pastura Vol. 4 No. 1 : ISSN : X

dokumen-dokumen yang mirip
EKSPLORASI KOMPOSISI PAKAN TRADISIONAL BABI BALI

LAPORAN AKHIR PENELITIAN

EKSPLORASI RAGAM KOMPOSISI PAKAN TRADISIONAL BABI BALI

KARAKTERISTIK DAN MORFOMETERIK BABI BALI

I. PENDAHULUAN. besar untuk dikembangkan, sapi ini adalah keturunan Banteng (Bos sundaicus)

STUDI RAGAM EKSTERIOR DAN KARAKTERISTIK REPRODUKSI BABI BALI

STUDI KARAKTERISTIK KARKAS BABI BALI ASLI DAN BABI LANDRACE YANG DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKU BABI GULING

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

Budidaya dan Pakan Ayam Buras. Oleh : Supriadi Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Riau.

I. PENDAHULUAN. dengan besarnya jumlah penduduk yang ada. Banyaknya penduduk yang ada

NILAI GIZI ECENG GONDOK DAN PEMANFAATAN SEBAGAI PAKAN ternak NON RUMINANSIA NINA MARLINA DAN SURAYAH ASKAR

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang sangat luas dan sebagian besar

Cara Membuat Lawar Bali

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri 0lahannya sebagai Pakan Ternak cukup tinggi, nutrisi yang terkandung dalam lim

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan

I. PENDAHULUAN. yang memiliki potensi hijauan hasil limbah pertanian seperti padi, singkong, dan

I. PENDAHULUAN. kehidupan dan kelangsungan populasi ternak ruminansia. Menurut Abdullah et al.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama 13 minggu, pada 12 Mei hingga 11 Agustus 2012

PRAKTIKUM III PENGENALAN BAHAN PAKAN TERNAK (FEEDS STUFF)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kususiyah, Urip Santoso, dan Debi Irawan. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

PENDAHULUAN. rendah adalah masalah yang krusial dialami Indonesia saat ini. Catatan Direktorat

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terdapat tanaman pisang, hal ini dikarenakan tanaman cepat

JENIS PAKAN. 1) Hijauan Segar

TINJAUAN PUSTAKA. keberhasilan usaha pengembangan peternakan disamping faktor bibit dan

POTENSI BABI BALI DALAM PENYEDIAAN DAGING DI BALI

PENDAHULUAN. akan protein hewani berangsur-angsur dapat ditanggulangi. Beberapa sumber

FORMULASI RANSUM PADA USAHA TERNAK SAPI PENGGEMUKAN

PENDAHULUAN. kebutuhan zat makanan ternak selama 24 jam. Ransum menjadi sangat penting

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Temu Lapang Bioindustri Sawit-Sapi

EFEK PENGGUNAAN KONSENTRAT PABRIKAN DAN BUATAN SENDIRI DALAM RANSUM BABI STARTER TERHADAP EFISIENSI PENGGUNAAN RANSUM. S.N.

I. PENDAHULUAN. tumbuhan tersebut. Suatu komunitas tumbuhan dikatakan mempunyai

Pengaruh Lumpur Sawit Fermentasi dalam Ransum Terhadap Performa Ayam Kampung Periode Grower

Kata kunci: luas lahan, produksi, biaya usaha tani, pendapatan.

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Soedjana (2011) berdasarkan data secara nasional, bahwa baik

PENDAHULUAN. yaitu ekor menjadi ekor (BPS, 2016). Peningkatan

II. TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG AMPAS TAHU DI DALAM RANSUM TERHADAP BOBOT POTONG, BOBOT KARKAS DAN INCOME OVER FEED COST AYAM SENTUL

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Tabel 4.1. Zona agroklimat di Indonesia menurut Oldeman

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan masyarakat. Saat ini, perunggasan merupakan subsektor peternakan

BAB I PENDAHULUAN. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi hewani membuat

PENDAHULUAN. Latar Belakang. yang sangat besar. Hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk yang

KATA PENGANTAR. dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

PEMANFAATAN LIMBAH PRODUKSI MIE SEBAGAI ALTERNATIF PAKAN TERNAK

Pengaruh penggunaan tepung azolla microphylla dalam ransum terhadap. jantan. Disusun Oleh : Sigit Anggara W.P H I.

