COMPUTERIZED TAX SYSTEM DP & FRIEND S TAX ADVISORY YOGYAKARTA

dokumen-dokumen yang mirip
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN RI NOMOR 138/KMK.03/2002 TANGGAL 8 APRIL 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN 138/KMK.03/2002

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 1

JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 1

Jenis-Jenis Harta Berwujud yang Termasuk Dalam Kelompok 1

PENYUSUTAN DAN AMORTISASI KELOMPOK 5

PENYUSUTAN DAN AMORTISASI

Jenis-jenis Harta Berwujud. Jenis-jenis Harta Berwujud yang termasuk dalam Kelompok I

UU 10/1994, PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1991

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II KAJIAN PUSTAKA tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah. badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak

MATERI PENYULUHAN PAJAK DI SMKN PENGASIH KULON PROGO

BAB IV ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN. perusahaan perlu mendapat perhatian khusus dalam penetapan kebijakan baik

bambang kesit, 2010 halaman 1 dari 10 perpajakan, prodi akuntansi-feuii MODUL : TEKNIK REKONSILIASI FISKAL UNTUK MENGHITUNG PPh Badan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1994 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

4. PPh TERUTANG (Pilih salah satu sesuai dengan kriteria Wajib Pajak. Untuk lebih jelasnya, lihat Buku Petunjuk Pengisian SPT) 10a. 10b.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV PEMBAHASAN. Penjelasan mengenai akun akun dalam laporan keuangan PT Mitra Wisata Permata

EVALUASI ATAS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT SNI. Dalam rangka pemanfaatan Undang undang Perpajakan secara optimal untuk

RINGKASAN REKONSILIASI FISKAL

APLIKASI UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 2000 DAN PENGARUHNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN Oleh : Evi Ekawati. Abstrak

Rekonsiliasi LK Komersial ke LK Fiskal

RUGI LABA BIAYA FISKAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV EVALUASI PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT TGS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1994 TENTANG

PERTEMUAN 5 PPh WAJIB PAJAK BADAN (4)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DAFTAR BIAYA FISKAL DEDUCTIBLE DEDUCTIBLE

BAB II LANDASAN TEORI. diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Yang dimaksud dengan tahun

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

MINGGU PERTAMA KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Evaluasi Pada Laporan Laba Rugi PT Rysban Jaya Agung

BAB IV REKONSILIASI KEUANGAN FISKAL UNTUK MENGHITUNG PAJAK. TERUTANG PADA PT. KERAMIKA INDONESIA ASSOSIASI. Tbk

BAB IV. EVALUASI PERHITUNGAN PPh BADAN PADA MPT. EVALUASI PERHITUNGAN PPh BADAN PADA MPT

MODUL V REKONSILIASI FISKAL

BAB II LANDASAN TEORI. (2006), Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN

BAB III PENYEBAB BEDA AKUNTANSI PAJAK DAN KOMERSIAL

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang - Undang dengan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

BAB IV PEMBAHASAN. komersial, namun untuk menjadi dasar pelaporan SPT Tahunan, PT. Dipta Adimulia

BAB II LANDASAN TEORI. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 1 angka 1, Pajak adalah kontribusi

By Afifudin PSP FE Unisma 2

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. data yang telah dilakukan oleh penulis, dan juga berisi saran-saran yang diharapkan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. menurut Rochmat Soemitro, seperti yang dikutip Waluyo (2008:3)

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Perbedaan antara Laba Komersial dan Laba Fiskal. Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha diwajibkan untuk menyusun

BAB IV PEMBAHASAN. Peraturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang bertujuan untuk menyajikan

I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Cukup jelas. Pasal 2

BAB II LANDASAN TEORI. pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian, kewajiban dan peran serta

KLASIFIKASI BIAYA DAN KOMPENSASI KERUGIAN. Aris Munandar, SE., M.Si

BAB II LANDASAN TEORI. Pemahaman akan pengertian pajak merupakan hal penting untuk dapat

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1991 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

1. Pengertian Penghasilan Menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan. Pengertian penghasilan menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WP BADAN 1771

PAJAK PENGHASILAN UMUM DAN NORMA PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN

BAB IV REKONSILIASI FISKAL UNTUK MENGHITUNG PAJAK TERUTANG PADA PERUSAHAAN KONTRAKTOR PT. MANDIRI CIPTA

HAKIKAT REKONSILIASI. Perbedaan timbul terkait pengakuan pendapatan dan beban di laporan laba rugi.

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1983 Tanggal 31 Desember Presiden Republik Indonesia,

BAB 2 LANDASAN TEORI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

Perpustakaan LAFAI

PERPAJAKAN II. Penyajian Laporan Keuangan dan Pengaruhnya terhadap Perpajakan

SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian pajak menurut Pasal 1 angka 1 UU No.28 Tahun 2007 tentang

SPT TAHUNAN SEBELUM MENGISI BACA DAHULU BUKU PETUNJUK PENGISIAN ISI DENGAN HURUF CETAK/DIKETIK DENGAN TINTA HITAM BERI TANDA "X" PADA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

PAJAK PENGHASILAN. Tujuan Instruksional :

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

III/$ 2 0 A A KREDIT PAJAK DALAM NEGERI N P W P : NAMA WAJIB PAJAK : PERIODE PEMBUKUAN : s.d.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

BAB IV EVALUASI ATAS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT. JASA RAHARJA (PERSERO)

BAB II LANDASAN TEORI. adalah sebagai berikut, iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-undang

PAJAK PENGHASILAN UMUM. Amanita Novi Yushita, M.Si

I. PENDAHULUAN MAKSUD DAN TUJUAN

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1 Analisis Biaya Pada Laporan Laba Rugi PT. DS. Pada prinsipnya terdapat perbedaan pengakuan penghasilan dan beban antara

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1991 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

Transkripsi:

DIDIK POMADI SESUAI UU 36 TH.2008 COMPUTERIZED TAX SYSTEM DP & FRIEND S TAX ADVISORY YOGYAKARTA 2013 www.pajakkita.blogspot.com EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 1

KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayah Nya, sehingga penulis dapat mempersembahkan sebuah buku dengan judul AKUNTANSI PAJAK sebagai revisi edisi sebelumnya kehadapan pembaca sekalian. Buku Akuntansi Pajak ini disusun untuk memberikan kemudahan bagi mahasiswa dalam meningkatkan pengetahuan Perpajakan khususnya masalah penyusunan Laporan Keuangan Fiskal (LKF), dan bagi masyarakat yang ingin mempelajari masalah pajak sebagai acuan didalam pemenuhan kewajiban pajak secara umum. Disamping membahas secara teori, buku ini menyajikan secara sistematika ketentuanketentuan dalam penyusunan Laporan Keuangan Fiskal (LKF) beserta contohcontoh dengan harapan dapat lebih membantu didalam pemahaman mengenai permasalahan pajak. Terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penerbitan buku ini, segala saran dan kritik untuk penyempurnaan buku ini di waktuwaktu mendatang sangat penulis harapkan. Yogyakarta, Juni 2013 Penulis EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 2

RIWAYAT PENULIS Ir. Didik Pomadi, M.M. Adalah Ketua Program Studi Perpajakan Politeknik PPKP Yogyakarta, sekaligus Pimpinan Pusat Pengembangan Ilmu Perpajakan (PPIP) dan Koordinator Keahlian Perpajakan sejak tahun 1999. Aktif mengikuti berbagai Pelatihan dan Seminar dibidang Perpajakan, Accounting, Auditing, dan International Invesment di Yogyakarta, Semarang dan Surabaya. Disamping sebagai staf pengajar di PerguruanTinggi, juga pengajar pada Pelatihan Perpajakan Brevet A dan B antara lain di PPA Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan aktif dalam kegiatan InHouse Training Perpajakan pada perusahaanperusahaan swasta. Saat ini juga aktif sebagai Managing Partner pada Konsultan Pajak DP & Friend s Consultant di Yogyakarta. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 3

