BAB 2 LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1. Hotel Des Indes (kiri) yang Menjadi Komplek Duta Merlin (kanan) Sumber:google.co.id, 5 Maret 2015

Kementerian Pendidikan Nasional merupakan lembaga pemerintahan yang bertugas meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. salah satu langkah yang di

BAB 2 PELESTARIAN BANGUNAN PUSAKA

BAB II KAJIAN LITERATUR

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri

KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D

JURNAL TUGAS AKHIR JUDUL PENGEMBANGAN HOTEL SAVOY HOMANN BIDAKARA BANDUNG

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

7.4 Avant Garde Avant Garde buka suatu aliran dalam seni lukis, melainkan gaya yang berkembang dalam dunia fashion serta bergerak ke desain grafis

Karakter Visual Bangunan Stasiun Kereta Api Tanjung Priok

BAB 5 KESIMPULAN. 88 Universitas Indonesia. Gereja Koinonia..., Rinno Widianto, FIB UI, 2009

BAB I PENDAHULUAN HOTEL INNA DIBYA PURI SEBAGAI CITY HOTEL DI SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. Kisaran terbagi menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Kisaran Timur dan

Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

- 1 - WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA DI KOTA MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB III TINJAUAN TEMA INSERTION

Rumah Tinggal Dengan Gaya Arsitektur Bali Modern Di Denpasar

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan untuk fasilitas-fasilitas pendukungnya. menginap dalam jangka waktu pendek.

BAB 2 LANDASAN TEORI

MEMUTUSKAN: : PERATURAN BUPATI TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA.

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh

PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORERIKAL PENDEKATAN ARSITEKTUR ORGANIK PADA TATA RUANG LUAR DAN DALAM HOMESTAY DAN EKOWISATA SAWAH

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01/PRT/M/2015 TENTANG BANGUNAN GEDUNG CAGAR BUDAYA YANG DILESTARIKAN

Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta

TENTANG CAGAR BUDAYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GOWA NOMOR 09 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN CAGAR BUDAYA

Bab IV Simulasi IV.1 Kerangka Simulasi

Ekspresi gaya arsitektur kolonial pada desain interior Gedung Lindeteves Surabaya

PELESTARIAN BANGUNAN GEDUNG PELAYANAN PERIZINAN TERPADU JATIM (EKS SOERABAIASCH HANDELSBLAD)

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli

BAB 2 LANDASAN TEORI

Gambar 5. 1 Citra ruang 1 Gambar 5. 2 Citra ruang 2 2. Lounge Lounge merupakan salah satu area dimana pengunjung dapat bersantai dan bersosialisasi de

Tipomorfologi Fasade Bangunan Pertokoan di Sepanjang Ruas Jalan Malioboro, Yogyakarta

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TIPOLOGI GEREJA IMMANUEL DI DESA MANDOMAI. Abstraksi

MAKASSAR merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang. meningkatkan jumlah pengunjung/wisatawan

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA

BAB 1 PENDAHULUAN. yang dibahas dalam tesis ini. 1 Subkawasan Arjuna pada RTRW kota Bandung tahun merupakan kawasan Arjuna

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan

2.2 Tinjauan Gaya Neo Klasik Eropa dan Indonesia Sejarah Gaya Arsitektur Neo Klasik

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 013/M/2014 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, namun banyak juga yang

BAB I PENDAHULUAN. 1 Brosur resmi Istana Kepresidenan Bogor, 2012.

PENGARUH REVOLUSI INDUSTRI TERHADAP PERKEMBANGAN DESAIN MODERN. Didiek Prasetya M.Sn

BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Keselarasan antara Baru dan Lama Eks-Bioskop Indra Surabaya

WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain

BAB III KONSEP PERANCANGAN PUSAT ILMU PENGETAHUAN DAN KEBUDAYAAN RUSIA

Bab I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

Art Nouveau. Ciri-ciri

BAB I PENDAHULUAN. ibu kota negara Indonesia. Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa.

PERANCANGAN RUANG DALAM

PELESTARIAN BANGUNAN MASJID TUO KAYU JAO DI SUMATERA BARAT

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA

BAB I PENDAHULUAN. Belanda pada tahun 1619 yang dipimpin oleh Jan Pieterzoon Coen.

Dasar Kebijakan Pelestarian Kota Pusaka 1. Tantangan Kota Pusaka 2. Dasar Kebijakan terkait (di Indonesia) 3. Konvensi Internasional

BAB III TINJAUAN KHUSUS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Syarat Bangunan Gedung

PERUBAHAN FASADE DAN FUNGSI BANGUNAN BERSEJARAH (DI RUAS JALAN UTAMA KAWASAN MALIOBORO) TUGAS AKHIR. Oleh: NDARU RISDANTI L2D

BAB I PENDAHULUAN. Sejarah dalam bahasa Indonesia merupakan peristiwa yang benar-benar

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

PROGRAM JANGKA PENDEK: - Peningkatan kapasitas P3KP - Pengelolaan secara internal

TEoRI DAN DeSAIN TERPILIH

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

REVITALISASI BANGUNAN MEGARIA SEBAGAI PUSAT SINEMA

BAB VI HASIL PERANCANGAN. simbolisme dari kalimat Minazh zhulumati ilan nur pada surat Al Baqarah 257.

