BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa penjajahan Belanda, Indonesia mengalami pengaruh occidental (Barat) dalam berbagai segi kehidupan termasuk kebudayaan, hal ini antara lain dapat dilihat dalam bentuk kota dan bangunan (Sumalyo, 1995:3). Kota kolonial merupakan percampuran bentuk-bentuk urban Barat (Eropa) dengan penduduk dan kebudayaan setempat, disamping itu kota kolonial bersifat unik karena fokus fungsinya pada fungsi komersial (Haris, 2007:7). Kota Batavia merupakan salah satu diantaranya dan secara bertahap mengalami perkembangan. Di awal permulaan, Batavia berdiri sebagai pusat perdagangan berbenteng. Batavia kemudian menjadi kota dengan dua pusat yakni sebagai pusat niaga diantaranya sebagai tempat perkantoran dan perusahaan dagang; sementara itu wilayah Weltevreden 1 menyediakan bangunan baru bagi pemerintah, militer, orang kaya, dan sejumlah pertokoan (Brommer, 2002:109). Produk dari hasil penjajahan kolonial Belanda dapat ditelusuri dari bangunan-bangunan tinggalannya. Bangunan kolonial dalam ilmu arkeologi masuk ke dalam kategori fitur 2. Kajian mengenai bangunan, penting bagi ilmu arkeologi karena untuk dapat mengungkapkan sejarah budaya manusia yang menjadi pendukung suatu produk budaya tersebut. Bangunan dengan arsitektur kolonial meliputi bangunan rumah tinggal, gedung-gedung pemerintahan/umum, perkantoran, benteng, monumen, bangunan keagamaan, dan sebagainya, khususnya yang mempunyai nilai keindahan, nilai historis atau mewakili zamannya (Soekiman, 1980:659). 1 Weltevreden merupakan wilayah baru dalam kota Batavia dan sejak tahun 1905 meliputi daerah Gambir, gondangdia, Menteng, Tanah Abang, Karet, Senen, Kemayoran, Cempaka Putih, Kwitang Timur, Kramat dan Salemba (Hardi, 1987:92). 2 Tinggalan arkeologi dapat berwujud: (1) Artefak (artifact), yaitu benda yang jelas menampakkan hasil garapan tangan manusia, baik secara keseluruhan atau sebagian; (2) Fitur (feature), yaitu artefak yang tidak dapat diangkat atau dipindahkan, tanpa merusak matriksnya; (3)Ekofak (ecofact) adalah benda-benda dari unsur lingkungan hidup, yang berperan pada kehidupan manusia masa lampau, yang terdiri atas unsur biota atau manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, serta unsur biota seperti tanah, air dan udara (Sharer & Ashmoer, 1979: 70-72). 1

2 2 Arsitektur kolonial di Batavia seiring berjalannya waktu berubah sesuai dengan kebutuhan yang ingin dicapai oleh masyarakatnya. Perubahan itu terjadi ketika dilakukan pemindahan pemerintahan Hindia Belanda ke wilayah baru yakni disebut sebagai Weltevreden sekarang meliputi Jakarta Pusat. Kota lama yang sebagian besar bangunannya berdempet dengan ventilasi yang minim, serta terjadinya pendangkalan kali yang disebabkan pembuangan kotoran, sampah dan ampas tebu ke dalam kali Ciliwung membuat lingkungan di sekitarnya menjadi kurang sehat (Putriana, 2004:76). Dari hal itu, pada abad 19 masyarakat cenderung beralih ke wilayah baru ini, mereka membuat rumah-rumah yang besar dengan pekarangan yang luas. Bangunan pada abad 19 sebagian besar memiliki bentuk yang hampir serupa yakni rumah bertingkat satu dengan tiang-tiang atau pilar-pilar di depan dan di dalam rumah serta mempunyai pintu gerbang yang besar untuk masuk ke pekarangan rumah (Hanna, 1988:212). Penghapusan sistem tanam paksa pada tahun 1870 menghantarkan Hindia Belanda ke masa timbulnya perusahaan swasta. Adanya peluang-peluang yang sangat menarik untuk investasi dalam bidang perdagangan, menjadikan makin besar pula minat orang Eropa untuk datang ke negeri jajahan. Ditambah lagi dengan adanya pembangunan infrastruktur rel kereta api dan jalan raya membuat orang lebih mudah merambah ke kota-kota pedalaman seperti Bandung dan Malang, selain itu juga memungkinkan pengembangan kota-kota lainnya (Nas, 2009:130). Secara arsitektural, perubahan yang diakibatkan oleh pertumbuhan perusahaan-perusahaan swasta di Hindia Belanda amat nyata terlihat di kota-kota besar (Gill, 2002:117). Akibatnya adalah berbagai macam bangunan di Batavia pun bermunculan, ditambah lagi dengan berdatangannya para arsitek terdidik dari negara asalnya ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20 memperkaya bentuk bangunan kolonial itu sendiri. Arsitek tersebut antara lain adalah M.A.J. Mojen, Hendri Maclaine Pont, Thomas Karsten, G.C. Citroen, Wolf Schoemaker, A.R. Aalbers, dan sebagainya (Handinoto dan Samuel, 2007:58). Hampir semua arsitek yang berpraktek di Hindia Belanda pada abad ke 20 mempunyai latar belakang pendidikan di Negeri Belanda (Handinoto, 1996:151).

