BAB 9. B ANGUNAN PELENGKAP JALAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dinding Penahan Tanah

BAB IV ANALISA PERHITUNGAN STABILITAS DINDING PENAHAN

TEKANAN TANAH LATERAL

BAB VI PERENCANAAN CHECK DAM

BAB III DINDING PENAHAN TANAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Untuk tanah terkonsolidasi normal, hubungan untuk K o (Jaky, 1944) :

BAB VIII PERENCANAAN PONDASI SUMURAN

INFO TEKNIK Volume 5 No. 2, Desember 2004 ( ) Desain Dinding Penahan Tanah (Retaining Walls) di Tanah Rawa Pada Proyek Jalan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam bab ini akan dibahas dasar-dasar teori yang melandasi setiap

MEKANIKA TANAH 2. TEKANAN TANAH LATERAL At Rest...Rankine and Coulomb

DAFTAR ISI. i ii iii. ix xii xiv xvii xviii

ANALISIS STABILITAS DINDING PENAHAN TANAH (STUDI KASUS: SEKITAR AREAL PT. TRAKINDO, DESA MAUMBI, KABUPATEN MINAHASA UTARA)

Gambar 6.1 Gaya-gaya yang Bekerja pada Tembok Penahan Tanah Pintu Pengambilan

ANALISA GRAVITY WALL DAN CANTILIVER WALL DITINJAU DARI SEGI EKONOMIS TERHADAP TINGGI YANG VARIATIF

D3 JURUSAN TEKNIK SIPIL POLBAN BAB II DASAR TEORI

BAB VI REVISI BAB VI

BAB V PERENCANAAN DAM PENGENDALI SEDIMEN

A. BERAT SENDIRI ABUTMENT LUAS (m^2)

MEKANIKA TANAH (CIV -205)

MEKANIKA TANAH 2 KESTABILAN LERENG. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

STUDI EFISIENSI LEBAR ALAS DINDING PENAHAN TANAH TIPE KANTILEVER PADA PERUMAHAN THE MUTIARA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini mengambil lokasi pada Proyek Detail Desain Bendung D.I.

BAB III LANDASAN TEORI. batu yang berfungsi untuk tanggul penahan longsor. Langkah perencanaan yang

MENGHITUNG DINDING PENAHAN TANAH PASANGAN BATU KALI

STUDI STABILITAS DINDING PENAHAN TANAH KANTILEVER PADA RUAS JALAN SILAING PADANG - BUKITTINGGI KM ABSTRAK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. kebutuhan untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada baik sarana dan

6 BAB VI EVALUASI BENDUNG JUWERO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan tanah dan suatu bagian dari konstruksi yang berfungsi menahan gaya

BAB I PENDAHULUAN. syarat bagi angkutan darat tersebut untuk melakukan aktifitas. Keberadaan

PERENCANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA SUNGAI AMPEL KABUPATEN PEKALONGAN

PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menahan gaya beban diatasnya. Pondasi dibuat menjadi satu kesatuan dasar

ANALISA STABILITAS DINDING PENAHAN TANAH (RETAINING WALL) AKIBAT BEBAN DINAMIS DENGAN SIMULASI NUMERIK ABSTRAK

ANALISIS STABILITAS LERENG DENGAN PERKUATAN GEOTEKSTIL

PENANGANAN DAERAH ALIRAN SUNGAI. Kementerian Pekerjaan Umum

BAB VI USULAN ALTERNATIF

DINDING PENAHAN TANAH ( Retaining Wall )

BAB III ANALISA PERENCANAAN STRUKTUR

MODUL 4 DRAINASE JALAN RAYA

BAB V PERENCANAAN SABO DAM DAN BENDUNG

PERENCANAAN DINDING GRAVITASI DENGAN PROGRAM GEO 5

BAB IV KRITERIA DESAIN

TEMBOK PENAHAN TANAH (TPT)

BAB VI PERHITUNGAN STRUKTUR BANGUNAN PANTAI

BAB V STABILITAS BENDUNG

= tegangan horisontal akibat tanah dibelakang dinding = tegangan horisontal akibat tanah timbunan = tegangan horisontal akibat beban hidup = tegangan

