FILSAFAT SEJARAH BENEDETTO CROCE ( )

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. metafisika pada puncaknya. Kemudian pada pasca-pencerahan (sekitar abad ke-

Posisi Semiotika dan Tradisi-tradisi Besar Filsafat Pemikiran

1. Seseorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika, dan agama serta menghayatinya;

EKSISTENSIALISME (1) Eksistensialisme:

NATURALISME (1) Naturalisme 'natura' Materialisme

BAB XI BENEDETTO CROCE ( )

MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN. Imam Gunawan

BAB V PENUTUP. 1. Filsafat Perennial menurut Smith mengandung kajian yang bersifat, pertama, metafisika yang mengupas tentang wujud (Being/On) yang

PRAGMATISME (1) Pragmatisme:

BAB V PENUTUP. kalangan masyarakat, bahwa perempuan sebagai anggota masyarakat masih

BAB IV. PENUTUP. Universitas Indonesia. Estetika sebagai..., Wahyu Akomadin, FIB UI,

MEMBANGUN ILMU PENGETAHUAN DENGAN KECERDASAN EMOSI DAN SPIRITUAL

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Annisa Shara,2013

PARADIGMA POSITIVISTIK DALAM PENELITIAN SOSIAL

BAB II KAJIAN TEORI. esensialisme, pusat perhatiannya adalah situasi manusia. 1. Beberapa ciri dalam eksistensialisme, diantaranya: 2

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN DI AS

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra sebagai karya seni bersifat kreatif, artinya sebagai hasil ciptaan manusia

BAB II TEORI SOSIOLOGI PENGETAHUAN

PENERAPAN TEKNIK TPS (THINK, PAIR, AND SHARE) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENENTUKAN KALIMAT UTAMA PARAGRAF DESKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Asep Saeful Ulum, 2013

PENGERTIAN FILSAFAT (1)

Filsafat Ilmu dan Logika

EPISTEMOLOGI MODERN DALAM TRADISI BARAT DAN TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra merupakan wujud dari proses imajinatif dan kreatif pengarang.

44. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK

IDEALISME (1) Idealis/Idealisme:

BAB I. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Estetika sebagai..., Wahyu Akomadin, FIB UI,2009

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi

NATURALISME Naturalisme 'natura' naturalisme supernaturalisme

Areté Volume 02 Nomor 02 September 2013 RESENSI BUKU 1. Gregorius Martia Suhartoyo 1

PARADIGMA INTERPRETIVISME

Estetika Desain. Oleh: Wisnu Adisukma. Seni ternyata tidak selalu identik dengan keindahan. Argumen

DIMENSI FILSAFAT DALAM WAHYU

PENGERTIAN FILSAFAT (1)

BAB I PENDAHULUAN. atau tepat. Kecakapan berpikir adalah ketrampilan untuk menerapkan hukum-hukum

MENYANGKAL TUHAN KARENA KEJAHATAN DAN PENDERITAAN? Ikhtiar-Filsafati Menjawab Masalah Teodise M. Subhi-Ibrahim

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu upaya untuk

FILSAFAT ILMU Karya : Jujun S. Suriasumatri Penerbit : Pustaka Sinar Harapan, Jakarta Tahun : 1984 (Cet. I) Tebal : 384 hlm

FILSAFAT ILMU DAN PENDAHULUAN. Dr. H. SyahrialSyarbaini, MA. Modul ke: 01Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi

BAB I PENDAHULUAN. tertentu. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri, bahwa sastra merupakan cerminan. nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tertentu.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. akan adanya perspektif penyeimbang di tengah dominasi teori-teori liberal. Kedua

ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN PERENIALISME

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Al-Ghazali (w M) adalah salah satu tokoh pemikir paling populer bagi

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Adapun kesimpulan tersebut terdapat dalam poin-poin berikut:

DESKRIPSI KARYA SENI MONUMENTAL Judul Karya Seni Monumental (kriya Seni): Predator. Pencipta I Made Sumantra, S.Sn, M.Sn

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dari belum mengerti sampai mengerti agar lebih maju dan handal dalam

PENGENALAN PANDANGAN ORGANISASI

BAB IV FILSAFAT PRAGMATISME (Bahan Pertemuan Ke-5)

Dies Communitatis FF UNPAR 48 Akar Akar Intoleransi

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN. potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi peserta didik. Kegiatan

FILSAFAT ILMU OLEH SYIHABUDDIN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BAB VIII KESIMPULAN. kesengsaraan, sekaligus kemarahan bangsa Palestina terhadap Israel.

