SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

dokumen-dokumen yang mirip
Ketika Budaya Sasi Menjaga Alam Tetap Lestari

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

II. TinjauanPustaka A. Definisi Sasi

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

Hasil dan Pembahasan

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

EKONOMI KELEMBAGAAN UNTUK SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN. TOPIK: Pengelolaan SDAL berbasis Masyarakat (Community Based-Natural Resources Management)

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sumber daya alam merupakan titipan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaikbaiknya

BAB I PENDAHULUAN. Cisolok Kabupaten Sukabumi Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.edu

BAB I PENDAHULUAN. karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di

PEMANFAATAN KEARIFAN LOKAL SASI DALAM SISTEM ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DI RAJA AMPAT

BAB I PENDAHULUAN. besar di dalam suatu ekosistem. Hutan mampu menghasilkan oksigen yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. Pendeta Karel Burdam 1) Apa makna dan manfaat sasi? Sasi itu merupakan suatu larangan untuk mengambil/memanen sebelum waktunya (buka sasi)

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

mendorong menemukan pasar untuk produk yang sudah ada dan mendukung spesies-spesies lokal yang menyimpan potensi ekonomi (Arifin et al. 2003).

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut menjadi isu yang sangat penting untuk

[Type the document subtitle]

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. (1968) disebut sebagai tragedi barang milik bersama. Menurutnya, barang

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

Keywords: Existence, Public Participation, Environment Management, Sasi

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN

VOLUNTARY NATIONAL REVIEW (VNR) TPB/SDGs TAHUN 2017 TUJUAN 14 EKOSISTEM LAUTAN

GUBERNUR MALUKU KEPUTUSAN GUBERNUR MALUKU NOMOR 387 TAHUN 2016 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan dalam keperluan sehari-hari dan adat suku bangsa. Studi etnobotani

BAB I PENDAHULUAN. Kekayaan budaya itu tersimpan dalam kebudayaan daerah dari suku-suku bangsa yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan, luas wilayah lautnya lebih besar

BAB I PENDAHULUAN. untuk mendorong peran dan membangun komitmen yang menjadi bagian integral

BAB I. PENDAHULUAN. pulau-nya dan memiliki garis pantai sepanjang km, yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam, termasuk di

CURRICULUM VITAE IDENTITAS DIRI

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Kekayaan hayati tersebut bukan hanya

BAB I PENDAHULUAN. pada pulau. Berbagai fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial budaya dari

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Rawa adalah wadah air beserta air dan daya air yan

PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAROS NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN, PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE

Belajar dari Kebersahajaan Masyarakat Adat Asmat: Hutan Adalah Ibu

KONSERVASI BERBASIS KEARIFAN LOKAL (STUDI KASUS: SASI DI KABUPATEN RAJA AMPAT)

VII. PERSEPSI MASYARAKAT KASEPUHAN SINAR RESMI TERHADAP PERLUASAN KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK (TNGHS)

UPAYA PEMELIHARAAN LINGKUNGAN OLEH MASYARAKAT DI KAMPUNG SUKADAYA KABUPATEN SUBANG

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Mahluk hidup memiliki hak hidup yang perlu menghargai dan memandang

MODEL IMPLENTASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN MANGROVE DALAM ASPEK KAMANAN WILAYAH PESISIR PANTAI KEPULAUAN BATAM DAN BINTAN.

BAB I PENDAHULUAN. mahluk hidup, termasuk manusia. Penggunaan air oleh manusia sangat beraneka

GUBERNUR MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN TELUK DI PROVINSI MALUKU

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan

Nama WAKATOBI diambil dengan merangkum nama. ngi- wangi, Kaledupa. dan Binongko

REUSAM KAMPUNG BENGKELANG KECAMATAN BANDAR PUSAKA KABUPATEN ACEH TAMIANG NOMOR : TAHUN 2010

Lampiran 3. Interpretasi dari Korelasi Peraturan Perundangan dengan Nilai Konservasi Tinggi

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

REUSAM KAMPUNG KALOY. No : Tahun 2010 TENTANG PERATURAN KAMPUNG (REUSAM) TENTANG PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM / ADAT MERAGREH UTEN

