BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V PENUTUP. Ace Hardware Indonesia Tbk adalah sebagai berikut: 1. Rasio likuiditas PT Ace Hardware Indonesia Tbk bila dilihat dari current

Hasil akhir dari proses pencatatan keuangan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada satu periode

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. TOKO GUNUNG AGUNG, Tbk TAHUN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis terhadap laporan keuangan PT. Astra Agro

ABSTRAK. Setiap perusahaan membutuhkan modal kerja untuk melaksanakan. lagi untuk membiayai operasi yang berikutnya.

Bab 2: Analisis Laporan Keuangan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR ISI. SURAT PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP. KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR ISTILAH.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Analisa Rasio Keuangan

ANALISIS RASIO KEUANGAN

Ade Heryana ANALISA LAPORAN KEUANGAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PADA PT KIMIA FARMA (PERSERO) TBK

ANALISIS RASIO LIKUIDITAS, SOLVABILITAS, DAN PROFITABILITAS PADA LAPORAN KEUANGAN PT. SIANTAR TOP (PERSERO) TBK. : Sovia Yohana Lumban : 1A214419

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada laporan keuangan PT.

Manajemen Keuangan. Memahami Kondisi dan Kinerja Keuangan Perusahaan. Basharat Ahmad. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PADA PT. KIMIA FARMA (PERSERO) Tbk PERIODE 31 DESEMBER

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Introduction to. Chapter 16. Financial Management. MultiMedia by Stephen M. Peters South-Western College Publishing

MAKALAH Untuk Memenuhi Tugas Manajemen Keuangan ANALISIS RASIO KEUANGAN : PT. HOLCIM tbk

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. PT. Kimia Farma Tbk merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio akan

Analisa Laporan keuangan

5/15/2012. Adalah suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaan

BAB II LANDASAN TEORI

TINJAUAN PUSTAKA. Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENGETAHUI KINERJA KEUANGAN PT.ASTRA INTERNATIONAL, Tbk

Dalam menganalisa laporan keuangan terdapat beberapa metode yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menilai posisi keuangan perusahaan antara lain:

BAB II LANDASAN TEORI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan analisa yang telah diuraikan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan

Analisis Laporan Keuangan PT. UNILEVER Indonesia, Tbk Periode Tahun

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil pembahasan mengenai kinerja keuangan PT.XYZ

Bab 9 Teori Rasio Keuangan

KONDISI EKONOMI DAN INDUSTRI BIR

BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN. Laporan keuangan peruahaan merupakan sumber informasi bagi pihakpihak

ANALISIS EKONOMI, KEUANGAN PERUSAHAAN & INVESTASI ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. saran yang sesuai dengan penelitian analisis data yang telah dilakukan.

ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT UKUR KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PADA PT. MANDOM INDONESIA TBK.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. serta kondisi keuangan perusahaan. Melalui laporan keuangan perusahaan dapat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Berikut merupakan sejarah singkat PT MLBI yang menjadi sampel penelitian :

ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk PERIODE

BAB IV PEMBAHASAN. kewajiban lancar. Rasio ini menunjukkan sampai sejauh mana tagihan-tagihan jangka

BAB III METODE PENELITIAN. penyedia telekomunikasi, yaitu PT BAKRIE TELECOM

ANALISA LAPORAN KEUANGAN ERDIKHA ELIT

II. LANDASAN TEORI. dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Menurut Brigham dan Houston,

ANALISIS RASIO LIKUIDITAS, RASIO LEVERAGE DAN AKTIVITAS PADA PT TIMAH TBK

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB IV. Analisis dan Pembahasan. dan 2012 terdapat analisis keuangan sebagai berikut :

PROGRAM MAGISTER STUDI EKONOMI MANAJEMEN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

ABSTRAK. vii. Universitas Kristen Maranatha

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II URAIAN TEORITIS. Octavianus Hendratmo (2004) meneliti dengan judul Analisis Pengaruh

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Penggabungan usaha (business combination) adalah pernyataan dua atau lebih

ABSTRAK. Kata kunci: Rasio Likuiditas, Rasio Aktivitas, Rasio Solvabilitas, Rasio Profitabilitas, dan Kinerja Perusahaan. xiii

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Sejarah Singkat Perusahaan. Industrial Estate, Jl Jababeka Raya Blok F 29-33, Cikarang, Bekasi 17530,

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN. Nurochman, SST,.Akt,.MT

Analisis Likuiditas, Solvabilitas, Rentabilitas, dan Aktivitas pada PT. Kimia Farma (Persero), Tbk

ANALISIS RASIO KEUANGAN PT GARUDA INDONESIA TBK SEBELUM DAN SESUDAH MELEPAS SBU CITILINK MENJADI PT CITILINK INDONESIA

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis kinerja keuangan PT Unilever Indonesia Tbk periode

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka kesimpulan yang dapat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. dunia khususnya dalam bidang investasi saham. Pasar modal merupakan sarana

Bab 1 Analisis Penggunaan Rasio Keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Industry) dan produk yang dihasilkan pun bermacam-macam dengan semakin

PERTEMUAN 6 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN ANDRI HELMI M, SE., MM.