WALIKOTA PAREPARE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA PAREPARE NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN DAN PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA

Pelestarian Bangunan Bersejarah Di Kota Lhokseumawe

WALIKOTA PALANGKA RAYA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. arsitek Indonesia masih berkiblat pada arsitektur kolonial tersebut.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

GAYA ARSITEKTUR DI PERUMAHAN DINAS MILITER ANGKATAN DARAT, CIMAHI, JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seni adalah karya cipta manusia yang memiliki nilai estetika dan artistik.

Transkripsi:

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum 2.1.1 Cagar Budaya Menurut UU No.11 tahun 2010, Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebedaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan melalui proses penetapan. Macammacam bentuk cagar budaya : - Benda cagar budaya Benda cagar budaya adalah benda alam atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok atau bagianbagiannya dan sejarah berkembang manusia. - Bangunan cagar budaya Bangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding atau ruang tidak berdinding atau beratap. - Situs cagar budaya Situs cagar budaya adalah lokasi yang berada di darat atau di air yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. - Kawasan cagar budaya Kawasan cagar budaya adalah kawasan atau kelompok bangunan yang memiliki nilai sejarah, budaya dan nilai lainnya yang dianggap penting untuk dilindungi dan dilestarikan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dokumentasi dan pariwisata. Menurut UU No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya, Pelestarian Cagar Budaya bertujuan untuk : - melestarikan warisan budaya bangsa dan warisan umat manusia - meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui Cagar Budaya - memperkuat kepribadian bangsa 11

12 - meningkatkan kesejahteraan rakyat - mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional. Menurut UU No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya, terdapat beberapa kriteria struktur cagar budaya yang harus terpenuhi, yaitu : - berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih. - mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun. - memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. - memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Menurut UU No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya, Pemugaran Bangunan Cagar Budaya dan Struktur Cagar Budaya yang rusak dilakukan untuk mengembalikan kondisi fisik dengan cara memperbaiki, memperkuat, dan/atau mengawetkannya melalui pekerjaan rekonstruksi, konsolidasi, rehabilitasi, dan restorasi. Pemugaran Cagar Budaya yang dimaksud harus memperhatikan: - keaslian bahan, bentuk, tata letak, gaya, dan/atau teknologi pengerjaan. - kondisi semula dengan tingkat perubahan sekecil mungkin. - penggunaan teknik, metode, dan bahan yang tidak bersifat merusak. - kompetensi pelaksana di bidang pemugaran. Pemugaran harus memungkinkan dilakukannya penyesuaian pada masa mendatang dengan tetap mempertimbangkan keamanan masyarakat dan keselamatan Cagar Budaya. Pemugaran yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sosial dan lingkungan fisik harus didahului untuk analisis mengenai dampak lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Tabel 1. Lingkup Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan Facade Perubahan yang diperbolehkan Struktur Interior Utama Ornamen A - - - - B - - C - : Boleh dirubah Sumber : Buku berjudul 100 bangunan cagar budaya di Bandung(Harastoeti,2010)

13 2.1.2 Preservasi Menurut Istilah-istilah dalam pelestarian dan pemugaran, preservasi adalah pelestarian bangunan dan/atau lingkungan dengan cara mempertahankan kadaan asli tanpa perubahan, termasuk upaya mencegah kehancuran. Preservasi layak dilakukan apabila bahan yang ada atau kondisinya menjadi bukti signifikansi budaya, atau apabila bukti yang ada tidak memadai, maka diizinkan untuk melakukan proses konservasi yang lain. Preservasi merupakan kegiatan mencegah dan menjaga yang meliputi sebagai berikut : - Untuk menjaga dalam keselamatan dari cedera atau bahaya (melindungi). - Untuk menjaga dalam kondisi sempurna atau tidak berubah/keaslian. - Untuk menjaga atau mempertahankan keutuhan. 2.1.3 Konservasi Konsep konservasi telah dicetuskan lebih dari seratus tahun yang lalu, ketika William Morris mendirikan Lembaga Pelestarian Bangunan Kuno ( Society For the Protection of Ancient Buildings,1877. Jauh sebelum itu, pada tahun 1700, Vanburgh seorang arsitek Istana Bleinheim Inggris, telah merumuskan konsep pelestarian, namun konsep itu belum mempunyai kekuatan hukum. Peraturan dan undang-undang yang pertama kali melandasi kebijakan konservasi lingkungan/ bangunan bersejarah dibuat pada tahun 1882 dalam Ancient Monuments Act, peraturan yang berkaitan dengan perlindungan bangunan bersejarah di Indonesia adalah UU No 11 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya. Dalam kegiatan pemugaran atau pelestarian suatu bangunan, terdapat istilahistilah yang dituliskan dalam buku yang berjudul 100 bangunan cagar budaya di Bandung yaitu sebagai berikut : 1. Konservasi adalah sebuah proses yang bertujuan memperpanjang umur warisan budaya bersejarah, dengan cara memlihara dan melindungi keotentikan dan maknanya dari gangguan dan kerusakan, agar dapat dipergunakan pada saat sekarang maupun masa yang akan datang, baik dengan menghidupkan kembalu fungsi lama atau dengan memperkenalkan fungsi baru yang dibutuhkan. 2. Restorasi adalah sebuah tindakan atau proses yang bertujuan untuk mengembalikan bentuk serta detil-detil sebuah properti dan settingnya secara

