BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah warga Indonesia yang berobat ke luar negeri terus bertambah. Keunggulan teknologi, kemampuan medik, dan keramahan layanan masih menjadi alasan pendorong. Setiap tahun, trilyunan rupiah devisa negara mengalir ke negaranegara tetangga. Pemerintah tidak bisa menyalahkan rakyat yang ingin berobat ke luar negeri. Di Indonesia, pasien belum dianggap sebagai mitra pengobatan, melainkan masih sebatas obyek, kata Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany,Kompas, Rabu (6/3), di Jakarta. Meski sejumlah rumah sakit pemerintah dan swasta gencar mengembangkan layanan kelas VIP (very important person) dan super-vip, kata Hasbullah, persepsi pasien Indonesia atas buruknya layanan rumah sakit tidak berubah. Modernisasi hanya terjadi pada penyediaan ruang dan peralatan medik, tetapi profesionalitas dan kemampuan tenaga medik dan pendukungnya belum tertata baik. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Henky Hermantoro, dalam Medical Excellence Japan Seminar: Indonesia-Japan Medical Collaboration, Kompas, Sabtu (23/2), menyebut, ada 600.000 warga Indonesia berobat ke luar negeri pada 2012. Biaya yang mereka keluarkan mencapai 1,4 miliar dollar Amerika Serikat atau setara Rp 13,5 triliun. Jumlah ini menunjukkan peningkatan berarti dibandingkan dengan tahun 2006. Saat itu, ada 315.000 orang berobat ke luar negeri dengan total pembelanjaan mencapai 500 juta dollar AS (setara Rp 4,8 triliun dengan nilai tukar saat ini). 1
2 Malaysia saat ini memang tergolong sukses dalam menyediakan program wisata kesehatan bagi penduduk Indonesia, yang sangat mendambakan layanan prima dengan harga murah. Situs malaysiahealthcare.com mencatat kunjungan turis untuk wisata kesehatan Malaysia ini secara statistik terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007 saja tercatat 386.000 turis yang berobat ke Malaysia, dan meningkat menjadi 410.000 pada tahun 2009. Dari total kunjungan wisata berobat itu, 70 persennya adalah dari Indonesia. Data lainnya menyebutkan jumlah pasien Indonesia yang berobat di RS Lam Wah Ee Malaysia mencapai 12.000 pertahun atau sekitar 32 pasien perhari. Di RS Adventist Malaysia jumlah pasien Indonesia yang terjaring mencapai 14.000 pertahun atau sekitar 38 pasien perhari. Warga Sumatera Utara dan sekitarnya yang berobat ke Penang, Malaysia, mencapai 1000 orang setiap bulannya. Direktur Janderal Bina Pelayanan Medis Departemen Kesehatan menyatakan, orang Indonesia lebih memilih berobat ke luar lantaran kurangnya sarana medik, rendahnya tingkat kepercayaan pasien, dan minimnya perhatian dokter, hal tersebut telah menjadi masalah tersendiri bagi Pemerintah, bukan hanya berpengaruh terhadap masalah ekonomi tetapi juga menyangkut harga diri bangsa. Dari data dan fakta di atas dapat diambil beberapa poin penting: 1. Dari waktu ke waktu, semakin banyak warga negara Indonesia yang berobat ke luar negeri. Keberangkatan mereka tentu dengan membawa sejumlah dana yang sangat besar. Bila saja dana tersebut tidak lari ke luar negeri, dapat dipastikan dana tersebut dapat digunakan untuk peningkatan kesejahteraan tenaga pelayanan kesehatan di dalam negeri. 2. Kepergian mereka menandakan bahwa ada sesuatu yang salah dari pelayanan kesehatan yang diselenggarakan di Indonesia. Mereka pergi ke luar negeri
3 karena tidak puas dengan pelayanan yang sepatutnya mereka terima di Indonesia. Hal tersebut membuat presiden mengungkapkan keprihatinannya. Negara tetangga kita seperti Singapore, Malaysia kemudian menyusul Thailand memang menawarkan pelayanan kesehatan yang lengkap dan unggul, dengan jumlah tenaga kesehatan yang sangat banyak, kompeten serta fasilitas diagnostik dan perawatan terbaru yang canggih. Dengan modal tersebut mereka tentu saja amat percaya diri mengundang pasien dari negara sekitarnya untuk menikmati layanan yang mereka tawarkan. Ditambah lagi dari sisi biaya mereka sangat efisien sehingga bila dibandingkan dengan biaya berobat di negara asalnya maka tidak akan jauh berbeda, namun pasien akan mendapatkan pelayanan yang lebih