PENGARUH JUMLAH TUMBUHAN

dokumen-dokumen yang mirip
Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Uversitas Diponegoro

Dosen Magister Ilmu Lingkungan dan Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UNDIP Semarang

Tersedia online di: Jurnal Teknik Lingkungan, Vol 4, No 4 (2015)

Pengolahan Air Limbah Domestik dengan Sistem Lahan Basah Buatan Aliran Bawah Permukaan (Subsurface Flow Constructed Wetlands)

STUDI KEMAMPUAN VERTICAL SUBSURFACE FLOW CONSTRUCTED WETLANDS

PENGARUH JUMLAH KOLONI RUMPUT TEKI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH MAKAN (RESTORAN) DENGAN UNIT AERASI, SEDIMENTASI DAN BIOSAND FILTER

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK MENGGUNAKAN TANAMAN Alisma plantago DALAM SISTEM LAHAN BASAH BUATAN ALIRAN BAWAH PERMUKAAN (SSF-WETLAND)

POTENSI DAN PENGARUH TANAMAN PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK DENGAN SISTEM CONSTRUCTED WETLAND

SKRIPSI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK DENGAN LAHAN BASAH BUATAN MENGGUNAKAN RUMPUT PAYUNG (CYPERUS ALTERNIOFOLIUS) Oleh :

BAB 1 PENDAHULUAN. pakaian. Penyebab maraknya usaha laundry yaitu kesibukan akan aktifitas sehari-hari

PENGOLAHAN AIR ASAM TAMBANG MENGGUNAKAN SISTEM LAHAN BASAH BUATAN: PENYISIHAN MANGAN (Mn)

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-journal) Volume 5, Nomor 1, Januari 2017 (ISSN: )

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dhinny Rizky Amalia, Badrus Zaman*), Mochtar Hadiwidodo*)

APLIKASI WETLAND. Prayatni Soewondo PRODI TEKNIK LINGKUNGAN, FTSL, ITB

BAB I PENDAHULUAN UKDW. peternakan semakin pesat. Daging yang merupakan salah satu produk

PERENCANAAN SUBSURFACE FLOW CONSTRUCTED WETLAND PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI AIR KEMASAN (STUDI KASUS : INDUSTRI AIR KEMASAN XYZ)

Unit Aerasi, Sedimentasi, dan Biosand Filter Sebagai Pereduksi COD, TSS, Nitrat, dan Fosfat Air Limbah Artificial (Campuran Grey dan Black Water)

REMOVAL CEMARAN BOD, COD, PHOSPHAT (PO 4 ) DAN DETERGEN MENGGUNAKAN TANAMAN MELATI AIR SEBAGAI METODE CONSTRUCTED WETLAND DALAM PENGOLAHAN AIR LIMBAH

Tembalang, Semarang

STUDI CONSTRUCTED WETLAND SEBAGAI SOLUSI PENCEMARAN DI SUB DAS TUKAD BADUNG KABUPATEN BADUNG PROVINSI BALI

BAB I PENDAHULUAN. limbah yang keberadaannya kerap menjadi masalah dalam kehidupan masyarakat.

DARI IPAL INDUSTRI FARMASI DENGAN SISTEM

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Anis Artiyani Dosen Teknik Lingkungan FTSP ITN Malang ABSTRAKSI

PENYISIHAN LOGAM PADA LINDI DENGAN SISTEM SUB-SURFACE CONSTRUCTED WETLAND

PENGOLAHAN AIR LIMBAH PENCUCIAN RUMPUT LAUT MENGGUNAKAN PROSES FITOREMEDIASI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang sangat diperlukan oleh semua

Dosen Pembimbing: Prof. DR. Ir. Nieke Karnaningroem, M.Sc

BAB I PENDAHULUAN. mahluk hidup sebagian besar terdiri dari air. Disamping sebagai bagian penyusun

Keywords:Equisetum hyemale, SSF-Wetland, wastewater

ANALISIS KINERJA AERASI, BAK PENGENDAP, DAN BIOSAND FILTER SEBAGAI PEREDUKSI COD, NITRAT, FOSFAT DAN ZAT PADAT PADA BLACK WATER ARTIFISIAL

