LOUNCHING PROVEN BULL SAPI PERAH INDONESIA

dokumen-dokumen yang mirip
PEDOMAN PELAKSANAAN UJI PERFORMAN SAPI POTONG TAHUN 2012

PEDOMAN PELAKSANAAN UJI ZURIAT SAPI PERAH NASIONAL TAHUN Farrel. Filmore. Fokker

PENDAHULUAN. kebutuhan susu nasional mengalami peningkatan setiap tahunnya.

RENCANA KINERJA TAHUNAN

RENCANA KINERJA TAHUNAN

Gambar 1. Grafik Populasi Sapi Perah Nasional Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2011)

KELEMBAGAAN SISTEM PERBIBITAN UNTUK MENGEMBANGKAN BIBIT SAPI PERAH FH NASIONAL

Peran Usaha Perbibitan Dalam Pengembangan Ternak Sapi Perah di Indonesia (The Role of Breeding Farm on Dairy Cattle Development In Indonesia)

BAB I PENDAHULUAN. Susu merupakan salah satu produk peternakan yang berperan dalam

PENDAHULUAN. pangan hewani. Sapi perah merupakan salah satu penghasil pangan hewani, yang

I. PENDAHULUAN. Sapi perah merupakan salah satu penghasil protein hewani, yang dalam

DEPARTEMEN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 1. SEJARAH PETERNAKAN SAPI PERAH DAN PERSUSUAN

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PETERNAKAN NOMOR : 73/PD.410/F/06/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS UJI PERFORMANS SAPI POTONG NASIONAL

KAWIN SUNTIK/INSEMINASI BUATAN (IB) SAPI

ALTERNATIF KEBIJAKAN PERBIBITAN SAPI POTONG DALAM ERA OTONOMI DAERAH

KAJIAN KEPUSTAKAAN. kebutuhan konsumsi bagi manusia. Sapi Friesien Holstein (FH) berasal dari

KERAGAAN PENGEMBANGAN TERNAK SAPI POTONG YANG DIFASILITASI PROGRAM PENYELAMATAN SAPI BETINA PRODUKTIF DI JAWA TENGAH

PENDAHULUAN. Latar Belakang Penelitian

7.2. PENDEKATAN MASALAH

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Prosedur

EVALUASI CALON PEJANTAN MELALUI PERFORMAN TEST

Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura

I PENDAHULUAN. Susu merupakan salah satu hasil ternak yang tidak dapat dipisahkan dari

IR. SUGIONO, MP. Lahir : JAKARTA, 13 Oktober 1961

UJI ZURIAT (PROGENY TEST) PADA SAPI PERAH ZUL FIKHIRAN BIN ASLI

Pengembangan Sistem Manajemen Breeding Sapi Bali

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) BALAI EMBRIO TERNAK CIPELANG. (sub sektor Peternakan) Tahun

PEDOMAN PELAKSANAAN OPTIMALISASI FUNGSI UNIT PEMBIBITAN DAERAH TAHUN 2015

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. Lokasi BBPTU-SP Baturraden, Purwokerto

PENDAHULUAN. dari sapi betina yang telah melahirkan. Produksi susu merupakan salah satu aspek

PENDAHULUAN. Kemajuan pembangunan nasional tidak terlepas dari peran bidang peternakan.

PENDAHULUAN. Latar Belakang. kelahiran anak per induk, meningkatkan angka pengafkiran ternak, memperlambat

KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan. Hasil estimasi heritabilitas calving interval dengan menggunakan korelasi

PEDOMAN PELAKSANAAN UJI PERFORMAN SAPI POTONG TAHUN 2015

Pembibitan dan Budidaya ternak dapat diartikan ternak yang digunakan sebagai tetua bagi anaknya tanpa atau sedikit memperhatikan potensi genetiknya. B

HASIL DAN PEMBAHASAN. (BBPTU-HPT) Baturraden merupakan pusat pembibitan sapi perah nasional yang

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah berada di Kecamatan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTANIAN. Kredit Usaha. Pembibitan Sapi. Pelaksanaan. Pencabutan.

