KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN 138/KMK.03/2002
|
|
|
- Yulia Budiaman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN 138/KMK.03/2002 Ditetapkan Tanggal 8 April 2002 PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 520/KMK.04/2000 TENTANG JENIS-JENIS HARTA YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK HARTA BERWUJUD BUKAN BANGUNAN UNTUK KEPERLUAN PENYUSUTAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :bahwa dalam rangka memberikan kemudahan dan kepastian hukum dalam melaksanakan ketentuan Pasal 11 ayat (11) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000, perlu dilakukan perubahan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 520/KMK.04/2000 tentang Jenis-jenis Harta Yang Termasuk Dalam Kelompok Harta Berwujud Bukan Bangunan Untuk Keperluan Penyusutan; Mengingat :1. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3985); 2. Keputusan Presiden Nomor 228/ M Tahun Keputusan Menteri Keuangan Nomor 520/KMK.04/2000 tentang Keputusan Menteri Keuangan tentang Jenis-jenis Harta Yang Termasuk Dalam Kelompok Harta Berwujud Bukan Bangunan Untuk Keperluan Penyusutan;
2 MEMUTUSKAN Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 520/KMK.04/2000 TENTANG JENIS-JENIS HARTA YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK HARTA BERWUJUD BUKAN BANGUNAN UNTUK KEPERLUAN PENYUSUTAN. Pasal I Mengubah ketentuan Pasal 1 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 520/KMK.04/2000 tentang Keputusan Menteri Keuangan tentang Jenis-jenis Harta Yang Termasuk Dalam Kelompok Harta Berwujud Bukan Bangunan Untuk Keperluan Penyusutan, sehingga keseluruhan Pasal 1 berbunyi sebagai berikut : "Pasal 1 Jenis-jenis harta yang termasuk dalam masing-masing kelompok harta berwujud bukan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (6) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000, adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I sampai dengan Lampiran IV Keputusan Menteri Keuangan ini. Untuk jenis-jenis harta berwujud bukan bangunan yang tidak tercantum dalam Lampiran I sampai dengan Lampiran IV Keputusan Menteri Keuangan ini dimasukan ke dalam kelompok III. Apabila Wajib Pajak dapat menunjukan bahwa berdasarkan masa manfaat yang sesungguhnya harta berwujud bukan bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak dapat dimasukan ke dalam kelompok III, Wajib Pajak harus mengajukan permohonan untuk penetapan kelompok harta berwujud bukan bangunan tersebut sesuai dengan masa manfaat yang sesungguhnya kepada Direktur Jenderal Pajak. Atas permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan harus memberikan suatu keputusan paling lama 1 (satu) bulan sejak diterimanya permohonan beserta dokuman pendukung secara lengkap. Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) telah lewat dan Direktur Jenderal Pajak belum memberikan suatu keputusan, maka permohonan dianggap diterima.
3 Pasal II Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum u.b. Kepala Bagian Tata Usaha Departemen Koemoro Warsito, S.H NIP Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 8 April 2002 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd,- BOEDIONO
4 Lampiran I Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 138/KMK.03/2002 Tanggal : 8 April 2002 Nomor Urut Jenis Usaha Jenis-jenis Harta Berwujud Yang Termasuk dalam Kelompok I Jenis Harta 1 Semua jenis usaha a. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk meja, bangku, kursi, almari dan sejenisnya yang bukan bagian dari bangunan. b. Mesin kantor seperti mesin tik, mesin hitung, duplikator, mesin fotokopi, mesin akunting/pembukuan, komputer, printer, scanner dan sejenisnya. c. Perlengkapan lainnya seperti amplifier, tape/cassette, video recorder, televisi dan sejenisnya. d. Sepeda motor, sepeda dan becak. e. Alat perlengkapan khusus (tools) bagi industri/jasa yang bersangkutan. f. Alat dapur untuk memasak, makanan dan minuman. g. Dies, jigs, dan mould. 2 Pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan 3 Industri makanan dan minuman 4 Perhubungan pergudangan dan komunikasi 5 Industri semi konduktor Alat yang digerakkan bukan dengan mesin Mesin ringan yang dapat dipindah-pindahkan seperti, huller, pemecah kulit, penyosoh, pengering, pallet, dan sejenisnya. Mobil taksi, bus dan truk yang digunakan sebagai angkutan umum. Falsh memory tester, writer machine, biporar test system, elimination (PE8-1), pose checker.
