5 HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
Lampiran 1 Tiga kapal kayu yang menjadi objek penelitian 1) Kapal 1. 2) Kapal 2. 3) Kapal 3

6. PEMBAHASAN 6.1 Metode pembuatan perahu FRP

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Peralatan Penelitian 3.3 Metode Penelitian 3.4 Pengumpulan Data

4. HASIL PENELITIAN 4.1 Teknologi Pembuatan Perahu Cadik Fiberglass Reinforcement Plastic (FRP) Metode pembuatan perahu dan tahapan kerja

Lampiran 2 Hasil kegiatan pembuatan mold/cetakan perahu

ANALISIS PRODUKSI KAPAL PERIKANAN BERBAHAN DASAR KAYU DAN FIBERGLASS KHAERUL ANWAR

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data

STUDI MODERNISASI INDUSTRI KAPAL RAKYAT DI JAWA TIMUR

MATERI 7 ASPEK EKONOMI FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL

METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengumpulan Data

4 KEADAAN UMUM GALANGAN

BAB IV METODE PENELITIAN. dan data yang diperoleh. Penelitian ini disusun sebagai penelitian induktif yaitu

VII. RENCANA KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. baik agar penambangan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian baik. dari segi materi maupun waktu. Maka dari itu, dengan adanya

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Keragaan Ekonomi Usaha Penangkapan Udang Net Present Value (NPV)

BAB 5 ANALISA KEUANGAN

VIII. ANALISIS FINANSIAL

TEKNO EKONOMI KAPAL GILLNET DI KALIBARU DAN MUARA ANGKE JAKARTA UTARA LUSI ALMIRA KALYANA

Analisis usaha alat tangkap gillnet di pandan Kabupaten Tapanuli 28. Tengah Sumatera Utara

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI

ANALISIS FINANSIAL UNIT PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DI DESA SUNGAI LUMPUR KABUPATEN OKI PROVINSI SUMATERA SELATAN

KAPAL JURNAL ILMU PENGETAHUAN & TEKNOLOGI KELAUTAN

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

BAHAN DAN METODE. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulang

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. berfokus pada bidang penggemukan sapi.sapi yang digemukkan mulai dari yang

III. METODOLOGI PENELITIAN

WISATA PANCING (Design and Construction of Fiberglass Catamaran Boat for Fishing Tours)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

Gambar 6 Peta lokasi penelitian.

Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL

VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL

IV. DESKRIPSI USAHA PENGOLAHAN TEPUNG UBI JALAR

ANALISIS FINANSIAL USAHA DOCKING KAPAL PURSE SEINE DI CV PUTRA BAROKAH KABUPATEN PATI

IV. METODE PENELITIAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah :

usaha dari segi keuntungan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut:

METODE PENELITIAN. menganalisis data yang berhubungan dengan penelitian atau mencakup. yang berhubungan dengan tujuan penelitian.

EVALUASI USAHA PERIKANAN TANGKAP DI PROVINSI RIAU. Oleh. T Ersti Yulika Sari ABSTRAK

3 METODE PENELITIAN. # Lokasi Penelitian

IV. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Propinsi Sumatera Utara. Pemilihan lokasi

PEMBUATAN PETI/PALKA BERINSULASI

ABSTRAK. Kata Kunci: Capital Budgeting, Payback Period, Net Present Value, dan Internal Rate of Return. Universitas Kristen Maranatha

Analisis Perbandingan Perhitungan Teknis Dan Ekonomis Kapal Kayu Pelayaran Rakyat Menggunakan Regulasi BKI Dan Tradisional

BAHAN DAN METODE. Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, mulai pada bulan

STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA RUMAH MAKAN AYAM BAKAR TERASSAMBEL

LAMINASI FIBERGLASS SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK MELINDUNGI KONSTRUKSI LAMBUNG KAPAL KAYU

VII. ANALISIS FINANSIAL

JURNAL TEKNIK PERKAPALAN Jurnal Hasil Karya Ilmiah Lulusan S1 Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi suatu pasar yang dapat menjanjikan tingkat profitabilitas yang cukup

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Metode Penilaian Investasi Pada Aset Riil. Manajemen Investasi

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kapal Perikanan

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III METODE PENELITIAN

Studi Teknis Ekonomis Pengaruh Variasi Sambungan Terhadap Kekuatan Konstruksi Lunas, Gading dan Balok Geladak Berbahan Bambu Laminasi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI

METODE PERBANDINGAN EKONOMI. Pusat Pengembangan Pendidikan - Universitas Gadjah Mada

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kabupaten Lampung Barat pada bulan Januari

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. tentang istilah-istilah dalam penelitian ini, maka dibuat definisi operasional

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

BAB I PENDAHULUAN. karena memerlukan dana dalam jumlah yang besar dan tertanam dalam jangka waktu

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang

III. METODOLOGI. 3.1 Kerangka Pemikiran. 3.2 Metode Penelitian

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

Teknik Analisis Biaya / Manfaat

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

STUDI KELAYAKAN BISNIS. Julian Adam Ridjal PS Agribisnis UNEJ

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. bersosialisasi. Dalam bersosialisasi, terdapat berbagai macam jenis hubungan yang

4 KEADAAN UMUM GALANGAN

ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA AYAM GORENG SABANA CABANG PERUMAHAN ANGKASA PURI JATI ASIH - BEKASI

III. KERANGKA PEMIKIRAN

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

Analisis Kelayakan Finansial Usaha Penangkapan Ikan Dengan Jaring Insang (Gillnet) di Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

LAMPIRAN Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

ANALISIS STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHA KONVEKSI PADA CV. TATA SARANA MANDIRI. : Dedik Fahrudin NPM : Jenjang/Jurusan : S1/Manajemen

TEKNO-EKONOMI PEMBANGUNAN KAPAL KAYU GALANGAN KAPAL RAKYAT DI DESA GEBANG, CIREBON, JAWA BARAT

Transkripsi:

