BAB 2 LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum Pengertian Cagar Budaya Bangunan Cagar Budaya adalah sebuah kelompok bangunan bersejarah dan lingkungannya, yang memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan nilai sosial budaya masa kini maupun masa lalu (Burra Charter, 1992: 21). Pada dasarnya dasar pelakasanaan konservasi bangunan arsitektur cagar budaya mengacu pada ramburambu kebijakan secara nasional dalam bentuk peraturan perundang-undangan cagar budaya dan peraturan terkait lainnya, maupun peraturan-peraturan yang dikeluarkan yang diberlakukan secara regional, misalnya Pemda DKI Jakarta. Secara garis besar terdapat beberapa rambu-rambu yang menjadi rujukan adalah sebagai berikut. 1. Undang-undang No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya; Pasal 1 yang menyatakan Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap. 2. Undang-undang No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya; Pasal 5 yang menyatakan Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria: a. Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih; b. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun; 9

2 10 c. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan d. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. 3. Undang-undang No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya; Pasal 77 yang menyatakan : a. Pemugaran Bangunan Cagar Budaya dan Struktur Cagar Budaya yang rusak dilakukan untuk mengembalikan kondisi fisik dengan cara memperbaiki, memperkuat, dan/atau mengawetkannya melalui pekerjaan rekonstruksi, konsolidasi, rehabilitasi, dan restorasi. b. Pemugaran Cagar Budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memperhatikan: a) Keaslian bahan, bentuk, tata letak, gaya, dan/atau teknologi pengerjaan b) Kondisi semula dengan tingkat perubahan sekecil mungkin c) Penggunaan teknik, metode, dan bahan yang tidak bersifat merusak d) Kompetensi pelaksana di bidang pemugaran. c. Pemugaran harus memungkinkan dilakukannya penyesuaian pada masa mendatang dengan tetap mempertimbangkan keamanan masyarakat dan keselamatan Cagar Budaya. 4. SK Gubernur KDKI Jakarta No.475 tahun 1993 yang mengatakan, Penetapan Bangunan-bangunan Bersejarah di daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Benda Cagar Budaya. 5. Peraturan Menteri No. 01/PRT/M/ 2015 tentang gedung cagar budaya yang dilestarikan; Pasal 7 yang menyatakan: a. Persyaratan tata bangunan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 terdiri atas: a) Peruntukan dan Intensitas bangunan gedung b) Arsitektur bangunan gedung c) Pengendalian dampak lingkungan b. Persyaratan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diberlakukan dalam hal bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan mengalami perubahan fungsi, bentukm karakter fisik dana tau penambahan gedung.

3 11 6. Peraturan Menteri No. 01/PRT/M/ 2015 tentang gedung cagar budaya yang dilestarikan; Pasal 10 yang menyatakan: a. Penyelenggaraan bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan meliputi kegiatan: a) Persiapan b) Perencanaan Teknis c) Pelaksanaan d) Pemanfaatan e) Pembongkaran 7. Peraturan Menteri No. 01/PRT/M/ 2015 tentang gedung cagar budaya yang dilestarikan; Pasal 14 yang menyatakan: 1. Rekomendasi dan tindakan pelestarian bangunan gedung cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 ayat (5) berupa a) Perlindungan b) Pengembangan c) Pemanfaatan 2. Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas a) Pemeliharaan b) Pemugaran 3. Pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas a) Revitalisasi b) Adaptasi 8. Peraturan Menteri No. 01/PRT/M/ 2015 tentang gedung cagar budaya yang dilestarikan; Pasal 16 yang menyatakan Adaptasi sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 14 ayat (3) huruf b dilakukan melalui upaya pengembangan bangunan gedung cagar budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan cara melakukan perubahan terbatas yang tidak mengakibatkan penurunan nilai penting atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilai penting.

4 Upaya Mempertahankan Bangunan Cagar Budaya Dalam mempertahankan bangunan cagar budaya terdapat rambu-rambu dan kebijakan dalam pelaksanaannya, yang diatur secara peraturan perundang-undangan. Salah satunya adalah Undang-undang No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya; Pasal 83 yang menyatakan: 1. Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya dapat dilakukan adaptasi untuk memenuhi kebutuhan masa kini dengan tetap mempertahankan: a) Ciri asli dan/atau muka Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya; dan/atau b) Ciri asli lanskap budaya dan/atau permukaan tanah Situs Cagar Budaya atau Kawasan Cagar Budaya sebelum dilakukan adaptasi. 2. Adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan: a) Mempertahankan nilai-nilai yang melekat pada cagar budaya; b) Menambah fasilitas sesuai dengan kebutuhan; c) Mengubah susunan ruang secara terbatas; dan/atau d) Mempertahankan gaya arsitektur, konstruksi asli, dan keharmonisan estetika lingkungan di sekitarnya Definisi Preservasi Sebuah tindakan atau proses yang bertujuan mempertahankan bentuk asli dan kondisi pada bangunan dan berusaha untuk mementingkan proses pemeliharaannya. Preservasi jarang digunakan pada Negara Amerika, karena mereka menggunakan istilah yang mirip yaitu konservasi. Istilah preservasi digunakan pada Negara Inggris dan Australia. Oleh sebab itu penulis kedepan akan menggunakan istilah yang digunakan oleh Negara Inggris Definisi dan Bentuk-Bentuk Konservasi Konservasi adalah suatu proses pengelolaan suatu tempat atau ruang atau obyek agar makna kultural yang terkandung didalamnya terpelihara dengan baik. Yang termasuk cara pemeliharaan dan bila memungkingkan menurut keadaan proses preservasi, restorasi, rekonstruksi, dan adaptasi, maupun kombinasinya termasuk kedalam proses konservasi. (Burra Charter :1999).Konservasi juga merupakan salah satu pengelolaan sumber budaya.

5 13 Konservasi merupakan suatu proses memahami, menjaga, yang juga mementingkan pemeliharaan, perbaikan, pengembalian, dan adaptasi terhadap aset sejarah untuk memelihara kepentingan kebudayaan. Konservasi merupakan salah satu proses pengelolaan yang berkelanjutan terhadap perubahan, yang dalam prosesnya memperhatikan beberapa pendekatan nilai yaitu nilai umur dan kelangkaan, nilai arsitektur, nilai artistik, nilai kebudayaan, nilai asosiatif, nilai ekonomi, nilai pendidikan, nilai emosi, nilai sejarah, nilai landscape, kekhasan daerah, nilai politik, nilai masyarakat, nilai agama, nilai sosial, nilai simbolik, nilai teknik, nilai sains, penelitian dan pengetahuan, dan tampilan suatu kota (Architectural Conservation:Aylin Orbasli). Bentuk-bentuk kegiatan konservasi diantaranya: KONSERVASI PRESERVASI (Murtagh, 1988) RESTORASI (Murtagh, 1988) REKONSTRUKSI (Murtagh, 1988) ADAPTIVE-USE (Murtagh, 1988) Tabel 1. Istilah dan Pengertian Sebuah proses yang bertujuan memperpanjang umur warisan budaya bersejarah, dengan cara memelihara dan melindungi keotentikan dan maknanya dari gangguan kerusakan, agar dapat dipergunakan pada saat sekarang maupun masa yang akan dating baik dengan menghidupkan kembali fungsi lama atau dengan memperkenalkan fungsi baru yang dibutuhkan Sebuah tindakan atau proses yang bertujuan mempertahankan bentuk asli, integritas, dan material dari suatu bangunan atau struktur mencakup juga bentuk-bentuk asli dan tanaman-tanaman yang ada di dalam tapaknya. Termasuk dalam kegiatan ini adalah pekerjaan stabilisasi, jika diperlukan, tanpa melupakan pemeliharaan yang terus menerus pada material bangunan Sebuah tindakan atau proses yang bertujuan mengembalikan bentuk serta detail-detail sebuah property dan settingnya secara akurat seperti tampak pada periode tertentu, dengan cara menghilangkan bagian-bagian tambahan yang dilakukan kemudian, ataupun dengan melengkapi kembali bagianbagiannya yang hilang Sebuah tindakan atau proses membangun kembali sebuah bangunan atau struktur atau objek atau bagian-bagiannya yang telah hilang atau rusak seperti tampak pada periode tertentu Sebuah proses pengubahan sebuah bangunan untuk kegunaan berbeda dari tujuan kegunaan ketika bangunan tersebut didirikan