3 3 Sehingga tidak heran kalau gaya 3 arsitektur yang berkembang di Eropa dapat dengan cepat diterapkan atau diadopsi juga di negeri jajahannya. 4 Para arsitek Belanda yang bekerja dalam kelompok, ternyata mengerjakan lebih banyak proyek dan lebih besar dari lainnya ketimbang yang perseorangan (Sumalyo, 1996:224). Arsitek yang bekerja dalam kelompok yang cukup dikenal ialah biro arsitek Hulswi & Cuypers atau lengkapnya yaitu biro arsitek Hulswit en Fermont te Weltevreden Ed. Cuypers te Amsterdam. Biro ini banyak mengerjakan proyek-proyek pembangunan terutama di Batavia diantaranya meliputi perusahaan swasta, gereja, sekolah, dan lain sebagainya. Contoh hasil karya biro ini yang diperuntukan bagi perusahan swasta seperti kantor pusat Javasche Bank merupakan salah satu badan keuangan terbesar pada zaman Belanda, terletak di Jalan Pintu Besar Selatan dalam kawasan Kota Lama, gedung Chartered Bank of India Australia and China di Jalan Kali Besar Barat, Bank Hongkong and Shanghai Bangking Corporation di Jalan Kali Besar Timur. Biro ini juga memperbaharui dan memperluas beberapa bangunan diantaranya yakni rumah presiden direktur Javasche Bank di tahun 1922 yang kini menjadi Istana Wakil Presiden (Heuken, 2008:48). Biro arsitek ini juga merancang suatu rumah besar untuk kegiatan sosial yakni Rumah Yatim Piatu Vincentius atau yang sekarang dikenal sebagai Panti Asuhan Vincentius Putra. Bangunan ini dirancang oleh biro arsitek Hulswit, Femont & Cuypers dibangun tahun 1915 berada di Jalan Kramat Raya No.34, Jakarta Pusat. Panti Asuhan merupakan rumah tempat merawat yatim piatu (Alwi, 2000:826). Di Hindia Belanda, rumah yatim piatu menjadi pusat penampungan yang memang diperlukan bagi anak-anak yang dilahirkan dari hasil hubungan 3 Gaya arsitektur adalah hasil akhir suatu pengalaman membangun yang meliputi waktu yang lama didalam masyarakat tertentu (Budiharjo, 49:1983). Gaya (style) juga dapat diartikan sebagai suatu kumpulan karakteristik bangunan dimana struktur, kesatuan dan ekspresi digabungkan kedalam suatu bentuk-bentuk yang dapat mengingatkan pada suatu periode atau wilayah tertentu, kadang kala kepada seorang perancang (Onggodipuro, 23:1982). 4 Kemajuan pelayaran dengan kapal api di awal abad ke-20 membuat jarak antara Eropa dan Batavia menjadi semakin singkat. Cepatnya hubungan ini mengakibatkan banyaknya orang-orang Belanda datang dan pergi dari Eropa ke Hindia Belanda dengan berbagai keperluan. Cepatnya komunikasi ini juga mempengaruhi imbasnya ide-ide modern ke Hindia Belanda. Buku-buku perpustakaan arsitektur modern dari Barat juga dengan mudah dapat dibaca oleh para arsitek kolonial Belanda yang berdomisili di sini. Sebaliknya para arsitek kolonial Belanda di sini juga menerbitkan majalah arsitektur yang membahas tentang arsitektur modern seperti majalah Nederlandish-Indie Oude & Nieuw, Indische Bouwkundig Tijdschrift, dan sebagainya. Lihat Handinoto (1996:247).

4 4 (luar nikah) lelaki Eropa (ambtenar 5, militer, tuan kebun) dengan perempuan Indonesia (Bank, 1999:7). Salah satu ciri khas pemukiman Belanda di tanah jajahan adalah gedung untuk anak yatim (Handinoto, 1996:139). Alasan diperlukannya sebuah bangunan Panti Asuhan, bisa terjadi karena beberapa penyebab sebagai contoh yakni dipicu oleh kebijakan pemerintah kolonial yang memberikan batasan-batasan terhadap orang Eropa yang ingin bekerja di Hindia Belanda. Heuken (2007:88) menyatakan bahwa para pegawai pemerintah dan perkebunan yang baru tiba dari Belanda dilarang membawa serta istrinya sampai cuti kedua kalinya, akibatnya banyak diantara mereka melakukan hubungan di luar nikah. Pemasalahan akan terjadi ketika para istri mereka datang ke Hindia Belanda sehingga secara terpaksa para wanita pribumi ini tersingkir. Terkadang anak dari hubungan luar nikah dikirim ke Belanda, namun banyak diantaranya dibiarkan begitu saja sedangkan ibu pribumi sendiri kurang mampu. Lembaga sosial milik gereja berupaya mengatasi hal itu dengan mendirikan bangunan yang diperuntukan bagi anak-anak tersebut sehingga mereka dapat dididik dengan baik. Bangunan Panti Asuhan Vincentius Putra sendiri berada di bawah pengelolaan lembaga Perhimpunan Vincentius Jakarta dan merupakan bangunan kolonial terbesar di Jakarta yang diperuntukan sebagai panti asuhan. 1.1 Permasalahan dan Tujuan Penelitian Bangunan Panti Asuhan Vincentius Putera merupakan bangunan yang didirikan di awal abad 20. Di Batavia pada masa itu banyak gedung dirancang oleh para arsitek Belanda dengan bermacam bentuk. Mereka ini terkadang mengadopsi berbagai gaya bangunan yang berkembang di Eropa diantaranya seperti neo-klasik, art & craft, art nouveau, art deco, Amsterdam school, de stijl dan lain sebagainya. 6 Gaya bangunan tersebut sebagian besar turut juga mempengaruhi bangunan di Hindia Belanda. 5 Ambtenar adalah sebutan untuk pegawai pemerintah kolonial Belanda. 6 Neo-klasik adalah suatu gaya yang berkembang diawal abad 20 sebagai bentuk pelawanan terhadap gaya art nouveau, menerapkan unsur-unsur klasik (Yunani, Romawi, Bizantin dan Renaissance) dalam bentuk bangunannya. Art& craft merupakan bentuk perlawanan terhadap produk industri, gaya ini memfokuskan diri pada pengerjaan tangan dalam membuat furnitur, seni membuat kaca dalam bentuk natural dan lain sebagainya. Art nouveau adalah gaya yang berusaha

5 5 Arsitektur kolonial Belanda di Indonesia awal abad 20 merupakan bentuk yang spesifik dikarenakan pada masa itu banyak bangunan menerapkan berbagai macam gaya arsitektur, sehingga menghasilkan bentuk bangunan yang beragam. Bentuk tersebut merupakan hasil kompromi dari arsitektur yang berkembang di Eropa pada zaman yang bersamaan dan dengan iklim tropis di Indonesia (Handinoto, 1996:163). Maka, menurut Heuken (2008:44) sangat sukar untuk menggolongkan beberapa bangunan pada masa itu berdasarkan pada suatu gaya tertentu. Oleh karena itu menjadi suatu pertanyaan bagaimana bentuk dan gaya Bangunan Panti Asuhan Vincentius Putra ini dan seperti apa kemiripan dengan bentuk dan gaya-gaya bangunan yang terdapat di Batavia awal abad 20. Tujuan dari penelitian ini berupaya mengungkapkan kesamaan dan kecenderungan dari berbagai bentuk dan gaya yang ada pada masa itu terhadap bangunan Panti Asuhan Vincentius Putra. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi awal mengenai suatu bentuk bangunan panti asuhan, sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai pembanding terhadap penelitian selanjutnya mengenai bangunan kolonial yang diperuntukan sebagai panti asuhan. 1.2 Ruang lingkup Penelitian Dalam hal ini lingkup penelitian difokuskan untuk mencari kesamaan bentuk dan gaya-gaya bangunan yang terdapat di awal abad ke-20 terhadap bangunan ini. Objek penelitian adalah bangunan lama Panti Asuhan Vincentius Putra yang dirancang oleh biro arsitek Hulswit, Fermont & Cuypers tahun 1915 yang terletak di Jalan Kramat Raya 134, kecamatan Senen, kotamadya Jakarta Pusat. meninggalkan ciri-ciri klasik dalam penerapan bangunannya, mempunyai ciri penggunaan elemenelemen floral dalam bentuk abstrak. Amsterdam school berkembang antara tahun 1910 sampai dengan 1925 menekankan pada bentuk profil-profil plesteran, penggunaan bata, batu alam dan kayu. Bangunan dengan gaya de stijl mempunyai ciri penggunaan atap datar, bentuk geometrik dan penggunaan warna-warna dasar. Semua gaya tersebut tumbuh dan berkembang di Eropa pengaruhnya terasa pada daerah-daerah koloni seperti Hindia Belanda, penjelasan lebih lanjut terdapat pada bab selanjutnya.

