MODEL DATA SPASIAL DALAM SIG

dokumen-dokumen yang mirip
PEMANFAATAN DATA SPACIAL UNTUK REFRENSI KERUANGAN

Sistem Informasi Geografis (AK ) MODEL DATA SPASIAL

SISTEM INFORMASI GEOGRAFI. Data spasial direpresentasikan di dalam basis data sebagai vektor atau raster.

3/17/2011. Sistem Informasi Geografis

Tujuan. Model Data pada SIG. Arna fariza. Mengerti sumber data dan model data spasial Mengerti perbedaan data Raster dan Vektor 4/7/2016

Karena tidak pernah ada proyek yang dimulai tanpa terlebih dahulu menanyakan: DIMANA?

Pengertian Sistem Informasi Geografis

Model Data Spasial. by: Ahmad Syauqi Ahsan

Apa itu DATA? Apa bedanya DATA & INFORMASI?

Informasi Geografis untuk Kepadatan Lalu Lintas

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENENTUAN JALUR JALAN OPTIMUM KODYA YOGYAKARTA

Sistem Informasi Geografis. Widiastuti Universitas Gunadarma 2015

KONSEP MANAJEMEN BASIS DATA Sistem Informasi Geografis

INFORMASI GEOGRAFIS DAN INFORMASI KERUANGAN

SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA LAHAN

Model Data GIS. Arif Basofi PENS 2014

Sistem Informasi Geografis. Model Data Spasial

LAYERING INFORMASI PETA DAN TABULASI UNTUK INFORMASI KEPADATAN LALU LINTAS

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENENTUAN JALUR JALAN OPTIMUM KODYA YOGYAKARTA MENGGUNAKAN ALGORITMA DIJKSTRA

Sistem Infornasi Geografis, atau dalam bahasa Inggeris lebih dikenal dengan Geographic Information System, adalah suatu sistem berbasis komputer yang

Pengantar Sistem Informasi Geografis O L E H : N UNUNG P U J I N U G R O HO

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENENTUAN JALUR JALAN OPTIMUM KODYA YOGYAKARTA MENGGUNAKAN ALGORITMA DIJKSTRA

SISTEM INFORMASI SUMBERDAYA LAHAN (Kuliah ke 12)

Session_02 February. - Komponen SIG - Unsur-unsur Essensial SIG. Matakuliah Sistem Informasi Geografis (SIG)

A. Pendahuluan Sistem Informasi Geografis/GIS (Geographic Information System) merupakan bentuk cara penyajian informasi terkait dengan objek berupa

BAB V DUNIA NYATA DAN SIG

BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Geogrhafic Information System (GIS) 2. Sejarah GIS

K NSEP E P D A D SA S R

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI. atau instruksi-instruksi yang diformalkan dan sesuai untuk komunikasi,

BAB II TEORI DASAR. Beberapa definisi tentang tutupan lahan antara lain:

Model Citra (bag. I)

UJIAN TENGAH SEMESTER GANJIL 2013/2014

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Geographic Information and Spatial Information

Tujuan. Dunia Nyata dan SIG. Arna fariza. Mengubah dunia nyata menjadi informasi geografis di komputer 3/17/2016

BAB II DASAR TEORI PENELITIAN

KONSEP PENGELOLAAN BASIS DATA

Gambar 3.1. Semut dalam Proses menemukan sumber makanan

BAB 2 LANDASAN TEORI

Tujuan. Data dan SIG. Arna fariza. Mengerti data dan informasi Mengerti tentang sistem informasi geografis 3/8/2016

Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika FT UGM TGGM KARTOGRAFI DIGITAL. Oleh Gondang Riyadi. 21 March 2014 Kartografi - MGR

BAB 2 TINJAUAN TEORI

BAB 2 TEORI DASAR. 2.1 Pemodelan Basis Data

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II LANDASAN TEORI

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 8. SUPLEMEN PENGINDRAAN JAUH, PEMETAAN, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)LATIHAN SOAL 8.3.

SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS) Oleh : Djunijanto

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.59/Menhut-II/2013 TENTANG TATA CARA PENETAPAN BATAS DAERAH ALIRAN SUNGAI

17.2 Pengertian Informasi Geografis

BAB II DASAR TEORI 2. 1 Fotogrametri

Pengumpulan dan Integrasi Data. Politeknik elektronika negeri surabaya. Tujuan

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a) Purwadhi (1994) dalam Husein (2006) menyatakan: perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan data, serta

BAB II DASAR TEORI 2.1 Populasi Penduduk 2.2 Basis Data

III METODOLOGI. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Mendeteksi Kebakaran Hutan Di Indonesia dari Format Data Raster

GIS UNTUK PENATAAN DAN MANAJEMEN TATA RUANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PRAKTIKUM INTERPRETASI CITRA DIJITAL. Ratna Saraswati

BAB 3 LANDASAN TEORI

Kuliah ke 9 Data Spasial

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS - PENGENALAN AWAL MENGENAI SIG & KONSEP DASAR SIG OUTLINE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II CITRA DIGITAL

PERBANDINGAN FUNGSI SOFTWARE ARCGIS 10.1 DENGAN SOFTWARE QUANTUM GIS UNTUK KETERSEDIAAN DATA BERBASIS SPASIAL

12/19/2011. Polygon Arc Topology SPATIAL DATABASE MANAGEMENT. Konektivitas (Arc Node Topology) & Contiguity:

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS: Prinsip Dasar dan Pengembangan Aplikasi

BAB III. Istilah data dan informasi sering digunakan secara bergantian dan saling tertukar, meskipun keduanya memiliki konsep yang berbeda.

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS KOTA BEKASI UNTUK KANTOR PEMERINTAHAN DAN JALUR TRANSPORTASI KRL ABSTRAK

[Type the document title]

Dunia Nyata dan SIG. by: Ahmad Syauqi Ahsan

Data Spasial. Pendahuluan. Pengertian Data Spasial. Dhani Gumelar Lisensi Dokumen: Copyright IlmuKomputer.

Sistem Informasi Geografis (SIG) Geographic Information System (SIG)

Modul Praktikum Geographic Information System 1. Oleh Team Asisten

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Meter Air. Gambar 2.1 Meter Air. Meter air merupakan alat untuk mengukur banyaknya aliran air secara terus

IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENENTUAN JALUR JALAN OPTIMUM KODYA YOGYAKARTA MENGGUNAKAN ALGORITMA DIJKSTRA

BAB IV BASIS DATA SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI DAERAH PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Remote Sensing (Penginderaan Jauh)

PENGEMBANGAN PROTOTIPE SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENYEBARAN RUTE ANGKUTAN UMUM KOTA SEMARANG

PEMBUATAN MODEL TIGA DIMENSI (3D) SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) UNTUK VISUALISASI WILAYAH KOTA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Coding SIG

BAB III METODA. Gambar 3.1 Intensitas total yang diterima sensor radar (dimodifikasi dari GlobeSAR, 2002)

Data, Informasi, Sistem Informasi, dan SIG. by: Ahmad Syauqi Ahsan

Model Citra (bag. 2)

BAB II LANDASAN TEORI

APLIKASI WEB DATA SPASIAL KEPENDUDUKAN INDONESIA DENGAN SCALABLE VECTOR GRAPHICS (SVG)

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .

BAB 2 DASAR TEORI Land Use dan Land Cover

Computer Graphic. Output Primitif dan Algoritma Garis. Erwin Yudi Hidayat. Computer Graphics C Version 2 Ed by Donald Hearn

BAB 2 TINJAUAN TEORI. 2.1 Definisi Sistem Informasi Geografis (SIG)

Pengantar Teknologi. Informasi (Teori) Minggu ke-11. Geogrphical Information System (GIS) Oleh : Ibnu Utomo WM, M.Kom UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

10/10/2017. Teknologi Display SISTEM KOORDINAT DAN BENTUK DASAR GEOMETRI (OUTPUT PRIMITIF) CRT CRT. Raster Scan Display

MANAJEMEN DATA INPUT DATA

Transkripsi:

BAB VII MODEL DATA SPASIAL DALAM SIG 7.1 PENDAHULUAN Model dunia nyata dapat memudahkan manusia dalam studi area aplikasi yang dipilih dengan cara mereduksi sejumlah kompleksitas yang ada. Jika model dunia nyata ini akan digunakan, model ini harus diimplementasikan di dalam basis data. Komputer tidak dapat mengerti mengenai esensi dari bentuk bangunan, batas-batas tanah milik, batas administrasi, garis-garis jalan raya, dll. Untuk mempresentasikannya komputer hanya memanipulasi objek dasar atau entity yang memiliki atribut geometri. Bentuk representasi entity spasial adalah konsep vekor dan raster. Dengan demikian, data spasial direpresentasikan di dalam basisdata sebagai vektor atau raster, sehingga untuk menyajikan entity spasial digunakan model data raster atau vektor. 7.2 MODEL DATA RASTER Model data raster menampilkan, menempatkan, dan menyimpan data spasial dengan menggunakan struktur matriks atau piksel-piksel yang membentuk grid. Setiap piksel memiliki atribut tersendiri, termasuk koordinatnya yang unik (di pojok, pusat, atau ditempat lain dalam grid). Akurasi model ini sangat tergantung pada resolusi atau ukuran pikselnya dipermukaan bumi. Entity spasial raster di dalam layers yang secara fungsionalitas direlasikan dengan unsure-unsur petanya. Contoh unsur spasial raster adalah citra satellite (NOAA, spot, Landsat, Ikonos, dll), citra rada, dan model ketinggian digital (DTM). Gb. 7.1. Permukaan bumi dan layers pada model data raster 7. Data Spasial SIG Hal. 1 / 11

Model data raster memberikan informasi spasial apa yang terjadi dimana saja dalam bentuk gambaran yang digegeralisir. Dengan model ini, dunia nyata disajikan sebagai elemen matrik atau sel-sel grid yang homogen. Dengan model data raster, data geografi ditandai oleh nilainilai (bilangan) elemen matrik persegi panjang dari suatu objek. Dengan demikian, secara konseptual, model data raster merupakan model data spasial yang paling sederhana. Gb. 7.2 Struktur model data raster Gb. 5.3 Contoh tampilan data spasial model raster (citra) Pada model raster, matrik atau array diurutkan berdasarkan koordinat kolom (x) dan barisnya (y). Pada sistem koordinat piksel monitor komputer, titik sistem asal sistem koordinat (origin) raster terletak di sudut kiri atas. Nilai absis (x) akan bertambah ke arah kanan dan nilai ordinat (y) akan membesar ke arah bawah (Gb. 7.2) Namun sistem koordinat ini sering pula ditransformasikan sehingga titik asal sistem koordinat asalnya terletak di kiri bawah. Makin ke kanan absisnya (x) akan meningkat, dan nilai ordinatnya (y) makin meningkat jika bergerak ke atas. 7. Data Spasial SIG Hal. 2 / 11