HAK-HAK KONSTITUSIONAL MASYARAKAT ADAT ATAS SUMBERDAYA ALAM DI WILAYAH LAUT DAN PESISIR. Oleh : Jantje Tjiptabudy. Abstract

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI KECAMATAN RANGSANG BARAT DESA BOKOR PERATURAN DESA NOMOR 18 TAHUN 2015

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kata kunci : sanitasi lingkungan, pemukiman nelayan, peran serta masyarakat

I. PENDAHULUAN. (MacKinnon, 1997). Hakim (2010) menyebutkan, hutan tropis Pulau Kalimantan

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 04 TAHUN 2002 TENTANG LARANGAN DAN PENGAWASAN HUTAN MANGROVE DI KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SASI TERIPANG: UPAYA KONSERVASI DALAM MEMBANGUN DESA PESISIR. Akhmad Solihin

PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER-SUMBER IKAN DI ZONA EKONOMI EKSKLUSIF ANTAR NEGARA ASEAN

PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI

ABSTRAK PENDAHULUAN. Penetapan Daerah Perlindungan Laut (DPL) ini tujuan untuk melindungi

PENDAHULUAN. peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, pembangunan dan

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sektor kelautan memiliki peluang yang sangat besar untuk dijadikan

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan salah satu sumber daya alam yang mutlak diperlukan bagi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. kaum tua, dan lambat laun mulai ditinggalkan karena berbagai faktor penyebab.

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

V KEBERGANTUNGAN DAN KERENTANAN MASYARAKAT TERHADAP SUMBERDAYA DANAU

PENGELOLAAN TERUMBU KARANG BERBASIS MASYARAKAT (Studi Kasus Kepulauan Seribu)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU

REUSAM KAMPUNG BATU BEDULANG KECAMATAN BANDAR PUSAKA KABUPATEN ACEH TAMIANG NOMOR : 147 TAHUN 2010

I. PENDAHULUAN. 16,9 juta ha hutan mangrove yang ada di dunia, sekitar 27 % berada di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN km dan ekosistem terumbu karang seluas kurang lebih km 2 (Moosa et al

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pendahuluan 1. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

pengembangan pariwisata di kampung Sawinggrai bisa dijadikan sebagai buktinya.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

Bab V Kesimpulan Dan Saran. kabupaten Maluku Tenggara Barat provinsi Maluku. Ijin pengelolaan disahkan

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. kesempatan untuk tumbuhan mangrove beradaptasi (Noor dkk, 2006). Hutan

Transkripsi:

ISBN : 978-602-97522-0-5 PROSEDING SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II Konstribusi Sains Untuk Pengembangan Pendidikan, Biodiversitas dan Metigasi Bencana Pada Daerah Kepulauan SCIENTIFIC COMMITTEE: Prof. H.J. Sohilait, MS Prof. Dr. Th. Pentury, M.Si Dr. J.A. Rupilu, SU Drs. A. Bandjar, M.Sc Dr.Ir. Robert Hutagalung, M.Si FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON, 2010 i

KEEFEKTIFAN KEARIFAN TRADISIONAL SEBAGAI UPAYA KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM: EVALUASI PERATURAN DAN PELAKSANAAN SASI DI NEGERI HARUKU KABUPATEN MALUKU TENGAH Evelin Tuhumuri Jurusan Biologi Fakultas Matematika Universitas Pattimura ABSTRAK Kearifan masyarakat tradisional dalam mengelola sumberdaya alam dianggap sebagai suatu usaha konservasi tradisional. Negeri Haruku merupakan salah satu negeri di Maluku yang masih melaksanakan budaya sasi. Namun pada dekade belakangan ini praktik sasi tersebut tidak memberikan hasil yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan peraturan dan pelaksanaan sasi sumberdaya alam di Negeri Haruku. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sasi sebagai kearifan tradisional lebih mengarah kepada usaha pemenuhan kebutuhan ekonomi atau konsumsi masyarakat, prinsip konservasi di dalam peraturan dan pelaksanaan sasi di Negeri Haruku masih lemah atau keefektifan sistem sasi untuk konservasi sumberdaya alam masih rendah, perlu dukungan yang kuat dari pemerintah Negeri Haruku terhadap sasi dan lembaga kewang, dan perlu pengembangan sistem sasi untuk meningkatkan nilai konservasinya. Kata kunci: Sasi, keefektifan sistem sasi, konservasi PENDAHULUAN Konservasi berbasis masyarakat (community based consevation) menjadi suatu tren yang ramai dibicarakan dan digalakkan pada dekade terakhir ini. Pengetahuan dan kearifan tradisional melalui lembaga adat dianggap sebagai suatu usaha masyarakat tradisional dalam mengkonservasi sumberdaya alamnya. Namun banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan tradisional tersebut pada kenyataannya tidak mampu bertahan karena berbagai pengaruh dari luar. Hal ini terbukti dengan adanya penurunan hasil sumberdaya alam masyarakat tradisional. Banyak faktor yang mempengaruhi upaya konservasi masyarakat tradisional dan penurunan hasil sumberdaya alamnya, yaitu antara lain pertambahan populasi penduduk, perkembangan sosial budaya dan teknologi yang pesat, serta kebijakan pemerintah yang telah mengambil alih secara langsung pengelolaan sumberdaya alam yang ada di dalam wilayah masyarakat tradisional. PROSEDING Hal. 155

