2 TINJAUAN PUSTAKA. Sumber:

dokumen-dokumen yang mirip
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Anjing

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Siamang yang ditemukan di Sumatera, Indonesia adalah H. syndactylus, di

II. TINJAUAN PUSTAKA. Siamang (Hylobates syndactylus) merupakan jenis kera kecil yang masuk ke

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. endemik pulau Jawa yang dilindungi (Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah siamang berdasarkan bentuk morfologinya yaitu: (Napier and

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Primata merupakan salah satu satwa yang memiliki peranan penting di alam

II. TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan

TINJAUAN PUSTAKA. (1) secara ilmiah nama spesies dan sub-spesies yang dikenali yang disahkan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PROTOZOA. Otot-rangka. Pencernaan. Saraf. Sirkulasi. Respirasi. Reproduksi. Ekskresi

YAZTHI SALSABILA HEWAN FAKULTAS BOGOR 20100

OWA JAWA SEBAGAI SATWA PRIMATA YANG DILINDUNGI

I. PENDAHULUAN. Siamang (Hylobates syndactylus) merupakan salah satu jenis primata penghuni

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Protozoologi I M A Y U D H A P E R W I R A

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Tugas Portofolio Pelestarian Hewan Langka. Burung Jalak Bali

BAB I PENDAHULUAN. Macan tutul (Panthera pardus) adalah satwa yang mempunyai daya adaptasi

II. TINJAUAN PUSTAKA. frugivora lebih dominan memakan buah dan folivora lebih dominan memakan

BAB I PENDAHULUAN. Sokokembang bagian dari Hutan Lindung Petungkriyono yang relatif masih

I. PENDAHULUAN. Salah satu primata arboreal pemakan daun yang di temukan di Sumatera adalah

CARA PERKEMBANGBIAKAN INVERTEBRATA

Lutung. (Trachypithecus auratus cristatus)

2. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Napier dan Napier (1967), klasifikasi ilmiah simpai sebagai berikut :

BUKU CERITA DAN MEWARNAI PONGKI YANG LUCU

TAMBAHAN PUSTAKA. Distribution between terestrial and epiphyte orchid.

E. coli memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoit ditandai dengan ciri-ciri morfologi berikut: 1. bentuk ameboid, ukuran μm 2.

I. PENDAHULUAN. mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu laju kerusakan hutan tercatat

II. TINJAUAN PUSTAKA. sumatera. Klasifikasi orangutan sumatera menurut Singleton dan Griffiths

I. PENDAHULUAN. Macaca endemik Sulawesi yang dapat dijumpai di Sulawesi Utara, antara lain di

BAB I PENDAHULUAN. dijadikan sebagai daya tarik wisata, seperti contoh wisata di Taman Nasional Way

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. benua dan dua samudera mendorong terciptanya kekayaan alam yang luar biasa

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Taksonomi

I. PENDAHULUAN. menguntungkan antara tumbuhan dan hewan herbivora umumnya terjadi di hutan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Kupu-kupu raja helena (Troides helena L.) merupakan kupu-kupu yang berukuran

BAB I PENDAHULUAN. dengan hewan dapat menularkan penyakit, manusia tetap menyayangi hewan

Perilaku Harian Owa Jawa (Hylobtes Moloch Audebert, 1798) Di Pusat Penyelamatan Dan Rehabilitasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center), Bodogol, Sukabumi

BAB I PENDAHULUAN. ditemukan di Indonesia dan 24 spesies diantaranya endemik di Indonesia (Unggar,

I. PENDAHULUAN. Berkurangnya luas hutan (sekitar 2 (dua) juta hektar per tahun) berkaitan

BAB V HASIL. Gambar 4 Sketsa distribusi tipe habitat di Stasiun Penelitian YEL-SOCP.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PROTOZOA. Marlia Singgih Wibowo

DI SUSUN OLEH. KELOMPOK : II Anggota : 1. Nurhaliza ( ) 2. Nevri Isnaliza ( ) 3. Siti wardana ( )

Badak Jawa Badak jawa

BERITA NEGARA. KEMEN-LHK. Konservasi. Macan Tutul Jawa. Strategi dan Rencana Aksi. Tahun PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

KEPADATAN INDIVIDU KLAMPIAU (Hylobates muelleri) DI JALUR INTERPRETASI BUKIT BAKA DALAM KAWASAN TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA KABUPATEN MELAWI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Protozoa merupakan mahkluk hidup bersel satu yang sering menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang ada di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Distribusi yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. lingkungannya (Alikodra, 2002). Tingkah laku hewan adalah ekspresi hewan yang

DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

BAB IV ANALISIS HUKUM MENGENAI PENJUALAN HEWAN YANG DILINDUNGI MELALUI MEDIA INTERNET DIHUBUNGKAN DENGAN

2015 LUWAK. Direktorat Pengembangan Usaha dan Investasi Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Burung Kakaktua. Kakatua

BAB I PENDAHULUAN. endangered berdasarkan IUCN 2013, dengan ancaman utama kerusakan habitat

51 INDIVIDU BADAK JAWA DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan satu dari sedikit tempat di dunia dimana penyu laut

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

I. PENDAHULUAN. liar di alam, termasuk jenis primata. Antara tahun 1995 sampai dengan tahun

KINGDOM PROTISTA. Dyah Ayu Widyastuti

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sebagai negara megadiversity (Auhara, 2013). Diperkirakan sebanyak jenis

MENGENAL BEBERAPA PRIMATA DI PROPINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM. Edy Hendras Wahyono

BAB I PENDAHULUAN. Kukang di Indonesia terdiri dari tiga spesies yaitu Nycticebus coucang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Beruang madu (H. malayanus) merupakan jenis beruang terkecil yang tersebar di

Tingkah Laku Owa Jawa (Hylobates moloch) di Fasilitas Penangkaran Pusat Studi Satwa Primata, Institut Pertanian Bogor

SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 4. KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP DALAM PELESTARIAN EKOSISTEMLatihan Soal 4.3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent Stock)

I. PENDAHULUAN. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa dilindungi

I. PENDAHULUAN. Satwa liar merupakan salah satu sumber daya alam hayati yang mendukung

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN... PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA DAN LAPORAN... PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN...

Aktivitas Harian Bekantan (Nasalis larvatus) di Cagar Alam Muara Kaman Sedulang, Kalimantan Timur

II. TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Morfologi Umum Primata

I. PENDAHULUAN. alam. Dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kukang adalah salah satu spesies primata dari genus Nycticebus yang

VI. PERATURAN PERUNDANGAN DALAM PELESTARIAN ELANG JAWA

II. TINJAUAN PUSTAKA Bio Ekologi Owa Jawa

PENDAHULUAN. Perdagangan satwa liar mungkin terdengar asing bagi kita. Kita mungkin

BAB I PENDAHULUAN. seumur. Namun, di dalam hutan tanaman terdapat faktor yang sering dilupakan,

TINJAUAN PUSTAKA. bekas tambang, dan pohon peneduh. Beberapa kelebihan tanaman jabon

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Gajah Sumatera (Elephas maxius sumateranus) Menurut Lekagung dan McNeely (1977) klasifikasi gajah sumatera

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kumpulan tanaman pinus. Pinus yang memiliki klasifikasi berupa : Species : Pinus merkusii (van Steenis, et al., 1972).

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Deskripsi Tingkah Laku Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert) di Taman Margasatwa Ragunan

TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Morfologi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert 1798) 2.1.1 Taksonomi Menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) (2008), klasifikasi owa jawa atau Silvery Javan Gibbon (Hylobates moloch) adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Filum : Chordata Sub filum : Vertebrata Kelas : Mammalia Ordo : Primata Famili : Hylobatidae Genus : Hylobates Spesies : Hylobates moloch (Audebert 1798) Sub spesies : Hylobates moloch moloch Hylobates moloch pangoalsoni Sumber: http://www.belfastzoo.co.uk Gambar 1 Owa jawa (Hylobates moloch Audebert 1798). 2.1.2 Morfologi Tubuh owa jawa ditutupi rambut kecoklatan hingga keperakan atau kelabu. Bagian atas kepala dan muka berwarna hitam dengan alis berwarna abu-abu. Dagu

