SIMULASI GERAK WAHANA PELUNCUR POLYOT

dokumen-dokumen yang mirip
3.1 Pendahuluan. 3.2 Deskripsi Roket Polyot

PERHITUNGAN PARAMETER AERODINAMIKA ROKET POLYOT

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISA KARAKTERISTIK AERODINAMIKA UNTUK KEBUTUHAN GAYA DORONG TAKE OFF DAN CRUISE PADA HIGH SPEED FLYING TEST BED (HSFTB) LAPAN

PERHITUNGAN KARAKTERISTIK AERODINAMIKA, ANALISIS DINAMIKA DAN KESTABILAN GERAK DUA DIMENSI MODUS LONGITUDINAL ROKET RX 250 LAPAN

Endang Mugia GS. Peneliti Bidang Teknologi Avionik, Lapan ABSTRACT

BAB III REKONTRUKSI TERBANG DENGAN PROGRAM X-PLANE

BAB IV ANALISIS PRESTASI TERBANG FASA TAKE-OFF DAN CLIMB

PENELITIAN PRESTASI TERBANG ROKET SONDA SATU TINGKAT RX-320

ANALISA KESTABILAN PERSAMAAN GERAK ROKET TIGA DIMENSI TIPE RKX- 200 LAPAN DAN SIMULASINYA

SIMULASI GERAK LONGITUDINAL LSU-05

PENENTUAN GAYA HAMBAT UDARA PADA PELUNCURAN ROKET DENGAN SUDUT ELEVASI 65º

PERBANDINGAN SOLUSI MODEL GERAK ROKET DENGAN METODE RUNGE-KUTTA DAN ADAM- BASHFORD

ANALISIS LINTAS TERBANG ROKET MULTI-STAGE RKN200

VENERA 9. Venera 9 (Russian: Венера-9 artinya Venus 9 dengan manufacturer s designation: 4V-1 No.661) Pembuat

SOAL PEMBINAAN JARAK JAUH IPhO 2017 Pekan V Dosen Penguji : Dr. Rinto Anugraha

Sofyan, ST, MT. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional 2012

BAB III PERANGKAT LUNAK X PLANE DAN IMPLEMENTASINYA

KINEMATIKA 1. Fisika Dasar / Fisika Terapan Program Studi Teknik Sipil Salmani, ST., MS., MT.

SIMULASI DAN PERHITUNGAN SPIN ROKET FOLDED FIN BERDIAMETER 200 mm

KINEMATIKA 1. Fisika Dasar / Fisika Terapan Program Studi Teknik Sipil Salmani, ST., MS., MT.

BAB V Pengujian dan Analisis Mesin Turbojet Olympus

TUJUAN :Mahasiswa memahami konsep ilmu fisika, penerapan besaran dan satuan, pengukuran serta mekanika fisika.

R = matriks pembobot pada fungsi kriteria. dalam perancangan kontrol LQR

ANALISIS MODEL KINEMATIK PELURU KENDALI PADA PENEMBAKAN TARGET MENGGUNAKAN METODE KENDALI OPTIMAL

GAYA GESEK. Gaya Gesek Gaya Gesek Statis Gaya Gesek Kinetik

PERANCANGAN KONTROL NON-LINIER UNTUK KESTABILAN HOVER PADA UAV TRICOPTER DENGAN SLIDING MODE CONTROL

2.2 kinematika Translasi

Bab IV Analisis dan Pengujian

KINEMATIKA. A. Teori Dasar. Besaran besaran dalam kinematika

Novi Andria Peneliti Pusat Teknologi Roket, Lapan ABSTRACT

Momen Inersia. distribusinya. momen inersia. (karena. pengaruh. pengaruh torsi)

Xpedia Fisika. Soal Mekanika

KINEMATIKA. Fisika Dasar / Fisika Terapan Program Studi Teknik Sipil Salmani, ST., MS., MT.