Sasi sebagai suatu bentuk pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara tradisional telah lama dikenal dan digunakan secara luas di daerah Maluku. Sasi dianggap sebagai suatu upaya pelestarian sumberdaya alam, atau suatu bentuk konservasi tradisional yang baik untuk dilakukan. Anggapan bahwa sasi adalah suatu bentuk konservasi sumberdaya alam perlu dikaji lebih dalam berdasarkan obyek sasi itu sendiri. Banyak pihak masih terus memperdebatkan tujuan dan fungsi sasi dalam pengelolaan dan konservasi sumberdaya alam. Tidak diketahui dengan jelas kapan praktik sasi mulai dilakukan, namun legenda masyarakat menunjukkan bahwa sasi telah mulai dilaksanakan pada abad ke empat belas (Novaczek et al., 2001). Sasi memuat peraturan-peraturan tertentu yang berhubungan dengan pemeliharaan sumberdaya alam dan suatu cara untuk menjaga agar hasil dari suatu sumberdaya alam, baik di daratan maupun di lautan, dapat dipanen pada waktu yang tepat. Dapat dikatakan bahwa sasi adalah suatu aturan di Maluku yang didasarkan pada tradisi untuk mengontrol tanah, laut dan eksploitasi sumberdaya alamnya. Dalam perkembangannya, praktik sasi mengalami pasang surut dan berbagai kendala yang menyebabkan beberapa daerah di Maluku tidak lagi melaksanakan budaya sasi (Kissya, 1993, Antariksa dkk, 1993). Negeri Haruku merupakan salah satu negeri yang masih melaksanakan budaya sasi. Salah satu sasi yang terkenal adalah sasi ikan lompa, yang merupakan hasil unggulan dari Negeri Haruku. Namun pada dekade belakangan ini praktik sasi tersebut tidak memberikan hasil yang memuaskan. Hasil dari sumberdaya alam yang disasi terus mengalami penurunan secara kuantitas. Kissya (2000) menyatakan bahwa peran lembaga kewang yang dikuasakan sebagai pelaksana sasi atau pengelola sumberdaya alam, juga semakin lemah akibat kurangnya dukungan terhadap lembaga adat tersebut. Dalam upaya pengembangan nilai sistem sasi, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan peraturan dan pelaksanaan sasi sumberdaya alam di Negeri Haruku. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Negeri Haruku Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan sasi di Negeri Haruku. Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara setengah terstruktur. Dalam wawancara ini dipilih sejumlah narasumber kunci yang PROSEDING Hal. 156