6 6 1.3 Metode Penelitian Dalam melakukan suatu penelitian diperlukan metode untuk mencapai tujuan yang diharapkan dari penelitian tersebut. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tiga tahapan yaitu, pengumpulan data, pengolahan data, dan penafsiran data. Tahap pertama yang dilakukan adalah pengumpulan data, tahap ini meliputi studi kepustakaan dan studi lapangan. Studi kepustakaan dilakukan dengan cara mengumpulkan sumber-sumber kepustakaan yang berkenaan dengan topik penelitian antara lain buku-buku, artikel, majalah, jurnal maupun hasil penelitian baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan bangunan Panti Asuhan (Weeshuis) Vincentius Putra. Pengumpulan data berupa peta keletakan dimaksudkan untuk dapat menelusuri kembali berbagai informasi yang tertuang dalam suatu peta keletakan mengenai batas-batas lokasi obyek penelitian. Pengumpulan data berupa foto dan gambar dalam studi ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi secara visual terhadap berbagai hal tentang bangunan Panti Asuhan (Weeshuis) Vincentius Putra. Data berupa foto dan gambar semacam itu sangat bermanfaat sebagai bahan informasi terhadap data yang dijumpai saat ini. Hal itu dianggap penting mengingat bahwa berbagai data arkeologis seringkali mengalami banyak perubahan baik secara kualitas maupun kuantitas. Pada studi lapangan dilakukan dengan cara pengamatan langsung pada objek penelitian, memfoto, dan mendeskripsikan bangunan baik secara horizontal (denah) maupun vertikal (struktur). Pengukuran bangunan dilakukan selengkap mungkin secara verbal, yaitu meliputi ukuran bangunan (panjang, lebar, dan tinggi). Disamping itu juga dilakukan pengukuran dan pendeskripsian terhadap elemen yang ada pada bangunan misalnya ruang, lantai, tangga, pintu, jendela, tingkap, dan tiang atau pilar. Tahap kedua merupakan proses pengolahan data. Seluruh hasil yang telah diperoleh dalam tahap pertama, kemudian dianalisis. Dalam melakukan analisis Bangunan Panti Asuhan Vincentius Putra, dilakukan dengan cara pemilahan agar unsur-unsur bentuk dan gaya bangunan dapat dimengerti secara keseluruhan. Pemilahan dilakukan dengan membagi bangunan menjadi 3 bagian yakni bagian

7 7 dasar (fondasi dan lantai), dinding, dan atap bangunan. Dalam pemilahan ini, analisis yang dilakukan meliputi dua hal yakni pertama, menganalisis komponen arsitektur dengan cara mencari persamaan bentuk dengan komponen arsitektur yang berkembang di Eropa. Selanjutnya, mencari persamaan bentuk dan ciri dengan bangunan-bangunan kolonial lainnya yang dibangun pada masa yang sama sekaligus juga mencari persamaan gaya bangunan. Dalam mencari persamaan gaya tersebut, terlebih dahulu dipaparkan gaya-gaya bangunan yang terdapat di Eropa awal abad 20 serta contoh bangunannya di Batavia berdasarkan literatur yang telah didapat. Tahap terakhir adalah penafsiran data, yakni mengintegrasikan dari pemilahan yang dilakukan terhadap adanya kesamaan komponen bangunan Panti Asuhan Vincentius Putra dengan komponen bangunan yang terdapat di Eropa dan kesamaan dengan bangunan kolonial yang terdapat di Batavia awal abad 20 serta gaya bangunannya. Kemudian dari pola-pola yang terlihat ditarik kesimpulan untuk menjawab sesuai dengan pemasalahan dan tujuan penelitian. 1.4 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan bertujuan agar dalam pemaparan suatu penelitian yang dituangkan dalam penulisan tersusun secara teratur sehingga dapat dimengerti dan dipahami. Adapun sistematika penulisan peneliti terdiri dari 4 Bab sebagai berikut: Bab 1 merupakan Bab pendahuluan terdiri dari latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian, ruang lingkup penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bab 2 berupa sejarah dan deskripsi Bangunan Panti Asuhan Vincentius Putra terdiri dari penjelasan arsitektur kolonial awal abad ke-20 di Batavia, riwayat biro arsitek Hulswit, Fermont & Cuypers, latar sejarah panti asuhan yang terdapat di Batavia sampai dengan Bangunan Panti Asuhan Vincentius Putra dan terakhir berisi deskripsi (pemerian) Panti Asuhan Vincentius Putra.

8 8 Bab 3 merupakan analisis yakni berupaya mencari kesamaan terhadap bentuk komponen bangunan yang terdapat di Eropa dan juga bangunan kolonial di Hindia Belanda awal abad 20 serta gaya bangunannya. Bab 4 penutup berupa kesimpulan maupun saran.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan yang masih dapat terlihat sampai sekarang yang kemudian menjadi warisan budaya.

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN. 88 Universitas Indonesia. Gereja Koinonia..., Rinno Widianto, FIB UI, 2009

BAB 5 KESIMPULAN. 88 Universitas Indonesia. Gereja Koinonia..., Rinno Widianto, FIB UI, 2009 BAB 5 KESIMPULAN Bangunan Gereja Koinonia merupakan bangunan tinggalan kolonial pada awal abad 20 jika dilihat dari tahun berdirinya. Perkembangan gaya seni arsitektur di Indonesia tidak lepas dari pengaruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penjajahan Belanda di Indonesia membawa pengaruh penting bagi aspek

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penjajahan Belanda di Indonesia membawa pengaruh penting bagi aspek BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penjajahan Belanda di Indonesia membawa pengaruh penting bagi aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Seperti aspek ekonomi, religi, seni, filsafat, dan termasuk juga

Lebih terperinci

sesudah adanya perjanjian Wina dan terutama dibukanya terusan Suez. Hal

sesudah adanya perjanjian Wina dan terutama dibukanya terusan Suez. Hal BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masuknya bangsa Eropa ke Indonesia pertama kali ditandai dengan kedatangan bangsa Portugis pada abad 16 M kemudian diteruskan dengan kedatangan bangsa Belanda yang

