BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN

dokumen-dokumen yang mirip
PENDEKATAN SISTEM DALAM MEMECAHKAN MASALAH DAN MEMBUAT KEPUTUSAN

BAB I TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II RUANG LINGKUP PERUSAHAAN. Pada awal 1990-an, pemerintah Indonesia mempertimbangkan perlunya

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

BAB IV HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN, DAN PEMECAHAN MASALAH. sepenuhnya dimiliki oleh PT PLN (Persero). PT Indonesia power (selanjutnya disebut

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO KONSENTRASI TEKNIK ELEKTRONIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA

PERENCANAAN SMARTGRID JARINGAN LISTRIK SUMBAGUT 150 KV MENGGUNAKAN SIMULINK MATLAB

BAB I PROFIL PT. INDONESIA POWER UBP KAMOJANG

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. PT. PLN Pembangkitan Tenaga Lisrik Jawa Bali I (PT. PLN PJB I) dan pada

Dibawah ini adalah pembahasan singkat tentang konsep-konsep pokok sistem informasi manajemen.

BAB III DESKRIPSI TEMPAT PLA DAN PELAKASANAAN PLA

SISTEM TENAGA LISTRIK

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

SEJARAH DAN STRUKTUR ORGANISASI PT INDONESIA POWER

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Setelah menjabarkan hal-hal yang melatar belakangi penelitian, teori-teori

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM 1.2 LATAR BELAKANG

BAB III DASAR TEORI. pembangkit-pembangkit tenaga listrik, jaringan transmisi dan jaringan distribusi

BAB I TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II TINJAUAN UMUM PT. PLN (PERSERO) UPJ BANDUNG UTARA

BAB II GAMBARAN UMUM PT. PLN ( PERSERO )

PT. PLN (PERSERO) RAYON KRIAN

BAB III TINJAUAN UMUM SISTEM SCADA DALAM KOMUNIKASI RADIO

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA TENGAH DAN D.I. YOGYAKARTA

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berbagai lokasi strategis di Indonesia yang dikelola melalui 5 unit

Bab III Profil Perusahaan

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA ( PERSERO )

BAB II DASAR TEORI. Sekelompok pusat listrik dan pusat beban (Gardu Induk) yang dihubungkan satu

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI SISTEM

BAB I PENDAHULUAN. untuk mencapai tujuannya secara maksimal. suatu Sistem Informasi yang sekaligus dapat memanajemen kegiatan-kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. BAB I Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. berbagai perusahaan Belanda yang bergerak di bidang pabrik gula, dan pabrik teh.

MODUL V-C PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS UAP (PLTGU)

Gambar 3.1 Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan organisasi adalah salah satu cara yang dilakukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. apabila terjadi gangguan di salah satu subsistem, maka daya bisa dipasok dari

BAB IV GAMBARAN SUBJEK PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

harus meliputi lima komponen yakni lingkungan pengendalian, penilaian risiko, informasi dan komunikasi, aktivitas pengendalian, serta pengawasan

BAB 3 ANALISIS PERUSAHAAN. 3.1 Sejarah PT. Indonesia Power Unit Bisnis Jasa Pemeliharaan

PERENCANAAN SMARTGRID JARINGAN LISTRIK SUMBAGUT 150 KV MENGGUNAKAN SIMULINK MATLAB

BAB II PROFIL INSTITUSI. A. Sejarah Ringkas PT PLN Unit Induk Pembangunan II Medan

Sistem Peringatan Dini Gangguan Komunikasi SCADA

Indikator Status Tenaga Listrik pada Pelanggan Listrik 3 Fasa Menggunakan Media Modem GSM

MODUL KULIAH SISTEM KENDALI TERDISTRIBUSI

Analisis Sistem yang Sedang Berjalan

BAB II PROFIL PT PLN ( PERSERO ) DISTRIBUSI JAKARTA RAYA DAN TANGERANG

BAB II PROFIL PERUSAHAAN. A. Sejarah Ringkas PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II

I. PENDAHULUAN. Salah satu peralatan yang sangat penting pada bagian distribusi yaitu

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tinjauan Terhadap Objek Studi PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. PT PLN (Persero) APD JATENG DAN DIY

BAB II PROFIL PERUSAHAAN

BAB II PROFIL PT PLN (PERSERO) UIP II MEDAN. PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan II (PLN UIP II) adalah

EVALUASI KINERJA SEKTOR PEMBANGKIT

1. IED berkomunikasi dengan Gateway menggunakan protokol standard

BAB III METODE STUDI SEKURITI SISTEM KETERSEDIAAN DAYA DKI JAKARTA & TANGERANG

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Pembangunan fisik PLTU ini dimulai sejak tahun 2001 (Lot I: Site Preparation).