Bab V Hasil dan Pembahasan

DESAIN ALTERNATIF INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT DENGAN PROSES AEROBIK, ANAEROBIK DAN KOMBINASI ANAEROBIK DAN AEROBIK DI KOTA SURABAYA

BAB V ANALISA AIR LIMBAH

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

PENGOLAHAN LIMBAH KARET DENGAN FITOREMIDIASI MENGGUNAKAN TANAMAN Typha angustifolia

KOMBINASI PROSES AERASI, ADSORPSI, DAN FILTRASI PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI PERIKANAN

Pengolahan Limbah Domestik Kawasan Pesisir Dengan Subsurface Constructed Wetland Menggunakan Tanaman Jatropha curcas L.

Indo. J. Chem. Sci. 3 (1) (2014) Indonesian Journal of Chemical Science

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENURUNAN KADAR BOD, COD, TSS, CO 2 AIR SUNGAI MARTAPURA MENGGUNAKAN TANGKI AERASI BERTINGKAT

Penurunan BOD COD pada Limbah Katering Menggunakan Pengolahan Fisik dan Konstruksi Subsurface-Flow Wetland dengan Tumbuhan Kana (Canna indica)

Suwondo, Sri Wulandari dan Syaiful Anshar Degradasi Limbah Cair Kelapa Sawit dengan Penambahan 55

BAB 12 UJI COBA PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK INDIVIDUAL DENGAN PROSES BIOFILTER ANAEROBIK

PENENTUAN KARAKTERISTIK AIR WADUK DENGAN METODE KOAGULASI. ABSTRAK

UJI KEMAMPUAN SLOW SAND FILTER SEBAGAI UNIT PENGOLAH AIR OUTLET PRASEDIMENTASI PDAM NGAGEL I SURABAYA

Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Volume 3, Nomor 1, Januari 2011, Halaman ISSN:

ANALISIS PROSES PADA UNIT AERASI, SEDIMENTASI, DAN BIOSAND FILTER SEBAGAI PEREDUKSI COD, NITRAT, FOSFAT DAN TSS DARI LIMBAH ARTIFICIAL GREY WATER

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I. PENDAHULUAN. Statistik (2015), penduduk Indonesia mengalami kenaikan sebesar 1,4 %

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Tingkat Toksisitas dari Limbah Lindi TPA Piyungan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Terhadap Ikan Nila (Oreochromis niloticus.

PENURUNAN KONSENTRASI CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD)

BAB I PENDAHULUAN. mil laut dengan negara tetangga Singapura. Posisi yang strategis ini menempatkan

PENGOLAHAN LIMBAH PEWARNAAN KONVEKSI DENGAN BANTUAN ADSORBEN AMPAS TEBU DAN ACTIVATED SLUDGE

OPTIMASI EFISIENSI PENGOLAHAN LINDI DENGAN MENGGUNAKAN CONSTRUCTED WETLAND OPTIMIZATION OF LEACHATE TREATMENT EFFICIENCY BY USING CONSTRUCTED WETLAND

PERBEDAAN KUALITAS AIR LINDI SEBELUM DAN SESUDAH PENGOLAHAN DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (Studi Kasus TPA Sampah Botubilotahu Kec. Marisa Kab.

Mukhlis dan Aidil Onasis Staf Pengajar Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang

PENELITIAN PENGOLAHAN AIR KOLAM PENAMPUNGAN LINDI DENGAN GRANULAR FILTER KARBON AKTIF PADA TIPE REAKTOR VERTIKAL

Keywords : Constructed wetlands, cattail plants, subsurface flow system, free surface water, laundry waste References : 80 ( )

PENGARUH TANAMAN RUMPUT BEBEK (Lemna minor) TERHADAP PENURUNAN BOD DAN COD LIMBAH CAIR DOMESTIK

BAB I PENDAHULUAN. Australia (BP.2014). Sebagian besar pertambangan batubara di Indonesia

Model Fisik Sub Surface Flow Constructed Wetland Untuk Pengolahan Air Limbah Musala Al-Jazari Fakultas Teknik Universitas Riau

Jurusan. Teknik Kimia Jawa Timur C.8-1. Abstrak. limbah industri. terlarut dalam tersuspensi dan. oxygen. COD dan BOD. biologi, (koagulasi/flokulasi).