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ii RIWAYAT PENULIS iii DAFTAR ISI iv BAB 1 PENDAHULUAN 6 1. Pengertian Umum 6 2. Akuntansi Sebagai Sumber Data 7 BAB 2 REKONSILIASI FISKAL 9 1. Akuntansi Komersial 9 2. Akuntansi Fiskal 9 3. Rekonsiliasi Fiskal 10 a. Laporan Laba Rugi 10 b. Neraca 11 BAB 3 MACAM REKONSILIASI (KOREKSI) FISKAL 12 1. Koreksi Waktu 12 a. Penyusutan 12 b. Amortisasi 14 c. Harga Pokok Penjualan (HPP) 16 d. Piutang Tidak Tertagih 18 e. Pendapatan Diterima Dimuka 18 2. Koreksi Tetap 19 a. Pengeluaran Natura dan Kenikmatan 19 b. Sumbangan/Bantuan/Hibah 20 c. Pemakaian Untuk Kepentingan Pribadi 20 d. Biaya Bunga 21 e. Pengalihan Aktiva Tetap 24 f. Penghasilan Yang Telah Dikenakan Pajak Bersifat Final 25 g. Penghasilan Yang Tidak Termasuk Obyek Pajak 26 BAB 4 KAPITA SELEKTA 27 1. Penjualan Konsinyasi 27 2. Ability to Pay 27 3. Penjelasan PosPos Dalam Neraca Fiskal 27 a. Aktiva Lancar 28 b. Aktiva Tetap 28 c. Kewajiban 28 d. Modal 30 EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 4

HARGA POKOK PENJUALAN 32 RINGKASAN REKONSILIASI 33 PENGELOMPOKAN HARTA 36 DAFTAR PUSTAKA 40 BONUS : PETUNJUK PENGHITUNGAN PPH BADAN 2012 41 EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 5

BAB 1 PENDAHULUAN 1. Pengertian Umum Dalam setiap pembicaraan mengenai perpajakan muncul permasalahan yang selalu hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat seiring dengan perkembangan kondisi sosial ekonomi. Dimana kita menyadari adanya perbedaan deamental antara pemerintah (fiskus) dengan wajib pajak, fiskus berusaha memperoleh pemasukan sebesarbesarnya dari pajak sedangkan wajib pajak berpikir sebaliknya, yaitu bagaimana memperkecil atau menghindari pembayaran pajak. Kontroversi tersebut dalam kenyataan selalu ada, namun bagaimana hal ini dapat dijembatani dengan suatu kebijakan pemerintah yang dapat meminimalisir ekses negatif yang mungkin timbul. Untuk mendukung hal tersebut perlu adanya perangkat aturan yang jelas, transparan dan adil yang didukung dengan aparat yang profesional dengan birokrasi yang sederhama. Sejak dilaksanakan Tax Reform tahun 1984 terdapat perubahan yang sangat mendasar didalam sistem pemungutan pajak, yaitu dengan digunakan Self Assessment System dimana wajib pajak diberi wewenang untuk menghitung, menyetor dan melaporkan kewajiban pajaknya sendiri. Fiskus melakukan pembinaan, pelayanan dan pengawasan terhadap kepatuhan pemenuhan kewajiban pajak yang dilakukan wajib pajak (tax compliance). Salah satu bentuk kewajiban yang harus dilakukan oleh wajib pajak adalah menyusun laporan keuangan yang dalam istilah pajak disebut pembukuan/pencatatan sebagai sumber data dalam proses penghitungan pajak. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 6

2. Akuntansi sebagai sumber data Dirjen Pajak sebagai aparat pajak (fiskus) sesuai dengan Undangundang menghendaki informasi akuntansi untuk kepentingan penghitungan pajak haruslah disusun secara khusus yaitu berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku. Akuntansi yang disusun secara khusus tersebut selanjutnya disebut Akuntansi Fiskal (Akuntansi Pajak). Masalah yang timbul dalam hal ini adalah adanya perbedaanperbedaan prinsip didalam penyusunan laporan keuangan antara akuntansi komersial dengan akuntansi fiskal, dan muncul pertanyaan apakah wajib pajak harus menyusun dari awal lagi untuk membuat laporan keuangan berdasarkan akuntansi fiskal. Untuk menyusun laporan keuangan fiskal tidak perlu dimulai dari awal penyusunan informasi akuntansi komersial, namun dapat dilakukan dengan jalan mengadakan penyesuaianpenyesuaian atau koreksi dari laporan akuntansi komersial yang sudah ada. Penyesuaian atau koreksi yang dilakukan atas laporan akuntansi komersial tersebut menjadi laporan akuntansi fiskal berdasarkan peraturan pajak yang berlaku disebut sebagai koreksi fiskal atau rekonsiliasi fiskal. Langkah awal dari koreksi fiskal adalah mengadakan koreksi pada laporan laba rugi akuntansi. Laporan laba rugi akuntansi yang semula disusun berdasarkan SAK kemudian dilakukan koreksi baik pada pospos pendapatan maupun pospos biaya. Koreksi fiskal ini dilakukan berdasarkan peraturan pajak yang berlaku. Laporan laba rugi yang penyusunannya telah sesuai dengan peraturan perpajakan inilah yang disebut sebagai Laporan Laba rugi Fiskal. Dari laporan laba rugi fiskal akan didapat laba bersih sebelum pajak yang selanjutnya disebut Laba Fiskal atau dalam istilah pajaknya disebut sebagai Penghasilan Kena Pajak (PKP). EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 7

Dengan mengalikan Penghasilan Kena Pajak (PKP) tersebut dengan tarif PPh pasal 17, akan diperoleh besarnya PPh terhutang yang menjadi kewajiban wajib pajak pada tahun pajak yang bersangkutan. Koreksi fiskal juga dilakukan pada laporan perubahan modal dan neraca. Pada laporan perubahan modal akuntansi dilakukan koreksi sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku sehingga menjadi laporan perubahan modal fiskal. Koreksi ini dilakukan untuk mendapatkan laba ditahan fiskal atau modal fiskal yang akan dicantumkan dalam Neraca Fiskal. Selain pos laba ditahan atau modal, pospos lain dalam neraca akuntansi juga harus dikoreksi agar menjadi neraca fiskal yang sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 8

BAB 2 REKONSILIASI FISKAL 1. Akuntansi Komersial Perusahaan dalam menyampaikan informasi keuangannya kepada pihakpihak yang berkepentingan (manajemen, pemilik / pemegang saham, Bank dan lainlain) yaitu dengan menggunakan Informasi Akuntansi. Informasi Akuntansi Yang merupakan informasi keuangan Perusahaan atas hasil operasional atau Posisi keuangan perusahaan. Disusun secara sistematis yang diterima secara umum (generally accepted) Standart Akuntansi Keuangan (SAK) AKUNTANSI KOMERSIAL 2. Akuntansi Fiskal Untuk keperluan menghitung Pajak Penghasilan (PPh), Dirjen Pajak (fiskus) menghendaki informasi akuntansi yang disusun secara Khusus (tidak berdasarkan pada SAK) tetapi berdasarkan pada peraturan pajak yang berlaku. Informasi Akuntansi Yang disusun scr khusus AKUNTANSI FISKAL EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 9

