OPTIMASI JARAK ADJUSTMENT TENSIONING DEVICE PADA DRAG CHAIN CONVEYOR

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tarikan/dorongan yang bekerja pada suatu benda akibat interaksi benda tersebut dengan benda lain. benda + gaya = gerak?????

TUGAS SKRIPSI MESIN PEMINDAH BAHAN

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN

BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR

BAB II DASAR TEORI 2.1. Sistem Transmisi Motor Listrik

BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Transmisi 2.2 Motor Listrik

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

MAKALAH ELEMEN MESIN RANTAI. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Elemen Mesin

BAB III ANALISA PERHITUNGAN

BAB IV ANALISA PERHITUNGAN

SKRIPSI PERANCANGAN BELT CONVEYOR PENGANGKUT BUBUK DETERGENT DENGAN KAPASITAS 25 TON/JAM

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN BAGIAN BAGIAN CONVEYOR

SASARAN PEMBELAJARAN

SIDANG TUGAS AKHIR Program Studi D3 Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industi ITS - Surabaya LOGO

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

Pengaruh Variasi Konstanta Pegas dan Massa Roller CVT Terhadap Performa Honda Vario 150 cc

Perancangan Belt Conveyor Pengangkut Bubuk Detergent Dengan Kapasitas 25 Ton/Jam BAB III PERHITUNGAN BAGIAN-BAGIAN UTAMA CONVEYOR

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer

BAB II DASAR TEORI Sistem Transmisi

BAB III PERANCANGAN ULANG BELT CONVEYOR B-W600-6M DENGAN KAPASITAS 9 TON / JAM

BAB IV ANALISA PERBANDINGAN DAN PERHITUNGAN DAYA

Jumlah serasah di lapangan

Bab 4 Perancangan Perangkat Gerak Otomatis

LAPORAN TUGAS AKHIR ANALISA CONVEYOR BELT SYSTEM PADA PROJECT PENGEMBANGAN PRASARANA PERTAMBANGAN BATUBARA TAHAP 1 PT. SUPRABARI MAPANINDO MINERAL

ANALISIS DAYA BERKURANG PADA MOTOR BAKAR DIESEL DENGAN SUSUNAN SILINDER TIPE SEGARIS (IN-LINE)

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG [1] Tidak diperkenankan mengumumkan, memublikasikan, memperbanyak sebagian atau seluruh karya ini

PERANCANGAN SISTEM KONVEYOR KAPASITAS 1500 TPH DAN ANALISA KEKUATAN PIN PADA RANTAI RECLAIM FEEDER

J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA. TKS-4101: Fisika. Hukum Newton. Dosen: Tim Dosen Fisika Jurusan Teknik Sipil FT-UB

Berikan jawaban anda sesingkatnya langsung pada kertas soal ini dan dikumpulkan paling lambat tanggal Kamis, 20 Desember 2012.

BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM

Lampiran 1. Analisis Kebutuhan Daya Diketahui: Massa silinder pencacah (m)

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II PEMBAHASAN MATERI. industri, tempat penyimpanan dan pembongkaran muatan dan sebagainya. Jumlah

Mulai. Studi Literatur. Gambar Sketsa. Perhitungan. Gambar 2D dan 3D. Pembelian Komponen Dan Peralatan. Proses Pembuatan.

BAB III PROSES PERANCANGAN

MESIN PEMINDAH BAHAN

Lampiran 1. Data pengamatan hasil penelitian Jumlah mata pisau (pasang) Kapasitas efektif alat (buah/jam) 300,30 525,12 744,51

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. buah kabin operator yang tempat dan fungsinya adalah masing-masing. 1) Kabin operator Truck Crane

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN. Mulai

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

2.1 Pengertian Umum Mesin Pemipil Jagung. 2.2 Prinsip Kerja Mesin Pemipil Jagung BAB II DASAR TEORI

BAB V PEMBAHASAN. perkecil ukurannya sebesar ton per bulan. Sedangkan kemampuan

MESIN PEMINDAH BAHAN PERANCANGAN HOISTING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 5 TON PADA PABRIK PENGECORAN LOGAM