14 akurat seperti tampak pada periode tertentu, dengan cara menghilangkan bagianbagian tambahn yang dilakukan kemudian, ataupun dengan melengkapi kembali bagian-bagian yang hilang. 3. Renovasi adalah Modernisasi bangunan bersejarah yang masih dipertanyakan dengan terjadinya perbaikan yang tidak tepat yang menghilangkan wujud dan detil penting. 4. Rehabilitasi adalah Tindakan atau proses pengembalian sebuah obyek pada kondisi yang dapat dipergunakan kembali melalui perbaikan atau perubahan yang memungkinkan penggunaan sementara yang efisien, sementara wujud-wujud yang bernilai sejarah, arsitektur dan budaya tetap dipertahankan. 5. Revitalisasi adalah sebuah proses untuk menigkatkan kegiatan sosial dan ekonomi bangunan/lingkungan bersejarah, yang sudah kehilangan vitaliyas aslinya. 6. Adaptasi (adaptive reuse) adalah sebuah proses pengubahan sebuah bangunan untuk kegunaan yang berbeda dari tujuan kegunaan ketika bangunan tersebut didirikan. Proses-proses diatas, menurut Alan Dobby dalam buku Planning and Conservation memiliki tingkat perubahan yang berbeda-beda. Berikut adalah tabel perubahan yang dilakukan terhadap bangunan cagar budaya : Tabel 2. Lingkup Kegiatan Pelestarian Perubahan Tidak ada (kecuali perbaikan dan pemeliharaan) Sedikit Banyak Total Kegiatan Repair X Preservation X Enchancement X X X Conservation X X X X Restoration X X X Recontruction X X X Sumber : Buku Conservation And Planning (Alan Dobby,1978:19) Dalam Diktat Pemugaran Pemerintahan Propinsi DKI Jakarta, sasaran dari konservasi adalah sebagai berikut (Idrus, Diktat Pemugaran Pemerintah Propinsi DKI Jakarta) : - Mengembalikan wajah dari obyek pelestarian.

15 - Memanfaatkan obyek pelestarian untuk menunjang kehidupan masa kini. - Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perencanaan masa lalu. - Menampilkan sejarah pertumbuhan kota, dalam wujud fisik tiga dimensi. Berikut prinsip-prinsip dalam melakukan konservasi adalah : - Tidak mengubah bukti-bukti sejarah. - Menerapkan kembali makna budaya dari suatu tempat atau bangunan. - Suatu bangunan atau suatu hasil karya bersejarah harus tetap berada pada lokasi historisnya. - Menjaga terpeliharanya latar visual yang cocok, seperti bentuk, skala, warna, tekstur, serta bahan material yang digunakan. IDENTIFIKASI INVENTARISASI, PENELITIAN PENILAIAN PERENCANAAN KONSERVASI MENETAPKAN TINGKAT PERLINDUNGAN INTEGRASI ANTARA TUJUAN KONSERVASI DENGAN TUJUAN SOSIAL & EKONOMIS MASYARAKAT - PENDIDIKAN & PELATIHAN - PARTISIPASI PENDANAAN Gambar 4. Bagan Langkah-Langkah Kegiatan Konservasi Sumber : Buku berjudul 100 bangunan cagar budaya di Bandung(Harastoeti,2010) Pada gambar 4 terlihat langkah-langkah yang akan dilakukan dalam kegiatan konservasi, mulai dari langkah identifikasi terhadap obyek bangunan hingga pendanaan yang akan dikeluarkan saat kegiatan berlangsung. Kegiatan konservasi yang dipilih dalam bentuk pelestarian, mempengaruhi bentuk fisik maupun fungsi yang akan diberikan, hal ini terlihat pula pada tabel 3 bahwa didalam setiap kegiatan konservasi memungkinkan perubahan pada fungsi yang akan diberikan namun perubahan pada fisik disesuaikan kembali dengan bentuk kegiatan yang dilakukan pada bangunan tersebut.

16 Tabel 3. Kaitan Antara Kegiatan Konservasi Dengan Perubahan Fisik Dan Fungsi K E G I A T A N Yang Terjadi Tidak Ber ubah FISIK FUNGSI Berubah Tidak Berubah Berubah Penambahan Pembongkaran Menerus & Adaptasi & penyisipan sebagian & berkembang kebutuhan elemen penggantian (extended use) baru bangunan elemen (adaptive baru bangunan baru reuse) Konservasi Renovasi o Rehabilitasi o Fasadisasi o Preservasi o o Rekontruksi o o Restorasi o Replikasi o o Revitalisasi o : Terjadi o : Tidak Terjadi Sumber : Buku berjudul 100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung (Harastoeti,2010) 2.1.4 Dasar Hukum Terkait Pelestarian Bangunan Cagar Budaya - Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 475 tahun 1993 tentang penetapan bangunan-bangunan bersejarah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai benda cagar budaya. - Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya - UU No.11 tahun 2010 Pasal 1 ayat (26) tentang zonasi adalah penentuan batasbatas keruangan Situs Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya sesuai dengan kebutuhan. - UU No.11 tahun 2010 pasal 73 ayat (1) Sistem Zonasi mengatur fungsi ruang pada Cagar Budaya. - UU No.11 tahun 2010 pasal 78 (3) tentang Pengembangan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dapat diarahkan untuk memacu pengembangan ekonomi yang hasilnya digunakan untuk Pemeliharaan Cagar Budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. - UU No.11 tahun 2010 pasal 82 tentang Revitalisasi Cagar Budaya harus memberi manfaat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mempertahankan ciri budaya lokal.