5 Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum u.b. Kepala Bagian Tata Usaha Departemen Koemoro Warsito, S.H NIP MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd,- BOEDIONO
6 Nomor Urut Jenis Usaha Lampiran II Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 138/KMK.03/2002 Tanggal : 8 April 2002 Jenis-jenis Harta Berwujud Yang Termasuk dalam Kelompok II Jenis Harta 1 Semua jenis usaha a. Mabel dan peralatan dari logam temasuk meja, bangku, kursi, almari dan sejenisnya yang bukan merupakan bagian dari bangunan. Alat pengatur udara seperti AC, kipas angin dan sejenisnya. b. Mobil, bus, truk speed boat dan sejenisnya. c. Container dan sejenisnya. 2 Pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan 3 Industri makanan dan minuman a. Mesin pertanian / perkebunan seperti traktor dan mesin bajak, penggaruk, penanaman, penebar benih dan sejenisnya. b. Mesin yang mengolah atau menghasilkan atau memproduksi bahan atau barang pertanian, kehutanan, perkebunan, dan perikanan. a. Mesin yang mengolah produk asal binatang, unggas dan perikanan, misalnya pabrik susu, pengalengan ikan. b. Mesin yang mengolah produk nabati, misalnya mesin minyak kelapa, magarine, penggilingan kopi, kembang gula, mesin pengolah biji-bijian seperti penggilingan beras, gandum, tapioka. c. Mesin yang menghasilkan / memproduksi minuman dan bahan-bahan minuman segala jenis. d. Mesin yang menghasilkan / memproduksi bahan-bahan makanan dan makanan segala jenis. 4 Industri mesin Mesin yang menghasilkan / memproduksi mesin ringan (misalnya mesin jahit, pompa air).
7 5 Perkayuan Mesin dan peralatan penebangan kayu. 6 Konstruksi Peralatan yang dipergunakan seperti truk berat, dump truck, crane buldozer dan sejenisnya. 7 Perhubungan, pergudangan dan komunikasi a. Truck kerja untuk pengangkutan dan bongkar muat, truck peron, truck ngangkang, dan sejenisnya; b. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk pengangkutan barang tertentu (misalnya gandum, batu - batuan, biji tambang dan sebagainya) termasuk kapal pendingin, kapal tangki, kapal penangkap ikan dan sejenisnya, yang mempunyai berat sampai dengan 100 DWT; c. Kapal yang dibuat khusus untuk menghela atau mendorong kapal-kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk, keran terapung dan sejenisnya yang mempunyai berat sampai dengan 100 DWT; d. Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai berat sampai dengan 250 DWT; e. Kapal balon. 8 Telekomunikasi a. Perangkat pesawat telepon; b. Pesawat telegraf termasuk pesawat pengiriman dan penerimaan radio telegraf dan radio telepon. 9 Industri semi konduktor Auto frame loader, automatic logic handler, baking oven, ball shear tester, bipolar test handler (automatic), cleaning machine, coating machine, curing oven, cutting press, dambar cut machine, dicer, die bonder, die shear test, dynamic burn-in system oven, dynamic test handler, eliminator (PGE-01), full automatic handler, full automatic mark, hand maker, individual mark, inserter remover machine, laser marker (FUM A-01), logic test system, marker (mark), memory test system, molding, mounter, MPS automatic, MPS manual, O/S tester manual, pass oven, pose checker, re-form machine, SMD stocker, taping machine, tiebar cut press, trimming/forming machine, wire bonder, wire pull tester.
