TINJAUAN PUSTAKA Kerbau

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

TINGKAH LAKU KERBAU RAWA YANG DIPELIHARA SECARA FEEDLOT YANG DIBERI RANSUM DENGAN SUPLEMENTASI CAMPURAN GARAM KARBOKSILAT KERING (CGKK)

TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Kerbau Karakteristik Ternak Kerbau

KAJIAN KEPUSTAKAAN. terdiri atas dua sub spesies yaitu kerbau liar dan kerbau domestik. Kerbau

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA Keadaan Umum Lokasi Penelitian di Koto Kampar Hulu dan XIII Koto Kampar Kecamatan XIII Koto Kampar dengan luas lebih kurang

TINJAUAN PUSTAKA Kerbau

I. PENDAHULUAN. populasi kambing di Provinsi Lampung pada tahun 2009 baru mencapai

KAJIAN KEPUSTAKAAN. kebutuhan konsumsi bagi manusia. Sapi Friesien Holstein (FH) berasal dari

TINJAUAN PUSTAKA. banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras. Sifat-sifat yang

I. PENDAHULUAN. Lampung merupakan daerah yang berpotensi dalam pengembangan usaha

Tatap muka ke : 10 POKOK BAHASAN VII VII. SISTEM PRODUKSI TERNAK KERBAU

TINJAUAN PUSTAKA Kerbau Rawa

HASIL DAN PEMBAHASAN. (BBPTU-HPT) Baturraden merupakan pusat pembibitan sapi perah nasional yang

TINJAUAN KEPUSTAKAAN. terutama untuk daerah pedalaman pada agroekosistem rawa dengan kedalaman air

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Menurut Blakely dan Bade (1992), bangsa sapi perah mempunyai

pengembangan KERBAU KALANG SUHARDI, S.Pt.,MP Plasmanutfah Kalimantan Timur

I. PENDAHULUAN. Indonesia akan pentingnya protein hewani untuk kesehatan dan kecerdasan

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (Purbowati, 2009). Domba lokal jantan mempunyai tanduk yang kecil, sedangkan

TINJAUAN PUSTAKA Domba

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Data Suhu Lingkungan Kandang pada Saat Pengambilan Data Tingkah Laku Suhu (ºC) Minggu

BERTEMPAT DI GEREJA HKBP MARTAHAN KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR Oleh: Mangonar Lumbantoruan

TINJAUAN PUSTAKA. Subphylum : Vertebrata. : Galiformes

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Penelitian

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan cepat dan kualitas daging cukup

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan

HASIL DA PEMBAHASA. Konsumsi Bahan Kering Ransum

PEMBERIAN PAKAN PADA PENGGEMUKAN SAPI

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging sapi setiap tahun selalu meningkat, sementara itu pemenuhan

TINJAUAN PUSTAKA. lokal adalah sapi potong yang asalnya dari luar Indonesia tetapi sudah

POKOK BAHASAN IX IX. PENGGUNAAN ENERGI MEKANIK PADA TERNAK KERJA. Mengetahui proses metabolisme dan dinamika fisiologi pada ternak kerja

TINJAUAN PUSTAKA. Kerbau menurut Bhattarchya (1993) termasuk dalam klas mamalia, ordo

I. PENDAHULUAN. Jumlah penduduk di Indonesia selalu menunjukkan peningkatan dari tahun ke

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Bahan Kering (BK) 300, ,94 Total (g/e/hr) ± 115,13 Konsumsi BK Ransum (% BB) 450,29 ± 100,76 3,20

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Sapi Friesian Holstein (FH) Produktivitas Sapi Perah

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Konsumsi Pakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mampu beradaptasi dengan pakan dan lingkungan yang kurang baik (Priyanto et

II. TINJAUAN PUSTAKA. Burung tekukur merupakan burung yang banyak ditemukan di kawasan yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sapi potong merupakan sapi yang dipelihara dengan tujuan utama sebagai

TINJAUAN PUSTAKA Peternakan Sapi Potong di Indonesia

II. TINJAUAN PUSTAKA. jantan dengan kambing Peranakan Etawa betina (Cahyono, 1999). Kambing

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan penduduk yang semakin pesat, permintaan produk

1. PENDAHULUAN. akan daging sebagai salah satu sumber protein. Pemenuhan akan daging

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Madura merupakan hasil persilangan antara sapi Bali (Bos sondaicus)

