JURNAL RISET FISIKA EDUKASI DAN SAINS

dokumen-dokumen yang mirip
PENGEMBANGAN HANDOUT DILENGKAPI DENGAN TEKA-TEKI SILANG PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI MATERI SISTEM EKSKRESI DI MAN 1 MUARA BUNGO

PENGEMBANGAN HANDOUT BERGAMBAR DISERTAI NETWORK TREE PADA MATERI STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN HEWAN SEMESTER I KELAS XI UNTUK SMA.

PENGEMBANGAN MODUL YANG DILENGKAPI PETA KONSEP BERGAMBAR PADA MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP UNTUK SMP

PENGEMBANGAN MODUL DILENGKAPI MIND MAP DAN GLOSARIUM PADA MATERI PELAJARAN BIOLOGI UNTUK SISWA KELAS X SMAN 12 PADANG

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERUPA HANDOUT YANG DILENGKAPI GLOSARIUM PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA SMAN 1 TIGO NAGARI KABUPATEN PASAMAN

PENGEMBANGAN MODUL DILENGKAPI WINDOW ZOOMING PADA MATERI FOTOSINTESIS UNTUK SISWA KELAS VIII DI SMPN 21 TEBO, JAMBI

Pengembangan Modul Bernuansa Newspaper Dilengkapi dengan Concept Map Bergambar dan Poster pada Siswa Kelas XI IPA di SMA Negeri 12 Padang

ARTIKEL ILMIAH YUSRIKA NENGSIH NIM

PENGEMBANGAN HANDOUT BERGAMBAR DISERTAI PETA KONSEP PADA MATERI KEANEKARAGAMAN HAYATI UNTUK SISWA SMA KELAS X

PENGEMBANGAN PENUNTUN PRAKTIKUM BERORIENTASI GAMBAR PADA MATERI JARINGAN UNTUK KELAS VII SMP ARTIKEL

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA BERBASIS PENDEKATAN PROBLEM SOLVING PADA MATERI SISTEM KOORDINASI MANUSIA UNTUK SMA ABSTRACT

Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis Konsep Disertai Contoh pada Materi Sel untuk Siswa SMA

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS KONTEKSTUAL PADA MATERISISTEM EKSKRESI UNTUK SMA

PENGEMBANGAN HANDOUT BERGAMBAR DISERTAI PETA KONSEP PADA MATERI KINGDOM ANIMALIA UNTUK SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) Oleh:

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBENTUK BUKU SAKU DILENGKAPI PETA KONSEP PADA MATERI EKOSISTEM UNTUK SISWA KELAS VII SMPN 3 GUNUNG TULEH

PENGEMBANGAN PENUNTUN PRAKTIKUM YANG DILENGKAPI GAMBAR PADA MATERI PROTISTA UNTUK SISWA KELAS X SMA

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BIOLOGI BERBASIS PROBLEM SOLVING PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN KELAS VII SMP Oleh:

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERUPA HANDOUT DENGAN TAMPILAN SITUS WEB DILENGKAPI GLOSARIUM PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA SMA PGRI 1 PADANG

PPENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) DILENGKAPI GAMBAR PADA MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH UNTUK SISWA SMA/MA

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI PENYAJIAN DATA STATISTIK UNTUK KELAS X SMA N 3 PADANG. Oleh

PENGEMBANGAN MODUL PADA MATERI SEGIEMPAT DAN SEGITIGA BERBASIS PEMECAHAN MASALAH UNTUK SISWA KELAS VII SMP. Oleh ABSTRACT

PENGEMBANGAN HANDOUT DISERTAI PETA KONSEP BERGAMBAR PADA MATERI SISTEM PERNAPASAN UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) ABSTRACT

PENGEMBANGAN LKS BIOLOGI BERBASIS KONTEKSTUAL DILENGKAPI DENGAN MIND MAP PADA MATERI ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA UNTUK SISWA SMA

PENGEMBANGAN HANDOUT BERBASIS KONTEKSTUAL PADA MATERI KERUSAKAN LINGKUNGAN UNTUK SISWA SMP E - JURNAL TESSA MUTIARA. T NIM.

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI KAIDAH PENCACAHAN UNTUK SISWA KELAS XI MIA SMAN 7 PADANG

PENGEMBANGAN HANDOUT DENGAN TAMPILAN BROSUR DILENGKAPI GLOSARIUM PADA MATERI KINGDOM PLANTAE DI KELAS X SMAN 2 KERINCI KANAN KABUPATEN SIAK.

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI EKSPONEN DAN LOGARITMA UNTUK SISWA KELAS X SMA KARTIKA 1-5 PADANG

Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Berbasis Penemuan Terbimbing Pada Materi Persamaan Kuadrat Untuk SMPN 12 Padang

PENGEMBANGAN HANDOUT BERGAMBAR DILENGKAPI PETA KONSEP PADA MATERI PROTISTA UNTUK SISWA SMA/MAKELAS X ARTIKEL ILMIAH FIRMANA JUTIN NIM.

