegiatan seharihari. Pada umumnya keluhan kesehatan utama yang banyak dialami oleh penduduk adalah panas, sakit kepala, batuk, pilek, diare, asma/sesak nafas, sakit gigi. Orang yang menderita penyakit kronis dianggap mempunyai keluhan kesehatan walaupun pada waktu survei (satu bulan terakhir) yang bersangkutan tidak kambuh penyakitnya. PENDIDIKAN 1. APS (Angka Partisipasi Sekolah) Proporsi anak yang bersekolah pada suatu kelompok umur sekolah jenjang pendidikan tertentu. Angka Partisipasi Sekolah memberikan gambaran secara umum tentang banyaknya anak kelompok umur tertentu yang sedang bersekolah, tanpa memperhatikan jenjang pendidikan yang sedang diikuti. 2. APM (Angka Partisipasi Murni) Proporsi jumlah anak sekolah pada suatu kelompok umur tertentu yang bersekolah pada tingkat yang sesuai dengan kelompok umurnya. Angka Partisipasi Murni membatasi usia murid sesuai dengan usia sekolah dan jenjang pendidikan. 3. APK (Angka Partisipasi Kasar) Proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 ix

Angka ini memberikan gambaran secara umum tentang banyaknya anak yang menerima pendidikan pada jenjang tertentu. 4. Rata-rata Lama Sekolah Jumlah Tahun belajar penduduk umur 25 tahun ke atas yang telah diselesaikan dalam pendidikan formal (tidak termasuk tahun yang mengulang). Tingginya angka rata-rata lama sekolah menunjukkan jenjang pendidikan yang pernah/sedang diduduki oleh seseorang. Semakin tinggi angkanya maka semakin lama/tinggi jenjang pendidikan yang ditamatkannya. KETENAGAKERJAAN 1. Penduduk Usia Kerja Jumlah penduduk yang berumur 15 tahun ke atas 2. Bekerja Kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh/membantu memperoleh penghasilan/keuntungan selama paling sedikit 1 jam berturutturut dalam satu minggu. 3. Angkatan Kerja Penduduk usia kerja yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan. 4. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Persentase jumlah angkatan kerja terhadap jumlah penduduk usia kerja. 5. Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) Rasio jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja dikalikan 100 persen. x Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

6. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Persentase jumlah penduduk yang mencari kerja terhadap jumlah angkatan kerja. PERUMAHAN 1. Luas Lantai Luas lantai yang ditempati dan digunakan untuk keperluan sehari-hari sebatas atap. 2. Dinding Rumah Sisi luar/batas dari suatu bangunan/penyekat dengan bangunan fisik lain. 3. Atap Rumah Penutup bagian atas suatu bangunan sehingga orang yang mendiami di bawahnya terlindung dari teriknya matahari, hujan dan sebagainya. 4. Atap Layak Jenis atap yang digunakan antara lain beton, genteng, sirap, seng dan asbes. 5. Fasilitas Air Minum Instalasi air minum yang dikelola oleh PAM/PDAM atau Non PAM/PDAM termasuk sumur gali dan sumur pompa. 6. Fasilitas Buang Air Besar Kemudahan suatu rumah tangga dalam menggunakan jamban. 7. Tangki Tempat pembuangan akhir yang berupa bak penampungan, biasanya terbuat dari pasangan bata/batu atau beton baik mempunyai bak resapan maupun tidak, termasuk di sini daerah Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 xi

pemukiman yang mempunyai Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) terpadu yang dikelola oleh pemerintah kota. PENGELUARAN DAN KONSUMSI PENDUDUK 1. Konsumsi Meliputi konsumsi makanan dan bukan makanan. 2. Pengeluaran Rata-Rata per Kapita Biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi semua anggota rumah tangga selamasebulan dibagi dengan banyaknya anggota rumah tangga. xii Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Kependudukan

1.1. Keadaan Wilayah Kabupaten Banyumas berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah. Dengan luas 1.327,59 km 2 Banyumas merupakan kabupaten terluas ke tujuh di Jawa Tengah. Batas Kabupaten Banyumas sebelah utara adalah Kabupaten Brebes. Batas sebelah timur ada beberapa kabupaten yaitu Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Kebumen. Sedangkan Kabupaten Cilacap membatasi wilayah Banyumas di sebelah selatan dan barat. Kabupaten Banyumas memiliki jumlah kecamatan terbanyak di Jawa Tengah. Secara administratif Banyumas dibagi menjadi 27 kecamatan. Wilayah paling luas berada di Kecamatan Cilongok dengan luas sekitar 105,34 km 2. Wilayah paling kecil adalah Kecamatan Purwokerto Utara seluas 7,4 km 2. 1.2. Keadaan Penduduk Penduduk merupakan titik sentral dalam sebuah pembangunan. Pembangunan yang berkualitas dan berkelanjutan adalah pembangunan yang mengutamakan penduduk. Dalam hal ini, penduduk dijadikan subjek serta objek dari pembangunan itu sendiri. Sebagai objek, penduduk adalah sasaran pembangunan. Sebagai subyek, penduduk adalah pelaku pembangunan. Peranan penduduk sebagai subyek menentukan arah dan keberhasilan pembangunan. A. Sebaran Penduduk Sebaran penduduk yang tidak merata bisa menyebabkan terjadinya ketimpangan sosial pada daerah tertentu, misalnya pada wilayah dengan tingkat kepadatan tinggi akan menyebabkan muncul pemukiman-pemukiman Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 1

kumuh yang menyebabkan masalah sosial yaitu kemiskinan dan kesehatan karena kesulitan akses air bersih dan udara bersih. Sebaran penduduk berguna untuk melihat daya tampung lahan terhadap jumlah penduduk, sekaligus untuk mengidentifikasi pemerataan pembangunan, keseimbangan wilayah serta untuk melihat daya tampung sarana prasarana sosial ekonomi suatu wilayah. Jumlah penduduk Kabupaten Banyumas dari hasil proyeksi penduduk (SP2010) di tahun 2015 sebanyak 1.635.909 jiwa, yang terdiri dari 817.383 laki-laki (49,96 %) dan 818.526 perempuan (50,04 %). Dengan jumlah sebesar itu, Kabupaten Banyumas merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar ke empat di Provinsi Jawa Tengah setelah Kabupaten Brebes, Kota Semarang dan Kabupaten Cilacap. Dengan luas wilayah Kabupaten Banyumas sekitar 1.328 kilometer persegi maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Banyumas tahun 2015 adalah sebanyak 1.232 orang per kilometer persegi. Sebaran penduduk dapat dilihat melalui jumlah penduduk dan kepadatan penduduk di masing-masing kecamatan. Sebaran umlah penduduk Kabupaten Banyumas termasuk cukup merata. Penduduk terbanyak mendiami wilayah Kecamatan Cilongok sebanyak 7,08% dari seluruh penduduk Banyumas dan tersedikit adalah Kecamatan Purwojati sebanyak 1,94%. Kepadatan penduduk terpusat di wilayah perkotaan. Wilayah terpadat adalah Kecamatan Purwokerto Utara dengan kepadatan 7.050 jiwa per km 2. 2 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Tabel. 1.1 Statistik Kependudukan Kabupaten Banyumas, 2015 Kecamatan [1] Sumber : Proyeksi Penduduk (SP2010) Jumlah Penduduk Laki-Laki Perempuan Jumlah Persentase Sex ratio [2] [3] [4] [5] [6] [7] 1 Lumbir 21,841 22,348 44,189 2,70 97,73 430 2 Wangon 37,598 37,693 75,291 4,60 99,75 1,239 3 Jatilawang 29,102 29,588 58,690 3,59 98,36 1,219 4 Rawalo 23,435 23,472 46,907 2,87 99,84 945 5 Kebasen 28,976 28,600 57,576 3,52 101,31 1,066 6 Kemranjen 32,701 32,530 65,231 3,99 100,53 1,074 7 Sumpiuh 25,664 25,511 51,175 3,13 100,60 853 8 Tambak 21,455 21,288 42,743 2,61 100,78 822 9 Somagede 16,330 16,680 33,010 2,02 97,90 823 10 Kalibagor 24,202 23,808 48,010 2,93 101,65 1,344 11 Banyumas 23,183 23,337 46,520 2,84 99,34 1,221 12 Patikraja 26,695 26,727 53,422 3,27 99,88 1,236 13 Purwojati 15,805 15,937 31,742 1,94 99,17 838 14 Ajibarang 47,377 46,816 94,193 5,76 101,20 1,416 15 Gumelar 23,305 22,743 46,048 2,81 102,47 490 16 Pekuncen 32,633 33,347 65,980 4,03 97,86 712 17 Cilongok 58,354 57,465 115,819 7,08 101,55 1,099 18 Karanglewas 31,529 30,741 62,270 3,81 102,56 1,917 19 Kedungbanteng 27,537 26,525 54,062 3,30 103,82 898 20 Baturraden 25,278 25,546 50,824 3,11 98,95 1,116 21 Sumbang 40,460 40,184 80,644 4,93 100,69 1,510 22 Kembaran 39,686 39,480 79,166 4,84 100,52 3,054 23 Sokaraja 41,478 41,693 83,171 5,08 99,48 2,780 Kepadatan Penduduk 24 Purwokerto Selatan 37,590 37,974 75,564 4,62 98,99 5,496 25 Purwokerto Barat 25,456 26,436 51,892 3,17 96,29 7,012 26 Purwokerto Timur 28,503 29,743 58,246 3,56 95,83 6,918 27 Purwokero Utara 31,210 32,314 63,524 3,88 96,58 7,050 Banyumas 817,383 818,526 1,635,909 100,00 99,86 1,232 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 3

