IV. KERANGKA PEMIKIRAN

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

Fiskal vs Moneter Kebijakan Mana Yang Lebih Effektif?

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BANTUAN DANA RUTILAHU DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELECTRE

BAB XII ANALISIS JALUR (PATH ANALYSIS) APA SIH?

BAB 3 ANALISIS RIAK ARUS KELUARAN INVERTER PWM MULTIFASA

BAB 3 ANALISA DAN PERANCANGAN

METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif. Karena

HUBUNGAN PENGGUNAAN SUMBER BELAJAR DAN MINAT BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR PENGUKURAN DASAR SURVEY

III. METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN

BAB II TEORI PENUNJANG

S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA

MODEL INVENTORI SINGLE STOCKING POINT-SINGLE COMMODITY DENGAN TINGKAT PERMINTAAN KONSTAN LILIS SUSILAWATI

Analisis Pengaruh Marketing Mix Terhadap Kepuasan Konsumen Sepeda Motor

BAB II METODE PENELITIAN. penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

PENDAHULUAN. Di dalam modul ini Anda akan mempelajari aplikasi Fisika Kuantum dalam fisika atom

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Asosiatif dengan

KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL

METODE PENELITIAN Data Langkah-Langkah Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

KORELASI. menghitung korelasi antar variabel yang akan dicari hubungannya. Korelasi. kuatnya hubungan dinyatakan dalam besarnya koefisien korelasi.

PERANCANGAN ESTIMATOR TAHANAN ROTOR MOTOR INDUKSI TIGA FASA PADA PENGENDALIAN TANPA SENSOR KECEPATAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Berdasarkan konsep dan penelitian empiris yang telah diuraikan pada

Contoh Proposal Skripsi Makalahmudah.blogspot.com

ANALISA PENGARUH SISTEM MANAJEMEN TQC TERHADAP TINGKAT KERUSAKAN PRODUK (STUDI KASUS PADA PT. SINAR KAYU ABADI SURABAYA)

ANALISIS PENGARUH HARGA JUAL DAN SALURAN DISTRIBUSI TERHADAP VOLUME PENJUALAN AYAM POTONG DI UD. SUPPLIER DAGING AYAM KOTA TANGERANG

BAB II MEDAN LISTRIK DI SEKITAR KONDUKTOR SILINDER

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian merupakan strategi umum yang dianut dalam

Hubungan Layanan Informasi Dengan Kreativitas Belajar Siswa

BAB III METODE PENELITIAN. adalah untuk mengetahui kontribusi motivasi dan minat bekerja di industri

BAB 2 LANDASAN TEORI

The Production Process and Cost (I)

EVALUASI DANA PENSIUN DENGAN METODE BENEFIT PRORATE CONSTANT PERCENT. Abstrak

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan asosiatif simetris, yaitu hubungan yang bersifat sebab-akibat yang

Dan koefisien korelasi parsial antara Y, X 2 apabila X 1 dianggap tetap, dinyatakan sebagai r y 2.1 rumusnya sebagai berikut:

BAB II Tinjauan Teoritis

BAB III METODE PENELITIAN. identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, subjek

BAB 3 MODEL DASAR DINAMIKA VIRUS HIV DALAM TUBUH

MUATAN LISTRIK DAN HUKUM COULOMB. ' r F -F

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Adapun lokasi penelitian ini adalah Madrasah Hifzhil. Yayasan Islamic Centre Medan yang terletak di Jl.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bab ini membahas mengenai uraian dan analisis data-data yang

BAB IV ANALISIS DATA. analisis paired sample T-test yaitu Ada atau tidaknya Pengaruh Terapi Rational

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,

TRANSFER MOMENTUM TINJAUAN MIKROSKOPIK GERAKAN FLUIDA

BAB 17. POTENSIAL LISTRIK

III. METODE PENELITIAN. ilmiah, apabila penelitian tersebut menggunakan metode atau alat yang tepat. dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian merupakan rencana atau metode yang akan ditempuh

I Wayan Teresna 1, Djoko Suhantono 1. Bali,Phone : , Fax: Abstrak

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh

OPEN-ECONOMY MODELLING (Analisis Matematis Model Mundell-Fleming Rahmat A. Kurniawan (Jurusan Pendidikan IPS Ekonomi FITK Agama Islam Negeri Mataram)

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan verifikatif.

PERSAMAAN DIFFERENSIAL PARSIAL DALAM KOORDINAT SILINDIRS PADA MASALAH KONDUKSI PANAS

~J~ PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PANDUAN RANCANG KOTA MEGA KUNINGAN

Teori Dasar Medan Gravitasi

OPEN-ECONOMY MODELLING (ANALISIS MATEMATIS MODEL MUNDELL-FLEMING)

BAB 3 SEJARAH SINGKAT BADAN PUSAT STATISTIK (BPS) 3.1 Sejarah Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia

BAB. III METODE PENELITIAN. A.Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB III METODE PENELITIAN. mengenai Identifikasi Variabel Penelitian, Definisi Variabel Penelitian,

Bab. Garis Singgung Lingkaran. A. Pengertian Garis Singgung Lingkaran B. Garis Singgung Dua Lingkaran C. Lingkaran Luar dan Lingkaran Dalam Segitiga

Untuk semua cinta Untuk semua cita-cita Untuk semua kasih sayang Dari kedua orangtuaku yang begitu luar biasa.

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III REGERSI COX PROPORTIONAL HAZARD. hidup salahsatunyaadalah Regresi Proportional Hazard. Analisis

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. menggunakan kuesioner sebagai teknik pokok. Penelitian yang bersifat

Gambar 4.3. Gambar 44

1 ANGKET PERSEPSI SISWA TERH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. banyaknya komponen listrik motor yang akan diganti berdasarkan Renewing Free

BAB 5 ANALISIS RIAK ARUS KELUARAN INVERTER PWM LIMA FASA DENGAN BEBAN TERHUBUNG BINTANG

TINJAUAN PUSTAKA A. Perambatan Bunyi di Luar Ruangan

II. TINJAUAN PUSTAKA

HAND OUT STATISTIK NON PARAMETRIK

BAB II DASAR TEORI. II.1 Saham

SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2016

BAB PENERAPAN HUKUM-HUKUM NEWTON

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. hasil. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2002:136) metode penelitian

Program Komputer Berbasis Delphi untuk Analisis Perhitungan Persebaran Dosis Radiasi Pesawat Sinar-X dalam Bentuk Kurva Isodosis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang kopling, B. Tujuan C. Batasan Masalah

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB III RANCANGAN PENELITIAN. tujuan utama yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk memperoleh

BAB 2 LANDASAN TEORI. Gambar 2.1. Proses fluoresensi dan fosforesensi [14].

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 89 TAHUN 2013 TENTANG PANDUAN RANCANG KOTA KORIDOR CILEDUG

SOAL-SOAL LATIHAN OLIMPIADE DAN SOLUSINYA

IMPLEMENTASI DATA MINING UNTUK MENEMUKAN POLA HUBUNGAN TINGKAT KELULUSAN MAHASISWA DENGAN DATA INDUK MAHASISWA. Beta Noranita 1, Nurdin Bahtiar 2

Transkripsi:

V. KERNGK PEMKRN 4.1. Tinauan Umum Petumbuhan ekonomi bekaitan engan pekembangan beimensi tunggal an iuku engan meningkatnya hasil pouksi an penapatan (Doohaikusumo, 1994). Seangkan pembangunan ekonomi mempunyai makna yang lebih luas, tiak hanya menyangkut peningkatan pouksi melainkan uga menyangkut peubahan paa komposisi pouksi, peubahan pola penggunaan sumbeaya, peubahan pola istibusi kekayaan an penapatan iantaa pelaku ekonomi seta peubahan paa keangka kelembagaan alam kehiupan masyaakat secaa menyeluuh. Petumbuhan ekonomi itentukan oleh paling seikit tiga hal, yaitu (1) investasi, () pengeluaan pemeintah, an () pekembangan ekspo-impo. nvestasi meupakan salah satu bagian penting i alam pembangunan ekonomi, yaitu meningkatkan petumbuhan ekonomi. Meningkatnya investasi tiak hanya meningkatkan pemintaan agegat sepeti alam moel makoekonomi Keynes, tetapi uga meningkatkan penawaan agegat melalui pengauhnya tehaap kapasitas pouksi. Dalam pespektif angka panang, investasi meningkatkan stok kapital an setiap penambahan stok kapital akan meningkatkan pula kemampuan untuk menghasilkan output yang beati pula meningkatkan petumbuhan ekonomi. Salah satu moel makoekonomi yang membeikan pehatian paa peanan investasi aalah moel Hao-Doma. Moel ini bepenapat bahwa peningkatan investasi tiak hanya meningkatkan pemintaan agegat alam angka penek tetapi uga meningkatkan penawaan agegat alam angka panang.