Lebih terperinci

DAFTAR lsi KATA PENGANTAR PENDAHULUAN DAFTARISI BAB 1 SEKILAS TENTANG ARSITEKTUR CINA PADA AKHIR ABAD KE-19 DI PASURUAN

DAFTAR lsi KATA PENGANTAR PENDAHULUAN DAFTARISI BAB 1 SEKILAS TENTANG ARSITEKTUR CINA PADA AKHIR ABAD KE-19 DI PASURUAN ~ GRAHAILMU DAFTAR lsi KATA PENGANTAR PENDAHULUAN DAFTARISI BAB 1 SEKILAS TENTANG ARSITEKTUR CINA PADA AKHIR ABAD KE-19 DI PASURUAN BAB2 Arsitektur Cina Akhir Abad Ke-19 di Pasuruan Denah, Bentuk, dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Gedung bouwpleog..., Yuri Arief Waspodo, FIB UI, 2009

BAB 1 PENDAHULUAN. Gedung bouwpleog..., Yuri Arief Waspodo, FIB UI, 2009 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari sisa-sisa peninggalan budaya masa lalu untuk mengungkapkan kehidupan masyarakat pendukung kebudayaannya serta berusaha untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Seiring dengan kemajuan jaman, perkembangan dalam berbagai bidang kini semakin terasa di Indonesia. Kemajuan teknologi telah membawa suatu pengaruh yang cukup signifikan

Lebih terperinci

BAB 4 KESIMPULAN. Universitas Indonesia. Bntuk dan..., Albertus Napitupulu, FIB UI, 2009

BAB 4 KESIMPULAN. Universitas Indonesia. Bntuk dan..., Albertus Napitupulu, FIB UI, 2009 BAB 4 KESIMPULAN Pembangunan sarana dan prasarana bagi kebutuhan pemerintahan dan orang-orang barat di Bandung sejalan dengan penetapan kota Bandung sebagai Gemeente pada tahun 1906. Gereja sebagai tempat

Lebih terperinci

BANGUNAN BALAI KOTA SURABYA

BANGUNAN BALAI KOTA SURABYA SAINS ARSITEKTUR II BANGUNAN BALAI KOTA SURABYA Diajukan oleh : LUTHFI HARDIANSYAH 0951010022 FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR 2012 Balai Kota Surabaya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Gaya bangunan..., Cheviano Eduardo Alputila, FIB UI, 2009

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Gaya bangunan..., Cheviano Eduardo Alputila, FIB UI, 2009 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kolonisasi di Indonesia, khususnya yang dilakukan oleh orang Belanda, menghasilkan banyak sekali tinggalan berupa bangunan yang bergaya kolonial. Selain kantor dagang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Dalam Undang-Undang Benda Cagar Budaya tahun 1992 nomor 5, secara eksplisit dikemukakan bahwa syarat sebuah Benda Cagar Budaya adalah baik secara keseluruhan maupun

Lebih terperinci

163 Universitas Indonesia

163 Universitas Indonesia BAB 5 PENUTUP Pada bab ini dijelaskan mengenai kesimpulan semua pembahasan yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya dan saran. Kesimpulan ini juga menjawab pertanyaan permasalahan yang dibuat pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. besar ke kota Medan (Sinar, 1996). Orang Cina dan Jawa didatangkan sebagai kuli

BAB I PENDAHULUAN. besar ke kota Medan (Sinar, 1996). Orang Cina dan Jawa didatangkan sebagai kuli BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20 terjadi gelombang migrasi besar ke kota Medan (Sinar, 1996). Orang Cina dan Jawa didatangkan sebagai kuli kontrak akibat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini persoalan utama yang dihadapi kota-kota besar di Pulau Jawa akibat pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi adalah masalah transportasi, masalah transportasi

Lebih terperinci

Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta

Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta SEMINAR HERITAGEIPLBI 2017 DISKURSUS Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta Indah Mega Ashari [email protected] Program Studi A rsitektur, Sekolah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Bntuk dan..., Albertus Napitupulu, FIB UI, 2009

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Bntuk dan..., Albertus Napitupulu, FIB UI, 2009 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari kehidupan manusia pada masa lampau melalui tinggalan-tinggalannya, baik berupa artefak 1, ekofak 2 dan fitur 3 (Sharer dan

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

Bab I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pesisir Timur pantai Sumatera Utara sejak abad ke-13, merupakan tempat persinggahan bangsa-bangsa asing dan lintas perdagangan. Bangsa India dan Arab datang dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. TABEL 1.1 JUMLAH WISATAWAN MANCANEGARA DAN NUSANTARA KE OBJEK WISATA KOTA BANDUNG Jumlah. Jumlah Tahun.

BAB I PENDAHULUAN. TABEL 1.1 JUMLAH WISATAWAN MANCANEGARA DAN NUSANTARA KE OBJEK WISATA KOTA BANDUNG Jumlah. Jumlah Tahun. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pemerintah sudah mencanangkan bahwa pariwisata harus menjadi andalan pembangunan Indonesia. Keputusan Presiden (Keppres) No. 38 Tahun 2005, mengamanatkan

Lebih terperinci

2.2 Tinjauan Gaya Neo Klasik Eropa dan Indonesia Sejarah Gaya Arsitektur Neo Klasik

2.2 Tinjauan Gaya Neo Klasik Eropa dan Indonesia Sejarah Gaya Arsitektur Neo Klasik 2.2 Tinjauan Gaya Neo Klasik Eropa dan Indonesia 2.2.1 Sejarah Gaya Arsitektur Neo Klasik Pada akhir zaman klasik, timbul kejenuhan terhadap bentuk, konsep dan norma arsitektur klasik, yang sudah merajai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri pada akhir dekade pertama abad ke-19, diresmikan tanggal 25 September 1810. Bangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Art deco adalah sebuah gerakan desain yang populer dari 1920 hingga 1939, yang mempengaruhi seni dekoratif seperti arsitektur, desain interior, dan desain industri,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sejak berabad-abad silam dan beberapa diantaranya sekarang sudah menjadi aset

BAB I PENDAHULUAN. sejak berabad-abad silam dan beberapa diantaranya sekarang sudah menjadi aset BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Gereja merupakan bangunan ibadat umat kristiani yang mewadahi kegiatan spiritual bagi jemaatnya. Berbagai bentuk desain gereja telah tercipta sejak berabad-abad silam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mega Destatriyana, 2015 Batavia baru di Weltevreden Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.

