BAB 2 LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penataan ruang adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian

COPING STRES DALAM MENGHADAPI KEMACETAN LALU LINTAS PADA DEWASA AWAL. Anes Eka Widya Pertiwi

FOKE-NARA ADJI-RIZA JOKOWI-AHOK HIDAYAT-DIDIK FAISAL-BIEM ALEX-NONO

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sektor transportasi merupakan salah satu mata rantai jaringan distribusi

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

EVALUASI PENERAPAN BRT (BUS RAPID TRANSIT) Fitra Hapsari ( ) Jurusan Teknik Sipil Bidang Keahlian Manajemen Rekayasa Transportasi

BAB I PENDAHULUAN. Dalam wilayah suatu negara akan ada kota yang sangat besar, ada kota

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terbaru (2008) Evaluasi adalah penilaian. Prestasi yang di perlihatkan, (3) kemampuan kerja.

I. PENDAHULUAN. Administrasi (2010), Jakarta mempunyai luas 7.659,02 km 2. penduduk sebesar jiwa. Jakarta juga mempunyai kepadatan penduduk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Permasalahan di sektor transportasi merupakan permasalahan yang banyak terjadi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pada dasarnya jaringan jalan diadakan karena adanya kebutuhan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pandangan Responden Terhadap Proyek Monorel (MRT) di Jakarta Riset dilakukan pada: November 2013 Berdasarkan panelis dari Nusaresearch

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI. merupakan Upaya penataan kembali suatu kawasan kota dengan terlebih dulu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terbaru (2008), Evaluasi adalah penilaian. pelayanan adalah kemampuan ruas jalan dan/atau persimpangan untuk

BAB I PENDAHULUAN I - 1 BAB I PENDAHULUAN TINJAUAN UMUM

Aditya Putrantono Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Armandha Redo Pratama, 2015

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Keputusan Mentri Perhubungan No. 35 tahun 2003 Tentang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. titik pada jalan per satuan waktu. Arus lalu lintas dapat dikategorikan menjadi dua

No Angkutan Jalan nasional, rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi, dan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkuta

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Era globalisasi saat ini menuntut masyarakat untuk mempunyai mobilitas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. transportasi darat memiliki fungsi sangat mendasar yaitu : 1. membantu pertumbuhan ekonomi nasional,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berpotongan/bersilangan. Faktor faktor yang digunakan dalam perancangan suatu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan. Angkutan jalan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Jalan Raya

BAB I PENDAHULUAN. Kota Medan merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia yang sangat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transportasi Masa Depan Straddling Bus. Solusi untuk Mengatasi Kemacetan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS TINGKAT PELAYANAN DAN TINGKAT KEPUASAN 8 KORIDOR TRANSJAKARTA

sementara (Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, 1996).

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM

SIMPANG BER-APILL. Mata Kuliah Teknik Lalu Lintas Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, FT UGM

BAB 3 PARAMETER PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN

KERUGIAN SOSIAL DAN EKONOMI PENGGUNA KENDARAAN BERMOTOR AKIBAT ADANYA KEMACETAN

Indikator pengukuran kinerja jalan perkotaan


D3 TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kebutuhan pengguna jalan dalam berlalu lintas. Menurut peranan pelayanan jasa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Warpani ( 2002 ), didaerah yang tingkat kepemilikan kendaraaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Peraturan Menteri Perhubungan nomor KM 14 tahun 2006,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN TEORI

TINJAUAN PUSTAKA Transportasi. Transportasi adalah usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tempat ke tempat lain. Tujuannya membantu orang atau kelompok orang

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kendaraan dengan pejalan kaki (Abubakar I, 1995).