19 Selain investasi, pengeluaan pemeintah (govenment expenitue) uga meupakan salah satu fakto yang bepengauh tehaap petumbuhan ekonomi, emikian uga engan ekspo. alassa (1985) menyatakan bahwa 4 negaa seang bekembang yang melakukan penggalakan ekspo menunukkan pengauh yang signifikan tehaap petumbuhan ekonomi masing-masing negaa. Menuut zis (1994) teapat ua keangka konseptual pembangunan ekonomi egional. Petama, Konsep asis Ekonomi. Konsep ini beanggapan bahwa pemintaan tehaap input hanya apat meningkat melalui peluasan pemintaan tehaap output yang ipouksi oleh sekto basis (ekspo) an sekto non basis (lokal). Pemintaan tehaap pouksi sekto non basis hanya apat meningkat apabila penapatan lokal meningkat. Namun, peningkatan penapatan ini hanya teai bila sekto basis (ekspo) meningkat. Dengan emikian menuut Teoi asis, ekspo egional (aeah) meupakan penentu alam pembangunan ekonomi egional. Keua, Konsep Tingkat Pengembalian Hasil (Rate of Retun). Konsep ini beanggapan bahwa pebean tingkat pengembalian hasil (ate of etun) lebih isebabkan kaena pebeaan lingkungan atau pasaana aipaa ketiakseimbangan asio moal tenaga kea (capital-labo atio). Dalam keangka piki ini ketebelakangan suatu aeah bukan kaena tiak beuntung atau kegagalan pasa, tetapi kaena pouktifitasanya enah. Oleh kaena itu, investasi alam pasaana aalah penting sebagai saana pembangunan aeah. Ekspo alam pengetian ekonomi egional aalah menual pouk ke lua wilayah baik ke wilayah lain alam negei maupun ke lua negei. Tenaga kea yang beomisili i suatu wilayah, tetapi bekea an mempeoleh uang ai wilayah lain temasuk alam pengetian ekspo. Paa asanya semua kegiatan

yang menatangkan uang ai lua wilayah aalah kegiatan basis. Lapangan kea an penapatan i sekto basis aalah fungsi pemintaan yang besifat eksogenus. Sekto non basis aalah semua kegiatan lain yang bukan kegiatan basis, yang ipeuntukkan bagi kebutuhan konsumsi lokal. Dengan emikian pemintaan sekto non basis sangat ipengauhi oleh tingkat penapatan masyaakat setempat. eati sekto ini teikat tehaap konisi ekonomi setempat an tiak bisa bekembang melebihi petumbuhan ekonomi wilayah (tiak bebas tumbuh). Stui ini bepak paa keangka teoi basis engan alasan (1) bahwa yang ikai alam stui ini aalah petumbuhan ekonomi egional an istibusi penapatan inteegional, () petumbuhan pouksi pe kapita suatu wilayah tiak hanya itentukan oleh lokasi penuuk an aktivitas i aeah yang besangkutan, tetapi uga oleh aeah lain (zis, 1994), an () ekspo sebagai sekto basis yang besifat eksogenus mampu meningkatkan peekonomian egional melebihi petumbuhan alamiah. 4.. Dampak Pembangunan Jalan Tehaap Ekonomi Mako Tanspotasi meupakan uat-nai kehiupan politik, ekonomi, sosialbuaya an petahanan keamanan nasional yang sangat vital peannya alam ketahanan nasional. nfastuktu alan sebagai bagian ai sistem tanspotasi ihaapkan apat menciptakan an meningkatkan petumbuhan ekonomi. Jaingan alan menukung kelancaan aus oang an baang anta/inta pusatpusat pouksi,pusat-pusat istibusi, an pusat-pusat pemukiman, seta sekaligus pembentuk stuktu uang wilayah. Manfaat pembangunan aingan alan aalah, tewuunya petumbuhan ekonomi nasional, pemeataan pembangunan an hasil-hasilnya seta pengentasan kemiskinan, menciptakan

1 lapangan kea langsung an tiak langsung, menaga kesatuan an pesatuan nasional. nfastuktu alan i nonesia mempunyai pean yang vital alam tanspotasi nasional engan melayani lebih ai 85% angkutan penumpang an angkutan baang. Seauh ini total nilai kapitalisasi aset infastuktu alan nasional saa telah melebihi tiliun upiah, yang peannya sangat stategis alam menuunkan biaya tanspotasi. pabila infastuktu alan teus meneus ikembangkan aga semakin hanal, maka alan akan menai salah satu fakto yang membeikan pengauh positif bagi pembangunan ekonomi, sehingga meningkatkan aya saing ekonomi aeah alam peekonomian nasional an uga peningkatan aya saing ekonomi nasional tehaap peekonomian intenasional. Pembangunan infastuktu alan mempelanca aus istibusi baang an asa. Secaa ekonomi mako keteseiaan asa pelayanan infastuktu alan mempengauhi tingkat pouktivitas maginal moal swasta, seangkan secaa ekonomi miko, infastuktu alan bepengauh tehaap penguangan biaya pouksi. nfastuktu alan uga bepengauh penting bagi peningkatan kualitas hiup an keseahteaan manusia, antaa lain: peningkatan nilai konsumsi, peningkatan pouktivitas tenaga kea an akses kepaa lapangan kea, seta peningkatan kemakmuan nyata an tewuunya stabilisasi mako ekonomi, yaitu kebelanutan fiskal, bekembangnya pasa keit an pengauhnya tehaap pasa tenaga kea. Dai sisi pasa tenaga kea, pembangunan infastuktu alan alam menciptakan peluang usaha an menampung angkatan kea uga sangat besa an bepotensi untuk membeikan efek multiplie tehaap peekonomian lokal

maupun kawasan. Sebagai contoh pembangunan alan tol Cipulaang sepanang 58 km yang menelan biaya sekita Rp. 1.6 tiliun an 1% ikeakan oleh tenaga lokal. Poyek pembangunan ini melibatkan 5. tenaga kea, isamping menyeap umlah tenaga kea yang banyak pembangunan Jalan Tol Cipulaang uga meningkatkan nilai konsumsi engan menggunakan 5 ibu ton semen, 5 ibu ton besi beton, 1.5 uta m agegat an 5 ibu m pasi. Potensi Kesempatan Kea (Pekiaan Kesempatan KeaLangsung an Tiak Langsung) Langsung Tahap Design an Konstuksi Konstuksi Jalan Tahap Opeasi an Pemelihaaan pofesional (enginee, management ) tenaga kea konstuksi an penunang teknik Manufactu e an Fanchise Pemasok Mateial management penaik toll an opeasional Pemelihaaan alan Tiak Langsung Tahap Design an Konstuksi Tahap Opeasi an Pemelihaaan sekto makanan peniikan an pelatihan akomoasi sekto etail Sumbe: Khazanah Nasional (6), moifikasi Gamba. Potensi Kesempatan Kea

Linkage miko pembangunan alan engan sekto inusti an asa seta potensi kesempatan kea sepeti yang i ilustasikan oleh Khazanah Nasional (6) alam Popose ggegate Tans-Jawa Expessway sepeti Gamba 4. Jaingan alan sebagai pasaana istibusi an sekaligus pembentuk stuktu uang wilayah haus apat membeikan pelayanan tanspotasi secaa efisien (lanca), aman (selamat) an nyaman. Jaingan alan uga haus apat memfasilitasi peningkatan pouktivitas masyaakat, sehingga secaa ekonomi pouk-pouk yang ikembangkan menai lebih kompetitif. Umum i an listik ahan aka suansi Pealatan eat Pengangkutan Eathwok Pealatan beat pengangkutan (eskavato, ump tuk, compacto) Matei bawaan, Engeneing fill, pasi, gegate, batu Geotextile Solum tanah an tufing lanscaping Dainase/Pengaian Pecast aint an culvet Pasi, agegat Semen Wok famwok, scaf ing Linkage Miko Pembangunan Jalan engan sekto nusti an Jasa Penukung Ruang kea Ruang Penyimpanan komoasi lokal Konsumsi lokal Stuktu Canage Famwok (woo playwoo) scaf ental, pasi, aggegate, semen,einfocing steel, baa stuktu, pecast piles, pecast bige beams, pecastculvets, pouk pecast lainya, esign bangunan M&E plants/equipment Tol equipment Roa Funitue Pembatas alan Maka an stu Jalan Rambu lalu lintas Lampu alan an nstalasi listik Paga Pekeasan Constuction plant (pave, compactos, ll) Pasi, aggegates, semen, bituminous bines Sumbe: Khazanah Nasional (6), moifikasi Gamba 4. Linkage Miko Pembangunan Jalan engan Sekto nusti an Jasa Pembangunan infastuktu alan haus mempehatikan secaa besamaan tiga aspek utama yang sangat penting yaitu: aspek ekonomi, sosial an lingkungan,

4 kaena aingan alan meupakan bagian ai inteaksi tata uang an sistem tanspotasi (Gamba 5). Sehingga kebeaaan alan tiak membeikan ampak negatif kepaa masyaakat maupun lingkungan lainnya yang aa i sekitanya. Tata Ruang spek Ekonomi spek Sosial Jaingan Jalan nteaksi Tata Riang & Sistem Tanspotasi spek Lingkungan Saana ngkutan Umum Sumbe: ina Maga, 9 Gamba 5. nteaksi Tata Ruang an Sistem Tanspotasi Pean infastuku alan alam menggeakkan oa peekonomian sangat penting, imana keteseiaan infastuktu alan bepengauh besa tehaap petumbuhan ekonomi teutama bekaitan engan PD. Setiap 1% petumbuhan ekonomi akan mengakibatkan petumbuhan lalulintas sebesa 1.5%, sehingga ai sini haus iantisipasi kebutuhan tesebut baik engan menyeiakan penambahan kapasitas fisik maupun melalui bentuk pengatuan an pengenalian kebutuhan tanspotasi atau Tanspot Deman Management (TDM). Disamping itu ai hasil pengamatan empiik yang aa i lapangan, engan aanya pembangunan infastuktu alan memiliki hubungan yang positif an efek saling ketegantungan engan haga tanah. Dengan aanya infastuktu alan menyebabkan haga tanah i sepanang koio yang aa umumnya apat meningkat hingga 1 kali lipat paa tahun-tahun petama. Sehingga i samping manfaat angka panang, pembangunan infastuktu alan

