CAPAIAN KEGIATAN TAHUN

dokumen-dokumen yang mirip
Evaluasi Kegiatan

ARAH PENELITIAN MONITORING DAN EVALUASI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) TAHUN

BAB 2 Perencanaan Kinerja

Sistem Perencanaan Kehutanan Sebagai Pendukung Perencanaan Pengelolaan DAS (Studi di DAS Serang)

BAB II PERENCANAAN STRATEGIS

CAPAIAN OUTPUT DAN OUTCOME

Pelayanan Terbaik Menuju Hutan Lestari untuk Kemakmuran Rakyat.

SINTESA RPI: AGROFORESTRY. Koordinator: Encep Rachman

BAB I PENDAHULUAN. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan ruang bagi sumberdaya alam,

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. hidrologi di suatu Daerah Aliran sungai. Menurut peraturan pemerintah No. 37

BAB I. PENDAHULUAN. 1 P a g e

Pengelolaan DAS terpadu

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENANGANAN KAWASAN BENCANA ALAM DI PANTAI SELATAN JAWA TENGAH

VISI ACEH YANG BERMARTABAT, SEJAHTERA, BERKEADILAN, DAN MANDIRI BERLANDASKAN UNDANG-UNDANG PEMERINTAHAN ACEH SEBAGAI WUJUD MoU HELSINKI MISI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENERAPAN SISTEM AGROFORESTRY PADA PENGGUNAAN LAHAN DI DAS CISADANE HULU: MAMPUKAH MEMPERBAIKI FUNGSI HIDROLOGI DAS? Oleh : Edy Junaidi ABSTRAK

Kerangka landasan pendekatan DAS: Merupakan ekologi bentang lahan (Landscape ecology), suatu subdisiplin ekologi yang mengamati sebab dan akibat

GUBERNUR SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT

2012, No.62 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang K

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 71 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS KEHUTANAN PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 35 TAHUN 2008 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENDAHULUAN Latar Belakang

DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL

BAB I PENDAHULUAN. yang sebenarnya sudah tidak sesuai untuk budidaya pertanian. Pemanfaatan dan

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Selain isu kerusakan hutan, yang santer terdengar akhir - akhir ini adalah

VISI, MISI & SASARAN STRATEGIS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. Wilayah studi Balai Besar Wilayah Sungai Brantas adalah Wilayah Sungai

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

STUDI IDENTIFIKASI PENGELOLAAN LAHAN BERDASAR TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) (Studi Kasus Di Sub Das Sani, Das Juwana, Jawa Tengah)

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.6/Menhut-II/2010 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dan binatang), yang berada di atas dan bawah wilayah tersebut. Lahan

Oleh : ERINA WULANSARI [ ]

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SASARAN DAN INDIKATOR PROGRAM DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN DAS DAN HUTAN LINDUNG TAHUN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II. PERENCANAAN KINERJA

I. PENDAHULUAN. dan berada di jalur cincin api (ring of fire). Indonesia berada di kawasan dengan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rencana pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) seringkali tidak dapat diimplemetasikan secara optimal, karena

RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) DIREKTORAT PERLUASAN DAN PENGELOLAAN LAHAN TA. 2014

TINJAUAN PUSTAKA. Defenisi lahan kritis atau tanah kritis, adalah : fungsi hidrologis, sosial ekonomi, produksi pertanian ataupun bagi

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

KENANGAN TUGAS SEORANG PENELITI HIDROLOGI DAN KONSERVASI TANAH

PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS TERPADU. Identifikasi Masalah. Menentukan Sasaran dan Tujuan. Alternatif kegiatan dan implementasi program

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 39/Menhut-II/2010 TENTANG POLA UMUM, KRITERIA, DAN STANDAR REHABILITASI DAN REKLAMASI HUTAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 20 TAHUN 2014 TAHUN 2013 TENTANG

RINCIAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

BAB I PENDAHULUAN. pemukiman, pertanian, kehutanan, perkebunan, penggembalaan, dan

PENDAHULUAN. Berdasarkan data Bappenas 2007, kota Jakarta dilanda banjir sejak tahun

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENDAHULUAN. daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam

KUANTIFIKASI JASA LINGKUNGAN PENERAPAN SISTEM AGROFORESTRY PADA DAS CISADANE HULU. Aji Winara dan Edy Junaidi ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR 92 TAHUN 2013 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kajian Tinjauan Kritis Pengelolaan Hutan di Pulau Jawa

SINTESA HASIL PENELITIAN RPI AGROFORESTRI TAHUN

REVITALISASI KEHUTANAN

BAB I PENDAHULUAN. pesat pada dua dekade belakangan ini. Pesatnya pembangunan di Indonesia berkaitan

PENANGANAN LAHAN PANTAI BERPASIR DENGAN TANAMAN TANGGUL ANGIN CEMARA LAUT Oleh : Beny Harjadi Peneliti Madya Bidang Pedologi dan Penginderaan Jauh

PERAN KEDEPUTIAN PENCEGAHAN DAN KESIAPSIAGAAN DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG PENANGGULANGAN BENCANA

Memperhatikan pokok-pokok dalam pengelolaan (pengurusan) hutan tersebut, maka telah ditetapkan Visi dan Misi Pembangunan Kehutanan Sumatera Selatan.

BAB V RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA DAN KELOMPOK SASARAN

RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG / JASA MELALUI SWAKELOLA

2. Seksi Pengembangan Sumberdaya Manusia; 3. Seksi Penerapan Teknologi g. Unit Pelaksana Teknis Dinas; h. Jabatan Fungsional.

RENCANA STRATEGIS DINAS KEHUTANAN

RINGKASAN PROGRAM PENELITIAN HIBAH BERSAING TAHUN ANGGARAN TAHUN 2013

RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TAHUN 2016

PENGELOLAAN DAS TERPADU

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ABSTRAK UCAPAN TERIMA KASIH

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil analisis mengenai dampak perubahan penggunaan lahan

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan salah satu unsur penting yang mendukung kehidupan di alam

Rencana Strategis

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

CAPAIAN KEGIATAN TAHUN 2010-2014 BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI KEHUTANAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Jl. A. Yani-Pabelan, Kartasura, Telepon/Fax.: (0271) 716709 / 716959 email: bpt.kpdas@gmail.com, website: http://bpk-solo.litbang.dephut.go.id TUPOKSI, VISI DAN MISI DASAR : PERMENHUT No. P.31 /Menhut-II/2011 RENSTRA BALITEK PDAS 2010-2014 TUGAS POKOK : Balitek PDAS : melaksanakan penelitian di bidang teknologi kehutanan pengelolaan daerah aliran sungai sesuai dengan peraturan perundangundangan Wilayah Kerja Seluruh Indonesia. VISI : Penyedia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) di bidang teknologi kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai terpadu dan berfungsi optimal (pemanfaatan hasil-hasilnya untuk mendukung kelestarian hutan secara ekologi, ekonomi dan sosial untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat) MISI : 1. Menyelenggarakan penelitian di bidang teknologi kehutanan PDAS 2. Menyelenggarakan diseminasi dan komunikasi hasil IPTEK di bidang teknologi kehutanan pengelolaan DAS 3. Menyelenggarakan kegiatan pendukung kelitbangan di bidang teknologi kehutanan pengelolaan DAS 1

TUJUAN DAN SASARAN Dasar : RENSTRA BALITEK PDAS 2010-2014 TUJUAN : 1. Meningkatkan ketersediaan hasil penelitian di bidang teknologi kehutanan pengelolaan DAS (PDAS). 2. Meningkatkan kemanfaatan IPTEK di bidang teknologi kehutanan PDAS. 3. Memantapkan unsur pendukung kelitbangan di bidang teknologi kehutanan PDAS. SASARAN : 1. Tercapainya luaran hasil penelitian di bidang teknologi kehutanan PDAS sebanyak 100 %. 2. Tercapainya kemanfaatan IPTEK di bidang teknologi kehutanan PDAS minimal 60 %. 3. Terfasilitasinya perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pelaporan, komunikasi hasil litbang, serta optimalnya dukungan kelembagaan, pendanaan, SDM dan sarana prasarana litbang. KEGIATAN BALITEK PDAS 2010-2014 PROGRAM LITBANG PDAS PUSKONSER PENUGASAN LITBANG PENGELOLAAN DAS LITBANG PENGELOLAAN HUTAN ALAM LITBANG PERUBAHAN IKLIM RPI 14 RPI 15 RPI 4 RPI 18 RPI 16 RPI 1 2

