Mata Kuliah Kewarganegaraan

dokumen-dokumen yang mirip
Aji Wicaksono S.H., M.Hum. Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK

MATA KULIAH : KEWARGANEGARAAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

ETIKA. Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi. Teknik Industri. DR. Rais Hidayat. Modul ke: Fakultas: Teknik.

Kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Finy F. Basarah, M.Si. Modul ke: Fakultas Ilmu Komputer

KEWARGANEGARAAN. Ruang Lingkup Mata Kuliah Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi : Etika Berkewarganegaraan. Rizky Dwi Pradana, M.Si PSIKOLOGI PSIKOLOGI

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

penting pendidik pengemb

Kewarganegaraan. Pengembangan dan Pemeliharaan sikap dan nilai-nilai kewarganegaraan. Uly Amrina ST, MM. Kode : Semester 1 2 SKS.

KEWARGANEGARAAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN. Syahlan A. Sume. Modul ke: Fakultas FEB

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Materi Kuliah. Latar Belakang Pendidikan kewarganegaraan. Modul 1

Bab I Pendahuluan A. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

2009/2010 Course Plan. KU-104 Pendidikan Kewarganegaraan Drs. Manik Ginting, M.Sc.

om KOMPETENSI INTI 13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 38/DIKTI/Kep/2002 TENTANG

TUGAS INI UNTUK MEMENUHI MATA KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MENGENAI BAB I PENGANTAR MEMAHAMI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DIPERGURUAN TINGGI

Pendidikan Pancasila. PENDAHULUAN (Dasar-Dasar, Tujuan Penyelenggaraan, Capaian Dan Metode Pembelajaran Pendidikan Pancasila) Dr. Saepudin S.Ag. M.Si.

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang dinamis dan syarat akan perkembangan, oleh karena itu

13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

Kewarganegaraan UMB. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Bambang Sukiyono, ST. MT. Modul ke: Fakultas Teknik

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaran (PKn) di Perguruan Tinggi

PEDOMAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH DASAR UMUM (MKDU)

KEWARGANEGARAAN PENDAHULUAN, KONTRAK KULIAH DAN TERMINOLOGI KEWARGANEGARAAN. Nurohma, S.IP, M.Si. Kontak Dosen

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

A. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) Pendidikan Kewarganegaraan Menurut Bahasa

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Oleh: DRS.H.IMAM GHOZALI, MM

SALINAN ( HASIL SCAN ) KEP UTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK LNDONESIA NOMOR: 43/DIKTI/Kep/2006

BAB I PENDAHULUAN. teknologi informasi mengakibatkan kaburnya batas-batas antar negara baik

BAB I PENDAHULUAN. siswa untuk memahami nilai-nilai warga negara yang baik. Sehingga siswa

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN 2 SKS. Dra. SUDARYATIE, M.Si HANI SUBAGIO, SH., KN WAHYU WIBOWO EKO Y., SPd., MM

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berperan penting bagi pembangunan suatu bangsa, untuk itu diperlukan suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan dapat meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya

MODUL 1 PANCASILA. PENDAHULUAN (Landasan Pendidikan Pancasila) Dr. Dadan Anugrah, M.Si. Modul ke: Fakultas Ekonomi. Program Studi Akuntansi

PENDIDIKAN PANCASILA. Pendahuluan. Modul ke: Fakultas FASILKOM. Program Studi Sistem Informasi

LANDASAN PENDIDIKAN PANCASILA

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian prasyarat Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Kewarganegaraan ROSY HANDAYANI A.

BAB I PENDAHULUAN. suatu upaya melalui pendidikan. Pendidikan adalah kompleks perbuatan yang

BAB I PENDAHULUAN. Karakter merupakan hal sangat esensial dalam berbangsa dan

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS)

BAB I PENDAHULUAN. kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi

BERKAS PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN BELA NEGARA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Sejarah Kelahiran Pendidikan Kewarganegaraan. pada saat itu merumuskan pengertian Civics dengan:

PENDIDIKAN PANCASILA

KEWA. Abstract. Kompetensi. diperguruan Berwarga Negara. fungsi pekuliahan. Disusun Oleh. Program Studi. Fakultas. Ekonomi Bisnis.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik

BAB I PENDAHULUAN. memberi dorongan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi.

29. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB-D)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. berkarakter dalam mengisi kemerdekaan. Namun, memunculkan jiwa yang

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat mengembangkan semua aspek dan potensi peserta didik sebaikbaiknya

LANDASAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA

I. PENDAHULUAN. Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik,

Modul ke: PANCASILA 1FEB PENGANTAR PANCASILA. Fakultas. Melisa Arisanty. S.I.Kom, M.Si. Program Studi MANAJEMEN

Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila

GBPP ... Garis Besar Program Pembelajaran Disiapkan oleh Diperiksa oleh Disahkan oleh Nomor Register Dokumen. PJMA Ketua Departemen Dekan

GBPP ... Garis Besar Program Pembelajaran Disiapkan oleh Diperiksa oleh Disahkan oleh Nomor Register Dokumen. PJMA Ketua Departemen Dekan

PENDIDIKAN PANCASILA. A. Dasar-Dasar Pendidikan Pancasila B. Tujuan Penyelenggaraan Pendidikan Pancasila C. Capaian Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu fondasi yang

SILABUS MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

PENDIDIKAN PANCASILA

BUKU PANDUAN KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK PERGURUAN TINGGI. Karangan Dr.Ganjar M. Ganeswara, M.Pd ; Dra.Wilodati, M.

Pendidikan Kewarganegaraan (IPB 105) TINGKAT PERSIAPAN BERSAMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

KONTRAK PERKULIAHAN (SYLABUS) PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Drs. H. Supriyadi, SN. SU Drs. Argyo Demartoto, M.Si

PENGARUH MANAJEMEN PEMBELAJARAN REMIDIAL DENGAN TUGAS BERSTRUKTUR TERHADAP HASIL BELAJAR PKN DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia jangka

KEWARGANEGARAAN SEBAGAI MATAKULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER DI PERGURUAN TINGGI

Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

dengan pembukaan Undang Undang Dasar 1945 alinea ke-4 serta ingin mencapai

BAB I PENDAHULUAN. Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara juga. meningkatkan kualitas pendidikan.

Mata Kuliah Kewarganegaraan

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM-UII-AA-FKA-05/R0 Tanggal Revisi : 25 Juli 2011 Tanggal Berlaku : 1 September 2011

BAB I PENDAHULUAN. hakikatnya tujuan pendidikan yaitu mengembangkan pengetahuan dan

RPS.

Ekonomi dan Bisnis Akuntansi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan dapat diartikan secara umum sebagai usaha proses pembentukan

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan sangat berperan penting dalam memajukan bangsa, kualitas

A. IDENTITAS MATA AJARAN

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian mengenai Implementasi Pendidikan Politik

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dan Undang Undang Dasar Pendidikan Nasional harus tanggap. terhadap tuntutan perubahan zaman. Untuk mewujudkan cita-cita ini,

SILABUS MATA KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

Manfaat Belajar Pendidikan Pancasila bagi Mahasiswa

BAB I PENDAHULUAN. Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sarana bagi manusia untuk mampu

TUGAS AKHIR KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA SEMESTER GANJIL T.A. 2011/2012 STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

GBBP Matakuliah PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) Bersoftskills dan Anti Korupsi

BAB I PENDAHULUAN. sikap, perilaku, intelektual serta karakter manusia. Menurut Undang-Undang

BAB II PERSPEKTIF PENDIDIKAN POLITIK

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. Optimalisasi pendidikan sangat penting dilakukan dalam rangka

COURSE STUDY GUIDE: CIVIC OLEH : Tim Kewarganegaraan Fakultas Keperawatan. Koordinator Mata Kuliah: Mira Trisyani Koeryaman, S.Kp.