5 uga bepotensi untuk apat menggaiahkan an menggeakkan oa peekonomian secaa langsung untuk angka penek. esanya kontibusi infastuktu tehaap petumbuhan ekonomi sangat signifikan, bebeapa stui menunukkan elastisitas infastuktu tehaap peubahan output (PD) bekisa antaa.7 hingga.44. Di sisi lain bebeapa stui menunukkan bahwa economic ate of etun ai investasi infastuktu beaa isekita 19-117% auh i atas biaya hutang yang mungkin bekisa iantaa 1% (Eastely an Seeven, alam Susantono, 5). Petumbuhan ekonomi yang bekesinambungan tiak semata-mata menganalkan konsumsi saa, akan tetapi ai investasi uga. Petumbuhan ekonomi ata-ata sebesa 6.6% sebagaimana yang ihaapkan, akan sulit icapai tanpa isetai engan peningkatan ekspo an investasi. Untuk menukung pencapaian tesebut investasi yang ilakukan hausnya imulai engan investasi i biang infastuktu, tetapi ilihat ai keaaan yang aa, maka apat ikatakan bahwa konisi infastuktu nonesia paa saat ini suah tiak menukung petumbuhan ekonomi yang memaai an bahkan suah menai penghambat utama pebaikan iklim investasi (Susantono, 5). 4.. Peanan nvestasi nfastuktu Jalan Jika ipehatikan, analisis tentang ampak pembangunan infastuktu tehaap output peekonomian paa umumnya mengambil kasus infastuktu alan temasuk i sini alan aya (highway), alan toll ataupun expessway. Hal ini tiaklah mengheankan kaena sistem tanspotasi yang paling ominan i banyak negaa an aeah itunang oleh tanspotasi aat. nfastuktu alan yang

6 meupakan pasaana tanspotasi alan yang apat menggeakkan petumbuhan ekonomi wilayah. Hal ini apat iilustasikan sepeti paa Gamba 6. Sistem Tanspotasi Pesaingan Daeah nvestasi Tenaga Kea Penapatan Pemeintah Ekspo Konsumsi elana Pemeintah Petumbuhan Regional GRDP = C + + G + Nx Gamba 6. Tanspotasi Menggeakkan Petumbuhan Ekonomi Wilayah Ketika konsumsi an investasi meningkat, maka akan teai petumbuhan ekonomi, engan infastuktu alan apat menuunkan biaya istibusi baang an asa bagi pouk-pouk yang ihasilkan oleh maupun yang memanfaatkan sebagai bagian ai sistem pegeakan. nvestasi alan akan menunukkan ampak ekonomi mako apabila apat menuunkan main tanspotasi yang kemuian ikonvesi menai konsumsi, investasi maupun tabungan (yang selanutnya akan igunakan untuk investasi swasta). Magin tanspotasi aalah pebeaan antaa haga sebuah komoiti ketika i pabik atau petanian an haga yang ibaya paa pelanggan (haga akhi konsumen). nilah yang nanti akan menggeakkan oa peekonomian engan pinsip iminishing etun. tinya semakin besa investasi yang ibeikan, ampak ekonomi yang timbul akan meningkat engan

7 ata-ata yang semakin kecil, kaena sifat infastuktu lebih kepaa menoong ata-ata untuk aeah yang masih belum mau secaa ekonomi maupun fasilitasi untuk aeah yang telah mau (Paikesit an Puwoto, ). nfastuktu tanspotasi menuut Lewison Lee Lem alam Utomo (8) akan mempengauhi : 1. Pouction Cost, infastuktu tanspotasi mempebaiki kinea tanspotasi, kinea tanspotasi yang baik menuunkan biaya pouksi. iaya pouksi enah maka pouk kompetitif an menai aya taik bagi investo.. nustial Location, biaya tanspotasi mempengauhi inustial location an membe economic benefits bagi aeah.. Regional Pouctitivity, biaya pouksi enah akan meningkatkan pouktifitas aeah. 4. Cost of inteegion tae, biaya pouksi enah akan menoong inteegion tae. Daeah yang memiliki banyak inusti akan mampu menominasi inteegion tae. Selain itu, infastuktu bepean sebagai instumen bagi penguangan kemiskinan, pembukaan aeah teisolasi an uga mempesempit kesenangan antawilayah. Untuk menawab hal tesebut maka pogam investasi pemeintah i biang infastuktu haus lebih befokus paa kawasan tetinggal, engan anggapan bahwa untuk aeah yang elatif lebih mau, maka secaa ekonomis meeka telah mampu membiayai pembangunannya senii melalui ketelibatan pean seta pihak swasta an uga melalui pengguna yang mampu membaya kualitas pelayanan yang baik. Manfaat investasi infastuktu alan aalah sebagai beikut:

8 1. Manfaat langsung, yaitu panang alan an konisi alan yang beupa: Roa Use Cost (RUC) beupa: OK (iaya Opeasi Kenaaan), yakni biaya yang ikeluakan pengguna alan sebagai akibat ai konisi alan sepeti konsumsi M, haga kenaaan, haga suku caang. Manfaat OK ihitung ai penghematan OK elatif engan membaningkan antaa OK paa investasi minimum an OK yang ihasilkan ai investasi existing. Time Cost, waktu yang ipelukan pengguna alan alam melakukan pealanan ikonvesi ke alam nilai uang (Rupiah).. Manfaat tiak langsung, yaitu: PDR an tenaga kea yang teseap, peningkatan kualitas stuktu alan bepengauh tehaap penambahan PDR an penyeapan tenaga kea. Seangkan untuk linkage miko pembangunan alan engan sekto inusti an asa senii apat igambakan apat ilihat paa Gamba. 4.4. Justifikasi Pengunaan Moel nteegional Social ccounting Matix (RSM) Sealan engan keangka teoetis yang igunakan, stui ini akan menggunakan moel (RSM). Moel ini apat memotet seluuh neaca ekonomi baik yang enogen maupun eksogen, baik yang intaegional maupun inteegional. Selain itu moel ini uga apat, (1) menelaskan ketekaitan antaa aktivitas pouksi, istibusi penapatan, konsumsi baang an asa, tabungan an investasi seta peagangan lua negei, () membeikan suatu keangka kea yang bisa menyatukan an menyaikan seluuh ata peekonomian wilayah, () apat ihitung multiplie peekonomian wilayah an menelaskan pengauh ai suatu peubahan tehaap pouksi, istibusi penapatan an pemintaan seta pengauh inteegional, an (4) menelaskan stuktu ekonomi inta an

9 inteegional, stuktu penapatan an pengeluaan umahtangga inta an inteegional. Dengan moel ini akan apat ianalisis ketekaitan antawilayah antaa kawasan K engan KT alam satu matik yang konsisten an kompak. Secaa iagamatik analisis ketegantungan antawilayah alam moel RSM K-KT. Dengan ukungan moel tesenii i lua moel RSM K-KT akan ibuat bebeapa skenaio paa neaca eksogen (exogenous poection) yang beampak kepaa neaca-neaca enogen melalui analisis penggana. 4.5. Keangka Seehana Social ccounting Matix Secaa gais besa, moel Social ccounting Matix (SM) ibagi atas empat neaca, yaitu (1) neaca fakto pouksi, () neaca institusi, () neaca sekto pouksi, an (4) est of the wol. Neaca 1, an aalah neaca enogen, yang secaa iagamatik isusun alam bentuk segitiga paa Gamba 5, seangkan neaca 4 aalah neaca eksogen, beaa paa lingkaan lua memagai ketiga neaca enogen. Gais panah paa gamba segitiga tesebut melambangkan aus uang yang mengali ai neaca sekto (aktivitas) pouksi ke neaca fakto pouksi, kemuian ke neaca institusi an selanutnya ke neaca sekto pouksi. Panah ai neaca sekto pouksi ke neaca fakto pouksi 1 menyatakan bahwa kenaikan pemintaan output oleh blok neaca eksogen 4 akan mengakibatkan kenaikan pemintaan input an sebagai imbalan atas input fakto tesebut mengalilah uang ai blok neaca sekto pouksi ke blok neaca fakto pouksi. Selanutnya bahwa sesungguhnya pemilik fakto-fakto pouksi 1 tesebut aalah umahtangga, peusahaan an pemeintah. Dengan emikian, meningkatnya pemintaan input akan meningkatkan penapatan institusi sesuai