ANALISIS PERKEMBANGAN PT ANEKA TAMBANG DITINJAU DARI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BAB I PENDAHULUAN

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR. DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seorang penganalisis untuk mengevaluasi tingkat earning dalam hubungannya

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Laporan Keuangan PT. Ades Water Indonesia Tbk.

ABSTRAK. Kata-kata kunci: Analisis laporan keuangan, kinerja keuangan perusahaan.

hendro 6/30/2010 PRESENTASI VIII :

Analisis Penggunaan Rasio Keuangan (BAB 1) Astried P. ANALISIS PENGGUNAAN RASIO KEUANGAN

BAB 11 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan dunia usaha saat ini semakin pesat, menimbulkan

ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN ROKOK (Studi Pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI Periode )

BAB IV. ANALISA dan PEMBAHASAN. 4.1 Kinerja dan Posisi Keuangan PT. BAKRIE TELECOM Tbk beserta

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terdapat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terdapat beberapa pengertian mengenai analisis, yaitu : 1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) :

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR

ANALISA RASIO LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA PERUSAHAAN PT ASTRA AGRO LESTARI TBK

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1 PT Aqua Golden Mississippi Tbk PT. Aqua Golden Mississippi Tbk ( perusahaan ) didirikan berdasarkan akta notaries Tan Thong Kie, SH No.24 tanggal 23 Februari 1973. Akta pendirian ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No.Y.A.5/213/22 tanggal 19 Juni 1973 serta diumumkannya dalam Tambahan Berita Negara No.84 tanggal 19 Oktober 1973. Anggaran dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dengan akta notaris Lindasari Bachroem, SH No.25 tanggal 12 Mei 1997 dalam rangka penyesuaian dengan Undang-Undang No.1 tahun 1995 tentang perseroan terbatas dan Undang-Undang Pasar Modal No.8 tahun 1995. Perubahan ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No.C2-4579.HT.01.04.TH.97 tanggal 3 Juni 1997 serta diumumkan dalam Tambahan Berita Negara No.84 tanggal 21 Oktober 1997. Pada tahun 1998, AQUA (yang berada di bawah naungan PT Tirta Investama) melakukan langkah strategis untuk bergabung dengan Group DANONE, yang merupakan salah satu kelompok perusahaan 44

45 air minum dalam kemasan terbesar di dunia. Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk, market share, dan penerapan teknologi pengemasan air terkini. Di bawah bendera DANONE- AQUA, kini AQUA memiliki lebih dari 1.000.000 titik distribusi yang dapat diakses oleh penggunanya di seluruh Indonesia. 4.1.2 PT Ades Waters Indonesia Tbk PT. Ades Alfindo Putrasetia (Selanjutnya disebut perusahaan ) didirikan dengan nama PT.Alfindo Putra Setia berdasarkan akta No.11 tanggal 6 maret 1985 yang dibuat dihadapan Miryam Magdalena Indrani Wiardi. S.H.. Notaris di Jakarta. Akta pendirian Perusahaan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.C24221.HT.01.01.Th.85 tanggal 13 Juli 1985, serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.49 Tambahan No.1081 tanggal 20 Juni 1989. Anggaran Dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dinyatakan dengan akta No.40 tanggal 19 Mei 1999 yang dibuat dihadapan Fathiah Helmi S.H., Notaris di Jakarta, antara lain mengenai perubahan Anggaran Dasar Perusahaan untuk memenuhi ketentuan Undang-undang Nomor 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas dan Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang pasar modal serta peningkatan modal dasar Perusahaan. Perubahan Anggaran Dasar terakhir telah diterima dan

46 dicatat oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No.C96.HT.01.04. Th.2000 tanggal 4 Januari 2000. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, Kegiatan Perusahaan terutama bergerak dalam bidang industri dan distribusi air minum dalam kemasan. Perusahaan berkedudukan di Jakarta sedangkan pabriknya berlokasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali dan Sumatera Utara. Perusahaan memulai kegiatan komersial pada tahun 1986. Setelah joint venture antara the Coca-Cola Company dan Nestle S.A. mengambil alih mayoritas saham serta manajemen PT.Ades Alfindo Putra Setia pada tahun 2004. Perusahaan berubah namanya menjadi PT. Ades Waters Indonesia, Tbk. PT AdeS Waters Indonesia, Tbk memproduksi, mendistribusi dan menjual air minum dalam kemasan (AMDK) berkualitas dengan merek-merek seperti AdeS, AdeS Royal dan Nestlé Pure Life dalam beberapa kemasan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dengan pengalaman kedua partner tersebut (The Coca-Cola Company merupakan perusahaan minuman ringan nomor satu di dunia dan Nestlé Waters adalah perusahaan AMDK nomor satu di dunia) dapat dipastikan bahwa PT AdeS Waters Indonesia, Tbk mengutamakan penyediaan produk-produk berkualitas dan pelayanan terbaik kepada konsumen-konsumen Indonesia.