CAPAIAN SERAPAN ANGGARAN 2010-2014 Grafik Tren Penyerapan Anggaran BPTKPDAS Tahun 2010 - Okt 2014 94,37 % 94,62 % 97,85 % 96,76 % 76,94 2010 2011 2012 2013 Okt 2014 CAPAIAN OUTPUT BALITEK PDAS 2010-2014 3

RPI 14. I. SISTEM PERENCANAAN PDAS Buku Sistem Perencanaan Pengelolaan DAS salah satu hasil IPTEK Balitek PDAS untuk menjawab permasalahan dan tantangan perencanaan pengelolaan DAS kini dan masa depan. Isi buku mengakomodir 2 kepentingan antara perencanaan wilayah DAS dan perencanaan wilayah administrasi daerah. Draft Buku Sistem Pengelolaan DAS Hulu, Lintas Kabupaten, Lintas Propinsi bahan acuan teknis dalam melakukan pengelolaan DAS secara rasional dan aplikatif yang disusun pada berbagai hierarki pengelolaan yang diselaraskan dengan sistem penyelenggaraan pemerintahan OUTCOME : Telah Diterapkan Pengguna : Instansi Kemenhut Dirjen BPDAS PS bahan acuan dalam pelaksanaan tugas Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) 4

SISTEM PERENCANAAN PDAS LINTAS PROVINSI DI DAS CILIWUNG Sumur Resapan : Salah satu teknologi dalam menanggulangi banjir Output : Bencana banjir di Jakarta makin lama makin besar dengan dampak kerugian yang semakin meningkat. Hal ini terkait dengan penyebab banjir itu sendiri yang dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu tingginya pasokan air banjir dari daerah hulu dan tidak memadainya saluran drainase daerah hilir. Penanganan banjir di daerah hilir memperbaiki saluran drainase memang diperlukan untuk mengatasi banjir secara cepat. Namun penanganan daerah hulu sebetulnya lebih efektif khususnya dalam meningkatkan peresapan air. Meningkatkan peresapan air di daerah hulu berarti mengurangi pasokan air untuk daerah hilir. Untuk itu maka prinsip penanganan banjir di Jakarta adalah mempertahankan air selama mungkin di daerah hulu. Outcome : Policy Brief Vol. 7 No. 14 Th 2013 LUAS HUTAN OPTIMAL DARI SEGI TATA AIR Jati (Cepu) 1. Luas Hutan Optimal pada hutan tanaman jati (bahan induk kapur) : dari aspek banjir bervariasi antara 45 47 %, dari aspek kualitas air 50-70 % dari luas DAS. 1. Luas Hutan Optimal pada hutan tanaman pinus (bahan induk vulkan) : dari aspek banjir bervariasi antara 31 37 %, dari aspek kualitas air 30-40 % dari luas DAS. Pinus (Gombong) OUTCOME PENGGUNA Journal of Forestry [80 %] Prosiding Seminar BPTKPDAS 2013 Seminar Internasional INAFOR 2013 Prosiding Seminar Internasional UNS 2013 Bisa sebagai input bahan kebijakan/rekomendasi Kemenhut, Perum Perhutani, Bappeda, Dinas Kehutanan 5

OUTCOME LAIN HASIL SISTEM PERENCANAAN PDAS Teknik PJ dan SIG Alih Teknologi Mitigasi Banjir dan Tanah Longsor [2010] Alih Teknologi Sistem Karakterisasi DAS [2011] Alih Teknologi Sistem Perencanaan PDAS [2012] II. SISTEM MONEV KINERJA DAS OUTCOME Alih Teknologi Monev DAS dengan Data Minimal OUTPUT : Memanfaatkan data gratis (DEM dan Citra satelit) terkini untuk evaluasi lahan. Penutupan lahan dan kelerengan merupakan data pokok untuk monitoring dan evaluasi kondisi DAS. Data gratis (DEM Aster dan Citra Satelit Google Earth) dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi terbaru penutupan lahan dan kelerengan. Penggunaan data ini mengurangi biaya monitoring dengan akurasi hasil tinggi (DEM aster 79,5 % dan Google Earth 70,3 %). 6