6 14 REHABILITTASI Tindakan atau proses pengembalian sebuah objek pada konsisi yang dapat (Murtagh, 1988) dipergunakan kembali melalui perbaikan atau perubahan yang memungkinkan penggunaan sementara yang efisien, sementara wujudwujud yang bernilai sejarah, arsitektur dan budaya tetap dipertahankan RENOVASI (Murtagh, 1988) Moderanisasi bangunan bersejarah yang masih dipertanyakan dengan terjadinya perbaikan yang tidak tepat yang menghilangkan wujud dan detail penting REVITALISASI Sebuah proses untuk meningkatkan kegiatan sosial dan ekonomi bangunan/lingkungan bersejarah, yang sudah kehilangan vitalitas aslinya FASADISASI (Murtagh, 1988) Mempertahankan hanya bagian fasaf bangunan bersejarah sepanjang proses perubahan, dimana sisa dari wujud struktur tersebut hampir seluruhnya diubah atau dihancurkan HERITAGE (Murtagh, 1988) Sesuatu yang dilestarikan oleh generasi terdahulu(tangible dan intangible) dan diserahkan kepada generasi yang ada sekarang untuk diteruskan ke generasi yang akan datang CULTURAL HERITAGE Heritage yang diasosiasikan dengan manusia dan kegiatannya (tangible dan intangible) (De Silva, ICOMOS 1996:61) BANGUNAN BERSEJARAH Bangunan beserta tapaknya yang telah memenuhi kriteria yang ditentukan oleh UURI 92 tentang benda cagar budaya Sumber: Harastoeti Bangunan Cagar Budaya di Bandung Penerapan, Prinsip dan Panduan Konservasi A. Etika Konservasi Selain prinsip umum, terdapat peran lain yang mendasari dalam tahap konservasi yaitu etika dalam konservasi. pendekatan terhadap nilai yang didapatkan mendukung suatu kegiatan konservasi juga harus didasari oleh unsur keutuhan dan keaslian. Keutuhan (Integrity) Konservasi harus dilakukan dengan keutuhan untuk mengembalikan bangunan, dengan menggunakan material yang sesuai untuk tujuan dan cara yang tepat. Bangunan bersejarah merupakan barang peninggalan dari masa lalu yang memberikan detail dan informasi tentang masa lalu tersebut yang merupakan salah

7 15 satu keutuhan sejarah. Mengembalikan bangunan dapat melalui restorasi atau rekonstruksi yang dapat mencirikan keadaan dimasa lalu, untuk tujuan penyajian keaslian dari bangunan. Keutuhan disini mencakup: a) Keutuhan Fisik bangunan (material bangunan dan hubungan antar unsur lainnya) b) Keutuhan struktur yang digunakan c) Keutuhan desain d) Keutuhan estetika yang digunakan e) Keutuhan bangunan (layout dan fungsi) f) Integritas dari tim professional konservasi. Keaslian (Authenticity) Keaslian menurut kamus bahasa inggris oxford berarti asli, yang sumber asal mulanya tidak perlu dipertanyakan kembali. Sumber lain mengatakan juga bahwa keaslian sebagai kebenaran. Terdapat banyak unsur keaslian pada projek bangunan konservasi yang perlu diperhatikan, salah satunya dari keaslian suatu penggunaan material untuk mempertahankan desain semula yang digunakan arsitek. Keaslian berarti asli dalam arti mengembalikan bangunan ke bentuk semula. Keaslian dalam unsur konservasi berkaitan dengan: a) Bentuk desain b) Material c) Teknik, tradisi dan proses d) Tempat, konteks, layout e) Fungsi dam kegunaan bangunan Replika merupakan salah satu contoh penerapan yang memiliki kekurangan unsur keasliannya. Padahal material asli pada bangunan merupakan salah satu bukti nyata dalam sejarah untuk masa depan, sehingga material asli pda bangunan tidak boleh diganti secara keseluruhan harus tetap mempertahankan yang ada. Walapun teknologi telah maju dan dapat menciptakan sesuai aslinya, tetapi unsur keaslian dan spririt dari bangunan tersebut telah hilang. B. Penerapan tindakan konservasi pada fisik dan fungsi bangunan Dalam berkembangnya kebutuhan, sering terdapat penyesuaian fungsi pada bangunan lama agar bisa dimanfaatkan kemabali pada masa kini maupun pada masa yang akan datang. Buttenshaw et.al (1991: dalam Tiesdell et al, 1996:4)

8 16 menyatakan bahwa kegagalan untuk mencari fungsi baru pada bangunan lama akan menyebabkan sebuah kota menjadi kota museum. Sehingga dalam mengatas permasalahan tersebut, alternatif penyesuaiannya menggunakan konsep adaptive-use, yang dapat dilihat dari 2 sisi, yakni: a) Bangunan yang dipreservasi pada umumnya bentuk asli harus dipertahankan, tidak boleh diubah, sehingga penyeleksian dalam memilih fungsi baru pada bangunan b) Bangunan yang dikonservasi lebih bebas dalam menampung, berbagai fungsi baru, karena masih dimungkinkan mengubah bangunan, jika memang diperlukan, sampai batas-batas tertentu, sejauh tidak menyalahi konsep konservasi Tabel 2. Kaitan Antara Kegiatan Konservasi dengan Perubahan Fisik dan Fungsi FISIK FUNGSI TIDAK BERUBAH BERUBAH TIDAK BERUBAH BERUBAH KEGIATAN Penambaha n & penyisipan elemen bangunan baru Pembongkaran sebagian & penggantian elemen baru Menerus & berkembang (extended- Use) Adaptasi terhadap kebutuhan baru (adaptive- Use) KONSERVASI Renovasi Rehabilitasi Fasadisasi PRESERVASI Rekonstruksi Restorasi Replikasi REVITALISASI Sumber: Harastoeti Bangunan Cagar Budaya di Bandung = terjadi = Tidak Terjadi Dapat kita lihat pada tabel 1.2 penerapan jenis kegiatan konservasi terhadap perubahan fisik dan fungsi bangunan, bahwa kelompok kegiatan konservasi (renovasi, rehabilitasi, fasadisasi) memungkinkan adanya perubahan fisik bangunan,

9 17 fungsi boleh menerus atau berubah. Sedangkan kelompok kegiatan preservasi (rekonstruksi, restorasi, dan replikasi) sebaliknya. C. Penerapan pada Bangunan Dalam pengerjaan suatu proyek konservasi tentu akan menemukan bebepa keputusan yang harus dibuat agar proses dapat berlangsung. Oleh karena itu terdapat prinsip-prinsip dasar konservasi yang telah dibagi menjadi 3 bagian yaitu pemahaman, pelaksanaan, dan evaluasi. Pemahaman Pelaksanaan Evaluasi Tabel 3. Prinsip Dasar dari Konservasi Berdasarkan bukti dan keterangan yang telah ada (kondisi fisik) Pemahaman sejarah bangunan Lokasi bangunan dan lingkungan sekitarnya Penggunaan fungsi yang sesuai Perbaikan material Tradisi dan Teknologi Kesinambungan Bukti historical Tindakan pendekatan baru pada permasalahan yang baru Suistainability Interpretasi Sumber:Aylin Orbasli Architectural Conservation Berdasarkan tabel diatas kita dapat mengambil kesimpulan yaitu: a) Konservasi harus didasari oleh pemahaman sejarah dari kondisi awal hingga saat ini, yang merupakan nilai bagi budaya maupun yang lainnya. b) Perbaikan material sebaiknya mengikuti petunjuk yang telah ada atau konsultasi dengan pakar yang mengerti tentang material baik itu secara kualitas dan usia c) Pendekatan yang sesuai harus didasarkan pada kejujuran dan keaslian d) Prinsip diatas bertujuan sebagai sumber dan petunjuk dalam pelaksanaan konservasi, pada saat proses pengerjaan tetap harus berkonsultasi dengan pakar e) Konservasi memperhatikan masa lalu- masa kini dan masa depan (suistainability)