PENDAHULUAN. Sapi perah merupakan sumber penghasil susu terbanyak dibandingkan

II. TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 4.1. Zona agroklimat di Indonesia menurut Oldeman

KAJIAN KEPUSTAKAAN. berkuku genap dan termasuk sub-famili Caprinae dari famili Bovidae. Semua

PENDAHULUAN. potensi besar dalam memenuhi kebutuhan protein hewani bagi manusia, dan

PENGEMBANGAN PERBIBITAN KERBAU KALANG DALAM MENUNJANG AGROBISNIS DAN AGROWISATA DI KALIMANTAN TIMUR

TINJAUAN PUSTAKA Ternak Kerbau Populasi Ternak Kerbau di Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Potensi Kambing sebagai Ternak Penghasil Daging

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan pertambahan penduduk dari tahun ke tahun yang terus meningkat

BAB I PENDAHULUAN. yang strategis karena selain hasil daging dan bantuan tenaganya, ternyata ada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Peranakan Ettawa (PE) merupakan hasil perkawinan antara kambing

TINJAUAN PUSTAKA. Terletak LU dan LS di Kabupaten Serdang Bedagai Kecamatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memiliki ciri-ciri fisik antara lain warna hitam berbelang putih, ekor dan kaki

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum

TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Bligon. Kambing Bligon (Jawa Randu) merupakan kambing hasil

PENDAHULUAN. Hasil sensus ternak 1 Mei tahun 2013 menunjukkan bahwa populasi ternak

menghasilkan keturunan (melahirkan) yang sehat dan dapat tumbuh secara normal. Ternak yang mempunyai kesanggupan menghasilkan keturunan atau dapat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sama seperti sapi Bali betina. Kaki bagian bawah lutut berwarna putih atau

BAHAN DAN METODE. Tabel 7 Karakteristik sapi dara No Kode ternak Umur (bulan) Lingkar dada (cm) Bobot Badan (kg) 1.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebagai hasil domestikasi (penjinakan) dari banteng liar. Sebagian ahli yakin

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adanya wabah flu burung pada unggas, tidak mustahil untuk memenuhi kebutuhan

UKURAN-UKURAN TUBUH TERNAK KERBAU LUMPUR BETINA PADA UMUR YANG BERBEDA DI NAGARI LANGUANG KECAMATAN RAO UTARA KABUPATEN PASAMAN

I. PENDAHULUAN. peternakan pun meningkat. Produk peternakan yang dimanfaatkan

PENDAHULUAN. memadai, ditambah dengan diberlakukannya pasar bebas. Membanjirnya susu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Domba merupakan salah satu jenis ternak ruminansia yang banyak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Susilorini, dkk (2010) sapi Bali memiliki taksonomi

TINJAUAN PUSTAKA Kelinci Pertumbuhan Kelinci

TERNAK KELINCI. Jenis kelinci budidaya

TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Perah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan populasi yang cukup tinggi. Kambing Kacang mempunyai ukuran tubuh

TINJAUAN PUSTAKA. Domba

disusun oleh: Willyan Djaja

HUBUNGAN STRES DAN BIOKIMIA NUTRISI PADA TERNAK OLEH : NOVI MAYASARI FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAD PADJADJARAN

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang terus

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sapi pada umumnya digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu sapi lokal (Bos

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Kerbau berasal dari india, namun telah tersebar di banyak negara termasuk

PENGEMBANGAN TERNAK KERBAU DI PROVINSI JAMBI

II. TINJAUAN PUSTAKA. (Chen et al., 2005). Bukti arkeologi menemukan bahwa kambing merupakan

Pada kondisi padang penggembalaan yang baik, kenaikan berat badan domba bisa mencapai antara 0,9-1,3 kg seminggu per ekor. Padang penggembalaan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. persilangan antara sapi Jawa dengan sapi Bali (Rokhana, 2008). Sapi Madura

TINJAUAN PUSTAKA Usaha Peternakan Sapi Perah Iklim dan Cuaca Pengaruh Iklim terhadap Produktivitas Sapi Perah

I. PENDAHULUAN. besar untuk dikembangkan, sapi ini adalah keturunan Banteng (Bos sundaicus)

THERMOREGULATION SYSTEM ON POULTRY

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Sapi perah termasuk kedalam famili Bovidae dan ruminansia yang

PENGANTAR. Latar Belakang. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi yang sangat besar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ternak perah adalah ternak yang diusahakan untuk menghasikan susu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Domba Ekor Gemuk. Domba Lokal memiliki bobot badan antara kg pada

KAJIAN KEPUSTAKAAN. dan Handiwirawan, 2006). Kerbau domestik (Bubalus bubalis) terdiri dari dua tipe