47 4.1.3 PT Multi Bintang Indonesia Tbk PT. Multi Bintang Indonesia Siaga didirikan dengan akta notaris Singgih Susilo, S.H., tanggal 17 Desember 2004 No.69. Akta ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan No.C-31593.HT.01.TH.2004 tanggal 29 Desember 2004, didaftarkan dengan No.TDP 09.05.1.51.50089 pada Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta Pusat No.09.05.00055 tanggal 10 Januari 2005, pengumuman dalam Berita Negara masih dalam proses. Sesuai dengan Anggaran Dasar, anak perusahaan beroperasi sebagai distributor utama minuman, Anak perusahaan memulai operasi komersial pada tanggal 1 Januari 2005. Anak perusahaan adalah perusahaan yang berdomisili di Indonesia dengan kantor pusat yang berlokasi di Ratu Plaza Building Lantai 21 dan 23, Jl.Jendral Sudirman Kav.9, Jakarta 10270. Persentasi pemilikan Perseroan pada PT.Multi Bintang Indonesia Niaga adalah 99.9%. Tahun 1929, NV Nederlands Indische Bierbrouwerijen yang yang pertama didirikan Medan, dengan suatu tempat pembuatan bir di Surabaya. Heineken NV menjadi suatu pemegang saham utama di tahun 1936, lalu perusahaan itu berubah nama menjadi Heineken Nederlands Indische Bierbrouwerijen Maatschappij. Beberapa nama berubah kemudian, di tahun 1981, menjadi dikenal sebagai PT Multi Bintang Indonesia Tbk. (MBI) dan telah didaftarkan di Bursa Efek

48 Jakarta dan Surabaya pada bulan Desember 1981. Hari ini, MBI adalah pabrikan bir yang terkemuka di Indonesia. Pabrik ini menghasilkan dan menjual bidang produk trademarked, mencakup Bir Bintang, Heineken, Bir hitam Guinness, dan Pantai pasir Hijau. Di tahun 2004, diluncurkan kembali produksi baru, Bintang Nol. Perusahaan ini beroperasi sebagai tempat pembuatan bir di daerah Sampang Agung, Mojokerto dan Tangerang, dengan penjualan dan memasarkan kantor di semua kota besar yang utama, dari Medan di daerah Sumatra utara ke Jayapura di daerah Papua. Pada bulan Mei 2004, MBI di daerah Tangerang telah bersertifikat oleh SGS, suatu internasional badan sertifikasi mempunyai nama baik, pada ISO 9001, ISO 14001 dan HACCP. MBI adalah perusahaan Indonesia yang pertama menerapkan semua 3 sistem manajemen di dalam mengintegrasikan sistem. Per 1 Januari 2005, PT Multi Bintang Indonesia Tbk. telah mendirikan suatu anak perusahaan yang dinamakan PT Multi Bintang Indonesia Niaga. Sejak itu, MBI Niaga bertanggung jawab atas operasional untuk memasarkan produk-produknya. 4.1.4 PT Delta Djakarta Tbk Pabrik Anker Bir didirikan pada tahun 1932 dengan nama Archipel Brouwerij. Dalam perkembangannya, kepemilikannya dari pabrik ini telah mengalami beberapa kali perubahan sehingga

49 berbentuk PT Delta Djakarta pada tahun 1970. PT Delta Djakarta ( Perusahaan ) didirikan dalam rangka Undang-Undang penanaman Modal Asing No.1 tahun 1967 yang telah diubah dengan Undang-Undang No.11 tahun 1970 berdasarkan akta No.35 tanggal 15 Juni 1970 dari Abdul Latief, S.H. notaries di Jakarta. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat keputusannya No.J.A.5/75/9 tanggal 26 April 1971. Anggaran dasar perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta notaries No.49 tanggal 15 Juni 2004 dari P.Sutrisno A.Tampubolon, S.H., M.Kn., notaries publik di Jakarta, mengenai perubahan susunan dan anggota dewan komisaris dan dewan direksi Perusahaan. Perusahaan dan pabriknya berlokasi di Jalan Inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur-Jawa Barat. Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan yaitu terutama untuk memproduksi dan menjual bir pilsener dan bir hitam dengan merek Anker, Carlsberg, dan San Miguel dan Kuda Putih. Perusahaan telah melakukan diversifikasi dengan memproduksi dan menjual produk minuman non-alkohol dengan merek Sodaku dan Soda Ice. Hasil produksi Perusahaan dipasarkan di dalam dan di luar negeri. Perusahaan mulai beroperasi sejak tahun 1933. Jumlah karyawan