METODE. Materi 10,76 12,09 3,19 20,90 53,16

TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG MERAH DALAM POT/POLYBAG

PENDAHULUAN. memadai, ditambah dengan diberlakukannya pasar bebas. Membanjirnya susu

PROSPEK PENGEMBANGAN TANAMAN JAGUNG SEBAGAI SUMBER HIJAUAN PAKAN TERNAK

BAB I PENDAHULUAN. Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu jenis tanaman

PENERAPAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM) KELOMPOK TANI KALISAPUN DAN MAKANTAR KELURAHAN MAPANGET BARAT KOTA MANADO

AGROVETERINER Vol.5, No.1 Desember 2016

I. PENDAHULUAN. mengandangkan secara terus-menerus selama periode tertentu yang bertujuan

V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING. responden memberikan gambaran secara umum tentang keadaan dan latar

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

RENCANA PENGEMBANGAN PETERNAKAN PADA SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KALIMANTAN SELATAN

lagomorpha. Ordo ini dibedakan menjadi dua famili, yakni Ochtonidae (jenis

MATERI DAN METODE. Materi

KOMPOSISI KIMIA BEBERAPA BAHAN LIMBAH PERTANIAN DAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN

I. PENDAHULUAN. kontinuitasnya terjamin, karena hampir 90% pakan ternak ruminansia berasal dari

KONVERSI SAMPAH ORGANIK MENJADI SILASE PAKAN KOMPLIT DENGAN PENGGUNAAN TEKNOLOGI FERMENTASI DAN SUPLEMENTASI PROBIOTIK TERHADAP PERTUMBUHAN SAPI BALI

ANALISIS USAHA PENGGEMUKAN BABI BALI YANG MENGGUNAKAN RANSUM NON KONVENSIONAL

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah salah satu negara yang terbentang di sepanjang garis

PEMANFAATAN LIMBAH RESTORAN UNTUK RANSUM AYAM BURAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Domba Ekor Gemuk. Domba Lokal memiliki bobot badan antara kg pada

Sabrina, Husmaini dan Gita Ciptaaaan Fak. Peternakan Universitas Andalas ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging sapi setiap tahun selalu meningkat, sementara itu pemenuhan

I. PENDAHULUAN. Nenas adalah komoditas hortikultura yang sangat potensial dan penting di dunia.

II. TINJAUAN PUSTAKA

PENGANTAR. Latar Belakang. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi yang sangat besar

PENDAHULUAN. yang sangat penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

PENGELOMPOKKAN KABUPATEN DI PROVINSI BALI BERDASARKAN PERKEMBANGAN FASILITAS PARIWISATA

Pengaruh Imbangan Hijauan-Konsentrat dan Waktu Pemberian Ransum terhadap Produktivitas Kelinci Lokal Jantan

I. PENDAHULUAN. Kelapa sawit adalah salah satu komoditas non migas andalan Indonesia.

MENGATASI HAMBATAN PEMELIHARAAN ITIK SECARA EKSTENSIP (DIGEMBALAKAN)

Petunjuk Praktis Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan perkembangan ayam broiler sangat dipengaruhi oleh

BAB 1. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. diperlukannya diversifikasi makanan dan minuman. Hal tersebut dilakukan untuk

I. PENDAHULUAN. yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi.

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur an surat Al-Mu minun ayat 21 yang

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan di Indonesia memiliki tujuan untuk mensejahterakan

: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING. seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan, dan tenaga