Transkripsi:

TINJAUAN PUSTAKA Kerbau Kerbau merupakan hewan ruminansia dari sub family Bovinae yang berkembang di banyak bagian dunia dan diduga berasal dari daerah India. Kerbau domestikasi atau water buffalo yang terdapat saat ini berasal dari spesies bubalus arnee. Spesies kerbau lainnya yang masih liar adalah bubalus mindorensis, bubalus depressicornis dan bubalus caffer (Hasinah dan Handiwirawan, 2006). Kerbau domestik (Bubalus bubalis) terdiri dari dua tipe yaitu kerbau rawa dan kerbau sungai. Kerbau rawa merupakan kerbau tipe pedaging sedangkan kerbau sungai merupakan kerbau tipe perah. Taksonomi kerbau (Bubalus bubalis) menurut Fahimuddin (1975) adalah sebagai berikut: Kerajaan : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Arthiodactyla Family : Bovidae Genus : Bos Sub genus : Bubaline Spesies : Bubalus bubalis Kerbau sungai (river buffalo) adalah kerbau yang biasa digunakan sebagai ternak perah dan memiliki kebiasaan berkubang pada air jernih. Fahimuddin (1975) menyatakan bahwa kerbau sungai banyak terdapat di India, Pakistan, Mesir, dan daerah Mediterania. Kerbau rawa (swamp buffalo) tersebar dalam jumlah yang besar di daerah Asia Tenggara. Ciri-ciri kerbau rawa menurut Fahimuddin (1975) adalah berwarna keabu-abuan, leher terkulai dan memiliki tanduk besar yang mengarah ke belakang. Kerbau rawa memiliki kebiasaan berkubang pada lumpur. Kerbau rawa biasanya digunakan sebagai penghasil daging dan hewan kerja. Kerbau diketahui memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan sapi Diwyanto dan Handiwirawan (2006) menyatakan bahwa kerbau dapat hidup di kawasan yang relatif sulit dalam keadaan pakan yang kurang baik. Kerbau juga dapat berkembangbiak dalam rentang agroekosistem yang luas dari daerah yang basah sampai daerah yang relatif kering. Di beberapa Negara kerbau dikembangbiakkan

terutama untuk produksi susu dan bahan baku produk olahan susu karena kadar lemak susu kerbau lebih tinggi daripada sapi. Sistem Pemeliharaan Kerbau Sistem pemeliharaan ternak kerbau biasanya dilakukan dengan cara ekstensif, terutama di Daerah Kalimantan Timur. Kerbau digembalakan pada padang rumput atau lahan rawa dan pada malam hari kerbau beristirahat di kalang. Hamdan et al, (2006) menjelaskan bahwa sistem pemeliharaan ekstensif sangat bergantung pada dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Aktivitas kerbau pada musim hujan lebih banyak dihabiskan di dalam kalang, sedangkan pada musim kemarau kerbau banyak beraktivitas di padang penggembalaan. Sistem pemeliharaan secara ekstensif banyak dilakukan di kawasan Timur Indonesia, dimana kondisi agroklimat dan topografi daerahnya didominasi hamparan lahan kering yang luas bervegetasi rumput alam dan semak belukar (Suhubdy, 2009). Kendala yang sering dihadapi peternak dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif adalah musim dan terbatasnya lahan penggembalaan. Pada musim kemarau peternak sulit memperoleh pakan hijauan sehingga harus mencari ke tempat lain, sedangkan pada musim hujan sering terjadi banjir pada lahan penggembalaan. Sistem pemeliharaan kerbau tidak hanya dilakukan secara ekstensif, namun juga dilakukan secara semi intensif dan intensif, khususnya di Kabupaten Kudus, Jawa Timur sekitar 26,67% peternak memelihara kerbau secara intensif dan 73,33% secara semi intensif. Peternak di sekitar persawahan bera dan bantaran sungai yang memiliki rerumputan umumnya melakukan pemeliharaan secara semi intensif, sedangkan pemeliharaan intensif pada umumnya dilakukan oleh peternak kerbau yang di sekitar perkandangannya memiliki lahan yang sempit. Parakkasi (1999) menjelaskan bahwa sistem pemeliharaan secara ekstensif jika ditinjau dari segi usaha tidak merugi, karena biaya produksi hampir tidak ada. Namun untuk memenuhi kebutuhan daging nasional sistem pemeliharaan seperti ini sangat tidak diharapkan. Hal ini disebabkan oleh lamanya waktu yang dibutuhkan untuk penggemukkan atau dapat juga dikatakan produktivitasnya rendah. Pencapaian bobot badan 150 kg, memerlukan waktu sekitar 5 tahun. Pemeliharaan dengan sistem intensif menghasilkan produksi yang lebih efisien dan dapat memendekkan waktu 4