50 Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2005 dan 2004 masing-masing 527 orang dan 542 orang. PT Delta Djakarta adalah salah satu tempat pembuatan bir yang terkemuka dan termasuk yang paling tua di Indonesia, didirikan sejak Jakarta masih bernama Batavia di tahun 1932, yang sekarang dikenal sebagai Jakarta. Pada bulan Juni 1997, Delta Djakarta memulai tempat pembuatan bir yang terletak di Tambun-Bekasi. Tempat pembuatan bir yang baru mempunyai 900,000 Hl saban kapasitas produksi tahun dan secara penuh terkomputerisasi untuk secara konsisten menghasilkan bir mutu tinggi. Oleh karena komitmen pelanggan dan mutu perusahaan, PT Delta Djakarta dipercayakan di bawah persetujuan lisensi Carlsberg Internasional A/S dan San Miguel Corporation-Philippines untuk menghasilkan, mendistribusikan, dan menjual Carlsberg Bir Dan San Miguel Bir di Indonesia. Sebagai tambahan, produk Delta Djakarta ini sudah memenangkan penghargaan dalam berbagai kompetisi internasional : Anker Bir Larger or Pilsener type with alcohol content of approx. 5% W/W. * Monde Selection 1995 Silver medal * Monde Selection 1997 - Gold medal Anker Stout Black top fermented stout with alcohol content approx. 5% W/W. * The Brewery Industry International Awards 1996-2nd Prize in

51 class 3 * Australian International Beer Awards 1996 and 1997 - Silver medal * Monde Selection 1995 to 1998 - Gold medal Shanta Super Shandy Alcohol content less than 1% W/W - a mix of 80% lime flavored syrup and 20% beer. * Monde Selection 1997 - Gold medal Delta Djakarta sudah memproduksi beberapa Merek untuk diekspor sejak 1995 seperti Singa Emas, Permata hijau lumut, Bir Jaguar dan Bir hitam untuk Singapura, Malaysia dan Myanmar. Bir Singa Raja dan Bir hitam untuk Kamboja dan merek lainnya. Merek dagang yang disebutkan di atas diekspor dan diproduksi dalam berbagai ukuran dan kemasan berbeda. Bagaimanapun, semuanya berisi bir mutu tinggi seperti produk Anker Bir dan Anker Bir hitam. 4.2 Analisis Laporan Keuangan Data industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) dalam bentuk rasio keuangan untuk periode 2007.

52 Liquidity Ratio Tabel 4.1 Analisis Laporan Keuangan PT Aqua Golden Mississippi Tbk PT Ades Waters Indonesia Tbk Perusahaan PT Multi Bintang Indonesia Tbk PT Delta Djakarta Tbk Current ratio 709,16 34,38 59,12 417,26 Quick ratio 638,08 27,77 42,38 387,56 Working capital 485.145 63.225 158.128 328.883 Efficiency Ratio Inventory turnover 21,27 20,69 8,28 27,16 Average collect. period 85 24 42 98 Fixed asset turnover 6,02 0,92 2,69 6,28 Total asset turnover 2,19 0,74 1,57 1,41 Leverage Ratios Debt to total asset 42,35 62,46 68,19 22,21 Debt to equity ratio 74,43 166,39 214,46 28,7 Profitability Ratios Gross profit margin ratio 6,11 0,21 45,32 23,62 Operating profit ratio 4,57 93,53 13,63 7,25 Net profit margin ratio 3,38 117,46 8,62 5,66 Return on assets 7,44 87,1 13,53 7,99 Analisis rasio keuangan industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) untuk periode 2007 di atas akan di analisis satu persatu sebagai berikut :

53 Liquidity Ratio 1) Rasio lancar (Current ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio lancar (current ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.2 Rasio lancar (Current ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 709,16 34,38 59,12 417,26 Rasio lancar (current ratio) digunakan sebagai ukuran kemampuan membayar utang jangka pendek. Berdasarkan hasil perhitungan Tabel 4.2 Rasio lancar (Current ratio) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan membayar utang jangka pendek posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 709,16, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta dengan angka 417,26, posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 59,12, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 34,38. 2) Rasio cepat (Quick ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang

54 Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio cepat (quick ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.3 Rasio cepat (Quick ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 638,08 27,77 42,38 387,56 Rasio cepat (quick ratio) digunakan untuk mengukur seberapa baik perusahaan dalam memenuhi kewajibannya tanpa harus melikuidasi atau terlalu tergantung pada persediaannya. Berdasarkan Tabel 4.3 Rasio cepat (Quick ratio) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan memenuhi kewajibannya posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 638,08, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta dengan angka 387,56, posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 42,38, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 27,77. 3) Modal kerja (Working capital) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) modal kerja (working capital) hasil perhitungannya sebagai berikut :

55 Tabel 4.4 Modal kerja (Working capital) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 485.145 63.225 158.128 328.883 Modal kerja (working capital) digunakan sebagai bentuk kepastian kepada kreditor jangka pendek bahwa mereka akan dibayar oleh perusahaan. Tetapi, mempertahankan modal kerja dalam jumlah besar tidaklah cuma-cuma. Modal kerja harus didanai dengan utang jangka panjang dan ekuitas dimana kedua-duanya sama mahalnya. Berdasarkan Tabel 4.4 Modal kerja (Working capital) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan modal kerja tebaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 485.145, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 328.883, posisi ketiga yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 63.225, dan posisi terakhir yaitu PT Multi Bintang Indinesia Tbk dengan angka 158.128. Efficiency Ratio 1) Rasio perputaran persediaan (Inventory turnover ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio perputaran persediaan (inventory turnover ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut :

56 Tabel 4.5 Rasio perputaran persediaan (Inventory turnover ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta 31,27 20,69 8,28 27,16 Rasio perputaran persediaan (inventory turnover ratio) digunakan untuk mengukur berapa kali persediaan telah terjual dan digantikan dalam setahun. Berdasarkan Tabel 4.5 Rasio perputaran persediaan (Inventory turnover ratio) memberikan informasi bahwa tingkat perputaran persediaan terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 31,27, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 27,16, posisi ketiga yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 20,69, dan posisi terakhir yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 8,28. 2) Periode penagihan rata-rata (Average collect. period) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) periode penagihan rata-rata (average collect. period) hasil perhitungannya sebagai berikut :

57 Tabel 4.6 Periode penagihan rata-rata (Average collect. period) PT Aqua Golden Mississippi Tbk PT Ades Waters Indonesia Tbk PT Multi Bintang Indonesia Tbk PT Delta Djakarta Tbk 85 24 42 98 Periode penagihan rata-rata (average collect. period) digunakan untuk jumlah rata-rata hari yang dibutuhkan bagi perusahaan untuk mengumpulkan pendapatan dari penjualan kreditnya. Berdasarkan Tabel 4.6 Periode penagihan rata-rata (Average collect. period) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan penagihan rata-rata terbaik posisi pertama yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 24, posisi kedua yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 42, posisi ketiga yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 85, dan posisi terakhir yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 98. 3) Perputaran aktiva tetap (Fixed asset turnover) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) perputaran aktiva tetap (fixed asset turnover) hasil perhitungannya sebagai berikut :

58 Tabel 4.7 Perputaran aktiva tetap (Fixed asset turnover) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 6,02 0,92 2,69 6,28 Berdasarkan Tabel 4.7 Perputaran aktiva tetap (Fixed asset turnover) memperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan perputaran aktiva tetap (fixed asset turnover) terbaik posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 6,28, posisi kedua yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 6,02, posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 2,69, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 0,92. 4) Perputaran jumlah aktiva (Total asset turnover) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) perputaran jumlah aktiva (total asset turnover) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.8 Perputaran jumlah aktiva (Total asset turnover) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 2,19 0,74 1,57 1,41 Berdasarkan Tabel 4.8 Perputaran jumlah aktiva (Total asset turnover) memperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan perputaran

59 jumlah aktiva (total asset turnover) terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 2,19, posisi kedua yaitu PT Multi bintang Indonesia Tbk dengan angka 1,57, posisi ketiga PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 1,41, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 0,74. Leverage Ratio 1) Rasio hutang terhadap ekuitas (Debt to equity ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio hutang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.9 Rasio hutang terhadap ekuitas (Debt to equity ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 74,43 166,39 214,46 28,7 Rasio hutang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) menunjukkan proporsi relatif dari hutang dan ekuitas dalam neraca perusahaan. Berdasarkan Tabel 4.9 Rasio hutang terhadap ekuitas (Debt to equity ratio) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 28,7, posisi kedua yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 74,43, posisi ketiga

60 yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 166,39, dan posisi terakhir yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 214,46. 2) Rasio hutang terhadap jumlah aktiva (Debt to total asset ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio hutang terhadap jumlah aktiva (debt to total asset ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.10 Rasio hutang terhadap jumlah aktiva (Debt to total asset ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 42,35 62,46 68,19 22,21 Rasio hutang terhadap jumlah aktiva (debt to total asset ratio) menunjukkan proporsi relatif dari hutang dan jumlah aktiva dalam neraca perusahaan. Berdasarkan Tabel 4.10 Rasio hutang terhadap jumlah aktiva (Debt to total asset ratio) memberikan informasi bahwa tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 22,21, posisi kedua yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 42,35, posisi ketiga yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 62,46, dan posisi terakhir yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 68,19.