B. Laju Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk merupakan produk dari pola keseimbangan yang bersifat dinamis antara kekuatankekuatan yang menambah dan mengurangi jumlah penduduk. Pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh empat komponen, yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), migrasi masuk (in-migration) dan migrasi keluar (out-migration). Selisih antara kelahiran dan kematian disebut perubahan reproduktif (reproductive change) atau pertumbuhan alamiah, sedangkan selisih antara migrasi masuk dan migrasi keluar disebut netmigration (migrasi netto). Pertumbuhan penduduk tercepat tahun 2015 berada di Kecamatan Purwokerto utara sebesar 1,99%. Di wilayah tersebut merupakan pusat pendidikan karena terdapat sebuah universitas negeri. Pertumbuhan selama tahun 2010-2015 di kecamatan tersebut lebih dari 10%. Laju pertumbuhan terendah terjadi di Kecamatan Banyumas yang rata rata hanya tumbuh 0,30% per tahun, sangat rendah. Secara rata-rata laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Banyumas tergolong rendah karena di tahun 2015 mencapai 0,93% saja dan selama tahun 2010-2015 pertumbuhan penduduk kabupaten Banyumas sebesar 5,04%. 4 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Tabel.1.2. Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Banyumas 2010, 2014, dan 2015 Kecamatan Jumlah Penduduk Laju Pertumbuhan Penduduk (%) 2010 2014 2015 2010-2014- 2015 2015 [1] [2] [3] [4] [5] [6] 1 Lumbir 43,391 44,054 44,189 1,84 0,31 2 Wangon 73,163 74,904 75,291 2,91 0,52 3 Jatilawang 57,140 58,411 58,690 2,71 0,48 4 Rawalo 45,343 46,617 46,907 3,45 0,62 5 Kebasen 55,834 57,257 57,576 3,12 0,56 6 Kemranjen 62,497 64,712 65,231 4,37 0,80 7 Sumpiuh 49,865 50,939 51,175 2,63 0,46 8 Tambak 41,971 42,612 42,743 1,84 0,31 9 Somagede 31,881 32,800 33,010 3,54 0,64 10 Kalibagor 46,037 47,637 48,010 4,29 0,78 11 Banyumas 45,681 46,379 46,520 1,84 0,30 12 Patikraja 50,460 52,847 53,422 5,87 1,09 13 Purwojati 30,852 31,579 31,742 2,88 0,52 14 Ajibarang 90,063 93,406 94,193 4,59 0,84 15 Gumelar 45,216 45,906 46,048 1,84 0,31 16 Pekuncen 64,519 65,723 65,980 2,26 0,39 17 Cilongok 109,077 114,501 115,819 6,18 1,15 18 Karanglewas 57,334 61,285 62,270 8,61 1,61 19 Kedungbanteng 51,218 53,512 54,062 5,55 1,03 20 Baturraden 47,261 50,120 50,824 7,54 1,40 21 Sumbang 74,812 79,489 80,644 7,80 1,45 22 Kembaran 72,335 77,795 79,166 9,44 1,76 23 Sokaraja 77,084 81,964 83,171 7,90 1,47 24 Purwokerto Selatan 70,674 74,602 75,564 6,92 1,29 25 Purwokerto Barat 49,182 51,369 51,892 5,51 1,02 26 Purwokerto Timur 57,193 58,067 58,246 1,84 0,31 27 Purwokero Utara 57,397 62,285 63,524 10,67 1,99 Banyumas 1,557,480 1,620,772 1,635,909 5,04 0,93 Sumber : Proyeksi Penduduk (SP2010) Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 5

C. Struktur Penduduk dan Rasio Ketergantungan Pengelompokkan penduduk menurut umur dapat digunakan untuk mengetahui struktur penduduk di suatu wilayah. Kabupaten Banyumas memiliki struktur penduduk tua dimana penduduk lansia (usia 65 tahun ke atas) jumlahnya mencapai 8,48 persen (lebih dari 7 persen). Sedangkan penduduk usia dibawah 15 tahun mencapai 24,94 persen. Sehingga penduduk usia non produktif di Banyumas mencapai 33,41 persen atau sebesar 564.603 jiwa. Dependency ratio memperlihatkan beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Semakin tingginya persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) merupakan perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun keatas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun. 6 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Tabel.1.3. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Banyumas, 2015 Kelompok Umur Laki-Laki Jenis Kelamin Sumber : Proyeksi Penduduk (SP2010) Perempuan Jumlah [1] [2] [3] [4] 0 4 71,551 67,190 138,741 5 9 70,561 66,149 136,710 10 14 67,954 64,524 132,478 15 19 66,876 62,220 129,096 20 24 60,311 58,094 118,405 25 29 53,556 54,357 107,913 30 34 56,594 59,377 115,971 35 39 61,346 63,286 124,632 40 44 57,109 58,958 116,067 45 49 54,974 58,073 113,047 50 54 49,948 53,349 103,297 55 59 45,414 45,968 91,382 60 64 35,859 33,637 69,496 65 69 25,511 25,667 51,178 70 74 17,166 18,918 36,084 75+ 22,653 28,759 51,412 Jumlah 817,383 818,526 1,635,909 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 7

Berdasarkan kelompok umur, jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) sebanyak 1.089.306 jiwa sedangkan penduduk usia non produktif sebanyak 546.603 jiwa. Sehingga rasio ketergantungan penduduk (dependency ratio) di Kabupaten Banyumas tahun 2015 mencapai 50,18 yang artinya bahwa setiap 100 penduduk produktif menanggung sekitar 50 penduduk yang tidak produktif. Lebih jauh, rasio ketergantungan penduduk ini lebih banyak disumbangkan oleh kelompok pra produktif (di bawah 15 tahun) yang mencapai 37,45 sementara kelompok pasca produktif (di atas 65 tahun) mencapai 12,73. 8 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Kesehatan

Kesehatan merupakan salah satu indikator kesejahteraan penduduk sekaligus indikator keberhasilan program pembangunan. Kesehatan berimplikasi pada produktifitas sumber daya manusia. Sehingga pembangunan dan berbagai upaya di bidang kesehatan diharapkan dapat meningkatkan pembangunan daerah secara umum. 2.1. Derajat Kesehatan Masyarakat Derajat kesehatan merupakan salah satu ukuran kesejahteraan dan kualitas sumber daya manusia. Derajat kesehatan masyarakat menyatakan tingkat/derajat baiknya status kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan penduduk merupakan gambaran kemampuan penduduk untuk mencapai indikator kesehatan. Tinggi rendahnya derajat kesehatan ini dapat di ukur dari beberapa indikator, salah satunya Angka Morbiditas (kesakitan). Angka kesakitan didefinisikan sebagai persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan yang mengakibatkan terganggunya aktifitas sehari-hari yang terjadi baik dalam melakukan pekerjaan, bersekolah, mengurus rumah tangga maupun melakukan aktivitas lainnya selama satu bulan sebelum pencacahan. Semakin banyak penduduk yang mengalami gangguan kesehatan berarti semakin rendah derajat kesehatan di wilayah tersebut dan angka kesakitan di wilayah tersebut tinggi. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 9