21 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kapal Kayu 5.1.1 Gambaran Umum Kapal perikanan merupakan unit penangkapan ikan yang sangat penting dalam mendukung kegiatan operasi penangkapan ikan yang terdapat di perairan Indramayu. Jenis kapal perikanan yang digunakan nelayan di Karangsong Indramayu sebagian besar kapal perikanan yang dibuat dari bahan dasar kayu dengan ukuran yang beragam mulai dari 5 GT hingga kapal yang berukuran 60 GT. Lokasi pembuatan kapal kayu sendiri banyak ditemukan di sekitar Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Karangsong Indramayu yang jumlahnya lebih dari 10 galangan yang memproduksi kapal kayu. Proses pembangunan kapal yang terdapat di galangan kapal kayu karangsong secara umum meliputi : 1) Pemasangan lunas; 2) Pemasangan linggi haluan dan linggi buritan; 3) Pemasangan kulit kapal; 4) Pemasangan gading-gading; 5) Pemasangan lantai dek kapal; 6) Pemasangan rumah-rumah; 7) Pemasangan pagar; dan 8) Pendempulan dan pengecatan kasko kapal. Proses produksi baru dilakukan setelah ada transaksi dan perjanjian yang disepakati oleh pemilik galangan dan pemesan kapal. Pada umumnya pemesan kapal menyerahkan sepenuhnya perencanaan dan desain kapal yang akan dibangun kepada pemilik galangan, tetapi ada juga yang memberi bentuk dan desain kasar yang diinginkan oleh pemesan kapal tersebut. Kapal yang telah dibangun selanjutnya diserahkan kepada pemesan kapal. Kapal diserahkan dalam bentuk kasko kapal yang telah dicat. Pada umumnya proses penyerahan kapal dilakukan bersamaan dengan peluncuran kapal ke dalam air. Segala urusan mengenai surat-surat kapal diberikan oleh pihak syahbandar

22 setempat. Kapal kayu yang telah dibangun rencananya akan dioperasikan dalam kegiatan penangkapan menggunakan jaring milenium. Spesifikasi dari ketiga kapal kayu yang menjadi objek penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Dimensi utama ketiga kapal kayu No Ukuran Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 LOA (m) 10 14 19 2 Lpp (m) 8,5 12 17 3 B (m) 2,6 3,6 5 4 D (m) 1 1,5 2,25 5 d (m) 0,4 0,6 0,7 6 CUNO (Cubic Number) (m³) 26 75,6 213,75 7 GT 3,58 10,40 29,39 5.1.2 Produksi kapal kayu Komponen biaya yang dikeluarkan dalam pembangunan kapal kayu meliputi biaya kasko kapal, biaya tenaga kerja dan biaya pembelian mesin. Biaya tersebut sangat mempengaruhi biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi satu unit kapal. Di bawah ini dijelaskan satu persatu komponen biaya tersebut. 1) Biaya kasko kapal Biaya kasko kapal dalam pembuatan kapal kayu meliputi komponen biaya material. Biaya material ini dibagi menjadi biaya material utama dan biaya material pendukung. Kayu merupakan material utama dalam pembangunan kapal kayu. Jenis kayu yang digunakan pada pembuatan kapal kayu di Karangsong Indramayu berbeda-beda mulai dari kayu jati, kayu merbau dan kayu pernis. Kayu dengan jenis jati yang umumnya lebih banyak digunakan pengrajin kapal. Jenis kayu yang digunakan pada pembuatan ketiga kapal dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Jenis kayu yang digunakan pada konstruksi kapal kayu Jenis Kayu Bagian Konstruksi Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 Lunas Jati Jati Pernis Gading-gading Jati Jati Pernis Kulit / Lambung Jati Jati Merbau Geladak Jati Jati Jati Bangunan atas Jati Jati Jati

23 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar kayu yang digunakan pada pembuatan kapal yaitu kayu jati. Pada kapal 1 dan kapal 2 keseluruhan kayu yang digunakan untuk semua bagian konstruksi adalah jenis kayu jati. Sementara itu, untuk kapal 3 jenis kayu yang digunakan berbeda-beda yaitu jati, merbau, dan pernis. Menurut pemilik galangan kapal, pemilihan jenis kayu dilakukan berdasarkan pesanan pemesan kapal dan juga biaya yang diberikan oleh pemilik kapal. Kayu yang digunakan pada pembuatan kapal diperoleh dari wilayah Indramayu dan Surabaya. Komponen biaya yang dikeluarkan pada pembuatan kapal kayu selain material utama kayu adalah material pendukung. Material pendukung adalah material yang digunakan dalam membantu proses pembangunan kapal kayu. Material pendukung ini meliputi paku, baut, gelam, cat, dempul, poxy, cruing dan cor untuk lunas. Di bawah ini disajikan rincian biaya kasko kapal dari ketiga pembuatan kapal kayu. Rincian biaya lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7. Tabel 3 Rincian biaya kasko kapal kayu No Keterangan Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Material utama (Rp) 20.000.000 104.000.000 188.000.000 2 Material pendukung (Rp) 1.770.000 20.020.000 39.640.000 Total (Rp) 21.770.000 124.020.000 227.640.000 Kapal 3 memiliki biaya kasko kapal terbesar yaitu Rp227.640.000,00 jika dibandingkan kapal 1 sebesar Rp21.770.000,00 dan kapal 2 sebesar Rp124.020.000,00. Hal ini terjadi karena ukuran kapal 3 lebih besar dari yang lain sehingga membutuhkan material dan biaya lebih besar. 2) Biaya tenaga kerja Biaya upah tenaga kerja yang dikeluarkan pada pembuatan kapal tergantung pada kesepakatan pemilik kapal dan pemilik galangan. Biaya tersebut sudah meliputi biaya makan minum dan biaya rokok. Sistem upah yang digunakan di galangan kapal kayu ini yaitu sistem borongan. Upah tenaga kerja yang diberikan tidak dibedakan berdasarkan ketrampilan pekerjanya melainkan diberikan sama setiap pekerjanya. Sistem pemberian upah tenaga kerja pembuatan kapal kayu dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini.