10 18 Dari setiap jenis kegiatan konservasi, adaptive reuse merupakan salah satu kegiatan yang cocok untuk diaplikasikan pada Gedung Rotterdamsche Lloyd yang diikuti dengan kegiatan restorasi Pengertian Adaptive reuse Hampir setiap bangunan akan mengalami perubahan fungsi seiring berjalannya waktu, yang diikuti dengan perubahan layout ruang dan perubahan fasad/permukaan bangunan. Melakukan perubahan pada bangunan untuk memuat fungsi baru juga dikatakan mengaktifkan kembali kegunaan pada bangunan bersejarah. Walaupun demikian pemuatan fungsi baru harus sesuai dengan fasad bangunan dan integritasnya yang kuat. Bangunan menjadi terbuang atau tidak terpakai disebabkan oleh berapa hal diantaranya terjadinya perubahan ekonomi, industri, demografi, dan kenaikan biaya perawatan bangunan, dan yang paling utama bangunan sudah tidak sesuai dengan fungsi yang dibutuhkan. Oleh sebab itu agar bangunan dapat memenuhi kebutuhan dari pemiliknya, bangunan mengalami adaptasi dan diperbarui, sementara struktur utama tetap. Tidak semua fungsi baru yang digunakan pada bangunan bersejarah sesuai, Apabila tingkat intervensi yang diperlukan untuk memasukan fungsi baru pada gedung menimbulkan kerusakan pada nilai sejarahnya, maka fungsi tersebut dikatakan tidak sesuai dengan bangunannya. Fungsi baru pada bangunan harus mempertimbangkan apakah fungsi yang ingin dimasukan sesuai dengan bangunannya (apakah memiliki jendela yang cukup, apakah fungsi yang baru dapat melindungi dan mengangkat bukti kebudayaan pada gedung tersebut). Selain fungsi, lokasi menjadi salah satu pertimbangan dalam memasukan fungsi baru dalam sebuah bangunan. Karena setiap lokasi memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. 2.2 Tinjauan Khusus Sejarah Kota Jakarta Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia,Taman Sari dan Roa Malaka). Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-

11 19 16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah. Pada zaman VOC, di sepanjang Kali Besar ada berbagai bangunan seperti gudang, pemukiman pribadi, gereja, dan pasar. Beberapa pasar yang ada di kawasan Kali Besar antara lain Pasar Sayur, Pasar Pisang, Pasar Ayam, dan Pasar Beras. Di antara bangunan yang terletak di sepanjang Jl. Kali Besar Barat dan Jl. Kali Besar Timur yang rata-rata bergaya Eropa serta didirikan pada abad ke-19, meliputi bangunan lama, kantor dan juga gudang. Kali Besar merupakan pusat perekonomian dan perdagangan VOC dimana terdapat bangunan-bangunan untuk pembuatan dan perbaikan kapal-kapal serta orang-orang kuli atau budak bekerja. Daerah Kali Besar dipandang sebagai daerah kediaman kelas elit pada awal abad ke-18 dan menjadi daerah pusat kantor-kantor perdagangan internasional di era berikutnya. Salah satu contohnya adalah bangunan Toko Merah. Banyak rumah orang Tionghoa terdapat di sini yang dibakar pada tahun Kali Besar beberapa kali berubah fungsi, setelah Ciliwung diluruskan (1632) kapal-kapal kecil membawa barang dari laut dan dari pedalaman ke pelabuhan. Sejak tahun 1870 semakin banyak perusahaan niaga yang berkantor di Kali Besar, hingga sampai tahun 1960-an merupakan daerah pusat kantor-kantor perdagangan internasional. Ketika Kali Besar menjadi pusat dagang, berakibat keberadaan gereja dan pasar lenyap. Posisinya sebagai pusat dagang hampir saja tergeser dengan selesainya Pelabuhan Tanjung Priok yang hanya berjarak 10 km dari Kali Besar (1885). Munculnya wabah malaria menjadikan daerah ini tidak kondusif sebagai pusat bisnis baru. Baru pada tahun 1900, banyak pengusaha yang pindah ke sepanjang Noordwijk dan Rijswijk Sejarah Gedung Rotterdamsche Lloyd Bangunan Rotterdamsche Lloyd dahulu dikenal sebagai gedung Dunlop& Kolff yang berfungsi sebagai kantor perusahaan percetakan dan ban tahun 1900, pada tahun 1938 bangunan ini bealih fungsi menjadi kantor Rotterdamsche Llyod dibidang perkapalan. setelah awal abad ke-20 menjadi termasuk kedalam kawasan gedung internationale credit en Handelsvereeniging Rotterdam, atau lebih dikenal dengan nama Rotterdam Internatio yang sekarang kita kenal dengan PT. Cipta Niaga. Gedung ini merupakan rancangan yang dibuat oleh biro arsitek Ed Cuypers en Hulswit. Gedung ini memiliki pintu masuk menghadap ke Jalan kali besar timur 3,

12 20 dan kearah jalan pintu besar utara. Gedung yang memiliki 2 lantai ini serta basement yang berfungsi sebagai penyimpanan uang pada zaman kolonial, serta lorong yang menghubungkannya dengan pintu di pelabuhan sunda kelapa. Saat nasionalisasi perusahaan-perusahaan belanda, gedung ini diambil alih dan dijadikan aset oleh PT. Aneka Niaga dan sempat menjadi area pedagang pada kawasan kota tua tahun. Tetapi sekarang telah menjadi hak milik PT.Perusahaan Perdagangan Indonesia. Lokasi Fungsi Awal Fungsi Saat Ini Arsitek Konstruksi Beton Pemasok Batu Interior Tabel 4. Data Bangunan Jalan Kalibesar Timur 3 No.15A, Jakarta Barat Kantor Perusahaan Tidak digunakan Biro Arsitek Ed Cuypers en Hulswit Subbiro Weltevreden of Hollandsche Maatschappij Firma D.Weegewijs, Amsterdam Firma Lindeman & Schooneveld, Amsterdam Sumber: UPK Kota Tua Gambar 4. Gedung Dahulu(1900) - Saat Ini(2015) Sumber:Batavia Nineteenth Century Photography Dokumen Pribadi Lokasi Gedung Rotterdamsche Lloyd Gedung Rotterdamsche Lloyd terletak di pada Jalan Kali Besar Timur 3 No.15A, Tamansari, Kota Jakarta Barat. Gedung ini terletak di hook sehingga memiliki 2 pintu masuk menghadap ke Jalan kali besar timur 3 yang langsung berbatasan dengan jalan raya, dan kearah Jalan pintu besar utara yang menuju kearah taman fatahillah.

13 21 Gambar 5. Lokasi Gedung Rotterdamsche Lloyd Sumber: Google Maps Perkembangan Gedung Rotterdamsche Lloyd Data gedung Rotterdamsche Lloyd tidak cukup banyak ditemukan, oleh sebab itu penulis menganalisa bentuk tampak bangunan dengan membandingkan dengan gedung disampingnya. Gambar 6. Foto Udara (1928) Gedung Rotterdamsche Lloyd Sumber: Collection Dirk Teeuwen, Holland Pada foto diatas dapat dilihat bahwa gedung Rotterdamsche memiliki atap yang sama dengan gedung disebelahnya, padahal jika dilihat sekarang gedung Rotterdamsche memiliki atap yang berbeda (gambar 5). Oleh sebab itu penulis, mencari foto gedung lama untuk gedung disebelah Rotterdamsche Lloyd. 1. Van Vaulten and Cox Merupakan salah satu firma perdagangan di Batavia, gedung ini selain dijadikan kantor juga dijadikan Toko perdagangan pada tahun 1875.

14 22 Gambar 7. Gedung the Firm of Van Vaulten and Cox (1875) Sumber: Batavia Nineteenth Century Photography 2. G.Kolff & Co. Merupakan salah satu firma percetakan, penerbit, serta penjual buku yang didirikan pada tahun 1848 di zaman kolonial. Mereka juga menerbitkan koran pada tahun Dan membuka cabang kedua di Jalan Juanda pada bulan September Gambar 8. Gedung G.Kolff & Co. (1875) - G.Kolff & Co. (1936) Sumber: Batavia Nineteenth Century Photography Collection Dirk Teeuwen, Holland 2.3 Tinjauan Terhadap style Arsitektur Kolonial di Indonesia Arsitektur Kolonial adalah sebutan terhadap arsitektur eropa terutama Belanda yang dibawa ke Indonesia pada masa penjajahan. Sebutan tersebut berlanjut hingga kini untuk bangunan-bangunan yang memiliki gaya yang sama dengan arsitektur pada masa penjajahan dahulu. Kemungkinan sebutan ini untuk membedakan arsitektur gaya Eropa dengan arsitektur Eropa yang dibawa oleh Belanda ke Indonesia, karena tentu saja arsitektur tersebut telah menjadi sesuatu yang baru karena proses-proses adaptasi dan akulturasi dengan konteks lingkungan dan budaya Indonesia. Arsitektur Kolonial memberikan pengaruh kepada terciptanya