14 engan besanya input yang iseahkannya. Penapatan institusi apat igunakan untuk membeli baang an asa. ni ilambangkan oleh gais panah ai blok neaca institusi ke blok neaca sekto pouksi. Secaa matematis, keempat neaca tesebut isusun alam bentuk matik, yang teii atas bais an kolom. Neaca bais menunukkan peneimaan an neaca kolom menggambakan pengeluaan. Setiap sel (pepotongan antaa bais an kolom) menggambakan inteaksi antaa neaca. Makna ai setiap sel sepeti yang teapat i alam Tabel. Tabel telihat bahwa SM apat menggambakan ketekaitan antasekto, istibusi penapatan (factoial istibution an income istibution) an pengauh ai konsumsi, investasi seta ekspo-impo tehaap penapatan egional an kesempatan kea. Dalam pealan waktu, Thobecke (1) mengembangkan neaca-neaca alam SM seehana menai enam tipe neaca, yaitu (1) neaca aktivitas pouksi, () neaca komoitas, () neaca fakto pouksi, (4) neaca institusi, (5) neaca moal (kapital), an (6) neaca Rest of The Wol. Neaca aktivitas pouksi meupakan neaca yang bekaitan engan tansaksi pembelian ow mateial, intemeiate goos an sewa fakto pouksi untuk menghasilkan baang an asa (komoitas). Paa bais neaca aktivitas (peneimaan aktivitas) meliputi hasil penualan komoitas paa pasa omestik an pasa lua negei, seta peneimaan subsii ekpo ai pemeintah. Paa kolom neaca aktivitas (pengeluaan aktivitas) meliputi pengeluaan untuk impo, biayabiaya ai asa peagangan an pembayaan paak tiak langsung. Neaca institusi oleh Thobecke (1) ipecah lagi menai tiga neaca, yaitu (1) umahtangga, () peusahaan, an () pemeintah. ais neaca

141 umahtangga meliputi peneimaan atas kompensasi tenaga kea, keuntungan atas moal, tansfe antaa umahtangga, peneimaan tansfe ai peusahaan (beupa asuansi), tansfe ai pemeintah an tansfe lua negei. Seangkan kolom neaca umahtangga meliputi pengeluaan konsumsi, tansfe antaumahtangga, tansfe kepaa peusahaan, pembayaan paak langsung an tabungan paa neaca moal. Selanutnya bais neaca peusahaan (peneimaan peusahaan) meliputi laba yang itahan, tansfe ai umahtangga an tansfe pemeintah. Tabel. Stuktu Seehana Social ccounting Matix Peneimaan Pengeluaan Fakto Pouksi 1 nstitusi Sekto Pouksi Neaca Eksogen 4 Fakto Pouksi nstitusi Sekto Pouksi Neaca Eksogen Total 1 4 5 T 11 T 1 T X14 Y1 lokasi nilai Penapatan Distibusi tambah ke fakto penapatan fakto pouksi ai faktoial pouksi lua negei T1 lokasi penapatan fakto ke institusi T 1 X lokasi penapatan fakto ke lua negei T Tansfe antainstitusi T Pemintaan omestik 41 X 4 T X 4 Tansfe ai lua negei T X4 Tabungan Y 1 Y Total 5 Jumlah pengeluaan fakto pouksi Jumlah pengeluaan institusi Sumbe: Thobecke (1998) Pemintaan antaa X 4 mpo an paak tiak langsung Y Total input Ekspo an nvestasi X 44 Tansfe lainnya Y 4 Jumlah pengeluaan lainnya Y Distibusi penapatan institusional Y Total outout menuut sekto pouksi Y 4 Total peneimaan neaca lainnya Seangkan kolom neaca peusahaan (pengeluaan peusahaan) meliputi tansfe kepaa umahtangga, pembayaan paak an tabungan peusahaan paa

14 neaca kapital. ais neaca pemeintah meliputi semua peneimaan paak, yaitu paak nilai tambah, paak tiak langsung, paak penapatan, paak langsung an paak keuntungan ai peusahaan. Seangkan kolom neaca pemeintah meliputi pengeluaan subsii ekspo, belana baang an asa, tansfe kepaa umahtangga an peusahaan seta tabungan pemeintah. Sisi peneimaan ai neaca kapital meliputi tabungan umahtangga, tabungan peusahaan an tabungan pemeintah. Seangkan sisi pengeluaannya meliputi pembagian keuntungan kepaa umahtangga an pembayaan paak kepaa pemeintah. Dai stuktu seehana SM Tabel, apat iumuskan pesamaan matik penapatan an pengeluaan neaca enogen secaa agegat sebagai beikut: Y = T + X.. (4.1) Distibusi penapatan neaca enogen an neaca eksogen apat iumuskan sebagai beikut: Y 1 = T + X 14 (4.) Y = T 1 + T + X 4. (4.) Y = T + T + X 4 (4.4) Y4 = X 41 + X 4 + X 4 + X 44... (4.5) Pesamaan (4.) menunukkan istibusi penapatan faktoial. Seangkan pesamaan (4.) menunukkan istibusi penapatan institusional, pesamaan (4.4) menunukkan total output menuut fakto pouksi an pesamaan (4.5) menunukan total penapatan lainnya (eksogen). Seangkan istibusi pengeluaan neaca enogen an neaca eksogen iumuskan sebagai beikut: Y 1 = T 1 + X 41... (4.6)

14 Y = T + T + X 4... (4.7) Y = T + T + T + X 4... (4.8) Y 4 = X 14 + X 4 + X 4 + X 44 (4.9) Pesamaan (4.6) menunukkan total pengeluaan fakto-fakto pouksi (factoial). Seangkan pesamaan (4.7) menunukkan total pengeluaan institusional, pesamaan (4.8) menunukkan total pembelanaan input oleh sekto-sekto pouksi an pesamaan (4.9) menunukan total pengeluaan lainnya (eksogen). Sebenanya moel SM meupakan peluasan ai moel -O. Namun emikian moel ini memiliki seumlah ketebatasan yang melekat paa asumsiasumsi ai moel. apun asumsi-asumsi yang igunakan, aalah (1) seluuh pouk yang ihasilkan oleh setiap sekto habis ikonsumsi paa peioe tetentu, () hubungan input-output alam kegiatan pouksi besifat linie atau constant etun to scale, () tiak aa substitusi antaa fakto pouksi yang igunakan, (4) suatu kelompok pouk tiak ihasilkan besama-sama oleh ua peusahaan atau lebih, (5) haga konstan, (6) tiak aa ekstenalitas negatif, an (7) peekonomian alam keaaan keseimbangan. Sekalipun SM memiliki seumlah ketebatasan namun moel ini telah igunakan secaa luas, antaa lain oleh Mako Nokkala () alam penelitiannya yang bekaitan engan kebakan investasi sekto petanian i Zambia. Seangkan qbal an Siiqui () untuk menganalisis ampak penyesuaian stuktual tehaap ketiakmeataan penapatan (income inequity) i Pakistan, Wagne (1998) untuk menganalisis ampak ecotouism tehaap peekonomian wilayah P e Guaquechaba azil, seangkan autista () untuk menganalisis ampak pembangunan sekto petanian tehaap peekonomian wilayah Vietnam. gumentasi umum yang ikemukakan alam

144 menggunakan moel SM aalah bahwa moel ini apat memotet ketekaitan aktivitas peekonomian paa suatu wilayah atau inteegional engan isagegasi yang luas sehingga apat ipeoleh obyek yang beagam. Rest of the Wol X 7 /X 7 X 76 /X 67 Wilayah /K Wilayah /KT Sekto Pouksi () T 6 T 6 Sekto Pouksi (6) T 5 T 6 T T T 65 T 46 Fakto Pouksi (1) T 1 nstitusi () T T 5 nstitusi (5) T 54 Fakto Pouksi (4) T 51 T 4 X 71 /X 17 X 71 /X 17 X 71 /X 17 X 71 /X 17 Rest of the Wol (7) Sumbe: Hai (1), cha et al. ( ), an lim (5) moifikasi Keteangan : = tansaksi intaegion, = tansaksi inteegion al Gamba 7. Keangka SM nteegional

145 Wagne (1998) mengemukakan tiga alasan mengapa memakai moel SM, yaitu (1) moel SM apat menelaskan ketekaitan antaa aktivitas pouksi, istibusi penapatan, konsumsi baang an asa, tabungan an investasi seta peagangan lua negei, () SM apat membeikan suatu keangka kea yang bisa menyatukan an menyaikan seluuh ata peekonomian wilayah, an () engan menggunakan SM apat ihitung multiplie peekonomian wilayah yang beguna untuk menguku ampak ai ecotouism tehaap pouksi, istibusi penapatan an pemintaan, yang uga meupakan gambaanai stuktu peekonomian. Di nonesia bebeapa stui telah menggunakan moel Social ccounting Matix nteegional (SM nteegional), antaa lain oleh Hiayat (1991) an Hai (1). Hiayat membagi nonesia ke alam ua wilayah, yaitu wilayah Jawa (inne islan) an wilayah lua Jawa (oute islan), kemuian membangun SM nteegional yang teintegasi. Hai membagi wilayah nonesia menai Kawasan aat nonesia (K) yang meliputi seluuh povinsi i pulau Sumatea an pulau Jawa an Kawasan Timu nonesia (KT) yang meliputi povinsipovinsi i lua pulau Sumatea an Jawa. nteegional SM (RSM) memiliki bebeapa kelebihan ibaning SM single egion (egional tunggal), imana nteegional SM membeikan tambahan infomasi inteaksi atau hubungan yang teai antawilayah, khususnya alam aktivitas-aktivitas sepeti: (1) aus baang antawilayah, () istibusi penapatan antawilayah, an () keseimbangan keagaan ekonomi mako antawilayah. Gambaan umum tentang RSM apat ilihat paa Gamba 8 an Tabel 1.

