3 METODOLOGI PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
III. METODE PENELITIAN

BAB 7 ANALISIS KELEMBAGAAN DALAM SISTEM PENGELOLAAN PERIKANAN ARTISANAL

VIII. STAKESHOLDER YANG BERPERAN DALAM PENGENDALIAN PENCEMARAN MINYAK. Kata kunci: Selat Rupat, pencemaran minyak, pengendalian pencemaran.

MODEL KONSEPTUAL KELEMBAGAAN

III. METODE PENELITIAN

Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan 2013

III. LANDASAN TEORETIS

IX. STRUKTURISASI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI KOPI RAKYAT DI KUPK SIDOMULYO, KABUPATEN JEMBER

TEKNIK INTERPRETATIVE STRUCTURAL MODELING (ISM) UNTUK STRATEGI IMPLEMENTASI MODEL PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA

DAFTAR ISI. Halaman. DAFTAR ISI... xii DAFTAR GAMBAR... xiv DAFTAR TABEL... xvii DADTAR LAMPIRAN... xviii DAFTAR SINGKATAN... xix

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... ABSTRACT...

BAB V KONFIGURASI DAN PEMODELAN SISTEM

3 METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLAAN PEMANFAATAN AIR TANAH YANG BERKELANJUTAN DI KOTA SEMARANG ABSTRAK

4 METODOLOGI PENELITIAN

APLIKASI TEKNIK PEMODELAN INTERPRETASI STRUKTURAL (Interpretive Structural Modeling) Teori dan Pemodelan Sistem

VI. PEMODELAN SISTEM AGROINDUSTRI NENAS. Analisis sistem kemitraan agroindustri nenas yang disajikan dalam Bab 5

Gambar 9 Sistem penunjang keputusan pengembangan klaster agroindustri aren.

VII KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KAWASAN PERMUKIMAN DI DAS CILIWUNG HULU

STRATEGI PERENCANAAN IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENGOLAHAN DATA PENANGKAPAN IKAN DI KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

III METODOLOGI PENELITIAN

PEMODELAN SISTEM Konfigurasi Model

PENERAPAN TEKNIK INTERPRETIVE STRUCTURAL MODELING (ISM) DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Kecamatan Labuan, Kabupaten

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... v DAFTAR LAMPIRAN... vii DAFTAR SINGKATAN... viii

11 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PERIKANAN PELAGIS KEBERLANJUTAN KOTA TERNATE

3 METODOLOGI PENELITIAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

VI KEBIJAKAN PENGELOLAAN KOLABORATIF DI DANAU RAWA PENING

BAB III METODOLOGI 3.1. Kerangka Pemikiran

BAB III METODE KAJIAN

5 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN

1. Daerah adalah Kabupaten Bireuen.

METODOLOGI PENELITIAN

IV. METODOLOGI PENELITIAN

Analisis Elemen Kunci untuk Pengembangan Usaha dengan Metode Interpretative Structural Modelling (ISM) (Studi Kasus di KUD Dau, Malang)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dilihat dari sejarah atau proses perkembangannya pada masa yang lalu dapat diketahui bahwa kota-kota pada

2 METODE PENELITIAN. Kerangka Pemikiran

3 METODOLOGI PENELITIAN

III METODE PENELITIAN

PERANCANGAN PROGRAM. 6.5 Visi, Misi dan Tujuan Pembangunan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Barat

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

3 METODE PENELITIAN. Gambar 10 Lokasi penelitian.

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN DAN METODOLOGI

SISTEM PENGEMBANGAN BUNGA HIAS DI BALI

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan Penelitian 3.3 Metode Penelitian

MODEL SISTEM KELEMBAGAAN PENGEMBANGAN INDUSTRI TALAS

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ELEMEN KUNCI PENGELOLAAN OPTIMAL PANGKALAN PENDARATAN IKAN MEULABOH DI KABUPATEN ACEH BARAT MUHAMMAD RIZAL

7. STRATEGI PENINGKATAN FUNGSI PPI MUARA BATU

3 METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

Analisis kelembagaan Pengembangan Agroindustri (Studi kasus kabupaten Tebo, Jambi)

IV. METODE PENELITIAN

PEMODELAN SISTEM. Konfigurasi Model. Data Pengetahuan Model. Perumusan Strategi Bauran Pemasaran MEKANISME INFERENSI SISTEM PENGOLAHAN TERPUSAT

ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLAAN PEMANFAATAN SITU BERKELANJUTAN (STUDI KASUS SITU KEDAUNG, KECAMATAN PAMULANG, TANGERANG SELATAN)