24 Tabel 4 Sistem pemberian upah pada kapal kayu No Keterangan Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Sistem pembayaran upah pekerja Borongan Borongan Borongan 2 Lama Pembangunan Kapal 1 bulan 2 bulan 4 bulan 3 Jumlah tenaga kerja 4 orang 5 orang 8 orang 4 Besar upah (Rp) 10.000.000 25.000.000 80.000.000 3) Biaya pembelian mesin Komponen lain yang tidak kalah penting adalah mesin. Mesin yang digunakan dibagi menjadi dua yaitu mesin utama dan mesin bantu. Mesin utama dan mesin bantu diperoleh dari sekitar Kota Indramayu. Merk mesin yang digunakan pada kapal 1, kapal 2, dan kapal 3 berbeda-beda. Spesifikasi mesin yang digunakan pada ketiga kapal dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini. Tabel 5 Spesifikasi mesin dan harga pembelian No Parameter Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Tenaga mesin Mesin utama 7 HP 25 HP 16 HP Mesin bantu 24 HP 30 HP 2 Merk mesin Mesin utama Dongfeng Kubuta Mitsubishi Mesin bantu Dongfeng Dongfeng 3 Bahan bakar Solar Solar Solar 4 Harga mesin 5.000.000 38.000.000 35.000.000 22.000.000 25.000.000 Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa tenaga mesin yang digunakan kapal 2 dan kapal 3 hampir sama. Pada kapal 2 mesin utama dibeli dengan kondisi tidak baru lagi (second) dengan harga Rp5.000.000,00. Sementara itu, pada kapal 3 kondisi mesin bantu dibeli dengan kondisi tidak baru dengan harga Rp10.000.000,00. Menurut pemilik galangan kapal hal ini dikarenakan harga mesin untuk kondisi tidak baru harganya lebih murah jika dibandingkan dengan mesin yang baru yaitu setengah dari harga mesin baru, namun kondisi mesin ini tidak kalah dengan mesin yang baru. Mesin yang digunakan diperoleh dari daerah sekitar Indramayu dan Cirebon. Selanjutnya, komponen mesin ini tidak dicantumkan pada perhitungan biaya produksi kapal kayu. Hal ini dikarenakan pembelian mesin tersebut

25 disesuaikan dengan kemampuan pemilik kapal apakah akan menggunakan mesin baru atau bekas, sehingga pada penelitian ini hanya melihat biaya produksi pembuatan kapal kayu yang meliputi biaya kasko kapal dan tenaga kerja. Biaya produksi kapal merupakan penjumlahan total biaya-biaya yang digunakan dalam pembangunan satu unit kapal. Biaya tersebut meliputi biaya kasko kapal dan biaya tenaga kerja. Biaya total produksi juga merupakan biaya total yang dikeluarkan oleh pihak galangan pembuat kapal. Besar biaya produksi dijadikan pertimbangan bagi pihak galangan dalam menentukan berapa besar keuntungan yang ingin diperoleh dari penjualan satu unit kapal. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Karangsong Indramayu diperoleh total biaya produksi pembuatan kapal. Dibawah ini dapat kita lihat pada Tabel 6 rincian biaya produksi kapal kayu yang menjadi objek penelitian. Rincian biaya lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7. Tabel 6 Biaya pembuatan satu unit kapal kayu No Komponen biaya Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 A Biaya Variabel 1 Biaya kasko kapal a. Material utama (Rp) 20.000.000 104.000.000 188.000.000 b. Material pendukung (Rp) 1.770.000 20.020.000 39.640.000 2 Biaya tenaga kerja (Rp) 10.000.000 25.000.000 80.000.000 B Biaya Tetap 1 Biaya pemeliharaan alat (Rp) 230.000 230.000 230.000 2 Biaya penyusutan (Rp) 1.207.500 1.207.500 1.207.500 3 Listrik (Rp) 150.000 300.000 600.000 Total biaya pembuatan kapal (Rp) 33.357.500 150.757.500 309.677.500 Total biaya pembuatan kapal per CUNO (Rp) 1.282.981 1.994.147 1.448.784 Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa total biaya pembuatan masingmasing kapal kayu adalah kapal 1 sebesar Rp33.357.000,00 kapal 2 sebesar Rp150.757.500,00 dan kapal 3 sebesar Rp309.677.500,00. Biaya total pembuatan terkecil adalah pada kapal 1, sedangkan total biaya pembuatan terbesar adalah kapal 3. Hal ini terjadi karena komponen biaya material utama (kayu) pada kapal 1 lebih kecil dari dua kapal lainnya. Sementara itu, pada kapal 3, total biaya pembuatan paling besar karena ukuran kapal tersebut lebih besar sehingga biaya pembangunannya pun jauh lebih besar. Total biaya pembuatan kapal per CUNO

