II. TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
DAMPAK KEBIJAKAN IMPOR DAN FAKTOR EKSTERNAL TERHADAP KESEJAHTERAAN PRODUSEN DAN KONSUMEN BAWANG MERAH DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN. Indonesia menurut lapangan usaha pada tahun 2010 menunjukkan bahwa sektor

V. GAMBARAN UMUM KERAGAAN BAWANG MERAH Perkembangan Produksi Bawang Merah di Indonesia

II. TINJAUAN PUSTAKA

III. KERANGKA PEMIKIRAN. kesejahteraan, serta dampak kuota impor terhadap kesejahteran.

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. pertumbuhan produksi pertanian tidak sebesar laju permintaan pangan. Tabel 1.1

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

VIII. SIMPULAN DAN SARAN

ANALISIS PERDAGANGAN BIJI KAKAO INDONESIA

III. KERANGKA PEMIKIRAN. fungsi permintaan, persamaan simultan, elastisitas, dan surplus produsen.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. ASEAN sebagai organisasi regional, kerjasama ekonomi dijadikan sebagai salah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, PERMINTAAN, IMPOR, DAN HARGA BAWANG MERAH DI INDONESIA

DAMPAK KEBIJAKAN HARGA DASAR PEMBELIAN PEMERINTAH TERHADAP PENAWARAN DAN PERMINTAAN BERAS DI INDONESIA RIA KUSUMANINGRUM

VIII SKENARIO ALTERNATIF KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SISTEM AGROINDUSTRI KAKAO

I. PENDAHULUAN. dalam hal lapangan pekerjaan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

KERANGKA PEMIKIRAN. transformasi input (resources) ke dalam output atau yang melukiskan antara

I. PENDAHULUAN. (Riyadi, 2002). Dalam komponen pengeluaran konsumsi masyarakat Indonesia

I. PENDAHULUAN. menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan

I. PENDAHULUAN. umumnya, khususnya sebagai sumber penyediaan energi dan protein. Neraca

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

4. KEBIJAKAN KEDELAI NASIONAL

KEBIJAKAN HARGA INPUT-OUTPUT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KENAIKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2009 MODEL PROYEKSI JANGKA PENDEK PERMINTAAN DAN PENAWARAN KOMODITAS PERTANIAN UTAMA

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Dalam periode September Oktober 2009 terbukti telah terjadi

Adreng Purwoto, Handewi P.S. Rachman, dan Sri Hastuti Suhartini. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jl. A. Yani No.

1 Universitas Indonesia

Poppy Ismalina, M.Ec.Dev., Ph.D., Konsultan ILO

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan net ekspor baik dalam

I. PENDAHULUAN 41,91 (42,43) 42,01 (41,60) 1,07 (1,06) 12,49 (12,37) 0,21 (0,21) 5,07 (5,02) 20,93 (20,73) 6,10 (6,04) 0,15 (0,15) (5,84) 1,33 (1,35)

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhannya meningkat, sementara sektor lain mengalami pertumbuhan

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Gula merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia baik

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Empiris Tentang Jeruk

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DAN PERUBAHAN LINGKUNGAN EKONOMI TERHADAP DINAMIKA EKSPOR KARET ALAM

ANALISIS PENGARUH PAJAK EKSPOR (BEA KELUAR) TERHADAP VOLUME EKSPOR, KETERSEDIAAN DOMESTIK DAN HARGA DOMESTIK BIJI KAKAO INDONESIA

RESUME. Liberalisasi produk pertanian komoditas padi dan. biji-bijian nonpadi di Indonesia bermula dari

BAB 1. PENDAHULUAN. Indonesia. Bawang merah bagi Kabupaten Brebes merupakan trademark

DAMPAK LIBERALISASI PERDAGANGAN TERHADAP KINERJA KETAHANAN PANGAN NASIONAL

LAPORAN AKHIR PENGEMBANGAN MODEL PERMINTAAN DAN PENAWARAN KOMODITAS PERTANIAN UTAMA. Oleh :

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

I. PENDAHULUAN. penting dalam perekonomian nasional. Ditinjau dari kontribusinya terhadap

POLICY BRIEF KAJIAN KEBIJAKAN PENGENDALIAN IMPOR PRODUK HORTIKULTURA. Dr. Muchjidin Rahmat

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang. peluang karena pasar komoditas akan semakin luas sejalan dengan

