LAPORAN AKHIR PENELITIAN
|
|
|
- Glenna Sasmita
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 LAPORAN AKHIR PENELITIAN HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI Bidang Unggulan: Ketahanan Pangan Kode/Nama Bidang Ilmu: 213 Nutrisi dan Makanan Ternak EKSPLORASI RAGAM KOMPOSISI PAKAN DAN KANDUNGAN NUTRISI RANSUM TRADISIONAL BABI BALI Tim Peneliti 1. Prof. Dr. Ir. Komang Budaarsa, MS (Ketua) 2. Ir. Antonius Wayan Puger, MS (Anggota) Dibiayai oleh: DIPA PNBP Universitas Udayana Sesuai dengan Surat Perjanjian Penugasan Pelaksana Penelitian Nomor: 561/UN /PNL/2015 tanggal 25 Mei 2015 PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS UDAYANA Tahun 2015
2 EKSPLORASI RAGAM KOMPOSISI PAKAN DAN KANDUNGAN NUTRISI RANSUM TRADISIONAL BABI BALI RINGKASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ragam bahan penyusun ransum tradisional babi bali dan sekaligus mengetahui kandungan nutrisinya. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan mulai bulan Juli sampai September Data ini sangat diperlukan untuk menjelaskan mengapa babi bali sampai saat ini masih bisa bertahan di beberapa daerah di Bali. Penelitian menggunakan metode survei dan penentuan responden menggunakan teknik purposive sampling atau juggmental sampling dengan pertimbangan populasi babi bali di Bali tidak merata, hanya ada di beberapa kabupaten. Kabupaten yang dipilih adalah Klungkung, Karangasem dan Buleleng. Pemilihan kabupaten tersebut berdasarkan populasi babi bali di Kabupaten tersebut paling tinggi dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Dari masing masing kabupaten diambil 30 peternak sebagai responden. Selanjutnya diambil 10 sampel ransum yang komposisi bahannya paling dominan untuk dianalisa proksimat di laboratorium. Data yang diperoleh analisis secara deskriptif sehingga mampu memberi gambaran yang akurat tentang ragam bahan penyusun serta kandungan nutrisi ransum tradisional babi bali. Luaran penelitian ini adalah publikasi ilmiah tetang ragam dan komopsisi ransum tradisional babi bali dan menjadi bagian dari buku tentang babi bali yang sedang disusun. Kata kunci: komposisi pakan, kandungan nutrisi dan ransum tradisional BAB I. PENDAHULUAN Babi bali salah satu komoditas ternak yang dipelihara sejak lama oleh masyarakat Bali, khususnya yang beragama Hindu. Dilihat dari keragaman kekayaan fauna Indonesia, babi bali merupakan plasma nutfah yang harus dilestarikan, oleh karena itu berbagai upaya untuk memepertahankan dan mengembangkan babi bali terus dilakukan. Keberadaan babi bali jg angan sampai mengalami nasib seperti jalak bali atau harimau bali yang ditengarai punah. Secara genetik babi bali pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan dengan babi ras impor. Diperlukan waktu 12 bulan untuk mencapai berat badan 80 kg, sedangkan babi ras impor hanya 5-6 bulan. Tetapi kelebihannya, babi bali adalah babi yang tahan menderita, lebih hemat terhadap air, masih mampu bertahan hidup walau diberi makan seadanya. Sehingga sangat cocok dipelihara di daerah yang kering. Selain itu, babi bali 1
3 sangat cocok dipelihara oleh para ibu rumah tangga di pedesaan di Bali sebagai celengan atau tatakan banyu, karena pemeliharaannya bisa dilakukan secara sambilan dengan ransum tradisional sesuai dengan kemampuan peternak. Ramsum tradisional babi bali di Bali sangat beragam. Hal ini sangat tergantung dari daerah dimana babi tersebut dipelihara. Informasi mengenai ragam ransum dan kandungan nutrisinya pakan babi bali yang dipelihara secara tradisional di Bali sampai saat ini belum ada. Padahal peternak babi bali khususnya di pedesaan di Bali, semua menggunakan ransum tradisional. Hal ini mendorong dilakukannya penelitian ini, untuk memperkaya kasanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam pengembanan peternakan babi bali yang sudah semakin sedikit populasinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ragam bahan penyusun ransum tradisional babi bali dan sekaligus mengetahui kandungan nutrisinya. Data ini sangat diperlukan untuk menjelaskan mengapa babi bali sampai saat ini masih bisa bertahan di beberapa daerah di Bali. Penelitian ini dikerjakan oleh tim yang mempunyai minat tinggi dalam penelitian ternak nonruminansia termasuk ternak lokal diantaranya babi bali. Tim mempunyai kapasitas dan kompetensi yang sangat memadai untuk mengerjakan penelitian ini berdasarkan pengalaman penelitian sebelumnya. Tim meyakini bahwa babi bali punya potensi untuk dikembangkan dan harus dilestarikan. Sampai saat ini kenyataan masih ada kantong-kantong lokasi yang bertahan memelihara babi bali dengan alasan bisa bertahan hidup dengan makanan seadanya, serta lebih tahan terhadap serangan berbagai penyakit. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah mengetahui jenis-jenis bahan yang digunakan untuk membuat ransum tradisional oleh peternak yang memelihara babi bali, dan susunan nutrisi yang terkandung di dalamnya. Dari informasi tersebut nantinya dapat dijadikan dasar untuk membuat ransum babi bali yang sesuai dengan kebutuhannya, sehingga dapat tumbuh sesuai dengan potensi genetiknya. Ha ini mengacu pada Roadmap Keilmuan Menuju Keunggulan Program Studi Peternakan Fakultas Peternakan ( ). Luaran penelitian ini adalah publikasi ilmiah tetang ragam dan komopsisi ransum tradisional babi bali dan menjadi bagian dari buku tentang babi bali yang sedang disusun. 2