26 yang diperoleh ketiga kapal masing-masing yaitu kapal 1 sebesar Rp1.282.981,00 kapal 2 sebesar Rp1.94.147,00 dan kapal 3 sebesar Rp1.448.784,00. Biaya pembuatan kapal per CUNO pada kapal 2 lebih besar daripada kapal 3. Hal ini diduga terjadi karena efisensi penggunaan sumberdaya yang lebih besar dari kapal 2. Di bawah ini dapat dilihat pada Gambar 1 persentase total biaya tiap-tiap komponen yang terkait dalam pembuatan kapal kayu. Gambar 1 Persentase biaya pembuatan kapal kayu. Gambar 1 menunjukkan persentase komponen biaya pembuatan kapal kayu yang meliputi biaya material utama, material pendukung dan biaya tenaga kerja dan biaya tetap (biaya pemeliharaan, penyusutan dan listrik). Komponen biaya yang memiliki persentase terbesar dari ketiga diagram yang disajikan yaitu komponen biaya material utama yaitu masing-masing kapal 1 sebesar 60 %, kapal 2 sebesar 69 % dan kapal 3 sebesar 60 %. Hal ini didukung oleh pernyataan hasil penelitian dari Ayuningsari (2007) yang mengatakan bahwa biaya material utama (kayu) memiliki persentase 66 % dari total biaya produksi pembuatan kapal kayu. 5.2 Kapal Fiberglass 5.2.1 Gambaran umum Kapal perikanan yang terdapat di wilayah Cilacap sebagian besar terbuat dari bahan fiberglass. Pemilihan bahan fiberglass sebagai bahan baku kapal disebabkan karena bahan baku yang tersedia mudah diperoleh. Proses pembuatan kapal fiberglass secara umum meliputi : 1) Pembuatan cetakan (mold);

27 2) Setelah mold selesai, kemudian di lepas; 3) Pelapisan mirror glaze bertujuan agar kapal yang dicetak mudah dilepaskan dari cetakan; 4) Pembuatan gelcoat. Gelcoat dibuat dari campuran resin, erosil dan pigmen; 5) Pembuatan badan perahu, dilakukan dengan teknis laminasi yaitu : (1) Pelapisan gelcoat (2) Pelapisan matt 300 (3) Pelapisan woven roving 800 6) Pembuatan tulang-tulang fiber untuk kekuatan pada lambung kapal; 7) Pembuatan ruangan-ruangan sesuai desain gambar; dan 8) Finishing body kapal serta pemasangan mesin. Proses pemesanan kapal tidak jauh berbeda dengan kapal kayu. Pada kapal fiberglass pemesanan dilakukan oleh pemesan kapal kepada pemilik galangan kapal CV. Sinar Fiberglass dengan melakukan transaksi dan perjanjian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Selanjutnya, pemesan kapal menyerahkan perencanaan dan desain kapal yang akan di bangun sesuai keinginan pemesan kapal fiberglass tersebut. Proses penyerahan pun hampir sama dengan kapal kayu yaitu kapal yang telah dibangun diserahkan dalam bentuk kasko kapal yang telah dicat dan sudah dilengkapi mesin. Kapal fiberglass yang dibangun rencananya akan dioperasikan dalam kegiatan penangkapan dengan menggunakan jaring insang (gillnet). Dimensi utama ketiga kapal yang menjadi objek penelitian dapat dilihat pada Tabel 7 di bawah ini. Tabel 7 Dimensi utama kapal fiberglass No Ukuran Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 LOA (m) 10 11 13,5 2 Lpp (m) 9 9 11 3 B (m) 1,15 2,3 3,2 4 D (m) 0,8 1,2 1,2 5 d (m) 0,2 0,5 0,5 6 CUNO (Cubic Number) (m³) 9,2 30,36 51,84 7 GT 1,27 4,17 7,13

28 5.2.2 Produksi kapal fiberglass Komponen biaya yang dikeluarkan dalam membangun kapal fiberglass tidak beda dengan kapal kayu yaitu meliputi biaya kasko kapal, biaya tenaga kerja dan biaya pembelian mesin. Komponen biaya tersebut selengkapnya dijelaskan satu persatu di bawah ini. 1) Biaya kasko kapal Biaya kasko kapal fiberglass sama seperti pada kapal kayu yaitu meliputi biaya yang dikeluarkan untuk material utama dan material pendukung. Fiberglass reinforcement plastic atau yang biasa kita kenal dengan fiberglass merupakan bahan baku utama dalam pembuatan cetakan kapal fiberglass. fiberglass digunakan karena sifatnya yang lentur, awet serta mudah dalam perawatanya. Resin yang digunakan ketiga kapal fiberglass yang dibangun yaitu resin dengan jenis polyester orthophthalic yakni resin Yukalac 157. Serat yang digunakan sebagai penguat terdapat dua macam yaitu matt 300 dan woven roving 800. Material fiberglass yang digunakan pada pembuatan kapal yang diteliti dapat dilihat pada Tabel 8 di bawah ini. Tabel 8 Material fiberglass yang digunakan pada kapal fiberglass No Nama bahan Spesifikasi 1 Resin Yukalak 157 2 Compond - 3 Mirror Glaze - 4 Katalis - 5 Kobalt - 6 Erosil - 7 Pigmen - 8 Talk - 9 Matt M300 10 Woven Roving WR800 Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa material fiberrglass ini merupakan bahan dasar dalam pembuatan kapal fiberglass, masing-masing material memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda. Pada pembuatan kapal fiberglass, material resin memiliki jumlah lebih besar dari material lainnya. Material pendukung dalam pembuatan kapal fiberglass digunakan untuk menguatkan, menyambung dan merapikan bagian-bagian konstruksi kapal. Material pendukung yang digunakan pada pembuatan kapal dapat dilihat pada