61 Profitability Ratio 1) Rasio pengembalian atas aktiva (Return on assets) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio pengembalian atas aktiva (return on assets) hasil perhitungannya sebagai berikut : Table 4.11 Rasio pengembalian atas aktiva (Return on assets) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 7,44 87,1 13,53 7,99 Berdasarkan Tabel 4.11 Rasio pengembalian atas aktiva (Return on assets) diperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan pengembalian atas aktiva terbaik posisi pertama yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 13,53, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 7,99, posisi ketiga yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 7,44, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 87,1. 2) Rasio laba operasi (Operating profit ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio laba operasi (operating profit ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut :

62 Tabel 4.12 Rasio laba operasi (Operating profit ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 45,7 93,53 13,63 7,25 Berdasarkan Tabel 4.12 Rasio laba operasi (Operating profit ratio) diperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan rasio laba operasi (operating profit ratio) terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 45,7, posisi kedua yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 13,63, posisi ketiga yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 7,25, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 93,53. 3) Rasio marjin laba kotor (Gross profit margin ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio marjin laba kotor (gross profit margin ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.13 Rasio marjin laba kotor (Gross profit margin ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 6,11 0,21 45,32 23,62 Rasio marjin laba kotor (gross profit margin ratio) digunakan untuk mengukur marjin laba atas penjualan. Berdasarkan Tabel 4.13 Rasio

63 marjin laba kotor (Gross profit margin ratio) diperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan marjin laba kotor terbaik posisi pertama yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 45,32, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 23,62, posisi ketiga yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 6,11, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 0,21. 4) Rasio marjin laba bersih (Net profit margin ratio) Untuk industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) rasio marjin laba bersih (net profit margin ratio) hasil perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.14 Rasio marjin laba bersih (Net profit margin ratio) PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Multi Bintang PT Delta Mississippi Tbk Indonesia Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk 3,38 117,46 8,62 5,66 Berdasarkan Tabel 4.14 Rasio marjin laba bersih (Net profit margin ratio) maka diperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan rasio marjin laba bersih (net profit margin ratio) terbaik posisi pertama yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka8,62, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 5,66, posisi ketiga yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 3,38, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 117,46.

64 4.3 Analisis Altman Z-Score Tabel 4.15 Altman Z-Score PT Aqua Golden PT Ades Waters PT Delta PT Multi Bintang Mississippi Tbk Indonesia Tbk Djakarta Tbk Indonesia Tbk 4,738128 6,26767 4,871568 2,638018 Berdasarkan Tabel 4.15 Tabel Altman Z-Score maka dapat diperoleh informasi sebagai berikut: 1) PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 4,7 menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai kedudukan keuangan yang kuat. 2) PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 6,3 menunjukkan kuat kemungkinan untuk bangkrut. 3) PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 4,9 menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai kedudukan keuangan yang kuat. 4) PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 2,6 menunjukkan potensi kebangkrutan dalam 2 tahun mendatang.

65 4.4 Analisis Penggunaan Supply Chain Operations Reference (SCOR) Analisis terhadap Supply Chain Operations Reference (SCOR) dibagi menjadi 2 bagian yaitu : 4.3.1 Customer Facing

66 1) Perfect Order Fulfillment Analisis terhadap reliability attribut yaitu perfect order fulfillment pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan tidak dapat dilakukan karena tidak terdapat data metrics (standar untuk pengukuran) % orders placed without error, % orders scheduled to customer request date, % orders received damage free, dan % orders with correct shipping documents. 2) Order Fulfillment Cycle Time Analisis terhadap responsiveness attribut yaitu order fulfillment cycle time pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan tidak dapat dilakukan karena tidak terdapat data metrics (standar untuk pengukuran) deliver cycle time, make cycle time, produce & test cycle time, dan pick product cycle time. 3) Upside Supply Chain Flexibility Analisis terhadap agility (flexibility) attribut yaitu upside supply chain flexibility pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan tidak dapat dilakukan

67 karena tidak terdapat data metrics (standar untuk pengukuran) source flexibility, make flexibility, dan deliver flexibility. 4) Upside Supply Chain Adaptibility Analisis terhadap agility (flexibility) attribut yaitu upside supply chain adaptibility pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan tidak dapat dilakukan karena tidak terdapat data metrics (standar untuk pengukuran) upside source adaptability, upside make adaptability, dan upside deliver adaptability. 5) Downside Supply Chain Adaptibility Analisis terhadap agility (flexibility) attribut yaitu downside supply chain adaptibility pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan tidak dapat dilakukan karena tidak terdapat data metrics (standar untuk pengukuran) downside source adaptability, downside make adaptability, dan downside deliver adaptability.