III. SISTEM KELEMBAGAAN PENGELOLAAN DAS OUTPUT : MODEL KELEMBAGAAN PENGELOLAAN DAS MONOSENTRIS/ TERPUSAT & POLISENTRIS Tipe DAS Perencanaan Implementasi Monitoring & Evaluasi 1. DAS Lintas Provinsi 2. DAS Lintas Kabupaten 3. DAS Kabupaten/ Kota Terpusat (RTRW) Terpusat (RTRW) Terpusat (RTRW) Didelegasikan pada SKPD Kabupaten Didelegasikan pada SKPD Kabupaten Didelegasikan pada SKPD Kabupaten Terpusat (Parameter Hidrologi) Terpusat (Parameter Hidrologi) Terpusat (Parameter Hidrologi) *Pemerintah bukan entitas tunggal melainkan multi sektoral, sehingga perlu ada FORUM DAS untuk berkoordinasi, bukan forum secara administratif tetapi forum dalam basis DAS. Forum ada leadership fungsi sebagai penggerak forum. Selain itu dalam PDAS yang berperan tidak hanya pemerintah tetapi juga ada beberapa stakeholder yang berperan. Rekonfigurasi PDAS : RPDAST merupakan bagian dari RTRW sebagai acuan untuk rencana pembangunan RPJMN (5 tahun). IV. IMPLEMENTASI PDAS SKALA MIKRO OUTPUT : 1. Demplot contoh konservasi implementasi pengelolaan DAS pada skala mikro di Sub DAS Wonosari, Kab. Temanggung pada lahan sayur tembakau dan Sub DAS Pronggo Kab. Pacitan pada lahan kering. 2. Rekomendasi kelembagaan PHBM yang layak diterapkan dalam pengelolaan hutan produksi dan hutan lindung. OUTCOME : 1. Prosiding 7

RPI 15 PENGELOLAAN SUMBERDAYA LAHAN DAN AIR PENDUKUNG PENGELOLAAN DAS SISTEM MITIGASI TANAH LONGSOR DALAM PENGELOLAAN DAS 1. Teknik mitigasi tanah longsor secara vegetatif dan sipil teknis 2. POS INFO BPTKPDAS sebagai Pusat Informasi dan media sosialisasi OUTCOME OUTPUT Ekstensometer Jurnal HKA Adopsi Masyarakat setempat PENGGUNA Masyarakat setempat (Kab. Purworejo, Bajarnegara) adaptasi untuk meminimalisir korban Badan Penanggulangan Bencana Daerah REHABILITASI LAHAN TERDEGRADASI DENGAN JENIS LOKAL Plot Erosi OUTPUT Demplot RLKT kombinasi sipil teknis & vegetatif jenis tanaman lokal secara partisipatif di Kawasan Gn.Muria (Pati) OUTCOME Partisipasi Masyarakat Masyarakat mengadopsi model RLKT Proceeding INAFOR Prosiding Seminar BPTKPDAS PENGGUNA Manggis Jabon Masyarakat setempat, Pengambil Kebijakan, Perhutani 8

KAJIAN EROSI DAN NERACA AIR SEBAGAI BASIS PERMODELAN TATA AIR Metode (Teknik, prosedur, dll) Pemilihan jenis tanaman hutan yang disesuaikan dengan karakteristik calon lokasi penanaman (karakter tanah dan mikro klimat), yang didasari dengan informasi hasil penelitian (nilai konsumsi air dan respon hidrologis jenis) Penentuan parameter karakteristik hidrologis jenis tanaman hutan melalui aplikasi pemodelan tata air (ET, infiltrasi tanah, intersepsi, dan prediksi erosi) Input Kebijakan Salah satu input dalam kebijakan pedoman pemilihan jenis tanaman hutan untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) Produk Informasi nilai konsumsi air dari jenis-jenis hutan tanaman Informasi dampak penanaman jenis-jenis hutan tanaman terhadap limpasan permukaan, erosi dan sedimentasi Formula, persamaan model dan aplikasi model tata air untuk jenis-jenis hutan tanaman RPI 4 PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE Kajian Laju Penjeratan Sedimen Terlarut Oleh Jenis Tanaman mangrove Lokasi : Segoro Anakan (Cilacap) dan Delta Welahan (Demak) Output : Informasi ilmiah nilai laju penjeratan sedimen terlarut oleh jenis tanaman mangrove. Outcome : Prosiding 9

