BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
|
|
|
- Budi Tanudjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem pemikiran Yoga dapat dilihat sebagai suatu konstelasi pemikiran filsafat, bukan hanya seperangkat hukum religi karena ia bekerja juga mencapai ranah-ranah ilmiah dan teoritis melalui alur pikiran yang koheren. Terlebih, ia juga membuka diri untuk pemaknaan yang baru, bukan begitu saja diterima dan dipercaya karena ia menyangkut dengan urusan ketuhanan. Pemunculannya yang telah terjadi pada ribuan tahun lalu membuatnya dipertanyakan relevansinya terhadap dunia pada masa sekarang. Masa ribuan tahun setelahnya telah memiliki sistem pengetahuan yang dinilai lebih dapat dijadikan tumpuan penjelasan yaitu sains. Belakangan dengan semakin maju dan berkembangnya sains dan teknologi, pemikiran-pemikiran yang masih mengandung aspek metafisis seperti Yoga dituduh irasional dan tidak lagi relevan dalam menjelaskan kondisi kehidupan karena yang metafisis itu dianggap tidak dapat teruji secara saintifik. Salah satu penyebab Yoga dipandang sebelah mata adalah tidak lengkapnya pengetahuan yang beredar mengenainya. Bahkan bukan tidak mungkin telah terjadi salah intepretasi atau pencampuradukannya dengan konsep lain sehingga ia, meski memiliki kajian pada ranah ilmu pengetahuan, tetap dianggap sebagai suatu konsep dan praktik yang gaib. Yoga menjadi objek material dalam penelaahan ini karena ia memiliki keistimewaan tertentu. Pertama, ia merupakan sebuah sekolah pemikiran yang mandiri sekaligus melekat pada Samkhya sebagai penjelasan penciptaan. Ini menjelaskan bahwa Yoga tidak begitu saja memberikan penguraian hukum tindakan tanpa latar belakang untuk dipertanggungjawabkan. Dengan demikian ia mengatasi yang mental spiritual dan yang praktis. Kedua, ia memiliki sistem komperehensif yang masing-masing komponennya tidak dapat dibahas secara
2 2 terlepas sepenuhnya dari yang lain. Ini sejalan dengan Rta atau Dharma yang juga menjadi salah satu konsep kuncinya, bahwa setiap elemen memiliki fungsi dan perannya dalam menjaga keseimbangan jalannya semesta. Ia terbangun dari konsep yang menyeluruh dan runut secara logis. Ketiga, ia mengakui dualisme substansi. Baik dunia fisik yang objektif maupun yang metafisis dan subjektif sama-sama diakui keberadaannya. Dari beberapa pandangan mengenai sumber realitas dalam sekolah-sekolah pemikiran lainnya, Yoga termasuk yang mengakui keberadaan yang fisik dan yang non-fisik meskipun ada hubungan hierarkis di antara keduanya. Penjelasan yang ditawarkan dalam kitab Yoga adalah bahwa hubungan antara keduanya bukan dititikberatkan pada pencarian asalinya melainkan untuk dicari solusinya agar dapat mencapai tujuan akhir, yakni moksha. Aspek-aspek dalam Yoga lebih banyak dikaitkan dengan religiusitasnya dan segi praktisnya sebagai suatu panduan cara hidup. Sebenarnya Yoga adalah suatu sistem pemikiran yang lebih kompleks daripada itu dan dapat dijelaskan melalui cara yang juga objektif. Keidentikannya dengan religi membuatnya diaragukan kebenarannya karena bisa jadi hanya berisi sederetan pembenaran. Keempat, bahwa setelah terjadi penemuan-penemuan ilmiah, terlihat beberapa relevansi atau persamaan konsep dengan Yoga mengenai suatu objek. Ini menjadi titik berangkat penelaahan dalam skripsi ini, bahwa apabila terdapat kesamaankesamaan konsep maka seharusnya keberadaan Yoga lebih dipertimbangkan dan diperhitungkan keabsahannya dalam kajiannya terhadap dunia. Diajukannya Yoga di sini adalah sebagai kontras yang jelas ketika diperbandingkan dengan sains materialistik. Selain Yoga, sekolah pemikiran yang juga memiliki penekanan istimewa pada aspek kesadaran adalah Buddhisme. Antara Yoga dan Buddhisme sendiri memiliki pendapat yang berbeda mengenai inti kesadaran, yaitu mengenai keberadaan Jiwa Murni sebagai hakikat diri yang menjadi subjek kesadaran. Pada Yoga adanya Jiwa Murni ini dibenarkan sementara yang terjadi pada Buddhisme adalah sebaliknya. Buddhisme tidak mempercayai adanya jiwa. Menurutnya segala hal yang ada sifatnya hanya sementara karena itu ia tidak memberikan tempat pada konsep jiwa yang melampaui temporalitas, termasuk adanya substansi yang sifatnya independen.