4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA Babi bali di Bali tidak saja dipelihara sebagai usaha sambilan, tetapi juga memiliki status sosial-budaya yang sangat penting sekali. Kegiatan upacara keagamaan dan untuk bahan upakara banyak menggunakan daging babi. Selain untuk memenuhi kebutuhan untuk upacara agama, daging babi juga digunakan dalam berbagai aktivitas sosial. Di Desa Tenganan, Sembiran, Taro (desa Bali Mula) penggunaan babi bali dalam upacara keagamaan masih dipertahankan. Babi bali sangat cocok dipelihara oleh para ibu rumah tangga di Bali, khususnya di pedesaan sebagai celengan atau tatakan banyu karena dengan pemberian pakan seadanya dan pemanfaatan limbah dapur (banyu dan sebagainya) babi bali telah mampu memberikan tambahan penghasilan (Budaarsa, 2014). Babi bali tahan hidup dengan sistem pemeliharaan yang kurang bagus, biasanya diikat dengan tali, dipatok di belakang rumah diberi makan seadanya, hanya dua kali sehari. Sering juga diberi hijauan segar antara lain: daun ketela rambat, kangkung, bayam, daun lamtoro dan lain-lain. Oleh karena itu untuk peternak miskin di pedesaan sangat tepat memelihara babi bali, karena tidak perlu membeli pakan komersial buatan pabrik yang sangat mahal (Budaarsa, 2012). Di Bali sebenarnya terdapat dua tipe babi Bali asli yaitu babi Bali yang berada di Timur Pulau Bali yang diperkirakan berasal dari Sus vitatus. Babi ini berwarna hitam dan bulunya agak kasar. Punggungnya sedikit melengkung ke bawah namun tidak sampai menyentuh tanah dan cungurnya relatif panjang. Tipe yang kedua terdapat di Utara, Tengah, Barat dan Selatan Pulau Bali. Babi ini punggungnya sangat melengkung ke bawah (lordosis), perutnya besar dan sering menyentuh tanah, apalagi dalam keadaan bunting atau kegemukan. Warnanya hitam, kecuali di garis perut bagian bawah dan keempat kakinya dan kadang-kadang didahinya berwarna putih. Kepala pendek sekitar cm, telinga tegak dan pendek, yakni sekitar cm. babi inilah yang biasa disebut babi bali. Tinggi pundaknya adalah sekitar cm, panjang tubuh sekitar 90 cm, lingkar dada cm dan panjang ekor cm. Puting susu induknya 12-14cm. Ratarata banyak anaknya adalah 12 ekor perkelahiran (Sihombing, 2006). Informasi mengenai babi bali sangat terbatas. Belum ada publikasi ilmiah yang bisa dipakai acuan. Berdasarkan pengamatan lapangan, babi bali lebih banyak dipelihara 3
5 di daerah kering, diantaranya Bali Utara, Karangasem, Nusa Penida. Alasannya karena memerlukan air yang relatif sedikit dibandingkan babi ras. Disamping itu bisa diberikan makanan seadanya, bahkan hanya diberikan hijauan saja yang di Bali disebut dagdag. Dilaporkan oleh mahasiswa KKN Unud tahun 2011, di Desa Tianyar Barat, khususnya Banjar Munti Gunung masih banyak peternak yang memelihara babi bali. Sebenarnya babi bali mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai peternakan rakyat, karena sudah menyatu dan dianggap tabungan bagi para ibu-ibu di pedesaan. Kenyataan lain, babi bali masih banyak digunakan untuk bahan baku babi guling yang dijual di rumah makan (Budaarsa, 2002), bahkan di daerah-daerah tertentu di Karangasem, babi bali masih diutamakan sebagai bahan baku babi guling untuk persembahan (Budaarsa, 2012). Peternak babi yang memelihara babi secara tradisional di Bali 95% memberikan batang pisang (Budaarsa, 2013). Batang pisang sangat dominan digunakan baik di dataran rendah, maupun di dataran tinggi karena tanaman pisang banyak tumbuh di kedua daerah tersebut. Batang pisang yang digunakan adalah batang pisang yang sudah dipanen. Peternak tidak memilih jenis pisang tertentu, yang penting pohon pisang tersebut sudah dipanen buahnya. Pohon pisang ada di mana mana, dan panennya tidak mengenal musim. Oleh karena itu sangat mudah didapat tanpa harus membeli. Hijauan lain yang diberikan antara lain ketela rambat dan kangkung, termasuk untuk babi bali. Melihat potensi yang demikian bagus perlu diteliti bagaimana ragam bahan penyusun ransumm tradisional pada babi bali mengingat babi bali pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan dengan babi ras yang ada. Selain itu, saat ini babi bali masih menjadi andalan petani, khususnya KK miskin di daerah kritis/lahan kering yang secara ekonomi tidak mampu membeli pakan komersial. BAB.III. METODE PENELITIAN Penenlitian ini menggunakan metode survei dan penentuan responden menggunakan teknik purposive sampling atau juggmental sampling dengan pertimbangan populasi babi bali di Bali tidak merata, hanya ada di beberapa kabupaten. 4
6 Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan mulai bulan Juli sampai September Kabupaten yang dipilih adalah Klungkung, Karangasem dan Buleleng. Pemilihan kabupaten tersebut berdasarkan populasi babi bali di Kabupaten tersebut paling tinggi dibandingkan dengan kabupaten lainnya (Gambar 1). Dari masing masing kabupaten diambil 30 peternak sebagai responden. Selanjutnya diambil 10 sampel ransum yang komposisi bahannya paling dominan untuk dianalisa proksimat di laboratorium. Data yang diperoleh analisis secara deskriptif sehingga mampu memberi gambaran yang akurat tentang ragam bahan penyusun ransum serta kandungan nutrisi ransum tradisional babi bali. Penelitian ini sangat mendukung RIP Unud dan Roadmap Penelitian Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan dan Roadmap Grup Riset Kajian Nutrisi Ternak Nonruminansia. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga kabupaten seperti Gambar 1 Buleleng= ekor Karangasem = ekor Klungkung = ekor Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel di tiga kabupaten yang populasi babi bali paling tinggi 5
7 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem Pemeliharaan Sistem pemeliharaan babi bali sebagian besar menggunakan sistem pemeliharaan tradisional yakni dengan cara mengikat babi tersebut. Babi diikat dengan tali plastik pada bagian leher. Untuk menghindari luka, tali yang melingkar pada bagian leher di bungkus dengan selang plastik. Panjang tali pengikat antara 1, 5-2m. Beberapa peternak di daerah Gerokgak Kabupaten Buleleng, memelihara dengan cara membuat kandang, tetapi babinya tetap diikat. Dinding kandang terbuat dari batako, atap dari asbes, namun lantainya tidak diplester dengan semen. Jadi babi tetap dapat ngelumbih (memcongkel-congkel tanah dengan cungurnya). Tempat pakan ditaruh begitu saja disamping babi, dengan kondisi tanah yang agak becek dan berlumpur. Tempat makan ada yang menggunakan sebagian besar menggunakan panci dan ember bekas. Namun ada juga yang membuat tempat pakan dari beton, dirancang dan dicetak khusus.(gambar 1) Tujuannya agar lebih kuat, dan tidak mudah di gerak-gerak-gerakan oleh babi. Posisinya tidak gampang berpindah, berbeda dengan tempat pakan dari ember bekas, sering dipermainkan oleh babi. Sistem pemeliharaan babi bali di ketiga daerah sampel semuanya dengan sitem tradisional yakni mengikat dengan tali, kemudian diikatkan pada patok atau pohon (Gambar 2 ). Dengan demikian babi akan selalu kehujanan bila musim hujan, namun tidak kepanasan pada musim panas karena diikatkan di bawah pohon yang rindang. Sangat jarang yang membuat kandang beratap. Kalau pun ada, atap dibuat seadanya dari sisa-sisa bangunan atau terpal. Di daerah Gerokgak ada yang memmelihara dalam kandang sederhana, tetapi babi tetap masih diikat. Alasannya agar babi lebih mudah datangani,jika talinya putus babi tidak kemana-mana. Dinding kandang ada yang terbuat dari batako, ada juga dari kayu atau bambu. Tempat makan ada yang menggunakan ember atau jeriken bekas. Ada juga yang 6