Tabel 2.1. Persentase Penduduk yang Mengalami Keluhan Kesehatan, Angka Kesakitan dan Rata-rata Lama Terganggu menurut Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2014-2015 Uraian Keluhan Kesehatan (%) Angka Kesakitan (%) Sumber : Susenas 2014, 2015 2014 2015 2014 2015 2014 2015 [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] Rata-rata Lama Terganggu (Hari) Perkotaan Perdesaan Perkotaan dan Perdesaan 30.05 38.22 33.07 30.24 31.50 34.41 14.26 22.30 20.22 16.45 17.12 19.50 5.13 5.36 5.40 5.76 5.28 5.52 Dari Tabel 2.1, terlihat bahwa derajat kesehatan penduduk di wilayah perdesaan lebih rendah dibanding derajat kesehatan penduduk di wilayah perkotaan. Secara umum, berdasarkan angka kesakitan, kondisi kesehatan penduduk Banyumas di tahun 2014 lebih baik dibanding kesehatan penduduk di tahun 2015. Wilayah perkotaan di tahun 2014 keluhan kesehatan penduduk Banyumas menunjukkan angka 30,05 persen. Mengalami peningkatan yang cukup besar di tahun 2015 dengan persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan mencapai 38,22 persen. 10 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Seiring keluhan kesehatan penduduk di wilayah perkotaan, angka kesakitan penduduk perkotaan di tahun 2015 mengalami peningkatan hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Jika di tahun 2014 angka kesakitan penduduk Banyumas untuk wilayah perkotaan sebesar 14,26 persen maka di tahun 2015 angka kesakitan penduduk Banyumas di wilayah perkotaan meningkat tajam mencapai 22,30 persen. Rata-rata hari lama terganggu merupakan gambaran mengenai kondisi keluhan kesehatan yang dirasakan oleh penduduk. Meningkatanya rata-rata lama terganggu untuk penduduk Banyumas di wilayah perkotaan di tahun 2015 semakin menegaskan bahwa kondisi kesehatan penduduk Banyumas di wilayah perkotaan di tahun 2015 secara umum memburuk. Jika tahun 2014 kondisi kesehatan yang mengganggu aktivitas rata-rata terganggu selama 5,13 hari maka di tahun 2015 meningkat sedikit menjadi 5,36 hari. Derajat kesehatan penduduk Bnayumas di wilayah perdesaan jika dilihat dari tabel 2.1 dapat dikatakan lebih rendah dibanding derajat kesehatan penduduk di wilayah perkotaan. Namun demikian di wilayah perdesaan kondisi kesehatan penduduk secara umum di tahun 2015 lebih baik dibanding konsdisi kesehatan di tahun 2014. Tahun 2014 keluhan kesehatan penduduk Banyumas di wilayah perdesaan menunjukkan angka 33,07 persen. Angka memperlihatkan kondisi yang lebih baik di tahun 2015 dengan persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan mencapai 30,24 persen. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 11

Sejalan dengan keluhan kesehatan penduduk di wilayah perdesaan, angka kesakitan penduduk di tahun 2015 mengalami penurunan yang cukup besar dibanding tahun sebelumnya. Jika di tahun 2014 angka kesakitan penduduk Banyumas untuk wilayah perdesaan sebesar 20,22 persen maka di tahun 2015 angka kesakitan penduduk Banyumas di wilayah perdesaan turun cukup signifikan dengan angka mencapai 16,45 persen. Sedangkan untuk rata rata lama terganggunya aktivitas penduduk di wilayah perdesaan karena keluhan kesehatan meningkat sedikit dari 5,28 hari di tahun 2014 menjadi 5,52 hari di tahun 2015. 2.2. Pemanfaatan Fasilitas Kesehatan Peningkatan sarana kesehatan yang menjadi program pemerintah dapat dinikmati oleh penduduk jika disertai peningkatan kemudahan akses penduduk dalam memanfaatkan tenaga kesehatan. Akses tersebut dapat dilihat dari ketersediaan/kemudahan mencapai fasilitas/tempat dan tenaga kesehatan sebagai rujukan penduduk jika mengalami keluhan sakit hingga harus pergi berobat. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan penduduk dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan tersebut adalah jarak tempat tinggal dengan letak sarana pelayanan kesehatan, serta kualitas pelayanan. Salah satu indikator pemanfaatan fasilitas dan pelayanan kesehatan adalah banyaknya penduduk yang mengalami keluhan kesehatan dan berobat jalan ke fasilitas kesehatan. 12 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Tabel 2.2 Persentase Penduduk yang Mengalami Keluhan Kesehatan menurut Berobat Jalan dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2014-2015 Cara Berobat 2014 2015 2014 2015 2014 2015 [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] Berobat Jalan 45.82 50.10 48.14 48.16 46.99 49.28 Tidak Berobat jalan Perkotaan Perdesaan Perkotaan dan Perdesaan 54.18 49.90 51.86 51.84 53.01 50.72 Sumber : Susenas 2014, 2015. Tabel 2.2 menunjukkan kecenderungan penduduk untuk tidak berobat jalan sebesar 50,72 persen, turun dibanding tahun 2014 sebesar 53,01 persen. Jadi di tahun 2015 terjadi peningkatan kesadaran penduduk yang mengalami gangguan kesehatan untuk berobat jalan. Dilihat menurut wilayah maka minat penduduk dengan gangguan kesehatan di wilayah perkotaan lebih tinggi dibanding minat penduduk dengan gangguan kesehatan di wilayah perdesaan untuk berobat jalan. Tahun 2015 lebih dari setengah penduduk dengan gangguan kesehatan di daerah perkotaan memilih untuk berobat jalan yaitu sebesar 50,10 persen, sedang di daerah perdesaan hanya 48,16 persen penduduk dengan gangguan kesehatan memilih untuk berobat jalan. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 13

Tabel 2.3 Persentase Penduduk yang Tidak Berobat Jalan menurut Daerah Tempat Tinggal dan Alasan Tidak Berobat Jalan Kabupaten Banyumas, 2015 Uraian Perkotaan Perdesaan Kota + Desa Sumber : Susenas 2015 [1] [2] [3] [4] Tidak punya biaya berobat 2.66 2.13 2.43 Tidak ada biaya transport 0.21 0.27 0.12 Mengobati sendiri 72.20 60.09 67.00 Merasa tidak perlu 22.94 34.59 27.95 Lainnya 1.99 2.92 2.39 Metode pengobatan atas gangguan kesehatan yang dilakukan oleh penduduk selain berobat jalan adalah mengobati sendiri atau merasa tidak perlu diobati. Pilihan yang diambil dilatarbelakangi berbagai alasan. Diantaranya adalah beberapa masalah yang dihadapi penduduk dalam mengakses dan memanfaatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan seperti tersaji dalam tabel 2.3. Berdasarkan Tabel 2.3, penduduk yang tidak berobat jalan sebagian besar memilih untuk mengobati sendiri sebanyak 67,00 persen. Selain itu, penduduk yang merasa tidak perlu berobat jalan sebesar 27,95 persen, diikuti alasan tidak ada biaya berobat sebesar 2,43 persen. Walaupun persentase rendah, masih ada penduduk yang tidak berobat jalan dengan alasan tidak ada biaya transport sebesar 0,12 persen. 14 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Tabel 2.4 Persentase Penduduk yang Berobat Jalan menurut Tempat/Cara Berobat dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2014-2015 Uraian Sumber : Susenas 2014, 2015 Terjadi perubahan preferensi penduduk yang mengalami keluhan kesehatan pada tempat berobat dari tahun 2014 ke tahun 2015. Jika di tahun 2014 hanya sepertiga penduduk dengan keluhan kesehatan berobat di praktek dokter/poliklinik maka di tahun 2015 lebih dari setengah penduduk dengan gangguan kesehatan lebih memilih praktek dokter/poliklinik sebagai tempat berobat. 2.3. Penggunaan Jaminan Kesehatan Perkotaan Perdesaan Kota + Desa 2014 2015 2014 2015 2014 2015 [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] RS pemerintah 8.95 10.20 6.65 7.81 7.74 9.21 RS Swasta 4.53 8.20 1.00 2.61 2.67 5.88 Praktek Dokter/poliklinik 32.06 53.01 31.73 52.12 31.89 52.64 Puskesmas/pustu 27.23 22.79 19.03 32.10 22.91 26.65 Praktek batra 0.21 0.97 0.59 2.38 0.41 1.55 Lainnya 27.02 4.84 40.99 2.98 34.38 4.07 Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan peningkatan akses pelayanan kesehatan dan memperluas penggunaan jaminan kesehatan. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 15