146 Tabel 1. Stuktu RSM Pengeluaan Wilayah K Wilayah KT Neaca Eksogen Total Penei -maan Peneimaan 1 4 5 6 7 8 Wilayah Fakto Pouksi 1 T X17 Y1 nstitusi T1 T T4 T5 X7 Y K Sekto Pouksi T T T5 T6 X7 Y Fakto 4 T46 X47 Y4 Wilayah Pouksi nstitusi 5 T51 T5 T54 T55 X57 Y5 KT Sekto 6 T6 T6 T65 T66 X67 Y6 Pouksi Neaca Eksogen 7 X X 71 7 X7 X74 X75 X76 X77 Y7 Total Pengeluaan 8 Y 1 Y Y Y 4 Y 5 Y Y 6 7 Gamba 7 menunukkan bahwa sekto pouksi ( an 6) menghasilkan output yang membutuhkan input fakto (1 an 4). Selanutnya nilai tambah tesebut ialokasikan kepaa institusi sebagai pemilik fakto pouksi (T 1 an T 54 ). Hubungan T 1 an T 54 menunukkan istibusi penapatan, sebab aa pebeaan pemilikan fakto pouksi paa setiap institusi. Selanutnya, institusi mengalokasikan penapatan yang ipeolehnya kepaa sekto pouksi baik alam bentuk konsumsi langsung, investasi, tabungan maupun tansfe antaa institusi. Tansaksi institusi alam moel SM antawilayah tiak hanya ilakukan i alam wilayah (intawilayah), tetapi uga lintas wilayah (antawilayah), yaitu alokasi penapatan institusi kepaa sekto pouksi alam wilayah an sekto pouksi antawilayah, seta tansfe antaa institusi i alam wilayah an tansfe antaa institusi antawilayah. Hubungan atau inteaksi ekonomi antaa Wilayah an Wilayah itunukkan oleh panah putus-putus engan tana T4, T 5, T 5, T 6, T 51, T 5, T 6, an T 6 sebagaimana telihat paa Gamba 4. Tansaksi

147 masing-masing wilayah (Wilayah an Wilayah ) engan lua negei (temasuk wilayah lain i lua keua wilayah tesebut) itunukkan oleh hubungan masingmasing blok neaca engan est of the wol. Tabel. Definisi Neaca Tansaksi RSM Neaca T ; T T 1 ; T T ; T T 4 ; T T 5 ; T T ; T T ; T T 5 ; T T 6 ; T X 17 ; X X 7 ; X X 7 ; X X 71 ; X X 7 ; X X 7 ; X X 77 Y 18 ; Y Y 8 ; Y Y 8 ; Y Y 78 Y 81 ; Y Y 8 ; Y Y 8 ; Y Y 87 46 54 55 51 5 65 66 6 6 47 57 67 74 75 76 48 58 68 84 85 86 Definisi Penapatan fakto pouksi ai sekto pouksi setiap wilayah Penapatan institusi atas pemilikan fakto pouksi alam wilayah Tansfe antainstitusi alam wilayah Penapatan institusi atas pemilikan fakto pouksi inteegional Tansfe antaa institusi inteegional Pemintaan atas baang an asa oleh institusi alam wilayah Pemintaan antaa alam wilayah Pemintaan atas baang an asa oleh institusi inteegional Pemintaan antaa inteegional Penapatan fakto pouksi ai tansfe lua negei Tansfe lua negei kepaa institusi Ekspo baang an asa setiap wilayah Pemintaan lua negei atas pemilikan fakto pouksi Tabungan institusi mpo baang an asa setiap wilayah Tanfe lainnya Distibusi penapatan faktoial setiap wilayah Distibusi penapatan institusional setiap wilayah Total output sekto pouksi setiap wilayah Total peneimaan neaca lainnya Distibusi pengeluaan faktoial setiap wilayah Distibusi pengeluaan institusional setiap wilayah Total input sekto pouksi setiap wilayah Total pengeluaan neaca lainnya

148 Hubungan antaa blok neaca sekto pouksi engan est of the wol menunukkan aanya peagangan langsung engan lua negei oleh masingmasing wilayah. Seangkan, hubungan antaa blok neaca fakto pouksi engan est of the wol menunukkan alian moal (capital flows) ai an ke lua negei. Kemuian hubungan antaa blok neaca institusi engan est of the wol menunukkan aanya tansfe institusi ke an ai lua negei. Dai Gamba 7 apat ibangun kembali alam bentuk tabel (Tabel 1) untuk menunukkan stuktu SM nteegional secaa agegat. Dengan Tabel 1 ini, nampak engan elas posisi setiap sel, aapun pengetian ai setiap sel (neaca tansaksi) iumuskan alam Tabel. 4.6. Keangka nalisis Penggana SM nalisis penggana i alam moel SM apat ibagi ke alam ua kelompok besa, yaitu penggana neaca (accounting multiplie) an penggana haga tetap (fixe pice multiplie). nalisis accounting multiplie paa asanya sama engan penggana ai Leontief nvese Matix yang teapat alam moel -O. ni beati bahwa semua analisis penggana yang teapat alam moel -O sepeti own multiplie, othe linkage multiplie an penggana total apat igunakan alam analisis SM. Seangkan analisis fixe pice multiplie mengaah paa analisis espon umahtangga tehaap peubahan neaca eksogen engan mempehitungkan expenitue popensity (sa et al., 1998). Selanutnya apabila iasumsikan bahwa besanya keceneungan ata-ata pengeluaan, yang meupakan pebaningan antaa pengeluaan sekto ke- untuk sekto ke-i engan total pengeluaan ke- (Y ), maka:

149 = T / Y...(4.1) atau alam bentuk matik aalah: = 1...... (4.11) pabila pesamaan (4.1) ibagi engan Y, maka ipeoleh: Y/Y = T/Y + X/Y... (4.1) Selanutnya pesamaan (4.1) isubsitusikan ke pesamaan (4.11) menai: = + X/Y = X/Y ( )Y = X Y = ( ) -1 X...(4.) Jika, Ma = ( ) -1 maka: Y = M a X... (4.14) Dimana aalah koefisien-koefisien yang menunukkan pengauh langsung (iect coefficients) ai peubahan yang teai paa suatu sekto tehaap sekto lainnya. Sementaa itu M a aalah penggana neaca (accounting multiplie) yang menunukkan pengauh peubahan suatu sekto tehaap sekto lainnya ai seluuh SM. Pyatt an Roun (1985) melakukan ekomposisi tehaap penggana neaca aga menapatkan ampak langsung an tiak langsung yang alam bentuk multiplikatif: M a = M a M a M a1 (4.15) atau secaa aitif apat itulis: M a = + M a1 - + (M a - ) M a1 + (M a - ) M a M a1.(4.16)

15 M a1 aalah tansfe multiplie yang menunukkan pengauh ai satu blok neaca tehaap iinya senii, yang iumuskan sebagai beikut: Ma1 = ( ) 1.. (4.17) imana: = (4.18) sehingga: 1 M a 1 = ( 1 )..(4.19) 1 ( 1 ) Selanutnya M a aalah open loop multiplie atau coss effect yang menunukkan pengauh langsung ai satu blok ke blok lain. Dalam hal ini M a apat iumuskan: Ma = ( + + ) (4.) imana = ( ) -1 ( ) Oleh kaena: maka M = 1 = ( ) -1 = ( ) -1 a 1 apat itulis sebagai beikut: M a 1 = 1 1 1 1 1 (4.1) Poses open loop multiplie antaa blok nampak paa Gamba 5. Gamba ini menunukkan bahwa misalnya ineksi awal teai paa peningkatan

151 pemintaan ekspo (X ), maka output yang tekait engan blok aktivitas pouksi (Y ) akan meningkat, kemuian membeikan pengauh beikutnya tehaap penapatan paa blok fakto pouksi (Y 1 ) engan nilai penggana sebesa. Y ktivitas Pouksi (- ) -1 X X = Pemintaan ekspo =(- ) -1 = Y Distibusi penapatan institusi 1=(- ) -1 1 Y 1 Distibusi penapatan fakto pouksi (- ) -1 X X = penapatan non-fakto ai lua negei X 1 = penapatan fakto ai lua negei Sumbe : Thobecke (1998) Gamba 8. Poses Penggana ntaneaca Enogen SM Selanutnya, peningkatan penapatan paa blok fakto pouksi akan membeikan pengauh lanutan tehaap penapatan paa blok institusi (Y ) engan nilai penggana sebesa 1, an selanutnya akan meningkatkan penapatan blok pouksi engan nilai penggana sebesa. pabila ineksi awal besumbe ai peningkatan penapatan blok fakto pouksi yang beasal ai lua negei (X 1 ), maka ineksi ini akan bepengauh tehaap penapatan paa