PERHITUNGAN STRUKTUR DINDING PENAHAN TANAH PADA PEMBANGUNAN LONGSORAN PADA RUAS JALAN SOEKARNO-HATTA KM 8 BALIKPAPAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. penambangan batu bara dengan luas tanah sebesar hektar. Penelitian ini

DESAIN DIMENSI DINDING PENAHAN TANAH DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM GEO 5

ANALISIS STABILITAS TALUD BRONJONG UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

BAB III DASAR TEORI. BAB II Tinjauan Pustaka 32

I n a civil engineering blog

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

PENGARUH JENIS TANAH TERHADAP KESTABILAN DINDING MSE DENGAN PERKUATAN GEOTEKSTIL DI DAERAH REKLAMASI MALALAYANG

TINJAUAN PUSTAKA. yang terdapat di bawah konstruksi, dengan tumpuan pondasi (K.Nakazawa).

PEMILIHAN LOKASI JEMBATAN

INFRASTRUKTUR PERBANDINGAN PENGGUNAAN DINDING PENAHAN TANAH TIPE KANTILEVER DAN GRAVITASI DENGAN VARIASI KETINGGIAN LERENG

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR NOTASI DAN SINGKATAN

STUDI PENGARUH SPASI VERTIKAL GEOTEKSTIL TERHADAP NILAI FAKTOR KEAMANAN SUATU KONSTRUKSI DINDING PENAHAN TANAH DENGAN GEOTEKSTIL

PERENCANAAN PONDASI TIANG BOR PADA PROYEK CIKINI GOLD CENTER

PERHITUNGAN STRUKTUR BOX CULVERT

BAB 4 PEMBAHASAN. memiliki tampilan input seperti pada gambar 4.1 berikut.

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

KAJIAN KEMAMPUAN DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG PADA ABUTMENT JEMBATAN BERDASAR BEDAH BUKU BOWLES

Alternatif Perbaikan Perkuatan Lereng Longsor Jalan Lintas Sumatra Ruas Jalan Lahat - Tebing tinggi Km

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 LATAR BELAKANG MASALAH

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT GROSIR BARANG SENI DI JALAN Dr. CIPTO SEMARANG

Bendungan Urugan I. Dr. Eng Indradi W. Tuesday, May 14, 13

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. disampaikan dalam sub bab ini. Perhitungan dan analisa Retaining Wall adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Dan Stabilitas Lereng Dengan Struktur Counter Weight Menggunakan program

FONDASI TELAPAK TERPISAH (TUNGGAL)

BAB 1 PENDAHULUAN. mempertahankan tanah yang memiliki elevasi lebih tinggi dibandingkan tanah di

ALTERNATIF PERENCANAAN DINDING PENAHAN TANAH PADA GRAVING DOCK BELAWAN MEDAN

STABILITAS LERENG (SLOPE STABILITY)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

TUGAS AKHIR PERENCANAAN DAN METODE PELAKSANAAN DINDING PENAHAN PADA SUNGAI PENAMBANGAN DI KECAMATAN PAJARAKAN KABUPATEN PROBOLINGGO.

ALTERNATIF PERENCANAAN PERKUATAN LERENG VILLA BUKIT STANGI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tanah lempung adalah tanah yang memiliki partikel-partikel mineral tertentu

PENGGUNAAN BORED PILE SEBAGAI DINDING PENAHAN TANAH

STUDI EFISIENSI LEBAR ALAS DINDING PENAHAN TANAH TIPE GRAVITY PADA DPT RT 02 RW 03 KELURAHAN CIBULUH BOGOR DENGAN MENGGUNAKAN SAP2000

ANALISIS TIMBUNAN PELEBARAN JALAN SIMPANG SERAPAT KM-17 LINGKAR UTARA ABSTRAK

BAB V ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF JEMBATAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang

PENGANTAR PONDASI DALAM

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK KATA PENGANTAR

ANALISIS STABILITAS LERENG TEBING SUNGAI GAJAHWONG DENGAN MEMANFAATKAN KURVA TAYLOR

STABILITAS STRUKTUR PELINDUNG PANTAI AKIBAT PEMANASAN GLOBAL

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISIS

REKAYASA JALAN REL. MODUL 6 : Tanah dasar, badan jalan dan Drainase jalan rel PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