LAPORAN AKHIR PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat. Metode Penelitian

PEDOMAN PELAKSANAAN KREDIT USAHA PEMBIBITAN SAPI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ketenangan dan akan menurunkan produksinya. Sapi Friesien Holstein pertama kali

OPERASIONAL PROGRAM TEROBOSAN MENUJU KECUKUPAN DAGING SAPI TAHUN 2005

PENDAHULUAN. yang dihasilkan oleh induk sapi perah itu sendiri. produksi susu dan kemampuan beranak yang berbeda-beda tergantung dari

I. PENDAHULUAN. Perkembangan zaman dengan kemajuan teknologi membawa pengaruh pada

UJI PRODUKSI SUSU SAPI FRIESIEN HOLSTEIN KETURUNAN PEJANTAN IMPOR DI BBPTU-HPT BATURRADEN

EFESIENSI USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH DALAM MENGHADAPI ERA PERDAGANGAN BEBAS

Edisi Agustus 2013 No.3520 Tahun XLIII. Badan Litbang Pertanian

BAB I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging sapi dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48/Permentan/PK.210/10/2016

Bibit sapi perah holstein indonesia

RENCANA KERJA TAHUNAN BALAI INSEMINASI BUATAN LEMBANG TAHUN 2018

I. PENDAHULUAN. kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

iii LAPORAN KINERJA BET CIPELANG 2016 apabila dicermati BET Cipelang telah memanfaatkan anggaran dengan baik untuk hasil yang maksimal.

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Peternakan Sapi Perah di Indonesia

PEMERIKSAAN INTERAKSI GENETIK DAN LINGKUNGAN DARI DAYA PEWARISAN PRODUKSI SUSU PEJANTAN FRIESIAN-HOLSTEIN

V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Mekar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Lokasi

MAKALAH MANAJEMEN TERNAK POTONG MANAJEMEN PEMILIHAN BIBIT

I PENDAHULUAN. pedesaan salah satunya usaha ternak sapi potong. Sebagian besar sapi potong

KATA PENGANTAR. Jakarta, Januari 2011 DIREKTUR PERBIBITAN TERNAK ABUBAKAR

Samarinda, 29 Februari 2012 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KEMENTERIAN PERTANIAN

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Gambar 1. Produksi Susu Nasional ( ) Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan (2011)

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGUATAN PEMBIBITAN SAPI PERAH DI KABUPATEN / KOTA TERPILIH TAHUN 2016

PENGANTAR. Latar Belakang. andil yang besar dalam pemenuhan kebutuhan pangan terutama daging.

BAB I PENDAHULUAN. agar diperoleh efisiensi dan efektifitas dalam penggunaan pejantan terpilih,

KEGIATAN SIWAB DI KABUPATEN NAGEKEO

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Menurut Blakely dan Bade (1992), bangsa sapi perah mempunyai

Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri 0lahannya sebagai Pakan Ternak pemanfaatan sumberdaya pakan berupa limbah pert

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. laktasi 2 sebanyak 100 ekor, laktasi 3 sebanyak 50 ekor, dan laktasi 4 sebanyak 40

20.1. Mengembangkan Potensi Peternakan Ruminansia Menerapkan Tingkah laku Ternak Ruminansia Menerapkan Penanganan Ternak ruminansia

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Berasal dari Belanda dan mulai dikembangkan sejak tahun 1625 (Makin, 2011). Sapi FH memiliki karakteristik sebagai berikut :

Ripitabilitas dan MPPA Sapi Perah FH di BBPTU HPT Baturraden...Deriany Novienara

PERFORMANS PERTUMBUHAN DAN BOBOT BADAN SAPI PERAH BETINA FRIES HOLLAND UMUR 0-18 Bulan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Friesian Holstein (FH) merupakan bangsa sapi yang paling banyak

PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBIBITAN TERNAK RUMINANSIA TAHUN 2015

I. PENDAHULUAN. Sumber : BPS (2009)

NILAI PEMULIAAN. Bapak. Induk. Anak

RILIS HASIL AWAL PSPK2011

I. PENDAHULUAN. pasokan sumber protein hewani terutama daging masih belum dapat mengimbangi

PENDUGAAN NILAI RIPITABILITAS DAN DAYA PRODUKSI SUSU 305 HARI SAPI PERAH FRIES HOLLAND DI PT. ULTRA PETERNAKAN BANDUNG SELATAN (UPBS)

PROGRAM AKSI PERBIBITAN TERNAK KERBAU DI KABUPATEN BATANG HARI

EVALUASI PEJANTAN FRIES HOLLAND DENGAN METODE CONTEMPORARY COMPARISON DAN BEST LINEAR UNBIASED PREDICTION

Nomor : 02009/TU.020/F2.J/02/ Februari 2015 Lampiran : 1 (satu) Berkas Hal : Laporan Kegiatan Bulan Januari 2015

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN PENGAWASAN TERNAK RUMINANSIA BESAR BAB I PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan protein hewani di Indonesia semakin meningkat seiring dengan

PERBANDINGAN DUA METODE PENDUGAAN PRODUKSI SUSU SAPI PERAH BERDASARKAN CATATAN SEBULAN SEKALI

MUNGKINKAH SWASEMBADA DAGING TERWUJUD?

Reny Debora Tambunan, Reli Hevrizen dan Akhmad Prabowo. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung ABSTRAK

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat Pagi, Salam Sejahtera bagi kita semua, SAMBUTAN DIREKTUR PERBIBITAN DAN PRODUKSI TERNAK

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 55/Permentan/OT.140/10/2006 TENTANG PEDOMAN PEMBIBITAN SAPI PERAH YANG BAIK (GOOD BREEDING PRACTICE)

Keberhasilan Pembangunan Peternakan di Kabupaten Bangka Barat. dalam arti yang luas dan melalui pendekatan yang menyeluruh dan integratif dengan

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGEMBANGAN USAHA PERBIBITAN TERNAK TAHUN 2015 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK

Transkripsi:

LOUNCHING PROVEN BULL SAPI PERAH INDONESIA PENDAHULUAN Lounching proven bulls yang dihasilkan di Indonesia secara mandiri yang dilaksanakan secara kontinu merupakan mimpi bangsa Indonesia yang ingin diwujudkan sehingga ketergantungan terhadap pejantan impor menjadi berkurang. Pada akhir tahun 2011 ini tepatnya tanggal 14 Desember 2011 telah dilakukan lounching tersebut dengan jumlah 4 pejantan proven bulls setelah melalui pengujian jangka panjang selama 7 tahun. Pengujian untuk mendapatkan pejantan unggul (proven bull) dikenal sebagai uji zuriat (progeny test) yang jika dilakukan secara benar dan tepat maka produksi susu sapi perah akan terus meningkat dari generasi ke generasi. Uji ini harus dilakukan sendiri oleh Indonesia agar produksi susu di Indonesia dapat terus meningkat dari tahun ke tahun. Kelemahan mendasar yang ada saat ini dengan menggunakan semen impor tanpa pengujian sebelumnya, menyebabkan di Indonesia dalam 12 tahun terakhir (dua generasi sapi perah) produksi susu tidak pernah naik lagi pada tingkat peternak tetap berada pada kisaran 11 14 kg per hari atau < 4500 kg per laktasi 305 hari. Hal tersebut disebabkan karena: (1) pejantan yang semennya digunakan di Indonesia adalah hasil pengujian di luar negeri berdasarkan manajemen yang ada di sana yang tidak selamanya sesuai dengan yang diterapkan di Indonesia, (2) ranking pejantan yang semennya diimpor ke Indonesia tidak selalu digunakan sebagai tolok ukur dalam impor semen tersebut, dan (3) silsilah pejantan yang semennya diimpor ke Indonesia hanya sedikit yang masuk pertimbangan dalam impor, karena kurang ditelusuri nilai genetik yang menjadi label pada commersial brand-nya dan ciri khasnya yang bersifat herediter yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan di Indonesia. Tujuan penulisan ini adalah untuk mensosialisasikan dan merekomendasikan kepada penentu kebijakan agar keberlanjutan uji zuriat tetap dipertahankan karena Indonesia mulai memasuki babak baru dalam perbaikan pengembangan sapi perah baik secara budidaya maupun genetik dengan rekording kegiatan yang lebih baik. Sejarah uji zuriat di indonesia Uji zuriat pertama yang dilakukan di Indonesia yaitu dilaksanakan oleh JICA bekerjasama dengan BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan) Singosari dalam periode 1980 - awal 1990an. Akan tetapi uji zuriat ini hanya menguji sapi calon pejantan asal Jepang dan bersifat one-spot yang tidak berkelanjutan. Hasilnya menunjukkan bahwa berhasil memperkenalkan kepada para peternak tentang pentingnya pelaksanaan rekording dan terjadinya perbaikan yang signifikan pada teknis pemeliharaan (budidaya) dan rekording pada sifat-sifat reproduksi dan penjualan susu. Di samping juga menghasilkan proven bulls dari uji yang dilaksanakan. Uji zuriat yang sekarang yang telah melaksanakan lounching sebagaimana telah dijelaskan di depan merupakan uji zuriat kedua di Indonesia yang telah dirancang untuk dilaksanakan secara berkelanjutan. Sebelum pejantan hasil uji zuriat pertama ini di lounching maka uji zuriat berikutnya sudah mengikuti di belakangnya, demikian seterusnya. Dalam periode saat ini telah dihasilkan empat ekor beberapa pejantan proven bulls dari 8 ekor yang diujikan. Uji zuriat periode ini telah dimulai