produksi. Sistem pemeliharaan intensif dapat memungkinkan ternak mengkonsumsi ransum yang berkualitas baik dan dapat memanfaatkan bahan hasil ikutan industri pertanian sebagai pakan tembahan, selain itu sistem ini mempermudah dalam pengawasan kesehatan ternak dan menggunakan lahan yang sedikit dibandingkan sistem ekstensif. Produktivitas Ternak Kerbau Ternak kerbau merupakan salah satu ternak lokal yang belum banyak dikaji potensinya secara optimal padahal merupakan sumberdaya genetik ternak asli Indonesia yang harus dipertahankan. Ternak yang secara genetik beradaptasi terhadap kondisi lingkungan spesifik akan lebih produktif. Ternak kerbau memiliki kemampuan lebih tinggi dibandingkan dengan ternak sapi dalam hal memanfaatkan pakan yang kurang berkualitas (hijauan berprotein rendah dan serat kasar tinggi), karena karakteristik fisiologi pencernaan dan kapasitas perut ternak kerbau lebih banyak dibanding protozoa dan gerakan makanan dalam saluran pencernaan lamban. Hal ini menyebabkan kemampuan untuk memanfaatkan pakan dan kecernaan pakan menjadi lebih tinggi sekitar 2% - 3% per unit (Wanapat,2001). Ternak kerbau memiliki potensi yang lebih besar ditinjau dari kapasitas fisiologi nutrisi dan feeding behavior, sehingga akan sesuai hidup pada lingkungan yang bervariasi (Suhubdy, 2007). Ternak kerbau tahan terhadap tekanan dan perubahan lingkungan yang sangat ekstrim misalnya perubahan temperature atau fenologi padang rumput, hal ini terlihat dari penyebarannya yang luas mulai dari daerah beriklim kering di NTT dan NTB, lahan pertanian yang subur di Jawa, hingga lahan rawa di Sulawesi Selatan, Kalimantan, dan Sumatera. Kerbau juga berkembang di daerah pegunungan di Tapanuli Utara dan Tengger serta dataran rendah di pinggir laut seperti Tegal dan Brebes (Bamualim at al., 2009). Karakteristik kerbau terhadap lingkungan menunjukkan bahwa sifat produksi dan reproduksi kerbau sangat responsive apabila habitat dan manajemen pemeliharaannya diperbaiki (Suhubdy, 2007). 5

Tingkah Laku Ethology biasa juga disebut sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku hewan, yang berasal dari kata ethos yang berarti karakter atau alam dan logos yang berarti ilmu. Mempelajari tingkah laku hewan berarti menentukan karakteristik hewan dan bagaimana responnya terhadap lingkungan. Selama interaksi tersebut ternak akan menimbulkan respon berupa tingkah laku terhadap lingkungan yang dihadapinya (Gonyou,1991). Goin dan Goin (1978) juga menyatakan bahwa perilaku suatu hewan dapat dipengaruhi oleh beberapa variabel seperti genetik, proses belajar dari pengalaman dan beberapa faktor fisiologis termasuk umur dan jenis kelamin. Perilaku dapat diartikan sebagai ekspresi seekor hewan yang dituangkan dalam bentuk gerakan-gerakan (Prijono, 1997). Grier (1984) berpendapat, bahwa tingkah laku hewan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dalam dan faktor luar individu yang bersangkutan, faktor dalam antara lain hormon dan sistem syaraf sedangkan faktor luar antara lain cahaya, suhu dan kelembaban (Grier, 1984). Faktor yang mempengaruhi perilaku dinamakan rangsangan (Tanudimadja dan Kusumamihardja, 1985). Menurut Scott (1987), pola perilaku dikelompokkan ke dalam sistem informasi, yakni kumpulan pola perilaku-perilaku yang memiliki satu fungsi umum. Praktisnya tingkah laku dapat diartikan sebagai gerak-gerik organisme untuk memenuhi rangsangan dalam tubuhnya dengan memanfaatkan rangsangan dari lingkungannya. Terjadinya tingkah laku makan, disebabkan karena adanya makanan (rangsangan dari lingkungan) dan adanya kebutuhan atau lapar (rangsangan dari dalam). Demikian juga terjadinya tingkah laku kawin, disebabkan karena adanya rangsangan dari dalam, kemudian baru terjadi perkawinan jika ada rangsangan dari lawan jenisnya (Tinberger, 1979). Tingkah Laku Makan Tingkah laku makan masing-masing ternak berbeda-beda tiap bangsa yang berbeda. Ternak tidak dapat hidup tanpa makan dan minum. Ensminger (2002) menyatakan peningkatan produksi dapat dicapai jika ternak makan dengan agresive sehingga memakan pakan lebih banyak. Tingkah laku makan lain adalah merumput, makan pakan hasil pemotongan atau penyimpanan dan konsentrat. Tingkah laku 6