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini, peran listrik sebagai salah satu bentuk energi sangat penting dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. ke seluruh wilayah Indonesia. Hal ini diatur dalam UU No 15 tahun Tentang Ketenaga-listrikan pada pasal 1 yang berbunyi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. bergerak di bidang jasa semakin ketat, hal ini ditunjukkan dengan peningkatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Zenny Jaelani, 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III AMR (AUTOMATIC METER READING )

DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL...

BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat 3.2. Alat dan Bahan 3.3. Metode Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. industri menggunakan PLC (Programmable Logic Controller) sebagai sistem

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi sekarang ini, kegiatan usaha

STIKOM SURABAYA BAB II. PROFIL PT PLN (Persero) DISTRIBUSI JAWA TIMUR. 2.1 Sejarah dan perkembangan Sejarah PLN

BAB I Pendahuluan 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

Session 11 Interconnection System

BAB I LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. atau masyarakat. Baik secara langsung maupun tidak langsung.

TUGAS AKHIR. Diajukan guna melengkapi sebagian syarat Dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) Disusun Oleh :

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Objek Penelitian Perusahaan Listrik Negara

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. bentuk dari logo perusahaan, visi dan misi perusahaan, serta budaya budaya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II GAMBARAN UMUM TEKNOLOGI INFORMASI PLN

4.2. Sistem Penerima Data Stasiun Cuaca HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Teknologi Ponsel Struktur Menu

Makalah Seminar Kerja Praktek ANALISIS SISTEM OPERASI DAN PRODUKSI PADA PT. INDONESIA POWER UBP MRICA SUB UNIT PLTA JELOK - SALATIGA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 3 ANALISA SISTEM YANG SEDANG BERJALAN

Makalah Seminar Kerja Praktik

BAB III METODE PENELITIAN. fenomena serta hubungan-hubunganya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah

1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

38 BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN 3. Sejarah PT. Indonesia Power Pada awal tahun 99an, pemerintah Indonesia mempertimbangkan perlunya deregulasi pada sektor ketenagalistrikan. Langkah arah deregulasi tersebut diawali dengan berdirinya Paiton Swasta I, yang dipertegas dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden no. 37 tahun 992 tentang pemanfaatan sumber daya swasta melalui pembangkit-pembangkit listrik swasta. Kemudian pada akhir tahun 993, Menteri Pertambangan dan Energi menerbitkan kerangka dasar kebijakan (sasaran dan kebijakan pengembangan sub sektor ketenagalistrikan) yang merupakan pedoman jangka panjang restrukturisasi sektor ketenagalistrikan. Sebagai penerapan tahap awal, pada 99 PLN diubah statusnya dari perum menjadi persero. Setahun kemudian, tepatnya pada 3 Oktober 99, PT.PLN (persero) membentuk dua anak perusahaan yang tujuannya untuk memisahkan misi sosial dan misi komersial yang diemban oleh Badan Usaha Milik Negara tersebut. Salah satu dari anak perusahaan itu adalah Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali I, atau lebih dikenal dengan PLN PJB I. Anak perusahaan ini ditujukan untuk menjalankan usaha komersial pada bidang pembangkitan tenaga listrik dan usaha-usaha lain yang terkait. Pada 3 Oktober 2, bertepatan dengan ulang tahunnya yang kelima, Manajemen Perusahaan secara resmi mengumumkan perubahan nama PLN PJB I menjadi Indonesia Power. Perubahan nama ini merupakan upaya untuk menyikapi persaingan yang semakin ketat dalam bisnis ketenagalistrikan dan