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

KRITIK ARSITEKTUR SIMPUL KEMACETAN DI JALAN MARGONDA RAYA, DEPOK JAWA BARAT

BAB 2 LATAR BELAKANG dan PERUMUSAN PERMASALAHAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Keselamatan Jalan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

ANALISIS KINERJA RUAS JALAN DAN MOBILITAS KENDARAAN PADA JALAN PERKOTAAN (STUDI KASUS JALAN PERINTIS KEMERDEKAAN)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara hukum, dengan jumlah penduduk Indonesia

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II TINJUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan prasarana dan sarana perkotaan, misalnya peningkatan dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

II. TINJAUAN PUSTAKA. suatu keadaan tidak bergerak dari suatu kendaraan yang tidak bersifat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tempat lainnya dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

terjadi, seperti rumah makan, pabrik, atau perkampungan (kios kecil dan kedai

BAB I PENDAHULUAN. merupakan Ibu kota negara Republik Indonesia. Jakarta sering disebut sebagai kota

LAMPIRAN Kajian Kebijakan Standar Pelayanan Angkutan Umum di Indonesia (Menurut SK. Dirjen 687/2002)

ANALISIS BIAYA-MANFAAT SOSIAL PERLINTASAN KERETA API TIDAK SEBIDANG DI JALAN KALIGAWE, SEMARANG TUGAS AKHIR

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENYAJIAN DATA

di kota. Persimpangan ini memiliki ketinggian atau elevasi yang sama.

Ketika MRT Urai Kemacetan Jakarta

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berpenduduk di atas 1-2 juta jiwa sehingga permasalahan transportasi tidak bisa

EVALUASI KORIDOR JALAN KARANGMENJANGAN JALAN RAYA NGINDEN SEBAGAI JALAN ARTERI SEKUNDER. Jalan Karangmenjangan Jalan Raya BAB I

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Indonesia sebagai negara berkembang saat ini sedang giat melaksanakan

TEKNIK LALU LINTAS EKONOMI KEGIATAN PERPINDAHAN/PERGERAKAN ORANG DAN ATAU BARANG POL KAM KEBUTUHAN AKAN ANGKUTAN PERGERAKAN + RUANG GERAK

BAB III LANDASAN TEORI. diangkut selalu bertambah seperti pertambahan jumlah penduduk, urbanisasi,

ANALISIS KAPASITAS, TINGKAT PELAYANAN, KINERJA DAN PENGARUH PEMBUATAN MEDIAN JALAN. Adhi Muhtadi ABSTRAK

Alternatif Pemecahan Masalah Transportasi Perkotaan

BAB 1 PENDAHULUAN. simpang merupakan faktor penting dalam menentukan penanganan yang paling tepat

BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG PENGATURAN LALU LINTAS

Transkripsi:

6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kemacetan 2.1.1 Pengertian Kemacetan Kemacetan adalah keadaan di mana kendaraan mengalami berbagai jenis kendala yang mengakibatkan turunnya kecepatan kendaraan di bawah keadaan normal. Kemacetan akan sangat merugikan bagi para pengguna jalan, karena akan menghambat waktu perjalanan mereka. Menurut Administration (2005), terdapat 7 penyebab kemacetan, yaitu physical bottlenecks, kecelakaan lalu lintas (traffic incident), area pekerjaan (work zone), cuaca buruk (bad weather), alat pengatur lalu lintas yang kurang memadai (poor signal timing), acara khusus (special event), dan fluktuasi pada arus normal (fluctuations in normal traffic). Kata macet telah sering didengar di kota-kota besar yang transportasi massalnya masih kurang diminati. Salah satu penyebab kemacetan disebabkan oleh banyaknya masyarakat yang lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi dibanding kendaraan umum. Kemacetan akan terus meningkat apabila jumlah kendaraan pribadi semakin bertambah setiap harinya. Hal tersebut dapat dilihat pada ibukota Jakarta, karena kendaraan di Jakarta semakin meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data dari direktorat lalu lintas Polda Metro Jaya, jumlah kendaraan bermotor pada tahun 2010 berjumlah sekitar 11.362.396 unit yang terdiri dari kendaraan roda dua sebanyak 8.244.346 unit dan kendaraan roda empat sebanyak 3.118.050 unit. Jumlah ini meningkat sebanyak 15% dari tahun sebelumnya yang berjumlah 9.993.867 unit. Sehingga, transportasi umum yang dapat diandalkan sangatlah dibutuhkan untuk mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta (Suhendi, 2011). Sebagian orang lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi dibanding kendaraan umum, karena kendaraan umum terkadang tidak dapat diandalkan dan sulit untuk mendapatkan transportasi tersebut. Salah satu yang dapat mengurangi tingkat kemacetan adalah dengan cara menyediakan Bus Rapid Transit (BRT). Di Jakarta sebenarnya telah disediakan kendaraan umum yang