profesional. Hal tersebut ditambah fakta bahwa Malaysia adalah juga surga wisata belanja, menjadikan kesehatan menjadi komoditas baru yang sangat potensial, yang kemudian dikemas menjadi wisata medis. Sehubungan dengan sarana transportasi di Malaysia, bahwa transportasi yang ada saat ini dirasa masih kurang memadai bagi pasien, dari sisi harga transportasi tersebut terbilang cukup mahal, pelayanan driver yang kurang empati dan sarana mobil yang kurang memadai, dikarenakan pasien harus bersusah payah untuk naik ke dalam mobil dan juga barang bawaan pasien yang relatif tidak sedikit. Seseorang atau perusahaan dalam memahami perilaku konsumen bukanlah suatu pekerjaan yang mudah karena banyaknya variabel yang saling berinteraksi. Perilaku konsumen merupakan proses yang kompleks dan multi dimensional, yang mencakup proses pengambilan keputusan dan kegiatan yang dilakukan konsumen secara fisik dalam pengevaluasian, perolehan penggunaan atau mendapatkan barang dan jasa. Jadi di dalam menganalisis perilaku konsumen tidak hanya menyangkut faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan keputusan kegiatan, akan tetapi juga meliputi proses pengambilan keputusan yang menyertainya. Mengingat saat ini Malaysia menjadi destinasi utama masyarakat Indonesia untuk berobat. Hal itu mendasari kami untuk membuat satu perusahaan jasa pelayanan transportasi kesehatan bagi pasien yang ingin berobat ke Malaysia. Dilihat
4 dari peluang dan pasar yang signifikan, Oleh karena itu kami PT. Kriya Tiara Artistika sebagai Holding Company membuat sebuah anak perusahaan baru dalam bidang yang terfokus pada pelayanan jasa transportasi kesehatan. 1.2 Ruang Lingkup Ruang lingkup yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah: Menganalisa proses bisnis dan strategi marketing Globalteksi. Perancangan sistem e-marketing untuk membantu dalam proses pemasaran Globalteksi. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian dalam skripsi ini adalah: Menganalisis bisnis Globalteksi Menganalisa strategi marketing Globalteksi. Memanfaatkan peluang dari kemajuan teknologi informasi dengan menggunakan e-marketing. Merancang e-marketing sebagai media pemasaran bagi perusahaan dalam melakukan proses pemasarannya. 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian dalam skripsi ini adalah: 1. Bagi Perusahaan Mempermudah perusahaan dalam berkomunikasi dan menyalurkan informasi-informasi baru kepada para calon pembeli dengan menggunakan aplikasi e-marketing yang dirancang pada Globalteksi.
5 Memberikan suatu keunggulan kompetitif pada perusahaan dan diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan output penjualan yang ditawarkan, yang nantinya didapatkan dari terciptanya sistem pemasaran yang lebih baik dan efektif dari sebelumnya. Memberikan penciptaan produk yang baik dimata para pelanggan dan pengunjung situs yang dapat mengetahui deskripsi dan informasi dari produk yang dijual tersebut. 2. Bagi Pelanggan Pelanggan mendapatkan informasi dengan lebih mudah mengenai wisata kesehatan Globalteksi,mengenai produk yang ditawarkan. 1.5 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini secara garis besar terbagi atas 5 bab yaitu : BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan secara garis besar mengenai penulisan skripsi ini, dan isi dalam skripsi ini memuat latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat, serta sistematika penulisan. BAB 2 LANDASAN TEORI Bab ini berisikan penjelasan mengenai landasan teori yang berupa tentang pengertian marketing, e-marketing, teknologi, internet, dan teori-teori pendukung yang menunjang skripsi ini. BAB 3 ANALISIS BISNIS Bab ini menjelaskan metode analisis dan metode perancangan yang digunakan.
6 BAB 4 PERANCANGAN SISTEM Bab ini membahas Analisis E-marketing dan merancang website serta menerapkan strategi dan fitur pada website. BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisikan simpulan yang diperoleh dari tujuan penelitian berupa hasil analisa mengenai strategi e-marketing baik saran dan usulan-usulan yang diberikan kepada perusahaan.