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS GAMBAR PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN UNTUK SMP KELAS VIII SEMESTER 1

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS SAINTIFIK PADA MATERI VIRUS UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBENTUK MODUL BERNUANSA MAJALAH DILENGKAPI DENGAN GLOSARIUM UNTUK SISWA KELAS VIII DI SMPN 12 PADANG

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BIOLOGI BERBASIS GAMBAR PADA MATERI POKOK PLANTAE UNTUK SMA. Oleh

PENGEMBANGAN MODUL MATERI HIMPUNAN BERBASIS KONTEKSTUAL UNTUK SISWA KELAS VII SMP/MTs ABSTRACT

PENGEMBANGAN COMPACT DISK (CD) INTERAKTIF MENGGUNAKAN MACROMEDIA FLASH PADA MATERI KUBUS UNTUK SISWA KELAS VIII SMP/MTs

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BIOLOGI BERBASIS GAMBAR PADA MATERI STRUKTUR DAN FUNGSI JARIANGAN TUMBUHAN UNTUK SMP

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS PROBLEM SOLVING PADA MATERI SISTEM EKSKRESI MANUSIA UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) Oleh:

Pengembangan Penuntun Praktikum Disertai Gambar Pada Materi Sel Untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI PERSAMAAN LINIER SATU VARIABEL UNTUK SISWA KELAS VII

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BIOLOGI DILENGKAPI MIND MAP PADA MATERI POKOK SISTEM RESPIRASI UNTUK SMA

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR) PADA MATERI BILANGAN PECAHAN UNTUK SISWA KELAS VII SMPN 27 PADANG ABSTRACT

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BIOLOGI PADA MATERI JARINGAN TUMBUHAN UNTUK SMA. Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI ARITMATIKA SOSIAL UNTUK SISWA KELAS VII SMP 1 BAYANG UTARA ABSTRACT

Hasil Uji Validitas Buku Siswa Berbasis Inkuiri pada Pembelajaran IPA untuk Siswa Kelas VIII SMP

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING

PENGEMBANGAN MODUL BERNUANSA PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN TAMPILAN MAJALAH PADA MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP UNTUK SMP/MTs

PENGEMBANGAN PENUNTUN PRAKTIKUM IPA PADA MATERI SISTEM ORGANISASI KEHIDUPAN UNTUK SMP E-JURNAL

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS REALISTIK UNTUK MATERI PECAHAN PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS V MIN KORONG GADANG KECAMATAN KURANJI.

Pengembangan Handout Berbasis Kontekstual Disertai Peta Konsep Pada Materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Untuk Siswa SMP

PENGEMBANGAN MODUL YANG DIAWALI DENGAN PETA KONSEP BERGAMBAR PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN PADA MANUSIA UNTUK KELAS VIII SMP.

PENGEMBANGAN HANDOUT BERBASIS GAMBAR PADA MATERI SISTEM PERNAPASAN MANUSIA UNTUK SMP

PENGEMBANGAN HANDOUT BERNUANSA NEWSPAPER DILENGKAPI PERMAINAN SCRAMBLE PADA MATERI EKOSISTEM UNTUK SISWA KELAS VII SMP

PENGEMBANGAN HANDOUT BIOLOGI SMA BERBASIS KONTEKSTUAL DISERTAI GAMBAR BERWARNA PADA MATERI SISTEM EKSKRESI MANUSIA. Oleh:

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA BERBASIS LEARNING CYCLE 5-E DILENGKAPI PETA KONSEP PADA MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP UNTUK SMP

PENGEMBANGAN MODUL DENGAN TAMPILAN MAJALAH DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI MATERI EKOSISTEM PADA SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 3 RANAH PESISIR

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI MATRIKS UNTUK KELAS X SMKN 4 PADANG. Oleh

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) MATEMATIKA BERBASIS DISCOVERY LEARNING PADA MATERI TEOREMA PYTHAGORAS KELAS VIII MTsN LUBUK BUAYA PADANG

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING UNTUK MATERI BARISAN DAN DERET KELAS X SMK NEGERI 4 PADANG ABSTRACT

PENGEMBANGAN HANDOUT BERBASIS GAMBAR DAN BERKARAKTER PADA MATERI STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN TUMBUHAN UNTUK TINGKAT SMP

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS KONSTRUKTIVISMEUNTUK MATERI SISTEM KOORDINAT PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SMPN 31 PADANG

JURNAL RISET FISIKA EDUKASI DAN SAINS PENGEMBANGAN HANDOUT FISIKA DASAR BERBASIS KONSTRUKTIVITAS PADA MATERI DINAMIKA

PENGEMBANGAN HANDOUT BERGAMBAR DILENGKAPI PETA KONSEP PADA MATERI ALAT INDERA UNTUK SMP

ARTIKEL ROPIKO NIM

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERUPA KOMIK BIOLOGI PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN UNTUK SISWA KELAS XI IPA. Oleh :