3 3 Apabila Buddhisme dijadikan suatu variabel yang diperbandingkan dengan sains materialistik maka tidak akan ada penawaran solusi yang baru untuk menjelaskan kebenaran selain melalui kemungkinan yang dapat dicapai oleh fisik belaka. Pada sisi yang lain, sains materialistik diajukan sebagai pembanding. Materialisme sendiri merupakan sistem ilmu pengetahuan yang telah menyumbangkan banyak sekali pengetahuan bagi kehidupan manusia. Sesuai dengan tujuan pencapaian ilmu pengetahuan yakni untuk memberikan penjelasan mengenai dunia yang menjadi sumber kehidupan ini. Posisinya sebagai sains murni membuatnya bebas dari nilai-nilai etika yang oleh beberapa pihak dituduh sebagai berlandaskan motif tujuan eksploitasi alam. Tetapi pada titik berangkatnya, ia berdiri pada pijakan reduksionis, bahwa ia telah mengeliminasi keberadaan-keberadaan kondisi tertentu yang sebelumnya pernah diperhitungkan dalam penelaahan hal yang sama, yaitu kondisi non-fisik. Sejauh ini ia berhasil membuktikan bahwa banyak sekali hal yang terjelaskan dari penelitian bendabenda fisik. Materialisme menumpukan semua telaahnya pada yang fisik karena yang bisa diakses secara fisik dianggap objektif dan adil karena dapat diakses siapapun dengan cara dan hasil yang sama. Kedua sudut pandang yang berbeda ini diposisikan dalam satu komparasi untuk menguji mengapa terjadi pengutamaan argumentasi saintifik ketimbang Yoga apabila mereka mengutarakan beberapa klaim yang sama. Komparasi ini sebisa mungkin disajikan secara objektif karena dilakukan demi penemuan pengetahuan yang baru. Perbedaan yang jelas dan mendasar di antara keduanya diakui, tetapi bukan pada perbedaan dan persamaan yang jelas itulah yang menjadi sumber timbulnya alasan sains dan Yoga berada dalam posisi subordinat. Bukan berarti pula mereka dipertentangkan satu sama lain yang mana keberadaan yang satu berarti mengingkari keberadaan satu yang lainnya. Diperlukan abstraksi lebih lanjut mengenai bagaimana dan dari mana masing-masing sudut pandang ini melandaskan klaim-klaim pengetahuannya.
4 4 1.2 Perumusan Masalah Yang menjadikan suatu pemikiran dapat diandalkan untuk dijadikan acuan kebenaran adalah bagaimana pemikiran itu dapat menunjukkan kecocokannya dengan dunia yang tampak, antara lain dibuktikan melalui teori-teori kebenaran. Tetapi untuk dapat mengatakan bahwa bagaimana kecocokan itu terjadi, harus dimiliki pula sudut pandang atau kerangka pikiran yang menjelaskan bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan cocok atau representasinya dengan dunia luar. Klaim-klaim yang ditawarkan oleh masing-masing Yoga dan sains memiliki persamaan dan perbedaan. Yang memungkinkan terjadinya perbedaan sekaligus persamaan itu adalah sudut pandang awal yang melandasinya. Yang harus diperiksa adalah landasan yang menjadi dasar klaim pengetahuan atau kesimpulan ilmiah ini. Yoga, seperti halnya agama atau sekolah pemikiran filsafat India lainnya, secara awam dianggap masih melekat pada pembenaran metafisis yang sifatnya diterima begitu saja karena dianggap tanpa ada penyertaan penelaahan dan pembuktian lebih lanjut. Hal inilah yang ingin digali lebih dalam, apakah benar Yoga hanya sebuah pemikiran yang tersusun untuk menjadi pembenaran atas hal-hal metafisis, atau sebenarnya yang sains juga tidak dapat sepenuhnya objektif karena ia juga memiliki asumsi-asumsi awal dan dugaandugaan tertentu dan penelitiannya menjadi sebuah pembenaran terhadap asumsi awal tadi. Untuk mencegah elaborasi yang terlalu melebar, ruang penelaahan basis epistemologis di sini dipersempit menjadi pada studi kesadaran masing-masing pada sistem pemikiran Yoga dan sains materialistik. Selain karena lebih spesifik, kesadaran merupakan fitur kajian yang menjadi irisan kedua kerangka pemikiran dan menjadi problema yang masih belum final serta baik Yoga maupun sains telah memiliki posisi yang jelas dalam pengkajian tema tersebut.