I. PENDAHULUAN. dalam budidaya perikanan karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi

POTENSI LIMBAH KULIT BUAH PISANG (Musa paradisiaca L.) DARI PEDAGANG GORENGAN DI KOTA MANOKWARI

BAB I PENDAHULUAN. Ubi jalar (Ipomoae batatas L) atau ketela rambat atau sweet potato atau dalam bahasa

TINJAUAN PUSTAKA Kelinci Pertumbuhan Kelinci

MATERI DAN METODE. Gambar 2. Contoh Domba Penelitian

HIJAUAN GLIRICIDIA SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi potong merupakan sumber utama sapi bakalan bagi usaha

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA

Pengaruh Imbangan Energi dan Protein Ransum terhadap Energi Metabolis dan Retensi Nitrogen Ayam Broiler

Transkripsi:

pastura Vol. 4 No. 1 : 26-30 ISSN : 2088-818X EKSPLORASI HIJUAN PAKAN BABI DAN CARA PENGGUNAANNYA PADA PETERNAKAN BABI TRADISIONAL DI PROVINSI BALI K. Budaarsa, N. Tirta. A, K. Mangku Budiasa dan P.A. Astawa Email: bdr.koman@yahoo.com HP. 08123629838 Fakultas Peternakan Universitas Udayana ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis hijauan yang diberikan sebagai pakan ternak babi dan cara penggunaannya di propvinsi Bali. Penelitian dilakukan dengan metode survei di seluruh kabupaten dan kota di Bali. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified random sampling, dengan pengelompokan atas dataran rendah dan dataran tinggi di masing-masing kabupaten dan kota. Pada masing-masing kelompok di ambil 2 orang peternak babi tradisional, sehingga ada 4 peternak yang diwawancarai di masing-masing kabupaten dan kota atau 32 peternak di seluruh Bali. Hasil survei menunjukkan bahwa ada perbedaan hijauan yang diberikan oleh peternak di dataran rendah dan dataran tinggi. Jenis hijauan yang diberikan di dataran rendah antara lain: (Musa paradisiaceae), kangkung (Ipomaea aquatica), biah-biah (Limnocharis flava), dan eceng gondok (Eichornia crassipes). Sedamgkan di dataran tinggi antara lain: (Musa paradisiaceae), ketela rambat (Ipomaea batatas), daunt alas (Colocasia esculenta) daun lamtoro (Leucaena leucocephala) dan dag-dagse (Pisonia alba). Batang pisang dominan (95 %) diberikan di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Pemberian hijauan ada dengan cara direbus ada yang diberikan dalam bentuk. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat keragaman jenis hijauan pakan babi dan cara pemberiannya antara di dataran rendah dengan dataran tinggi di Bali. Batang pisang merupakan hijauan yang paling banyak digunakan untuk pakan babi pada peternakan babi tradisional, baik pada dataran rendah maupun dataran tinggi. Kata kunci: eksplorasi, hijauan, peternakan babi tradisional FORAGES EXPLORATION AND HOW TO USE ON TRADITIONAL PIG FARM IN BALI PROVINCE ABSTRACT This study aims was to determine the types of forages fed to pigs and how to use them on traditional pig farm in the province of Bali. The research was conducted using a survey in all districts and cities in Bali. Sampling was done by stratified random sampling technique, by grouping the lowlands and highlands. In each of the 2 traditional pig farmers were selected from each group, so there are four farmers interviewed in each city or district and 3 2farmers across Bali. The survey results indicated that there were differences in forage given by farmers in highlands and lowlands. Given type of forage in the lowlands include:banana stem (Musa paradisiaceae), kale (Ipomaea aquatica), biah-biah (Limnocharis flava), and water hyacinth (Eichornia crassipes). In the highlands include:banana stem (Musa paradisiaceae), sweet potatoes (Ipomaea batatas), taro leaf (Colocasia esculenta) lamtoro leaf (Leucaena leucocephala) and dag-dagse (Pisonia alba). Banana stem was fed 95% in both lowlands and in the highlands Forage was fed both boiling and in fresh. The conclusion from this study that there was is diversity of forage species and ways of administration among pigs in lowland plateau in Bali. Banana stem was is the most widely used forage to feed pigs on traditional pig farms, both lowland and highland. Keywords: exploration, forage and traditional pig farm PENDAHULUAN Peternakan babi di Bali masih menempati posisi penting bagi masyarakat pedesaan. Babi adalah salah satu komoditas ternak yang telah dipelihara sejak lama oleh masyarakat. Usaha peternakan babi di Bali sebagian besar merupakan peternakan tradisional yang memelihara babi dua atau tuga tiga ekor di masingmasing rumah tangga. Namun demikian, sudah banyak juga terdapat usaha peternakan yang semi intensif dan bahkan modern dengan jumlah ternak piaraan lebih dari 100 ekor. Peternak tradisional di pedesaan masih banyak yang memilih babi bali untuk dipelihara, namun sudah banyak juga yang memelihara babi ras, diantaranya babi landrace, duroc, large wight, dan yang lainnya. Babi bali di Bali memiliki status sosial-budaya yang sangat penting sekali. Untuk kegiatan upacara dan bahan upakara banyak mempergunakan daging babi. Selain untuk memenuhi kebutuhan untuk upacara agama, daging babi juga digunakan dalam berbagai aktivitas sosial. Babi Bali sangat cocok dipelihara oleh 26