Tabel 2.5 Persentase Penduduk menurut Jaminan Kesehatan yang Dimiliki dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2015 Uraian Perkotaan Perdesaan Kota + Desa Sumber : Susenas 2015 [1] [2] [3] [4] BPJS Kesehatan 12.39 6.51 9.56 BPJS Ketenagakerjaan 2.60 0.15 1.42 Askes/Asabri/Jamsostek 7.20 2.98 5.17 Jamkesmas/PBI 30.15 39.78 34.78 Jamkesda 2.05 0.86 1.48 Asuransi Swasta 2.00 0.09 1.08 Perusahaan/kantor 0.77 0.13 0.46 Tidak Memiliki 42.85 49.50 46.04 Pemerintah berupaya menyediakan jaminan kesehatan terutama bagi masyarakat miskin dan tidak mampu untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Dengan adanya jaminan kesehatan tersebut, diharapkan kebutuhan untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan yang optimal dapat dinikmati. Namun demikian dari hasil Susenas 2015 Kabupaten Banyumas menunjukkan hampir setengah penduduk Banyumas tidak memiliki jaminan kesehatan. Tahun 2015, jaminan kesehatan yang paling banyak dimiliki penduduk Banyumas adalah Jamkesmas/PBI sebesar 34,78 persen disusul dengan jaminan kesehatan BPJS Kesehatan sebanyak 9,56 persen dari jumlah penduduk. 16 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Dilihat menurut wilayah tempat tinggal, penduduk dengan jaminan kesehatan di pedesaan lebih sedikit dibanding di wilayah perkotaan. Penduduk tanpa jaminan kesehatan di perdesaan sebesar 49,50 persen sedan di perkotaan penduduk yang tidak memiliki jaminan kesehatan sebanyak 42,85 persen. 2.4. Penolong Proses Kelahiran Akses penduduk dalam memanfaatkan tenaga kesehatan tidak hanya dapat dilihat dari ketersediaan/kemudahan mencapai fasilitas/tempat dan tenaga kesehatan sebagai rujukan penduduk jika mengalami keluhan sakit hingga harus pergi berobat tetapi juga dilihat dari indikator penolong persalinan. Tabel 2.6 Persentase Perempuan Berumur 15-49 Tahun yang Pernah Kawin menurut Penolong Kelahiran Anak Terakhir dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2015 Penolong Kelahiran Perkotaan Perdesaan Kota + Desa Dokter kandungan Bidan Sumber : Susenas 2015 [1] [2] [3] [4] 31.61 30.51 31.09 59.95 63.60 61.69 Perawat 7.07 2.32 4.81 Lainnya 1.37 3.57 2.42 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 17

Dengan meningkatnya pertolongan persalinan oleh tenaga medis dapat memengaruhi keselamatan ibu dan bayinya. Penolong persalinan yang ideal adalah tenaga medis karena mereka telah menerapkan proses persalinan yang memenuhi standar kesehatan. Persentase perempuan berumur 15-49 tahun yang pernah kawin menurut penolong kelahiran anak terakhir di Banyumas sebagian besar adalah oleh Bidan ( 61,69 persen) dan Dokter Kandungan ( 31,09 persen). Penolong kelahiran baik di wilayah perdesaan maupun perkotaan memiliki pola yang sama yaitu dominasi pemilihan bidan sebagai penolong kelahiran. 18 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Pendidikan

Pembukaan UUD 1945 menyebutkan bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan bangsanya melalui pendidikan. Pendidikan menjadi sangat penting bagi suatu bangsa karena menjadi salah satu investasi bagi pembangunan dalam menentukan kualitas suatu bangsa. Oleh karena itu, pendidikan dapat mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas sehingga dapat mendukung kemajuan bangsa. Peranan pendidikan yang sangat penting tersebut menjadikan sektor pendidikan sebagai sasaran utama dalam setiap program pembangunan. Upaya peningkatan kualitas pendidikan dilakukan dengan program pembangunan sarana prasarana sekolah, ditunjang dengan program bantuan biaya sekolah dan berbagai macam beasiswa. Pemenuhan atas hak pendidikan bagi setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan dasar yang layak dan bermutu merupakan ukuran keadilan dan pemerataan atas hasil pembangunan. Pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan diharapkan akan mampu menjadikan warga negara Indonesia memiliki kecakapan hidup sehingga mendorong tegaknya pembangunan manusia seutuhnya. Dalam pembangunan, sektor pendidikan merupakan salah satu sektor yang masih mendapatkan perhatian paling besar. Hal ini disebabkan karena masih ditemukannya masalah mendasar dalam bidang pendidikan. Angka putus sekolah yang masih cukup tinggi, kesenjangan mendapatkan kesempatan pendidikan antar kelompok penduduk dan antara daerah, serta kualitas pendidikan yang belum bisa memenuhi kebutuhan lapangan kerja yang semakin kompetitif, merupakan beberapa permasalahan mendasar pendidikan. Kualitas sumber daya manusia dapat juga diukur dengan menggunakan indikator rata-rata lama sekolah. Rata-rata lama sekolah merupakan jumlah tahun belajar penduduk umur 25 tahun ke atas Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 19

yang telah diselesaikan dalam pendidikan formal (tidak termasuk tahun yang mengulang). Rata-rata lama sekolah dapat mengindikasikan sampai sejauh mana tingkat pendidikan yang dijalani oleh seseorang. Semakin tinggi rata-rata lama sekolah berarti semakin tinggi jenjang pendidikan yang dijalani. Rata-rata lama sekolah penduduk di Banyumas dalam kurun waktu 2010 sampai 2015 antara 6,82 hingga 7,31. Rata-rata lama sekolah untuk tahun 2010 dan 2011 sebesar 6,82 dan 6,94, artinya bahwa rata-rata tingkat pendidikan penduduk dewasa (25 tahun ke atas) baru dapat menyelesaikan sampai tamat SD (Kelas VI). Rata-rata lama sekolah untuk tahun 2012 sampai 2015 antara 7,06 sampai 7,31. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata tingkat pendidikan penduduk dewasa (25 tahun ke atas) baru dapat menyelesaikan sampai kelas 1 SMP (Kelas VII). Grafik 3.1 Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Umur 25 Tahun ke Atas menurut Kabupaten Banyumas, 2010-2015 7.40 7.20 7.00 6.80 6.60 6.40 6.82 6.94 2010 2011 2012 2013 2014 2015*) Sumber : SUSENAS 2015 Keterangan : *) Angka Sementara 7.06 7.18 7.31 7.31 20 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

3.1. Tingkat Pendidikan Kualitas sumber daya manusia dapat dilihat dari keahlian/keterampilan serta ilmu pengetahuan yang dimilikinya yang dapat digambarkan dari tingkat pendidikan yang ditamatkannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan seseorang mencerminkan semakin luas pengetahuan dan keahlian/keterampilan yang dimilikinya. Dengan semakin meningkatnya keterampilan/keahlian akan semakin mudah mendapatkan kesempatan untuk bekerja. Indikator tingkat pendidikan dapat digunakan untuk mengetahui keberhasilan program wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah. Tabel 3.1 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin Kabupaten Banyumas, 2015 Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Daerah Tempat Tinggal Jenis Kelamin K D K+D L P L+P [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] Tidak/Belum Sekolah 2.21 4.71 3.40 2.55 4.23 3.41 Tidak/Belum Tamat SD 18.15 27.08 22.42 22.46 22.38 22.42 SD/MI 31.13 36.78 33.83 32.58 35.07 33.83 SMP/MTs 19.92 19.68 19.81 19.75 19.86 19.80 SMA/MA 19.68 8.87 14.51 16.53 12.53 14.51 Diploma/Univ 8.91 2.88 6.03 6.13 5.93 6.03 Total 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 Sumber : Susenas 2015 Keterangan: K: Perkotaan, D: Perdesaan, K+D: Perkotaan dan Perdesaan L:Laki-laki, P:Perempuan, L+P: Laki-laki dan Perempuan Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 21