Treefy Education Pelatihan OSN Online Nasional Jl Mangga III, Sidoarjo, Jawa WhatsApp:

Soal-Jawab Fisika Teori OSN 2013 Bandung, 4 September 2013

Antiremed Kelas 11 FISIKA

LATIHAN SOAL MENJELANG UJIAN TENGAH SEMESTER STAF PENGAJAR FISIKA TPB

SOAL DINAMIKA ROTASI

PENGARUH KETIDAKLURUSAN DAN KETIDAKSIMETRISAN PEMASANGAN SIRIP PADA PRESTASI TERBANG ROKET RX-250-LPN

ANALISA KARAKTERISTIK AERODINAMIKA UNTUK KEBUTUHAN GAYA DORONG TAKE OFF DAN CRUISE PADA HIGH SPEED FLYING TEST BED (HSFTB) LAPAN

Uji Kompetensi Semester 1

BAB IV PENGUJIAN ALGORITMA TRACKING

K 1. h = 0,75 H. y x. O d K 2

BAB III GERAK LURUS. Gambar 3.1 Sistem koordinat kartesius

Benda B menumbuk benda A yang sedang diam seperti gambar. Jika setelah tumbukan A dan B menyatu, maka kecepatan benda A dan B

Latihan Soal Gerak pada Benda dan Kunci No Soal Jawaban 1 Perhatikan gambar di bawah ini!

Dosen Pembimbing : Hendro Nurhadi, Dipl. Ing. Ph.D. Oleh : Bagus AR

Mata Pelajaran : FISIKA

K13 Revisi Antiremed Kelas 10 Fisika

SNMPTN 2011 FISIKA. Kode Soal Gerakan sebuah mobil digambarkan oleh grafik kecepatan waktu berikut ini.

Pemodelan Gerak Belok Steady State dan Transient pada Kendaraan Empat Roda

PERANCANGAN SISTEM KENDALI SLIDING-PID UNTUK PENDULUM GANDA PADA KERETA BERGERAK

BAB III APLIKASI METODE EULER PADA KAJIAN TENTANG GERAK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1.

1. (25 poin) Sebuah bola kecil bermassa m ditembakkan dari atas sebuah tembok dengan ketinggian H (jari-jari bola R jauh lebih kecil dibandingkan

BAB II PERSYARATAN DAN TARGET RANCANG BANGUN SISTEM REKONSTRUKSI LINTAS TERBANG PESAWAT UDARA

BAB II LANDASAN TEORI

PREDIKSI UAS 1 FISIKA KELAS X TAHUN 2013/ Besaran-besaran berikut yang merupakan besaran pokok adalah a. Panjang, lebar,luas,volume

BAB 3 DINAMIKA GERAK LURUS

TES STANDARISASI MUTU KELAS XI

WAKTU OPTIMUM PADA PELURU KENDALI DENGAN MANUVER AKHIR MENGHUNJAM VERTIKAL. Sari Cahyaningtias Dosen Pembimbing: Subchan, Ph.

LAMPIRAN A MATRIKS LEMMA

KINEM4TIK4 Tim Fisika

PENGENDALIAN MUTU KLAS X

USAHA, ENERGI & DAYA

GRAVITASI B A B B A B

PERMODELAN MATEMATIS LINTASAN BOLA YANG BERGERAK DENGAN TOP SPIN PADA OLAH RAGA SEPAK BOLA

GERAK PADA GARIS LURUS

FISIKA. 2 SKS By : Sri Rezeki Candra Nursari

DINAMIKA BENDA LANGIT

KINEMATIKA PARTIKEL. Gerak Lurus Gerak Melingkar

GAYA. Hoga saragih. hogasaragih.wordpress.com

SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2015 TINGKAT PROVINSI

OPTIMASI DAYA PADA SISTEM TURBIN ANGIN MENGGUNAKAN KONTROL PITCH ANGLE DENGAN FUZZY LOGIC CONTROL

Integral yang berhubungan dengan kepentingan fisika

FISIKA UNTUK UNIVERSITAS JILID I ROSYID ADRIANTO

Berikan jawaban anda sesingkatnya langsung pada kertas soal ini dan dikumpulkan paling lambat tanggal Kamis, 20 Desember 2012.

Tugas Akhir Bidang Studi Desain SAMSU HIDAYAT Dosen Pembimbing Dr. Ir. AGUS SIGIT PRAMONO, DEA.

SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik EKAWIRA K NAPITUPULU NIM

Antiremed Kelas 12 Fisika

Oleh : Kunjaya TPOA, Kunjaya 2014

FISIKA IPA SMA/MA 1 D Suatu pipa diukur diameter dalamnya menggunakan jangka sorong diperlihatkan pada gambar di bawah.