Eksplorasi Hijuan Pakan Babi dan Cara Penggunaannya pada Peternakan Babi Tradisional di Provinsi Bali [K. Budaarsa, dkk.] para ibu rumah tangga di Bali sebagai celengan atau tatakan banyu, karena dengan pemberian pakan seadanya dan pemanfaatan limbah dapur (banyu dan sebagainya) babi bali telah mampu memberikan pertambahan berat badan yang baik. Kalau dilihat sasaran yang ingin dicapai oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, populasi babi tahun 2013 adalah 7.113.310 ekor dan tahun 2014 adalah 7.204.768 ekor. Sementara target produksi daging babi tahun 2013 adalah 143.992 ton dan tahun 2014 sebanyak 247.420 ton. Oleh karena itu peningkatan produktivitas ternak babi menjadi suatu hal yang sangat penting, selain untuk meningkatkan komoditas ekspor, juga untuk memenuhi permintaan dalam negeri yang tiap tahun terus meningkat, contohnya untuk kebutuhan babi guling di Bali (Budaarsa, 2002, dan Budaarsa 2006). Meningkatnya permintaan daging babi dalam negeri sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk non muslim dan kunjungan wisatawan mancanegara yang terus meningkat (Budaarsa, 2012). Peternakan babi tradisional di Bali masih menghandalkan limbah pertanian lokal dan hijauan yang ada di sekitar mereka sebagai pakan utama. Mereka tidak mampu membeli pakan komersial, karena harganya sangat mahal. Limbah pertanian yang paling utama diberikan adalah dedak padi. Selain itu bungkil kelapa yang diperoleh dari proses pembuatan minyak secara tradisional, juga biasa diberikan pada ternak babi. Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan hijauan. Hijauan yang diberikan jenisnya sangat beragam, tergantung lokasi daerah dan musim saat itu. Di daerah dataran rendah, yang umumnya merupakan daerah persawahan, peternak lebih banyak memberikan kangkung sebagai hijauan pakan. Sedangkan di daerah dataran tinggi atau pegunungan lebih banyak pohon ketela rambat yang diberikan. Pemberian hijauan ada yang diberikan dalam bentuk, ada juga diberikan dengan merebus terlebih dulu. Batang pisang ternyata merupakan bahan pakan yang dominan digunakan oleh peternak babi di seluruh plosok daerah Bali. Sampai saat inibelum ada informasi ilmiah mengenai jenis-jenis hijauan lokal dapat diberikan pada babi, termasuk cara pemberiannya. Padahal kenyataannya di lapangan peternak babi sebagaian besar memberikan hijauan untuk ternak babinya. Hal ini dilakukan mengingat harga pakan komersial sangat mahal, tidak terjangkau oleh peternak, karena umumnya mereka beternak secara tradisional dengan jumlah satu tiga ekor. Informasi mengenai hijauan lokal dan kandungan nutrisinya untuk pakan babi hampir belum ada. Padahal peternak babi khususnya di pedesaan di Bali, sangat menghandalkan hijauan sebagai makanan tambahan. Hal ini mendorong untuk dilakukannya penelitian ini, untuk memperkaya kasanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam pengembangan peternakan babi dengan berbasis sumber daya hijauan lokal yang melimpah. MATERI DAN METODE Materi dalam penelitian ini adalah jenis hijauan yang diberikan oleh peternak babi tradisional di provinsi Bali. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified random sampling, dengan pengelompokan daerah atas dataran rendah dan dataran tinggi di masing-masing kabupaten dan kota. Kesembilan kabupaten dan kota tersebut adalah: Gianyar, Bangli, Klungkung, Karangasem, Buleleng, Jembrana, Tabanan, Badung dan Kota Denpasar. Pada masing-masing kelompok di ambil 2 orang peternak babi tradisional, sehingga ada 4 peternak yang diwawancarai di masing-masing kabupaten dan kota atau 32 peternak di seluruh Bali. Pengelompokan tersebut didasarkan atas adanya perbedaan jenis flora yang tumbuh di kedua dataran tersebut. Di daerah dataran rendah secara umum adalah daerah persawahan, maka hijauan yang tumbuh adalah tanaman yang tahan air. Demikian sebaliknya, di daerah dataran tinggi umumnya daerah perkebunan, maka yang tumbuh adalah tanaman yang kurang tahan kekurangan air. Penelitian dilakukan selama 7 minggu. Saat melakukan wawancara dengan peternak, sekaligus dilakukan pengamatan langsung terhadap pakan babi yang diberikan oleh peternak untuk diidentifikasi. Selain identifikasi jenis hijauan, juga di catat cara pemberiannya. Peternak yang dipilih adalah peternak babi tradisional yang dengan ciri-ciri antara lain: memelihara 1 4 ekor babi, babi diikat atau dikandangkan pada kandang sederhana, tidak memberikan konsentrat buatan pabrik, dan tidak melakukan vaksinasi secara berkala. Data yang peroleh dianalisa secara sederhana menggunakan analisa kuantitatif dan deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Jenis Hijauan Kalau dilihat sebaran jenis hijauan yang diberikan oleh peternak babi di masing-masing kabupaten/kota di Bali, tampaknya tidak banyak perbedaan antara kabupaten satu dengan kabupaten lain. Jenis hijauan yang diberikan yaitu:, kangkung, ketela rambat, ketela pohon, daun papaya, daun pisang, bayam, eceng gondok, daun lamtoro, daun talas, suweg, ules-ules, kerokot, genjer, daun candung, daun dagdag, padang cekuh dandaun labu. Jenis hijauan yang diberikan dan nama lokalnya disajikan pada Tabel 1. Dari 32 orang peternak tradisional yang diwawancarai, sebanyak 30 orang atau 95% yang memberikan. Batang pisang sangat dominan digunakan baik di dataran rendah, maupun di dataran tinggi karena tanaman pisang banyak tumbuh di kedua daerah tersebut. Batang pisang yang digunakan adalah yang sudah dipanen. Peternak tidak memilih jenis pisang tertentu, yang penting pohon pisang tersebut sudah dipanen buahnya. Pohon pisang ada di mana mana, dan 27