KARAKTERISASI MATERIAL BALL MILL PADA PROSES PEMBUATAN SEMEN DENGAN METODA PENGUJIAN KEKERASAN, MIKROGRAFI DAN SEM

PERANCANGAN CONVEYOR RANTAI YANG BERFUNGSI MEMBAWA AMPAS TEBU SEBAGAI BAHAN BAKARBOILERPADA PABRIK GULA DENGAN KASPAITAS 42 TON/JAM SKRIPSI

EVALUASI CRUSHING PLANT UNTUK PENINGKATAN TARGET PRODUKSI PADA PT INDONESIAN MINERALS AND COAL MINING KECAMATAN KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

BAB III PERHITUNGAN PERANCANGAN

KOPLING. Kopling ditinjau dari cara kerjanya dapat dibedakan atas dua jenis: 1. Kopling Tetap 2. Kopling Tak Tetap

Jurnal Dinamis Vol. II, No. 4, Januari 2009 ISSN

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Skema Dinamometer (Martyr & Plint, 2007)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TECHNOLOGY NEED ASSESMENT

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Motor

Perhitungan Pneumatik

RINGKASAN BAB 2 GAYA, MASSA, DAN BERAT BENDA

BAB V PEMBAHASAN. Analisis dilakukan sejak batubara (raw coal) baru diterima dari supplier saat

RANCANG BANGUN MESIN PEMBUAT ES KRIM (BAGIAN SISTEM TRANSMISI) PROYEK AKHIR

MEKANIKA UNIT. Pengukuran, Besaran & Vektor. Kumpulan Soal Latihan UN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

PERENCANAAN OVERHEAD TRAVELLING CRANE YANG DIPAKAI PADA PABRIK PELEBURAN BAJA DENGAN KAPASITAS ANGKAT CAIRAN 10 TON

ANALISA PENINGKATAN KAPASITAS BUCKET ELEVATOR DARI 500 TON PER JAM MENJADI 800 TON PER JAM DI PELABUHAN KHUSUS PT SEMEN GRESIK - TUBAN ABSTRAKSI

BAB II TEORI DASAR. BAB II. Teori Dasar

BAB II PEMBAHASAN MATERI. digunakan untuk memindahkan muatan di lokasi atau area pabrik, lokasi

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... INTISARI... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

BAB IV ANALISA & PERHITUNGAN ALAT

MODIFIKASI SUDUT KEMIRINGAN IDLER ROLL BELT CONVEYOR DENGAN KAPASITAS 1200 TON/JAM.

SILABUS PEMBELAJARAN

BAB IV PERHITUNGAN DIMENSI UTAMA ESKALATOR. Dari gambar 3.1 terlihat bahwa daerah kerja atau working point dalam arah

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 7, No. 1 (2015), ( Print)

Kenapa begini? Kenapa bola berperilaku seperti itu? Kenapa suatu benda dapat bergerak? Sebuah benda akan terus diam jika tidak ada gaya yang bekerja p

PERANCANGAN OVERHEAD TRAVELLING CRANE YANG DIPAKAI DI WORKSHOP PEMBUATAN PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS ANGKAT 10 TON

TEORI SAMBUNGAN SUSUT

1. Kopling Cakar : meneruskan momen dengan kontak positif (tidak slip). Ada dua bentuk kopling cakar : Kopling cakar persegi Kopling cakar spiral

KINEMATIKA DAN DINAMIKA: PENGANTAR. Presented by Muchammad Chusnan Aprianto

Belt Datar. Dhimas Satria. Phone :

MESIN PEMINDAH BAHAN

IV. PENDEKATAN DESAIN

SILABUS : : : : Menggunakan alat ukur besaran panjang, massa, dan waktu dengan beberapa jenis alat ukur.

