III. METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
IV. METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

X. REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN BERKELANJUTAN BERBASIS PETERNAKAN SAPI POTONG TERPADU DI KABUPATEN SITUBONDO

III METODE PENELITIAN

V. IDENTIFIKASI POTENSI WILAYAH KABUPATEN SITUBONDO. Abstrak

RINGKASAN EKSEKUTIF HENNY NURLIANI SETIADI DJOHAR IDQAN FAHMI

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

3 METODE. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian. 3.2 Jenis, Sumber dan Metode Analisis Data

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG

PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG I - 1 LAPORAN AKHIR D O K U M E N

III. METODE PENELITIAN

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG

IV. METODOLOGI PENELITIAN

AGRIBISNIS. Sessi 3 MK PIP. Prof. Rudi Febriamansyah

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG,

I. PENDAHULUAN. Kota Depok telah resmi menjadi suatu daerah otonom yang. memiliki pemerintahan sendiri dengan kewenangan otonomi daerah

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN

RINGKASAN EKSEKUTIF DASLINA

1.1. VISI DAN MISI DINAS PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN KOTA PRABUMULIH. pedoman dan tolak ukur kinerja dalam pelaksanaan setiap program dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar

PENDAHULUAN Latar Belakang

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN

UPAYA MEMPERTAHANKAN PERKEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN TEGAL

III. METODOLOGI PENELITIAN. ini adalah wilayah penelitian Kota Bandar Lampung dengan wilayah. arah tersedianya pemenuhan kebutuhan masyarakat.

BAB I P E N D A H U L U A N. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah

Kawasan Cepat Tumbuh

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN

Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa :

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang sekaligus

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting

BAB I PENDAHULUAN. pendapatan masyarakat. Sektor pertanian di Indonesia terdiri dari beberapa sub

III. BAHAN DAN METODE

Implementasi Kebijakan Pengembangan Kawasan Agropolitan Sendang Kabupaten Tulungagung

PEMERINTAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TEMA RKPD PROV KALTIM 2018 PENGUATAN EKONOMI MASYRAKAT MENUJU KESEJAHTERAAN YANG ADIL DAN MERATA

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan

I. PENDAHULUAN. pasokan sumber protein hewani terutama daging masih belum dapat mengimbangi

I. PENDAHULUAN. Sumber : BPS (2009)

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

III. METODE PENELITIAN

ANALISA PERBANDINGAN SOSIAL EKONOMI PETANI JAGUNG SEBELUM DAN SETELAH ADANYA PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN MUNGKA KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

BAB III METODE PENELITIAN. wilayah di Kecamatan Ungaran Barat dalam usaha pengembangan agribisnis sapi

PROPOSAL POTENSI, Tim Peneliti:

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG PENGEMBANGAN KOTA KEDUA (SECOND CITY) DI KABUPATEN SITUBONDO

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Usaha sektor peternakan merupakan bidang usaha yang memberikan

METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Penelitian. menganalisis data yang berhubungan dengan penelitian.

3.1 Penilaian Terhadap Sistem Perekonomian / Agribisnis

III. METODOLOGI KAJIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

MENGAPA ASPEK RUANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA? 1. PERENCANAAN EKONOMI SERINGKALI BERSIFAT TAK TERBATAS 2. SETIAP AKTIVITAS SELAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KETENTUAN TEKNIS MUATAN RENCANA DETAIL PEMBANGUNAN DPP, KSPP DAN KPPP

Bab II. Tujuan, Kebijakan, dan Strategi 2.1 TUJUAN PENATAAN RUANG Tinjauan Penataan Ruang Nasional

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

JURIDIKTI, Vol. 6 No. 1, April ISSN LIPI :

PENDAHULUAN Latar Belakang

ABSTRAK PENDAHULUAN. Kata kunci : Komoditi Unggulan, Spesialisasi, Lokalisasi dan Lokasi (LQ)

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN DAN METODOLOGI

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

Amonia (N-NH3) Nitrat (N-NO2) Orthophosphat (PO4) mg/l 3 Ekosistem

III. METODE PENELITIAN

BAB 2 KETENTUAN UMUM

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Provinsi Lampung memiliki kegiatan pembangunan yang berorientasikan pada potensi sumberdaya alam

Penentuan Kawasan Agropolitan berdasarkan Komoditas Unggulan Tanaman Hortikultura di Kabupaten Malang

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang. peluang karena pasar komoditas akan semakin luas sejalan dengan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ARAH KEBIJAKAN PERSUSUAN

BAB III. METOLODOLGI

BAB I PENDAHULUAN. beli masyarakat. Sapi potong merupakan komoditas unggulan di sektor

BAB I PENDAHULUAN. efetivitas rantai pemasok. Menurut Wulandari (2009), faktor-faktor yang

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PENGENDALIAN SAPI DAN KERBAU BETINA PRODUKTIF

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dilihat dari sejarah atau proses perkembangannya pada masa yang lalu dapat diketahui bahwa kota-kota pada

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian

RINGKASAN EKSEKUTIF Muhammad Syahroni, E. Gumbira Sa id dan Kirbrandoko.