PENGOLAHAN LIMBAH LAUNDRY DENGAN PENAMBAHAN KOAGULAN POLYALUMUNIUM CHLORIDE(PAC) DAN FILTER KARBON AKTIF

ANALISIS KUALITAS KIMIA AIR LIMBAH RUMAH SAKIT DI RSUD DR. SAM RATULANGI TONDANO TAHUN

EFEKTIVITAS INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) DOMESTIK SISTEM ROTATING BIOLOGICAL CONTACTOR (RBC) KELURAHAN SEBENGKOK KOTA TARAKAN

Kombinasi pengolahan fisika, kimia dan biologi

PENGARUH RESIRKULASI LINDI TERHADAP POTENSI PRODUKSI GAS METAN (CH 4 )

STUDI KELAYAKAN PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK DARI RUMAH MAKAN SEBAGAI PRODUKSI ENERGI DENGAN MENGGUNAKAN REAKTOR BIOGAS SKALA RUMAH TANGGA

BAB I PENDAHULUAN. manusia terhadap lingkungan adalah adanya sampah. yang dianggap sudah tidak berguna sehingga diperlakukan sebagai barang

PERTUMBUHAN Typha angustifolia AKIBAT PENDEDAHAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT SEBAGAI SUMBER BELAJAR PENCEMARAN LINGKUNGAN BAGI SISWA SMA

PENGOLAHAN AIR LIMBAH SAMPAH (LINDI) DARI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH (TPA) MENGGUNAKAN METODA CONSTRUCTED WETLAND

BAB VI HASIL. Tabel 3 : Hasil Pre Eksperimen Dengan Parameter ph, NH 3, TSS

PENGARUH JUMLAH TANAMAN CYPERUS ALTERNIFOLIUS DAN WAKTU TINGGAL LIMBAH DALAM PENYISIHAN KADAR AMMONIAK, NITRIT, DAN NITRAT

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DENGAN KANDUNGAN AMONIAK TINGGI SECARA BIOLOGI MENGGUNAKAN MEMBRANE BIOREACTOR (MBR)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGOLAHAN AIR LINDI (LEACHATE) TPA BENOWO DENGAN PROSES BIOLOGI MENGGUNAKAN SISTEN STEP AERATION

BAB I PENDAHULUAN. mengganggu kehidupan dan kesehatan manusia (Sunu, 2001). seperti Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat,

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER 2012

PERANCANGAN REAKTOR ACTIVATED SLUDGE DENGAN SISTEM AEROB UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DOMESTIK

STUDI POTENSI PENYISIHAN ORGANIK PADA EFLUEN IPAL DOMESTIK DENGAN PENGGUNAAN CONSTRUCTED WETLAND (Studi Kasus : IPAL Bojongsoang, Bandung)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

1. PENDAHULUAN. yang disebabkan limbah yang belum diolah secara maksimal.

Natalina 1 dan Hardoyo 2. Surel : ABSTRACT

TINJAUAN PUSTAKA. Ekosistem air terdiri atas perairan pedalaman (inland water) yang terdapat

BAB 6 PEMBAHASAN 6.1 Diskusi Hasil Penelitian

PEMANFAATAN AERASI UNTUK MENGURANGI KADAR COD DAN FOSFAT DALAM AIR LIMBAH CAR WASH

Transkripsi:

PENGARUH JUMLAH TUMBUHAN Typha Angustifolia DAN UKURAN MEDIA PASIR YANG BERBEDA TERHADAP PENYISIHAN BOD DAN COD DALAM LINDI DENGAN SUB SURFACE FLOW CONSTRUCTED WETLAND Indah Kusumastuti *) ; Titik Istirokhatun **) ; Badrus Zaman **) Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Uversitas Diponegoro Jl. Prof. H. Sudarto, S.H Tembalang - Semarang, Kode Pos 50275 Telp. (024)76480678, Fax (024) 76918157 Website : http://enveng.undip.ac.id - Email: enveng@undip.ac.id Abstract Leachate is liquid waste arising as a result of water ingress into external middens,. Leachate contain organic and inorganic substances with high concentration. Therefore, the processing of leachate is very important before being dumped directly into the recipient's body of water. One of the technologies to manipulate the leachate i.e. using constructed wetlands. Artificial wetlands (constructed wetland) is a wastewater treatment system that is suitable for tropical and developing countries like Indonesia because it is cheap, easy to operate and cared for as well as sustainable (Meutia, 2000) this research aims to know the decrease in concentration of COD and BOD with the system sub surface flow constructed wetland was constructed using plant typha angustifolia. In addition, the impact of the number of varieties of plants and the size of the diameter of the sand will be analyzed. Laboratory research conducted for 15 days with 12 reactors. The reactor consists of A 3 diameter 0.2-sand reactor 0, 02mm the number of plants of the 1,3 and 5. The B reactor is made up of 3 sand reactor diameter 2 mm 2-0, the number of plants 1, 3, 5 and 5 C reactor, made up of three reactor sand 20-2 mm diameter, the number of plants of the 1,3 and 5. Each reactor is filled with as many as 4 liters of water lindi. Sampling done every 3 days and measure the concentration of COD and BOD. The amount of allowance in each reactor is as follows: Allowance for BOD reactor with A 13.69-25.83 mg/l, B reactor 35.95-19.76 mg/l, C reactor 42.03-33.93 mg/l. Allowance for COD reactor A with 101.60-54.11 mg/l, B reactor 145.82-68.85 mg/l, C 191.67-reactor 129.44 mg/l. Keyword : Subsurface Flow Constructed Wetlands, Typha Angustifolia, leachate PENDAHULUAN Lindi (leachate) adalah cairan yang merembes melalui tumpukan sampah dengan membawa materi terlarut atau tersuspensi terutama hasil proses dekomposisi materi sampah atau dapat pula didefinisikan sebagai limbah cair yang timbul akibat masuknya air eksternal ke dalam timbunan sampah, melarutkan dan membilas materi terlarut, termasuk juga materi organik hasil proses dekomposisi biologis (Damanhuri, 2010). Secara umum leachate mengandung bahan pencemar baik zat organik maupun anorganik dengan konsentrasi tinggi, terutama pada timbunan sampah yang masih baru. Karena konsentrasi yang masih cukup

tinggi, maka diperlukan adanya pengolahan yang mampu mengurangi kandungan pencemar. Pengolahan lindi merupakan salah satu alternatif untuk mewujudkan pengelolaan sampah secara terpadu dan berwawasan lingkungan. Pengolahan lindi yang bertujuan untuk mengurangi suspended solid, zat organik yang terdegradasi, pathogen merugikan, kandungan logam berat, inorganic dissolve solid serta untuk mengantisipasi kandungan zat-zat yang dapat merugikan kesehatan manusia (Ain Nihla, 2012). Sejauh ini upaya pengolahan air lindi masih bersifat konvensional, yaitu hanya berupa bakbak pengendapan, sehingga hasilnya belum optimal. Saat ini banyak unit Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Tracheobionta : Spermatophyta : Magnoliophyta : Liliopsida : Commelinidae : Typhales : Typhaceae : Typha : Typha angustifolia L. pengolah lindi dikembangkan untuk menurunkan kandungan polutan di perairan, salah satunya adalah constructed wetland atau lahan basah buatan. Lahan basah buatan (constructed wetland) adalah suatu sistem pengolahan air limbah yang cocok untuk daerah tropis dan negara berkembang seperti Indonesia karena murah, mudah dioperasikan dan dirawat serta berkelanjutan (Meutia, 2000). Tanaman yang digunakan sebagai pereduksi limbah adalah tanaman alang-alang (Thypa Angustifolia). Typha angustifolia yang telah digunakan dalam beberapa penelitian dengan sistem Sub-surface flow constructed wetland. Tumbuhan Typha Angustifolia juga mempunyai rizom serta berbentuk panjang dan ramping. Tumbuhan cattail memiliki rhyzosfera merupakan sistem perakaran yang banyak dapat menyerap zat organik di badan air (Mika, 2013) disamping itu tanaman air ini tumbuh subur pada lahan basah di tempat pembuangan sampah Kawasan Industri Terboyo yang berasal dari pembuangan sampah oleh warga dan industri setempat. Sedangkan untuk media tanam dipilih pasir. Hal ini dikarenakan media tanam ini memiliki kemampuan aerasi yang tinggi karena memiliki porositas yang besar. Sehingga memudahkan tanaman dalam proses penyerapan lindi (Rininta, 2014).Berdasarkan hal di atas, maka akan dilakukan penelitian mengenai pengolahan air lindi menggunakan pasir dalam sistem constructed wetland menggunakan tanaman (Typha Angustifolia) yang diharapkan dapat menurunkan kandungan BOD dan COD dalam air lindi. METODE PENELITIAN Secara keseluruhan pelaksanaan penelitian dibagi dalam tiga tahapan, meliputi