Berdasarkan Tabel 3.1, pada tahun 2015, penduduk umur 10 tahun ke atas yang tidak/belum menamatkan pendidikan di bangku Sekolah Dasar masih relatif tinggi yaitu 22,42 persen. Penduduk yang berhasil menamatkan pendidikannya sampai Sekolah Dasar sebesar 33,83 persen. Masih sedikit penduduk yang mampu menamatkan pendidikannya hingga jenjang pendidikan perguruan tinggi, yaitu hanya 6,03 persen. Bila dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, penduduk di perkotaan mempunyai tingkat pendidikan yang lebih baik daripada penduduk di perdesaan. Persentase penduduk perkotaan dengan tingkat pendidikan SMP/MTs ke atas pada setiap jenjang pendidikan selalu lebih tinggi dibanding di perdesaan. Namun, persentase penduduk dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah (SD, belum tamat SD, dan tidak/belum pernah sekolah) lebih tinggi di perdesaan dibanding di perkotaan. Berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan penduduk laki-laki lebih baik dari perempuan. Tingkat pendidikan penduduk laki-laki yang duduk di jenjang pendidikan tidak/belum tamat SD, SMA/MA, dan Diploma/Univ lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan penduduk perempuan. Persentase penduduk perempuan yang tidak/belum sekolah, tamat SD/MI, dan tamat SMP/MTs lebih banyak dibandingkan persentase penduduk lakilaki yang tidak/belum sekolah, tamat SD/MI, dan tamat SMP/MTs. Persentase penduduk laki-laki yang tamat SD/MI sebesar 32,58 persen, sedangkan persentase penduduk perempuan 35,07 persen. Penduduk laki-laki yang tamat SMP/MTs sebesar 19,75 persen, sedangkan penduduk perempuan lebih tinggi sebesar 19,86 persen. Untuk jenjang SMA/MA, sebesar 16,53 22 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

persen penduduk laki-laki telah menamatkan pendidikan SM/MA, sementara penduduk perempuan hanya 12,53 persen. Sementara itu, persentase laki-laki yang menamatkan pendidikan hingga tingkat Diploma/Universitas sebesar 6,13 persen lebih tinggi dibandingkan persentase penduduk perempuan yang menamatkan pendidikan Diploma/Universitas yaitu sebesar 5,93 persen. 3.2. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Upaya untuk memperluas jangkauan pelayanan pendidikan bertujuan untuk meningkatkan pemerataan fasilitas pendidikan, sehingga makin banyak penduduk yang dapat bersekolah. Salah satu indikator penting yang dapat mengukur tingkat partisipasi masyarakat dalam mengikuti pendidikan dari berbagai jenjang pendidikan adalah Angka Partisipasi Sekolah (APS). APS merupakan perbandingan antara jumlah penduduk yang bersekolah pada kelompok umur tertentu dengan jumlah penduduk pada kelompok umur tertentu tanpa memperhatikan jenjang pendidikannya. Di Banyumas, pada tingkat sekolah dasar terdapat 97,66 persen penduduk telah bersekolah pada tahun 2015. Ini berarti bahwa ada sebanyak 2,34 persen anak berumur 7-12 tahun yang sedang tidak sekolah. Penduduk umur 13-15 tahun yang sedang bersekolah sebanyak 88,38 persen dan penduduk yang berumur 16-18 tahun yang sedang bersekolah sebanyak 66,85 persen. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 23

Tabel 3.2 Angka Partisipasi Sekolah menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Banyumas, 2014-2015 Kelompok Umur 2014 2015 L P Total L P Total [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] 7-12 100.00 99,47 99,73 98,01 97,32 97,66 13-15 99.37 94.80 97.00 82.94 94.10 88.38 16-18 68.46 72.16 70.15 68.53 64.97 66.85 19-24 21.57 16.04 19.08 20.46 22.67 21.65 Sumber : Susenas 2014, 2015 Selama kurun waktu 2014-2015, jumlah penduduk di semua kelompok umur yang masih sekolah mengalami penurunan kecuali umur 19-24. Jumlah penduduk umur 7-12 tahun dan jumlah penduduk umur 13-15 tahun yang sedang bersekolah di tahun 2014 masing-masing sebesar 99,73 persen dan 97 persen menurun masing-masing menjadi 97,66 persen dan 88,38 persen di tahun 2015. Untuk jumlah penduduk umur 16-18 tahun turun dari 70,15 persen di tahun 2014 menjadi 66,85 persen tahun 2015. Sedangkan jumlah penduduk umur 19-24 yang masih sekolah naik dari 19,08 persen tahun 2014 menjadi 21,65 persen tahun 2015. Pola yang digambarkan oleh partisipasi sekolah untuk penduduk laki-laki dan perempuan tidak berbeda. Partisipasi sekolah antara laki-laki dan perempuan relatif sama di setiap kelompok umur sekolah. Semakin tinggi kelompok umur sekolah maka partisipasinya semakin kecil. 24 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Dari gambaran partisipasi tersebut terlihat bahwa kesempatan antara penduduk perempuan dengan laki-laki untuk memperoleh pendidikan adalah sama. Di kelompok umur 7-12 tahun partisipasi sekolah laki-laki 98,01 persen dan partisipasi sekolah perempuan 97,32 persen. Partisipasi sekolah untuk laki-laki di kelompok umur 13-15 tahun sebesar 82,94 persen, sedangkan partisipasi sekolah untuk perempuan sebesar 94,10 persen. Sementara itu, di kelompok umur 16-18 tahun partisipasi sekolah laki-laki sebesar 68,53 persen dan partisipasi sekolah perempuan sebesar 64,97 persen. Untuk kelompok umur 19-24 tahun, partisipasi sekolah laki-laki sebanyak 20,46 persen dan partisipasi sekolah perempuan lebih tinggi sebanyak 22,67 persen. 3.3. Angka Partisipasi Murni (APM) Selain APS, indikator lainnya yang digunakan untuk mengukur tingkat partisipasi sekolah adalah Angka Partisipasi Murni (APM). APM adalah persentase jumlah anak pada kelompok umur tertentu yang sedang bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan kelompok umurnya terhadap jumlah seluruh anak pada kelompok umur yang bersangkutan. APM digunakan untuk mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu. Semakin tinggi APM berarti banyak anak pada kelompok umur tertentu yang bersekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 25

Kelompok Umur Tabel 3.3 Angka Partisipasi Murni menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Kabupaten Banyumas, 2014-2015 Sumber : Susenas 2014, 2015 2014 2015 L P Total L P Total [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] SD/MI 93,64 93.15 93,39 98,01 97,32 97,66 SMP/MTs 79,48 78,90 79,18 65,68 86,30 75,73 SMA/MA 64,25 53,86 59,49 55,56 54,86 55,23 Diploma/Univ 18,12 14,57 16,52 12,16 16,4 14,44 Selama kurun waktu 2014-2015 APM di Banyumas menunjukkan peningkatan pada jenjang pendidikan SD/MI. Pada Tabel 3.3 menunjukkan bahwa pada tahun 2015 sebesar 97,66 persen penduduk berumur 7-12 tahun sedang bersekolah di Sekolah Dasar. Sementara itu, penduduk umur 13-15 tahun yang bersekolah di SMP/MTs sebesar 75,73 persen, penduduk umur 16-18 tahun yang sekolah di SM/MA sebesar 55,23 persen dan penduduk umur 19-24 tahun yang sekolah di Akademi/Universitas sebesar 14,44 persen. Angka partisipasi sekolah untuk SD/MI meningkat yaitu dari 93,39 persen menjadi 97,66 persen. Sedangkan angka partisipasi sekolah untuk SMP/MTs mengalami penurunan dari 79,18 persen menjadi 75,73 persen. Pada tingkat SM/MA, angka partisipasi sekolah menurun dari 59,49 persen menjadi 55,23 persen. Angka partisipasi sekolah pada tingkat Perguruan Tinggi turun dari 16,52 persen menjadi 14,44 persen. 26 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

3.4. Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka partisipasi kasar merupakan rasio jumlah siswa, berapapun umurnya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok umur yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Angka partisipasi kasar bisa lebih dari 100 persen. Hal ini disebabkan adanya siswa dengan umur lebih tua dibanding umur standar di jenjang pendidikan tertentu. Kondisi ini menunjukkan terjadinya kasus tinggal kelas atau terlambat masuk sekolah. Sebaliknya, siswa yang lebih muda dibanding umur standar yang duduk di suatu jenjang pendidikan menunjukkan siswa tersebut masuk sekolah di umur yang lebih muda Tabel 3.4 Angka Partisipasi Kasar menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Kabupaten Banyumas, 2014-2015 Kelompok Umur Sumber : Susenas 2014, 2015 2014 2015 L P Total L P Total [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] SD/MI 102,84 106,78 104,86 112,48 107,50 109,96 SMP/MTs 92,68 99,07 96,00 71,54 91,33 81,19 SMA/MA 88,52 78,74 84,04 84,77 74,83 80,07 Diploma/Univ 22,06 19,90 21,09 18,92 21,44 20,28 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 27