Transkripsi:

III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Provinsi Jawa Timur. Penetapan lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan mempunyai potensi yang memungkinkan untuk pengembangan kawasan agropolitan berbasis peternakan dan didukung dengan sarana dan prasarana umum yang memadai. yang merupakan lokasi penelitian (Gambar 9), terlebih dahulu dikaji karekteristik wilayah yang akan mendukung pengembangan kawasan agropolitan berbasis peternakan. Penetapan lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) sebanyak 5 (lima) kecamatan dari 17 kecamatan, yaitu: Kecamatan Asembagus, Jangkar, Arjasa, Kapongan, dan Mangaran dengan pertimbangan: 1. Sinergi dengan program pembangunan yang telah dicanangkan oleh pemerintah daerah setempat. 2. Aksesibilitas kawasan telah dihubungkan oleh jalan arteri yang menghubungkan antar kabupaten. 3. Potensi lahan yang memungkinkan untuk pengembangan kawasan agropolitan berbasis peternakan dan didukung dengan sarana dan prasarana umum yang memadai. 4. Peternakan merupakan komoditi unggulan daerah yang diharapkan memberikan kontribusi terhadap dinamika ekonomi daerah. 5. Peternakan merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat setempat secara turun-temurun. 6. Ketersediaan sumber pakan dan tenaga kerja yang cukup untuk pengembangan peternakan. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei 2008 sampai dengan bulan Mei 2009, terhitung mulai dari penyusunan proposal sampai pelaksanaan penelitian, dilanjutkan dengan penulisan disertasi sampai saat ini bulan Juli 2010.

63 Gambar 9 Lokasi penelitian. 3.2. Teknik Penentuan Responden Teknik penentuan responden dalam rangka menggali informasi dan pengetahuannya ditentukan/dipilih secara sengaja (purposive sampling). Pemilihan responden disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan jumlah responden yang akan diambil yaitu responden yang dapat dianggap mewakili dan memahami permasalahan yang diteliti. Penentuan responden dilakukan dua cara:

64 1. Responden dari peternak untuk survei sosial ekonomi di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive random sampling. Data sosial ekonomi tersebut digunakan untuk analisis perilaku peternak dan menentukan status serta indeks keberlanjutan agropolitan berbasis peternakan. Jumlah responden (n) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: N n = ---------------- 2 1 + Ne Keterangan: n = Jumlah responden. N = Jumlah populasi (kepala keluarga peternak). e = Galat yang dapat diterima (10 %). Responden tersebut diambil dari 5 (lima) kecamatan di, yaitu: Kecamatan Asembagus, Jangkar, Arjasa, Kapongan, dan Mangaran. 2. Responden dari kalangan pakar. Responden pakar dipilih secara sengaja (purposive sampling. Responden yang terpilih memiliki kepakaran sesuai dengan bidang yang dikaji. Syarat-syarat responden pakar antara lain: a) Mempunyai pengalaman yang kompeten sesuai bidang yang dikaji. b) Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompetensinya dengan bidang yang dikaji dan telah menunjukkan kredibilitasnya sebagai ahli atau pakar pada bidang yang diteliti. c) Mempunyai komitmen terhadap permasalahan yang dikaji. d) Bersifat netral, bersedia menerima pendapat responden lain. e) Memiliki kredibilitas yang tinggi dan bersedia dimintai pendapat. 3.3. Metode Analisis Data a. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penetapan kawasan agropolitan berbasis peternakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Adapun data primer seperti total biaya dan penerimaan usahatani, serta data skoring dari pendapat pakar.