8 menggunakan ban mobil bekas yang dibelah menjadi dua. Namun ada juga peternak yang secara khusus membuat tempat pakan dari cetakan beton. Tempat pakan dari beton ini sangat bagus, karena tidak mudah digeser-geser atau ditumpahkan oleh babi. Kelemahan babi yang dipelihara dengan cara mengikat adalah babi selalu kotor, karena tanah selalu becek. Bahakan banyak yang berlumpur, dan babi akan berkubang disana. Babi dalam kondisi demikian rawan terinfeksi cacing dan parasit lainnya. Selain itu babi yang kakinya terikat sangat rawan patah kaki, terutama bila babi terkejut atau diganggu hewan lain. Babi bali yang dipelihara secara tradisional diberi pakan seadanya. Jenis pakan yang diberikan sangat tergantung dari apa yang dimilikimolehpeternak saat itu. Namun demikian hampir disemua lokasi sampel memberikan dedak padi atau polar sebagai pakan utama. Demikian juga batang pisang atau gedebong sudah menjadi makanan pokok babi bali. Ada juga yang memberikan bungkil kelapa (usam) jika mereka sedang membuat minyak kelapa. Cara pemberian pakan ada yang mentah, ada juga yang diebus. Di Nusa penida sebagian besar peternak merebus dulu makanan sebelumdiberikan kepada babinya. Gambar 2. Sistem pemeliharan Kaung (babi jatan ) secara tradisional dengan tempat pakan dari cetakan beton. 7
9 Ragam Komposisi Jenis Pakan Komposisi pakan babi bali antara tiga lokasi pengambilan sampel secara umum tidak banyak berbeda. Hal ini mungkin karena ketiga daerah tersebut mempunyai karakter yang sama, yaitu sama-sama daerah kering. Konsentrat yang diberikan antara lain bungkil kelapa, dedak padi, nasi aking (sengauk), umbi singkong dan polar. Di Nusa Penida Klungkung lebih banyak menggunakan bungkil kelapa dan dedak padi. Bungkil kelapa dihasilkan dari proses pembuatan minyak kelapa secara tradisional. Sebagian besar peternak di Desa Penida, Nusa Penida memuat minyak kelapa tradisional. Daerah tersebut merupakan daerah dataran rendah, di tepi pantai banyak terdapat pohon kelapa. Limbah dari pembuatan minyak kelapa yang disebut usam hampir setiap hari mereka hasilkan, dan itulah yang digunakan untuk pakan babi, dicampur dengan bahan lain (Tabel 1).. Selain dedak padi, polar dan usam peternak juga menggunakan nasi aking (entip), untu pakan babi. Nasi aking tersebut bisa dihasilkan sendiri oleh peternak, bisa juga membeli dengan harga Rp per kg. Bahan konsentrat lain adalah ubi kayu atau singkong. Sebagian besar peternak memnanam ubi kayu di kebunnya. Setelah waktnya panen, ubi kayu tersebut selain digunakan untuk makanan manusia, juga digunakan untuk pakan babi. Hanya saja yang untuk pakan babi dipilih yang kualitasnya kurang bagus. Limbah ubi kayu saat diproses menjadi makanan manusia juga dijadikan pakan babi. Tabel 1. Ragam jenis pakan di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung Pakan konsentrat Hijauan Bahan lain Keterangan Bungkil kelapa Daun lamtoro (Leucaena leucocephala) Banyu/limbah dapur Dedak padi Dagdag (Pisonia alba) Peternak Umbi singkong Nasi aking (sengauk). Daun talas (Colocasia esculenta) Daun pisang (Musa paradisiaca) Daun pepaya (Carica papaya) Roroban (Limbah pembuatan membuat minyak kelapa) memasak semua bahan pakan sebelum diberikan pada babi 8
10 Hijauan yang digunakan untuk pakan babi juga sangat tergantung dari apa yang ada ditanam di kebun para peternak. Di Nusa Penida rata-rata peternak menanam pohon pisang dan talas. Batang pisang (gedebong) yang dipakai adalah pohon yang sudah dipanen. Sebelumnya diiris-iris tipis, kemudian ditumbuk halus. Demikian juga pelepah dan daun talas dipotong-potong kecil, kemudian dicampur dengan pohon pisang, dedak ataupun bungkil kelapa di tambah air secukupnya kemudian direbus. Kalau dilihat komposisi hijauan bahan pakan yang diberikan, di daerah Nusa Penida lebih banyak memberikan daun talas dan batang pisang. Di Desa Penida Nusa Penida peternak rata-rata mempunyai kebun talas (Gambar 3.). Pohon talas ditanam tidak jauh dari rumah atau tempat mengikat babinya. Umbi talas yang tidka dikonsumsi juga dijadikan pakan babi, direbus dengan bahan lain. Gambar 3. Pohon talas tumpangsari dengan pohon pisang menjadi bahan pakan utama setelah direbus Bahan lain yang digunakan adalah limbah dapur atau banyu air cucian beras. Limbah dapur dicampur dengan bahan lain, sekaligus sebagai pelarut bahan pakan yang lain. Di Nusa Penida semua peternak merebus pakan babinya. Hal ini memberi keuntungan karena bisa meningkatkan kecernaan ransum, mencegah adanya toksin serta agen penyakit lainnya. Terutama daun talas yang bergetah, akan lebih aman kalau dimasak. 9
