BAB 2 LANDASAN TEORI
|
|
|
- Siska Sudjarwadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum Pengertian Adaptive Reuse Yang dimaksud dengan konservasi adalah proses merawat sebuah tempat, benda, ruang, dan pemandangan, untuk menjaga nilai budaya, estetika, sejarah, sosial atau spritualnya (Australia ICOMOS Burra Charter, 2013). Konservasi merupakan proses memahami, memelihara, menjaga, dan jika diperlukan memperbaiki, mengembalikan dan menyesuaikan fungsi untuk mempertahankan nilai budaya. Konservasi merupakan sistem yang berkelanjutan yang tidak hanya memperhatikan aspek arsitektural, namun juga ekonomi dan sosial. Fokus konservasi adalah sejarah, masa kini, dan masa depan bangunan dengan mempertimbangkan: bukti sejarah, kebutuhan saat ini, dan keberlanjutan untuk masa depan (Orbasli, 2008). Bangunan bersejarah tidak diperlakukan sebagai benda yang terisolasi; bangunan merupakan bagian dari jaringan area, tempat, kota, dan landscape, maka, dalam membuat keputusan terkait konservasi cagar budaya, tempat dan konteks bangunan sama pentingnya dengan bangunan dan materialnya (Orbasli, 2008). Konservasi arsitektural dilakukan untuk melestarikan bangunan dan townscape, dengan tetap memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini (Orbasli, 2008). Berbagai bentuk konservasi adalah perawatan, preservasi, restorasi, rekonstruksi, adaptasi dan interpretasi (Australia ICOMOS Burra Charter, 2013). Yang dimaksud dengan adaptive reuse adalah membuat perubahan terhadap bangunan untuk mengakomodasi kebutuhan baru dan adaptasi yang dilakukan harus mampu menambah nilai dan kualitas bangunan bersejarah (Orbasli, 2008). Melalui UU Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Cagar Budaya, yang dimaksud dengan adaptasi adalah upaya pengembangan Cagar Budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan melakukan perubahan terbatas yang tidak akan mengakibatkan kemerosotan nilai pentingnya atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilai penting. Adaptive reuse pada dasarnya melindungi nilai sejarah dan arsitektur bangunan, sekaligus memberi keleluasaan yang cukup untuk fungsi baru (Pusat Dokumentasi Arsitektur, 2011). 7
2 Etika dalam Konservasi Ada 3 hal yang menjadi dasar dalam melakukan konservasi, yaitu pendekatan berdasarkan nilai dan berdasarkan integritas dan otentisitas (Orbasli, 2008). Pendekatan Berdasarkan Nilai Nilai yang penting pada bangunan atau tempat bersejarah adalah arsitektur dan sejarahnya, yang jika hilang akan menurunkan kepentingannya, namun selain fisiknya, banyak nilai lain yang perlu dipertimbangkan (Orbasli, 2008). Integritas Konservasi harus dilakukan dengan integritas, menggunakan material yang sesuai dengan tujuan kesesuaian. Bangunan bersejarah merupakan peninggalan masa lalu yang menyimpan detail dan informasi tentang masa lalu; hal ini merupakan integritas sejarah (Orbasli, 2008). Otentisitas Otentik tidak berarti mengembalikan bangunan ke bentuk aslinya (Orbasli, 2008). Tabel 2. Etika dalam Konservasi Pendekatan Berdasarkan Nilai Integritas Otentisitas Usia dan kelangkaan; Nilai arsitektural; Nilai artistik; Nilai asosiasi Nilai emosional; Nilai sejarah; Nilai landscape; Nilai politik; Nilai spiritual; Nilai sosial; Integritas fisik (material bangunan & hubungannya dengan material lainnya); Integritas struktur; Integritas desain; Desain atau bentuk; Material; Teknik, tradisi, dan proses; dengan suatu Nilai teknologi; Integritas estetika; Tempat dan kejadian; Nilai Integritas bangunan konteks; Nilai budaya; townscape; dengan tempat & Fungsi. Nilai ekonomi; Nilai edukasi; konteks; Integritas tim konservasi. Sumber: Architectural Conservation Prinsip Konservasi Konservasi arsitektural tidak hanya berbicara tentang bangunan, namun juga mempertimbangkan konteks urban dan lingkungan alami di mana bangunan berada dan akan berkontribusi (Orbasli, 2008). Lingkungan bersejarah tidak bersifat statik, melainkan terus berubah agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. Lingkungan bersejarah dapat menjadi katalis yang penting. Desain memiliki peran yang penting dalam adaptasi bangunan atau lingkungan bersejarah untuk menciptakan lingkungan yang hidup dan dinamis. Jika satu bangunan dikonservasi dan direhabilitasi, ini akan membuat bangunan lain di sekelilingnya untuk mengikuti, semakin banyak bangunan yang diregenerasi dan
3 9 pengguna baru akan datang, area tersebut akan ikut teregenerasi dan perkembangan ekonomi akan terjadi (Orbasli, 2008). Pemahaman Implementasi Evaluasi Tabel 3. Prinsip Dasar dalam Konservasi Bekerja berdasarkan bukti sejarah Memahami lapisan bangunan dan lahan Konteks bangunan Fungsi yang sesuai Perbaikan material Tradisi dan teknologi Pembedaan antara material asli dan material baru Memperhatikan proses pembersihan bangunan Masalah yang baru membutuhkan pendekatan yang baru Keberlanjutan Interpretasi Sumber: Architectural Conservation Pertimbangan dalam memilih fungsi baru untuk bangunan bersejarah adalah fungsi yang baru harus melindungi dan memaksimalkan nilai yang dimiliki bangunan, dan pertimbangan finansial, yaitu fungsi yang dibutuhkan di area tersebut (Orbasli, 2008) Tahapan Konservasi Konservasi bangunan cagar budaya dilakukan secara konseptual, didahului dengan proses dokumentasi seluruh kondisi eksisting bangunan sebelum dilakukan intervensi, dokumentasi penting dilakukan untuk membuat perencanaan konservasi secara komprehensif (Pusat Dokumentasi Arsitektur, 2011). Selanjutnya dilakukan studi kelayakan mencakup kajian latar sejarah, nilai budaya, keaslian bangunan cagar budaya, dan permasalahan teknis, kemudian dibuat perencanaan tindakan konservasi, meliputi tahap persiapan (pengamanan, shop drawing, dan mock up), pembersihan (pembersihan manual, pembersihan mekanis, pembersihan kimiawi), perbaikan pada seluruh komponen yang mengalami kerusakan (Pusat Dokumentasi Arsitektur, 2011).