5 5 1.3 Tujuan Penulisan Tujuan umum dari penulisan dan pengajuan skripsi bertema Komparasi Konsep Kesadaran dalam Yoga dan Sains Materialistik ini adalah sebagai syarat kelulusan program S1 jurusan Ilmu Filsafat. Di samping tujuan umum, tujuan khususnya dapat diuraikan sebagai berikut : (1) Memberikan pengetahuan dan pemahaman makna lebih dalam mengenai konsep Astangga Yoga, termasuk mengenai aspek kesadaran dan pengetahuan di dalamnya. Selama ini pengetahuan yang beredar secara awam mengenai praktik Yoga seringkali telah terdistorsi oleh pandangan lain sehingga ia tidak hadir dan dimaknai secara murni. Pada umumnya pandangan soal Yoga adalah sebuah tindakan mistis yang berkenaan dengan ilmu tertentu sehingga tidak direkomendasikan praktiknya. Kemungkinan lain, pada masyarakat yang kepercayaan dominannya berbeda menganggap Yoga bagian dari ritual religi tertentu oleh karena itu tidak diperuntukkan bagi orang-orang yang menganut kepercayaan yang berbeda. Perlu diluruskan sikap-sikap resisten seperti ini karena tentunya pandangan tersebut berasal dari pengetahuan yang salah atau tidak lengkap mengenai Yoga. Perlu juga disadari bahwa Yoga bukan sekedar gerakangerakan terorganisir pada tubuh. Gerakan-gerakan itu hanya satu dalam delapan tahapannya dan bukan esensinya yang paling mendasar. (2) Memperlihatkan adanya konsep-konsep dalam Yoga yang memungkinkan ia menjadi patut diperhitungkan dalam studi kesadaran. Oleh para pemikir Hinduisme kontemporer banyak ditemukan pembenaran-pembenaran studi sains terhadap kajian-kajian Veda. Isi kitab yang dulu dianggap sebagai misteri kini beberapa bagiannya mulai terbukti secara saintifik, meski mungkin belum semuanya terjawab. Sebagai juga bagian dari ajaran Veda yang menyeluruh, Yoga mulai terurai bagian-bagiannya melalui kacamata ilmu pengetahuan. Perbedaan sudut pandang antara Yoga dengan studi sains menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk bisa mencapai poin tujuan ini. (3) Membuktikan bahwa Yoga bukan sistem pemikiran yang hanya murni mistis yang tidak dapat dikaji secara objektif atau dipertanggungjawabkan secara rasional serta tidak terbuka bagi penjelasan yang lebih objektif. Adanya
6 6 pandangan seperti ini berarti tidak melepaskan Yoga sama sekali dari aspek religiusitasnya. Yoga dapat didekati dari titik yang membuat Yoga tidak menutup dirinya dengan argumentasi religi. Religiusitas hanya satu aspek dalam konstelasi pemikirannya yang komperehensif dan aspek-aspek yang lain yang terkandung di dalamnya juga penting diperhitungkan. (4) Melalui adanya komparasi, diharapkan muncul pertimbangan terhadap adanya aspek lain dalam penilaian kebenaran, sekaligus membuka kemungkinan kritik terhadap masing-masing pandangan. 1.4 Kerangka Teori Skripsi ini berada dalam kerangka teori filsafat Yoga oleh Patanjali dan materialisme sains secara umum. Konsep Yoga diambil sebagai sebuah kerangka pemikiran klasik dari Timur yang secara berani melakukan usaha pengenalan secara mendalam terhadap dunia secara komperehensif termasuk soal-soal partikular yang pada masa sekarang telah memiliki kamar disiplin ilmu yang berdiri secara mandiri, termasuk soal keberadaan dan penelaahan dunia eksternal yang objektif yang dikaji oleh sains. Eksplanasi teori Yoga yang juga terkait dengan Samkhya akan dibahas secara khusus pada satu bab tersendiri. Begitu pula dengan pandangan kesadaran yang dijelaskan oleh sains, dihadirkan dalam satu bab tersendiri. Terlihatnya aspek-aspek yang hampir sama ketika keduanya meneropong satu sama lain membuat Yoga dan sains dihadirkan secara bersebelahan dalam satu perbandingan. Pembandingan konsep kesadaran yang dimiliki Yoga dan sains materialistik tidak berhenti pada komparasi persamaan aspek-aspek saja karena cara tersebut tidak akan sampai pada penjelasan mengapa ada pengutamaan posisi yang satu dibanding yang satunya. Karena yang diuji adalah landasan yang menopang klaim-klaim pengetahuannya maka penelahaan ini pula menyentuh ranah dan teori-teori epistemologi sebagai alat pembuktian klaim-klaim pengetahuan oleh kedua kerangka pemikiran tersebut.