BAB I PENDAHULUAN. Mega Destatriyana, 2015 Batavia baru di Weltevreden Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukkan oleh kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk

Lebih terperinci

Pengaruh Gaya Arsitektur Kolonial Belanda pada Bangunan Bersejarah di Kawasan Manado Kota Lama

Pengaruh Gaya Arsitektur Kolonial Belanda pada Bangunan Bersejarah di Kawasan Manado Kota Lama TEMU ILMIAH IPLBI 2015 Pengaruh Belanda pada Bangunan Bersejarah di Kawasan Manado Kota Lama Veronica A. Kumurur Program Studi Arsitektur, Universitas Sam Ratulangi Manado Abstrak Kota Manado merupakan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam Revitalisasi Kawasan Pabrik Gula Krebet Malang ini mencangkup empat aspek yaitu: Standar Perancangan Objek Prinsip-prinsip

Lebih terperinci

Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta

Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta Augustinus Madyana Putra (1), Andi Prasetiyo Wibowo

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota Semarang merupakan ibukota Jawa Tengah yang memiliki daya tarik

BAB I PENDAHULUAN. Kota Semarang merupakan ibukota Jawa Tengah yang memiliki daya tarik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Semarang merupakan ibukota Jawa Tengah yang memiliki daya tarik tersendiri karena penduduknya yang beragam budaya dan agama. Untuk memasuki kota Semarang dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Perumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Perumusan Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Perumusan Masalah 1. Latar belakang dan pertanyaan penelitian Berkembangnya arsitektur jaman kolonial Belanda seiring dengan dibangunnya pemukiman bagi orang-orang eropa yang tinggal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Elfa Michellia Karima, 2013 Kehidupan Nyai Di Jawa Barat Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.

BAB I PENDAHULUAN. Elfa Michellia Karima, 2013 Kehidupan Nyai Di Jawa Barat Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perekonomian Pribumi sangat tergantung pada politik yang dijalankan oleh pemerintah kolonial. Sebagai negara jajahan yang berfungsi sebagai daerah eksploitasi

Lebih terperinci

BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Survey (Observasi) Lapangan Dalam penelitian ini, secara garis besar penyajian data-data yang dikumpulkan melalui gambar-gambar dari hasil observasi lalu diuraikan

Lebih terperinci

BAB 2 SEJARAH DAN DESKRIPSI BANGUNAN PANTI ASUHAN (WEESHUIS) VINCENTIUS PUTRA

BAB 2 SEJARAH DAN DESKRIPSI BANGUNAN PANTI ASUHAN (WEESHUIS) VINCENTIUS PUTRA 9 BAB 2 SEJARAH DAN DESKRIPSI BANGUNAN PANTI ASUHAN (WEESHUIS) VINCENTIUS PUTRA 2.1 Arsitektur Kolonial Belanda Awal Abad XX Di Batavia Arsitektur adalah seni guna yang khusus karena arsitektur merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tanpa terasa Bandung sudah memasuki usianya yang lebih dari 200 tahun. Sebuah perjalanan yang sangat panjang dari wilayah yang sebelumnya merupakan bagian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Pos Indonesia yang selanjutnya disebut Kantor Pos merupakan badan usaha milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang layanan sarana komunikasi seperti mengirimkan

Lebih terperinci

KARAKTER VISUAL FASADE BANGUNAN KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA KOTA MALANG

KARAKTER VISUAL FASADE BANGUNAN KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA KOTA MALANG KARAKTER VISUAL FASADE BANGUNAN KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA KOTA MALANG Efrina Amalia Ridwan, Antariksa, Noviani Suryasari Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jl. Mayjend

Lebih terperinci

TIPOLOGI GEREJA IMMANUEL DI DESA MANDOMAI. Abstraksi

TIPOLOGI GEREJA IMMANUEL DI DESA MANDOMAI. Abstraksi ISSN 1907-8536 Volume 5 Nomor 1 Juli 2010 TIPOLOGI GEREJA IMMANUEL DI DESA MANDOMAI Alderina 1) Abstraksi Terdapat suatu gereja peninggalan Zending Barmen (Jerman) yang berlokasi di desa Saka Mangkahai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sampai tahun 1942 (Sidharta, 1987 dalam Samsudi) Menurut Muchlisiniyati Safeyah (2006) Arsitektur kolonial merupakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sampai tahun 1942 (Sidharta, 1987 dalam Samsudi) Menurut Muchlisiniyati Safeyah (2006) Arsitektur kolonial merupakan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Arsitektur Kolonial 2.1.1. Pengertian Arsitektur Kolonial Arsitektur kolonial Belanda adalah arsitektur Belanda yang dikembangkan di Indonesia selama Indonesia masih dalam kekuasaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Landasan Teori 1. Transportasi Kereta Api Transportasi merupakan dasar untuk pembangunan ekonomi dan perkembangan masyarakat, serta pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tahun 2010, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam UU tersebut, dikatakan

Lebih terperinci

EGYPTIAN ARCHITECTURE

EGYPTIAN ARCHITECTURE EGYPTIAN ARCHITECTURE - terdapat pada daerah iklim yang panas kering - material tanah liat atau bebatuan lokal dengan warna asli materialnya. - Monumen dengan gaya arsitektur ini cenderung terdiri dari

Lebih terperinci

Masjid Cipari Garut, Masjid Berasitektur Mirip Gereja

Masjid Cipari Garut, Masjid Berasitektur Mirip Gereja SEMINAR HERITAGE IPLBI 207 KASUS STUDI Masjid Cipari Garut, Masjid Berasitektur Mirip Gereja Franciska Tjandra [email protected] A rsitektur Islam, Jurusan A rsitektur, F akultas Sekolah A rsitektur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aktivitas masyarakat. Komponen-komponen pendukung kota dapat dibuktikan

BAB I PENDAHULUAN. aktivitas masyarakat. Komponen-komponen pendukung kota dapat dibuktikan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Surakarta atau lebih dikenal dengan Kota Solo merupakan sebuah kota yang memiliki fasilitas publik untuk mendukung berjalannya proses pemerintahan dan aktivitas masyarakat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan sejarah suatu kota maupun negara. Melalui peninggalan sejarah

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan sejarah suatu kota maupun negara. Melalui peninggalan sejarah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peninggalan sejarah dan cagar budaya mempunyai peranan penting dalam perkembangan sejarah suatu kota maupun negara. Melalui peninggalan sejarah dan cagar budaya banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Arsitektur merupakan bidang studi yang selalu berkaitan dengan kegiatan manusia, apalagi kebutuhannya terhadap ruang. Secara garis besar, ruang untuk kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berlangsung di dalam kelas merupakan usaha sadar dan terencana untuk

BAB I PENDAHULUAN. berlangsung di dalam kelas merupakan usaha sadar dan terencana untuk 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar-mengajar merupakan bagian dari proses pendidikan yang berlangsung di dalam kelas merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

Lebih terperinci

Ekspresi gaya arsitektur kolonial pada desain interior Gedung Lindeteves Surabaya

Ekspresi gaya arsitektur kolonial pada desain interior Gedung Lindeteves Surabaya Ekspresi gaya arsitektur kolonial pada desain interior Gedung Lindeteves Surabaya Juan Antonio Koeswandi Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Widya Kartika Jl. Sutorejo Prima Utara II/1, Surabaya

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Lampiran 1. Rencana Tapak Seluruh Kompleks Istana Kepresidenan Bogor. Sumber: Bag. Teknik Istana Bogor, 2012

LAMPIRAN. Lampiran 1. Rencana Tapak Seluruh Kompleks Istana Kepresidenan Bogor. Sumber: Bag. Teknik Istana Bogor, 2012 LAMPIRAN Lampiran 1. Rencana Tapak Seluruh Kompleks Istana Kepresidenan Bogor. Sumber: Bag. Teknik Istana Bogor, 2012 Lampiran 2. Rencana Tapak Area Utama Istana Kepresidenan Bogor. 101 Lampiran 3. Denah

Lebih terperinci

Peninggalan Islam.