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA BERBASIS MACROMEDIA FLASH DENGAN TAMPILAN SLIDE POWERPOINT PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN UNTUK SISWA KELAS XI IPA SMA

PRAKTIKALITAS PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS KONSTRUKTIVISME PADA MATERI MATRIKS UNTUK KELAS XI SMAN 3 PADANG ARTIKEL E-JURNAL

Oleh: Desi Novita *), Anna Cesaria **), Hamdunah **) Mahasiswa Program Studi Pendididkan Matematika STKIP PGRI Sumatera Barat.

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bung Hatta

Pengembangan Media Komik Matematika Berbasis Pendekatan Scientific pada Materi Bilangan Bulat

Oleh ABSTRACT PENDAHULUAN

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS KONSTRUKTIVISME PADA MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR KELAS VIII SMPN 23 PADANG

Julia Putriani *), Anny Sovia **), Lucky Heriyanti Jufri **) ABSTRACT

PENGEMBANGAN MODUL DISERTAI PETA KONSEP JENIS SPYDER CONCEPT MAP PADA MATERI SISTEM GERAK MANUSIA UNTUK KELAS VIII SMP. Oleh:

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERNUANSA PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI PROTISTA UNTUK SISWA SMA ARTIKEL JURNAL

PENGEMBANGAN HANDOUT BERNUANSA KONTEKSTUAL PADA MATERI SISTEM REGULASI MANUSIA UNTUK SMA

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS MASALAH PADA MATERI BENTUK ALJABAR UNTUK SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 SIJUNJUNG JURNAL

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Bung Hatta

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat 2

PENGEMBANGAN HANDOUT DILENGKAPI GAMBAR DAN PETA KONSEP PADA MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH PADA MANUSIA UNTUK SMP. Oleh:

UNESA Journal of Chemical Education Vol.6, No.3 pp , September 2017

Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta Padang. Pendidikan Universitas Bung Hatta Padang

PENGEMBANGAN HANDOUT BERGAMBAR DILENGKAPI PETA KONSEP PADA MATERI KINGDOM PROTISTA UNTUK SISWA SMA E JURNAL RINI SANDIKA NIM.

PENGEMBANGAN HANDOUT BERBENTUK BUKU SAKU PADA MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP UNTUK KELAS VII SMP JURNAL

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERGAMBAR DENGAN PENDEKATAN BERBASIS LEARNING CYCLE 5-E

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA BERBASIS INKUIRI TERBIMBING UNTUK KELAS V SEKOLAH DASAR

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) DENGAN PENDEKATAN PENEMUAN TERBIMBING UNTUK MATERI PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN KELAS X SMKN 6 PADANG.

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS MASALAH PADA MATERI PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL UNTUK SISWA KELAS VII MTsN I MATUR KABUPATEN AGAM

PENGEMBANGAN HANDOUT BERBASIS GAMBAR PADA MATERI SISTEM GERAK MANUSIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) Oleh: Yesi Wispa¹, Sudirman², Siska Nerita¹

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERMUATAN KARAKTER PADA MATERI JURNAL KHUSUS

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BENTUKKOMIK PADA MATERI FOTOSINTESIS UNTUK SMP KELAS VIII

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF PADA MATA PELAJARAN FUSSION FOOD DI SMK NEGERI 2 BUKITTINGGI MARDHATILLAH

Pengembangan Modul Biologi Berbasis Metakognisi tentang Materi Sistem Koordinasi yang Dilengkapi Peta Konsep untuk Peserta Didik Kelas XI SMA/MA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat 2

PENGEMBANGAN HANDOUT FISIKA DASAR BERBASIS KONSTRUKTIVITAS PADA MATERI DINAMIKA

PENGEMBANGAN LKS DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP UNTUK KELAS VII SMP. E-Jurnal

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS REALISTIK UNTUK MATERI RUANG DIMENSI TIGA PADA KELAS X SMA N 1 BONJOL KABUPATEN PASAMAN ABSTRACT

Transkripsi:

JURNAL RISET FISIKA EDUKASI DAN SAINS Education and Science Physics Journal E- ISSN : 2503-3425 JRFES Vol 1, No 2 (2015) 53-60 P- ISSN : 2407-3563 http://ejournal.stkip-pgri-sumbar.ac.id/index.php/jrfes PENGEMBANGAN MODUL PRAKTIKUM BERNUANSA KONTEKSTUAL PADA MATERI EKSPERIMEN FISIKA DI STKIP PGRI SUMATERA BARAT Zulpadrianto 1, Husna 2 1,2 Pendidikan fisika, STKIP PGRI Sumatera Barat Email: zpadrianto@gmail.com http://dx.doi.org/10.22202/jrfes.2015.v1i2.1402 Abstract Improving the quality of teaching needs to be earned by teachers in learning activities. One effort to improve the quality of education is the development of experimental module that isattractive and easy to understand. This type of research is the development of researchusingthree stages: define, design and develop. Define phase is the phase of analysis and formulationof learning objectives physics experiments. At the design stage to design modules contextualnuances. At this stage of develop validated module by 5 people validator and test the practicalities by 2 faculty members, 20 students of physical education. This research data is primary data obtained from the questionnaire validity and practicalities. Data were analyzed with descriptive analysis using a percentage formula. From this research, produced a nuanced physics experiment lab module contextual validity of results obtained value of 88.17% with a valid criteria. Average of practicallity value 90.83% with a very practical criterion, while the practicalities of Student test results have an average value of 84.09% with a practical criterion It can be concluded that the modules developed to have a valid and practical criteria. Key Word: Practical guide, Contextual Abstrak Peningkatan kualitas pengajaran perlu diupayakan oleh pengajar dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu upaya untuk peningkatan kualitas pendidikan berupa pengembangan modul praktikum yang menarik dan mudah dipahami. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan menggunakan 3 tahap yaitu define, design and develop. Tahap define merupakan tahap analisis dan perumusan tujuan pembelajaran eksperimen fisika. Pada tahap design dilakukan perancangan modul bernuansa kontekstual. Pada tahap develop dilakukan validasi modul oleh 5 orang validator dan uji praktikalitas oleh 2 orang tenaga pengajar, 20 orang mahasiswa program studi pendidikan fisika. Data penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari angket validitas dan praktikalitas. Data dianalisis dengan analisis deskriptif menggunakan rumus persentase. Dari penelitian ini, dihasilkan modul praktikum eksperimen fisika bernuansa kontekstual Hasil validitas diperoleh nilai sebesar 88,17% dengan kriteria valid. Nilai praktikalitasnyai rata-rata 90,83% dengan kriteria sangat praktis, sedangkan hasil uji praktikalitas oleh mahasiswa memiliki nilai rata-rata 84,09% dengan kriteria praktis Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modul yang dikembangkan memiliki kriteria yang valid dan praktis. Kata kunci : Modul Praktikum, Kontekstual I. PENDAHULUAN Pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka 71

mencerdaskan kehidupan bangsa yang dalam prosesnya menuntut pengembangan potensi peserta didik secara optimal. Pendidikan mengantarkan peserta didik dalam pengalaman belajar yang bertahap dan berkelanjutan dimana setiap saat terjadi perkembangan-perkembangan baru sebagai upaya peningkatan kualitas pelaksanaannya. Peningkatan ini dapat dalam bentuk metode penyampaian materi pembelajaran, pengembangan kurikulum, serta pengembangan media pembelajaran. Media pembelajaran dapat menjadi salah satu sumber belajar yang meningkatkan kualitas proses belajarmengajar. Susilana dan Riyana menyatakan penggunaan media pembelajaran secara kreatif akan memperbesar kemungkinan bagi pelajar untuk belajar lebih banyak dan mencamkan apa yang dipelajarinya lebih baik sesuai dengan apa yang menjadi tujuan pembelajaran. Pencapaian tujuan pembelajaran dapat terjadi karena adanya peranan media yang dikembangkan. Media pembelajaran yang dirancang secara baik akan sangat membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Mengembangkan media pembelajaran perlu dilakukan tenaga pengajar sebagai tenaga profesional. Salah satu keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pengajar adalah keterampilan mengembangkan dan menggunakan media pembelajaran [3]. Media pembelajaran yang dapat dikembangkan oleh pengajar salah satunya adalah modul tertulis. Modul tertulis merupakan media pembelajaran dalam bentuk bahan cetak, yang dapat berupa buku teks, dan modul. Depdiknas [3] menyatakan manfaat yang dapat diperoleh apabila pengajar mengembangkan modul sendiri antara lain, akan diperoleh modul yang sesuai 72 tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Berdasarkan pengamatan penulis selama membimbing praktikum di STKIP PGRI Sumatera Barat, diketahui mahasiswa telah menggunakan modul yang dibuat oleh pengajar. Namun, modul tersebut masih memiliki kelemahan, diantaranya, kurang menyajikan gambar, berisikan materi yang sulit dipahami mahasiswa karena hanya memaparkan materi tanpa mengaitkan dengan situasi dunia nyata, dan belum menggunakan bahasa yang interaktif. Modul merupakan media cetak tertulis yang dapat disiapkan oleh pengajar untuk menuntun mahasiswa memahami materi pelajaran, dan meningkatkan motivasi mahasiswa dalam belajar. Hal ini terjadi karena modul memiliki beberapa keunggulan. Ada beberapa keunggulan modul, diantaranya mahasiswa dapat mengikuti urutan pikiran secara logis, memperlancar pemahaman informasi yang disampaikan dan mudah terdistribusi [5]. Modul dapat membantu proses pembelajaran, sehingga bisa digunakan pengajar untuk membantu mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran. Sebagai modul yang ekonomis dan praktis, modul berisi pokok-pokok materi yang dijabarkan lebih ringkas dan terarah, sehingga modul bukanlah bahan ajar yang memiliki ketebalan berlebihan. Menurut Susilana dan Riyana [1] bahwa bahan ajar cetak yang tebal dapat membosankan dan mematikan minat pelajar untuk membacanya. Sejalan dengan yang diungkapkan Ahmadi dan Supriyono [6] bahwa bahan ajar yang terlalu panjang atau terlalu banyak dapat menyebabkan kesulitan dalam belajar, karena berhubungan dengan faktor kelelahan serta kejemuan si pelajar dalam mengahadapi atau