BERFIKIR KREATIF Kelompok 8 Febrian Karunia M. Razuli Azmi Riuh Adi Pranata

SILABUS MATA PELAJARAN: SEJARAH INDONESIA (WAJIB)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

TUGAS AKHIR KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA SEMESTER GANJIL T.A. 2011/2012. Hilangnya Rasa Nasionalisme Remaja Berimbas Kehancuran Bangsa

KAJIAN ILMIAH TERHADAP PANCASILA

SOSIOLOGI PENDIDIKAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pengarang ingin menyampaikan nilai-nilai hidup kepada pembaca, karena pada

Wassalam. Page 5. Cpt 19/12/2012

BAB III KERANGKA TEORI ANALISIS

46. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SEJARAH INDONESIA SMA/MA/SMK/MAK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. lainnya. Hal ini disebabkan masing-masing pengarang mempunyai

ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN REKONSTRUKSIONALISME DALAM TINJAUAN ONTOLOGIS, EPISTEMOLIGIS, DAN AKSIOLOGIS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pengarang menciptakan karya sastra sebagai ide kreatifnya. Sebagai orang yang

FILSAFAT MANUSIA. Oleh : Drs. P. Priyoyuwono, M.Pd. Pertemuan 4

Dalam rangka meningkatkan kompetensi profesional, guru seni harus memiliki kemampuan menulis ilmiah (academic writing)

III. METODE PENELITIAN. mencapai tujuan, maka langkah-langkah yang ditempuh harus sesuai dengan

MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN. Imam Gunawan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013

BAB IV ANALISIS KONSEP HUMANISME RELIGIUS SEBAGAI PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM MENURUT ABDURRAHMAN MAS UD

II. TINJAUAN PUSTAKA. pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang

Pendekatan Historiografi Dalam Memahami Buku Teks Pelajaran Sejarah *) Oleh : Agus Mulyana

Modul ke: Materi Penutup. Fakultas PSIKOLOGI. Cathrin, M.Phil. Program Studi Psikologi

BAB I PENDAHULUAN. yang bebas mengungkapkan semua ide dan ktreatifitasnya agar pembaca dapat menangkap

BAB IV ANALISIS APLIKASI KONESP EKSISTENSI PROFETIK KUNTOWIJOYO. Dunia yang senantiasa berkembang, berkonsekuensi pada perubahan realitas,

POLITIK HUKUM BAB IV NEGARA DAN POLITIK HUKUM. OLEH: PROF.DR.GUNARTO,SH.SE.A,kt.MH

BAB II KAJIAN TEORI. Lord John Russell. Pada usia empat tahun ibunya meninggal dunia, dan setelah

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SEKOLAH MENENGAH ATAS/SEKOLAH MENENGAN KEJURUAN/ MADRASAH ALIYAH/MADRASAH ALIYAH KEJURUAN (SMA/SMK/MA/MAK)

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan faktor terpenting dalam era globalisasi, sebagai

BAB VI KESIMPULAN. Pada dasarnya Keraton Yogyakarta dibangun berdasarkan. kosmologi Jawa, yang meletakkan keseimbangan dan keselarasan

PENDEKATAN LAPANG Strategi Penelitian

ILMU DAN MATEMATIKA. Ilmu berasal dari bahasa Arab alima, bahasa Inggris science, bahasa latin scio dan di Indonesiakan menjadi sains.