Peninggalan Islam. Peninggalan Islam Seni Pahat Seni pahat (seni patung) yang sangat berkembang pada masa Hindu-Budha tidak berlanjut pada masa Islam, karena ada larangan untuk melukiskan makhluk hidup. Seni ukir berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN... 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 6

BAB I PENDAHULUAN... 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 6 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI... i DAFTAR GAMBAR... iv DAFTAR TABEL... vii BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Tujuan dan Sasaran... 2 1.3. Manfaat...

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN KAWASAN STASIUN KERETA API PASAR SENEN, JAKARTA PUSAT

BAB III TINJAUAN KAWASAN STASIUN KERETA API PASAR SENEN, JAKARTA PUSAT BAB III TINJAUAN KAWASAN STASIUN KERETA API PASAR SENEN, JAKARTA PUSAT 3.1. Tinjauan Umum Kota Administrasi Jakarta Pusat 3.1.1. Kondisi Administrasi Potensi Jakarta Pusat secara administratif terdiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli yang dibangun pada tahun 1906 M, pada masa pemerintahan sultan Maamun Al- Rasyid Perkasa Alamsjah.Masjid

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Judul. Perancangan Interior Dan Furniture Clubhouse Jakarta Golf Club 1.2. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Judul. Perancangan Interior Dan Furniture Clubhouse Jakarta Golf Club 1.2. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Judul Perancangan Interior Dan Furniture Clubhouse Jakarta Golf Club 1.2. Latar Belakang Clubhouse Jakarta Golf merupakan kawasan yang pemanfaatan fasilitas ruangnya di dominasi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tempat-tempat bersejarah, obyek-obyek dan manifestasi adalah ekspresi yang penting dari budaya, identitas serta agama kepercayaan untuk masyarakat sekitar. Setiap nilai

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. BAB V Kesimpulan dan Saran 126

BAB V KESIMPULAN. BAB V Kesimpulan dan Saran 126 BAB V KESIMPULAN 5.1 KESIMPULAN Manusia memiliki sifat alami untuk selalu bergerak. Pergerakan yang dilakukan dapat bersifat fisik (berpindah tempat) maupun non fisik (perilaku). Bergerak secara fisik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber:

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber: BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Olahraga dapat menjadi batu loncatan sebagai pemersatu bangsa, daerah dan negara lainnya, baik di dalam skala nasional maupun internasional. Dalam setiap skala, negara-negara

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN. Dari uraian pada bab-bab terdahulu, dapat dikemukakan. beberapa temuan sebagai kesimpulan dalam penelitian ini.

BAB VI KESIMPULAN. Dari uraian pada bab-bab terdahulu, dapat dikemukakan. beberapa temuan sebagai kesimpulan dalam penelitian ini. BAB VI KESIMPULAN 6.1. Kesimpulan Dari uraian pada bab-bab terdahulu, dapat dikemukakan beberapa temuan sebagai kesimpulan dalam penelitian ini. 1. Perkembangan morfologi dan aspek-aspek simbolik di Kota

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pada masa lalu, wilayah nusantara merupakan jalur perdagangan asing

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pada masa lalu, wilayah nusantara merupakan jalur perdagangan asing BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pada masa lalu, wilayah nusantara merupakan jalur perdagangan asing yang sangat strategis, yang terletak di tengah-tengah jalur perdagangan yang menghubungkan antara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bandung adalah salah satu kota besar di Indonesia dan merupakan Ibukota Provinsi Jawa Barat yang banyak menyimpan berbagai sejarah serta memiliki kekayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, namun banyak juga yang

BAB I PENDAHULUAN. bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, namun banyak juga yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Yogyakarta memiliki banyak bangunan monumental seperti Tamansari, Panggung Krapyak, Gedung Agung, Benteng Vredeburg, dan Stasiun Kereta api Tugu (Brata: 1997). Beberapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang nyaman. Bangunan ataupun hunian terdiri dari bangunan pribadi yang berfungsi sebagai

BAB I PENDAHULUAN. yang nyaman. Bangunan ataupun hunian terdiri dari bangunan pribadi yang berfungsi sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini interior ruang merupakan suatu yang terpenting dalam menunjangnya sebuah bangunan ataupun hunian. Karena sebagai individu, kita membutuhkan tempat

Lebih terperinci

Elemen Tangga Pada 3 Bangunan Kolonial di Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta

Elemen Tangga Pada 3 Bangunan Kolonial di Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Elemen Tangga Pada 3 Bangunan Kolonial di Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta Hazimah Ulfah Az Zaky [email protected] Arsitektur Kolonial, Sejarah Teori Kritik

Lebih terperinci

RUMAH PANTI ASUHAN YATIM PIATU

RUMAH PANTI ASUHAN YATIM PIATU RUMAH PANTI ASUHAN YATIM PIATU PROPOSAL PENGAJUAN PROYEK TUGAS AKHIR SELVINA ILONA TANJUNG 1501184191 SCHOOL OF DESIGN DESAIN INTERIOR UNIVERSITAS BINA NUSANTARA 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Lebih terperinci

Wajah Militair Hospitaal dan 'Kota Militer' Cimahi

Wajah Militair Hospitaal dan 'Kota Militer' Cimahi SEMINAR HERITAGEIPLBI 2017 DISKURSUS Wajah Militair Hospitaal dan 'Kota Militer' Cimahi Aileen Kartiana Dewi [email protected] Mahasiswa Program Studi Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan

Lebih terperinci

Desain Fasad Depan dan Ornamen pada Societeit Voor Officieren dan Stasiun KAI di Kota Cimahi

Desain Fasad Depan dan Ornamen pada Societeit Voor Officieren dan Stasiun KAI di Kota Cimahi SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Desain Fasad Depan dan Ornamen pada Societeit Voor Officieren dan Stasiun KAI di Kota Cimahi Jeremy Meldika jeremy [email protected] Program Studi A rsitektur, Sekolah