PENDEKATAN RANCANGAN Kriteria Perancangan Rancangan Fungsional Fungsi Penyaluran Daya

Latihan Soal UN SMA/MA. Fisika. Latihan Soal. Mata Pelajaran. Fisika. Program IPA Oleh Team Unsma.com

Studi Eksperimen Dan Analisa KeausanJournal Bearing Dry ContactPada Rotary Valve Mesin Pembuat Pasta

BAB 3 DINAMIKA GERAK LURUS

BAB 3 DINAMIKA. Tujuan Pembelajaran. Bab 3 Dinamika

Hukum Newton tentang Gerak

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SIMULASI MESIN PEMBERSIH SAMPAH BOX CULVERT

Oleh : Andi Yulanda NRP Dosen Pembimbing : Ir. J. Lubi NIP

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode ini digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada

SKRIPSI ANALISIS KEMBALI BELT CONVEYOR BARGE LOADING DENGAN KAPASITAS 1000 TON PER JAM

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Perencanaan Interior 2. Perencanaan Gedung 3. Perencanaan Kapal

Pelatihan Ulangan Semester Gasal

SOAL TRY OUT FISIKA 2

PERANCANGAN BELT CONVEYOR KAPASITAS 30 TON/JAM UNTUK ALAT ANGKUT KERTAS

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN

Transkripsi:

OPTIMASI JARAK ADJUSTMENT TENSIONING DEVICE PADA DRAG CHAIN CONVEYOR Budi Setiyana 1) Abstrak Drag Chain Conveyor (DCC) adalah salah satu jenis alat transport untuk memindahkan material baik powder maupun granular dari suatu unit produksi ke unit produksi yang lain. Drag Chain Conveyor yang diteliti digunakan untuk memindahkan batubara dari Bin batubara (Feed Bin) ke penggilingan batubara (Coal Mill) pada pabrik semen. Performa drag chain conveyor lulus uji pada kondisi tanpa beban, akan tetapi setelah selama tiga minggu beroperasi dengan kapasitas beban penuh, timbul beberapa masalah, yaitu terjadi defleksi yang diikuti dengan kegagalan pada sambungan antara drag (penyekrap) dengan chain link yang disebabkan oleh masuknya bongkahan banda asing (batu/kayu) dan kegagalan pin link pada chain karena chain terjepit di daerah double liner. Permasalahan tersebut menyebabkan macetnya pasokan umpan batubara untuk kebutuhan pembakaran. Tulisan ini membahas permasalahan mengenai kerusakan system Drag Chain Conveyor akibat putusnya chain link disertai dengan analisis jarak penyetelan yang optimal dari pegas tensioning device agar aman dalam operasinya. Kata Kunci : Drag Chain Conveyor, tensioning device PENDAHULUAN Untuk menjalankan aktivitas produksinya salah satu Pabrik Semen menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya. Kapasitas batubara yang digunakan adalah sebanyak 40,33 ton/jam untuk kebutuhan pemanasan di suspension preheater dan rotary kiln. Syarat batubara sebagai umpan pembakaran pada rotary kiln dan pemanasan pada suspension preheater yaitu memiliki kandungan air 0,5 1 % dan kehalusan 80 % ayakan atau ± 90 mikron. Untuk mendapatkan nilai bakar yang tinggi maka batubara perlu mengalami proses pengilingan dan pengurangan kadar air. Sebelum masuk ke alat penggiling batubara (coal mill), batubara dari open yard diangkut oleh wheel loader dan dimasukkan ke dalam hopper. Dari hopper, batubara dibawa oleh sistem conveyor masuk ke dalam storage pile untuk dibagi menjadi beberapa bagian dengan kapasitas tertentu. Setiap bagian tersebut berkapasitas 7500 ton. Dari storage pile, batubara dibawa oleh system conveyor masuk kedalam feed bin. Dari feed bin, batubara ditransfer oleh drag chain conveyor masuk ke dalam coal mill. Telah diketahui bahwa alat transport sangat penting dalam industri terutama pabrik semen. Alatalat transport yang dimaksud adalah alat yang digunakan untuk memindahkan material dari satu unit proses produksi ke unit lainnya. 1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin FT-UNDIP Dalam memilih alat transport yang sesuai dengan material yang dipindahkan maka alat transport harus mempunyai mekanisme yang tinggi, tidak merusak beban yang diangkut, aman dalam operasi, dan ekonomis dalam pengoperasian maupun dalam investasinya. Faktor-faktor teknis yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan alat transport diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Sifat material yang diangkut. Sifat sifat tersebut misalnya adalah ukuran material, kelembaban, suhu, sifat lengket, tingkat kekerasan, tingkat keabrasivan, dan pengaruh dengan lingkungan. 2. Kapasitas alat transport yang diperlukan Hal ini dipertimbangkan untuk kebutuhan yang akan digunakan dan kemungkinan adanya pengembangan dalam jangka pendek atau panjang. 3. Kondisi tempat dimana alat akan ditempatkan Ini menyangkut lay-out penempatan alat tersebut, dan juga mempertimbangkan segi lingkungan termasuk cuaca. 4. Karakter proses Karakter proses sangat mempengaruhi dalam pemilihan alat transport terutama jika menyangkut kelembaban, suhu, jumlah udara yang masuk ke dalam proses selanjutnya dan juga pengaruh dari lingkungannya. Permasalahan terfokus pada daerah perjalanan batubara antara feed bin dan coal mill dimana sebelumnya alat yang digunakan untuk mentransfer batubara adalah belt conveyor. Dengan alasan tingkat reliability belt conveyor yang rendah maka kebijaksanaan perusahaan mengganti belt conveyor ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 37