29 Tabel 9. Tabel 9 Material pendukung pada pembuatan kapal fiberglass No Nama bahan Spesifikasi 1 Paku Ukuran 5 Ukuran 7 2 Alat Pembersih Gayung Ember 3 Kuas 3 inc 4 Solasi Kertas - 5 Amplas Nomor 3 6 Obat Cor Busa - 7 Cor Beton - Berdasarkan Tabel 9 diketahui terdapat komponen cor beton. Cor beton ini digunakan pada pembuatan lunas kapal, dimana material yang digunakan adalah campuran pasir, semen, besi, begel, besmitel dan split. Material utama dan pendukung pada pembuatan ketiga kapal ini mudah diperoleh dari toko-toko sekitar Kota Cilacap. Biaya kasko kapal pada pembuatan ketiga kapal fiberglass disajikan pada Tabel 10 dibawah ini. Rincian biaya lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 8. Tabel 10 Biaya kasko kapal fiberglass No Keterangan Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Material utama (Rp) 8.748.000 48.020.000 69.495.000 2 Material pendukung (Rp) 132.000 2.315.000 2.402.500 Total (Rp) 8.880.000 50.335.000 71.897.500 Tabel 10 menunjukkan bahwa biaya kasko kapal pada pembuatan kapal fiberglass, biaya terbesar yaitu biaya material utama dan biaya terkecil yaitu biaya material pendukung. Kapal 3 memiliki biaya kasko kapal terbesar yaitu Rp71.897.500,00 jika dibandingkan kapal 1 sebesar Rp8.880.000,00 dan kapal 2 sebesar Rp50.335.000,00. 2) Biaya tenaga kerja Sistem upah yang diterapkan pada pembuatan kapal fiberglass di CV. Sinar Fiberglass Cilacap adalah sistem harian. Upah tenaga kerja diberikan per hari oleh pemilik galangan. Pembagian upah juga tidak dibedakan berdasarkan ketrampilan pekerjanya namun diberikan upah yang sama. Dibawah ini dapat

30 dilihat jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pembuatan kapal fiberglass di galangan kapal CV. Sinar Fiberglass Cilacap. Tabel 11 Sistem pemberian upah pada kapal fiberglass No Keterangan Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Sistem pembayaran upah pekerja Harian Harian Harian 2 Lama Pembangunan Kapal 6 hari 25 hari 30 hari 3 Jumlah tenaga kerja 6 orang 10 orang 10 orang 4 Total upah (Rp) 2.400.000 16.500.000 20.000.000 Berdasarkan Tabel 11 di atas diketahui bahwa tenaga kerja yang diperlukan dalam menyelesaikan kapal 2 dan kapal 3 jumlahnya sama yaitu 10 orang. Sedangkan untuk kapal 1 sendiri tenaga kerja yang diperlukan berjumlah 6 orang. Jumlah tenaga kerja kapal 2 dan kapal 3 lebih besar dikarenakan ukuran kapal yang dibangun jauh lebih besar dan lama waktu pengerjaan kapal lebih lama. 3) Biaya pembelian mesin Mesin yang digunakan pada ketiga kapal fiberglass yang diteliti seluruhnya menggunakan mesin utama dengan kondisi masih baru. Pembelian mesin pada pembangunan kapal fiberglass diperoleh dari daerah sekitar Kota Cilacap. Spesifikasi mesin yang akan digunakan pada ketiga kapal fiberglass dapat dilihat pada Tabel 12 di bawah ini. Tabel 12 Spesifikasi mesin dan harga pembelian No Keterangan Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Tenaga mesin 15 HP 31 HP 31 HP 2 Merk mesin Yamaha Kubuta 3 Silinder Kubuta 3 Silinder 3 Bahan bakar Bensin Solar Solar 4 Harga beli 17.500.000 45.000.000 45.000.000 Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa merk mesin yang digunakan pada ketiga kapal berbeda-beda. Pemilihan merk mesin ini sesuai dengan pesanan pemilik kapal. Sama halnya dengan kapal kayu biaya pembelian mesin ini tidak dicantumkan pada perhitungan biaya total produksi kapal dikarenakan dibatasi hanya pada kasko kapal. Total biaya produksi pembuatan kapal fiberglass memiliki komponen biaya yang sama dengan pembuatan kapal kayu yaitu meliputi biaya kasko kapal,

31 dan biaya tenaga kerja. Rincian total biaya produksi kapal fiberglass dapat kita lihat pada Tabel 13 di bawah ini. Rincian biaya lengkapnya lihat di Lampiran 8. Tabel 13 Biaya pembuatan satu unit kapal fiberglass No Komponen biaya Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 A Biaya Variabel 1 Biaya kasko kapal a. Material utama (Rp) 8.748.000 48.020.000 69.495.000 b. Material pendukung (Rp) 132.000 2.315.000 2.402.500 2 Biaya tenaga kerja (Rp) 2.400.000 16.500.000 20.000.000 B Biaya Tetap 1 Biaya pemeliharaan alat (Rp) 200.000 300.000 300.000 2 Biaya penyusutan (Rp) 4.781.667 4.781.667 4.781.667 3 Listrik (Rp) 80.000 80.000 80.000 Total biaya pembuatan kapal (Rp) 16.341.667 71.996.667 97.059.167 Total biaya pembuatan kapal per CUNO (Rp) 1.776.268 2.371.432 1.872.283 Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa total biaya produksi masingmasing kapal fiberglass sebesar Rp16.341.667,00 untuk kapal 1, kapal 2 sebesar Rp71.996.667,00 dan kapal 3 sebesar Rp97.059.167,00. Total biaya produksi terkecil adalah kapal 1 sedangkan biaya total produksi terbesar adalah kapal 3. Hal ini terjadi karena pada kapal 1 biaya material yang dikeluarkan lebih sedikit. Sementara itu, pada kapal 3 biaya material yang dikeluarkan lebih besar, kemudian ukuran kapal 3 juga jauh lebih besar dibandingkan kedua kapal lainnya. Berdasarkan biaya per CUNO dari pembuatan ketiga kapal fiberglass masingmasing kapal yaitu kapal 1 sebesar Rp1.776.268,00 kapal 2 sebesar Rp2.371.432,00 dan kapal 3 sebesar Rp1.872.283,00. Biaya per CUNO kapal 2 lebih besar daripada kapal 3 diduga terjadi karena efisiensi penggunaan sumberdaya kapal 2 yang lebih besar. Komponen-komponen yang mempengaruhi besar kecilnya biaya produksi kapal fiberglass dapat dilihat pada ketiga gambar di bawah ini.