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN LITERATUR

BAB II KAJIAN LITERATUR BAB II KAJIAN LITERATUR 2.1 Pengertian Pelestarian Filosofi pelestarian didasarkan pada kecenderungan manusia untuk melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat namun memiliki arti penting

Lebih terperinci

MEDIA MATRASAIN ISSN Volume 14, No.1, Maret Oleh:

MEDIA MATRASAIN ISSN Volume 14, No.1, Maret Oleh: Oleh: Hery Purnomo (Mahasiswa Magister Arsitektur, Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi, [email protected]) Judi O. Waani (Staf Pengajar Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam

Lebih terperinci

KEBUDAYAAN INDIES arsitektur

KEBUDAYAAN INDIES arsitektur KEBUDAYAAN INDIES arsitektur Untuk mengingatkan akan tanah airnya (Belanda) mereka juga membuat cerobong asap (walau hanya tiruan). Selain itu pada atap juga ada tadah angin (wind wijser) dengan beragam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan yang mewakili daerahnya masing-masing. Setiap Kebudayaan

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan yang mewakili daerahnya masing-masing. Setiap Kebudayaan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai beragam kebudayaan yang mewakili daerahnya masing-masing. Setiap Kebudayaan tersebut mempunyai unsur yang berbeda-beda.

Lebih terperinci

PENATAAN KORIDOR JALAN PASAR BARU JAKARTA

PENATAAN KORIDOR JALAN PASAR BARU JAKARTA LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Teknik PENATAAN KORIDOR JALAN PASAR BARU JAKARTA Diajukan oleh : ARDHANA

Lebih terperinci

Sejarah Kantor Nederlands-Indische Spoorweg (NIS) di Semarang

Sejarah Kantor Nederlands-Indische Spoorweg (NIS) di Semarang SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Sejarah Kantor Nederlands-Indische Spoorweg (NIS) di Semarang Faisal Prabowo [email protected] KK Informatika, Teknik Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan

Lebih terperinci

Kementerian Pendidikan Nasional merupakan lembaga pemerintahan yang bertugas meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. salah satu langkah yang di

Kementerian Pendidikan Nasional merupakan lembaga pemerintahan yang bertugas meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. salah satu langkah yang di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Latar Belakang Proyek Menurut catatan sejarah umat manusia yang sempat terungkap tentang keberadaan dan perkembangan perpustakaan menunjukkan bahwa perpustakaan

Lebih terperinci

PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU

PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 2 ISSN (E) : 2540-7589 PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU Ghina Fajrine1), Agus Budi Purnomo2),Jimmy

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS...

BAB II LANDASAN TEORITIS... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i DAFTAR GAMBAR... iii DAFTAR TABEL DAN BAGAN... v BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Identifikasi Masalah... 4 C. Pembatasan Masalah... 5 D. Perumusan Masalah...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan untuk fasilitas-fasilitas pendukungnya. menginap dalam jangka waktu pendek.

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan untuk fasilitas-fasilitas pendukungnya. menginap dalam jangka waktu pendek. BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang I.1.1. Latar Belakang Proyek Indonesia sebagai negara berkembang terus menerus berusaha untuk meningkatkan hasil yang maksimal di segala bidang pembangunan, salah

Lebih terperinci

Pengaruh Gaya Indis Pada Interior Gereja Kristen Jawi Wetan Jemaat Surabaya

Pengaruh Gaya Indis Pada Interior Gereja Kristen Jawi Wetan Jemaat Surabaya JURNAL INTRA Vol 3, No 1 (2015) Hal 22-28 22 Pengaruh Gaya Indis Pada Interior Gereja Kristen Jawi Wetan Jemaat Surabaya Enggar Hadi Prayogo Program Studi Desain Interior,Universitas Kristen Petra Jl.

Lebih terperinci

KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTABARU YOGYAKARTA. Theresiana Ani Larasati

KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTABARU YOGYAKARTA. Theresiana Ani Larasati KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTABARU YOGYAKARTA Theresiana Ani Larasati Yogyakarta memiliki peninggalan-peninggalan karya arsitektur yang bernilai tinggi dari segi kesejarahan maupun arsitekturalnya, terutama

Lebih terperinci

Ekspresi Gaya Arsitektur Kolonial pada Desain Interior Gedung Lindeteves Surabaya

Ekspresi Gaya Arsitektur Kolonial pada Desain Interior Gedung Lindeteves Surabaya Juan Antonio Koeswandi/e-Jurnal Eco-Teknologi UWIKA (ejetu). ISSN: 2301-850X. Vol. I, Issue 2, Oktober 2013 pp. 43-48 Ekspresi Gaya Arsitektur Kolonial pada Desain Interior Gedung Lindeteves Surabaya Juan

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Pertemuan budaya yang ada pada Mesjid Raya Cipaganti dapat terkordinasi dengan baik antara budaya yang satu dengan lainnya. Budaya luar yang masuk telah mengalami

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1. Hotel Des Indes (kiri) yang Menjadi Komplek Duta Merlin (kanan) Sumber:google.co.id, 5 Maret 2015

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1. Hotel Des Indes (kiri) yang Menjadi Komplek Duta Merlin (kanan) Sumber:google.co.id, 5 Maret 2015 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembangunan di Jakarta melaju demikian cepat hingga menyebabkan lahan kosong semakin sulit ditemukan di Jakarta. Semakin banyak bangunan baru yang dibangun,

Lebih terperinci

PELESTARIAN GEDUNG PT PERKEBUNAN NUSANTARA XI (EKS HANDELS VEREENIGING AMSTERDAM) DI SURABAYA SKRIPSI

PELESTARIAN GEDUNG PT PERKEBUNAN NUSANTARA XI (EKS HANDELS VEREENIGING AMSTERDAM) DI SURABAYA SKRIPSI PELESTARIAN GEDUNG PT PERKEBUNAN NUSANTARA XI (EKS HANDELS VEREENIGING AMSTERDAM) DI SURABAYA SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik Disusun oleh: CARISSA

Lebih terperinci

PENDAHULUAN BAB I. Latar Belakang. Kota Jakarta, ibukota negara sekaligus sebagai pusat ekonomi dan pusat

PENDAHULUAN BAB I. Latar Belakang. Kota Jakarta, ibukota negara sekaligus sebagai pusat ekonomi dan pusat BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kota Jakarta, ibukota negara sekaligus sebagai pusat ekonomi dan pusat pendidikan di negara kita, memiliki berbagai sarana dan prasarana penunjang kehidupan yang sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dikutip dari pada Kamis, 10 April 2014 pukul WIB. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN. Dikutip dari  pada Kamis, 10 April 2014 pukul WIB. Universitas Kristen Maranatha 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bandung merupakan daerah yang terkenal dengan berbagai macam wisata, seperti wisata kuliner dan belanja, selain itu Bandung juga menawarkan keindahan alam dengan berbagai

Lebih terperinci

Masjid Cipari, Masjid Tertua dan Unik di Garut

Masjid Cipari, Masjid Tertua dan Unik di Garut SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Masjid Cipari, Masjid Tertua dan Unik di Garut Annisa Maharani [email protected] Mahasiswa Sarjana Prodi Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan V.1.1 Topik dan Tema Proyek Hotel Kapsul ini menggunakan pendekatan sustainable design sebagai dasar perencanaan dan perancangan.