makan lain adalah ruminasi. Ruminasi yaitu proses mengunyah kembali pakan yang dikeluarkan dari retikulorumen, kemudian dikunyah dengan bantuan saliva (Ensminger, 2002). Tingkah Laku Agonistik Wodzicka-Tomaszewaska et al. (1991) menyatakan bahwa Agonistik berasal dari kata latin yang berarti berjuang. Selain itu, agonistik juga mempunyai pengertian yang cukup luas yakni menonjolkan postur, melakukan pendekatan, menakut-nakuti, berkelahi dan terbang, juga meliputi seluruh tingkah laku yang ada hubunganya dengan agresifitas, kepatuhan dan pertahanan. Hafez (1969) menyatakan, agonistik merupakan suatu kegiatan mengkais, menanduk, mendorong dengan bahu. Lari bersama, bergerombol dan lari. Tingkah laku yang termasuk dalam tingkah laku agonistik adalah berkelahi, berlari atau terbang dan tingkah laku lain yang mempunyai hubungan dengan konflik. Hewan mamalia jantan memiliki tingkah laku berkelahi lebih tinggi dibandingkan dengan betina, hal ini dipengaruhi oleh hormon, terutama oleh hormon testosteron (Ensminger, 1991). Hart (1985) menyatakan bahwa pola perilaku agonistik merupakan interaksi sosial antara satwa yang dikategorikan beberapa tingkat konflik, yaitu dalam memperoleh makanan, pasangan seksual dan perebutan wilayah istirahat dengan melakukan tindakan yang bersifat ancaman menyerang dan perilaku patuh. Selanjutnya dikatakan pula bahwa perilaku agonistik ini merupakan hal yang penting dalam menetapkan dan mempertahankan hubungan dominan dan subordinat antara tingkatan sosial spesies. Sistem penggembalaan di padang rumput dengan sumber makanan dan air banyak tersedia dapat menunjukkan keadaan perilaku dominan tidak begitu jelas terlihat, tetapi hal ini akan terlihat dengan nyata dan penting pada keadaan berdesakan (Wodzicka-Tomaszewaska et al., 1991). Tingkah Laku Kerbau Pemeliharaan kerbau rawa berbeda dengan kerbau atau sapi pada umumnya. Perbedaan utama terletak pada cara penggembalaan untuk mendapatkan pakan. Pada musim hujan, sejak sore hingga pagi kerbau berada di atas kandang. Menurut 7

Hamdan et al. (2006) pada pukul 7 atau 9 pagi kerbau diturunkan untuk mencari makan dan pada sore hari pulang ke kalang. Pada musim kemarau, aktivitas kerbau lebih banyak di padang penggembalaan atau jarang pulang ke kandang. Pada lahan rawa yang kering dibuatkan pagar keliling sebagai tempat penampungan sementara serta untuk membatasi kerbau agar tidak berjalan terlalu jauh. Putu et al. (1994) membedakan tingkah laku kerbau rawa atas tingkah laku merumput dan kawin. Pada saat merumput, satu kelompok kerbau dipimpin oleh seekor pejantan yang mengarahkan kerbau lain dalam kelompoknya menuju padang penggembalaan. Jarak tempuh kerbau pada saat merumput mencapai 2 km dari kalang, dengan kecepatan pergerakan rata-rata 2,20 m/menit. Pada waktu kawin, betina yang sedang berahi biasanya dikelilingi 5 6 ekor pejantan yang berusaha untuk mengawininya. Waktu perkawinannya tidak menentu. Tingkah Laku Reproduksi Kerbau Betina dan Jantan Lita (2009) mengatakan bahwa sistem reproduksi kerbau pada pertanian rakyat yang tidak ada recording dan cara birahinya yang silent heat atau tidak mengeluarkan suara dan cenderung diam merupakan salah satu penyebab lambatnya perkembang biakan kerbau di Indonesia. Terzano et al. (2005) menyatakan lebih dari dua pertiga kerbau betina mengalami silent heat dan semua menampilkan perubahan endokrin yang sama dengan sapi yang memperlihatkan tanda-tanda estrus dengan jelas. Sistem reproduksi ternak kerbau berbeda dengan sistem reproduksi ternak sapi. Ternak sapi mengalami birahi pertama pada sekitar umur 1 tahun, beranak pertama pada umur 2,5 tahun, dan lama bunting umur 283 hari. Tingkah laku birahi sapi pun berbeda dengan kerbau, sapi yang sedang birahi akan mengeluarkan suara yang sering dan terlihat gelisah, ciri-ciri lain yang dapat dilihat pada bagian belakang (anus) sapi seperti, berwarna merah, bengkak dan basah. Sistem reproduksi ternak kerbau yang lebih lama dan susah terlihat saat birahi dibandingkan dengan ternak sapi merupakan salah satu penyebab usaha ternak kerbau di Indonesia kurang berkembang dengan baik dibandingkan ternak sapi (Affandy et al., 2007). Jainudeen dan Hafez (1980) menjelaskan bahwa tingkah laku seksual kerbau jantan sama dengan sapi tetapi kurang intense dibandingkan sapi. Libido bertahan selama siang hari yang panas, terutama pada kerbau lumpur. Kemampuan seksual 8