4 10 Gambar 6. Tahapan Konservasi Sumber: Pengantar Panduan Konservasi Bangunan Bersejarah Masa Kolonial Sejarah Kawasan Kota Tua Jakarta Pada tahun 1619, Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieter Z. Coen tiba di Jawa dan melakukan pertempuran di Jayakarta. Setelah rata dengan tanah, Jan Pieter Z. Coen mendirikan Batavia di atas puing-puing tesebut (Nas, 2009). Untuk mendirikan markas besar VOC (Perserikatan Dagang Hindia Timur) di wilayah tersebut, ditugaskanlah Simon Stevin, ahli matematika, ilmuwan, sekaligus penasihat Pangeran Belanda, Maurits. Simon Stevin merancang kota yang disebut kota ideal, sebagai pusat perdagangan dan permukiman masa depan berupa kota berbentuk persegi dengan dinding tinggi menjulang mengelilinginya. Kota dibagi menjadi 2 wilayah besar yang dipisahkan oleh Sungai Ciliwung. Rancangan kota
5 11 Batavia menyerupai kota-kota yang ada di Belanda, dengan ciri kanal-kanal yang membelah kota dan pohon rindang di tepinya. Pembangunan kota berbenteng ini memakan waktu sekitar 40 tahun (Wirawan, 2009). Benteng Batavia menjadi pusat kekuasaan dan titik pusat utama kota. Batavia terus tumbuh dan berkembang hingga pada 1730 menjadi besar dan makmur. Area dalam tembok dikembangkan sebagai pusat perdagangan, sedangkan area luar tembok difokuskan sebagai areal perkebunan dan pertanian. Kanal-kanal dibangun untuk mengairi tanah dan perkebunan, dan juga difungsikan untuk mengangkut hasil pertanian dan menggerakkan watermills guna memeras tebu (Wirawan, 2009). Batavia awalnya menjadi pusat kantor VOC setelah VOC mendominasi Kota hingga digantikan oleh pemerintah Belanda pada tahun Batavia dikenal sebagai kuburan orang Eropa karena rendahnya standar kebersihan dan kualitas air yang menyebabkan terjadinya wabah malaria. Pada 1808, Daendels meruntuhkan tembok dan membangun kantor baru pada 1809 di Lapangan Banteng, Weltevreden yang kemudian menjadi pusat pemerintahan baru dan Downtown Batavia masih berfungsi sebagai tempat kantor pelayaran, perdagangan, dan asuransi (Merrillees, 2000). Dengan dihapuskannya Sistem Tanam Paksa pada 1870, terjadi peningkatan kegiatan perdagangan besar-besaran di daerah Jawa, terlebih di Batavia. Perusahaanperusahaan dagang swasta dan lembaga keuangan berdiri, sebagian besar membuka kantor di wilayah Kota, khususnya di sepanjang Kali Besar dan sekitarnya (Wirawan, 2009). Di Kawasan Kota Tua terdapat kanal utama yang menjadi jalur transportasi utama kota bernama Kali Besar. Kali Besar menjadi jalur perdagangan yang penting, sehingga banyak perusahaan perdagangan membangun kantor di sekitar kanal tersebut (Akihary, 1996) Undang-Undang No 11 Tahun 2010 Menurut Undang-undang No 11 tahun 2010 tentang konservasi cagar budaya, Pasal 5: Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria: a. berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih; b. mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
6 12 c. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan d. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Pasal 83: (1) Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya dapat dilakukan adaptasi untuk memenuhi kebutuhan masa kini dengan tetap mempertahankan: a. ciri asli dan/atau muka Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya; dan/atau b. ciri asli lanskap budaya dan/atau permukaan tanah Situs Cagar Budaya atau Kawasan Cagar Budaya sebelum dilakukan adaptasi. (2) Adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan: a. mempertahankan nilai-nilai yang melekat pada Cagar Budaya; b. menambah fasilitas sesuai dengan kebutuhan; c. mengubah susunan ruang secara terbatas; dan/atau d. mempertahankan gaya arsitektur, konstruksi asli, dan keharmonisan estetika lingkungan di sekitarnya Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 36 Tahun 2014 Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Rencana Induk Kawasan Kota Tua,: Pasal 4 tentang visi dan misi: Pembangunan kawasan Kota Tua diarahkan dengan visi mewujudkan kawasan Kota Tua sebagai kawasan cagar budaya yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi sebagai kawasan wisata, bisnis, jasa, dan perdagangan dengan tetap mempertahankan karakter dan nilai-nilai kesejarahan kawasan. Pasal 5: Untuk mewujudkan visi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, penataan ruang pada Kawasan Kota Tua ditujukan untuk melaksanakan 7 (tujuh) misi utama, yaitu: a. meningkatkan peranan Kota Tua sebagai kawasan wisata cagar budaya yang mampu meningkatkan nilai ekonomis kawasan dan menjadi daya tarik bagi para investor dan turis; b. melakukan revitalisasi Kota Tua melalui upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan di Kota Tua baik secara bendawi maupun non bendawi;