17 - UU No.11 tahun 2010 pasal 83 ayat (1) tentang Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya dapat dilakukan adaptasi untuk memenuhi kebutuhan masa kini dengan tetap mempertahankan keaslian bangunan cagar budaya atau struktur cagar budaya. - Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No: 01/PRT/M/2015 tentang Bangunan Gedung Cgara Budaya yang Dilestarikan. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 1 (5) mengatakan bahwa bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan adalah bangunan gedung cagar budaya yang melalui upaya dinamis, dipertahankan keberadaan dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 1 (8) mengatakan bahwa pengembangan bangunan gedung cagar budaya adalah peningkatan potensi nilai, informasi, dan promosi bangunan gedung cagar budaya serta pemanfaatannya melalui penelitian, revitalisasi, dan adaptasi secara berkelanjutan serta tidak bertentangan dengan tujuan pelestarian. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 4 mengatakan bahwa Setiap bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan harus memenuhi persyaratan : a. Administratif (status bangunan gedung sebagai gedung cagar budaya, status kepemilikan, perizinan) b. Teknis (persyaraan tata bangunan, persyaratan keandalan bangunan gedung cagar budaya, persyaratan pelestarian) - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 7 (2) mengatakan bahwa Persyaratan tata bangunan harus diberlakukan dalam hal bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan mengalami perubahan fungsi, bentuk,l karakter fisik dan/atau penambahan bangunan gedung. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 8 (1) mengatakan bahwa Persyaratan keandalan bangunan gedung cagar budaya terdiri atas : a. Keselamatan; b. Kesehatan; c. Kenyamanan; dan d. Kemudahan. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 8 (6) mengatakan bahwa Persyaratan keandalan bangunan gedung cagar budaya dituangkan dalam ketentuan yang meliputi aspek :

18 a. Arsitektur; b. Struktur; c. Utilitas; d. Aksebilitas; e. Keberadaan dan nilai penting cagar budaya. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 14 (1) mengatakan bahwa rekomndasi tindakan pelestarian bangunan gedung cagar budaya berupa perlindungan, pengembangan dan atau pemanfaatan. Dan pengembangan tersebut terbagi atas revitalisasi dan adaptasi. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 16 (2) mengatakan bahwa adaptasi sebagaimana yang dimaksud dilakukan upaya pengembangan bangunan gedung cagar budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan cara melakukan perubahan terbatas yang tidak mengakibatkan penurunan nilai penting atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilai penting. 2.1.5 Dasar Hukum Terkait Pelestarian Bangunan Pada Kawasan Kota Tua - Perda DKI Jakarta No.1 tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan zonasi. - Perda DKI Jakarta No.1 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah tahun 2030 pasal 100 membahas Kawasan Kota Tua termasuk kawasan strategis kepentingan sosial budaya. - Peraturan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No.36 tahun 2014 tentang Rencana Induk Kawasan Kota Tua. 2.1.6 Pemanfaatan Kembali Bangunan Cagar Budaya Setelah bangunan diperbaiki pada bagian-bagiannya yang rusak, bangunan tersebut diberikan fungsi sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan saat ini. Secara keseluruhan terdapat 3 pemanfaatan kembali bangunan cagar budaya, yaitu : - Continued Use Cara ini berupa penggunaan kembali bangunan tua sesuai dengan fungsi lamanya ketika pertama kali didirikan serta dapat juga ditambahkan fungsi baru sebagai fungsi pendukung fungsi utamanya. - Adaptive Reuse

19 Cara ini berupa penggunaan kembali bangunan tua dengan mengubah fungsi awal dari bangunan tersebut dengan menyesuaikan pada keadaan masa sekarang. - New Additions Cara ini berupa penambahan kontruksi baru atau membangun struktur baru pada struktur sebelumnya dengan mempertimbangkan kesesuaian bangunan sebelumnya. 2.1.7 Adaptive Reuse Secara umum, adaptive reuse merupakan pengunaan ulang atau the process of adapting old structures and sites for new purposes. Lebih jelasnya, adaptive reuse is a process that changes a disused or ineffective item into a new item that can be used for a different purpose. Sometimes,nothing changes but the item s use. Dan menurut UU No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya mengatakan bahwa adaptasi merupakan upaya pengembangan Cagar Budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan melakukan perubahan terbatas yang tidak akan mengakibatkan kemerosotan nilai pentingnya atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilai penting. Adaptive reuse seringkali digunakan dalam konservasi bangunan bangunan tua bersejarah. Dengan adaptive reuse dapat memberi nafas baru ke dalam bangunan tanpa mengubah tampilan luar dan bentuknya secara radikal. Di sisi lain juga dapat menciptakan kembali nilai ekonomi dan sosial dari bangunan yang dilakukan adaptive reuse. Proses Adaptive reuse melibatkan 3 jenis perlakuan yang dapat dilakukan terhadap bangunan yaitu The installation system,the Intervention system, serta The Insertion System. - Intervention adalah pendekatan dengan cara merubah bangunan lama menjadi lebih baik sehingga lebih layak, namun tetap saling terkait antara bangunan lama dengan bangunan baru setelah diperbaiki. - Insertion adalah memasukkan dimensi yang telah ditentukan dalam batas bangunan yang ada. - Installation adalah menambahkan elemen baru (bisa seperti bangunan baru) yang bisa jadi dipengaruhi bangunan yang ada, ditempatkan dalam batasan bangunan yang ada itu sendiri. Alternatif penyesuaian dengan menggunakan konsep adaptive reuse, dapat dilihat dari sisi bentuk bangunan yang dipreservasi atau dikonservasi keasliannya