Bab IV STABILITAS LERENG

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

STUDI PERENCANAAN BENTUK BENDUNGAN BETON SEDERHANA YANG PALING EFISIEN

ANALISA STABILITAS LERENG DENGAN METODE COUNTER WEIGHT LOKASI STA RUAS JALAN Sp.PERDAU-BATU AMPAR

Transkripsi:

BAB 9. B ANGUNAN PELENGKAP JALAN Bangunan pelengkap jalan raya bukan hanya sekedar pelengkap akan tetapi merupakan bagian penting yang harus diadakan untuk pengaman konstruksi jalan itu sendiri dan petunjuk bagi pengguna jalan agar unsur kenyamanan dan keselamatan dapat terpenuhi. Bangunan pelengkap jalan dapat dikelompokan sebagai berikut : o Bangunan Drainase Jalan o Bangunan Penguat Tebing o Bangunan untuk keamanan lalu-lintas, Rambu dan Marka Jalan 9.. BANGUNAN DRAINASE JALAN Bangunan Drainase Jalan terdiri dari : o Bangunan Drainase Permukaan : Saluran samping jalan Gorong-gorong (culvert) Kantong Lumpur dan Bak Penampung Saluran pembuang Saluran penangkap Bangunan terjun o Bangunan Drainase Bawah Permukaan : Subdrain (saluran bawah permukaan) Konstruksi filter 9.. BANGUNAN PENGUAT TEBING Bangun Penguat Tebing terdiri dari : Perkuatan Lereng Stabilisasi Timbunan Tembok Penahan 9... Pe rkuat an Le re ng Perkuatan Lereng adalah bangunan konstruksi non struktural untuk melindungi Lereng timbunan atau galian dari gerusan air dan angin yang sifatnya tidak menahan beban. Manfaat lain dari Perkuatan lereng dengan tamanan, disamping untuk menahan gerusan air juga untuk menambah kestabilan lereng dan menambah estetika dengan penataan landscape yang baik, misalnya pada tempat yang digunakan untuk istirahat (rest area) atau pada tepi sungai (sekitar abutment jembatan) dan pada tempat dinding kepala dan bangunan terjun (culvert). Perkuatan lereng dalam perencanaan teknik jalan, juga termasuk bagian yang harus direncanakan dengan didasarkan pada sifat dan jenis tanah bahan urugan pada daerah timbunan dan sifat dan jenis tanah lereng alam pada daerah galian, sehingga jenis perkuatan lereng dapat ditentukan, apakah dari tanaman (rumput dll.) atau material bahan konstruksi (batu alam atau beton).

Perkuatan lereng dapat dilakukan dengan tanaman maupun material konstruksi yaitu material yang tidak lapuk dalam waktu singkat akibat pengaruh cuaca yang konstruksinya berupa : rip rap, bronjong, batu kosong, dll. Sistem drainase pada perkuatan lereng ini tidak boleh diabaikan, dengan demikian dalam perencanaan perkuatan lereng, harus dipertimbangkan apakah perlu dibuat sistem bertangga (terasering), dibuat saluran penangkap (catch ditch) dan dipasang pipa (lubang) drainase pada perkuatan lereng dengan pasangan batu alam atau beton. Sebagaimana sifat dari perkuatan lereng ini yaitu tidak menahan beban tetapi hanya berupa perlindungan terhadap erosi, sehingga bahaya longsor akibat gerusan air dapat diminimalkan. 9... Stabilisasi Timbunan Stabilisasi timbunan pada umumnya banyak digunakan pada peningkatan jalan, baik pelebaran maupun pemindahan alinemen. Sedangkan pada jalan baru, sudah barang tentu pemilihan route jalan dilakukan menghindari tempat-tempat yang labil maupun yang kondisi medannya sulit (dalam arti akan memerlukan bangunan penunjang yang mahal). Stabilisasi timbunan dapat dilakukan dengan berbagai jenis dan cara yang disesuaikan dengan kebutuhan/kondisi setempat, misalnya dengan tanaman (bambu banyak digunakan), dengan memperbaiki atau membuat drainase bawah permukaan, memasang tembok penahan dan yang lainnya. 9... Tembok Penahan Tembok Penahan adalah bangunan struktural yang umumnya dibuat untuk menahan badan jalan yang berupa timbunan yang cukup tinggi baik pada daerah rolling maupun pada daerah dataran rendah yang mempunyai perbedaan tinggi muka air normal dan muka air banjir cukup besar, sehingga konstruksi badan jalan dibentuk berupa timbunan untuk menghindari banjir. Jadi tembok penahan diperlukan untuk menahan kelongsoran badan jalan pada lokasi dengan lereng / talud cukup tinggi. Tembok penahan tanah terdiri dari beberapa tipe bentuk yang ditilik dari konstruksinya, yaitu seperti pada gambar - 9. dan 9., yaitu Tipe Pasangan Batu dan Tipe Beton Bertulang. a) SEMI GRAVITY b) GRAVITY Gambar 9. : Tembok Beton Bertulang

