II. TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
TINJAUAN PUSTAKA Kutu Putih Pepaya Paracoccus marginatus Daerah Persebaran Kisaran Inang

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Buah-buahan

BIOLOGI DAN STATISTIK DEMOGRAFI KUTU PUTIH PEPAYA

TINJAUAN PUSTAKA. merata sepanjang tahun. Curah hujan (CH) untuk pertanaman pepaya berkisar

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hama penghisap daun Aphis craccivora

HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Pradewasa dan Imago

BIOLOGI HAMA KUTU PUTIH PEPAYA (Paracoccus marginatus) PADA TANAMAN PEPAYA. The Biological Study of Papaya Mealybug (Paracoccus marginatus) on Papaya

I. PENDAHULUAN. Tanaman pepaya merupakan tanaman herba yang berasal dari Amerika. Tengah, Hindia Barat, Meksiko dan Costa Rica. Tanaman yang masuk ke

HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

BIOLOGY OF PAPAYA MEALY BUG Paracoccus. CASSAVA (Manihot utilissima Pohl).

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) ulat grayak diklasifikasikan sebagai berikut:

Identifikasi dan Klasifikasi Hama Aphid (Kutu Daun) pada tanaman Kentang

HASIL DAN PEMBAHASAN Gejala Parasitisasi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Berikut adalah taksonomi pengisap polong kedelai (EOL, 2014):

Gambar 1. Beberapa varietas talas Bogor

I. PENDAHULUAN. Pepaya merupakan salah satu tanaman yang digemari oleh seluruh lapisan

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Imago Bemisia tabaci.

TINJAUAN PUSTAKA Paracoccus marginatus

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera litura F. dapat diklasifikasikan

TINJAUAN PUSTAKA. energi pada kumunitasnya. Kedua, predator telah berulang-ulang dipilih sebagai

TINJAUAN PUSTAKA. Adapun morfologi tanaman tembakau adalah: Tanaman tembakau mempunyai akar tunggang terdapat pula akar-akar serabut

TINJAUAN PUSTAKA. A. Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) capsaicin (8-methyl-N-vanillyl-6-nonenamide). Selain itu, terkandung juga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Botani, Klasifikasi, dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

TINJAUAN PUSTAKA. Di Indonesia tanaman seledri sudah dikenal sejak lama dan sekarang

I. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Tarigan dan Wiryanta (2003), tanaman cabai dapat diklasifikasikan

POTENSI CENDAWAN ENTOMOPHTHORALES DALAM MENGENDALIKAN KUTU PUTIH PEPAYA

PELUANG BISNIS BUDIDAYA JAMBU BIJI

TINJAUAN PUSTAKA. enam instar dan berlangsung selama hari (Prayogo et al., 2005). Gambar 1 : telur Spodoptera litura

HAMA Cricula trifenestrata PADA JAMBU METE DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang

TINJAUAN PUSTAKA. Telur serangga ini berwarna putih, bentuknya mula-mula oval, kemudian

TINJAUAN PUSTAKA. miring. Sycanus betina meletakkan tiga kelompok telur selama masa hidupnya.

n. TINJAUAN PUSTAKA Gambar \. Salah satu perkebunan pepaya di Pekanbaru (Sumber. Dokumentasi Pribadi)

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

TINJAUAN PUSTAKA Kutu Putih (Hemiptera: Pseudococcidae)

TINJAUAN PUSTAKA Asal-usul dan Penyebaran Geografis Sifat Botani

BAB I BENGKUANG (Pachyrhizus erosus)

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kumbang Koksi (Epilachna admirabilis)

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL BUDIDAYA KUNYIT. Mono Rahardjo dan Otih Rostiana

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi hama penggerek batang berkilat menurut Soma and Ganeshan

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai

BAB I PENDAHULUAN. seperti Indonesia. Salah satu genus umbi-umbian yaitu genus Dioscorea atau

TINJAUAN PUSTAKA. Telur berwarna putih, berbentuk bulat panjang, dan diletakkan

TINJAUAN PUSTAKA Serangga predator Bioekologi Menochilus sexmaculatus

Pengetahuan Dasar Gizi Cica Yulia, S.Pd, M.Si

II. TINJAUAN PUSTAKA Morfologi dan Biologi Kutu Perisai Aulacaspis tegalensis

BAB I PENDAHULUAN. occidentale L.) seluas ha, tersebar di propinsi Sulawesi. Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kacang tunggak (Vigna unguiculata (L.)) merupakan salah satu anggota dari

untuk meneliti tingkat predasi cecopet terhadap larva dan imago Semoga penelitian ini nantinya dapat bermanfaat bagi pihak pihak yang