Pilihan ganda soal dan impuls dan momentum 15 butir. 5 uraian soal dan impuls dan momentum

Desain dan Implementasi Automatic Flare Maneuver pada Proses Landing Pesawat Terbang Menggunakan Kontroler PID

LATIHAN USAHA, ENERGI, IMPULS DAN MOMENTUM

Doc. Name: XPFIS0201 Version :

SISTEM KENDALI POSISI MOTOR DC Oleh: Ahmad Riyad Firdaus Politeknik Batam

MODIFIKASI PERSAMAAN GERAK ROKET KLASIK TSIOLKOVSKY UNTUK ROKET YANG BERGERAK MENDEKATI KECEPATAN CAHAYA

BAB MOMENTUM DAN IMPULS

PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap 1 Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA

K13 Revisi Antiremed Kelas 10 Fisika

BAB IV SIMULASI STABILISASI INVERTED PENDULUM DENGAN MENGGUNAKAN PENGONTROL FUZZY

DAFTAR ISI. Lembar Persetujun Lembar Pernyataan Orsinilitas Abstrak Abstract Kata Pengantar Daftar Isi

NAMA : NO PRESENSI/ KELAS : SOAL ULANGAN HARIAN IPA Gerak pada Benda

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Prediksi 1 UN SMA IPA Fisika

PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK ANALISIS LINTAS TERBANG ROKET MULTI-STAGE (DEVELOPMENT OF TRAJECTORY ANALYSIS SOFTWARE FOR MULTI-STAGE ROCKET)

Diterima 14 Desember 2015; Direvisi 07 Juni 2016; Disetujui 29 Juni 2016 ABSTRACT

KINEMATIKA GERAK 1 PERSAMAAN GERAK

Transkripsi:

BAB SIMULASI GERAK WAHANA PELUNCUR POLYOT. Pendahuluan Simulasi gerak wahana peluncur Polyot dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Simulink Matlab 7.. Dalam simulasi gerak ini dimodelkan gerak roket setiap waktunya dengan menggunakan persamaan-persamaan gerak roket yang telah dijelaskan sebelumnya pada Bab.. Asumsi Selain batasan masalah yang telah dijelaskan pada Bab, simulasi gerak roket Polyot ini dimodelkan dengan menggunakan beberapa asumsi lain sebagai berikut: Konfigurasi roket Polyot yang digunakan adalah konfigurasi roket Polyot tiga tingkat dengan Upper Stage Booster (USB) sebagai mesin pendorong tingkat ketiga. Roket Polyot diasumsikan mengatur attitude control dengan Thrust Vectoring Control (TVC). Model atmosfer yang dipakai adalah model atmosfer ISA untuk ketinggian - 8m. Untuk ketinggian di atas ketinggian atmosfer ISA, diasumsikan tidak lagi bekerja gaya-gaya dan momen aerodinamika pada roket Polyot. Koefisien gaya-gaya dan momen aerodinamika merupakan fungsi bilangan Mach, sudut serang dan ketinggian. Koefisien gaya-gaya dan momen aerodinamika yang digunakan adalah hasil prediksi dari perangkat lunak Digital Datcom dan Missile Datcom. Gangguan udara, berupa angin, turbulensi atau kondisi cuaca diabaikan. Gerak yang ditinjau dalam simulasi hanya gerak pada bidang vertikal, maka: o Inklinasi orbit dan azimuth peluncuran diabaikan. o Sudut slip samping, β =. o Tidak ada gerak roll pada roket. Sehingga sudut roll, φ =. Laju perubahan massa konstan untuk tiap stage roket. Dengan menggunakan konstanta, g o = 9.8 m/s. 9

Pesawat udara pembawa (carrier aircraft) yang digunakan adalah Antonov An-- Ruslan. Sudut pitch awal roket ketika dijatuhkan diasumsikan sama dengan negatif sudut pitch pesawat udara.. Pitch Program Program sudut pitch merupakan program yang ditentukan untuk mendapatkan lintas terbang roket yang baik. Pitch program ini dikontrol oleh momen yang terjadi dan sengaja ditimbulkan saat proses peluncuran roket [Ref. ]. Pengaturan sudut pitch dilakukan dengan mengatur besar pitch rate tiap segmen waktu. Dengan pitch program ini diharapkan pada ketinggian burnout tingkat roket terakhir, roket sudah memiliki sudut lintas terbang seperti yang diharapkan, yaitu mendekati nol agar memudahkan proses peletakan payload pada lintas orbit yang diinginkan. Untuk mendekati kondisi yang sebenarnya, dalam simulasi yang dilakukan akan diterapkan pitch program yang berbeda untuk mengetahui prestasi peluncuran roket.. Sistem Kontrol Roket Polyot Roket Polyot diasumsikan mengatur attitude control dengan memanfaatkan defleksi nosel (δ). Dengan sistem kontrol ini, roket dapat mengikuti pitch program yang telah diberikan dan dapat dianalisa apakah pitch program yang diberikan dapat dilaksanakan oleh roket Polyot. berikut: Berdasarkan persamaan rotasi (-), dapat dituliskan persamaan sebagai dq di ' yy I yy M + q + m qxe sinδ = dt dt (-) x F e T