8 Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum u.b. Kepala Bagian Tata Usaha Departemen Koemoro Warsito, S.H NIP MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd,- BOEDIONO
9 Lampiran III Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 138/KMK.03/2002 Tanggal : 8 April 2002 Jenis-jenis Harta Berwujud Yang Termasuk dalam Kelompok III Nomor Urut Jenis Usaha 1 Pertambangan selain minyak dan gas 2 Permintalan, pertenunan dan pencelupan Jenis Harta Mesin-mesin yang dipakai dalam bidang pertambangan, termasuk mesin - mesin yang mengolah produk pelikan. a. Mesin yang mengolah / menghasilkan produkproduk tekstil (misalnya kain katun, sutra, seratserat buatan, wol dan bulu hewan lainnya, lena rami, permadani, kain-kain bulu, tule). b. Mesin untuk yang preparation, bleaching, dyeing, printing, finishing, texturing, packaging dan sejenisnya. 3 Perkayuan a. Mesin yang mengolah / menghasilkan produk - produk kayu, barang-barang dari jerami, rumput dan bahan anyaman lainnya. b. Mesin dan peralatan penggergajian kayu. 4 Industri kimia a. Mesin peralatan yang mengolah / menghasilkan produk industri kimia dan industri yang ada hubungannya dengan industri kimia (misalnya bahan kimia anorganis, persenyawaan organis dan anorganis dan logam mulia, elemen radio aktif, isotop, bahan kimia organis, produk farmasi, pupuk, obat celup, obat pewarna, cat, pernis, minyak eteris dan resinoida-resinonida wangiwangian, obat kecantikan dan obat rias, sabun, detergent dan bahan organis pembersih lainnya, zat albumina, perekat, bahan peledak, produk pirotehnik, korek api, alloy piroforis, barang
10 fotografi dan sinematografi. b. Mesin yang mengolah / menghasilkan produk industri lainnya (misalnya damar tiruan, bahan plastik, ester dan eter dari selulosa, karet sintetis, karet tiruan, kulit samak, jangat dan kulit mentah). 5 Industri mesin Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin menengah dan berat (misalnya mesin mobil, mesin kapal). 6 Perhubungan, dan komunikasi a. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk pengangkutan barang-barang tertentu (misalnya gandum, batu-batuan, biji tambang dan sejenisnya) termasuk kapal pendingin dan kapal tangki, kapal penangkapan ikan dan sejenisnya, yang mempunyai berat di atas 100 DWT sampai dengan DWT. b. Kapal dibuat khusus untuk mengela atau mendorong kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk, keran terapung dan sejenisnya, yang mempunyai berat di atas 100 DWT sampai dengan DWT. c. Dok terapung. d. Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai berat di atas 250 DWT. e. Pesawat terbang dan helikopter-helikopter segala jenis. 7 Telekomunikasi Perangkat radio navigasi, radar dan kendali jarak jauh. Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum u.b. Kepala Bagian Tata Usaha Departemen Koemoro Warsito, S.H NIP MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd,- BOEDIONO
11 Lampiran IV Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 138/KMK.03/2002 Tanggal : 8 April 2002 Nomor Urut Jenis Usaha Jenis-jenis Harta Berwujud Yang Termasuk dalam Kelompok IV Jenis Harta 1 Konstruksi Mesin berat untuk konstruksi 2 Perhubungan dan komunikasi a. Lokomotif uap dan tender atas rel. b. Lokomotif listrik atas rel, dijalankan dengan batere atau dengan tenaga listrik dari sumber luar. c. Lokomotif atas rel lainnya. d. Kereta, gerbong penumpang dan barang, termasuk kontainer khusus dibuat dan diperlengkapi untuk ditarik dengan satu alat atau beberapa alat pengangkutan. e. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat untuk pengangkutan barang-barang tertentu (misalnya gandum, batu-batuan, biji tambang dan sejenisnya) termasuk kapal pendingin dan kapal tangki, kapal penangkap ikan dan sejenisnya, yang mempunyai berat di atas DWT. f. Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal keruk, keran-keran terapung dan sebagainya, yang mempunyai berat di atas DWT. g. Dok-dok terapung. Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum u.b. Kepala Bagian Tata Usaha Departemen Koemoro Warsito, S.H NIP MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd,- BOEDIONO
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN RI NOMOR 138/KMK.03/2002 TANGGAL 8 APRIL 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN RI NOMOR 138/KMK.03/2002 TANGGAL 8 APRIL 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 520/KMK.04/2000 TENTANG JENIS-JENIS HARTA YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK HARTA
JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 1
LAMPIRAN I JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 1 1 Semua jenis usaha a. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk meja, bangku, kursi, lemari dan sejenisnya yang bukan bagian
JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 1
LAMPIRAN I JENIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG 1 1 Semua jenis usaha 2 Pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, 3 Industri makanan dan minuman 4 Transportasi dan 5 Industri semi konduktor 6
Jenis-Jenis Harta Berwujud yang Termasuk Dalam Kelompok 1
77 Lampiran 1 Jenis- Berwujud yang Termasuk Dalam Kelompok 1 1 Semua jenis usaha a. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk meja, bangku, kursi, almari dan sejenisnya yang bukan bagian dari bangunan.