sejak tahun 2004 dengan kronologis sebagaimana disampaikan berikut ini. Pada tahun 2004 diadakan pertemuan di Safari Garden Hotel sekarang bernama Royal Safari Garden Hotel di Cisarua, Bogor untuk membicarakan tentang masa depan persapiperahan di Indonesia. Pertemuan menghasilkan kesepakatan untuk membuat komitmen bersama para eksekutif Direktorat Jenderal Peternakan (Ditjenak) yang sekarang bernama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjenakeswan) untuk bersama-sama melaksanakan uji zuriat sapi perah untuk menghasilkan proven bulls sapi perah Indonesia sebagai cikal bakal untuk membentuk sapi perah Holstein Indonesia. Kegiatan ini akan terus didukung oleh jajaran eksekutif Ditjenak siapapun Direktur Jenderal Peternakan. Sebagai konsekuensi dari komitmen tersebut maka Ditjenak menerbitkan SK Uji Zuriat Sapi Perah Nasional dengan menugaskan Komisi Pertimbangan Uji Zuriat untuk mengkoordinir penyelesaian proposal Uji Zuriat Sapi Perah Nasional. Draft proposal kemudian dibahas secara bersama dengan keseluruhan anggota dalam SK tersebut dan semua stakeholder terkait sampai selesai. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengoleksi silsilah semua pejantan sapi perah yang semennya pernah digunakan di Indonesia, kemudian memilih pejantan dengan derajat inbreeding minimal dengan pejantan-pejantan yang semennya pernah digunakan di Indonesia dengan tingkat toleransi maksimal inbreeding adalah 6,25. Maka diputuskan untuk memilih 10 ekor pejantan terbaik di dunia dengan karakteristik yang diperkirakan sesuai dengan kebutuhan sapi perah di Indonesia dengan prioritas utama adalah sapi perah dari Australia dan Amerika Serikat (USA). Pertimbangan pada kedua negara ini karena keduanya mempunyai bagian kawasan tropis yang mirip dengan di Indonesia. Sayangnya pada saat mulai mengidentifikasi pejantan-pejantan tersebut USA terkena outbreak penyakit sapi gila, dengan demikian pilihan jatuh pada Australia. Langkah kedua, adalah memilih 10 pejantan yang diiklan pada tahun 2004 dari Australia. Ternyata dari kesepuluh pejantan yang dipilih, dengan berbagai alasan pihak penjual tidak mau memenuhi pesanan yang diajukan Indonesia dan menawarkan pejantan yang lain karena semen pejantan tersebut tidak cukup tersedia. Kemudian dilakukan seleksi lagi dengan tambahan beberapa ekor lainnya sehingga akhirnya terpilih 8 ekor pejantan yang diperkirakan terbaik bagi Indonesia. Kedelapan pejantan tersebut kemudian dipresentasikan di depan para stakeholder terkait untuk mendapatkan persetujuan. Pada tahun 2005 semua semen yang telah disetujui yaitu yang berasal dari 8 pejantan unggul terpilih tersebut diimpor oleh Ditjenak yang pelaksanaannya diserahkan kepada BIB Singosari (yang sekarang bernama BBIB Singosari) dan BIB Lembang. Sejalan dengan proses importasi semen tersebut dilakukan pemilihan induk unggul terbaik di Indonesia yang sehat (bebas penyakit strategis) dan mempunyai catatan produksi susu serta identitas/silsilah lengkap minimal dua generasi ke atas (identitas tetua dan kakek nenek). Hasil pencarian diperoleh sejumlah 250 ekor induk dari perusahaan sapi perah Greenfield (GF) di Gunung Kawi, Jawa Timur. Maka dibuatlah perjanjian berupa MoU antara Dirjenak dan Dir GF yang isinya antara lain bahwa pedet betina yang lahir dari hasil perkawinan tersebut akan menjadi milik GF sedangkan pedet yang jantan menjadi milik Ditjenak. Pada tahun 2006 mulailah terjadi kelahiran pedet di GF, di mana pedet jantan