RPI 18. PERUBAHAN IKLIM Output : Pemetaan Kawasan Rawan Kebakaran Hutan dengan Penginderaan Jauh (PJ) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Outcome : Gangguan yang secara intensif mengancam keberadaan kawasan TNBB adalah kebakaran hutan. PJ dan SIG dapat dipergunakan untuk memetakan kawasan rawan kebakaran hutan. Kawasan rawan kebakaran hutan yang tinggi perlu mendapatkan perhatian yang lebih, khususnya secara preventif. CAPAIAN OUTCOME BALITEK PDAS 2010-2014 CAPAIAN OUTCOME RATA2 BALITEKPDAS 2010 2014 : 60 % [TERCAPAI] Dari 24 judul kegiatan penelitian selama 1 periode Renstra terdapat 5 judul kegiatan penelitian yang status outcome belum tercapai 60 %. 10

KEGIATAN NON PENELITIAN Terdapat 26 kegiatan pendukung kelitbangan/penunjang berada di bawah seksi dan sub bagian Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya 1. Perencanaan, Evaluasi dan Diseminasi Hasil Litbang serta Prasarana Penelitian 2. Tata Laksana Umum, Kepegawaian 3. Kegiatan pendukung kelitbangan meliputi : a)pengembangan Model RLKTA pada Pantai Berpasir b)rehabilitasi Lahan Pasca Erupsi Gunung Merapi c)pengelolaan SPAS d)pembangunan Kebun Benih Rp. 9.571.475.734,- (96,76 %) e)implementasi Sistem Perencanaan dan Teknologi PDAS FISIK : 99 % Rehabilitasi Lahan Pasca Erupsi Gunung Merapi Konservasi Vegetatif Lahan Marginal Pasca Erupsi Erupsi besar yang terjadi pada tahun 2010, menyebabkan kerusakan hutan dan lahan di lereng Merapi. Lahan-lahan marginal yang tersebar di lereng Merapi pascaerupsi ini sangat memerlukan proses rehabilitasi untuk memperbaiki lahan dan meningkatkan produktivitasnya. Konservasi vegetatif memiliki fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi umum meliputi revegetasi, restorasi, dan agroforestri, sedangkan fungsi khusus meliputi konservasi, ekonomi dan pemasaran, serta kesesuaian lahan. 11

PENGEMBANGAN MODEL REHABILITASI LAHAN DAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DI PANTAI BERPASIR Seluas 25.485 m 2 OUTPUT OUTCOME Demplot RLKTA Pantai Berpasir Berupa Penanaman Tanaman Tanggul Angin Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) Telah diterapkan oleh pengguna : masyarakat, Dinas Pariwisata PENGGUNA Pendampingan KT. Pasir Makmur Masyarakat Desa Petanahan, Kec. Karanggadung, Kab. Kebumen peningkatan produksi tanaman semusim Dinas Pariwisata Kebumen peningkatan jumlah kunjungan obyek wisata Pantai Petanahan dampak dari perubahan kondisi iklim mikro nyaman PEMBANGUNAN KEBUN BENIH Lokasi : 1. Kebun Benih Semai-Uji Keturunan (KBS-UK) jenis tanaman Suren seluas 1,3 Ha Tahura K.G.P.A.A. Mangkunagoro I, Ngargoyoso 2. KBS-UK jenis tanaman Aren seluas 2 Ha Ngargoyoso 3. Kebun Konservasi Genetik Ex-Situ tenis tanaman Kalimasada seluas 0,25 Ha Stasiun Penelitian Jumantono 4. Materi Tegakan Konservasi Genetik jenis tanaman Plahlar Gunung Tahura Ngargoyoso 12

DISEMINASI HASIL LITBANG BALITEK PDAS 2013 1. Prosiding Seminar Teknologi Pengelolaan DAS 2013 2. Alih Teknologi Monev DAS dengan Data Minimal 3. CD Publikasi 2013 4. Sosialisasi Hasil Penelitian Kajian Pengendalian Banjir di DAS Ciliwung 2014 1. Seminar Nasional Pengelolaan DAS Terpadu untuk Kesejahteraan Masyarakat Terima kasih 13