1. Tahap persiapan Mencari dan mempelajari literatur, jurnal, buku terkait pengolahan limbah lindi dengan constructed wetland untuk dijadikan pedoman. Kemudian melakukan persiapan alat dan bahan yang akan digunakan. Aklimatisasi tumbuhan Typha Angustifolia dilakukan selama 1 minggu dengan menanam rumput teki pada media pasir dan reaktor penelitian terbuat dari ember plastik dengan ukuran tinggi 40 cm dan diameter 23 cm. Kemudian mempersiapkan pasir dengan diameter yang berbeda setinggi 25cm. 2. Tahap Pelaksanaan Pengkondisian lokasi sampling dilakukan dengan cara memasang beberapa alat pemantauan untuk mendapatkan data - data yang dibutuhkan seperti temperature (suhu) dan kelembapan di greenhouse. Pengukuran kondisi fisik lingkungan dilakukan setiap hari selama proses aklimatisasi dan pada saat penelitian sedang berlangsung. Pengukuran dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi hari pukul 09.00, siang hari/sore hari. Pengukuran lindi dilakukan selama penelitian dalam waktu 3 hari sekali. Running dilakukan selama 15 hari setelah aklimatisasi, Reaktor yang telah dipersiapkan kemudian diberi pasir dengan diameter yang berbeda diisi dengan air limbah lindi sebanyak 4 liter. Reaktor penelitian sebanyak 12 reaktor dimana masing-masing reaktor terdapat jumlah tumbuhan yang berbeda. Reaktor A terdiri dari 3 reaktor dengan diameter pasir 0,2-0,02mm terdapat 1,3 dan 5 tumbuhan, reaktor B terdiri dari 3 reaktor dengan diameter pasir 2-0,2mm terdapat 1,3 dan 5 tumbuhan, reaktor C terdiri dari 3 reaktor dengan diameter pasir 20-2mm terdapat 1,3 dan 5 tumbuhan, dan reaktor D merupakan reaktor kontrol yang tidak terdapat tumbuhan Typha Angustifolia. Reaktor kontrol mempunyai fungsi sebagai pembanding. Kontrol digunakan untuk membandingkan penurunan konsentrasi COD maupun BOD dengan masingmasing reaktor uji. Selama Running pengambilan sampel dilakukan 3 hari sekali. Pengukuran ph, suhu, kosentrasi COD dan BOD5 dilakukan di laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro. 3. Analisis data Analisis data dilakukan dengan menggunakan program microsoft excel.. Analisis data dilakukan dengan menganalisis data yang telah diperoleh dari kegiatan sampling, yaitu data konsentrasi COD dan BOD, serta data ph dan suhu pada lindi. Analisa akan meliputi analisis dengan grafik untuk hubungan konsentrasi konsentrasi COD dan terhadap jumlah tumbuhan dan ukuran pasir. Sedangkan untuk menganalisa hubungan antara jumlah koloni rumput teki dengan penurunan COD dan BOD didapatkan dengan menggunakan analisa bivariat dengan analisis korelasi pearson (Pearson Bivariate Correlation) menggunakan bantuan software SPSS untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara banyaknya jumlah tumbuhan dan ukuran diameter pasir dengan penurunan konsentrasi COD dan BOD pada lindi. Dari data konsentrasi COD dan BOD serta jumlah tumbuhan dan ukuran diameter pasir yang telah didapatkan akan dibobotkan kemudian di input ke dalam software SPSS.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Karakteristik Lindi Inffluent Pada tahap running dilakukan pengukuran parameter yang lebih kompleks yaitu pengukuran terhadap konsentrasi BOD dan COD. Pada tahap running menggunakan variabel jumlah tumbuhan dan diameter pasir yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah tumbuhan dan diameter ukuran terhadap penurunan konsentrasi pencemar.data karakteristik awal air lindi untuk tahap running dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Dari data karakteristik awal air lindi pada tahap running diatas dapat dilihat bahwa konsentrasi BOD dan COD masih cukup tinggi karena berada diatas baku mutu Perda Jateng No. 5 Tahun 2012. Oleh karena itu, diperlukan pengolahan lanjutan untuk mengurangi konsentrasi BOD dan COD. 1. Hasil Penurunan BOD Proses analisis BOD ini mengunakan parameter BOD5, yaitu proses analisa sampel dilakukan untuk waktu nol hari dan inkubasi selama lima hari. Berikut adalah tabel konsentrasi penurunan BOD setelah diberi perlakuan teknik constructed wetland berdasarkan jumlah tumbuhan dan diameter pasir. Gambar Grafik Hubungan antara Konsentrasi BOD(mg/l) dengan Diameter Pasir dan Jumlah Tumbuhan Berdasarkan data pada tabel dan grafik, dapat dilihat penurunan konsentrasi BOD terjadi secara tertahap pada setiap reaktor dan kontrol. Penurunan BOD terjadi dari nilai awal BOD 661.65 mg/l pada pengambilan