dengan drag chain conveyor. Perbandingan reliability antara belt conveyor dan drag chain conveyor adalah sebagai berikut : Tabel 1. Perbandingan reliability belt conveyor dan drag chain conveyor Gambar 1. Diagram problem putusnya Drag Chain Conveyor Dari perbandingan Reliability antara belt conveyor dan drag chain conveyor diatas, diketahui bahwa drag chain conveyor lebih unggul STUDI KASUS Performa drag chain conveyor lulus uji pada kondisi tanpa beban. Akan tetapi setelah selama tiga minggu beroperasi dengan kapasitas beban penuh, timbul beberapa masalah sebagai berikut : 1. Terjadi defleksi yang diikuti dengan kegagalan pada sambungan antara drag (penyekrap) dengan chain link yang disebabkan oleh masuknya bongkahan banda asing (batu/kayu) 2. Kegagalan pin link pada chain karena chain terjepit di daerah double liner. Beberapa permasalahan atau kasus diatas menyebabkan macetnya pasokan umpan batubara untuk kebutuhan pembakaran pada preheater dan rotary kiln. Tulisan ini hanya membahas permasalahan pada point ke dua yakni kegagalan pin link pada chain karena chain terjepit didaerah double liner. Skema problem putusnya chain adalah sebagai berikut : Kronologi munculnya kasus tersebut adalah sebagai berikut : 1. Putusnya chain disebabkan karena beban tarik murni pada saat akan memasuki daerah double liner. 2. Hal itu disebabkan karena perpindahan maju tail sprocket yang ditahan oleh pegas tensioning device. 3. Tensioning device (pegas kerucut) terdefleksi memendek karena tarikan chain pada kondisi full load sehingga tail sprocket mengalami perpindahan maju yang menyebabkan jarak antar sprocket memendek sedangkan panjang chain tetap. 4. Gerak linear chain ditopang oleh liner (kontak gesek murni) sehingga tidak terjadi slack walaupun chain memendek. Chain justru menggunung di daerah menjelang memasuki double liner. 5. Chain yang menggunung tersebut terjepit. 6. Oleh karena daya motor yang besar, maka motor tidak mengalami trip atau overload sehingga chain yang kalah/gagal. Dari kronologi permasalahan diatas maka analisa difokuskan pada perhitungan jarak defleksi penyetelan tensioning device agar dapat menahan gaya-gaya tarik chain. Parameter untuk Perhitungan Adapun parameter-parameter yang berkaitan dengan studi kasus dan nantinya akan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan diatas diberikan pada tabel 2 di bawah ini. ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 38

