Jurnal Obstretika Scientia

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sistem perkemihan merupakan salah satu system yang tidak kalah

BAB 1 PENDAHULUAN. karena itu dianggap berasal dari endoderm. Pertumbuhan dan. perkembangan normal bergantung kepada rangsang endokrin dan

BAB I PENDAHULUAN. Hiperplasia prostat atau BPH (Benign Prostate Hiperplasia) adalah

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

BAB V PENUTUP. Setelah menguraikan asuhan keperawatan pada Ny. W dengan post

BAB 1 PENDAHULUAN. tujuan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, mempertahankan

BAB I PENDAHULUAN. Hiperplasia (BPH) dilaporkan terus meningkat yang banyak dijumpai pada

BAB I PENDAHULUAN. penuaan (Madjid dan Suharyanto, 2009). tindakan untuk mengatasi BPH yang paling sering yaitu Transurethral

ASUHAN KEBIDANAN PADA An. E USIA 8 TAHUN DENGAN VARICELLA. Nur Hasanah* dan Heti Latifah** ABSTRAK

APPENDISITIS. Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh: a. Fekalis/ massa keras dari feses b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid c.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. D DENGAN BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA POST OPERASI OPEN PROSTATECTOMY DI RUANG DAHLIA RSU BANYUDONO BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal.

BAB I PENDAHULUAN. kelenjar/jaringan fibromuskular yang menyebabkan penyumbatan uretra pars

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN BENIGNA PROSTAT HYPERPLASIA POST PROSTATECTOMY DI RUANG FLAMBOYAN RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI NASKAH PUBLIKASI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.H DENGAN BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA POST OPERASI OPEN PROSTATECTOMY DI RUANG ANGGREK RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DIABETES INSIPIDUS

EDUKASI KLIEN BPH POST TURP DI RUMAH

A. lisa Data B. Analisa Data. Analisa data yang dilakukan pada tanggal 18 April 2011 adalah sebagai. berikut:

BAB III RESUME KEPERAWATAN. Pengkajian dilakukan pada hari masa tanggal jam WIB di ruang Barokah 3C PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak

Implementasi dan Evaluasi Keperawatan No. Dx. Tindakan dan Evaluasi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Pengumpulan atau Penyajian Data Dasar Secara Lengkap

III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

BAB III TINJAUAN KASUS. Dalam bab ini penulis akan melaporkan tentang pemberian asuhan

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST PARTUM RETENSIO PLACENTA

BAB I PENDAHULUAN. yang menderita penyakit ini adalah Amerika Serikat dengan penderita

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA POST OPEN PROSTATECTOMI HARI KE-1 DI RUANG GLADIOL ATAS RSUD SUKOHARJO

TUGAS SISTEM INTEGUMEN

PENGKAJIAN PNC. kelami

TUGAS MANDIRI 1 Bladder Training. Oleh : Adelita Dwi Aprilia Reguler 1 Kelompok 1

BAB I PENDAHULUAN. pembentukan batu ini disebut urolitiasis, dan dapat terbentuk pada ginjal. dan uretra (urethrolithiasis) (Basuki, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

LAPORAN PENDAHULUAN HEPATOMEGALI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Gagal jantung adalah keadaan patofisiologi dimana jantung sebagai pompa

BAB I PENDAHULUAN. Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm

BAB I PENDAHULUAN. melalui suatu defek pada fasia dan muskuloaponeuretik dinding perut, secara

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian dilakukan pada tanggal 8 Mei 2007 jam : Jl. Menoreh I Sampangan Semarang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

BAB IV PEMBAHASAN. memberikan asuhan keperawatan terhadap Ny. A post operasi sectio caesarea

MONITORING DAN ASUHAN KEPERAWATANA PASIEN POST OPERASI

LAPORAN PENDAHULUAN. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PRE, INTRA, POST OPERASI HAEMOROIDEKTOMI DI RUANG DIVISI BEDAH SENTRAL RS. Dr.