Tabel 3.4 menunjukkan APK SD/MI tahun 2015 sebesar 109,96 persen. Sedangkan untuk APK tingkat SMP/MTs dan SMA/MA masing-masing sebesar 81,19 persen dan 80,07 persen. APK untuk Perguruan Tinggi masih sangat rendah yaitu hanya sebesar 20,28 persen. Jika dibandingkan tahun 2014, APK untuk SD/MI tahun 2015 mengalami peningkatan. Namun, APK untuk SMP/MTs, SMA/MA, dan Perguruan Tinggi mengalami penurunan. APK untuk SD/MI meningkat dari 104,86 persen menjadi 109,96 persen. Sedangkan APK untuk SMP/MTs turun dari 96 persen menjadi 81,19 persen. Pada tingkat SMA/MA, APK turun dari 84,04 persen menjadi 80,07 persen. APK pada tingkat Perguruan Tinggi menurun dari 21,09 persen menjadi 20,28 persen. 28 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Ketenagakerjaan

Pembangunan sektor ketenagakerjaan sebagai bagian dari upaya pembangunan sumber daya manusia merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dengan pembangunan nasional. Berbagai permasalahan di bidang ketenagakerjaan harus terus menjadi perhatian pemerintah agar dapat cepat diantisipasi dan diselesaikan. Permasalahan tersebut diantaranya tingginya tingkat pengangguran, rendahnya perluasan kesempatan kerja yang terbuka, rendahnya kompetensi dan produktivitas tenaga kerja, dan sebagainya, merupakan tantangan yang harus diselesaikan dalam pembangunan nasional. Tenaga kerja yang banyak dan melimpah belum merupakan jaminan bahwa daerah tersebut akan makmur. Hal ini disebabkan jika tidak terintegrasinya pengelolaan tenaga kerja yang dimiliki suatu daerah yang tidak memiliki potensi dan tingkat pendidikan. Selain itu, kesenjangan antara jumlah tenaga kerja yang besar dengan minimnya ketersedian lapangan kerja yang ada akan menyebabkan semakin meningkatnya tingkat pengangguran. Data dan informasi ketenagakerjaan sangat penting bagi penyusunan kebijakan, strategi dan program ketenagakerjaan dalam rangka pembangunan nasional dan pemecahan masalah ketenagakerjaan. Kebijakan, strategi dan program ketenagakerjaan yang baik dan benar sangat ditentukan oleh kondisi ketersediaan data dan informasi ketenagakerjaan. Makin lengkap dan akurat data ketenagakerjaan yang tersedia makin jelas dan tepat arah pembangunan yang direncanakan. 4.1. Perkembangan Jumlah Angkatan Kerja Dalam konsep BPS, usia kerja yang digunakan untuk keperluan pengumpulan data ketenagakerjaan adalah 15 tahun ke atas. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 29

Penduduk usia kerja ini dibagi menjadi penduduk yang masuk sebagai angkatan kerja dan penduduk bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk yang ikut berpartisipasi dalam lapangan kerja, baik statusnya sudah bekerja maupun yang pengangguran, sedangkan bukan angkatan kerja aktifitasnya adalah yang tidak terkait dengan bekerja secara produktif misalnya sekolah dan mengurus rumah tangga. Tabel 4.1 Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Kegiatan Seminggu yang Lalu Kabupaten Banyumas, 2015 Sumber : Sakernas Agustus 2015 Tahun Jumlah Persentase [1] [2] [3] Angkatan Kerja 740.512 60,17 Bekerja 693.340 56,34 Pengangguran 47.172 3,83 Bukan Angkatan kerja 490.165 39,83 Sekolah 102.313 8,31 Mengurus Rumah Tangga 321.052 26,09 Lainnya 66.800 5,43 Total Penduduk 15 tahun ke atas 1,230.677 100.00 TPT 6,37 TPAK 60,17 Pada Tabel 4.1 memperlihatkan bahwa penduduk umur 15 tahun ke atas bulan Agustus 2015 adalah sebanyak 1.230.677 orang, yang terdiri dari 740.512 orang angkatan kerja, dan 490.165 orang bukan angkatan kerja. 30 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Jika dibandingkan dengan total penduduk umur 15 tahun ke atas, tampak bahwa persentase tertinggi untuk kegiatan seminggu yang lalu adalah untuk penduduk yang bekerja dengan persentase sebesar 56,34 persen, disusul penduduk yang mengurus rumah tangga sebesar 26,09 persen. Dari penduduk yang masuk golongan angkatan kerja, persentase terbesar adalah untuk penduduk yang bekerja. Untuk penduduk yang masuk golongan bukan angkatan kerja, persentase terbesar adalah penduduk yang mengurus rumah tangga. Untuk melihat lebih jelas tentang persentase angkatan kerja yang bekerja, pengangguran dan penduduk yang tidak termasuk angkatan kerja, dapat dilihat Gambar 4.1. Penduduk umur 15 tahun ke atas sekitar 56,34 persen yang berpartisipasi aktif dalam lapangan pekerjaan, dan sebesar 3,83 persen pengangguran, sedangkan 39,83 persen bukan angkatan kerja. Gambar 4.1 Persentase Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Kegiatan Utama Selama Seminggu yang Lalu Kabupaten Banyumas, 2015 56.34 3.83 39.83 Bekerja Pengangguran Bukan Angkatan kerja Sumber : Sakernas Agustus 2015 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 31

4.2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan indikator ketenagakerjaan yang digunakan untuk menganalisa dan mengukur capaian hasil pembangunan. TPAK digunakan untuk mengukur besarnya jumlah angkatan kerja, indikator ini merupakan rasio antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah penduduk usia kerja (usia produktif 15 tahun ke atas). TPAK mengindikasikan besarnya penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi. Selain TPAK, dalam analisis angkatan kerja juga dikenal indikator yang biasa digunakan untuk mengukur pengangguran yaitu Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Pengangguran terbuka didefinisikan sebagai orang yang sedang mencari pekerjaan atau yang sedang mempersiapkan usaha atau juga yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin lagi mendapatkan pekerjaan, termasuk juga mereka yang baru mendapat kerja tetapi belum mulai bekerja. Pengangguran terbuka tidak termasuk orang yang masih sekolah atau mengurus rumah tangga, sehingga hanya orang yang termasuk angkatan kerja saja yang merupakan pengangguran terbuka. TPT merupakan perbandingan antara penduduk yang tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan dengan angkatan kerja. TPT dapat mencerminkan besarnya jumlah penduduk dalam kategori usia kerja yang termasuk dalam pengangguran. 32 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Gambar 4.2 TPT dan TPAK Kabupaten Banyumas, 2015 100.00 60.17 50.00 - TPT 6.37 Sumber : Sakernas Agustus 2015 Untuk melihat TPAK dan TPT Banyumas pada tahun 2015, dapat dilihat pada Gambar 4.2. TPAK di Banyumas mencapai sekitar 60,17 persen, sedangkan TPT mencapai 6,37 persen. 4.3. Lapangan Pekerjaan Utama TPAK Gambar 4.3 menggambarkan persentase masing-masing lapangan usaha utama seminggu yang lalu untuk tahun 2015. Lapangan usaha Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan dan Hotel merupakan lapangan usaha yang paling banyak ditekuni oleh penduduk Banyumas mencapai 28,15 persen. Lapangan usaha terbanyak berikutnya adalah lainnya sebesar 22,80 persen, diikuti oleh lapangan usaha Industri pengolahan sebesar 17,35 persen dan lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan sebesar 17,01 persen. Sementara untuk lapangan usaha Jasa kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan sebesar 14,69 persen. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 33

Gambar 4.3 Persentase Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Usaha Utama Selama Seminggu yang Lalu Kabupaten Banyumas, 2015 Lainnya 22.80 Jasa Kemasyarakatan, Perdagangan Besar, Eceran, Industri Pengolahan Pertanian, Kehutanan, 0.00 Sumber : Sakernas Agustus 2015 10.00 14.69 17.01 20.00 17.35 30.00 28.15 34 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Perumahan

Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, merupakan kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan dasar akan rumah tempat tinggal dengan lingkungan sekitar yang baik dan sehat merupakan kebutuhan yang penting untuk dipenuhi. Rumah dan kelengkapannya selain merupakan kebutuhan dasar, juga merupakan faktor penentu indikator kesejahteraan rakyat. Keadaan perumahan adalah salah satu faktor yang menentukan keadaan higienis dan sanitasi lingkungan. Perumahan yang tidak sehat dan terlalu sempit mengakibatkan mudah terjangkitnya penyakit dalam masyarakat. Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi di dalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Selain itu, kualitas lingkungan rumah tinggal juga memengaruhi terhadap status kesehatan penghuninya. Secara umum kualitas rumah tinggal ditentukan oleh kualitas bahan bangunan yang digunakan. Salah satu dari sekian banyak fasilitas yang dapat mencerminkan kesejahteraan rumah tangga adalah kualitas material seperti jenis atap, dinding dan lantai terluas yang digunakan, termasuk juga fasilitas penunjang lain yang meliputi luas lantai hunian, sumber air minum, fasilitas tempat buang air besar, dan sumber penerangan. Kualitas perumahan yang baik dan penggunaan fasilitas perumahan yang memadai akan memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 35