7 13 c. meningkatkan kualitas fisik dan visual Kotatua dengan meningkatkan aksesibilitas, penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur yang layak; d. mempertahankan kegiatan yang saat ini telah ada dan mendorong tumbuhnya kegiatan baru yang menunjang kegiatan ekonomi di kawasan Kotatua; Pasal 6, strategi penataan kawasan: a. memberikan dinamika baru bagi kawasan Kota Tua dengan melakukan upaya pelestarian melalui revitalisasi dan adaptasi serta upaya perlindungan melalui pemeliharaan dan pemugaran yang dilakukan secara kontinu, komprehensif dan bersifat jangka panjang; Pasal 10 tentang Konsep Pengembangan Zona: (1) Area di dalam tembok terdiri dari zona inti dan zona penunjang yang pengembangannya diarahkan sebagai kawasan bersejarah dengan fungsi utama sebagai fungsi edukasi, kegiatan budaya, dan sosial, ikon wisata internasional, replikasi kota lama Batavia, pusat bisnis dan perdagangan terbatas. Pasal 17 tentang Rencana Pengembangan Kawasan Komersial: (1) Fungsi komersial terdiri atas kawasan dengan pemanfaatan sebagai perkantoran, perdagangan dan jasa serta campuran. (3) Pengembangan kawasan komersial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui: a. memberikan fungsi baru tanpa mengubah karakter morfologi penting pada kawasan atau bangunan; b. fungsi komersial diarahkan berupa fungsi-fungsi yang dapat menonjolkan karakter kawasan sebagai kawasan pariwisata dan sejarah seperti tourist center, visitor center, hotel, museum, restoran, butik; c. fungsi komersial dianjurkan berupa fungsi yang mampu menghidupkan kawasan selama 24 (dua puluh empat) jam, misalkan: hotel, apartemen, hiburan, pertokoan, perbelanjaan. Pasal 20 tentang Penataan Bangunan (1) Penataan bangunan di Kota Tua bertujuan untuk mewadahi kebutuhan fungsifungsi baru yang dapat memperkuat karakter Kota Tua tanpa mengabaikan prinsipprinsip pelestarian dan perlindungan bangunan cagar budaya. (2) Penataan tata bangunan di Kota Tua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan sesuai dengan prinsip sebagai berikut:
8 14 a. Menata bangunan pada masing-masing zona sesuai dengan karakter dan nilai bangunan eksisting cagar budaya yang telah ada; b. Menciptakan konektivitas ruang dan fungsi antar bagunan dalam kawasan guna menciptakan keterpaduan dan meningkatkan akses bagi pejalan kaki; c. Memperkuat karakter kota dengan penataan fasad dan arkade; d. Mempertahankan karakter bangunan lama dan menyesuaikan bentukan arstitektural bangunan baru dengan lingkungan sekitarnya; dan e. Mengaktifkan kembali fungsi bangunan, baik dengan fungsi lama maupun fungsi baru (Adaptive reuse). (3) Penataan Bangunan Pemugaran di Kota Tua sebagai berikut: a. Bangunan yang termasuk dalam bangunan cagar budaya harus dilestarikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bidang bangunan cagar budaya; b. Berbagai bentuk pengabaian terhadap bangunan cagar budaya akan dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 21: (1) Pembangunan dan penyisipan bangunan baru dimungkinkan untuk mendorong upaya revitalisasi, pelestarian dan pemanfaatan bangunan cagar budaya di Kotatua. (2) Perubahan, pengembangan, da perbaikan bangunan tidak boleh menyalahi aturan intensitas yang telah diterapkan; (3) Penyisipan bangunan baru harus memperhatikan golongan bangunan cagar budaya, karakter, skala, bentukan, material dan warna, detail arsitektural bangunan di sekitarnya sehingga memberikan keharmonisan serta memperkuat karakter wawasan. (4) Desain bangunan harus merespon terhadap nilai historis, estetika, sosial dan budaya melalui pemahaman dan studi terhadap karakter dan kualitas lingkungan sehingga sesuai dengan konteks kawasan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 01/PRT/M/2015 tentang Bangunan Cagar Budaya yang Dilestarikan Pasal 4: Setiap bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan harus memenuhi persyaratan: a. administratif; dan b. teknis. Pasal 6:
9 15 Persyaratan teknis bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b meliputi: a. persyaratan tata bangunan; b. persyaratan keandalan bangunan gedung cagar budaya; dan c. persyaratan pelestarian. Pasal 8: (1) Persyaratan keandalan bangunan gedung cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b terdiri atas: a. keselamatan; b. kesehatan; c. kenyamanan: dan d. kemudahan. (2) Persyaratan keselamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas: a. komponen struktur harus dapat menjamin pemenuhan kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan, mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran, bahaya petir, dan bencana alam; b. penggunaan material asli yang mudah terbakar harus mendapat perlakuan tertentu (fire retardant treatment); dan c. penggunaan material baru harus tidak mudah terbakar (non combustible material). (3) Persyaratan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas: a. sistem penghawaan, pencahayaan, dan sanitasi harus dapat menjamin pemenuhan terhadap persyaratan kesehatan; dan b. penggunaan material hars dapat menjamin pemenuhan terhadap persyaratan kesehatan. (4) Persyaratan kenyamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas: a. pemenuhan persyaratan ruang gerak dan hubungan antar ruang; b. kondisi udara dalam ruang; c. pandangan; d. tingkat getaran; dan e. tingkat kebisingan.
10 Tinjauan Khusus Sejarah Bangunan PT. Cipta Niaga Bangunan yang berfungsi sebagai kantor perniagaan untuk Internationale Crediet- en Handelsvereeniging Rotterdam ini dirancang oleh biro arsitek Ed.Cuypers &Hulswit Batavia. Bangunan ini dibangun pada tahun 1913 dengan bentuk memanjang dari Jalan Kali Besar Timur hingga ke Jalan Pintu Besar Utara. Bangunan dengan 2 lantai ini memiliki lebar 19,5 m dan panjang 57 m (Cuypers & Hulswit, 1914). Gambar 7. PT. Cipta Niaga dari Atas Sumber: KITLV Universiteit Leiden Gambar 8. Fasad PT. Cipta Niaga Tahun 1913 Sumber: N.V. Internationale Crediet En Handels Vereeniging Menurut (Cuypers & Hulswit, 1914), pada sisi barat terdapat teras yang berfungsi sebagai buffer sinar matahari dan sebagai jalan bagi publik. Semua tembok dipancang di atas beton bertulang, Anak tangga dibuat mewah dengan terbuat dari batu keras yang diminyaki, sehingga tampak seperti marmer hitam yang dipoles.