mengerjakan bahan yang banyak tersebut. Modul disajikan bertujuan untuk menarik perhatian mahasiswa untuk membacanya karena modul disajikan dalam susunan teks dan gambar agar lebih mudah dipahami. II. METODE Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Development Research). Produk yang dikembangkan adalah modul bernuansa kontekstual dengan materi eksperimen fisika di TKIP PGRI Sumatera Barat. Pengembangan modul dilakukan di Program Studi pendidikan Fisika STKIP PGRI SUMBAR dari bulan Agustus 2015 sampai bulan januari 2016. Subjek penelitian ini adalah 20 orang mahasiwa pendidikan fisika yang mengambil mata kuliah eksperimen fisika, 5 orang validator yang ahli di bidangnya. Sedangkan objek penelitian ini adalah bahan ajar berupa modul bernuansa kontekstual. Modul bernuansa kontekstual pada materi eksperimen fisika ini dikembangkan dengan menggunakan four-d-models yaitu melalui tahap define (pedefinisian), design (perancangan), develope (pengembangan), dan disseminate (penyebaran) sebagaimana yang disarankan Thiagarajan, Semmel, dan Semmel Penelitian ini dilakukan sampai development ( pengembangan). 1. Tahap define (pendefinisian) Pada tahap define dilakukan penetapan dan pendefinisian syaratsyarat pembelajaran dengan menganalisis Standar Kompetensi dan bahan materi pembelajaran. Langkahlangkah pada tahap define ini meliputi; 73 a. Analisis kebutuhan Analisis kebutuhan bertujuan memunculkan dan menetapkan masalah dasar dalam praktikum eksperimen fisika sehingga perlu dikembangkan modul eksperimen fisika. b. Analisis media Pada analisis media dipertimbangkan sejauh mana media yang digunakan dalam praktikum khususnya mata kuliah eksperimen fisika dapat menarik minat, pemahaman, dan hasil belajar. c. Analisis peserta didik Analisis peserta didik dilakukan untuk mengetahui karakteristik peserta didik yang meliputi usia, kemampuan akademik, dan pengalaman. Dengan mengetahui dan memahami karakteristik yang dimiliki peserta didik, maka akan memudahkan merancang modul praktikum yang sesuai dengan karakteristik peserta didik sehingga dihasilkan modul yang cocok digunakan. d. Analisis tugas Analisis tugas adalah kumpulan prosedur untuk menentukan isi dalam satuan pembelajaran. Analisis tugas dilakukan untuk merinci isi materi ajar yang terdapat dalam modul yang tertuang dalam Kompetesi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). 2. Tahap design (perancangan) Tujuan tahap ini adalah untuk menyiapkan materi pembelajaran handout biologi bernuansa kontekstual dengan tampilan majalah pada materi sistem gerak pada manusia berdasarkan KI, KD, dan indikator sesuai Kurikulum 2013. Pada tahap perancangan ini, terlebih dahulu disusun kerangka handout dengan tidak mengabaikan prinsip-prinsip