3. Rekonsiliasi Fiskal Untuk membuat Akuntansi Fiskal perlu dilakukan Koreksi Fiskal terhadap Akuntansi Komersial. Akuntansi Komersial Akuntansi Fiskal Koreksi Fiskal Koreksi (rekonsiliasi) fiscal dilakukan antara lain pada : a. Laporan Laba Rugi L/R Akuntansi L/R Fiskal Koreksi pospos pendapatan dan biaya Sistematika selanjutnya adalah : L/R Fiskal Laba Bersih Sebelum Pajak Laba Fiskal Penghasilan Kena Pajak (PKP) Tarif PPh Pasal 17 PPh Terhutang (yang menjadi kewajiban perusahaan pada tahun yang bersangkutan) EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 10

b. Neraca Koreksi fiskal ini dilakukan pada : Laporan perubahan modal dan pospos lain didalam neraca. Hal ini untuk mendapatkan laba ditahan fiscal atau modal fiscal yang tercantum dalam neraca fiscal. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 11

BAB 3 MACAM REKONSILIASI (KOREKSI) FISKAL Rekonsiliasi (koreksi) fiskal diklasifikasikan menjadi 2, yaitu : a. Koreksi Waktu Yaitu perbedaan yang bersifat waktu (waktu pengakuan) baik pada pendapatan maupun pada biaya. b. Koreksi Tetap Yaitu perbedaan yang bersifat tetap (permanent), dalam arti boleh atau tidaknya pengakuan baik pada pendapatan atau biaya. 1. KOREKSI WAKTU Koreksi waktu dapat dilakukan pada pospos antara lain : a. Penyusutan Pengertian penyusutan adalah : sebagian harga perolehan aktiva tetap yang secara sistematis dialokasikan sebagai biaya. Dimana besarnya penyusutan yang dibebankan setiap tahunnya dipengaruhi oleh metode penyusutan yang digunakan. Berdasarkan metode penyusutan yang digunakan, maka : Menurut Akuntansi Komersial Banyak metode, antara lain : Garis Lurus Saldo Menurun Saldo Menurun Ganda Jumlah Angka Tahun, dll. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 12

Menurut Akuntansi Fiskal Metode yang boleh digunakan adalah : Garis Lurus dan Saldo Menurun. a. Metode Garis Lurus ( straight line method ) Yaitu : penyusutan dilakukan dalam bagianbagian yang sama besar selama masa manfaat. Harga Perolehan x Tarif Penyusutan b. Metode Saldo Menurun ( declining balance method ) Yaitu : penyusutan dilakukan dalam bagianbagian yang menurun selama masa manfaat. Nilai Sisa Buku Aktiva Tetap x Tarif Penyusutan Catatan : Pada akhir masa manfaat, Nilai Sisa Buku (NSB) yang ada disusutkan sekaligus (closed ended). Didalam pemilihan metode penyusutan yang ada, wajib pajak dapat memilih salah satu diantara 2 (dua) metode tersebut, dengan ketentuan Taat Asas. Taat Asas : Sekali memilih untuk menggunakan salah satu metode penyusutan, maka untuk tahuntahun berikutnya harus menggunakan metode yang sama. Hal ini berlaku untuk seluruh aktiva tetap dalam perusahaan. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 13

b. Amortisasi Harta tidak berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, misalnya : Biaya pendirian perusahaan Biaya perluasan modal Biaya sewa tanah / bangunan Dapat diamortisasikan sesuai dengan masa manfaatnya. Berdasarkan peraturan pajak, metode amortisasi yang boleh digunakan adalah : a. Metode Garis Lurus b. Metode Saldo Menurun TABEL PENYUSUTAN AKTIVA TETAP Kelompok Harta Berwujud Masa Manfaat Tarif Penyusutan Garis Lurus Saldo Menurun Bukan Bangunan Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV 4 Th 8 Th 16 Th 20 Th 25 % 12,5 % 6,25 % 5 % 50 % 25 % 12,5 % 10 % Bangunan Permanen Tidak Permanen 20 Th 10 Th 5 % 10 % EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 14

TABEL AMORTISASI AKTIVA TETAP Kelompok Harta Tidak Berwujud Masa Manfaat Tarif Amortisasi Garis Lurus Saldo Menurun Kelompok I 4 Th 25 % 50 % Kelompok II 8 Th 12,5 % 25 % Kelompok III 16 Th 6,25 % 12,5 % Kelompok IV 20 Th 5 % 10 % Kelompok masa manfaat diterapkan atas dasar pada kelompok masa manfaat yang terdekat dengan masa manfaat yang sesungguhnya. Beberapa perbedaan aturan penyusutan antara Akuntansi Komersial dengan Akuntansi Fiskal, yaitu : No. AKUNTANSI KOMERSIAL AKUNTANSI FISKAL 1. Aktiva yang disusutkan adalah seluruh aktiva tetap yang dimiliki atau dikuasai Aktiva yang disusutkan hanya aktiva yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan. 2. Saat dimulainya pengakuan penyusutan adalah pada tanggal pemakaian. 3. Tidak terdapat pengelompokan aktiva. 4. Banyak metode penyusutan yang dapat dipilih. Saat dimulainya pengakuan penyusutan adalah pada bulan pembelian. Aktiva tetap dikelompokan menjadi 4 (empat) kelompok aktiva. Hanya 2 (dua) metode yang diperkenankan, yaitu : Garis Lurus dan Saldo Menurun. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 15

c. Harga Pokok Penjualan (HPP) Merupakan harga pokok dari barang dagangan atau produk jadi perusahaan yang sudah dilakukan penjualannya. HPP = (Persediaan Awal + Pembelian) Persediaan Akhir Untuk menentukan jumlah persediaan, baik persediaan awal maupun persediaan akhir, sangat dipengaruhi oleh metode penilaian persediaan yang dipakai. Menurut Akuntansi Komersial : Metode yang digunakan antara lain : FIFO RataRata LIFO Identifikasi Khusus Menurut Akuntansi Fiskal : Hanya ada 2 (dua) metode yang boleh digunakan adalah : FIFO (Fist In Fist Out) RataRata (Average) Contoh penghitungan persediaan dengan masingmasing metode sebagai Berikut : EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 16

MASUK KELUAR SALDO FIFO RATARATA LIFO FIFO RATARATA LIFO SALDO AWAL 100 @9 = 900 100 @9 = 900 100 @9 = 900 100 @10 = 1000 100 @ 9 = 900 100 @10 = 1000 1900 200 @9,5 = 1900 100 @ 9 = 900 100 @10 = 1000 1900 100 @14 = 1400 100 @9 = 900 100 @10 = 1000 100 @14 = 1400 3300 300 @11 = 3300 100 @9 = 900 100 @10 = 1000 100 @14 = 1400 3300 100 @9 = 900 100 @10 = 1000 100 @ 9 = 900 100 @11 = 1100 100 @14 = 1400 100 @10 = 1000 100 @14 = 1400 2400 200 @11 = 2200 1900 100 @10 = 1000 100 @11 = 1100 100 @14 = 1400 100 @ 9 = 900 100 @10 = 1000 1400 100 @11 = 1100 900 Dari penghitungan persediaan diatas, maka penghitungan HPP untuk masingmasing metode penilaian persediaan sebagai berikut : KETERANGAN FIFO RATARATA LIFO Persediaan Awal 900 900 900 Pembelian 2.400 2.400 2.400 Persediaan Akhir 1.400 1.100 900 Harga Pokok Penjualan (HPP) 1.900 2.200 2.400 EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 17

d. Piutang Tidak Tertagih PIUTANG / TAGIHAN Mengandung resiko untuk tidak tertagih / macet Akuntansi Komesial Akuntansi Fiskal Dibuat rekening cadangan Tidak boleh menggunakan Kerugian piutang. Metode cadangan. Dibebankan langsung sebagai Kerugian dalam lap. L/R Menggunakan metode langsung, yaitu : pembebanan piutang tidak tertagih ditentukan sebesar piutang yang benarbenar sudah tidak dapat ditagih lagi. Catatan : Nilai piutang dalam neraca harus dicantumkan secara Netto, dalam arti saldo piutang setelah dikurangi dengan piutang yang tidak dapat ditagih lagi. e. Pendapatan Diterima Dimuka Menurut Akuntansi Komersial : Pendapatan yang diterima misalnya : uang sewa untuk jangka waktu tertentu belum dapat diakui sebagai pendapatan, tetapi baru diakui sebagai pendapatan yang diterima dimuka. Namun apabila barang atau jasa telah diserahkan, maka dapat diakui sebagai penghasilan periode yang bersangkutan. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 18