11 17 Bangunan ini memiliki gaya arsitektur art deco dengan ciri ornamen geometris pada eksterior, kaca patri dan dekorasi pada interior bangunan, namun dengan penyesuaian terhadap iklim tropis, ditunjukkan dengan tinggi langit-langit mencapai 6,5 m agar sirkulasi udara lancar, juga banyaknya bukaan pada sekeliling bangunan. Saat ini ekterior gedung masih dalam keadaan kokoh namun terjadi beberapa kerusakan di dalam bangunan. Tabel 4. Kronologi Bangunan PT. Cipta Niaga 1913 Pembangunan gedung oleh biro arsitek Ed Cuypers en Hulswit Kantor Internationale Crediet en- Handelsvereeniging Rotterdam >1957 Kantor PN Tjipta Niaga, kemudian menjadi PT. Cipta Niaga 2003 Penetapan sebagai gedung milik PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia Sumber: Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Gambar 9. PT Cipta Niaga tahun 1920-an Sumber: KITLV Universiteit Leiden Gambar 10. Interior PT Cipta Niaga Lantai 1 Sumber: Het Nederlandsch-Indisch Huis Oud & Nieuw
12 18 Gambar 11.Interior PT Cipta Niaga Lantai 2 Sumber: Het Nederlandsch-Indisch Huis Oud & Nieuw Visi dan Misi Jakarta Endowment for Art and Heritage berikut: Visi dan misi JEFORAH dalam kegiatan revitalisasi Kota Tua adalah sebagai 1. Melestarikan warisan budaya yang memberi identitas unik pada warga Jakarta. 2. Tercipta komunitas yang menghubungkan individu, lingkungan, kota dan metropolitan. 3. Mengingatkan pada sejarah sebagai bekal untuk masa depan. 4. Memberikan kontribusi untuk kepentingan public dan manfaat bagi komunitas. Tujuan merevitalisasi Jakarta Kota Tua untuk: 1. Menciptakan lapangan kerja. 2. Melestarikan gedung sejarah dengan target 5 tahun: meperbaiki 85 gedung bersejarah. 3. Mempromosikan keragaman budaya. 4. Menarik bakat dan turis. 5. Menarik investasi. Dengan rencana revitalisasi: Di dalam menghidupkan Jakarta Kota Tua fokus JEFORAH bukan hanya pada restorasi bangunan semata namun membuat Kota tua sebagai tempat untuk bekerja, hidup dan bermain Gaya Arsitektural Art Deco Art Deco awalnya berkembang di Perancis pada tahun , kemudian menyebar ke seluruh Negara Barat dan mencapai puncaknya pada tahun (Cranfield, 2001). Yang dimaksud dengan Art Deco adalah gaya seni dekoratif yang
13 19 berkembang awalnya pada tahun 1920-an dan dengan kebangkitan pada tahun an, ditandai terutama oleh motif geometris, bentuk streamline atau kurvilinier, outline yang didefinisikan dengan jelas, seringkali dengan warna yang tegas, dan penggunaan material sintetis seperti misalnya plastik. Art Deco merupakan kependekan dari Exposition Internationale Des Arts Decoratifs et Industries Modernes, sebuah eksposisi dari seni modern dan dekoratif yang diadakan di Paris, Perancis pada tahun 1925 (Ching, 2012). Art Deco atau yang dulu disebut style modern, berkembang sebagai reaksi terhadap gaya Art Nouveau. Kedua gaya ini menggunakan dekorasi berdasarkan alam, namun Art Nouveau dengan desain bunga dan tanaman eksotis yang memutar, sedangkan Art Deco cenderung memilih bunga yang geometris. Banyak gaya yang menjadi inspirasi bagi Art Deco, termasuk Cubism, Bauhaus, Ballets Russes, Glasgow School of Art, Vienna Secession, Deutsche Werkbund, Russian Constructivism, dan De Stijl (Cranfield, 2001). Arsitektur Art Deco fokus pada energi dan efek visual, bukan tentang struktur atau denah (Bayer, 2001). Karakteristik umum dari gaya Art Deco adalah bentuk geometris, zigzag, pola abstrak dengan warna, kaca patri warna, plaster yang dicat dengan desain geometris (Cranfield, 2001). 2.3 Hipotesis Berdasarkan tinjauan pustaka, hipotesis penelitian adalah: Fungsi komersial yang tepat diaplikasikan pada adaptive reuse PT. Cipta Niaga adalah berupa fungsi yang komersial yang mampu berfungsi selama 24 jam. Konsep interior adaptive reuse yang tepat bagi gedung PT. Cipta Niaga yang mampu memenuhi kebutuhan akan fungsi yang baru dengan tetap menjaga nilai sejarah kawasan Kota Tua adalah dengan menggunakan gaya interior asli bangunan, yaitu art deco. 2.4 State of the Art Terdapat beberapa penelitian dengan topik konservasi: 1. Yıldırım, M., & Turan, G. (2012). Sustainable development in historic areas: adaptive reuse challenges in traditional houses in Sanliurfa, Turkey. Habitat International 36,
14 20 Menurut Yıldırım dan Turan, adaptive reuse pada area bersejarah dapat melestarikan pola historis. Penelitian dilakukan dengan menganalisa 6 studi kasus adaptive reuse pada rumah tradisional di Turki. Tujuan penelitian adalah menganalisa perubahan dan efek yang ditimbulkan oleh adaptive reuse dan mengetahui pendekatan yang paling tepat dalam melakukan konservasi. Selain melestarikan nilai budaya, adaptive reuse juga merupakan penggunaan bangunan yang berkelanjutan. Komersialisasi yang dilakukan dapat membuat area historis menjadi tempat wisata yang hidup. Alih fungsi yang dimiliki oleh rumah-rumah tradisional di Turki adalah menjadi restoran dan pusat kebudayaan. Metode yang dilakukan adalah dengan melakukan penelitian mengenai sejarah bangunan dan literature review. 2. Yildirim, M. (2012). Assessment of the decision-making process for re-use of a historical asset: The example of Diyarbakir Hasan Pasha Khan, Turkey. Journal of Cultural Heritage 13, Yildrim merumuskan metode mengenai adaptive reuse yang tepat pada sebuah bangunan bersejarah. Adaptive reuse dapat dikatakan berhasil jika proses konservasi yang dilakukan menjaga bangunan dan lingkungan tetap berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah menurut (Worthing & Bond, 2007), yaitu 6 langkah yang mengevaluasi: kondisi pola historis; kondisi lingkungan; integritas tempat; alternatif penggunaan ulang beserta kelebihan dan kekurangannya; kebutuhan pemilik dan pengguna; analisa terhadap struktur bangunan. Alternatif adaptive reuse di kawasan Hasan Pasha Khan adalah hotel, restoran, museum, dan retail. Permasalahan yang dihadapi dalam adaptive reuse dalam kawasan bersejarah adalah sirkulasi kendaraan dan juga kepadatan pengunjung. 3. Rozov, D. (2013). Carlile House: Finding Ways to Preserve Run-Down Heritage Buildings Through Their Adaptive Reuse. Unitec Institute of Technology. Sebuah rumah cagar budaya namun dengan status kepemilikian swasta di Auckland memiliki kondisi yang sudah rusak. Rozov memberikan ide mengenai adaptive reuse terhadap bangunan tersebut. Fungsi baru yang akan diberikan terhadap bangunan bersejarah harus memenuhi kebutuhan masyarakat dan dapat menjadi tempat bekerja, hidup, dan bermain. Fungsi yang diusulkan adalah pusat masyarakat sebagai tempat pameran dan pertukaran budaya, karena proyek ini bukan