32 Gambar 2 Persentase biaya pembuatan kapal fiberglass. Gambar 2 menunjukan persentase komponen biaya pembuatan kapal fiberglass yang meliputi biaya material utama, material pendukung, biaya tenaga kerja dan biaya tetap (biaya penyusutan, pemeliharaan alat dan listrik). Komponen biaya pada pembuatan kapal fiberglass yang memiliki persentase terbesar dari ketiga diagram yang disajikan yaitu komponen biaya material utama yaitu masing-masing kapal 1 sebesar 53 %, kapal 2 sebesar 67 % dan kapal 3 sebesar 72 %. Pernyataan ini didukung oleh penelitian dari Nurcahyadi (2010) yang mengatakan bahwa material utama (fiberglass) memiliki persentase terbesar yaitu 78,44 % dari total biaya produksi pembuatan kapal fiberglass. Pembuatan kapal yang baik yaitu harus dilakukan dengan perencanaan yang matang, mulai dari desain kapal yang akan di bangun sampai dengan biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan kapal itu sendiri. Salah satu fakor penting dalam pembangunan kapal adalah biaya. Biaya yang dikeluarkan dalam pembangunan kapal akan mempengaruhi ukuran kapal yang di bangun, bahan yang digunakan dalam pembuatan kapal, jenis mesin yang di gunakan sampai dengan lama waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan satu unit kapal. Secara umum, besar kecilnya biaya produksi dalam pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass sangat dipengaruhi pada ukuran kapal yang akan dibangun. Berdasarkan tiga sampel kapal kayu dan kapal fiberglass yang diambil, kapal kayu 2 memiliki ukuran kapal yang hampir sama dengan kapal fiberglass 3 pada pembuatan kapal fiberglass, dengan demikian biaya produksinya dapat dibandingkan. Kapal kayu 2 pada pembuatan kapal kayu menghabiskan biaya sebesar Rp149.020.000,00 dalam proses pembuatannya. Sementara itu, kapal

33 fiberglass 3 pada pembuatan kapal fiberglass biaya yang dihabiskan dalam proses pembuatannya yaitu sebesar Rp91.897.500,00. Melihat hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pada ukuran kapal yang hampir sama ternyata kapal fiberglass memiliki biaya produksi yang lebih murah jika dibandingkan kapal kayu. Hal ini terjadi karena harga material yang digunakan pada pembuatan kapal fiberglass lebih murah daripada kapal kayu. Tahapan selanjutnya adalah membandingkan biaya penyusutan, biaya perawatan kapal dan kelayakan usaha kedua jenis kapal tersebut. Sampel kapal yang digunakan pada perhitungan ini yaitu menggunakan sampel kapal kayu 2 dan kapal fiberglass 3 karena ukuran dimensi kedua jenis kapal ini memiliki ukuran yang hampir sama. 5.3 Biaya Penyusutan dan Perawatan Kapal Kayu dan Kapal Fiberglass Kapal perikanan berbahan dasar kayu dan berbahan fiberglass memiliki karakteristik yang berbeda. Salah satunya yaitu pada biaya perawatan dan umur teknis kapal. Berdasarkan hasil wawancara kepada pihak nelayan yang mengoperasikan kapal perikanan berbahan kayu dan fiberglass diketahui bahwa umur teknis kapal fiberglass lebih lama dibandingkan umur teknis kapal kayu. Di bawah ini dapat dilihat biaya penyusutan dan perawatan kapal kayu dan kapal fiberglass. Tabel 14 Biaya penyusutan dan perawatan kapal kayu dan kapal fiberglass No Keterangan Kapal kayu 2 Kapal fiberglass 3 1 Dimensi kapal (LOA, B, D) (14 m, 3,6 m, 1,5 m) (13,5 m, 3,2 m, 1,2 m) 2 Harga kapal (Rp) 149.020.000 91.897.500 3 Umur teknis kapal (tahun) 10 15 4 Biaya penyusutan kapal (Rp) 14.902.000 6.126.500 5 Biaya perawatan kapal per tahun (Rp) 5.000.000 2.000.000 6 Total biaya per tahun (Rp) 19.902.000 8.126.500 Umur teknis merupakan umur asset yang berlaku hingga secara teknis asset yang dipakai tidak dapat dipergunakan lagi. Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa umur teknis kapal fiberglass yaitu 15 tahun, lebih lama jika dibandingkan dengan kapal kayu dengan umur teknis 10 tahun.

34 Biaya penyusutan merupakan biaya yang secara periodik harus dikeluarkan sebagai konsekuensi atas penurunan alat, mesin atau asset lainnya akibat pemakaian. Pengeluaran biaya penyusutan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi berakhirnya umur pakai aset yang dibeli dan diganti dengan asset yang baru. Pada biaya operasional kapal, biaya penyusutan dari kapal kayu yaitu sebesar Rp14.902.000,00 dan kapal fiberglass yaitu sebesar Rp6.126.500,00. Perawatan kapal perikanan sangat penting dilakukan, hal ini bertujuan untuk menjaga kapal tersebut dalam kondisi baik sehingga dalam proses operasi penangkapan ikan di laut tidak terjadi hal berbahaya yang disebabkan oleh kondisi kapal. Berdasarkan hasil penelitian, biaya perawatan yang dikeluarkan kapal kayu dan kapal fiberglass dengan ukuran kapal yang hampir sama memiliki biaya yang berbeda. Biaya perawatan yang dikeluarkan kapal fiberglass dalam satu tahun yaitu sebesar Rp2.000.000,00 lebih rendah dibandingkan kapal kayu dengan biaya perawatan per tahun yaitu sebesar Rp5.000.000,00. Kapal kayu memiliki biaya perawatan yang lebih besar dibandingkan dengan kapal fiberglass. Hal ini terjadi karena material kayu memiliki sifat mudah lapuk sehingga ada salah satu bagian kapal yang perlu diganti dengan kayu baru. Lain halnya dengan kapal fiberglass yang tidak memiliki sambungan-sambungan, perawatan yang dilakukan sebatas membersihkan badan kapal sehingga biaya yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Biaya total penyusutan dan perawatan kedua jenis kapal ini masing-masing yaitu kapal kayu sebesar Rp19.902.000,00 dan kapal fiberglass yaitu sebesar Rp8.126.500,00. Berdasarkan uraian diatas diketahui bahwa total biaya penyusutan dan biaya perawatan kapal kayu lebih mahal jika dibandingkan dengan kapal fiberglass. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dari segi biaya produksi dan biaya perawatan kapal fiberglass ternyata lebih murah jika dibandingkan dengan kapal kayu. Selanjutnya dari segi usaha pembuatan kapalnya dapat diketahui dari analisis ekonomi pembuatan masing-masing kapal tersebut. 5.4 Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Kapal Kayu dan Kapal Fiberglass Analisis yang digunakan dalam mengevaluasi aspek ekonomi pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass yaitu dengan menganalisis usaha pembuatan