. Proses Simulasi Dalam analisis prestasi terbang dan lintasan terbang melalui simulasi, gerak roket Polyot dari sejak didorong keluar hingga akhir pembakaran tingkat ke tiga dibagi dalam beberapa fase sebagai berikut: Gambar -. Fase terbang roket Polyot.. Fase Terbang Layang (Gliding) Fase ini dimulai dari saat roket Polyot didorong keluar dari pesawat udara Antonov An-- Ruslan. Pada fase ini, roket Polyot diasumsikan memiliki kecepatan awal ke arah belakang (searah dengan kecepatan pesawat pembawa), dengan besar kecepatan yaitu kecepatan pesawat pembawa dikurangi dengan kecepatan dorong dari sistem pneumatik yang mengeluarkan roket Polyot dari pesawat pembawa. Fase ini berlangsung selama 7 detik dan persamaan gerak yang digunakan adalah persamaan gerak terbang layang, yaitu persamaan (-7) dan (-8) dan persamaan integral (-)... Fase Pembakaran Roket Tingkat Pertama Fase ini dimulai ketika mesin roket tingkat pertama dinyalakan. Kemudian roket Polyot melakukan manuver pitch up untuk membuat roket bergerak naik. Manuver pitch up tersebut diatur dengan membuat pitch program untuk gerak roket

Polyot. Attitude control roket Polyot dilaksanakan dengan menggunakan Thrust Vectoring Control (TVC). Pada fase ini persamaan gerak yang digunakan adalah persamaan gerak roket dimensi pada medan atmosfer, yaitu persamaan (-). Sedangkan gaya dorong yang digunakan adalah gaya dorong yang bervariasi terhadap ketinggian, seperti dinyatakan dalam persamaan (-). Fase gerak yang kedua ini berlangsung selama detik... Fase Coasting Antara Tingkat Pertama dan Kedua Pada fase ke tiga ini, mesin roket tingkat pertama telah dimatikan sehingga roket tidak lagi memiliki gaya dorong. Fase ini bertujuan sebagai persiapan untuk melakukan pemisahan roket tingkat pertama dengan sub-roket kedua. Simulasi pada fase ini dilakukan dengan menggunakan persamaan gerak (- ) dengan memasukkan harga gaya dorong dan koefisien aerodinamika sama dengan nol. Lama fase gerak ketiga ini sangat singkat untuk memperkecil pengurangan harga V X yang terjadi... Fase Pembakaran Roket Tingkat Kedua Pembakaran roket tingkat kedua dilakukan sesaat setelah roket tingkat pertama terpisah. Saat dimulainya fase ini, fairing roket dilepaskan untuk mempersiapkan pelepasan payload. Gaya-gaya dan momen aerodinamika pada fase ini diabaikan karena harga kerapatan udara sudah sangat kecil ketika proses pembakaran roket tingkat ke dua dimulai. Pada fase ini (dan selanjutnya pada fase pembakaran roket tingkat tiga), simulasi tidak menggunakan persamaan gaya dorong seperti pada persamaan (-). Hal ini dikarenakan tekanan keluaran nosel (P e ) tidak selalu bisa dikontrol agar selalu tetap sama seperti tekanan udara pada kondisi permukaan laut. Maka, pada fase ini digunakan asumsi gaya dorong konstan. Persamaan gerak yang digunakan pada simulasi fase ini ialah persamaan gerak (-) dengan memasukkan harga nol untuk gaya-gaya dan momen aerodinamika. Lama fase gerak ini selama 7 detik dengan pitch program disesuaikan agar saat fase gerak ini berakhir sikap pesawat sudah horizontal.