39 sebagai persiapan untuk privatisasi perusahaan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Walaupun sebagai perusahaan komersil dibidang pembangkitan baru didirikan pada pertengahan 99an, Indonesia Power mewarisi berbagai aset berupa pembangkit dan fasilitas-fasilitas pendukungnya. Pembangkit-pembangkit tersebut memanfaatkan teknologi modern berbasis komputer dengan menggunakan berbagai energi primer seperti air, batubara, panas bumi dan sebagainya. Namun demikian dari pembangkitpembangkit tersebut ada pula pembangkit paling tua Indonesia seperti PLTA Plengan, PLTA Ubrug, PLTA Ketenger dan sejumlah PLTA lainnya yang dibangun pada tahun 92an dan sampai sekarang masih beroperasi. Dari sini dapat dipandang bahwa secara kesejarahan paa dasarnya usia PT Indonesia Power sama dengan keberadaan listrik di Indonesia. Pembangkit-pembangkit yang dimiliki oleh Indonesia Power dikelola dan dioperasikan oleh delapan unit bisnis pembangkit: Priok, Suralaya, Saguling, Kamojang, Mrica, Semarang, Perak dan Grati & Bali. Secara keseluruhan, Indonesia Power memiliki kapasitas sebesar 738 MW ini merupakan kapasitas terpasang terbesar yang dimiliki oleh perusahaan pembangkitan di Indonesia. 3.2 Profil Perusahaan 3.2. Visi, Misi, Motto dan Paradigma Perusahaan Visi Menjadi perusahaan publik dengan kinerja kelas dunia dan bersahabat dengan lingkungan

Misi Melakukan usaha dalam bidang ketenagalistrikan serta mengembangkan usaha-usaha lainnya yang berkaitan, berdasarkan kaidah industri dan niaga yang sehat, guna menjamin keberadaan dan pengembangan perusahaan dalam jangka panjang. Motto Bersama...kita maju! Paradigma Hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok lebih baik dari hari ini. 3.2.2. Tujuan Perusahaan Menciptakan mekanisme peningkatan efisiensi yang terus menerus dalam penggunaan sumber daya perusahaan. Meningkatkan pertumbuhan perusahaan secara berkesinambungan dengan bertumpu pada usaha penyediaan tenaga listrik dan sarana penunjang yang berorientasi pada permintaan pasar yang berwawasan lingkungan. Menciptakan kemampuan dan peluang untuk memperoleh pendanaan dari berbagai sumber yang menguntungkan. Mengoperasikan pembangkit tenaga listrik secara kompetitif serta mencapai standar kelas dunia dalam hal keamanan, kehandalan, efisiensi maupun kelestarian lingkungan.

3.2.3. Profil Unit Bisnis Pembangkit Priok Untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah Jawa Barat dan Jakarta, pada akhir tahun 96an dibangun dua pembangkit listrik tenaga uap yang masing-masing berkapasitas 2 MW yang bernama PLTU- dan PLTU-2. Selanjutnya, pada tahun 972 dibangun lagi 2 unit PLTU dengan kapasitas masing-masing MW, yang diberi nama PLTU-3 dan PLTU-. sejak tahun 989, PLTU- dan PLTU-2 tidak dioperasikan lagi karena dianggap tidak efisien. Sesuai dengan kebutuhan energi listrik, maka pada pertengahan tahun 97an, Perusahaan Listrik Negara membangun beberapa pembangkit, diantaranya ialah 7 unit Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), dengan kapasitas yang beragam, yaitu 2- MW. Akan tetapi, pada awal tahun 99an, kebutuhan akan listrik terus meningkat seiring dengan perkembangan ekonomi Indonesia yang cukup pesat. Untuk menangani masalah tersebut, maka PLN membangun lagi beberapa buah Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) secara bersamaan. Salah satunya ialah komplek PLTGU Priok yang berada dalam pengelolaan UBP Priok.

2 3.2.. Susunan Organisasi Unit Bisnis Pembangkitan Priok Susunan Organisasi Unit Bisnis Pembangkitan Priok terdiri atas: Unsur Pimpinan : General Manager Unsur Pelaksana Operasional :. Manajer Operasi dan Niaga 2. Manajer Pemeliharaan 3. Manajer Logistik. Manajer Sistem dan SDM. Manajer Humas 6. Manajer Keuangan Unsur Pengawasan : Auditor 3.2.. Peranan UBP Priok Dalam Sistem Kelistrikan Jawa-Bali Listrik yang dibangkitkan di UBP priok adalah sebesar 7... KWh pertahun, atau rata-rata 2.. KWH per harinya dan jumah itu menyumhang % dari jumlah keseluruhan kebutuhan listrik Jawa-Bali. Daya sebesar itu disalurkan ke gardu induk KV dengan menggunakan kabel bawah tanah (underground cable) KV, yaitu ke GI Plumpang dan GI Ancol. Akan tetapi pada saat sekarang ini, kabel bawah tanah ke arah GI Plumpang telah rusak, sehingga untuk penyalurannya digantikan dengan menggunakan hantaran udara. Selain itu, hantaran udara KV juga digunakan untuk menyalurkan daya ke arah GI Kemayoran dan GI Pegangsaan. Dari GI-GI tersebut sistem pembangkit menjadi terinterkoneksi dengan Jawa-Bali. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada diagram berikut ini.