pada beberapa individu berwarna hitam. Warna rambut jantan dan betina sedikit berbeda terutama dalam tingkatan umur. Pada umumnya anak yang baru lahir berwarna lebih cerah. Panjang tubuh owa jawa dewasa berkisar antara 750-800 mm dengan berat tubuh jantan 4-8 kg dan betina 4-7 kg. Owa jawa dibedakan menjadi dua sub spesies, yaitu Hylobates moloch moloch yang berwarna lebih gelap dan Hylobates moloch pangoalsoni yang berwarna lebih terang (Supriatna & Wahyono 2000). Owa jawa memiliki lengan dan jari yang panjang serta tidak memilki ekor sehingga memudahkan pada saat berayun dari satu pohon ke pohon lain (Anonim 2009a). Owa jawa memiliki kantong suara yang terletak di bawah dagu untuk mempertinggi suara yang dikeluarkan (Anonim 2009b). Baik jantan maupun betina dapat mengeluarkan suara apabila terdapat bahaya atau yang lebih dikenal dengan alarm call. 2.1.3 Perilaku Owa jawa adalah satwa primata yang sepenuhnya hidup di atas pohon (arboreal) dan jarang turun ke tanah. Pergerakan satwa ini dilakukan dengan berayun (brankiasi) dari satu pohon ke pohon lain dengan jarak mencapai lebih dari 10 m. Owa jawa juga memanjat saat makan dan bergerak pelan. Selain itu, owa jawa juga mampu berpindah tempat dalam jarak pendek menggunakan kedua kakinya (bipedal). Daerah jelajah owa jawa berkisar antara 16-17 ha dan jelajah harian dapat mencapai 1500 m. Owa jawa aktif pada pagi hingga sore hari (diurnal). Siang hari digunakan untuk beristirahat dengan saling mencari kutu antara jantan dan betina pasangannya atau antara ibu dan anaknya dan pada malam hari tidur di percabangan pohon (Supriatna & Wahyono 2000). Satwa primata ini memiliki suara yang nyaring dan saling bersahutan. Pada pagi hari owa jawa selalu mengeluarkan lengkingan nyaring yang disebut dengan morning call. Suara yang sangat keras ini dapat terdengar hingga sejauh satu km. Biasanya jantan lebih dahulu bersuara disusul betina. Ada empat jenis suara yang dikeluarkan owa jawa, yaitu suara betina untuk menandakan daerah teritorialnya, suara jantan yang dikeluarkan saat berjumpa dengan kelompok tetangganya, suara yang dikeluarkan bersama antar keluarga saat terjadi konflik dan suara dari

anggota keluarga sebagai tanda bahaya. Suara tanda bahaya dikeluarkan bila ada satwa pemangsa di sekitarnya, seperti macan tutul atau macan kumbang (Panthera pardus) (Supriatna & Wahyono 2000). Owa jawa hidup berpasangan dalam sistem keluarga monogami. Selain kedua induk, di dalam keluarga juga terdapat 1-2 anak yang belum mandiri. Pasangan owa jawa akan menghasilkan rata-rata 5-6 keturunan selama masa reproduksi, yaitu sekitar 10-20 tahun. Owa jawa hanya melahirkan satu keturunan tiap kelahiran dengan masa kebuntingan sekitar 197-210 hari dan jarak kelahiran sekitar 3-4 tahun. Anak owa jawa akan meninggalkan kelompoknya ketika mereka mencapai dewasa kelamin (siap kawin) pada umur 8-9 tahun. Umumnya owa jawa dapat hidup hingga 35 tahun (Supriatna & Wahyono 2000). 2.1.4 Pakan Owa jawa mengkonsumsi lebih kurang 125 jenis tumbuhan. Bagian tumbuhan yang sering dimakan, antara lain 61% buah, 38% daun dan sisanya berbagai jenis makanan, seperti bunga dan berbagai jenis serangga (Supriatna & Wahyono 2000). Satwa primata ini merupakan hewan frugivora yang memakan buah-buahan di kanopi bagian atas hutan hujan tropis. Owa jawa lebih menyukai buah-buahan dengan kandungan gula yang tinggi. 2.1.5 Habitat dan Penyebaran Owa jawa merupakan primata endemik yang hanya ditemukan di Pulau Jawa. Sebaran Hylobates moloch moloch terbatas pada hutan-hutan di Jawa Barat, terutama pada daerah yang dilindungi, seperti Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cagar Alam Gunung Simpang dan Leuweung Sancang serta hutan lindung di Gunung Ciremai. Hylobates moloch pangoalsoni hanya ditemukan di sekitar Gunung Slamet hingga sekitar Pegunungan Dieng di Jawa Tengah (Supriatna & Wahyono 2000). Owa jawa hidup di hutan hujan tropik, mulai dari dataran rendah, pesisir hingga pegunungan pada ketinggian 1400-1600 m dpl. Namun satwa ini jarang ditemukan di dalam hutan pada ketinggian lebih dari 1500 m dpl. Vegetasi dan