15 21 hanya tentang satu bangunan, namun terkait dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. 4. Prakosa, W., & Suparman, A. (2013). Karakteristik Rumah Peristirahatan Kolonial Belanda di Kaliurang. PESAT. Kawasan Kaliurang merupakan kawasan yang memiliki warisan budaya peninggalan masa penjajahan Belanda yaitu kawasan peristirahatan yang didirikan oleh orang Eropa. Dalam upaya pelestarian peninggalan masa lalu ini, maka penelitian ini difokuskan di kawasan peristirahatan kolonial di Tlogo Nirmolo sebagai objek penelitian untuk mengetahui karakteristik kawasan dan pengembangan yang sesuai dengan kondisi setempat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang diharapkan dapat diperoleh masalah-masalah yang muncul di lapangan kemudian dilakukan pengumpulan data dengan melakukan survei primer yaitu melakukan observasi langsung dan mengidentifikasi beberapa rumah peristirahatan kolonial di Kaliurang yang masih ada dan pencarian literatur terkait dengan rumah peristirahatan Kaliurang. Sitem analisis dilakukan beberapa langkah yang pertama pengolahan data hasil survei lapangan dan studi literatur, langkah kedua adalah melakukan analisis berdasarkan hasil olah data kemudian dikaitkan dengan teori dan aturan sebuah rumah peristirahatan sehingga diperoleh kesimpulan sementara tentang gambaran dan karakteristik rumah peristirahatan kolonial Belanda di Kaliurang, tahap ke tiga adalah menyimpulkan dari analisis terkait dengan karakteristik rumah peristirahatan dan tingkat perubahan pada saat ini yang menuntut akan kebutuhan fasilitas. Tujuan dari penelitian ini adalah diperoleh suatu gambaran karakteristik rumah peristirahatan Kolonial di kawasan Kaliurang sehingga dapat dijaga kelestariannya. Fungsi bangunan bersifat privat pada saat itu dan telah mengalami pergeseran ke arah publik yaitu komersialisasi. 5. Agustiananda, P. A. (2012). Urban Heritage Conservation in Surakarta, Indonesia: Scenarios and Strategies for the Future. International Journal of Civil & Environmental Engineering IJCEE-IJENS Vol: 12 No: 02, Menurut Agustiananda, perkembangan kota yang pesat dapat menyingkirkan kawasan kota yang memiliki nilai sejarah. Penelitian yang dilakukan di kota Surakarta ini bertujuan untuk memahami masalah konservasi di Surakarta. Penelitian
16 22 eksploratori dilakukan untuk mengetahui situasi yang ada di kota Surakarta. Motivasi untuk melakukan renovasi bangunan pribadi adalah untuk ekonomi, karena perawatan yang dilakukan untuk bangunan tua membutuhkan dana yang cukup besar. Sektor informal yang tidak teratur membuat kawasan historis menjadi terkesan padat. Strategi konservasi yang seharusnya dilakukan adalah tetap mempertahankan nilai historis kota Surakarta namun tidak membebani masyarakat. Masyarakat dapat mengembangkan potensi ekonomi dengan diaturnya ruang komersial untuk tempat wisata. 2.5 Kesimpulan State of the Art Selain melestarikan nilai budaya, adaptive reuse juga merupakan penggunaan bangunan yang berkelanjutan dan komersialisasi dapat membuat area historis menjadi tempat wisata yang hidup (Yıldırım & Turan, 2012). Adaptive reuse dapat dikatakan berhasil jika proses konservasi yang dilakukan menjaga bangunan dan lingkungan tetap berkelanjutan dan permasalahan yang dihadapi adaptive reuse dalam kawasan bersejarah adalah sirkulasi kendaraan dan juga kepadatan pengunjung (Yildirim M., 2012). Fungsi baru yang akan diberikan terhadap bangunan bersejarah harus memenuhi kebutuhan masyarakat dan dapat menjadi tempat bekerja, hidup, dan bermain dan konservasi bukan hanya tentang satu bangunan, namun terkait dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya (Rozov, 2013). Fungsi baru yang sering ditemui pada bangunan bersejarah adalah komersialisasi dengan sifat asal privat (Prakosa & Suparman, 2013). Perkembangan kota yang pesat dapat menyingkirkan kawasan kota yang memiliki nilai sejarah, sedangkan motivasi untuk melakukan renovasi adalah ekonomi dan potensi ekonomi dapat dikembangkan dengan diaturnya ruang komersial untuk tempat wisata (Agustiananda, 2012).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tahun 2010, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam UU tersebut, dikatakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tempat-tempat bersejarah, obyek-obyek dan manifestasi adalah ekspresi yang penting dari budaya, identitas serta agama kepercayaan untuk masyarakat sekitar. Setiap nilai
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01/PRT/M/2015 TENTANG BANGUNAN GEDUNG CAGAR BUDAYA YANG DILESTARIKAN
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01/PRT/M/2015 TENTANG BANGUNAN GEDUNG CAGAR BUDAYA YANG DILESTARIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang Mengingat : a.
Dasar Kebijakan Pelestarian Kota Pusaka 1. Tantangan Kota Pusaka 2. Dasar Kebijakan terkait (di Indonesia) 3. Konvensi Internasional
1. Tantangan 2. Dasar terkait (di Indonesia) 3. Konvensi Internasional Source: PU-PPI. (2011). - Langkah Indonesia Membuka Mata Dunia. Jakarta: Direktorat Jenderal Penataan Ruang bersama-sama adan Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1. Hotel Des Indes (kiri) yang Menjadi Komplek Duta Merlin (kanan) Sumber:google.co.id, 5 Maret 2015
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembangunan di Jakarta melaju demikian cepat hingga menyebabkan lahan kosong semakin sulit ditemukan di Jakarta. Semakin banyak bangunan baru yang dibangun,
Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta
SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta Augustinus Madyana Putra (1), Andi Prasetiyo Wibowo
BAB I PENDAHULUAN. pembangunan untuk fasilitas-fasilitas pendukungnya. menginap dalam jangka waktu pendek.
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang I.1.1. Latar Belakang Proyek Indonesia sebagai negara berkembang terus menerus berusaha untuk meningkatkan hasil yang maksimal di segala bidang pembangunan, salah
PEDOMAN REVITALISASI KAWASAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 18/PRT/M/2011
SOSIALISASI MAKASSAR, 10-12 MEI 2011 PEDOMAN REVITALISASI KAWASAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 18/PRT/M/2011 1. Landasan Hukum dan Teori 2. Peraturan Menteri PU 3. Kegiatan Revitalisasi Kawasan
MEMUTUSKAN: : PERATURAN BUPATI TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA.