5.1. Kualitas Rumah Tempat Tinggal Luas rumah yang ditempati dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan penghuninya. Semakin tinggi status sosial suatu rumah tangga maka semakin luas lantai yang dikuasai oleh rumah tangga. Oleh karena itu, luas lantai dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan rumah tangga. Tabel 5.1. Persentase Rata-rata Luas Lantai Kab. Banyumas 2014-2015 Luas Lantai (m 2 ) 2014 2015 Sumber : Susenas 2014, 2015 [1] [2] [3] < 20 1,58 2,97 20-49 15,93 17,28 50-99 62,51 59,13 100-149 13,94 11,85 150+ 6,04 8,76 Total 100.00 100.00 Pada Tabel 5.1 menggambarkan luas lantai rumah (dalam meter persegi) yang ditempati rumah tangga. Rumah tangga yang menempati rumah dengan luas lantai kurang dari 50 meter persegi sebesar 20,25 persen, dan yang menempati rumah dengan luas lantai 50-99 meter persegi sebesar 59,13 persen, sedangkan yang menempati rumah dengan luas lantai 100 meter persegi atau lebih hanya sebesar 20,61 36 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Jika dibandingkan dengan tahun 2014, rumah tangga yang menempati rumah dengan luas lantai kurang dari 50 meter persegi sebesar 17,51 persen, sedangkan rumah tangga dengan luas lantai 50-99 meter persegi dan luas lantai 100-149 meter persegi mengalami penurunan di tahun 2015, yaitu masingmasing sebesar 62,51 persen menjadi 59,13 persen dan 13,94 persen menjadi 11,85 persen. Pada rumah tangga yang memiliki luas lantai 150 meter persegi atau lebih meningkat di tahun 2015 yaitu sebesar 8,76 persen dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 6,04 persen. Rumah tinggal yang dapat dikategorikan ke dalam rumah yang layak huni sebagai tempat tinggal harus memenuhi beberapa kriteria kualitas rumah tempat tinggal. Beberapa diantaranya yaitu rumah yang memiliki dinding terluas yang terbuat dari tembok atau kayu, dengan beratapkan beton, genteng, sirap, seng maupun asbes, dan memiliki lantai terluas bukan tanah. Semakin banyak rumah tinggal yang memiliki beberapa kualitas mengindikasikan bahwa semakin baik kualitas perumahan di suatu daerah. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 37

Tabel 5.2. Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Perumahan dan Daerah Tempat Tinggal di Kab. Banyumas, 2014-2015 Kualitas Perumahan Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan 2014 2015 2014 2015 2014 2015 Lantai Bukan Tanah [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] Sumber : Susenas 2014, 2015 94,94 93,00 82,94 85,04 89,07 89,22 Atap Layak 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Dinding Permanen 90,44 91,99 83,28 82,76 86,94 87,60 Secara keseluruhan, kondisi perumahan di Kabupaten Banyumas relatif memenuhi kriteria rumah sehat. Hal ini dapat dilihat dari tingginya persentase rumah tangga yang bertempat tinggal di rumah yang berlantai bukan tanah (89,22 persen), rumah tinggal dengan atap layak (100,00 persen) dan dinding permanen (87,60 persen). Akan tetapi kualitas perumahan di perdesaan pada umumnya masih relatif lebih rendah dibanding daerah perkotaan. Rumah tangga yang menggunakan lantai bukan tanah di perkotaan lebih banyak dibandingkan di perdesaan, yaitu masing-masing sebesar 93,00 persen dan 85,04 persen. Persentase rumah tangga dengan atap layak di perkotaan sama dengan di perdesaan yaitu sebesar 100,00 persen. Selain itu rumah tangga yang menggunakan dinding permanen di daerah perdesaan (82,76 persen) juga lebih sedikit dibandingkan di perkotaan (91,99 persen). 38 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, persentase rumah tangga dengan masing-masing kualitas bahan bangunan yang digunakan mengalami peningkatan. Persentase rumah tangga yang berlantai bukan tanah meningkat di tahun 2015 sebesar 89,22 persen dibanding tahun 2014 sebesar 89,07 persen. Rumah tangga dengan atap layak di tahun 2014 sama dengan di tahun 2015 yaitu sebesar 100,00 persen. Sementara rumah tangga dengan dinding permanen meningkat mencapai 87,60 persen di tahun 2015 dibanding tahun 2014 sebesar 86,94 persen. 5.2. Penguasaan Tempat Tinggal Status penguasaan tempat tinggal merupakan salah satu indikator yang dapat menunjukkan tingkat kesejahteraan rumah tangga. Rumah tangga yang menempati rumah milik sendiri dapat dikatakan telah mampu memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal yang terjamin dan permanen dalam jangka panjang.semakin banyak persentase rumah tangga yang menempati rumah milik sendiri maka semakin baik tingkat kesejahteraan masyarakat tersebut. Tabel 5.3 menunjukkan persentase rumah tangga di Kabupaten Banyumas yang menempati rumah sendiri tahun 2015 sebesar 92,07 persen, dan yang menempati rumah kontrak/sewa sebesar 4,30 persen, sedangkan yang menempati rumah dinas/bebas sewa/lainnya sebesar 3,63 persen. Jika dilihat dari daerah tempat tinggal, persentase rumah tangga yang tinggal di rumah sendiri lebih tinggi di perdesaan (97,52 persen) dibanding persentase rumah tangga yang tinggal di rumah sendiri di perkotaan (87,13 persen). Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 39

Sementara persentase rumah tangga yang menempati rumah kontrak/sewa lebih banyak di perkotaan (7,95 persen) dibanding persentase rumah tangga yang menempati rumah kontrak/sewa di perdesaan (0,28 persen). Hal ini disebabkan berkurangnya lahan kosong dan tingginya harga jual rumah di perkotaan sehingga lebih mudah bagi rumah tangga di perkotaan untuk sewa/kontrak daripada membuat rumah baru. Tabel 5.3. Persentase Rumah Tangga menurut Daerah Tempat Tinggal dan Status Penguasaan Tempat Tinggal di Kab. Banyumas, 2014-2015 Daerah Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Sumber : Susenas 2014, 2015 Tahun Status Penguasaan Tempat Tinggal Milik Sendiri Kontrak/S ewa Dinas/ Bebas Sewa/ Lainnya [1] [2] [3] [4] [5] 2014 85,76 5,79 8,44 2015 87,13 7,95 4,92 2014 95,31 0,26 4,42 2015 97,52 0,28 2,20 2014 90,43 3,09 6,48 Perdesaan 2015 92,07 4,30 3,63 Dibanding tahun sebelumnya, persentase rumah tangga yang tinggal di rumah sendiri mengalami peningkatan, yaitu dari 90,43 persen menjadi 92,07 persen. Sementara itu, persentase rumah tangga yang menempati rumah kontrak atau sewa juga meningkat yaitu dari 3,09 persen menjadi 4,30 persen. 40 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Rumah tangga yang tinggal di rumah dinas atau bebas sewa juga menurun yaitu dari 6,48 persen menjadi 3,63 persen. 5.3. Fasilitas Perumahan Kualitas dan kenyamanan rumah tinggal ditentukan oleh kelengkapan fasilitas suatu rumah tinggal. Kelengkapan fasilitas tersebut adalah tersedianya air bersih, sanitasi yang layak, serta penerangan yang baik. Fasilitas yang digunakan oleh rumah tangga tersebut juga menentukan tingkat kesejahteraan rumah tangga. Tabel 5.4. Persentase Rumah Tangga menurut Fasilitas Perumahan dan Daerah Tempat Tinggal di Kab. Banyumas, 2014-2015 Fasilitas Perumahan Penerangan Listrik Air Minum Kemasan/ Leding Sumber : Susenas 2014, 2015 2014 2015 2014 2015 2014 2015 [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] Jamban Sendiri dengantangki Septik Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan 99,85 100,00 99,78 99,77 99,82 99,89 26,36 29,86 9,93 4,65 18,33 17,87 52,32 57,60 54,49 40,89 53,38 49,65 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 41