7.2.1 Karakteristik Layer Raster (a) Resolusi Resolusi data spasial dapat diidefinisikan sebagai dimensi linier minimum dari sistem terkecil ruang geografi yang dapat direkam. Satuan sekecil ini pada umumnya berbentuk segi empat dan dikenal sebagai sel-sel grid, elemen matrik, elemen terkecl dari suatu gambar. Resolusi suatu data raster akan merujuk pada ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan oleh setiap pikselnya. Makin kecil ukuran atau luas permukaan bumi yang dapat dipresentasikan oleh setiap pikselnya, makin tinggi resolusi spasialnya. (b) Orientasi Orientasi di dalam sistem grid atau raster dibuat untu merepresentasikan arah utara grid. Hal ini dilakukan dengan cara mengimpitkan arah utara grid ini dengan arah utara yang sebenarnya di titik asal sistem koordinat grid ybs. (c) Zone Setiap zone layer peta raster merupakan sekumpulan lokasi yang mempelihatkan nilai (ID atau nomor pengenal yang direpresentasikan oleh nilai piksel) yang sama. Sebagai contoh, persil tanah milik, batas administrasi, pulau, jenis vegetasi, dll. Tetapi, tidak semua layer pada raster memiliki zone, setiap isi sel grid dapat bervariasi secara kontinyu di dalam daerah tertentu sehingga setiap sel memiliki nilai yang berbeda. (d) Nilai Dalam kontek raster, nilai adalah item informasi (atribut) yang disimpan di dalam sebuah layer untuk setiap pikselnya. Piksel di dalam zone atau area yang sejenis memiliki nilai yang sama. (e) Lokasi Dalam model data raster, lokasi diidentifikasi dengan menggunakan pasangan koordinat kolom dan baris (x,y). Lokasi atau posisi koordinat geografi (geodetik) yang sebenarnya di permukaan bumi dari bbrp piksel yang terletak di sudut-sudut citra raster juga diketahui melalui proses pengikatan. 7.2.2 Sampling Raster Nilai yang merepresentasikan suatu piksel dapat dihasilkan dengan cara sampling yang berlainan (Gb. 7.3): Nilai sampling di sudut grid Nilai rata-rata sampling Nilai sampling di tengah piksel Gb. 7.3 Sampling model data raster 7. Data Spasial SIG Hal. 3 / 11

(a) Nilai suatu piksel merupakan nilai rata-rata sampling untuk wilayah yang direpresentasikannya. (b) Nilai suatu piksel adalah nilai sampling yang berposisi di pusat piksel ybs. (c) Nilai suatu piksel adalah nilai sampel yang terletak di sudut-sudut grid. Cara sampling (a) adalah standard, sedangkan cara sampling (b) adalah standard untuk data raster model ketinggian digital. Pada cara (c) kemungkinan akan terjadi keraguan di dalam perhitungan jumlah kolom dan baris citranya. Semantara pada cara sampling (a) dan (b), ukuran citra raster akan menjadi NxM, sedangkan (c) akan menghasilkan citra berukuran (N+1) x (M+1). 7.2.3 Layer Raster Setiap piksel atau sel grid memiliki nilai tunggal. Nilai-nilai piksel ini kemudian bekerja sama dalam membentuk layer data spasial. Dengan demikian, suatu basis data spasial kemungkinan besar mengandung lebih dari satu layer seperti ini. Penyimpanan layer pada basisdata raster menggunakan struktur yang berbeda. Ada perangkat yang menggunakan arsitektur dimana: (a). Beberapa layer berikut header-nya dimasukan ke dalam satu file besar. (b). Memisahkan antara setiap isi datanya dengan masing-masing header-nya kedalam file yang terpsah. Pada bidang pengindraan jauh (remote sensing), kedua arsitektur penyimpanan ini sering digunakan untuk merepresentasikan data yang didapat dari bbrp sensor (band) dalam satu file sekaligus. Dengan demikian, pada bidang ini dikenal istilah band sequential dan band interleaved. header Data ancillary Gb. 7.4 arsitektur penyimpanan layer raster Dari Gb. 7.4 terlihat bahwa layer raster yang disimpan dalam suatu file dikelompokan menjadi 3 bagian: (1) Header, yang berisi informasi penting mengenai kode file, jumlah band data yang dikandung, baris, kolom, tipe data, dst. Informasi ini harus dibaca sebelum membaca datanya. Ukuran header ini hanya bbrp bytes saja. (2) Blok data layer raster (3) Ancillary, yang berisi informasi tambahan yang biasanya meliputi data statistic citra ybs. Dengan demikian, ukuran (bytes) suatu layers raster dapat dihitung dengan rumus berikut: 7. Data Spasial SIG Hal. 4 / 11

