IV. Hasil dan Pembahasan

dokumen-dokumen yang mirip
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. cara ditempuh, antara lain memperhatikan dan mengatur makanan yang

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Manusia selalu berusaha untuk tetap sehat dan panjang umur dalam

BAB I PENDAHULUAN. nutrien untuk menumbuhkan bakteri yang diinginkan. Pembuatan kombucha, teh

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari seduhan tanaman teh ( Camelia sinensis ). Secara umum teh

khususnya dalam membantu melancarkan sistem pencernaan. Dengan kandungan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

2014 STUDI OPTIMASI PEMBUATAN KOMBUCHA DARI EKSTRAK TEH HITAM SERTA UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN

Fermentasi teh menggunakan campuran kultur campur bakteri dan khamir sehingga diperoleh cita rasa asam dan terbentuk lapisan nata Bahan lain

4. PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisik Ketebalan dan Rendemen pada Nata

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Uji Organoleptik Teh Kombucha Dari Berbagai Jenis Teh dan Waktu Fermentasi Yang Berbeda

BAB I PENDAHULUAN. membantu pencernaan. Kandungan kalori yang rendah pada Nata de Coco

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Effect of ammonium concentration on alcoholic fermentation kinetics by wine yeasts for high sugar content

I. PENDAHULUAN. untuk meningkatkan ekspor non migas. Selain itu juga kakao juga digunakan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Amerika misalnya, sebagian besar masyarakat menyukai minuman ini, sehingga

Pengaruh Pemanfaatan Molase Terhadap Jumlah Mikroba Dan Ketebalan Nata Pada Teh Kombucha

BAB I PENDAHULUAN. Bioetanol merupakan salah satu alternatif energi pengganti minyak bumi

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai negara kepulauan, umumnya daerah sepanjang pesisir pantai di

BAB I PENDAHULUAN. dan kandidiasis. Dermatomikosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh

Mikroorganisme dalam Industri Fermentasi

PENGARUH LAMA FERMENTASI DAN KONSENTRASI EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava) TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KOMBUCHA NASKAH PUBLIKASI

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan jaman, dunia pengobatan saat ini semakin

BAB 1V HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil uji Somogyi-Nelson pada substrat kulit buah kakao

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi jamur yang menyebabkan penyakit kulit dan kuku

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Koordinasi metabolisme mikrobial dan biokonversi

PEMANFAATAN BUAH TOMAT SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN NATA DE TOMATO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dicampurkan dengan bahan-bahan lain seperti gula, garam, dan bumbu,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hylocereus polyrhizuz kulit dan buahnya berwarna merah, Hylocereus

BAB I PENDAHULUAN. Buah ini memiliki ciri-ciri yang unik yaitu memiliki kulit seperti kulit naga. Buah naga

EFEK PEMBERIAN KOMBUCHA COFFEE TERHADAP KANDUNGAN KOLESTEROL DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus L) JANTAN YANG DIINDUKSI URIC ACID

KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus L) JANTAN YANG TERBEBANI KOLESTEROL SETELAH PEMBERIAN KOMBUCHA COFFEE

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Pengaruh Waktu Fermentasi Terhadap Sifat Fisik dan Kimia pada Pembuatan Minuman Kombucha dari Rumput Laut Sargasssum sp

I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Penelitian. Tabel 3. Pertumbuhan Aspergillus niger pada substrat wheat bran selama fermentasi Hari Fermentasi

STUDI KINETIKA FERMENTASI PADA TEH KOMBUCHA. Martina Andriani Fakultas Pertanian, Jurusan: Teknologi Hasil Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret

BAB II. latin menjadi natare yang berarti terapung-apung (Susanti,2006). Nata termasuk

FERMENTASI ETANOL DARI SAMPAH TPS GEBANG PUTIH SURABAYA

II. TINJAUAN PUSTAKA. banyak jumlahnya. Menurut Basse (2000) jumlah kulit pisang adalah 1/3 dari

SMA XII (DUA BELAS) BIOLOGI METABOLISME

I PENDAHULUAN. (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian, dan (1.7) Waktu dan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB VI PEMBUATAN NATA DE BANANA MENGGUNAKAN Acetobacter sp.