20 harus dipertahankan, tidak diubah, sehingga fungsi baru yang ditampung di dalamnya perlu disesuaikan dengan kapasitas maupun tatanan ruang yang ada. Dengan demikian perlu ada seleksi dalam memilih fungsi baru tersebut. Adaptasi sebagaimana dimaksud dalam UU No.11 tahun 2010 dilakukan dengan : - mempertahankan nilai-nilai yang melekat pada Cagar Budaya. - menambah fasilitas sesuai dengan kebutuhan. - mengubah susunan ruang secara terbatas. - mempertahankan gaya arsitektur, konstruksi asli, dan keharmonisan estetika lingkungan di sekitarnya. 2.2 Tinjauan Khusus Terhadap Bangunan 2.2.1 Sejarah Kawasan Kota Tua Sebagai Warisan Cagar Budaya Kota Tua Jakarta terletak di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari Kotamadya Jakarta Barat. Saat ini, kawasan Kota Tua berada di dua wilayah kotamadya, yaitu Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Kota Tua sebagai cikal bakal Jakarta, oleh karena itu banyak cerita di balik megahnya bangunan (tua) cagar budaya peninggalan masa lalu dari zaman kolonial Belanda. Kota Tua Jakarta, daerahnya berbatasan sebelah utara dengan Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kalapa dan Laut Jawa, sebelah Selatan berbatasan dengan jalan Jembatan Batu dan jalan Asemka, sebelah Barat berbatasan dengan Kali Krukut dan sebelah Timur berbatasan dengan Kali Ciliwung. Kota Tua Jakarta di masa lalu merupakan kota yang menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang dapat menguasainya. Oleh karena itu, mulai dari Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda Pajajaran, Kesultanan Banten Jayakarta, Verenigde Oost-indische Compagnie (VOC), Pemerintah Jepang, hingga kini Republik Indonesia melalui Pemerintah DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankannya menjadi kota nomor satu di negara ini. Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka). Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke- 16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.

21 Pasa masa abad ke-16 sampai dengan awal abad ke-20, kawasan Kotatua merupakan kawasan daerah pusat politik dan kekuasaan yang didukung oleh pusat kawasan komersil dan perdagangan. Kota yang tua (lama), banyak menyimpan bangunan-bangunan (tua) sisa peninggalan para pendahulu yang bernilai sejarah, arsitektur dan arkelologis dari beberapa zaman yang berbeda. Pemda DKI Jakarta dengan mengeluarkan SK Gubernur No. 475 Tahun 1993 yang isinya menetapkan Bangunan-Banguan Bersejarah dan Monumen di DKI Jakarta dilindungi sebagai bangunan cagar budaya (BCB) oleh pemerintah. Hal ini berlaku juga pada kawasan Kota Tua Jakarta. 2.2.2 Gedung PT. Kerta Niaga Sebagai Bangunan Cagar Budaya Tabel 4. Data Gedung Nama gedung : PT. Kerta Niaga Tahun berdiri : 1912 Nama dulu : Perusahaan Koloniale Zee en Brand Assurantie Maatschappij Desain Arsitek : Biro Arsitek Cuypers en Hulswit Langgam gaya : Art Deco Sumber : Olahan Penulis Gedung PT. Kerta Niaga termasuk dalam daftar bangunan cagar budaya yang perlu dilestarikan, menurut Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta no 475 tahun 1993. Gedung PT. Kerta Niaga dibangun sekitar tahun 1912 oleh Biro Arsitek Cuypers en Hulswit. Bangunan ini bergaya Art Deco. Pada masa itu, biro arsitek tersebut merupakan biro yang bersejarah bagi pembangunan arsitektur di Indonesia pada eranya begitu pula langgamnya. Gambar 5. Bangunan PT. Kerta Niaga tahun 1912 Sumber : Data Collection Tropenmuseum Amsterdam

22 Awalnya bangunan ini berfungsi sebagai gedung perusahaan Koloniale Zee en Brand Assurantie Maatschappij. Pada kepemilikan pertama inilah bentuk fasad bangunan masih terlihat asli dengan ornamen yang terlihat pada fasad gambar 5. Namun, pada tahun 1950 terjadi penghilangan ornamen pada fasad tersebut, yang terlihat pada gambar 6 ketika berada di kepemilikan kedua. Dan terjadi nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan Belanda pada akhir tahun 1950, perusahaan ini melakukan perubahan nama menjadi P.N. (Perusahaan Negara) Kerta Niaga tepatnya tahun 1966. Bidang usahanya pun berubah menjadi distributor barang, utamanya di bidang sandang pangan dan kebutuhan pokok bagi rakyat. Pada akhirnya, bangunan ini menjadi aset P.N. Kerta Niaga, yang kemudian berubah status menjadi P.T. Kerta Niaga pada tahun 1970. Gambar 6. Bangunan PT. KertaNiaga tahun 1950 Sumber : Data Collection Tropenmuseum Amsterdam Ketika dilakukan efisiensi terhadap Badan Usaha Milik Negara, P.T. Kerta Niaga dilikuidasi dan dilebur ke dalam P.T. Dharma Niaga pada tahun 1998. Bangunan ini turut berpindah pengelolan, juga ketika dilakukan penggabungan atas tiga BUMN di bidang perdagangan : PT. Panca Niaga, PT. Dharma Niaga, dan PT. Cipta Niaga, yang menjadi PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) pada tahun 2003. PPI merupakan pemegang kepemilikan gedung yang ketiga, pada saat itu juga dilakukan penambahan elemen jendela seperti gambar 7 yang berbeda dengan bentuk asalnya. Gambar 7. PT. Kerta Niaga tahun 2003 Sumber : Data Collection Tropenmuseum Amsterdam Gambar 8. PT. Kerta Niaga Saat Ini Sumber : Dokumentasi Penulis