Dari hasil penelitian mengenai perilaku makroekonomi lndonesia. dikaitkan dengan liberalisasi perdagangan, maka dapat ditarik beberapa

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian internasional, diantaranya yaitu impor. Kegiatan impor yang dilakukan

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN. metode two stage least squares (2SLS). Pada bagian ini akan dijelaskan hasil

BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

Bab 5 H O R T I K U L T U R A

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Sarnowo dan Sunyoto (2013:1) permintaan adalah jumlah barang

PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan PDB Hortikultura Atas Dasar Harga Berlaku di Indonesia Tahun Kelompok

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas

V GAMBARAN UMUM PERKEMBANGAN DAN IMPOR KEDELAI INDONESIA

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

PENGARUH HARGA BAWANG MERAH IMPOR TERHADAP PERMINTAAN IMPOR BAWANG MERAH DI INDONESIA TAHUN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

III. TINJAUAN PUSTAKA

PROSPEK TANAMAN PANGAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.

BAB I PENDAHULUAN. Sayuran merupakan salah satu komoditas unggulan karena memiliki nilai

BAB I PENDAHULUAN. pertanian haruslah merupakan tujuan utama dari setiap pemerintah sedang berkembang.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA. Oleh : RIKA PURNAMASARI A

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian

III KERANGKA PEMIKIRAN

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia memiliki potensi alamiah yang berperan positif dalam

PENDAHULUAN. Indonesia, tercapainya kecukupan produksi beras nasional sangat penting

DAMPAK PENGHAPUSAN TARIF IMPOR KEDELAI DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN. 1 Sambutan Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Ahmad Dimyati pada acara ulang tahun

BAB I PENDAHULUAN. beras, jagung dan umbi-umbian menjadikan gula sebagai salah satu bahan

Dr Erwidodo Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Badan Litbang Pertanian. Workshop Pra-Konferensi PERHEPI Bogor, 27 Agustus 2014

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Produksi, Produktivitas, dan Luas Areal Ubi Kayu di Indonesia Serta

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur

BAB I PENDAHULUAN. negara (Krugman dan Obstfeld, 2009). Hampir seluruh negara di dunia melakukan

Transkripsi:

11 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebijakan Tarif Bawang Merah Sejak diberlakukannya perjanjian pertanian WTO, setiap negara yang tergabung sebagai anggota WTO harus semakin membuka pasarnya. Hambatan perdagangan berupa tarif impor maupun non tarif harus dikurangi hingga akhirnya dihapuskan. Hal yang paling diperhatikan dalam perjanjian pertanian WTO adalah larangan pemberian subsidi bagi petani baik subsidi domestik maupun subsidi ekspor, namun di beberapa negara maju masih sarat dengan pemberian subsidi yang mendistorsi pasar. Dengan adanya subsidi, surplus mereka dapat dijual dengan harga murah yang menyebabkan harga pasar dunia menjadi sangat rendah (Saptana dan Hadi, 2008). Indonesia saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1998 kurang mampu melaksanakan program-program pembangunan sektor pertanian yang telah disusun dalam rangka menghadapi liberalisasi produk pertanian yang telah disepakati dalam WTO. Kondisi tersebut memaksa Indonesia untuk meliberalisasi produk pertaniannya jauh lebih cepat daripada yang seharusnya. Meskipun komitmen tarif produk pertanian Indonesia dalam forum WTO masih cukup tinggi yaitu maksimal sebesar 40 persen untuk bawang merah konsumsi, namun selama kurun waktu 1998-2004 Indonesia menerapkan tarif impor sebesar lima persen untuk bawang merah konsumsi (Kementerian Keuangan, 2012). Indonesia setelah tanggal 1 Januari 2005 melakukan Program Harmonisasi Tarif Bea Masuk dengan menerapkan tarif yang relatif tinggi untuk beberapa produk pertanian termasuk hortikultura yaitu sebasar 10-40 persen. Program tersebut dikenakan atas barang impor yang masuk ke Indonesia dari negara lain,