PENGARUH KONSENTRASI RAGI TERHADAP UJI ORGANOLEPTIK TAPE UBI JALAR

I PENDAHULUAN. Bab ini akan menguraikan mengenai :(1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN NATA DE CITRULLUS

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Pisang merupakan salah satu jenis buah yang digemari, selain rasanya

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bab IV Data dan Hasil Pembahasan

PENGARUH PENAMBAHAN GLISEROL TERHADAP KUALITAS BIOPLASTIK DARI AIR CUCIAN BERAS

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

II. TINJAUAN PUSTAKA. utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa, dan sumber

I. PENDAHULUAN. Bubur buah (puree) mangga adalah bahan setengah jadi yang digunakan sebagai

BAB III METODE PENELITIAN. selulosa Nata de Cassava terhadap pereaksi asetat anhidrida yaitu 1:4 dan 1:8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Calf starter merupakan susu pengganti (milk replacer) yang diberikan ke

BAB I PENDAHULUAN. selulosa yang dihasilkan oleh bakteri Acetobacter xylinum (Alwani et al., 2011).

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. banyak dimanfaatkan secara luas. Hasilnya 15,5 miliar butir kelapa per tahun

PROSIDING SEMINAR NASIONAL DUKUNGAN INOVASI TEKNOLOGI DALAM AKSELERASI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS INDUSTRIAL PEDESAAN. Malang, 13 Desember 2005

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Energi merupakan salah satu sumber kehidupan bagi makhluk hidup.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Karakteristik Sifat Fisik dan Kimiawi Susu Kambing Segar

I. PENDAHULUAN. Persediaan bahan bakar fosil yang bersifat unrenewable saat ini semakin

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Lama Fermentasi terhadap ph Medium Kombucha (Teh, Kopi, Rosela)

BAB I PENDAHULUAN. Pengembangan produk pangan menggunakan bahan baku kacang-kacangan

I. PENDAHULUAN. Ubi jalar merupakan jenis umbi-umbian yang dapat digunakan sebagai pengganti

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang Penelitian. beberapa manfaat salah satunya adalah sebagai probiotik. Hal ini

HASIL DAN PEMBAHSAN. 4.1 Pengaruh Tingkat Peggunaan Probiotik terhadap ph

NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh : PUJI ASTUTI A

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. asam asetat Acetobacter xylinum. Nata terbentuk dari aktivitas bakteri Acetobacter

PERTUMBUHAN JASAD RENIK

PEMBUATAN NATA DE COCO DAR I BEBERAPA KONSENTRASI "SKIM" SANTAN DAN SUKROSA

Media Kultur. Pendahuluan

HASIL DAN PEMBAHASAN. pertumbuhan dan kurva produksi yang menunjukkan waktu optimum produksi xilitol.

III. NUTRISI DAN MEDIUM KULTUR MIKROBA

Asam laktat (%)= V1 N BE FP 100% V2 1000

MIKROBIOLOGI INDUSTRI Memanfaatkan mo sbg kompnen untuk industri Produk mo dlm industri: zat kimia, antibiotik, zat tumbuh, enzim, makanan dan minuman

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI PEMBUATAN NATA DARI ANEKA BUAH-BUAHAN

7 HIDROLISIS ENZIMATIS DAN ASAM-GELOMBANG MIKRO BAMBU BETUNG SETELAH KOMBINASI PRA-PERLAKUAN SECARA BIOLOGIS- GELOMBANG MIKRO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan energi dunia saat ini telah bergeser dari sisi penawaran ke sisi

Transkripsi:

IV. Hasil dan Pembahasan 4.1. Keasaman Total, ph. Ketebalan Koloni Jamur dan Berat Kering Sel pada Beberapa Perlakuan. Pada beberapa perlakuan seri pengenceran kopi yang digunakan, diperoleh data ph dan keasamanan total larutan hasil fermentasi, ketebalan koloni jamur dan berat kering yang disajikan dalam bentuk diagram dan tabel 1 di bawah ini : Tabel 1. Hasil Pengukuran ph, Keasaman Total, Ketebalan Jamur dan Berat Kering No Perlakuan Berat ph Keasaman Ketebalan Kering Awal Total (%) Jamur (cm) (gram) 1 A 5.26 55.16 0.33 2.76 2 B 5.24 115.94 0.28 2.20 3 C 5.23 145.27 0.28 2.15 4 D 5.22 158.01 0.26 1.97 5 E 5.21 145.84 0.22 1.83 Keterangan : A : Pengenceran 2.5g/250ml B : Pengenceran 4.5g/250ml C : Pengenceran 6.5g/250ml (Kontrol) D : Pengenceran 8.5g/250ml E : Pengenceran 10.5g/250ml Dari tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa pengenceran kopi tidak memberikan perbedaan ph yang signifikan, rata-rata ph adalah 5.23. Keasaman total pada perlakuan A adalah 55.16% merupakan total asam paling rendah, perlakuan B 11.954%, perlakuan C 145.27%, perlakuan D 158.01% merupakan total asam paling tinggi, dan perlakuan E 145.84%. Ketebalan jamur paling besar adalah pada perlakuan A dengan ketebalan 0.33 cm, perlakuan B dan C 0.28cm, perlakuan D 0.26cm, dan perlakuan E yang paling kecil setebal 0.22cm. Berat kering jamur berbanding lurus dengan ketebalan jamur 12

yaitu perlakuan A 2.76g, perlakuan B 2.20g, perlakuan C 2.15g, perlakuan D 1.97g dan perlakuan E 1.83g. Menurut Sreeramulu (2000) dalam proses fermentasi oleh jamur kombu, glukosa diubah menjadi berbagai jenis asam, vitamin dan alkohol oleh bakteri Acetobacter xylinum. Selain glukosa juga dihasilkan fruktosa yang berasal dari inversi sukrosa (gula tebu yang ditambahkan ke dalam media) oleh khamir. Pembentukan etanol dilakukan oleh khamir dan pembentukan selulosa oleh Acetobacter xylinum. Glukosa dikonversi menjadi asam glukonat melalui jalur fosfat pentosa oleh bakteri asam asetat, sebagian besar fruktosa diubah menjadi asam asam organik. Sel kapang akan menghidrolisis sukrosa membentuk glukosa dan fruktosa untuk produksi ethanol, sedangkan bakteri akan mengkonversi glukosa membentuk asam glukonat dan fruktosa dikonversi membentuk asam asetat. Acetobacter sp dalam kultur kombu mengoksidasi etanol menjadi asetaldehid selanjutnya menjadi asam asetat. Akumulasi dari masingmasing metabolit selain membentuk asam glukuronat, asam laktat, vitamin juga akan menghasilkan asam-asam amino, antibiotik, serta zat-zat lain. Asam klorogenetik atau asam klorogenat yang dihasilkan akan mengurangi efek kafein yang terdapat di dalam kopi. Selain itu asam klorogenetik juga berperan sebagai antioksidan yang dapat melawan molekul-molekul radikal bebas dan perusak sel kanker (Allen, 1998). % Keasaman 200 150 100 50 55.16 115.94 145.29 158.01 145.84 0 2.5g/250ml 4.5g/250ml 6.5g/250ml 8.5g/250ml 10.5g/250ml Perlakuan Pengenceran Kopi Diagram 1. Histogram Kadar Keasaman Total pada Fermentasi Kopi Kombucha 13