11 Di kecamatan Kubu Karangasem peternak tidak ada yang memasak makanan. Alasannya menambah biaya dan tenaga, peternak tidak mau repot. Komposisi bahan pakan yang diberikan di Kecamatan Kubu Karangasem disajikan pada Tabel2. Selain konsentrat, peternak juga memberikan hijauan, diantaranya daun bentenu (Melochia arborea), daun lamtoro (Leucaena leucocephala) dan daun ketela rambat (Leucaena leucocephala). Hijauan tersebut semua dalam bentuk segar. Diantara hijauan yang diberikan ketela rambat diberikan hampir setiap hari. Peternak membeli di pasar terdekat, bahkan sudah ada yang menjual keliling desa dalam bentuk yang sudah terikat. Satu ikat yang beratnya sekitar 15 kg harganya Rp Jumlah pakan yang diberikan 3 kg per hari, ditambah daun ketela rambat sekitar 4 kg per ekor utuk babi induk dan pejantan. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, pagi sekitar pukul 10,.00 dan sore pukul wita. Tabel 2. Ragam komposisi pakan di Kecamatan Kubu, Karangasem Pakan konsentrat Hijauan Bahan lain Keterangan Polar Dedak padi Nasi aking (Sengauk) Bungkil kelapa Daun bentenu (Melochia arborea) Daun lamtoro (Leucaena leucocephala) Daun ketela rambat (Ipommoea batatas L) Banyu/limbah daput Campuran pakan ini tidak dimasak Diberikan dalam bentuk segar Di kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng sebagaian besar peternak babi menggunakan polar sebagai pakan konsentrat. Bagi mereka yang punya ketela pohon juga menggunakan umbinya untuk pakan babi. Jika mereka sedang membuat minyak kelapa tradisional, maka usamnya digunakan untuk pakan babi. Jika pakan kosentrat hanya polar saja, mereka umumnya tidak perlu memasak. Sebagian peternak ada yang memasak pakan babi, terutama yang dicampur dengan bahan lain. Pada Tabel 3 disajikan hijauan yang diberikan antara lain: Daun lamtoro (Leucaena leucocephala), Dagdag se (Pisonia alba), Batang pisang (Musa paradisiaca), Ketela 10
12 rambat (Ipomoea batatas), Kesegseg/krokot (Portulaca oleracea L.), Suweg (Amorphophallus). Kecuali daun suweg semua hijauan diberikan dalam bentuk segar. Daun suweg bersama batangnya diris-iris terlebih dahulu, kemudian direbus bersama bahan lain. Tidak hanya daunnya, umbi suweg yang tidak dikonsumsi oleh manusia, juga dijadikan paka babi. Tabel 3. Ragam komposisi pakan di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng Pakan konsentrat Hijauan Bahan lain Keterangan Polar Dedak padi Bungkil kelapa Daun lamtoro (Leucaena leucocephala) Dagdag se (Pisonia alba) Batang pisang (Musa paradisiaca) Ketela rambat (Ipomoea batatas) Kesegseg/krokot (Portulaca oleracea L.) Suweg (Amorphophallus) Limbah dapur (banyu) Roroban (Limbah pembuatan membuat minyak kelapa) Sebagian ada peternak yang merebus pakan sebelum diberikan kepada babi Jenis hijauan yang diberikan sangat tergantung kepada musim. Pada musim hujan lebih banyak jenis hijauan yang bisa tumbuh, maka lebih banyak pula yang dijadikan pakan babi. Diantaranya: kangkung, bayam, kerokot, genjer-genjer dan talas air. Sebaliknya pada musim kemarau sangat terbatas hijauan yang bisa tumbuh, maka terbatas pula hijauan yang diberikan. Batang pisang adalah salah satu pohon yang bertahan pada musim kemarau. Batang pisang diberikan hampir oleh semua peternak babi bali, baik dinusa Penida, Kubu maupun Gerokgak, Buleleng. Mengingat ragam hijauan sangat dipengaruhi oleh musim, maka dilihat dari kombinasi bahan pakan dapat diduga bahwa kombinasi pakan pada musim hujan memberikan zat nutrisi yang lebih baik dibandingkan pada musim kemarau. Berdasarkan asumsi tersebut dikaitkan dengan pertumbuhan babi, maka pada musim hujan pertumbuhan babi bali akan lebih bagus dibandingkan pada musim kering. Pada Tabel 4 disajikan beberpa kombinasi bahan yang diberikan oleh peternak. 11
13 Tabel 4. Beberapa kombinasi bahan pakan babi bali Kombinasi bahan Cara Keterangan pemberian Dedak/polar + daun ketela rambat kering Pemberiannya terpisah Dedak + batang pisang+ daun dagdag+banyu dimasak Polar + batang pisang + daun ketela + banyu dimasak Polar + batang pisang + daun dagdag + banyu dimasak Dedak padi + batang pisang + daun talas+ limbah dapur dimasak Kalau berdasarkan kombinasi pakan pada Tabel 4, jelas terlihat bahwa semakin banyak kombinasi bahan maka pasti semakin baik kandungan nutrisinya. Memasak atau tidak memasak pakan sangat tergantung dari bahan yang diberikan. Di Nusa Penida semua peternak babi memasak pakan karena menggunakan daun talas atau daun pepaya yang ada getahnya. Mereka tidak mempertimbangkan efisiensi karena mereka menggunakan kayu bakar yang diambil dari kebun sekitar. Berbeda dengan peternak babi di Kubu Karangasem, mereka berpikir lebih praktis. Dedak atau polar diberikan dalambentuk kering pada pagi maupun sore hari. Hanya didampingi air minum, kemudian siangnya diberi daun ketela rambat. Jadi mereka tidak merebus pakan. Alasannya kurang efisien, tidak ada waktu untuk merebus pakan. BAB V. KESIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan hasil sementara dapat disimpulkan bahwa sebagian besar peternak babi bali memberikan dedak padi dan batang pisang sebagai pakan utama. Cara pemberian pakan ada yang dimasak dan tidak dimasak. Pakan tambahan yang diberikan beupa limbah dapur. Peternak memberi pakan dua kali sehari. 12
14 Saran. Sebaiknya peternak memberi atap peneduh untuk babinya sehingga tidak kepanasan saat musim kemarau dan kehujanan saat musim penghujan. Jika pakan yang diberikan dari bahan-bahan yang mengandung getah diantaranya daun talas dan pepaya, sebaiknya direbus terlebih dahulu. DAFTAR PUSTAKA Bali dalam Angka Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. Penerbit BPS Provinsi Bali. Budaarsa. K Survei Kebutuhan Babi Guling di Kota Denpasar. Laporan Penelitian. DIK. Universitas Udayana. Budaarsa. K Survei Kebutuhan Babi Guling di Kabupaten Badung. Laporan Penelitian. DIK. Universitas Udayana. Budaarsa. K Kajian Penggunaan Rumput Laut dan Sekam Padi sebagai Sumber Serat dalam Ransum untuk Menurunkan Kadar Lemak Karkas dan Kolesterol Daging Babi. Disertasi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Budaarsa.K Nama Nama Latin Hewan. Denpasar. Udayana University Press. Budaarsa. K Babi Guling Bali dari Beternak Kuliner hingga Sesaji. Penerbit Buku Arti, Denpasar. Budaarsa. K. N. Tirta. A, K. Mangku Budiasa dan P.A. Astawa Hijuan pakan babi dan cara penggunaannya pada peternakan babi tradisonal di provinsi bali. Disampaikan pada Seminar Nasional II Himpunan Ilmuwan Tumbuhan Pakan Indonesia (HIPTI) di Denpasar Juni Budaarsa.K dan K. Mangku Budiasa Jenis hewan upakara dan upaya pelestariannya. Makalah disampaikan pada seminar hewan upakara Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Denpasar 29 Oktober Budaarsa. K Potensi ternak babi dalam menyumbangkan daging di Bali. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Ternak Babi di Fakultas Peternakan Universitas Udayana, 5 Agustus Hartadi,H., S Reksohadiprodjo dan A. D. Tillman Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Yogyakarta, Gajah Mada University Press. 13