35 kapal kayu dan kapal fiberglass. Komponen ini meliputi biaya investasi, biaya operasional (biaya tetap dan biaya variabel) dan penerimaan pemilik galangan. Pada perhitungan usaha pembuatan kedua jenis kapal ini digunakan asumsi- asumsi sebagai berikut: 1) Umur usaha kedua jenis pembuatan kapal yaitu 10 tahun; 2) Pembuatan kapal dalam satu tahun memproduksi empat kapal; 3) Galangan kapal ini akan dikembangkan di satu lokasi; dan 4) Biaya dan informasi yang ada berdasarkan hasil wawancara terhadap pemilik galangan. Selanjutnya dijelaskan satu persatu penjelasan dari masing-masing komponen biaya investasi, biaya operasional dan penerimaan pemilik galangan di bawah ini. (1) Biaya investasi Biaya investasi dalam pembuatan kapal kayu meliputi biaya pembelian gergaji, palu, golok, kapak, mesin serut kayu, mesin bor, alat press, pahat, pandel dan mesin pemotong kayu. Pada kapal fiberglass, investasi yang dikeluarkan ada sedikit tambahan yaitu biaya pembuatan cetakan kapal. Uraian dari biaya investasi pembuatan kedua kapal ini dapat dilihat pada Tabel 15 di bawah ini. Tabel 15 Rincian biaya investasi pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass Kapal kayu Kapal fiberglass Uraian (Rp) Uraian (Rp) Lokasi galangan 75.000.000 Lokasi galangan 75.000.000 Gergaji kecil 10.000 Cetakan perahu 20.000.000 Gergaji besar 40.000 Mesin bor 650.000 Palu besar 50.000 Mesin gerinda 750.000 Palu kecil 15.000 Gergaji 50.000 Golok 25.000 Palu kecil 20.000 Kapak 100.000 Palu besar 35.000 Mesin serut kayu 500.000 Alat press 15.000 Mesin bor 1.000.000 Bedok 35.000 Alat press 75.000 Serut kayu 35.000 Pahat 15.000 Pandel/Rimbas 30.000 Mesin pemotong kayu 2.000.000 Total 78.860.000 Total 96.590.000 Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa total biaya investasi kapal kayu yaitu sebesar Rp78.860.000,00 jumlah ini lebih kecil jika dibandingkan total investasi kapal fiberglass yaitu sebesar Rp96.590.000,00.

36 (2) Biaya operasional Biaya operasional terdiri atas biaya variabel dan biaya tetap. Biaya variabel dalam pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass ini meliputi biaya material utama, biaya material pendukung, dan upah tenaga kerja. Selanjutnya untuk biaya tetap meliputi biaya listrik, penyusutan peralatan, dan pemeliharaan peralatan. Uraian dari biaya operasional pembuatan kedua jenis kapal dapat dilihat pada Tabel 16 di bawah ini. Tabel 16 Biaya operasional pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass Uraian Kapal kayu Kapal fiberglass 1. Biaya variabel a. Biaya material utama 416.000.000 347.475.000 b. Biaya material pendukung 80.080.000 12.012.500 c. Upah tenaga kerja 100.000.000 80.000.000 2. Biaya tetap a. Listrik 1.800.000 960.000 b. Pemeliharaan peralatan 690.000 1.300.000 c. Penyusutan peralatan 1.207.500 4.781.667 Total 599.777.500 446.529.167 Berdasarkan Tabel 16 diketahui bahwa biaya variabel kapal kayu lebih besar dibandingkan kapal fiberglass. Pada biaya tetap kapal kayu biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan listrik lebih besar dikarenakan penggunaan listrik pada pembuatan kapal kayu lebih banyak. Sementara pada biaya penyusutan peralatan, kapal fiberglass memiliki biaya yang lebih besar daripada kapal kayu. Hal ini terjadi karena pada pembuatan kapal fiberglass membutuhkan komponen cetakan kapal yang memiliki biaya yang paling besar. (3) Penerimaan Penerimaan yang diperoleh dari usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass diperoleh dari hasil penjualan kapal yang telah diproduksi. Pada produksi kapal kayu, galangan kapal dalam setahun dapat menjual kapal sebanyak 4 unit. Sama seperti galangan kapal fiberglass, dalam setahun dapat memproduksi dan menjual kapal sebanyak 4 unit. Kapal kayu dan kapal fiberglass ini di jual dengan harga per unitnya yaitu sebesar Rp165.833.250,00 sedangkan untuk kapal fiberglass di jual dengan harga per unitnya yaitu sebesar Rp106.765.084,00. Keuntungan yang diambil dari penjualan kapal kayu per unitnya yaitu sebesar Rp15.075.500,00 dan kapal fiberglass sebesar Rp9.705.917,00 atau sekitar 10 %