Tabel 2. Daftar parameter analisa optimasi jarak adjustment tensioning device SIM SATU- KETERANGAN BOL AN a Percepatan linear chain m / s 2 maksimum M Massa beban per satuan kg / m panjang conveyor m Massa chain per satuan kg / m panjang conveyor v Kecepatan linear rata-rata m / s chain n Putaran sprocket rpm z Jumlah gigi sprocket gigi p Pitch chain m L Panjang conveyor m g Percepatan gravitasi m / s 2 p Panjang drag m l Lebar drag m A Area penampang melintang m 2 aliran material yang diangkut (luas bidang penyekrapan drag) γ Berat jenis material ton/m 3 T s Tegangan statis chain N T d Tegangan dinamik chain N T Tegangan total theoritis N F RP Gaya reaksi pegas (gaya lawan) N s Besarnya defleksi pegas mm yang dibutuhkan x Besarnya jarak adjustment mm tensioning device H Panjang tensioning device mm mula-mula f Koefisien gesek statis Perhitungan dan analisis Detail perhitungan untuk mencari jarak penyetelan pegas tensioning device yang optimum dilakukan dengan langkah-langkah perhitungan sebagai berikut : 1. Massa beban per satuan panjang (M) M = 1000. A. γ (kg / m) M = 1000. p. l. γ (kg / m) p 0,85 m l 0,03 m γ 1,0 ton/m 3 2. Massa chain per satuan panjang (m) Disini massa chain per satuan panjang sudah diketahui yaitu : Sehingga : m = 48,92 kg / m 3. Percepatan linear chain maksimum (a) a = (2 x π 2 x v 2 ) / ( z 2 x p) (m / s 2 ) Sehingga : a = (2 x π 2 x 0,12 2 ) / ( 8 2 x 0,2 ) (m / s 2 ) a = 0,02 m / s 2 4. Tegangan-tegangan statis (T s ) Untuk menghitung gaya reaksi pegas yang nantinya akan digunakan sebagai data untuk menentukan jarak optimal penyetelan tensioning device maka diperlukan somasi tegangan-tegangan pada chain, sehingga diperoleh tegangan total yang sebanding dengan gaya reaksi pegas. Tegangan total chain adalah sumasi dari tegangan statis dan tegangan dinamik. Tegangan statis terjadi pada range atau kisaran antara saat system dalam keadaan diam/statis sampai sistem tepat sesaat akan bergerak. Jadi gaya-gaya yang bekerja adalah : Gaya berat yang ditimbulkan oleh massa chain itu sendiri dan massa beban yang diangkut. Gaya gesek antara chain dengan liner plate. Perlu diketahui disini bahwa massa yang menimbulkan gaya tegang (massa chain dan beban) adalah massa per satuan panjang, sehingga gaya berat dan gaya gesek yang bekerja bergantung pada panjang daerah pembebanan, panjang daerah gesekan dan intensitas beban di daerah itu. Berikut ini adalah skema yang merepresentasikan gaya-gaya statik yang berbeda-beda di daerah-daerah tertentu pada chain : Sehingga : M = 1000 x 0,85 x 0,03 x 1,0 = 30 kg / m ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 39