yang lahir diambil dari GF dan ditempatkan di BBIB Singosari dan BIB Lembang. Hasilnya ternyata semua pejantan unggul asal Australia yang digunakan memiliki pedet jantan dengan jumlah yang cukup banyak. Maka pedet-pedet jantan tersebut kemudian diseleksi berdasarkan kapasitas produksi dan karakteristik induk dan kakek neneknya untuk dicalonkan sebagai BALON untuk uji zuriat. Untuk setiap pejantan ditetapkan satu ekor BALON utama dan satu ekor BALON cadangan untuk berjaga-jaga kalau terjadi kematian atau hal lainnya yang mengakibatkan pedet jantan tersebut harus diafkir. Pada tahun 2006 juga berhasil ditentukan 8 ekor CALON Pejantan Utama yang telah lulus uji kemampuan reproduksi. Pada tahun 2007, untuk mempercepat sosialisasi dan menyamakan persepsi/ pemahaman uji zuriat maka diterbitkan Buku Putih Uji Zuriat Sapi Perah Nasional. Buku ini antara lain berisi langkah-langkah yang harus dilakukan oleh para peternak partisipan yang memiliki sapi induk sehat baik secara sendiri maupun merupakan bagian dari koperasi, LSM maupun perusahaan untuk bersedia mengawinkan sapi induknya dengan semen sapi uji zuriat. Tercatat para partisipan menyetujui meliputi: GKSI (Gabungan Koperasi Seluruh Indonesia) Pusat, cabang Jabar, Jatim, Jateng dan DKI, PT Green Field - Jatim, PT Naksatra Kejora Jateng, PT Taurus Dairy Farm - Jabar, dan LSM Az-Zaytun, Dinas Peternakan Jatim, Dinas Peternakan Jateng, Dinas Peternakan Jabar, Dinas Peternakan DI Jogyakarta serta kabupatenkabupaten terkait. Para partisipan menyediakan sapi induk yang selanjutnya disebut PC (Participant Cows) untuk dikawinkan secara acak dengan sapi calon pejantan uji zuriat dan pedet betina yang akan lahir kelak disebut DC (Daughter Cows) akan dipelihara serupa dengan sapi lainnya yang dimiliki tanpa ada perlakuan istimewa. Pelaksanaan IB pertama kali pada sapi PC dengan semen sapi calon pejantan unggul uji zuriat dilakukan oleh Mentan di Lembang. Pada tahun 2008 kelahiran-kelahiran sapi DC mulai berlangsung secara beruntun dan dipelihara sesuai dengan perjanjian yang telah dilakukan sebelumnya yaitu tanpa perlakuan istimewa. Sapi-sapi DC mulai memperlihatkan kecenderungan keunggulannya dengan memenangkan berbagai even sapi perah bibit betina baik pada tataran kabupaten, provinsi maupun tingkat nasional. Pada tahun 2009 perkawinan pada sapi DC mulai berlangsung dengan semen yang berasal dari bukan 8 calon pejantan unggul tersebut dan di mana sebagian semen yang digunakan adalah dengan menggunakan semen calon pejantan terpilih untuk uji zuriat tahap berikutnya, untuk menjamin berlangsungnya uji zuriat secara berkesinambungan. Pada tahun 2010 sapi DC mulai melahirkan yang berarti pengukuran produksi susu sapi DC harus dimulai. Sejalan dengan pengukuran produksi susu sapi-sapi DC maka dilakukan pula pengukuran sapi-sapi contemporaries (yaitu sapi-sapi yang sama umurnya dengan sapi DC dan berada pada tempat yang sekandang atau kandang sebelah yang berdekatan dengan sapi DC yang mendapat perlakuan yang serupa dengan sapi DC) untuk dijadikan pembanding sapi DC dalam analisa data untuk penentuan ranking penjantan proven bulls sapi perah Indonesia berdasarkan nilai genetiknya masing-masing.

Pada tahun 2011, tepatnya tanggal 14 Desember 2011, 4 ekor pejantan terbaik diumumkan melalui lounching sapi perah di Baturraden oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Syukur Iwantoro. PEJANTAN UNGGUL PROVEN BULLS YANG DILOUNCHING Pejantan yang di launching tersebut berdasarkan ranking adalah (1) Formery, (2) Farrel, (3) Informer dan (4) Bullionary. Keturunan (zuriat) atau pedet sapi betina yang dihasilkan dari keempat sapi pejantan unggul (proven bulls) tersebut mempunyai keunggulan terhadap contemporarynya bervariasi dari 7 20% lebih tinggi dengan rataan produksi 5.000 6.000 kg per laktasi 305 hari dengan 2 kali pemerahan pada pemeliharaan di tingkat peternak kecil. Pada pemeliharaan dengan manajemen yang sangat baik terutama pada pemberian pakan yang memenuhi kebutuhan hampir optimal sejak usia dini sampai laktasi keunggulan tersebut juga tetap dipertahankan dan produksinya mencapai 10.000 kg per laktasi 305 hari. Gambar sapi-sapi pejantan unggul proven bulls tersebut dan silsilahnya dicantumkan di bawah ini:

Chalid Talib1), Palla Warukka 2), Kurnia Achyadi3), Abubakar*) Puslitbangnak1), Fapet IPB2), FKH IPB3), Dirbit-Ditjenak*) Petunjuk Cara Melipat: 1. Ambil dua Lembar halaman tengah tabloid 2. Lipat sehingga cover buku (halaman warna) ada di depan. 3. Lipat lagi sehingga dua melintang ke dalam kembali 4. Lipat dua membujur ke dalam sehingga cover buku ada di depan 5. Potong bagian bawah buku sehingga menjadi sebuah buku