Menimbang Mengingat BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 61 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI : a. bahwa cagar budaya
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bandung adalah salah satu kota besar di Indonesia dan merupakan Ibukota Provinsi Jawa Barat yang banyak menyimpan berbagai sejarah serta memiliki kekayaan
BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri pada akhir dekade pertama abad ke-19, diresmikan tanggal 25 September 1810. Bangunan
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN, STRUKTUR, DAN KAWASAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D
KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR Oleh : SABRINA SABILA L2D 005 400 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini persoalan utama yang dihadapi kota-kota besar di Pulau Jawa akibat pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi adalah masalah transportasi, masalah transportasi
HOTEL DAN CONVENTION CENTER BAB I PENDAHULUAN
BAB I 1.1. Latar Belakang Jakarta adalah sebagai kota nomor satu di Indonesia, yang mengalami kemajuan diberbagai bidang, diantaranya dalam bidang ekonomi, dengan kemajuan ekonomi yang tinggi harus diikuti
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Lokasi Solo baru adalah daerah bagian selatan dan sebelah utara kota Surakarta jawa tengah untuk daerah ini bertepatan dengan kabupaten Sukoharjo daerah ini dulunya
BAB VII KESIMPULAN, SARAN DAN KONTRIBUSI TEORI
BAB VII KESIMPULAN, SARAN DAN KONTRIBUSI TEORI VII. 1. Kesimpulan Penelitian proses terjadinya transformasi arsitektural dari kampung kota menjadi kampung wisata ini bertujuan untuk membangun teori atau
REDESAIN PASAR INDUK KABUPATEN WONOSOBO
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perkembangan pasar tradisional harusnya mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Keberadaan pasar tradisional yang harus bersaing
Kementerian Pendidikan Nasional merupakan lembaga pemerintahan yang bertugas meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. salah satu langkah yang di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Latar Belakang Proyek Menurut catatan sejarah umat manusia yang sempat terungkap tentang keberadaan dan perkembangan perpustakaan menunjukkan bahwa perpustakaan
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA I. UMUM Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa negara memajukan
BAB III METODE PERANCANGAN. untuk mencapai tujuan penelitian dilaksanakan untuk menemukan,
BAB III METODE PERANCANGAN Metode pada dasarnya diartikan suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan. Penelitian adalah suatu penyelidikan dengan prosedur ilmiah untuk mengetahui dan mendalami suatu
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Studi Elemen Preservasi Kawasan Kota dengan studi kasus Koridor Jalan Nusantara Kecamatan Karimun Kabupaten Karimun diantaranya menghasilkan beberapa kesimpulan:
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bangunan cagar budaya merupakan sebuah saksi sejarah perjalanan suatu negara dapat ditemui di hampir setiap kota-kota besar dan kecil di seluruh Indonesia. Menurut
Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang
Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Perkembangan kepariwisataan dunia yang terus bergerak dinamis dan kecenderungan wisatawan untuk melakukan perjalanan pariwisata dalam berbagai pola yang berbeda merupakan
IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH
IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1. Posisi Makro terhadap DKI Jakarta. Jakarta, Ibukota Indonesia, berada di daerah dataran rendah, bahkan di bawah permukaan laut yang terletak antara 6 12 LS and 106 48 BT.
BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik,
BAB VI HASIL RANCANGAN Perancangan Museum Anak-Anak di Kota Malang ini merupakan suatu wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik, serta film untuk anak-anak. Selain sebagai
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum 2.1.1 Cagar Budaya Menurut UU No.11 tahun 2010, Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebedaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar
I.1 LATAR BELAKANG I.1.1
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG I.1.1 Latar Belakang Pemilihan Kasus Kebudayaan memiliki unsur budi dan akal yang digunakan dalam penciptaan sekaligus pelestariannya. Keluhuran dan kemajuan suatu
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Konsep utama yang mendasari Rancang Ulang Stasiun Kereta Api Solobalapan sebagai bangunan multifungsi (mix use building) dengan memusatkan pada sistem dalam melayani
BAB II KAJIAN LITERATUR
BAB II KAJIAN LITERATUR 2.1 Pengertian Pelestarian Filosofi pelestarian didasarkan pada kecenderungan manusia untuk melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat namun memiliki arti penting
BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kawasan bersejarah kerap diiringi dengan perubahan fungsi dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan kawasan bersejarah kerap diiringi dengan perubahan fungsi dan terkadang diikuti perubahan fisik bangunan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pemilik bangunan.
BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan yang masih dapat terlihat sampai sekarang yang kemudian menjadi warisan budaya.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap Sejarah 2.2 Kriteria Lanskap Sejarah
5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap Sejarah Lanskap adalah suatu bentang alam yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dinikmati keberadaannya melalui seluruh indera yang dimiliki manusia (Simonds
BAB III TINJAUAN TEMA INSERTION
BAB III TINJAUAN TEMA INSERTION 3.1 LATAR BELAKANG Perkembangan kota ditandai dengan makin pesatnya pembangunan fisik berupa bangunanbangunan baru di pusat kota. Bangunan-bangunan baru tersebut dibangun
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jakarta merupakan Ibukota Negara yang berkembang pesat dan menjadi pusat dari segala macam aktifitas. Jakarta merupakan metropolitan terbesar di Asia Tenggara yang
BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG
BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
Threshold Space sebagai Pendekatan Desain Ruang Terbuka di Kawasan Kota Tua Jakarta
SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 DISKURSUS Threshold Space sebagai Pendekatan Desain Ruang Terbuka di Kawasan Kota Tua Jakarta Steven Nio (1), Julia Dewi (1) [email protected], [email protected] (1) Arsitektur,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan Isu Perkembangan Properti di DIY