Dari tabel 1 dan diagram 1 di atas dapat diketahui bahwa nilai keasaman total paling tinggi dihasilkan pada pengenceran 8,5g/250ml, dan yang paling rendah berada pada pengenceran 2,5g/250ml. Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh dari media kopi dalam proses metabolisme jamur kombu, karena konsentrasi gula yang digunakan dalam setiap perlakuan sama. Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Suryono (2012) dapat diketahui bahwa kafein bersifat asam dengan ph 6.9 dan bersifat sebagai inhibitor pertumbuhan mikroba. Dari penelitian yang dilakukan dengan menumbuhkan Acetobacter xylinum dan Sacharomyces cerevisiae, Sacharomyces ludwigii, pada medium kopi yang telah dihilangkan kafeinnya (decaffeinated) didapatkan pengukurun kadar alkohol, kadar gula pereduksi dan total asam tertitrasi yang lebih tinggi daripada seduhan dari kopi robusta dan arabika yang mengandung kadar kafein lebih tinggi. Rendahnya nilai pengenceran menyebabkan total kafein dalam larutan kopi juga lebih kecil jika dibandingkan dengan pengenceran 10.5g/250ml, sehingga pada pengenceran 2.5g/250ml jamur kombu lebih efektif dalam memulai proses fermentasi. Keefektifan dalam proses fermentasi juga ditandai dengan berat kering jamur pada pengenceran 2.5g/250ml adalah yang paling besar yaitu rata-rata sebesar 2.75g dibandingkan dengan pengenceran 10.5g/250ml yang hanya rata-rata sebesar 1.86 g. Meskipun total asam yang dihasilkan pada pengenceran 2.5g/250ml berbanding terbalik dengan ketebalan dan berat kering jamur, hal tersebut dapat dipahami karena dalam jamur kombu juga terdapat bakteri Actobacter xylinum. Asam asetat yang dihasilkan selama proses fermentasi akan kembali dioksidasi lebih lanjut oleh Acetobacter xylinum ketika jumlah gula dalam media kopi mulai habis. Menurut Mandel (2004) bakteri Acetobacter xylinum bersifat overoxidizer yaitu dapat mengubah asam asetat dalam medium fermentasi menjadi CO 2 dan H 2 O, apabila gula dalam medium fermentasi telah habis dimetabolisir, sehingga konsentrasi asam asetat dalam kombucha hanya meningkat sampai batas tertentu lalu mengalami penurunan, tetapi selaput selulosa akan terus tumbuh. Kopi yang merupakan media serta gula yang menjadi substrat pertumbuhan jamur kombu, digunakan lebih cepat pada pengenceran 2.5g/250ml. Asam asetat 14

dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum sebagai substrat agar tercipta kondisi yang optimum untuk pertumbuhannya dan untuk membentuk CO 2 dan H 2 O. Total asam pada pengenceran 8.5g/250ml lebih tinggi selain dikarenakan adanya konsentrasi asam karboksilat yang terlarut, kandungan kafein, juga adanya pembentukan asam laktat dari proses fermentasi sehingga meningkatkan nilai total asam meskipun akan kembali turun jika nilai kepekatannya terlalu tinggi, karena kehadiran kafein juga akan menghambat proses fermentasi oleh jamur kombu terutama bakteri Acetobacter xylinum, dalam proses awal pertumbuhannya. Asam asetat yang tadinya telah terbentuk pada pengenceran 2.5g/250ml kembali difermentasi oleh bakteri Acetobacter xylinum, sehingga pada saat pengukuran keasaman total, nilai asam pada pengenceran 2.5g/250ml menjadi kecil. Pada pengamatan diketahui, bahwa lapisan jamur kombu sudah terbentuk agak tebal pada pengenceran 2.5g/250ml dihari ke 3 setelah perlakuan, sedangkan pada pengenceran 10.5g/250ml, masih terlihat seperti selaput tipis. Adanya perbedaan antara total asam dan ketebelan jamur diduga dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah laju fermentasi dari jamur kombu itu sendiri. Berat Kering jamur (gram) 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 2.76 2.2 2.15 1.97 1.83 0 2.5g/250ml 4.5g/250ml 6.5g/250ml 8.5g/250ml 10.5g/250ml Perlakuan Aplikasi Kopi Diagram 2. Berat Kering Jamur Kombu 15