III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat

IV. METODOLOGI 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian 4.2 Metode Penelitian 4.3 Metode Pengambilan Sampel

BUPATI KEBUMEN PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 72 TAHUN 2008 TENTANG

EFISIENSI WAKTU PENGISIAN PERBEKALAN TERHADAP WAKTU TAMBAT KAPAL PERIKANAN SONDONG DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) DUMAI PROVINSI RIAU

Form A Kuesioner Profil Usaha Tani Program Penelitian Pemberdayaan Agroindustri Nilam di Pedesaan dalam Sistem Klaster

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 21 TAHUN TENTANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran Konseptual Penelitian

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

3 METODOLOGI. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

8. PRIORITAS PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN DEMERSAL YANG BERKELANJUTAN DENGAN ANALISIS HIRARKI PROSES

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

METODOLOGI. Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur 37

ARAHAN LOKASI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TEMPAT PELELANGAN IKAN DI KAWASAN PESISIR UTARA KABUPATEN SIKKA NUSA TENGGARA TIMUR TUGAS AKHIR

REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005

STRATEGI MENINGKATKAN PREFERENSI PERBANKAN SYARIAH INDONESIA UNTUK MENGGUNAKAN PEMBIAYAAN BAGI HASIL

3 METODE PENELITIAN. Gambar 1 Peta lokasi daerah penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

Transkripsi:

18 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan September-November 2010 di Pangkalan Pendaratan Ikan Meulaboh Kabupaten Aceh Barat Pemerintahan Aceh (Lampiran 1). 3.2 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus terhadap pengelolaan yang optimal di Pangkalan Pendaratan Ikan Meulaboh. 3.3 Metode Pengambilan Data Metode pengambilan data yang digunakan adalah Purposive Sampling, dimana pengambilan sampel dilakukan secara acak yang mewakilinya. Sampel diambil secara purposive dengan tujuan mendapatkan gambaran pengelolaan optimal PPI Meulaboh. Data yang dikumpulkan pada penelitian pengelolaan optimal Pangkalan Pendaratan Ikan Meulaboh ini mencakup data primer dan data sekunder. 1) Data primer Data primer didapatkan dengan cara wawancara kepada pelaku yang terkait dengan kegiatan di PPI Meulaboh (stakeholders) berdasarkan panduan kuesioner untuk memperoleh data tentang kegiatan pemanfaatan fasilitas-fasilitas pokok, fungsional dan penunjang yang ada di PPI Meulaboh dan tujuh elemen program ISM meliputi; Sektor masyarakat yang terpengaruh, kebutuhan dari pengelolaan, kendala utama pengelolaan, tujuan pengelolaan, tolok ukur/indikator keberhasilan pengelolaan, aktivitas yang diperlukan untuk terlaksananya pengelolaan dan lembaga yang terlibat dalam pengelolaan PPI Meulaboh. Pengambilan datanya melalui expert survey yaitu wawancara secara mendalam dari pakar lintas disiplin ditujukan untuk mengetahui pendapat mereka, dan memperoleh gambaran terkait pengelolaan optimal PPI Meulaboh kedepan. Jumlah responden dalam penelitian ini 30 responden terdiri dari kepada Dinas Perikanan dan Kelautan (2), Panglima laot (2), nelayan (2), pengelola PPI (2), Majelis Adat Aceh (2), Pemilik boat (2),

19 industri perikanan (2), pedagang (2), konsumen (2), buruh (2), Bappeda (2), Akademisi (2), KUD (2), LSM (2) dan tokoh masyarakat (2) 2) Data sekunder Data sekunder diambil dari Dinas Perikanan dan Kelautan Meulaboh meliputi fasilitas dan aktifitas PPI Meulaboh, jumlah unit armada penangkap ikan dan jumlah nelayan (Tabel 2). Tabel 2 Data sekunder berdasarkan sumber dan informasi yang diperoleh No Sumber Data Informasi 1. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Barat 2. Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Barat 3. Bappeda Kabupaten Aceh Barat a. Produksi, nilai produksi dan jenis ikan b. Fasilitas PPI c. Rencana strategis DKP Kabupaten Aceh Barat d. Jumlah dan jenis unit penangkapan a. Jumlah dan jenis armada penangkapan b. Keadaan umum daerah penelitian berupa letak geografis daerah penelitian, kependudukan dan keadaan perikanan secara umum Peta Kabupaten Aceh Barat Lokasi PPI Meulaboh 3.4 Analisis Data 3.4.1 Analisis fasilitas dan aktivitas Analisis deskriptif terhadap fasilitas dan aktivitas perikanan tangkap di PPI Meulaboh meliputi kondisi dan ukuran fasilitas pokok, fasilitas fungsional dan fasilitas penunjang. Pada analisis ini juga disajikan gambar dan grafik. 3.4.2 Analisis kebijakan PPI Meulaboh Kebijakan adalah faktor yang sangat penting bagi pengelolaan perikanan (pelabuhan perikanan atau pangkalan pendaratan ikan) di suatu daerah. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini salah satunya melalui evaluasi kebijakan yang ada, baik menggunakan kebijakan tertulis maupun kebijakan tidak tertulis.