15 Hasrida, Pengaruh Dosis Urea dalam Amoniasi Batang Pisang Terhadap Degradasi Bahan Kering, Bahan Organik dan Protein Kasar Secara In-Vitro. Skripsi.Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang. Mansyur, U. Hidayat Tanuwiria dan Deny Rusmana Eksplorasi Hijauan Pakan Kuda dan Kandungan Nutrisinya. Universitas Padjadjaran Bandung. Sihombing, D.T.H Ilmu Ternak Babi. Yoyakarta, Gajahmada Univesity Press. Sugiono Statistik untuk Penelitian, Alfabeta Bandung. 14
EKSPLORASI KOMPOSISI PAKAN TRADISIONAL BABI BALI
Eksplorasi Komposisi Pakan Tradisional Babi Bali EKSPLORASI KOMPOSISI PAKAN TRADISIONAL BABI BALI BUDAARSA K., A. W. PUGER DAN I.M. SUASTA Fakultas Peternakan, Universitas Udayana e-mail: [email protected]
EKSPLORASI RAGAM KOMPOSISI PAKAN TRADISIONAL BABI BALI
EKSPLORASI RAGAM KOMPOSISI PAKAN TRADISIONAL BABI BALI A.W. Puger dan K. Budaarsa Fakultas Peternakan, Universitas Udayana [email protected]., HP.082146499345 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk
KARAKTERISTIK DAN MORFOMETERIK BABI BALI
KARAKTERISTIK DAN MORFOMETERIK BABI BALI Sudiastra W., K. Budaarsa dan A.W. Puger Faultas Peternakan Universitas Udayana e-mail: [email protected] RINGKASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
STUDI RAGAM EKSTERIOR DAN KARAKTERISTIK REPRODUKSI BABI BALI
Studi Ragam Eksterior dan Karakteristik Reproduksi Bali STUDI RAGAM EKSTERIOR DAN KARAKTERISTIK REPRODUKSI BABI BALI SUDIASTRA, I W. DAN K. BUDAARSA Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar,
POTENSI BABI BALI DALAM PENYEDIAAN DAGING DI BALI
POTENSI BABI BALI DALAM PENYEDIAAN DAGING DI BALI Oleh: Komang Budaarsa Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Denpasar Bali Email: [email protected], Hp: 08123629838 Pendahuluan Bali boleh berbangga,
pastura Vol. 4 No. 1 : ISSN : X
pastura Vol. 4 No. 1 : 26-30 ISSN : 2088-818X EKSPLORASI HIJUAN PAKAN BABI DAN CARA PENGGUNAANNYA PADA PETERNAKAN BABI TRADISIONAL DI PROVINSI BALI K. Budaarsa, N. Tirta. A, K. Mangku Budiasa dan P.A.
NI Luh Gde Sumardani
NI Luh Gde Sumardani Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK-2016), Kuta, Bali, INDONESIA, 15-16 Desember 2016 xxxxx PERFORMANS REPRODUKSI BABI BALI JANTAN DI PROVINSI BALI SEBAGAI PLASMA NUTFAH
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Organisasi Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama dalam suatu pembagian kerja untuk mencapai tujuan bersama (Moekijat, 1990). Fungsi struktur
STUDI KARAKTERISTIK KARKAS BABI BALI ASLI DAN BABI LANDRACE YANG DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKU BABI GULING
STUDI KARAKTERISTIK KARKAS BABI BALI ASLI DAN BABI LANDRACE YANG DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN BAKU BABI GULING Sriyani NLP, Tirta Ariana Fakultas Peternakan Universitas Udayana [email protected] ABSTRAK
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama 13 minggu, pada 12 Mei hingga 11 Agustus 2012
20 III. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 13 minggu, pada 12 Mei hingga 11 Agustus 2012 yang bertempat di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus.
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan, pada Agustus 2012 hingga September
16 III. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan, pada Agustus 2012 hingga September 2012 yang bertempat di Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Analisis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Boer Jawa (Borja) Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan antara kambing Afrika lokal tipe kaki panjang dengan kambing yang berasal
I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan konsumsi daging sapi penduduk Indonesia cenderung terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan kesadaran masyarakat akan
1. Jenis-jenis Sapi Potong. Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :
BUDIDAYA SAPI POTONG I. Pendahuluan. Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar
METODE. Materi 10,76 12,09 3,19 20,90 53,16
METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Nutrisi Ternak Daging dan Kerja Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Pemeliharaan ternak percobaan dilakukan dari bulan
PENDAHULUAN. yaitu ekor menjadi ekor (BPS, 2016). Peningkatan
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ternak Domba Garut merupakan ternak ruminansia kecil yang banyak dipelihara oleh masyarakat, karena pemeliharaannya yang tidak begitu sulit, dan sudah turun temurun dipelihara
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Industri Pakan, Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan dan Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi
MATERI DAN METODE. Waktu dan Lokasi. Materi
MATERI DAN METODE Waktu dan Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di Kandang B, Laboratorium Biologi Hewan, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Laboratorium Terpadu Departemen Ilmu Nutrisi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Percobaan Kandang Bahan dan Alat Prosedur Persiapan Bahan Pakan
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2011. Pemeliharaan domba dilakukan di kandang percobaan Laboratorium Ternak Ruminansia Kecil sedangkan
POTENSI TERNAK BABI DALAM MENYUMBANGKAN DAGING DI BALI*
POTENSI TERNAK BABI DALAM MENYUMBANGKAN DAGING DI BALI* Komang Budaarsa Fakultas Peternakan Universitas Udayana HP.08123629838, e-mail: [email protected] ABSTRAK Penduduk pulau Bali mayoritas (83,46%)
MATERI DAN METODE. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di usaha peternakan rakyat yang terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pelaksanaan penelitian
Budidaya dan Pakan Ayam Buras. Oleh : Supriadi Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Riau.