7 bersifat BRT yaitu TransJakarta. TransJakarta harusnya dapat menjadi andalan bagi masyarakat yang ingin berpergian. Namun, TransJakarta tidak dapat beroperasi secara optimal, karena jalan khusus TransJakarta (busway) masih sering digunakan oleh kendaraan pribadi. 2.1.2 Penyebab Kemacetan Menurut penelitian Administration (2005), terdapat 7 penyebab kemacetan, yaitu: 1. Physical Bottlenecks: Kemacetan yang disebabkan oleh jumlah kendaraan yang melebihi batas atau berada pada tingkat tertinggi. Kapasitas tersebut ditentukan dari faktor jalan, persimpangan jalan, dan tata letak jalan. 2. Kecelakaan Lalu Lintas (traffic incident): Kemacetan yang disebabkan oleh adanya kejadian atau kecelakaan dalam jalur perjalanan. Kecelakaan akan menyebabkan macet, karena kendaraan yang terlibat kecelakaan tersebut memakan ruas jalan. Hal tersebut mungkin akan berlangsung lama, karena kendaraan yang terlibat kecelakaan tersebut perlu waktu untuk disingkirkan dari jalur lalu lintas. 3. Area Pekerjaan (work zone): Kemacetan yang disebabkan oleh adanya aktivitas kontruksi pada jalan. Aktivitas tersebut akan mengakibatkan perubahaan keadaan lingkungan jalan. Perubahan tersebut seperti penurunan pada jumlah atau lebar jalan, pengalihan jalur, dan penutupan jalan. 4. Cuaca yang Buruk (bad weather): Keadaan cuaca dapat meyebabkan perubahan perilaku pengemudi, sehingga dapat mempengaruhi arus lalu lintas. Contohnya: hujan deras, akan mengurangi jarak penglihatan pengemudi, sehingga banyak pengemudi menurunkan kecepatan mereka. 5. Alat Pengatur Lalu Lintas (poor signal timing): Kemacetan yang disebabkan oleh pengaturan lalu lintas yang bersifat kaku dan tidak mengikuti tinggi rendahnya arus lalu lintas. Selain lampu merah, jalur kereta api juga mempengaruhi tingkat kepadatan jalan, sehingga jalur kereta api yang memotong jalan harus seoptimal mungkin.

8 6. Acara Khusus (special event): Merupakan kasus khusus dimana terjadi peningkatan arus yang disebabkan oleh adanya acara-acara tertentu. Misalnya, akan terdapat banyak parkir liar yang memakan ruas jalan pada suatu acara tertentu. 7. Fluktuasi pada Arus Normal (fluctuations in normal traffic): Kemacetan yang disebabkan oleh naiknya arus kendaraan pada jalan dan waktu tertentu. Contohnya, kepadatan jalan akan meningkat pada jam masuk kantor dan pulang kantor. Berdasarkan penyebab kemacetan yang dijelaskan oleh Federal Highway Administration (2005), setiap penyebab kemacetan memiliki tingkat keseringan yang berbeda-beda. Tiga penyebab kemacetan terbesar, yaitu physical bottlenecks dengan persentase 40%, kecelakaan lalu lintas dengan persentase 25%, dan keadaan cuaca yang buruk dengan persentase 15%. Secara keseluruhan, perkiraan banyaknya masing-masing sumber kemacetan dapat dilihat pada Gambar 2.1. Sumber: Federal Highway Administration (2005) Gambar 2.1 Penyebab dan Persentase Kemacetan

