Oleh : Prof. Dr. NYOMAN DANTES

dokumen-dokumen yang mirip
Standar Proses Pembelajaran. Standar Isi. Lulusan. Peserta didik. Lingkungan. Standar Pembiayaan. Standar Sar. & Pras.

Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Tematik Dalam Kaitan dengan Implementasi KTSP

BAB I PENDAHULUAN. persoalan-persoalan tersebut di atas,melalui pembaharuan dalam sistim pendidikan

Kebijakan Nasional Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Berdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi

KEBIJAKAN AKADEMIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG PENYUSUN: TIM BPMI UNP UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Disajikan pada pelatihan sistem penjaminan mutu akademik Agustus 2008 KOPERTIS WILAYAH III 1

BAB I PENDAHULUAN. hanya manusia yang berkualitas saja yang mampu hidup di masa depan

Oleh: Prof. Dr. Nyoman Dantes

PENERAPAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DI UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG

I. PENDAHULUAN. agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

BUKU STANDAR MUTU SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL

PPMI ( Pusat Penjaminan Mutu )

KEBIJAKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL UNIVERSITAS ABULYATAMA

PRAKTIK BAIK SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DI PERGURUAN TINGGI. Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal di Perguruan Tinggi

BAB I PENDAHULUAN. penelitian, 2) fokus penelitian, 3) tujuan penelitian, 4) kegunaan penelitian, 5)

BAB I PENDAHULUAN. bisnis dan industri yang bergantung pada kepuasan pelanggan atau konsumen,

STANDAR MUTU. Program Studi S1 Teknik Elektro. Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)

MANUAL MUTU SPMI (MANUAL MUTU = QUALITY MANUAL) Disampaikan oleh: Dr. Eming Sudiana, M.Si.

BAB I PENDAHULUAN. baik dalam penguasaan materi maupun metode pembelajaran selalu

K E B I J A K A N M U T U A K ADEMIK FAKULTAS AGAMA ISLAM

SURAT KEPUTUSAN REKTOR INSTITUT TEKNOLOGI DEL No. 011/ITDel/Rek/SK/I/18. Tentang SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL INSTITUT TEKNOLOGI DEL

KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR. Oleh: Anik Ghufron FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2008

Pengembangan Bahan Ajar Dalam Kaitan dengan Implementasi KTSP

DOKUMEN KEBIJAKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL (SPMI)

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peranan besar dalam memberikan kontribusi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan

BAB I PENDAHULUAN. Nasional pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

Bidang keuangan terbukti dengan transparansi dalam penganggaran, pengelolahan, penggunaan dan pengawasan keuangan. Dalam hal

HAMBATAN/KENDALA YANG DIHADAPI DALAM MENERAPKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DIPERGURUAN TINGGI

BADAN PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA BADAN PENJAMINAN MUTU

SEKILAS TENTANG PENYUSUNAN STANDAR PROSES PEMBELAJARAN 1

KEBIJAKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL (SPMI) UNIVERSITAS ISLAM MALANG PUSAT PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Sistem Penjaminan Mutu Internal ( SPMI)

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas. Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menjamin kelangsungan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, politik, budaya, sosial dan pendidikan. Kondisi seperti ini menuntut

BAB 1 PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan. Oleh karena itu setiap tenaga

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan. Tujuan pendidikan adalah

Kebijakan Sistem Penjaminan Mutu Internal di Universitas Kristen Indoneisa

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... KEPUTUSAN KETUA STMIK PRABUMULIH... BAB I PENDAHULUAN... 1

Manual Mutu Akademik

BAB I KEBIJAKAN MUTU INTERNAL FAKULTAS A. Kebijakan Umum 1. Fakultas sebagai bagian dari Universitas Andalas berpartisipasi aktif dalam gerakan menjag

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Nomor : 74/KEP/UDN-01/VII/2007. tentang STANDAR KURIKULUM UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

AKREDITASI PROGRAM STUDI DAN INSTITUSI

I. PENDAHULUAN. meningkatkan mutu pendidikan antara lain dengan perbaikan mutu belajarmengajar

MANUAL MUTU UNIVERSITAS MALIKUSSALEH TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan Pendidikan Nasional, dapat dilihat berdasarkan faktor

BUKU MANUAL MUTU

A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

06 06 / / 10 10/ /

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

BAB I PENDAHULUAN. diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan jaman.