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kemampuan Penalaran Matematis. Menurut Majid (2014) penalaran adalah proses berpikir yang


3. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR BAHASA INDONESIA SMA/SMK/MA/MAK

Filsafat Ilmu dalam Perspektif Studi Islam Oleh: Maman Suratman

Transkripsi:

FILSAFAT SEJARAH BENEDETTO CROCE (1866-1952)

Filsafat Sejarah Croce (1) Benedetto Croce (1866-1952), merupakan pemikir terkemuka dalam mazhab idealisme historis. Syafii Maarif mengidentifikasi empat doktrin inti dari Croce: 1. Sejarah dan Filsafat; 2. Sejarah sebgai Sejarah Kontemporer; 3. Liberti (Kemerdekaan, Kebebasan) sebagai penjelasan Sejarah; dan 4. Pesimisme dalam Sejarah.

Filsafat Sejarah Croce (2) Definisi Sejarah: SEJARAH adalah rekaman tentang kreasi jiwa manusia di semua bidang, baik teoritikal maupun praktikal. Kreasi spiritual ini senantiasa lahir dalam hati atau pikiran manusia jenius, para artis, pemikir, manusia yang mengutamakan tindakan (man of action), para pembaru moral atau pembaru agama) (Maarif, dalam Buletin Humaniora, 1999, hlm.2). Rekonstruksi kritis-filosofis tentang masa lampau yang selalu bercorak interpretatif adalah tindakan berpikir kreatif-imajinatif-logis.

Filsafat Sejarah Croce (3) Filsafat dan Sejarah: SEJARAH merupakan bentuk tertinggi dari filsafat. Perbuatan berpikir adalah filsafat dan sekaligus sejarah pada waktu yang bersamaan. Sejarah oleh karena itu identik dengan tindakan berpikir. Carr menafsirkan pandangan Croce: Sejarah tidaklah mungkin tanpa unsur logika, dan unsur logika itu adalah filsafat yang mengondisikan sejarah; tetapi juga filsafat tidaklah mungkin tanpa unsur intuitif, dan unsur intuitif itu adalah sejarah yang mengondisikan filsafat (Maarif, dalam Buletin Humaniora, 1999, hlm.2).

Filsafat Sejarah Croce (4) Filsafat dan Sejarah: Sejarah adalah segala-galanya:... tidak ada pertimbangan yang sejati dan konkrit apa pun selain daripada pertimbangan historikal, dengan begitu solusi dan definisi filsafat adalah historikal. Hubungan fakta dan interpretasi fakta: semua fakta adalah historikal; semua interpretasi adalah filosofikal. tidak ada masalah sejarah yang dapat dipahami tanpa menunjuk kepada konsep-konsep filsafat, begitu juga tidak ada masalah filsafat dapat dipecahkan kecuali dalam hubungannya dengan fakta (Maarif, dalam Buletin Humaniora, 1999, hlm.3).

Filsafat Sejarah Croce (5) Filsafat dan Sejarah: Sejarah dan penulisan: penulisan sejarah berarti menghidupkan kembali sebuah tindakan atau perbuatan, yang dengan begitu dia menjadi bagian dari pengalaman kita sendiri. Oleh karena itu dalam sejarah orang tidak dapat berbicara tentang sebabakibat, karena ini semua adalah produk ilmu pengetahuan. Sejarah menurut Croce tidak pernah menjadi sebuah ilmu, karena ia adalah kreasi jiwa manusia (Maarif, dalam Buletin Humaniora, 1999, hlm.3).

Filsafat Sejarah Croce (6) Croce menolak pendapat bahwa sejarah adalah 'sains'. Menurutnya, sejarah adalah seni. Sains merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang umum (the general), sedangkan seni adalah intuisi tentang sesuatu yang khusus (the particular). Karena sejarah bergelut dengan fenomena konkret partikular, maka ia adalah sebentuk seni. Sejarah sebagai seni yang khusus, karena, ketimbang menampilkan yang mungkin, ia lebih menampilkan yang aktual.

Filsafat Sejarah Croce (7) Croce menegaskan bahwa seni merupakan sumber dari semua pengetahuan. Sependapat denganvico, Croce menyatakan bahwa bahasa adalah atribut dan aktivitas sentral manusia (Aesthetic, hlm. 30 dan 485). Karena intuisi terkait erat dengan bahasa, maka seni membentuk dasar bagi seluruh pengetahuan (Aesthetic, hlm.11, 20-21, 26-27, 31). Pandangan Groce tentang dunia yang didominasi oleh seni segera populer di kalangan intelektual muda.