Gambar 2. Diagram tegangan-tegangan statis pada daerah-daerah tertentu pada chain. bergerak dengan kecepatan konstan akan cenderung bergerak jika system mulai dihentikan. Fenomena diatas disebut kelembaman atau inersia. Inersia inilah yang menyebabkan timbulnya percepatan dan perlambatan. Perlu diketahui bahwa massa yang bekerja (massa chain dan beban) adalah massa per satuan panjang, sehingga besarnya gaya dinamik bergantung pada panjang daerah pembebanan, intensitas beban di daerah itu, dan besarnya percepatan yang dialami beban dan chain. Berikut ini adalah skema yang merepresentasikan gaya-gaya dinamik yang bekerja pada masing-masing daerah pembebanan : Gambar 3. Panjang area pembebanan T s1 = 1,35 x m x g x L 1 (N) T s2 = (f x m x g x L 2 ) + [f x (M + m) x g x L 3 ] + T s1 (N) T s3 = 1,1 x T s2 (N) T s4 = [(M + m) x g x f x L 6 ] + T s3 (N) m 48,92 kg / m M 30 kg / m f 0,35 g 9,8 m / s 2 L 1 0,9 m L 2 9,040 m L 3 0,927 m L 4 1,786 m L 5 0,8 m L 6 10,957 m L 7 0,9 m Jadi : T s1 = 1,35 x 48,92 x 9,8 x 0,9 = 582,49 N T s2 = 988,2 N T s3 = 1,1 x 988,2 = 1087,02 N T s4 = 4053,03 N Gambar 4. Diagram tegangan-tegangan dinamik pada masing-masing daerah pembebanan T d1 = m x a x L 1 (N) T d2 = m x a x L 2 (N) T d3 = (M + m) x a x L 3 (N) T d4 = m x a x L 4 (N) T d5 = m x a x L 5 (N) T d6 = (M + m) x a x L 6 (N) T d7 = m x a x L 7 (N) 5. Tegangan-tegangan dinamik (T d ) Disini tegangan dinamik dilibatkan dalam perhitungan karena chain dan beban bergerak secara dinamik dalam artian chain dan beban bergerak berubah beraturan atau mengalami percepatan dan perlambatan. Chain dan beban yang semula diam akan cenderung diam jika system mulai dioperasikan Begitu juga chain dan beban yang semula dalam keadaan Jadi : T d1 = 48,92 x 0,02 x 0,9 = 0,88 N T d2 = 48,92 x 0,02 x 9,04 = 8,84 N T d3 = (30 + 48,92) x 0,02 x 0,927 = 1,46 N T d4 = 48,92 x 0,02 x 1,786 = 1,75 N T d5 = 48,92 x 0,02 x 0,8 = 0,78 N ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 40

T d6 = (30 + 48,92) x 0,02 x 10,957 = 17,29 N T d7 = 48,92 x 0,02 x 0,9 = 0,88 N 6. Tegangan-tegangan teoritis total (T) T = T s + T d (N) T 1 = T s1 + T d1 (N) T 2 = T s2 + [T d2 + T d3 + T d4 ] (N) T 3 = T s3 + T d5 (N) T 4 = T s4 + [T d6 + T d7 ] (N) 8. Defleksi penyetelan (s). Dilakukan dengan cara menginterpolasi besar gaya reaksi (F RP ) dengan besarnya jarak defleksi penyetelan (s) pada tensioning device dengan menggunakan grafik Frp vs s pada gambar dibawah ini yang didapat dari katalog pegas spiral konikal yang sudah tersedia. Rekapitulasi data-data tegangan statis: T s1 582,49 N T s2 988,2 N T s3 1087,02 N T s4 4053,03 N Rekapitulasi data-data tegangan dinamik: T d1 0,88 N T d2 8,84 N T d3 1,46 N T d4 1,75 N T d5 0,78 N T d6 17,29 N T d7 0,88 N Jadi : T 1 = 563,37 N T 2 = 1000,25 N T 3 = 1087,8 N T 4 = 4071,2 N 7. Gaya reaksi (lawan) tensioning device Gambar 6. Diagram F RP vs s Nilai F RP = 5071,45 N terletak antara 5000 N dan 5200 N sehingga nilai s dapat dicari dengan interpolasi sebagai berikut : 5200 5071,45 = 110 s 5200 5000 110 105 Didapat s = 106,78 mm sehingga : x = 310 s (mm) = 310 106,78 (mm) = 203,22 mm Gambar 5. Diagram aksi-reaksi tegangan chain dan gaya reaksi pegas F = 0 F RP T 2 T 4 = 0 F RP = T 2 + T 4 = 5071,45 N Dari diagram di atas dapat diketahui bahwa untuk mendapatkan gaya lawan pegas sebesar 5071,45 N, maka pegas harus dikencangkan sejauh 106,78 mm. Sehingga jarak adjustment tensioning device optimal untuk kapasitas beban diatas adalah 203,22 mm seperti yang terlihat pada gambar 7. ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 41