3 Gambar 3. : Diagram Satu Baris Unit Pembangkitan Priok 3.3 Orientasi Sistem Tata Laksana/Prosedur yang Sedang Berjalan Secara prinsip, pengiriman dan penerimaan data PLTGU dalam bentuk SMS ini sama dengan di seluler, yakni data-data berasal dari unit pada blok (unit /GT., unit 2/GT.2, unit 3/GT.3) dan blok 2 (unit /GT 2., unit /GT 2.2, unit 6/GT 2.3)yang berupa temperature, vibrasi dan beban (MW) didapat melalui converter device unit PLTGU dalam bentuk analog dengan keluaran sinyal -2 ma. Sinyal dari converter device ini terbagi dalam dua macam port, yakni port controller dan port recorder. Sebenarnya SCADAPack ini memiliki kemampuan berinteraksi dengan port kontroller secara aktif dalam bentuk

remote, karena sistemnya telah dilengkapi dengan Remote Terminal Unit (RTU). Sinyal dari port recorder convertion device ini kemudian ditransmisikan oleh SmartWire tanpa mengubah nilainya (-2mA). Dari input point to point (GT., GT.2, GT.3, GT 2., GT 2.2, GT 2.3) kemudian dikoreksi agar dapat dibaca sistem protokol ModBUS dengan perantara kabel RS-8. Data dari masing-masing blok yang terkumpul di setiap SmartWire kemudian dilewatkan protokol ModBUS agar dapat dikenali sebagai sebuah pesan, yang dapat dijalankan secara interaktif dan dibaca sebagai analog input oleh SCADAPack32 (dalam kode ma) melalui kabel RS-8. Pemilihan kabel RS-8 ini dilakukan dengan pertimbangan memiliki kemampuan transfer data yang cepat pada jarak yang tergolong jauh dan juga kemampuan mengoleksi data secara simultan. Dalam SCADAPack ini, semua data yang diambil dari protokol ModBUS kemudian diolah oleh prosesor internal sekaligus dikonversikan ke dalam sinyal digital. Digital output ini kemudian ditransmisikan oleh kabel RS-232 menuju PC server, yang selanjutnya menampung data keluaran unit secara realtime. Dalam PC server inilah sebenarnya proses monitoring dilakukan sesuai keinginan user, dengan kata lain kustomisasi dan fleksibilitas data bisa disetting. Pada kondisi saat ini data di dalam database akan tertimpa data baru (overwriting) setiap 6 menit sekali sesuai setting. Dengan bantuan GSM modem web server akan mendistribusikan informasi data unit ke ponsel. Dan bila terdapat parameter pada data unit yang melebihi batasan tertentu sesuai setting SMS web server ini secara otomatis akan menarik data di dalam database PC server. Misalnya untuk data vibrasi

vertikal bantalan turbin gas, web server akan menarik data dari database, jika terdapat data vibrasi vertikal yang melebihi 8 mm/sec pada bearing turbin. Maka data akan langsung terdistribusi secara otomatis ke ponsel dan pop up ke client computer. 3. Konfigurasi SMS Alert System yang sedang berjalan Gambar 3.2 : Konfigurasi SMS Alert System

6 3.. Ladder Logic Network yang sedang digunakan Gambar 3.3. : Ladder Logic Network

Gambar 3.3.2 : Ladder Logic Network 2 7

8 Gambar 3.3.3 : Ladder Logic Network 3 Gambar 3.3. : Ladder Logic Network

9 Gambar 3.3. : Register pada Ladder Logic Network 3. Permasalahan yang Dihadapi Permasalahan terdapat pada proses telemonitoring, dimana output dari display untuk GT.2,GT.3,GT 2.,GT 2.2,GT 2.3,ST. & ST 2. tidak berjalan dengan benar setelah sistem berjalan selama tiga hari dan selanjutnya pada saat sistem dijalankan. Proses monitoring baru akan berjalan dengan normal setelah keseluruhan sistem di reset. 3.6 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan pada PT. INDONESIA POWER yang terletak di Jl. Laks.Laut RE. Martadinata Jakarta, dan penelitian ini dilakukan sejak tanggal 3 Maret 26 hingga Mei 26.