pastura Volume 4 Nomor 1 Tahun 2014 ISSN 2088-818X panennya tidak mengenal musim. Oleh karena itu sangat mudah didapat tanpa harus membeli. Hijauan ketela rambat dan kangkung, hampir ada di semua kabupaten dan kota di Bali. Kedua jenis tanaman ini juga banyak ditanam baik di dataran rendah, maupun di dataran tinggi. Di daerah persawahan biasanya petani menanam ketela rambat sehabis panen padi, ketika musim kemarau, sebagai tanaman sela, menunggu musim tanam berikutnya. Pohon ketela rambat saat ini sudah merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Di pedesaan, sudah banyak peternak yang membeli hijauan ketela rambat untuk babi piaraannya. Harganya relatif murah, satu ikat dengan berat kurang lebih 10 kg hanya Rp 10.000. Hijauan ketela rambat biasanya dipanen beberapa kali. Bisa dipotong secara selektif beberapa kali sebelum umbinya di panen. Kemudian terakhir dicabut saat umbinya dipanen. Tanaman kangkung, selain ditanam secara khusus, juga banyak tumbuh secara liar di parit-parit, di pinggir sungai atau tanah-tanah kosong yang tergenang air. Tanaman kangkung sebenarnya ditanam sebagai bahan sayur, tetapi juga diberikan untuk ternak babi. Oleh karena itu kangkung merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Bahkan banyak sawah-sawah diperkotaan secara khusus ditanami kangkung dan dipanen setiap hari. Kangkung yang kualitas bagus dijual untuk sayur, yang kualitas kurang bagus dijual untuk pakan babi. Tanaman kangkung sebenarnya secara umum ada dua jenis, yaitu kangkung darat dan kangkung air. Kangkung darat hidupnya memang di darat, kangkung air hidup subur di daerah berair atau tergenang air. Kangkung yang banyak digunakan untuk pakan babi di Bali adalah kangkung air. Kalau dilihat dari ragam jenis hijauan yang diberikan pada ternak babi, di daerah pegunungan jenis hijauannya lebih beragam dibandingkan dengan di daerah dataran rendah. Hal tersebut karena memang di daerah pegunungan persedian hijauan lebih beragam. Sebagai contoh tanaman suweg (Amorphophallus campanullatus) dan ulesules (Amorphophallus muelleri), hanya ditemukan di dataran tinggi atau di pegunungan dan sangat jarang terdapat di dataran rendah apalagi di persawahan. Tanaman suweg dan ules-ules ini adalah tanaman semusim. Pohon dan daunnya muncul ke permukaan tanah hanya pada musim penghujan saja. Pada musim kemarau, pohonnya rontok, tetapi umbinya tetap utuh di bawah tanah. Umbinya inilah di panen, bisa diolah untuk aneka jenis panganan. Cara Pemberian Pemberian hijauan pada peternakan babi tradisional dapat dikatagorikan menjadi dua, yaitu pemberian dalam bentuk dan direbus. Pemberiann dalam bentuk ini dilakukan dengan cara memberikan langsung hijauan tersebut setelah diambil dari sumbernya. Sebagai