Layer raster = header + blok data + ancillary Blok data = jumlah band x tipe daa x baris x kolom 7.3 MODEL DATA VEKTOR Gb. 7.5. Contoh blok data (nilai-nilai piksel) Iridisi Model data vektor menampilkan, menempatkan, dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik, garis (kurva atau poligon) beserta atributnya. Bentuk dasar representasi data spasial dalam model data vector didefinisikan oleh system koordinat kartesian dua dimensi (x,y). Garis atau kurva merupakan sekumpulan titik terurut yang dihubungkan. Sedangkan luasan atau poligon disimpan sebagai sekumpulan daftar titik-titik dimana titik awal dan titik akhir poligon memiliki nilai koordinat yang sama. Gb. 7.6 Permukaan bumi dan lapisan (layer) pada model data vector. 7. Data Spasial SIG Hal. 5 / 11

Gb. 7.7 Contoh tampilan data spasial model vektor a. Titik Entity titik meliputi objek grafis atau geografis yang dikaitkan dengan pasangan koordinat (x,y). Data atau informasi yang diasosiasikan dengan titik disimpan untuk menunjukkan titik tsb. 534.102, 751.322, Kantor Pos, Normal, Conic sans, 8,... Gb. 7.8 contoh entity titik dengan asosiasi informasinya. b. Garis Entity garis dapat didefinisikan sebagai semua unsur linier yang dibangun dengan menggunakan segmen-segmen garis lurus yang dibentuk oleh dua titik koordinat atau lebih. Entity garis yang sederhana memerlukan ruang untuk menyimpan titik awal dan titik akhir beserta informasi lain mengenai simbol yang digunakan untuk merepresentasikannya. 1 1: 10.23, 50.43; 60.32, 59.3; 107.2, 40.12; 139.3, 46.3 2 2: 21.61, 32.31; 65.1, 20.9; 89.82, 27.66; 140.2, 24.3 Gb. 7.9 contoh entity garis dengan asosiasi informasinya. c. Area atau Poligon Entity poligon dapat direpresentasikan dengan berbagai cara di dalam model data vektor. 7. Data Spasial SIG Hal. 6 / 11

Struktur data poligon bertujuan untuk mendeskripsikan properties yang bersifat topologi dari suatu area sedemikian rupa sehingga properties yang dimiliki oleh blok-blok banguna spasial dasar dapat ditampilkan dan dimanipulasi sebagai data peta tematik. d. Model data Spaghetti Model data vektor dikenal pula sebagai model data spaghetti. Pada model ini, lembaran peta kertas ditranslasikan garis-demi-garis ke dalam list koodinat (x,y) dalam format digital. Sebuah titik dikodekan sebagai pasangan koordinat (x,y) tunggal. Sebuah garis dikodekan sebagai list atau string pasangan koordinat (x,y). Sementara area atau luasan dikodekan sebagai poligon dan direkam sebagai pasangan koordinat closed-loop yang didefinisikan batas-batasnya. Model data ini merupakan ekspresi peta dalam sistem koordinat katesian. File data koordinat (x,y) merupakan struktur data yang sebenarnya data spasial disimpan dalam sistem komputer. Model data spaghetti sangat tidak efisien untuk kebanyakan tipe analisis spasial yang diperlukan oleh SIG. Hal ini dikarenakan hampir semua tipe analsis spasial dalam SIG harus diturunkan dengan menggunakan proses komputasi. Walaupun demikian, model in sangat efisien untuk reproduksi peta secara digital karena informasi yang tidak berhubungan dengan masalah proses plotting dan reproduksi (misalnya hubungan spasial dan topologi) tidak turut direkam dan diproses sama sekali. 7.4 PERBANDINGAN MODEL DATA VEKTOR & RASTER Baik model raster maupun vektor masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan sendiri. Kedua model data ini saling melengkapi dan dapat saling dikonversikan satu sama lain. Dalam implementasi, pengguna harus memilih salah satu perangkat lunak SIG berbasis model data raster atau vektor. Dalam SIG berbasis vektor (Misalnya MapInfo), citra (model data raster) hanya dipakai sebagai gambar pelengkap yang memperindah penampilan hingga nampak alamiah batas-batas yang tegas dan unsur-unsur permukaan yang sangat mirip dengan aslinya. Gb. 5.7 Model data spasial raster dan vektor di dunia nyata 7. Data Spasial SIG Hal. 7 / 11