.. Fase Coasting Antara Tingkat kedua dan ketiga Setelah pembakaran roket tingkat ke dua selesai, maka roket akan melakukan fasa coasting untuk mengatur sudut lintas terbangnya. Roket berusaha untuk mencapai sudt lintas terbang (γ) yang cukup kecil untuk melakukan injeksi payload pada lintasan yang menyinggung orbit kerjanya. Persamaan gerak yang digunakan pada simulasi fase ini adalah persamaan gerak (-) dengan memasukkan harga nol untuk gaya-gaya dan momen aerodinamika serta gaya dorong. Lama fase gerak ini disesuaikan dengan sudut lintas terbang (γ) roket pada akhir fase. Fase gerak ini berakhir saat sudut lintas terbang (γ) roket berharga mendekati nol... Fase Pembakaran Roket Tingkat ketiga Setelah mendapatkan harga sudut lintas terbang yang cukup kecil, mesin roket tingkat ketiga (USB) dinyalakan. Fase ini bertujuan untuk menambah kecepatan roket Polyot hingga mencapai kecepatan orbital yang diinginkan. Pada fase ini persamaan gerak yang digunakan adalah persamaan gerak (-) dengan memasukkan harga nol untuk gaya-gaya dan momen aerodinamika. Tujuan dari fase ini ialah mendapatkan ketinggian dan kecepatan akhir yang berupa ketinggian dan kecepatan orbital dari lintas orbit GTO. Sesuai dengan misi yang dilaksanakan, maka titik apocenter dari GTO tersebut harus berada pada ketinggian GEO. Kemudian sisa bahan bakar yang tersedia akan dipakai untuk mengeluarkan gaya dorong impulsif untuk beralih ke lintas orbit sirkular pada ketinggian GEO.. Hasil Simulasi dan Analisis Simulasi gerak roket Polyot yang dilakukan mengacu pada referensi data-data peluncuran yang didapatkan, yaitu kondisi awal peluncuran, kondisi berat tiap tingkat, dan target orbit yang akan dijadikan sebagai acuan kondisi akhir peluncuran. Simulasi akan dimulai dengan memberikan variasi pitch program melalui input pitch rate schedulling. Variasi pitch program tersebut dilakukan dengan tujuan melaksanakan peluncuran yang dapat mencapai ketinggian dan kecepatan orbital dari lintas orbit tujuan dengan melalui trajektori yang dapat diterima.

.. Hasil Simulasi untuk Roket Tingkat Pertama Pada simulasi akan diinputkan pitch program yang berbeda-beda seperti ditunjukkan pada gambar berikut: Pitch rate (deg/s) 8 Time (s) Gambar -. Variasi pitch rate Skema pitch rate tersebut di atas diperoleh melalui proses trial and error untuk melihat prestasi dari masing-masing skema yang diterapkan. Skema di atas hanya berlangsung pada fase pembakaran roket tingkat pertama. Selanjutnya pada fase pembakaran roket tingkat kedua diterapkan skema yang berbeda-beda sesuai dengan skema pada tingkat pertama. Perbedaan skema juga mengakibatkan perbedaan waktu pelaksanaan fase pada saat coasting antara tingkat kedua dan ketiga. Waktu coasting ditentukan sedemikian hingga agar pada saat memasuki fase pembakaran roket tingkat ketiga sudut lintas terbang (γ) sangat kecil (mendekati nol). Hasil simulasi berdasarkan variasi skema pitch rate tersebut di atas pada roket tingkat pertama sebagai berikut:

teta (degree) 8 8 Vx (m/s) - - - 7 8 7 Gambar -. Grafik theta vs time - - - 7 8 7 Gambar -. Grafik Vx vs time x - - - Vz (m/s) 8-7 8 7 Distance (m) - - - -7-8 -9 7 8 7 Gambar -. Grafik Vz vs time Gambar -. Grafik X vs time 9 x 9 8 8 7 7 Height (m) Height (m) 7 8 7. -9-8 -7 - - - - - - Distance (m) x Gambar -7. Grafik Z vs time Gambar -8. Grafik X vs Z