kerbau jantan menurun selama musim panas dan membaik pada musim dingin (Banerjee, 1982). Hal ini disebabkan oleh populasi kerbau di Indonesia yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Usaha pembibitan dan penggemukkan kerbau berskala industri hampir tidak ada dan pemerintah lebih fokus pada pengembangan ternak sapi sedangkan ternak kerbau kurang diperhatikan. Tingkah Laku Makan Kerbau Kerbau termasuk hewan yang suka merumput (grazing) (Schoenian, 2005). Kerbau termasuk ternak yang kurang memilih dalam mencari makan, sehingga kerbau mengkonsumsi pakan yang kurang bermutu dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan pakan sapi. Hal ini yang menjadi alasan mengapa kerbau dapat berkembang dengan baik dibandingkan sapi pada kondisi pakan yang buruk (Banerjee, 1982). Justru dengan sifat tersebut maka kerbau dapat diberikan pakan yang mempunyai palatabilitas rendah bagi ternak lain namun memiliki nilai nutrisi yang baik. Di Australia, kerbau dapat beradaptasi dengan wilayah padang rumput yang kurang baik, terlalu basah atau berkualitas marginal bagi sapi. Kerbau dapat mencari makan dalam kondisi yang berawa-rawa. Selain itu, kerbau juga memakan jenis pakan dalam kisaran yang lebih luas dibandingkan sapi dan telah terobservasi membersihkan saluran irigasi dari alang-alang dan tumbuhan lain yang secara normal tidak disentuh oleh sapi. Kelebihan lain dari kerbau adalah dapat hidup baik dengan memakan jerami dan limbah pertanian yang berkualitas rendah (Lemcke, 2008). Tingkah Laku Sosial Kerbau jantan lebih cenderung untuk menyerang kerbau jantan dibandingkan sapi perah atau sapi potong jantan, sehingga memerlukan perhatian untuk memelihara ternak tersebut secara terpisah. Perkelahian antar kerbau jantan sangat berbahaya dan sering berakhir dengan kematian (Banerjee, 1982). Kerbau jantan liar biasanya hidup dengan betina serta anaknya dalam kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota 10-20 ekor meskipun teramati bisa mencapai 100 ekor, yang menempati suatu area untuk mencari pakan, minum, berkubang dan istirahat. Dalam kelompok ternak kerbau bisa terbentuk sebuah hirarki dimana yang jadi pemimpin kelompok adalah seekor kerbau betina yang 9