Filsafat Sejarah Croce (8) Doktrin masa kini yang abadi (the eternal present) : masa lampau ada dalam masa sekarang; tidak ada masa kini yang tidak dilahirkan oleh masa lampau dan (sekaligus) melahirkan masa depan. Masa sekarang adalah proses lanjut dari sebuah kreasi baru, evolusi tanpa hanti dalam bentuk-bentuk baru. Konsep sejarah adalah konsep realitas sebagai masa kini yang abadi (Maarif, dalam Buletin Humaniora, 1999, hlm.3).

Filsafat Sejarah Croce (9) Sejarah sebagai Sejarah Kontemporer: Dalam doktkrin ini terkandung prinsip imanen, dalam arti tidak ada peristiwa yang bersifat ekternal terhadap sejarah atau dalam ungkapan lain tidak ada fakta yang tanpa makna dapat dibubuhi makna oleh pikiran. Bagi Croce, semua fakta mestilah bercorak historikal yang mengandung makna, dan makna ini hanya mungkin ditangkap oleh pikiran manusia melalui tafsirannya terhadap fakta. Bangunan pikiran manusia pasti dicoraki oleh suasana kontemporer yang mengondisikan pikiran itu (hlm. 4)

Filsafat Sejarah Croce (10) Sejarah sebagai Sejarah Kontemporer: Bagi Croce: sejarah pada esensinya adalah indivisualitas. Oleh karena itu, sejarah tidak boleh tidak, pasti memuat unsur subjektif. Croce menegaskan: Sejarah harus selalu menimbang dengan penuh semangat dan harus bercorak subjektif secara energik. Kaitannya dengan sejarah sebagai sejarah kontemporer: kepentingan masa sekaranglah, bukan kepentingan masa lampau, yang mendorong manusia untuk menulis sejarah (hlm. 4.)

Filsafat Sejarah Croce (11) Sejarah sebagai Sejarah Kontemporer: Bagi Croce: sejarah sesungguhnya senantiasa bersifat responsif terhadap keperluan dan situasi sekarang, yang kepadanya peristiwa-peristiwa itu menyampaikan gaungnya. Tujuan kajian sejarah yaitu untuk menyinari masa lampau agar jelas tindakan apa yang harus dilaksanakan (hlm. 5). Sejarah mengandung dua unsur penting, yaitu (1) peristiwa, dan (2) pemaknaan. Sebagai peristiwa berarti menunjuk masa lampau; sebagai pemaknaan berarti selalu dalam kekinian.

Filsafat Sejarah Croce (12) Kebebasan sebagai Penjelasan Sejarah : Bagi Croce: tanpa kebebasan hidup manusia kehilangan makna dan hekekat. Hidup tanpa kebebasan dan kemerdekaan adalah hidup dalam perbudakan. Penjajahan manusia oleh manusia atau penindasan bangsa oleh bangsa adalah pengkhianatan terhadap cita-cita moral. Sejarah melaju dan melaju adalah untuk merealiasikan kebebasan ini. Croce yakin betul akan adanya kekuatan kebenaran berupa kebebasan dalam perjalanan sejarah manusia.

Filsafat Sejarah Croce (13) Pesimisme dalam Sejarah : Croce adalah seorang pemikir sejarah yang optimis. Ia percaya pada masa depan yang cerah dari cita-cita moral dan kebaikan manusia, sekalipun realitas sejarah sering menunjukkan fenomena yang sebaliknya (hlm. 6). Croce percaya sepenuhnya kepada kebebasan sebagai kekuatan abadi dalam sejarah. Kehidupan adalah juga sejarah itu sendiri yang memerlukan suatu cita-cita demi mengagungkan kebebasan.

Filsafat Sejarah Croce (14) Pesimisme dalam Sejarah : Untuk mewujudkan kebebasan lah sebenarnya sejarah itu bergerak dan melaju tanpa henti sampai Sang Pencipta Kehidupan menghentikannya. Bagi Croce segala sesuatu (yang buruk) dapat saja terjadi, tetapi dalam kesegalaan itu terkandung pula kebalikannya. Dengan kata lain, kejadian baik dan buruk akan terus berlangsung secara dialektik dalam sejarah, tetapi kebaikan tidak akan terkalahkan oleh keburukan.