15 blok institusi engan nilai penggana sebesa 1 an selanutnya akan bepengauh tehaap penapatan paa blok aktivitas pouksi engan nilai penggana. Peningkatan penapatan paa blok aktivitas pouksi akan bepengauh tehaap penapatan paa blok fakto pouksi engan nilai penggana sebesa. pabila ineksi beawal ai peningkatan penapatan blok non fakto pouksi yang beasal ai lua negei (X ), maka ineksi ini akan bepengauh tehaap penapatan paa blok aktivitas pouksi engan nilai penggana sebesa an selanutnya akan bepengauh tehaap penapatan paa blok fakto pouksi engan nilai penggana. Peningkatan penapatan paa blok fakto pouksi akan bepengauh tehaap penapatan paa blok institusi engan nilai penggana sebesa 1. Teakhi Ma meupakan close loop multiplie yang menunukkan pengauh ai satu blok ke blok lain, kemuian kembali paa blok semula. Dalam bentuk matik M a apat itulis sebagai beikut: Ma = ( ) -1... (4.) Pesamaan (4.) secaa inci apat itulis sebagai beikut: 1 ( 1 ) 1 M a = ( 1 )... (4.) 1 ( 1 ) Dekomposisi penggana neaca tiak hanya ilakukan engan penekatan ata-ata, tetapi uga apat ilakukan engan penekatan mainal. Dekomposisi penggana neaca engan penekatan mainal memelukan suatu matik yang isebut maginal expenitue popensities yang inotasikan engan C. Matik C ibentuk beasakan asumsi haga tetap, sehingga penggana yang ipeoleh

15 engan caa ini seingkali isebut penggana haga tetap. Secaa matematis matik C iumuskan sebagai: C = T/ Y (4.4) Secaa inci itulis sebagai: C = C1 C... (4.5) C C kaena Y = T + X, maka: Y = T + X (4.6) engan emikian, atau, Y = C T + X Y = ( C) -1 X... (4.7) Y = M c X (4.8) Dimana Mc aalah penggana haga tetap, yang selanutnya apat iekomposisi ke alam M c1 (tansfe multiplie), M c (open loop mutiplie) an M c (close loop multiplie), sehingga: Mc = M c M c M c1... (4.9) entuk matik Mc, M c, M c1 sama sepeti paa matik ekomposisi sebelumnya, hanya saa yang igunakan isini aalah mainal pengeluaan, seangkan untuk inteegion SM, Pyatt an Roun (1985) menunukkan ekomposisi multiplie sebagai beikut: M = M M M 1... (4.) imana: M = close-loop multiplie effect within egion

154 M M 1 = inteegional open-loop multiplie effect = tansfe effect within egion Pesamaan (4.) ipeoleh engan penuunan sebagai beikut: Y 1 = 11 Y 1 + 1 Y + X 1... (4.1) Y = Y + 1 Y 1 + X...(4.) imana: Y 1, Y = total pengeluaan untuk masing-masing egional 11, 1, 1 X1, X = koefisien intaegional = koefisien inteegional = neaca eksogen Dai pesamaan [4.1] an [4.], maka: Y 1 = (1-11 ) -1 b 1 Y + (1-11 ) -1 X 1... (4.) Y = (1 ) -1 b 1 Y 1 + (1 ) -1 X... (4.4) Pesamaan [4.] an [4.4] bila itulis alam bentuk pekalian matik aalah: Υ 1 = Υ [ ] 1 b1 [ ] 1 11 b1 Υ 1 + Υ [ ] 1 11 [ ] 1 Χ Χ 1... (4.5) ila iefinisikan bahwa D 1 = [ 11 ] -1 b 1 an D 1 = [ ] -1 b 1, selanutnya pesamaan (4.5) apat itulis sebagai beikut: Υ Υ 1 = D 1 D1 1 [ ] 1 11 [ ] 1 Χ Χ 1.... (4.6) Dengan emikian: seangkan, [ ] 1 [ ] 11 Μ 1 =... (4.7) 1

155 sehingga : 1 1 [ D ] [ ] [ ] [ ] 1D1 D1D1 D1 1 D1D1 D1 D1D1 Μ x =... (4.8) [ D D ] 1 1 D 1 1 1 Μ x =...(4.9) [ D ] D1 1 1D1 Dengan emikian, maka: 1 D1 Μ =... (4.4) D1 1 an, [ D D ] 1 [ ] 1 1 Μ =... (4.41) 1 D1D1 4.7. Kompilasi Jaingan nteegional Dengan mengasumsikan aa ua wilayah, an R an setiap wilayah teii ai tiga sub sistem ekonomi (aktivitas pouksi, fakto pouksi an insitusi) kompilasi aingan inteegional, matik apat inyatakan sebagai beikut (cha et al., ): 1 = R R R R R R 1 1 R R 1 R R... (4.4) Menggunakan suatu penekatan ekomposisi untuk membangun lock Stuctual Path nalysis (SP), blok pasial matik input langsung untuk tiga blok an inves Leontief pasial alam setiap wilayah (Sonis et al., 1997a, b, 1998, ), sehingga apat iumuskan sebagai beikut:

156 1. Pasangan institusi engan aktivitas: ( ) = 1... (4.4) esaan input-input alam fist laye feeback loop alam keangka inteegional SM inyatakan sebagai: = ; 1 = 1 = 1 ; 1 =... (4.44) = ; 1 1 = engan inves Leontief pasial aalah: 1 [ ] = ( 1) = ( 1)... (4.45) imana: = ( ) an = ( ) 1. Pasangan fakto pouksi engan aktivitas: ( ) =... (4.46) engan inves Leontief pasial aalah: 1 [ ] = ( ) = ( )... (4.47). Pasangan fakto pouksi engan institusi: ( ) = 1... (4.48) engan inves Leontief pasial aalah: 1 [ ] = ( ) = ( )... (4.49) 11

157 Menggunakan metoe ekomposisi yang sama engan SP, peluasan inves Leontief untuk fist laye feeback loop alam inteegional block stuctual path analysis (RSP) apat inyatakan sebagai: 11 [ ] 1 = 1 [ ] 1 = 1 [ ] 1 = 1... (4.5) Kompilasi aingan inteegional iusulkan untuk mentansfomasi pengauh sistem ekonomi alam wilayah yang behubungan engan subsistem ekonomi alam wilayah R. Untuk tuuan ini, peluasan inves Leontief ai suatu wilayah sepeti paa pesamaan (4.5) itetapkan sebagai secon laye economic subsystem. Menggunakan penekatan ini, pengauh semua subsistem ekonomi tehaap subsistem ekonomi secaa keseluuhan apat itangkap engan memasukkan fist laye ai peluasan inves Leontief ke alam secon laye. Misalkan sub blok matik inteegional igunakan untuk mengkonstuksi blok matik iect inputs inteegion pasial, yaitu aktivitas pouksi i an fakto pouksi alam keangka inta atau inteegional inyatakan sebagai: R = R... (4.51) Dengan menggunakan matik yang sama ilakukan ekomposisi untuk menuunkan fist laye inves Leontief pasial ai (4.4) ke (4.49), untuk SM inteegional ua aah, setiap wilayah beisikan tiga sub sistem ekonomi, aa empat cluste ai secon laye inves Leontief yang ipeluas. Setiap cluste

158 beisikan tiga blok, sehingga ipeoleh 1 blok secon laye inves Leontief yang ipeluas, ini isaikan paa pesamaan (4.5) sampai (4.55) beikut ini: 11 = [ ] 1 1 ntaegional [ ] 1 =...(4.5) 1 = [ ] 1 1 11 = [ ] 1 1 ntaegional [ ] 1 =...(4.5) 1 R 11 = = [ ] 1 1 R R R R R [ ] 1 1 R R R R R R nteegional R [ ] 1 =...(4.54) 1 R R 11 = = R R R R R [ ] 1 1 R R R R R [ ] 1 1 R R R R R R nteegional R [ ] 1 =...(4.55) 1 R = R R R R R [ ] 1 1 Dengan mengkompilasi aingan inteegional (4.4), final eman sebagai: tesebut ke alam pesamaan an total output X sistem tesebut apat inyatakan = 1 R 1 R R R R R 1 1 R R R R ; λ = ; X R R λ X 1 X λ =...(4.56) R X 1 R X λ

159 Mengacu paa Sonis an Hewings (1998), sekumpulan hiaki feeback loop yang menangkap efek-efek feeback loop yang iteima oleh sistem ekonomi secaa keseluuhan ibangun sebagai beikut: = λ 11 111 1 111 = 1 + 1... (4.57) Secaa umum, inves Leontief untuk sistem inteegional itulis sebagai: = 11 111 1 11 1 = 1 11 1 11 1 11..(4.58) Kompilasi antai aingan inteegional mulai ai ampak senii (self-influence), pengeluaan institusi,, tehaap penapatan institusi an ampak pengeluaan institusi tehaap penapatan faktoial, an output aktivitas-aktivitas,, apat inyatakan sebagai beikut:... (4.59) Dampak senii,, ai ineksi ke alam aktivitas-aktivitas pouksi, an ampak ai ineksi ini tehaap penapatan faktoaial, an penapatan insitutusi, sebagai beikut: 1, iefleksikan oleh antai kompilasi