Demikian pula sebaliknya, dalam perangkat SIG berbasis raster, semua analisis dilakukan dengan model data raster-- algoritma yang digunakan beserta fungsi dan prosedurnya berbasiskan raster atau matrik. Sedangkan data spasial vektor digunakan sebagai lapisan tambahan untuk mempertegas representasi batas suatu kawasan dan untuk memperindah bentuk tampilan- supaya mirip dengan aslinya. Table 5.1 Perbandingan Model data raster dan vektor Model data Kelebihan Kelemahan Raster Memiliki struktur data yang sederhana Secara umum, memerlukan memori Mudah dimanipulasi dengan computer yang besar banyak terjadi menggunakan fungsi-fungsi redundancy data baik untuk setiap laernya matematis sederhana. maupun secara keseluruhan. Teknologi yang digunakan cukup Penggunaan sel atau ukuran grid yang murah dan tidak begitu komplek lebih besar untuk menghemt ruang sehingga pengguna daat membuat penyimpanan akan menyebabkan sendiri program aplikasi yang kehilangan informasi dann ketelitian. menggunakan citra raster. Sebuah citra raster hanya mengandung Cocok dengan citra-citra satellit satu tematik saja sulit digabungkan pengindraan jarak jauh dan semua gambar hasil scanning data spasial. Overlay dan kombinasi data spasial dengan atribut-atribut lainnya d alam satu layer. Untuk merepresentasikan atribut tambahan diperlukan layer baru. raster dengan data indraja mudah Tampilan atau representasi, dan akurasi dilakukan. posisinya sangat bergantung pada Memiliki kemampuan pemodelan dan analisis spasial tingkat lanjut. Gambaran permukaan bumi dalam bentuk citra raster yang didapat dari radar atau satelit pengindraan jauh (landsat, spot, ikonos, dll) selalu lebih actual dari pada bentuk vektornya. ukuran pikselnya. Sering mengalami kesalahan dalam menggambarkan bentuk dan garis batas suatu objek sangat bergantung pada resolusi spasialnya dan toleransi yang diberikan. Metode untuk mendapatkan format data Harga system perangkat lunak vektor melalui proses yang lama, dan aplikasinya cenderung lebih murah. relatif mahal. Memerlukan memori computer yang Memiliki struktur data yang komplek. Vektor lebih sedikit. Datanya tidak mudah untuk Satu layer dapat dikaitkan dengan atau dimanipulasi. mengandung banyak atribut sehingga Pengguna tidak mudah untuk berkreasi dapat menghemat ruang penyimpanan untuk membuat program aplikasi secara keseluruhan. sendiri. Dengan banyak atribut yang dapat Karena proses keseluruhan lebih lama, dikandung oleh suatu layer, banyak peta vektor seringkali mengalami peta tematik lain (layer) yang dapat dihasilkan sebagai peta turunannya. Memiliki resolusi spasial yang tinggi. Memiliki batas yang teliti dan tegas kadaluarsa. Tidak cocok dengan data citra satelit. Memerlukan perangkat lunak dan keras yang mahal. sehingga sangat baik untk membuat Overlay bbrp layer vektor secara peta administrasi dan persil tanah simultan memerlukan waktu yang milik. relatif lama. 7. Data Spasial SIG Hal. 8 / 11