15 23 arsitektur-arsitektur baru di Indonesia. Dengan percampuran budaya, material, ilmu pengetahuan (metode struktur, konsep dan pemograman ruang, dan lain-lainnya) menyebabkan arsitektur yang dibawa oleh penjajah ini berubah menjadi sesuatu yang baru, diantaranya adalah arsitektur Imperium, arsitektur Indis dan arsitektur Nieuwe Bouwen. Arsitektur Imperium Adalah arsitektur yang banyak dipengaruhi oleh arsitektur neoklasik romawi dan yunani serta reinansances. Arsitektur ini banyak dipergunakan untuk menunjukan kekuasaan, kemegahan, kemakmuran dan kekayaan. Arsitektur ini digunakan untuk menunjukan status sosial dari pemilik bangunan. Arsitektur ini biasanya dipergunakan pada arsitektur bangunan pemerintahan dan militer. Berikut beberapa contoh arsitektur Imperium dan arsiteknya; A. Istana Bogor (1744), Van Imhoff Dirancang dengan gaya imperium untuk mengesankan monumental dan sbagai lambang kekuasaan. Penggunaan kolo-kolom ionic dan pediment pada fasad, bentuk jendela dengan ornamen atau relief diatasnya, penggunaan entablature, penggunaan cupola, dll. Dan pada interiornya terdapat pahatan lukisan diatap dan kolom yang digunakan adalah kolom Corinthian. Gambar 9. Istana Bogor, Van Imhoff Sumber: diakses tanggal 15 April 2015 B. Istana Negara (1873), Drosarres Hampir sama dengan istana bogor yang berkesan monumental dan kekuasaan, sekarang istana ini telah menjadi istana Negara Republik Indonesia. Gaya neo klasik

16 24 juga dipakai pada arsitektur ini, dengan penggunaan deretan kolom doric pada fasad, jendela-jendela besar dengan ornamen segitiga diatasnya. Gambar 10. Istana Negara, Drosarres Sumber: diakses tanggal 15 April 2015 Arsitektur Indis Arsitektur indis adalah sebutan untuk arsitektur yang menggabungkan gaya Eropa dengan arsitektur tradisional Indonesia. Percampuran ini bisa terjadi pada sebuha bangunan yang menggunakan gaya arsitektur neo klasik atau art deco, tetapi diadaptasikan dengan iklim dan budaya Indonesia dengan penambahan ventilasi, bukaan yang berjumlah banyak, atap miring dan lebar, denah yang menerapkan budaya-budaya dari Indonesia. Penggunaan material lokal juga ikut berperan penting dalam manifestasi arsitektur indis.arsitektur tradisional yang dipergunakan tidak hanya satu jenis saja, tetapi ada juga yang meggunakan beberapa arsitektur tradisional dengan metode konstruksi Eropa dan material-material lokal. Berikut beberapa contoh dibawah ini: Gambar 11. Gedung Kampus ITB Gedung Sate Bandung Sumber: kickdavid.com diakses tanggal 15 April 2015

17 25 Nieuwe Bouwen Pengaruh perkembangan arsitektur modern disebut juga dengan arsitektur Niuwen Bouwen. Arsitektur ini merupakan arsitektur modern yang terpengaruh art deco, de stijl, dan beberapa pengaruh dari arsitektur Eropa dan Amerika seperti Le Corbusier dan Frank Llyod Wright. Arsitektur ini tentu saja sudah diadaptasikan dengan iklim dan budaya di Indonesia. Sehingga gaya yang dihasilkan memiliki perbedaan dengan arsitektur modern di Eropa maupun di Amerika. Berikut beberapa contohnya: A. Pusat Perdagangan Bandung (1919), C.P Wolf Schuemaker Bentuk dan dekorasi bangunan sangat dipengaruhi oleh konsep-konsep arsitektur modern.penggunaan bentukan-bentukan murni serta penggunaan komposisikomposisi elemen vertikal horizontal menjadi ciri khas bangunan ini. Gambar 12. Pusat Perdagangan Bandung Dahulu-Sekarang Sumber: diakses tanggal 15 April 2015 B. Villa Isola Bandung (1932), C.P Wolf Schoemaker Gambar 13. Villa Isola Bandung Dahulu-Sekarang Sumber: rickylicious.blogspot.com diakses tanggal 15 April 2015

18 26 C. Villa de Locomotiven, Bandung, A.F Albers Gambar 14. Villa de Locomotive, A.F Albers Sumber: diakses tanggal 15 April Karateristik Art deco Gaya Art deco adalah suatu gaya pada seni kontemporer presentatif yang lahir di Eropa seiring dengan perubahan dan perkembangan kebudayaan pada jaman yang labil, yang menuntut pembaharuan-pembaharuan berupa keinginan akan sesuatu yang baru untuk memenuhi kebutuhan pada jaman tersebut. Hal ini didorong oleh semangat baru akibat revolusi industri di daratan Eropa, yaitu dengan memanfaatkan bahan-bahan yang dihasilkan pabrik untuk suatu karya seni sehingga Art Deco lebih bersifat fleksibel dalam menemukan medianya seperti pada karya seni, karya furniture, alat rumah tangga maupun pada karya arsitektur. Pada tahun 1928 seorang pengamat arsitektur modem mendeskripsikan karakter art deco dalam kaitannya dengan tampilan bangunan yaitu adanya pemakaian garis lurus, geometris dan cenderung mengikuti proporsi kubus yang dipengaruhi oleh aliran kubisme. Garis datar yang sederhana dan kuat dengan sentuhan dekorasi pada warna, besitempa dan kaca untuk relief. Pembagian trend dalam arsitektur art deco di Amerika sebagai berikut: Zig-zag Modeme Banyak digunakan untuk bangunan-bangunan komersial yang mempunyai gaya eksotik. Ciri utama dari gaya ini adalah: a) Kekayaan omamen pada eksterior diulang ke dalam interior.

19 27 b) Ornamen-ornarnen yang digunakan adalah : Motif binatang, Sinar matahari, geometris beribentuk zig-zag, segitiga, garis,!ingkaran bersegmen dan spiral, bentuk zigurat (mengecil dipuncak), Air mancur beribentuk mozaik, Motif tanaman abstrak. c) Pengaruh budaya Yunani, Aztek, Assyria, Maya dan Mesir dengan abstraksi, adaptasi dan rekombinasi. d) Penggunaan warna yang menyala. e) Mengambil ekspresi dari jaman mesin berupa penangkal petir, kapal laut, jembatan, automobil dan sebagainya. Gambar 15. Pintu Masuk Hoover Factory Sumber: An Introduction to 20 th century Architecture Classical Modeme Trend ini muncul sebagai perwujudan keinginan untuk menghidupkan kembali gaya historik dan penyederhanaan bentuk - bentuk klasik yang pada umumnya rumit. Ciri utamanya adalah: a) Massa Simetris. b) Menara pusat dengan puncak datar c) Unsur horisontal kuat. d) Ada dekorasi di atas pintu masuk. e) Menara sebagai klimaks bangunan. f) Permukaan dinding sederhana sebagai ganti dari kolom - kolom klasik.

20 28 g) Tembok vertikal datar. h) Mempunyai kesan permanen. i) Pada eksterior dihiasi relief atau patung yang berdiri sendiri. Gambar 16. Niagara Hudson Building Sumber: An Introduction to 20 th century Architecture Streamline Modeme Trend yang menggunakan kekuatan garis sebagai pembentuk ekspresi. Ciri-cirinya sebagai berikut : a) Orientasi horisontal b) Atap datar c) Bentuk aerodinamik pada garis kurva d) Setback tiga dimensional e) Banyak menggunakan kaca dan jendela f) Kaya warna g) Menggunakan baja atau logam sebagai penguat railing h) Meniru bentuk efisiensi mesin dan merupakan perkembangan dari zig-zag modern Gambar 17. Gustaf House - New York Sumber: An Introduction to 20 th century Architecture