Gambar 9. : Tembok Beton Bertulang Untuk merencanakan tembok penahan tanah, terlebih dahulu harus diketahui karakteristik tanah, baik tanah dasar maupun tanah sebagai material urugan, dimana parameter tanah yang diperlukan, yaitu : Berat Isi (), Sudut Geser () dan Kohesi (c). () Tekanan Tanah Lateral Untuk membuat Tembok Penahan agar tetap stabil oleh pengaruh tekanan tanah lateral akibat berat sendiri dan pembebanan lainnya, maka pengaruh tekanan tanah harus dapat diimbangi atau ditahan oleh konstruksi tembok penahan tersebut. (a) Tekanan Tanah Menurut teori RANKINE, tekanan tanah terhadap tembok penahan yang terdiri dari : ) Tekanan Tanah Aktip, yaitu Pa yang merupakan resultante gaya atau tekanan tanah yang arahnya membentuk sudut α dengan horisontal dan memotong atau menekan tembok setinggi H/ dari dasar pondasi yang dinyatakan secara umum per pias, dengan persamaan : Pa= γ H Ka ch Ka Dimana : Ka = Koefisien tekanan tanah aktip, yang menurut Rankine = tan' (45 +Φ/) H = Tinggi Tembok Penahan, (meter) ) Tekanan Tanah Pasip, yaitu Pp adalah tekanan tanah pada bagian depan tembok penahan yang dinyatakan secara umum per pias, dengan persamaan: P p = γ H Kp ch Kp Dimana : Kp = Koefisien tekanan tanah pasip, yang menurut Rankine = tan g (45 +Φ/) Jika urugan pada tembok penahan tanpa gesekan dengan tanah berbutir (c = 0) yang permukaannya miring (lereng) dengan sudut kemiringan = α, maka koefisien tekanan tanah aktip Ka dinyatakan dengan persamaan : Ka = cosα cos α cos φ cosα cosα cos α cos φ Pa= c) CANTILEVER d) COUNTERFORD γ H Ka