Filsafat Sejarah Croce (15) Sebagaimana Marx, Croce berpendapat bahwa pemikiran muncul dari kebutuhan-kebutuhan praktis di dunia dan menjadi instrumen untuk bertindak di dunia. Namun, Croce berpikir bahwa Marx terlalu menekankan pengaruh ekonomi dalam tindakan manusia dan terlalu condong pada 'filsafat sejarah' Hegelian.

Filsafat Sejarah Croce (16) Menurut Hegel, aspek negatif dan positif ide adalah sumber pergerakan dan perubahan. Bagi Croce, Hegel telah larut dalam dialektika secara tanpa pandang bulu pada sesuatu yang tidak benar-benar berlawanan namun hanya berbeda saja. Bagi Groce, hanya konsep-konsep seperti 'keindahan' dan 'keburukan' yang bisa berlawanan dan oleh karena itu bisa dikenai logika dialektika. Karena sejarah menjelaskan fenomena empirik, maka dialektika tidak berlaku dalam sejarah (M H-W, 95).

Filsafat Sejarah Croce (17) Hegel berpandangan, bahwa dialektika meliputi perwujudan bertahap dari kebebasan. Hegel, tegas Croce, hanya memerhatikan hal-hal yang dianggapnya sebagai perwujudan kebebasan dalam sejarah. Sebaliknya, Croce menyatakan bahwa SEGALA HAL ADALAH HISTORIS (M H-W, 95-96).

Filsafat Sejarah Croce (18) Idealisme absolut Croce, menurut D.D. Roberts, memiliki tiga karakteristik penting, yaitu imanensi radikal, idealisme filosofis, dan penekanan terhadap historisitas radikal dunia manusia. Croce menegaskan bahwa tidak ada dunia selain dunia manusia. Kita di sini sendiri dan tidak ada ranah referensi eksternal. Ide alam semesta yang independen, tegas Croce, telah membutakan kita dari melihat bahwa ketika kita memperhatikan alam, kita hanya mendapati konsep dan kategori manusia yang berasal dari rancangan manusia (M H-W, 95).

Filsafat Sejarah Croce (19) Croce memakai 'spirit' hanya untuk menunjuk diri kita: individu kongkret yang terikat dengan sejarah. Kita tidak menyakiti individualitas kita, tegas Croce, jika kita mengakui bahwa sebagai individu kita merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar. 'Spirit' hanya sebuah term yang merujuk pada keutuhan yang lebih besar di mana individu hanya bagiannya dan di mana eksistensinya hanya ada dalam individu (M H-W, 97).

Filsafat Sejarah Croce (20) Menurut Croce, fakta sejarah tidak merujuk pada kebenaran abadi dan natur manusia yang tidak berubah. Komunikasi mengenai kehidupan tidak pernah pasti, terus-menerus menemui situasi di mana konsep dan definisi yang ada butuh diubah. Misalnya, orang yang berbeda akan memandang sebuah bukti sejarah secara berbeda karena perubahanperubahan dalam 'spirit'. Maka setiap pemikiran, termasuk sejarah, terkondisikan secara historis dalam arti merupakan respons terhadap problema-problema yang secara historis spesifik dan mencerminkan pergulatan-pergulatan dari sebuah momen tertentu (M H-W, 97).

Filsafat Sejarah Croce (21) Menurut Croce setiap definisi secara historis adalah spesifik; ia mencerminkan nalar tertentu dan merespons kondisi tertentu. Konsep dan definisi oleh karena itu selalu berubah. Namun, hal itu tidak berujung pada kondisi 'apa pun diperkenankan', karena, kita memiliki pengetahuan yang sama tentang aturanaturan penggunaan konsep untuk memahami satu sama lain ketika kita berkomunikasi. Pengetahuan kita oleh karena itu 'konkret' karena secara historis terikat, namun juga 'universal' (M H-W, 97).