SILABUS DAN RMP MATA KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Transkripsi:

Mata Kuliah Kewarganegaraan Modul ke: 01 Fakultas Design Komunikasi dan Visual Program Studi Pokok Bahasan PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN Dosen : Cuntoko, SE., MM. Informatika dan Sistem Informasi

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN Abstract Mahasiswa diharapkan mampu memahami dan menjelaskan Ruang Lingkup Mata Kuliah Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi : Etika Kewarganegaraan. Kompetensi Mahasiswa setelah mengikuti kuliah mampu memahami dan menjelaskan Ruang Lingkup Mata Kuliah Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi : Etika Kewarganegaraan.

A. Pendahuluan Pendidikan Kewarganegaraan di desain dalam upaya mengambangkan wawasan warga negara sebagai upaya penanaman, penumbuhan dan kesadaran bela negara ditengah-tengah tantangan internal dan eksternal yang semakin kompleks. Saat ini, eksistensi suatu negara tidak hanya tergantung kepada letak geografi melainkan terletak pada sejauhmana kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliknya.

Pendidikan Kewarganegaraan Juliardi (2014:2) Sebagai mata pelajaran di sekolah : 1. Sebagai mata kuliah di Perguruan Tinggi; 2. Sebagai salah satu cabang pendidikan disiplin ilmu pengetahuan sosial dalam kerangka program pendidikan guru; 3. Sebagai program pendidikan politik; dan

4. Sebagai kerangka konseptual dalam bentuk pemikiran individual dan kelompok pakar terkait yang dikembangkan sebagai landasan dan kerangka berpikir mengenai pendidikan kewarganegaraan. Juliardi (2014:4) dua alasan : 1. Eksternal 2. Internal

B. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan Kewarganegaraan (civics) berasal dari kata Yunani yaitu civicus yang berarti penduduk sispil. 1. Kewarganegaraan (civic) : istilah kewarganegaraan (civics) berasal dari kata Yunani yaitu civicus yang berarti penduduk sispil yang mempraktekan demokrasi langsung dalam negara kota atau polis.

Civics adalah The sciences of zitizenship, the relation of man, the individual, to man in organized. Ilmu Kewarganegaraan yang membicarakan hubungan manusia dengan : a. Manusia dalam perkumpulan-perkumpulan yang terorganisasi (organisasi sosial, ekonomi, politik); dan b. Individu-individu dengan negara.

Edmonson (1958) : Civics dengan Civics is usually defined as the study of government and of government and that of citizenship, that is, of the duties, right and privileges of citizens. Adapun batasan tersebut menunjukan bahwa Civics pada intinya menyebut government, hak dan kewajiban sebagai warga negara dari sebuah negara.

civic education merupakan suatu proses pendidikan yang mencakup proses pembelajaran semua mata pelajaran, kegiatan siswa, proses administrasi dan pembinaan dalam upaya mengembangkan perilaku warga negara yang baik. Untuk itu fokus dari civic education membahas tentang warga negara di dalam warga negaranya dengan berbagai kompleksitasnya.

2. Education, mencakup : Secara umum objek studi civic education : warga negara dalam hubungannya dengan organisasi kemasyarakatan, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan dan negara. Secara spesifik, objek studi civic education mencakup : a. Tingkah laku; b. Tipe pertumbuhan berpikir; c. Potensi yang ada pada diri warga negara; d. Hak dan kewajiban;

e. Cita-cita dan aspirasi; f. Kesadaran, patriotisme, nasionalisme, pengertian internasional, moral pancasila; dan g. Usaha, kegiatan, partisipasi, tanggung jawab. 3. Zitizenship Education : pengalaman belajar di sekolah dan di luar sekolah, seperti lingkungan keluarga, organisasi keamanan, organisasi kemasyarakatan dan media.

C. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan Kep. DirJen DIKTI No. 43/DIKTI/Kep/2006 : Visi : Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi adalah sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelenggaraan program studi, guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadiannya sebagai manusia seutuhnya.

Misi : Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi : untuk membantu mahasiswa guna memantapkan kepribadiannya, agar secara konsisten mampu mewujudka nilai-nilai Pancasila, rasa kebangsaan dan cinta tanah air dalam menguasai, menerapka dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dengan rasa tanggung jawab dan bermoral (Kaelan dan Ahmad Zubaidi, 2010:2).

Arwiyah dan Runik Machpiroh (2014:11) : a. Berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan; b. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan betindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta anti korupsi;

c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsabangsa lain; d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalm percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Pendidikan Kewarganegaraan era keterbukaan dengan mengembangkan sikap-sikap : a. Mengembangkan sikap dan perilaku kewarganegaraan yang mengapresiasi nilainilai moral, etika dan religius; b. Menjadi warga negara yang cerdas berkarakter, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan; c. Menumbuhkembangkan jiwa dan semangat nasionalisme dan rasa cinta kepada tanah air;

d. Mengembangkan sikap demokratik berkeadaban dan bertanggung jawab serta mengembangkan kemampuan kompetitif bangsa di era globalisasi; dan e. Menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Ubaedillah dan Abdul Rozak, 2013:6 : tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah menjadikan warga negara Indonesia yang cerdas, bermartabat dan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan Kewarganegaraan : menciptakan ilmuwan yang profesional memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, demokratis, berkeadaban. Selain itu kompetensi lain diharapkan adalah mahasiswa yang mempunyai daya saing, berdisiplin, berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan yang damai berdasarkan sistem nilai Pancasila (Kaelan dan Ahmad Zubaedi, 2010:2).

Dwiyatmi (2012:10) bahwa standar kompetenasi yang wajib dikuasai mahasiswa adalah mahasiswa memiliki pengetahuan tentang kewarganegaraan demokratis dan mampu menerapkan pengetahuan, nilai-nilai dan ketrampilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari; memiliki kepribadian yang mantap; berpikir kritis : bersikap rasional, etis, estetis, dan dinamis; berpandangan luas; dan bersikap demokratis yang berkeadaban.

D. Landasan Pendidikan Kewarganegaraan Kaelan dan Ahmad Zubaidi (2010:3-5) : 1. Landasan Ilmiah a. Dasar Pemikiran Pendidikan Kewarganegaraan b. Objek Pembahasan Pendidikan Kewarganegaraan : Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi Nomor 43/DIKTI/KEP/2006 dijabarkan secara rinci yang meliputi pokok-pokok bahasan substansi kajian Pendidikan kewarganegaraan, meliputi :

1) Filsafat Pancasila; 2) Identitas Nasional; 3) Negara dan Konstitusi; 4) Demokrasi Indonesia; 5) Rule of Law dan Hak Asasi Manusa; 6) Hak dan kewajiban Warga Negara serta Negara; 7) Geopolitik Indonesia; dan 8) Geostrategi Indonesia.

c. Rumpun Keilmuan Pendidikan Kewarganegaraan disejajarkan dengan Civics Education yang dikenal diberbagai negara. Kajian ilmiah Pendidikan Kewarganegaraan bersifat antar disipliner (antar bidang) bukan mondisiplioner, karena kumpulan pengetahuan yang membangun ilmu Kewarganegaraan diambil dari berbagai disiplin ilmu.