hari ke-0 atau influent hingga hari ke- 15.. Penurunan optimum dari keseluruhan reaktor yang diuji berada pada hari ke-12 Pada reaktor diameter (0.02-0.2mm) dengan jumlah 5 tumbuhan mencapai nilai penyisihan 50.12 mg/l dan penyisihan terendah berada pada reaktor K yaitu pasir berdiameter 20-2mm tanpa tumbuhan. Pada penelitian Ismaryanto, 2012 memiliki jumlah tumbuhan yang mempengaruhi pengdegradasian kontaminan. Pada reaktor H5 diperoleh efisiensi yang terbaik karena adanya pengaruh tumbuhan. Adanya akar tumbuhan memberikan tempat bagi mikroorganisme untuk berkembang biak. Sedangkan untuk reaktor tanpa tanaman diperoleh efisiensi yang rendah karena hanya terjadi proses fisik yaitu filtasi dan sedimentasi yang diakibatkan oleh ada saringan berupa media pasir. Hasil tersebut berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Mega, 2013 dimana media yang memiliki porositas yang lebih tinggi lebih efektif dalam meningkatkan kualitas air. Nilai BOD secara keseluruhan menurun hal tersebut dikarenakan adanya pengolahan terhadap BOD yang dilakukan aktif oleh mikroorganisme dan absorbansi yang dilakukan oleh media. Beberapa hal yang dapat menjelaskan terjadinya penurunan bahan organik dalam SSF-Wetland tersebut, menurut Wood dalam Tangahu & Warmadewanthi (2001) bahwa penurunan konsentrasi bahan organik dalam sistem wetlands terjadi karena adanya mekanisme aktivitas mikroorganisme dan tanaman, melalui proses oksidasi oleh bakteri aerob yang tumbuh disekitar rhizosphere tanaman maupun kehadiran bakteri heterotrof didalam air limbah. Mekanisme penurunan biologi terjadi karena aktifitas mikrobiologi di akar. Akar tanaman meningkatkan kepadatan dan aktivitas mikroba yang disediakan oleh permukaan akar untuk pertumbuhan mikroba (Vymazal 2008). 2. Hasil Penurunan COD Dari penelitian diperoleh datadata hasil penurunan COD untuk masing-masing reaktor dapat dilihat pada tabel serta gambar grafik sebagai berikut