3.7 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data adalah dengan menggunakan instrumen kuisioner tertutup. Data yang ada digunakan untuk mengetahui kepuasan pengguna di PT INDONESIA POWER. Kuisioner yang ada terdiri dari dua bagian. Dimana pada bagian pertama kuisioner user diminta mengisi beberapa pernyataan mengenai kinerja pada SMS Alert System yang digunakan, dan pada bagian kedua user diminta mengisi pernyataan tentang harapan user terhadap SMS Alert System yang digunakan. Dalam pengukurannya digunakan Skala Likert dengan rentang jawaban -, dimana data yang ada merupakan data ordinal. Untuk menilai kinerja yang ada diwakili dengan nilai yang bermakna sangat kurang hingga dengan nilai yang bermakna sangat baik. Sedangkan untuk menilai harapan terhadap sistem aplikasi yang digunakan diwakili dengan nilai yang bermakna sangat tidak perlu hingga nilai yang bermakna sangat perlu (tabel 3.a dan 3.b) Bobot Keterangan Sangat 2 3 Sangat Tabel 3. a: Skala Kinerja Bobot Keterangan Sangat Tidak Perlu 2 Perlu 3 Perlu Perlu Sangat Perlu Tabel 3.b : Skala Harapan

Berikut ini adalah frekuensi dari data yang terkumpul, yang didapat dari kuesioner berdasarkan kinerja suatu sistem yang sedang berjalan. Kinerja Soal Pernyataan Pilihan Jawaban Jumlah Persentase Secara umum desain menarik perhatian (eye catching) 6 6 2 Informasi yang dihasilkan mudah dimengerti 6 2 6 2 Informasi yang dihasilkan jelas 3 dan akurat dalam mendukung kegiatan 2 2 Data ditampilkan sesuai kebutuhan 3 2 3 2

2 Data output turbin adalah benar dan yang terkini 7 3 7 3 6 Tidak memuat hal-hal yang tidak perlu 7 Pesan kesalahan yang ada mudah dimengerti 3 3 Sistem yang ada dapat 8 dikembangkan sesuai kebutuhan 3 3 user 9 Istilah yang digunakan dapat dipahami oleh user dengan baik

3 Penggunaan software menghemat waktu dan biaya 6 6 Penggunaan software user friendly Informasi tentang Lokasi 2 terjadinya kesalahan dapat 3 3 diketahui 2 2 Transmisi data guna mendapat 6 6 3 informasi berlangsung secara cepat Terdapat keterbatasan akses (hanya bisa diakses pada bagian tertentu) 3 3

Setiap user dapat menggunakan sistem yang ada sesuai dengan keterbatasan akses 6 Prosedur dalam penggunaan mudah dipahami 7 Data tetap terjaga walau terdapat kegagalan sistem 8 Terdapat back up terhadap data yang ada 9 Data terjaga kerahasiaanya

2 Password menjamin keamanan akses Tabel 3.2 : Frekuensi Kinerja Sumber : Data Hasil Kuesioner 3.8 TEKNIK ANALISA MASALAH PADA SISTEM Suatu pendekatan sistematis untuk pemecahan masalah telah diciptakan yang terdiri dari tiga jenis usaha, yaitu : Persiapan Definisi Solusi Dalam mempersiapkan pemecahan masalah, hal-hal yang perlu dipahami adalah lingkungan sistem dan identifikasi setiap subsistem. Dalam mendefinisikan masalah, analisa bergerak dari tingkat sistem ke subsistem dan menganalisis bagian-bagian sistem menurut suatu urutan tertentu. Dalam memecahkan masalah dilakukan identifikasi berbagai solusi altenatif, mengevaluasinya, memilih yang terbaik, menerapkannya, dan membuat tindak lanjut untuk memastikan bahwa solusi itu berjalan sebagai mana mestinya.

6 3.8. PEMECAHAN MASALAH Dengan kenyataan tersebut, kita mendefinisikan masalah sebagai suatu kondisi yang memiliki potensi untuk menimbulkan kerugian luar biasa atau menghasilkan keuntungan luar bisa. Jadi pemecahan masalah berarti tindakan memberi respon terhadap masalah untuk menekan akibat buruknya atau memanfaatkan peluang keuntungannya. Pentingnya pemecahan masalah bukan didasarkan pada jumlah waktu yang dihabiskan tetapi pada konsekuensinya. Keputusan adalah pemilihan suatu strategi atau tindakan. Pengambilan keputusan adalah tindakan memilih strategi atau aksi yang diyakini akan memberikan solusi terbaik atas masalah tersebut. Salah satu kunci pemecahan masalah adalah identifikasi berbagai alternatif keputusan. Solusi bagi suatu masalah harus mendayagunakan sistem untuk memenuhi tujuannya, seperti tercermin pada standar kinerja sistem. Standar ini menggambarkan keadaan yang diharapkan, apa yang harus dicapai oleh sistem. Yang harus dimiliki selanjutnya adalah informasi yang terkini, informasi itu menggambarkan keadaan saat ini, apa yang sedang dicapai oleh sistem. Jika keadaan saat ini dan keadaan yang diharapkan sama, tidak terdapat masalah sehingga tidak perlu diambil tindakan. Jika kedua keadaan itu berbeda, sejumlah masalah merupakan penyebabnya dan harus dipecahkan. Perbedaan antara keadaan saat ini dan keadaan yang diharapkan menggambarkan kriteria solusi (solution criterion), atau apa yang