Menurut Akuntansi Fiskal : Pendapatan yang diterima dimuka (misalnya : uang sewa) Harus diakui sebagai penghasilan fiscal untuk periode yang bersangkutan, yaitu pada saat uang itu diterima. 2. KOREKSI TETAP Koreksi tetap dapat dilakukan pada pospos antara lain : a. Pengeluaran Natura dan Kenikmatan Menurut Akuntansi Komersial : Pengeluaran untuk pemberian natura / kenikmatan Boleh dibebankan sebagai biaya. Misalnya : beras, gula, makan siang, seragam, harga pokok dari produk yang diberikan karyawan. Menurut Akuntansi Fiskal : Pengeluaran untuk pemberian natura / kenikmatan Tidak Boleh diperlakukan sebagai biaya. Ketentuan Khusus : Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan nomor : 83/PMK.03/2009 yang mulai berlaku 1 Januari 2009 menegaskan halhal sebagai berikut : Pemberian natura dan kenikmatan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja dan bukan merupakan penghasilan bagi Pegawai yang menerimanya adaiah : 1. Pemberian atau penyediaan makanan dan/ atau minuman bagi seluruh Pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan. 2. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan di daerah tersebut. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 19

3. Pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena sifat pekerjaan tersebut mengharuskannya. b. Sumbangan / Bantuan / Hibah Menurut Akuntansi Komersial : Pengeluaran untuk sumbangan baik yang bersifat sosial atau komersial Boleh dibebankan sebagai biaya. Menurut Akuntansi Fiskal : Sumbangan / bantuan / hibah Tidak Boleh dibebankan sebagai biaya, kecuali terdapat hubungan kerja, hubungan usaha, atau hubungan kepemilikan. c. Pemakaian Untuk Kepentingan Pribadi Menurut Akuntansi Komersial : Hal ini dapat terjadi karena adanya penarikan dana / aktiva untuk keperluan pribadi pemilik perusahaan atau pengeluaran biaya untuk pribadi pemilik perusahaan. Pengeluaran tersebut Tidak Boleh dibebankan sebagai biaya usaha, tetapi dibebankan sebagai pengurang modal (prive / deviden) Menurut Akuntansi Fiskal : Pengeluaran untuk keperluan pribadi Tidak Boleh dibebankan sebagai biaya. Pemakaian untuk keperluan pribadi menurut fiscal mempunyai arti yang sangat luas, yaitu : a. Untuk pribadi pemegang saham, direksi atau karyawan. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 20

b. Pembayaran bunga atas pinjaman untuk pribadi. c. Pembayaran premi asuransi untuk kepentingan pribadi (kecuali yang diatur lain dalam PPh Pasal 21). d. Gaji untuk pemilik badan usaha yang modalnya tidak terbagi atas saham, dimana gaji pemilik diakui sebagai pengurang modal. d. Biaya Bunga KREDIT / HUTANG Mengakibatkan perusahaan Membayar biaya bunga Menurut Akuntansi Komersial : Pengeluaran membayar bunga atas hutang / kredit dapat dibebankan sebagai biaya yang mengurangi pendapatan bersih. Menurut Akuntansi Fiskal : Pengeluaran membayar bunga atas hutang / kredit pada prinsipnya dapat dibebankan sebagai biaya secara fiscal dengan syarat : a. Biaya bunga atas hutang bukan untuk kepentingan pribadi. b. Dalam struktur modal, hutang menunjukkan rasio yang wajar. c. Dalam hal tingkat bunga, sebatas pada tingkat bunga yang wajar (misalnya : tingkat bunga bank) d. Dalam hal menempatkan dana pinjamannya dalam deposito atau tabungan, maka biaya bunga yang boleh dibebankan secara fiscal ditentukan dengan formulasi sebagai berikut : (Ratarata pinjaman perbulan Ratarata deposito perbulan) x tingkat bunga EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 21

Pengecualian dari ketentuan diatas, dimana biaya bunga pinjaman dapat dibebankan seluruhnya sebagai biaya secara fiscal, apabila : a. Dana yang ditempatkan di Bank dalam bentuk rekening Giro. b. Penempatan dalam deposito atau tabungan merupakan keharusan (peraturan), misalnya : syarat suatu proyek / tender. c. Dapat dibuktikan bahwa deposito atau tabungan tersebut berasal dari tambahan modal atau sisa laba. Contoh : PT. MAJU pada tahun 2013 mendapat pinjaman dari pihak ketiga dengan batas maksimal sebesar Rp. 200.000.000, dan tingkat bunga 20% pertahun. Dari jumlah tersebut telah diambil dengan rincian sebagai berikut : Bulan Februari diambil Rp. 125.000.000, Bulan Juni diambil Rp. 25.000.000, Bulan Agustus diambil Rp. 50.000.000, Disamping itu PT. MAJU mempunyai dana yang ditempatkan dalam deposito dengan rincian sebagai berikut : Bulan Februari s/d Maret Rp. 25.000.000, Bulan April s/d Agustus Rp. 46.000.000, Bulan Sept s/d Desember Rp. 50.000.000, EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 22

Dengan demikian besarnya biaya bunga yang dapat dibebankan sebagai biaya secara fiscal sebagai berikut : RATARATA PINJAMAN : Bulan Pinjaman Jangka Waktu Januari 0 1 bulan = Rp. 0 Pebruari s/d Mei RP. 125.000.000 4 bulan = Rp. 500.000.000 Juni s/d Juli Rp. 150.000.000 2 bulan = Rp. 300.000.000 Agustus s/d Desember Rp. 200.000.000 5 bulan = Rp. 1.000.000.000 Jumlah = Rp. 1.800.000.000 Ratarata pinjaman perbulan : Rp. 1.800.000.000, : 12 = Rp. 150.000.000, RATARATA DEPOSITO : Bulan Deposito Jangka Waktu Januari 0 1 bulan = Rp. 0 Pebruari s/d Maret RP. 25.000.000 2 bulan = Rp. 50.000.000 April s/d Agustus Rp. 46.000.000 5 bulan = Rp. 230.000.000 September s/d Desember Rp. 50.000.000 4 bulan = Rp. 200.000.000 Jumlah = Rp. 480.000.000 EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 23

Ratarata deposito perbulan : Rp. 480.000.000, : 12 = Rp. 40.000.000, Jadi besarnya biaya bunga yang dapat dibebankan secara fiscal = (Rp.150.000.000 Rp. 40.000.000) x 20% = Rp. 22.000.000, e. Pengalihan Aktiva Tetap Pengalihan Aktiva Tetap Penjualan Pertukaran Penghapusan karena sebab luar biasa (Hilang, kebakaran, atau rusak berat) Menurut Akuntansi Komersial : Apabila terjadi pengalihan aktiva tetap, maka selisih lebih atau selisih kurang antara harga jual dengan nilai bukunya, diakui sebagai laba atau rugi atas penjualan aktiva tetap. Menurut Akuntansi Fiskal : a. Nilai sisa buku aktiva tetap tersebut dibebankan sebagai penghapusan / kerugian. b. Harga jual / penggantian asuransi yang diterima, diperlakukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan aktiva tetap tersebut. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 24