PENYUSUTAN DAN AMORTISASI
PENYUSUTAN DAN AMORTISASI Berdasarkan Pasal 6 ayat (1) Undang Undang nomor 7 tahun 1983 dst Undang Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh) pembebanan biaya atas perolehan harta berwujud
JE NIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 1
LA MPI RA N I NOMOR 96/PMK.03/2009 TENT AN G JE NIS-JENIS HARTA BERWUJUD YANG TERMASUK DALAM KELOMPOK 1 No mor Jenis Usaha Jenis Harta 1 Semua jenis usaha a. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk
Jenis-jenis Harta Berwujud. Jenis-jenis Harta Berwujud yang termasuk dalam Kelompok I
Jenis-jenis Harta Berwujud Keputusan Menteri Keuangan No.138/KMK.03/2002 tanggal 8 April 2002 yang mengatur tentang jenis-jenis harta yang termasuk dalam kelompok harta berwujud bukan bangunan untuk keperluan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. data yang telah dilakukan oleh penulis, dan juga berisi saran-saran yang diharapkan
71 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran yang diperoleh dari hasil analisa data yang telah dilakukan oleh penulis, dan juga berisi saran-saran yang diharapkan dapat berguna
PENYUSUTAN DAN AMORTISASI KELOMPOK 5
PENYUSUTAN DAN AMORTISASI KELOMPOK 5 PENYUSUTAN Pengertian Penyusutan Alokasi jumlah yang dapat disusutkan suatu aset selama umur manfaatnya. Penyusutan aset dimulai pada saat aset tersebut siap untuk
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Manajemen Aset Secara umum, manajemen aset didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas yang dikaitkan dengan mengidentifikasi aset apa yang diperlukan, bagaimana cara mendapatkannya,
Analisis Koreksi Fiskal Terhadap Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Pada CV. Mitra Agro Permai
Analisis Koreksi Fiskal Terhadap Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Pada CV. Mitra Agro Permai Silvy Amelia ([email protected]) Lili Syafitri ([email protected]), Cherrya Dhia Wenny
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Smeets yang dikutip oleh Suandy (2014:9 ) pajak ialah sebagai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pajak dan Pajak Penghasilan 2.1.1 Pengertian Pajak Negara mempunyai kewajiban untuk menjaga kepentingan rakyatnya, baik dalam bidang kesejahteraan, keamanan, pertahanan,
Jangan Plagiat. STIE Widya Wiwaha
ANALISIS PERBEDAAN PERLAKUAN AKUNTANSI ASET TETAP MENURUT STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DAN PERATURAN PERPAJAKAN STUDI KASUS PADA PT ANINDYA MITRA INTERNASIONAL SKRIPSI Ditulis Dan Diajukan Untuk Memenuhi
PERTEMUAN 5 PPh WAJIB PAJAK BADAN (4)
PERTEMUAN 5 PPh WAJIB PAJAK BADAN (4) A. TUJUAN PEMBELAJARAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Badan. Pada akhir pertemuan lima ini, mahasiswa diharapkan mampu: 5.1
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI II.1 Rerangka Teori dan Literatur II.1.1 Pengertian Pajak Beberapa pengertian pajak yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH sebagaimana dikutip
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : a. Dari hasil perhitungan Net Present
-2- Mesin dan/atau Peralatan Industri kecil dan/atau Industri menengah; Mengingat : 1. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kement
No.440, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENPERIN. Restrukturisasi Mesin. Peralatan Industri Kecil Indis PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20/M-IND/PER/3/2016 TENTANG PERUBAHAN
KLASIFIKASI INDUSTRI A. Industri berdasarkan klasifikasi atau penjenisannya 1. Aneka industri 2. Industri mesin dan logam dasar