Lebih terperinci

Landasan Konseptual Perencanaan dan Perancangan. Pengembangan Kawasan Kerajinan Gerabah Kasongan BAB I PENDAHULUAN

Landasan Konseptual Perencanaan dan Perancangan. Pengembangan Kawasan Kerajinan Gerabah Kasongan BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kabupaten Bantul memiliki banyak industri kerajinan yang dapat ditawarkan menjadi objek wisata alternative meliputi bermacam wisata alam, budaya, pendidikan dan lainnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sudah tidak banyak digunakan lagi pada bangunan-bangunan baru sangat. menunjang kelangkaan bangunan bersejarah tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. yang sudah tidak banyak digunakan lagi pada bangunan-bangunan baru sangat. menunjang kelangkaan bangunan bersejarah tersebut. BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Bangunan bersejarah merupakan bangunan yang memiliki nilai dan makna yang penting bagi sejarah, namun juga ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dan ada kalanya bersifat

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA BENTUK DAN GAYA BANGUNAN BALAIKOTA DI CIREBON SKRIPSI AGUSTINUS DAVID

UNIVERSITAS INDONESIA BENTUK DAN GAYA BANGUNAN BALAIKOTA DI CIREBON SKRIPSI AGUSTINUS DAVID UNIVERSITAS INDONESIA BENTUK DAN GAYA BANGUNAN BALAIKOTA DI CIREBON SKRIPSI AGUSTINUS DAVID 0704030046 FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA PROGRAM STUDI ARKEOLOGI DEPOK MEI 2010 1 ii iii iv v vi viii DAFTAR

Lebih terperinci

KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D

KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR Oleh : SABRINA SABILA L2D 005 400 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

mereka sebagai satu-satunya masa yang membawa perubahan mendasar bagi umat manusia. Pengaruh masa lampau diperkuat oleh kenyataan bahwa Renaissance

mereka sebagai satu-satunya masa yang membawa perubahan mendasar bagi umat manusia. Pengaruh masa lampau diperkuat oleh kenyataan bahwa Renaissance SEJARAH RENAISSANCE Masa Renaissance sering disebut juga masa pencerahan Atau masa kelahiran, karena menghidupkan kembali budaya-budaya klasik, hal ini disebabkan banyaknya pengaruh filsuf-filsuf dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Kebutuhan akan pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipungkiri

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Kebutuhan akan pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipungkiri BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kebutuhan akan pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipungkiri ikut serta dalam munculnya berbagai permasalahan kebutuhan akan hunian, terutama pada tingkat

Lebih terperinci

Dampak Revolusi Industri dan Revolusi Sosial di Eropa Terhadap Perkembangan Arsitektur di Abad XVIII XIX Pertemuan 6 Gb.

Dampak Revolusi Industri dan Revolusi Sosial di Eropa Terhadap Perkembangan Arsitektur di Abad XVIII XIX Pertemuan 6 Gb. Matakuliah : SEJARAH ARSITEKTUR II Tahun : 2009 Dampak Revolusi Industri dan Revolusi Sosial di Eropa Terhadap Perkembangan Arsitektur di Abad XVIII XIX Pertemuan 6 Gb.1 / 9 : Judul Pertemuan 6.Gb.2 /

Lebih terperinci

Schoemaker dan Jejaknya di Kota Bandung

Schoemaker dan Jejaknya di Kota Bandung SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 DISKURSUS Schoemaker dan Jejaknya di Kota Bandung Anisa Chandra Kharimah [email protected] Program Studi A rsitektur Sekolah A rsitektur, Perancangan, dan Perencanaan Kebijakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kampus Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Bina Nusantara. yang Berhubungan dengan Arsitektur.

BAB I PENDAHULUAN. Kampus Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Bina Nusantara. yang Berhubungan dengan Arsitektur. BAB I PENDAHULUAN I.1. Deskripsi Proyek Judul : Topik : Kampus Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Bina Nusantara Ekspresionisme Tema : Pengolahan Bentuk Kampus yang Ekspresif dalam Menaungi Kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN HOTEL INNA DIBYA PURI SEBAGAI CITY HOTEL DI SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN HOTEL INNA DIBYA PURI SEBAGAI CITY HOTEL DI SEMARANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Kota Semarang direncanakan menjadi pusat perdagangan dan industri yang berskala regional, nasional dan internasional. Kawasan Johar merupakan salah satu pusat perniagaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai yang terdapat di Pulau Jawa. Sungai Ciliwung ini dibentuk dari penyatuan aliran puluhan sungai kecil di kawasan Taman Nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Indonesia dikenal sebagai negara yang penuh dengan keberagaman budaya dan pariwisata. Negara yang memiliki banyak kekayaan alam dengan segala potensi didalamnya, baik

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang Objek Latar Belakang Tema

PENDAHULUAN Latar Belakang Objek Latar Belakang Tema I. PENDAHULUAN Latar Belakang Objek Kabupaten Malang memiliki dua Pabrik gula yang cukup besar yaitu PG Kebon Agung dan PG. Krebet. PG Kebon Agung berdiri pada 1905, PG Krebet Baru (populer dengan sebutan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh masyarakat khusunya generasi muda. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat bangunan-bangunan

Lebih terperinci

Preservasi dan Konservasi. Mata Kuliah Perancangan Kota Oleh Achmad Delianur Nasution

Preservasi dan Konservasi. Mata Kuliah Perancangan Kota Oleh Achmad Delianur Nasution Preservasi dan Konservasi Mata Kuliah Perancangan Kota Oleh Achmad Delianur Nasution Mengapa melakukan Preservasi Objek- objek bersejarah di Perkotaan? penghubung kita ke masa lalu ianya telah menjadi

Lebih terperinci

Penghawaan dan Pengaruh Psikologi pada Aula Barat dan Aula Timur ITB

Penghawaan dan Pengaruh Psikologi pada Aula Barat dan Aula Timur ITB SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Penghawaan dan Pengaruh Psikologi pada Aula Barat dan Aula Timur ITB Muhammad Fahry Aziz [email protected] Mata Kuliah Arsitektur Kolonial, Jurusan Desain Interior,

Lebih terperinci