37 dari total biaya pembuatannya. Total penerimaan yang diperoleh dari penjualan kapal kayu dalam setahun sebesar Rp663.333.000,00 sedangkan untuk kapal fiberglass dalam setahun mendapatkan penerimaan sebesar Rp427.060.336,00. (4) Analisis usaha Parameter yang digunakan dalam mengetahui kelayakan usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass yaitu dengan mencari nilai keuntungan, R/C, profitabilitas, NPV, IRR, PP dan net B/C. Nilai dari masing-masing parameter tersebut disajikan pada Tabel 17 di bawah ini. Rincian nilai lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 9,10,11 dan 12. Tabel 17 Hasil analisis usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass Parameter Kapal kayu Kapal fiberglass Keuntungan (tahun) 63.555.500,00 52.428.669,00 R/C (tahun) 1,11 1,14 PP 1,24 1,84 NPV 281.197.498,89 204.774.350,15 IRR 81 % 57 % Net B/C 4,57 3,12 Berdasarkan Tabel 17 dapat dilihat bahwa dari semua parameter yang terdapat pada usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass yaitu nilai keuntungan, R/C, NPV, IRR, dan net B/C terlihat bahwa usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass layak untuk dikembangkan. Berikut di bawah ini dapat dilihat penjelasan dari masing-masing parameter yang tersebut. Keuntungan merupakan penerimaan pemilik galangan yang diperoleh dari selisih antara total pemasukan yang diterima dengan total pengeluaran yang dikeluarkan. Pada kapal kayu diperoleh keuntungan per tahunnya sebesar Rp63.555.500,00 sedangkan pada kapal fiberglass keuntungan yang diperoleh sebesar Rp52.428.669,00. Hal ini artinya bahwa usaha pembuatan kapal kayu memiliki nilai keuntungan yang lebih besar dibandingkan usaha pembuatan kapal fiberglass per tahunnya. Revenue cost ratio merupakan perbandingan antara total penerimaan dan total biaya. Nilai R/C lebih besar dari satu dapat diartikan bahwa total penerimaan yang diperoleh lebih besar dari total pengeluaran, sehingga menghasilkan keuntungan. Nilai R/C yang diperoleh pada usaha kapal kayu yaitu 1,11 dan usaha

38 kapal fiberglass yaitu 1,14. Berdasarkan nilai R/C tersebut dapat diketahui bahwa setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan pada pembuatan kapal fiberglass akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp1,14,00. Nilai ini lebih besar apabila dibandingkan dengan penerimaan pada pembuatan kapal kayu yaitu sebesar Rp1,11,00. Payback Period (PP) merupakan waktu yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran biaya investasi dengan menggunakan aliran kas dalam satu bulan atau tahun. Pada kapal kayu diperoleh PP sebesar 1,24 sedangkan pada kapal fiberglass diperoleh nilai PP sebesar 1,84. Hal ini berarti bahwa pada usaha pembuatan kapal kayu dapat mengembalikan modal yang diinvestasikan dalam jangka waktu satu tahun dua bulan 26 hari, sedangkan pada kapal fiberglass dalam jangka waktu satu tahun 10 bulan dua hari modal yang diinvestasikan sudah dapat kembali. Dengan demikian, diketahui bahwa usaha pembuatan kapal kayu lebih cepat pengembalian modalnya dibandingkan usaha kapal fiberglass. Net Present Value (NPV) merupakan nilai sekarang yang akan diperoleh pada masa mendatang dan merupakan selisih antara nilai sekarang dari penerimaan dan nilai sekarang dari pengeluaran atau jumlah nilai sekarang dari mannfaat bersih selama umur bisnis. Nilai NPV yang diperoleh pada usaha pembuatan kapal kayu yaitu Rp281.197.498,89. Nilai ini diperoleh selama umur proyek 10 tahun. Sementara itu, nilai NPV yang diperoleh pada usaha pembuatan kapal fiberglass yaitu Rp.204.774.350,15 dengan umur proyek selama 10 tahun. Kedua nilai NPV ini diperoleh dengan discount factor sebesar 12 %. Dengan demikian, selama umur usaha 10 tahun diketahui bahwa usaha pembuatan kapal kayu memiliki nilai keuntungan lebih besar dibandingkan usaha kapal fiberglass. Internal Rate of Return (IRR) merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengembalian bisnis terhadap investasi yang ditanamkan. Pada usaha pembuatan kapal kayu dihasilkan IRR sebesar 81 %, sedangkan pada usaha pembuatan kapal fiberglass IRR yang di peroleh yaitu sebesar 57 %. Nilai tersebut menyatakan bahwa usaha pembuatan kapal kayu memiliki tingkat keuntungan internal yang lebih besar atas investasi yang ditanamkan jika dibandingkan dengan usaha pembuatan kapal fiberglass. Nilai

39 IRR kedua usaha tersebut lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 12 %, sehinga kedua usaha tersebut layak untuk dijalankan. Net B/C merupakan perbandingan manfaat bersih yang bernilai positif dengan manfaat bersih yang bernilai negatif. Nilai net B/C yang dihasilkan pada usaha pembuatan kapal kayu yaitu sebesar 4,57. Sementara itu, nilai net B/C yang diperoleh pada usaha kapal fiberglass yaitu sebesar 3,12. Hal ini dapat diketahui bahwa nilai net B/C pada usaha kapal kayu lebih besar dibandingkan pada usaha kapal fiberglass, dapat diartikan bahwa pada tingkat suku bunga 12 % per tahun, jika kedua usaha tersebut mengeluarkan biaya yang sama, benefit yang diperoleh usaha kapal kayu akan lebih besar. Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass layak untuk dikembangkan. Sementara itu, berdasarkan nilai ke enam parameter tersebut secara umum dapat diketahui bahwa usaha pembuatan kapal kayu lebih menguntungkan dibandingkan usaha pembuatan kapal fiberglass.