16... (4.6) 1 Walaupun kompilasi aingan (4.59) an (4.6) telah masuk feeback loop effects ai semua aktivitas, fakto-fakto pouksi an institusi-institusi antawilayah namun antai kompilasi aingan tesebut tiak iekomposisi ke asal ampak ai ineksi yang ituunkan ai suatu wilayah secaa iniviual. Dalam angka untuk menaaki ampak wilayah secaa iniviual yang iapatkan engan memasukkan est of the egions ke alam sistem peekonomian nasional, antai kompilasi aingan (4.59) an (4.6) ikonstuksikan sebagai beikut: 1. Kompilasi aingan ineksi institusi ai wilayah R R R R R R R R R R R R R R... [4.61] R R Feeback loops effects ai ineksi tesebut tehaap institusi oleh wilayah alam keangka SM inteegional apat isimplifikasi alam fomat beikut ini: R R R R... (4.6) R R R R imana, aalah ineksi tehaap institusi ai wilayah, aalah penapatan institusi yang iciptakan alam wilayah (self-influence income),

161 aalah output aktivitas-aktivitas paa wilayah, an aalah penapatan faktoial yang iciptakan alam wilayah. Dampak ekstenal tehaap penapatan institusi alam wilayah R ipelihatkan oleh R, kemuian pemintaan untuk aktivitas-aktivitas alam wilayah R sebagai sebagai R R R an ampak tehaap penaptan faktoial alam wilayah R R R R R.. Kompilasi aingan ineksi aktivitas-aktivitas ai wilayah R R R R R R R R R R R R... (4.6) Menggunakan ekomposisi yang sama sepeti untuk institusi pengauh ineksi aktivitas-aktivitas pouksi ai wilayah an ampaknya tehaap sub sistem ekonomi paa keua wilayah an R apat isimplifikasi sebagai beikut: R R R... (4.64) R R R imana, aalah ineksi aktivitas-aktivitas ai wilayah, an R betuut-tuut aalah output yang ihasilkan ai aktivitas-aktivitas alam wilayah an wilayah R (self-influence output), an R R aalah

16 penapatan faktoial yang ihasilkan alam wilayah an R. Dampak ekstenal tehaap tansfe penapatan institusi alam wilayah an R ipelihatkan oleh an R R R. 4.8. Metoe Upating an alancing SM Sebagaimana telah elaskan paa bagian sebelumnya bahwa moel SM meupakan pengembangan ai moel input-output. Paa umumnya ata inputoutput ikelompokkan paa inteval waktu yang panang (antaa 5 tahun atau lebih), seangkan ata-ata penukung sepeti ata pouk an penapatan nasional teseia setiap tahun. Data-ata penukung ipeoleh ai bebagai sumbe, antaa lain sensus atau suvei inusti, tenaga kea, petanian, neaca pemeintah, neaca peagangan an suvei umahtangga. Moel SM yang ibangun paa tingkat nasional maupun aeah uga banyak yang masih sangat agegat. Untuk menapatkan SM pe tahun an yang iisagegasi secaa lebih inci apat ilakukan engan metoe RS atau metoe Coss-Entophy. Dengan metoe RS apat ibangun matik yang bau ( 1 ) beukuan n x n ai matik yang lama ( ) engan mengaplikasikan multiplie bais () an kolom (s). pabila T aalah matik tansaksi SM, imana t aalah nilai sel yang memenuhi konisi T = t. Koefisien matik SM (), ibangun ai i matik tansaksi (T) ibagi engan sel-sel setiap kolom ai T engan umlah total kolom, t a =... (4.65) t

16 Penekatan klasik untuk memecahkan masalah untuk membangun suatu matik bau ( 1 ) ai matik lama ( ) ikenal engan opeasi poposional gana (bipopotional) bais an kolom, inyatakan sebagai beikut: a 1 = a i s... (4.66) Dalam notasi matik inyatakan sebagai beikut: 1 ~ ~ = R S... (4.67) imana ( ~ ) menginikasikan elemen matik iagonal i an s. Metoe RS meupakan suatu algoitma yang besifat inteaktif ai penyesuaian poposional gana. Langkah-langkah alam opeasional metoe RS inyatakan sebagai beikut: Langkah ke-1 1 xˆ xˆ i 1 1 1 i = x = ai x b = x i a x = b x Langkah ke- xˆ xˆ i i = x = ai x b = x i 4 a x = b x 1 1 x 1 x...(4.68)... (4.69)... sampai engan langkah ke-t Langkah ke-t ˆ t xˆ x t t 1 a i = b x...(4.7) x i t 1 t t t t x = = = ai x b x t t 1 x i Poses ini ilakukan sampai engan ipeoleh iteasi yang konvegen. Langkahlangkah ini apat iingkas sebagai beikut: x t 1 t 1 t h = b h= 1 k = 1 a k i x, untuk ank nilai ganil, x, x 1, x 5,...... (4.71)

164 x t t t h = b h= 1 k = 1 a k i x, untuk ank nilai genap, x, x 4, x 6,...... (4.7) engan t t i = a k = 1 k i an t t i = b h= 1 h x t 1 = t i t 1 x ; untuk ank nilai ganil, x, x 1, x 5,...... (4.7) x = t t i t x ; untuk ank nilai genap, x, x 4, x 6,...... (4.74) Ketika aa suatu solusi, metoe RS mempunyai keunggulan kaena aplikasinya seehana. Tetapi, keseehanaan ini memiliki banyak kelemahan, yaitu: (1) memiliki fonasi ekonomi yang lemah, an () tiak mampu mengakomoasi sumbe-sumbe ata lainnya selain total bais an kolom. Disebabkan oleh kelemahan tesebut, maka banyak peneliti yang menggunakan metoe Coss-Entophy untuk upating an balancing SM. Namun emikian metoe RS banyak igunakan oleh peneliti untuk upating an balancing tabel input-output. Metoe Coss-Entopy meupakan peluasan ai metoe RS, imana metoe Coss-Entopy lebih fleksibel an unggul untuk mengestimasi SM ketika ata scattee (teseba) an tiak konsisten. Sementaa itu metoe RS mengasumsikan bahwa estimasi imulai ai suatu SM teahulu yang konsisten an hanya mengetahui tentang total bais an kolom. Keangka Coss-Entopy mengacu paa entang infomasi teahulu yang lebih luas untuk igunakan secaa efisien alam estimasi (Robinson et al., 1998). a ua penekatan yang igunakan alam peneapan moel Coss- Entopy, yaitu penekatan eteministik an penekatan stokastik. Penekatan eteministik igunakan apabila teapat ketegantungan yang besifat fungsional

165 antaa satu peubah engan peubah lainnya. Seangkan penekatan stokastik igunakan apabila teapat ketegantungan yang besifat anom antaa satu peubah engan peubah lainnya (Robinson et al., 1998; Robinson an El-Sai, ). Penelitian ini menggunakan metoe Coss-Entopy engan penekatan eteministik, sebab estimasi SM hanya ilakukan paa tahun tetentu, seta ketegantungan anta yang akan iisagegasi besifat fungsional. Langkah petama ai metoe Coss-Entophy engan penekatan eteministik aalah menefinisikan matik T sebagai suatu matik tansaksi SM, imana t aalah alian pengeluaan ai neaca kolom ke naaca bais i yang memenuhi konisi: y i = t = t i... (4.75) ( Paa suatu SM, setiap umlah bais ( y i ) haus sama engan umlah kolom y ), imana koefisien matik apat ibentuk ai setiap sel paa matik T ibagi engan umlah kolomnya. Secaa matematis hal ini iumuskan sebagai beikut: t =... (4.76) y Kullback an Leible, (1951) mengaplikasikan ukuan aak coss-entophy antaa ua istibusi pobabilitas alam mengestimasi SM. Hal ini ilakukan untuk mempeoleh satu set koefisien matik yang bau () engan caa meminimumkan aak coss-entophy antaa koefisien matik yang bau engan koefisien matik sebelumnya (). Secaa matematis apat iumuskan sebagai beikut:

166 min { } ln i = ln ln... (4.77) = Dengan kenala: y = yi...(4.78) = 1 an 1...... (4.79) i i 4.9. Konsep Distibusi Penapatan Konsep istibusi penapatan yang ipakai alam penelitian ini aalah konsep Wol ank yaitu aalah engan membagi populasi menai kelompok, yaitu 4 pesen bepenapatan enah, 4 pesen bepenapatan menengah, an pesen bepenapatan tinggi. Pengukuan kesenangan yang igunakan engan caa (1) Maximum to Minimum Ratio (MMR) yaitu suatu pebaningan aeah penapatan tetinggi (maksimum) engan aeah penapatan teenah (minimum) pe kapita PDR yang membeikan suatu ukuan ai ange pebeaan i antaa keuanya. Maksimum to minimum atio (MMR) mampu menelaskan secaa cepat, muah untuk ipahami an secaa politik ipakai sebagai ukuan ketimpangan penapatan aeah yang nyata (Li an Xu, 8). y R = y R = y max max min y y min 1 min = y y max min y y min min.. (4.8) Dimana : y = penapatan