9 2.1.3 Dampak Negatif Kemacetan Kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif seperti: 1. Pemborosan waktu, karena kendaraan tidak dapat melaju dengan kecepatan normal. Contohnya, waktu perjalanan yang seharusnya 1 jam untuk tiba di tujuan dengan kecepatan normal, menjadi 2 jam karena macet. Hal tersebut menyebabkan banyaknya waktu pengendara yang terbuang sia-sia di jalan. 2. Pemborosan energi, karena ketika macet kendaraan akan terus menggunakan bahan bakar. Hal tersebut berdampak pada pengeluaran pengendara, pengendara harus menyediakan uang ekstra untuk bahan bakar. 3. Meningkatnya polusi udara, karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi dan mesin tidak beroperasi pada kondisi optimal. 4. Meningkatnya stress bagi pengguna jalan. Akibatnya, pengendaraan cenderung dalam kondisi emosional saat mengendarai kendaraan, sehingga dapat menimbulkan kecelakaan. 5. Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulan, pemadam kebakaran, dan sejenisnya. Akibatnya, keselamatan jiwa masyarakat yang membutuhkan pertolongan darurat menjadi terhambat. 2.1.4 Penanganan Kemacetan Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi masalah kemacetan, yaitu: 1. Peningkatan kapasitas, salah satu langkah untuk menangani kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan seperti: a) Memperbesar jalan. b) Merubah sirkulasi lalu lintas menjadi satu arah. c) Meningkatkan kapasitas persimpangan dan flyover. 2. Pengalihan terhadap transportasi umum, yaitu dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan angkutan umum yang efisien dalam penggunaan ruang jalan, seperti:

10 a) Pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum. b) Pengembangan jalur khusus bus atau yang dikenal sebagai busway di Jakarta. c) Pengembangan kereta api kota, seperti yang dikenal sebagai Metro di Prancis, Subway di Amerika, dan MRT di Singapura. 3. Pembatasan kendaraan pribadi, langkah ini biasanya tidak populer, tetapi bila kemacetan semakin parah maka harus dilakukan manajemen lalu lintas yang lebih ekstrim seperti: a) Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, dan sebagainya. b) Pembatasan lalu lintas tertentu dalam memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti yang diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1, atau contoh lainnya adalah pembatasan sepeda motor untuk masuk jalan tol, pembatasan mobil pribadi masuk jalur busway. 2.2 Waktu Perjalanan (Travel Time) Waktu perjalanan adalah jumlah waktu yang diperlukan dari asal sampai pada tujuan. Waktu perjalanan dapat berbeda dari setiap pengukuran, hal ini dipengaruhi oleh keadaan jalan, seperti lamanya waktu terkena lampu merah, terkena macet, berhenti karena ada kereta api yang melintas, dan sebagainya. Waktu perjalanan akan dikatakan konsisten apabila waktu perjalanan yang diperoleh setiap harinya sama atau tidak berbeda jauh dari sebelumnya. Bagi para pengguna jalan, waktu perjalanan sangatlah penting dalam berpergian, karena dengan adanya waktu perjalanan yang konsisten akan membantu para pengguna jalan untuk merencanakan waktu perjalanannya. Waktu perjalanan dapat diperoleh dengan rumus:

11 2.3 Reliabilitas Waktu Perjalanan (Travel Time Reliability) 2.3.1 Pengertian Reliabilitas Waktu Perjalanan Reliabilitas waktu perjalanan adalah tingkat konsistensi atau banyaknya variasi waktu perjalanan dari beberapa kali pengukuran. Semakin kecil variasi yang ada, maka semakin konsisten waktu perjalanan atau semakin baik reliabilitas waktu perjalanannya. Sedangkan semakin besar variasi waktu perjalanan maka konsistensi waktu perjalanan semakin sulit diprediksi. Reliabilitas waktu perjalanan digunakan untuk menunjukkan seberapa konsisten waktu perjalanan yang dilalui, sehingga reliabilitas waktu perjalanan sangat berguna bagi pengguna jalan dalam merencanakan perjalanannya. 2.3.2 Pentingnya Reliabilitas Waktu Perjalanan (Travel Time Reliability) Tingkat kemacetan tidak sama setiap harinya, hal ini disebabkan karena penyebab kemacetan pada lalu lintas selalu berubah-ubah sesuai dengan keadaan pada saat itu. Karena ketepatan waktu sangat penting, maka masyarakat harus merencanakan masalah ini dengan berangkat lebih awal untuk menghindari keterlambatan. Pada jaman modern ini reliabilitas waktu perjalanan sangatlah berguna, reliabilitas waktu perjalanan dapat menunjukkan tingkat konsistensi pada setiap segmen jalan, sehingga akan sangat berguna bagi para pengguna jalan untuk memperkirakan waktu mereka untuk sampai pada tujuan. Contohnya, apabila seorang pebisnis terlambat datang ke pertemuan, maka akibat yang ditimbulkan adalah kegagalan dalam berbisnis. Untuk mencegah pebisnis tersebut terlambat, maka ia harus mengetahui waktu tempuh dan konsistensi waktu perjalanan pada segmen-segmen yang akan dilalui. Oleh karena itu, reliabilitas waktu perjalanan sangatlah penting dan berguna di jaman modern untuk memperkirakan waktu perjalanan dengan tepat saat berpergian (Administration, Final Report, 2005).