contoh, tanaman kangkung diambil dari kebun dalam jumlah tertentu langsung Tabel 1. Beberapa jenis hiajauan untuk pakan babi di Bali No Nama tanaman Nama latin Nama lokal (Bali) 1. Batang pisang Musa paradisiaceae Gedebong 2. Ketela Rambat Ipomaea batatas Sela bun 3. Kangkung Ipomaea aquatic Kangkung 4. Daun talas Colocasia esculenta Don tales 5. Ketela pohon Manihot utilissima Sela sawi/kesawi/sela prahu 6. Daun papaya Carica papaya Don gedang 7. Daun lamtoro Leucaena leucocephala Don lamtoro 8. Daun pisang Musa paradisiaceae Don biyu 9. Bayam Amaranthus caudatus Bayem 10. Eceng gondok Eichornia crassipes Eceng gondok 11. Daun dag-dag Pisonia alba Dag-dagse 12. Suweg Amorphophallus campanullatus Suweg 13. Ules-ules Amorphophallus muelleri Tiyih 14. Kerokot Portulaca oleracea Kesegseg 15. Genjer Limnocharis flava Biah-biah 16. Daun candung Don candung 17. Padang cekuh Padang cekuh 18. Daun labu Cucumbita maxima Don labu/waluh diberikan dengan menaruh di samping babi. Namun ada sebanyak 2% yang mencuci terlebih dahulu sebelum diberikan kepada babi. Alasannya supaya bersih, sehingga babinya tidak sakit. Pemberian dalam bentuk mempunyai kelebihan antara lain: lebih praktis, kandungan nutrisinya utuh, dan tidak perlu waktu dan biaya untuk merebus. Kekurangannya: sangat rentan terhadap penularan telur cacing, jika berlebihan ternak bisa keracunan akibat toksin yang dikandungnya, dan kecernaannya lebih rendah dibandingkan yang direbus. Pemberian dengan cara merebus dilakukan terhadap hijauan yang menurut peternak dianggap membahayakan kalau diberikan dalam bentuk. Pengetahuan tersebut mereka terima secara turun temurun, sehingga apa yang diwarisi itu akan diteruskan kembali kepada anak-anak mereka. Beberapa hijauan yang harus direbus diantaranya: daun talas, genjer, suweg, ules-ules, candung, dan daun papaya. Alasan utama mereka merebus hijauan adalah supaya babi tidak keracunan. Alasan tersebut sangat masuk akal karena banyak diantara tanaman tersebut yang mengandung toksin. Jika direbus maka kadar toksinnya akan berkurang, bahkan hilang. Merebus hijauan sebelum diberikan kepada ternak babi ternyata memang ada manfaatnya. Pertama, toksin yang dikandungnya menjadi tidak aktif bahkan hilang, sehingga babi aman mengkonsumsinya. Kedua, meningkatkan palatabilitas, lebih lahap dimakan oleh babi karena baunya lebih enak dan merangsang. Ketiga, kecernaannya meningkat. Hanya saja dengan merebus akan membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak. Kalau diperhitungkan secara ekonomi, hal ini akan menambah biaya produksi. Hanya saja peternak tradisional tidak memperhitungkan hal tersebut. Biasanya mereka merebus di atas tungku menggunakan kayu bakar. Hijaun yang direbus 28