Penggunaan fasilitas perumahan seperti penerangan listrik dan air bersih sudah relatif banyak dimanfaatkan masyarakat. Berdasarkan data Susenas 2015, ada 99,89 persen rumah tangga di Banyumas yang memiliki fasilitas penerangan listrik, 17,87 persen rumah tangga yang telah memiliki fasilitas air minum kemasan/leding, dan 49,65 persen memiliki jamban sendiri dengan tangki septik. Sumber penerangan yang ideal adalah yang berasal dari listrik (PLN dan Non PLN), karena cahaya listrik lebih terang dibandingkan sumber penerangan lainnya. Penggunaan fasilitas penerangan listrik untuk daerah perkotaan dan perdesaan sudah banyak dimanfaatkan, yaitu masing-masing sebesar 100,00 persen dan 99,77 persen. Pada tahun 2015 persentase rumah tangga yang telah menikmati fasilitas penerangan listrik sebesar 99,89 persen mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 99,82 persen. Program penyediaan air bersih terus menerus diupayakan pemerintah. Penggunaan air minum kemasan/leding, masih banyak dimanfaatkan di daerah perkotaan sebesar 29,86 persen dan di daerah perdesaan hanya sebesar 4,65 persen. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, penggunaan fasilitas air minum kemasan/leding mengalami penurunan, 18,33 persen pada tahun 2014 menjadi 17,87 persen pada tahun 2015. Penyediaan sarana jamban merupakan bagian dari usaha sanitasi yang cukup penting peranannya. Disamping telah memiliki jamban sendiri, penggunaan jamban dengan tangki septik juga merupakan bagian dari kualitas kehidupan bagi rumah tangga dalam memenuhi salah satu kriteria rumah sehat. Penggunaan jamban sendiri dengan tangki septik masih banyak digunakan di daerah perkotaan dibandingkan di daerah 42 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

perdesaan yaitu masing-masing sebesar 57,60 persen dan 40,89 persen. Penggunaan fasilitas jamban sendiri dengan tangki septik menurun di tahun 2015 yaitu sebesar 53,38 persen di tahun 2014 menjadi 49,65 persen di tahun 2015. 5.4. Penguasaan Alat Komunikasi Sesuai dengan perkembangan teknologi, kepemilikan komputer menjadi salah satu fasilitas perumahan yang sangat pesat pertumbuhannya. Selain itu, pesatnya perkembangan teknologi telepon selular membuat telepon rumah semakin ditinggalkan. Tabel 5.5. Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Telepon Rumah dan Komputer menurut Daerah tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2015 Alat Komunikasi Perkotaan Perdesaan Sumber : Susenas 2014, 2015 Perkotaan + Perdesaan [1] [2] [3] [4] Telepon Rumah 7,08 0,27 3,84 Komputer 25,75 8,47 17,53 Berdasarkan Tabel 5.5, hanya sekitar 3,84 persen rumah tangga di Kabupaten Banyumas yang memiliki telepon rumah dan 17,53 persen rumah tangga yang memiliki komputer. Persentase rumah tangga yang memiliki telepon di daerah perkotaan lebih banyak daripada di daerah perdesaan, yaitu masing-masing sebesar 7,08 persen dan 0,27 persen. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 43

Kepemilikan komputer bagi rumah tangga di perkotaan juga lebih besar jika dibandingkan dengan di perdesaan masingmasing sebesar 25,75 persen dan 8,47 persen. 44 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

Pengeluaran Dan Konsumsi Penduduk

Pola konsumsi rumah tangga merupakan salah satu indikator kesejahteraan rumah tangga/keluarga. Besar kecilnya proporsi pengeluaran untuk konsumsi makanan terhadap seluruh pengeluaran rumah tangga dapat memberikan gambaran kesejahteraan rumah tangga tersebut. Dengan menggunakan data pengeluaran dapat dijadikan ukuran guna menilai tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk. Makin rendah persentase pengeluaran untuk makanan terhadap total pengeluaran makin membaik tingkat kesejahteraan penduduk. 6.1. Pengeluaran Rumah Tangga Data pengeluaran (dalam rupiah) menurut kelompok makanan dan bukan makanan dapat digunakan untuk mengetahui pola pengeluaran penduduk. Pada kondisi pendapatan terbatas pemenuhan kebutuhan makanan akan menjadi prioritas utama. Pada kelompok penduduk yang tingkat konsumsi makanannya sudah mencapai titik jenuh, peningkatan pendapatan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bukan makanan atau ditabung. Dengan demikian, pola pengeluaran dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk, dimana perubahan komposisinya digunakan sebagai petunjuk perubahan tingkat kesejahteraan. Berdasarkan Tabel 6.1 pengeluaran rata-rata per kapita sebulan penduduk Kabupaten Banyumas adalah sebesar 719.753 rupiah. Sebesar 321.627 rupiah atau 44,69 persen dari pengeluaran digunakan untuk kebutuhan makanan dan sisanya sebesar 398.126 rupiah atau 55,31 persen digunakan untuk kebutuhan bukan makanan. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 45

Tabel 6.1. Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan (dalam Rupiah) menurut Jenis Pengeluaran dan Daerah Tempat Tinggal Kabupaten Banyumas, 2015 Pengeluaran Sumber: Susenas 2015 Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan [1] [2] [3] [4] 1. Makanan (Rp) 342.404 299.05 321.627 (%) (38,70) (55,33) (44,69) 2. Bukan Makanan (Rp) 542.311 241.454 398.126 (%) (61,30) (44,67) (55,31) Jumlah (Rp) 884.715 540.504 719.753 (%) (100,00) (100,00) (100,00) Jika dilihat menurut daerah tempat tinggal, rata-rata pengeluaran makanan per kapita di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan. Persentase pengeluaran penduduk di perkotaan cenderung sudah beralih dari kebutuhan primer (makanan) ke kebutuhan sekunder/tersier (bukan makanan). Persentase pengeluaran untuk makanan di daerah perkotaan hanya sebesar 38,70 persen, lebih rendah jika dibandingkan daerah perdesaan dengan persentase sebesar 55,33 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk di daerah perkotaan lebih baik jika dibandingkan tingkat kesejahteraan penduduk di perdesaan. 46 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015

6.2. Pola Konsumsi Pola konsumsi penduduk di suatu daerah dapat ditentukan oleh daerah tempat tinggal, adat/budaya dan kebiasaan masyarakatnya. Perbedaan pola konsumsi antar daerah dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi pangan yang beragam antar daerah. Tingkat kesejahteraan masyarakat dapat diukur dari proporsi pengeluaran untuk makanan dari total pengeluaran masyarakat. Makin tinggi proporsi tersebut maka makin rendah tingkat kesejahteraan penduduknya. Tabel 6.2 berikut ini menampilkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk Kabupaten Banyumas menurut kelompok komoditas dan daerah tempat tinggal. Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015 47

Tabel 6.2. Rata-rata Pengeluaran per Kapita Sebulan (dalam Rupiah) menurut Kelompok Komoditas dan Daerah Tempat Tinggal di Kabupaten Banyumas, 2015 Kelompok Komoditas Perkotaan Perdesaan Sumber: Susenas 2015 Perkotaan + Perdesaan [1] [2] [3] [4] 1 Padi-padian 50.143 57.941 53.880 2 Umbi-umbian 2.150 2.164 2.157 3 Ikan/udang/cumi/kerang 10.545 8.298 9.468 4 Daging 16.891 9.513 13.355 5 Telur dan Susu 28.314 19.527 24.103 6 Sayur-sayuran 22.949 26.158 24.487 7 Kacang-kacangan 10.511 11.526 10.998 8 Buah-buahan 22.813 20.621 21.763 9 Minyak dan Lemak 10.838 11.691 11.247 10 Bahan Minuman 13.586 13.210 13.406 11 Bumbu-bumbuan 6.581 6.811 6.691 12 Konsumsi Lainnya 5.909 6.595 6.238 13 Makanan dan Minuman Jadi 100.603 67.579 84.776 14 Tembakau dan Sirih 40.570 37.416 39.058 Jumlah Makanan 342.404 299.050 321.627 15 Pengeluaran rumah tangga 200.255 114.447 159.132 perumahan dan Fasilitas Rumah Tangga 16 Pengeluaran rumah tangga 144.242 62.200 104.942 Aneka Barang dan Jasa 17 Pengeluaran rumah tangga 24.653 15.752 20.387 Pakaian, Alas Kaki dan Tutup Kepala 18 Pengeluaran rumah tangga 122.516 25.933 76.229 Barang Tahan Lama 19 Pengeluaran rumah tangga 27.908 9.970 19.311 Pajak, Punguta dan Asuransi 20 Pengeluaran rumah tangga 22.738 13.151 18.144 Keperluan Pesta dan Upacara/Kenduri Jumlah Bukan Makanan 542.311 241.454 398.126 Jumlah 884.715 540.504 719.753 48 Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas, 2015