Ketebalan Jamur (cm) 0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0.33 0.28 0.28 0.26 0.22 2.5g/250ml 4.5g/250ml 6.5g/250ml 8.5g/250ml 10.5g/250ml Perlakuan Aplikasi Kopi Diagram 3. Ketebalan Jamur Bakteri asam laktat dalam kultur kombu yaitu Acetobacter xylinum juga menggunakan glukosa untuk mensintesis selulosa mikrobia yang secara morfologi terlihat seperti gumpalan jeli atau nata putih. Ketebalan satu lapisannya 0,3-1,2 cm dan terbungkus selaput liat. Dalam penelitian ini, ketebalan yang paling besar ditemukan pada kontrol U 2 yang memiliki ketebalan hingga 0.5 cm. Fruktosa yang masih tertinggal sebagian dalam media fermentasi akan diubah menjadi bentuk yang lebih sederhana oleh mikroorganisme sehingga dapat digunakan sebagai substrat fermentasi. Kultur dalam waktu bersamaan juga menghasilkan asamasam organik lainnya, jika nutrisi dalam medium telah habis dikonsumsi, kultur akan berhenti tumbuh tetapi tidak mati. Kultur akan aktif lagi jika memperoleh nutrisi kembali. Bakteri asam asetat memanfaatkan etanol untuk tumbuh dan memproduksi asam asetat. Adanya asam asetat akan menstimulasi khamir untuk memproduksi etanol kembali. Interaksi simbiosis ini ditemukan pada Glukonobacter dan Saccharomyces cerevisiae. Menurut Kihlman (2007) walaupun aktivitas khamir dan bakteri dapat terhambat oleh adanya kafein dan asam organik pada kopi, konsumsi sumber karbon pada khamir belum tentu juga terhambat. Menurut Baranowski dkk. (2004), asam klorogenat dapat menghambat bakteri gram positif maupun negatif. Konsumsi sumber karbon C 14 dari leusin pada khamir kafein dapat menghambat 16

konsumsi sumber karbon tersebut oleh galur yang satu tapi sebaliknya dapat merangsang konsumsi sumber karbon oleh galur yang lain. Hal ini menjelaskan tetap terbentuknya lapisan selulosa pada pengenceran 10.5g/250ml walaupun tidak setebal pada pengenceran yang lebih kecil. Pada fermentasi teh atau kopi terdapat nutrisi-nutrisi yang dapat membuat Acetobacter xylinum tumbuh dan membentuk selulosa. Acetobacter xylinum menghasilkan selulosa sebagai produk metabolit sekunder, sedangkan produk metabolit primernya adalah asam asetat. Semakin banyak kadar nutrisi, semakin besar kemampuan menumbuhkan bakteri tersebut maka semakin banyak Acetobacter xylinum dan semakin banyak selulosa yang terbentuk. Faktor-faktor pertumbuhan yang mempengaruhi kemampuan Acetobacter xylinum menghasilkan selulosa selain ketersediaan nutrien pada medium, juga ph medium antara 3-6, suhu lingkungan antara 20-28 C. Menurut Multazam (2009), ada beberapa tahap dalam biosintesis selulosa yaitu aktivasi monomer, transfer monomer teraktivasi dari dalam sel ke luar sel dan penyusunan polimer. Enzim yang terlibat dalam sintesis selulosa tertambat dan terikat pada membran sel sehingga laju sintesis tidak turun dengan adanya pencucian. Nutrisi dan ion-ion tertentu yang dapat mengkatalisasi aktivitas bakteri sangat depengaruhi oleh sintesis polisakarida oleh bakteri. Peningkatan konsentrasi nitrogen dalam subtrat dapat meningkatkan jumlah polisakarida yang terbentuk, sedangkan ion-ion bivalen seperti Mg 2+ dan Ca 2+ diperlukan untuk mengontrol kerja enzim ektraseluler dan membentuk ikatan dengan polisakarida tersebut. Aktivitas pembuatan nata hanya terjadi pada kisaran ph antara 3,5-7,5, sedangkan ph optimum untuk pembentukan nata adalah 4. Suhu yang memungkinkan untuk pembentukan nata adalah pada suhu kamar antara 28-32 0 C (Multazam, 2009). 17