7.5 MODEL DATA VEKTOR DENGAN TOPOLOGI Topologi adalah konsep atau metode matematis yang digunakan dalam mendefinisikan hbungan spasial diantara unsur-unsurnya. Hubungan topologi merupakan properties inherent yang dimiliki oleh setiap objek atau entity geometri atau spasial. 7.5.1 Hubungan topologi Topologi merupakan hubungan penting yang harus dipertahankan dalam basis data spasial. Struktur datanya menentukan bagaimana dan dimana titik dan garis berhubungan satu sama lainnya pada satu node. Langkah-langkah pengkodean hubungan topologi dalam basis data, sbb: (1) Merekam lokasi semua node yang merupakan titik-titik (endpoints) dan perpotongan-perpotongan garis (arcs) dan batas-batas (boundaries) (2) Berdasarkan nodes ini, kemudian mendefinisikan arcs dengan menggunakan informasi: endpoint (nodes), arah (direction), dan orientasi vector yang direpresentasikan oleh arahnya. (3) Poligon-poligon didefinisikan dengan menggunakan arcs:-- dengan melakukan tracing batas-batasnya searah dengan perputaran jarum jam (clockwise), merekam 7. Data Spasial SIG Hal. 9 / 11

komponen arc beserta orientasinya, memberikan tanda negative pada arcs yang mendefinisikan batas-batas internal. (4) Jika suatu arc merupakan salah satu sisi study area, arc tersebut dibatasi oleh universe (alam semesta) atau outer world (dunia luar). Dengan contiguity (keterhubungan dengan unsure-unsur geometri yang bersebelahan) ini, SIG dapat menjawab pertanyaan mengenai konektivitas dan lokasi seperti: polygon mana yang berdampingan atau bersebelahan (adjoin) dengan polygon A; rute terpendek mana yang menghubungkan dari node 3 ke node 2; polygon mana yang dilalui secara langsung dari polygon B disepanjang arc D, dan sebagainya. 7.5.2 Membangun Topologi Kontruksi topologi yang melibatkan bentuk-bentuk poligon yang rumit memerlukan beberapa langkah pembangunan topologi. Contoh: untuk merepresentasikan sebuah pulau kecil yang terdapat dalam danau atau danau kecil yang terdapat di dalam batas administrasi, direpresentasikan dengan poligon yang memiliki poligon kecil di dalamnya. Langkah-langkah tersebut antara lain: 7. Data Spasial SIG Hal. 10 / 11

(1) Menghubungkan arc ke dalam jaringan batas-batas poligon.arc diurutkan sesuai dengan koordinatnya, sehingga arc yang berdekatan satu sama lain secara topologi juga disimpan berdekatan di dalam file datanya. (2) Memeriksa closure setiap poligon. Closure jaringa poligon secara keseluruhan diperiksa dengan melakukan scanning terhadap koordinat-koordinat akhir arc hasil adjustment untuk mengetahui apakah arc ybs memiliki pointer dari dan ke paling sedikit satu arc lainnya. (3) Menghubungkan arc ke poligon-poligon. Membuat poligon sampul (penutup) dari batas luar peta. (4) Menghitung luas poligon. Metode yang pada umumnya digunakan untuk keperluan ini adalah rumus trapesoid. (5) Menghubungkan atribut-atribut ke dalam poligon. Untuk melengkapi basisdata spasial, poligon-poligon harus direlasikan dengan atribut-atributnya. Hal ini dilakukan dengan cara memasukan teks atau label nomor pengenal ke dalam setiap poligon. 7.6 TIN Tin (triangular irregular network) adalah model data vector berbasiskan topologi yang digunakan untuk merepesentasikan data permukaan bumi. Tin menyajikan model permukaan sebagai sekumpulan bidang-bidang kecil yang berbentuk segitiga yang saling terhubung. Gb. 7.9 Contoh Struktur model topologi TIN 7. Data Spasial SIG Hal. 11 / 11