paling tua dan dikawal oleh satu jantan dewasa. Kerbau jantan muda berlatih bertarung dengan kerbau jantan muda yang lain untuk menegaskan dominasi tetapi tetap menghindari perkelahian yang serius. Kerbau jantan akan bergabung dengan kelompok kerbau betina pada saat musim kawin (Massicot, 2004) Fisiologi Kerbau Dilihat dari segi koefisien tahan panasnya (KTP) ternak kerbau mepunyai KTP yang rendah sehingga mudah menderita cekaman panas (Cockrill, 1984). Faktor yang menyebabkan rendahnya KTP ini diduga karena kelenjar keringat pada ternak kerbau sangat sedikit dan mempunyai bulu-bulu yang jarang. Kelenjar keringat pada ternak kerbau kira-kira hanya sepertiga pada ternak sapi (Moran, 1973 ; Fahimuddin, 1975). Selain itu kulit yang berpigmen hitam menyebabkan banyak mengabsorbsi panas (Hafez et al., 1955 ; Robey, 1976). Bila tidak terdapat teduhan atau kubangan maka ternak kerbau akan mengalami kesulitan dalam membuang panas dari dalam tubuhnya pada keadaan suhu lingkungan yang tinggi. Suhu rektal dan angka respirasi pada ternak kerbau bertambah lebih cepat dibandingkan dengan pada ternak sapi bila secara langsung kena sinar surya, oleh sebab itu oefisien tahan kerbau lebih rendah dari pada sapi dan sangat peka terhadap setiap perubahan suhu lingkungan. Keistimewaannya adalah setelah menderita cekaman panas, mampu kembali ke normal dalam waktu relatif cepat apalagi bila tersedia teduhan atau kubangan. Hal ini diduga karena pembuluh darah perifer pada ternak kerbau cukup banyak dan mudah terjadi vasidilatasi (Whittow, 1962), sehingga mudah dalam melepas panas tubuhnya melalui kulit sewaktu berteduh atau berkubang (Robey, 1976). Denyut Jantung Jantung pada berbagai hewan dapat berkontraksi dengan sendirinya tanpa ada rangsangan dari luar. Jantung mamalia sensitif terhadap pasokan oksigen dan temperatur. Kontraksi pada jantung mamalia dimulai dari sinus node. Kontraksi menyebar cepat ke seluruh otot pada kedua atrium, beberapa saat kemudian ke otot ventrikel. Gelombang kontraksi mencapai sekat antara atrium dan ventrikel, lembar jaringan yang disebut atrioventricular bundle mengkonduksi impulse ke ventrikel yang kemudian setelah penundaan sesaat yang dihasilkan dari konduksi, berkontraksi secara simultan (Kay, 1998). 10

Kelly (1974) menyatakan faktor-faktor fisiologis yang berpengaruh pada kecepatan denyut jantung adalah spesies, ukuran tubuh, umur, kondisi fisik, jenis kelamin, kehamilan, proses kalahiran, laktasi, rangsangan, postur tubuh (perawakan), proses pencernaan, ruminasi dan suhu lingkungan. Kecepatan denyut jantung pada ternak yang muda lebih tinggi daripada ternak dara dan dewasa pada spesies yang sama. Sebagai contoh anak sapi neonatal mempunyai kecepatan denyut jantung 120 kali per menit, sapi dara (umur satu tahun) diatas 80 kali per menit dan sapi dewasa 50 kali per menit. Kecepatan denyut jantung juga akan meningkat bila ternak banyak makan. Satu jam setelah makan kecepatan denyut jantung masih lebih tinggi 10 persen daripada sebelum makan (Kelly, 1974). Denyut jantung pada ternak yang lebih kecil biasanya lebih cepat dibandingkan ternak yang besar. Hal ini berhubungan dengan kenyataan bahwa ternak yang lebih kecil mempunyai laju metabolism per unit bobot badan yang lebih tinggi. Hubungan terbalik antara bobot badan ini berlaku dalam satu spesies atau antar spesies. Rata- rata denyut nadi pada hewan dewasa dalam keadaan istirahat 40 kali per menit, pada hewan jantan 52 kali permenit, pada hewan betina 41 kali per menit, dan pada anak kerbau lima sampai enam bulan 71 kali per menit (Fahimuddin, 1975). Laju Pernapasan Respirasi merupakan gerakan fisik dimana udara masuk dan dikeluarkan dari paru-paru. Respirasi juga termasuk dalam proses kimia dan fisik yang memungkinkan organisme untuk mempertukarkan gas-gas (udara) dari lingkungan (Kelly, 1974). Peningkatan frekuensi laju pernapasan terjadi karena adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh jaringan-jaringan tubuh. Sebagai konsekuensinya dapat dilihat ketika ternak melakukan gerakan badan, berjemur pada suhu atau kelembaban udara yang tinggi dan karena ternak kegemukan (Kelly, 1974). Frekuensi pernapasan bervariasai tergantung dari besar badan, umur, aktivitas tubuh, kelelahan dan penuh tidaknya rumen. Bersamaan dengan peningkatan suhu lingkungan, reaksi pertama ternak dalam menghadapi keadaan adalah dengan panting (terengah-engah) dan sweting (berkeringat berlebihan) (Smith dan Mangkoewidjojo, 1987). Pada sapi, kerbau, kambing dan domba peningkatan frekuensi pernapasan merupakan salah satu mekanisme pengaturan suhu tubuh. Frekuensi pernapasan 11