KLASIFIKASI INDUSTRI Industri adalah suatu usaha atau kegiatan yang melakukan proses atau aktivitas yang mengubah dari sesuatu atau bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi berupa barang
KLASIFIKASI BAKU LAPANGAN USAHA INDONESIA 1997
KLASIFIKASI BAKU LAPANGAN USAHA INDONESIA 1997 KODE KETERANGAN 000 KEGIATAN YANG BELUM JELAS BATASANNYA 011 PERTANIAN TANAMAN PANGAN, TANAMAN PERKEBUNAN, DAN HORTIKULTURA 012 PETERNAKAN 013 KOMBINASI PERTANIAN
COMPUTERIZED TAX SYSTEM DP & FRIEND S TAX ADVISORY YOGYAKARTA
DIDIK POMADI SESUAI UU 36 TH.2008 COMPUTERIZED TAX SYSTEM DP & FRIEND S TAX ADVISORY YOGYAKARTA 2013 www.pajakkita.blogspot.com EBook Akuntansi Pajak Terapan DP TAX ADVISORY 1 KATA PENGANTAR Segala puji
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 47/PJ/2015 TENTANG
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 47/PJ/2015 TENTANG PENYAMPAIAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 106/PMK.010/2015 TENTANG JENIS BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH SELAIN KENDARAAN BERMOTOR
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 49/PJ/2011 TENTANG
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 49/PJ/2011 TENTANG TEMPAT PENDAFTARAN DAN PELAPORAN USAHA BAGI WAJIB PAJAK PADA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2002 TANGGAL 23 MARET 2002 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2002 TANGGAL 23 MARET 2002 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 145 TAHUN 2000 TENTANG KELOMPOK BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 145 TAHUN 2000 TENTANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 145 TAHUN 2000 TENTANG KELOMPOK BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH YANG DIKENAKAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 145 TAHUN 2000 TENTANG KELOMPOK BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH YANG DIKENAKAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
NO NAMA INDUSTRI JENIS INDUSTRI*)
Tabel : SP-1A (T). JUMLAH INDUSTRI/KEGIATAN USAHA SKALA MENENGAH DAN BESAR Provinsi : DKI JAKARTA Tahun : 2015 NO NAMA INDUSTRI JENIS INDUSTRI*) 1 Industri Makanan Kegiatan Rumah Potong dan Pengepakan
1. Klasifikasi industri berdasarkan bahan baku 2. Klasifikasi industri berdasarkan tenaga kerja
Industry *) Istilah industri sering diidentikkan dengan semua kegiatan ekonomi manusia yang mengolah barang mentah atau bahan baku menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Dari definisi tersebut,
GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 30 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG UPAH MINIMUM SEKTORAL KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR
PP 145/2000, KELOMPOK BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH YANG DIKENAKAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
Copyright (C) 2000 BPHN PP 145/2000, KELOMPOK BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH YANG DIKENAKAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH *38419 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 145 TAHUN
ANALISIS PENENTUAN METODE PENILAIAN PERSEDIAAN DAN PENENTUAN METODE PENYUSUTAN HARTA BERWUJUD UNTUK TAX PLANNING
ANALISIS PENENTUAN METODE PENILAIAN PERSEDIAAN DAN PENENTUAN METODE PENYUSUTAN HARTA BERWUJUD UNTUK TAX PLANNING Studi Kasus pada Penerbit-Percetakan Kanisius S K R I P S I Diajukan untuk Memenuhi Salah
UPAH MINIMUM KOTA BATAM 2013 OLEH : DINAS TENAGA KERJA KOTA BATAM
UPAH MINIMUM KOTA BATAM 2013 OLEH : DINAS TENAGA KERJA KOTA BATAM UPAH MINIMUM Upah Bulanan Terendah : UPAH POKOK TERMASUK TUNJANGAN TETAP MASA KERJA KURANG DARI 1 (SATU) TAHUN (PASAL 8 PERMENAKER NO.