7 7 1.5 Metodologi Penelitian Penelaahan tema dalam skripsi ini akan berdasarkan pada studi pustaka untuk mendapatkan fondasi yang kokoh atas teori-teori yang relevan atas komparasi antara dua sudut pandang yang berbeda dan hermeneutika fenomenologis yang menunjukkan adanya pembacaan teks di mana teks tersebut juga diusahakan terlepas dari atribut-atribut yang tidak secara esensial melengkapi teks tersebut. Tidak lupa disertakan analisis kritis sebagai suatu usaha filosofis menanggapi suatu gagasan baru. 1.6 Kalimat Thesis Bahwa baik sistem pemikiran Yoga dan sains materialistik sama-sama berdiri di atas background belief sehingga memungkinkan keduanya menjadi saling melengkapi dalam studi kesadaran. 1.7 Sistematika Penulisan Tema utama dalam skripsi ini akan diuraikan menjadi beberapa bagian yang disekat menjadi bab-bab yang berkesinambungan. Bab 1 akan berisikan pendahuluan yang menjadi pengantar singkat mengenai isi skripsi secara keseluruhan, yang meliputi latar belakang, perumusan masalah, tujuan, kerangka teori, metodologi penelitian, thesis statement, dan penjabaran singkat sistematika penulisan isi skripsi. Bab 2 akan mengulas Astangga Yoga oleh Patanjali, sebuah kerangka pemikiran filosofis dari India yang merupakan pengolahan keseimbangan tubuh dan jiwa serta penyempurnaannya hingga dapat mencapai kebenaran tertinggi
8 8 menurut kepercayaannya, baik melalui delapan tahapnya maupun pandangannya secara keseluruhan. Bab 3 akan membahas kajian kesadaran secara umum hingga penjelasan lebih mendetil mengenai materialisme yang menjadi pandangan yang mainstream pada saat ini sehingga dipilih untuk menjadi objek yang akan dikomparasi dengan Yoga. Bab 4 akan ditunjukkan bagaimana keduanya diperbandingkan secara kontras, terutama dari konsep-konsep kesadarannya hingga pada kemungkinankemungkinan jauh yang dapat ditarik sebagai konsekuensinya dan analisis pembuktian thesis statement. Bab 5 akan berisi hasil penyimpulan dari isi uraian bab-bab sebelumnya beserta analisis kritis terhadap materi yang telah disampaikan. Kemudian akan disertai dengan lampiran daftar istilah-istilah, bagan dan tabel yang bertujuan untuk memudahkan penyampaian makna isi penelitian ini serta daftar referensi yang dirujuk dalam penyusunan skripsi ini.
BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Invaliditas aplikasi..., Bio In God Bless, FIB UI, 2009
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sains bersifat naturalistis juga bersifat empiristis. Dikatakan bersifat naturalistis dalam arti penjelasannya terhadap fenomena-fenomena alam selalu berada dalam wilayah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Melalui pendidikan, manusia mendapatkan pembelajaran secara kognitif, afektif dan psikomotor yang kemudian
MEMBANGUN ILMU PENGETAHUAN DENGAN KECERDASAN EMOSI DAN SPIRITUAL
MEMBANGUN ILMU PENGETAHUAN DENGAN KECERDASAN EMOSI DAN SPIRITUAL Oleh : Dr. Sri Trisnaningsih, SE, M.Si (Kaprogdi Akuntansi - FE) Pendahuluan Ilmu pengetahuan merupakan karya budi yang logis serta imajinatif,
BAB I PENDAHULUAN. metafisika pada puncaknya. Kemudian pada pasca-pencerahan (sekitar abad ke-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada abad pencerahan (Aufklarung) telah membawa sikap kritis atas metafisika pada puncaknya. Kemudian pada pasca-pencerahan (sekitar abad ke- 19) di Jerman,
BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Filsafat dan Filsafat Ketuhanan
BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Filsafat dan Filsafat Ketuhanan Filsafat merupakan disiplin ilmu yang terkait dengan masalah kebijaksanaan. Hal yang ideal bagi hidup manusia adalah ketika manusia berpikir
BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan 1. Hakikat tubuh menurut Merleau-Ponty: Berangkat dari tradisi fenomenologi, Maurice Merleau-Ponty mengonstruksi pandangan tubuh-subjek yang secara serius menggugat berbagai
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, manusia dapat menemukan hal-hal baru yang dapat dikembangkan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Pendidikan merupakan tumpuan harapan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan,
Prosedur Penelitian (1)
HAND OUT MATA KULIAH Prosedur Penelitian (1) Tedi Priatna Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung 1 Masalah adalah penyimpangan antara yang diharapkan dengan kenyataan dan harus
Teori Kebudayaan Menurut E.K.M. Masinambow. Oleh. Muhammad Nida Fadlan 1
Teori Kebudayaan Menurut E.K.M. Masinambow Oleh. Muhammad Nida Fadlan 1 Sebagai seorang akademisi yang sangat memperhatikan aspek-aspek pengajaran dan pengembangan kebudayaan, E.K.M. Masinambow merupakan
mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi.