12 2.3.3 Variabilitas Waktu Perjalanan (Travel Time Variability) Variabilitas waktu perjalanan menunjukkan ketidakpastian untuk para pengguna jalan, sehingga mereka tidak tahu persis kapan mereka akan tiba di tujuan, hal ini disebabkan oleh keadaan jalan yang berbeda setiap harinya. Semakin tinggi variabilitas waktu perjalanan akan membuat para pengguna jalan lebih sulit untuk memperkirakan waktu yang diperlukan untuk tiba di tujuan. 2.3.4 Perbedaan antara Reliabilitas Waktu Perjalanan (Travel Time Reliability) dan Variabilitas Waktu Perjalanan (Travel Time Variability) Menurut Administration (2004), reliabilitas waktu perjalanan dan variabilitas waktu perjalanan hampir sama pengertiannya, tetapi dari kedua istilah tersebut berbeda pada fokus mereka masing-masing, yaitu dari cara mereka diukur dan bagaimana mereka dikomunikasikan. Reliabilitas (reliability) umumnya digunakan untuk menerangkan tingkat konsistensi dari suatu mode transportasi, perjalanan, rute atau koridor dalam jangka waktu tertentu. Variabilitas (variability) menunjukkan suatu tingkat operasi yang tidak konsisten dan biasanya terjadi pada keadaan transportasi. 2.3.5 Indeks Waktu Bufer (Buffer Time Index) Indeks waktu bufer adalah waktu ekstra yang harus ditambahkan oleh para pengguna jalan untuk tepat waktu sampai pada tujuan. Waktu ekstra ditentukan berdasarkan persentase yang sesuai dengan kenyataannya. Indeks waktu bufer digunakan untuk memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada hari-hari tertentu. Apabila indeks waktu perjalanan dengan tingkat kepercayaan 95%, dari data-data yang diperoleh akan terdapat 5% data yang diluar dari hasil pengukuran. Contohnya, apabila terdapat 100 orang yang akan melakukan perjalanan dengan tingkat kepercayaan 95%, maka akan didapatkan 5% waktu perjalanan yang tidak memenuhi syarat, yang artinya dari 100 orang melakukan

13 perjalanan selama 30 hari maka akan terdapat 5% atau 5 dari 100 orang akan terlambat. Untuk memperkecil kemungkinan para pengguna jalan terlambat, maka perlu ditambahkan waktu ekstra dalam melakukan perjalanan yang biasa disebut dengan indeks waktu bufer. Contoh perhitungan dari indeks waktu bufer (buffer time index) dapat dilihat pada perhitungan berikut: Misalnya, sebuah indeks waktu bufer (buffer index) adalah 40%, waktu perjalanan biasanya adalah 20 menit, maka: Rata-rata waktu perjalanan = 20 menit Indeks waktu perjalanan = 40% Jadi, para pengguna jalan harus mempertimbangkan penambahan waktu sebesar 8 menit untuk tiba sampai pada tujuan tepat pada waktunya. Tambahan 8 menit disebut sebagai waktu bufer. Sehingga, para pengguna jalan sebaiknya mengantisipasi perjalanan tersebut menjadi 28 menit agar tepat waktu di tujuan (Administration, Final Report, 2005). 2.3.6 Penyebab Waktu Perjalanan Tidak Dapat Diandalkan Semakin tinggi tingkat variabilitas waktu perjalanan akan menurunkan tingkat konsistensi dari waktu perjalanan tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika variabilitas waktu perjalanannya rendah, maka konsistensi waktu perjalanan yang diperoleh akan meningkat. Hal ini sangat jelas, karena apabila kondisi jalan setiap harinya stabil atau tidak berbeda jauh, akan menghasilkan waktu perjalanan yang sangat stabil. Waktu perjalanan tidak dapat dipercaya apabila selalu berbeda setiap harinya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor kemacetan yang sering terjadi pada segmen jalan tersebut. Kemacetan, kecelakaan lalu lintas, acara tertentu, cuaca buruk, banyaknya lampu merah, dan area pekerjaan akan berkontribusi terhadap kemacetan dalam menghasilkan variabilitas waktu perjalanan yang sangat bervariasi (Administration, 2004).