9 -. gamma (degree) 8 7 7 8 7 Gambar -9. Grafik gamma vs time delta (deg) - -. - -. - -. -7 7 Gambar -. Grafik delta vs time Melalui grafik-grafik di atas dapat dilihat pengaruh penerapan pitch program yang berbeda-beda. Dari gambar. dapat dilihat variasi pitch akibat variasi pitch rate. Dapat dianalisis bahwa pitch rate dengan skema B lebih lama mempertahankan sikap vertikal dibandingkan dengan pitch rate dengan skema E, yang terlihat lebih cepat menuju posisi horizontal. Walaupun kondisi theta akhirnya tidak jauh berbeda, namun perbedaan kecepatan perubahan sikap dari vertikal ke horizontal akan mempengaruhi prestasi peluncuran roket Polyot. Dari gambar. dan. dapat dilihat bahwa skema dengan perubahan sikap dari vertikal ke horizontal yang lebih lambat akan lebih cenderung memiliki kecepatan vertikal yang lebih besar dibandingkan dengan skema yang lebih cepat menuju sikap horizontal. Sebaliknya terjadi pada kecepatan horizontalnya. Oleh karena itu, skema yang lebih cepat menuju sikap horizontal akan memiliki kecepatan horizontal akhir yang lebih besar, yang kemudian akan digunakan sebagai kecepatan orbital. Dari gambar.,.7 dan.8 dapat dilihat bahwa skema D akan memiliki jarak horizontal yang lebih jauh, namun harga parameter ketinggiannya tidak akan memiliki perbedaan yang terlalu jauh dengan skema lainnya. Dari gambar.9 dapat dilihat bahwa skema D lebih cepat bergerak pada sumbu horizontal dibandingkan dengan skema lainnya yang memakan waktu lama dalam bergerak pada arah vertikal. Dari gambar. dapat dilihat bahwa untuk setiap skema-skema di atas harga sudut delta tidak akan memiliki perbedaan yang mencolok. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya perubahan yang drastis terhadap theta pada setiap skema.

.. Hasil Simulasi untuk Seluruh Fase Peluncuran Hasil simulasi dengan menerapkan pitch program yang berbeda-beda terhadap keselurahan fase peluncuran dapat dilihat melalui gambar-gambar berikut: teta (degree) 8 8 Height (m) 8 x 7-7 7 Gambar -. Grafik theta vs time (all) -7 - - - - - - Distance (m) x Gambar -. Gravik Z vs X gamma (deg) 8 - Fase Orbital - 7 7 Gambar -. Grafik gamma vs time (all) delta (deg) - - - - - - -7 7 7 Gambar -. Grafik delta vs time (all) 7

8 V (km/s) 7 7 Gambar -. Grafik V vs time (all) Dari gambar. dapat dilihat perubahan theta yang terjadi sepanjang fase peluncuran untuk setiap pitch rate schedulling yang berbeda. Kondisi akhir setiap skema sama, yaitu 8, namun yang berbeda adalah kecepatan tiap-tiap skema dalam mencapai kondisi akhir tersebut (horizontal). Dari gambar. dapat dilihat bahwa skema B yang lebih lama mencapai sikap horizontal akan memiliki tinggi akhir yang jauh lebih tinggi. Namun pencapaian tersebut bukan berarti skema B tersebut jauh lebih unggul, karena untuk mendapatkan lintas orbital yang diinginkan diperlukan satu parameter lagi, yaitu kecepatan. Dapat dilihat pada pada gambar. bahwa skema B justru menghasilkan kecepatan akhir yang jauh di bawah kecepatan akhir dari skema lainnya. Hal ini diakibatkan oleh energi gaya dorong pada skema B lebih banyak digunakan untuk menambah ketinggian, sehingga kecepatan yang dihasilkan tidak besar. Pada gambar. dapat dilihat bahwa semua skema memiliki tujuan akhir yang sama, yaitu sudut lintas terbang (γ) yang mendekati nol. Hal ini dilakukan agar memudahkan proses injeksi payload pada lintas orbit yang diinginkan dan untuk memudahkan proses penambahan kecepatan dalam mencapai kecepatan orbital yang dibutuhkan. Pada gambar. dapat dilihat sudut gaya dorong yang terjadi selama fase peluncuran. Pada fase pembakaran tingkat pertama terjadi harga yang terbesar. Hal ini dikarenakan pada fase tersebut terjadi perubahan sikap roket yang cukup besar. 8