Budidaya dan Pakan Ayam Buras Oleh : Supriadi Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Riau. PENDAHULUAN Ayam kampung atau ayam bukan ras (BURAS) sudah banyak dipelihara masyarakat khususnya masyarakat
MATERI DAN METODE. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Lokasi Pembuatan biskuit limbah tanaman jagung dan rumput lapang dilakukan di Laboratorium Industri Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan,
II KAJIAN KEPUSTAKAAN. karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan cepat dan kualitas daging cukup
II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Sapi Potong Sapi potong adalah jenis sapi yang khusus dipelihara untuk digemukkan karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan cepat dan kualitas daging cukup baik. Sapi
MATERI DAN METODE. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan dari bulan Juli 2010 hingga April 2011 di peternakan sapi rakyat Desa Tanjung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, dan di Departemen Ilmu Nutrisi
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan produksi protein hewani untuk masyarakat Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh peningkatan penduduk, maupun tingkat kesejahteraan
MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penyusunan ransum bertempat di Laboratorium Industri Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Pembuatan pakan bertempat di Indofeed. Pemeliharaan kelinci dilakukan
PENGANTAR. Latar Belakang. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi yang sangat besar
PENGANTAR Latar Belakang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan sektor peternakan dalam rangka mendukung upaya pemerintah dalam program pemenuhan kebutuhan
ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING. seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan, dan tenaga
VI. ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING A. Ketersediaan Input Dalam mengusahakan ternak sapi ada beberapa input yang harus dipenuhi seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan,
EFEK PENGGUNAAN KONSENTRAT PABRIKAN DAN BUATAN SENDIRI DALAM RANSUM BABI STARTER TERHADAP EFISIENSI PENGGUNAAN RANSUM. S.N.
EFEK PENGGUNAAN KONSENTRAT PABRIKAN DAN BUATAN SENDIRI DALAM RANSUM BABI STARTER TERHADAP EFISIENSI PENGGUNAAN RANSUM S.N. Rumerung* Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi Manado, 95115 ABSTRAK
MATERI DAN METODE. a b c Gambar 2. Jenis Lantai Kandang Kelinci a) Alas Kandang Bambu; b) Alas Kandang Sekam; c) Alas Kandang Kawat
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pelaksanaan penelitian dimulai
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Unit Pendidikan, Penelitian dan Peternakan Jonggol (UP3J) merupakan areal peternakan domba milik Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terletak di desa Singasari
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kandang Peternakan Koperasi PT Gunung
22 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di Kandang Peternakan Koperasi PT Gunung Madu Plantation Kecamatan Terusan Nunyai Kabupaten Lampung Tengah pada
MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Peternakan Domba CV. Mitra Tani Farm, Desa Tegal Waru RT 04 RW 05, Ciampea-Bogor. Waktu penelitian dimulai pada tanggal 24 Agustus
TEKNIK PENGOLAHAN UMB (Urea Molases Blok) UNTUK TERNAK RUMINANSIA Catur Prasetiyono LOKA PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KEPRI
TEKNIK PENGOLAHAN UMB (Urea Molases Blok) UNTUK TERNAK RUMINANSIA Catur Prasetiyono LOKA PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KEPRI I. Pendahuluan Ternak ruminansia diklasifikasikan sebagai hewan herbivora karena
BAB III METODE PENELITIAN. (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan dimana masing masing ulangan terdiri dari
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian tentang Pengaruh Pemberian Kombinasi Tepung Limbah Udang dan Tepung Kayambang (Salvinia molesta) Terfermentasi Terhadap Produktifitas Itik
BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian kecernaan protein dan retensi nitrogen pakan komplit dengan
16 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian kecernaan protein dan retensi nitrogen pakan komplit dengan kadar protein dan energi berbeda pada kambing Peranakan Etawa bunting dilaksanakan pada bulan Mei sampai
I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging sapi setiap tahun selalu meningkat, sementara itu pemenuhan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan daging sapi setiap tahun selalu meningkat, sementara itu pemenuhan kebutuhan daging sapi lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan daging sapi. Ternak sapi,
V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING. responden memberikan gambaran secara umum tentang keadaan dan latar
V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING A. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah peternak yang mengusahakan anakan ternak sapi dengan jumlah kepemilikan sapi betina minimal 2 ekor.
TEKNIS BUDIDAYA SAPI POTONG
TEKNIS BUDIDAYA SAPI POTONG Oleh : Ir. BERTI PELATIHAN PETANI DAN PELAKU AGRIBISNIS BADAN PELAKSANA PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN KABUPATEN BONE TA. 2014 1. Sapi Bali 2. Sapi Madura 3.
METODE PENELITIAN. Gambar 2 Ternak dan Kandang Percobaan
14 METODE PENELITIAN Penelitian ini dibagi menjadi dua percobaan yaitu 1) Percobaan mengenai evaluasi kualitas nutrisi ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada ternak domba dan 2)
I. PENDAHULUAN. Kelapa sawit adalah salah satu komoditas non migas andalan Indonesia.
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelapa sawit adalah salah satu komoditas non migas andalan Indonesia. Selain menghasilkan produksi utamanya berupa minyak sawit dan minyak inti sawit, perkebunan kelapa
Teori bertani alami: Yang harus di bangun terlebih dahulu adalah memperbaiki tanah
Teori bertani alami: Yang harus di bangun terlebih dahulu adalah memperbaiki tanah Air laut di siramkan ke tanah atau lahan yang akan di garaf Hanya membabat rumput tidak menggunakan pestisida(racun rumput).