20 Analisis kebijakan tertulis menggunakan pendekatan kerangka hukum, berupa pendekatan hukum (legal framework) dilakukan untuk melihat hukum/peraturan perundang- undangan dari sisi struktur (legal structure), mandat (legal mandate) dan penegakan hukum (legal enforcement), kemudian kebijakan yang tidak tertulis berupa kearifan-kearifan lokal yang telah lama dianut oleh masyarakat setempat dalam pemanfaatan dan pengelolaan PPI (Gambar 1). Selanjutnya dipilih kebijakan yang mendukung sektor usaha perikanan di PPI, berupa kebijakan tertulis yaitu peraturan perundang-undangan atau qanun yang berlaku, baik yang dibuat oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang mendukung sektor usaha perikanan di PPI dan kemudian menggunakan kebijakan ini untuk pengelolaan PPI Meulaboh menjadi lebih baik. mulai Input: Kebijakan perikanan (Kebijakan tertulis dan tidak tertulis) Analisis aspek hukum: Struktur hukum (legal structure) Mandat hukum ( legal mandate) Pendekatan hukum ( legal enforcement) Tentukan : Pilih kebijakan yang mendukung pengelolaan perikanan di PPI Meulaboh Cukup Cetak : Kebijakan yang mendukung pengelolaan PPI Meulaboh Gambar 1 Diagram alir deskriptif analisis kebijakan perikanan (Nurani, 2010) diolah kembali

21 3.4.3 Elemen kunci pengelolaan PPI Meulaboh Analisis pengelolaan PPI Meulaboh dalam penelitian ini menggunakan metode Interpretative structural modeling (ISM). Analisis ini dilakukan secara bertahap dan sistematis dengan mengurutkan elemen yang berpengaruh dalam pengelolaan Pangkalan Pendaratan Ikan Meulaboh yang didapatkan dari penggalian isu yang strategis yang menjadi acuan atribut elemen Model ISM. Permodelan sistem yang dihasilkan diharapkan dapat diterapkan pada sistem nyata. Strategi implementasi perlu dilakukan agar model pengelolaan perikanan dapat berhasil dengan baik. Strategi implementasi dilakukan dengan menggunakan teknik Interpretative structural modeling (ISM). Langkah-langkah dalam penggunaan ISM adalah sebagai berikut (Ringh, 2008): 1) Identifikasi elemen sistem 2) Membangun hubungan konseptual antar elemen disesuaikan dengan tujuan model 3) Pembuatan matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/ SSIM). Ini dibuat berdasarkan persepsi responden yang dimintakan melalui wawancara kelompok terfokus. Empat simbol yang digunakan untuk mewakili tipe hubungan yang ada antara dua elemen dari sistem yang dipertimbangkan adalah V : hubugan dari elemen E i terhadap E j, tidak sebaliknya. A : hubungan dari elemen E i terhadap E j, tidak sebaliknya. X : hubungan interrelasi antara E i dan E j (dapat sebaliknya). O : menunjukkan bahwa E i dan E j tidak berkaitan. 4) Pembuatan matriks interaksi yang terjadi (reachability matrix/ RM): sebuah RM yang dipersiapkan kemudian mengubah simbol-simbol SSIM (Structural Self Interaction Matrix) ke dalam sebuah matris biner. Aturan aturan konversi berikut menerapkan : - Jika hubungan E i terhadap E j = V dalam SSIM, maka elemen E ij = 1 dan E ji = 0 dalam RM; - Jika hubungan E i terhadap E j = A dalam SSIM, maka elemen E ij = 0 dan E ji = 1 dalam RM;