NO NAMA INDUSTRI JENIS INDUSTRI*)
Tabel : SP-1C (T). JUMLAH INDUSTRI/KEGIATAN USAHA KECIL Provinsi : DKI JAKARTA Tahun : 2015 TERPASANG SENYATANYA 1 Industri Makanan Kegiatan Rumah Potong dan Pengepakan Daging Unggas 100.00 55.71 Industri
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN I KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-321/PJ/2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-
SPEKTRUM KEAHLIAN PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN
Lampiran Keputusan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Nomor : 251/C/kep/mn/2008 Tanggal : 22 Agustus 2008 SPEKTRUM PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN NO. KOMPETENSI 1. TEKNOLOGI DAN REKAYASA
PENILAIAN MESIN DAN PERALATAN PART - 1
PENILAIAN MESIN DAN PERALATAN PART - 1 Properti Industri Terdiri dari: A. Tanah B. Bangunan C. Sarana Pelengkap D. Mesin-mesin dan Peralatan E. Kendaraan Bermotor F. Alat Berat G. Fixture dan Furniture
PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH JUNI 2017
No.48/07/33/Th.XI, 17 Juli PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH JUNI A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JAWA TENGAH JUNI MENCAPAI US$ 409,61 JUTA Nilai ekspor Jawa Tengah bulan Juni mencapai US$ 409,61 juta
LAPORAN STATISTIK KINERJA INDUSTRI INDONESIA 2018
LAPORAN STATISTIK KINERJA INDUSTRI INDONESIA 2018 METODOLOGI STATISTICAL REPORT iii BAB I PERTUMBUHAN INDUSTRI 1 BAB II PERTUMBUHAN INVESTASI 37 BAB III PERTUMBUHAN EKSPOR - IMPOR HASIL PERTANIAN 58 BAB
PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH MEI 2017
No.42/06/33/Th.XI, 15 Juni 2017 PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH MEI 2017 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JAWA TENGAH MEI 2017 MENCAPAI US$ 547,33 JUTA Nilai ekspor Jawa Tengah bulan Mei 2017 mencapai
BPS PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
BPS PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR No. 03/02/53/Th. XIV, 1 Februari 2011 Angka sementara nilai ekspor nonmigas Propinsi Nusa Tenggara Timur pada bulan Desember 2010 sebesar 1,778 juta *) US $ dengan volume
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/VII/2010 TAHUN 2010 TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/VII/2010 TAHUN 2010 TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI,
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
G I. BANGUNAN GEDUNG 001. Teknik Konstruksi Baja - P - - - - - - - - - - P P P P P - - P - 002. Teknik Konstruksi Kayu - P - - - - - - - - - - P P P P P - - P - 003. Teknik Batu & Beton - P - - - - - -
LAMPIRAN LAMPIRAN Universitas Kristen Maranatha
LAMPIRAN LAMPIRAN 1 84 Universitas Kristen Maranatha 85 Universitas Kristen Maranatha 86 Universitas Kristen Maranatha 87 Universitas Kristen Maranatha LAMPIRAN 2 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA
Macam-macam Industri dan Klasifikasi Industri
Macam-macam Industri dan Klasifikasi Industri A. Macam-macam Industri 1. Industri Berat Industri alat-alat berat Industri mesin Industri percetakan 2. Industri Ringan Obat-obatan Industri makanan dan industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aktiva Tetap 2.1.1 Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan salah satu alat yang penting dan pokok dalam suatu perusahaan terutama yang bergerak dalam bidang manufaktur
Pjk Elearning-Modul #10
Cara Menghitung Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) PPN dan PPnBM yang terutang dihitung dengan cara mengalikan Tarif Pajak dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Tarif
GUBERNUR KEPULAUAN RIAU
GUBERNUR KEPULAUAN RIAU KEPUTUSAN GUBERNUR KEPULAUAN RIAU NOMOR 1832 TAHUN 2016 TENTANG UPAH MINIMUM SEKTORAL KOTA BATAM TAHUN 2016 GUBERNUR KEPULAUAN RIAU, Menimbang : a. bahwa Upah Minimum Kota (UMK)
PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH AGUSTUS 2017
No.64/09/33/Th.XI, 15 September PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH AGUSTUS A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JAWA TENGAH AGUSTUS MENCAPAI US$ 562,99 JUTA Nilai ekspor Jawa Tengah bulan mencapai US$ 562,99
PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 132/PMK.010/2005 TENTANG PROGRAM HARMONISASI TARIF BEA MASUK TAHAP KEDUA MENTERI KEUANGAN,
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 132/PMK.010/2005 TENTANG PROGRAM HARMONISASI TARIF BEA MASUK 2005-2010 TAHAP KEDUA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka
PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH JULI 2017
No.58/08/33/Th.XI, 15 Agustus PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH JULI A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JAWA TENGAH JULI MENCAPAI US$ 499,45 JUTA Nilai ekspor Jawa Tengah bulan Juli mencapai US$ 499,45
KELOMPOK INDUSTRI MANUFAKTUR YANG DAPAT MEMANFAATKAN FASILITAS BEA MASUK ATAS IMPOR BAHAN BAKU (USDFS)
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR : 43/M-IND/PER/7/2008 TANGGAL : 1 Juli 2008 KELOMPOK INDUSTRI MANUFAKTUR YANG DAPAT MEMANFAATKAN FASILITAS BEA MASUK ATAS IMPOR BAHAN BAKU (USDFS) I. Kelompok
BPS PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
BPS PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR No. 03/03/53/Th. XIV, 1 Maret 2011 Total Nilai Ekspor Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2010 sebesar 35,937 juta US$, dengan volume sebesar 151,994 ribu ton. Angka sementara
GO LONGAN PO KOK URAIAN KLASIFIKASI LAPANGAN USAHA
-16- LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-10/PJ/2018 TENTANG TEMPAT PENDAFTARAN WAJIB PAJAK DAN/ATAU TEMPAT PELAPORAN USAHA PENGUSAHA KENA PAJAK PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN
Indeks Unit Value Ekspor
o. id Ka t a l og :8202014 ht tp : // w w w.b ps.g 2 0 1 2 2 0 1 5 id o..b ps.g w w // w tp : ht 2 0 1 2 2 0 1 5 Indeks Unit Value Ekspor 2012-2015 ISSN : 2089-2888 No. Publikasi : 06110.1635 Katalog :
BAB II KAJIAN TEORI. jangka waktu kurang dari 1 tahun (seperti tagihan) modal, semua milik usaha yang
BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Pengertian Aktiva Menurut Mardiasmo (2009:158) Aktiva merupakan (harta) kekayaan, baik yang berupa uang maupun benda lain yang dapat dinilai dengan uang ataupun yang tidak berwujud
PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH JANUARI 2017
No.15/02/33/Th.XI, 16 Februari PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH JANUARI A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JAWA TENGAH JANUARI MENCAPAI US$ 475,16 JUTA Nilai ekspor Jawa Tengah pada bulan Januari mencapai
PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH DESEMBER 2014
No.07/02/33/Th.IX, 02 Februari 2015 PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH DESEMBER A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JAWA TENGAH DESEMBER MENCAPAI US$ 466,61 JUTA Nilai ekspor Jawa Tengah bulan mencapai US$
Lapangan usaha/pekerjaan tambahan utama (b4p16) File: sakernas05nov
Lapangan usaha/pekerjaan tambahan utama (b4p16) File: sakernas05nov Gambaran Tipe: Kontinyu Format: numeric Width: 8 Desimal: 0 Range: 0-950 Observasi Valid: 0 Tidak Valid: 0 DEFINISI Lapangan usaha/pekerjaan
PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH MARET 2016
No26/04/33/ThX, 15 April PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH MARET A PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JAWA TENGAH MARET MENCAPAI US$ 478,36 JUTA Nilai ekspor Jawa Tengah bulan Maret mencapai US$ 478,36 juta
Lapangan usaha/pekerjaan tambahan utama (b4p14) File: sakernas00
Lapangan usaha/pekerjaan tambahan utama (b4p14) File: sakernas00 Gambaran Tipe: Kontinyu Format: numeric Width: 8 Desimal: 0 Range: 11-950 Observasi Valid: 0 Tidak Valid: 0 DEFINISI Lapangan usaha/pekerjaan
PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH DESEMBER 2016
No.06/01/33/Th.XI, 16 Januari 2017 PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR JAWA TENGAH DESEMBER A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JAWA TENGAH DESEMBER MENCAPAI US$ 523,58 JUTA Nilai ekspor Jawa Tengah pada bulan mencapai