23 Meski beralih kepemilikan berkali-kali, kondisi bangunan PT. Kerta Niaga saat ini cukup baik, walaupun terdapat kerusakan-kerusakan karena termakan usia seperti pada gambar 8. Unsur-unsur keaslian bangunanpun masih kuat. Sekarang ini, hanya tersisa bangunan kantor yang ditinggalkan kisah sejarah untuk dilestarikan. Gedung PT. Kerta Niaga merupakan salah satu dari banyaknya bangunan yang terletak di kawasan Kotatua. Gedung PT. Kerta Niaga berlokasi pada blok PT. Kerta Niaga yang memiliki 4 gedung. Bangunan yang dipilih adalah bangunan yang terletak pada Jalan Kali Besar Timur terlihat pada gambar 9. Gambar 9. Letak Gedung PT.Kerta Niaga Sumber : Olahan penulis Dahulu Kawasan Kali Besar merupakan kawasan Central Business District (Kawasan Kali Besar CBD), pada masa kolonial disebut De Groote Rivier (Kali Besar). Saat itu, muara sungai ciliwung merupakan jantung perekonomian di Jakarta yaitu sebagai pusat perdagangan atau perkantoran Hindia Belanda. Pada masa itu, terdapat pula dermaga-dermaga di tepi kali besar tersebut. Walaupun saat ini tidak terdapat kanal-kanal di sepanjang kali besar, gedung-gedung di sekitar kali besar timur terutama merupakan wilayah perkantoran. Gambar 10. Kali Besar Tahun 1920 Sumber : Diakses dari googlemaps.com pada tanggal 14 April 2015 Gambar 11. Kali Besar Saat Ini Sumber : Diakses dari googlemaps.com pada tanggal 14 April 2015

24 Gedung PT. Kerta Niaga dalam proses revitalisasi, yang dikategorikan pada kawasan Art And Culture di Kota Tua Jakarta (JOTRC) dan lebih mengfokuskan terhadap fungsi perdagangan dan jasa menurut RDTR No.1 tahun 2014. 2.3 Tinjauan Khusus Terhadap Style 2.3.1 Pengertian Style Kata gaya dalam bahasa inggris adalah style yang berarti jenis tertentu atau semacam, jenis mengacu pada bentuk, penampilan, atau karakter. Menurut Marizar, Gaya pada suatu periode dapat dibedakan berdasarkan beberapa kategori, yaitu dimulai dari ornamen, warna atau aksesoris, karakter desain dari elemen interior (bentuk), pola bentuk, tekstur dan kombinasi dari beberapa unsur tersebut. Warna juga merupakan salah satu unsur desain untuk memberikan tambahan efek tertentu dengan juga didukung oleh unsur pencayahaan. Bentuk dalam desain interior merupakan gabungan antara bidang yang meliputi struktur dinding, lantai, plafon dan perabot. Sedangkan pola atau tekstur dapat ditemukan pada dinding, lantai, dan plafon yang didapat dari pemakaian material dan penggunaan jenis finishing dari material tersebut. Gaya sebagai identitas sebuah perancangan yang menggambarkan pengaruh jaman atau asal usul dan aktivitas pengguna. Gaya menurut Pile terbagi kedalam beberapa periode yang mempengaruhi perkembangan gaya. Di dalam interior ruang memiliki gaya dan desain yang berbeda-beda, karakteristik dari gaya-gaya itupun mempunyai ciri khasnya masing-masing. 2.3.2 Art Deco Art deco adalah gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II. Art deco banyak diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya eksterior, interior, mebel, patung, perhiasan dan lain-lain. Art deco dipengaruhi oleh berbagai macam aliran modern, antara lain Kubisme, Futurisme dan Konstruktivisme serta juga mengambil ide-ide desain kuno seperti dari Mesir, Siria dan Persia. Seniman art deco banyak bereksperimen dengan memakai teknik baru dan material baru, misalnya metal, kaca, bakelit serta plastik dan menggabungkannya dengan penemuan-penemuan baru saat itu, lampu misalnya. Karya mereka sering memakai warna-warna yang kuat serta bentuk abstrak dan geometris tetapi kadang masih menggunakan motif tumbuhan dan figur.