4.3.2 Internal Facing 68

69 1) Supply Chain Management Cost Analisis terhadap cost attribut yaitu supply chain management cost pada industri Makanan dan Minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan diperoleh data metrics (standar untuk pengukuran) berikut : Tabel 4.18 Supply Chain Management Cost Yang dimaksud dengan supply chain management cost adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dalam proses bisnis supply chain dari pembelian barang sampai barang tersebut dikirim ke pelanggan. Hal ini menggambarkan kemampuan perusahaan didalam menekan atau mengefisienkan biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan Tabel 4.18 Supply Chain Management Cost maka dapat diperoleh informasi bahwa dari keempat industri Makanan dan Minuman tingkat kemampuan supply chain management cost terbaik : 1. Posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 23.368. 2. Posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 130.896.

70 3. Posisi ketiga yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 151.705. 4. Posisi keempat yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 311.421. Sebagai pendukung dapat juga melihat Altman Z-Score dan beberapa rasio keuangan yang berkaitan seperti inventory turnover, average collect. period, fixed asset turnover, net profit margin ratio, dan return on assets. Berdasarkan Tabel 4.18 Supply Chain Management Cost maka dapat diperoleh informasi perbandingan persentase supply chain management cost terhadap revenue keempat industri Makanan dan Minuman dengan tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 1,20%, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 29,76%, posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 31,82%, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 115,32%. 2) Cost of Goods Sold Analisis terhadap cost attribut yaitu cost of goods sold pada industri makanan dan minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan diperoleh data metrics (standar untuk pengukuran) berikut :

71 Tabel 4.19 Cost of Goods Sold Yang dimaksud dengan cost of goods sold adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang atau harga perolehan dari barang yang dijual. Cost of goods sold dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan harga jual dan untuk mengetahui laba yang diinginkan perusahaan. Apabila harga jual lebih besar dari cost of goods sold maka akan diperoleh laba, dan sebaliknya apabila harga jual lebih rendah dari cost of goods sold akan diperoleh kerugian. Berdasarkan Tabel 4.19 Cost of Goods Sold maka dapat diperoleh informasi bahwa dari keempat industri Makanan dan Minuman tingkat cost of goods sold terbaik : 1. Posisi pertama yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 131.830. 2. Posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 242.305. 3. Posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 536.028. 4. Posisi keempat yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 1.832.996.

72 Sebagai pendukung dapat juga melihat Altman Z-Score dan beberapa rasio keuangan yang berkaitan seperti inventory turnover gross profit margin ratio, operating profit ratio, net profit margin ratio, dan return on asset. Berdasarkan Tabel 4.19 Cost of Goods Sold maka dapat diperoleh informasi perbandingan persentase cost of goods sold terhadap revenue keempat industri Makanan dan Minuman dengan tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 55,09%, posisi kedua yaitu PT Multi Bintang Tbk dengan angka 54,78%, posisi ketiga yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 93,89%, dan posisi terakhir yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 100,21%. 3) Cash-to-Cash Cycle Time Analisis terhadap assets attribut yaitu cash-to-cash cycle time pada industri makanan dan minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan diperoleh data metrics (standar untuk pengukuran) berikut :

73 Tabel 4.20 Cash-to-Cash Cycle Time Cash-to-cash cycle time adalah waktu yang dibutuhkan dari uang yang dikeluarkan (cash out) untuk pembelian barang sampai barang tersebut menjadi uang kembali. Hal ini menggambarkan kemampuan perusahaan didalam memanage aliran material dengan cepat, sehingga menunjukkan bagaimana kemampuan pendistribusian barang dan system term of payment. Berdasarkan Tabel 4.20 Cash-to-Cash Cycle Time maka dapat diperoleh informasi bahwa dari keempat industri Makanan dan Minuman tingkat cash-tocash cycle time terbaik : 1. Posisi pertama yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 59 hari yang terdiri dari days inventory outstanding selama 49 hari, days sales outstanding selama 40 hari, days payable outstanding selama 30 hari. 2. Posisi kedua yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 74 hari yang terdiri dari days inventory outstanding selama 12 hari, days