merupakan salah satu wujud homeostasis tubuh yang erat hubungannya dengan kecepatan denyut jantung (palsus). Frekuensi pernafasan pada kerbau jantan dewasa dalam keadaan istirahat 20 sampai 25 kali per menit dan kerbau betina 16 kali per menit. Frekuensi pernapasan bertambah dengan meningkatnya suhu lingkungan dan dapat mencapai 70 kali per menit dalam suhu lingkungan yang tinggi (Fahimuddin, 1975). Temperatur Tubuh Homeostasis merupakan suatu penyesuaian sistem tubuh untuk mempertahankan keseimbangan fisiologis. Ternak akan berusaha menangkal pengaruh-pengaruh buruk dari peningkatan temperatur lingkungan dengan cara mencari peneduh, menambah aliran darah ke kulit (vasodilatasi), berkeringat lebih banyak, perubahan aktivitas hormonal, minum lebih banyak daripada makan dan peningkatan temperature tubuh (Heath dan Olusanya, 1985).Suhu tubuh normal kerbau berkisar antara 38,2 o C sampai 38,4 o C dan berada dalam keseimbangan dengan suhu lingkungan yang terdapat antara 22 o C sampai 33 o C. Pada kisaran suhu lingkungan tersebut, proses homeostasis pada kerbau berjalan dengan sangat baik. Namun, di bawah suhu 22 o C dan diatas 33 o C selain proses homeostasis normal, ternak kerbau secara fisiologi harus menyesuaikan diri, yang mengakibatkan pengaruh terhadap pertumbuhan dan efisiensi reproduksi. Kelembaban dapat pula mempengaruhi mekanisme temperatur tubuh, pengeluaran panas dengan cara berkeringat ataupun melakukan respirasi akan lebih cepat (Parakkasi, 1999). Minyak Ikan Lemuru Minyak ikan lemuru (sardinella longiseps) merupakan hasil samping pada industri pengalengan ikan lemuru yang memiliki potensial sebagai sumber asam lemak tak jenuh (Maryana, 2002). Minyak ikan lemuru mengandung konsentrasi EPA (% b/b dari total asam lemak) lebih tinggi dibandingkan dengan asam lemak essensialnya (EPA 7,8% b/b vs asam stearat 0,9% b/b, asam oleat 2,1% b/b, asam linoleat 0,3% b/b, asam linolenat 0,2% b/b dan DHA 3,1% b/b) (Tasse, 2010). Parakkasi (1999) menyatakan bahwa kandungan asam lemak tak jenuh dalam minyak ikan lemuru adalah sekitar 85,61%. Manfaat penambahan lemak dalam pakan ruminansia adalah sebagai sumber asam lemak esensial, meningkatkan jumlah 12

energi pada ransum, meningkatkan palatabilitas ransum dan menurunkan produksi metan dalam rumen serta memperbaiki rasio asetat dan propionat. Peningkatan palatabilitas ransum akan meningkatkan total konsumsi ransum pada ternak. Penurunan produksi metan di dalam rumen, akan meningkatkan efiensi penggunaan energi. Campuran Garam Karboksilat Kering (CGKK) Bahan dasar dalam pembuatan Campuran Garam Karboksilat Kering (CGKK) adalah minyak ikan lemuru. CGKK dibuat dengan dengan mencampurkan minyak ikan lemuru dengan larutan asam klorida (HCl). Larutan HCl (1:1,25 b/v) akan menghidrolisis minyak ikan. Hidrolisis asam merupakan hidrolisis yang digunakan dalam pembuatan CGKK yang bertujuan untuk membentuk asam lemak bebas. Asam lemak tak jenuh bebas dapat terbentuk akibat proses oksidasi. Keunggulan dari hidrolisis asam adalah waktu dalam pembentukan asam lemak bebas yang lebih cepat sehingga asam lemak bebas yang terkandung di dalam minyak ikan lemuru tidak banyak teroksidasi. Agar tidak mudah teroksidasi maka hidrolisis asam minyak ikan diberi tambahan larutan KOH. Hidrolisis asam minyak ikan tersebut akan menghasilkan garam karboksilat. Garam karboksilat yang telah terbentuk kemudian dicampur dengan onggok dengan perbandingan dan dikeringkan di dalam oven yang bersuhu 32 o C sampai kadar airnya 15% (Tasse, 2010). 13