Apabila : Aktiva Tetap Dijual Kepada pihak yang ada hubungan Istimewa, misal : pemegang saham direktur karyawan, dll Maka penjualan tersebut (yaitu adanya hubungan istimewa) secara fiskal yang diakui adalah Harga Pasar. Aktiva Tetap Diserahkan Sebagai penyertaan modal (saham) Dinilai dengan harga pasar Dibukukan sebagai Nominal Saham Apabila harga pasar Lebih Besar dari nominal saham, maka selisih lebih dibukukan sebagai Agio Saham. f. Penghasilan yang telah dikenakan pajak bersifat final Menurut Akuntansi Komersial : Semua pendapatan, baik yang telah dikenakan pajak final atau tidak final diakui sebagai pendapatan. Menurut Akuntansi Fiskal : EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 25

Pendapatan yang telah dikenakan pajak yang bersifat final tidak boleh diakui sebagai pendapatan. g. Penghasilan yang tidak termasuk obyek pajak Menurut Akuntansi Komersial : Semua pendapatan, baik yang tidak dikenakan pajak (bukan obyek pajak) diakui sebagai pendapatan. Menurut Akuntansi Fiskal : Pendapatan yang tidak termasuk obyek pajak, boleh tidak diakui sebagai pendapatan, misalnya : a. Sumbangan, bantuan, hibah, sepanjang tidak dalam rangka hubungan kerja / usaha dan hubungan kepemilikan. b. Deviden / pembagian laba atas penyertaan modal yang diperoleh PT, Koperasi, Yayasan, BUMN / BUMD. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 26

BAB 3 KAPITA SELEKTA 1. Penjualan Konsinyasi System penjualan konsinyasi adalah barang telah diserahkan tetapi hak pemilikan masih berada dipihak pabrik (yang menyerahkan). Penyerahan barang Sistem Konsinyasi Bukan Penghasilan Dianggap sebagai Penghasilan Jika telah ada laporan penjualannya Apabila belum terjual Dicatat sebagai persediaan 2. Ability to Pay Dalam perpajakan konsep ability to pay, yaitu pajak harus dipungut pada saat WP mempunyai kemampuan untuk membayar (likuid). Misalnya : Sewa yang diterima dimuka, dalam perpajakan diakui sekaligus sebagai penghasilan saat diterimanya uang sewa tersebut. 3. Penjelasan PosPos Dalam Neraca Fiskal Pada sisi Aktiva dalam neraca fiskal terdapat pospos antara lain : EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 27

a. AKTIVA LANCAR : 1. Kas (sama dengan pada akuntansi komersial) 2. Kas Bank (sama dengan pada akuntansi komersial) 3. Piutang Yang dicantumkan adalah piutang netto, yaitu setelah dikurangi dengan piutang yang benarbenar tidak dapat ditagih, yang telah dibebankan dalam biaya operasional. 4. PPh dibayar dimuka Merupakan besarnya PPh yang telah dibayar selama tahun pajak yang bersangkutan, yang dapat dikreditkan dalam penghitungan PPh terhutang. 5. Persediaan Merupakan persediaan barang dagangan yang telah dihitung berdasarkan metode FIFO atau Ratarata. b. AKTIVA TETAP : 1. Jumlah Aktiva tetap Merupakan jumlah harga perolehan aktiva tetap yang dimiliki dan digunakan secara langsung dalam kegiatan usaha. 2. Akumulasi Penyusutan Merupakan nilai akumulasi dari penyusutan yang dilakukan secara fiskal selama masa manfaat. Pada sisi Pasiva dalam neraca fiscal terdapat pospos antara lain : c. KEWAJIBAN : Merupakan pengorbanan ekonomis yang wajib dilakukan dimasa yang akan datang yang timbul karena adanya transaksi dimasa sebelumnya, misalnya pembelian barang / jasa atau menerima pinjaman uang. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 28

Dalam perpajakan kewajiban yang dicantumkan adalah kewajiban yang jelas statusnya. Klasifikasi Kewajiban : 1. Kewajiban (hutang) jangka pendek. Merupakan hutang yang harus dilunasi dalam jangka waktu sampai dengan satu tahun, misalnya : Hutang usaha Uang muka penjualan Hutang pajak Hutang sewa Hutang deviden Hutang pembelian aktiva, dll 2. Kewajiban (hutang) jangka panjang. Merupakan hutang yang jatuh tempo pembayarannya lebih dari satu tahun, dan sumber pembayarannya tidak diambil dari aktiva lancar, misalnya : Pinjaman bank Pinjaman gadai Kredit investasi, dll 3. Kewajiban (hutang) lainlain. Merupakan kewajiban yang tidak dapat dikelompokkan dalam hutang jangka pendek atau jangka panjang. Misalnya : Pendapatan ditangguhkan Uang jaminan dari pelanggan Hutang direksi, dll EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 29

Bagaimana jika hutang dalam mata uang asing? Hutang dalam M.U. Asing Dibukukan dalam M.U. rupiah Berdasarkan : a. Nilai tukar tetap, atau b. Nilai tukar pada akhir tahun pajak Memilih salah satu, tapi taat asas. Catatan : Dalam neraca, kewajiban disajikan disisi pasiva berdasarkan urutan jatuh temponya (dari yang terdekat sampai dengan yang paling lama) d. MODAL : Adalah sejumlah harta yang menjadi hak milik suatu usaha. Rekening modal terdiri dari : 1. Modal disetor Yaitu : harta yang ditanamkan pemiliknya ke perusahaan. 2. Laba ditahan Yaitu : akumulasi laba setelah pajak termasuk laba tahun berjalan dan telah dikurangi dengan laba yang dibagikan (deviden). EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 30

Catatan : Semua pembayaran yang bersumber dari Laba Ditahan tidak boleh dibebankan sebagai biaya untuk tahun buku selanjutnya. Misalnya : Pembayaran bonus Gratifikasi Jasa produksi Tantiem Dll Bagaimana caranya biaya yang tidak boleh dibebankan, Secara fiscal dapat dibebankan sebagai biaya? (mis : fasilitas kesehatan, perumahan, dll) Dengan merubah menjadi tunjangan sebesar fasilitas yang diberikan Contoh : Sistematika Mencari Harga Pokok Penjualan untuk Industri EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 31

HARGA POKOK PENJUALAN (INDUSTRI) Uraian Bahan Baku Bahan Pembantu Jumlah Persediaan awal tahun Rp Rp Rp Pembeliah dalam tahun Yang besangkutan Rp (+) Rp (+) Rp.(+) Bahan tersedia Rp Rp... Rp Persediaan bahan akhir th Rp () Rp... () Rp..() Pemakaian bahan Rp. Rp Rp. Gaji/upah Rp Penyusutn / amortisasi Rp Biaya lainlain Rp.(+) Total biaya proses produksi Rp Barang dalam proses awal tahun Rp.(+) Barang dalam proses tersedia Rp. Barang dalam proses akhir tahun Rp..() Harga Pokok Produksi Rp Persediaan barang jadi awal tahun Rp....(+) Barang jadi tersedia Rp. Persediaan barang jadi akhir tahun Rp.() Harga Pokok Penjualan Rp. Catatan : 1. Persediaan dan pemakaian persediaan dinilai berdasarkan harga perolehan yang dilakukan secara Ratarata atau FIFO. 2. Penyusutan / amortisasi dilakukan dengan metode Garis Lurus atau Saldo Menurun. 3. Jumlah pembelian adalah nilai pembelian setelah dikurangi dengan pengembalian barang, potongan, dan rabat dalam tahun yang bersangkutan. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 32

RINGKASAN REKONSILIASI LAPORAN KEUANGAN FISKAL NO KETERANGAN KOMERSIAL KOREKSI FISKAL I. PENGHASILAN USAHA 1. Penjualan Neto a. Metode pengakuan b. Potongan penjualan/rabat Metode realisasi Metode penyisihan Akrual Akrual c. Retur penjualan Metode realisasi Metode penyisihan 2.Harga Pokok Penjualan (HPP) a. Penilaian persediaan Harga perolehan HP & H.Pasar terendah Prosentase laba bruto Harga eceran b. Metode FIFO LIFO Ratarata c. Pencatatan Fisik Perpetual EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 33