Pembahasan dan pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan berbagai disiplin ilmu : politik, hukum, filsafat, sosiologi, administrasi negara, ekonomi pembangunan, sejarah perjuangan bangsa serta ilmu budaya. 2. Landasan Hukum a. UUD 1945 (1) Pembukaan UUD 1945, khusus pada alinea kedua dan keempat yang memuat cita-cita tujuan dan aspirasi bangsa Indonesia tentang Kewarganegaraan;

(2) Pasal 27 (1) menyatakan bahwa Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintah serta wajib menjujung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya (3) Pasal 30 (1) menyatakan bahwa tiaptiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara

(2) Pasal 31 (1) menyatakan bahwa tiaptiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran:. b. Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. c. Ketetapan MPR Nomor 6/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

d. UU Nomor 20 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan NKRI (Jo. UU Nomor 1 Tahun 1988) : (1) Dalam pasal 18 (a) disebutkan bahwa hak kewajiban warga negara yang diwujudkan dengan keikutsertaan dalam upaya bela negara diselenggarakan melalui pendidikan Pendahuluan Bela negara sebagai bagian tak terpisahkan dalam sistem Pendidikan nasional.

(2) Dalam pasal 19 (2) disebutkan bahwa Pendidikan Pendahuluan Bela Negara wajib diikuti oleh setiap warga negara dan dilaksanakan secara bertahap. Tahap awal pada tingkat pendidikan dasar sampai Pendidikan Menengah ada dalam Gerakan Pramuka. Tahap lanjutan pada tingkat pendidikan tinggi ada dalam bentuk Pendidikan Kewiraan.

e. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional dan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa dan Nomor 45/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidika Tinggi telah ditetapkan bahwa Pendidikan Agama, Pendidikan Bahasa dan Pendidikan Kewarganegaraanmerupakan kelompok Mata Kuliah Pengembangan kepribadian yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi/kelompok program studi.

f. UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang salah satunya bertujuan mengembangkan potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME dan berahklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten dan berbudaya untuk kepentinga bangsa.

g. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tntang Standar Nasional Pendidikan yang menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan tinggi wajib memuat mata kuliah Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

h. Pelaksanaannya berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departeman Pendidikan Nasional Nomor 43/DIKTI/Kep/2006, yang memuat rambu-rambu pelaksanaan kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.

E. Metode Pembelajaran Kewarganegaraan Dwiyatmi (2012:10) metode pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan : 1. Mahasiswa sebagai subjek pendidikan, mitra dalam proses pembelajaran, dan sebagai indivdu, anggota keluarga, anggota masyarakat dan warga negara. 2. Pembahasan secara kritis analisis, induktif, deduktif dan reflektif melalui dialog kreatif yang bersifat partisipatoris untuk meyakini kebenaran substansi dasar kajian dan motivasi sepanjang hayat.

3. Bentuk aktivitas proses pembelajaran : kuliah tatap muka, ceramah, dialog (diskusi) interaktif, studi kasus, penugasan mandiri, tugas baca, seminar kelas (presntasi) dan evaluasi proses belajar, stadium generale. 4. Motivasi : menumbuhkan kesadaran bahwa pembelajaran pengembangan kepribadian merupakan kebutuhan hidup untuk eksis dalam masyarakat global.

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan keniscayaan yang perlu diajarkan setiap warga negara Indonesia pendidikan dasar, menengah, atas, perguruan tinggi. Pendidikan karakter tidak dapat diberikan secara parsial bersifat graduasi dengan melibatkan seluruh jenjang pendidikan. Pendidikan karakter secara substantif meliputi ranah kognitif (pengetahuan), afektif (kesadaran dan penghayatan) dan psikomotorik (perilaku nyata) dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan keniscayaan yang perlu diajarkan kepada setiap warga negara Indonesia dari tingkat pendidikan dasar, menengah, atas, sampai dengan jenjang perguruan tinggi.

Pendidikan karakter tidak dapat diberikan secara parsial melainkan harus bersifat graduasi dengan melibatkan seluruh jenjang pendidikan. Pendidikan karakter secara substantif meliputi ranah kognitif (pengetahuan), afektif (kesadaran dan penghayatan) dan psikomotorik (perilaku nyata) dalam kehidupan sehari-hari.

Terima Kasih Cuntoko, SE., MM.