25 Langgam art deco tercipta dari pencampuran ornamen-ornamen historis, aliran arsitektur sekarang dan muatan lokal. Setiap negara yang menerima langgam Art Deco mengembangkannya sendiri dan memberikan sentuhan lokal sehingga art deco di suatu tempat akan berbeda dengan art deco di tempat lain. Sebelum tahun 1966, masyarakat belum mengenal nama art deco. Masyarakat saat itu menamai seni yang populer tersebut sebagai seni modern. Ungkapan art deco diperkenalkan pertama kali pada tahun 1966 dalam katalog yang diterbitkan oleh Musée des Arts Décoratifs di Paris yang pada saat itu sedang mengadakan pameran dengan tema Les Années 25 yang bertujuan untuk meninjau kembali pameran internasional Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes yang diselenggarakan tahun 1925 di Paris. 2.3.3 Sejarah Art Deco Gerakan awal ini disebut Style Moderne. Istilah Art Deco diambil dari eksposisi 1925, meskipun baru pada 1960 istilah ini diciptakan, ketika terjadi kebangkitan kembali Art Deco. Nama Art Deco diilhami dari satu pameran Exposition Internationale des Arts Decoratifs Industriale et Modernes yang diadakan di Paris pada tahun 1925. Art Deco menunjukkan suatu istilah langgam decoratif yang terbentuk di antara tahun 1920-1930. Yang membedakan antara langgam arsitektur ini dengan langgam lainnya adalah adanya gerakan Modernisme. Gerakan ini memenuhi konsep modernisme, yaitu tuntutan estetika menuju bentuk sederhana. Hanya saja kelemahannya di satu pihak gerakan modernisme membebaskan diri dari keterikatan Arsitektur Klasik, tetapi di pihak lain membuat ikatan sendiri dalam bentuk konsensus internasional (International Style). Art deco menginduk pada modernisme hanya saja lebih fokus pada berbagai variasi dekoratif dalam berbagai produk. Karakter yang paling utama adalah bentuk geometrik murni dan kesederhanaan (Simplicity), penggunaan warna-warna cemerlang dan bentuk sederhana untuk merayakan hadirnya dunia komersial dan teknologi. Dari sinilah lahir art deco yang menjadi penanda jaman dalam bentuk-bentuk Arsitektur yang anggun.

26 2.3.4 Fasade Bangunan Art-Deco Pada tahun 1928 pengamat arsitektur new modern mendiskripsikan karakter art deco yaitu geras lurus, kaku, geometris dan cenderung mengikuti proporsi kubis. Garis datar yang sederhana dan kuat dengan sentuhan dekorasi pada warna, besi dan kaca untuk relief. Aritektur art deco dipengaruhi oleh berbagi aliran seperti kubism, futurism, dan ekspresionism ditambah dengan ekspresi dunia yang mengakibatkan revolusi industri II wajah arsitektur mengalami perkembangan yaitu : - kesederhanaan dalam dekorasi dengan menggunakan pita. - Menggunakan bentuk-bentuk geometri dengan garis lurus yang kuat pada bidang horisontal dan vertikal yang dominan. - Penggunaan warna-warna lembut tapi kontras. - Penggunaan bahan metal sebagai alternatif pengolahan desain. - Mengambil semangat mesin dari international style. 2.3.5 Langgam Art-Deco Art deco terbagi sesuai dengan klasifikasi yang ada, arsitektur langgam artdeco dibedakan menjadi empat, yaitu floral deco, streamline deco, zigzag deco, dan neo-classicael deco. Di Indonesia, banyak dikenal dua langgam yang pertama. Berikut penjelasan langgam tersebut : 1. Floral deco Floral deco merupakan salah satu tipe art deco yang memiliki desain berbentuk lekukan-lekukan garis yang melengkung, dan memiliki ciri khas ukiran bunga atau daun. Gambar 12. Langgam Floral Deco Sumber : Jurnal Media Matrasain 2. Streamline deco Streamline deco adalah salah satu tipe art deco yang merupakan gaya desain yang muncul selama tahun 1930. Desain ini menekankan gaya arsitektur yang

27 memiliki bentuk melengkung, dan garis horizontal panjang. Tipe ini banyak terlihat pada bangunan-bangunan yang ada di Indonesia. Contohnya di bandung terdapat bangunan yang menggunakan tipe art deco streamline, yaitu Gedung Villa Isola Bandung. 3. Zig zag deco Gambar 13. Langgam Streamline Deco Sumber : Jurnal Media Matrasain Zig zag deco memiliki pola bentuk garis yang tajam dan tegas serta bentuk zig zag yang merupakan ciri khasnya dan mengalami pengulangan bentuk yang harmonis. 4. Neo classicael deco Gambar 14. Langgam Zig zag Deco Sumber : Jurnal Media Matrasain Neo classicael deco merupakan tipe dari art deco yang memiliki corak ragam ukiran kuno yang dapat berbentuk wajah/benda, geometri, dan terdiri dari corak gabungan yang terlihat seperti ukiran-ukiran kuno. Gambar 15. Langgam Neo classicael Deco Sumber : Jurnal Media Matrasain