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan 1.1.1 Isu Perkembangan Properti di DIY Jogjakarta semakin istimewa. Kekuatan brand Jogja di industri properti merupakan salah satu kota atau daerah paling
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Budaya Lanskap adalah suatu bentang alam dengan karakteristik tertentu yang dapat dinikmati oleh seluruh indera manusia, dimana karakter tersebut menyatu secara harmoni
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Transportasi merupakan faktor penting didalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Tersedianya transportasi, jarak yang tadinya jauh dan membutuhkan waktu yang lama
Syarat Bangunan Gedung
Syarat Bangunan Gedung http://www.imland.co.id I. PENDAHULUAN Pemerintah Indonesia sedang giatnya melaksanakan kegiatan pembangunan, karena hal tersebut merupakan rangkaian gerak perubahan menuju kepada
BAB III. Ide Rancangan. pengganti material kayu yang semakin susah diperoleh dan semakin mahal harga
BAB III Ide Rancangan 3.1 Ide Rancangan Ide rancangan pusat pengelolaan bambu di Kota Malang adalah, untuk menunjukkan bahwa Kota Malang mampu mengelolah bambu menjadi alternatif pengganti material kayu
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perjalanan panjang sejarah terbentuknya kota Jakarta dimulai dari sebuah area kecil yang kini disebut daerah jembatan gantung kota intan. Dahulu lokasi tersebut adalah
BAB VI HASIL RANCANGAN. produksi gula untuk mempermudah proses produksi. Ditambah dengan
BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Hasil Rancangan Kawasan Revitalisasi Kawasan Pabrik Gula Krebet ini dibagi menjadi 3 yaitu bangunan primer, sekunder dan penunjang yang kemudian membentuk zoning sesuai fungsi,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Pendahuluan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Pendahuluan Pariwisata dikenal sebagai suatu bentuk rangkaian kegiatan kompleks yang berhubungan dengan wisatawan dan orang banyak, serta terbentuk pula suatu sistem di dalamnya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hotel merupakan salah satu bangunan yang ditujukan untuk singgah dalam jangka waktu sementara dengan layanan dan fasilitas lainnya. Sebagai pokok akomodasi yang terdiri
3. Pelayanan terhadap wisatawan yang berkunjung (Homestay/Resort Wisata), dengan kriteria desain : a) Lokasi Homestay pada umumnya terpisah dari
BAB 5 KESIMPULAN 5.1. Kriteria desain arsitektur yang sesuai untuk masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan Setelah mengkaji desa labang secara keseluruhan dan melihat teori -teori pengembangan tentang
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Isu keberlanjutan (sustainability) merupakan isu yang kian melekat dengan proses perencanaan dan perancangan lingkungan binaan. Dengan semakin rumitnya
5. HASIL RANCANGAN. Gambar 47 Perspektif Mata Burung
5. HASIL RANCANGAN 5.1 Hasil Rancangan pada Tapak Perletakan massa bangunan pada tapak dipengaruhi oleh massa eksisting yang sudah ada pada lahan tersebut. Di lahan tersebut telah terdapat 3 (tiga) gedung
BAB I PENDAHULUAN. Winda Inayah W L2B
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia disamping sebagai pusat kegiatan Pemerintahan, perdagangan dan jasa, pariwisata dan kebudayaan juga sekaligus merupakan
BAB I PENDAHULUAN. baru, maka keberadaan seni dan budaya dari masa ke masa juga mengalami
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proyek Di Indonesia seni dan budaya merupakan salah satu media bagi masyarakat maupun perseorangan untuk saling berinteraksi satu sama lain. Dengan adanya arus globalisasi
RUMAH LIMAS PALEMBANG WARISAN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH
RUMAH LIMAS PALEMBANG WARISAN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH Reny Kartika Sary Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang Email : [email protected] Abstrak Rumah Limas
BABV ADAPTIVE RE-USE. Upaya yang akan dilakukan untuk perencanaan perubahan fungsi bangunan Omah Dhuwur Gallery adalah sebagai berikut:
BABV ADAPTIVE RE-USE Dengan melihat kondisi eksisting Omah Dhuwur Gallery pada Bab III dan analisa program pada Bab IV, maka pembahasan-pembahasan tersebut di atas digunakan sebagai dasar pertimbangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Keadaan Museum di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.1.1 Keadaan Museum di Indonesia Keberadaan museum di dunia dari zaman ke zaman telah melalui banyak perubahan. Hal ini disebabkan oleh berubahnya fungsi dan tugas
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab ini akan diuraikan mengenai kesimpulan studi berupa temuantemuan yang dihasilkan selama proses analisis berlangsung yang sesuai dengan tujuan dan sasaran studi,
BAB II URAIAN TEORITIS MENGENAI MUSEUM
BAB II URAIAN TEORITIS MENGENAI MUSEUM 2.1 Pengertian dan Sejarah Museum Dalam era pembangunan teknologi yang cepat berkembang dewasa ini, peranan museum sangat diharapkan untuk mengumpulkan, merawat,
Page 1 of 14 Penjelasan >> PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
BAB II STEP BY STEP, UNDERSTANDING THE WHOLE PICTURE
BAB II STEP BY STEP, UNDERSTANDING THE WHOLE PICTURE Pemograman merupakan bagian awal dari perencanaan yang terdiri dari kegiatan analisis dalam kaitan upaya pemecahan masalah desain. Pemograman dimulai
BAB 6 PENUTUP 6.1 Kesimpulan
BAB 6 PENUTUP Pada bab ini disampaikan kesimpulan hasil studi pengembangan konsep revitalisasi tata lingkungan tradisional Baluwarti, saran untuk kepentingan program revitalisasi kawasan Baluwarti, dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Saat ini kegiatan pariwisata telah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia pada umumnya, yang disesuaikan dengan tingkat pendapatan masing-masing individu. Sehingga
Integrasi Budaya dan Alam dalam Preservasi Candi Gambarwetan
JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5, No.2, (2016) 2337-3520 (2301-928X Print) G-169 Integrasi Budaya dan Alam dalam Preservasi Candi Gambarwetan Shinta Octaviana P dan Rabbani Kharismawan Jurusan Arsitektur,
GALERI SENI UKIR BATU PUTIH. BAB I.
BAB I. GALERI SENI UKIR BATU PUTIH. Pendahuluan BATU PUTIH. GALERI SENI UKIR BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang a. Kelayakan Proyek Daerah Istimewa Yogyakarta secara geografis berada di pesisir pantai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dunia telah mengalami perkembangan ilmu pengetahuan dengan sangat pesat. Penemuan-penemuan teknologi baru terus berkembang dari masa ke masa demi kesejahteraan manusia
BAB I PENDAHULUAN. Belanda pada tahun 1619 yang dipimpin oleh Jan Pieterzoon Coen.