12 kecuali negara yang memiliki perjanjian khusus dengan Indonesia seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN China Free Trade Area (AC-FTA), dan ASEAN Korea Free Trade Area (AK-FTA). Keputusan pemerintah tentang harmonisasi tarif diterbitkan dalam Permenkeu Nomor 591/PMK.010/2004 tanggal 21 Desember 2004. Tarif impor yang dikenakan untuk bawang merah konsumsi adalah sebesar 25 persen pada tahun 2005-2010. Berdasarkan Permenkeu Nomor 90/PMK.011/2011 tarif impor tersebut turun menjadi sebesar 20 persen mulai tahun 2011 (Kementerian Keuangan, 2012). Tarif impor bawang merah yang berasal dari negara anggota ASEAN dan China pada tahun 2006 telah dihapuskan atau nol persen. Keputusan tersebut tertulis dalam Permenkeu Nomor 28/PMK.010/2005 serta Kepmenkeu Nomor 355/KMK.01/2004 dan 356/KMK.01/2004. Kemudian pemerintah menanggapi adanya AK-FTA dengan menerbitkan Permenkeu Nomor 236/PMK.011/2008 tanggal 23 Desember 2008. Peraturan tersebut mengemukakan bahwa tarif impor bawang merah dari Korea tahun 2009-2011 adalah sebesar lima persen dan akan turun menjadi nol persen pada tahun 2012 (Kementerian Keuangan, 2012). 2.2. Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian yang dapat dijadikan referensi antara lain penelitian Tentamia (2002), Tandipayuk (2010), Nainggolan (2006), Saptana dan Hadi (2008), dan Hidayat (2012). Hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada Tabel 3. 2.2.1. Penelitian tentang Bawang Merah Penelitian mengenai bawang merah telah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu seperti penelitian oleh Tentamia (2002) dan Tandipayuk (2010). Penelitian tersebut menganalisis tentang perkembangan serta faktor-faktor yang

13 mempengaruhi produksi, penawaran, konsumsi, serta fluktuasi harga bawang merah di Indonesia (Tabel 3). 2.2.2. Penelitian tentang Kebijakan Perdagangan Komoditas Pertanian Penelitian terdahulu mengenai perdagangan komoditas pertanian juga telah banyak dilakukan diantaranya oleh Saptana dan Hadi (2008) serta Arsyad, Sinaga, dan Yusuf (2011). Penelitian tersebut melihat dampak adanya suatu kebijakan perdagangan (ekspor atau impor) terhadap faktor-faktor yang dipengaruhinya dengan menggunakan dua alat analisis yang berbeda. Penelitian Saptana dan Hadi (2008) menggunakan pendekatan Partial Equilibrium Model, sedangkan Arsyad, Sinaga, dan Yusuf (2011) menggunakan model persamaan simultan dengan metode pendugaan Two-Stages Least Squares (Tabel 3). 2.2.3. Penelitian tentang Pengaruh Kebijakan terhadap Kesejahteraan Hidayat (2012) meneliti mengenai pengaruh kebijakan terhadap kesejahteraan masyarakat. Penelitian tersebut mengkaji dampak adanya perubahan kebijakan yang akan mempengaruhi besarnya kesejahteraan masyarakat. Indikator kesejahteran yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah perubahan surplus produsen dan surplus konsumen (Tabel 3).

14 Tabel 3. Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu No. Peneliti dan Judul Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil 1 Mari Komariah Tentamia (2002), Analisis Penawaran dan Permintaan Bawang Merah di Indonesia 1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi luas areal dan produksi bawang merah di Jawa Tengah dan luar Jawa Tengah 2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan, ekspor, impor, dan harga bawang merah di Jawa Tengah dan luar Jawa Tengah 3. Menganalisis dampak perubahan faktor ekonomi peningkatan harga pupuk, tarif impor, depresiasi rupiah dan perubahan harga komoditas alternatif terhadap penawaran, permintaan, ekspor, impor, dan harga bawang merah di Jawa Tengah dan Indonesia 4. Menganalisis dampak perubahan faktor ekonomi peningkatan harga pupuk, tarif impor, depresiasi rupiah dan perubahan harga komoditas alternatif terhadap kesejahteraan produsen dan konsumen bawang merah di Jawa Tengah dan Indonesia model persamaan simultan dengan metode pendugaan Two-Stages Least Squares. Simulasi kebijakan : 1. peningkatan harga pupuk 2. perubahan nilai tukar rupiah 3. peningkatan tarif impor 4. peningkatan dan penurunan komoditas (cabe) harga alternatif Produksi bawang merah di Jawa Tengah responsif terhadap perubahan harga pupuk, tetapi tidak responsif terhadap perubahan harga bawang merah, harga cabe, dan upah tenaga kerja. Sedangkan permintaan bawang merah responsif terhadap perubahan jumlah penduduk, tetapi tidak responsif terhadap harga bawang merah dan pendapatan per kapita. Perubahan faktor ekonomi yang berdampak pada peningkatan produksi bawang merah adalah depresiasi nilai tukar rupiah, peningkatan tarif impor bawang merah, dan penurunan harga cabe. Penurunan produksi bawang merah dipengaruhi oleh peningkatan harga pupuk, apresiasi nilai tukar rupiah, dan peningkatan harga cabe. Peningkatan permintaan bawang merah domestik dipengaruhi oleh apresiasi nilai tukar rupiah dan penurunan harga cabe. Dengan demikian, faktor ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku ekonomi adalah peningkatan tarif impor bawang merah dan apresiasi nilai tukar rupiah.