terdiri atas pemerintah negeri setempat, tokoh adat, kewang dan masyarakat. Dalam teknik wawancara ini digunakan prinsip triangulasi untuk membandingkan informasi dari narasumber yang satu dengan informasi dari narasumber lainnya (Mitchell dkk, 2003). HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah dan Arti Sasi di Negeri Haruku Sejarah sasi di Negeri Haruku tidaklah jelas. Namun seluruh narasumber menyatakan bahwa sasi di Negeri Haruku telah dimulai sejak jaman nenek moyang mereka, yaitu lebih kurang sejak tahun 1600-an. Pelaksanaan sasi di Negeri Haruku sempat terhenti beberapa waktu, namun kemudian diaktifkan kembali sejak tahun 1979. Sasi di Negeri Haruku diartikan sebagai larangan untuk mengambil sumberdaya alam tertentu sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya alam tersebut. Larangan ini juga menyangkut pengaturan hubungan manusia dengan alam dan antar manusia dalam wilayah yang dikenakan larangan tersebut. Oleh karena itu, sasi pada hakekatnya juga merupakan suatu upaya untuk memelihara tata krama hidup bermasyarakat, termasuk upaya ke arah pemerataan pembagian hasil sumberdaya alam kepada seluruh warga. Seluruh narasumber mengetahui arti kata sasi adalah larangan mengambil hasil alam baik yang ada di darat maupun di laut. Sistem sasi disetujui oleh narasumber karena menjamin ketersediaan sumberdaya alam baik di darat maupun di lautan. Jenis Sasi dan Peraturannya di Negeri Haruku Pada awalnya di Negeri Haruku hanya di kenal satu jenis sasi yaitu sasi adat. Pelaksana sasi tersebut adalah lembaga adat, yang dalam hal ini adalah kewang. Dalam perkembangannya, sasi di Negeri Haruku telah mengalami perubahan. Sasi beberapa sumberdaya alam tertentu seperti kelapa dan cengkih, telah beralih statusnya dari sasi adat menjadi sasi gereja. Peraturan dan mekanisme sasi untuk jenis kelapa dan cengkih diatur oleh gereja. Dengan demikian saat ini di Negeri Haruku terdapat dua sistem sasi yaitu sasi adat dan sasi gereja. Dalam sasi adat terdapat empat jenis sasi, yaitu sasi laut, sasi kali (sungai), sasi hutan dan sasi dalam negeri (dalam kampung). Sementara sasi gereja hanya diberlakukan terhadap hasil pertanian masyarakat yaitu kelapa dan cengkih. PROSEDING Hal. 157

Peraturan sasi adat yang berlaku pada saat ini adalah peraturan sasi yang sudah ada sejak dulu, yang ditetapkan kembali dengan beberapa tambahan ketentuan baru untuk mengantisipasi perkembangan zaman saat ini. Peraturan dari ke empat jenis sasi di Negeri Haruku selalu dibacakan setiap tahun, namun saat ini pembacaan peraturan sasi tersebut hanya dilakukan bila ada sasi ikan lompa. Jika ikan lompa tidak masuk ke sungai Learisa Kayeli maka peraturan-peraturan sasi tersebut tidak dibacakan. Peraturan sasi laut memuat batas-batas wilayah sasi di laut, larangan dan aturan penangkapan ikan lompa dan jenis ikan lainnya. Peraturan sasi kali atau sungai memuat batas-batas area sasi di sungai, aturan penggunaan sungai oleh masyarakat baik untuk mandi, mencuci, mengambil air minum, penggunaan perahu motor dan penebangan pohon di tepi sungai. Peraturan sasi hutan berisikan larangan pengambilan buah-buahan yang masih muda dan aturan penebangan pohon. Sementara peraturan sasi dalam negeri atau kampung berisikan aturan mengenai aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan tata karma sebagai warga masyarakat. Pemberian sanksi juga diberlakukan bagi masyarakat yang melalukan pelanggaran terhadap peraturan-peraturan sasi. Sanksi yang tertulis dalam aturan sasi adat yaitu dengan membayar sejumlah uang sesuai dengan ketentuan. Sementara masyarakat yang melanggar peraturan sasi gereja biasanya menderita sakit tertentu yang dianggap sebagai sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukannya. Penyelesaian sanksi tersebut dilakukan oleh pihak gereja. Berdasarkan hasil penelitian terhadap peraturan sasi maka jenis sumberdaya alam yang disasi di Negeri Haruku adalah ikan lompa, karang laut, pohon penghasil kayu, pohon sagu, kelapa, cengkih, tumbuhan penghasil buah-buahan yang dimanfaatkan oleh masyarakat seperti nenas, kenari, cempedak, durian dan pinang. Sasi dan Sistem Pemerintahan Negeri Sebanyak 76,47% narasumber dari masyarakat Negeri Haruku menyatakan bahwa kurangnya dukungan pemerintah negeri terhadap lembaga kewang yang mempunyai wewenang penuh terhadap pelaksanaan sasi adat di Haruku, telah menurunkan nilai dari arti sasi itu sendiri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan kewang masih sangat terbatas dan sifatnya hanya meneruskan tradisi yang berlaku serta tanggungjawab untuk melestarikan budaya nenek moyang mereka. Peranan kewang perlu dikembangkan agar PROSEDING Hal. 158