Dari persamaan untuk berbagai nilai seperti pada tabel di bawah, dimana = sudut geser tanah Tabel - 9. : Koefisien Tekanan Tanah Aktip (Ka) () () 8 0 4 6 8 40 0 5 0 5 0 5 0,6 0,66 0,80 0,409 0,46 0,57 0, 0,7 0,50 0,7 0,44 0,494 0,07 0, 0, 0,4 0,74 0,44 0,8 0,86 0,94 0, 0,8 0,85 0,60 0,6 0,70 0,8 0,06 0,4 0,8 0,40 0,46 0,58 0,77 0,07 0,7 0,9 0,5 0,5 0,50 0,75 =, maka Ka = cos = 0,88 0,866 0,848 0,89 0,809 0,788 0,766 Kp = Pp= cosα cosα cosα γ H Kp cos cos α cos α cos φ φ Tabel - 9. : Koefisien Tekanan Tanah Pasip (Kp) () () 8 0 4 6 8 40 0 5 0 5 0 5,770,75,55,84,98,44,000,94,775,50,,664,55,96,0,740,6,894,57,476,95,00,6,5,85,788,598,9,886,94 4,04 4,6,97,65,89,676 4,599 4,57 4,6,977,56,987 =, maka Kp = cos = 0,88 0,866 0,848 0,89 0,809 0,788 0,766 (b) Pemakaian Teori Tekanan Tanah untuk Desain Pada gambar - 9. (a) dan (b) di bawah, adalah teori dasar tekanan tanah untuk perhitungan. Untuk pemakaian teori ini pada perencanaan, harus dibuat asumsi yang mudah. Pada tipe cantilever, jika dipakai teori Rankine untuk pemeriksaan stabilitas, diperlukan garis vertikal AB seperti pada gambar - 9.a, dengan asumsi bahwa tekanan aktip berada pada sepanjang garis per pias atau bidang ini. Pada pemakaian untuk perhitungan, gaya (Pa) akibat beban tanah di atas tumit (Ws) dan berat sendiri tembok (Wb) diambil sebagai pertimbangan. Asumsi bahwa tekanan tanah aktip tanah sepanjang bidang AB dibenarkan jika daerah geser berimpit dengan garis AC tidak terhalang oleh bagian dari tembok. Sudut (), adalah simpangan garis AC dengan garis AB, dapat dinyatakan dengan persamaan : 4

α φ sin α = 45 + sin sin φ Pada tipe gravity, pemakaian dalam analisis sama dengan pada tipe cantilever seperti pada gambar - 9.b. Untuk Pemakaian pada tembok penahan rendah, dapat dipakai grafik "Beban Rencana untuk Tembok Penahan Tanah Rendah/pendek" 5

() Perkiraan Dimensi untuk Desain () Stabilitas Tembok Penahan Pemeriksaan stabilitas yang harus dilakukan pada konstruksi tembok penahan tanah (diambil dari buku "Principles of Foundation Engineering" oleh Braja M. Das, Brooks/Cole Engineering Division, California 984) sebagai berikut : Stabilitas terhadap geser Penurunan (settlement) Stabilitas terhadap guling Daya dukung tanah dasar (a) Pemeriksaan Stabilitas Terhadap Guling 6

P p = γ D Dimana : P p = Kp c D Kp = Berat isi tanah dibagian ujung dan dibawah pondasi (tanah dasar), (ton/m ) c, = Kohesi dan sudut geser tanah dasar pondasi γ(h ) Ka c H Ka Faktor keamanan (FK) guling terhadap ujung (pada titik C) : M FK (gl) = R M 0 Dimana : Mo = Jumlah momen guling terhadap titik C, (ton meter) M R = Jumlah momen guling terhadap titik C, (ton meter) H Mo = Ph Dimana : Ph = Pa Cos M M M M 4 M 5 M 6 M v FK (gl) =,5 H Pa Cosα) Atau, banyak digunakan oleh designer persamaan dibawah : M M M M 4 M 5 M 6 FK (gl) =,5 H Pa Cosα) M v 7

Untuk menghitung M R, dengan mengabaikan Pp ditabelkan seperti dibawah : Tabel 9. : Perhitungan M R Bidang Luas (m ) W, per pias (ton) F W = x F F W = x F F W = x F 4 F 4 W 4 = 4 x F 4 5 F 5 W 5 = 5 x F 5 6 F 6 W 6 = 6 x F 6 Pv V X (lengan momen) (m) X X X X 4 X 5 X 6 B Momen terhadap C ( m) M M M M 4 M 5 M 6 M M R dimana : = tanah urugan b = batu/beton a) Pemeriksaan Stabilitas Terhadap Geser Faktor keamanan kuat terhadap kuat geser pada sepanjang pondasi : F FK (gl) = R Ph Dimana : F R = Jumlah gaya penahan horizontal, (ton) Ph = Jumlah gaya penahan horizontal, (ton) Kuat geser tanah pada bagian bawah pelat pondasi adalah : = tan + c (lihat Bab - 6 Geoteknik dan Material Jalan). Jadi gaya penahan maksimum pada bagian bawah pelat pondasi per pias, adalah : 8