21 29 Tropical Deco Style ini merupakan cabang dart trend Streamline yang muncul karena adanya adaptasi terhadap iklim tropis pada sebuah negara. Ciri-cirinya adalah : a) Horizontal dan bergaris cepat gaya streamline b) Ornamen menggunakan gaya organik dan klasik c) Balkon berbentuk dek d) Jendela berbentuk segi delapan atau lubang meriam e) Adanya alis penahan sinar matahari dan air hujan atau dengan set-back jendela asimetris dan garis kurva f) Material metal dan kaca sebagai pembentuk garis lurus yang tajam. 2.4 Novelty Gambar 18. Palmer House - Miami Beach Sumber: An Introduction to 20 th century Architecture Menurut Jacques dalam Bani (2004). konsep pelestarian pada awalnya cenderung hanya melestarikan (preserve) dan mempertahankan bangunan sebagai suatu museum. Dan pengawetan benda-benda monumen bersejarah. Yang perkembangannya saat ini pelestarian tidak hanya mencakup skala bangunan dan benda saja melainkan pada lingkungan. Menurut Shankland dalam Bani (2004), lingkup pelestarian dapat dibedakan atas desa dan kota kecil bersejarah, kawasan bersejarah dalam kota besar, kota bersejarah, dan kelompok bangunan bersejarah. Seiring perkembangan peranan konservasi tidak cukup hanya memelihara dan melestarikan saja, melainkan perlu dilandasi oleh motivasi sosial, budaya, aspek estetis dan pertimbangan segi ekonomi yang mengejawantahkan simbolisme, identitas suatu kelompok ataupun aset kota. Sehingga upaya konservasi berkembang ke tahap aktivasi bangunan, yang menghidupkan kembali aktivitas didalam bangunan

22 30 yang awalnya pernah ada, tetapi telah mengalami kemunduran/degradasi yang disebabkan oleh beberapa hal. Perkembangan ini diikuti dengan tahap restorasi dan renovasi pada bangunan. Dalam tahapan perkembangan selanjutnya, walaupun konservasi telah mengembalikan fungsi yang ada pada bangunan sebelumnya sehingga dapat hidup kembali. Tetapi seiring perkembangan zaman tingkat kebutuhan yang dibutuhkan pun oleh pengguna juga berbeda dari periode sebelumnya dengan lahan yang tersedia semakin terbatas. Oleh sebab itu untuk memiliki wadah yang memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan saat ini tanpa membuat bangunan baru menjadi suatu tuntutan. Sehingga upaya konservasi dengan menambahkan fasilitas dan fungsi yang memadai untuk kegunaan saat ini (adaptive reuse) dipakai untuk menjawab permasalahan tersebut dengan tanpa merubah struktur utama. Proses konservasi dengan adaptive reuse juga dianggap sebagai salah satu penghematan energi diberbagai bidang.

23 Kerangka Berpikir Kerangka Berpikir Penelitian Gambar 19. Kerangka Berpikir Sumber : Olahan Penulis

24 32

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Tinjauan Umum Cagar Budaya Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan cagar, sebagai daerah perlindungan untuk melestarikan tumbuh-tumbuhan,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tempat-tempat bersejarah, obyek-obyek dan manifestasi adalah ekspresi yang penting dari budaya, identitas serta agama kepercayaan untuk masyarakat sekitar. Setiap nilai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tahun 2010, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam UU tersebut, dikatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri pada akhir dekade pertama abad ke-19, diresmikan tanggal 25 September 1810. Bangunan

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN. 88 Universitas Indonesia. Gereja Koinonia..., Rinno Widianto, FIB UI, 2009

BAB 5 KESIMPULAN. 88 Universitas Indonesia. Gereja Koinonia..., Rinno Widianto, FIB UI, 2009 BAB 5 KESIMPULAN Bangunan Gereja Koinonia merupakan bangunan tinggalan kolonial pada awal abad 20 jika dilihat dari tahun berdirinya. Perkembangan gaya seni arsitektur di Indonesia tidak lepas dari pengaruh

Lebih terperinci

Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta

Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta Augustinus Madyana Putra (1), Andi Prasetiyo Wibowo

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN LITERATUR

BAB II KAJIAN LITERATUR BAB II KAJIAN LITERATUR 2.1 Pengertian Pelestarian Filosofi pelestarian didasarkan pada kecenderungan manusia untuk melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat namun memiliki arti penting

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam Revitalisasi Kawasan Pabrik Gula Krebet Malang ini mencangkup empat aspek yaitu: Standar Perancangan Objek Prinsip-prinsip

Lebih terperinci

163 Universitas Indonesia

163 Universitas Indonesia BAB 5 PENUTUP Pada bab ini dijelaskan mengenai kesimpulan semua pembahasan yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya dan saran. Kesimpulan ini juga menjawab pertanyaan permasalahan yang dibuat pada

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang Mengingat : a.

Lebih terperinci

BANGUNAN BALAI KOTA SURABYA

BANGUNAN BALAI KOTA SURABYA SAINS ARSITEKTUR II BANGUNAN BALAI KOTA SURABYA Diajukan oleh : LUTHFI HARDIANSYAH 0951010022 FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR 2012 Balai Kota Surabaya

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN TEMA INSERTION

BAB III TINJAUAN TEMA INSERTION BAB III TINJAUAN TEMA INSERTION 3.1 LATAR BELAKANG Perkembangan kota ditandai dengan makin pesatnya pembangunan fisik berupa bangunanbangunan baru di pusat kota. Bangunan-bangunan baru tersebut dibangun

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Budaya Lanskap adalah suatu bentang alam dengan karakteristik tertentu yang dapat dinikmati oleh seluruh indera manusia, dimana karakter tersebut menyatu secara harmoni

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perjalanan panjang sejarah terbentuknya kota Jakarta dimulai dari sebuah area kecil yang kini disebut daerah jembatan gantung kota intan. Dahulu lokasi tersebut adalah

Lebih terperinci

mereka sebagai satu-satunya masa yang membawa perubahan mendasar bagi umat manusia. Pengaruh masa lampau diperkuat oleh kenyataan bahwa Renaissance

mereka sebagai satu-satunya masa yang membawa perubahan mendasar bagi umat manusia. Pengaruh masa lampau diperkuat oleh kenyataan bahwa Renaissance SEJARAH RENAISSANCE Masa Renaissance sering disebut juga masa pencerahan Atau masa kelahiran, karena menghidupkan kembali budaya-budaya klasik, hal ini disebabkan banyaknya pengaruh filsuf-filsuf dari

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap Sejarah 2.2 Kriteria Lanskap Sejarah

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap Sejarah 2.2 Kriteria Lanskap Sejarah 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap Sejarah Lanskap adalah suatu bentang alam yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dinikmati keberadaannya melalui seluruh indera yang dimiliki manusia (Simonds

Lebih terperinci

REVITALISASI BANGUNAN MEGARIA SEBAGAI PUSAT SINEMA

REVITALISASI BANGUNAN MEGARIA SEBAGAI PUSAT SINEMA REVITALISASI BANGUNAN MEGARIA SEBAGAI PUSAT SINEMA Oleh : Harry Anggara 1 & Agus Dharma 2 Abstrak Bangunan bioskop Megaria merupakan salah satu peninggalan sejarah perkembangan arsitektur di tanah air.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli yang dibangun pada tahun 1906 M, pada masa pemerintahan sultan Maamun Al- Rasyid Perkasa Alamsjah.Masjid

Lebih terperinci

EGYPTIAN ARCHITECTURE

EGYPTIAN ARCHITECTURE EGYPTIAN ARCHITECTURE - terdapat pada daerah iklim yang panas kering - material tanah liat atau bebatuan lokal dengan warna asli materialnya. - Monumen dengan gaya arsitektur ini cenderung terdiri dari

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Lampiran 1. Rencana Tapak Seluruh Kompleks Istana Kepresidenan Bogor. Sumber: Bag. Teknik Istana Bogor, 2012

LAMPIRAN. Lampiran 1. Rencana Tapak Seluruh Kompleks Istana Kepresidenan Bogor. Sumber: Bag. Teknik Istana Bogor, 2012 LAMPIRAN Lampiran 1. Rencana Tapak Seluruh Kompleks Istana Kepresidenan Bogor. Sumber: Bag. Teknik Istana Bogor, 2012 Lampiran 2. Rencana Tapak Area Utama Istana Kepresidenan Bogor. 101 Lampiran 3. Denah

Lebih terperinci

Dasar Kebijakan Pelestarian Kota Pusaka 1. Tantangan Kota Pusaka 2. Dasar Kebijakan terkait (di Indonesia) 3. Konvensi Internasional

Dasar Kebijakan Pelestarian Kota Pusaka 1. Tantangan Kota Pusaka 2. Dasar Kebijakan terkait (di Indonesia) 3. Konvensi Internasional 1. Tantangan 2. Dasar terkait (di Indonesia) 3. Konvensi Internasional Source: PU-PPI. (2011). - Langkah Indonesia Membuka Mata Dunia. Jakarta: Direktorat Jenderal Penataan Ruang bersama-sama adan Indonesia