penyusunan handout. Materi yang disajikan sesuai dengan KI, KD, dan indikator. Dalam hal ini, disisipkan nuansa kontekstual yang sesuai dengan materi pembelajaran dan disajikan dalam bentuk handout. Handout yang dirancang mengandung semua komponen handout seperti lembaran konsep-konsep, prinsip, dan gagasan pokok tentang suatu topik yang akan dibahas. 3. Tahap develop (pengembangan) Tujuan dari tahap ini adalah untuk menghasilkan modul bernuansa kontekstual sudah direvisi berdasarkan masukan dari para validator. Secara keseluruhan langkahlangkah pengembangan handout mengikuti prosedur penelitian four-d-models yang sudah dimodifikasi yang dapat diringkas seperti pada Gambar 1. Jenis data dalam penelitian ini berupa data primer. Data yang diperoleh langsung dari lembar validitas dan praktikalitas terhadap modul. Data validitas diperoleh setelah dilakukan validasi oleh validator dan data praktikalitas didapat dari hasil uji coba modul pada praktikalitas melalui angket. Angket uji validitas dan praktikalitas disusun menurut skala likert yang dengan 4 alternatif jawaban sebagai berikut: SS = sangat setuju dengan bobot 4 S = setuju dengan bobot 3 TS = tidak setuju dengan bobot 2 STS = sangat tidak setuju dengan bobot 1 Gambar 1. Langkah-langkah pengembangan handout mengikuti model four-d-models 74 Teknik analisis data yang digunakan adalah data kualitatif dalam bentuk deskriptif yang mendeskripsikan validitas dan praktikalitas modul pembelajaran eksperimen fisika yang dikembangkan. Analisis validitas modul berupa syarat didaktik, konstruksi, dan teknis berdasarkan lembar validasi dilakukan dengan beberapa langkah berikut :

a. Memberikan skor jawaban dengan kriteria berdasarkan skala Likert [10] sebagai berikut : 4 = sangat setuju 3 = setuju 2 = tidak setuju 1 = sangat tidak setuju b. Menentukan skor tertinggi Skor tertinggi = jumlah validator x jumlah indikator x skor maksimum c. Menentukan jumlah skor dari masingmasing validator dengan menjumlahkan semua skor yang diperoleh dari masing-masing indikator. d. Penentuan nilai validitas dengan cara: Nilai validitas = jumlahskor yangdiperoleh jumlahskor tertinggi x 100 % e. Memberikan penilaian validitas dengan kriteria seperti yang dikemukakan oleh Purwanto 90% - 100% = sangat valid 80% - 89% = valid 60% - 79% = cukup valid 0% - 59% = tidak valid Analisis praktikalitas modul bernuansa kontekstual Data uji praktikalitas penggunaan modul bernuansa kontekstual dianalisis dengan persentase (%), menggunakan rumus berikut ini: Nilai praktikalitas = Jumlahskor skormaksimum x 100 % Setelah persentase nilai praktikalitas diperoleh, dilakukan pengelompokan sesuai kriteria [10] berikut ini. 90%- 100% = sangat praktis 80% - 89% = praktis 65% - 79% = cukup praktis 55% - 64% = kurang praktis 0 %- 54% = tidak praktis III. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tahap Define (Pendefenisian) a. Analisis Kebutuhan 75 Berdasarkan hasil pengamatan, didapati bahwa mahasiswa masih kesulitan memahami materi pelajaran fisika, salah satunya mata kuliah eksperimen fisika. Hal ini dikarenakan peserta didik belum mampu menghubungkan antara apa yang dipelajari dengan bagaimana pengetahuan itu digunakan. Di sisi lain, keberadaan bahan ajar yang digunakan siswa yang sulit dipahami dan tampilannya yang kurang menarik juga turut mengurangi minat siswa dalam belajar. Pernyataan ini berdasarkan pengamatan hasil wawancara dengan dosen fisika STKIP PGRI Sumatera Barat dan mahasiswa pendidikan fisika tahun masuk 2013, didapati bahwa bahan ajar yang digunakan belum dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. b. Analisis Tugas Analisis tugas lebih difokuskan pada perincian KI dan KD untuk mata kuliah eksperimen fisika yang dijabarkan menjadi indikator. c. Analisis Konsep Pada mata kuliah eksperimen fisika, konsep yang teridentifikasi adalah fungsi dan sistem kerja alat optik dan pemahanman terhadap konsep gelombang. Setelah terindentifikasi konsep-konsep pada mata kuliah eksperimen fisika, dihasilkanlah tujuan praktikum yang diacu dari indikator pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dari pembelajaran eksperimen fisika. 2. Tahap Design (Perancangan) Pengembangan modul ini dibuat sesuai dengan langkah-langkah pengembangan yang telah disusun. Modul ini dibuat dengan menggunakan aplikasi Microsoft Office Power Point dan Microsoft Word. 3. Tahap Develop (Pengembangan) a. Validasi modul Validasi modul kontekstual dilakukan oleh 5 orang validator yang terdiri dari dosen program studi