R'= ( B x I )=B tan + B c Jika B = Jumlah gaya vertikal = V (lihat tabel - 9.), Maka : R' = (V) tan + B c Seperti pada gambar - 9.6, Gaya Pasif (Pp) juga akan ikut menahan, sehingga persamaan menjadi : F R = (V) tan + B c + Pp Jika gaya horizontal hanya Pa, maka : F d = Pa cos Jadi dengan kombinasi persamaan-persamaan di atas, maka : (Σ V)tan φ Bc Pp FK (gs) =,5 Pa cosα Dalam perhitungan Pp seringkali diabaikan, maka parameter dan c dapat direduksi, jadi : (Σ V)tan (k φ ) Bk c Pp FK (gs) =,5 Pa cosα Dimana : k k = angka reduksi antara Jika tidak digunakan kaki/jangkar, maka nilai Pp seperti pada rumus. Jika digunakan kaki/jangkar, maka : Pp = Kp (D ) + c D K p (c) Daya Dukung Tanah Dasar terhadap Longsoran Tekanan dari gaya-gaya vertikal disalurkan ke tanah dasar melalui pelat pondasi yang besarnya atau daya dukung dari tanah dasar tersebut adalah sebagai berikut 9

Jumlah gaya vertikal terhadap pelat dasar, setara atau sebesar EV (lihat kolom pada tabel - 9.), sedangkan gaya horisontal adalah Pa cos α. Resultante gaya vertikal dan gaya horisontal adalah R. R ΣV (Pa cosα) Momen gaya R ini terhadap titik C (lihat gambar-9-7), adalah : M net = M R - M o dimana : M R dan M o telah ditentukan (lihat kolom 5 pada tabel -9.) Garis gaya R memotong dasar pelat pondasi pada titik E (gambar-9.7). Jadi jarak CE dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut : M net CE X ΣV Jika eksentrisitas R adalah e (lihat gambar - 9.7), maka : B e = CE Penyebaran gaya di bawah pondasi dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut : ΣV M net Y q = F I Dimana : M net = (V) e, (ton meter) I = Momen inersia dasar pondasi per pias, (m ) = ( )(B ) F = Luas dasar pondasi per pias x) pias = panjang m ke arah memanjang pondasi Untuk gaya ke atas (daya dukung) maksimum maupun minimum (y) pada persamaan (9.6), adalah. Maka dengan subsitusi pada persamaan, diperoleh : q mak = q min = ΣV ()(B) ΣV B 6e B B e(σσv B ΣV B 6 e B Catalan : V meliputi berat tanah (lihat tabel - 9.) dan jika e > B/6, maka q min menjadi negatif (9.8). Indikasi ini menunjukkan adanya tegangan tarik pada daerah ujung kaki pondasi (dapat diabaikan, karena tegangan tarik tanah sangat kecil). Hubungan untuk daya dukung batas dari Terzaghi untuk pondasi dangkal, sebagai berikut : 0

q ult = c N c (F ed F ei ) + q N q (F qd F qi ) + B' N (F d F i ) Dimana : q = Tekanan efektif pada bidang dasar pondasi = D. B = Lebih efektif pondasi = B e. Faktor Kedalaman : D F cd = + 0.4 B' F qd = + tan ( sin ) F d = Faktor Inklinasi Beban : F ci = F qi ψ 0 0 90 D B' 0 F I = ψ 0 90 P 0 = tan - a cosα ΣV Daya dukung batas tanah dihitung dengan persamaan, Jadi faktor keamanan terhadap daya dukung q ult FK (dd) = 4 q mak (d) Penurunan Besarnya daya dukung ultimate pada pondasi dangkal terjadi pada saat penurunan ± 0 % dari lebar pondasi, akan tetapi karena lebar tembok penahan (lebar B) besar; maka penurunan pondasi yang akan terjadi cukup besar, sehingga FK = terhadap kegagalan akibat daya dukung tidak dapat menjamin. Karena itu dalam kasus tembok penahan, diperlukan penelitian lebih lanjut.