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Judul Pada awalnya kota Jakarta adalah sebuah kota kecil yang berdiri di atas lahan bekas Pelabuhan Sunda Kalapa, dibangun oleh Pangeran Fatahillah pada tahun 1527
2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan,
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.195, 2015 KEHUTANAN. Museum. Cagar Budaya. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5733). PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR
BAB III INTERPRETASI DAN ELABORASI TEMA. Tema yang digunakan pada perencanaan Hotel Forest ini adalah Green
BAB III INTERPRETASI DAN ELABORASI TEMA 3.1 Tinjauan Pustaka Tema Tema yang digunakan pada perencanaan Hotel Forest ini adalah Green Architecture atau yang lebih dikenal dengan Arsitektur Hijau. Pada bagian
WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN, Menimbang : a. bahwa cagar budaya
WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI
WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KENDARI, Menimbang : a. bahwa keberadaan Cagar Budaya di
BAB I PENDAHULUAN Potensi Kota Yogyakarta Sebagai Kota Budaya Dan Seni
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Potensi Kota Yogyakarta Sebagai Kota Budaya Dan Seni Kota Yogyakarta merupakan kota yang terkenal dengan anekaragam budayanya, seperti tatakrama, pola hidup yang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi di kota Jakarta mendorong perkembangan dari berbagai sektor, yaitu: hunian, perkantoran dan pusat perbelanjaan/ bisnis. Tanah Abang terletak di
- 1 - WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA DI KOTA MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
- 1 - WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA DI KOTA MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAGELANG, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Re-Desain Stasiun Besar Lempuyangan Dengan Penekanan Konsep pada Sirkulasi, Tata ruang dan Pengaturan Fasilitas Komersial,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Definisi Judul Re-Desain Stasiun Besar Lempuyangan Dengan Penekanan Konsep pada Sirkulasi, Tata ruang dan Pengaturan Fasilitas Komersial, pengertian Judul : Re-Desain Redesain berasal
BAB IV KONSEP PERANCANGAN BANDUNG CITY HOTEL. di kota Bandung mulai dari pemerintahan pusat daerah, pendidikan,
BAB IV KONSEP PERANCANGAN BANDUNG CITY HOTEL 4.1. Fungsi Perancangan Perkembangan kota Bandung yang sangat pesat karena mudahnya sarana transportasi baik darat maupun udara yang dapat ditempuh menuju kota
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber:
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Olahraga dapat menjadi batu loncatan sebagai pemersatu bangsa, daerah dan negara lainnya, baik di dalam skala nasional maupun internasional. Dalam setiap skala, negara-negara
Kondisi eksisting bangunan lama Pasar Tanjung, sudah banyak mengalami. kerusakan. Tatanan ruang pada pasar juga kurang tertata rapi dan tidak teratur
BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1. Hasil Rancangan Tapak Kondisi eksisting bangunan lama Pasar Tanjung, sudah banyak mengalami kerusakan. Tatanan ruang pada pasar juga kurang tertata rapi dan tidak teratur
Konsep Design Mikro (Bangsal)
Panggung tempat acara adat Konsep Design Mikro (Bangsal) Pintu masuk utama Ruang Tunggu / lobby dibuat mengelilingi bangunan, hal ini sesuai dengan kebuadayaan masyarakat yang menggunakan ruang ruang teras
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap kota pastinya memiliki nilai sejarah tersendiri, dimana nilai sejarah ini yang menjadi kebanggaan dari kota tersebut. Peristiwa peristiwa yang telah terjadi
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1993 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1993 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1993 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1993 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam Revitalisasi Kawasan Pabrik Gula Krebet Malang ini mencangkup empat aspek yaitu: Standar Perancangan Objek Prinsip-prinsip
KONSEP RANCANGAN. Latar Belakang. Konteks. Tema Rancangan Surabaya Youth Center
KONSEP RANCANGAN Latar Belakang Surabaya semakin banyak berdiri gedung gedung pencakar langit dengan style bangunan bergaya modern minimalis. Dengan semakin banyaknya bangunan dengan style modern minimalis
WALIKOTA PAREPARE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA PAREPARE NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN DAN PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA
WALIKOTA PAREPARE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA PAREPARE NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN DAN PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PAREPARE, Menimbang
MAKASSAR merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang. meningkatkan jumlah pengunjung/wisatawan
MAKASSAR merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang EKONOMI SOSIAL POLITIK INDUSTRI PARIWISATA BUDAYA mengalami perkembangan mengikuti kemajuan zaman meningkatkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Sejarah Lanskap sejarah (historical landscape) menurut Harris dan Dines (1988), secara sederhana dapat dinyatakan sebagai bentukan lanskap tempo dulu (landscape of
Bab I PENDAHULUAN April :51 wib. 2 Jum'at, 3 Mei :48 wib
Bab I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek A. Umum Pertumbuhan ekonomi DIY meningkat 5,17 persen pada tahun 2011 menjadi 5,23 persen pada tahun 2012 lalu 1. Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia
BAB 1 START FROM HERE. A river runs through it yang artinya sebuah sungai mengalir melewati,
BAB 1 START FROM HERE A river runs through it yang artinya sebuah sungai mengalir melewati, merupakan sebuah tema besar yang akan menjadi arahan dalam proses desain. Jadi peranan sungai sebenarnya sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kasus Proyek
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.1.1 Kasus Proyek Perkembangan globalisasi telah memberikan dampak kesegala bidang, tidak terkecuali pengembangan potensi pariwisata suatu kawasan maupun kota. Pengembangan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1993 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1993 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan
PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN DAN/ATAU LINGKUNGAN CAGAR BUDAYA
PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN DAN/ATAU LINGKUNGAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang :
TENTANG CAGAR BUDAYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMO 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa
RENCANA PENATAAN LANSKAP PEMUKIMAN TRADISIONAL
RENCANA PENATAAN LANSKAP PEMUKIMAN TRADISIONAL Rencana Lanskap Berdasarkan hasil analisis data spasial mengenai karakteristik lanskap pemukiman Kampung Kuin, yang meliputi pola permukiman, arsitektur bangunan
BELAWAN INTERNATIONAL PORT PASSANGER TERMINAL 2012 BAB I. PENDAHULUAN
BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kota Medan dewasa ini merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia yang mengalami perkembangan dan peningkatan di segala aspek kehidupan, mencakup bagian dari
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK YANG DIRENCANAKAN DAN KONSEP PERENCANAAN
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK YANG DIRENCANAKAN DAN KONSEP PERENCANAAN Bagian ini akan menganalisis gambaran umum objek yang direncanakan dari kajian pustaka pada Bab II dengan data dan informasi pada Bab
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan perekonomian dan pembangunan di Indonesia yang didukung kegiatan di sektor industri sebagian besar terkonsentrasi di daerah perkotaan yang struktur dan infrastrukturnya
Pusat Penjualan Mobil Hybrid Toyota di Surabaya
JURNAL edimensi ARSITEKTUR, No. 1 (2012) 1-6 1 Pusat Penjualan Mobil Hybrid Toyota di Surabaya Gladwin Sogo Fanrensen, Esti Asih Nurdiah Program Studi Teknik Arsitektur, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto