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN ISK. Nyeri berkurang / hilang saat dan sesudah berkemih

RIZKY KUSUMAWATI NPM PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.S DENGAN GANGGUAN PERKEMIHAN: BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA DIRUANG MAWAR 2 RSUD Dr MOEWARDI

Penyebab BPH ini masih belum diketahui, penelitian sampai tingkat biologi molekuler belum dapat mengungkapkan dengan jelas terjadinya BPH.

cairan berlebih (Doenges, 2001). Tujuan: kekurangan volume cairan tidak terjadi.

BAB I KONSEP DASAR. saluran usus (Price, 1997 : 502). Obserfasi usus aiau illeus adalah obstruksi

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DEMAM CHIKUNGUNYA Oleh DEDEH SUHARTINI

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi Keperawatan. Mengevaluasi tingkat mobilitas klien Mendorong partisipasi

BAB III RESUME KEPERAWATAN

BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. P DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST ORIF FIBULA SINISTRA DI RUANG ANGGREK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. PENGUMPULAN/PENYAJIAN DATA DASAR SECARA LENGKAP

BAB 1 PENDAHULUAN. adalah persalinan sectio caesarea. Persalinan sectio caesarea adalah melahirkan janin

Kekurangan volume cairan b.d kehilangan gaster berlebihan, diare dan penurunan masukan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA SISTEM PENCERNAAN Tn. H DENGAN POST OP HERNIOTOMY DIBANGSAL CEMPAKAA RSUD PANDAN ARANG DI BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN. dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman modern ini banyak ibu yang memilih melakukan

BAB III TINJAUAN KASUS. Pada bab ini akan penulis paparkan hasil pengelolaan asuhan keperawatan pada klien

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tujuan Asuhan Keperawatan pada ibu hamil adalah sebagai berikut:

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN PERAWATAN KEBERSIHAN DIRI (PERSONAL HYGIENE)

BAB I PENDAHULUAN. Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiforis, biasanya

BAB III TINJAUAN KASUS. Tanggal dilakukan pengkajian 14 Juni 2005 pada jam WIB.

BAB III TINJAUAN KASUS. Dalam tinjauan kasus ini penulis menerapkan Asuhan Keperawatan

BAB I PENDAHULUAN. sebagian besar penyakit yang menyebabkan penderita mencari pertolongan

ASUHAN KEPERAWATAN. Latar belakang pendidikan. : Perumahan Pantai Perak gang 3 no 21 Semarang. Tanggal masuk RS : 6 September 2013 Diagnosa medis

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny F GI P TRIMESTER III INPARTU DENGAN PRE EKLAMPSIA BERAT. Siti Aisyah* dan Sinta Lailiyah** ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. ini terdapat diseluruh dunia, bahkan menjadi problema utama di negara-negara

BAB I PENDAHULUAN. dan akhirnya bibit penyakit. Apabila ketiga faktor tersebut terjadi

BAB III RESUME ASUHAN KEPERAWATAN

LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor

BAB III TINJAUAN KASUS. 16 Februari dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang

SATUAN ACARA PENYULUHAN DI BANGSAL CEMPAKA RSUD WATES INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

BAB III TINJAUAN KASUS. Pada bab ini akan penulis paparkan hasil pengelolaan asuhan keperawatan pada

BAB I PENDAHULUAN. Diperkirakan 80% populasi akan mengalami nyeri punggung bawah pada

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014 pukul WIB Ny Y datang ke

BAB III TINJAUAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN POST HEMOROIDEKTOMY. DI RUANG KENANGA RUMAH SAKIT UMUM dr.h.soewondo KENDAL

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB IV PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

BAB III TINJAUAN KASUS

BAB II RESUME KEPERAWATAN WIB, pasien dirawat dengan Fraktur Femur pada hari ke empat:

STUDI KASUS PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS APENDIKSITIS DI RUANG FLAMBOYAN RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI

BAB I PENDAHULUAN. penyakit yang menyerang seperti typhoid fever. Typhoid fever ( typhus abdominalis, enteric fever ) adalah infeksi

LAPORAN KASUS PENGELOLAAN NYERI PADA Tn. W DENGAN POST OP BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA DI RUANG MELATI RSUD AMBARAWA

BAB III RESUME KEPERAWATAN. Dilakukan pada tanggal 7 Mei 2007 di ruang ginekologi RS Dr. Kariadi Semarang

5. Pengkajian. a. Riwayat Kesehatan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. B DENGAN POST OP HEMOROIDECTOMI DI RUANG MELATI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit tidak menular (PTM) merupakan masalah kesehatan utama di

BAB III ANALISA KASUS

LAPORAN KASUS / RESUME DIARE

BAB I PENDAHULUAN. penyakit semakin dikenal oleh masyarakat. Salah satu diantaranya adalah apa yang

BAB IV PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. nafas dan nutrisi dengan kesenjangan antara teori dan intervensi sesuai evidance base dan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN POST OPERASI HERNIA INGUINALIS LATERALIS DI RSUD SUKOHARJO

BAB I PENDAHULUAN. kecil) atau appendiktomi. Appendiktomi adalah pembedahan untuk mengangkat

Transkripsi:

Sinaga dan Putri/ Asuhan Keperawatan Tn. A /178-191 Jurnal Obstretika Scientia ISSN 2337-6120 Vol. 2 No. 2 Asuhan Keperawatan Tn. A Dengan Gangguan Sistem Perkemihan: Post Operasi Prostatektomy Sarma Eko Natalia Sinaga * Dian Harumawati Putri ** * Akademi Keperawatan Yatna Yuana Lebak, Banten ** Akademi Keperawatan Yatna Yuana Lebak, Banten Article Info Keywords: Nursing care, benign prostate hypertrophy. Corresponding Author: ekosarma@yahoo.co.id dianharumawati@yahoo.co.id Abstract The purpose of writing this Case Study is to be able to implement nursing care directly to Mr. "A" with the urinary system disorders: Post Prostatectomy Surgery. From the results of the assessment data obtained is pain in the surgical wound, a pain scale of 4 out of 10 (range 0-10), wound drain wet look, there are seven stitches, client was installed urinary catheter irrigation, clear urine, BP: 120/80mmHg, temperature 37,3 C, pulse 98x/minutes, the client said that he has never taken a shower during the treatment (5 days), the client said that he did not know about his illness. Emerging diagnosis: elimination disorders b/d surgical procedures, pain b/d tissue dissolution, risk of infection b/d the presence of surgical incision wound, self-care deficit b/d of physical weakness. The planning and the implementation of nursing were tailored to the needs of the patient. In the evaluation of diagnostic disorders the pattern of elimination disorders was partially resolved, the pain was resolved on the 3rd 178

Jurnal Obstretika Scientia Vol. 2 No. 2, (2014-2015) day, the risk of infection was resolved on 4th day, self-care deficit was resolved on the 2nd day, and lack of knowledge was overcome on the 1st day. 2014 JOS. All rights reserved. Tujuan penulisan Studi Kasus ini adalah agar dapat menerapkan asuhan keperawatan secara langsung kepada Tn. A dengan gangguan sistem Perkemihan: Post Operasi Prostatectomy. Dari hasil pengkajian data yang didapat yaitu nyeri pada luka operasi, skala nyeri 4 (rentang 0-10), luka bekas drain tampak basah, terdapat 7 jahitan, klien terpasang irigasi urin, warna urin jernih, TD: 120/80mmHg, Suhu 37,3 C, nadi 98x/menit, klien mengatakan belum pernah mandi selama dirawat (5 hari), klien mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya. Diagnosa yang muncul gangguan pola eliminasi b/d prosedur pembedahan, nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan, resiko infeksi b/d adanya insisi luka operasi, defisit perawatan diri b/d kelemahan fisik. Perencanaan dan implementasi keperawatan disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Pada evaluasi diagnosa gangguan pola eliminasi teratasi sebagian, nyeri teratasi hari ke-3, resiko infeksi teratasi hari ke-4, defisit perawatan diri teratasi hari ke-2, dan kurang pengetahuan teratasi hari ke-1. Pendahuluan Benigna Prostat Hipertropi (BPH) adalah pembesaran kelenjar dan jaringan seluler kelenjar prostat yang berhubungan dengan perubahan endokrin berkenaan dengan proses penuaan (Suharyanto, Toto (2009)). Inggris telah mengeluarkan proyeksi prevalensi BPH bergejala di Inggris dan Wales beberapa tahun ke depan. Pasien BPH bergejala yang berjumlah sekitar 80.000 pada tahun 1991, diperkirakan akan meningkat menjadi satu setengah kalinya pada 179

Sinaga dan Putri/ Asuhan Keperawatan Tn. A /178-191 tahun 2031. Namun demikian, tidak semua penderita BPH berkembang menjadi penderita BPH bergejala. Prevalensi BPH yang bergejala pada pria berusia 40-49 tahun mencapai hampir 15%. Angka ini meningkat dengan bertambahnya usia, sehingga pada usia 50-59 tahun prevalensinya mencapai hampir 25%, dan pada usia 60 tahun mencapai angka sekitar 43%. Angka kejadian BPH di Indonesia yang pasti belum pernah diteliti, tetapi sebagai gambaran hospital prevalence di dua rumah sakit besar di Jakarta yaitu RSCM dan Sumber waras selama 3 tahun (1994-1997) terdapat 1040 kasus (Emerson, 2009). Meskipun jarang mengancam jiwa, salah satu pokok permasalahannya adalah gejala-gejala yang ditimbulkan pada pembesaran kelenjar prostat dirasakan sangat tidak nyaman oleh pasien dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Menurut survei, berdasarkan pola penyakit pasien rawat jalan pada Rumah Sakit di Provinsi Jawa Barat, Umur diatas 60 tahun pada 2003 penyakit BPH (Benigna Prostat Hipertropi) menempati urutan ke-19 yaitu sebesar 1,37% (530 orang). (Profil Kesehatan Jawa Barat 2003) dalam (Septian, 2005). Sedangkan data yang diperoleh dari Medical Record RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung Lebak di Ruang Duku tahun 2012 jumlah penderita BPH (Benigna Prostat Hipertropi) adalah: Tabel 1 Distribusi 10 Penyakit Terbanyak Rawat Inap Ruang Duku RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung Lebak Tahun 2012 1. Tumor 124 19,25 2. Hernia 90 14,00 3. BPH 88 13,66 4. Appendiks 83 12,88 5. Fraktur 72 11,18 6. Ckr 53 8,22 7. Hernia skrotalis 40 6,21 8. Snake bite 38 5,90 9. Ca mamae 36 5,60 10. Ileus 20 3,10 Jumlah 644 100 (Sumber: Medical Record RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung, 2012) 180

Jurnal Obstretika Scientia Vol. 2 No. 2, (2014-2015) Tabel di atas menunjukkan bahwa penderita BPH di Ruang Duku RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung cukup banyak, yaitu sebanyak 88 orang (13,66 %) dari total penderita sebanyak 644 orang dan menduduki urutan ketiga dari 10 penyakit terbanyak. Oleh karena itu peran perawat sebagai tenaga kesehatan diperlukan upaya promotif (peningkatan) dengan cara memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit, preventif (pencegahan) yaitu dengan cara memberitahu dan mengajarkan pola hidup yang sehat, kuratif (pengobatan) yaitu dengan cara menganjurkan klien untuk melakukan pembedahan atau pengobatan lain, dan rehabilitative (pemulihan) dengan cara memberikan asuhan keperawatan secara langsung pada penderita BPH (Benigna Prostat Hipertropi). Metodologi Penelitian Studi kasus ini di buat di ruang Duku RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung dari tanggal 02-05 Juli 2013 dan dilanjutkan perawatan di rumah tanggal 06 Juli 2013. Penulisan Studi Kasus ini menggunakan metode deskriptif pada Klien dengan gangguan sistem perkemihan: post operasi prostatekromy dan memanfaatkan literatur-literatur yang terdapat di perpustakaan, dan media elektronik lainnya seperti internet. Data-data yang digunakan dalam pembuatan Studi Kasus ini data primer, data sekunder dan data tersier. Data primer adalah data yang didapat dengan wawancara dan pengamatan langsung terhadap klien dengan menggunakan metode pengkajian, pemeriksaan fisik, yang dilakukan dengan cara inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi. Proses pengumpulan data dilakukan secara langsung pada klien dan keluarga. Data sekunder adalah data yang didapatkan dari catatan medis dan catatan perawatan di ruangan. Data tersier adalah data yang didapatkan dari literaturliteratur yang ada di perpustakaan dan media internet. Hasil Penelitian Analisa Data Hasil dari analisis data dalam penelitian ini merupakan wawancara dan pengamatan langsung terhadap klien dengan menggunakan metode peng-kajian, pemeriksaan fisik, yang 181

Sinaga dan Putri/ Asuhan Keperawatan Tn. A /178-191 dilakukan dengan cara inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi. Tabel 2 Analisa Data Pada Tn. A No Data Etiologi Masalah 1 DS : Klien mengatakan ada perasaan ingin berkemih DO : Klien tampak menggunakan kateter Terpasang irigasi urin, irigasi lancar, warna urin jernih 2 DS : Klien mengatakan nyeri pada luka operasi DO : Klien tampak meringis saat sekitar luka ditekan Terdapat luka operasi Terdapat 7 jahitan Luka bekas drain tampak bersih 3 DS : Klien mengatakan nyeri pada luka operasi DO : Terdapat luka operasi Terdapat 7 jahitan Luka bekas drain tampak basah Suhu: 37,3 C Lekosit: 12.800/ul 4 DS : Klien mengatakan belum pernah mandi selama dirawat (5 hari) DO : Klien tampak kotor Lidah tampak kotor Rambut tampak kotor 5 DS : Klien mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya DO : Klien tampak bertanya tentang penyakitnya Prosedur pembedahan Terputusnya kontinuitas jaringan Adanya luka operasi Kelemahan fisik Kurangnya informasi Gangguan pola eliminasi Nyeri Resiko infeksi Defisit perawatan diri Kurang pengetahuan 182

Jurnal Obstretika Scientia Vol. 2 No. 2, (2014-2015) Prioritas Diagnosa: 1. Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan prosedur pembedahan. 2. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan 3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi. 4. Deficit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik. 5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi. 183

Sinaga dan Putri/ Asuhan Keperawatan Tn. A /178-191 Intervensi Keperawatan Nama Umur : Tn. A : 63 tahun RM : 0187837 Tabel 3 Rencana Keperawatan Pada Tn. A No Tgl Diagnose keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional 1 02 Juli 2013 2 02 Juli 2013 Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan prosedur pembedahan DS: Klien mengatakan ada perasaan ingin berkemih DO: Klien tampak menggunakan kateter Terpasang irigasi urin, irigasi lancer, warna urin jernih Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan DS: Klien mengatakan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam gangguan pola eliminasi dapat diatasi dengan kriteria: Klien tidak menggunakan keteter Klien berkemih normal Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam nyeri hilang ditandai dengan: Klien tidak mengeluh 1. Kaji haluaran urin 2. Anjurkan klien untuk berkemih bila terasa dorongan tetapi tidak lebih dari 2-4 jam 3. Anjurkan klien minum 3000ml/hari 4. Diinstruksikan latihan perineal, seperti mengencangkan bokong, menghentikan dan memulai aliran urin 5. Berikan cairan infus (RL/8jam) 1. Observasi TTV 2. Kaji skala nyeri, intensitas, dan keadaan luka 3. Ajarkan teknik 1. Retensi urin dapat terjadi karena spasme kandung kemih 2. Berkemih dengan dorongan mencegah retensi urin 3. Mempertahankan perfusi ginjal untuk aliran urin 4. Membantu meningkatkan control kandung kemih 5. Mempercepat proses penyembuhan 1. Untuk mengetahui keadaan klien dan menentukan intervensi selanjutnya 2. Mengetahui skala 184

Jurnal Obstretika Scientia Vol. 2 No. 2, (2014-2015) No Tgl Diagnose keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional nyeri pada luka operasi dengan skala nyeri 4 (rentang 0-10) 3 02 Juli 2013 4 02 Juli 2013 DO: Klien tampak meringis saat sekitar luka ditekan Terdapat luka operasi Terdapat 7 jahitan Luka bekas drain tampak basah Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi DS: Klien mengatakan nyeri pada luka operasi DO: Terdapat luka operasi Terdapat 7 jahitan Luka bekas drain basah Suhu: 37,3 C Lekosit:12.800/ul Deficit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik nyeri Skala nyeri 0 Klien tampak rileks Luka bekas drain kering Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x24 jam infeksi tidak terjadi ditandai dengan: Luka bekas drain kering Suhu 36 C Lekosit 3.800-10.600/ul Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 3x24jam defisit perawatan relaksasi (napas dalam) 4. Tingkatkan istirahat dan tidur yang adekuat 5. Berikan therapy sesuai instruksi dokter (tramadol 2x1amp) 1. Observasi TTV 2. Kaji keadaan luka 3. Rawat luka dengan teknik steril. 4. Anjurkan klien tidak memegang luka 5. Berikan therapy (ceftriaxone 1x3gr dan metronidazol 3x500ml) 6. Kolaborasi untuk melakukan pemeriksaan darah ulang 1. Kaji keterbatasan klien 2. Kaji membrane nyeri 3. Mengurangi nyeri 4. Untuk mengurangi nyeri 5. Untuk mengurangi nyeri 1. Untuk mengetahui keadaan klien 2. Untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda infeksi 3. Mencegah terjadinya infeksi dan menjaga kebersihan luka 4. Mencegah infeksi 5. Mencegah infeksi 6. Untuk mengetahui nilai lekosit 1. Untuk menentukan intervensi selanjutnya 2. untuk mengetahui 185

Sinaga dan Putri/ Asuhan Keperawatan Tn. A /178-191 No Tgl Diagnose keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional DS: Klien mengatakan belum pernah mandi selama dirawat (5 hari) diri teratasi ditandai dengan: Klien tampak segar. Klien tampak bersih. 5 02 Juli 2013 DO: Klien tampak kotor. Lidah tampak kotor Rambut tampak kotor. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya DS: Klien mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya DO: Klien tampak bertanya tentang penyakitnya Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24jam pengetahuan klien bertambah ditandai dengan: Klien mampu menjelaskan pengertian, etiologi, tanda dan gejala, komplikasi BPH. mukosa oral dan kebersihan tubuh tiap hari 3. Bantu klien dalam pemenuhan ADL (memandikan, sikat gigi, keramas) 4. Ajarkan klien untuk melakukan aktivitas secara mandiri 5. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien 1. Kaji tingkat pengetahuan klien 2. Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian, etiologi, tanda dan gejala penyakit Benigna Prostat Hipertropi 3. Jelaskan komplikasinya bila tidak diobati 4. Berikan kesempatan klien untuk bertanya 5. Tanyakan kembali kepada klien tentang penyakitnya kebersihan klien 3. Agar klien bersih 4. Melatih kemandirian klien 5. Kebutuhan klien 1. Untuk mengetahui pengetahuan klien 2. Memberikan informasi dan menambah wawasan klien 3. memberikan informasi kepada klien dan keluarga 4. Untuk mengakuratkan informasi 5. Untuk mengetahui klien sudah mengerti atau belum. 186

Jurnal Obstretika Scientia Vol. 2 No. 2, (2014-2015) Pembahasan Setelah melakukan asuhan keperawatan pada Tn. A secara komprehensif dari tanggal 02-03 Juli 2013 di Ruang Duku Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Adjidarmo Rangkasbitung dan dilakukan perawatan lanjutan dari tanggal 04-06 Juli 2013, penulis berusaha membandingkan antara teori dan praktek lapangan. Berdasarkan teori, pengertian Benigna Prostat Hipertropi adalah pembesaran kelenjar prostat yang dapat menyebabkan sumbatan pada uretra. Sedangkan pada Tn. A adalah pembesaran prostat yang menyebabkan uretra tersumbat dan menyempit. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan hasil pengkajian. Berdasarkan teori, antomi Benigna Prostat Hipertropi biasanya terjadi pada prostat yang membesar dan dapat menekan uretra. Sedangkan pada Tn. A terjadi pada prostat yang membesar dan uretra tertekan yang mengakibatkan aliran air kemih terhambat. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan hasil pengkajian. Berdasarkan teori, penyebab Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti namun dapat dikaitkan dengan hormon estrogen yang meningkat dan kadar hormon testosteron yang menurun serta diakibatkan karena proses penuaan. Sedangkan pada Tn. A disebabkan karena proses penuaan karena usianya yang sudah mencapai 63 tahun. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan hasil pengkajian. Berdasarkan teori, patofisiologi Benigna Prostat Hipertropi adalah ada peningkatan hormon estrogen serta proses penuaan yang menyebabkan pembesaran pada prostat, pembesaran ini menyempitkan uretra dan menimbulkan dorongan sampai ke vesika urinaria sehingga megakibatkan kesulitan buang air kemih dan yang dikeluarkan hanya sedikit. Sedangkan pada Tn. A terjadi karena proses penuaan sehingga terjadi pembesaran kelenjar prostat yang menghambat aliran air kemih. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan hasil pengkajian. Berdasarkan teori, tanda gejala yang muncul yaitu poliuria (sering buang air kemih), terhambatnya aliran 187

Sinaga dan Putri/ Asuhan Keperawatan Tn. A /178-191 air kemih, nokturia (sering berkemih dimalam hari), urgency (dorongan ingin berkemih), hematuria, retensi urin, adanya perasaan berkemih tidak tuntas. Sedangkan pada Tn. A mengalami sakit saat buang air kemih, perut mules dan gatal-gatal, dan nyeri hilang timbul. Dalam hal ini tidak terjadi kesenjangan antara teori dan hasil pengkajian. Berdasarkan teori, komplikasi yang terjadi adalah retensi urin akut, involusi kontraksi kandung kemih, refluks kandung kemih, hidroureter, hidronefrosis, dan gross hematuria. Dalam hal ini terjadi kesenjangan karena pada Tn. A belum terjadi komplikasi yang mengancam, namun baru terjadi adanya retensi urin karena pada Tn. A langsung dilakukan tindakan pengobatan dan pembedahan. Berdasarkan teori, test diagnostik dari Benigna Prostat Hipertropi yaitu pemeriksaan rectum, urinalisis, pemeriksaan darah, cystoscopy, transrectal ultrasonography, dan intravenous pyelography. Dalam hal ini terjadi kesenjangan antara teori dan hasil pengkajian, pada Tn. A hanya dilakukan pemeriksaan darah dan ultrasonography, karena hanya test darah dan ultrasonography sudah bisa menegakkan diagnosa pada Tn. A. Berdasarkan teori, penatalaksanaan pada Benigna Prostat Hipertropi yaitu perubahan pola hidup dengan mengurangi minum-minuman beralkohol, kateterisasi, pemberian obat antimikrobial, dan pembedahan. Sedangkan pada Tn. A dilakukan pembedahan, kateterisasi, dan pemberian obat ceftriaxone 1x3gram. Dalam hal ini tidak ada kesenangan antara teori dan hasil pengkajian. Berdasarkan teori, data dari pengkajian yang didapat yaitu adanya keluhan nyeri pada luka operasi dan menyebar di abdomen, tekanan darah, nadi, dan pernapasan meningkat karena pengaruh nyeri, adanya nyeri tekan pada vesika urinaria, adanya mual dan tidak nafsu makan, mengalami deficit perawatan diri. Sedangkan pada Tn. A didapatkan data adanya nyeri pada luka operasi, nafsu makan berkurang karena klien hanya menghabiskan ½ porsi makanan. Dalam hal ini terjadi kesenjangan antara teori dengan data yang diperoleh karena pada Tn. A tidak mengalami peningkatan tekanan darah, nadi, dan pernapasan karena klien sudah mendapatkan therapy tramadol yang 188

Jurnal Obstretika Scientia Vol. 2 No. 2, (2014-2015) berfungsi untuk menghilangkan nyeri. Berdasarkan teori nutrisi pada klien post operasi prostatektomy akan ditemukannya rasa mual dan tidak nafsu makan. Dalam hal ini terjadi kesenjangan antara teori dan pengumpulan data karena pada Tn. A hanya ditemukan tidak nafsu makan, klien hanya menghabiskan ½ porsi makanan, tidak ada keluhan mual karena klien sudah mendapatkan teraphy ranitidin. Dalam hal hygiene pada pasien post operasi prostatectomy personal hygiene akan terganggu disebabkan karena kelemahan fisik. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan pengumpulan data karena pada Tn. A juga ditemukan adanya kelemahan fisik sehingga personal hygienenya terganggu. Berdasarkan teori, menurut Doenges & Marilynn (2000) serta Nanda (2010), diagnosa keperawatan post prostatectomy yang muncul adalah gangguan eliminasi urin berhubungan dengan prosedur pembedahan, resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan, nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, terputusnya kontinuitas jaringan, kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit dan kondisi, dan defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik. Sedangkan pada Tn. A diangkat diagnosa gangguan pola eliminasi, resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan, nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, terputusnya kontinuitas jaringan, kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit dan kondisi, dan defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik. Dalam hal ini tidak terjadi kesenjangan antara teori dan hasil pengkajian. Rencana keperawatan disusun mengacu pada teori dan disesuaikan dengan masalah dan kebutuhan klien. Penulis hanya melakukan penambahan dan modifikasi bahasa agar lebih mudah dipahami. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan pelaksanaan. Pelaksanaan tindakan keperawatan diterapkan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah disusun. Pelaksanaan tindakan keperawatan selain dilakukan secara mandiri oleh perawat juga dibantu oleh keluarga serata petugas kesehatan lainnya. Pada rencana pemeriksaan darah ulang tidak dilakukan karena klien pulang. 189

Sinaga dan Putri/ Asuhan Keperawatan Tn. A /178-191 Pada tahap evaluasi, pada diagnosa gangguan pola eliminasi berhubungan dengan prosedur pembedahan teratasi sebagian karena klien kurang minum air putih sehingga kurang lancar dalam berkemih, nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan teratasi dalam waktu 3 hari, resiko infeksi berhubungan dengan adanya insisi luka operasi tidak terjadi dalam waktu 4 hari karena luka bekas operasi dibersihkan dan di ganti balutan setiap hari, defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik teratasi dalam waktu 2 hari karena klien mengikuti saran perawat untuk mandi dan gosok gigi setiap hari, dan kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi teratasi dalam waktu 1 hari. Simpulan Pengkajian adalah awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pasien (Dalam Nursalam, 2001). Dari hasil pengkajian pada Tn. A didapatkan data yaitu klien mengatakan nyeri pada luka operasi, skala nyeri 4 (rentang 0-10), terdapat 7 jahitan, TD: 120/80 mmhg, Suhu: 37,3 C, Nadi: 98x/menit, Respirasi Rate: 18x/menit, Lekosit 12.800/ul, klien belum pernah mandi selama dirawat (5 hari). Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan diagnosa gangguan pola eliminasi berhubungan dengan prosedur pembedahan, nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan, resiko infeksi berhubungan dengan adanya insisi luka operasi, defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik, dan kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi. Intervensi keperawatan pada Tn. A mengacu pada teori yang ada dan disesuaikan dengan masalah dan kebutuhan pasien, dalam hal ini tidak terjadi kesenjangan antara teori dan praktek. Dalam melakukan implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana keperawatan yang telah ditetapkan pada asuhan keperawatan. Implementasi keperawatan dilakukan dengan cara bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain serta keluarga pasien. 190

Jurnal Obstretika Scientia Vol. 2 No. 2, (2014-2015) Pada evaluasi didapatkan diagnosa gangguan pola eliminasi berhubungan dengan prosedur pembedahan teratasi sebagian karena klien kurang minum air putih sehingga kurang lancar dalam berkemih, nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan teratasi dalam waktu 3 hari, resiko infeksi berhubungan dengan adanya insisi luka operasi tidak terjadi dalam waktu 4 hari karena luka bekas operasi dibersihkan dan di ganti balutan setiap hari, defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik teratasi dalam waktu 2 hari karena klien mengikuti saran perawat untuk mandi dan gosok gigi setiap hari, dan kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi teratasi dalam waktu 1 hari. Daftar Pustaka Doenges, E. Marlyn. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta: EGC Emerson. (2009). Benigna Prostat Hipertropi. http://www.scribd.com/doc/111 777160/BAB-I-Eko-Andaru Nursalam, Fransiska. (2009). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Ganguan Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika Suharyanto, Toto. (2009). Asuhan Keperawatan Dengan Klien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: TIM Septian. (2005). Asuhan Keperawatan pada Tn. U dengan gangguan Sistem Perkemihan: Benigna Prostat dan Epidimimitis Di Ruang C Lanta II Bedah Umum Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, http://www.slideshare.net/septi anraha/bab-iv-bhb 191