TINJAUAN PUSTAKA. Siklus hidup S. litura berkisar antara hari (lama stadium telur 2 4

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mahkota dewa memiliki nama ilmiah Phaleria macrocarpa Boerl.,

II. TINJAUAN PUSTAKA. daun-daun kecil. Kacang tanah kaya dengan lemak, protein, zat besi, vitamin E


TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Phragmatoecia castaneae Hubner. (Lepidoptera : Cossidae)

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) biologi hama ini adalah : Setelah telur diletakkan di dalam bekas gerekan, lalu ditutupi dengan suatu zat

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai

KEMENTERIAN PERTANIAN ISBN :

TINJAUAN PUSTAKA. Siklus Hidup dan Morfologi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

1. tikus 2. penggerek batang padi 3. wereng coklat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum L.)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) berasal dari negara Afrika.

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kentang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tips kesehatan, berikut ini 7 makanan yang menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh anda :

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Botani, Klasifikasi, dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

I. PENDAHULUAN. Desa Serang merupakan salah satu desa di Kecamatan Karangreja,

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Berbentuk oval sampai bulat, pada permukaan atasnya agak datar. Jumlah telur

II. TINJAUAN PUSTAKA. tingkatan kasta di dalam koloninya. Lebah pekerja yang merupakan lebah betina

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), Setothosea asigna di klasifikasikan sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 1. Telur R. linearis Sumber: Foto langsung

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt L.) Sekelompok akar sekunder berkembang pada buku-buku pangkal batang dan

Menurut van Steenis (2003), sistematika dari kacang tanah dalam. taksonomi termasuk kelas Dicotyledoneae; ordo Leguminales; famili

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) banyak ditanam di daerah beriklim panas

I. PENDAHULUAN. famili Cucurbitaceae (tanaman labu-labuan) merupakan salah satu tanaman

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

BAB I PENDAHULUAN. Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu tanaman yang. termasuk dalam family Cucurbitaceae (tanaman labu-labuan),

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Biologi Sitophilus oryzae L. (Coleoptera: Curculionidae)

cm atau lebih dari pusat batang tanaman (Suprapti, 2005).

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman jarak pagar berupa perdu dengan tinggi 1 7 m, daun tanaman

A. Struktur Akar dan Fungsinya

Kutu Kebul Bemisia tabaci Gennadius (Hemiptera: Aleyrodidae) Penyebar Penyakit Virus Mosaik Kuning pada Tanaman Terung

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Meksiko. Tanaman yang

BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Persiapan tanaman uji, tanaman G. pictum (kiri) dan tanaman A. gangetica (kanan)

II. TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Chilo Sachhariphagus Boj. (Lepidoptera: Crambidae)

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman melon sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Divisio:

HASIL DAN PEMBAHASAN

TANAMAN PERKEBUNAN. Kelapa Melinjo Kakao

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gonda dalam bahasa jawa disebut gondo atau orang barat

BAB I PENDAHULUAN. Bab I Pendahuluan

Transkripsi:

4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi dan Kisaran Inang Paracoccus marginatus Kutu putih pepaya, Paracoccus marginatus Williams & Granara de Willink, termasuk dalam Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ordo Hemiptera, Superfamili Coccoidea, dan Famili Pseudococcidae. Genus ini terdiri dari 79 spesies, salah satunya adalah P. marginatus Williams dan Granara de Willink yang menjadi hama penting pepaya dan tanaman ekonomi tinggi lainnya di sekitar Karibia dan Florida (Miller & Miller, 2002). Menurut Miller & Miller (2002), P. marginatus memiliki lebih dari 25 genus tanaman inang. Di antara tanaman-tanaman ini terdapat tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti pepaya, jeruk, alpukat, terong, kembang sepatu, dan kamboja. Hama P. marginatus juga menyerang jenis tanaman Hibiscus rosa sinensis, Ipomoea sp, Manihot esculenta, Manihot chlorosticta Standl. & Goldman, Mimosa pigra, Zea mays, Acacia sp, Acalypha sp, Annona squamosa. dan Solanum tuberosum. Di Indonesia, P. marginatus dilaporkan menyerang 21 spesies tanaman dari beberapa famili seperti, Fabaceae, Aracaceae (talas talasan), Cucurbitaceae (labu-labuan), Malvaceae (kapas-kapasan), Convolvulaceae (kangkung-kangkungan), Myrtaceae (jambu-jambuan) (Sartiami et al., 2009). Sedangkan Walker et al. (2003) menyatakan, lebih dari 55 tanaman merupakan