22 - Jika hubungan E i terhadap E j = O dalam SSIM, maka elemen E ij = 0 dan E ji = 0 dalam RM; RM awal dimodifikasi untuk menunjukkan seluruh direct dan indirect reachability, yaitu jika E ij = 1 dan E jk = 1, E jk = 1 5) Tingkat partisipasi dilakukan untuk mengklasifikasi elemen-elemen dalam level-level yang berbeda dari struktur ISM. 6) Pembuatan matriks canonical: Pengelompokan elemen-elemen dalam level yang sama mengembangkan matriks ini. 7) Pembuatan Digraph: adalah konsep yang berasal dari directional graph sebuah grafik dari elemen-elemen yang saling berhubungan, dan level hierarki. 8) Interpretative strucrtural modelling: ISM dibangkitkan dengan memindahkan seluruh jumlah elemen deskripsi elemen aktual. oleh sebab itu, ISM memberikan gambaran yang sangat jelas dari elemen-elemen sistem dan alur hubungannya. Penentuan strategi implementasi model pengelolaan perikanan dengan menggunakan teknik ISM, memerlukan identifikasi elemen penting yang akan dimasukkan kedalam model atau program. Menurut Saxena (1992) diacu dalam Eriyatno (2003) program dapat dibagi menjadi sembilan elemen, yaitu: 1) Sektor masyarakat yang terpengaruh. 2) Kebutuhan dari program. 3) Kendala utama program. 4) Perubahan yang dimungkinkan dari program. 5) Tujuan dari program. 6) Tolok ukur untuk menilai setiap tujuan. 7) Aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan. 8) Ukuran aktivitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai oleh setiap aktivitas. 9) Lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program. Selanjutnya, untuk setiap elemen dari program yang dikaji dijabarkan menjadi sejumlah subelemen berdasarkan pendapat responden. Setelah itu ditetapkan hubungan kontekstual antara subelemen yang terkandung adanya suatu pengarahan (direction) dalam terminologi subordinat yang menuju pada perbandingan berpasangan, seperti apakah tujuan A lebih penting dari tujuan

23 B?, perbandingan berpasangan yang menggambarkan keterkaitan antar subelemen atau tidaknya hubungan kontekstual ditentukan dari pendapat responden. Berdasarkan pertimbangan hubungan kontekstual maka disusunlah Structural Self-Interaction Matrix (SSIM). Pengertian nilai 1 adalah ada hubungan kontekstual antar subelemen, sedangkan nilai 0 adalah tidak ada hubungan kontekstual antar subelemen. Hasil penilaian tersebut tersusun dalam Structural Self-Interaction Matrix (SSIM). SSIM dibuat dalam bentuk tabel Reachability Matrix (RM) dengan menganti V, A, X dan O menjadi bilangan 1 dan 0. Penyusunan SSIM menggunakan simbol V, A, X dan O yaitu: V jika e a = 1 dan e b = 0; artinya bahwa elemen A berpengaruh dibandingkan elemen B A jika e a = 0 dan e b = 1; artinya bahwa elemen A berpengaruh dibandingkan elemen B X jika e a = 1 dan e b = 1; artinya bahwa elemen A sama-sama berpengaruh dengan elemen B O jika e a = 0 dan e b = 0; artinya bahwa elemen A dan elemen B sama-sama tidak memiliki pengaruh Hasil survei awal dan pendapat stakeholders (DKP, BAPPEDA, Akademisi dan Panglima Laot) di lapangan berdasarkan kondisi di tempat Pangkalan Pendaratan Ikan Meulaboh, ditetapkan tujuh elemen sistem yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas beberapa subelemen sistem. Selanjutnya elemen dan subelemen sistem ini, digunakan sebagai input yang dianalisis dengan teknik ISM ( Tabel 4). Pembuatan matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/ssim), memerlukan persepsi dari responden. Pada penelitian ini, responden yang dimintakan pendapatnya melalui pengisian kuesioner adalah pakar di bidang pelabuhan perikanan atau perikanan tangkap. Hasil teknik ISM berupa ranking dari setiap subelemen dan plot masingmasing subelemen ke dalam empat sektor beserta koordinatnya. Berdasarkan ranking masing- masing sub-elemen, maka dapat dibuat hierarki setiap subelemen secara manual dimana subelemen dengan ranking yang lebih tinggi akan berada