jenis tumbuhan yang berada pada daerah setinggi itu bukan merupakan sumber pakan owa jawa. Selain itu, banyaknya lumut yang menutupi pepohonan dapat menyulitkan pergerakan brankiasi owa jawa (Supriatna & Wahyono 2000). 2.1.6 Status Konservasi Primata endemik ini merupakan salah satu satwa primata yang terancam punah. Owa jawa termasuk kategori CR (Critically Endangered) dalam IUCN Red List 2006 (IUCN 2008). Selain itu, CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) mengategorikan owa jawa dalam Appendix 1, yaitu spesies satwaliar yang dilarang dari segala bentuk perdagangan internasional. Semua jenis dari famili Hylobatidae adalah dilindungi menurut PP No. 7 tahun 1999 (Maryanto et al. 2008). Owa jawa juga telah dilindungi oleh Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 266 tahun 1931, Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan SK Menteri Kehutanan 10 Juni 1991 No. 301/Kpts-II/1991. Meskipun demikian, populasi dan habitat owa jawa mengalami penyusutan sebesar 96%, yaitu semula menempati habitat seluas 43.274 km 2 dan sekarang hanya tinggal 1.608 km 2. Populasinya pun hanya 200-400 ekor di alam (Supriatna & Wahyono 2000). Oleh karena itu, upaya penangkaran ex situ, perlindungan habitat dan penegakan hukum sangat diperlukan untuk menyelamatkan satwa endemik Pulau Jawa ini. 2.1.7 Penyakit Parasit Penyakit parasit merupakan salah satu komponen pendukung punahnya satwa primata di alam bebas. Telah banyak penelitian mengungkapkan tentang keberadaan parasit di satwaliar untuk tujuan konservasi. Kehidupan yang bebas merupakan salah satu faktor timbulnya keanekaragaman parasit yang ada pada satwaliar tersebut. Menurut Sulistiawati (2008), penyakit pada primata yang disebabkan oleh endoparasit, khususnya protozoa, antara lain enteritis, toxoplasmosis, dan malaria. Enteritis atau radang pada usus disebabkan oleh Entamoeba histolytica, Entamoeba coli, Giardia lambia dan Balantidium coli. Gejala klinis yang nampak

adalah diare, lemas terjadi kelemahan otot, sakit kepala dan penurunan berat badan. Muangkram et al. (2006) melaporkan bahwa gejala klinis infestasi parasit saluran pencernaan pada genus Hylobates, antara lain depresi, anorexia, penurunan berat badan dan diare. Malaria pada primata disebabkan oleh Plasmodium sp.. Gejala klinis yang terlihat, antara lain demam, pucat, lemas dan penurunan berat badan. Penyebab penyakit parasit pada primata oleh cacing, antara lain Hyostrongylus rubidis, Trychostrongylus sp., Oesphagustomum sp., Trichuris sp., Strongyloides sp. dan Ascaridia sp.. Diagnosa dapat dilakukan dengan pengamatan pada tinja segar. Gejala yang sering terlihat adalah diare ringan hingga berat, seperti disentri. Parasit masuk ke tubuh inangnya dengan cara menelan langsung kista, melalui inang antara atau dengan cara tidak langsung melalui penetrasi kulit oleh parasit darah. Semua parasit dapat menjadi patogen ketika mekanisme kekebalan inang gagal, seperti pada saat stres, kebuntingan, kondisi menurun, tua atau penyakit (Mul et al. 2007). Beberapa parasit dapat pula menyebabkan penyakit yang bersifat zoonosis. 2.2 Protozoa 2.2.1 Morfologi Protozoa adalah organisme monoseluler dengan inti yang diselubungi oleh membran (selaput) atau eukaryotik. Protozoa tersusun dari organela-organela dan bukan organ karena mereka merupakan sel yang berdeferensiasi (Levine 1990). Protozoa berukuran mikroskopis dan bentuk tubuhnya bervariasi sesuai dengan jenis makanannya. Komponen dasar protozoa adalah inti dan sitoplasma. Inti protozoa memiliki berbagai bentuk, ukuran dan struktur. Komponen penting inti protozoa adalah membrana inti, kromatin, plastin dan nukleoplasma atau cairan inti. Secara struktural inti dibagi menjadi dua tipe, yaitu vesikuler dan kompak. Inti vesikuler terdiri dari membrana inti yang kadang-kadang sangat lembut tetapi jelas, nukleoplasma, akromatin dan kromatin. Disamping itu, badan intranuklear biasanya agak bulat dan tersusun dari kromatin, nukleolus atau plasmasoma. Sebaliknya inti kompak bersifat padat karena mengandung banyak substansi kromatin dan sedikit jumlah nukleoplasma (Tampubolon 2004).