Eksplorasi Hijuan Pakan Babi dan Cara Penggunaannya pada Peternakan Babi Tradisional di Provinsi Bali [K. Budaarsa, dkk.] Tabel 2. Jenis hijauan yang diberikan berdasarkan letak geografis/lokasi daerah dan cara pemberiannya No Lokasi daerah 1 Dataran rendah 2 Dataran tinggi Nama Tanaman Bahan Pencampur Cara Pemberian Ketela rambat - Diberikan utuh dalam bentuk Kangkung - Diberikan dalam bentuk Daun pisang - Diberikan dalam bentuk Ketela pohon Daun talas, dedak Direbus dan ditambah garam secukupnya Daun papaya Dedak, polar, Direbus bungkil kelapa Bayam Diberikan dalam bentuk Batang pisang Dedak padi, polar Diris-iris tipis, kemudian ditumbuk, bisa basa direbus Daun talas Pelepah dan daunnya dicincang, kemudian direbus dengan bahan lain Daun lamtoro - Diberikan dalam benuk Eceng gondok Dalam bentuk atau direbus Genjer Direbus Candung Direbus Ketela rambat - Diberikan dalam bentuk Batang pisang Dalam bentuk atau direbus Daun talas Direbus Daun pisang - Diberikan dalam bentuk Daun lamtoro - Dalam bentuk Bayam - Dalam bentuk Daun papaya Dedak padi, polar Direbus dan Daun dag-dagse Dedak padi, polar dalam bentuk dan atau direbus Suweg Dedak padi, polar Direbus dan Ules-ules Dedak padi, polar Direbus dan Kerokot Dedak padi, polar direbus dan sebagian besar peternak (60%) mencampur dengan, dedak padi atau polar. Batang pisang sebelum diberikan terlebih dahalu dikupas lapisan luar yang agak tua, kemudian di irisiris dengan ketebalan kurang lebih 0,5 cm. Irisan tersebut kemudian ditumbuk sampai agak halus, di campur dengan dedak padi atau polar, atau konsentrat lain yang dimilikinya. Semua peternak (100%) menambahkan garam dapur secukupnya pada campuran pakan yang direbus, sebelum diberikan kepada babi. Pemberian garam dimaksudkan untuk menambah nafsu makan, disamping sebagai sumber mineral Na dan Cl. Peternak tidak membeda-bedakan jenis yang diberikan. Sangat tergantung dari jenis pisang apa yang kebetulan panen saat itu. Batang pisang kandungan utamanya adalah air, serat kasar dan mineral Zn (Hartadi, dkk. 1990). Jenis tanaman di masing-masing daerah dan cara pemberiannya disajikan pada Tabel 2. Akan lebih lengkap datanya bila sampel-sampel hijauan tersebut dianalisa SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Kesimpulan dari penelitian ini adalah jenis hijauan yang diberikan sebagai pakan babi di Bali cukup banyak. Terdapat keragaman jenis hijauan pakan babi dan cara pemberiannya antara di dataran rendah dengan dataran tinggi di Bali. Batang pisang merupakan hijauan yang paling banyak digunakan untuk pakan babi pada peternakan babi tradisional, baik pada dataran rendah maupun dataran tinggi. Hijauan tersebut dapat diberikan dalam bentuk maupun direbus. Letak geografis (ketinggian tempat) mempengaruhi jenis hjauan yang tumbuh, sehingga menyebabkan ada perbedaan jenis hijauan yang diberikan untuk babi antara dataran rendah dan dataran tinggi. Saran Perlu diupayakan pelestarian dan pengembangan hijauan lokal yang menjadi pakan ternak babi, sehingga bisa menunjang peningkatan produktivitas usaha ternak babi di Bali yang berbasis bahan pakan lokal. Penelitian ilmiah perlu dilakukan untuk menggali potensi hijauan lokal untuk pakan babi, terutama dari kandungan nutrisinya. UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih di sampaikan kepada Wayan Budiarta dan Gede Mahendra, dan semua mahasiswa KKN Unud yang telah membantu mengumpulkan data lapangan. Demikian juga kepada anggota grup riset Kajian Nutrisi Ternak Nonruminansia yang telah memberikan dukungan semangat selama penelitian ini, kami ucapkan terimakasih. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Republik Indonesia 2011. Populasi Ternak 2010 Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. 2011. Bali Dalam Angka 2011. Budaarsa, K. 2002. Survei Kebutuhan Babi Guling di Kota Denpasar. Laporan Penelitian. DIK. Universitas Udayana. Budaarsa, K. 2006. Survei Kebutuhan Babi Guling di Kabupaten Badung. Laporan Penelitian. DIK. Universitas Udayana. Budaarsa, K. 1997. Kajian Penggunaan Rumput Laut dan Sekam Padi sebagai Sumber Serat dalam Ransum untuk Menurunkan Kadar Lemak Karkas dan Kolesterol Daging Babi. Disertasi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Budaarsa.K. 2011. Nama Nama Latin Hewan. Denpasar. Udayana University Press. Cahyanti, I.D., E. Anggarwulan dan W. Mudyantini. Tahun??? Pertumbuhan, Kadar Klorofil dan Nitrogen Total Gulma Krokot (Portulaca oleracea Linn.) pada Pem- 29

pastura Volume 4 Nomor 1 Tahun 2014 ISSN 2088-818X berian Ekstrak Anting-anting (Acalypha indica.linn.). BioSMART Vol. 7.1. 27-31. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar RISKEDAS Indosesia Tahun 2007, DepKes, Jakarta. Hartadi,H., S Reksohadiprodjo dan A. D. Tillman. 1990. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Yogyakarta, Gajah Mada University Press. Mansyur, U. Hidayat Tanuwiria dan Deny Rusmana. 2006. Eksplorasi Hijauan Pakan Kuda dan Kandungan Nutrisinya. Universitas Padjadjaran Bandung. 30