167 () Coefficient of Vaiation (CV) sebagai beikut : n 1 1 CV = y n i= 1 ( y i y) 1..(4.81) Dimana y = penapatan; Pehitungan CV imaksukan untuk pembaning MMR 4.1. Stuctual Path nalysis Menuut Defouny an Thobecke (1988) alam Dayanto (1) metoe ekomposisi yang konvensional tiak mampu untuk menguaikan multiplie ke alam tansaksi komponennya atau untuk mengientifikasi tansaksi engan menyetakan suatu ketekaitan secaa beuutan. Dekomposisi multiplie yang konvensional hanya mampu menguaikan pengauh-pengauh alam an antaa neaca enogen saa. Melalui Stuctual Path nalysis (SP) apat itelusui inteaksi alam suatu peekonomian yang imulai ai suatu sekto tetentu an beakhi paa sekto tetentu lainnya. Metoe SP mampu menunukkan bagaimana pengauh tansmisi ai satu sekto ke sekto lainnya secaa besambungan alam suatu gamba. Dalam SP, masing-masing elemen paa multiplie SM apat iekomposisi ke alam pengauh langsung, total, an global. ni beati, SP itu paa asanya aalah sebuah metoe yang ilakukan untuk mengientifikasi seluuh aingan yang beisi alu yang menghubungkan pengauh suatu sekto paa sekto lainya alam suatu sistem sosial ekonomi. Pengauh ai suatu sekto ke sekto lainnya tesebut apat melalui sebuah alu asa (elementay path) atau sikuit (cicuit) (Pihawantoo, ) Disebut alu asa apabila alu tesebut melalui sebuah sekto tiak lebih ai satu kali. Misalkan sekto i mempengauhi sekto. Pengauh ai i ke apat teai secaa langsung, apat pula teai melalui sekto-sekto lain, katakan x an

168 y. pabila alam alu i ke tesebut i, x, y, an hanya ilalui satu kali, maka hal sepeti ini isebut sebagai alu asa, sebagai contoh apat ilihat paa Gamba 9. x y atau i i Sumbe: Pihawantoo () Gamba 9. Jalu Dasa Dalam nalisis Jalu a kalanya suatu sekto, setelah mempengauhi sekto yang lain, paa akhinya akan kembali lagi mempengauhi sekto itu senii. Misalkan pengauh sekto i ke tenyata belum selesai. Jika mempengauhi z, an z mempengauhi i, maka alu ai i ke x ke y ke ke z an kembali ke i isebut sikuit. Dalam alu ini setiap sekto ilalui hanya satu kali, kecuali i. Sekto i ilalui ua kali, yakni paa awal alu an paa akhi alu, lihat Gamba. Pengauh aalah ukuan yang menceminkan besanya ampak pengeluaan ai suatu sekto ke sekto lainnya, an kaenanya menggambakan keeatan hubungan i antaa keua sekto tesebut. esaan yang ipakai untuk menguku keeatan hubungan tesebut tegantung penekatan yang igunakan, apakah penekatan ata-ata ataukah penekatan maginal. Oleh kaena itu apat igunakan besaan a atau c. x y

169 i Sumbe : Pihawantoo () z Gamba. Sikuit Dalam nalisis Jalu Dalam metoologi SP aa tiga elemen penting sebagai bahan pembahasan, yakni alu pengauh langsung (iect influence), pengauh total (total influence), an pengauh global (global influence) (Dayanto et.al 1; Dayanto, 1; Pihawantoo, 1). Ketiga pengauh tesebut iiskusikan beasakan ilustasi paa Gamba 1. Chemical inusty X a yx Y Wholesale/etail sevice secto a xi a xy a y a xz Z a zy Oil pouce (enegy secto) J Fames a si Gas supplie S a s a vi Refiney V a v

17 a vv Sumbe : Dayanto (1) Gamba 1. n Example of he Possible Linkages etween Two Sectos 4.1.1. Pengauh Langsung Pengauh langsung (iect influence) ai i ke (D i ) menunukkan peubahan penapatan atau pouksi isebabkan oleh peubahan satu unit i, selama penapatan atau pouksi paa titik lain (kecuali paa alu asa yang ilalui ai i ke ) tiak mengalami peubahan. Dengan penekatan ata-ata, pengauh langsung (D i ) ai i ke aalah : D (i ) = a... (4.8) Gamba 9 menyaikan contoh tentang SP untuk kasus ua sekto, alu asa ini iuku sepanang gais. ni beati petani (sekto ) tampak secaa langsung membeli bahan baka ai pousen bahan baka (sekto i). Kaena alu yang ilalui hanya sekali, ini beati alu asa ai i ke mempunyai panang sebesa satu. Setiap keceneungan pengeluaan ata-ata (aveage expenitue popensity), a ai sekto i ke sekto., apat iintepetasikan sebagai kekuatan ai pengauh tansmisi Matiks n alam moel SM apat ikatakan sebuah matiks pengauh langsung, yang itentukan beasakan pesamaan (4.) i atas. Pengauh langsung apat uga iuku engan alu asa yang memiliki panang lebih ai satu. Sepeti yang isaikan alam Gamba 15, kita lihat petani (sekto i) membeli bahan baka ai peagang (sekto s) imana peagang membeli bahan baka

171 tesebut ai pousen (sekto ). Kaena tampak aa ua busu, beati alu asa ai pengauh langsung ini mempunyai panang sebesa ua. Ketekaitan ini apat iumuskan sebagai beikut. D(i, s ) = a si a s... (4.8) 4.1.. Pengauh Total Pengauh total (total influence) ai i ke aalah peubahan yang ibawa ai i ke baik melalui alu asa maupun sikuit yang menghubungkannya. Pengauh total (T) meupakan pekalian antaa pengauh langsung (D) an pengggana alu atau path multiplie (Mp), yang apat iumuskan: T (i ) = D (i ) Mp... (4.84) T (i ) = a xi a yx a y [1 a yx (a xy + a zy a xz )] 1... (4.85) imana : Mp = [1 a yx + (a xy + a zy a xz )] 1... (4.86) Dalam Gamba 9, T elaskan sepanang tiga alu busu, yaitu i x y. Dengan emikian T mempunyai alu asa sebanyak tiga. Dalam hal ini apat elaskan bahwa paa petani membeli input obat-obatan ai sekto asa peagang besa atau pengece (y) imana meeka mempeolehnya ai sekto inusti obat-obatan petanian (x). Kemuian untuk mempouksi obat-obatan, sekto inusti uga membutuhkan input ai pousen bahan baka (). Dai seangkaian alu tansaksi tesebut kita melihat aanya pengauh timbal balik baik secaa langsung maupun tiak langsung. Untuk kasus ini pengauh timbal balik secaa langsung apat telihat paa alu x ke y, yang menginikasikan bahwa peagang obat-obatan (y) secaa langsung membeli baang agangannya ai sekto inusti (x). Seangkan pengauh timbal balik secaa tiak langsung

17 kelihatan paa alu z ke y an x ke z, yang menunukkan bahwa sekto asa peagang (y) apat membeli output ai peusahaan yang begeak alam biang penelitian an pengembangan (eseach an evelopment fim) imana peusahaan ini mempeoleh inputnya ai inusti kimia (x). 4.1.. Pengauh Global Pengauh global (global influence) ai i ke menguku keseluuhan pengauh paa penapatan atau pouksi yang isebabkan oleh satu unit peubahan i. Pengauh global (G) sama engan pengauh total (T) sepanang alu asa yang saling behubungan paa titik i an titik. Pengauh global ini apat ituunkan engan umus beikut. n G( i ) = mai = T( i ) = D( i ) Mp... (4.87) p= 1 imana : G (i ) = pengauh global ai kolom ke i alam SM ke bais, m a i = elemen ke (,i ) paa matiks multplie Ma, T (i ) = pengauh total ai i ke, D (i ) = pengauh langsung ai i ke, an Mp = multiplie sepanang alu p. Dalam Gamba 8 titik asal i an titik tuuan sama-sama mempunyai tiga alu asa. Contohnya ( i, x, y, ), ( i, s, ) an ( i, v, ). nggaplah untuk ketiga alu itu masing-masing kita bei inisial 1, an, maka kita apat menuunkan pengauh global ai lintasan itu sebagai beikut. G (i ) = T (i,x, y, ) + T (i, s, ) + T (i, v, ) = T (i ) 1 + T (i ) + T (i )

17 = D (i ) 1 M 1 + a si a s + ( a vi a v ) ( a vv ) -1 = D (i ) 1 M 1 + D (i ) + D (i ) M... (4.88) khinya, apat ikatakan SP telah membuktikan sebagai peangkat yang mampu untuk mengientifikasi ketekaitan-ketekaitan yang paling penting i alam moel SM yang sangat kompleks. Kesulitan yang utama alam menggunakan SP aalah ketika kita ingin menghitung alu asa alam umlah yang sangat besa, pehitungannya menai lebih umit an kompleks. kan tetapi engan menggunakan kompute hal itu apat iatasi an iselesaikan engan baik. Untuk menyelesaikan pemasalahan-pemasalahan semacam itu, bebeapa softwae kompute yang teseia antaa lain Matlab, GM s, Math, an lain-lain khususnya yang apat igunakan untuk pemecahan pehitungan matematik.