I. PENDAHULUAN. besar untuk dikembangkan, sapi ini adalah keturunan Banteng (Bos sundaicus)
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sapi Bali adalah salah satu bangsa sapi murni yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan, sapi ini adalah keturunan Banteng (Bos sundaicus) dan mempunyai bentuk
KATA PENGANTAR. dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh Imbangan Hijauan Daun Singkong (Manihot
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Soedjana (2011) berdasarkan data secara nasional, bahwa baik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut Soedjana (2011) berdasarkan data secara nasional, bahwa baik dalam ketersediaan, distribusi dan konsumsi daging sapi dan kerbau belum memenuhi tujuan
lagomorpha. Ordo ini dibedakan menjadi dua famili, yakni Ochtonidae (jenis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah kelinci Menurut Kartadisatra (2011) kelinci merupakan hewan mamalia dari family Leporidae yang dapat ditemukan di banyak bagian permukaan bumi. Dulunya, hewan ini adalah
MATERI. Lokasi dan Waktu
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pembuatan pelet ransum komplit
PENDAHULUAN. rendah adalah masalah yang krusial dialami Indonesia saat ini. Catatan Direktorat
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Populasi sapi perah yang sedikit, produktivitas dan kualitas susu sapi yang rendah adalah masalah yang krusial dialami Indonesia saat ini. Catatan Direktorat Jenderal Peternakan
BAB II IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH
BAB II IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH 2.1 Permasalahan Keluarga Untuk mengidentifikasi masalah yang dialami keluarga, dilakukan beberapa kali kunjungan di kediaman keluarga dampingan. Selama kunjungan
KOMPOSISI KIMIA BEBERAPA BAHAN LIMBAH PERTANIAN DAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN
KOMPOSISI KIMIA BEBERAPA BAHAN LIMBAH PERTANIAN DAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN NINA MARLINA DAN SURAYAH ASKAR Balai Penelitian Ternak, P.O. Box 221, Bogor 16002 RINGKASAN Salah satu jenis pakan
BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan masyarakat. Saat ini, perunggasan merupakan subsektor peternakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan merupakan penyuplai kebutuhan daging terbesar bagi kebutuhan masyarakat. Saat ini, perunggasan merupakan subsektor peternakan yang sedang mengalami peningkatan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelinci adalah salah satu ternak penghasil daging yang dapat dijadikan sumber protein hewani di Indonesia. Sampai saat ini masih sangat sedikit peternak yang mengembangkan
BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian menggunakan 24 ekor Domba Garut jantan muda umur 8 bulan
III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan Penelitian 3.1.1 Objek Penelitian Penelitian menggunakan 24 ekor Domba Garut jantan muda umur 8 bulan dengan rata-rata bobot badan sebesar 21,09 kg dan koevisien
MATERI DAN METODE. Gambar 1. Ternak Domba yang Digunakan
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang dan Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan,
MATERI DAN METODE. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Unit Pendidikan dan Penelitian Peternakan (UP3) Jonggol, Laboratorium Biologi Hewan Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati
MATERI DAN METODE. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang dan Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan,
PENDAHULUAN. kebutuhan zat makanan ternak selama 24 jam. Ransum menjadi sangat penting
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ransum merupakan campuran bahan pakan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan zat makanan ternak selama 24 jam. Ransum menjadi sangat penting dalam pemeliharaan ternak,
PENDAHULUAN. Daging ayam merupakan daging yang paling banyak dikonsumsi masyarakat
I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Daging ayam merupakan daging yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia karena rasanya disukai dan harganya jauh lebih murah di banding harga daging lainnya. Daging
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama satu bulan, pada 27 Agustus - 26 September 2012
26 III. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan selama satu bulan, pada 27 Agustus - 26 September 2012 yang bertempat di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus.
PENDAHULUAN. akan protein hewani berangsur-angsur dapat ditanggulangi. Beberapa sumber
PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu tujuan usaha peternakan adalah untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat, sehingga permasalahan kekurangan gizi masyarakat akan protein hewani berangsur-angsur
MATERI DAN METODE. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011 sampai dengan bulan Januari 2012 di Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang untuk proses pembuatan silase daun singkong,
III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. adalah Day Old Duck (DOD) hasil pembibitan generasi ke-3 sebanyak 9 ekor itik
III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan dan Objek Penelitian 3.1.1 Ternak Percobaan Itik Rambon dan Cihateup yang digunakan sebagai bahan penelitian adalah Day Old Duck (DOD) hasil pembibitan generasi
JENIS PAKAN. 1) Hijauan Segar
JENIS PAKAN 1) Hijauan Segar Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternakdalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung
I. PENDAHULUAN. meningkat, rata-rata konsumsi protein hewani penduduk Indonesia masih sangat
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor peternakan merupakan sektor yang cukup penting di dalam proses pemenuhan kebutuhan pangan bagi masyarakat. Produk peternakan merupakan sumber protein hewani. Permintaan
SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA
AgroinovasI SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA Ternak ruminansia seperti kambing, domba, sapi, kerbau dan rusa dan lain-lain mempunyai keistimewaan dibanding ternak non ruminansia yaitu
Strategi Peningkatan Produktivitas Sapi Bali Penggemukan Melalui Perbaikan Pakan Berbasis Sumberdaya Lokal di Pulau Timor
Judul : Strategi Peningkatan Produktivitas Sapi Bali Penggemukan Melalui Perbaikan Pakan Berbasis Sumberdaya Lokal di Pulau Timor Narasumber : Ir. Yohanis Umbu Laiya Sobang, M.Si Instansi : Fakultas Peternakan
TINGKAT ADOPSI TEKNOLOGI HIJAUAN PAKAN TERNAK DI DESA MARENU, TAPANULI SELATAN
TINGKAT ADOPSI TEKNOLOGI HIJAUAN PAKAN TERNAK DI DESA MARENU, TAPANULI SELATAN RIJANTO HUTASOIT Loka Penelitan Kambing Potong, P.O. Box 1 Galang, Medan RINGKASAN Untuk pengujian terhadap tingkat adopsi
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini berlangsung dari bulan Mei sampai September 2013 di Desa
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlangsung dari bulan Mei sampai September 2013 di Desa Sidomukti Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan. B. Alat
MATERI DAN METODE. Tabel 3. Komposisi Nutrisi Ransum Komersial.