pendidikan fisika dengan menggunakan angket validitas. Analisis hasil validitas secara ringkas ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Validasi modul Bernuansa Kontekstual No 1 2 3 4 Komponen Penilaian Kelayakan Isi Komponen Kebahasaan Komponen Penyajian Komponen Kegrafikan Nilai Validitas Kriteria 87% Valid 86% Valid 89,70% Sangat Valid 85,00% Valid Total 347,70% Valid Rata-rata 86,92% Keterangan: Validator 1 : Dra. Hj. Husna, M.Si Validator 2 : Silvi Trisna, M. Pd Validator 3 : Helendra, S.Si, M.Si Validator 4 : Mega Syani Anaperta, M. Pd Validator 5 : Iing Rika Yanti, M. Pd Hasil validasi pada Tabel 1 di atas menunjukkan nilai rata-rata sebesar 86,92% dengan kategori valid. Hal ini menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan telah valid baik dari segi aspek kelayakan isi, kebahasaan, penyajian, maupun aspek kegrafikan sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran. Pada tahap validasi modul terdapat saransaran dari para validator yang menjadi dasar pertimbangan untuk melakukan revisi modul bernuansa kontekstual. Saransaran dan perbaikan dari validator dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Saran Validator dan Perbaikan terhadap modul Bernuansa Kontekstual dengan Tampilan Majalah Val idat or 1 2 3 4 Saran a. Perlu direvisi penggunaan warna huruf. b. Perbaiki konsep yang salah. c. Perbaiki tata letak gambar dan lay out. a. Kompetensi inti belum ada b. Daftar Pustaka belum ada. a. Ilustrasi yang diberikan harus relevan, dapat dibaca tulisannya dan ukuran tidak terlalu kecil. b. Perbaiki beberapa konten materi yang masih meragukan. c. Gunakan huruf yang lebih formal. a. Pertanyaan pada akhir modulditambahkan b. Pertanyaan/ latihan divariasikan. Perbaikan ditambahkan ditambahkan diganti ditambahkan 76

5 a. Hilangkan gambar dan pewarnaan yang tidak diperlukan. b. Buatkan sumber gambar. c. Perhatikan warna huruf. dihilangkan ditambahkan diganti Sesuai saran dari validator, maka dilakukan revisi terhadap modul bernuansa kontekstual. Selanjutnya, modul bernuansa kontekstual yang telah direvisi diberikan kepada mahasiswa untuk dilakukan uji praktikalitas guna melihat tingkat kepraktisan dari modul yang dihasilkan. b. Praktikalitas Handout Uji praktikalitas modul bernuansa kontekstual dilakukan mahasiswa melalui angket praktikalitas. Data hasil angket praktikalitas. Tabel 3. Hasil Praktikalitas modul bernuansa kontekstual mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat. No Aspek Rata-rata Kriteria Nilai Praktikalitas 1 Kemudahan 86,51% Praktis Penggunaan 2 Waktu 81,00% Praktis Pembelajaran 3 Manfaat 82,76% Praktis Total 250,27% Rata-rata 83,42% Praktis Berdasarkan Tabel 3 dapat terlihat, bahwa nilai praktikalitas modul bernuansa kontekstual oleh mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat adalah 83,42% dengan kriteria praktis. Hal ini menunjukkan, bahwa modul bernuansa kontekstual dengan tampilan majalah yang dikembangkan praktis digunakan oleh siswa dalam pembelajaran. Validitas Modul Bernuansa Kontekstual Analisis data dari angket validitas modul bernuansa kontekstual 77 oleh validator yaitu dosen dan pengajar didasarkan pada empat aspek, yaitu kelayakan isi, kebahasaan, penyajian, dan kegrafikan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa modul bernuansa kontekstual yang dikembangkan memperoleh nilai rata-rata validitas sebesar 86,92% dan memiliki kriteria valid. Dari kelayakan isi, validator menilai 86,67% dengan kriteria valid, yang berarti materi pada modul bernuansa kontekstual telah sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan sesuai dengan tuntutan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) yang dijabarkan menjadi indikator pembelajaran. Modul yang dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku [4]. Kriteria valid untuk materi pada modul bernuansa kontekstual juga menunjukkan bahwa kebenaran substansi materi pada modul sudah baik. Kebenaran substansi ini perlu diperhatikan untuk menghindari kesalahan konsep dan pemahaman bagi mahasiswa. Dari segi komponen kebahasan, modul bernuansa kontekstual yang dikembangkan memiliki nilai rata-rata 86,00% dengan kategori valid. Komponen kebahasaan ini berkenaan dengan penggunaan kalimat yang jelas sehingga tidak menimbulkan kerancuan sehingga mudah dimengerti oleh mahasiswa. Kalimat yang digunakan dalam modul harus sederhana, jelas, dan efektif agar pelajar mudah memahaminya [5]. Ditinjau dari komponen penyajian, modul bernuansa kontekstual telah memuat indikator dan tujuan pembelajaran yang jelas. Materi pada modul bernuansa kontekstual juga telah disajikan secara lengkap sesuai dengan urutan pada indikator. Berdasarkan angket

