112 BIAYA TRANSAKSI PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN Berdasarkan hasil analisis aktor terlihat bahwa aktor pemain utama dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu terdiri dari kelompok pemerintah, masyarakat, akademisi dan usaha/swasta. Selain itu juga berdasarkan analisis aktor tersebut terlihat bahwa dari keempat kelompok tersebut kelompok pemerintah, khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi dan kelompok masyarakat memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang sangat tinggi di bandingkan dengan kelompok yang tergolong pada kelompok pemain (kuadran II) lainnya. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka analsis biaya transaksi yang dilakukan dalam penelitian ini difokuskan kepada kedua kelompok pemain utama tersebut. Faktor input biaya transaksi yang dikeluarkan oleh setiap aktor dalam pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu memiliki perbedaan, khususnya antara aktor pemerintah daerah dan aktor kelompok nelayan. Pemerintah Berdasarkan kerangka analisis yang dikembangkan oleh Abdullah et.al (1998) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA SKPD) Belanja Aparatur dan Publik Tahun Anggaran 2006 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, maka biaya transaksi pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu biaya transaksi informasi, biaya transaksi pengambilan keputusan dan biaya transaksi operasional bersama (Gambar 16).
113 Transaksi Pemerintah Pengambilan Keputusan Operasional Bersama Informasi Sosialisasi Pengembangan Teknologi Penangkapan Ikan Pengembangan dan Pembinaan Usaha Nelayan dan Pembudidaya Ikan Skala Kecil Pengawasan Perijinan dan Pembinaan Mutu Produk Kelautan dan Perikanan penyusunan strategi penyusunan dan pengukuhan AD/ART Koperasi LEPPM2R Kab. Sukabumi Bantuan Muscab HNSI Gambar 16. transaksi yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu Berdasarkan gambar diatas, total biaya transaksi yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu setiap tahunnya mencapai sekitar Rp. 184.615.000,00 yang terdiri dari biaya informasi sekitar Rp. 9.000.000,00, biaya pengambilan keputusan sekitar Rp. 58.950.000,00 dan biaya operasional bersama sekitar Rp. 116.665.000,00. Secara lengkap total biaya transaksi yang dikeluarkan oleh pemerintah dapat dilihat pada Tabel 29 (Secara lengkap lihat lampiran 4). Tabel 29. transaksi pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu No Faktor Input Per Tahun (Rp) I Informasi 9.000.000,00 II Pengambilan Keputusan 58.950.000,00 III operasional bersama 116.665.000,00 1 Pengembangan Teknologi Penangkapan Ikan 52.810.000,00 2 Pengembangan dan Pembinaan Usaha Nelayan dan Pembudidaya Ikan Skala Kecil 43.260.000.00 3 Pengawasan Perijinan dan Pembinaan Mutu Produk Kelautan dan Perikanan 20.595.000,00 Total Transaksi Pemerintah (I + II + III) 184.615.000,00 III Sumber : Diolah dari Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Belanja Aparatur dan Publik Tahun Anggaran 2006 Berdasarkan Tabel 29 diatas terlihat bahwa biaya transaksi untuk operasional bersama lebih besar dibandingkan untuk biaya transaksi informasi dan pengambilan keputusan. Hal ini disebabkan banyaknya jenisjenis biaya transaksi yang harus dikeluarkan dalam kegiatan pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk
114 Palabuhanratu. transaksi manajemen paling banyak digunakan untuk biaya pengembangan teknologi penangkapan ikan dan pembinaan nelayan kecil. Kelompok Masyarakat Nelayan Berdasarkan kerangka analisis yang dikembangkan oleh Abdullah et.al (1998), biaya transaksi kelompok masyarakat nelayan terdiri dari : 1) transaksi penyusunan keputusan, terdiri biaya pertemuan anggota, biaya lobi, biaya pembuatan keputusan; 2) operasional bersama, terdiri dari biaya koordinasi, biaya pengawasan sumberdaya ikan, biaya pelatihan anggota dan biaya tradisi laut. 3) informasi, terdiri dari informasi, biaya pengumpulan bahanbahan, biaya penyusunan aturan main dan biaya sosialisasi. Secara sistematis biaya transaksi yang dikeluarkan oleh nelayan dalam pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu dapat dilihat pada Gambar 17. Gambar 17. transaksi yang dikeluarkan nelayan dalam pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu. Berdasarkan gambar diatas, total biaya transaksi yang dikeluarkan nelayan dalam pengelolaan sumberdaya ikan setiap tahunnya mencapai sekitar Rp. 9.962.500,00. transaksi tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan biaya transaksi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan nelayan tidak terlalu banyak mengeluarkan uang untuk beberapa kegiatan, seperti pengawasan
118 (ADB) dalam mengevaluasi kegiatan di Indonesia, yaitu sebesar 12 persen pertahun. Jangka waktu yang digunakan dalam menganalisis efektifitas biaya transaksi ini adalah 5 tahun. Dasar pertimbangannya adalah masa jabatan pemerintahan daerah Kabupaten Sukabumi dan organisasi kelompok nelayan yang ada di Kabupaten Sukabumi. Secara lengkap hasil perhitungan CEA tersebut dapat dilihat pada Lampiran 6 dan 7. Berdasarkan tingkat diskonto tersebut terlihat bahwa dalam jangka waktu lima tahun nilai cost effectiveness analysis (CEA) pemerintah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan CEA kelompok nelayan. Nilai CEA pemerintah mencapai sekitar Rp. 783.140.270,15 dan nilai CEA kelompok nelayan Rp. 25.521.874,33. Tarigan (2006) menyatakan bahwa nilai CEA yang lebih kecil merupakan nilai yang lebih efektif. Berdasarkan hal tersebut maka pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu perlu melibatkan kelompok nelayan, karena terbukti memiliki nilai CEA yang lebih rendah dibandingkan hanya dilakukan oleh pemerintah. Oleh sebab perlu disusun sistem kerjasama pemerintah dan kelompok nelayan dalam melakukan pengelolaan da pemanfaatan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi. Secara lengkap nilai CEA pemerintah dan nelayan tersebut dapat dilihat pada Gambar 21. 800,000,000.00 783,140,270.16 700,000,000.00 600,000,000.00 500,000,000.00 Rp 400,000,000.00 300,000,000.00 200,000,000.00 100,000,000.00 CEA 25,521,874.33 Pemerintah Nelayan Gambar 21. Nilai CEA pemerintah dan kelompok nelayan dalam pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu
115 sumberdaya ikan, biaya koordinasi, biaya pertemuan, biaya lobi, dan biaya pembuatan aturan main. transaksi yang dikeluarkan oleh nelayan lebih banyak dilakukan untuk biaya pengambilan keputusan dan operasional bersama, yaitu mencapai Rp. 4.137.500,00 dan Rp. 3.700.000,00 setiap tahunnya. Sementara itu untuk biaya informasi, setiap tahunnya nelayan mengeluarkan biaya transaksi sebesar Rp. 2.125.000,00. Secara lengkap sebaran besarnya biaya transaksi yang dikeluarkan oleh nelayan dalam pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu dapat dilihat pada Tabel 30 (Lampiran 5). Tabel 30. transaksi yang di keluarkan nelayan dalam pengelolaan sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu No Jenis Transaksi Nilai RataRata (Rp. Per Tahun) A Pengambilan Keputusan 4.137.500,00 1 Pertemuan anggota 4.000.00,00 2 Lobi 137.500,00 B Operasional Bersama 3.700.000,00 1 koordinasi antar anggota 900.000,00 2 Pengawasan Sumberdaya Ikan 1.500.000,00 3 Pelatihan 500.000,00 4 tradisi laut 800.000,00 C Informasi 2.125.000,00 1 informasi 500.000,00 2 Pengumpulan bahanbahan peraturan 375.000,00 3 Penyusunan peraturan 875.000,00 4 Sosialisasi 375.000,00 Total Transaksi 9.962.500,00 Sumber : Data primer 2007 transaksi pengambilan keputusan yang dikeluarkan oleh nelayan lebih banyak dikeluarkan untuk biaya pertemuan anggota dan biaya lobi. tersebut umumnya dikeluarkan setiap ada pergantian pengurus atau pertemuan rutin triwulanan organisasi. Secara lengkap sebaran biaya pegambilan keputusan yang dikeluarkan oleh nelayan dapat dilihat pada Gambar 18.