15 Tabel 3. Lanjutan No. Peneliti dan Judul Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian 2. Sri Tandipayuk (2010), 1. Menganalisis perkembangan Model persamaan Produksi bawang merah Indonesia masih berfluktuasi Analisis Produksi, produksi, konsumsi, dan simultan dengan metode dan tidak responsif terhadap harga bawang merah Konsumsi, dan Harga harga bawang merah pendugaan Two-Stages domestik dalam jangka pendek. Luas areal panen ini Indonesia. Bawang Merah Least Squares. dipengaruhi oleh harga bawang merah domestik tahun 2. Menganalisis faktor-faktor Indonesia yang mempengaruhi Pengolahan data sebelumnya, harga pupuk tahun sebelumnya, harga produksi, konsumsi, dan digunakan dengan Eviews cabe merah tahun sebelumnya, trend waktu, dan harga harga bawang merah 6 dan Microsoft excel. tenaga kerja tahun sebelumnya. Produktivitas Indonesia. dipengaruhi oleh harga bawang merah domestik. Semua faktor endogen tersebut tidak responsif terhadap perubahan faktor-faktor yang mempengaruhinya tersebut. Konsumsi bawang merah domestik terus meningkat dan sangat responsif terhadap perubahan jumlah penduduk dalam jangka pendek. Harga bawang merah domestik terus berfluktuasi dipengaruhi secara nyata oleh harga impor bawang merah, nilai tukar rupiah, dan harga bawang merah domestik. 3. Muhammad Arsyad, B. M. Sinaga, dan S. Yusuf (2011), Analisis Dampak Kebijakan Pajak Ekspor dan Subsidi Harga Pupuk terhadap Produksi dan Ekspor Kakao 1. Menganalisi faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor kakao Indonesia 2. Menganalisis dampak rencana pemberlakukan pajak ekspor dan subsidi harga pupuk terhadap produksi dan ekspor kakao pasca Putaran Uruguay Model persamaan simultan dengan metode pendugaan Two-Stages Least Squares. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor-faktor yang secara potensial mempengaruhi ekspor kakao Indonesia adalah harga ekspor kakao Indonesia, pertumbuhan produksi kakao, nilai tukar rupiah, dan trend waktu. Rencana pemberlakukan pajak ekspor berdampak negatif terhadap produksi dan ekspor kakao Indonesia pasca Putaran Uruguay, sementara rencana kebijakan pemberian subsidi harga pupuk