5 inang P. marginatus di antaranya kembang sepatu, kapas, tomat, terung, lada, buncis dan kacang hijau, ubi jalar, mangga, cherry, dan tanaman sayuran dari famili Solanaceae dan Cucurbitaceae. Selain menyerang tanaman pertanian, P. marginatus juga menyerang gulma, yaitu Abutilon indicum, Achyranthus aspera, Cleome viscosa, Commelina benghalensis, Convolvulus arvensis, Euphorbia hirta, Phyllanthus niruri, Leucas aspera, Ocimum sanctum, Parthenium hysterophorus, Tridax procumbens, Trianthema portulacastrum, dan Canthium inerme (Tanwar et al., 2010). 2.2 Morfologi Menurut Walker et al. (2003), individu betina P. marginatus melalui tiga stadium yaitu telur, nimfa, dan imago. Serangga imago betina tidak memiliki sayap, dan bergerak perlahan dalam jarak yang dekat dan dapat diterbangkan oleh angin. Serangga betina biasanya meletakkan telur 100 hingga 600 butir dalam sebuah kantung telur yang diletakkan dalam waktu satu hingga dua minggu. Individu jantan melalui empat stadia yaitu telur, nimfa, pupa dan imago. Stadium imago jantan memiliki satu pasang sayap, aktif terbang mendekati betina dewasa. Menurut Miller & Miller (2002), kutu putih pepaya memilliki telur berwarna kuning kehijauan di dalam kantung telur (ovisac). Keseluruhan kantung telur ditutupi oleh lilin. Nimfa kutu putih pepaya instar pertama disebut crawler dan belum dapat dibedakan jenis kelaminnya. Panjang tubuh nimfa instar pertama 0,3-0,5 mm dan lebar tubuh 0,2-0,3 mm. Nimfa instar kedua kutu putih pepaya berwarna kuning dan memiliki panjang tubuh 0,5-1,0 mm dan lebar tubuh

6 0,2-0,6 mm. Kutu putih pepaya instar ketiga betina memiliki panjang 0,7-1,8 mm dan lebar tubuh 0,3-1,1 mm. Secara umum kutu putih pepaya instar ketiga betina ukuran tubuhnya lebih besar dan lebih lebar dibandingkan dengan yang jantan. Panjang tubuh imago betina 1,5-2,7 mm dan lebar tubuh 0,9-1,7 mm. Tubuh imago memiliki rangkaian filamen lilin pendek di sepanjang bagian tepi tubuh. (Gambar 1). Gambar 1. Stadium imago betina kutu putih pepaya, Paracoccus marginatus. A. Detail tungkai depan, B. Oral-rim tubular duct, C. Porus trilokular, D. Porus translusen, E. Oral-collar tubular duct, F. Detail tungkai belakang, G. Porus multilokular, H. Seta cisanal, I. Serari anal-lobe, J. Seta auxilliary, K. Porus discoidal, L. Seta bagian punggung, M. Seta serari (Miller & Miller, 2002).

7 Imago jantan P. marginatus berwarna merah muda, dengan bentuk tubuh oval memanjang dan memiliki sayap, panjang tubuh berkisar 0,9-1,1 mm dan lebar tubuh 0,2-0,3 mm (Gambar 2). Nimfa instar kedua jantan berwarna merah muda dan terkadang kuning, dengan panjang tubuh 0,5-1,1 mm dan lebar tubuh 0,2-0,6 mm. Pada stadium instar ketiga hama kutu putih pepaya jantan disebut prapupa, dengan panjang tubuh antara 0,8-1,1 mm dan lebar tubuh 0,3-0,4 mm. Stadium instar keempat serangga jantan disebut pupa, panjang tubuh berkisar antara 0,9-1,0 mm dan lebar tubuh antara 0,3-0,4 mm (Miller and Miller, 2002). Gambar 2. Stadium imago jantan kutu putih pepaya, Paracoccus marginatus. A. Bagian punggung daerah midcranial, B. Detail tungkai depan, C. Bagian ventral selubung penial, D. Aedeagus, E. bagian lateral selubung penial, F. Porus discoidal, G. Porus quin-quelocular, H. Detail scapus dan pedisel, I. Detail segmen apical (Miller & Miller, 2002).