65 Data sekunder seperti data produksi peternakan, komoditas unggulan, jumlah penduduk, kegiatan utama masyarakat di sektor peternakan, aksesibilitas kawasan ke kawasan/daerah lainnya, kedekatan dengan pasar, kelengkapan sarana dan prasarana pendukung, potensi lahan untuk mendukung pengembangan kawasan agropolitan, dan perolehan PDRB, fasilitas pendidikan latihan dan penyuluhan, fasilitas kesehatan hewan dan IB, fasilitas ibadah, fasilitas olah raga, fasilitas keamanan, fasilitas ekonomi seperti ketersediaan pasar dan Koperasi Unit Desa (KUD). Data sekunder ini diperoleh dari instansi-instansi terkait di, seperti: Bappekab, Dinas Peternakan, Dinas Pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS), Kecamatan dan Desa dalam wilayah Kecamatan Asembagus, Jangkar, Arjasa, Kapongan, dan Mangaran. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Jenis, sumber data, dan metode analisis model pengembangan kawasan agropolitan berbasis peternakan sapi potong terpadu di No Tujuan Jenis Bentuk Sumber Metode Output yang Khusus 1. Identifikasi potensi wilayah 2. Tingkat perkembangan wilayah 3. Status keberlanjutan wilayah 4. Model pengembangan kawasan agropolitan berbasis peternakan di Data Primer Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Primer Sekunder Data Hasil wawancara dan penyebaran kuisioner Laporan tahunan Dinas terkait Hasil wawancara dan penyebaran kuisioner Laporan tahunan Dinas terkait Hasil wawancara dan penyebaran kuisioner Laporan tahunan Dinas terkait Hasil wawancara dan penyebaran kuisioner Laporan tahunan Dinas terkait Data Dinas atau Instansi terkait. Responden terpilih. Dinas atau Instansi terkait. Pendapat pakar. Dinas atau Instansi terkait. Pendapat pakar. Dinas atau Instansi terkait. Pendapat pakar. Analisis LQ, analisis unggulan dan andalan, serta usahatani Analisis Tipologi, PCA, Cluster, Skalogram, Sentralitas Multidimensional Scaling (MDS), Montecarlo, dan Prospektif Sistem Dinamik dengan Powersim Diharapkan Teridentifikasi potensi wilayah Diketahui tingkat perkembangan wilayah Diketahui status keberlanjutan wilayah Terbangun model pengembangan kawasan agropolitan berbasis peternakan di

66 b. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara, diskusi, pengisian kuesioner, dan pengamatan langsung terhadap kegiatan di lokasi penelitian untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Responden di wilayah studi yang terdiri atas berbagai pakar dan peternak yang terkait dengan kegiatan pengembangan kawasan agropolitan berbasis peternakan. Data sekunder diperoleh dari beberapa sumber, seperti: hasil studi pustaka, hasil penelitian terdahulu, laporan, dan dokumen dari beberapa instansi yang terkait dengan penelitian. c. Metode Analisis Data Metode analisis data, dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: (1) Studi potensi wilayah. (2) Studi tingkat perkembangan wilayah. (3) Studi status keberlanjutan wilayah untuk pengembangan kawasan agropolitan berbasis peternakan sapi potong terpadu. (4) Membangun model pengembangan kawasan agropolitan berbasis peternakan sapi potong terpadu di wilayah. Penelitian ini menggunakan beberapa metode analisis data seperti: analisis location quotient (LQ), analisis komoditas unggulan dan andalan, analisis usahatani, analisis tipologi kawasan, principle component analysis (PCA), analisis cluster, analisis skalogram, analisis sentralitas, analisis keberlanjutan dengan multi dimensional scaling (MDS) modifikasi dari rapfish, analisis prospektif, dan analisis sistem dinamik dengan powersim. Adapun metode analisis data secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3 dan pada bab pembahasan setiap tujuan (Bab V, VI, VII, dan VIII). Adapun tahapan-tahapan penelitian dan metode analisis data yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 10.

67 PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN BERBASIS PERTERNAKAN SAPI POTONG TERPADU Potensi Kawasan Perkembangan Kawasan Berbasis Kegiatan Komoditas Unggulan Usahatani Karakteristik Kawasan Sarana & Prasarana Location Quotient Unggulan & Andalan R/C Ratio Tipologi PCA, Cluster Skalogram Sentralitas Keberlanjutan Pengembangan Kawasan Agropolitan Berbasis Peternakan Sapi Potong Terpadu * MDS (Rap-BANGKAPET) *Analisis Prospektif Model Pengembangan Kawasan Agropolitan Berkelanjutan Berbasis Perternakan Sapi Potong Terpadu * Sistem Dinamik (Visual Basic, Powersim) Gambar 10 Tahapan dan metode analisis data penelitian pengembangan kawasan agropolitan berbasis peternakan sapi potong terpadu di