sistem sasi yang dilaksanakannya dapat memenuhi kebutuhan konservasi sumberdaya alam. Kewang perlu dilengkapi dengan pengetahuan yang memadai tentang faktor biologi dan ekologi dari sumberdaya alam yang disasi. Kurangnya dukungan pemerintah Negeri Haruku terhadap budaya sasi juga telah menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat pada keseriusan pemerintah negeri dalam mengelola budaya tersebut dan kelangsungannya dimasa yang akan datang. Masyarakat menginginkan agar arti dan pelaksanaan sasi dapat dikembalikan pada posisinya yang semula. Pemerintah negeri mempunyai tanggungjawab yang besar dalam rangka suksesnya pelaksanaan sasi di Negeri Haruku. Bila hal ini dibiarkan berlarut, dikhawatirkan pada suatu saat nanti budaya sasi seperti sasi ikan lompa akan hilang seperti yang terjadi pada sasi di beberapa negeri lainnya di wilayah Maluku. Sasi dan Arti Konservasi SDA Sasi dapat dikatakan sebagai kearifan tradisional yang mengarah kepada konservasi atau dasar konservasi yang baik, namun aturan-aturan yang ada dalam sasi itu sendiri belum memadai untuk maksud konservasi sumberdaya alam yang sebenarnya. Peraturan sasi yang ada di Negeri Haruku saat ini perlu penambahan atau pun perbaikan guna peningkatan nilai sasi itu sendiri. Demikian pula dengan pelaksanaan sasi yang masih sangat tergantung pada ada tidaknya sumberdaya alam tertentu. Dapat dikatakan bahwa saat ini telah terjadi krisis atau kemunduran dalam pelaksanaan sasi di Negeri Haruku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya kewang dan masyarakat Negeri Haruku belum mengenal dan memahami arti konservasi sumberdaya alam yang sebenarnya. Hanya 14,29% dari narasumber kewang dan 11,76% dari narasumber masyarakat yang memahami arti konservasi sumberdaya alam. Persepsi masyarakat yang menyatakan bahwa sumberdaya alam seperti ikan lompa tidak akan pernah habis karena merupakan warisan pemberian buaya Learisa Kayeli, merupakan persepsi yang mempengaruhi keinginan untuk mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya pada saat panen tanpa memperhatikan faktor biologi dan lingkungan sumberdaya tersebut. Kenyataan bahwa hasil ikan lompa masih dapat dipanen saat ini belum cukup menjadi jaminan keberadaannya di Negeri Haruku dalam jumlah yang besar pada masa yang akan datang, mengingat pengalaman ketidakmunculannya PROSEDING Hal. 159

selama beberapa tahun belakangan ini dan hasil tangkapan ikan yang menunjukkan adanya penurunan. Rostow (1960, dalam Budiman, 2000) menyatakan bahwa masyarakat tradisional adalah masyarakat yang belum banyak menguasai ilmu pengetahuan karena masih dikuasai oleh kepercayaan-kepercayaan tentang kekuatan di luar kekuasaan manusia, cenderung bersifat statis, produksi dipakai untuk konsumsi (tidak ada investasi) serta pola dan tingkat kehidupan generasi kedua pada umumnya hampir sama dengan kehidupan generasi sebelumnya. Perlu suatu upaya untuk mengubah pola pikir masyarakat, karena jika kondisi masyarakat seperti ini terus dipertahankan maka arti dan nilai sasi akan semakin rendah dan konservasi sumberdaya alam yang sebenarnya di Negeri Haruku tidak akan pernah dapat dilakukan dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik sasi di Negeri Haruku dan konservasi yang sebenarnya memiliki beberapa perbedaan mendasar meskipun secara sepintas keduanya mempunyai tujuan yang hampir sama. Perbedaan sasi dan konservasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Aspek nilai Arti Tujuan Perlindungan habitat Tabel 1. Perbandingan Prinsip Sasi dan Konservasi S a s i Larangan mengambil SDA untuk tujuan menjaga mutu dan populasi Sukses pemanenan pada waktu musim panen Peraturan mengenai usaha perlindungan habitat masih sangat sedikit K e g i a t a n Konservasi Pengelolaan SDA dengan pemanfaatannya secara bi-jak untuk tujuan kesinam-bungan persediaan & kuali- tas nilai & keragamannya Sukses pemanenan pada setiap waktu musim panen Perlindungan habitat sangat diutamakan Jumlah panen Tidak terbatas Terbatas Praktik sasi tidak menjamin ketersediaan SDA yang dapat Ketersediaan di panen pada musim panen SDA berikutnya Regenerasi Praktik sasi tidak memuat atau membahas masalah regenerasi SDA Menjamin ketersediaan SDA pada musim panen berikutnya Regenerasi SDA sangat diutamakan PROSEDING Hal. 160

Berdasarkan tabel analisis di atas, dapat dikatakan bahwa prinsip konservasi di dalam peraturan sasi di Negeri Haruku masih lemah. Dengan kata lain, keefektifan sistem sasi untuk konservasi sumberdaya alam masih rendah. Keberhasilan sasi di Negeri Haruku lebih mengarah kepada pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat. Konservasi memiliki tiga aspek penting, yaitu perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan secara berkelanjutan. Aspek konservasi yang paling menonjol dalam sasi ini adalah pemanfaatan sumberdaya alam untuk dikonsumsi. Jika pemerintah negeri dan masyarakat melakukan sasi hanya untuk tujuan pemanfaatan tanpa memperhatikan faktor biologi dan lingkungan sumberdaya alam yang disasi, maka sasi menjadi budaya yang berdampak negatif bagi keberadaan sumberdaya alam di Negeri Haruku. Diperlukan adanya pengembangan atau penambahan dari peraturan yang sudah ada dengan penekanan pada hal-hal tertentu, misalnya perlindungan habitat, pembatasan jumlah panen dan regenerasi sumberdaya alam agar pemanfaatan hasil yang diinginkan dapat dipertahankan secara berkelanjutan. KESIMPULAN 1. Sasi sebagai kearifan tradisional lebih mengarah kepada usaha pemenuhan kebutuhan ekonomi atau konsumsi masyarakat. 2. Prinsip konservasi di dalam peraturan dan pelaksanaan sasi di Negeri Haruku masih lemah. Dengan kata lain, keefektifan sistem sasi untuk konservasi sumberdaya alam masih rendah. 3. Perlu dukungan yang kuat dari pemerintah Negeri Haruku terhadap sasi dan lembaga kewang agar praktik sasi dapat dilaksanakan dengan baik. 4. Pengembangan sistem sasi untuk meningkatkan nilai konservasinya dapat dilakukan dengan: (a). Pengembangan peraturan sasi, (b). Peningkatan peran kewang dan (c). Perbaikan persepsi masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Antariksa I.GP, R. Indrawasih, D.S. Adhuri. (1993), Aspek-aspek Sosial Budaya Masyarakat Maritim Indonesia Bagian Timur. Hak Ulayat Laut Desa Nolloth Kecamatan Saparua, Maluku Tengah. PMB LIPI, Jakarta. Budiman, A. (2000), Teori Pembangunan Dunia Ketiga, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Kissya, E. (1993), Sasi Aman Haru-Ukui, Yayasan Sejati, Jakarta. PROSEDING Hal. 161

. (2000), Sasi sebagai pedoman dan cara anak negeri Haruku mengelola kawasan pesisir, Prosiding Konperensi Nasional II Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia Makassar 15 17 Mei 2000, B-90 B-97. Mitchell, B., B. Setiawan & D.H. Rahmi. (2003), Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Novaczek, I.H.T. Harkes, J. Sopacua, M.D.D Tatuhey. (2001), An Institutional Analysis of Sasi Laut in Maluku, Indonesia, http://www.worldfishcenter.org/naga/naga24-3&4/pdf, diakses tgl 20 April 2008. PROSEDING Hal. 162