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui, yang mempunyai langkah-langkah sistematis. Metodologi adalah suatu pengkajian dalam
BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Adapun kesimpulan tersebut terdapat dalam poin-poin berikut:
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Uraian akhir dari analisa atas pemikiran Frithjof Schuon tentang makna agama dalam perspektif Filsafat Agama adalah bagian kesimpulan, yang merupakan rangkuman jawaban atas
FILSAFAT SEJARAH BENEDETTO CROCE ( )
FILSAFAT SEJARAH BENEDETTO CROCE (1866-1952) Filsafat Sejarah Croce (1) Benedetto Croce (1866-1952), merupakan pemikir terkemuka dalam mazhab idealisme historis. Syafii Maarif mengidentifikasi empat doktrin
BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. Sudut pandang teori materialisme historis dalam filsafat sejarah
174 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Sudut pandang teori materialisme historis dalam filsafat sejarah Marx yang mengulas arsitektural pemerintahan sebagai objek material membuahkan hasil yang menunjukkan pemerintahan
EPISTEMOLOGI MODERN DALAM TRADISI BARAT DAN TIMUR
EPISTEMOLOGI MODERN DALAM TRADISI BARAT DAN TIMUR Dr. Sri Trisnaningsih, SE, M.Si Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi UPN Veteran Jawa Timur Pengantar Epistemologi merupakan ilmu pengetahuan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan di Indonesia haruslah memberi landasan dan penguatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia haruslah memberi landasan dan penguatan agar peserta didik lebih siap bersaing dalam persaingan global nantinya. Usaha peningkatan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara konseptual, kurikulum adalah suatu respon pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda bangsannya. Secara pedagogis,
2016 PERAN BIMBINGAN KARIR, MOTIVASI MEMASUKI DUNIA KERJA DAN PENGALAMAN PRAKERIN TERHADAP KESIAPAN KERJA SISWA SMK
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar manusia dalam mewujudkan suasana belajar dengan melakukan proses pembelajaran didalamnya menjadikan peserta didik aktif mengembangkan
dituntut untuk lebih produktif, kreatif, inovatif, dan afektif.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu pembelajaran yang ada di sekolah adalah pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan mengikuti pembelajaran tersebut, maka siswa mampu mengembangkan potensi
PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF (SKRIPSI)
PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF (SKRIPSI) Suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman
PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN TERHADAP PSIKOLOGI PENDIDIKAN HUMANISTIK
31 Jurnal Sains Psikologi, Jilid 6, Nomor 1, Maret 2017, hlm 31-36 PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN TERHADAP PSIKOLOGI PENDIDIKAN HUMANISTIK Fadhil Hikmawan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penciptaan
1.1 Latar Belakang Penciptaan BAB I PENDAHULUAN Manusia dengan memiliki akal menjadikannya mahluk yang sempurna, sehingga dapat berkehendak melebihi potensi yang dimiliki oleh mahluk lainnya, hal tersebut
Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM
Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Pendahuluan 0 Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting
Keberhasilan suatu proses pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa komponen. Dalam prosesnya, siswa dituntut untuk meningkatkan kompetensinya dengan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan suatu komponen penting dalam mentransformasi pengetahuan, keahlian, dan nilai-nilai akhlak dalam pembentukan jati diri bangsa. Pendidikan
BAB IV. PENUTUP. Universitas Indonesia. Estetika sebagai..., Wahyu Akomadin, FIB UI,
BAB IV. PENUTUP 4. 1. Kesimpulan Pada bab-bab terdahulu, kita ketahui bahwa dalam konteks pencerahan, di dalamnya berbicara tentang estetika dan logika, merupakan sesuatu yang saling berhubungan, estetika
BAB V PENUTUP. 1. Manusia adalah makhluk yang unik, banal, serta ambigu, ia senantiasa
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan penelusuran ini, akhirnya penulis menarik beberapa poin penting untuk disimpulkan, yakni: 1. Manusia adalah makhluk yang unik, banal, serta ambigu,
BAB I PENDAHULUAN. Seorang manusia sebagai bagian dari sebuah komunitas yang. bernama masyarakat, senantiasa terlibat dengan berbagai aktifitas sosial
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seorang manusia sebagai bagian dari sebuah komunitas yang bernama masyarakat, senantiasa terlibat dengan berbagai aktifitas sosial yang berlaku dan berlangsung
PENGERTIAN FILSAFAT (1)
PENGERTIAN FILSAFAT (1) Jujun S. Suriasumantri, orang yang sedang tengadah memandang bintang-bintang di langit, dia ingin mengetahui hakekat dirinya dalam kesemestaan galaksi; atau orang yang berdiri di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan, matematika diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam rangka mengembangkan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Sejauh ini ada tiga macam konstruktivisme seperti yang diungkapkan oleh Suparno : pertama, konstruktivisme radikal; kedua, realisme hipotesis; ketiga, konstruktivisme
43. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK
43. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK KELAS: X Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan secara keseluruhan
PENGETAHUAN DAN FILSAFAT ILMU
FILSAFAT ILMU DAN LOGIKA Modul ke: 09Fakultas Dr. PSIKOLOGI PENGETAHUAN DAN FILSAFAT ILMU H. SyahrialSyarbaini, MA. Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id KONSEP PENGETAHUAN Dalam Encyclopedia of
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Salah satu tumpuan serta puncak keagungan bangsa adalah berupa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu tumpuan serta puncak keagungan bangsa adalah berupa karya sastra lama. Nilai-nilai budaya suatu bangsa yang dalam kurun waktu tertentu sangat dapat
Resume Buku SEMIOTIK DAN DINAMIKA SOSIAL BUDAYA Bab 8 Mendekonstruksi Mitos-mitos Masa Kini Karya: Prof. Dr. Benny H. Hoed
Resume Buku SEMIOTIK DAN DINAMIKA SOSIAL BUDAYA Bab 8 Mendekonstruksi Mitos-mitos Masa Kini Karya: Prof. Dr. Benny H. Hoed Oleh: Tedi Permadi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan
BAB II LANDASAN TEORI
10 BAB II LANDASAN TEORI Bab ini berisi tentang struktural sastra dan sosiologi sastra. Pendekatan struktural dilakukan untuk melihat keterjalinan unsur-unsur intrinsik yang membangun karya sastra itu
Landasan dan Prinsip PengembanganKurikulum
Landasan dan Prinsip PengembanganKurikulum A. Landasan Pengembangan Kurikulum Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang
BAB 3 METODOLOGI. Universitas Indonesia Representasi jilbab..., Sulistami Prihandini, FISIP UI, 2008
31 BAB 3 METODOLOGI 3.1. Paradigma Penelitian Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Sebagaimana dikatakan Patton (1990), paradigma tertanam kuat dalam sosialisasi
2014 PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE KUIS TIM UNTUK ENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS DAN SELF-CONFIDENCE SISWA SMP
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Manusia sebagai pemegang dan penggerak utama dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Melalui
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Setiap perusahaan baik milik negara maupun swasta sebagai suatu pelaku
5 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan baik milik negara maupun swasta sebagai suatu pelaku ekonomi tidak bisa lepas dari kondisi globalisasi ekonomi dewasa ini. Era globalisasi
BAB V PENUTUP. 1. Rekonstruksi teologi antroposentris Hassan Hanafi merupakan
344 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan tiga rumusan masalah yang ada dalam penelitian tesis berjudul Konstruksi Eksistensialisme Manusia Independen dalam Teologi Antroposentris Hassan Hanafi, maka
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Matematika merupakan ratunya ilmu. Matematika merupakan mata pelajaran yang menuntut siswanya untuk berfikir secara logis, kritis, tekun, kreatif, inisiatif,
BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yulianti, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam
BAB I PENDAHULUAN. Dalam kenyataannya pada saat ini, perkembangan praktik-praktik pengobatan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem pengobatan modern telah berkembang pesat di masa sekarang ini dan telah menyentuh hampir semua lapisan masyarakat seiring dengan majunya ilmu pengetahuan,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pencapaian tujuan pendidikan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Banyak permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan untuk menghasilkan
BAB III METODE PENELITIAN. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian
40 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan,
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan ruang yang tidak hanya mengantarkan peserta didik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan ruang yang tidak hanya mengantarkan peserta didik cakap secara pengetahuan, tetapi juga cakap dalam ranah sikap dan keterampilan. Kecapakan
pembelajaran berbahasa dan kegiatan berbahasa dalam kehidupan sehari-hari karena antara satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan yang erat.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu proses memanusiakan manusia. Melalui pendidikan, manusia yang tidak tahu apa-apa menjadi tahu segalanya, manusia yang tidak bisa apa-apa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran merupakan proses atau tahapan seseorang untuk mendapat suatu pengetahuan. Oleh karena itu, proses pembelajaran merupakan faktor yang paling
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Buku adalah komponen penting dalam proses pembelajaran. Buku teks atau buku ajar merupakan bahan pengajaran yang paling banyak digunakan diantara semua bahan
BAB I PENDAHULUAN. Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat
BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Penelitian ini pada akhirnya menemukan beberapa jawaban atas persoalan yang ditulis dalam rumusan masalah. Jawaban tersebut dapat disimpulkan dalam kalimat-kalimat sebagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Asep Saeful Ulum, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Alasan rasional dan esensial yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini di antaranya berdasarkan pada dua hal utama, yaitu 1) Opini masyarakat
2. Fungsi tari. a. Fungsi tari primitif
2. Fungsi tari Tumbuh dan berkembangnya berbagai jenis tari dalam kategori tari tradisional dan tari non trasional disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor ekternal. Faktor internal
BAB I PENDAHULUAN. terencana, terarah, dan berkesinambungan. kurikulum yang lebih baik, dalam arti yang seluas-luasnya, bukan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan merupakan sarana dan wahana yang sangat penting untuk menentukan kelangsungan hidup suatu negara, karena dengan pendidikan akan terbentuklah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang bertujuan untuk mendidik siswanya menjadi warga negara yang baik. Pendidikan Kewarganegaraan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan adalah usaha sadar yang sengaja dirancang untuk menciptakan kualitas Sumber Daya Manusia
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil penelitian dan diskusi hasil penelitian yang telah disajikan pada Bab IV, dapat ditarik kesimpulan dan rekomendasi penelitian sebagai berikut: A. Kesimpulan
BAB III METODE PENELITIAN. Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mencapai sesuatu, dan
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mencapai sesuatu, dan mempunyai langkah-langkah sistematis. Sedangkan penelitian adalah terjemahan
AGAMA dan PERUBAHAN SOSIAL. Oleh : Erna Karim
AGAMA dan PERUBAHAN SOSIAL Oleh : Erna Karim DEFINISI AGAMA MENGUNDANG PERDEBATAN POLEMIK (Ilmu Filsafat Agama, Teologi, Sosiologi, Antropologi, dan Ilmu Perbandingan Agama) TIDAK ADA DEFINISI AGAMA YANG
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN BANTUAN MEDIA VIDEO UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS EKSPOSISI SISWA
Natalia (2017). Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Bantuan Media Video Untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Eksposisi Siswa. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan..Vol.
KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT
KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT Prof. Dr. Almasdi Syahza,, SE., MP Peneliti Senior Universitas Riau Email : [email protected] [email protected] Website : http://almasdi.staff.unri.ac.id Pengertian
M. Hamid Anwar, M. Phil.
M. Hamid Anwar, M. Phil. Email: [email protected] Objek material Objek Formal : Pendidikan : Filsafat Philein/ Philos : Cinta Shopos/ Shopia : Kebijaksanaan Sebuah Upaya untuk mencapai kebijaksanaan dengan
2014 PEMBELAJARAN FISIOLOGI TUMBUHAN TERINTEGRASI STRUKTUR TUMBUHAN BERBASIS KERANGKA INSTRUKSIONAL MARZANO UNTUK MENURUNKAN BEBAN KOGNITIF MAHASISWA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan bertujuan untuk mendapatkan mutu sumber daya manusia sesuai dengan tuntutan kebutuhan pembangunan. Pendukung utama terlaksananya sasaran pendidikan
SEKOLAH MENULIS DAN KAJIAN MEDIA
MATERI: 13 Modul SEKOLAH MENULIS DAN KAJIAN MEDIA (SMKM-Atjeh) MENULIS KARYA ILMIAH 1 Kamaruddin Hasan 2 arya ilmiah atau tulisan ilmiah adalah karya seorang ilmuwan (ya ng berupa hasil pengembangan) yang
II._TINJAUAN PUSTAKA. Keterampilan proses sains merupakan salah satu bentuk keterampilan proses
6 II._TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoretis 1. Keterampilan Proses Sains Keterampilan proses sains merupakan salah satu bentuk keterampilan proses yang diaplikasikan pada proses pembelajaran. Pembentukan
BAB III METODE PENELITIAN. pembelajaran sehari-hari dikelas, maka jenis penelitian ini adalah Penelitian
28 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Permasalahan yang muncul pada penelitian ini berasal dari kegiatan pembelajaran sehari-hari dikelas, maka jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan
BAB V PENUTUP. A. Simpulan
BAB V PENUTUP A. Simpulan Dari keseluruhan kajian mengenai pemikiran Kiai Ṣāliḥ tentang etika belajar pada bab-bab sebelumnya, diperoleh beberapa kesimpulan penting, terutama mengenai konstruksi pemikiran
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
1 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Program Studi Pendidikan Teknologi Agroindustri merupakan salah satu program studi yang berada di bawah naungan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus-menerus dilakukan baik secara konvensional maupun inovatif dalam menghadapi berbagai tantangan yang dipengaruhi
BAB 8 KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEILMUAN
BAB 8 KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEILMUAN 8.1. Kesimpulan 1. Selama abad ke-15 hingga ke-19 terdapat dua konsep pusat yang melandasi politik teritorial di Pulau Jawa. Kedua konsep tersebut terkait dengan
Gambar 3.1 Bagan Penelitian Tindakan Kelas
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Berdasarkan masalah yang ditemukan, metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Arikunto (2010:128), penelitian tindakan
BAB I PENDAHULUAN. pengalaman pengarang mengamati realitas. Pernyataan ini pernah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra, dalam hal ini novel, ditulis berdasarkan kekayaan pengalaman pengarang mengamati realitas. Pernyataan ini pernah diungkapkan oleh Teeuw (1981:
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan cara manusia untuk menggunakan akal /rasional mereka untuk jawaban dalam menghadapi berbagai masalah yang timbul dimasa yang akan datang
BAB I PENDAHULUAN. sikap mental siswa (Wiyanarti, 2010: 2). Kesadaran sejarah berkaitan dengan upaya
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH Pendidikan sejarah di era global dewasa ini dituntut kontribusinya untuk dapat lebih menumbuhkan kesadaran sejarah dalam upaya membangun kepribadian dan sikap
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan pondasi utama dalam mengelola, mencetak dan meningkatkan sumber daya manusia yang handal dan berwawasan yang diharapkan mampu untuk menjawab
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR HANDOUT.