II. PENGHASILAN LUAR USAHA 1. Deviden penyertaan di DN 2. Deviden penyertaan di LN 3. Bunga tabungan, deposito, jasa giro 4. Keuntungan penjualan tanah a. Bukan usaha pokok b. Usaha pokok 5. Keuntungan pengalihan harta 6. Penghasilan royalty 7. Penghasilan sewa a. Aktiva tetap bergerak b. Aktiva tetap tidak bergerak 8. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya, mis : PBB, PPn.BM 9. Keuntungan pembebasan hutang 10. Keuntungan selisih kurs valas 11. Hadiah / penghargaan a. Sehubungan prestasi b. Sehubungan undian 12. Penerimaan dari piutang yang telah dihapuskan 13. Penerimaan hibah dari pihak yang ada hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan, dan penguasaan Harga Pasar Harga Pasar III. BEBAN USAHA 1. Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memeliharan penghasilan : a. Obyek pajak penghasilan b.bukan obyek pjk penghasilan 2. Gaji / upah 3. Menanggung PPh Pasal 21 4. Tunjangan dalam bentuk uang 5. Premi asuransi jiwa yang dibayar perusahaan 6. Iuran THT a. Dibayar perusahaan b. Dibayar karyawan 7. Iuran Pensiun ke dana pensiun yang telah disahkan M.K : a. Dibayar perusahaan b. Dibayar karyawan EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 34

8. Iuaran pensiun ke dana pensiun yang belum disahkan M.K 9. Tunjangan Hari Raya (THR) 10. Uang lembur 11. Pengobatan a. CumaCuma b. Penggantian c. Tunjangan pengobatan 12. Imbalan dalam bentuk natura 13. Tunjangan cuti / uang cuti 14. Perjalanan dinas 15. Biaya rekreasi 16. Bonus / pesangon 17. Biaya pendidikan pegawai 18. Beasiswa : a. Ada ikatan kerja b. Tidak ada ikatan kerja c. GNOTA 19. Sumbangan pada karyawan : a. Barang b. Uang 20. Gaji yang dibayarkan kpd anggota persekutuan, Firma, CV 21. Bunga pinjaman 22. Beban sewa 23. Beban royalty 24. Jasa manajemen / tehnik 25. Litbang 26. Intertaiment 27. Keperluan pribadi direksi / pegawai 28. Iklan / promosi 29. Rugi selisih kurs valas 30. Kerugian pengalihan harta 31. Beban ATK kantor 32. Beban Listrik, Telp dan Fax 33. Perangko dan meterai 34. Handphone dan radio pager 35. Pemeliharaan & perbaikan aktiva Bukan Biaya Bukan Biaya 50% Bukan Biaya Bukan Biaya 50% EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 35

Lampiran Keputusan Menteri Keuangan Nomor 138/KMK.04/2002 JenisJenis Harta Berwujud yang Termasuk Kelompok I No. Jenis Usaha Jenis Harta 1. Semua Jenis a. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk Usaha meja, bangku, kursi, almari dan sejenisnya yang bukan bagian dari bangunan. b. Mesin kantor seperti mesin ketik, mesin hitung, duplikator, mesin photo copy, accounting machine dan sejenisnya. Komputer, printer, scanner dan c. Perlengkapan lainnya seperti amplifier, tape/casette, video recorder, televisi, dan sejenisnya. d. Sepeda motor, sepeda dan becak. e. Alat perlengkapan khusus (tools) bagi industri/jasa yang bersangkutan. f. Alat dapur untuk memasak, makanan dan minuman. 2. Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perikanan 3. Industri Makanan dan Minuman 4. Perhubungan, Pergudangan dan Komunikasi 5. Industri Semi Konduktor Dies, jigs, dan mould. Alat yang digerakkan bukan dengan mesin Mesin ringan yang dapat dipindahpindahkan seperti huller, pemecah kulit, penyosoh, pengering, pallet, dan sejenisnya. Mobil taksi, bus dan truk yang digunakan sebagai angkutan umum. Flash memory tester, writer machine, bipolar test system, eliminator (PE81), pose checker. JenisJenis Harta Berwujud yang Termasuk Kelompok II No. Jenis Usaha Jenis Harta 1. Semua Jenis Usaha a. b. Mebel dan peralatan dari logam termasuk meja, bangku, kursi, almari, dan sejenisnya yang bukan merupakan bagian dari bangunan. Alat pengatur udara seperti AC, kipas angin, dan sejenisnya. Mobil, bus, truk, speed boat dan sejenisnya. c. Container dan sejenisnya EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 36

2. Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perikanan 3. Industri Makanan dan Minuman a. a. b. Mesin pertanian/perkebunan seperti traktor dan mesin bajak, penggaruk, penanaman, penebar benih dan sejenisnya. Mesin yang mengolah produk asal binatang, unggas dan perikanan, misalnya pabrik susu, pengalengan ikan. Mesin yang mengolah produk nabati, misalnya mesin minyak kelapa, margarine, penggilingan kopi, kembang gula, mesin pengolah bijibijian seperti penggilingan beras, gandum, tapioka. Mesin yang menghasilkan/memproduksi minuman dan buahbuahan minuman segala jenis. Mesin yang menghasilkan/memproduksi bahanbahan makanan dan makanan segala jenis. c. d. 4. Industri Mesin Mesin yang menghasilkan/produksi mesin ringan (misalnya mesin jahit, pompa air) 5. Perkayuan Mesin dan peralatan penebangan kayu 6. Kontruksi Peralatan yang dipergunakan seperti truk berat, dump truck, crane, buldoser dan sejenisnya 7. Perhubungan, Pergudangan dan Komunikasi a. b. d. e. 8. Telekomunikasi a. b. 9. Industri Semi Konduktor c. Truck kerja untuk pengangkutan dan bongkar muat, truck peron, truck ngangkang dan sejenisnya. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk pengangkutan barang tertentu (misalnya gandum, batubatuan, biji tambang dan sebagainya) termasuk kapal pendingin dan kapal tanki, kapal penangkap Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk, keran terapung dan sejenisnya, Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai berat sampai dengan 250 DWT. Kapal balon. Perangkat pesawat telepon. Pesawat telegraf, termasuk pesawat pengiriman dan penerimaan radio telegraf dan radio telepon. Auto frame loader, automatic logic handler, baking oven, ball shear tester, bipolar test handler (automatic), cleaning chine, coating machine, curing oven, cutting press, ambar cut machine, dicer, die bonder, die shear test, dynamic burnin system ovn, dynamic test handler, eliminator (PGE 01), full automatic handler, full automatic mark, hand maker, individual mark, inserter remover machine, laser marker (FUM A01), logic test system, marker (mark), memory test system, molding, mounter, MPS automatic, MPS manual, O/S tester manual, pass oven, pose checker, reform machine, SMD stocker, taping machine, tiebar cut press, trimming/forming machine, wire bonder, wire pull tester. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 37