validitas terungkap bahwa komponen penyajian memiliki nilai rata-rata 89,70% dengan kriteria valid. Kejelasan indikator tujuan pembelajaran akan memudahkan mahasiswa belajar secara terarah. Dengan ini diharapkan dalam pembelajaran mahasiswa dapat mengikuti pelajaran dengan spesifik sesuai dengan indikator dan tujuan pembelajaran. Sudjana [12] mengungkapkan bahwa bahan pelajaran harus sesuai dengan urutan dan menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Dari segi komponen kegrafikan, modul bernuansa kontekstual memiliki nilai validitas sebesar 85,00% dengan kriteria valid. Hal ini menandakan bahwa desain modul yang dikembangkan sudah baik dan menarik meliputi bentuk dan ukuran huruf yang sesuai, gambar yang disajikan menarik dan relevan dengan materi, serta pemilihan warna yang sesuai dan menarik. Modul yang menarik akan mudah menarik perhatian mahasiswa untuk menggunakannya. Secara keseluruhan nilai ratarata hasil uji validitas modul bernuansa kontekstual adalah 86,92% dengan kriteria valid. Hal ini membuktikan bahwa modul yang dikembangkan telah memenuhi keempat aspek dalam uji validitas berdasarkan penilaian dari para validator sehingga modul ini dapat digunakan baik sebagai media pembelajaran atau sebagai sumber belajar. Praktikalitas Modul Bernuansa Kontekstual Uji praktikalitas modul bernuansa kontekstual dilakukan kepada mahasiswa. Dalam uji praktikalitas ini melibatkan 20 orang mahasiswa program studi pendidikan fisika 78 STKIP PGRI Sumatera Barat. Analisis hasil praktikalitas terhadap modul oleh mahasiswa memiliki nilai rata-rata 83,42% dengan kriteria praktis. Nilai praktis ini merupakan rata-rata dari 3 aspek dalam uji praktikalitas yaitu kemudahan penggunaan, efisiensi waktu pembelajaran, dan manfaat modul. Ditinjau dari aspek kemudahan penggunaan, mahasiswa menilai modul bernuansa kontekstual memiliki nilai 86,51% dengan kriteria praktis. Hal ini menunjukkan bahwa modul telah memiliki petunjuk penggunaan yang jelas sehingga mahasiswa mengetahui langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam praktikum dan mudah dalam menggunakan modul. Sesuai dengan yang diungkapkan Ahmadi & Supriyono [6] bahwa semakin mudah bahan pelajaran makin cepatlah orang dalam mempelajarinya. Ditinjau dari segi efisiensi waktu pembelajaran, modul bernuansa kontekstual terbukti efisien bila digunakan dalam pembelajaran. Hal ini terlihat dari hasil praktikalitas oleh mahasiswa menilai 81.00% dengan kriteria praktis, Hal ini menunjukkan bahwa modul ini dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai salah satu petunjuk dalam pelaksanaan praktikum eksperimen fisika. Dari hasil angket praktikalitas juga terlihat bahwa mahasiswa merasa senang belajar dengan modul bernuansa kontekstual. Selain itu, modul juga membuat mereka tertarik untuk membacanya karena tampilan modul yang dibuat semenarik mungkin seperti ketepatan pemilihan warna, huruf, dan ilustrasi. Dengan demikian, hal ini

IV. telah menjadi jawaban atas kendala yang dihadapi pengajar dimana mahasiswa kurang termotivasi dalam membaca dan modul sebelum praktikum. Nurseto mengemukakan bahwa media pembelajaran yang dirancang secara baik akan sangat membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Secara keseluruhan, hasil analisis validitas dan praktikalitas modul bernuansa kontekstual dinyatakan valid dan praktis. Dengan dihasilkannya modul ini dapat menjawab permasalahan kelemahan modul yang digunakan pengajar dan belum adanya modul bernuansa kontekstual untuk mata kuliah eksperimen fisika. Modul ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu modul yang digunakan mahasiswa dan pengajar dalam pelaksanaan praktikum. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: 1. Proses pengembangan modul bernuansa kontekstual dilakukan dengan menggunakan 3 tahap dari model 4D yaitu define, design, dan develop. 2. Hasil uji validitas diperoleh nilai validitas sebesar 86,92% dengan kriteria valid. 3. Hasil uji praktikalitas modul bernuansa kontekstual mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat memiliki nilai rata-rata 83,42% dengan kriteria praktis. Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Kemendiknas. Prastowo, Andi. 2011. Panduan Kreatif Membuat bahan ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press. Arsyad, Azhar. 2010. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Johnson, Elaine B. 2007. Contextual Teaching & Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar- Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung: Kaifa Learning. Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Kencana. Riduwan. 2012. Pengantar Statistika Sosial. Bandung: Alfabeta. Purwanto, M. Ngalim. 2009. Prinsip- Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Budiningsih, Asri. 2008. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta. Sudjana, Nana. 2011. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. DAFTAR PUSTAKA Susilana, Rudi dan Cepi Riyana. 2009. Media Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima. Nurseto, Tejo. 2011. Membuat Media Pembelajaran yang Menarik. Online. Diakses 30 April 2013. 79