7 diperlukan untu mengubah keadaan saat ini menjadi keadaan yang diharapkan. Setelah berbagai alternatif diidentifikasi, sistem informasi dapat digunakan umtuk mengevaluasi tiap alternatif. Evaluasi ini harus mempertimbangkan berbagai kendala (constraints) yang mungkin, baik intern maupun extern / lingkungan.. Kendala intern yang berasal dari komponen-komponen sistem itu sendiri. 2. Kendala lingkungan dapat berupa tekanan dari berbagai elemen lingkungan, seperti : cuaca, suhu dan lain sebagainya. Gejala adalah kondisi yang dihasilkan oleh masalah. Gejala dapat diperhatikan melalui lingkaran umpan balik. Namun gejala tidak mengungkapkan seluruhnya, bahwa suatu masalah adalah penyebab dari suatu persoalan, atau penyebab dari suatu peluang. 3.8.2 STRUKTUR MASALAH Masalah terstruktur terdiri dari elemen-elemen dan hubunganhubungan antar elemen yang semuanya dipahami oleh pemecah masalah. Masalah tak terstruktur berisikan elemen-elemen atau hubungan-hubungan antar elemen yang tidak dipahami oleh pemecah masalah. Sebenarnya dalam suatu sistem sangat sedikit permasalahan yang sepenuhnya terstruktur atau sepenuhnya tidak terstruktur. Sebagaian besar masalah adalah masalah semi-terstruktur, dimana kurangnya pemahaman mengenai elemen-elemen dan hubungannya. Masalah semi-terstruktur adalah masalah yang berisi sebagian

8 elemen-elemen atau hubungan yang dimengerti oleh pemecah masalah. 3.8.3 PENDEKATAN SISTEM Proses pemecahan masalah secara sistematis bermula dari John Dewey, seorang profesor filosofi di Columbia University pada awal abad ini. Dalam bukunya tahun 9, ia mengidentifikasi tiga seri penilaian yang terlibat dalam memecahkan masalah suatu kontroversi secara memadai yaitu:. Mengenali kontroversi 2. Menimbang klaim alternatif 3. Membentuk penilaian Kerangka kerja yang dianjurkan untuk penggunaan komputer dikenal sebagai pendekatan sistem. Serangkaian langkah-langkah pemecahan masalah yang memastikan bahwa masalah itu pertamatama dipahami, solusi alternatif dipertimbangkan, dan solusi yang dipilih bekerja. 3.8. TAHAP PEMECAHAN MASALAH Dalam memecahkan masalah terdapat tiga jenis usaha yang harus dilakukan, yaitu usaha persiapan, usaha definisi, dan usaha solusi / pemecahan. Usaha persiapan, persiapan memecahkan masalah dengan menyediakan orientasi sistem. Tiga langkah persiapan tidak harus dilaksanakan secara berurutan, karena ketiganya bersama-sama menghasilkan kerangka pikir yang diinginkan untuk mengenai masalah. Ketiga masalah itu terdiri dari:

9 a. Mengenal lingkungan internal sistem b. Mengenal lingkungan eksternal sistem c. Mengidentifikasikan subsistem-subsistem perusahaan Usaha definisi mencakup mengidentifikasikan masalah untuk dipecahkan dan kemudian memahaminya. Usaha definisi mencakup dua langkah yaitu : a. Bergerak dari tingkat sistem ke subsistem b. Menganalisis bagian-bagian sistem dalam sustu urutan tertentu Usaha solusi, mencakup mengidentifikasikan berbagai solusi alternatif, mengevaluasinya, memilih salah satu yang tampaknya terbaik, menerapkan solusi itu dan membuat tindak lanjutnya untuk menyakinkan bahwa masalah itu terpecahkan.