116 4,000,000.00 3,500,000.00 3,000,000.00 2,500,000.00 Rupiah 2,000,000.00 1,500,000.00 1,000,000.00 500,000.00 Pertemuan anggota Jenis Transaksi Lobi Gambar 18. transaksi pengambilan keputusan yang di keluarkan nelayan dalam pengelolaan sumberdaya ikan Teluk Palabuhanratu. transaksi operasional bersama yang dikeluarkan oleh nelayan setiap tahunnya mencapai sekitar Rp. 3.700.000,00. tersebut lebih banyak digunakan untuk biaya pengawasan sumberdaya ikan di wilayah perairan Teluk Palabuhanratu. Secara lengkap biaya operasional bersama tersebut dapat dilihat pada Gambar 19. 1,600,000.00 1,400,000.00 1,200,000.00 1,000,000.00 Rupiah 800,000.00 600,000.00 400,000.00 200,000.00 koordinasi antar anggota Pengawasan Sumberdaya Ikan Pelatihan tradisi laut Jenis Transaksi Operasional Bersama Gambar 19. operasional bersama yang di keluarkan nelayan dalam pengelolaan sumberdaya ikan Teluk Palabuhanratu.
117 Sementara itu biaya transaksi informasi yang dikeluarkan oleh nelayan dalam pengelolaan sumberdaya ikan teluk palabuhanratu lebih didominasi oleh biaya pencarian informasi untuk penyusunan aturan main yang berlaku di tingkat nelayan. Misalnya aturan main yang berlaku bagi nelayan yang akan memanfaatkan rumpon sebagai lokasi penangkapan ikan. Aturan main tersebut dibuat oleh nelayan yang tergabung dalam kelompok pengelola rumpon, akan tetapi berlaku bagi semua nelayan baik anggota maupun bukan dari kelompok pengelola rumpon. Sehingga bagi nelayan yang akan memanfaatkan rumpon sebagai lokasi penangkapan ikan, harus mentaati aturan main yang telah disepakati oleh kelompok pengelola rumpon. Secara lengkap sebaran biaya transaksi politik yang dikeluarkan nelayan dalam pengelolaa sumberdaya ikan di Teluk Palabuhanratu dapat dilihat pada Gambar 20. 900,000.00 800,000.00 700,000.00 600,000.00 Rupiah 500,000.00 400,000.00 300,000.00 200,000.00 100,000.00 informasi Pengumpulan bahanbahan peraturan Penyusunan peraturan Sosialisasi Jenis Transaksi Informasi Gambar 20. transaksi informasi yang di keluarkan nelayan dalam pengelolaan sumberdaya ikan Teluk Palabuhanratu Efektifitas Transaksi Efektifitas biaya transaksi dianalisis dengan melihat rasio antara total biaya transaksi yang telah dikeluarkan dengan (1 + i) t, dimana i merupakan tingkat diskonto. Semakin kecil nilai rasio yang diperoleh maka menunjukan semakin efektif penggunaan biaya transaksi tersebut. Tingkat diskonto yang dipakai pada analisis ini adalah tingkat diskonto yang digunakan oleh Asian Development Bank