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR HANDOUT [email protected] Pendahuluan Mahasiswa perlu alat bantu dalam menguasai bahan yang disajikan dengan lebih jelas dan sistematis, terutama mereka yang memiliki kemampuan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU ETIS AUDITOR (Survey pada Auditor di Surakarta dan Yogyakarta)
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU ETIS AUDITOR (Survey pada Auditor di Surakarta dan Yogyakarta) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Kesarjanaan Jenjang
K A T A P E N G A N T A R
SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BUDI LUHUR K A T A P E N G A N T A R Buku Pedoman Penyusunan Skripsi ini diterbitkan oleh Fakultas Ekonomi, Universitas Budi Luhur, Jakarta. Tujuannya
FILSAFAT ILMU OLEH SYIHABUDDIN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
FILSAFAT ILMU OLEH SYIHABUDDIN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA FILSAFAT ILMU Filsafat: upaya sungguh-sungguh dlm menyingkapkan segala sesuatu, sehingga pelakunya menemukan inti dari
SAINS, ISLAM, DAN REVOLUSI ILMIAH
l Edisi 048, Februari 2012 P r o j e c t SAINS, ISLAM, DAN REVOLUSI ILMIAH i t a i g k a a n D Sulfikar Amir Edisi 048, Februari 2012 1 Edisi 048, Februari 2012 Sains, Islam, dan Revolusi Ilmiah Tulisan
KEBUDAYAAN DALAM ISLAM
A. Hakikat Kebudayaan KEBUDAYAAN DALAM ISLAM Hakikat kebudayaan menurut Edward B Tylor sebagaimana dikutip oleh H.A.R Tilaar (1999:39) bahwa : Budaya atau peradaban adalah suatu keseluruhan yang kompleks
BAB I PENDAHULUAN. Standard Kualifikasi Akademik dan Kompetensi, guru sebagai pendidik
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahan ajar merupakan komponen penting dalam pembelajaran. Bahan ajar diperlukan sebagai pedoman beraktivitas dalam proses pembelajaran sekaligus merupakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keberhasilan dalam pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan dalam pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor yang terlibat dalam semua kegiatan belajar mengajar. Diantara faktor-faktor tersebut adalah siswa,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa tidak akan lepas dari dunia pembelajaran. Kita semua sebagai elemen di dalamnya memerlukan bahasa yang baik dan benar dalam proses pembelajaran. Pembelajaran
SISTEMATIKA PENULISAN PENULISAN LAPORAN TUGAS AKHIR
SISTEMATIKA PENULISAN PENULISAN LAPORAN TUGAS AKHIR Laporan Tugas Akhir terdiri atas tiga bagian yaitu Bagian Awal, Bagian Utama dan Bagian Akhir. 1. Bagian Awal Bagian awal mencakup (1) Sampul Luar, (2)
BAB 1 PENDAHULUAN. Eksistensialisme religius..., Hafizh Zaskuri, FIB UI, Universitas Indonesia
ix BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai induk dari segala ilmu, filsafat telah berjasa dalam kelahiran sebuah disiplin ilmu, kajian, gagasan, serta aliran pemikiran sampai ideologi, hingga saat
Telaah Pustaka dan Hipotesis DOSEN : DIANA MA RIFAH
Telaah Pustaka dan Hipotesis DOSEN : DIANA MA RIFAH Tinjauan/ Telaah Pustaka Merupakan identifikasi dan analisis dari dokumen-dokumen yang berisi informasi yang berhubungan dengan permasalahan penelitian
BAB III METODE PENELITIAN. Metode merupakan cara kerja dalam memahami objek yang menjadi
58 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode merupakan cara kerja dalam memahami objek yang menjadi sasaran penelitian. Peneliti dapat memilih salah satu dari berbagai metode yang ada sesuai
Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting dan tepat Permasalahan muncul ketika banyak
Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting dan tepat Permasalahan muncul ketika banyak model telah terbentuk. Banyak model yang tersedia yang
KARYA TULIS ILMIAH. Oleh: Anik Ghufron FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010
KARYA TULIS ILMIAH Oleh: Anik Ghufron FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 FOKUS KAJIAN 1. Makna karya ilmiah 2. Jenis-jenis karya ilmiah 3. Sistematika penulisan karya tulis ilmiah