JenisJenis Harta Berwujud yang Termasuk Kelompok III No. Jenis Usaha Jenis Harta 1. Pertambangan Selain MesinMesin yang dipakai dalam bidang pertambangan, Minyak dan Gas termasuk dan gas mesinmesin yang mengolah produk 2. Pemintalan, Penenunan, dan Pencelupan pelikan. a. Mesin yang mengolah/menghasilkan produkproduk dan tekstil (misalnya kain katun, sutra seratserat buatan, wol dan bulu hewan lainnya, lena rami, permadani, kainkain bulu, tule). 3. Perkayuan a. Mesin yang mengolah/menghasilkan produkproduk kayu, barangbarang dari jerami, rumput dan bahan anyaman lainnya. b. Mesin dan peralatan penggergajian kayu 4. Industri Kimia a. Mesin dan peralatan yang mengolah/menghasilkan produk industri kimia dan industri yang ada hubungannya dengan industri kimia (misalnya bahan kimia anorganis, persenyawaan organis dan anorganis dari logam mulia, elemen radio aktif, isotop, bahan kimia organis, produk farmasi, pupuk, obat pewarna, cat, pernis, minyak eteris dan resinoidaresinoida wangiwangian, obat kecantikan dan obat rias, obat organis pembersih lainnya, zat albumina, perekat, bahan peledak, produk pirotehnik, korek api, alloy piroforis, barang fotografi dan sinematografi. b. Mesin yang mengolah/menghasilkan produk industri lainnya, (misalnya damar tiruan, bahan plastik, ester dan eter dari selulosa, karet, karet sintetis, karet tiruan, kulit samak, jangat dan kulit mentah). 5. Industri Mesin Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin menengah dan erat (misalnya mesin mobil, mesin kapal) 6. Perhubungan dan a. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat Komunikasi untuk pengangkutan barangbarang tertentu (misalnya gandum, batubatuan, biji tambang dan sejenisnya) termasuk kapal pendingin dan kapal tangki, kapal penangkap ikan dan sejenisnya, yang mempunyai berat di atas 100 DWT sampai dengan 1000 DWT b. Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk, keran terapung dan sejenisnya, yang mempunyai EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 38

berat diatas 100 DWT sampai dengan 1.000 DWT c. Dok terapung. Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai berat di atas 250 d. DWT e. Pesawat terbang dan helikopterhelikopter segala jenis 7. Telekomunikasi Perangkat radio navigasi, radar, dan kendali jarak jauh. JenisJenis Harta Berwujud yang Termasuk Kelompok IV No. Jenis Usaha Jenis Harta 1. Konstruksi Mesin berat untuk konstruksi 2. Perhubungan dan Komunikasi a. Lokomotif uap dan tender atas rel. b. Lokomotif listrik atas rel, dijalankan dengan batere atau dengan tenaga listrik dari sumber luar. c. Lokomotif atas rel lainnya. d. Kereta, gerbong penumpang dan barang, termasuk kontainer khusus dibuat dan diperlengkapi untuk ditarik dengan satu alat atau beberapa alat engangkutan. e. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk pengangkutan barang tertentu (misalnya gandum, batubatuan, biji tambang dan sebagainya) termasuk kapal pendingin dan kapal tangki, kapal penangkap ikan dan sebagainya, yang mempunyai berat di atas 1.000 DWT. f. Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk, keran keran terapung dan sebagainya, yang mempunyai berat di atas 1.000 DWT. g. dok dok terapung EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 39

DAFTAR PUSTAKA 1. Direktorat Jenderal Pajak, 2007 Undangundang nomor 28 tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan. 2. Direktorat Jenderal Pajak, 2008 Undangundang nomor 36 tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan. 3., 2009 Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 83/PMK.03/2009. Tentang Pemberian Natura & Kenikmatan yang Dapat Mengurangi Penghasilan Bruto. 4., 2009 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : 12/PJ/2009 Tentang Tata Cara Revaluasi Aktiva Tetap. 5., 2001 Himpunan Peraturan Pelaksanaan Perubahan UndangUndang Perpajakan Tahun 2001, CV Eko Jaya, Jakarta. 6. Tunas Hariyulianto, 1996 Pajak Penghasilan Indonesia, CV Eko Jaya, Jakarta. 7., 2000 Undang Undang Pajak Tahun 2000, Edisi Lengkap, PT Salemba Empat, Jakarta. 8. Waluyo, Wirawan B. Ilyas, 2002 Perpajakan Indonesia, Buku 1 dan 2, PT Salemba Empat, Jakarta. 9. Himpunan Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri Keuangan, Keputusan Direktorat Jenderal Pajak dan Surat Edaran Direktorat Jenderal Pajak. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 40

B O N U S PETUNJUK PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN BADAN ( UU No.36 Tahun 2008) A. Formulasi Penghitungan () (=) PENGHASILAN BRUTO BIAYABIAYA PENGHASILAN NETO () KOMPENSASI KERUGIAN (=) PPH (=) TARIF (X) PENGHASILAN TERUTANG PASAL 17 KENA PAJAK () PPh YG DIPOTONG / DIPUNGUT PIHAK LAIN (=) PPh YG HARUS () PPh YANG TELAH (=) PPh KURANG/LEBIH DI BAYAR SENDIRI DIBAYAR SENDIRI BAYAR B. Keterangan : 1. Penghasilan Bruto Merupakan penghasilan yang diperkenankan sebagai obyek pajak, baik penghasilan dari usaha maupun penghasilan dari luar usaha kecuali penghasilan yang telah dikenakan pajak bersifat final. 2. BiayaBiaya Merupakan pengurangpengurang yang diperkenankan didalam penghitungan Pajak Penghasilan, yaitu : EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 41

a. Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan termasuk : Biaya pembelian bahan Upah, gaji, honorarium, bonus, tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang. Biaya bunga Biaya sewa Biaya royalti Biaya perjalanan dinas Biaya pengolahan limbah Piutang yang nyatanyata tidak dapat ditagih. Premi asuransi Biaya administrasi Pajak, kecuali pajak penghasilan b. Penyusutan dan amortisasi, untuk harta yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta perusahaan. e. Kerugian karena selisih kurs mata uang asing. f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan. g. Biaya beasiswa, magang dan pelatihan. h. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ketentuannya diatur Peraturan Pemerintah. i. Sumbangan dalam rangka penelitian pengembangan yang dilakukan di Indonesia ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. j. Biaya pembangunan infrastruktur sosial ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. k. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 42

l. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah Pengurang yang tidak diperkenankan a. Pembagian laba, termasuk dividen dan sisa hasil usaha koperasi. b. Biaya untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu atau anggota. c. Pembentukan cadangan, kecuali untuk usaha bank, sewa guna usaha dengan hak opsi, usaha asuransi dan pertambangan. d. Imbalan dalam bentuk natura (barang) dan kenikmatan (fasilitas), kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta kenikmatan daerah tertentu berkaitan pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. e. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau pihak yang mempunyai hubungan istimewa. f. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan dan warisan. g. Pajak penghasilan. h. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma atau CV. i. Sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan yang berkenaan dengan perpajakan. 3. Penghasilan Neto dan Kompensasi Kerugian Selisih dari penghasilan bruto dengan biayabiaya yang diperkenankan adalah yang disebut penghasilan neto. Apabila penghasilan bruto setelah dikurangi biayabiaya yang diperkenankan didapat kerugian, maka kerugian tersebut dapat dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturutturut sampai dengan 5 (lima) tahun. Contoh : PT. X dalam tahun 2007 mengalami kerugian fiskal sebesar Rp.1.200.000.000, Diketahui dalam 5 (lima) tahun berikutnya rugi laba fiskal PT. X sebagai berikut : EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 43