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN, STRUKTUR, DAN KAWASAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta

Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta SEMINAR HERITAGEIPLBI 2017 DISKURSUS Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta Indah Mega Ashari [email protected] Program Studi A rsitektur, Sekolah

Lebih terperinci

2.2 Tinjauan Gaya Neo Klasik Eropa dan Indonesia Sejarah Gaya Arsitektur Neo Klasik

2.2 Tinjauan Gaya Neo Klasik Eropa dan Indonesia Sejarah Gaya Arsitektur Neo Klasik 2.2 Tinjauan Gaya Neo Klasik Eropa dan Indonesia 2.2.1 Sejarah Gaya Arsitektur Neo Klasik Pada akhir zaman klasik, timbul kejenuhan terhadap bentuk, konsep dan norma arsitektur klasik, yang sudah merajai

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum 2.1.1 Cagar Budaya Menurut UU No.11 tahun 2010, Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebedaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum 2.1.1 Pengertian Adaptive Reuse Yang dimaksud dengan konservasi adalah proses merawat sebuah tempat, benda, ruang, dan pemandangan, untuk menjaga nilai budaya, estetika,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Seiring dengan kemajuan jaman, perkembangan dalam berbagai bidang kini semakin terasa di Indonesia. Kemajuan teknologi telah membawa suatu pengaruh yang cukup signifikan

Lebih terperinci

Elemen Tangga Pada 3 Bangunan Kolonial di Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta

Elemen Tangga Pada 3 Bangunan Kolonial di Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Elemen Tangga Pada 3 Bangunan Kolonial di Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta Hazimah Ulfah Az Zaky [email protected] Arsitektur Kolonial, Sejarah Teori Kritik

Lebih terperinci

KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D

KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR Oleh : SABRINA SABILA L2D 005 400 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORERIKAL PENDEKATAN ARSITEKTUR ORGANIK PADA TATA RUANG LUAR DAN DALAM HOMESTAY DAN EKOWISATA SAWAH

BAB III TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORERIKAL PENDEKATAN ARSITEKTUR ORGANIK PADA TATA RUANG LUAR DAN DALAM HOMESTAY DAN EKOWISATA SAWAH BAB III TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORERIKAL PENDEKATAN ARSITEKTUR ORGANIK PADA TATA RUANG LUAR DAN DALAM HOMESTAY DAN EKOWISATA SAWAH 3.1. Tinjauan Pendekatan Arsitektur Organik 3.1.1. Definisi Arsitektur

Lebih terperinci

Dampak Revolusi Industri dan Revolusi Sosial di Eropa Terhadap Perkembangan Arsitektur di Abad XVIII XIX Pertemuan 6 Gb.

Dampak Revolusi Industri dan Revolusi Sosial di Eropa Terhadap Perkembangan Arsitektur di Abad XVIII XIX Pertemuan 6 Gb. Matakuliah : SEJARAH ARSITEKTUR II Tahun : 2009 Dampak Revolusi Industri dan Revolusi Sosial di Eropa Terhadap Perkembangan Arsitektur di Abad XVIII XIX Pertemuan 6 Gb.1 / 9 : Judul Pertemuan 6.Gb.2 /

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Art deco adalah sebuah gerakan desain yang populer dari 1920 hingga 1939, yang mempengaruhi seni dekoratif seperti arsitektur, desain interior, dan desain industri,

Lebih terperinci

BAB 4 KESIMPULAN. Universitas Indonesia. Bntuk dan..., Albertus Napitupulu, FIB UI, 2009

BAB 4 KESIMPULAN. Universitas Indonesia. Bntuk dan..., Albertus Napitupulu, FIB UI, 2009 BAB 4 KESIMPULAN Pembangunan sarana dan prasarana bagi kebutuhan pemerintahan dan orang-orang barat di Bandung sejalan dengan penetapan kota Bandung sebagai Gemeente pada tahun 1906. Gereja sebagai tempat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1. Hotel Des Indes (kiri) yang Menjadi Komplek Duta Merlin (kanan) Sumber:google.co.id, 5 Maret 2015

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1. Hotel Des Indes (kiri) yang Menjadi Komplek Duta Merlin (kanan) Sumber:google.co.id, 5 Maret 2015 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembangunan di Jakarta melaju demikian cepat hingga menyebabkan lahan kosong semakin sulit ditemukan di Jakarta. Semakin banyak bangunan baru yang dibangun,

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017 SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG ARSITEKTUR BANGUNAN BERCIRI KHAS DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU

PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 2 ISSN (E) : 2540-7589 PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU Ghina Fajrine1), Agus Budi Purnomo2),Jimmy

Lebih terperinci

Ekspresi gaya arsitektur kolonial pada desain interior Gedung Lindeteves Surabaya

Ekspresi gaya arsitektur kolonial pada desain interior Gedung Lindeteves Surabaya Ekspresi gaya arsitektur kolonial pada desain interior Gedung Lindeteves Surabaya Juan Antonio Koeswandi Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Widya Kartika Jl. Sutorejo Prima Utara II/1, Surabaya

Lebih terperinci

Wajah Militair Hospitaal dan 'Kota Militer' Cimahi

Wajah Militair Hospitaal dan 'Kota Militer' Cimahi SEMINAR HERITAGEIPLBI 2017 DISKURSUS Wajah Militair Hospitaal dan 'Kota Militer' Cimahi Aileen Kartiana Dewi [email protected] Mahasiswa Program Studi Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sejak berabad-abad silam dan beberapa diantaranya sekarang sudah menjadi aset

BAB I PENDAHULUAN. sejak berabad-abad silam dan beberapa diantaranya sekarang sudah menjadi aset BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Gereja merupakan bangunan ibadat umat kristiani yang mewadahi kegiatan spiritual bagi jemaatnya. Berbagai bentuk desain gereja telah tercipta sejak berabad-abad silam

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1. Posisi Makro terhadap DKI Jakarta. Jakarta, Ibukota Indonesia, berada di daerah dataran rendah, bahkan di bawah permukaan laut yang terletak antara 6 12 LS and 106 48 BT.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan yang masih dapat terlihat sampai sekarang yang kemudian menjadi warisan budaya.

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh masyarakat khusunya generasi muda. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat bangunan-bangunan

Lebih terperinci

Architecture. Home Diary #008 / 2015

Architecture. Home Diary #008 / 2015 Architecture 82 A View of White Teks : Widya Prawira Foto : Bambang Purwanto Sejurus mata memandang, palette putih mendominasi dalam kesederhanaan desain yang elegan, warm dan mewah. K lasik adalah abadi.

Lebih terperinci

Rumah Tinggal Dengan Gaya Arsitektur Bali Modern Di Denpasar

Rumah Tinggal Dengan Gaya Arsitektur Bali Modern Di Denpasar Rumah Tinggal Dengan Gaya Arsitektur Bali Modern Di Denpasar Oleh : Naya Maria Manoi [email protected] Mahasiswa Desain Interior FSRD ISI Denpasar ABSTRAK Arsitektur tradisional Bali merupakan budaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa penjajahan Belanda, Indonesia mengalami pengaruh occidental (Barat) dalam berbagai segi kehidupan termasuk kebudayaan, hal ini antara lain dapat dilihat dalam

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA I. UMUM Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa negara memajukan

Lebih terperinci

BAB V KAJIAN TEORI. Pengembangan Batik adalah arsitektur neo vernakular. Ide dalam. penggunaan tema arsitektur neo vernakular diawali dari adanya

BAB V KAJIAN TEORI. Pengembangan Batik adalah arsitektur neo vernakular. Ide dalam. penggunaan tema arsitektur neo vernakular diawali dari adanya BAB V KAJIAN TEORI 5. V 5.1. Kajian Teori Penekanan /Tema Desain Tema desain yang digunakan pada bangunan Pusat Pengembangan Batik adalah arsitektur neo vernakular. Ide dalam penggunaan tema arsitektur

Lebih terperinci

Arsitektur Modern Indonesia (1940-Abad 20) BY: Dian P.E Laksmiyanti, S.T, M.T

Arsitektur Modern Indonesia (1940-Abad 20) BY: Dian P.E Laksmiyanti, S.T, M.T Arsitektur Modern Indonesia (1940-Abad 20) BY: Dian P.E Laksmiyanti, S.T, M.T Arsitektur Awal Kemerdekaan Arsitektur awal kemerdekaan berakar dari usaha pengembalian pemerintah Hindia Belanda setelah Jepang