Gambar Grafik Hubungan antara Konsentrasi COD (mg/l) dengan Diameter Pasir Halus, Sedang, Kasar dan Jumlah Tumbuhan Berdasarkan data pada grafik, dapat dilihat penurunan konsentrasi COD terjadi secara bertahap pada setiap reaktor dan kontrol. Penurunan COD terjadi dari nilai awal COD 661,65 mg/l pada pengambilan hari ke-0 atau influent hingga hari ke-15. Penyisihan COD optimum terjadi pada hari ke-9 untuk reaktor pasir diameter (0.02-0.2mm) dengan 5 jumlah tumbuhan sedangkan reaktor pasir diameter (2-20mm) dan (0.2-2mm) penyisihan optimum terjadi pada hari ke-12. Sedangkan penyisihan COD terendah terdapat pada reactor K1 yaitu reactor pasir diameter 20-2mm dengan 1 tanaman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecenderungan penurunan konsentrasi COD sejalan dengan penurunan konsentrasi BOD secara bertahap mengindikasikan bahwa bahan organik yang terkandung dalam air limbah sebagian besar merupakan bahan organik yang bersifat biodegradable (dapat terdegradasi secara biologis). COD yang berhubungan dengan zat yang terendapkan di dalam air buangan dihilangkan oleh proses sedimentasi. COD terlarut dan dalam bentuk koloid yang masih tersisa dalam larutan dapat dihilangkan sebagai hasil dari proses aktifitas metabolisme dan interaksi kimia fisik didalam zona perakaran/matrik substrat. Media ini berfungsi sebagai penunjang struktur bakteri seperti halnya mengganti sistem aerator mekanik dalam mentransfer oksigen didalam sistem pengolahan air buangan. Proses penurunan kandungan COD pada sistem tanah basah/ lahan basah/ rawa buatan akan semakin baik bila digunakan media dengan ukuran partikel yang lebih kecil (Fitriarini, 2002). KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan konsentrasi penurunan BOD dan COD terjadi secara signifikan negatif atau bersifat berlawanan berkaitan dengan jumlah tumbuhan. Sedangkan pada diameter pasir berbanding lurus, namun penurunan konsentrasi BOD dan COD berpengaruh rendah. Nilai penurunan konsentrasi terhadap BOD dan COD optimum terjadi pada hari ke -12 reaktor diameter (0.02-0.2mm) dengan jumlah 5 tumbuhan dengan nilai BOD : 50.12 mg/l sedangkan COD: 224.42 mg/l SARAN Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan parameter yang lain DAFTAR PUSTAKA Metcalf and Eddy, Inc. 2003. Wastewater Engineering: Treatment and Reuse, Fourth Edition. Boston : McGraw- Hill.

Puspita, L., E. Ratnawati, IN. N. Suryadiputra, A. A. Meutia. 2005. Lahan Basah Buatan Indonesia. Wetlands International- Indonesia Programme. Bogor Gunawan Ismaryanto. 2013.Studi Kemampuan Vertical Subsurface Flow Constructed Wetlands Dalam Menyisihkan Cod, Nitrit, Dan Nitrat Pada Air Lindi (Studi Kasus: Tpa Ngronggo, Salatiga). Program Studi Teknik Lingkungan Ft Undip: Semarang Vymazal Enki, O.P.S. 2008. Constructed Wetlands For Wastewater Treatment: A Review. Institute Of Systems Biology And Ecology, Czech Academy Of Sciences, Dukelska 145,37901, Trebon Czech Republic, A. MeutiaN. H. Sadi K. Ratnawati. 2001. Penyisihan Logam Berat Tembaga, Seng, Besi, Dan Mangan Di Dalam Lahan Basah Buatan. Jurnal Oseanologi Dan Limnologi Di Indonesia 2001 Issn 0125-9830 No. 33 : 63-76 Risnawati I., T. P. Damanhuri. 2010. Penyisihan Logam Pada Lindi Menggunakan Constructed Wetland Metal Removal From Leachate In Constructed Wetland. Jurnal. Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Sipil dan Lingkungan ITB; Bandung Supradata. 2005. Pengolahan Limbah Domestik Menggunakan Tanaman Hias Cyperus Alternifolius, L. Dalam Sistem Lahan Basah Buatan Aliran Bawah Permukaan (Ssf-Wetlands). Tesis. Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Diponegoro; Semarang