Namun begitu harganya cukup kecil, hal ini terjadi karena gaya dorong yang dihasilkan amat besar sehingga menimbulkan momen gaya dorong yang besar pula. Height (m) 8 x 7 USB st Burn Stage Burnout Fase Orbital Stage burnout Stage Burn 8 V (km/s) Gambar -. Grafik H vs V Pada gambar. di atas dapat dilihat pencapaian ketinggian dan kecepatan untuk tiap skema. Data-data pencapaian akhir tiap skema disajikan dalam tabel berikut: Tabel -. Kondisi akhir peluncuran Skema V GTO (km/s) H GTO (km) H Apocenter (km) Fuel Sisa (kg) Waktu (s) Max Payload (kg) A.7. 99.9 8.9 B 8.988 8..9 8.9 C 9.97. 79.9 8 8.9 D.8 9.9 7. 8.9 E.8 9. 9.79.7 9.79 Dari tabel. di atas dapat dilihat ketinggian dan kecepatan akhir yang diperoleh oleh tiap skema. V GTO dan H GTO adalah kondisi kecepatan dan ketinggian setelah fase pembakaran roket tingkat ketiga yang pertama. Dengan kondisi ketinggian dan kecepatan tersebut, roket akan melanjutkan peluncuran dengan mengikuti lintas terbang orbital GTO (tanpa gaya dorong). Harga V dan H GTO adalah harga kecepatan dan ketinggian pada titik pericenter dari lintas orbit GTO. Titik apocenter dari GTO akan menjadi ketinggian orbit sikular dari roket setelah dilakukan penambahan kecepatan secara impulsif. 9

Terlihat bahwa hanya skema E yang mampu mendapatkan ketinggian lintas orbit GEO (mencapai km). Skema lainnya belum bisa mendapatkan kecepatan akhir orbital sesuai dengan ketinggian orbit GTO-nya. Setelah mencapai pericenter orbit GTO, roket dengan skema E memiliki sisa bahan bakar yang cukup besar, sehingga kelebihan berat tersebut dapat digunakan untuk menambah berat payload. Pada tabel di atas terlihat bahwa skema B yang menempuh ketinggian paling besar menempuh seluruh fase peluncuran dengan waktu yang lebih lama... Hasil Simulasi dengan Variasi Arah Horizontal Simulasi juga dilakukan dengan memvariasikan arah horizontal akhir dari roket Polyot, yaitu dengan sudut akhir 8 (seperti simulasi sebelumnya) dan sudut akhir. Skema pitch rate yang digunakan seperti berikut: Skema F Pitch rate (deg/s) - - - 8 Time (s) Skema F adalah skema pitch rate yang akan membuat rokat menuju sikap horizontal (nol) derajat. Hasil simulasi dengan skema tersebut adalah sebagai berikut:

8 8 x 7 Skema F teta (degree) 8 Skema F Height (m) - 7 7 Gambar -7. Grafik theta vs time -8 - - - 8 Distance (m) x Gambar -8. Grafik Z vs X 8 Skema F 8 V (km/s) gamma (deg) Fase Orbital 7 7 Skema F - - 7 7 Gambar -9. Gravik V vs time Gambar -. Grafik gamma vs time Skema F delta (deg) - - - -8 7 7 Gambar -. Grafik delta vs time

Dari gambar. dapat dilihat perubahan sudut theta pada skema F yang semakin menuju sudut pada akhir peluncurannya. Pengaruhnya dapat dilihat pada gambar.7 yang menunjukkan bahwa skema F akan menempuh ketinggian yang lebih tinggi, kecepatan akhir yang dapat ditempuhnya pun tidak jauh berbeda, namun roket dengan skema F harus menempuhnya dengan waktu yang lebih lama, seperti terlihat melalui gambar.8. Pada grafik.9 dapat dilihat bahwa kedua skema memiliki kecenderungan untuk menuju ke sudut lintas terbang mendekati nol. Sedangkan pada grafik. dapat dilihat perbedaan besar sudut delta yang terjadi pada fase roket dengan skema E dan F. x USB st Burn Fase Orbital Stage Burnout Height (m) Stage burnout Stage Burn Skema F 8 V (km/s) Gambar -. Grafik Z vs V

Tabel -. Kondisi akhir peluncuran Skema V GTO (km/s) H GTO (km) H Apocenter (km) Fuel Sisa (kg) Waktu (s) Max Payload (kg) E.7 8. 9 7 87 F 9.9 7. 8.9. 8.9 Dari tabel. dapat dilihat bahwa roket dengan kecenderungan menuju sikap horizontal juga dapat mengantarkan payload hingga GTO dengan tinggi apocenter yang merupakan tinggi orbit sirkular GEO, namun waktu yang diperlukan untuk menempuh seluruh fase peluncuran lebih lama. Kesimpulan dari analisis hasil simulasi gerak wahana peluncur Polyot diberikan pada Bab.