Lebih terperinci

INTERIOR Konsep interior kontemporer (Materi pertemuan 9 )

INTERIOR Konsep interior kontemporer (Materi pertemuan 9 ) INTERIOR Konsep interior kontemporer (Materi pertemuan 9 ) DOSEN PENGAMPU: ARDIANSYAH, S.T, M.T PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI Interior Kontemporer Gaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kisaran terbagi menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Kisaran Timur dan

BAB I PENDAHULUAN. Kisaran terbagi menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Kisaran Timur dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Kisaran adalah ibu kota dari Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara yang bejarak 160 km dari Kota Medan ( ibu kota Provinsi Sumatera Utara). Kota Kisaran

Lebih terperinci

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BAB 2 PELESTARIAN BANGUNAN PUSAKA

BAB 2 PELESTARIAN BANGUNAN PUSAKA BAB 2 PELESTARIAN BANGUNAN PUSAKA Dugaan kemungkinan terjadinya bencana kerusakan bangunan pusaka yang bertambah besar pada abad ke-19 menyebabkan dilakukannya upaya yang sungguh-sungguh untuk melestarikan

Lebih terperinci

WALIKOTA PALANGKA RAYA

WALIKOTA PALANGKA RAYA 1 WALIKOTA PALANGKA RAYA PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PENGATURAN BANGUNAN BERCIRIKAN ORNAMEN DAERAH KALIMANTAN TENGAH DI KOTA PALANGKA RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, namun banyak juga yang

BAB I PENDAHULUAN. bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, namun banyak juga yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Yogyakarta memiliki banyak bangunan monumental seperti Tamansari, Panggung Krapyak, Gedung Agung, Benteng Vredeburg, dan Stasiun Kereta api Tugu (Brata: 1997). Beberapa

Lebih terperinci

7.4 Avant Garde Avant Garde buka suatu aliran dalam seni lukis, melainkan gaya yang berkembang dalam dunia fashion serta bergerak ke desain grafis

7.4 Avant Garde Avant Garde buka suatu aliran dalam seni lukis, melainkan gaya yang berkembang dalam dunia fashion serta bergerak ke desain grafis 7.4 Avant Garde Avant Garde buka suatu aliran dalam seni lukis, melainkan gaya yang berkembang dalam dunia fashion serta bergerak ke desain grafis Avant Garde dalam bahasa Perancis berarti "garda terdepan"

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber:

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber: BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Olahraga dapat menjadi batu loncatan sebagai pemersatu bangsa, daerah dan negara lainnya, baik di dalam skala nasional maupun internasional. Dalam setiap skala, negara-negara

Lebih terperinci

PERUBAHAN FASADE DAN FUNGSI BANGUNAN BERSEJARAH (DI RUAS JALAN UTAMA KAWASAN MALIOBORO) TUGAS AKHIR. Oleh: NDARU RISDANTI L2D

PERUBAHAN FASADE DAN FUNGSI BANGUNAN BERSEJARAH (DI RUAS JALAN UTAMA KAWASAN MALIOBORO) TUGAS AKHIR. Oleh: NDARU RISDANTI L2D PERUBAHAN FASADE DAN FUNGSI BANGUNAN BERSEJARAH (DI RUAS JALAN UTAMA KAWASAN MALIOBORO) TUGAS AKHIR Oleh: NDARU RISDANTI L2D 005 384 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai yang terdapat di Pulau Jawa. Sungai Ciliwung ini dibentuk dari penyatuan aliran puluhan sungai kecil di kawasan Taman Nasional

Lebih terperinci

BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Survey (Observasi) Lapangan Dalam penelitian ini, secara garis besar penyajian data-data yang dikumpulkan melalui gambar-gambar dari hasil observasi lalu diuraikan

Lebih terperinci

Evaluasi Restorasi Gedung Indonesia Menggugat Terhadap Peraturan Daerah Tentang Bangunan Cagar Budaya

Evaluasi Restorasi Gedung Indonesia Menggugat Terhadap Peraturan Daerah Tentang Bangunan Cagar Budaya Reka Karsa Teknik Arsitektur Itenas No.4 Vol.1 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Januari 2014 Evaluasi Restorasi Gedung Indonesia Menggugat Terhadap Peraturan Daerah Tentang Bangunan Cagar Budaya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Sejarah

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Sejarah 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Sejarah Lanskap merupakan bentang alam dengan karakteristik tertentu yang dapat dinikmati oleh seluruh indera manusia, dimana karakter lanskap tersebut menyatu secara

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BANTUL DINAS PENDIDIKAN MENENGAH DAN NON FORMAL SMK N 1 SEDAYU Pos Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakrta, 55753

PEMERINTAH KABUPATEN BANTUL DINAS PENDIDIKAN MENENGAH DAN NON FORMAL SMK N 1 SEDAYU Pos Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakrta, 55753 PEMERINTAH KABUPATEN BANTUL DINAS PENDIDIKAN MENENGAH DAN NON FORMAL SMK N 1 SEDAYU Pos Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakrta, 55753 NASKAH SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2016-2017

Lebih terperinci

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN, Menimbang : a. bahwa cagar budaya

Lebih terperinci

- 1 - WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA DI KOTA MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

- 1 - WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA DI KOTA MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA - 1 - WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA DI KOTA MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAGELANG, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan

Lebih terperinci

Upaya Penanganan Kayu Secara Tradisional Studi Kasus: Tradisi Masyarakat Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah

Upaya Penanganan Kayu Secara Tradisional Studi Kasus: Tradisi Masyarakat Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah Upaya Penanganan Kayu Secara Tradisional Studi Kasus: Tradisi Masyarakat Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah A. Pengantar Tinggalan Cagar Budaya berbahan kayu sangat banyak tersebar di wilayah

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Pertemuan budaya yang ada pada Mesjid Raya Cipaganti dapat terkordinasi dengan baik antara budaya yang satu dengan lainnya. Budaya luar yang masuk telah mengalami

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: : PERATURAN BUPATI TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA.

MEMUTUSKAN: : PERATURAN BUPATI TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA. Menimbang Mengingat BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 61 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI : a. bahwa cagar budaya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bandung adalah salah satu kota besar di Indonesia dan merupakan Ibukota Provinsi Jawa Barat yang banyak menyimpan berbagai sejarah serta memiliki kekayaan

Lebih terperinci

Tabel 4.2. Kesesuaianan Penerapan Langgam Arsitektur Palladian Pada Istana Kepresidenan Bogor.

Tabel 4.2. Kesesuaianan Penerapan Langgam Arsitektur Palladian Pada Istana Kepresidenan Bogor. Tabel 4.2. Kesesuaianan Penerapan Langgam Arsitektur Palladian Pada Istana Kepresidenan Bogor. No. Kategori Elemen Bangunan Istana Kepresidenan Bogor. Arsitektur Palladian. Kesesuaian 1. Wujud Tatanan

Lebih terperinci

Desain Fasad Depan dan Ornamen pada Societeit Voor Officieren dan Stasiun KAI di Kota Cimahi

Desain Fasad Depan dan Ornamen pada Societeit Voor Officieren dan Stasiun KAI di Kota Cimahi SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Desain Fasad Depan dan Ornamen pada Societeit Voor Officieren dan Stasiun KAI di Kota Cimahi Jeremy Meldika jeremy [email protected] Program Studi A rsitektur, Sekolah

Lebih terperinci

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI SLEMAN, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01/PRT/M/2015 TENTANG BANGUNAN GEDUNG CAGAR BUDAYA YANG DILESTARIKAN

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01/PRT/M/2015 TENTANG BANGUNAN GEDUNG CAGAR BUDAYA YANG DILESTARIKAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01/PRT/M/2015 TENTANG BANGUNAN GEDUNG CAGAR BUDAYA YANG DILESTARIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM

Lebih terperinci

Lebih Dekat dengan Masjid Agung Kauman, Semarang

Lebih Dekat dengan Masjid Agung Kauman, Semarang SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Lebih Dekat dengan Masjid Agung Kauman, Semarang Safira [email protected] Program Studi A rsitektur, Sekolah A rsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan,

Lebih terperinci

KONSEP RANCANGAN. Latar Belakang. Konteks. Tema Rancangan Surabaya Youth Center

KONSEP RANCANGAN. Latar Belakang. Konteks. Tema Rancangan Surabaya Youth Center KONSEP RANCANGAN Latar Belakang Surabaya semakin banyak berdiri gedung gedung pencakar langit dengan style bangunan bergaya modern minimalis. Dengan semakin banyaknya bangunan dengan style modern minimalis