diuji cobakan dalam usaha pemeliharaan seiring dengan dilakukannya pengawasan agar pada saat terjadi kekendoran, tidak mengakibatkan chain terjepit. Gambar 7. Bentuk defleksi pegas setelah adjustment Jarak adjustment diatas digunakan sebagai parameter agar chain tidak terlalu kencang (over tension) dan tidak terlalu kendor (under tension). Over tension pada chain dapat menyebabkan chain patah secara statis sedangkan under tension dapat menyebabkan : 1. Chain terjepit pada daerah double liner. 2. Chain melayang di atas sprocket. 3. Miss-alignment. Akan tetapi perlu diketahui disini bahwa jarak adjustment optimal pada Drag Chain Conveyor yang diperoleh di atas dapat berubah karena adanya keausan pada pin link. Aus disebabkan karena pengecilan diameter pin link akibat gesekan antara : 1. Pin link dengan chain link karena beban tarik dan putar. 2. Pin link dengan material yang diangkut yang bersifat abrasive. KESIMPULAN Dari uraian sebelumnya maka dapat diseimpulkan sebagai berikut : 1. Putusnya chain pada system Drag Chain Conveyor disebabkan karena beban tarik murni saat chain kendor dan menggunung sehingga terjepit pada saat akan memasuki daerah double liner. 2. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan penyetelan kekencangan chain secara periodik dengan jarak setelan yang optimal. 3. Gaya total yang ditimbulkan oleh tarikan-tarikan rantai pada tail sprocket adalah 5071,45 N. Gaya total tersebut ditahan oleh tensioning device. 4. Untuk memperoleh gaya lawan tensioning device sebesar 5071,45 N, maka pegas harus dikencangkan sejauh 106,78 mm dari jarak bebasnya (310 mm). Sehingga jarak adjustment optimal agar chain tetap kencang adalah 203,22 mm. 5. Jarak adjustment optimal pada Drag Chain Conveyor yang diperoleh di atas dapat berubah karena adanya keausan pada pin link. Aus disebabkan karena pengecilan diameter pin link akibat gesekan. 6. Keausan ini menyebabkan chain semakin panjang, sehingga memerlukan pengencangan secara periodic. Untuk menentukan umur jarak penyetelan diatas perlu diadakan evaluasi dalam artian jarak penyetelan yang telah diperoleh dari perhitungan diatas diuji cobakan dalam usaha pemeliharaan seiring dengan dilakukannya pengawasan agar pada saat terjadi kekendoran, tidak mengakibatkan chain terjepit. DAFTAR PUSTAKA 1. Niemann, Gustav, Machine Element (Volume II), Springer, Verlag, Berlin, 1964 2. Spivakovsky, Dyachkov, Conveyor and Related Equipment, Peace Publisher, Moscow. 3. Baqdiono, Y Ferry, Pemeliharaan Alat Transport pada Kiln, Crusher dan Mill Department, Institut Semen dan Beton, Bogor, 2000 4. www.chain-guide.com 5. www.ptsg.co.id Gambar 8. Keausan pada Pin Link Keausan ini menyebabkan chain semakin panjang, sehingga memerlukan pengencangan secara periodik. Untuk menentukan umur jarak penyetelan diatas perlu diadakan evaluasi dalam artian jarak penyetelan yang telah diperoleh dari perhitungan diatas ROTASI Volume 10 Nomor 1 Januari 2008 42