8 2.3 Siklus Hidup Kutu putih pepaya betina dan jantan memiliki tahapan perkembangan hidup yang berbeda. Kutu putih pepaya betina mengalami metamorfosis paurometabola (metamorfosis bertahap), yaitu terdiri dari telur, nimfa yang terdiri dari instar pertama hingga ketiga, dan imago yang tidak memiliki sayap. Waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan satu generasi adalah sekitar satu bulan dan bergantung pada suhu. Kutu putih pepaya jantan mengalami metamorfosis holometabola (metamorfosis sempurna), yaitu terdiri dari telur, larva yang terdiri dari instar pertama, instar kedua, instar ketiga yang disebut prapupa, dan instar keempat berupa pupa, dan imago yang memiliki sayap (Tanwar et al., 2010). Menurut Sari (2010), siklus hidup betina dan jantan hama P. marginatus berbeda, disebabkan hama kutu putih memiliki tahapan perkembangan hidup berbeda. Kutu putih betina mengalami metamorfosis paurometabola, sedangkan hama kutu putih jantan mengalami metamorfosis holometabola. 2.4 Gejala Serangan Koloni kutu putih pepaya biasanya ditemukan di permukaan bawah daun dan terdapat di sekitar tulang daun. Kutu putih pepaya merusak tanaman inang dengan cara mengisap cairan tanaman yang terdapat pada pembuluh floem. Daun tanaman yang terserang P. marginatus pada umumnya menjadi berkerut, dan jika serangannya berat menyebabkan daun menjadi kuning, kering, dan akhirnya gugur. Selain daun, P. marginatus juga menyerang bagian batang, pucuk, dan buah. Serangan kutu putih pepaya pada pucuk menyebabkan daun menjadi

9 mengkerut dan keriting dan akhirnya mati Serangan kutu putih pepaya mengakibatkan bunga dan buah pepaya gugur sebelum waktunya. Selain menyebabkan kerusakan pada daun, batang, buah, dan bunga, kutu putih pepaya menghasilkan embun madu yang dapat memicu tumbuhnya cendawan jelaga. Cendawan jelaga tumbuh dan berkembang menutupi permukaan daun sehingga menghambat proses fotosintesis (Miller & Miller, 2002). Serangga P. marginatus merusak tanaman dengan cara mengisap cairan tumbuhan dengan memasukkan stilet ke dalam jaringan epidermis daun, buah maupun batang dan secara bersamaan mengeluarkan racun, sehingga daun mengerut lalu menggulung. Selain itu, P. marginatus juga menghasilkan lapisan lilin berwarna putih sehingga buah pepaya tidak bisa dimakan dan banyak menghasilkan embun madu yang dapat berasosiasi dengan cendawan jelaga, hingga menyebabkan kematian tanaman. Pada tanaman yang sudah dewasa, gejala yang muncul adalah daun menguning dan kelamaan daun akan gugur. Serangan berat P. marginatus pada tanaman pepaya terdapat di lapisan-lapisan pertulangan tengah daun hingga seluruh area daun dan buah sehingga mempengaruhi daun menjadi kuning dan mengering, menyebabkan gumpalan hitam yang menutupi buah dan vegetasi yang diserang (Muniappan et al., 2008). 2.5 Pepaya Tanaman pepaya Carica papaya L. merupakan salah satu tanaman buah tropis asal Meksiko Selatan. Tanaman ini diketahui tumbuh di daerah-daerah basah, kering, daerah dataran rendah, serta pegunungan (sampai ketinggian 1.000 m dpl). Di daerah dataran tinggi sebenarnya pepaya dapat tumbuh, tetapi buah yang