28 2.3.6 Ciri-Ciri Gaya Art-Deco Awal mula gaya art deco berkembang yaitu setelah gaya art nouveau berakhir yaitu mulai tahun 1910 sampai tahun 1930. Gaya art deco merupakan adaptasi dari bentukan historism ke bentukan modern. Gaya art deco ini memiliki estetika yang menjadi gaya pilihan bagi gedung-gedung dan tempat public seperti bioskop, stasiun kereta api, hotel, restoran dan kapal laut. Ciri gaya art deco sebagai berikut : - Berdasarkan peletakan bangunan menggunakan dua cara yaitu bangunan sudut dan bangunan menghadap ke jalan, namun tetap mempertahan fasad yang simetris. Pada bangunan publik akan ditemukan ruang lobby, sebelum dapat mengakses ruang-ruang yang lain. - Bentuk tampilan keseluruhan fasad bangunan art Deco pada umumnya memiliki simetris dalam berbagai skala bangunan. Penggunaan simetris visual ini diterapkan pada berbagai komponen bangunan berupa : canopy, jendela, pintu, teralis, armatur lampu, elemen estetik hingga signage pada bangunan. - Penggunaan bentuk yang bertingkat-tingkat atau berlapis-lapis (stepped form), streamline, zig-zag, lengkung, serta permukaan licin. - Interior dengan konsep estetik art deco menjadikan karakter lay-out sangat kuat terhadap pembentukan pola-pola simetris ruang. - Furniture art deco untuk interior dapat berupa loose-furniture dan built-in yang mengadopsi detail-detail yang khas dengan penyelesaian bentuk-bentuk geometris. - Terdapat ornamen sebagai ciri dari gaya art deco yang tampil dalam bentuk tiga dimensi atau memiliki profil dua dimensi yang berupa pembedaan warna pada suatu finishing. - Pintu dan jendela berbahan kayu solid berbentuk panel yang dikombinasikan dengan logam dan kaca polos (Calloway, 418-423). - Penggunaan kaca patri dengan motif-motif geometris (Calloway, 416). - Elemen dekoratif yang digunakan kebanyakan berupa sepuhan warna krom, besi tempa,perunggu, plastic (Young, 9). - Material yang umumnya digunakan adalah stainless steel, aluminium, glass block, batu gamping dan terakota karena sudah terpengaruh dengan teknologi modern.

29 2.4 Novelty Novelty adalah prinsip kebaruan dari suatu objek. Judul dan topik mengenai konservasi, maka prinsip kebaruan (novelty) terkait dengan hal tersebut. Konservasi adalah bentuk pelestarian atau perlindungan dari bangunan tua yang dikatakan bersejarah. Dahulu konservasi dilakukan hanya sebatas memperbaiki bangunan yang sudah ada sehingga serupa dengan bentuk bangunan yang sebelumnya, tanpa menambah atau mengurangi elemen-elemen yang ada pada bangunan, guna mempertahankan keaslian nilai bersejarah bangunan tersebut saat didirikan. Namun untuk saat ini, terdapat beberapa aplikasi alternatif sebagai bentuk tindakan konservasi. Tindakan tersebut disesuaikan dengan kondisi bangunan yang akan dikonservasi. Contoh dari aplikasi konservasi yang dianggap baru adalah adaptive reuse, adaptive reuse sebenarnya adalah proses akhir dari tindakan konservasi dengan memasukkan fungsi baru pada bangunan yang telah dikonservasi sesuai dengan kondisi keadaan saat ini. Selain bentuk penggunaan kembali bangunan yang telah ada sehingga mengurangi konstruksi bangunan baru, hal tersebut berkaitan dengan strategi bangunan yang berkelanjutan (sustanaibility). Karena dengan menggunakan bangunan yang sudah ada, dapat mengurangi biaya seumur hidup bangunan tersebut, limbah serta dapat melakukan peningkatan fungsi bangunan. Seperti halnya pada gedung PT. Kerta Niaga yang berada di Kawasan Kota Tua Jakarta, yang merupakan kawasan revitalisasi. Gedung PT. Kerta Niaga dalam kajian ini, dilakukan proses konservasi dengan memasukkan fungsi baru yaitu adaptive reuse. Yang selama ini gedung-gedung di Kota Tua hanya dibiarkan hingga rusak dan rubuh. Kali ini gedung tersebut dihidupkan kembali dengan fungsi baru yang sesuai dengan peraturan yang berlaku, kondisi gedung, serta lingkungannya. Kondisi gedug PT. Kerta Niaga tetap utuh seperti kondisi saat gedung ini didirikan. Ciri khas langgam art deco terlihat jelas pada gedung PT. Kerta Niaga, oleh karena itu, yang biasanya bangunan tua bersejarah ketika digunakan kembali akan dimasukkan pula gaya interior modern sesuai dengan zaman saat ini. Pada gedung PT. Kerta Niaga tetap dimasukkan gaya interior art deco untuk mempertahankan langgam-langgam art deco yang telah terbentuk didalam gedung tersebut.

30 2.5 Kerangka Berpikir STUDI PUSTAKA State Of The Art Latar Belakang Perumusan Masalah Penentuan Tujuan Identifikasi masalah Bangunan PT. Kertaniaga pada zona dilestarikan bentuknya dan peuntukan bangunan zona ini adalah art and culture. Pengumpulan Data Sekunder UN Habitat Gaya bangunan PT. Kertaniaga Teori Konservasi Revitalisasi Kota Tua Sejarah Kota Tua Teori Style Art Deco Peruntukan Bangunan Landasan Hukum yang terkait Sejarah dan foto awal bangunan PT. Kertaniaga Teori Adaptive Reuse Pengumpulan Data Primer Foto bangunan saat ini eksterior maupun interior Identifikasi kerusakan Denah Verifikasi Ukuran ekstrior & interior Jika Ya? Analisa manusia Analisa pengguna dan aktifitas Analisa Zonasi Analisis Data Analisa Bangunan Analisa Interior Analisa kerusakan Analisa eksterior Analisa Fasad Analisa Lingkungan Analisa eksisting Analisa pemetaan bangunan Kesimpulan Skematik desain Gambar 16. Kerangka Berpikir Sumber : Olahan Penulis Perancangan