Lebih terperinci

Ekspresi Gaya Arsitektur Kolonial pada Desain Interior Gedung Lindeteves Surabaya

Ekspresi Gaya Arsitektur Kolonial pada Desain Interior Gedung Lindeteves Surabaya Juan Antonio Koeswandi/e-Jurnal Eco-Teknologi UWIKA (ejetu). ISSN: 2301-850X. Vol. I, Issue 2, Oktober 2013 pp. 43-48 Ekspresi Gaya Arsitektur Kolonial pada Desain Interior Gedung Lindeteves Surabaya Juan

Lebih terperinci

Karakter Visual Bangunan Stasiun Kereta Api Tanjung Priok

Karakter Visual Bangunan Stasiun Kereta Api Tanjung Priok Karakter Visual Bangunan Stasiun Kereta Api Tanjung Priok Alifah Laily Kurniati 1 dan Antariksa 2 1 Mahasiswa Program Sarjana Arsitektur, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya 2 Dosen

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bangunan cagar budaya merupakan sebuah saksi sejarah perjalanan suatu negara dapat ditemui di hampir setiap kota-kota besar dan kecil di seluruh Indonesia. Menurut

Lebih terperinci

KARAKTER VISUAL FASADE BANGUNAN KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA KOTA MALANG

KARAKTER VISUAL FASADE BANGUNAN KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA KOTA MALANG KARAKTER VISUAL FASADE BANGUNAN KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA KOTA MALANG Efrina Amalia Ridwan, Antariksa, Noviani Suryasari Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jl. Mayjend

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1.Konsep Dasar Konsep dasar pada bangunan baru ini adalah dengan pendekatan arsitektur kontekstual, dimana desain perancangannya tidak lepas dari bangunan eksisting yang ada.

Lebih terperinci

TENTANG CAGAR BUDAYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

TENTANG CAGAR BUDAYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMO 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa

Lebih terperinci

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS PERMASALAHAN DALAM PENGELOLAAN LANSKAP MUKA BUMI Materi ke-13 DASAR EKOLOGI PADA PENGELOLAAN LANSKAP DAN IMPLEMENTASINYA Setelah mengikuti kuliah ini Mahsiswa diharapkan dapat

Lebih terperinci

BAB III. Sport Hall/Ekspresi Struktur TINJAUAN KHUSUS. Laporan Skripsi dan Tugas Akhir. Pengertian Tema

BAB III. Sport Hall/Ekspresi Struktur TINJAUAN KHUSUS. Laporan Skripsi dan Tugas Akhir. Pengertian Tema BAB III TINJAUAN KHUSUS III.1 Pengertian Tema Pemilihan tema Ekspresi Struktur dalam penulisan skripsi ini berdasarkan kebutuhan akan sebuah bangunan yang mempunyai bentangan yang lebar sehingga membutuhkan

Lebih terperinci

ASPEK-ASPEK ARSITEKTUR BENTUK DAN RUANG.

ASPEK-ASPEK ARSITEKTUR BENTUK DAN RUANG. ASPEK-ASPEK ARSITEKTUR BENTUK DAN RUANG. 1 ASPEK-ASPEK ARSITEKTUR BENTUK DAN RUANG 2 BENTUK alat untuk menyampaikan ungkapan arsitek kepada masyarakat Dalam Arsitektur Suatu wujud yang mengandung maksud

Lebih terperinci

Tipomorfologi Fasade Bangunan Pertokoan di Sepanjang Ruas Jalan Malioboro, Yogyakarta

Tipomorfologi Fasade Bangunan Pertokoan di Sepanjang Ruas Jalan Malioboro, Yogyakarta TEMU ILMIAH IPLBI 2017 Tipomorfologi Fasade Bangunan Pertokoan di Sepanjang Ruas Jalan Malioboro, Yogyakarta Adinda Rafika Dani (1), Djoko Wijono (2) [email protected] (1) Mahasiswa Program S2 Arsitektur,

Lebih terperinci

Masjid Cipari Garut, Masjid Berasitektur Mirip Gereja

Masjid Cipari Garut, Masjid Berasitektur Mirip Gereja SEMINAR HERITAGE IPLBI 207 KASUS STUDI Masjid Cipari Garut, Masjid Berasitektur Mirip Gereja Franciska Tjandra [email protected] A rsitektur Islam, Jurusan A rsitektur, F akultas Sekolah A rsitektur

Lebih terperinci

RUMAH LIMAS PALEMBANG WARISAN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH

RUMAH LIMAS PALEMBANG WARISAN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH RUMAH LIMAS PALEMBANG WARISAN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH Reny Kartika Sary Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang Email : [email protected] Abstrak Rumah Limas

Lebih terperinci

BUPATI GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GOWA NOMOR 09 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN CAGAR BUDAYA

BUPATI GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GOWA NOMOR 09 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN CAGAR BUDAYA BUPATI GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GOWA NOMOR 09 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GOWA, Menimbang : a. bahwa kawasan dan

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN KHUSUS

BAB III TINJAUAN KHUSUS 3.1 Latar belakang Tema 8 BAB III BAB III TINJAUAN KHUSUS Latar belakang penggunan tema Arsitektur Kontekstual adalah: Perkembangan teknologi dan informasi yang cukup pesat sehingga perlunya penyesuaian

Lebih terperinci

Citra Lokal Pasar Rakyat pada Pasar Simpang Aur Bukittinggi

Citra Lokal Pasar Rakyat pada Pasar Simpang Aur Bukittinggi TEMU ILMIAH IPLBI 2015 Citra Lokal Pasar Rakyat pada Pasar Simpang Aur Bukittinggi Gina Asharina, Agus S. Ekomadyo Program Studi Sarjana Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan

Lebih terperinci

TIPOLOGI GEREJA IMMANUEL DI DESA MANDOMAI. Abstraksi

TIPOLOGI GEREJA IMMANUEL DI DESA MANDOMAI. Abstraksi ISSN 1907-8536 Volume 5 Nomor 1 Juli 2010 TIPOLOGI GEREJA IMMANUEL DI DESA MANDOMAI Alderina 1) Abstraksi Terdapat suatu gereja peninggalan Zending Barmen (Jerman) yang berlokasi di desa Saka Mangkahai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kawasan bersejarah kerap diiringi dengan perubahan fungsi dan

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kawasan bersejarah kerap diiringi dengan perubahan fungsi dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan kawasan bersejarah kerap diiringi dengan perubahan fungsi dan terkadang diikuti perubahan fisik bangunan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pemilik bangunan.

Lebih terperinci

Keselarasan antara Baru dan Lama Eks-Bioskop Indra Surabaya

Keselarasan antara Baru dan Lama Eks-Bioskop Indra Surabaya JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 6, No.2, (2017) 2337-3520 (2301-928X Print) G 152 Keselarasan antara Baru dan Lama Eks-Bioskop Indra Surabaya Shinta Mayangsari dan M. Dwi Hariadi Departemen Arsitektur,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Pos Indonesia yang selanjutnya disebut Kantor Pos merupakan badan usaha milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang layanan sarana komunikasi seperti mengirimkan

Lebih terperinci

BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1 BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BONDOWOSO, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan

Lebih terperinci

WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI

WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KENDARI, Menimbang : a. bahwa keberadaan Cagar Budaya di

Lebih terperinci

Architecture. Modern Aesthetic. Neoclassic Style Teks: Widya Prawira Foto: Bambang Purwanto. Home Diary #009 / 2015

Architecture. Modern Aesthetic. Neoclassic Style Teks: Widya Prawira Foto: Bambang Purwanto. Home Diary #009 / 2015 Architecture Modern Aesthetic in Neoclassic Style Teks: Widya Prawira Foto: Bambang Purwanto 86 Kolaborasi gaya neoklasik dengan elemen yang mengusung aspek kekinian, menjadi kekuatan desain rumah ini.

Lebih terperinci

ESTETIKA BENTUK SEBAGAI PENDEKATAN SEMIOTIKA PADA PENELITIAN ARSITEKTUR

ESTETIKA BENTUK SEBAGAI PENDEKATAN SEMIOTIKA PADA PENELITIAN ARSITEKTUR ESTETIKA BENTUK SEBAGAI PENDEKATAN SEMIOTIKA PADA PENELITIAN ARSITEKTUR Jolanda Srisusana Atmadjaja Jurusan Arsitektur FTSP Universitas Gunadarma ABSTRAK Penelitian karya arsitektur dapat dilakukan melalui

Lebih terperinci