Sitoplasma protozoa berisi bermacam-macam organel, antara lain retikulum endoplasma dan ribosom seperti pada sel eukaryotik lainnya. Pada mitokondrianya, krista berbentuk tubuler lebih banyak daripada yang berbentuk piringan seperti yang terdapat pada organisme tingkat tinggi serta organel yang lain seperti aparat golgi, vakuola kontraktil, vakuola makanan dan silia atau flagela (Tampubolon 2004). Protozoa bergerak dengan flagela, silia, pseudopodia dan selaput undulasi (Levine 1990). Alat gerak ini juga berguna dalam usaha mendapatkan makanan. 2.2.2 Reproduksi dan Siklus Hidup Reproduksi pada protozoa dapat terjadi secara seksual atau aseksual. Ada tiga tipe reproduksi aseksual, yaitu pembelahan biner, pembelahan multiple (skizogoni) dan tunas (budding). Pembelahan biner biasanya terdapat pada Amoeba, flagellata dan ciliata; inti membagi dua dan tubuh melakukan hal yang sama. Pada pembelahan skizogoni, inti membelah berulang-ulang, sitoplasma bergabung mengelilingi setiap inti, dan kemudian sitoplasma membelah (Levine 1990). Endodiogeni merupakan tipe istimewa dari pembelahan biner dimana dua sel anak terbentuk di dalam sel induk dan kemudian pecah keluar dengan merusakkannya. Endopoligeni merupakan tipe yang sama dengan skizogoni. Tipe ke-3 dari reproduksi aseksual adalah tunas, dimana sel anak yang kecil secara individu memisahkan dari sisi induk dan kemudian tumbuh menjadi berukuran penuh. Pembelahan inti yang vesikuler atau inti mikro biasanya melalui mitosis, sedangkan pembelahan inti makro secara amitosis (Levine 1990). Menurut Levine (1990) terdapat dua tipe reproduksi seksual yang terdapat pada protozoa, yaitu singami dan konjugasi. Singami adalah terbentuknya dua gamet haploid yang bergabung membentuk suatu zigot. Gamet-gamet yang mungkin mirip satu sama lain disebut isogami, sedangkan yang berbeda disebut anisogami. Pada anisogami, gamet yang lebih kecil adalah mikrogamet dan yang lebih besar disebut makrogamet. Gamet-gamet diproduksi oleh sel khusus (gamon), mikrogamet diproduksi oleh mikrogamon atau mikrogametosit dan makrogamet diproduksi oleh makrogamon atau makrogametosit. Proses

pembentukan gamet tersebut disebut dengan gametogoni. Pada konjugasi, dua individu dari spesies yang sama mendekat satu sama lain untuk tujuan pertukaran badan inti. Inti makro berdegenerasi dan inti mikro membelah beberapa kali. Salah satu bakal inti haploid hasil pembelahan ini beralih dari satu konjugan ke dalam konjugan lain. Kemudian konjugan-konjugan tersebut memisah, bakal inti bergabung dan terjadi regenerasi inti. Beberapa protozoa membentuk kista yang resisten terhadap lingkungan luar pada kondisi tertentu (Levine 1990). Protozoa menjadi kista pada kondisi suhu yang optimum, penguapan, perubahan ph, kandungan oksigen yang cukup dan kelembaban yang mendukung (Tampubolon 2004). 2.2.3 KIasifikasi Protozoa Protozoa diklasifikasikan menjadi lima kelompok utama, yaitu filum Sarcomastigophora (memiliki flagela, pseudopodia atau kedua tipe organel lokomosi, tidak membentuk spora), filum Apicomplexa (memiliki komplek apikal, tidak memiliki silia dan flagela, seringkali ada kista dan bersifat parasit), filum Microspora (memiliki spora, pada invertebrata dan vertebrata berderajat rendah), filum Myxospora (memiliki spora, parasit pada vertebrata berderajat rendah terutama ikan), dan filum Ciliophora (memiliki silia, hampir semua jenisnya hidup bebas) (Levine 1990).