16 Tabel 3. Lanjutan No. Peneliti dan Judul Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian Indonesia Pasca berdampak positif terhadap peningkatan produksi dan Putaran Uruguay ekspor kakao Indonesia. Implikasinya adalah bahwa kebijakan subsidi harga pupuk masih dapat diharapkan sebagai strategi kunci untuk memacu produksi dan ekspor kakao Indonesia. 4. Saptana dan Prajogo U. Melihat dampak adanya Pendekatan Partial Dampak kebijakan proteksi berupa peningkatan tarif impor Hadi (2008), Dampak kebijakan proteksi dan Equilibrium Model dari 5 persen menjadi 25 persen untuk bawang merah dan Proteksi dan Promosi promosi terhadap bawang jeruk berpotensi meningkatkan harga grosir, harga petani, merah, kentang, mangga, terhadap Ekonomi produksi, surplus produsen dan pendapatan usahatani, tetapi dan jeruk baik secara makro Hortikultura Indonesia maupun mikro. mengurangi konsumsi, surplus konsumen, impor, dan penerimaan pemerintah dari pajak. Meskipun demikian peningkatan tarif impor sebesar 25 persen sesungguhnya terlalu tinggi. Kebijakan promosi berupa perbaikan sistem distribusi pupuk berpotensi menurunkan biaya pupuk per Ha per musim pada usahatani kentang di Karo (Sumatera Utara) dan Tabanan (Bali) masing-masing Rp 1.37 Juta dan Rp 0.44 Juta, usahatani bawang merah dan mangga di Majalengka (Jawa Barat) masing-masing Rp 0.21 Juta dan Rp 1.56 Juta, dan usahtani jeruk di Karo (Sumatera Utara) sebesar Rp 4.03 Juta. Sementara pelonggaran impor bibit kentang varietas french fries dan atlantik diharapkan akan meningkatkan produksi dan ekspor hasil olahan kentang

17 Tabel 3. Lanjutan No. Peneliti dan Judul Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian 5. Nia Kurniawati 1. Menganalisis transmisi harga Hidayat (2012), beras dan integrasi pasar dari Dampak Perubahan pasar dunia ke pasar domestik. Harga Beras Dunia 2. Menganalisis dampak terhadap perubahan harga beras dunia Kesejahteraan terhadap kesejahteraan Masyarakat Indonesia pada Berbagai Kondisi Transmisi Harga dan Kebijakan Domestik. produsen dan konsumen pada berbagai skenario derajat transmisi harga spasial 3. Menganalisis dampak perubahan harga beras dunia dan kebijakan domestik (harga pokok pembelian, tarif impor, dan kuota impor beras) terhadap kesejahteraan produsen dan konsumen. Model persamaan simultan dengan metode Two-Stages Least Squares. Simulasi kebijakan: 1. Peningkatan harga dunia 26 persen pada pasar terintegrasi sangat lemah 2. Peningkatan harga dunia 26 persen pada pasar dengan derajat transmisi harga beras dunia dan domestik yang lebih kuat 3. Peningkatan harga pembelian pemerintah 14 persen 4. Peningkatan tarif impor beras 10 persen 5. Penentuan kuota impor beras 1.57 juta Ton 6. Kombinasi penurunan harga dunia 26 persen dan harga pembelian pemerintah 14 persen 7. Kombinasi penurunan harga dunia 26 persen dan peningkatan tarif impor 10 persen Kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) efektif dalam menstabilkan harga beras domestik dan melindungi petani. Kenaikan HPP dapat meningkatkan kesejahteraan petani meskipun konsumen dirugikan dan penerimaan pemerintah berkurang. Begitu pula dengan kenaikan tarif impor 10 persen, namun kenaikan ini belum mampu melindungi petani dari penurunan harga dunia. Sedangkan kebijakan penetapan kuota impor 1.57 juta Ton dapat menurunkan kesejahteraan petani, namun konsumen diuntungkan.

18 2.3. Kebaruan Penelitian Penelitian ini memiliki persamaan dan kebaruan dibandingkan penelitian Tentamia (2002), Tandipayuk (2010), dan Saptana dan Hadi (2008). Persamaan penelitian ini dengan Tentamia (2002) dan Tandipayuk (2010) yaitu menggunakan model persamaan simultan dengan metode pendugaan Two-Stages Least Squares untuk analsis perdagangan bawang merah di Indonesia, sedangkan perbedaannya adalah penelitian ini lebih fokus membahas tentang dampak kebijakan tarif impor terhadap kesejahteraan produsen dan konsumen bawang merah di Indonesia. Persaman penelitian ini dengan penelitian Saptana dan Hadi (2008) adalah menganalisis dampak adanya kebijakan terhadap kesejahteraan produsen dan konsumen bawang merah di Indonesia. Perbedaannya alat analisis yang digunakan dalam penelitian Saptana dan Hadi (2008) adalah Partial Equilibrium Model yang menggunakan data cross section saat proteksi tersebut dilakukan, sedangkan penelitian ini menganalisis dampak perubahan kebijakan tarif secara time series dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2010 menggunakan beberapa simulasi kebijakan tarif impor, kuota impor, dan faktor eksternal.