24 pada hierarki yang lebih rendah. Diagram alir deskriptif teknik analisis ISM seperti terlihat pada Gambar 2. Tabel 3 Elemen dan subelemen strategi implementasi Pengelolaan Pangkalan Pendaratan Ikan No Elemen Sistem Subelemen 1 Sektor masyarakat yang terpengaruh dari pengelolaan PPI 2 Kebutuhan terlaksana program pengelolaan PPI 3 Kendala utama dalam pengelolaan PPI 4 Tujuan dari program pengelolaan PPI yang baik Pengelola PPI, nelayan, panglima laot, industri perikanan, pemilik kapal, pedagang pengumpul, pedagang pengecer, pengusaha jasa transportasi, buruh angkut, konsumen dan masyarakat sekitar PPI. Pengelolaan fasilitas & aktivitas dan peraturan meliputi: ketersediaan fasilitas yang lengkap, ketersedian data base dan informasi, dukungan teknologi di PPI, penyuluhan pengelolaan PPI, ketersedian sumberdaya manusia (SDM), keberpihakan pemerintah provinsi (komitmen), partisipasi nelayan, dukungan dari Pemerintah kabapaten tentang qanun pengelolaan PPI, dukungan dari kecamatan, koordinator antar sektor, ketersediaan anggaran ke PPI, kebijakan pengelolaan PPI, penegakan hukum, dan tokoh masyarakat Kendala pengelolaan aktivitas dan peraturan meliputi: kualitas SDM yang masih rendah di PPI, kurang pemahaman lembaga adat tentang pengelolaan PPI, kualitas Pengelola PP/PPI masih rendah, aksesbilitas ke PPI, konflik kepentingan antar pemerintah daerah di PPI, terbatasnya anggaran pengelolaan pembangunan PP/PPI, campur tangan NGO, tidak adanya peraturan pengelolaan optimal PPI, penempatan pengelola PPI bukan dari keahlian ilmunya dan konflik antar nelayan di PPI Optimalisasi pemanfaatan SDM, kinerja DKP dan panglima Laot, peningkatan keuntungan usaha perikanan, manajemen fungsional PPI, pengelolaan optimal PPI yang baik, kebijakan pemerintah yang berpihak ke PPI, peningkatan kemampuan pengelola PPI, penyerapan tenaga kerja sesuai ahlinya di PPI, kesejahteraan nelayan lebih baik, peningkatan PAD

25 5 Tolok ukur keberhasilan pengelolaan PPI 6 Aktivitas yang dibutuhkan dalam pengelolaan PPI 7 Lembaga yang terlibat dalam pengelolaan PPI Adanya peraturan pengelolaan yang jelas tentang pengelolaan PPI, kinerja instansi yang terkait efisien, terbentuk pengelolaan bersama, adanya koordinasi antar stakeholder di PPI, tugas pokok panglima laot dan DKP sesuai qanun, penyerapan tenaga kerja tinggi ke PPI, pendapatan usaha perikanan meningkat, perekonomian daerah meningkat, PAD meningkat dan tidak terjadi konflik antar nelayan di PPI Koordinasi dengan lembaga yang saling terkait, pembuatan peraturan pengelolaan PPI, pengembangan teknologi di PPI, training/pelatihan SDM di PPI, penyediaan sarana dan prasarana di PPI, penciptaan kondisi yang kondusif, pengembangan akses pasar di PPI, pengembangan akses informasi dan terbuka dengan semua pihak Dinas perikanan dan ilmu kelautan provinsi, dinas perikanan dan ilmu kelautan kabupaten, majelis adat aceh, panglima laot, panglima laot lhok, pengelola PPI, syahbandar, HNSI ( Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia), GAPI (Gabungan Pedagang Ikan), koperasi, GAPIKA (Gabungan Pengolah Ikan)

26 Program Tindakan program menjadi perencanaan program Uraikan setiap elemen menjadi subelemen Tentukan hubungan kontekstual antara subelemen pada setiap elemen Susunlah SSIM untuk setiap elemen Bentuk Reachabiliy Matrix untuk setiap elemen Uji matrix dengan aturan transitity OK Modifikasi SSIM Tentukan level melalui pemilihan Tetapkan Drive dan Drive power setiap subelemen Ubah RM menjadi format Lower Triangular RM Tentukan rank dan hirarki dari subelemen Tetapkan Drive Dependence Matrix setiap elemen Susun digraph dari lower triangular Plot subelemen pada empat faktor Susun ISM dari setiap elemen Klasifikasi subelemen pada empat peubah kategori Gambar 2 Diagram alir deskriptif teknik interpretative structural modeling (ISM) (Marimin, 2004)

27 Teknik analisis interpretative structural modeling (ISM) digunakan untuk strategi implementasi program atau kebijakan, agar pengelolaan optimal PPI Meulaboh di Kabupaten Aceh Barat dapat diaplikasikan dengan baik. Implementasi program optimal merupakan suatu sistem yang kompleks, untuk itu harus dilakukan melalui perencanaan yang sistematis dan terintegrasi dari seluruh komponen sistem. Output dari analisis ISM (interpretative structural modeling) yang dilakukan menghasilkan diagram struktural elemen dan matriks driver powerdependence dari elemen-elemen hubungan dengan setiap subelemen berdasarkan tujuh program yang digunakan dalam pengelolaan optimal PPI Meulaboh.