4.2. Hasil Uji Organoleptik pada Beberapa Sampel Dari hasil uji organoleptik dengan 30 responden yang diambil secara acak, baik dari wanita maupun laki-laki didapatkan presentasi nilai per indikator yang dimuat dalam bentuk tabel dan diagram sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Uji Organoleptik per Indikator Rasa No Perlakuan Warna(%) (%) Bau(%) 1 A 47.33 43.33 50.67 2 B 49.33 54.67 55.33 3 C 51.33 58.67 57.33 4 D 56.67 74 64.67 5 E 62 81.33 59.33 Keterangan : A : Pengenceran 2.5g/250ml B : Pengenceran 4.5g/250ml C : Pengenceran 6.5g/250ml (Kontrol) D : Pengenceran 8.5g/250ml E : Pengenceran 10.5g/250ml Tabel 3. Hasil Total Uji Organoleptik No Perlakuan Nilai Total (%) 1 A 47.11 2 B 51.78 3 C 54.44 4 D 64.67 5 E 67.78 Keterangan : A : Pengenceran 2.5g/250ml B : Pengenceran 4.5g/250ml C : Pengenceran 6.5g/250ml (Kontrol) D : Pengenceran 8.5g/250ml E : Pengenceran 10.5g/250ml 18

% Kesukaan Responden (30 Orang) 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 64.67 67.78 47.11 51.78 54.44 50.67 55.33 57.33 64.67 59.33 43.33 54.67 58.67 74 81.33 47.33 49.33 51.33 56.67 62 Rasa (%) Warna (%) Bau (%) Nilai Total Perlakuan Pengenceran Kopi Diagram 4. Skor Uji Organoleptik per Indikator Uji hedonik atau uji kesukaan diperlukan untuk mengetahui selera konsumen terhadap produk fermentasi kopi kombu ini. Walaupun pertumbuhan jamur paling baik pada pengenceran 2.5g/250ml, tetapi ternyata konsumen lebih menyukai hasil fermentasi dari pengenceran 10.5g/250ml. Hasil ini dapat diterapkan dalam industri, di mana untuk mengembangbiakkan jamur maka dapat digunakan pengenceran 2.5g/250ml, tetapi untuk produk yang ingin dijual maka bisa digunakan pengenceran 8.5 atau 10.5g/250ml. Hal ini juga menjadi sangat penting karena produk dari hasil fermentasi kopi ini akan dinikmati atau dikonsumsi oleh manusia Ditinjau satu per satu dari segi indikator yang diujikan dalam uji hedonik, dari diagram 1 dapat diketahui bahwa untuk bau lebih banyak disukai adalah pada pengenceran 8.5g/250 ml, sedangkan untuk warna dan rasa paling banyak disukai pada pengenceran 10.5g/250ml. Aroma kopi akan semakin hilang seiring dengan naiknya nilai pengenceran. Semakin pekat larutannya maka aroma kopi ataupun aroma asam juga semakin sulit untuk dideteksi indra penciuman, sehingga dua nilai pengenceran terakhir yaitu 8.9g/250ml dan 10.5 g/250ml mendapatkan nilai tertinggi dalam skor bau. Dalam beberapa penelitian fermentasi kombucha menggunakan media teh, L-theanine dan asam-asam amino yang lain yang berperan dalam terbentuknya aroma teh secara perlahan tidak dapat terdeteksi lagi ciri 19

khas aromanya, karena L-theanine telah bereaksi dengan komponenkomponen teh lainnya sehingga mengurangi aroma khas pada teh. Hal ini juga diduga terjadi dalam media yang menggunakan kopi, di mana semakin pekat pengencerannya maka semakin hilang khas kopinya (Dufresne dan Farnworth, 2000). Ditinjau dari hasil penghitungan nilai total uji organoleptik semua indikator yang diujikan, maka diketahui bahwa 10.5g/250ml mendapatkan nilai paling tinggi, yaitu sebesar 67.78%. Dari penelitian ini juga diketahui bahwa dalam merasakan indikator-indikator yang diujikan, perbedaan antara wanita dan pria tidak terlalu menonjol, walaupun sebagian besar peserta perempuan sangat tidak menyukai rasa asam pada kopi. 20