68 3.4. Definisi Operasional Definisi operasional menjelaskan kaidah-kaidah yang terkandung pada judul penelitian, sehingga setiap kata yang dipergunakan dapat dipahami secara baku oleh peneliti dan pembaca hasil penelitian. Definisi opersional tersebut adalah sebagai berikut. 1. Model adalah abstraksi atau penyederhanaan dari sistem yang sebenarnya. Model merupakan suatu penggambaran abstrak dari sistem dunia nyata (riil), yang akan bertindak seperti dunia nyata untuk aspek-aspek tertentu (Marimin 2005). 2. Pengembangan kawasan adalah upaya adaptif mengembangkan kawasan yang dapat menyesuaikan dengan lingkungan untuk mencapai keserasian antarsektor dan antarwilayah, serta antarnegara yang bertetangga sehingga dapat mensejajarkan diri dengan negara yang lebih maju. 3. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya (UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang). 4. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional (UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang). 5. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumber daya buatan (UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang). 6. Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan (UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang). 7. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiata utama pertanian, termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan,

69 pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi (UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang). 8. Kawasan agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumberdaya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agribisnis (UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang). 9. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi (UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang). 10. Agropolitan berasal dari kata Agro berarti pertanian dan Politan berarti kota, yaitu kota pertanian yang tumbuh dan berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem dan usaha agribisnis sehingga dapat melayani, mendorong, dan menarik kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Agropolitan dapat juga diartikan sebagai kota pertanian atau kota di daerah lahan pertanian atau pertanian di daerah kota (Departemen Pertanian 2002). 11. Komoditas andalan adalah komoditas potensial yang dipandang dapat dipersaingkan dengan produk sejenis di daerah lain, karena disamping memiliki keunggulan komparatif juga memiliki efisiensi usaha yang tinggi. Efisiensi usaha itu dapat tercermin dari efisiensi produksi, produkivitas pekerja, profitabilitas dan lain-lain (Pemkab Purbalingga 2003). 12. Komoditas unggulan adalah komoditas andalan yang memiliki keunggulan kompetitif, karena telah memenangkan persaingan dengan produk sejenis di daerah lain. Keunggulan kompetitif demikian dapat terjadi karena efisiensi produksinya yang tinggi akibat posisi tawarnya yang tinggi baik terhadap pemasok, pembeli, dan daya saingnya yang tinggi terhadap pesaing, pendatang baru maupun barang substitusi (Pemkab Purbalingga 2003).

70 13. Pembangunan berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai upaya sadar dan terencana yang memadukan lingkungan hidup temasuk sumberdaya ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Pembangunan berkelanjutan dapat juga didefinisikan sebagai pembangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini tanpa merusak atau menurunkan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (WCED 1987). 14. Kebijakan adalah serangkaian keputusan yang diambil oleh seorang aktor atau kelompok aktor yang berkaitan dengan seleksi tujuan dan cara mencapai tujuan tersebut dalam situasi tertentu, dimana keputusan tersebut berada dalam cakupan wewenang para pembuatnya (Hardjosubroto dan Astuti 1993). 15. Sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan kompleks (Marimin 2004). 16. SHE (sibernetik, holistik, dan efektifitas). Sibernetik dapat diartikan bahwa dalam penyelesaian masalah tidak berorientasi pada permasalahan (problem oriented) tetapi lebih berorientasi pada tujuan (goal oriented). Holistik lebih menekankan pada penyelesaian permasalahan secara utuh dan menyeluruh. Efektifitas berarti bahwa sistem yang telah dikembangkan tersebut harus dapat dioperasikan (Hardjomidjojo 2006). 17. merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Jawa Timur yang cukup dikenal dengan sebutan Daerah Wisata Pantai Pasir Putih yang letaknya berada di ujung Timur Pulau Jawa bagian Utara yang terdiri atas 17 (tujuh belas) kecamatan (Bappekab dan BPS 2008). 18. Peternakan adalah segala macam kegiatan pengusahaan untuk mengambil manfaat yang lebih besar dari ternak demi kepentingan manusia (Hardjosubroto dan Astuti 1993).

71 19. Peternakan sapi potong terpadu adalah usaha peternakan sapi potong merupakan usaha basis utama, sedangkan penunjangnya adalah pertanian tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Semuanya terpadu dalam suatu siklus usaha. Dalam siklus usaha itu tidak ada lagi bahan yang terbuang, baik limbah peternakan maupun pertanian. Praktis seluruh mata usaha itu bersifat ramah lingkungan (Sarwono dan Arianto 2003).