10 dihasilkan kurang optimal. Buah pepaya mengandung zat-zat yang diperlukan bagi tubuh, rasanya juga enak serta mempunyai nilai gizi yang bagus untuk kesehatan, sehingga buah pepaya mempunyai nilai jual yang tinggi dan dijadikan komoditas bisnis. Kandungan buah pepaya masak (100 gr) adalah kalori 46 kal, vitamin A 365 SI, vitamin Bl 0,04 mg, vitamin C 78 mg, kalsium 23 mg, hidrat arang 12,2 mg, fosfor 12 mg, besi 1,7 mg, protein 0,5 mg dan air 86,7 gram. Selain itu buah pepaya mengandung papain yang merupakan enzim proteolitik yang dapat dimanfaatkan di bidang industri makanan dan sebagai bahan baku kosmetika. Di bidang farmasi, daun, batang dan biji pepaya dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan (Sujiprihati dan Suketi, 2009). Verheij and Coronel (1997) menyatakan, di beberapa negara biji pepaya digunakan sebagai obat peluruh cacing dan obat untuk menggugurkan kandungan. Karpaina, suatu jenis alkaloid yang terkandung dalam pepaya digunakan untuk mengurangi gangguan jantung, obat anti amuba dan obat peluruh kencing. Di Myanmar, getah Carica papaya L. digunakan untuk mengeluarkan cacing usus pada manusia. Sementara itu Negara Vietnam, getah pepaya digunakan untuk mengobati kutil selanjutnya di Indonesia, getah pepaya digunakan untuk mengeluarkan cacing usus dan menetralkan racun ular. 2.6 Tanaman Rosela Rosela mempunyai nama ilmiah Hibiscus sabdariffa L. merupakan anggota famili Malvaceae. Rosela dapat tumbuh baik di daerah beriklim tropis dan subtropis. Tanaman ini mempunyai habitat asli di daerah yang terbentang dari India hingga Malaysia. Sekarang tanaman ini telah tersebar luas di daerah tropis dan subtropis

11 di seluruh dunia. Rosela merupakan herba tahunan dengan tinggi antar 0,5 3 meter. Batangnya bulat, tegak, dan berwarna merah. Daunnya tunggal, tepi bergerigi, pangkal berlekuk. Panjang daun 6-15 cm dan lebar 5-8 cm. Setiap tangkai hanya terdapat satu bunga. Bunga ini mempunyai 8-11 helai kelopak yang berbulu, panjangnya 1cm, pangkalnya saling berlekatan, dan berwarna merah. Kelopak bunga ini sering dianggap sebagai bunga oleh masyarakat. Bagian inilah yang sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman (Maryani dan Kristiana, 2005). Tanaman rosela biasanya dibudidayakan sebagai tanaman hias, di antaranya sebagai tanaman hias out door, tanaman pagar, maupun tanaman hias in door yang berupa bunga rangkai. Kelopak bunga tanaman ini (kelopaknya) selain mengandung malic acid yang rasanya segar juga dapat diolah menjadi beberapa produk yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi, yaitu berupa sirup, minuman segar, selai, ataupun manisan alami tanpa penambahan zat warna sehingga sangat menarik dan digemari konsumen. Tanaman ini juga memiliki manfaat lain, yaitu sebagai tanaman obat. Bahan penting yang terkandung dalam kelopak bunga rosela adalah gossypetin, anthocyanin dan glucoside hibiscin. Ketiga zat inilah yang menjadikan rosela bukan sekadar tanaman hias yang indah, tetapi juga berkhasiat bagi kesehatan manusia. Kelopak bunga rosela mengandung vitamin A, vitamin C, dan asam amino. Terdapat 18 jenis asam amino pada kelopak bunga rosela, termasuk arginin dan lisin yang berperan dalam proses peremajaan sel tubuh (Hakim, 2009).

12 Rebusan biji rosela biasanya digunakan oleh masyarakat India untuk menyembuhkan ganguan kencing, gangguan pada pencernaan, dan meningkatkan stamina. Daun rosela dapat digunakan umtuk mengobati kaki pecah-pecah dan luka bakar ringan. Daun dapat mempercepat pematangan bisul sekaligus bersifat melembutkan kulit (emolient). Sementara itu, cairan atau lotion yang dibuat dari daun rosela digunakan untuk mengobati luka (Maryani dan Kristiana, 2005). Hasil survei importir rosela tingkat internasional, total panen rosela kering mencapai 500 kg/ha. Di perkebunan Desa Panggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dapat menghasilkan 1,25 kg kelopak bunga basah dari setiap tanaman rosela. Di California, tanaman rosela bisa menghasilkan kelopak bunga sekitar 1,3 kg. Sementara itu, di Puerto Rico hasil panen berkisar 1,8 kg/tanaman dan di Florida 7,25 kg/tanaman (Maryani dan Kristiana, 2005).