Th. 2008 laba fiscal : Rp. 200.000.000 Th. 2009 Rugi fiscal : (Rp. 300.000.000) Th. 2010 laba fiscal : NIHIL Th. 2011 laba fiscal : Rp. 100.000.000 Th. 2012 laba fiscal : Rp. 800.000.000 Kompensasi kerugian dilakukan sebagai berikut : Rugi fiskal Th.2007 : (Rp. 1. 200.000.000) Laba fiskal Th.2008 : 200.000.000 (+) Sisa rugi fiskal Th.2007 : ( 1.000.000.000) Rugi fiskal Th.2009 : ( 300.000.000) Sisa rugi fiskal Th.2007 : ( 1.000.000.000) Laba fiskal Th.2010 : NIHIL Sisa rugi fiskal Th.2007 : ( 1.000.000.000) Laba fiskal Th.2011 : 100.000.000 (+) Sisa rugi fiskal Th.2007 : ( 900.000.000) Laba fiskal Th.2012 : 800.000.000 (+) Sisa rugi fiskal Th.2007 : ( 100.000.000) Rugi fiskal tahun 2007 sebesar Rp. 100.000.000, yang masih tersisa akhir tahun 2012 tidak boleh dikompensasikan lagi dengan laba fiskal tahun 2013. Sedangkan rugi fiskal tahun 2009 sebesar Rp. 300.000.000, hanya boleh dikompensasikan dengan laba fiskal tahun 2013 dan 2014, karena jangka waktu 5 (lima) tahun yang dimulai sejak tahun 2009 berakhir pada tahun 2014. 4. Penghasilan Kena Pajak (PKP) Penghasilan Kena Pajak sebagai dasar penerapan tarif dihitung dengan jalan mengurangkan penghasilan neto dengan kompensasi kerugian tahun sebelumnya. Dengan kata lain jika tidak ada kompensasi kerugian tahun EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 44

sebelumnya, maka penghasilan neto dianggap sebagai Penghasilan Kena Pajak (PKP). 5. Tarif Pajak Pasal 17 Berdasarkan UU PPh nomor 36 tahun 2008 yang efektif berlaku per 1 Januari 2009, dimana tarif PPh Badan menggunakan tarif tunggal 28% untuk tahun pajak 2009 (Pasal 17 ayat 1 huruf b) dan berubah menjadi 25% untuk tahun pajak 2010 (Pasal 17 ayat (2a)). Selanjutnya sesuai Pasal 31E ayat (1) menyatakan bahwa : Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). Contoh 1: Peredaran bruto PT Y dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp4.500.000.000,00 (empat miliar lima ratus juta rupiah) dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Penghitungan pajak yang terutang: Seluruh Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh dari peredaran bruto tersebut dikenai tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif Pajak Penghasilan badan yang berlaku karena jumlah peredaran bruto PT Y tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). Pajak Penghasilan yang terutang: (50% x 28%) x Rp500.000.000,00 = Rp70.000.000,00 EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 45

Contoh 2: Peredaran bruto PT X dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah) dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang: 1. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas: (Rp4.800.000.000,00 : Rp30.000.000.000,00) x Rp3.000.000.000,00 = Rp480.000.000,00 2. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas: Rp3.000.000.000,00 Rp480.000.000,00 = Rp2.520.000.000,00 Pajak Penghasilan yang terutang: (50% x 28%) x Rp480.000.000,00 = Rp67.200.000,00 28% x Rp2.520.000.000,00 = Rp705.600.000,00 Jadi Jumlah Pajak Penghasilan yang terutang = Rp67.200.000,00 + Rp705.600.000,00 = Rp772.800.000,00 6. PPh Terhutang Besarnya pajak terhutang (PPh terhutang) diperoleh dengan jalan mengalikan Penghasilan Kena Pajak (PKP) dengan Tarif Pajak Pasal 17. Untuk keperluan penerapan tarif pajak ini jumlah Penghasilan Kena Pajak (PKP) dibulatkan kebawah dalam ribuan rupiah penuh. 7. PPh Yang Dipotong/Dipungut Pihak Lain Merupakan pelunasan pajak dalam tahun berjalan yaitu melalui pemotongan/pemungutan oleh pihak lain (pada saat wajib pajak menerima EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 46

penghasilan) yang boleh diperhitungkan sebagai Kredit Pajak (dikreditkan) terhadap PPh terhutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. Kredit Pajak hanya dapat diperhitungkan untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya tidak bersifat final. Adapun jenis Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan antara lain : a. Pajak Penghasilan Pasal 22 Pajak Penghasilan yang dipungut oleh bendaharawan atau badan lain yang ditunjuk sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang, kegiatan dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang tertentu lainnya. b. Pajak Penghasilan Pasal 23/26 Pajak Penghasilan yang dipotong sehubungan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh atas penggunaan modal (capital income) dan penghasilan sehubungan dengan jasa yang diterima wajib pajak badan. Misalnya royalti, sewa, jasa teknik, jasa manajemen, jasa konsultan. c. Pajak Penghasilan Pasal 24 Pajak yang dibayar atau terhutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri. 8. PPh Yang Harus Dibayar Sendiri Merupakan selisih antara PPh terhutang dengan PPh yang dipotong/dipungut pihak lain ( sebagaimana yang dimaksud kredit pajak pasal 22, pasal 23 dan pasal 24). Dimana besarnya PPh yang harus dibayar sendiri tersebut menjadi dasar penghitungan Angsuran Pajak (PPh. Pasal 25) untuk tahun pajak berikutnya, dengan formulasi penghitungan yaitu PPh yang harus dibayar sendiri dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak. 9. PPh Yang Telah Dibayar Sendiri Merupakan pelunasan/pembayaran pajak dalam tahun berjalan yaitu oleh wajib pajak sendiri yang boleh diperhitungkan sebagai Kredit Pajak EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 47

(dikreditkan) terhadap PPh terhutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. PPh yang telah dibayar sendiri dapat meliputi : a. PPh. Pasal 25 (angsuran pajak setiap bulannya) b. Surat Tagihan Pajak (STP) PPh. Pasal 25 (hanya pokok pajak) c. Fiskal luar negeri 10. PPh Yang Kurang / Lebih Bayar Merupakan selisih antara PPh yang harus dibayar sendiri dengan PPh yang telah dibayar sendiri oleh wajib pajak. Dimana jika PPh yang harus dibayar sendiri lebih besar dari pada PPh yang telah dibayar sendiri, maka terdapat PPh yang masih harus dibayar (PPh kurang bayar). Demikian pula jika PPh yang harus dibayar sendiri lebih kecil dari pada PPh yang telah dibayar sendiri, maka terdapat PPh yang lebih bayar. Apabila terdapat hasil PPh kurang bayar, maka kekurangan tersebut harus dilunasi selambatlambatnya sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan dilaporkan di akhir bulan April tahun pajak berikutnya. C. KREDIT PAJAK Yang dimaksud dengan kredit pajak adalah pelunasan / pembayaran pajak dalam tahun berjalan yaitu melalui dibayar sendiri oleh wajib pajak ataupun melalui pemotongan/pemungutan oleh pihak lain (pada saat wajib pajak menerima penghasilan) yang boleh diperhitungkan sebagai Kredit Pajak (dikreditkan) terhadap PPh terhutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. Kredit Pajak hanya dapat diperhitungkan untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya tidak bersifat final. Adapun Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan yaitu : 1. Pajak Penghasilan Pasal 22 2. Pajak Penghasilan Pasal 23 EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 48

3. Pajak Penghasilan Pasal 24 4. Pajak Penghasilan Pasal 25 Dalam hal ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud kredit pajak adalah : 1. Pajak yang telah dibayar oleh wajib pajak 2. Baik dengan cara dipotong/dipungut pihak lain 3. Maupun dengan cara dibayar sendiri 4. Yang tidak bersifat final 5. Untuk tahun pajak yang sama 6. Yang dapat diperhitungkan sebagai angsuran pajak D. KELENGKAPAN LAPORAN SPT TAHUNAN PPh. PASAL 29 BADAN 1. 1 (satu) set formulir SPTTahunan PPh WP Badan (Form.1771) 2. Laporan laba rugi fiskal 3. Neraca Fiskal 4. Daftar aktiva dan penghitungan penyusutan/amortisasi fiskal 5. Surat Setoran Pajak (SSP), apabila kurang bayar 6. Transkrip elemen kutipan laporan keuangan. EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 49