14 2.3.7 Pengukuran Reliabilitas Watu Perjalanan (Travel Time Reliability) Pengukuran pertama adalah persentase variasi yang menjelaskan hubungan antara jumlah variasi dan waktu perjalanan rata-rata dalam persentase. Kedua, waktu bufer (buffer time) yang menambahkan ekstra waktu perjalanan (travel time) dari 95 persen perjalanan agar tiba tepat waktu.

15 2.4 Boxplot 2.4.1 Pengertian Boxplot Menurut Junaidi (2010), boxplot merupakan suatu cara dalam statistik diskriptif yang digunakan untuk menampilkan gambar secara grafik dari datadata numerik melalui lima ukuran, yaitu sebagai berikut: 1. Nilai observasi terkecil atau nilai minumum. 2. Kuartil terendah atau kuartil pertama (Q1), yang memotong 25% dari data terendah. 3. Median (Q2) atau nilai tengah. 4. Kuartil tertinggi atau kuartil ketiga (Q3), yang memotong 25% dari data tertinggi. 5. Nilai observasi terbesar atau nilai maksimum. Boxplot juga dapat digunakan untuk menunjukkan perbedaan antar populasi tanpa menggunakan asumsi distribusi statistik yang mendasarinya. Karena itu, boxplot tergolong dalam statistik non-parametrik. Jarak antara bagian-bagian dari box menunjukkan derajat penyebaran dan kecondongan dalam data. Dalam penggambarannya, boxplot dapat digambarkan secara horizontal maupun vertikal. Untuk informasi lebih lanjut dapat dilihat pada Gambar 2.2. Gambar 2.2 Penjelasan Boxplot

16 Selain itu, boxplot juga dapat menunjukkan ada atau tidaknya nilai outlier dan ekstrim. Nilai yang berada di atas batas atas atau berada di bawah batas bawah dinamakan dengan nilai outlier atau ekstrim. Nilai outlier adalah nilai data yang letaknya lebih dari 1.5 kali panjang kotak Interquartile Range (IQR) yang diukur dari kuartil 3 atau kuartil 1. Rumus yang digunakan untuk menghitung outlier di atas adalah: Rumus yang digunakan untuk menghitung outlier di bawah adalah: Nilai ekstrim adalah nilai-nilai yang letaknya lebih dari 3 kali panjang kotak Interquartile Range (IQR) yang diukur dari kuartil 3 atau kuartil 1. Ekstrim bagian atas apabila nilai berada di atas Ekstrim bagian bawah apabila nilai lebih rendah dari 2.4.2 Kelebihan dari Boxplot Menurut Benjamini (1988), kelebihan dari penggunaan boxplot yaitu: 1. Ringkasan dari data ditampilkan dalam bentuk 1 grafik yang mengandung informasi mengenai location, spread, skewness, dan longtailedness yang dapat terlihat dengan cepat. Location ditunjukkan dengan garis potong pada median (tengah kotak boxplot), spread ditunjukkan dengan panjang kotak boxplot, skewness ditunjukkan dengan deviasi garis median dari pusat kotak boxplot yg relatif terhadap panjang kotak boxplot, dan longtailedness ditunjukkan oleh jarak antara ekor boxplot terhadap panjang kotak boxplot. 2. Boxplot menunjukkan informasi detail tentang observasi pada bagian akhir. Jika terdapat suatu angka yang menarik dari observasi, angka tersebut biasanya akan terlihat pada bagian akhir boxplot. 3. Distribusi dari kumpulan data-data dapat dibandingkan dengan mudah dengan cara memperlihatkan boxplot data-data tersebut secara berdampingan. 4. Boxplot didesain dengan metode grafik back-of-the-envelope, sehingga mudah dihitung dan diimplementasikan pada komputer.

5. Arti dari boxplot sangat mudah dijelaskan kepada pengguna statistik. 17