74 sales outstanding selama 83 hari, days payable outstanding selama 21 hari. 3. Posisi ketiga yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 83 hari yang terdiri dari days inventory outstanding selama 36 hari, days sales outstanding selama 68 hari, days payable outstanding selama 21 hari. 4. Posisi keempat yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 109 hari yang terdiri dari days inventory outstanding selama 54 hari, days sales outstanding selama 82 hari, days payable outstanding selama 28 hari. Sebagai pendukung dapat juga melihat Altman Z-Score dan beberapa rasio keuangan yang berkaitan seperti current ratio, quick ratio, working capital, inventory turnover, average collect. period, total asset turnover, debt to total asset, debt to equity ratio, gross profit margin ratio, operating profit ratio, net profit margin ratio, dan return on asset. Berdasarkan Tabel 4.20 Cash-to-Cash Cycle Time maka dapat diperoleh informasi perbandingan inventory turnover keempat industri Makanan dan Minuman dengan tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 32,4 kali, posisi kedua yaitu PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 14,7 kali, posisi ketiga yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 7,6 kali dan posisi terakhir yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 6,8 kali.

75 4) Return on Supply Chain Fixed Assets Analisis terhadap assets attribut yaitu return on supply chain fixed assets pada industri makanan dan minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan diperoleh data metrics (standar untuk pengukuran) berikut : Tabel 4.21 Return on Supply Chain Fixed Assets Return on supply chain fixed assets memiliki arti penting bagi setiap perusahaan tidak hanya dalam hubungannya untuk memelihara atau mempertahankan likuiditasnya. Tetapi unsur penting yang harus diperlihatkan manajemen dan oleh sebab itu juga pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan itu adalah aspek efisiensi dan profitabilitasnya. Berdasarkan Tabel 4.21 Return on Supply Chain Fixed Assets maka dapat diperoleh informasi bahwa dari keempat industri Makanan dan Minuman tingkat return on supply chain fixed assets terbaik : 1. Posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 50%. 2. Posisi kedua yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 36,15%.

76 3. Posisi ketiga PT Aqua Golden Mississippi Tbk yaitu dengan angka 29,56%. 4. PT Ades Waters Indonesia Tbk dalam kondisi tidak liquid. Ini disebabkan karena kondisi PBIT (Profit Before Interest and Taxes) negatif atau rugi. Sebagai pendukung dapat juga melihat Altman Z-Score dan beberapa rasio keuangan yang berkaitan seperti inventory turnover, average collect. period, fixed asset turnover, total asset turnover, debt to total asset, gross profit margin ratio, operating profit margin ratio, net profit margin ratio, dan return on asset. 5) Return on Working Capital Analisis terhadap assets attribut yaitu return on working capital pada industri makanan dan minuman (PT Aqua Golden Mississippi Tbk, PT Ades Waters Indonesia Tbk, PT Multi Bintang Indonesia Tbk, PT Delta Djakarta Tbk) berdasarkan laporan keuangan diperoleh data metrics (standar untuk pengukuran) berikut : Tabel 4.22 Return on Working Capital

77 Return on working capital memiliki arti penting bagi setiap perusahaan tidak hanya dalam hubungannya untuk memelihara atau mempertahankan likuiditasnya. Tetapi unsur penting yang harus diperlihatkan manajemen dan oleh sebab itu juga pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan itu adalah aspek efisiensi dan profitabilitasnya. Berdasarkan Tabel 4.22 Return on Working Capital maka dapat diperoleh informasi bahwa dari keempat industri Makanan dan Minuman tingkat return on working capital terbaik : 1. Posisi pertama yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 20,26%. 2. Posisi kedua yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 19,75%. 3. PT Multi Bintang Indonesia Tbk dalam kondisi tidak liquid. Ini disebabkan kondisi modal kerja (working capital) negatif karena aktiva lancar (current asset) lebih kecil dari pada kewajiban lancar (current liabilities). 4. PT Ades Waters Indonesia Tbk dalam kondisi tidak liquid. Ini disebabkan kondisi modal kerja (working capital) negatif karena aktiva lancar (current asset) lebih kecil dari pada kewajiban lancar (current liabilities) dan kondisi PBIT (Profit Before Interest and Taxes) negatif atau rugi. Sebagai pendukung dapat juga melihat Altman Z-Score dan beberapa rasio keuangan yang berkaitan seperti current ratio, quick ratio, working capital, inventory turnover, average collect. period, total asset turnover, debt to

78 total asset, debt to equity ratio, gross profit margin ratio, operating profit ratio, net profit margin ratio, dan return on asset. Berdasarkan Tabel 4.22 Return on Working Capital maka dapat diperoleh informasi perbandingan working capital keempat industri Makanan dan Minuman dengan tingkat kemampuan terbaik posisi pertama yaitu PT Aqua Golden Mississippi Tbk dengan angka 485.147, posisi kedua yaitu PT Delta Djakarta Tbk dengan angka 328.883, posisi ketiga PT Ades Waters Indonesia Tbk dengan angka 63.225 dan posisi terakhir yaitu PT Multi Bintang Indonesia Tbk dengan angka 158.128.