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

BADAN PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS GUNADARMA JAKARTA

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif & Menyenangkan (Pakem) Di TK dan SD

Universitas Riau. Universitas Riau. KEBIJAKAN Sistem Penjaminan Mutu Internal. KEBIJAKAN Sistem Penjaminan Mutu Internal

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

Manual Mutu FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TRUNOJOYO

KERANGKA KERJA SATUAN PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS PADJADJARAN 2016 SATUAN PENJAMINAN MUTU SATUAN PENJAMINAN MUTU UNPAD.

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA Jl. Palembang-Prabumulih, km 32 Ogan Ilir Indralaya

BAB I PENDAHULUAN. terus diupayakan melalui pendidikan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

BAB I PENDAHULUAN. pihak. Pendidikan seperti magnet yang sangat kuat karena dapat menarik berbagai

PENYUSUNAN STANDAR MUTU PENDIDIKAN DAN STANDAR PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN* (Oleh: Nyoman Dantes)**

PENGEMBANGAN KURIKULUM SATUAN PENDIDIKAN SMK

BAB I PENDAHULUAN. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

Manual Mutu Akademik. Universitas Gadjah Mada UGM-KJM PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

Oleh: Tim Pengembang SPMI. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dunia pendidikan merupakan kehidupan yang penuh dengan tantangan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

1. Jatidiri prodi 2. Makna tatapamong 3. Tatapamong dalam konteks SNP 4. Tatapamong dalam perspektif kegiatan akreditasi BAN PT

RENCANA OPERASIONAL AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN (AKAFARMA) YAYASAN HARAPAN BANGSA BANDA ACEH TAHUN

Kampus & Sekretariat Pendaftaran. Website :

KEBIJAKAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH BATOH BANDA ACEH

Manual Mutu Akademik FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

KATA PENGANTAR REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN

KEBIJAKAN MUTU AKADEMIK

Manual Mutu Akademik Perguruan Tinggi Alma Ata AA-PJM-MM.09.1

PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia yang bermanfaat bagi lingkungan masyarakat,

BAB I. Pendahuluan. Manual Sistem Penjaminan Mutu Internal 1

RANCANGAN IMPLEMENTASI PENJAMINAN MUTU UNTUK PENINGKATAN MUTU LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

Manual Mutu Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Transkripsi:

STRATEGI PENINGKATAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN TINGGI (Disajikan Pada Workshop Kualifikasi Guru Agama Hindu) Denpasar-Bali, 21 Februari 2008 Oleh : Prof. Dr. NYOMAN DANTES 1

STRATEGI PENINGKATAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN TINGGI (Disajikan Pada Workshop Kualifikasi Guru Agama Hindu) Denpasar-Bali, 21 Februari 2008 Oleh : NYOMAN DANTES * -------------------------------------------------------------------------------------- I. Pendahuluan Dalam pembaharuan sistem pendidikan nasional telah ditetapkan visi, misi dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Visi pendidikan nasional adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua Warga Negara Indonesia, berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Terkait dengan visi tersebut telah ditetapkan serangkaian prinsip yang dijadikan landasan dalam pelaksanaan reformasi pendidikan. Salah satu prinsip tersebut adalah bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik/mahasiswa yang berlangsung sepanjang hayat, di mana dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik/mahasiswa. Prinsip tersebut menyebabkan adanya pergeseran paradigma pendidikan, dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran. Paradigma pengajaran yang telah berlangsung sejak lama lebih menitikberatkan peran pendidik dalam mentransfer pengetahuan kepada peserta didik/mahasiswa. Paradigma tersebut bergeser pada paradigma pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik/mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan kreativitas dirinya dalam rangka membentuk manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, berakhlak mulia, berkepribadian, memiliki kecerdasan, memiliki estetika, sehat jasmani dan rohani, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Untuk dapat menyelenggarakan * Guru Besar Makro Pedagogik Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja 2

pendidikan berdasarkan pergeseran paradigma tersebut, diperlukan acuan dasar bagi setiap satuan pendidikan yang meliputi serangkaian kriteria (kriteria minimal) sebagai pedoman untuk kendali mutu yang bersifat demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong kreativitas dan dialogis. Dengan mengingat kebhinekaan budaya, keragaman latar belakang dan karakteristik peserta didik/mahasiswa ( sebagai masukan) dalam sistem pembelajaran, dan di sisi lain adanya tuntutan agar proses pembelajaran mampu menghasilkan lulusan yang bermutu, maka proses pembelajaran harus dipilih, dikembangkan, dan diterapkan secara luwes dan bervariasi dengan memenuhi kriteria standar. Pada jalur pendidikan formal proses pembelajaran lebih banyak terjadi dalam lingkungan kelas dengan sejumlah peserta didik/mahasiswa di bawah pembinaan seorang pendidik, dan lazim disebut sebagai kelas klasikal. Kelas klasikal ini sering disalah artikan sebagai kelas konvensional yang menganggap peserta didik/mahasiswa dalam satu kelas sebagai kelompok homogin, sehingga dapat diperlakukan secara sama untuk memperoleh hasil yang sama. Perlakuan yang seharusnya adalah bahwa peserta didik/mahasiswa merupakan kelompok heterogin yang terdiri atas pribadipribadi yang mempunyai karakteristik, kondisi dan kebutuhan yang berbeda, sehingga oleh karena itu perlu mendapat perlakuan sedemikian rupa sehingga potensi masing-masing pribadi tersebut dapat berkembang secara optimal., Pemberdayaan peserta didik/mahasiswa agar mereka mampu untuk membangun diri sendiri berdasarkan rangsangan yang diperolehnya sesuai dengan taraf perkembangan psikis, fisik dan sosial memerlukan interaksi aktif antara pendidik dengan peserta didik/mahasiswa, antar peserta didik/mahasiswa, dan antara peserta didik/mahasiswa dengan lingkungan, dalam suasana yang menyenangkan dan menggairahkan, serta sesuai dengan kondisi dan nilai-nilai yang ada dalam lingkungannya. Tidak ada satupun model proses pembelajaran yang berlaku untuk setiap mata kuliah di dalam kelas dengan peserta didik/mahasiswa yang beragam. Untuk itu semua pendidik harus mampu memilih, mengembangkan dan menerapkan proses pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik 3

mata pelajaran, karakteristik peserta didik/mahasiswa, serta kondisi dan situasi lingkungan. Hal ini menunjukkan posisi penting proses pembelajaran dalam menghasilkan lulusan yang bermutu. Untuk itu, perlu setiap pengelola satuan pendidikan menetapkan standar mutu kelulusannya, dan secara logis harus pula menetapkan standar mutu masing-masing komponen yang mempengaruhi proses transpormasi dalam pembelajaran tersebut. Dalam kaitan dengan hal di atas, tujuan standar mutu pendidikan ditetapkan adalah untuk menjamin mutu proses transpormasi, mutu instrumental dan mutu kelulusan, yang dapat meliputi berbagai aspek yaitu menyangkut isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, penilaian pendidikan. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) mengartikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik/mahasiswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahklak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) telah menjabarkan lebih lanjut ketentuan dalam UU Sisdiknas, dan untuk selanjutnya akan disampaikan secara singkat kajian konsepsional dari aspek makropedagogik terhadap standar-standar tersebut. II. Kajian Konsepsional tentang Penjaminan Mutu Bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, sejak tahun 1920an telah mengumandangkan pemikiran bahwa pendidikan pada dasarnya adalah memanusiakan manusia. Untuk itu suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing 4

anggotanya, tidak ada pendidikan tanpa dasar cinta kasih. Dengan demikian pendidikan hendaknya membantu peserta didik/mahasiswa untuk berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, serta menjadi anggota masyarakat yang berguna. Manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiannya dan mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Metode pendidikan yang paling tepat adalah sistem among yaitu metode pembelajaran yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh. Sementara itu prinsip penyelenggaraan pendidikan perlu didasarkan pada Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Pengaruh modernisasi yang menuntut pemerataan kesempatan pendidikan kepada lebih banyak orang dalam waktu yang lebih cepat dan biaya lebih murah, serta dengan standar hasil yang mudah diukur, telah mengakibatkan berkembangnya proses pembelajaran seperti halnya proses industri. Proses industri ini mengolah bahan baku untuk menjadi produk sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Sekolah diibaratkan sebagai pabrik, peserta didik/mahasiswa sebagai bahan mentah, dan guru sebagai tukang yang menjalankan peralatan pabrik. Proses pembelajaran diarahkan pada terjadinya transfer pengetahuan dari pendidik ke peserta didik/mahasiswa melalui kegiatan menghafal dan mengingat. Pendekatan ini jelas telah mengabaikan harga diri dan kepentingan peserta didik/mahasiswa untuk menjadi manusia seutuhnya. Tuntutan untuk melakukan pembaharuan yang sesuai dengan harkat peserta didik/mahasiswa sebagai pribadi, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah melahirkan suatu cabang disiplin keilmuan yang relatif baru dan semula dikenal sebagai didaktik & metodik menjadi teknologi pembelajaran. Teknologi pembelajaran didefinisikan sebagai teori dan praktek dalam perancangan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi proses dan sumber untuk keperluan belajar. Dalam bidang teknologi pembelajaran telah dikembangkan sejumlah teori dan praktek pembelajaran yang bersifat preskriptif, misalnya teori 5

pembelajaran elaborasi, pembelajaran pengorganisasian awal, algoheuristik, pembelajaran inkuiri, dan pemaparan komponen. Mengingat bahwa pendidikan itu merupakan suatu sistem dengan komponen-komponen yang saling berkaitan, maka keseluruhan sistem harus sesuai dengan ketentuan yang diharapkan atau standar. Untuk itu masingmasing komponen dalam sistem harus pula sesuai dengan standar yang ditentukan bersama. Dalam UU SPN RI No.20/2003 dan PP 19/2005 ditentukan delapan standar mutu yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan, yaitu menyangkut : (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan. Keterkaitan antara standar tersebut dapat divisualisasi sebagai berikut : Standar Isi Standar Tenaga Standar Sar. & Pras. Standar Pembiayaan Standar Pengeloaan Standar Penilaian Peserta didik Standar Proses Pembelajaran Standar Komp. Lulusan Lulusan Lingkungan Bila ditelusuri secara lebih dalam, dapat dilihat arti penting standar proses pembelajaran dan juga proses pembelajaran itu sendiri, karena betapa baiknya masukan berupa peserta didik/mahasiswa, serta masukan instrumental berupa isi, tenaga, sarana & prasarana, biaya dan pengelolaan, 6

tergantung pada proses pembelajaran untuk menghasilkan output dengan kompetensi lulusan yang bermutu, serta berdampak positif terhadap lingkungan. Dengan kata lain perlu adanya penjaminan mutu untuk bisa dirancang standar mutu dari masing-masing komponen di atas. Proses penjaminan mutu tsb, melalui tahapan-tahapan sbb: (1) penetapan visi dan misi sekolah, (2) berdasarkan butir di atas dijabarkan serangkaian standar mutu (yang dirumuskan dan diramu berdasarkan visi dan kebutuhan stakeholders yang sebaiknya perumusannya mengacu pada unsur Audience, Behavior, Competence, Degree /ABCD) Dalam kaitannya dengan proses penjaminan mutu tsb, Perguruan Tinggi perlu mengadakan kendali mutu. Banyak strategi atau model kendali mutu yang bisa digunakan, diantaranya adalah model PDCA (Plan, Do, Check, Action) yang dapat digambarkan sbb: Doing Planning Acting Checking Input Process Output Outcome 7

sbb : Model di atas akan dapat menghasilkan pengembangan berkelanjutan SDCA P D C A SDCA P D C A SDCA P D C A S= Standar Disamping model umum di atas, dapat juga digunakan model yang lebih spesifik yang terkait dengan penjaminan mutu akademik, yang sering disebut dengan Sistem Penjaminan Mutu Akademik Berbasis Proses (SPMABP), dan dapat digambarkan dalam skema berikut. 8

Model SPMA Berbasis Proses Visi & Misi Berbagai kebijakan Kebijakan mutu Input PROSES Output Sasaran mutu QA QA IA STAKEHOLDER SPMABP memfokuskan bahwa proses merupakan suatu aktivitas yang mencerminkan kualitas mutu. Proses (proses akademik) harus bisa mewujudkan visi, misi dan berbagai kebijakan yang ditentukan secara intern dan juga hal-hal yang diharapkan oleh stakeholder (ekstern), sehingga dapat mewarnai kualitas output. Dalam kaitan dengan dua model (konsep) di atas, secara umum yang dimaksud dengan penjaminan mutu adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga konsumen, produsen, dan pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan. Bila ditelusuri tentang tuntutan mutu dari suatu proses institusi, pada awal perkembangan pendidikan, masyarakatlah yang lebih berperan dalam menentukan standar mutu tersebut. masyarakat menentukan apakah lulusan pendidikannya bermutu dengan memberikan tugas dan penghargaan kepada mereka. Dalam perkembangan selanjutnya dengan meluasnya penyelenggaraan pendidikan formal pemerintah lebih berperan dalam menentukan standar mutu. Dalam kaitannya dengan itu, konsep penjaminan mutu dapat ditinjau dari dua aspek yaitu : 9

(1) aspek deduktif ; dimana lembaga pendidikan mampu menetapkan dan mewujudkan visinya melalui pelaksanaan misinya, (2) aspek induktif; dimana lembaga pendidikan tersebut, mampu memenuhi kebutuhan stakeholders (kebutuhan kemasyarakat/societal needs, kebutuhan dunia kerja/industrial needs, kebutuhan profesional/profesional needs). Visualisasinya dapat digambarkan sebagai berikut. MUTU PENJAMIN MUTU (Eksternal) BAN/Lemba ga lain PENJAM IN MUTU (Internal) PT Ybs III. Aspek-aspek Jaminan Mutu dan Implementasinya Era globalisasi diwarnai dengan persaingan yang sangat tajam. Persaingan pada hakikatnya menuntut kualitas. Dalam kaitan dengan itu, perguruan tinggi merupakan suatu lembaga yang diharapkan mampu menghasilkan sumber daya berkualitas untuk pengembangan ilmu dan teknologi. Maka dari itu, penjaminan mutu lembaga pendidikan tinggi merupakan suatu keharusan, yang saat ini sering dilabelkan dengan Jaminan Mutu Internal. Makanya berbagai pesiapan dan upaya harus terus dilakukan guna menterjadikan mutu sebagai parameter dan acuan dalam melaksanakan segala aktivitas kehidupan kampus. Kondisi ini semakin diperkuat dengan adanya kenyataan sebagaian terbesar perguruan tinggi belum memiliki dokumen-dokumen mutu yang merupakan instrumen utama dalam pelaksanaan 10

jaminan mutu kelembagaan. Untuk mewujudkan perangkat penjaminan mutu akademik yang memadai di lingkungan Perguruan Tinggi (kebijakan akademik, standar akademik, peraturan akademik, manual mutu akademik, manual prosedur akademik, spesifikasi program studi dan kompetensi program pendidikan di tingkat universitas, fakultas, lembaga, jurusan/bagian dan program studi) masih diperlukan usaha yang serius. Ini merupakan siklus pelaksanaan sistem penjaminan mutu pada sebuah lembaga pendidikan tinggi, meliputi: penetapan standar akademik, pelaksanaan, monitoring, evaluasi diri, audit akademik internal, rumusan koreksi dan peningkatan mutu berkelanjutan. Perguruan tinggi harus mengarah pada upaya menterjadikan hal tersebut sebagai bagian integral dari kebijakan akademiknya. ''Selain bertujuan melakukan continous quality improvement, penjaminan mutu merupakan upaya konkrit bentuk akuntabilitas dari sebuah lembaga kepada publik.'' Satu hal terpenting dalam siklus penjaminan mutu adalah follow up ke depan, oleh karena itu koordinasi implementasi harus dilakukan terus menerus di seluruh jenjang/bagian, sehingga akhirnya diharapkan menjadi kegiatan rutin dalam lingkungan perguruan tinggi. Aspek-aspek kegiatan yang terkait yang perlu dimasukkan dalam kawasan penjaminan mutu adalah : (1) proses pembelajaran, (2) kurikulum, (3) SDM (dosen dan tenaga penunjang), (4) kemahasiswaan, (5) prasarana dan sarana, (6) suasana akademik, (7) penelitian dan publikasi, (8) pengabdian kepada masyarakat, (9) tata kelola, (10) keuangan, (11) konstelasi struktural, (12) manajemen kelembagaan, (13) sistem informasi, dan (14) kerjasama. Dalam rangka implementasi konsep dan aspek-aspek di atas, sebaiknya ditetapkan manual prosedur SPMABP sbb.. Manual Prosedur Pelaksanaan 1. Penetapan Standar Standar yang diperlukan untuk pelaksanaan adalah, Penetapan Visi-Misi, Kebijakan Akademik, Standar Akademik, Manual Mutu, Sasaran atau Ruang Lingkup, dan Renstra. Manual Prosedur (MaPro), yaitu urutan aktivitas administratif yang melibatkan unit lintas bagian di lingkungan Perguruan Tinggi Instruksi Kerja (InKer), yaitu urutan aktivitas yang bersifat teknis dan hanya meliputi pada lingkup satu unit kerja saja. 11

Dokumen Pendukung (DoPen), yang terdiri dari: Silabi setiap mata kuliah, SAP, dan RPPD (rencana program pembelajaran dosen), dan bahan ajar lainnya. Borang (Bo), yaitu Bo-evaluasi mahasiswa, Bo-evaluasi jurusan, dan yang relevan. Hal-hal yang perlu disiapkan dalam tahap Penetapan Standar (PenStan) adalah : (1) Aspek Legal (Surat Keputusan Pimpinan Lembaga) mengenai Unit Jaminan Mutu, yang didalamnya secara otomatis mencakup jangka waktu, hak dan kewajiban, yang diatur berdasarkan kebijakan akademik, standar akademik, dan peraturan akademik lainnya. Penyusunan kebijakan akademik, standar akademik, dan peraturan akademik tingkat universitas/institut. Penyusunan DoMu tingkat universitas, yang meliputi: manual mutu, dan manual prosedur. Penyusunan kebijakan akademik, standar akademik, dan peraturan akademik tingkat fakultas. Penyusunan DoMu tingkat fakultas, yang meliputi: manual mutu, dan manual prosedur. Penetapan penomoran DoMu dengan sistimatika sebagai berikut: (a) nama dokumen, (b) nama fakultas atau jurusan, dan (c) nomor dokumen. (2) Penyusunan Visi-Misi dan Spesifikasi Jurusan/Bagian/Program Studi di tingkat jurusan/bagian/prodi. (3) Penyusunan dokumen mutu Jurusan/Bagian/Program Studi, meliputi: spesifikasi Jurusan/Bagian/Program Studi, InKer, DoPen, dan Bo. 2. Pembentukan organisasi Penjaminan Mutu tingkat universitas. KUJM (Kantor Unit Jaminan Mutu) MP-AMAI (Manajer Program Audit Mutu Akademik Internal ) tingkat universitas Unit Audit Mutu Akademik Internal. 3. Pembentukan organisasi Penjaminan Mutu tingkat fakultas : GJM (Gugus Jaminan Mutu) K3A (Komisi Koordinasi Kegiatan Akademik) MP-AMAI (Manajer Program Audit Mutu Akademik Internal) 12

PIA (Pool of Internal Auditors) 4. Pembentukan organisasi tingkat Jurusan/Bagian/Program Studi : TKS (Tim Koordinasi Semester) TK2A (Tim Koordinasi Kegiatan Akademik) 5. Penyusunan perangkat evaluasi diri. IV. Penutup 1. Penjaminan mutu merupakan satu aspek kegiatan yang sangat vital untuk Perguruan Tinggi, karena hal itu menyangkut proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga konsumen, produsen, dan pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan. 2. Suksesnya pencapaian standar mutu salah satu tergantung dari kualitas komitmen pelaksana civitas akademika dalam realisasi pencapaiannya. Kombinasi standar mutu harus terjadi secara sinergis antara tuntutan eksternal dengan usaha internal. 3. Siklus diagramatik pemjaminan mutu akademik perguruan tinggi harus didasarkan (minimal) pada dokumen mutu, siklus penetapan standar mutu, dan adanya audit internal yang kontinyu. 13

Daftar Pustaka Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : BSNP Buchori, M. (2000). Pendidikan Antisipatoris. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Deming, Edwards W. American Association of School Administrators Conference, Washington, DC, January 1992. Seperti dikutip oleh Lee Jenkins. Improving Student Learning. Applying Deming Quality Principles in Education. Milwaukee,WI: ASOQ Press Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta. 2003. Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta. 2005. Hoy, Charles, Colin Bayne-Jardine and Margaret Wood. (2000). Improving Quality in Education. London: Falmer Press. Miarso, Yusufhadi.(2004). Menyemai benih Teknologi Pembelajaran. Jakarta : Pustekkom Diknas & Kencana. Popham, W.J. (1995). Classroom Assessment, What Teachers Need to Know. Boston: Allyn and Bacon. Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta :Depdiknas R.I. Salvia, J. & Ysseldyke, J.E. (1996). Assessment. 6 th Houghton Mifflin Company. Edition. Boston: Rolheiser, C. & Ross, J. A. (2005) Student Self-Evaluation: What Research Says and What Practice Shows. Internet download. 14