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di CV. Mitra Mandiri Sejahtera Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jarak lokasi kandang penelitian dari tempat pemukiman
PRAKTIKUM III PENGENALAN BAHAN PAKAN TERNAK (FEEDS STUFF)
3.1 Landasan Teori PRAKTIKUM III PENGENALAN BAHAN PAKAN TERNAK (FEEDS STUFF) Berbagai ragam bahan makanan ternak telah dikenal dan dipergunakan sebagai bahan penyusun Pakan untuk memenuhi kebutuhan ternak
MATERI DAN METODE P1U4 P1U1 P1U2 P1U3 P2U1 P2U2 P2U3 P2U4. Gambar 1. Kambing Peranaka n Etawah yang Diguna ka n dalam Penelitian
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan pada bulan Juni sampai September 2011 bertempat di Peternakan Kambing Darul Fallah - Ciampea Bogor; Laboratorium
Gambar 2. Domba didalam Kandang Individu
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapang Nutrisi Ternak Daging dan Kerja (kandang B) pada bulan Mei sampai dengan bulan November 2010. Analisis sampel dilakukan
BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Kadar Kolesterol, Trigliserida, HDL dan LDL
6 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dengan judul Kadar Kolesterol, Trigliserida, HDL dan LDL Darah Itik Peking yang Diberi Tepung Temu Hitam dilaksanakan 31 Desember 2015 s.d 1 Februari 2016 di Fakultas
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Konsumsi Pakan
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Kandang adalah salah satu kebutuhan penting dalam peternakan. Fungsi utama kandang adalah untuk menjaga supaya ternak tidak berkeliaran dan memudahkan pemantauan
TERNAK KELINCI. Jenis kelinci budidaya
TERNAK KELINCI Peluang usaha ternak kelinci cukup menjanjikan karena kelinci termasuk hewan yang gampang dijinakkan, mudah beradaptasi dan cepat berkembangbiak. Secara umum terdapat dua kelompok kelinci,
METODE PENELITIAN. Bahan dan Alat
36 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan yaitu mulai 8 Maret sampai 21 Agustus 2007 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian
I. PENDAHULUAN ,8 ton (49,97%) dari total produksi daging (Direktorat Jenderal Peternakan,
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging ayam broiler adalah bahan pangan sumber protein hewani yang berkualitas tinggi karena mengandung asam amino esensial yang lengkap, lemak, vitamin, dan mineral serta
BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juni 2016 dengan tiga
9 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juni 2016 dengan tiga tahap, yaitu : tahap pendahuluan dan tahap perlakuan dilaksanakan di Desa Cepokokuning, Kecamatan Batang,
PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT GAJAH DENGAN LIMBAH TANAMAN SAWI PUTIH FERMENTASI TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI DOMBA LOKAL JANTAN EKOR TIPIS SKRIPSI
PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT GAJAH DENGAN LIMBAH TANAMAN SAWI PUTIH FERMENTASI TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI DOMBA LOKAL JANTAN EKOR TIPIS SKRIPSI Oleh : ETTY HARYANTI UTAMI FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS
TINJAUAN PUSTAKA. menurut Pane (1991) meliputi bobot badan kg, panjang badan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Bali Sapi bali adalah sapi lokal Indonesia keturunan banteng yang telah didomestikasi. Sapi bali banyak berkembang di Indonesia khususnya di pulau bali dan kemudian menyebar
I. PENDAHULUAN. kontinuitasnya terjamin, karena hampir 90% pakan ternak ruminansia berasal dari
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu faktor penting dalam peningkatan produktivitas ternak ruminansia adalah ketersediaan pakan yang berkualitas, kuantitas, serta kontinuitasnya terjamin, karena
BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kandang Hewan Percobaan, Laboratorium fisiologi dan biokimia, Fakultas
BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakasanakan di Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Kandang Hewan Percobaan, Laboratorium fisiologi dan biokimia, Fakultas Peternakan Universitas
I. PENDAHULUAN. pertumbuhan tubuh dan kesehatan manusia. Kebutuhan protein hewani semakin
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Protein hewani merupakan zat makanan yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan tubuh dan kesehatan manusia. Kebutuhan protein hewani semakin meningkat seiring dengan meningkatnya
BAB III METODE PENELITIAN. yang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian tentang penaruh pemberian limbah bandeng terhadap karkas dan kadar lemak ayam pedaging ini merupakan penelitian eksperimental yang
BAB I PENDAHULUAN. banyak membutuhkan modal dan tidak memerlukan lahan yang luas serta sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelinci sebagai salah satu komoditas ternak mudah berkembangbiak, tidak banyak membutuhkan modal dan tidak memerlukan lahan yang luas serta sebagai hewan kesayangan
MATERI DAN METODE. Gambar 4. Kelinci Peranakan New Zealand White Jantan Sumber : Dokumentasi penelitian (2011)
MATERI DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Ternak Ruminansia Kecil (Kandang B), Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut
MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Bagian Kelinci, Balai Penelitian Ternak Ciawi Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan, yaitu pada bulan Agustus 2012 sampai
BAB III MATERI DAN METODE. Laut (Gracilaria verrucosa) terhadapproduksi Karkas Puyuh (Cotunix cotunix
10 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian tentang Pengaruh Penggunaan Teoung Limbah Rumput Laut Laut (Gracilaria verrucosa) terhadapproduksi Karkas Puyuh (Cotunix cotunix japonica) Jantan Umur 10 Minggu.
Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri 0lahannya sebagai Pakan Ternak cukup tinggi, nutrisi yang terkandung dalam lim
POTENSI LIMBAH SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN ALTERNATIF PADA AYAM NUNUKAN PERIODE PRODUKSI IMAM SULISTIYONO dan NUR RIZQI BARIROH Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur JI. Pangeran M.
HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Penelitian
Suhu dan Kelembaban HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Suhu dalam kandang saat penelitian berlangsung berkisar antara 26,9-30,2 o C. Pagi 26,9 o C, siang 30,2 o C, dan sore 29,5 o C. Kelembaban
TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Sapi Friesian Holstein (FH) Produktivitas Sapi Perah
TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Pemeliharaan sapi perah bertujuan utama untuk memperoleh produksi susu yang tinggi dan efisien pakan yang baik serta mendapatkan hasil samping berupa anak. Peningkatan produksi
TERNAK KAMBING 1. PENDAHULUAN 2. BIBIT
TERNAK KAMBING 1. PENDAHULUAN Ternak kambing sudah lama diusahakan oleh petani atau masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi (baik daging, susu,
Petunjuk Praktis Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi
Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi i PETUNJUK PRAKTIS MANAJEMEN PENGELOLAAN LIMBAH PERTANIAN UNTUK PAKAN TERNAK SAPI Penyusun: Nurul Agustini Penyunting: Tanda Sahat Panjaitan
Budidaya Ternak Kambing Dan Domba
Budidaya Ternak Kambing Dan Domba Disusun oleh : Wasis Budi Hartono ( Penyuluh Pertanian BP3K Sanankulon ) A. Pendahuluan Pola peternakan kambing dan domba potong atau pedaging di Indonesia sebagian besar
EFISIENSI PAKAN KOMPLIT DENGAN LEVEL AMPAS TEBU YANG BERBEDA PADA KAMBING LOKAL SKRIPSI. Oleh FERINDRA FAJAR SAPUTRA
1 EFISIENSI PAKAN KOMPLIT DENGAN LEVEL AMPAS TEBU YANG BERBEDA PADA KAMBING LOKAL SKRIPSI Oleh FERINDRA FAJAR SAPUTRA FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013 2 EFISIENSI
Pengembangan Peternakan Terpadu dan Pakan Ternak yang dapat Mendukung Program Posdaya
Pengembangan Peternakan Terpadu dan Pakan Ternak yang dapat Mendukung Program Posdaya Prof. Dr. Ir. Panca Dewi MHK, MS Dr. Iwan Prihantoro SPt, MSi 2014 PETERNAKAN TERPADU Pola integrasi antara ternak
KONVERSI SAMPAH ORGANIK MENJADI SILASE PAKAN KOMPLIT DENGAN PENGGUNAAN TEKNOLOGI FERMENTASI DAN SUPLEMENTASI PROBIOTIK TERHADAP PERTUMBUHAN SAPI BALI
Volume 15, Nomor 2, Hal. 51-56 Juli Desember 2013 ISSN:0852-8349 KONVERSI SAMPAH ORGANIK MENJADI SILASE PAKAN KOMPLIT DENGAN PENGGUNAAN TEKNOLOGI FERMENTASI DAN SUPLEMENTASI PROBIOTIK TERHADAP PERTUMBUHAN
